Analisa Tekstual Tembang Macapat Asmaradana (Antonius Sukoco)


Macapat adalah salah satu bentuk nyanyian yang berasal dari tanah Jawa. Dari perkembangannya tembang macapat menyebar sampai di daerah Sunda, Bali dan Madura dengan di sesuaikan dengan kebudayaan local geniusnya. Menurut cara pembacaannya atau di istilah Jawa (Yen sinawang saka kerata basa), maknanya membacanya empat-empat  (maca papat-papat) dan memang membacanya tersusun disetiap suku katanya. Muncul pertama kali tembang macapat belum dapat dipastikan kapan munculnya, dikarenakan seperti tradisi rakyat yang turun-temurun juga tidak diketahui nama pengarang atau penciptanya yang itu semua disebut kepemilikan yang berbasis kolektif. Dalam pencarian sejarahnya tembang macapat, tidak ada tulisan yang sinkron dalam mencari titik jawaban mengungkap sejarah munculnya macapat.

Dalam sastra Jawa, tembang macapat digunakan sebagai aturan-aturan membuat kitap-kitap sastra ditanah Jawa karena aturan-aturan lebih mudah  dibangding Sastra Jawa Tengahan dan Sastra Jawa Anyar. Contoh sastra Jawa yang menggunakan aturan macapat seperti kitap-kitap jaman Mataram Anyar, Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, Serat Wiridhidayatjati, Serat Kalatidha dan lain-lain. Aturan-aturan itu seperti:

  • Guru gatra     : jumlah larik/baris di setiap baitnya
  • Guru wilangan : jumlah setiap suku kata di setiap larik/barisnya
  • Guru lagu       : berhentinya suara konsonan disetuam baris.lariknya.

Sebagai contoh aturan-aturan sastra untuk tembang macapat asmaradana:

Sekar Macapat Guru gatra Guru wilangan Guru lagu
Asmarandana 7 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8 a, i, e, a, a, u, a

Tembang Macapat itu jika disebut tembang macapat yang asli, pada umumnya digunakan menyebar dimana-mana. Urutan-urutan tembang macapat itu sama dengan perjalanan hidup manusia dari mulai dari bayi sampai dengan manusia meninggal. Sebagai contoh tembang asmaradana menurut acuan perjalanan manusia yang diartikan bahwa asmaradana itu artinya perasaan suka, sayang, cinta kepada pria kepada wanita atau sebaliknya yang semua itu sudah jadi kodrat yang ilahi.

Uraian diatas adalah sebuah gambaran besar tentang konteks tembang macapat, untuk seterusnya membahas secara tekstual dari tembang macapat yang berjudul asmaradana. Hubungan dengan unsur-unsur dari tembang macapat yang berjudul asmaradana tersebut seperti unsur waktu (meliputi irama, tempo, birama/sukat), unsur bunyi (meliputi nada, timbre, medium, picth, dinamika, melodi, register nada, dimensi melodi dan lain-lain). Tembang Asmarada adalah salah satu bentuk sekar macapat. mempunyai vokaboler dalam teksnya yang meliputi guru lagu, guru gatra dan guru wilangan seperti yang sudah di contohkan diatas. Isi dari teks yang dicontohkan seperti dibawah yaitu  mengenai perintah-perintah yang mengandung ajaran hidup di dunia. Utnuk jelasnya dicontohkan Teks, arti teks beserta notasi kepatihan :

Asmaradana (laras slendro miring pathet sanga)

Arti teks :

Ayo-ayo bersama di perhatikan

Anak dan cucu jangan melupakan

Jangan gagal dalam hidup

Dan jangan punya kareman

Kepada pepaes dunia

Siang dalu selalu ingat

Bahwa hidup ketemu dengan karma

Secara keseluruhan tembang macapat termasuk juga asmaradana mampunyai irama yang tidak konstan, dalam arti irama tampa birama dan tempo. Seperti di CD bila didengarkan tidak menggunakan ketukan dengan kata lain menurut si penyanyi dalam menyanyikannya. Di dalam musik barat seperti irama yang di gunakan lagu-lagu gegrorian yang sekarang masih digunakan dalam ibadat agama katholik. Untuk irama tembang macapat tersebut dalam istilah jawa, sunda dan juga bali yaitu disebut irama merdeka.

Tangga nada tembang macapat asmaradana seperti di cd menurut notasi  barat  menggunakan tangga nada pentatonik yaitu lima nada (  C+, D+, E, G+, A). Kemudian untuk picthnya dengan tonalitas nada terkuatnya C+ dan modalitasnya hampir atau sama dengan tangga nada minor asli yaitu 6 (la) sama dengan C+ dengan medium vokal dan timbre terdengar jelas kualitas suarannya adalah suara pria yang mempuyai teksture monofonis (sebuah suara tunggal maupun melodis yang tunggal tampa iringan. Dan untuk dinamikanya terdapat dalam intensitas volume yaitu terdapat penekanan pada nada akhir di setiap motif. Yang diuraikan seperti dibawah ini:

(dalam notasi

barat/solmisasi)

6   7   1   3  3    3    3    3

C+   D+  E    G+———–

3    =  6    7    7 1    6     6     3     4 3

G+   C+ D+      E    C+          G+  A

Dan seterusnya

Untuk melodi pada register nadanya  nada terendah G+= 3(mi rendah), nada tertinggi E= 1 (do tinggi), sedangkan untuk Gerakan melodi : melangkah dan melompat. Dan juga pada dimensi melodi ditentukan oleh motif dan kalimat/frase yang sudah dicontohkan diatas.

Dalam pemahaman tentang tembang macapat khususnya asmaradana di uraian diatas banyak menggunakan  istilah-istilah dari musik barat, itu dikarenakan sebuah tuntutan global atas kesejajaran akan pengetahuan tentang musik, saling melengkapi dan menambah khasanah pengetahuan macapat di singkronkan pada istilah-istilah yang terdapat pada  musik barat, dan sebagai perbandingan istilah-istilah tetapi tidak mengurangi estetikanya dan tidak menunjukan keburukan atau kekurangan akan suatu teori-teori musik barat maupun teori-teori musik daerah.

Daftar Pustaka

Hugh M. miller, Pengantar Apresiasi Musik., penerjemah Drs Triyana Brahmantyo PS, 1984.

Yasa Dalem : Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Serat Wulangreh, abad 19

About these ads
Explore posts in the same categories: Etnomusikologi

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: