MAKNA TEKS TEMBANG MACAPAT DALAM KEROKHANIAN SAPTA DARMA DI SRAGEN


Latar Belakang

Tembang macapat merupakan salah satu warisan budaya yang patut untuk kita lestarikan. Di jaman yang semakin maju ini, banyak dari berbagai kalangan yang sudah meninggalkan budayanya sendiri. Salah satunya adalah tembang macapat yang dulu hampir setiap orang mengenal dan dapat menembangkannya sekarang sedikit demi sedikit hilang dikarenakan masuknya budaya pop yang kurang akan filterisasinya oleh pemerintah. Dalam tulisan mengenalkan bahwa tembang macapat masih selalu eksis dalam salah satu kepercayaan kejawen yang berada di Sragen tepatnya di desa desa Tanggan, kecamatan Gesi dengan nama kepercayaan kejawennya adalah Kerokhanian Sapta Darma.

Kerokhanian Sapta Darma merupakan salah satu aliran dari kepercayaan kejawen berasal dari jawa dan lahir dari jawa asli tepatnya turun di Pare Kediri pada tanggal 27 Desember 1952 yang wahyu tersebut diterima oleh Bp Hardjopoero (seorang tukang cukur) berupa wahyu ajaran sujud (cara manembah(suatu cara atau jalan melakukan doa) kepada Yang Maha Esa) sekarang disebut Bapa Panuntun Agung Sri Gutama. Sejak tahun 1952 sampai sekarang Kerokhanian Sapta Darma ajarannya sudah tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia bahkan sampai keluar negeri dan sekarang pusat di Surakarsan Yogyakarta. Tempat ibadah untuk  Kerokhanian Sapta Darma namanya sanggar berbentuk persegi yang biasanya panjangnya 7×7 meter untuk yang ukuran kecil yang ukuran besar 9x9m ataupun  11×11 m, disetiap sangar ada pemimpinnya dengan istilah tuntutan yang secara strukturalnya disebutkan sebagai berikut tuntunan pusat sebagai tuntunan seluruh penghayat Kerokhanian Sapta Darma, tuntunan wilayah I sebagai tuntunan se-karisidenan, tuntunan wilayah II sebagai tuntunan se-kabupaten dan tuntunan wilayah III sebagai tuntunan se-kecamatan.

Dengan turunnya wahyu sujud sebagai dasar untuk penghayat Kerokhanian Sapta Darma ini, sujud dilakukan sedikitnya satu kali dalam sehari dapat dilakukan sendiri dan juga dapat dilakukan secara bersama oleh beberapa penghayat. Tata cara sujud yang dilakukan sebagai berikut Bersila diatas kain putih berukuran 1 m belah ketupat (istilah kain putih disebut mori), kaki kanan didepan, badan tegap, tangan sedakep tangan kanan didepan kemudian mata menatap pucuk mori tersebut bersama memperhatikan masuk dan keluarnya nafas sampai mata tertutup sendiri lalu sujud tidak boleh konsentrasi tetapi harus semeleh dan pasrah menerima apa adanya kemudian dari ketenangannya kepala sampai terjatuh ke tanah istilahnya penyebutannya bungkukan lalu pengucapan doa dan seterusnya sampai 3x. dan untuk doa yang di ucapkan sebagai berikut Allah Yang Maha Agung, Rohkim, Adil, untuk bungkukan pertama: Yang Maha Suci Sujud Yang Maha Kuasa 3x, bungkukan yang kedua: Yang Maha Suci Nyuwun Ngapuro Yang Maha Kuasa 3x, bungkukan yang ketiga: Yang Maha Suci  Martobat Yang Maha Kuasa 3x dan untuk yang terakhir Yang Maha Suci Ngaturaken Agung panuwun Yng Maha Kwasa. Dan untuk lamanya dalam sujud biasanya Tergantung dari penghayat, tetapi biasanya setengah jam paling sedikit, Ada yang sampai 2 jam dan Lama dan tidaknya sujud tergantung rasa dari penghayat tetapi pada umumnya semalam sujud 2 sampai 3 kali sujud, untuk sujud bersama yang pertama dimulai jam 07.00 selesai kurang dari jam 09.00 kemudian istirahat sekitar setengah jam lalu sujud yang kedua jam 10.00 sampai kurang dari jam 12.00 malam.

Sebelum melakukan sujud biasanya salah satu orang menembangkan salah satu tembang macapat (biasanya lima bait salah satu tembang macapat) sebagai pengantar. Teks tembang macapat diambil dari  serat Wedha Darma merupakan rangkaian petikan-petikan serat yaitu serat Wedha Tama, Wulang Reh, Kalatidha, dan sekar pengiring doa karya-karya penghayat.

Untuk melantunkan tembang macapat dalam sujud bersama dapat di lihat dari konteks masyarakatnya dan di sesuaikan dengan dari mana asalnya karena tembang macapat merupakan tembang tradisional jawa dan macapat juga ada di kebudayaan Bali, Madura dan Sunda. Dilihat dari kerata basa macapat artinya membacanya empat-empat karena terakit dalam empat wanda “suku katanya” dalam membacanya. Tembang macapat dalam penelitian yang ada, lahir di akhir runtuhnya kerajaan majapahit yaitu walisanga yang memegang kekuasaan. Tetapi semua itu belum pasti dikarenakan belum ada tulisan yang sambung untuk memastikannya. Tembang macapat juga digunakan sebagai landasan bentuk tulisan pada serat Sastra Jawa Tengahan dan  Sastra Jawa Anyar. Dibandingkan dengan serat kakawin, aturan-aturan di tembang macapat lebih mudah. Kitab-kitab jaman Mataram baru, seperti Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kalatidha, dan sebagainya dirakit menggunakan aturan-aturan dalam tambang macapat yaitu terdapat guru lagu penyuaraan akhir suku kata dalam baris, guru wilangan yaitu jumlah suku kata dalam baris dan guru gatra yaitu jumlah baris dalam setiap bait.

Di Sragen, penghayat dalam sujudnya dilakukan disanggar yang setiap harinya ada orang berkumpul untuk sujud bersama kurang lebih ada sekitar lima sampai sepuluh orang yang kebanyakan laki-laki. Pada umumnya untuk sujud bersama permulaannya ditembangkan tembang macapat oleh salah satu penghayat dan terdapat uniknya lagi disela-sela istirahat disitu terdapat dialog interaktif membahas tentang teks tembang macapat yang ditembangkan, kehidupan seharian, dan masalah-masalah dalam melakukan sujud. Dari dialog interaktif ini terjalin suatu hubungan yang harmonis dan hidup disetiap topiknya terlihat dalam pengamatan semua penghayat aktif dalam mengikuti dialog tersebut.

Sebagai gambaran besar yang telah diurakan diatas tentang Kerokhanian Sapta Darma di Sragen tembang macapat selalu berperan disetiap pertemuan maupun sujud bersama. Dalam kajian ini, pemfokusannya hanya pada bagaimana analisa tembang macapat biasa digunakan seperti yaitu asmaradana dan pangkur termasuk notasinya yang biasa ditembangkan oleh masyarakat tersebut, dan apa  fungsi,  arti dan juga makna teks secara umum dari tembang macapat yang ditembangkan. Dan untuk pembahasannya terbagi menjadi dua sub bahasan yaitu analisa tekstual dari tembang macapat tersebut, dan fungsi, arti dan makna teks tembang macapat yang ditembangkan dalam kerokhanian Sapta darma di Sragen.

Analisa Teks Tembang Macapat

Tembang macapat yang digunakan dalam kerokhanian Sapta Darma di Sragen ini sama dengan penembangan tembang macapat secara solo vocal  tampa di iringi instrument apapun yang lebih menekankan kejelasan teks daripada intonasi syairnya.  Sebagai contoh penulis mencoba menotasikan bentuk tembang mocopat yang ditembangkan waktu pengamatan yang pertama tembang macapat yang berjudul asmaradana dengan laras selendro miring pathet sanga yang pada umumnya ditembangkan dalam sujud rutin bersama setiap harinya.

Asmaradana (laras selendro miring pathet sanga)

Sebenarnya untuk menembangannya bebas dalam arti dapat menggunakan bentuk ataupun gaya lain yang terpenting tidak boleh terburu-buru. Dan juga dalam penembangkannya lebih menggunakan rasa yang dapat membuat orang menjadi tenang dan lebih menekankan kejelasan teks pada tembang macapat yang akan disampaikan maksud dari teks tersebut. Dan yang kedua bentuk contoh tembang macapat yang biasa ditembangkan yaitu pangkur laras selendro pathet sanga seperti dinotasikan dibawah ini.

Kedua contoh ini adalah merupakan bentuk tembang macapat yang biasa ditembangkan dalam sujud rutin bersama di setiap harinya tetapi dalam prakteknya untuk setiap penembang tidak terdapat aturan yang menuntut untuk menggunakan bentuk ataupun gaya macapat yang seperti apa tetapi penekanannya lebih menekankan apa yang sudah di uraikan diatas dan tidak terdapat ketentuan syarat untuk menjadi penembang  “intinya warga atau penghayat kerokhanian sapta darma dapat menjadi penembang” syair yang lain tercantum dibawah alenia ini.


Asmaradana

Tapa brata sujud kaki

Pawujude ing panembah

Ywa kongsi kleru patrabe

Uga aja mangan cipta

Dhimen sujude sampurna

Bisa mawasjroneng kalbu

Weruh salah lan martobat

Blajar mati jroning urip

Pindha sukma nilar raga

Wani mati umpamane

Abote gruwat cintraka

Nurut margane sang rasa

Rasa urip kang kautus

Dene Gusti kang kuwasa

Saben bengi nggenya ngudi

Amung budi pados margo

Dimen gampang lelakune

Miyak bendu sarta papa

Dimen tembe ra kesasar

Lamun sukma wus pinundhut

Lan raga wis tampa daya

Rolas wengi nggennyo ngudi

Ngudi rasa jati mulya

Muriho kasembadane

Jejering satriya tama

Manghayu bagya bawana

Bawana lit gung sadarum

Tata tentrem tur raharja

Beja sedayaning wargi

Sami warga sapta darma

Wasis nampi tuntunane

Tumuju mring kaluhuran

Nedya tentreming bbrayan

Marga titah samya nungkul

Marang yang maha kuwasa

Pangkur

Mingkar-mingkuring angkara

Akarana karenan mardi siwi

Sinawung resmining kidung

Sinuba sinukarta

Mrih kertarta pakartining ilmu luhung

Kang tumprap ing tanah jawa

Agama ageming aji

Jinejer neng wedha tama

Mrih tan kemba kembenganing pambudi

Mangka nadyan tuwa pikun

Yen tan mikani rasa

Yekti sepi asepa Lir sepah samun

Samangsane pakumpulan

Gunyak-ganyuk nglilingsemi

Nggugu kersanepriyangga

Nora nganggo peparah lamunangkling

Lumuh ingaran balibu

Uger gurualeman

Nangin janma ingkang wus waspadeng semu

Sinamun ing samudana

Sasaon ing adu manis

Aturan/struktur Tembang Macapat

Sekar Macapat
Sekar Macapat Guru gatra Guru wilangan Guru lagu
Mijil 6 10, 6, 10, 10, 6, 6 i, o, e, i, i ,u
Sinom 9 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12 a, i, a, i, i, u ,a ,i, a
Dhandhanggula 10 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7 i, a, e, u, i, a, u ,a ,i, a
Kinanthi 6 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 u, i, a, i, a, i
Asmarandana 7 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8 a, i, e, a, a, u, a
Durma 7 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7, a, i, a, a, i, a, i
Pangkur 7 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8, a, i, u, a, u, a, i
Maskumambang 4 12, 6, 8, 8 i, a, i, a, a
Pucung 4 12, 6, 8, 12 u, a, i, a
Jurudhemung 7 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 a, u, u, a, u, a, u
Wirangrong 6 8, 8, 10, 6, 7, 8 i, o, u, i, a, a
Balabak 6 12, 3, 12, 3, 12, 3 a, e, a, e, u, e
Gambuh 5 7, 10, 12, 8, 8 u, u, i, u, o
Megatruh 4 12, 8, 8, 8, u, i, u, i, o
Girisa 8 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8, a, a, a, a, a, a, a, a

Aturan dan struktur tembang macapat tersebut berlaku bagi penghayat yang bersedia untuk berkarya sebagai kontribusi penghayat dalam menghayati kerokhanian Sapta Darma. Terdapat hal lain yang menyangkut tentang tembang tersebut yaitu tentang arti, makna teks dan fungsi tembang macapat tersebut yang akan dibahas dalam pembahasan diberikutnya.

Arti Tembang Macapat Dalam Kerokhanian Sapta Darma

Biarpun telah diuraikan tentang tekstualnya dari tambang macapat tetapi semua itu tidak dapat lepas dari kontekstualnya “hubungan teks dengan masyarakatnya” yaitu di dalam teks itu terdapat arti, makna maupun fungsi yang mau disampaikan lewat tembang macapat tersebut. Untuk membahas yang pertama yaitu Arti teks tembang macapat asmaradana yang diambil dari sekar pengiring sujud karya-karyanya warga Sapta Darma yang dijelaskan secara tematik dan untuk pangkur tidak dijelaskan artinya dikarenakan dibatasi oleh banyaknya yang sudah meneliti secara jelas dan dikarenakan teks tersebut diambil dari serat Wedhatama.

  • Asmaradana

Bait pertama mencoba menyampaikan bahwa bertapa itu merupakan berdoanya manusia yang sudah tua “sudah dewasa” , dan itu juga sarana dan perwujudan manusia untuk menyembah kepada Yang Maha Kuasa. Untuk bertapa jangan kamu salah dalam bertapa dan jangan terpengaruh oleh pikiran harus pasrah kepada Yang Maha Kuasa supaya kamu bias berdoa dengan sempurna bisa waspada mengerti salah dan benar.

Bait kedua menyampaikan bahwa manusia belajar untuk mati di dalam hidup itu sampai sukma meninggalkan raga, manusia juga tidak boleh takut untuk mati, memang berat untuk membersihkan gara yang kotor untuk mati secara sempurna yaitu dengan jalan menuruti rasa yang di dalam tubuh manusia, rasa itu adalah rasa yang di utus oleh Gusti Yang Maha kuasa.

Bait ketiga menyampaikan: setiap hari bertapalah supaya kamu dapat jalan yang mudah untuk menerjang hambatan, supaya tidak bingung dan sebagai bekal di hari tua  waktu sukma sudah diambil dan raga sudah tidak ada tenaga.

Bait keempat menyampaikan: dua belas hari kamu belajar bertapa, belajar menemukan rasa sejati yang mulia supaya terlacapilah tujuan hidupmu supaya kau jadi satriya utama menjaga bumi dan isinya yaitu dunia kecil “tubuh manusia” dan dunia besar “alam semesta” supaya tentram dan damai.

Bait kelima menyampaikan: beruntunglah semua warga Sapta Darma pintar, tekun dan cerdas menerima ajarannya yang menuju keluhuran sampai bias menentramkan manusia di sekitarnya karena sudah menyatunya anatara manusia dengan Yang Maha Kuasa.

Fungsi dan Makna Tembang Macapat Dalam Kerokhanian Sapta Darma

Secara jelas, perbedaan yang paling besar antara medium instrumental dan medium vocal adalah kemampuan vocal untuk menyampaikan ide-ide melalui kata-kata. Teks dan syair dam musik memiliki hubungan rapat didalam setiap repertoar tembang macapat. Dan kualitas bahasa penyampaian membawa pengaruh yang berarti atas bunyi-bunyi yang ditembangkan. Seperti yang di bawah ini adalah fungsi dan makna tembang macapat dalam Kerokhanian Sapta Darma:

  1. Sebagai sarana Penyampaian pesan maupun ajaran kerokhanian Sapta Darma yang terkandung dalam teks macapat dengan maksud “ secara jelas bahwa teks makna dalam macapat mengandung arti yang sangaat dalam bagi si penghayat”.
  2. Sebagai pengantar untuk sujud “apa yang akan dilakukan waktu sujud” dengan maksud dalam sujud terdapat aturan-aturan khusus yang perlu diperhatikan dan ditaati supaya lancer dalam melakukan sujud.
  3. Sebagai sarana supaya cepat mencapai keheningan dalam sujud dengan maksud  “untuk mencapai keheningan sujud terdapat tingkatan-tingkatan”maka dari itu tembang macapat digunakan sebagai sarana supaya cepat untuk mencapai keheningan.
  4. Sebagai sarana untuk menyalurkan rasa oleh si penembang kepada warga yang mendengarkan dengan maksud “ bahwa si penembang seharusnya dapat mnyalurkan rasa dari getaran halus yang terdapat di dalam tubuhnya supaya merasakan si pendengar  supaya dapat tersalurkan getaran-getaran halus.

Kesimpulan

Di dalam analisa tembang macapat dalam kerokhanian sapta darma ini di simpulkan bahwa Secara jelas sudah diutarakan, perbedaan yang paling besar antara medium instrumental dan medium vokal adalah kemampuan vokal dalam menyampaikan ide-ide melalui kata-kata. Teks dan syair dalam musik memiliki hubungan rapat ataupun erat didalam setiap repertoar tembang macapat. Dan kualitas bahasa penyampaian membawa pengaruh yang berarti atas bunyi-bunyi yang ditembangkan.

by Sukoco

Daftar Pustaka

  1. Himpunan Sekertariat Tuntunan Agung Kerokhanian Sapta Darma, Serat Wedha Darma merupakan rangkaian petikan-petikan serat yaitu serat Wedha Tama, Wulang Reh, Kalatidha, dan sekar pengiring doa karya-karya penghayat, Surakarsan, Yogyakarta.
  2. Sri Pawenang, Pedoman Penggalian Pribadi Secara Kerokhanian Sapta Darma, Himpunan Sekertariat Tuntunan Agung Kerokhanian Sapta Darma, Surakarsan, Yogyakarta
  3. Hugh M. miller, Pengantar Apresiasi Musik., penerjemah Drs Triyana Brahmantyo PS

About these ads
Explore posts in the same categories: Etnomusikologi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: