SENI DALAM WAWASAN AL-QURAN


By Muh Salim
Apabila seni membawa manfaat bagi manusia,  memperindah  hidup dan  hiasannya yang dibenarkan agama, mengabadikan nilai-nilai luhur dan menyucikannya, serta mengembangkan serta memperhalus rasa keindahan dalam jiwa manusia, maka sunnah Nabi mendukung, tidak menentangnya. Karena ketika itu ia telah  menjadi  salah satu  nikmat  Allah  yang dilimpahkan kepada manusia. Demikian Muhammad Imarah dalam bukunya Maalim Al-Manhaj Al-Islami  yang penerbitannya  disponsori  oleh  Dewan Tertinggi Datwah Islam, Al-Azhar  bekerjasama  dengan  Al-Mahad  Al-Alami   lil   Fikr Al-Islami (International Institute for Islamic Thought).
Larangan Seni Suara
Ada tiga ayat yang dijadikan alasan oleh sementara ulama untuk melarang (paling sedikit dalam arti  memakruhkan)  nyanyian, yaitu: surat Al-Isra (17): 64, Al-Najm (53): 59-61, dan Luqman (31): 6.
Surat Al-Isra dimaksud adalah perintah Allah kepada setan:
“Hasunglah siapa yang kamu sanggup (hasung) diantara mereka (manusia) dengan suaramu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang beralas kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak, dan beri janjilah mereka. Tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka kecuali tipuan belaka”.
Kata suaramu dalam ayat di atas menurut sementara ulama adalah nyanyian.  Tetapi  benarkah  demikian?  Membatasi  arti  suara dengan nyanyian merupakan pembatasan yang tidak berdasar,  dan kalaupun  itu  diartikan nyanylan, maka nyanyian yang dimaksud adalah yang didendangkan oleh setan,  sebagaimana  bunyi  ayat ini.  Dan  suatu ketika ada nyanyian yang dilagukan oleh bukan setan, maka belum tentu termasuk yang dikecam oleh ayat ini.
Surat Al-Najm yang dimaksud adalah:
“Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini (adanya Kiamat)? Kamu menertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu samidun” (QS Al-Najm [53]:59-61).
Kata samidun diartikan oleh yang melarang  seni  suara  dengan arti  dalam keadaan menyanyi-nyanyi. Arti ini tidak disepakati oleh ulama, karena kata tersebut walaupun digunakan oleh  suku Himyar  (salah  satu  suku  bangsa  Arab) dalam arti demikian. Tetapi  dalam  kamus-kamus  bahasa  seperti  –Mujam   Maqayis Al Lughah–  dijelaskan  bahwa akar kata samidun adalah samada yang maknanya berkisar pada berjalan bersungguh-sungguh  tanpa menoleh  ke  kiri  dan  ke  kanan,  atau  secara  majazi dapat diartikan serius  atau  tidak  mengindahkan  selain  apa  yang dihadapinya. Dengan  demikian,  kata  samidun  dalam  ayat  tersebut  dapat diartikan lengah karena seorang yang  lengah  biasanya  serius dalam menghadapi sesuatu dan tidak mengindahkan yang lain Dalam  Al-Quran  dan  Terjemahnya  Departemen  Agama  RI  kata samidun diartikan seperti keterangan di  atas,  yakni  lengah. Kalaupun  kata  di  atas  dibatasi  dalam  arti  nyanyian maka nyanyian yang dikecam  di  sini  adalah  yang  dilakukan  oleh orang-orang   menertawakan   adanya   hari  kiamat,  dan  atau me1engahkan mereka (1ari peristiwa yang  seharusnya  memilukan mereka.
Ayat ketiga yang dijadikan argumentasi keharaman menyanyi atau mendengarkannya adalah surat Luqman ayat 6 :
“Di antara manusia ada yang mempergunakan lahwa al-hadits (kata-kata yang tidak berguna) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa     pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh siksa yang menghinakan.”
Mereka  mengartikan  kata-kata  yang  tidak   berguna   (lahwa al-hadits) sebagai nyanyian. Pendapat  ini  jelas tidak beralasan untuk menolak seni-suara,
bukan saja karena  lahwa  al-hadits  tidak  berarti  nyanyian, tetapi  juga  karena  seandainya  kalimat  tersebut  diartikan nyanyian, yang dikecam di  sini  adalah  bila  kata-kata  yang tidak berguna itu menjadi alat untuk menyesatkan manusia. Jadi
masalahnya bukan terletak  pada  nyanyiannya,  melainkan  pada dampak yang diakibatkanya.
Sejarah  kehidupan  Rasulullah  Saw.  membuktikan bahwa beliau tidak  melarang   nyanyian   yang   tidak   mengantar   kepada kemaksiatan.  Bukankah  sangat populer di kalangan umat Islam, lagu-lagu yang dinyanylkan oleh kaum Anshar di  Madinah  dalam menyambut Rasulullah Saw.?
Thalaa al-badru alaina. Min tsaniyat al-wadai
Wajabasy syukru alaina. Ma daa lillahi dai
Ayyuha al-mabutsu fina. Jita bil amril muthai
Memang benar, apabila nyanyian mengandung kata-kata yang tidak sejalan dengan ajaran Islam, maka ia harus ditolak. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa dua orang wanita  mendendangkan  lagu  yang isinya   mengenang   para  pahlawan  yang  telah  gugur  dalam peperangan Badr sambil menabuh gendang. Di antaranya  syairnya adalah:
“Dan kami mempunyai Nabi yang mengetahui apa yang akan
terjadi besok”
Mendengar ini Nabi Saw. menegur mereka sambil bersabda:
“Adapun yang demikian, maka jangan kalian ucapkan.
Tidak ada yang mengetahui (secara pasti) apa yang
terjadi esok kecuali Allah (Diriwayatkan oleh Ahmad)”.
Al-Quran sendiri memperhatikan nada dan langgam ketika memilih kata-kata    yang   digunakannya   setelah   terlebih   dahulu memperhatikan kaitan antara  kandungan  kata  dan  pesan  yang ingin disampaikannya. Sebelum  seseorang terpesona dengan keunikan atau kemukjizatan kandungan Al-Quran, terlebih  dahulu  ia  akan  terpukau  oleh beberapa  hal  yang  berkaitan  dengan  susunan  kata-kata dan
kalimatnya, antara lain menyangkut nada dan langgamnya. Walaupun ayat-ayat Al-Quran ditegaskan oleh Allah bukan syair, atau  puisi,  namun ia terasa dan terdengar mempunyai keunikan dalam irama dan ritmenya. Ini  disebabkan  karena  huruf  dari
kata-kata  yang  dipilihnya  melahirkan  keserasian bunyi, dan kemudian kumpulan kata-kata  itu  melahirkan  pula  keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayatayatnya. Bacalah misalnya surat Asy-Syams, atau Adh-Dhuha atau Al-Lahab
dan surat-surat lainnya. Atau baca  misalnya  surat  An-Naziat ayat 15-26. Yang  ingin  digarisbawahi  di sini adalah nada dan irama yang unik itu. Ini berarti bahwa  Allah  sendiri  berfirman  dengan menyampaikan  kalimat-kalimat  yang  memiliki  irama dan nada. Nada  dan  irama  itu  tidak  lain  dari  apa  yang   kemudian diistilahkan  oleh  sementara  ilmuwan  Al-Quran dengan Musiqa Al-Quran (musik Al-Quran). Ini belum lagi jika  ditinjau  dari segi  ilmu  tajwid yang mengatur antara lain panjang pendeknya nada  bacaan,   bahkan   belum   lagi   dan   lagu-lagu   yang diperkenalkan oleh ulama-ulama Al-Quran. Imam Bukhari, dan Abu Daud meriwayatkan sabda Nabi Saw.:
“Perindahlah Al-Quran dengan suara kamu”.
Bukankah semua  ini  menunjukkan  bahwa  menyanyikan  Al-Quran tidak terlarang, dan karena itu menyanyi secara umum pun tidak terlarang kecuali kalau nyanyian tersebut tidak sejalan dengan tuntunan Islam.
Seni Dalam Islam
Apakah  seni suara (nyanyian) harus dalam bahasa Arab? ataukah harus berbicara tentang ajaran Islam? Dengan tegas  jawabannva adalah: Tidak. Dalam konteks ini, Muhammad Quthb menulis.
“Kesenian Islam tidak harus berbicara tentang Islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. ‘Seni yang Islami adalah seni yang dapat menggambarkar wujud ini, dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan Islam tentang alam, hidup, dan manusia yang mengantar menuju pertemuan s empurna antara kebenaran dan keindahan. Boleh jadi seseorang menggambarkan Muhammad Saw. dengan sangat indah sebagai tokoh genius yang memiliki berbagai keistimewaan. Penggambaran semacam ini belum menjadikan karya seni yang ditampilkannya adalah seni yang Islami, karena ketika itu ia baru menampilkan beliau sebagai manusia, tanpa menggambarkan hubungan beliau dengan hakikat mutlak yaitu Allah Swt. Penggambaran itu tidak sejalan dengan pandangan Islam menyangkut manusia”.
Anda boleh memilih objek dan cara menampilkan seni. Anda boleh menggambarkan  kenyataan  yang  hidup dalam masyarakat di mana Anda berada. Anda boleh memadukannya dengan  apa  saja,  boleh berimajinasi  karena  lapangan seni Islami adalah semua wujud, tetapi sedikit catatan, yaitu jangan  sampai  seni  yang  Anda tampilkan  bertentangan  dengan  fitrah  atau  pandangan Islam tentang wujud itu sendiri. Jangan sampai,  misalnya  pemaparan tentang  manusia  hanya  terbatas  pada jasmaninya semata atau yang ditonjolkan hanya  manusia  dalam  aspek debu  tanahnya, tidak  disertai  dengan  unsur  roh  Ilahi  yang menjadikannya sebagai manusia. Jika catatan ini diindahkan, maka pada  saat  itu  pula,  seni telah  mengayunkan  langkah  untuk  berfungsi  sebagai  sarana dakwah Islamiyah. Islam, melalui sumber  utamanya  Al-Quran,  bahkan  melukiskan dengan  sangat  indah,  kelemahan-kelemahan  manusia;  gejolak nafsu berahi pun ditampilkannya, Dan dirayunya pemuda yang ada di  rumahnya?  ditutupnya  semua  pintu  amat  rapat.  Ssambil berkata Inilah daku. Sesunguhnya dia telah bermaksud melakukan itu  dan pemuda  itu  pun bermaksud … Begitu sekelumit dari sisi kelemahan manusia yang  diabadikan  oleh  Al-Quran  dalam kisah  Yusuf (QS 12: 23-24). Tetapi Al-Quran tidak larut dalam melukiskannya –karena ini dapat  menghanyutkan,  tetapi  juga dia  tidak berhenti sampai di sana. Karena itu baru aspek debu tanah  manusia,  kisahnya  dilanjutkan  dengan   menggambarkan kesadaran  para  pelaku,  sehingga  pada akhirnya bertemu debu tanah dan ruh Ilahi itu pada sosok kedua hamba Allah itu.
Allah  Swt.  meyakinkan  manusia  tentang   ajarannya   dengan menyentuh  seluruh  totalitas manusia, termasuk menyentuh hati mereka melalui seni yang  ditampilkan  Al-Quran,  antara  lain melalui  kisah-kisah  nyata  atau  simbolik  yang  dipadu oleh imajinasi:  melalui  gambaran-gambaran  konkret  dari  gagasan abstrak  yang  dipaparkan  dalam  bahasa  seni  yang  mencapai puncaknya. Dapat dipastikan bahwa  Al-Quran  menggunakan  seni untuk dakwah, dan dapat pula dipastikan bahwa selama ini, kita belum memanfaatkan secara maksimal apalagi  mengembangkan  apa
yang dicontohkan Al-Quran itu. Kalau  Al-Quran  menggambarkan  dalam  bahasa  lisan sikap dan gejolak hati manusia, maka tentu tidak ada salahnya jika sikap dan gejolak hati itu digambarkan dalam bentuk bahasa gerak dan mimik, bersama dengan bahasa lisan. Itulah salah  satu  contoh pengembangan,  karena  menjadikan  Al-Quran  sebagai  petunjuk bukan berarti kita harus menirunya dalam  segala  hal,  tetapi dalam   bidang  seni  misalnya,  ia  berarti  menghayati  jiwa bimbingan  dan  nafas  penampilannya,  kemudian  setelah   itu mempersilakan  setiap  seniman  untuk  menerjemahkan  jiwa dan nafas tersebut dalam kreasi seninya.
Al-Quran misalnya menjadikan kisah sebagai salah  satu  sarana pendidikan  yang  sejalan  dengan  pandangannya  tentang alam, manusia, dan kehidupan. Maka pada saat  seseorang  menggunakan kisah sebagai sarana pendidikan seni dan hiburan dengan tujuan memperhalus budi,  mengingatkan  tentang  jati  diri  manusia, menggambarkan akibat baik atau buruk dan satu pengamalan, maka pada saat itu,  seni  yang  ditampilkannya  adalah  seni  yang bernafaskan Islam, walaupun di celah-celah kisahnya dilukiskan kelemahan  manusia  dalam  batas  dan  penampilan  yang  tidak mendorong kejatuhannya. Al-Quran  dan  sunnah  misalnya  melukiskan alam dengan begitu indah, berdialog, dan bersambung rasa dengan manusia. Dan pada saat  kita  menikmati suatu lukisan yang hidup, maka kisah itu telah memerankan pandangan  Islam  tentang  alam,  tidak  jauh berbeda  dengan  ungkapan Rasulullah Saw. ketika melukiskannya dengan bahasa lisan
“Gunung ini (Uhud) mencintai kita dan kita pun
Mencintainya”.
Memang Al-Quran, demikian juga  sunnah,  sangat  memperhatikan sisi  hidup  pada  penggambaran  yang diberikannya. Perhatikan bagaimana Al-Quran melukiskan tanah yang gersang sebagai tanah yang  mati,  dan tanah vang subur sebagai tanah yang hidup (QS Al-Baqarah [2]:  164).  Bahkan  dengarkan  bagaimana  Al-Quran melukiskan  alam  raya  ini bagai sesuatu yang hidup dan mampu berdialog.
“Kemudian Allah menuju kepada penciptaan langit, dan
langit (ketika itu) masih merupakan asap, lalu Dia
berkata kepadanya dan kepada bumi, Datanglah kamu
berdua menurut perintah-Ku suka atau tidak suka!
Keduanya menjawab, Kami datang dengan suka hati” (QS
Al-Fushshilat [41]: 11).
Bahkan segala sesuatu hidup bertasbih kepada Allah:
”Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di
dalamnya bertasbih kepada-Nya (Allah). Tiada sesuatu
pun melainkan bertasbih. dengan memuji-Nya, tetapi
kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun. Lagi Maha
Pengampun” (QS Al-Isra[17]: 44).
Tentu penggambaran alam raya ini sebagai sesuatu  yang  hidup, bukan sekadar bertujuan seni, tetapi untuk mengingatkan kepada manusia bahwa alam raya adalah sesuatu yang hidup dan memiliki kepribadian.   Sehingga   manusia   perlu   menjalin  hubungan persahabatan dengannya, atau  paling  tidak  alam  raya  perlu dipelihara,    dijaga   kesinambungannya   serta   dilimpahkan kepadanya rahmat dan kasih sayang.
Seni dan Budaya Asing
Islam dapat menerima semua hasil karya manusia selama  sejalan dengan  pandangan  Islam menyangkut wujud alam raya ini. Namun demikian wajar dipertanyakan bagaimana sikap  satu  masyarakat dengan  kreasi  seninya  yang  tidak  sejalan  dengsan  budaya masyarakatnya? Dalam  konteks  ini,  perlu   digarisbawahi   bahwa   Al-Quran memerintahkan   kaum   Muslim   untuk   menegakkan  kebajikan, memerintahkan perbuatan makruf dan mencegah perbuatan munkar. Makruf merupakan budaya masyarakat sejalan dengan  nilai-nilai agama,  sedangkan  munkar  adalah perbuatan yang tidak sejalan dengan budaya masyarakat. Dari sini,  setiap  Muslim  hendaknya  memelihara  nilai-nilai budaya  yang  makruf  dan sejalan dengan ajaran agama, dan ini akan mengantarkan mereka untuk memelihara  hasil  seni  budaya setiap   masyarakat.   Seandainya   pengaruh   –apalagi  yang negatif– dapat merusak adat-istiadat serta kreasi  seni  darisatu  masyarakat,  maka kaum Muslim di daerah itu harus tampil mempertahankan makruf yang diakui  oleh  masyarakatnya,  serta membendung setiap usaha –dari mana pun datangnya– yang dapat merongrong makruf tersebut.  Bukankah  Al-Quran  memerintahkanuntuk menegakkan makruf?!
Demikian,  sekelumit yang dapat dikemukakan tentang seni dalam wawasan  Al-Quran.  Agaknya  kita  dapat  menyimpulkan   bahwa Al-Quran  sangat  menghargai  segala  kreasi manusia, termasuk kreasi  manusia  yang  lahir  dari  penghayatan  rasa  manusia terhadap  seluruh  wujud  ini,  selama kreasi tersebut sejalan dengan fitrah kesucian jiwa manusia.

Apabila seni membawa manfaat bagi manusia,  memperindah  hidup dan  hiasannya yang dibenarkan agama, mengabadikan nilai-nilai luhur dan menyucikannya, serta mengembangkan serta memperhalus rasa keindahan dalam jiwa manusia, maka sunnah Nabi mendukung, tidak menentangnya. Karena ketika itu ia telah  menjadi  salah satu  nikmat  Allah  yang dilimpahkan kepada manusia. Demikian Muhammad Imarah dalam bukunya Maalim Al-Manhaj Al-Islami  yang penerbitannya  disponsori  oleh  Dewan Tertinggi Datwah Islam, Al-Azhar  bekerjasama  dengan  Al-Mahad  Al-Alami   lil   Fikr Al-Islami (International Institute for Islamic Thought).
Larangan Seni Suara
Ada tiga ayat yang dijadikan alasan oleh sementara ulama untuk melarang (paling sedikit dalam arti  memakruhkan)  nyanyian, yaitu: surat Al-Isra (17): 64, Al-Najm (53): 59-61, dan Luqman (31): 6.
Surat Al-Isra dimaksud adalah perintah Allah kepada setan:
“Hasunglah siapa yang kamu sanggup (hasung) diantara mereka (manusia) dengan suaramu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang beralas kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak, dan beri janjilah mereka. Tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka kecuali tipuan belaka”.
Kata suaramu dalam ayat di atas menurut sementara ulama adalah nyanyian.  Tetapi  benarkah  demikian?  Membatasi  arti  suara dengan nyanyian merupakan pembatasan yang tidak berdasar,  dan kalaupun  itu  diartikan nyanylan, maka nyanyian yang dimaksud adalah yang didendangkan oleh setan,  sebagaimana  bunyi  ayat ini.  Dan  suatu ketika ada nyanyian yang dilagukan oleh bukan setan, maka belum tentu termasuk yang dikecam oleh ayat ini.
Surat Al-Najm yang dimaksud adalah:
“Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini (adanya Kiamat)? Kamu menertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu samidun” (QS Al-Najm [53]:59-61).
Kata samidun diartikan oleh yang melarang  seni  suara  dengan arti  dalam keadaan menyanyi-nyanyi. Arti ini tidak disepakati oleh ulama, karena kata tersebut walaupun digunakan oleh  suku Himyar  (salah  satu  suku  bangsa  Arab) dalam arti demikian. Tetapi  dalam  kamus-kamus  bahasa  seperti  –Mujam   Maqayis Al Lughah–  dijelaskan  bahwa akar kata samidun adalah samada yang maknanya berkisar pada berjalan bersungguh-sungguh  tanpa menoleh  ke  kiri  dan  ke  kanan,  atau  secara  majazi dapat diartikan serius  atau  tidak  mengindahkan  selain  apa  yang dihadapinya. Dengan  demikian,  kata  samidun  dalam  ayat  tersebut  dapat diartikan lengah karena seorang yang  lengah  biasanya  serius dalam menghadapi sesuatu dan tidak mengindahkan yang lain Dalam  Al-Quran  dan  Terjemahnya  Departemen  Agama  RI  kata samidun diartikan seperti keterangan di  atas,  yakni  lengah. Kalaupun  kata  di  atas  dibatasi  dalam  arti  nyanyian maka nyanyian yang dikecam  di  sini  adalah  yang  dilakukan  oleh orang-orang   menertawakan   adanya   hari  kiamat,  dan  atau me1engahkan mereka (1ari peristiwa yang  seharusnya  memilukan mereka.
Ayat ketiga yang dijadikan argumentasi keharaman menyanyi atau mendengarkannya adalah surat Luqman ayat 6 :
“Di antara manusia ada yang mempergunakan lahwa al-hadits (kata-kata yang tidak berguna) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa     pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh siksa yang menghinakan.”
Mereka  mengartikan  kata-kata  yang  tidak   berguna   (lahwa al-hadits) sebagai nyanyian. Pendapat  ini  jelas tidak beralasan untuk menolak seni-suara,bukan saja karena  lahwa  al-hadits  tidak  berarti  nyanyian, tetapi  juga  karena  seandainya  kalimat  tersebut  diartikan nyanyian, yang dikecam di  sini  adalah  bila  kata-kata  yang tidak berguna itu menjadi alat untuk menyesatkan manusia. Jadimasalahnya bukan terletak  pada  nyanyiannya,  melainkan  pada dampak yang diakibatkanya.
Sejarah  kehidupan  Rasulullah  Saw.  membuktikan bahwa beliau tidak  melarang   nyanyian   yang   tidak   mengantar   kepada kemaksiatan.  Bukankah  sangat populer di kalangan umat Islam, lagu-lagu yang dinyanylkan oleh kaum Anshar di  Madinah  dalam menyambut Rasulullah Saw.?
Thalaa al-badru alaina. Min tsaniyat al-wadai     Wajabasy syukru alaina. Ma daa lillahi dai     Ayyuha al-mabutsu fina. Jita bil amril muthai
Memang benar, apabila nyanyian mengandung kata-kata yang tidak sejalan dengan ajaran Islam, maka ia harus ditolak. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa dua orang wanita  mendendangkan  lagu  yang isinya   mengenang   para  pahlawan  yang  telah  gugur  dalam peperangan Badr sambil menabuh gendang. Di antaranya  syairnya adalah:
“Dan kami mempunyai Nabi yang mengetahui apa yang akan     terjadi besok”
Mendengar ini Nabi Saw. menegur mereka sambil bersabda:
“Adapun yang demikian, maka jangan kalian ucapkan.     Tidak ada yang mengetahui (secara pasti) apa yang     terjadi esok kecuali Allah (Diriwayatkan oleh Ahmad)”.
Al-Quran sendiri memperhatikan nada dan langgam ketika memilih kata-kata    yang   digunakannya   setelah   terlebih   dahulu memperhatikan kaitan antara  kandungan  kata  dan  pesan  yang ingin disampaikannya. Sebelum  seseorang terpesona dengan keunikan atau kemukjizatan kandungan Al-Quran, terlebih  dahulu  ia  akan  terpukau  oleh beberapa  hal  yang  berkaitan  dengan  susunan  kata-kata dankalimatnya, antara lain menyangkut nada dan langgamnya. Walaupun ayat-ayat Al-Quran ditegaskan oleh Allah bukan syair, atau  puisi,  namun ia terasa dan terdengar mempunyai keunikan dalam irama dan ritmenya. Ini  disebabkan  karena  huruf  darikata-kata  yang  dipilihnya  melahirkan  keserasian bunyi, dan kemudian kumpulan kata-kata  itu  melahirkan  pula  keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayatayatnya. Bacalah misalnya surat Asy-Syams, atau Adh-Dhuha atau Al-Lahabdan surat-surat lainnya. Atau baca  misalnya  surat  An-Naziat ayat 15-26. Yang  ingin  digarisbawahi  di sini adalah nada dan irama yang unik itu. Ini berarti bahwa  Allah  sendiri  berfirman  dengan menyampaikan  kalimat-kalimat  yang  memiliki  irama dan nada. Nada  dan  irama  itu  tidak  lain  dari  apa  yang   kemudian diistilahkan  oleh  sementara  ilmuwan  Al-Quran dengan Musiqa Al-Quran (musik Al-Quran). Ini belum lagi jika  ditinjau  dari segi  ilmu  tajwid yang mengatur antara lain panjang pendeknya nada  bacaan,   bahkan   belum   lagi   dan   lagu-lagu   yang diperkenalkan oleh ulama-ulama Al-Quran. Imam Bukhari, dan Abu Daud meriwayatkan sabda Nabi Saw.:     “Perindahlah Al-Quran dengan suara kamu”. Bukankah semua  ini  menunjukkan  bahwa  menyanyikan  Al-Quran tidak terlarang, dan karena itu menyanyi secara umum pun tidak terlarang kecuali kalau nyanyian tersebut tidak sejalan dengan tuntunan Islam.
Seni Dalam Islam
Apakah  seni suara (nyanyian) harus dalam bahasa Arab? ataukah harus berbicara tentang ajaran Islam? Dengan tegas  jawabannva adalah: Tidak. Dalam konteks ini, Muhammad Quthb menulis.
“Kesenian Islam tidak harus berbicara tentang Islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. ‘Seni yang Islami adalah seni yang dapat menggambarkar wujud ini, dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan Islam tentang alam, hidup, dan manusia yang mengantar menuju pertemuan s empurna antara kebenaran dan keindahan. Boleh jadi seseorang menggambarkan Muhammad Saw. dengan sangat indah sebagai tokoh genius yang memiliki berbagai keistimewaan. Penggambaran semacam ini belum menjadikan karya seni yang ditampilkannya adalah seni yang Islami, karena ketika itu ia baru menampilkan beliau sebagai manusia, tanpa menggambarkan hubungan beliau dengan hakikat mutlak yaitu Allah Swt. Penggambaran itu tidak sejalan dengan pandangan Islam menyangkut manusia”.
Anda boleh memilih objek dan cara menampilkan seni. Anda boleh menggambarkan  kenyataan  yang  hidup dalam masyarakat di mana Anda berada. Anda boleh memadukannya dengan  apa  saja,  boleh berimajinasi  karena  lapangan seni Islami adalah semua wujud, tetapi sedikit catatan, yaitu jangan  sampai  seni  yang  Anda tampilkan  bertentangan  dengan  fitrah  atau  pandangan Islam tentang wujud itu sendiri. Jangan sampai,  misalnya  pemaparan tentang  manusia  hanya  terbatas  pada jasmaninya semata atau yang ditonjolkan hanya  manusia  dalam  aspek debu  tanahnya, tidak  disertai  dengan  unsur  roh  Ilahi  yang menjadikannya sebagai manusia. Jika catatan ini diindahkan, maka pada  saat  itu  pula,  seni telah  mengayunkan  langkah  untuk  berfungsi  sebagai  sarana dakwah Islamiyah. Islam, melalui sumber  utamanya  Al-Quran,  bahkan  melukiskan dengan  sangat  indah,  kelemahan-kelemahan  manusia;  gejolak nafsu berahi pun ditampilkannya, Dan dirayunya pemuda yang ada di  rumahnya?  ditutupnya  semua  pintu  amat  rapat.  Ssambil berkata Inilah daku. Sesunguhnya dia telah bermaksud melakukan itu  dan pemuda  itu  pun bermaksud … Begitu sekelumit dari sisi kelemahan manusia yang  diabadikan  oleh  Al-Quran  dalam kisah  Yusuf (QS 12: 23-24). Tetapi Al-Quran tidak larut dalam melukiskannya –karena ini dapat  menghanyutkan,  tetapi  juga dia  tidak berhenti sampai di sana. Karena itu baru aspek debu tanah  manusia,  kisahnya  dilanjutkan  dengan   menggambarkan kesadaran  para  pelaku,  sehingga  pada akhirnya bertemu debu tanah dan ruh Ilahi itu pada sosok kedua hamba Allah itu.
Allah  Swt.  meyakinkan  manusia  tentang   ajarannya   dengan menyentuh  seluruh  totalitas manusia, termasuk menyentuh hati mereka melalui seni yang  ditampilkan  Al-Quran,  antara  lain melalui  kisah-kisah  nyata  atau  simbolik  yang  dipadu oleh imajinasi:  melalui  gambaran-gambaran  konkret  dari  gagasan abstrak  yang  dipaparkan  dalam  bahasa  seni  yang  mencapai puncaknya. Dapat dipastikan bahwa  Al-Quran  menggunakan  seni untuk dakwah, dan dapat pula dipastikan bahwa selama ini, kita belum memanfaatkan secara maksimal apalagi  mengembangkan  apayang dicontohkan Al-Quran itu. Kalau  Al-Quran  menggambarkan  dalam  bahasa  lisan sikap dan gejolak hati manusia, maka tentu tidak ada salahnya jika sikap dan gejolak hati itu digambarkan dalam bentuk bahasa gerak dan mimik, bersama dengan bahasa lisan. Itulah salah  satu  contoh pengembangan,  karena  menjadikan  Al-Quran  sebagai  petunjuk bukan berarti kita harus menirunya dalam  segala  hal,  tetapi dalam   bidang  seni  misalnya,  ia  berarti  menghayati  jiwa bimbingan  dan  nafas  penampilannya,  kemudian  setelah   itu mempersilakan  setiap  seniman  untuk  menerjemahkan  jiwa dan nafas tersebut dalam kreasi seninya.
Al-Quran misalnya menjadikan kisah sebagai salah  satu  sarana pendidikan  yang  sejalan  dengan  pandangannya  tentang alam, manusia, dan kehidupan. Maka pada saat  seseorang  menggunakan kisah sebagai sarana pendidikan seni dan hiburan dengan tujuan memperhalus budi,  mengingatkan  tentang  jati  diri  manusia, menggambarkan akibat baik atau buruk dan satu pengamalan, maka pada saat itu,  seni  yang  ditampilkannya  adalah  seni  yang bernafaskan Islam, walaupun di celah-celah kisahnya dilukiskan kelemahan  manusia  dalam  batas  dan  penampilan  yang  tidak mendorong kejatuhannya. Al-Quran  dan  sunnah  misalnya  melukiskan alam dengan begitu indah, berdialog, dan bersambung rasa dengan manusia. Dan pada saat  kita  menikmati suatu lukisan yang hidup, maka kisah itu telah memerankan pandangan  Islam  tentang  alam,  tidak  jauh berbeda  dengan  ungkapan Rasulullah Saw. ketika melukiskannya dengan bahasa lisan
“Gunung ini (Uhud) mencintai kita dan kita pun     Mencintainya”.
Memang Al-Quran, demikian juga  sunnah,  sangat  memperhatikan sisi  hidup  pada  penggambaran  yang diberikannya. Perhatikan bagaimana Al-Quran melukiskan tanah yang gersang sebagai tanah yang  mati,  dan tanah vang subur sebagai tanah yang hidup (QS Al-Baqarah [2]:  164).  Bahkan  dengarkan  bagaimana  Al-Quran melukiskan  alam  raya  ini bagai sesuatu yang hidup dan mampu berdialog.
“Kemudian Allah menuju kepada penciptaan langit, dan     langit (ketika itu) masih merupakan asap, lalu Dia     berkata kepadanya dan kepada bumi, Datanglah kamu     berdua menurut perintah-Ku suka atau tidak suka!     Keduanya menjawab, Kami datang dengan suka hati” (QS     Al-Fushshilat [41]: 11).
Bahkan segala sesuatu hidup bertasbih kepada Allah:
”Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di     dalamnya bertasbih kepada-Nya (Allah). Tiada sesuatu     pun melainkan bertasbih. dengan memuji-Nya, tetapi     kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.     Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun. Lagi Maha     Pengampun” (QS Al-Isra[17]: 44).
Tentu penggambaran alam raya ini sebagai sesuatu  yang  hidup, bukan sekadar bertujuan seni, tetapi untuk mengingatkan kepada manusia bahwa alam raya adalah sesuatu yang hidup dan memiliki kepribadian.   Sehingga   manusia   perlu   menjalin  hubungan persahabatan dengannya, atau  paling  tidak  alam  raya  perlu dipelihara,    dijaga   kesinambungannya   serta   dilimpahkan kepadanya rahmat dan kasih sayang.
Seni dan Budaya Asing
Islam dapat menerima semua hasil karya manusia selama  sejalan dengan  pandangan  Islam menyangkut wujud alam raya ini. Namun demikian wajar dipertanyakan bagaimana sikap  satu  masyarakat dengan  kreasi  seninya  yang  tidak  sejalan  dengsan  budaya masyarakatnya? Dalam  konteks  ini,  perlu   digarisbawahi   bahwa   Al-Quran memerintahkan   kaum   Muslim   untuk   menegakkan  kebajikan, memerintahkan perbuatan makruf dan mencegah perbuatan munkar. Makruf merupakan budaya masyarakat sejalan dengan  nilai-nilai agama,  sedangkan  munkar  adalah perbuatan yang tidak sejalan dengan budaya masyarakat. Dari sini,  setiap  Muslim  hendaknya  memelihara  nilai-nilai budaya  yang  makruf  dan sejalan dengan ajaran agama, dan ini akan mengantarkan mereka untuk memelihara  hasil  seni  budaya setiap   masyarakat.   Seandainya   pengaruh   –apalagi  yang negatif– dapat merusak adat-istiadat serta kreasi  seni  darisatu  masyarakat,  maka kaum Muslim di daerah itu harus tampil mempertahankan makruf yang diakui  oleh  masyarakatnya,  serta membendung setiap usaha –dari mana pun datangnya– yang dapat merongrong makruf tersebut.  Bukankah  Al-Quran  memerintahkanuntuk menegakkan makruf?!
Demikian,  sekelumit yang dapat dikemukakan tentang seni dalam wawasan  Al-Quran.  Agaknya  kita  dapat  menyimpulkan   bahwa Al-Quran  sangat  menghargai  segala  kreasi manusia, termasuk kreasi  manusia  yang  lahir  dari  penghayatan  rasa  manusia terhadap  seluruh  wujud  ini,  selama kreasi tersebut sejalan dengan fitrah kesucian jiwa manusia.

About these ads
Explore posts in the same categories: Agama

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: