Festival Musik Tradisi Jawa Tengah 2008: Ajang Pengembangan Musik Tradisi


Oleh: Muhammad Nur Salim

”Dalam festival ini selain melestarikan diharapkan muncul pengembangan-pengembangan garap dengan basis musik tradisi…”, itulah sepenggal kata-kata yang keluar dari mulut Subiyanto S.Kar (ketua panitia) dalam sambutan Festival Musik Tradisi di Taman Budaya Jawa Tengah Selasa malam lalu (04/11). Pada kesempatan itu, beliau juga berpesan untuk bersama-sama menyelamatkan dan mengembangkan seni musik tradisi Jawa Tengah.

Sorotan lampu tembak memang menghujani para peserta yang saat itu tengah menyuguhkan dengan apik bahkan dengan semangat yang meledak-ledak beragam musik tradisi dari daerah mereka masing-masing. Namanya juga festival musik. Ya pasti nantinya bakal ada yang jadi juara. Entah itu dapat hadiah uang pembinaan ataupun cuma sekedar tropi saja. Lain halnya kalau pas tanggapan biasa, bisa jadi cuma dapat makan. Untuk itu peserta festival yang waktu itu berasal dari Banyumas, Rembang, Blora, Pati, Kebumen, Semarang, Cilacap, dan tentunya dari Surakarta berusaha menggarap musik yang tradisi itu dengan sebuah pengembangan-pengembangan yang sepertinya menjadi lebih berbeda dari yang biasanya. Meskipun tidak semuanya seperti itu, contohnya kelompok  Padhepokan Seni Cengkir Kelapa Gading, meskipun dalam sinopsis karyanya tertulis  bahwa kothek lesung Blora telah mengalami perkembangan berupa penambahan vokal dan tarian, pada kenyataanya saat pentas hal itu tak ditemui, sajian yang berjudul Limang Gendhing Kothek Lesung tidak ada vokal atau tariannya. Kelompok lainnya, Seni Musik Rakyat Angklung Sorog dari Kabupaten Banyumas menyuguhkan sajian Angklung Sorog yang merupakan pengembangan dari kesenian Buncis yang didalamnya terdapat unsur musik, lagu dan tari dengan menambahkan alat perkusi seperti genjring dan jidur serta menyisipkan unsur kesenian Rangkong dan tari Daeng sehingga penampilan Angklung sorog ini menjadi lebih dinamis. Beberapa pengembangan lain ditunjukkan oleh kelompok dari Sragen yang menggarap Gendhing-gendhing Badhutan Sragen yang riang dan terkesan tidak mengacu kepada kebudayaan kraton Surakarta. Setidaknya contoh-contoh diatas sudah mewakili tujuan diselenggarakannya festival ini, yakni untuk tetap melestarikan dan mengembangkan seni musik tradisi di Jawa Tengah.

Bisa dikatakan bahwa kondisi masyarakat mempengaruhi jenis ataupun bentuk kesenian yang ada didalamnya.  Kalau kondisi masyarakatnya berubah, bisa jadi bentuk kesenian yang mereka miliki dan warisi juga ikut berubah. Dengan adanya Festival Musik Tradisi Jawa tengah ini hendaknya menjadi tolok ukur perkembangan seni-seni tradisi yang ada di Jawa Tengah. Atau setidaknya sebagai ajang berekspresi seniman-seniman tradisi untuk menunjukkan keeksistensian kesenian tradisional mereka.

About these ads
Explore posts in the same categories: Etnomusikologi, Kritik Seni

Satu komentar pada “Festival Musik Tradisi Jawa Tengah 2008: Ajang Pengembangan Musik Tradisi”

  1. Mbah Bolong Berkata

    Assalamualaikum warohmah Wabarokah,..
    Terimakasih atas informasi Nya,..Saya Salah Satu Dari Peserta Lomba Tersebut Yang Berasal Dari Semarang Yang Menampilkan Musik Tradisi Rebana,..Sudikah KiraNya Saudara Mengirimkan Rekaman Vidio Tersebut Kepada Saya,.?.
    Karna Vidio Yang Panjenengan Kirimkan Waktu Itu Hilang,..
    Trimakasih Sebelum Nya,..
    Wassalamualaikum wr Wb.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: