MENGENAL TEATER TRADISIONAL DI INDONESIA


Oleh: A. Kasim Achmad

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Penulis
Pengantar buku  oleh : Dr. C. Bakdi Soemanto S.U.
Bab I –  P e n d a h u l u a n
P e n g a n t a r
Batasan Teater tradisional
Pengenalan Teater tradisional
Jenis Teater di Indonesia
A. Teater Rakyat
B.  Teater Istana
C. Sandiwara Bangsawan
Latar belakang Budaya Masyarakat tradisi
A.  Tradisi upacara ritual
B.  Tradisi bercerita
C.   Tradisi penyebaran Sastra Lisan
Bentuk penyajian
Latar belakang rumpun budaya yang sama
Gaya menyajikan cerita
A. Media Ekpresi Teater tradisional
B. Lakuan dramatik
C. Topeng
Mengenal Timur dan Barat
A. Teater Timur dan Teater Barat
B. Teater Timur adalah Teater Total
C. Penggunaan Media Ekpresi: Timur & Barat
Wujud Teater tradisional
Bab  II    Asal mula terjadinya teater tradisional
- Pengantar
- Asal mula teater tradisional    ……………..
- Terjadinya teater tradisional     ……………
- Sastra lisan                 ……….………………
- Teater tutur sebagai teater mula   ……………
-  Perkembangan teater tutur …………………
-  Teater tutur yang diperagakan  ……………..
-  Asal mula Sandiwara Bangsawan ………….
-  Masa transisi: Jembatan menuju teater non-tradisi.
-  Teater tutur dari berbagai daerah ………………..
- Bakaba – Teater tutur Minangkabau     ………
- Syahibul Hikayat – Teater tutur Betawi     …..
- Pantun Sunda – Teater tutur daerah Sunda     …
- Kentrung       – Teater tutur Jawa Timur       …..
- Dalang Jemblung  – Teater tutur Banyumas  ….
- Sinrili         – Teater tutur Sulawesi Selatan …..
- Cepung & Cekepung – Teater tutur Lombok & Bali …
B a b   III   – Wayang sebagai Teater tutur dengan peragaan
-  Pendahuluan         ……………………………….
-  Asal Usul Wayang   …………………………….
- Temuan adanya pertunjukan Wayang di Jawa ….
- Bentuk dan Jenis Wayang ………………………
- Wayang Kulit,  Teater tutur dengan peragaan  ….
- Wayang sebagai seni pertunjukan ………………
- Jenis Wayang yang terdapat di daerah    ……….,
- Pertunjukan Wayang Kulit ………………………
- Sarana Suatu Pertunjukan Wayang kulit …………
-  Wayang Orang ……………………………… ..
-  Wayang Wong Jawa, ………………………….
-  Wayang Wong Bali,      ……………………..…
-  Wayang Gung, Kalimantan Selatan……………
- Wayang Golek
Bab IV :  Ciri, Fungsi dan Penyajian Pementasan Teater tradisional
-  Ciri utama Teater tradisional    ……………………
-  Penyelenggaraan Pementasan  ……………… …
-  Tempat pementasan dan Panggung ………………
-  Penonton dan pertunjukan ……………………..…
-  Fungsi penonton dalam Teater tradisional ………
-  Fungsi musik dalam Teater tradisional ……………
-  Cerita yang disajikan   …………………………..
-  Struktur pertunjukan     ………………………… .
-  Lamanya waktu pertunjukan  ……………… ..…
-  Peranan & fungsi dalam masyarakat    ………….
-  Teater trdisional sebagai Sarana upacara  ………
-   sebagai sarana Hiburan … …….
-   sebagai sarana Pendidikan komunikasi dan kritik
-   sebagai alat ekpresi seni   …………
-   sebagai “Dokumentasi hidup”  …. .
B a b  V    – Teater tradisional dari berbagai daerah
- Bangsawan, Teater tradisional Sumatera Utara
- Makyong, Teater tradisonal  R i a u
- Mendu, Teater tradisional kepulauan Riau
- Dulmuluk, Teater tradisional Sumatera Selatan
- Mamanda, Teater tradisional Kalimantan Selatan
- Tantayungan- Teater tradisional Kalimantan Selatan
-  Kemidi Rudat, Teater tradisional Nusa Tenggara Barat
KATA  AWAL
Dewasa ini tidak mudah untuk menemukan suatu pertunjukan teater tradisional dalam masyarakat kita. Seandainya kita sempat menyaksikan, sering pertunjukannya sudah sangat berubah, banyak tambahan, di-sesuaikan dengan perkembangan masyarakatnya. Masyarakat Indonesia pada umumnya kurang mengenal teater tradisional dari daerah lainnya. Di samping itu, minat generasi muda sekarang pada umumnya sangat rendah pada budayanya sendiri, kurang menghargai kesenian tradisional yang dimiliki oleh bangsanya.
Generasi sesudah Perang Kemerdekaan yang bergerak di bidang seni teater lebih tertarik untuk mempelajari bentuk teater yang sedang tumbuh dan berkembang, yaitu bentuk teater non-tradisi, yang sering disebut se-bagai teater modern atau teater kontemporer (yang secara teknik banyak diambil dari konsep teater Barat).
Buku-buku tentang seni tradisi tidak begitu banyak, apalagi buku-buku mengenai teater tradisional. Kalaupun ada, umumnya hanya membicarakan bentuk teater tradisional dari suatu daerah tertentu. Gambaran yang menyeluruh dari berbagai ragam sangat langka. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Teater Daerah di In-donesia, yang ditulis oleh Prof. Dr. I Made Bandem dan Dr. Sal Murgiyanto. Beberapa yang lain kebanyakan hanya membicarakan satu teater etnik saja, atau salah satu bentuk Teater Wayang (Wayang Orang, Wayang Kulit atau Wayang Golek). Selebihnya, berbahasa asing.
Kurangnya pengenalan terhadap kekayaan dan keragaman teater tradisional di Indonesia, serta kurangnya buku-buku tentang keragaman teater tradisional mendorong saya untuk mengumpulkan tulisan tentang teater tradisional dari berbagai daerah.
Penulisan buku ini bukanlah hasil penelitian, tetapi merupakan catatan-catatan sepintas waktu menyaksikan pertunjukan teater tradisional di berbagai daerah dengan pendekatan secara umum (dari suatu wujud pemen-tasan teater, yang disaksikan). Untuk sekedar “mengenal” rasanya cukup terpenuhi. Diharapkan dapat digu-nakan sebagai dasar untuk penelitian atau pengkajian lebih mendalam.
Tersusunnya tulisan saya hingga menjadi buku ini, memakan waktu yang sangat lama. Bertahun-tahun, bah-kan mungkin sekitar sepuluh tahunan, karena bahan-bahan dikumpulkan berdasarkan adanya “proyek peng-galian & pembinaan teater tradisional” yang ada di Indonesia. Dimulai dari sekitar pertengahan tahun tujuhpu-luhan sampai akhir delapan puluhan, dengan berbagai cara: pengumpulan data, sarasehan, seminar, peng-galian, festival, dan lain sebagainya — hingga terkumpullah materi teater tradisional dari berbagai daerah dalam bentuk modul pada tahun 1992.
Sebagai sebuah buku yang dihimpun atas beberapa puluh tulisan dengan tenggang waktu yang cukup lama dan berdasarkan pengalaman di lapangan yang berkembang, merupakan tulisan yang tidak mudah untuk diedit kembali. Banyaknya jenis dan ragam teater tradisional yang terdapat di daerah, dan informasi yang diperoleh atas beberapa teater tradisional yang hampir punah yang sering tidak sama dan bahkan bertentangan. Dicoba juga dengan menghadirkan kembali (rekonstruksi) teater yang hampir punah, hasilnya pun sering banyak kekurangannya.
Tulisan saya yang pertama tentang teater tradisional dimuat dalam Majalah Analisis Kebudayaan, berjudul Teater Rakyat di Indonesia. Diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan – Tahun I, No:2 – 1980/1981, yang isinya merupakan inti dari buku ini. Tulisan tersebut dikembangkan dan dilengkapi dengan deskripsi tentang teater tradisional dari berbagai daerah.
Setelah dikumpulkan, disusun dan dikembangkan, pada tahun 1992 akhirnya dapat dihimpun menjadi 2 modul tentang teater tradisional di Indonesia untuk keperluan Universitas Terbuka, dengan judul:
1. Pengertian, Materi dan Penggolongan Teater Tradisi di Indonesia
2. Deskripsi teater tradisional dari berbagai daerah
Pada mulanya kedua modul tersebut digunakan juga untuk materi kuliah di Institut Kesenian Jakarta, tentang  Teater Nusantara. Kedua modul dirangkum, disunting dan dikembangkan menjadi buku Mengenal Teater Tradisional di Indonesia. Tidak mengherankan apabila dalam buku ini tak dapat dihindari adanya kesan seperti memberikan kuliah pada para mahasiswa. Terasa pula banyak hal yang terulang disana-sini
Bahan-bahan yang ditulis dalam buku ini diperoleh dari catatan penulis saat mengadakan seminar, lokakarya atau diskusi tentang teater tradisional sepanjang lebih dari sepuluh tahun saat bertugas sebagai Kepala Sub-Direktorat Seni Teater, Direktorat Kesenian, Dit-jen Kebudayaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagian besar bahan didapat atas bantuan para Kepala Bidang Kesenian pada saat itu dan tenaga teknik bidang teater tradisional yang menguasai masalahnya. Keikut-sertaan para seniman yang berminat teater tradisional, dan bersedia menjadi nara sumber sangat membantu, antara lain Bachtiar Sanderta, Chairul Ha-run, Widjaja, Wayan Diya, Enoch Atmadibrata, Max.Arifin, Mursal Esten, dan lain-lain yang tidak dapat dis-ebutkan satu persatu. Penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya atas informasi, penjelasan dan bantuan tentang deskripsi teater tradisional di daerahnya masing-masing. Tanpa bantuan mereka, sulit dibayangkan akan terwujud sebuah buku tentang teater tradisional dari berbagai daerah.
Pada kesempatan ini, pertama-tama saya menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada Bapak Prof.Dr. Soebakdi Soemanto yang telah bersedia dengan tak bosan-bosannya memberikan arahan, petunjuk, bimbingan, meluruskan kalimat yang bengkong dan  tak henti-hentinya me-nyemangati agar buku ini dapat diterbitkan.
Akhirnya saya juga menyampaikan terima kasih kepada Pengurus Dewan Kesenian Jakarta 2003-2006, yang pada masa akhir jabatannya masih sempat menyelesaikan programnya dengan menerbitkan buku ini.
Semoga terbitnya buku ini memberi manfaat bagi para pembaca, setidaknya bagi mereka yang ingin mengenal apa dan bagaimana teater tradisional di berbagai daerah. Saya akan sangat berterimakasih apabila ada yang bersedia memberikan saran atau kritik, untuk perbaikan selanjutnya.
Jakarta, 10 Agustus 2006
A. Kasim Achmad
PENGANTAR
Prof. Dr. Bakdi Soemanto
Universitas Gajah Mada
———————————————————————————————————————–
Di Indonesia, buku tentang teater tradisional sudah disusun orang sejak beberapa puluh tahun lalu.  Pada taahun 1938, terbit sebuah buku legendaries yang berjudul Javaanse Volksvertoningen – Bijdrage tot Besch-rijving van Land en Volk  karangan Dr.Th.Pigeaud. Buku ini memberikan gambaran tentang berbagai jenis seni pertunjukan tradisional yang ada di pulau Jawa dan Madura, termasuk gamelan slendro dan pelog. Di samping itu, pada tahun 1067, Dr. James Brandon, seorang sarjana teater dari Amerika, menulis buku berjudul  Theatre in Southeast Asia. Ia juga memusatkan pada teater tradisional tetapi dengan kisaran yang jauh lebih luas, yakni seluruh wilayah  Asia Tenggara. Buku ini penting sekali, sebab di sana dilukiskan latar budaya yang membentuk lapis-lapis, cultural layer, yang dimulai dari gelombang datangnya kebudayaan Hindu dan Budha dari India pada abad pertama, disusul datangnya Islam, lalu Cina, hingga lapis yang paling atas tatkala orang-orang Eropa membawa peradabannya sambil memburu rempah-rempah.
Apabila dibayangkan, lapis lapis budaya itu seperti tampak pada kain yang terkena cairan yang membentuk lingkaran bergerigi. Tatkala cairan itu mongering — hingga meninggalkan bekas, ditumpuk lagi dengan cairan baru. Demikian lapis-lapis atau layers bagaikan tumpukan bercak bercak bekas sesuatu yang basah.  Sangat indah….
Budaya yang datang dari Utara itu hadir di Indonesia, tidak bisa lagi mempertahankan keasliannya, sebab budaya-budaya pendatang itu bertemu dengan kepercayaan setempat atau yang lazim disebut dengan istilah  indigeneous religious.  Keadaan budaya semacam inilah yang melatari munculnya seni pertunjukan atau teater tradisional yang ditulis oleh A. Kasim Achmad dalam buku ini.
Itulah sebabnya penulis buku ini menekankan hubungan erat antara teater tradisional dengan latar upacara di belakangnya.  Dengan kata lain, sepertinya orang tidak mungkin membicarakan teater tradisional tanpa men-genal latar budaya dalam ujud upacara upacara itu.
Dalam buku ini dipaparkan beberapa jenis teater tradisional di Indonesia. Dikatakan bahwa teater tradisional bisa dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni yang disebut teater boneka dan teater manusia.   Di Indone-sia yang dimaksud dengan teater boneka adalah wayang. Di Jawa Tengah, Jogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Lombok  dan wilayah budaya lainnya di Nusantara ini, wayang yang dominan adalah teater bone-ka yang ceritanya berbasis Mahabharata dan Ramayana serta cerita-cerita Islam dari Parsi.
Biasanya, wayang, dengan cerita Mahabharata dan Ramayana, terbuat dari bahan kulit kerbau. Tentu saja ada wayang dari Sunda yang terbuat dari kayu, juga menyajikan cerita Mahabharata dan Ramayana. Di Su-rakarta, teater boneka yang di Jawa Barat disebut wayang golek, disebut wayang  thengul
Tentu masih ada beberapa wayang-wayang lain yang belum sempat disebut dalam buku ini, misalnya wayang suluh dan wayang suket, disamping wayang kancil atau wayang binatang. Dalam wayang suluh ditemukan boneka-boneka yang merupakan representasi dari tokoh-tokoh nasional, misalnya Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir.  Ada juga tokoh-tokoh menarik lainnya yang digambarkannya, misalnya D.N.Aidit,  Nyoto, Lukman dan lain-lain. Tentu wayang suluh tidak bisa dimasukkan dalam katagori wayang tradisional. Namun, ini bukan berarti bahwa wayang suluh bisa lepas dari masyarakat di sekelilingnya.  Jelasnya, wayang-wayang baru termasuk wayang Kancil, bukan bagian dari upacara-upacara tertentu. Dengan menggunakan pembandingan seperti ini, pembaca akan semakin mudah memahami apa yang dimaksudkan oleh A. Kasim Achmad dengan istilah teater tradisional itu. Dengan kata lain, yang dimaksudkan penulis buku ini dengan teater tradisional bukanlah teater yang mentradisi, tetapi teater yang dilahirkan dari upacara-upacara adat
Ini menunjukkan bahwa teater tradisional yang disajikan dalam buku ini, memiliki kaitan erat dengan keper-cayaan-kepercayaan animistik dan dinamistik.
Orang bisa membayangkan sejumlah pertunjukan teater tradisional, misalnya pentas wayang kulit dengan judul  Sri Mulih untuk upacara bersih desa. Di sana, dalam pertunjukan itu, keindahan atau estetika atau dra-maturgi sajian wayang kulit itu, dalam beberapa katagori, kurang dipandang penting. Yang sangat penting adalah urutan pertunjukan dan tokoh-tokoh yang ditampilkan. Mereka diukur dengan parameter kepentingan upacara. Dengan kata lain, munculnya tokoh yang terlibat dalam peristiwa yang disajikan di “panggung” ba-tang pisang itu diharapkan memiliki magic power yang bisa mempengaruhi  kesuburan tanah dan menjadikan desa aman tenteram dan terbebas dari gangguan pencuri, penyakit dan lainnya. Tidak mengherankan apabila pertunjukan wayang pada awal mulanya selalu dimulai dengan pembakaran kemenyan.  Ini artinya, dhalang perlu mengucapkan salam atau kulo nuwun kepada para danyang yang invisible yang menunggu wilayah
Itu. Dengan kemenyan yang dibakar, para penunggu yang tidak tampak itu diharapkan juga dapat bersedia menahan marahnya jika kebetulan kurang berkenan. Dengan demikian, pertunjukan wayang itu bertujuan untuk senantiasa menjaga harmoni. antara manusia dengan makhluk halus. Tidak hanya itu, teater tradisional juga dimainkan bertujuan untuk menjaga harmoni alam semesta.
Pada waktu penelitian dilakukan untuk menyusun buku ini, pasti ada beberapa perubahan yang telah terjadi.  Bahan-bahan yang disajikan dalam buku ini tidak hanya hasil penelitian resmi, tetapi juga karena tugas A.Kasim Achmad yang pada waktu itu menduduki posisi penting di Direktorat Kesenian – Depdikbud. Ia me-langlang Nusantara dan mendokumentasikan berbagai seni pertunjukan tradisional di seluruh Nusantara. Dengan demikian, penulis menyaksikan langsung wujud teater tradisi yang kemudian ditulisnya menjadi buku ini.
Jika orang kemudian menyaksikan pertunjukan teater tradisi, tentu unsur upacara sudah jauh berkurang.  Mengapa demikian?  Sebab teater, sebagaimana benda budaya lainnya, tidak berdiri bebas dari pengaruh dari lingkungannya. Prof.Dr.A.Sartono Kartodirdjo, misalnya, mengatakan: bahwa sebuah fenomena budaya senantiasa berada dalam apa yang beliau sebut dengan istilah kulturgebundenheit, yang artinya terikat oleh kondisi budaya setempat. Dalam bahasa Inggris, keadaan seperti itu disebut dengan istilah culture bonds. Oleh karena itu, seiring dengan berjalannya waktu, perubahan terjadi di mana-mana, pada wilayah budaya, baik yang kasat mata atau tangible dan budaya yang tidak kasat mata atau intangible.
Kedua jenis budaya itu bergerak dan bahkan bergolak, sehingga yang pada mulanya merupakan latar bela-kang merangsek maju menjadi latar depan, yang semula latar depan menjadi latar belakang.  Di sini antara foreground dan background mengalami pergantian posisi. Lalu tampaklah, unsur upacara yang mengedepan pada pertunjukan ruwatan atau bersih desa menjadi background saja pada pertunjukan pergelaran wayang kulit untuk kepentingan sunatan, manten atau bahkan politik.
Pada era sekarang, tatkala seni tradisional beramai-ramai digayeng-grengsengkan untuk menarik dan me-nyongsong datangnya wisatawan manca negara, tentu aspek upacara tidak dapat dipertahankan dalam posisi di depan, tetapi unsur gerak-gerak boneka wayang itu yang dikedepankan. Dialog  yang menggunakan bahasa verbal daerah diusahakan sesedikit mungkin dan diganti dengan bahasa tubuh atau body language.
Pada pertunjukan-pertunjukan lain akan terjadi dengan pola yang kurang lebih sama. Dengan demikian, kon-disi jaman dengan jiwanya yang terkadang sangat kuat mempengaruhi keberadaan teater tradisi.  Oleh karena itu, apa yang dipaparkan oleh A.Kasim Achmad dalam buku ini, juga gambar-gambar yang tampak meng-hiasinya, tak sepenuhnya cocok dengan kenyataan di lapangan.  Sebab pencatatan data teater dan foto yang dipaparkan adalah kenyataan beberapa tahun silam.
Apa yang sebenarnya penting setelah buku ini ada di tangan Anda? Buku ini bisa menjadi pengantar Anda untuk memasuki jagat teater tradisional.  Jika digali selanjutnya, teater tradisional bisa memberikan inspirasi bagi pekerja teater untuk menyadur lakon-lakon Barat hadir dalam wujud teater rakyat. Ini banyak dilakukan oleh Suyatna Anirun, Saini Kosim, W.S.Rendra, dan dramawan terkemuka lainnya. Di samping itu teater tra-disional bisa banyak mengilhami dramawan masa kini untuk mengangkatnya menjadi bentuk yang lebih up-dated.   Bahkan. tidak hanya sampai di sini. Pada era media seperti sekarang, teater tradisional bisa digarap ulang agar lebih pas, hadir lewat media audio-visual.
Jika buku ini pada akhirnya bisa merangsang studi mendalam lebih rinci unsur-unsur teater tradisional, banyak kemungkinan akan ditemukan “acting” khas gaya Sunda, Bali, Lombok, Papua dan lain-lain. Hal ini juga bisa kita lihat pada film-film Hongkong. Film-film Jepang dan film-film India.  Akting mereka, terkadang, sangat tampak khas sekali. Untuk era globalisasi seperti sekarang ini, tatkala kekhasan dan kekhususan dituntut, akting dan penyajian art directing yang khas masing-masing daerah akan memberikan sumbangan kekayaan khusus, baik secara dramatil maupun secara estetik.  Bahkan buku ini juga bias merangsang studi lebih jauh dramaturgi masing-masing teater tradisional itu.
Sungguh buku yang sederhana ini bisa memicu kecintaan kita kepada teater tradisional kita dan merangsang penyelidikan lebih jauh kekayaan peninggalan nenek moyang kita.
Jogyakarta, akhir Juni 2006
BAB I
————————————————————————————————————————————————–
PENDAHULUAN
Pengantar
Indonesia mencakup wilayah yang sangat luas, terdiri dari berbagai pulau dan berbagai suku bangsa. Kondisi tersebut dengan sendirinya melahirkan kesenian yang beragam, bersumber dari keberagaman budaya etnik di berbagai daerah. Begitu pula jenis dan ragam Teater Daerah yang ada di Indonesia, berbeda satu dengan lainnya. Keragaman budaya etnik di Indonesia menghasilkan berbagai macam dan bentuk seni pertunjukan. Disebutkan dalam Memorandum Pandangan, yang dirumuskan oleh Badan Pertimbangan  Pendidikan Na-sional – Bab II tentang Dinamika Kebudayaan Daerah tahun1999 sebagai berikut :
Indonesia yang memiliki kurang lebih 931 suku bangsa dan 650 bahasa daerah yang berbeda baik ditinjau dari nilai-nilai tradisional, maupun perilaku masyarakatnya. Bila dikaji lebih mendalam perbedaan etnik tersebut sangat mencolok. Dalam kurun waktu yang sama, terdapat beberapa daerah yang sudah modern, tetapi ada pula daerah yang masih terbelakang. Hal itu sering menimbulkan sifat inferioritas pada kelompok tertentu dan superioritas pada kelompok lainnya.
Keadaan ini menggambarkan adanya pluralisme masyarakat Indonesia. Kebudayaan sebagai rangkaian motivasi dan perilaku manusia, dipengaruhi oleh tempat dan lingkungan yang meliputi kebudayaan daerah, nasional dan internasional.
Kebudayaan daerah merupakan kebudayaan asli yang diwarisi, dihayati, ditumbuhkan dan dikembangkan oleh kelompok-kelompok etnik tertentu di wilayah yang relatif kecil.
Keragaman budaya tersebut merupakan kekayaan yang jarang dimiliki oleh bangsa lain.  Untuk mengenal wujud teater yang terdapat di Indonesia, harus ditelusuri sejarah kehadirannya, sekaligus dikenali bentuk tea-ternya.
Membicarakan teater tradisional sebenarnya membicarakan teater masa lampau. Secara sosiologis, kesenian pada umumnya dan teater pada khususnya, tidak dapat dipandang lepas dari tata hidup dan kehidupan ma-syarakat di sekelilingnya. Sebab sadar atau tidak sadar, sebagaimana bagi seni pada umumnya, masyarakat lingkungan dengan tata kehidupannya merupakan sumber ilham yang tidak habis-habisnya bagi penciptaan seni teater. Masyarakat lingkungan merupakan tempat berproses dan sekaligus pengolahan seni teater ter-sebut.
Bentuk seni teater merupakan salah satu cabang seni yang paling akrab dengan kehidupan masyarakatnya. Ia menggambarkan kehidupan masyarakat yang berarti menggambarkan tata cara dan persoalan kehidupan manusia pada jamannya.  Modal utama seni teater adalah manusia itu sendiri, dengan tubuh dan suara se-bagai alat ekspresi. Melalui teater tradisional, kehidupan pada masa lampau tergambar lebih jelas,  menyang-kut soal tata cara, adat istiadat dan problem yang muncul pada jaman tersebut.
Keanekaragaman kebudayaan Indonesia merupakan cerminan keanekaragaman budaya etnik. Di berbagai daerah, dapat ditemukan bentuk teater tradisional yang berbeda jenis dan ragamnya.   Pertunjukan teater tradisional pada saat ini. pada umumnya dilaksanakan dalam rangka keperluan masyarakatnya, terkait dengan suatu upacara, hajatan atau pun keperluan lainnya
Piranti dalam menyampaikan ekpresi adalah manusia itu sendiri, dengan segala kelengkapan yang dimilikinya sebagai pemain. Selain itu, dapat juga digunakan piranti yang berupa benda — kayu atau kulit pada Teater Boneka dan Wayang – sebagai peraga, tetapi pun digerakkan oleh manusia.
Di Indonesia dan kawasan Asia pada umumnya, terdapat 2 bentuk teater dilihat dari wujudnya, yaitu:
• Teater yang dimainkan oleh Orang, dan
• Teater Boneka, yang  umumnya terbuat dari kayu (bentuknya 3 demensional).
Wayang adalah Teater Boneka yang pipih terbuat dari kulit (bentuknya 2 demensional)
Batasan Teater Tradisional
Pertunjukan teater tradisional pada saat ini pada umumnya dilaksanakan dalam rangka keperluan masyara-katnya, terkait untuk keperluan upacara, hajatan atau pun keperluan lain. Penggunaan istilah teater sering menjadi gamang, karena terlihat adanya unsur-unsur teater yang sering mengelabui. Dalam suatu upacara ritual, misalnya, muncul unsur-unsur teater yang menggunakan gerak tari atau paduan suara untuk mendu-kung prosesi tersebut, tetapi tidak kita temukan penonton. Orang yang ada dalam upacara ritual tersebut se-luruhnya menjadi bagian dari kelompok yang menyelenggarakan upacara. Apakah yang terlihat dapat dikata-kan teater?
Teater mempunyai arti yang luas, cakupan dari segala sesuatu yang dipertunjukan dan ditonton orang. Dari berbagai tanggapan dan ungkapan yang bermacam-macam tentang teater, yang menarik selalu menyebut adanya 3 elemen pokok kalau bicara tentang teater,  ketiganya saling berkaitan dan tak terpisahkan. Brockett, dalam bukunya The Essential Theatre ( hal 5, th. 1988) bab The basic elements of theatre, menyebutkan elemen pokok dalam teater, yaitu:
1. Apa yang dipertunjukan (lakon, skrip, atau rencana )
2. Pertunjukannya ( termasuk proses kreasi dan penyajiannya)
3. Penonton
Diperkuat oleh rumusan Eric Bentley, yang mengatakan bahwa berbagai macam argumen tentang teater da-pat dikurangi dan dipersingkat menjadi: A mempertunjukan B untuk C.
Bertolak dari uraian di atas, teater berarti “Segala kegiatan yang dipertunjukan dan ditonton oleh publik”. Meskipun teater mempunyai arti yang luas (segala sesuatu yang dipertunjukan dan ditonton), namun tetap harus mengandung 3 elemen yang disebutkan di atas.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976), tradisi ialah segala sesuatu (Seperti: keperca-yaan, kesenian, kebiasaan, ajaran,) yang dianut secara turun temurun dari nenek moyang. Tradisi adalah  kebiasaan turun-temurun kelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat yang bersangkutan.
Seni tradisi merupakan seni yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita dari kelompok masyarakat etnik lingkungannya, yang memiliki struktur yang baku dan merupakan pakem yang selalu dianut oleh seniman lingkungan etnik yang bersangkutan.
Teater tradisional adalah teater dalam suatu masyarakat etnik tertentu yang mengikuti tata cara,  tingkah laku dan cara berkesenian mengikuti tradisi, ajaran turun-temurun dari nenek moyangnya. sesuai dengan budaya lingkungan yang dianutnya.
Teater tradisional bersumber dan berakar serta telah dirasakan sebagai milik sendiri dan diterima oleh ma-syarakat lingkungannya. Semuanya diterima dari pewarisan yang dilimpahkan dari angkatan tua ke generasi yang lebih muda. Pertunjukan dilakukan atas dasar tata cara dan pola yangdiikuti secara mentradisi.
Di Indonesia dapat dijumpai dua bentuk teater, yaitu Teater Tradisional   dan   Teater Non-tradisi.
Kedua bentuk teater mempunyai materi yang sama, namun cara mengungkapkan dan pengolahan-nya berbeda, karena sumber, wawasan dan cita-rasa para seniman pendukungnya berbeda. Bahkan masyarakat pendukungnya pun berbeda.
Teater Tradisional, ialah suatu bentuk teater yang lahir, tumbuh dan berkembang di suatu daerah etnik,  yang merupakan  hasil kreativitas  kebersamaan dari suatu suku bangsa di Indonesia. Berakar dari budaya etnik setempat.dan dikenal oleh masyarakat lingkungannya.  Teater Tradisional dari suatu daerah umumnya bertolak dari sastra lisan, yang berupa pantun, syair, legenda, dongeng dan cerita-cerita rakyat setempat.
Teater tradisional lahir dari spontanitas kehidupan dan dihayati oleh masyarakat lingkungannya, karena ia merupakan  warisan budaya nenek moyangnya. Warisan budaya guyub (kebersamaan dan kekeluargaan) yang sangat kuat melekat pada masyarakat di Indonesia.
Teater Non-tradisi, (umumnya dinamakan Teater Modern, ialah suatu bentuk teater yang tumbuh dan ber-kembang terutama di kota-kota besar sebagai hasil kreativitas bangsa Indonesia dalam persinggungan dengan kebudayaan Barat lewat teater. Hasil karyanya memperoleh pengaruh budaya lain, terutama secara teknik mengacu pada Teater Barat.
Teater Non-tradisi  bertolak dari sastra tulis, sastra Indonesia yang berbentuk lakon dan diikat oleh konvensi dan hukum dramaturgi. Secara teknik Teater Non-tradisi  bersumber dari konsep teater Barat, dan para pen-dukungnya kebanyakan adalah masyarakat terpelajar.
Pengenalan Teater Tradisional
Sangat luasnya Indonesia menyebabkan masyarakat yang satu kurang mengenal kesenian tradisional yang terdapat di daerah lainnya, kalau tidak mau dikatakan tidak mengenal. Pengenalan masyarakat terhadap tea-ter tradisional dewasa ini masih sangat terbatas, yaitu yang terdapat di daerahnya, teater etnik setempat. Itu pun terbatas pada masyarakat tertentu yang masih “menghargai” dan apresiatif terhadap teater tradisional di daerahnya.
Kelompok masyarakat Jawa, misalnya, kurang mengenal teater tradisional yang terdapat di Kalimantan. Atau sebaliknya, masyarakat Minangkabau yang berada di Sumatera Barat kurang mengenal teater tradisional yang terdapat di Jawa. Teater rakyat Ketoprak atau Ludruk, lebih dikenal oleh lingkungan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat lebih mengenal Randai. Masyarakat angkatan tua di Riau lebih kenal dengan Makyong, sedangkan masyarakat Kalimantan Selatan lebih mengenal Mamanda.
Hanya satu-dua gedung pertunjukan yang menyelenggarakan pertunjukan teater tradisional untuk keperluan tontonan, dalam arti dapat disaksikan setiap saat.  Pertunjukan semacam itu antara lain dapat ditemukan te-rutama di Pulau Jawa, antara lain di Taman Hiburan Surabaya, Sriwedari Solo, Taman Hiburan Yogyakarta dan gedung wayang orang “Bharata”di Jakarta. Sesekali dapat kita saksikan di Taman Ismail Marzuki, Ge-dung Kesenian Jakarta, atau di tempat-tempat pertunjukan yang disiapkan untuk turis, seperti di Bali. Pertun-jukan yang dihidangkan sering sudah dikemas disesuaikan dengan “selera” penyelenggara.
Dewasa ini tidak mudah untuk menemukan suatu pertunjukan teater tradisional dalam masyarakat. Sean-dainya ada, sering bentuk pertunjukannya sudah sangat berubah. Kita perlu mengenali kembali teater tradi-sional, yang meskipun banyak ragamnya, masih dapat dinelusuri ciri-ciri umum, gaya dan cara menyajiannya.  Perbedaan yang bersifat khusus dan bercorak kedaerahan dari berbagai macam teater tradisional, sangat tergantung pada budaya etnik setempat.
Jenis Teater di Indonesia
Brandon. dalam bukunya Theatre in southeast Asia (1967, hal: 80) tentang Tradition of Theatre mengatakan, pada teater di Asia Tenggara umumnya terdapat 4 jenis tradisi teater atas dasar kelompok masyarakat pen-dukungnya, yaitu:
1. Tradisi Teater Rakyat, adalah yang terkait dengan kehidupan di pedesaan. Lahir, tumbuh dan berkembang dan didukung masyarakat lingkungannya
2. Tradisi Teater Istana, adalah teater di lingkungan keraton, istana, disponsori oleh para raja, khusus untuk keperluan istana dan lingkungannya.
3. Tradisi Teater Populer, adalah teater yang tidak masuk keduanya, namun mempunyai karakteristik ter-sendiri, dan terutama hidup di kota-kota dan didukung oleh masyarakat kalangan menengah.
4. Tradisi Teater “Barat”, merupakan produk teater saat sekarang, yang didukung oleh masyarakat  terpelajar di Asia Tenggara. Bentuk drama yang dipertunjukan adalah model drama Barat.
Di Indonesia terdapat kesamaan pengelompokan jenis teater atas dasar masyarakat pendukungnya, seperti yang ditulis oleh James R.Brandon (Theatre in Southeast Asia,1967, hal 80) dan terdapat juga 4 tradisi ber-teater. Dari keempat tradisi tersebut, dapt dibagi menjadi 2 (dua) kelompok besar, yaitu
Pertama kelompok Teater tradisional, yang mempunyai 3 jenis tradisi berteater.
Kedua kelompok yang  disebut Teater Non-tradisi atau Teater “modern”
Keragaman corak kebudayaan di Indonesia, melahirkan jenis teater tradisional yang beragam. Jenis yang kita temukan sangat beragam dan bertolak dan didukung oleh kebudaan etnik setempat. Jenis tersebut umumnya mempunyai ciri spesifik kedaerahan. Terdapat 3 jenis teater tradisional, yaitu:
a. Teater Rakyat, yang hidup di tengah kehidupan masyarakat.
b. Teater Istana, teater yang dikelola oleh raja dan para bangsawan saat itu.
c. Teater Sandiwara Bangsawan, atau yang dinamakan Komidi Bangsawan, yang bermunculan pada periode jaman teater transisi, di kota-kota.
a.  Teater Rakyat, teater yang bersifat kerakyatan.
Dinamakan Teater Rakyat karena ia lahir di tengah masyarakat dan segala sesuatunya ditentukan oleh  ke-bersamaan dan didukung serta diapresiasi oleh masyarakat lingkungannya. Merupakan teater yang lahir di-tengah-tengah masyarakat pedesaan, di kampung-kampung, di desa-desa. Teater Rakyat bersifat sederhana, baik bentuk atau pun cara penyajiannya. Spontan, tidak menggunakan naskah tertulis, tidak dibuat-buat, ko-munikatif dengan masyarakat yang menonton. Teater Rakyat lahir karena berbagai kebutuhan masyarakat, antaranya kebutuhan melengkapi keperluan upacara dan akhirnya untuk keperluan hiburan bersama.
Seniman dalam Teater Rakyat biasanya terlibat karena didorong oleh keinginannya untuk  ber-kesenian, dan bukan untuk hidup dari berkesenian. Sebab dalam pandangan tradisi, tidak ada pemilahan antara kesenian dan kegiatan lainnya, termasuk upacara keagamaan dan keseharian. Pemain Teater Rakyat umumnya adalah petani, pedagang dan lain-lain profesi. Keterlibatan mereka dalam berkesenian adalah untuk kesenangan batinnya, serta adanya kebutuhan akan hiburan bagi diri dan masyarakat lingkungannya. ..
Teater Rakyat yang hidup dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat sangat digemari karena menyatu dengan tata cara kehidupan mereka. Bentuknya berupa tontonan yang sangat sederhana dan erat kaitannya dengan kepercayaan yang bersifat ritual, dapat kita temukan di desa-desa.
Banyak bentuk Teater Rakyat yang ketika berfungsi sebagai sarana pendukung upacara — yang terdapat da-lam adat-istiadat dan upacara keagamaan — sebenarnya belum sebagai bentuk teater yang utuh, melainkan masih merupakan serpihan unsur-unsur teater yang disajikan dalam upacara tersebut. Tarian, nyanyian, bunyi-bunyian, musik, semua diikat oleh rangkaian upacara dan bukan merupakan bagian yang lepas dari upacara tersebut. Setelah upacara usai, sering dilanjutkan dengan acara hiburan bagi masyarakat, dengan mengambil sebagian yang semula digunakan untuk penunjang upacara.
b.  Teater Istana,  teater yang bersifat klasik.
Jenis teater ini lahir di keraton-keraton atau  pusat-pusat kebudayaan pada jamannya. Maksud klasik di sini ialah, karya-karya teater bukan saja kuna, melainkan merupakan karya puncak yang bermutu tertentu dan sukar untuk ditingkatkan atau pun dikembangkan. Teater yang bukan atas dasar  spontanitas, tetapi atas dasar: direncanakan, disiapkan, disusun, dilatih, yang merupakan  hasil karya seni pertunjukan yang baku. Teater tradisional yang lahir di keraton-keraton, hidup dan berkembang  dengan sponsor dari raja, pangeran dan para bangsawan. Teater semacam ini berproses sangat lama dan merupakan salah satu penyangga keagungan budaya keraton, yang sering disebut sebagai  adiluhung.
Teater ini berkembang dalam lingkungan istana (keraton) dan mendapat perlakuan yang sangat baik. Mereka dilatih, dibina, dirawat, dan dikembangkan oleh para seniman profesional, dalam arti seniman yang ahli di bidangnya. Tugas mereka khusus mencipta, membina dan mengembangkan kesenian di keraton dengan memperoleh imbalan (gaji) dari raja.  Semua ini di bawah naungan dan petunjuk raja. Seniman yang dipilih oleh raja biasanya adalah seniman pilihan, para empu seni, dan juga para empu di bidang kebudayaan.
Para seniman pilihan tersebut dapat mencurahkan seluruh pikirannya untuk mencipta, membina dan men-gembangkan kehidupan berkesenian, sesuai keinginan raja. Ide atau ciptaan Raja, sering pelaksanaannya diserahkan kepada para empu tersebut.
Para seniman atau empu tersebut menyusun pola pertunjukan, pakem-pakem cerita, menciptakan lagu untuk karawitan, menyusun gerak untuk tari, melatih para penari atau pemain musik, menciptakan desain pakaian dan lain sebagainya. Seniman keraton setidaknya merupakan abdi di lingkungan keraton, yang memperoleh kehidupan dari keraton dan dengan sendirinya dibiayai oleh pihak keraton untuk keperluan berkesenian. Selu-ruh penari, pemain teater, sinden (peyanyi) dilatih dengan cermat sebelum muncul untuk dipertunjukkan.
Pada umumnya, semua bentuk kesenian yang lahir di istana/keraton mempunyai mutu yang lebih tinggi dari kesenian yang lahir di pedesaan — kecuali kesenian rakyat yang lahir secara naluriah dan alamiah, seperti contohnya patung-patung yang terdapat di pedalaman Papua. Hal ini dapat dimengerti, karena kesenian yang lahir di keraton dipersiapkan untuk dipersembahkan ke hadapan raja. Lebih dari sekedar hiburan, pertunjukan lebih mengutamakan nilai aritistik, mutu dan tingkat keindahannya. Hasil karya seni yang indah tersebut akan dinikmati oleh raja dan para penguasa yang sangat menghargai kesenian.
Teater tradisional yang lahir di keraton dipersiapkan, dilatih dan tetap berpegang pada pola dan pakem yang telah digariskan.  Sering karya seni yang tumbuh di keraton dapat mencapai nilai “puncak” yang sukar untuk ditingkatkan atau dikembangkan lagi. Karya yang demikian meru-pakan karya “bermutu tertentu” dan “mapan”, sering disebut sebagai karya Klasik.
Dalam seni teater atau tari, kelompok karya ini dinamakan:
• Teater Klasik (contohnya Wayang Orang Keraton, Langendriyan)  atau
• Tari Klasik (Tari Bedoyo, Tari Serimpi, Tari Gambuh, Tari Legong) dan lain-lainnya
Tidak semua hasil karya seni yang lahir di keraton menjadi seni klasik, namun pada umumnya diciptakan dengan serius dan keahlian yang memadai, hingga menghasilkan karya bermutu tinggi.
c.  Sandiwara Bangsawan
Tradisi Teater Populer di Asia Tenggara yang disebut oleh James R.Brandon dalam bukunya Theatre in Southeast Asia, memiliki kesamaan dengan Sandiwara Bangsawan di Indonesia, yaitu bentuk teater tradi-sional yang berbeda dengan Teater Rakyat ataupun Teater Istana, namun masih dalam kelompok teater tra-disional. Bentuk teater ini terdapat di kota-kota dengan pendukung masyarakat menengah. Bersifat hiburan dan mulai berkenalan dengan pengaruh teater Barat, yang dalam sejarah teater di Indonesia dinamakan Teater Transisi.
Pada periode transisi inilah teater tradisional mulai berkenalan dengan pengaruh teater Barat (teater dari bu-daya lain). Maka lahirlah suatu teater yang dinamakan Teater Bangsawan. .Sebelum istilah teater dikenal, disebut sebagai Sandiwara Bangsawan.
Sandiwara Bangsawan, merupakan  prototipe  teater tradisional yang sumber utamanya terdapat di Pulau Sumatera, dengan latar belakang pendukung yang dominan dari rumpun  budaya Melayu.   Pertama-tama terdapat di Sumatera Utara, kemudian menyebar ke seluruh Sumatera. Dalam perkembangannya,  pengaruh Bangsawan juga mencapai Kalimantan, Jawa dan lain-lainnya.
Pengaruh Bangsawan ini cepat berkembang dan dapat diterima serta dimengerti oleh sebagian besar masya-rakat di luar Sumatera, karena menggunakan bahasa Melayu lama. Bahasa Melayu lama merupakan cikal bakal bahasa Indonesia
Latar Belakang Budaya Masyarakat Tradisi
Pada dasarnya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat agraris, yang sangat sederhana. Oleh karena itu masyarakat yang demikian, tidak rumit dan belum mengenal  spesialisasi dan deferensiasi.
Masyarakat tradisi di Indonesia adalah masyarakat pertanian yang mengelola hidup secara gotong-royong, kebersamaan.  Sifat kegotong royongan ini, menyebabkan lahirnya suatu bentuk kesenian yang spontan dan didukung oleh kebersamaan.
Masyarakat pertanian menaruh arti yang penting pada tanah, alam, pepohonan, air, sungai dan juga roh-roh halus yang menjaganya.  Di sini terkait adanya kepercayaan terhadap roh-roh halus atau roh nenek-moyang yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Teater  tradisional — terutama teater rakyat — lahir dari masyarakat yang guyub (akrab dan memiliki kebersa-maan) yang fungsinya antara lain untuk mempererat  hubungan antar warga, yaitu  saling dukung-mendukung, menciptakan solidaritas warga dalam kegiatan,  karena merupakan warisan budaya nenek moyangnya.
Pertunjukan teater rakyat biasanya dilaksanakan bersamaan dengan keperluan masyarakatnya. Pertunjukan dilakukan atas dasar tata cara yang diikuti secara mentradisi, secara turun-temurun  Pengalaman pentas ge-nerasi tua (pendahulu) dialihkan/dilanjutkan ke generasi yang lebih muda (generasi penerus) dan mengikuti serta setia kepada pakem yang sudah ada.
Seni pertunjukan di Indonesia bertolak nilai spiritual dan ketentuan adat istidat, yang merupakan landasan kuat dalam menentukan kehidupan seni pertunjukan. Menurut sejarahnya, seni pertunjukan di Indonesia umumnya, yang berupa tari-tarian atau nyanyian/paduan suara serta iringan musik. Mempunyai fungsi utama sebagai pendukung kegiatan keagamaan yang bersifat ritual dan juga kegiatan yang terkait dengan upacara adat.
a. Tradisi  Upacara Ritual
Sebelum dikenal seni sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, pertunjukan selalu dikaitkan dengan upacara kea-gamaan, upacara panen, upacara perkawinan, atau upacara hajatan dan lain-lainnya. Sejarah seni pertunjukan di Indonesia banyak yang lahir dan dikaitkan dengan wacana dari  upacara keagamaan   Hal ini sampai sekarang masih dapat ditemukan di Bali atau Kalimantan
Pada mulanya, sebagian besar teater tradisional di Indonesia merupakan bagian dari suatu upacara keaga-maan atau upacara adat, yaitu sejak jaman Pra-Hindu. Dalam upacara tersebut terdapat peristiwa teater, se-bagai pendukung upacara tersebut. Wujudnya merupakan unsur-unsur teater seperti tari, musik, paduan suara. Gerak-gerak seperti tari, paduan suara, persembahan, doa atau pun mantra-mantra  menyatu dengan upacara yang sedang berlangsung. Kemudian bentuk teater yang dipakai untuk keperluan upacara ini berubah sifat sebagai seni pertunjukan untuk hiburan.
Contoh-contoh teater yang pada mulanya masih terkait dengan upacara ritual dapat ditemukan di Bali, dianta-ranya Topeng Pajegan, Tarian Sanghyang Jaran atau Hudog yang terdapat di Kalimantan, dan beberapa daerah  — terutama daerah pedalaman — lainnya.
Dalam bukunya Teater Daerah Indonesia Prof. Dr. I Made Bandem & Dr.Sal Murgiyanto, me- ngatakan, To-peng Pajegan tergolong Teater Bebali  (Teater Bebali adalah teater yang berfungsi sebagai pengiring upacara dan persembahan sajen di pura-pura atau pun di luar pura. Teater ini memakai lakon yang bersumber pada cerita babad atau pun sejarah. Kehadiran tokoh Sidhakarya adalah mutlak. Pementasan Topeng Pajegan biasanya dilakukan untuk memenuhi upacara persembahan sajen dalam suatu upacara keagamaan, seperti ondalan (perayaan enam bulanan untuk tempat suci tertentu), untuk keperluan upacara perkawinan, potong gigi dan upacara lainnya.
Contoh lain adalah teater Belian yang terdapat di Kalimantan Timur, milik suku Modang di kecamatan Kelijau. Orang Modang percaya bahwa manusia  terdiri atas dua roh, yaitu bruwa (roh baik) dan ton lwa (roh jahat) yang memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.. Jika seseorang menderita sakit, bruwa biasanya meninggalkan badan penderita. Sambil mengucapkan doa, mereka menari-nari, berjingkrak secara spontan dan sering juga mengalami trance, dengan diiringi oleh alat musik perkusif, dengan ritme yang kuat, yang dapat disebut sebagai “peristiwa teater ritual”.  Begitu juga Hudoq  suatu peristiwa teater yang menggunakan topeng.
Dalam kasus seperti ini, mereka akan memanggil belian (pawang) yang memiliki keahlian mengembalikan bruwa ke tubuh penderita. Proses pengembalian roh ini diperagakan oleh seorang belian wanita yang mem-persiapkan sesajen. Belian akan memimpin doa dalam bahasa Modang.  Sambil mengucapkan doa, dia me-nari, berjingkrak-jingkrak secara spontan.
Di Bali ada tarian Sang Hyang Jaran. Seorang dukun menari, kemasukan roh, intrance, sehingga dapat mela-kukan tugasnya dengan baik. Teater Ritual ini diiringi beberapa jenis alat musik tradisional seperti gong, ken-dang, dan alat-alat lainnya. Ritme-ritme musiknya sangat kuat untuk mengiringi gerak-gerak penari.
b. Tradisi Bercerita
Di desa-desa, di kampung-kampung dan bahkan di beberapa  kota kecil pada jaman lampau (sebelum Perang Kemerdekaan), merupakan suatu tradisi dalam keluarga, apabila seorang kakek atau nenek bercerita kepada cucunya atau seorang bapak atau ibu bercerita kepada anaknya. Cerita yang disampaikan sebelum mereka tidur berupa cerita rakyat, dongeng, atau hikayat. Anak-anak diajar secara tidak langsung mengenal sastra lisan yang terdapat di daerahnya.
Tradisi bercerita dalam keluarga pada masyarakat kita dahulu, berkembang dengan baik dan terdapat dimana-mana. Kemudian berkembang dalam jalur yang lebih luas, bukan untuk keluarga, tetapi untuk keperluan masyarakat. Seseorang bercerita kepada sekelompok pendengar tentang dongeng, legenda, cerita rakyat, dan cerita yang populer di daerahnya. Tradisi bercerita ini kemudian berkembang menjadi bentuk kesenian Teater Tutur.
Tradisi bercerita sekarang sudah jarang kita temukan, bahkan mungkin sudah hilang. Tradisi bercerita sebagai sarana komunikasi yang berfungsi sebagai penyebar sastra lisan telah diganti dengan  teknologi yang canggih, berupa buku, radio, film dan televisi.
c. Tradisi Penyebaran Sastra Lisan
Karya sastra merupakan kelompok kesenian yang bentuknya menggunakan media ungkap kata dan bahasa. Dalam sastra terdapat bentuk Prosa dan Puisi. Hasil karya sastra, pada prinsipnya akan dinikmati dengan dibaca, terutama pada sastra tulis. Masyarakat lama, masyarakat tradisi yang belum mengenal tulisan,  belum mengenal istilah membaca. Maka sastra yang mereka kenal adalah Sastra Lisan. Untuk menikmati, mengembangkan atau menyebarluaskan sastra lisan, dilakukan dengan perantara orang lain yang bercerita. Sastra Lisan hidup dan berkembang dari mulut ke mulut, dari seseorang “diceritakan” kepada orang lain.   Pada jaman itu, tradisi bercerita merupakan salah satu alat komunikasi dan penyebaran sastra lisan kepada masyarakat secara luas. Lahirlah tukang cerita (story teller) bersamaan dengan lahirnya  Teater Tutur.
Teater tutur, merupakan bentuk kesenian tradisi bertolak dari sastra lisan yang dituturkan. Teater Tutur meru-pakan salah satu cikal bakal teater rakyat, karena digunakannya kelengkapan media ekpresi (property) yang diperlukan dan memenuhi syarat bagi lahirnya suatu bentuk teater
d. Tradisi Permainan Rakyat
Banyak permainan rakyat yang berbentuk pertunjukan, sesuatu yang dipertunjukan dengan maksud untuk sekedar hiburan seperti  akrobat, permainan sulap, kuda kepang, kethek ogleng, dan lainnya yang masih ba-nyak lagi. Dalam permainan rakyat tersebut banyak ditemukan elemen-elemen teater yang belum lengkap dan utuh, belum berwujud, hanya sekedar gerak-gerak meniru tarian Garapan ceritanya hanya sepenggal adegan dan tujuan utamanya untuk sekedar menghibur masyarakat.
Permainan Rakyat semacam itu dahulu banyak di temukan di pedesaan – di antaranya masih banyak yang terkait dengan kepercayaan magis yang dipercaya oleh masyarakat lingkungan — dan merupakan salah satu bentuk cikal bakal teater yang disebut Teater Mula.
Adapun Teater Mula yang dimaksud, antara lain dapat disebutkan Lais atau Sintren, yang banyak terdapat di pesisir utara, di Cirebon dan  Jawa Tengah. Seorang penari putri yang belum memakai kostum tari. Tangan-nya diikat, kemudian dimasukkan ke dalam kurungan. Beberapa saat kemudian, setelah diberi “mantra-mantra” dengan iringan musik daerah, kemudian putri tadi dikeluarkan dari kurungan. Tangannya telah lepas dari ikatan dan sudah berpakaian tari. Kemudian ia menari-nari.
Kuda Lumping, Kuda Kepang atau Jathilan terdapat dimana-mana, merupakan kelompok tarian dengan pro-perti kuda tiruan yang dibuat dari anyaman bambu.  Penunggang kuda tiruan tersebut menari-nari, kemudian setelah diberi mantra-mantra mereka berlari, menari, berputar tak terkendali, dalam keadaan trance  (kerasu-kan). Sering dalam keadaan seperti itu mereka memakan pecahan kaca (Bahasa Jawa: beling).
Pertunjukan lain seperti Emprak, Angguk, Lengger, Reyog yang dahulu banyak kita temukan di Pulau Jawa, bahkan dapat ditemukan di berbagai daerah lain di Indonesia. Kesemuanya masih merupakan “permainan rakyat” yang dikembangkan menjadi pertunjukan rakyat untuk sekedar menghibur.
Bentuk Penyajian
Banyaknya ragam budaya etnik menyebabkan cara penyampiannya dilakukan dengan berbagai cara dan gaya yang berbeda-beda. Namun cara menyajikan teater tradisional di berbagai daerah hampir serupa. Secara umum dilihat dari segi penyajian, ada 3 macam cara penyajian teater tradisional, yaitu dengan cara dituturkan, dipertunjukkan dan dituturkan dengan peragaan
1. Teater yang  dituturkan,   suatu bentuk seni pertunjukan yang cara penyampaiannya dilakukan dengan jalan dituturkan.  Bentuknya sangat sederhana, mudah dilakukan, tidak perlu terlalu repot  dalam persia-pan dan tidak memerlukan perlengkapan yang rumit. Cukup disediakan tempat untuk seseorang bercerita — di atas tikar atau pun balai-balai — kemudian ditonton orang. Atau bahkan di suatu kedai minum seperti yang dapat ditemukan di satu desa di Sumatera Barat, yang terkenal dengan Bakaba.  .Penontonnya adalah pelanggan (pembeli minuman) di kedai tersebut. Beberapa orang duduk santai, minum kopi sambil mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Tukang Kaba.
2. Teater yang dimainkan/dipertunjukkan, suatu bentuk seni pertunjukan yang cara penyampaiannya dengan cara dimainkan/dipertunjukkan.  Para pelaku memainkan/memperagakan cerita.  Tempat bermain perlu dipersiapkan, tetapi bisa di mana saja — halaman rumah, tanah lapang — yang terpenting ada “tem-pat bermain” dan cukup tempat untuk penonton. Perlu disiapkan sekedar perlengkapan untuk mendukung cerita. Setelah berkembang dan mendapat pengaruh Teater Bangsawan, barulah mulai digunakan “panggung” berupa tempat yang lebih tinggi dari penonton, dengan menambah perlengkapannya. Atau dapat juga dipertunjukan di pendapa, seperti Ketoprak (Jawa), Longser (Sunda), Randai  (Minangkabau), Tantayungan (Kalimantan Selatan).
3. Teater yang dituturkan dengan peragaan, di samping dengan cara diceritakan, juga disertakan pera-gaan dari cerita yang dihidangkan. Wayang adalah Teater Tutur dengan peragaan. Sang Dalang yang bercerita sambil memainkan wayang. Peran dalang sebagai pencerita dalam pertunjukan wayang sangat menentukan. Di samping kemahiran bercerita, dalang pun dituntut untuk trampil memainkan wayangnya. Untuk suatu pertunjukan Wayang Kulit, diperlukan persiapan tempat dan kelengkapannya. Contoh : Wayang Kulit atau pun Wayang Golek (Sunda). Masih ada bentuk teater tradisional dengan cara penyajian diceritakan disertai peragaan. Para aktor atau pun penari bertindak sebagai peraga. Bentuk inidapat kita temukan di beberapa tempat, antara lain Topeng Dalang di Madura atau Langendriyan di Yogyakarta.
Ketiga bentuk penyajian tersebut di atas sering dikembangkan lagi dengan berbagai macam variasinya, hingga menambah  keragaman cara penyajian dan bentuk seni pertunjukan tradisional.
Latar belakang Rumpun Budaya yang sama
Dengan latar belakang budaya etnik yang beragam, lahirlah teater tradisional dengan ragam jenis yang satu berbeda dengan lainnya. Seni tradisional banyak ditentukan oleh dominasi latar belakang budaya etnik yang mendukungnya. Berbagai ragamnya budaya etnik di Indonesia, berbeda pula cara dalam mengungkapkan teaternya, tiap daerah mempunyai cara dan gaya tersendiri
Perbedaan teater tradisional tersebut, pada umumnya disebabkan karena adanya dominasi latar belakang budaya etnik yang terasa sangat kuat. Meskipun demikian kelompok besar masyarakat yang merupakan sua-tu rumpun budaya juga melahirkan persamaan gaya penyajian. Pengelompokan teater tradisional yang mem-punyai kesamaan latar belakang budaya yang dominan — umumnya mengelompok di suatu pulau — adalah:
I. Sumatra dan Kalimantan, umumnya jenis teaternya adalah teater tradisional dengan kesamaan latar bela-kang rumpun budaya Melayu yang sangat dominan, meskipun akarnya tetap pada budaya etnik setempat.
Rumpun budaya Melayu dapat dideteksi dari cara penyajian materi, baik musik yang disajikan ataupun tari dan gaya penyajiannya.  Tari dan musik yang mendukung, berbasis tari dan musik Melayu, serta kelengka-pannya.  Musik Melayu dapat dideteksi dari alat-alat yang digunakan seperti akordeon, gendang kecil, viol, gitar, tambur, rebab, biola. Kelompok tersebut antara lain:
• Bangsawan (Sumatera Utara)
• Makyong (Riau)
• Dulmuluk (Palembang)
• Mamanda (Kalimantan Selatan)
• Mendu(Kalimantan Barat)
• Randai (Minangkabau) — meskipun di Sumatra dan bersinggungan dengan budaya Melayu, Randai tetap kokoh pada akar budaya dan  etnik Minangkabau (meskipun terasa adanya pengaruh budaya Melayu, te-tapi tidak terlalu kuat).
Untuk Teater tradisional yang terdapat di Jawa, yang sangat terasa adanya pengaruh budaya  Melayu adalah teater rakyat yang umumnya terdapat di pesisir utara pulau Jawa, di antaranya:
• Lenong  (Betawi)
• Sandiwara Sunda (pesisir utara Jawa Barat)
• Ketoprak (pesisir utara Jawa tengah)
• Srimulat (Surabaya)
II. Pulau Jawa,  umumnya jenis teaternya adalah teater tradisional dengan kesamaan latar belakang  budaya  Jawa – atau  Sunda yang dominan, meskipun akarnya tetap pada budaya etnik setempat. Kelompok budaya Jawa atau Sunda dapat dideteksi dari penyajian pertunjukan materi dan penggunaan kelengkapan musik, yaitu menggunakan musik gamelan Jawa/Sunda yang berbeda dengan musik Melayu. Gaya tari yang disajikan berbasis tari tradisional Jawa/Sunda.
• Susunan gamelan lengkap terdapat pada pertunjukan Wayang Kulit, Wayang Orang, Ketoprak atau sejenisnya, sedangkan untuk pertunjukan rakyat yang lebih sederhana menggunakan gamelan dengan hanya mengambil alat musik seperlunya, disesuaikan dengan kebutuhan pementasan. Kelompok tersebut antara lain:
• Longser, Banjet (Jawa Barat)
• Topeng Cirebon (Cirebon)
• Wayang Kulit (Jawa)
• Wayang Orang (terutama Jawa Tengah)
• Wayang Golek (Sunda)
• Ketoprak ( Jawa Tengah )
• Ludruk (Jawa Timur)
• Topeng Dalang (Madura)
• Langendriyan (Yogyakarta)
III. Pulau Bali,  kelompok teater tradisional dengan kesamaan latar belakang budaya Bali yang dominan. Dengan gamelan Bali yang “sama” susunannya dengan Jawa, tetapi mempunyai irama yang berbeda. Kelompok tersebut dapat dilihat antara lain:
• Arja,  Gambuh, Topeng Prembon di Bali
• Teater tradisional yang terdapat di  Lombok
• Teater rakyat yang terdapat di daerah Banyuwangi
Kelompok budaya Bali dapat dideteksi dari gaya dan sifat tarian dan musiknya yang terasa sangat berbeda dengan Jawa –Sunda. Dalam buku Djawa dan Bali (Dua pusat perkembangan Drama Tari Tradisional di Indonesia) oleh Soedarsono – (th. 1972), dikatakan ciri khas tari Bali adalah :
Pertama: Tari Bali umumnya bersifat ekpresif, terutama tersalur melalui mimik muka serta gerak mata yang sangat kocak. Penari Bali apabila sudah mulai menari, pasti akan mengangkat sedikit alisnya ke atas. Gerak mata dapat dilakukan ke segala penjuru, di Bali disebut nyledet.
Kedua: Tari Bali bersifat dinamik, selaras dengan musik pengiringnya. Setiap gerak Tari Bali seperti gerak mata, kepala, tangan, pundak dan kaki selalu bersama-sama dengan ritme pukulan gamelan. Ritme tersebut setiap lagu berbeda, ada yang cepat, lambat, sedang, dan cepat sekali.
Ketiga: Sikap atau posisi pada tari Bali umumnya terbuka dan merendah, bahkan ada yang sampai jongkok. Tetapi ada pula jenis tarian yang posisi kakinya malahan tegak sekali.
Keempat:  Sikap atau posisi tangan pada umumnya terbuka dan agak diangkat ke atas, sehingga pundak pun sering kelihatan terangkat juga.
Gaya Menyajikan Cerita
Gaya lelucon atau lawakan, merupakan gaya permainan yang dilakukan hampir dalam setiap pertunjukan teater tradisional, terutama pada jenis teater rakyat.  Malahan porsi lawakan ini sering berlebihan dan selalu mengikuti keinginan penonton. Dalam pementasan, teater rakyat tidak mengenal gaya permainan komedi atau tragedi. Komedi atau tragedi, selalu dimainkan dengan gaya yang sama, yaitu gaya “lawakan”.
Gaya lawakan yang disebut farce (banyolan) adalah gaya permainan komedi yang berlebihan, kasar dan ba-nyak menggunakan kelucuan yang mengutamakan gerak lahriah. Gaya banyolan sering diperkuat dengan  kelucuan dalam “permainan kata” (plesetan). Kadangkala dengan sengaja mengucapkan kata yang keliru, untuk menimbulkan efek lucu.
Dalam pertunjukan teater tradisional selalu terdapat tokoh yang menyelesaikan masalah/konflik dalam cerita.  Dalam wayang kita temukan tokoh Semar, Gareng, Petruk (Wayang Jawa) atau tokoh Cepot, Udel (Wayang Sunda). Atau pun pada pertunjukan teater rakyat selalu kita temukan tokoh-tokoh semacam Khadam, Bodor, Badut atau Pelawak. Tokoh-tokoh tersebut menjadi sangat penting untuk menghidupkan pertunjukan, karena diinginkan oleh para penonton.  Makin banyak penonton “tertawa”, makin tambah pula lawakan yang dis-uguhkan oleh pertunjukan tersebut. Ini pulalah yang menjadi daya pikat terutama pada teater rakyat agar  tetap digemari masyarakatnya.
Dalam teater tradisional tidak ada pemisahan antara komedi dan tragedi. Kedua hal tersebut hadir bersama-sama. Yang tragis dan yang komis, tidak mengenal batas yang jelas.
A. Media Ekpresi Teater Tradisional
Teater tradisional merupakan salah satu kelompok bentuk seni kolektif yang terpadu dan menggunakanunsur berbagai media ekpresi. Umumnya menggunakan media ekpresi berupa tari, drama,  dan musik, ketiganya dijalin terpadu. Tetapi ketiga media ekpresi dapat juga berdiri sendiri-sendiri. Media ungkapnya tidak hanya dengan suara(yang menghasilkan kata-kata dalam bentuk penceritaan yang bersifat oral — dinyatakan dengan bahasa) dan laku, tetapi juga diungkapkan dengan gestur (gerak) dan mimik.
Setiap seniman teater tradisional harus mengenal, mengerti dan memahami materi seni tari, musik dan drama. Dalam  pertunjukan selalu dipergunakan bahasa daerah setempat, bahasa yang hanya dimengerti oleh masyarakat etnik tertentu. Bahasa merupakan salah satu faktor yang memungkinkan suatu teater dari suatu kelompok etnik dapat komunikatif dalam lingkungannya.
Dalam menyampaikan ekspresi pertunjukan, teater tradisional banyak menggunakan stilisasi,  sebelum sam-pai ke bentuk tari.  Gerak stilisasi, dengan tingkat pengindahan yang tinggi dalam teater tradisional sangat dominan. Itulah sebabnya gerak pencak-silat di dalam kehidupan kesenian tradisi kita, oleh masyarakat sering dianggap juga seni tari.
Tari dan Pencak memang mempunyai sumber materi dan susunan kegiatan sama, yaitu gerak yang diolah dengan irama. Tetapi tujuan akhirnya  sangat berbeda. Tari  bertujuan utama menyajikan suatu karya keinda-han, sedangkan Pencak bertujuan utama sebagai olah raga bela diri.
Dalam pelaksanaan penyajian, laku dan dialog tetap merupakan “porsi utama”, sedangkan tari dan musik me-rupakan unsur pendukung. Menyanyi merupakan cara mengungkapkan dialog dalam bentuk lain.
Cara mengungkapkan dengan lewat berbagai media ungkap/ekspresi dalam teater tradisional merupakan ciri utama yang harus dilihat sebagai “satu kesatuan” yang terpadu, tidak “terpotong-potong”, tidak  berdiri  sendiri. Semua merupakan ungkapan suatu keterpaduan yang utuh.  Antara dialog dan nyanyian, antara gerak dan tarian, seluruhnya harus mengalir. Tidak ada batas antara tari, laku, menyanyi semuanya luluh menjadi satu.
B.  Lakuan dramatik
Laku dramatik dalam teater rakyat diungkapkan secara sepontan dan tak diduga-duga.  Tak ada batas antara emosi sedih dan gembira, tak dibedakan antara tangis dan tertawa. Semuanya berjalan bersamaan dan seka-ligus dapat terjadi. Seorang pemain dapat sekaligus mengungkapkan nilai dramatik yang berlawanan. Ia dapat mengungkapkan lakuan dramatik sedih dan sekaligus gembira pada saat yang sama.
Mungkin hal ini dapat terjadi karena mereka bermain dari “luar”. Mereka hanya “memainkan” tokoh peran yang ia bawakan, tetapi bukan “mendalami dan menghayati peran” yang ia bawakan. Permainan para pemain teater rakyat hanyalah “permainan dipermukaan”, tetapi bukan permainan “dari dalam” yang penuh penghayatan dan penjiwaan seperti pada permainan teater non-tradisi.
Dalam teater tradisional pemain tidak dipersiapkan untuk menghayati, menjiwai, mendalami serta menghi-dupkan peran yang di bawakan. Pemain Teater tradisional hanya sekedar memainkan peran dengan meniru-kan tokoh dengan perwatakan yang stereotIpe, yakni  watak “hitam-putih”.
Berbeda dengan pemain dalam teater non-tradisi. Mereka sangat mempersiapkan diri dengan latihan yang intensif memperhitungkan lakuan dramatik. Semua disiapkan, dilatih untuk dapat merasakan/menghayati dan pada gilirannya menghidupkan peran yang dibawakan.
Seperti diuraikan di atas, penyajian dalam teater tradisional lebih banyak bercerita, sedangkan lakuan drama-tik yang muncul hanyalah “sekedar” penggambaran dalam wujud permainan dari cerita yang disajikan. Karena dilakukan dengan gaya banyolan maka pertunjukan teater rakyat disajikan dengan cara yang ringan. Lakuan lebih merupakan akting indikatif sehingga lebih gampang berpindah-pindah dari penggambaran sedih menjadi senang.  Pada satu saat situasinya sedih, beberapa saat kemudian dapat menjadi sangat gembira, dengan perubahan yang spontan.
Hanya pada Wayang Kulit atau Wayang Orang, lakuan dramatik lebih diekpresikan sesuai dengan keinginan cerita dan tokohnya.  Sedangkan untuk gaya “banyolan” dibatasi dan ditampung khusus pada saat adegan “goro-goro”.
Pada karya seni yang berbentuk seni pertunjukan, unsur penonton secara tidak langsung merupakan bagian dari proses diciptakannya karya seni tersebut. Seni pertunjukan belum merupakan hasil karya yang utuh se-belum disaksikan oleh penonton.  Bagi teater tradisional, terutama pada jenis teater rakyat,  unsur penonton justru merupakaan bagian dari pertunjukan yang tidak dapat dipisahkan.  Hubungan emosional antara penon-ton dan pemain sangat akrab, bahkan seringkali penonton terbawa secara emosial dan aktif ketika pertunju-kan sedang berlangsung, Hubungan penonton dan pementasan sangat erat, karena para pemain mengguna-kan bahasa dan peristiwa yang komunikatif dengan masyarakat lingkungan di mana pertunjukan tersebut ber-langsung. Artinya unsur penonton merupakan hal yang penting dalam proses penciptaan yang harus diperhi-tungkan.
C.  Topeng
Topeng, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, mempunyai arti penutup muka yang dibuat dari kayu (ker-tas) yang berupa muka orang atau binatang. Sering juga disebut Kedok. Di Bali di samping Topeng (biasanya untuk istilah pertunjukan yang memakai topeng), juga disebut Tapel. I Wayan Diya, salah seorang seniman Bali, membedakan istilah Topeng dan Tapel: Topeng mempunyai ciri-ciri yang digambarkan untuk wajah ma-nusia, sedangkan Tapel untuk menggambarkan yang bersifat “monster”, yang sering juga dipakai untuk ke-perluan upacara.
Topeng, menjadi salah satu perlengkapan yang sering digunakan dalam seni pertunjukan tradisional. Tiap topeng mempunyai karakter sendiri. Ada yang berwatak keras, halus/lembut atau pun lucu. Semua meng-gambarkan watak yang hitam putih, sesuai dengan watak tokoh yang terdapat dalam cerita teater tradisional.
Dalam seni pertunjukan, topeng mempunyai nilai tata rias wajah. Dimasukkan dalam kelompok Tata Rias dan Kostum, yang sebenarnya digunakan sebagai alat pendukung ekpresi. Meskipun topeng berbentuk statik, namun dalam pementasan dapat menyampaikan suatu watak yang ekpresif. Topeng sebenarnya tak ubahnya sebagai make-up (tata rias wajah) yang tebal, seperti yang sering dipakai dalam pantomim. Apabila seseorang pemain/penari memakai topeng, ia dapat juga menggambarkan watak yang ekpresif dan dinamis ketika disatukan dengan gerak-gerik tubuh sang pemakai topeng.
Banyak teater tradisional menggunakan topeng dalam pementasannya. Bahkan sebagian besar pertunjukan rakyat menggunakan, sehingga pertunjukan kemudian disebut Teater Topeng, misalnya Topeng Pajegan, Topeng Cirebon, Topeng Dalang. Topeng Pajegan, adalah pertunjukan tari yang menggunakan topeng. Pe-narinya hanya seorang, tetapi memainkan 5 tokoh dengan topeng yang berbeda-beda.
Untuk menggambarkan betapa banyaknya seni pertunjukan tradisional yang menggunakan topeng, Dr. Th. Pigeaud dalam tulisannya Javaanse Volksvertoningen –Bijdrage tot de Beschrijving van Land en Volk  men-catat dan mengupasan topeng dan pertunjukan topeng (maskerspel) yang terdapat di pulau Jawa.
Lebih dari ratusan tentang topeng  — baik topeng yang menggambarkan watak dan tokoh atau pun sebagai penamaan pertunjukan yang menggunakan topeng. Topeng yang digunakan sangat beragam dan selalu ada sedikit perbedaan di antara satu kabupaten dengan kabupaten yang lain, meskipun tokoh  yang digambarkan dan dimainkan sama. Di Pulau Jawa saja terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan jenis topeng. Belum ter-masuk daerah di  luar Jawa.
Salah satu catatan tentang koleksi topeng dari seseorang di daerah Gresik (Jawa Timur) yang sering diper-gunakan untuk keperluan pertunjukan, tercatat sejumlah 168 buah topeng. Terdiri dari cerita-cerita rakyat dan dongeng  yang terdapat di Jawa, yaitu dari siklus Purwa, sampai siklus Damarwulan.
Topeng dapat diartikan sebagai wujud karakter tokoh dalam cerita yang dipertunjukan. Pada cerita Panji, to-peng digunakan baik pada tarian atau pun dramatari. Tokoh-tokoh yang menjadi karakter topeng di antaranya Klana Sewandono, Pandji, atau  tokoh abdi seperti Penthul, Tembem, Bancak dan Doyok.
Dalam Wayang Orang, para abdi berias wajah tebal, menyerupai topeng. Bahkan seluruh pemain dalam Wayang Orang Cirebon dan Wayang Wong Bali – untuk pementasan Mahabharata — menggunakan topeng. Sedangkan Wayang Wong Bali dengan cerita Mahabharata — disebut Wayang Wong Parwa — tidak menggu-nakan topeng.
Dalam teater tradisional, topeng mempunyai peranan yang sangat penting. Terutama karena keterkaitan dan hubungannya dengan upacara ritual.
Mengenal Timur dan Barat
Pemahaman tentang Teater Timur dan Barat menjadi sangat penting dalam membicarakan teater tradisional, dalam pembandingan dengan teater non-tradisi.  Kedua bentuk teater tersebut berbeda baik dari sumber, pendekatan, latar belakang budaya dan gaya menyampaikan. Pada teater tradisional terkaitan dengan latar belakang budaya pendukungnya yaitu kebudayaan Timur, sedangkan teater non-tradisi terkait dengan latar belakang budaya yang dipengaruhi Barat. Dalam hal ini berhubungan dengan teknik penyajian teater Barat (Teater di Eropa dan Amerika).
Istilah Timur  dan Barat sering menimbulkan salah faham. Ada anggapan keduanya sangat berbeda dan tak dapat dipertemukan. Ada ungkapan dari Rudyard Kipling (1865-1936) yang sangat terkenal untuk mengungkapkan perbedaan antara Timur dan Barat yang. Ungkapan itu  sangat populer di tahun limapuluhan, yang mengatakan “East is East and West is West, and never the twain will meet”.  Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat. Keduanya tak pernah dapat dipertemukan.
Pernyataan tersebut memang ada benarnya, tetapi hanya sebagian dan berlaku pada jaman tertentu. Dewasa ini semua telah berkembang dan berbeda. Banyak usaha yang dincoba untuk mempertemukan Timur dan Barat, agar keduanya dapat saling bertemu dan bekerja bersama, mengadakan kolaborasi dan menghasilkan karya.  Kemajuan teknologi dan komunikasi, menimbulkan kesadaran akan perlunya kontak dan interaksi antara Timur dan Barat.
Istilah Timur dan Barat lebih bersifat simbolis dari pada berdasarkan pada kenyataan geografis, demikian dinyatakan Rougemont Denis De dalam bukunya Man’s Western Quest  (1957).   Istilah Timur dikaitkan dengan Asia, yang secara etnoligis mencakup Asia Timur, Sdis Tengah (India, Jepang, Cina) dan Asia Selatan/Tenggara, tidak termasuk Australia. Sedangkan Barat meliputi Eropa, Amerika Serikat, Canada, dan Australia.
Sebelum membicarakan teater Timur dan Barat, terlebih dahulu kita mengenal kebudayaan Timur dan Barat, serta manusia yang menjadi pelaku dan penentu. Perbedaan kedua bentuk teater  terletak pada perbedaan  kebudayaan Timur dan Barat yang menjadi latar belakang proses lahirnya seni teater. Dalam bukunya Pengantar Antropologi, Th. Fischer mengatakan bahwa proses terjadinya suatu kebudayaan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor,  yaitu apa yang menggerakkan manusia untuk menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian kebudayaan merupakan produk kekuatan jiwa manusia sebagai makhluk Tuhan. Walaupun manusia memiliki tubuh yang lemah dibandingkan dengan hewan pada umumnya, namun memiliki akal dan pikiran yang mampu menciptakan alat (manusia sebagai homo faber) untuk dapat menguasai dunia.
Ada 3 (tiga) faktor yang mempengaruhi proses terjadinya kebudayaan :
a) Faktor Kitaran Geografis (Lingkungan hidup, geografis milleu)
b) Faktor Induk Bangsa (kelompok ras yang berbeda)
c) Faktor Saling Kontak Antar Bangsa.
Ketiga faktor tersebut menyebabkan kebudayaan satu berbeda dengan kebudayaan lainnya. Karena daerah-nya secara geografis berbeda, suku bangsa berbeda, maka kebudayaan dari suatu bangsa berbeda dengan bangsa lainnya.
Sedangkan menurut Malinowski, kebudayaan pada prinsipnya mendasarkan diri kepada sistem kebutuhan manusia. Tiap tingkat kebutuhan (manusia) melahirkan corak budaya tersendiri.  Kebutuhan manusia di Eropa dan Amerika sebagai negara industri, sedangkan di Asia umumnya sebagai negara agraris, mempunyai kebutuhan yang sangat berbeda.
Mengenal kebudayaan Timur dan Barat, dalam kaitanya dengan teater perlu kita perlu pahami  ciri-ciri  manusia Timur  dan  Barat, yang memang berbeda. Dalam buku  Citra Manusia Budaya Timur dan Barat  (1990),  Fernandes SVD mencatat sebagai berikut: Manusia Timur, mempunyai kekhasan dalam cara hidup dan cara berfikir,  memandang pribadi manusia dalam kebersamaan. Pribadi manusia baru bernilai dan berharga, kalau ia melibatkan diri dalam kehidupan  bersama yang tetap dan harmonis. Ia tidak memisahkan diri dan berfikir secara sosial kolektif.
Manusia Timur, terlibat dalam situasi tradisional. Ia memiliki pandangan tradisional tentang alam dunia, tentang diri sendiri dan hubungannya dengan sesama, dengan leluhur dan dengan Yang Maha Kuasa.
Manusia Timur, melihat manusia sebagai satu bagian dari alam. Berfikir  intuitif daripada rasional.
Berfikir secara global, konprehensif, menyeluruh dan distingsi, Manusia Timur lebih mementingkan kebersa-maan dan penghargaan terhadap hidup sederhana,  kebijaksanaan hidup dalam damai,  ketenangan dan ke-rukunan.
Manusia Barat lebih mengembangkan akal budi dan teknologi. Lebih mementingkan pilihan sebanyak mungkin atas kebendaan demi diri sendiri. Berfikir rasional, analitis dan kompleks. Pengalaman yang diperoleh  diuraikan dan disusun sebagai satu rangkaian sebab-akibat.  Manusia Barat selalu memandang dunia sebagai obyek. Manusia meupakan penetu dan tidak mau dikuasai oleh alam. Sebaliknya harus menguasai, mengolah dan mengembangkanalam.untuk melayani kebutuhan hidup (Peursen van C.A. – Strategi Kebudayaan -1976)
Manusia Barat lebih bersikap individual dalam menghadapi segalanya dengan menyandarkan diri pada pen-getahuan dan teknologi.
Kebudayaan Asia (kebudayaan Timur) sangat berbeda dengan kebudayaan Eropa & Amerika (kebudayaan Barat). Pengelompokan kebudayaan Timur atau Barat didasarkan pengelom-pokan adanya kedekatan kesa-maan-kesamaan dasar  dan sedikitnya perbedaan yang memang tidak mudah untuk disamakan.
A.  Teater Timur dan Teater Barat
Teater Asia  bersumber dan berlatar belakang kebudayaan Asia,  kebudayaan Timur, yang berbeda titik tolak, konsep, sumber dan akar budayanya berbeda dengan Teater Barat. Teater Timur  lebih bersifat spiritual,  yang lahir dari intuisi, kebersamaan dan menggunakan multi media ekspresi yang terpadu. Tidak terfokus pada salah satu media ekpresi  Pementasan dapat berbentuk drama, tari dan musik, yang kesemuanya akan dkordinasikan secara terpadu.
Teater Barat lebih mengutamakan sarana teknik yang lebih terlihat secara visual. Dalam menggunakan media ekspresi utama, cenderung “membatasi” pada keahlian secara professional dan berkonsentrasi hanya pada salah satu media ekpresi yang ditekuni, baik drama, tari atau musik.
B.  Teater Timur adalah Teater Total
Seniman teater Barat sering menyebut teater Timur dengan sebutan Total Theatre. Hal ini disebabkan setiap pertunjukannya menggunakan multi media ekspresi (drama, tari, musik, pantomim). Begitu pula gaya penya-jian (tragedi, komedi, melodrama). Baik tema yang disampaikan atau pun wujud yang dipertunjukan selalu bersifat total/ganda.
Prof. Dr. I Made Bandem & Dr.Sal Murgiyanto, dalam buku Teater Daerah Indonesia mengatakan  bahwa para ahli teater Barat sering menjuluki teater daerah Indonesia sebagai teater total. Ungkapan itu berarti bah-wa teater tradisional di Indonesia terbentuk dari paduan berbagai aspek pendukung. Di samping itu jugadapat dinikmati  oleh segala lapisan masyarakat serta pribadi. Tidak ada teater daerah yang  hanya diciptakan untuk kepentingan segolongan masyarakat tertentu. Dengan demikian, teater daerah Indonesia direncanakan untuk penonton yang lebih menyatu.
Dr. Hazim Amir MA, dalam bukunya Nilai-nilai Etis dalam Wayang, (1997) dalam bab Wayang sebagai suatu Teater Total  mengatakan: Orang yang terbiasa dengan teater Barat akan selalu kebingungan bila menghadapi Wayang. Kebingungan disebabkan tidak terbiasanya menghadapi suatu  bentuk teater yang demikian total, sehingga untuk menghadapinya diperlukan suatu ketotalan kepribadian
Teater timur tidak membatasi dir baik dai sisi tema cerita, gaya penyajian atau pun media ekpresi yang dipi-lihnya. Seluruh kemampuan dilakukan dan dijalin menjadi satu kepaduan.
C.  Penggunaan Media Ekpresi
Teater Barat bertolak dari sastra tulis (lakon), penggarapannya lebih bersifat teknik. Pemilihan media ekpresi selektif dan terfokus pada salah satu media ekpresi, dengan mengesampingkan yang lain. Pementasan terba-tas pada pemilihan bentuk ekpresi yang akan  digunakan, apakah  dalam bentuk drama, tari, ballet, opera, atau pun musik.  Penggunaan media ekpresi pada teater Barat sangat tegas dan dibatasi.dengan hanya menggunakan satu media ekpresi. Pertunjukan yang disebut Ballet, misalnya, hanya menggunakan media stilisasi gerak yang sudah baku dan mapan, sedangkan dalam pertunjukan Opera hanya digunakan media ungkap suara dengan menyanyi.  Pertunjukan Teater Barat umumnya tidak menggunakan multi media ekpre-si.
Teater Timur bertolak dari sastra lisan, penggarapannya lebih bersifat intuitif dan spontan. Pemilihan media ekpresi, selalu menggunakan multi media ekpresi terpadu.  Tidak membatasi pada satu bentuk media ekpresi yang tegas, melainkan menggunakan seluruh media ekpresi yang dapat dipakai untuk keperluan seni pertun-jukan.
Contoh perbedaan penggunaan media ekpresi teater Barat & teater Timur.
Teater Barat menggunakan media ekpresi tunggal,  misalnya :
• Ballet  (hanya menari, menggunakan fokus pada media ekpresi gerak)
• Opera  (media ekpresi laku dan suara, menyampaikan dengan cara menyanyi)
• Drama  (terfokus pada media ekpresi laku dan suara/dialog)
• Musikal komedi ( terfokus pada laku dan musik )
Teater Timur menggunakan multi media ekpresi, misalnya:
• Arja (Bali)   – mengungkapkan dengan cara menyanyi, menari, dialog, bermusik
• Wayang Orang (Jawa)  -menari, menyanyi, berdialog, berlaku, bermusik
• Lakon Jatri (Thailand)   – menari,menyanyi, berdialog, berlaku dan musik
• Kathakali (India)  – menyanyi, menari, berdialog, berlaku, bermusik
• Kabuki (Jepang)    – menyanyi, menari, berdialog, berlaku, bermusik
Wujud Teater Tradisional
Teater tradisional bersumber dan berakar serta telah dirasakan sebagai milik sendiri dan diterima oleh ma-syarakat lingkungannya. Pengolahannya didasarkan pada citarasa masyarakat pendukungnya. Citarasa disini mempunyai pengertian yang luas, termasuk nilai kehidupan tradisi, rasa etik dn estetik, serta nilai budayanya.
Pertunjukan dilakukan atas dasar tata cara dan pola yang diikuti secara mentradisi (secara turun- temurun), pengalaman generasi tua dialihkan ke generasi penerusnya.  Alat ekpresi yang digunakan tidak hanya dengan laku dan suara (dalam bentuk percakapan/dialog), tetapi serentak dilakukan dengan menyanyi dan gerak dalam tari, dengan sendirinya selalu diiringi oleh musik tabuhan, kesemuanya dipertunjukan secara terpadu.
Pementasan Teater tradisional dilakukan dengan cara yang paling sederhana, yaitu dengan menggunakan arena di lapangan terbuka dengan penonton berkeliling dalam bentuk yang sangat sederhana, dengan cara menonton yang santai.
Perkembangan Teater tradisional
Jenis dan keragaman teater tradisional yang ada di Indonesia, bersumber dari perbedaan budaya sejumlah etnik yang hidup berdampingan, saling dukung-mendukung, pengaruh-mempengaruhi, sehingga teater tradi-sional di suatu daerah mempunyai kesamaan dengan lainnya, dengan tetap memiliki kekhasan daerahnya  Ada persamaan dan ada pula perbedaan satu sama lain.
Di Indonesia, tidaklah mudah untuk mengatakan bahwa suatu kesenian adalah “asli daerah setempat”. Apa bedanya Lenong dengan Topeng Betawi?  Topeng Betawi dengan Topeng Sunda?  Apakah musik Gambang Kromong merupakan musik asli Betawi?
Musik Gambang Kromong, kalau kita teliti, sebagian besar alat-alat musiknya adalah Tehiyan, Khong Ayan, Sukong. Melihat namanya, tentu berasal dari Cina.  Tetapi toh tetap dikatakan bahwa Gambang Kromong yang mengiringi Lenong adalah kesenian Betawi.
Dalam makalah Gambang Kromong Selendang Betawi Jakarta Utara: Suatu studi kasus mengenai Musik dan Tranformasi Sosial Budaya pada Temu Ilmiah dan Festival MSPI tahun 1994,  Malona Sri Repelita, S.Sn. menulis:  Gambang Kromong adalah suatu genre musik tradisional masyarakat Betawi (Etnik Melayu Jakarta) yang disajikan dalam bentuk ensambel. Kebudayaan musik ini hasil percampuran antara unsur-unsur musik beberapa etnik pribumi dan unsur musik Cina. Hal ini dapat dilihat dari alat-alat musik yang terdapat pada Gambang Kromong, yang terdiri dari: gambang, kromong, gendang, kecrek, gong (alat musik pribumi) dan ningnong, terompet cio tauw, tehyan, kongahyan, sukong (alat musik Cina).
Dengan mengemukan kehidupan teater tradisional, kita akan memperoleh gambaran betapa kaya teater tra-disional di Indonesia akan nilai-nilai budaya. Hal itu dapat menggambarkan tata cara kehidupan serta adat-istiadat yang berlaku.
Kehidupan teater tradisional makin berkembang dengan datangnya pengaruh budaya lain yang masuk ke Indonesia. Hadirnya Teater Bangsawan memberi pengaruh sangat besar pada perkembangan teater tradi-sional, dan merupakan perkenalan  ke arah teater non-tradisi. Kelompok Teater Bangsawan, dengan ciri-cirinya, masih tergolong sebagai teater tradisional. Meskipun demikian telah mengalami banyak perubahan, menerima pengaruh-pengaruh dalam teknik penyajian dan bentuknya pun mengalami perubahan. Pada periode transisi inilah teater tradisional mulai terpengaruh teater Barat, sehingga lahirlah suatu bentuk teater yang  disebut Teater Transisi.
Teater Transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode di mana teater tradisional mulai menga-lami perubahan karena pengaruh budaya lain. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradi-sional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, dinamakan Teater Bangsawan. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis, meskipun masih dalam wujud  cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi.  Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan.
Pertunjukan mulai “dikelola” dengan rapi dan tertib.
Apabila ditelusuri sejarahnya, Teater Bangsawan berasal dari Timur Tengah. Mula-mula datang ke Penang (Malaysia). Setelah berkembang di Penang, baru kemudian ke Sumatra dan Jawa. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater dari budaya lain dimulai sejak Teater Bangsawan menyebar ke Pulau Sumatra.  Pe-mentasan Teater Bangsawan secara teknik telah banyak mengikuti teater Barat (Eropa).  Pada saat itu  teater tradisional mulai meniru Teater Bangsawan, mulai menggunakan out-line story (panduan cerita yang ditulis)  dengan menggunakan bahasa Melayu. Seperti diketahui, bahasa Melayu yang terdapat di Riau merupakan akar dari bahasa Indonesia, yang. kemudian menjadi bahasa persatuan (nasional) Indonesia.
Teater Bangsawan merupakan rintisan dan perkenalan dengan teater Barat, yang nantinya akan melahirkan teater non-tradisi, teater yang secara teknik banyak mengambil acuan dari teater Barat dan berbeda dengan teater tradisional.
Masa Transisi  Kehidupan Teater di Indonesia
Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stambul di Surabaya pada tahun 1891, yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa), yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon.
Kelompok periode Teater Transisi masih digolongkan pada kelompok teater tradisional, tetapi dengan model garapan dengan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, yaitu yang salah satunya dikenal dengan se-butan Teater Bangsawan.
Dilihat dari segi sastra, kita mulai mengenal “sastra lakon” dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno, pada tahun 1901. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda, Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913), dan lain-lainnya, yang menggunakan bahasa Melayu rendah. Penulisan lakon ini banyak ditiru oleh kelompok Teater Bangsawan.
Setelah Komedie Stamboel didirikan, kemudian disusul dengan bermunculannya beberapa rombongan san-diwara lainnya. Gaya penyajiannya mengikuti apa yang dilakukan oleh Teater Bangsawan yang datang dari Timur Tengah dan kemudian mengembara dan menetap di Penang Malaysia. Sering juga disebut Wayang Parsi.  Kemudian disusul dengan kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dar-danella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A.Pedro pada tanggal. 21  Juni 1926, Opera Stambul, Komidi Bangsawan, Indra Bangsawan,  Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek, Sandiwara Tjahaja Timoer dan sebagainya.
Pada jaman Teater Transisi belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau  tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedang-kan cerita yang disajikan dinamakan drama. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Jaman Kemerdekaan. Sampai pada jaman Jepang dan permulaan jaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer.
Pengembangan  Teater Tradisional
Pada jaman penjajahan Belanda di Indonesia, masyarakat kita pada mulanya hanya kenal dengan teater ra-kyat, teater tradisional yang bersifat kerakyatan.  Kesenian tradisi di Indonesia pada jaman itu hanya memiliki dua katagori, yaitu kesenian rakyat dan kesenian yang lahir di keraton-keraton. Kesenian yang lahir dari kera-ton biasanya lebih “terpelihara” dan dirawat dengan baik. Sedangkan kesenian rakyat umumnya lahir secara spontan,sedang para senimannya merupakan petani-petani yang senang dengan kesenian.
Tetapi karena secara geografis Indonesia terletak di persingggahan pelayaran dari negara lain, pengaruh ke-budayaan lain masuk ke Indonesia dari berbagai negara seperti India, Cina, Purtugis, Inggris, dan lain-lainnya. Pengaruh kebudayaan asing tersebut masuk dengan mudah. Untungnya bangsa Indonesia dapat mengambil manfaat dengan adanya budaya lain tersebut. Diambil yang bermanfaat, cocok dengan budaya kita, kemudian diadaptasi kedalam kebudayaan kita.
Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Di samping pengaruh dari Teater Bangsawan, teater tadisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805, yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan men-gawali berdirinya gedung  Schouwburg pada tahun1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta).
Arti penting lainnya dari Teater Bangsawan adalah perannya yang merupakan rintisan, yang nantinya akan menjadi  Teater Non-tradisi. Bangsawan, merupakan prototipe teater tradisional yang umumnya terdapat di Pulau Sumatera dengan latar belakang pendukung yang dominan, rumpun  budaya Melayu.
Dalam bukunya Seni Persembahan Bangsawan, Rahmah Bujang menyatakan bahwa Bangsawan dikenal pertama kali di Malaysia, yaitu ketika ada rombongan teater dari India, sekitar tahun 1870, dan mereka me-nyebutnya sebagai Wayang Parsi. Asal mula Wayang Parsi dari Turki, karenanya cerita-cerita yang dihidang-kan kebanyakan dari daerah Timur-Tengah dan India. Semua pemain teater dari India tersebut terdiri dari pria.
Kemudian Wayang Parsi menyebar ke selatan sampai ke Indonesia (Medan, Riau dan Palembang, untuk pu-lau Sumatra dan bahkan sampai ke Pulau Jawa dan Kalimantan). Di Sumatera Selatan ditemukan teater tra-disional yang sejenis dengan Bangsawan. Dinamakan Dulmuluk, tetapi sering juga disebut Abdul Muluk, atau Indra Bangsawan.
Pada umumnya, Bangsawan merupakan teater tradisional yang terdapat di Sumatera Utara, sedangkan pen-garuh Bangsawan menyebar ke Kalimantan dan Jawa.
Timut dan Barat
To Thi Anh, dalam bukunya Eastern and Western Cultural Values, Conflicht or Harmony  (th.1975) – menulis: “Memang di masa lampau, orang mempertentangkan Timur dan Barat’.  Timur dipandang dalam konotasi:  kemiskinan, kelebihan penduduk, nasionalisme, kebatinan, spiritual, bersifat pasif dan tradisional. Barat di-kaitkan dengan kolonialisme,  teknologi,  kapitalisme,  kekuasaan, materialisme,  dan  bersifat aktif progresif.
Pandangan semacam itu berangkali ada benarnya untuk masa lalu, tetapi tidak berlaku untuk jaman sekarang yang sudah banyak berubah. Jepang tidak bersifat pasif atau Cina tidak bersifat tradisional. Timur dan Barat, Asia dan Eropa sekarang berubah sangat cepat
Steward C. Easton, dalam bukunya The Heritage of the Past (New York, 1955) memperbandingkan antara kebudayaan Tiongkok dan India, yang memperlihatkan pelbagai macam kesamaan. Banyak musafir Tiongkok mengunjungi India dan membawa ajaran dan unsur kesenian ke Tiongkok dan sebaliknya. Di Indonesia, ba-nyak terdapat unsur-unsur kesenian dari India, karena terasa adanya kesamaan esensi.
B A B   II
¬¬¬————————————————————————————————————————————————–
ASAL MULA TEATER TRADISIONAL
Pengantar
Mengungkap sejarah dan asal mula teater tradisional bukanlah hal yang mudah. Teater tradisional yang masih ada sekarang sudah sangat berbeda baik fungsi ataupun gaya penyajiannya. Untuk merekonstruksi kembali apa dan bagaimana teater tradisional pada jaman dahulu, kita perlu memperoleh bahan-bahan tentang teater tradisional di masa lampau. Persoalan ini bersumber pada kelemahan kita dalam hal dokumentasi. Materi dan bahan-bahan yang diperoleh dari seniman pelaku teater rakyat yang masih dapat dikorek keterangannya, sering tidak sama dan bahkan berbeda.  Kesukaran memperoleh bahan disebabkan sedikitnya dokumentasi yang dapat dijadikan acuan dalam menyusun atau merekontruksi teater tradisional.
Kendala lainnya adalah terlalu banyaknya etnik di Indonesia, sehingga upaya menelusuri asal mula atau proses kelahiran teater tradisional sangat sulit karena berbeda satu dengan lainnya. Ada yang lahir dari sastra lisan, di daerah lain berasal dari bagian suatu upacara, ada pula yang lain dari permainan rakyat yang berwujud bunyi-bunyian untuk hiburan, kemudian dikembangkan menjadi seni pertunjukan dalam bentuk teater rakyat.
Untuk mengenal sejarah teater tradisional, kita perlu menelusuri bagaimana proses kelahiran dan kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Bagaimana masyarakat menerima dan menghayati kesenian tradisi di ling-kungannya.
Sejarah teater tradisional dimulai sejak sebelum jaman Hindu. Pada jaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual, hingga unsur teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita.
Pada saat itu, yang disebut “teater”, sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater, dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur-unsur teater ter-sebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat ling-kungannya. Wayang merupakan suatu bentuk teater tradisional yang sangat tua, dan dapat ditelusuri bagai-mana asal muasalnya.
Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan  wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti pada jaman raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung.  Namun tidak jelas apakah pertunjukan wayang terse-but seperti yang kita saksikan sekarang (merupakan pertunjukan dengan bayang-bayang) dan bagaimana dengan cerita yang dihidangkan.
Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan Wayang, yaitu.yang terdapat pada prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi, yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang.  Petunjuk semacam itu juga ditemukan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada jaman Raja Airlangga dalam abad ke-11. Oleh karenanya pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang sangat tua.  Sedangkan bentuk wayang pada pertunjukan di jaman itu belum jelas tergambar bagaimana.
Awal mula adanya wayang, yaitu saat Prabu Jayabaya bertakhta di Mamonang pada tahun  930.  Sang Prabu ingin mengabadikan wajah para leluhurnya dalam bentuk gambar, yang kemudian dinamakan Wayang Purwa.  Dalam gambaran itu diinginkan wajah para dewa dan manusia jaman purba.  Pada mulanya hanya digambar di dalam rontal  (daun tal). Orang sering menyebutnya daun lontar. Kemudian berkembang menjadi wayang kulit  yang sebagaimana dikenal sekarang.
Sering terdengar pendapat yang menyatakan bahwa wayang  banyak memperoleh pengaruh Hindu. Hal ini tak dapat dipungkiri, terutama apabila diltilik dari cerita yang dihidangkan, selalu mengambil cerita Mahabharata atau Ramayana. Orang mengatakan, di India tidak ada bentuk wayang kulit seperti yang ada di Indonesia. Dr. Seno Sastroamidjojo, dalam bukunya  Renungan Tentang Pertunjukan Wayang Kuli”  (1964), mengatakan :
“Rabindranath Tagore, seorang pujangga basar bangsa India, ketika mengunjungi Indonesia, me-nyatakan bahwa pertunjukan wayang kulit semacam itu tidak ditemukan di India. Yang sama hanya beberapa tokoh wayang tersebut sama dengan yang terdapat di India, misalnya: Arjuna dan Sri Kresna”.
Kemungkinan besar, apa yang dimaksud dengan pernyataan itu adalah bahwa bentuk dan modelnya yang tidak sama.  Tetapi pertunjukan semacam wayang,  tentu saja ada di India.  Dari pernyataan Rabindranath Tagore tersebut jelas bahwa sumber cerita wayang berasal dari India, hanya untuk daerah Asia Tenggara cerita tersebut diadaptasi disesuaikan dengan cerita rakyat atau legenda setempat.
Asal Mula Teater Tradisional
Masyarakat pertanian menaruh arti yang penting pada tanah, alam, pepohonan, air, sungai dan juga roh-roh halus yang menjaganya.  Di sini terkait dengan adanya kepercayaan terhadap adanya  roh-roh halus (roh ne-nek-moyang) yang mempengaruhi kehidupannya. Teater tradisional lahir dari spontanitas kehidupan dan di-hayati oleh masyarakat lingkungannya, karena merupakan warisan budaya nenek moyangnya. Kelahir- annya, pada umumnya didorong oleh kebutuhan masyarakat, dimulai sebagai pendukung sarana dan kelengkapan upacara, dan setelah itu sekaligus merupakan pemenuhan kebutuhan akan hiburan.
Pertunjukan teater tradisional yang masih dapat disaksikan dewasa ini, biasanya dilaksanakan bersamaan dengan keperluan masyarakatnya yang masih terkait untuk keperluan suatu upacara, hajatan, perayaan atau pun keperluan lainnya. Pertunjukan diselenggarakan atas dasar tata cara dan pola yang diikuti secara men-tradisi, secara turun-temurun.
Banyak teater tradisional di berbagai tempat di Indonesia merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan atau upacara adat, yaitu sejak jaman Pra-Hindu.. Pada upacara tersebut, terlihat adanya apa yang sering dis-ebut peristiwa teater sebagai pendukung upacara.
Peristiwa teater yang dimaksud adalah suatu kejadian yang mirip dengan suatu bentuk pertunjukan teater. Secara elementer dapat dilihat sebagai unsur-unsur yang mendukung pertunjukan teater. tetapi dalam wujud-nya tidak dapat dikatakan suatu bentuk teater.
Contoh- contoh teater yang pada mulanya masih terkait dan digunakan untuk sarana upacara ritual dapat kita temukan di Bali, diantaranya: Topeng Pajegan dan Tarian Sanghyang Jaran. atau  Hudoq yang terdapat di Kalimantan.
Dalam tulisannya di Jurnal Seni Pertunjukan tahun.VIII –1997, berjudul Seni Pertunjukan tradisional di dataran tinggi Mahakam,  G.Simon Devung mengatakan:
“Seni Pertunjukan di masa lampau, seperti Hudoq, Dangday, Belian atau Ngugu Tautn, berkaitan dengan upacara keagamaan, yang isinya kebanyakan merefleksikan konteks keagamaan yang di-percayai masyarakatnya, mencerminkan hubungan manusia dengan kedewaan/ketuhanan, hubungan manusia dengan alam, dan keberadaan manusia. Di dalam ritual biasanya orang menampilkan mitos rilegius mereka dengan  mempantomimkan  tingkah laku karakter mitologis dalam bentuk tingkah laku seremonial atau meniru ucapan mereka dalam dialog seremonial. Tingkah laku seremonial, termasuk yang diekspresikan lewat gerakan tubuh dalam tarian dan juga nada suara serta kata-kata di dalam nyanyian sebenarnya merupakan materialisasi dari konteks mistis yang menjadi dasar bagi tingkah laku seremonial.  Pengetahuan tentang mistik di masa lalu memberikan insentif dan justifikasi bagi tindakan ritual dan menuntun tampilan pertunjukan yang benar dari benar dari tindakan ritual yang suci”. (Keesing, 1958 :366).
Upacara yang mempunyai bentuk menyerupai teater, dahulu kala banyak kita temukan di berbagai daerah, yang selalu dikaitkan dengan roh nenek moyang atau roh penolak kejahatan.  Trance (kerasukan) selalu me-nyertai teater upacara semacam ini. Bentuk wujudnya merupakan unsur-unsur teater, berupa gerak-gerak pendukung atau berupa paduan suara persembahan, doa atau pun mantra-mantra yang magis dan puitis, tetapi menyatu dengan upacara yang sedang berlangsung.
Dalam perkembangannya, bentuk teater semacam ini dipakai untuk keperluan sarana upacara dan barulah kemudian teater muncul sebagai seni pertunjukan untuk hiburan.
Lahirnya teater tradisional di Indonesia sebagian besar dimulai pada saat teater melepaskan diri dari kaitannya dengan upacara baik adat ataupun upacara keagamaan.
Terjadinya Teater Tradisional
Kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan teater dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan kehidupan kesenian serta kebudayaan.  Kelahiran suatu kesenian tradisi, umumnya ditentukan oleh kehidupan masyarakat lingkungannya. Dalam hal ini masyarakat yang guyub dengan inti kebersamaan serta sifat gotong-royong, dikerjakan secara bersama, merupakan ciri utama masyarakat tradisi kita.
Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya.  Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional iru berbeda-beda, tergan-tung  kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir.
I) Teater tradisional yang lahir dari sastra lisan. Banyak ditemukan di berbagai daerah,  baik di Sumatera (rumpun budaya Melayu), di Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Dan bahkan di Ambon pun yang disebut Badendang Kapata melahirkan Teater Tutur. Di berbagai daerah, Teater Tutur tetap merupakan bentuk teater yang mandiri, dan tetap dipertunjukan sebagai Teater Tutur.
Untuk keperluan hajatan, di Jawa Timur dan Jawa Tengah orang masih sering nanggap (membiayai pemen-tasan) Kentrung, atau di Lombok dengan Cepung. Tetapi sering pula Teater Iutur  berkembang menjadi Teater Rakyat.
II) Ada juga yang dimulai dengan permainan. Permainan tersebut berwujud bunyi-bunyian untuk “hiburan” (mengusir rasa lelah) antar warga, yang kemudian dikembangkan menjadi seni pertunjukan dlam bentuk teater rakyat, sebagaimana Ketoprak di Yogyakarta.
Lahirnya Teater Rakyat: Ketoprak Lesung
Dalam buku Kelahiran & Perkembangan Ketoprak, F.A.Sutjipto& Widjaya, (Terbitan Direktorat Kesenian -Depdikbud. Th.198 ) dikatakan:
“Bentuk mula dari kesenian Ketoprak, berupa permainan hiburan santai di waktu senggang, bagi ra-kyat pedesaan. Sebelum kesenian Ketoprak lahir, di desa-desa sekitar Yogyakarta dan Klaten telah populer suatu permainan rakyat memukul lesung (alat menumbuk padi) dengan irama  gejog. Per-mainan lesung dilakukan pada malam hari terutama pada waktu terang bulan. Sehabis masim panen, para petani mulai menumbuk padi, alat yang digunakan disebut lesung.   Biasanya yang menumbuk padi adalah orang perempuan dan dilakukan pada siang hari. Waktu menumbuk padi di lesung, ter-dengar bunyi bunyian.
Dari sinilah para petani warga desa, terilhami untuk mengadakan permainan lesung, untuk menghibur di waktu senggang di malam hari.  Permainan santai ini cukup menarik masyarakat sekitarnya, apalagi dengan  di-lantunkan nyanyian-nyanyian pedesaan menyertai bunyi iringan gejog. Bunyi berirama tersebut memancing orang untuk menari-nari dengan gerak yang sederhana, kemudian dikembangkan lagi dengan diberi alur cerita sederhana tentang kehidupan masyarakat sekitarnya. Maka lahirlah apa yang disebut Ketoprak Lesung.  Perkembangan Ketoprak, dimulai dengan Ketoprak Lesung, sekitar tahjun 1887,  kemudian menjadi Ketoprak Ongkek (Ketoprak keliling dari satu desa ke desa lainnya). Wujud  pertunjukannya pun berkembang.   Musik pengiring tidak memakai lesung. ditambah dan diganti gendang, seruling, dan terbang.  Kemudian dalam per-kembangannya menggunakan gamelan  lengkap.
III) Teater tradisional yang lahir dari sarana upacara. Sebagian besar teater tradisional di Bali dan Kali-mantan banyak yang lahir dari kelompok yang pada mulanya digunakan untuk  “sarana upacara”, yang berupa tarian pengiring dan paduan suara dari suatu upacara yang bersifat ritual.
Pada saat teater dijadikan sarana upacara ritual, sebetulnya belum kita temukan bentuk teater yang utuh, tetapi masih berupa unsur-unsur teater yang  digunakan  untuk memperkuat keperluan upacara.   Mulai saat itulah “unsur teater tradisional” sering jadi penunjang dan sarana upacara ritual.
Setelah periode lepas dari kaitan dengan upacara ritual, di beberapa daerah lahir teater rakyat yang memang muncul dari keinginan masyarakat lingkunganyya, Mengadakan kegiatan yang diperlukan, untuk menghibur masyarakat.
Sastra Lisan
Sastra lisan merupakan fondasi utama dalam teater tradisional di Indonesia. Sastra lisan adalah sa-stra yang disampaikan dari mulut ke mulut. Jenis sastra Lisan bermacam-macam, dapat berupa cerita rakyat, pantun, syair, kaba, kidung, dan yang terkait dengan upacara berbentuk mantra. Sastra lisan merupakan bentuk pengucapan yang langsung dari jiwa rakyat biasa yang merupakan lapisan masyarakat paling bawah. Sastra lisan inilah ynng menghasilkan teater rakyat dengan berbagai ra-gam dan jenis karena kita memiliki beratus bahasa yang berbeda satu dengan lainnya.
Sastra lisan juga berkembang dengan digunakannya daun lontar sebagai tempat menuliskan cerita. Di bebe-rapa daerah setelah masyarakat mengenal tulisan (huruf), maka Sastra Lisan tersebut banyak yang dipindah-kan ke daun lontar (Dalam bahasa Jawa disebut Ron Tal, artinya Daun Tal). Dalam ucapan, terjadi pergese-ran bunyi, sehingga yang sekarang popular adalah lontar.
Di daerah Sunda cerita ditulis di atas daun nipah, sedangkan di daerah Bugis dinamakan Daun Lontarak. Sejak saat mulai dikenal tulisan, Sastra Lisan banyak mengalami perkembangan, yaitu cara penyebarannya tidak hanya diceritakan, tetapi sudah mulai dalam bentuk tertulis.
Perkembangan tersebut sangat mempengaruhi perkembangan Teater Tutur.  Sejak itu, Pencerita dalam Teater Tutur harus seseorang yang dapat membaca apa yang tertulis dalam daun lontar.
Cara mempertunjukkan  Sastra Lisan
Ada berbagai cara untuk menyampaikan/mempertunjukkan Sastra Lisan tersebut, antara lain dengan cara :
1. Diceritakan biasa (sebagaimana orang bercerita), tentu saja dengan berbagai gaya dan irama bercerita. Umumnya bentuk cerita yang dihidangkan berupa prosa biasa.
2. Diceritakan dengan jalan dinyanyikan, karena bentuk sastranya adalah prosa liris atau pantun, syair, dan nyanyian.
3. Diceritakan dan diseling dengan nyanyian.
Pencerita (Tukang cerita) dalam Teater tutur adalah seorang seniman, yang mengungkapkan gejolak jiwanya, lewat media ungkap suara (vokal). Ia sama dengan  aktor. Ia bukan saja seorang Pemeran, sekaligus seorang Penyanyi, dan Sutradara.  Pencerita dengan kemahiran suaranya, dengan vokal yang ekpresif, harus sanggup menggambarkan berbagai karakter/watak tokoh yang sedang ia ceritakan. Untuk mendukung penceritaan, ia harus juga berlaku dengan menggunakan ekpresi wajahnya Untuk lebih memperkuat penggambaran watak yang sedang ia ceritakan. Ia harus pula mempunyai suara yang merdu apabila sesekali harus menyanyi.  Apalagi kalau seluruh pengucapan cerita dilakukan dengan menyanyi.  Gerakan tangan dan gerakan tubuh pencerita,  digunakan untuk keperluan menghidupkan suasana bercerita dan meyakinkan penonton.
Teater Tutur sebagai Teater Mula
Pendekatan sejarah Teater tradisional, dapat ditelusuri dari segi sastra.  Lahirnya Teater tradisional dari segi sastra, bertolak dari Sastra Lisan, dan berwujud sebagai Teater Tutur, yaitu suatu bentuk teater yang sangat sederhana, hanya dituturkan.   Bentuk teater yang hanya diceriterakan tersebut, sekaligus digunakan sebagai alat penyebaran sastra lisan, yang disampaikan dengan cara bertutur. Teater Tutur, dapat dikatakan juga se-bagai salah satu bentuk teater mula, yang memenuhi persyaratan sebagai suatu bentuk teater lengkap yang utuh. Yaitu adanya alur cerita, kemudian cerita tersebut dituturkan (dipertunjukan), dan ditonton orang.
Masyarakat tradisi dimasa lampau yang belum mengenal tulisan, hanya mengenal  Sastra Lisan. Untuk me-nikmati dan mengembangkan atau menyebarluaskan Sastra Lisan, dilakukan dengan jalan perantara orang lain yang menceritakan (sebagai ganti membacakan). Sastra lisan hidup dan berkembang dari mulut ke mulut, dari seseorang diceritakan kepada orang lain.
Pada jaman itu, tradisi bercerita merupakan salah satu alat komunikasi dan penyebaran sastra lisan kepada masyarakat secara luas. Dari sini lahirlah Tukang Cerita (story-teller) yang kemudian berkembang menjadi suatu bentuk kesenian, yang kita namakan Teater Tutur.
Untuk menikmati hasil karya sastra, pada prinsipnya seseorang harus membaca. Membaca mengandung arti untuk keperluan diri sendiri, keperluan pribadi. Sedangkan membacakan atau menceritakan mengandung arti untuk keperluan orang lain. Apabila orang lain tersebut jumlahnya banyak, maka ia merupakan kelompok pendengar atau penonton, maka kegiatan ini berubah menjadi bentuk seni  pertunjukan.
Teater tutur merupakan salah satu cikal bakal teater tradisional kita.
Perkembangan Teater Tutur
Teater Tutur yang pada mulanya cukup dilakukan oleh seorang pencerita,  dalam perkembangannya sering dimainkan lebih dari satu orang. Pada mulanya hanya pembantu iringan musik, tetapi kemudian juga ditambah pemainnya, misalnya :
• Cepung di Lombok, dimainkan oleh lima orang
• Cekepung di Bali, bahkan dimainkan oleh lebih dari sepuluh orang sebagai
pendukung, sedangkan yang bercerita tetap satu orang..
• Dalang Jemblung oleh empat atau lima orang,
Penambahan pemain hanya untuk lebih memeriahkan dan lebih menghidupkan sebagai suatu seni pertunju-kan.  Alat musik pengiring menjadi penting, karena cara penyampaiannya dilakukan dengan banyak menggu-nakan nyanyian. Alat musik yang digunakan sangat sederhana, dengan jumlah alat yang sesedikit mungkin (hanya satu atau dua alat saja).  Di antaranya yang sering dipakai untuk mengiringi Teater Tutur, adalah salah satu dari alat musik yang mudah diperoleh. seperti gendang, seruling, terbang, kecapi, saluang, rebana, dan lain sebagainya,  tergantung dari daerahnya masing-masing.
Teater Tutur adalah suatu pertunjukan, yang kemudian berkembang dengan mengikut sertakan gerak tubuh. Dengan demikian cerita yang semula dituturkan dengan mulut saja, dalam perkembangannya dimainkan.
Teater Tutur yang diperagakan
Teater Tutur yang kita bicarakan adalah Teater Tutur yang bentuknya diceritakan. Dalam perkembangannya Teater Tutur bukan saja diceritakan, tetapi juga diperagakan dengan gerak tubuh, dan dimainkan. Misalnya Topeng Dalang, yang terdapat di Madura, tetap merupakan Teater Tutur (karena Sang Dalang tetap bercerita), Di samping itu ada juga yang dimainkan oleh para penari. Para penari hanya menari, dan menggerak-gerakkan tangannya, sedangkan dialog tetap dilakukan oleh Sang Dalang.
Contoh lain, Langendriyan, yang terdapat di Jogyakarta / Surakarta, merupakan contoh Teater Tutur yang diperagakan. Para penari, di samping menari juga menyanyi (bahasa Jawa: nembang). Sang Dalang tetap bercerita dan penarinya pun berdialog.
Topeng Dalang yang terdapat di Madura, merupakan contoh yang sangat jelas proses perkembangannya dari Teater Tutur berkembang menjadi Teater yang dimainkan.
Wayang Kulit /Golek, Teater tutur disertai peragaan wayang
Secara teknik seni pertunjukan, Wayang Kulit, Wayang Golek atau Teater Boneka dapat dikatakan sebagai suatu bentuk Teater Iutur yang disertai dengan peragaan.  Masuk dalam kelompok Teater boneka.
Teater Tutur dari berbagai Daerah
Bentuk Teater Tutur dapat kita temukan di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun bentuk dan daerahnya sama, sering mempunyai penamaan yang berbeda, bahkan cara menyampaikan pun sering tidak sama.  Ada yang hanya diceritakan dengan cara berdendang, ada pula yang disertai dengan iringan alat musik yang se-derhana, hanya seruling dan gendang. Bahkan ada yang disertai gerak-gerak yang ritmis sambil duduk.
Bentuk teater yang hanya diceriterakan tersebut, sekaligus digunakan sebagai alat penyebaran sastra lisan, yang disampaikan dengan cara bertutur.
BAKABA
Teater Tutur Minangkabau
Kaba berarti carito, cerita. Bakaba artinya bercerita. Kata kaba berasal dari bahasa Arab khabarun yang berarti berita, warta atau kabar. Kaba ditulis dalam bentuk prosa yang berirama. Kaba merupakan perpaduan antara penyampaian tambo dan hikayat. Bentuk sastra yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, terutama di surau adalah bentuk syair dan hikayat.
Kaba disampaikan dalam tradisi Tambo Alam dan adat Minangkabau dengan menampilkan tokoh-tokoh dalam tradisi hikayat, maka Kaba ini lebih merupakan wadah melukiskan bagaimana mewujudkan dan mempertahankan adat yang dirumuskan dalam Tambo  menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari yang ideal. Tambo atau tarambo berarti sejarah atau silsilah keturunan. Di dalam Tambo Minangkabau cerita sejarah disusun sesuai dengan pandangan dan kepercayaan orang Minangkabau, sehingga fakta sejarah berbaur dengan unsur-unsur mite, legenda, teka-teki dan dongeng.
Sejarah yang menunjukan silsilah keturunan raja, penyususun adat, asal-usul negeri, dan seluk beluk adat-istiadat Tambo Minangkabau disusun dalam bentuk puisi panjang yang disana-sini mengandung perlambang-perlambang.
Kaba lebih tepat dikatakan sebagai sastra bertendens dan umumnya mengisahkan terganggunya ketentraman atau ketertiban masyarakat akibat tingkah laku dan perbuatan seorang penjahat. Penjahat tersebut mendapat perlawanan dari seorang pahlawan yang ingin memulihkan ketentraman dan ketertiban masyarakat. Tema-tema dalam Kaba adalah masalah buruk dan baik, patut dan tidak patut, melaksanakan adat atau membangkang adat.
Lingkungan kejadian dalam Kaba umumnya di kalangan keluarga raja-raja di Rantau Kaba Anggun Nan Tongga) umumnya di pesisir Utara. Kaba Gombang Patuanan di pesisir selatan dan Pagaruyung. Terkenal dalam hubungan dengan rantau adalah Kaba Cindua Mato.
Kaba merupakan sastra lisan yang isinya penuh pepatah-petitih, ibarat, kias dan ajaran-ajaran adat, oleh karenanya sangat dikenal baik di surau atau dalam masyarakat. Cara menyampaikan Kaba, meskipun prosa berirama, dilakukan dengan berdendang. Untuk membentuk irama digunakan perlengkapan musik yang sederhana yaitu Adok, semacam rebana besar atau ditambah kecapi. Kemudian dikembangkan dengan penambahan alat gesek seperti rebab atau biola.
Untuk lebih menarik cara penyampaian Kaba, bukan hanya memanfaatkan dendang atau nyanyi dan alat musik tradisi, tetapi juga menggunakan elemen-elemen utama dari teater, baik elemen suara atau dialog, maupun elemen gerak atau ekspresi wajah. Tukang Kaba dalam mendendangkan Kaba, mulai memperlihatkan karakter tokoh-tokoh dalam Kaba, yaitu melalui perbedaan nada suara dalam berdialog. Di samping untuk menarik perhatian, juga untuk lebih menghidupkan Kaba, pada suasana cerita digunakan irama-irama dendang, baik suasana sedih, girang, atau hiruk-pikuk.
Karena bentuknya prosa liris, Kaba bukan sekedar cerita biasa, tetapi kata-kata yang hadir dalam Kaba mengandung kekuatan bunyi musik yang menggelombang. Penyampaian Kaba sebagai Sastra Lisan tidak dapat hanya menggunakan seni bercerita, tetapi harus menyatu dengan seni suara dan seni musik yang ketiganya menyatu dan terpadu.
Beberapa jenis Kaba terdapat di daerah Sumatera Barat. Di pesisir Utara atau Selatan Bakaba diiringi oleh rebab, oleh karena itu Bakaba disebut Barabab. Sedangkan Bakaba umumnya diiringi oleh adok  atau rebana besar. Di daerah limapuluh kota ada pula jenis Bakaba yang dinamakan Basijobang, dan alat yang digunakan untuk mengiringi adalah adok dan kecapi. Dahulu pernah terjadi untuk mengiringi Bakaba digunakan korek api. Kotak korek api dipukul-pukul untuk menciptakan irama.
Bakaba sebagai tontonan biasanya diselenggarakan dalan rangkaian acara perhelatan meresmikan penghulu, perkawinan, khitanan, peresmian pemakaian Rumah Gadang serta upacara lainnya.Untuk menyelenggarakan pertunjukan Bakaba diperlukan beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh Tukang Kaba, misalnya karena alasan pilihan cerita yang akan disajikan, ia membawa sirih dalam cerana, membawa kain putih, menyembelih ayam putih atau hitam, membuat nasi kuning dari ketan dan sebagainya, sesuai dengan ceritanya.
Bakaba biasanya dilakukan malam hari dari jam 8 malam sampai subuh pagi. Karena sering panjangnya Kaba yang dibawakan, maka yang disampaikan hanyalah fragmen atau nukilannya.
SAHIBUL HIKAYAT & GAMBANG RANCAK
Teater Tutur Betawi
Sahibul Hikayat merupakan salah satu jenis Teater Tutur yang terdapat di Betawi (sekarang Daerah Khusus Ibukota Jakarta), yang merupakan bentuk sastra lisan yang dipertunjukan. Pada jaman Sastra Lisan, masya-rakar belum mengenal tulisan, untuk menyebar-luaskan Sastra Lisan tersebut, orang bercerita. Sastra Lisan hidup dan berkembang dengan cara diceritakan dari mulut ke mulut.
Pada jaman itu,Teater Tutur merupakan salah satu alat untuk menyebarkan sastra lisan, dan berfungsi seba-gai sarana “komunikasi”. Seorang pencerita (tukang cerita), dapat juga dianggap sebagai “juru bicara” yang harus pandai menyampaikan “pesan”nya, mahir bercerita.
Sahibul Hikayat, biasanya dimainkan oleh seorang pencerita. Seorang pencerita adalah seorang seniman yang mengungkapkan kemahirannya dengan menggunakan media ekpresi suara (vokal). Pencerita tidak ber-beda dengan seorang aktor, pemain. Dengan ketrampilan suaranya, dengan vokal yang “ekpresif”, ia harus dapat menggambarkan berbagai macam karakter/watak tokoh yang sedang ia ceritakan.
Seorang pencerita Sahibul Hikayat yang mahir akan dapat membawa penonton asyik mengikuti, dengan se-lingan humor-humor yang segar dan khas Betawi. Dengan spesifik bahasa Betawi yang penuh gaya humor tersebut, penonton dapat terpikat hingga lupa waktu.
Sahibul Hikayat pada masa lalu, umumnya dipakai untuk keperluan “hajatan”. Hburan bagi yang punya hajat, antara lain untuk keperluan khitanan, syukuran, dan lain sebagainya.
Di samping Sahibul Hikayat, di Betawi masih kita temukan apa yang disebut Buleng, yang bentuknya sama dengan Sahibul Hikayat. “Membuleng” dalam  dialek Betawi berarti bercerita. Buleng juga dimainkan oleh seorang pencerita. Aslinya, baik Sahibul Hikayat ataupun Buleng, dimainkan oleh satu orang pencerita dan tidak ada iringan “alat musik”, hanya “orang seorang bercerita”. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Be-tawi, yang bersumber dari bahasa Melayu. Bahasa Betawi terdiri dari beberapa dialek, yaitu dialek Tanah Ab-ang, dialek Kemayoran, dialek Tambun, dan sebagainya.
Cerita-cerita yang dihidangkan adalah cerita rakyat yang populer, legenda, dongeng kepahlawanan, dan lain-lain. Dalam membawakan cerita, pencerita sangat mahir memasukkan peristiwa-peristiwa yang sedang han-gat dalam masyarakat. Pandai dalam memasukkan pesan dan tak lupa dengan sidiran-sindiran yang tajam, tetapi dengan gaya lelucon.
Jenis Teater Tutur yang lain yang terdapat di Betawi adalah Gambang Rancak, suatu bentuk Teater Tutur yang sudah dikembangkan dengan iringan musik yang lengkap dan cara menyampaikannya seluruhnya dice-ritakan dengan menyanyi. Pemain terdiri dari dua atau tiga orang (bisa juga lebih), yaitu yang bercerita dengan menyanyi dan didukung oleh pemain musik Gambang Kromong, sekitar lima atau enam orang. Lagu-lagu yang dihidangkan berirama Melayu. Alat musik yang mengiringi antara lain kendang, gong, gambang, kenong kecil, dan kecapi.
Meskipun sudah jarang dipertunjukkan, pertunjukan Teater Tutur di Jakarta masih dapat kita temukan di dae-rah pinggiran Metropolitan Jakarta, pada saat ada peristiwa hajatan, selamatan, atau upacara yang bersifat seremonial dan hiburan bagi masyarakat pinggiran.
PANTUN SUNDA
Teater Tutur Jawa Barat
Pantun merupakan Teater Tutur yang terdapat di Jawa Barat. Seperti halnya teater rakyat umumnya yang berfungsi untuk keperluan upacara dan hiburan. Pada masa lalu, masyarakat Jawa Barat pada waktu mem-punyai hajat kenduri untuk keperluan upacara khitanan atau kawinan biasa mengundang rombongan wayang golek atau mengundang tukang pantun yang dalam pertunjukannya diiringi oleh kecapi.
Tukang Pantun biasanya seorang diri dan duduk di sudut ruangan di atas tikar. Banyak di antara para Tukang Pantun biasanya “seseorang yang buta matanya”. Pakaiannya biasa, tradisional semacam pakaian pencak silat dan berwarna hitam. Cerita Pantun yang dihidangkan berbentuk sastra yang bersyair dan disampaikan  dalam bentuk nyanyian (tembang) yang diiringi oleh kecapi.  Sebagai karya sastra, cerita pantun merupakan paduan antara bentuk prosa dan puisi. Didalam bercerita, tukang pantun biasanya menyanyi dan berbicara dalam bentuk prosa sekaligus. Begitu pula didalam mengucapkan dialog, di samping berbicara biasa sering juga dinyanyikan.Tentu saja kalau melukiskan sesuatu dipilih menggunakan bentuk prosa yang puitis.
Seorang Tukang Pantun mengandalkan kekuatan ekpresinya pada vokal yang dimilikinya, tak ubahnya seba-gai seorang penyanyi.
Cerita-cerita yang dihidangkan cerita rakyat setempat, legenda, dongeng, sejarah kerajaan, dan lain sebagai-nya yang di dalamnya selalu diselipkan pesan-pesan tentang kehidupan, terkait dengan keagamaan. Tukang Pantun sangat pandai dalam menceritakan dan tidak segan-segan mengulang-ulang hal-hal yang menarik, misalnya tentang negara yang makmur, pangeran atau satria yang berwatak baik, putri yang cantik dan  pan-geran yang tampan dan lain sebagainya, yang diceritakan dengan sangat menarik sehingga yang mendengar tidak merasa bosan. Bukan saja cara mengungkapkan yang pandai, tetapi susunan isinya bermutu sangat tinggi sebagai hasil karya sastra lisan. Oleh karena itu mutu puisi sastra lisan Sunda sangat tinggi.
Dalam menyampaikan cerita baik yang berupa narasi (penceritaan), percakapan ataupun deskripsi (pelukisan), selalu diiringi oleh kecapi atau  tarawangsa (rebab khas Sunda). Banyak pengarang sastra Sunda yang bertolak dan terpengaruh oleh sastra lisan Pantun Sunda. Bukan saja cerita-ceritanya bersumber dari Pantun Sunda, tetapi juga susunan sebagai karya yang puitis, bersumber dari Pantun Sunda. Seni musik tradisi dae-rah Sunda, yang dinamakam Tembang Sunda atau Cianjuran, lirik-liriknya pun banyak berasal dari cerita Pantun Sunda.
Tembang Sunda atau Cianjuran dalam menghidangkan lagunya selalu diiringi kecapi dan suling. Bahkan da-lam memainkan kecapi, Cianjuran pun teknik memetik kecapi yang digunakan pada Pantun Sunda, karena itu sering pula disebut teknik petikan papantunan.Cianjuran.  Baik dari segi sastra maupun dari segi musiknya, merupakan perkembangan atau lanjutan dari seni pantun.
Lagu lagu Cianjuran kemudian dinaikkan ke atas panggung dalam bentuk teater tradisi yang dinamakan Gending  Karesmen. Gending Karesmen merupakan bentuk teater tradisi yang dialognya diucapkan dalam bentuk nyanyian (seperti opera pada teater Barat). Erat kaitannya dengan Pantun Sunda, karena cerita-cerita yang dihidangkan dalam Gending Karesmen sebagaian besar adalah cerita yang berasal dari Pantun Sunda.
Cerita dan Seni Pantun Sunda, merupakan cikal bakal kesenian daerah Sunda yang terdapat dewasa ini, ka-rena mutunya yang tinggi baik dari segi sastra, segi musik, dan juga mempunyai “nilai dramatik” pada cerita-ceritanya. Karena itu Seni Pantun Sunda tetap merupakan ilham yang tak habis-habisnya bagi sastrawan, dramawan, bahkan juga pencipta tari Sunda yang ada dewasa ini.
KENTRUNG
Teater tutur Jawa Timur
Kentrung merupakan sebuah Teater Tutur yang terdapat di Jawa Timur, namun demikian di Jawa Tengah pun ada juga ditemukan Kentrung semacam itu. Sebutan Kentrung sebenarnya berasal dari peralatan tabuhan yang berbunyi “trung, trung…”  Alat tersebut dinamakan terbang atau rabana, termasuk alat musik yang disebut membranofon.
Kesenian rakyat Kentrung serumpun dengan apa yang dinamakan Thempling (Kempling) dan juga serumpun dengan Jemblung (Dalang Jemblung). Jenis kesenian semacam ini masih banyak yang lainnya singir, sala-watan, hadrah, khasidahan, dan lain sebagainya.
Bentuk Teater Tutur yang disebut Kentrung, biasanya dimainkan oleh satu orang, yang bertindak sebagai juru cerita (pembawa tutur) dan sekaligus juga memainkan (menabuh) alat musiknya yang berupa “terbang” besar, yang sering juga disebut (alat) kentrung.  Sering pula alatnya tersebut tidak hanya satu tetapi dua atau tiga. Kentrung besar ditambah satu atau dua kentrung kecil dengan nada yang berbeda. Kedua terbang tersebut dinamakan terbang lanang (laki-laki) dan terbang wadon (perempuan). Di beberapa daerah Kentrung  dimainkan lebih dari satu orang, dua atau bahkan sampai lima orang sebagai satu tim. Tetapi yang asli Ken-trung sebenarnya dilakukan oleh satu orang, seperti dalang yang bercerita.
Lakon yang dibawakan adalah cerita-cerita rakyat, dongeng, legenda, sejarah dan lain sebagainya.     Banyak lakon yang dibawakan bernafaskan keislaman, diambil dari cerita Menak, Kitab Ambiya, Nabi Yusup. Cerita lain seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kandha (yang mengisahkan raja-raja Jawa), Serat Panji, Damarwulan, Anglingdarmo, Sawunggaling dan masih banyak cerita-cerita rakyat lainnya yang hidup dari mulut ke mulut.
Cara pementasan Kentrung sangat sederhana. Seseorang pemain Kentrung, duduk bersila di atas tikar atau lampit, kemudian dikelilingi oleh pendengarnya. Ia mulai bercerita, kadang-kadang disertai  dengan nyanyian dan diseling dengan bunyi terbang. Banyak para pemain Kentrung memakai kacamata hitam (sebab pada mulanya banyak pemain kentrung yang buta). Begitu pula apabila pertunjukan Kentrung dimainkan lebih dari tiga orang maka para pemain ditempatkan di sudut ruangan, lengkap dengan alat tabuhnya, terbang, kendang dan lainnya (siter, misalnya) dan para penontonnya dalam posisi mengelilingi para pemain.
Kentrung dengan pemain lebih dari tiga, maka tiap pemain memegang beberapa peran dan berganti-ganti untuk dapat memainkan cerita tersebut.
Pertunjukan serupa Kentrung adalah apa yang disebut Thempling. Peralatan musik yang mengiringi Thempling terdiri dari  5 jenis, yaitu sebuah kentrung/terbang besar, sebuah kendhang, sebuah ketipung (kendang kecil) dan dua buah templing (besar dan kecil) yang masing-masing dimainkan oleh satu orang. Pengendang biasanya merangkap dalang, sekaligus pemain, sedang lainnya bertindak sebagai “juru senggak”, atau pemain lainnya dan semua pemain memainkan alat musiknya masing-masing.
Cerita yang dimainkan sama dengan cerita yang dimainkan Kentrung, yaitu siklus Panji atau mungkin juga cerita Seribu Satu Malam (Putri Joharmanik) seperti umumnya cerita-cerita Ketoprak.
Urutan cerita yang dibawakan, adalah sebagai berikut:
1. Pembukaan sebagai penghantar lakon, biasanya penuh dengan lagu/nyanyian-nyanyian yang digemari oleh penonton.
2. Diteruskan dengan perkenalan pemain dan cerita yang akan dibawakan dengan komentar yang me-narik dan lucu tentang cerita yang akan dibawakan.
3. Cerita dimulai. Disusun dalam beberapa babak dan berpuluh adegan. Tiap babak atau adegan selalu disertai dengan lagu (lelagon) baru, Untuk tidak membosankan tidak kurang dari 30 macam lagu ter-dapat dalam satu cerita. Cara menyampaikan cerita sangat menarik, humoris/penuh dengan kelu-cuan, sering dengan penuh sindiran. Dialog atau komentar-komentarnya menggelitik, tetapi tajam. Sindiran selalu dilakukan dengan geguyonan. Diselipkan humor-humor yang segar dan komunikatif.
4. Usai pertunjukan ditutup dengan lagu penutup, biasanya dengan perminta maaf atas segala keku-rangannya.
Pertunjukan Kentrung dimulai dari jam setengah delapan sering sampai tengah malam (larut malam). Biasanya pertunjukan Kentrung untuk keperluan perhelatan, atau keperluan lain bagi yang punya “gawe”. Untuk keperluan khitanan/sunatan, puputan bayi, dan lain-lainnya.
DALANG JEMBLUNG
Teater Tutur Banyumas
Banyumas merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang mempunyai beberapa bentuk kesenian tradisi yang spesifik dan berbeda dengan kabupaten lainnya. Dalang Jemblung merupakan suatu jenis kese-nian rakyat yang berbentuk Teater Tutur yang terdapat di daerah Banyumas. Di daerah Jawa Tengah, Yo-gyakarta ataupun di Jawa Timur terdapat suatu tradisi mengadakan kegiatan berkesenian yang dinamakan “Macapatan”, yaitu suatu kegiatan “menyampaikan sastra lisan dalam bentuk tembang” (nyanyian). Dalam perkembangannya “Macapat” berubah menjadi “Maca Kanda”, menyampaikan/membaca sastra lisan yang berbentuk prosa atau cerita, biasanya dalam bentuk sajak atau prosa liris. Sumbernya “sastra  lisan” tetapi sekarang sudah disusun kembali dan dituliskan dalam huruf Jawa (aksara Jawa). Sekarang sudah banyak ditulis dalam huruf latin.
Dalang Jemblung merupakan salah satu jenis Teater Tutur yang unik dan spesifik Banyumas, yaitu merupa-kan Teater Tutur yang tidak menggunakan peralatan musik tradisi, tetapi para pemainnya mengandalkan sua-ra (vokal) sebagai “musik” pengiring. Dengan suaranya sendiri para pemain menyuarakan “bunyi alat musik” tersebut. Yang ditirukan adalah “bunyi gamelan”. Para pemain Dalang Jemblung bukan saja bermain “me-mainkan peran tokoh” yang ia bawakan (biasanya beberapa peran ia mainkan), tetapi juga merangkap sebagai “bunyi alat musik” yang mereka inginkan.
Pemain wanita ia bertugas juga sebagai “waranggana’ (pesinden, penyanyi).  Dalang Jemblung biasanya di-mainkan oleh 4 atau 5 orang. Kalau 4 terdiri dari 3 pria dan 1 wanita. Salah seorang dari 4 pemain itu menjadi  “dalang” dan sekaligus juga sebagai pemain.
Bentuk pementasan Dalang Jemblung sangat sederhana dan cukup dilakukan di dalam rumah. Para pemain Dalang Jemblung duduk bersila mengelilingi meja keci dan pendek serta kosong tidak ada perlengkapan lain-nya. Perlengkapan bagi pemain hanyalah kudhi (semacam pisau khas Banyumas). Fungsi kudhi sebagai pe-ralatan untuk membantu para pemain dalam pementasan. Dapat berfungsi sebagai “senjata” dalam adegan perang, atau sebagai perlengkapan lainnya. Sering juga dipakai sebagai “cempala” dalam pementasan Wayang Kulit atau sebagai “keprak” untuk Sang Dalang.
Pakaian para pemain Dalang Jemblung sangat sederhana, yaitu pakaian lengkap daerah Banyumas, terdiri dari jas tutup atau surjan, kain batik, belangkon atau iket dan memakai selop (sandal). Semua itu merupakan pakaian adat Jawa pada umumnya  yang dipakai untuk keperluan suatu upacara atau pertemuan resmi.
Dalang Jemblung merupakan Teater Tutur yang paling sederhana dan paling “murni”, yang semua diung-kapkan lewat media ungkap yang paling esensial, yaitu suara.
Dengan kemampuan suaranya, para pemain dapat menggambarkan suasana cerita, kejadian, watak dari berbagai tokoh yang seolah-olah dimainkan oleh berpuluh-puluh orang.
Di daerah Banyumas terdapat suatu tradisi, apabila ada seseorang melahirkan bayi, maka diadakan acara yang disebut Nguyen, yaitu suatu bentuk tirakat pada malam hari bersama sanak keluarga dan tetangga dekat semalam suntuk sampai menjelang subuh. Di dalam Nguyen, sering diadakan acara macapatan dari salah seorang peserta nguyen.  Hal ini dimaksud sebenarnya mencegah kantuk dan juga menolak makhluk halus yang akan mengganggu bayi yang baru lahir atau ibunya yang baru  melahirkan.
Macapatan, ialah kegiatan menyampaikan sastra lisan dalam bentuk tembang /nyanyian. Macapatan ini san-gat digemari masyarakat karena pelaksanaannya sangat mudah, sederhana dan murah. Macapatan ini ber-kembang menjadi Maca Kanda, kemudian karena pengaruh teater rakyat lainnya, kemudian berkembang menjadi Dalang Jemblung.
Cerita-cerita yang dihidangkan tak ubahnya seperti cerita Wayang lainnya, tetapi sering juga mengambil cerita Menak atau  sering disebut Babat Menak atau Serat Menak. Ceritanya banyak menyangkut masalah pe-nyebaran agama Islam. Cerita yang sangat populer antara lain ialah cerita Wong Agung Mena”. Cerita Serat Menak sering dimainkan oleh Wayang Golek Menak atau dimainkan oleh Wayang Tengul. Dengan cerita dan tokoh yang terkenal Amir Hamzah dan Omar Maya.
Di dalam Dalang Jemblung pun tokoh yang terkenal disebut Umarmaya dan Umarmadi. Tidak menutup ke-mungkinan cerita yang dihidangkan dapat berupa cerita rakyat daerah Banyumas ataupun cerita Panji yang terkenal di mana-mana.
Sebagaimana umumnya Teater Tutur, cerita yang dihidangkan bertolak dari sastra lisan yang oleh masyarakat lingkungannya sebenarnya sudah sangat dikenal, baik dari cerita orang tua kepada anaknya atau orang lain kepada sesamanya. Namun mereka tetap menyenanginya.    Para pemain dengan pengalaman dan keahliannya, memainkan tokoh-tokoh dalam pertunjukannya secara improvisator namun penuh dengan ide baru disesuaikan dengan perkembangan kehidupan masyarakat lingkungannya.
Meskipun ceritanya sudah dikenal dan mentradisi, namun dengan kepandaian para pemain Dalang Jemblung dapat menciptakan suasana segar dan baru. Cara bermain tetap mengikuti cara-cara pendahulunya, namun pemain itu mempunyai  ide yang segar dan cara membawakan yang penuh “humor” yang dapat memikat para penonton. Tokoh punakawan (abdi dalam wayang) seperti Petruk, Gareng dan lainnya selalu menarik perha-tian, karena sindiran-sindirannya sering “mengena” dan dapat dimengerti oleh penontonnya.
Cara membawakan penuh variasi, tidak membosankan, dan sering membicarakan situasi terakhir yang se-dang hangat menjadi “topik” pembicaraan di daerah tersebut. Semua ini dilakukan dengan “geguyonan” (ke-lakar) penuh canda, terutama humor yang khas Banyumas dengan disertai oleh dialek khas Banyumas yang menjadi kebanggaan masyarakat Banyumas, yang mempunyai nilai spesifik dan tidak ditemukan di daerah lainnya.
Dalang Jemblung sampai saat ini masih sangat digemari oleh masyarakat, terutama masyarakat di pedesaan di daerah Banyumas. Karena pertunjukan Dalang Jemblung mudah diselenggarakan, biaya murah dan dige-mari oleh masyarakat lingkungannya. Dalang Jemblung bukan saja berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat dijadikan “panutan” karena pendidikan yang diberikan lewat pesan-pesannya sangat mengena di hati masyarakatnya. Apa yang dilontarkan pemain Dalang Jemblung dapat memberikan nasehat dan ajaran moral dalam kehidupan sehari-hari juga memberikan pendidikan yang secara tidak langsung sangat berguna bagi kehidupan masyarakatnya.
Pesan dan kritik yang dilontarkan dalam pertunjukan, sangat efektif dan dapat dirasakan oleh masyarakat, karena lewat sindiran yang mengena tetapi dilakukan dengan gaya banyolan yang segar.
.
Meskipun pertunjukan Dalang Jemblung berupa hiburan, namun penyelenggaraan pertunjukan tergantung ada tidaknya seseorang yang memerlukan untuk suatu “hajat”,  baik mengawinkan, sunatan atau pun upacara kelahiran bayi. Dalang Jemblung merupakan pilihan banyak orang, karena murah dan sederhana, dibanding-kan dengan pertunjukan lainnya, seperti wayang kulit atau pun teater rakyat lainnya. Kalau diperlukan, Dalang Jemblung dapat dimainkan oleh satu atau dua orang.
SINRILI
Teater Tutur Sulawesi Selatan
Sinrili merupakan Teater Tutur yang terdapat di Sulawesi Selatan. Sinrili berarti penuturan sebuah cerita den-gan diiringi oleh sebuah alat musik yang dinamakan “keso-keso” (rebab). Cara bercerita dilakukan dengan banyak menggunakan nyanyian/lagu dengan nada-nada “kelong” (lagu), yang spesifik kedaerahan. Permainan kelong serta lengkingan keso-keso pada Sinrilik dapat menimbulkan keharuan. Dengan disertai humor menyebabkan para pendengar/penonton sangat asyik mengikuti jalannya pertunjukan sampai subuh pagi. Sinrilik bertolak dari sastra lisan yang hidup ditengah masyarakat, hingga Sinrilik merupakan teater rakyat yang sangat akrab dengan lingkungannya. Cerita yang dihidangkan merupakan sastra lisan daerah, yang terungkap dalam bentuk cerita rakyat, legende, dongeng, kisah kerajaan. Temanya banyak bercerita soal ke-pahlawanan yang sangat digemari oleh penonton / /pendengarnya.
Cerita kepahlawanan yang sangat masyur adalah Sinrili I Datu Museng, Kappala~ Tallung Batua, Sinrili I Tolo Daeng Magasing. Tema keagamaan  Tuanta Salamaka. Tema percintaan Sinrili I Jamila, Sinrili I Manakku, Sinrili I Maddi Daeng ri Makka.
Cerita-cerita yang dihidangkan mempunyai fungsi bermacam-macam seperti umumnya teater rakyat, antara lain berfungsi  sebagai sarana hiburan, Sinrili merupakan hiburan, pertunjukan yang dapat menghibur masya-rakat karena keahlian para pembawa Sinrili, yang disebut  Pasinrili.  Sebagai sarana pendidikan, cerita yang dihidangkan selalu mengandung ajaran dan petuah-petuah yang bermanfaat bagi kehidupan. Tak lupa pula banyak memberikan “kritik”, sindiran, yang isinya juga mengenai “kontrol sosial”, tentang kepincangan-kepincangan, dan lain sebagainya. Sebagai sarana penerangan dan juga melindungi norma-norma masyara-kat.
Sinrili banyak diperlukan masyarakat saat mereka mengadakan “pesta” sehabis panen, saat ada perkawinan, saat membuat rumah baru dan kaulan atau punya hajat tertentu. Seperti umumnya teater rakyat di Indonesia, selalu terkait dengan kegiatan adat-istiadat dan upacara. Sinrili banyak kita temukan di daerah Gowa, di mana dahulu terdapat kerajaan Gowa. Diperkirakan Sinrili mulai tumbuh pada saat Raja Gowa ke-X   berkuasa.
Kita dapat menemukan “lontarak” yang berisi cerita Sinrili Kappala ‘Tallung Batua, yang menceritakan tentang keruntuhan kerajaan Gowa dengan datangnya penjajah Belanda di abad ke-16.   Sampai saat ini meskipun sudah jarang, masih dapat kita temukan dan digemari di daerah Gowa. Cerita-cerita yang dihidangkan meru-pakan sastra lisan yang kita temukan di daerah Sulawesi Selatan (daerah Gowa) dan dalam perkem-bangannya, Sinrili juga bercerita tentang keadaan jamannya, namun masih membawa pesan tentang pendidi-kan dan keagamaan.
Sebagai sastra lisan Makassar, Sinrili banyak mengilhami para sastrawan Makassar, malahan nada-nada kelong yang membumbui lirik-lirik susunan lagunya. alam menyanyikan lagu-lagu dalam Sinrili, lagu yang di-bawakan oleh Pasinrili, tergantung pada cerita yang dihidangkan dan situasi yang  terdapat di dalamnya. La-gu-lagu yang biasa digunakan dan digemari oleh masyarakat pendengarnya/penontonnya adalah lagu Turatea, Tu raya atau  Langko dan Diyo
Tempat penyelenggaraan Sinrili, sebenarnya dimana saja dapat dilakukan di panyambungi (anjungan rumah) atau di halaman terbuka. Atau kalau untuk keperluan membangun rumah baru, yaitu dirangka rumah yang akan dibangun. Dalam membawakan Sinrili, para Pasinrili tersebut banyak menggunakan gaya humor (lelu-con) hingga dapat menarik para pendengarnya. Cara menonton sangat santai, bukan saja duduk mendengar-kan, tetapi sering juga dengan berbaring-baring dan santai.
Sinrili biasanya dimainkan oleh Pasinrili seorang diri, dia bercerita, menyanyi dan sekaligus juga memainkan alat musik yang mengiringi. Kalau ada dua orang, biasanya yang satu membantu memeriahkan suasana dengan memainkan alat musik pengiring. Sedang yang bercerita tetap satu orang.
CEPUNG  &  CEKEPUNG
Teater tutur  Lombok  &  Bali
Dalam sejarah Teater Tutur pun berkembang cara menyajikannya, tidak hanya dituturkan, tetapi juga disertai gerak-gerak ritmis, seperti tari dan dilakukan dengan tetap duduk. Itulah perkembangan Cepung (Lombok) atau Cekepung (Bali). Penambahan cara dan gaya menyajikan tersebut untuk memperkuat cara berekpresi dan cara penyampaian.
Cepung merupakan suatu jenis kesenian rakyat yang terdapat di daerah Nusa  Tenggara Barat (terutama di Lombok), berbentuk Teater tutur. Tidak hanya di Lombok, tetapi di Bali pun terdapat jenis Teater Tutur yang sama dengan di Lombok, yang disebut Cekepung. Cepung sebenarnya merupakan perkembangan dari “seni membaca lontar”, yaitu yang di Bali disebut “geguritan”. Cepung, ceritanya diambil dari lontar Monyeh, suatu bentuk sastra lama yang disusun di atas daun lontar, yang isinya berupa cerita yang mengandung filsafat dan ajaran Islam.
Seperti geguritan di Bali, maka di Lombok pun terdapat tradisi menyampaikan sastra lisan dalam bentuk se-kar/nyanyian yang dinamakan pepaosan. Dalam menyampaikan pepaosan. sering diiringi oleh tabuhan alat musik daerah setempat seperti rebab atau seruling. Cepung sebenarnya juga merupakan perkembangan dari pepaosan dalam bentuk yang lebih bervariasi dan dimainkan oleh 6 orang laki-laki.
Para pemain duduk dalam setengah lingkaran dan terbagi menjadi:
• Seorang pembaca lontar, menyanyidan mengiringi dengan suling
• Seorang pemain rebab, seorang peniup seruling dan 3 orang pemain/peraga yang memainkan tokoh-tokoh dalam cerita.
Para pemain tetap dalam posisi duduk, meskipun kandang-kandang mereka memperagakan gerakan-gerakan tari, tetapi tetap dengan posisi duduk.
Pepaosan sangat digemari oleh masyarakat daerah Lombok, karena erat hubungannya dengan tradisi dan upacara adat daerah. Pepaosan dilakukan dengan berbagai gaya penyajian, tergantung pada cerita yang di-bawakan dan tergantung pula pada isinya. Cara membawakan pepaosan pada prinsipnya, dibawakan dengan:
1. Tembang sasak, suatu bentuk seni vokal dengan gaya menyanyikan suatu pantun.
2. Wirame, yakni cara menyampaikan atau membaca Mahabharata atau lontar yang berhubungan den-gan agama Hindu.
3. Musabaqoh, yakni cara menyampaikan/pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an secara berirama.
Isi cerita yang disampaikan biasanya tergantung pada keperluan dalam upacara yang diinginkan, yang erat dengan kebiasaan dalam kehidupan masyarakat yang terdapat di berbagai daerah Lombok. Untuk keperluan upacara potong gigi atau orang meninggal, biasanya yang dibaca adalah kakawin, sedangkan untuk menum-buk padi pada saat persiapan perkawinan, muda-mudi berpasangan di daerah Lombok Timur, mereka pe-paosan dengan berkayak. Pada waktu melamar, mereka pun berpantun-pantun dengan tembang, antara pengantin laki dan wanita. Begitu pula permaianan anak-anak di Lombok biasanya tidak lepas isi tembang di dalam pepaosan.
Di antara berbagai jenis Teater Tutur yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia, Cepung dan Cekepung, merupakan contoh Teater Tutur yang paling berkembang, yaitu yang dalam penyajiannya para pemain juga melakukan gerakan-gerakan semacam menari, tetapi tetap dalam posisi duduk. Semua peragaan tersebut hanyalah merupakan penekanan pada laku ekpresif yang mereka ungkapan. Lagi pula  peragaan gerak ter-sebut dimaksudkan untuk membuat variasi agar menarik cara mereka bercerita. Gerak ritmis yang mereka lakukan sesuai dengan irama dan banyak diambil dari gerakan tari Kecak-bakacak, Joget, Gandrung dan  Siah.
Sekar/tembang dalam Cepung banyak ragamnya yang terdiri dari Tembang Sinom, Kumambang, Semaran-dang, Dandang; Durma dan Pangkur. Tembang tersebut dalam variasinya disusun menurut suasana dan ka-rakter serta jiwa cerita. Misalnya, lagu Kumambang menggambarkan suasana sedih. Lagu Durma menggam-barkan suasana peperangan, dan lain sebagainya.
Tak lupa pula lawakan/lelucon yang selalu menjiwai kesenian rakyat, dapat membawakan Cepung yang dis-ampaikan lewat pantun yang  lucu dengan disertai ekpresi wajah (mimik) yang menggambarkan suasana lucu tersebut :
Munperahu kenenku kapal
Piak balak kayuk itak
Sida bebalu kenenku bujang
Kadung salah siku gitak.
Aku meken jok sedan
Meli lekong ji karobelah
Aku nyesel jari bebalu
Endek arak hapong parek menah
Sampai dua oros gan
Anak gagak bulu telu
Aji pira ajin bebalu
Aji satah baluk pulu Yang perahu kukira kapal
Bangun rumah kayu itak
Engkau janda kukira dara
Kepalang sudah saya salah lihat
Saya ke pasar dengan sedan
Membeli kemiri seratus lima puluh
Aku menyesal jadi janda
Tiada yang memeluk di pagi buta
Sapi  dua menarik bajak
Anak gagak bulunya tiga macam
Berapa harganya seorang janda
Harganya duaratus delapan puluh
Sindiran-sindiran sangat digemari oleh penontonnya karena cara menyampaikannya yang penuh dengan hu-mor. Meskipun tidak langsung namun dapat dimengerti dan kena sasarannya.
BAB  III
————————————————————————————————————————————————–
Wayang sebagai Teater tutur dengan peragaan
Pendahuluan
Wayang merupakan kesenian tradisional yang  termasuk sangat tua. Mengenal Wayang secara lengkap, ha-rus melihatnya bukan saja sebagai Seni pertunjukan, tetapi juga harus dilihat dari berbagai segi. Bagi masya-rakat suku Jawa, Sunda dan Bali, Wayang, terutama Wayang Kulit, merupakan kesenian tradisi yang diang-gap sakral dan sangat mempengaruhi kehidupannya, menjadi bagian dari hidupnya, baik segi pendidikan, moral, karakter, sikap hidup, filsafat, tuntunan dalam hidup dan sebagainya. .Dunia  pewayangan merupakan khasanah budaya dan merupakan sumber untuk menyerap suri teladan. Bagi masyarakat Jawa, menonton Wayang (terutama Wayang Kulit) bukanlah untuk sekedar hiburan, tetapi lebih untuk keperluan pendidi-kan/percontohan dalam kehidupan.  Mengambil contoh tokoh (karakter, watak, sikap, pandangan yang dimiliki oleh tokoh wayang tersebut) untuk dijadikan tauladan dalam kehidupan di lingkungan masyarakat.  Pertunju-kan Wayang Kulit dari mula pembukaan sampai berachir yang menurut tradisi berlangsung semalam suntuk didalamnya penuh dengan kandungan filosofis Jawa. Wayang bukan saja melekat di hati masyarakat (teru-tama masyarakat Jawa) tetapi juga sangat mempengaruhi sikap hidup masyarakatnya.
Untuk sekedar mengenal Wayang, sebaiknya didekati dari segi yang lebih bersifat teknik sebagai suatu ben-tuk Seni Pertunjukan.  Pertunjukan Wayang (Kulit atau Golek). secara teknik dapat dikatakan sebagai suatu bentuk Teater tutur dengan peragaan. Sang dalang sebagai pencerita dan wayang atau golek untuk peragaan-nya.  Kita perlu mengenal bagaimana asal sejarahnya sebagai seni teater, cerita, materi yang dihidangkan dan perlengkapan yang diperlukan serta bagaimana wayang kulit atau wayang golek dipertunjukkan .
Dalam mengenal wayang, kita tidak berbeda dengan mengenal seni pertunjukan  yang disebut teater (teruta-ma dalam Teater tradisional).  Hazim Amir, dalam buku yang ditulisnya: Nilai Nilai Etis dalam Wayang  (1997 – hal: 77), mengatakan :
” Wayang, sebagai teater mempunyai fungsi yang sama dengan teater-teater pada umumnya, yakni memberi santapan yang bersifat psikologis, intelektual, relegius, filosofis, estetis dan etis. Bedanya ialah bahwa Wayang, tidak memisah-misahkan fungsi itu. Suatu pertunjukan Wayang merupakan su-atu “package deal” yang lengkap berisi seluruh aspek-aspek itu  Wayang memberikan hiburan yang sehat bagi penontonnya.  Unsur-unsur tragedi, komedi, dan tragikomedi ada dalam Wayang.”
Dalam tulisannya yang berjudul Wayang, tontonan atau tuntunan yang dimuat di Harian Suara Karya Minggu, tgl 14 Mei 1989, Dr. Mudji Sutrisno, SJ.antara lain me-ngatakan: “Tidak dapat disangkal bahwa Wayang dis-atu pihak merupakan satu pertunjukan. Dari sini saja dengan mudah kita mengerti aspeknya sebagai tonto-nan….  Tetapi wayang mempunyai pula sisi simbolik, mistik, pesan, ajaran dan tuntunannya.Untuk kultur yang sudah biasa dengan realisme, yang serba konkrit, yang langsung tampak indrawi, tidak mudah menang-kap simbolik dan abtraksi dibaliknya”.
Dalam rangka mengembangkan dan menyebarluaskan Wayang sebagai salah satu harta kekayaan budaya bangsa, mengenal Wayang dapat didekati pertama dari segi tontonan, sedangkan yang ingin mempelajari lebih mendalam dapat mencari makna yang lebih dalam menangkap makna simbolisme dan menguak abtraksi dibaliknya.
Tidak mudah untuk memisahkan yang Tontonan dan Tuntunan, yang jelas yang tontonan lebih mudah dilihat, apa yang terlihat dalam sajian pertunjukan wayang, sedang-kan tuntunan diperlukan perenungan, kajian, pencarian dan pendalaman.Berhasil tidaknya memadukan tontonan dan tuntunan tergantung pada Sang Da-lang.
Asal Usul Wayang
Wayang, merupakan salah satu bentuk Teater tradisional yang paling tua.  Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan Wayang, yaitu yang terdapat pada prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi.yang mewartakan bahwa  pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya  “pertunjukan wayang”.
(Prasasti berupa lempengan tembaga dari Jawa Tengah; Royal Tropical Institute, Amsterdam)
Contoh prasasti ini dapat dilihat dalam lampiran buku  Claire Holt Art in Indonesia: Continuities and changes (1967) terjemahan Prof.Dr.Soedarsono (MSPI-2000- hal 431)
Tertulis sebagai berikut:
“Dikeluarkan atas nama Raja Belitung teks ini mengenai desa Sangsang, yang ditandai sebagai se-buah tanah perdikan, yang pelaksanaannya ditujukan kepada dewa dari serambi di Dalinan. Lagi se-telah menghias diri dengan cat serta bunga-bunga para peserta duduk  di dalam tenda perayaan menghadap Sang Hyang Kudur. “Untuk keselamatan bangunan suci serta rakyat” pertunjukan (ton-tonan) disakilan.
Sang Tangkil Hyang sang (mamidu), si Nalu melagukan (macarita) Bhima Kumara, serta menari (mangigal) sebagai Kicaka; si Jaluk melagukan Ramayana; si Mungmuk berakting (mamirus) serta melawak (mebanol), si Galigi mempertunjukan Wayang (mawayang) bagi para Dewa, melagukan Bhimaya Kumara
Pentingnya teks ini terletak pada indikasi yang jelas bahwa pada awal abad ke-10, episode-episode dari Mahabharata dan Ramayana dilagukan dalam peristiwa-peristiwa ritual. Bhimaya Kumara (mungkin sebuah cerita yang berhubungan dengan Bima) boleh jadi telah dipertunjukkan sebagai sebuh teater bayangan (sekarang: wayang purwa).
Dari mana asal-usul wayang, sampai saat ini masih dipersoalankan, karena kurangnya bukti-bukti yang mendukungnya.  Ada yang meyakini bahwa wayang asli kebudayaan Jawa dengan mengatakan karena isti-lah-istilah yang digunakan dalam pewayangan banyak istilah bahasa Jawa.
Dr.G.A.J.Hazeu, dalam detertasinya Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (Th 1897 di Leiden, Negeri Belanda) berkeyakinan bahwa pertunjukan wayang berasal dari kesenian asli  Jawa.  Hal ini dapat dilihat dari istilah-istilah yang digunakan banyak menggunakan bahasa Jawa misalnya, kelir, blencong, cem-pala, kepyak, wayang. Pada susunan rumah tradisional di Jawa, kita biasanya akan menemukan bagian-bagian ruangan: emper, pendhapa, omah mburi, gandhok senthong dan pringgitan (ruangan untuk pertujukan ringgit). Bahasa Jawa Ringgit artinya: wayang.. Bagi orang Jawa dalam membangun rumah pun menyediakan tempat untuk pergelaran wayang.
Dalam buku Over de Oorsprong van het Javaansche Tooneel – Dr.W Rassers mengatakan bahwa, pertunju-kan Wayang di Jawa bukanlah ciptaan asli orang Jawa. Pertunjukan Wayang di Jawa, merupakan tiruan dari apa yang sudah ada di India. Di India pun sudah ada pertunjukan bayang-bayang mirip dengan pertunjukan Wayang di Jawa.
Dr. N.J.Krom sama pendapatnya dengan Dr. W.Rassers, yang mengatakan pertunjukan wayang di Jawa sa-ma dengan apa yang ada di India Barat, oleh karena itu ia menduga bahwa Wayang merupakan ciptaan Hindu dan Jawa.
Ada pula peneliti dan penulis buku lainnya yang mengatakan bahwa wayang berasal dari India, bahkan ada pula yang mengatakan dari Cina. Dalam buku Chineesche Brauche und Spiele in Europa – Prof G. Schlegel menulis, bahwa dalam kebudayaan Cina kuno terdapat pergelaran semacam wayang.
Pada pemerintahan Kaizar Wu Ti, sekitar tahun 140 sebelum Masehi, ada pertunjukan bayang-bayang sema-cam wayang. Kemudian pertunjukan ini. menyebar ke India, baru kemudian dibawa dari India  ke Indonesia. Untuk memperkuat hal ini, dalam majaalah Koloniale Studien, seorang penulis mengemukakan adanya per-samaan kata antara bahasa Cina Wa-yaah (Hokian), Wo-yong (Kanton), Wo-ying (Mandarin), artinya pertun-jukan bayang-bayang,  yang sama dengan wayang dalam bahasa Jawa.
Meskipun di Indonesia sering orang mengatakan bahwa wayang asli berasal dari Jawa/Indonesia, namun harus dijelaskan apa yang asli (materi wayang / wujud wayang) dan bagaimana dengan cerita wayang. Per-tanyaannya: Mengapa pertunjukan Wayang Kulit, umumnya selalu mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata?
Dalam papernya Attempt at a historical outline of the shadow theatre  Jacques Brunet, (Kuala Lumpur, 27-30 Agustus 1969), mengatakan, sulit untuk menyanggah atau menolak anggapan bahwa  teater wayang yang terdapat di Asia Tenggara berasal (terutama sumber cerita ) dari India.
Paper tersebut di atas dicoba untuk menjelaskan bahwa wayang mempunyai banyak kesamaan  terdapat di daerah Asia, (terutama Asia Tenggara) dengan diikat oleh cerita-cerita yang sama yang bersumber dari Ma-habharata dan Ramayana dan India. Sejarah penyebaran wayang dari India ke Barat sampai ke Timur Tengah dan ke Timur umumnya sampai ke Asia Tenggara.
Di Timur Tengah, disebut: Karagheuz.
Di Thailand disebut: Nang Yai & Nang Talun;
Di   Cambodia disebut: Nang Sbek & Nang Koloun
Dari Thailand ke Malaysia disebut:Wayang Siam.
Sedangkan yang langsung dari India ke Indonesia disebut Wayang Kulit/Purwa.
Dari  Indonesia ke Malaysia disebut  Wayang Jawa.
Di Malaysia ada 2 jenis nama wayang, yaitu: Wayang Jawa (berasal dari Jawa) dan  Wayang Siam. (berasal dari Thailand).
Pada abad ke-4 bangsa Hindu datang ke Indonesia, terutama para pedagangnya. Pada kesempatan tersebut bangsa Hindu membawa ajarannya dengan Kitab Weda dan epos cerita mahabesar India yaitu Mahabharata dan Ramayana dalam bahasa Sanskrit.
Pada abad ke-9, bermunculanlah, cerita dengan bahasa Jawa kuno dalam bentuk kakawin yang bersumber dari cerita Mahabharata atau Ramayana, yang telah diadaptasi kedalam cerita yang berbentuk kakawin ter-sebut.  Misalnya, cerita-cerita seperti: Arjunawiwaha (Mpu Kanwa), Bharata Yudha (Mpu Sedah/Mpu Panu-luh), Kresnayana (Mpu Meraguna), Gatotkaca Sraya  (Mpu panuluh). dan lain-lainnya.
Pada jamannya, semua cerita tersebut bersumber dari cerita Mahabharata, yang kemudian diadaptasi sesuai dengan sejarah pada jamannya dan juga disesuaikan dengan: dongeng, legenda dan cerita rakyat setempat.
Dalam mengenal wayang, kita dapat mendekatinya dari segi sastra, karena cerita yang dihidangkan dalam wayang (terutama Wayang Kulit) umumnya selalu diambil dari epos Mahabharata atau Ramayana.  Kedua cerita tersebut, apabila kita telusuri sumber cerita berasal dari India. Mahabharata bersumber dari karangan Viyasa, sedangkan Epos  Ramayana karangan Valmiki.
Hal ini diperkuat fakta bahwa cerita wayang yang terdapat di  Asia umumnya (terutama di Asia Tenggara) menggunakan sumber cerita Ramayana dan Mahabharata dari India. Cerita-cerita yang biasa disajikan dalam Wayang, sebenarnya merupakan adaptasi dari epos Ramayana dan Mahabharata yang disesuaikan dengan cerita rakyat atau dongeng setempat.
Dalam sejarahnya pertunjukan Wayang Kulit selalu dikaitkan dengan suatu upacara, misalnya untuk keperluan upacara khitanan, bersih desa, menyingkirkan malapetaka dan bahaya, sangat erat dengan kebiasaan dan adat-istiadat setempat.
Lihat peta penyebaran Wayang  (terutama cerita Mahabharata & Ramayana dari India) menyebar ke Asia Barat atau dari India ke Asia Tenggara.
Peta Penyebaran Cerita Wayang dari India
China
Cambodia
Nang Sbek
Thailand
Nang Yai
Cambodia
Nang  Kaloun
Timur Tengah                 I N D I A                                        Thailand
Karagheouz                        —————                                          Nang Talun
WayangSiam
Malaysia :
Wayang Jawa
Wayang Kulit
Indonesia
A.                                                                                                                                       Wayang Purwa
(Peta dari buku Traditional Drama And Music of Southeast Asia – Edited by M.Taib Osman, Terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka,  Kuala Lumpur – Th. 1974 )
Temuan adanya Pertunjukan Wayang di Jawa     …
Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti   pada jaman Raja-raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung. Namun tidak jelas apakah pertunjukan wayang tersebut seperti yang kita  saksikan sekarang.
Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang. Hal ini juga ditemu-kan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada jaman Raja Airlangga dalam abad ke-11.  Oleh karenanya pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang cukup tua. Sedangkan bentuk wayang pada pertunjukan di jaman itu belum jelas tergambar bagaimana bentuknya.
Pertunjukan teater tradisional pada umumnya digunakan untuk pendukung sarana upacara baik keagamaan ataupun adat-istiadat, tetapi pertunjukan Wayang Kulit dapat langsung menjadi ajang keperluan upacara ter-sebut.
Ketika kita menonton wayang, kita langsung dapat menerka pertunjukan wayang tersebut untuk keperluan apa. Hal ini dapat dilihat langsung  pada cerita yang dipertunjukan, apakah untuk keperluan menyambut panen atau untuk ngruwat. Pertunjukan itu sendiri merupakan suatu upacara.
Bentuk dan Jenis Wayang
Dapat kita temukan wujud bentuk wayang sejak dahulu, yaitu adanya  Wayang Rumput atau Wayang Lontar (Daun Tal) dan lain sebagainya, dapat dilihat  di Museum Wayang di Jakarta.
Bentuk Wayang  di Indonesia, dapat kita temukan ada 4 macam : yaitu
1. Wayang Beber, wayang yang dilukis di atas kain yang panjang, salah satu adegan, di mana kejadian se-dang berlangsung.  Sang dalang bercerita  berdasarkan adegan yang sudah disusun dalam kain panjang ter-sebut. Perpindahan adegan satu ke adegan lainnya kain tersebut digulung.
2. Wayang kulit Purwa, wayang terbuat dari kulit kerbau. Dari dilukis di kain, kemudian dikembangkan dibuat-lah Wayang Kulit. Bentuknya pipih, 2 demensional, dengan tangan yang dapat digerakkan.
3. Wayang Klitik, wayang terbuat dari kayu tetapi pipih yang 2 demensional dan tangannya masih terbuat dari kulit, agar mudah digerakkan.
4. Wayang golek, terbuat dari kayu yang 3 demensional. Wayang Golek sangat populer di Jawa Ba-rat (Sunda)
Pertunjukan Wayang Kulit /Wayang Golek dari segi teknik dapat dikatakan sebagai TeaterTutur dengan  Pe-ragaan Wayang  oleh  Dalang.
5a.  Ada satu bentuk Teater Tutur dan peragaanya dimainkan oleh orang dengan menari. Tetap dengan Da-lang, tetapi para pemain dengan topeng menarikan “adegan” yang sedang berlangsung, sedangkan pada saat berbicara, penari tersebut tidak berbicara, tetapi sang Dalang yang berbicara dan bercerita. (Topeng Dalang di Madura).
5b. Dalam perkembangannya wayang tersebut dimainkan oleh orang dengan berlaku, disebut Wayang Orang, bentuk wayang yang dimainkan oleh orang. Di sini sang Dalang tidak tampak (tidak muncul lagi).
Wayang Kulit, Teater Tutur dengan Peragaan
Teater Wayang dianggap sebagai salah satu bentuk teater tradisional yang tertua.  Secara teknik Wayang Kulit, apabila kita kaji bentuk dan cara penyajiannya, sebenarnya merupakan perkembangan dari wujud Teater Tutur, yaitu Teater Tutur disertai peragaan wayang  oleh Sang Dalang.
Dalam sejarah wayang, kita mengenal apa yang disebut Wayang Beber, suatu pertunjukan wayang dalam gambar adegan yang disusun sesuai dengan jalannya cerita. Kemudian sang dalang memben-tangkan kain yang telah ada gambar adegan dari cerita wayang yang akan dipertunjukan. Meskipun pertunjukan Wayang beber sekarang sudah jarang kita temukan lagi, namun masih dapat kita lihat di Mu-seum Wayang.  Wayang Beber merupakan pertunjukan wayang dalam bentuk Teater Tutur dengan visualisasi adegan cerita Wayang yang digambar di atas kain kemudian “disajikan”.
Wayang Beber sebagai Teater Tutur dengan Peragaan gambar Wayang.
Pendekatan teater tradisional, dari segi sastra, dimulai dengan teater yang diceritakan. yaitu Teater Tutur. Suatu bentuk teater, yang dituturkan, diceriterakan. Pada saat itu, Teater Tutur  sekaligus berfungsi sebagai alat penyebaran sastra lisan, disampaikan dengan cara bertutur,  bercerita.
Teater Tutur, suatu bentuk Teater Mula, yang memenuhi persyaratan sebagai suatu bentuk teater. yaitu adanya alur cerita, kemudian cerita tersebut dituturkan (identik dengan dimainkan/dipertunjukan), kemudian didengar/ditonton orang. Wayang Kulit merupakan bentuk Teater Tutur yang dikembangkan dan diperlengkapi dengan segala pendukungnya untuk lebih menarik dan sangat lengkap
Mempelajari wayang secara lengkap, haruslah melihatnya bukan saja sebagai seni pertunjukan, te-tapi juga harus dilihat dari berbagai segi.  Untuk sekedar mengenal, wayang dapat ditinjau dari segi seni pertunjukan, dengan melihat Wayang sebagai bentuk Teater Tutur dengan peragaan.
Untuk memperlengkapi pemahaman, diperlukan juga mempertimbangkan:
• Bagaimana sejarah dan perkembangannya sebagai seni pertunjukan.
• Materi atau cerita apa yang dihidangkan dan perlengkapan yang diperlukan.
• Mengenal tokoh-tokoh wayang dan manfaat wayang sebagai pendidikan karakter dalam kehidupan di masyarakat.
Sekedar mengenal dan mempelajari wayang sebagai seni pertunjukan, kita dapat memulainyanya dari segi sastra, karena cerita yang dihidangkan dalam wayang (terutamaWayang Kulit) selalu diambil dari cerita Ma-habharata atau Ramayana, kalau kita telusuri sumber cerita berasal dari India
Cerita-cerita wayang yang biasa disajikan baik di Indonesia ataupun di Asia Tenggara, sebenarnya merupakan cerita adaptasi dari India,  yang disesuaikan dengan cerita-cerita rakyat setempat.  Sedangkan Wayang Orang, lahirnya dapat diduga dari keinginan para seniman untuk keperluan pengembangan wujud bentuk Wayang kulit yang dimainkan oleh orang.
Wayang Sebagai Seni Pertunjukan
Pendekatan sejarah teater tradisional dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu melihat lahirnya teater tradisional dari seni pertunjukan dan segi sastra. Bertolak dari Sastra Lisan, dan berwujud sebagai Teater tutur, yaitu berbentuk Wayang Kulit.
Wayang Kulit agak berbeda dengan teater tradisional lainnya. Karena seluruh penyelenggaraan pementasan Wayang Kulit adalah juga merupakan suatu upacara. Hal ini disebabkan karena sifat pertunjukan wayang yang relegius.
Pertunjukan wayang kulit dapat digunakan untuk keperluan berbagai macam kegiatan dalam masyarakat.   Misalnya untuk menyingkirkan musibah atau pengaruh-pengaruh roh jahat, mendatangkan ketenangan ma-syarakat, mendatangkan rakhmat dan kebahagiaan, termasuk pemujaan terhadap roh nenek moyang, dan lain-lainnya.  Cerita yang dihidangkan disesuaikan dengan keperluan upacara.
Jenis Wayang yang terdapat di daerah
Wayang sangat tumbuh dan berkembang serta didukung sangat kuat saja sebagai tontonan tetapi juga tuntu-nan, pendidikan, bimbingan, dan pedoman dalam kehidupan terutama oleh masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa umumnya meyakini bahwa wayang berasal dari Jawa.
Selain di Jawa, muncul wayang daerah, yaitu yang terkenal, antara lain:
Wayang Bali, wayang kulit yang terdapat di Bali. Bentuk wayangnya agak berbeda dengan Wayang Jawa, tetapi mirip dengan bentuk Wayang Kulit yang terdapat di Thailand (Nang Cai atau Nang Talun).
Wayang Betawi, wayang kulit dengan bahasa Betawi (mirip tetapi tak sama dengan bahasa Melayu kuno, dekat dengan bahasa Indonesia).
Wayang Palembang, wayang kulit dengan bahasa Palembang. Banyak orang Palembang, berasal dari Jawa.
Wayang Banjar, wayang kulit yang terdapat di Kalimantan Selatan, Banjarmasin dengan menggunakan baha-sa Banjar
Wayang Sasak, berasal dari Wayang Bali dan terdapat di Lombok.
Pertunjukan Wayang Kulit
Dalam sejarahnya teater tradisional merupakan salah satu sarana untuk keperluan upacara, baik upacara keagamaan atau pun upacara adat. Oleh karena itu,pertunjukan wayang dianggap sakral. Pertunjukan Wayang Kulit umumnya digunakan untuk keperluan hajat seseorang: mengawinkan, tingkepan, khitanan, bersih desa, ngruwat, dan lain-lain.  Cerita yang dihidangkan biasanya disesuaikan dengan maksud diadakannya pertunjukan wayang kulit tersebut.  misalnya:
Perkawinan : mengambil cerita Parto Kromo, Perkawinan Baladewa
Khitanan : mengambil cerita Narayana diculik
Bersih desa : mengambil cerita Dewi Sri pulang., dan lain-lainnya.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, pada saat pertunjukan ada kebiasaan untuk mengadakan sesajen. Hal ini merupakan kebiasaan yang tetap dipatuhi.
Untuk orang Jawa, sesajen tersebut yang pokok terdiri dari Gedong Ayu (pisang), Nasi tumpeng, ayam hidup, padi, gula Jawa dan kelapa.
Kelengkapan  Suatu Pertunjukan Wayang Kulit
Pada umumnya pertunjukan Wayang Kulit selalu dikaitkan dengan suatu upacara. Di samping  sa-jen, untuk suatu pertunjukan diperlukan kelengkapan untuk dapat melaksanakan pertunjukan, den-gan perlengkapan sebagai berikut:
1. Layar ukuran 5 Meter X 1,40 M.  Layar yang dibentangkan di depan Dalang, yang terbuat dari kain putih dan diberi tepi kain berwarna hitan atau merah. Di layar inilah pertunjukan wayang dilakukan. Di belakang Dalang terdapat Oncor (lampu) agar terlihat bayangan di layar tersebut.
2. Gedebog Pisang (pohon pisang) tempat menancapkan wayang. Kalau tidak ada pohon pisang, se-benarnya dapat diganti dengan sterofoam sebagai tempat menancapkan wayang.
3. Kotak Wayang tempat wayang, dengan ukuran 160 X 80 X 55 centimeter. Kalau berisi penuh se-muanya memuat sekitar lebih 450 wayang.
4. 3 Cempala dan 3 Kepjak
5. Blencong (lampu yang spesifik) untuk penerangan wayang pada saat Dalang sedang memainkan wayangnya.
6. Pengiring musik/gamelan terdiri sekurang-kurangnya Gong,  Gender, Saron,  Demung,    Gambang     Kenong,   Celempung,  Kendang (Gendang).
7. Para pendukung pertunjukan wayang:
1.  Satu orang Dalang 3. 3 orang Sinden (putri)
2.  3 orang Gerong (putra) 4.  22 pemain gamelan (penabuh)
Wayang Orang
Sejarah perkembangan wayang sebagai seni pertunjukan dimulai dengan bentuk Wayang Beber, kemudian dimulai pertunjukan Wayang Kulit (Purwa). Bentuk wayangnya dikembangkan lagi menjadi Wayang Klitik, Wayang Golek, semua bentuk pertunjukan wayang tersebut dapat digolongan sebagai  TeaterTutur dengan  Peragaan Wayang  oleh  Dalang.
Dalam perkembangannya wayang tersebut dimainkan oleh orang dengan cara berlaku, disebut Wayang Orang. Bentuk wayang dimainkan oleh orang.
Lahirnya Wayang Orang, dapat diduga dari keinginan para seniman untuk keperluan pengembangan wujud bentuk Wayang Kulit yang dapat dimainkan oleh orang. Wayang yang dipertunjukan dengan orang sebagai wujud dari wayang kulit — hingga tidak muncul dalang yang memainkan, tetapi dapat dilakukan oleh para pe-mainnya sendiri. Sedangkan wujud  pergelarannya berbentuk drama, tari dan musik.
Wayang Orang, merupakan bentuk yang dengan sendirinya dapat dikatakan masuk kelompok seni teater tra-disional, karena tokoh-tokoh dalam cerita dimainkan oleh para pelaku (pemain). Di sini Sang Dalang bertindak sebagai pengatur laku dan tidak muncul dalam pertunjukan.
Wayang Wong Jawa
Wayang Wong (bahasa Jawa) dalam bahasa Indonesia artinya Wayang Orang, yaitu pertunjukan Wayang Kulit, tetapi dimainkan oleh orang. Semua tokoh dimainkan oleh orang (pemain/aktor). Banyak pertunjukan Wayang Orang ter-dapat di Jawa Tengah pada umumnya, ada juga di Jawa Timur. Sedangkan di Jawa Barat ada juga pertunjukan Wayang Orang (terutama di Cirebon) tetapi tidak begitu populer.
Pada kakawin Sumanasantaka karangan Mpu Monaguna, yang berasal dari abad ke-12 yang berbahasa Jawa kuno terdapat kata “Wayang Wwang” yang diartikan pertunjukan drama tari dengan memakai topeng dengan cerita dari Ramayana atau Mahabharata.. Sedang kata Wayang Wong dari bahasa Jawa baru, bermula dari pertengahan abad ke-18 dan pertunjukannya tetap sama, yaitu dalam bentuk drama tari, tetapi tidak memakai topeng.
Sampai sekarang yang dinamakan Wayang Wong adalah bentuk teater tradisional Jawa yang berasal dari Wayang Kulit yang dipertunjukan dalam bentuk berbeda: dimainkan oleh orang, lengkap dengan menari dan menyanyi, seperti pada umumnya teater tradisional  dan tidak memakai topeng.
Di Madura, terdapat pertunjukan Wayang orang yang agak berbeda, karena masih menggunakan topeng dan masih menggunakan Dalang seperti pada Wayang Kulit.  Sang dalang masih terlihat meskipun tidak seperti dalam pertunjukan Wayang Kulit. Sang Dalang ditempatkan dibalik layar penyekat dengan diberi lubang untuk mengikuti gerak pemain di depan layar penyekat. Sang Dalang masih mendalang dalam pengertian semua ucapan pemain dilakukan oleh Sang Dalang karena para pemain memakai topeng. Para pemain di sini hanya menggerak-gerakan badan atau tangan untuk mengimbangi ucapan yang dilakukan oleh Sang Dalang. Para pemain harus pandai menari.
Pertunjukan ini di Madura dinamakan Topeng Dalang. Semua pemain Topeng Dalang memakai topeng dan para pemain tidak mengucapkan dialog,
Pada abad ke –18 kehidupan tari klasik di istana/keraton Yogyakarta dan Surakarta berkembang sangat maju. Ketika Sultan Hamengku Buwono I dari Yogyakarta dan Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I dari Sura-karta menyusun drama tari dengan cerita epos Mahabharata. Maka susunan drama tari tersebut diberi nama Wayang Wong  Di Yogyakarta, setelah Wayang Wong yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I , mengambil cerita Gandawardaya, maka Wayang Wong di Yogyakarta banyak mengalami perkembangan dan kemajuan. Sultan Hamengku Buwana II menyusun cerita Jayapusaka, disusul denga Hamengku Buwono V menyusun cerita Petruk Dadi Ratu. Di sini dapat dikatakan Wayang Wong Istana berkembang pesat dan mencapai puncak kejayaannya pada tengah pertama abad ke-20 pada saat Sultan Hamengku Buwana VIII. Cerita Wayang Wong Istana, sebagian besar bersumber dari cerita Mahabharata, hanya ada 2 yaitu Rama Nitis  dan  Rama Nitik, yang merupakan campuran/ kombinasi antara  cerita Mahabharata dan Ramayana.
Pertunjukan Wayang Wong pada masa lalu dapat dikatakan merupakan Teater Istana tetapi sekaligus juga digemari oleh rakyat. Merupakan teater rakyat yang sangat digemari oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yo-gyakarta. Wayang Wong Istana ini mulai suram  sejak tahun 1942. Sesudah itu di Istana Yogyakarta  tidak pernah lagi diselenggarakan pertunjukan Wayang Wong di istana. Struktur pertunjukan Wayang Wong tetap berpegang pada struktur pertunjukan cerita Wayang kulit, hanya rentang waktunya yang diperpendek menjadi sekitar 3 (tiga) jam. Dimulai dari jam 20.00 malam sampai sekitar jam 23.00. Sedang struktur penyajiannya tetap seperti pada penyajian Wayang Kulit., yang dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
• Bagian pertama disebut  Pathet Nem  terdiri dari beberapa adegan
• Bagian kedua disebut Pathet Sanga
• Bagian achir disebut  Pathet Manyura
Adegan Goro-goro (Adegan yang segar) Para pembantu seperti Petruk, Semar dan Gareng berbicara memberi komentar tentang cerita yang sedang berlangsung, penuh dengan sindiran, kritik dan lain-lain yang sangat digemari oleh penonton.
Pementasan Wayang Wong biasanya dilakukan di atas panggung dalam suatu gedung lengkap dengan dekor yang pada masa dahulu berupa berupa layar yang dilukis/digambar lokasi kejadian, misalnya : istana, hutan, taman, dan lain-lainnya.  Dalam perkembangannya sekarang menggunakan setting yang naturalistik sesuai dengan gaya pertunjukan Wayang Orang, ditambah dengan perlengkapan seperlunya..
Fungsi Dalang dalam Wayang kulit, pada Wayang Orang dihilangkan karena para pemain sudah dapat  ber-main sendiri. Pada mulanya Dalang dalam Wayang Orang masih digunakan sebagai narator (pembawa cerita), yang duduk bersama para niaga (penabuh gamelan), tetapi akhirnya ditiadakan. Terutama untuk Wayang Orang di luar Yogyakarta, banyak yang sudah tidak menggunakan fungsi Dalang lagi.
Secara visual sebagai Seni Pertunjukan, Wayang Orang lebih punya daya tarik dari pada Wayang kulit, teru-tama masyarakat jaman sekarang. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih dapat kita temukan pertunjukan Wayang Orang yang mengadakan pertunjukan setiap malam, misalnya di Wayang Orang Sriwedari (Solo), meskipun penontonnya sudah sangat sedikit. Di Jakarta masih dapat kita temukan Wayang Orang Bharata di daerah Senen .
Wayang Orang lebih jelas dan mudah untuk dimasukkan dalam kelompok teater tradisional, karena menggu-nakan para pemain/pelaku orang, bukan wayang/boneka yang pipih..
Wayang Wong Bali
Wayang Wong Bali, pada prinsipnya merupakan teater tradisi yang sama dengan Wayang Orang di Jawa atau Kalimantan, yaitu pertunjukan wayang yang dimainkan oleh orang (pemainnya adalah orang/aktor).
Hampir seluruh seni pertunjukan di Bali, bentuknya merupakan gabungan media ungkap yang terpadu, menggunakan alat ekpresi dari berbagai macam media ungkap, tari, musik, drama, gerak, suara dan laku yang terpadu, karenanya sering juga disebut total theatre. (menggunakan multi media ekpresi terpadu). Ke-banyakan menggunakan bentuk dramatari yang penekanannya pada media ekpresi gerak tari. Sedangkan pada Wayang Wong Bali, penekanannya pada laku, meskipun unsur tarinya tetap dominan. Kita lihat saja Gambuh, Baris, Arja, Topeng (Prembon), dan lain sebagainya semuanya merupakan drama tari dan nyanyi.
Wayang Wong Bali merupakan bentuk teater yang termasuk tua dan diperkirakan berasal dari abad ke-16. Umumnya mementaskan lakon epos Ramayana. Dewasa ini sudah jarang ada pertunjukan Wayang Wong, kecuali pada upacara atau perayaan Kuningan di Bali. Ada anggapan bahwa pada perayaan Kuningan terse-but, roh-roh para nenek moyang mereka turun dari Gunung Agung menuju ke pura-pura. Pada saat itulah tepat waktunya untuk menjamu dengan “sajian-sajian” dan antara lain berupa  pertunjukan Wayang Wong.
Para pemain Wayang Wong semua menggunakan topeng, kecuali peran wani¬ta, yang dimainkan oleh pemain wanita. Meskipun menggunakan topeng, mereka dapat juga berdialog, karena bentuk topengnya terbatas  sampai bibir pemain.
Umumnya sejak dahulu, Wayang Wong ini sering dimainkan oleh pria semua. Khusus peran Rama sering tidak memakai topeng.  Oleh karena itu, Wayang Wong Bali sering juga disebut  drama tari topeng.
Para punakawan (abdi dalam wayang) memegang peranan yang sangat penting dalam menyajikan pertunju-kan, bukan sekedar sebagai “abdi” (pembantu yang bijak dengan segala komentarnya) tetapi juga sebagai pembawa cerita yang dihidangkan. Di celah-celah pertunjukan sering muncul penjelasan atau komentarnya yang jitu dan digemari oleh penonton. Rama mempunyai 2 (dua) punakawan, yaitu Toalen dan Merdah, se-dangkan Rahwana, juga mempunyai dua orang punakawan yaitu Delem dan Sangut. Apabila Wayang Wong tersebut mementaskan cerita Mahabharata, maka pertunjukan tersebut dinamakan Wayang Parwa. Penari-penari Wayang Parwa, semua juga pria.
Kostum yang digunakan, spesifik kostum pewayangan, tetapi tetap mempunyai ciri khas Bali. Yang sering dapat juga kita temukan dalam kostum sendratari Gambuh, Arja, Prembon.
Wayang Gung – Kalimantan Selatan
Wayang Gung adalah bentuk Wayang Orang yang terdapat di Kalimantan Selatan. Wayang Gung banyak memiliki persamaan dengan Wayang Orang yang terdapat di pulau Jawa atau Bali, tetapi mempunyai keuni-kan tersendiri. Wayang Gung tidak menggunakan make-up (tata rias) seperti pada Wayang di Jawa, tetapi tokoh-tokoh yang akan dimainkan ditandai (diwujudkan) dengan gambar tokoh pada hiasan kepalanya (kuluk, topi,  jamang). Wajah pemain tidak dihias,hanya ditambah kumis kalau diperlukan. Yang memberikan identitas tokoh apa yang dimainkan adalah gambar  yang terdapat dihiasan kepalanya, karena pada hiasan kepala tersebut terdapat gambar tokoh yang dimainkan.
Misalnya seorang pemain akan memainkan peran Rama atau Lesmana, maka hiasan kepala yang digunakan bergambar tokoh Rama atau Lesmana. (Gambar tokoh Rama atau Lesmana tersebut sama dengan/mirip dengan tokoh Rama atau Lesmana yang terdapat di Jawa).
Pakaian (kostum) yang digunakan agak berbeda dengan wayang di Jawa atau Bali. Mereka pada dasarnya memakai kaos oblong lengan panjang dan celana ketat (seperti pakaian tokoh Anoman, Sugriwa atau Subali pada Wayang di Jawa) kemudian ditambah dengan hiasan pada lengan dan juga pada kaos oblongnya sesuai dengan tokoh yang dibawakan.
Cerita-cerita yang dihidangkan umumnya diambil dari epos Ramayana, dengan tokoh-tokoh terkenal seperti pada wayang di Jawa dengan beberapa tokoh yang namanya disesuaikan dengan tokoh cerita rakyat setem-pat. Misalnya tokoh-tokoh untuk kelompok kerajaan Pancawati Ganda dengan tokoh-tokohnya Prabu Rama, Hanuman Pancasuna, tetapi yang berbeda ada tokoh Sancabura. Sedangkan kelompok kerajaan Inlangkung Langkadiraja, dengan tokoh Prabu Dasamuka, Umbakarna, Handarjit, tetapi yang berbeda di sini ada tokoh Bupati Margasing, Bupati Rasikala, ada pula nama tokoh Aria Bukbis dan Tawar Wisa.
Pertunjukan Wayang Gung dibuka dengan munculnya lima “Dalang”, yaitu yang disebut Dalang Utusan, Da-lang Pembayun, Dalang Kasmaran Laya, Dalang Kalonglongan/Dalang Pengambar dan Dalang Sejati. Kelima Dalang tersebut bertugas untuk membuka pertunjukan, yaitu dengan memperkenalkan diri dan menceritakan lakon yang akan dimainkan. Adegan perkenalan ini dinamakan (adegan) Maucukani .  Sesudah itu barulah cerita dimulai.
Lakon yang dihidangkan umumnya adalah epos Ramayana, dengan episode cerita antara lain Penculikan Rama, Perang Batambak, Runtuhnya Kerajaan Inlangkung Langkadiraja, Penculikan Dewi Sinta, Anggada Balik dan lain sebagainya.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa campuran, berasal dari bahasa Jawa Kawi, kemudian dicampur den-gan bahasa Banjar.  Namun yang banyak digunakan adalah bahasa Banjar dengan dialek Pahuluan. Jika seorang pemain menggunakan bahasa Jawa/Kawi, oleh pemain itu sering diulang dengan langsung diterje-mahkan ke dalam bahasa Banjar, sehingga para penonton langsung mengerti dan dapat mengikuti jalannya cerita.
Peralatan musik/tabuhan yang mengiringi Wayang Gung, hampir mirip dengan seperangkat gamelan Jawa dengan jumlah yang sangat minim yaitu hanya terdiri dari Babun (gendang), Sarunatas dan Sarunbawah (sa-ron), Dawu, Kanung (kenong), Kangsi, Agung (gong) besar dan Agung kecil.
Lagu-lagu yang dibawakan dalam Wayang Gung bermacam-macam iramanya, antara lain:
• Lasam Sapuluh, dibawakan pada saat Raja sampai di singgasana
• Udu-Udu dibawakan apabila akan dimulai pembicaraan.
• Pangkuran, Sinom Pelayaran digunakan waktu Prabu Rama membujuk Anuman dan lain-lainnya.
Irama tabuhan/gamelan dalam Wayang Gung, dapat dibagi atau diganti-ganti menurut adegan yang sedang berlangsung :
1. Pada waktu menunggu penonton, sebelum pertunjukan dimulai, biasanya selalu dibunyikan tabuhan lagu  ayakan  atau  liung.
2. Pada waktu Maucukani membuka pertunjukan diiringi oleh irama lagu  ayakan miring  atau  perang alun
3. Hadirnya tokoh Pancawati Danda diiringi oleh lagu  perang cepat
4. Turunnya Lesmana diiringi dengan lagu  perang alun .
5. Prabu Rama dan Gunawan Wibisana diiringi lagu  ayakan miring .
6. Jajar tokoh-tokoh Inlangkung Langkadiraja diiringi lagu  jinggung.
Seperti pada pementasan teater rakyat Mamanda dan Tantayungan, maka pada Wayang Gung pun pemen-tasan dilakukan di alam terbuka.   Meskipun di alam terbuka, namun tempat arena bermain dibuatkan bangsal tempat permainan dilakukan. Bangsal ini berbentuk empat segi memanjang dengan atap dari tikar atau lampit, yang diberi nama serobong.  Serobong ini dihias dengan daun kelapa muda.  Pada serobong ini dibuatkan ruangan tempat para pemain berkumpul, untuk keperluan merias diri para pemain dan tempat keluar masuk-nya para pemain, ruang ini disebut Ruang  Sari. Serobong tersebut ditutup dengan dinding dari bambu anyam, sedangkan pada pintu serobong untuk keluar-masuk pemain, ditutup dengan dua kain.
Tempat permainan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian pertama  disebut paseban (tempat permainan dilakukan), sedangkan kedua disebut  singgasana, biasanya digunakan adegan istana kerajaan. Tidak ada batas antara Paseban  dan Singgasana. Perlengkapan yang ada hanya sebuah meja kecil yang biasanya ditempatkan di daerah Singgasana. Di daerah Singgasana inilah para tokoh dalam cerita mengadakan pem-bicaraan. Perlengkapan untuk para pemain hanyalah berupa tongkat kecil.
Pementasan biasanya dilakukan dalam arena bentuk tapal kuda dan penonton yang menyaksikan mengelilingi tempat permainan tersebut. Tidak ada batas antara penonton dan tempat permainan. Pertunjukan terasa lebih akrab secara emosional dan spontan.
Wayang Gung merupakan Teater Wayang Orang yang spesifik terdapat di Kalimantan Selatan, terutama di-gemari oleh masyarakat suku Banjar.
Wayang Golek
Di Indonesia yang dimaksud dengan teater boneka adalah wayang. Terdapat dua macam wujud wayang, yaitu yang berbentuk pipih (wayang kulit) dan yang berbentuk 3 demensi, yaitu merupakan boneka yang terbuat dari kayu yang di Jawa barat dinamakan wayang golek, sedangkan di Surakarta disebut wayang thengul.
Dalam buku Wayang Golek Sunda, karangan Drs.Jajang Suryana, M.Sn, dikatakan:
“Munculnya wayang golek purwa di Priyangan secara pasti berkaitan dengan Wayang golek menak Cirebon yang biasa disebut “wayang golek papak”  atau “wayang golek  cepak”. Kaitannya antara ke-dua jenis wayang itu hanya sebatas kesamaan raut golek yang trimatra (tiga demensi), sementara unsur cerita golek yang secara langsung akan  menentukan raut tokoh golek, sama sekali berbeda. Golek Menak bercerita tentang Wong Agung Menak, Raja Menak atau Amir Hamsyah, yang berunsur cerita Islam. Sedangkan Golek Purwa bercerita tentang kisah yang bersumber dari agama Hindu yaitu Mahabharata dan Ramayana. Cerita yang dihidangkan wayang, umumnya cerita Ramayana dan Mahabharata, namun ada jenis wayang golek yang  mementaskan cerita Panji atau cerita Parsi yang bernuansa Islam”.
Pertunjukan Wayang Golek sebenarnya prinsipnya sama dengan wayang kulit, hanya saja tidak menggunakan kelir (kain yang dibentangkan). Pada Wayang Golek kelir tidak diperlukan, karena tidak perlu terlihat adanya bayangan seperti pada Wayang Kulit. Sedangkan perlengkapan lainnya sama seperti pada pertunjukan Wayang Kulit pada umumnya. Penonton yang menyaksikan di depan dapat langsung menyaksikan golek yang sedang dipertunjukan. Hanya Wayang Golek, karena wujudnya yang trimatra, maka yang disusun (di-tancapkan) di atas pelepah pisang tidak sebanyak yang disusun untuk wayang kulit.
BAB IV
————————————————————————————————————————————————–
CIRI, FUNGSI DAN PENYAJIAN
PEMENTASAN TEATER TRADISIONAL
Ciri Utama  Teater Tradisional
Teater tradisional merupakan suatu bentuk teater yang dihasilkan oleh kreativitas kebersamaan masyarakat suku bangsa Indonesia dari daerah etnik tertentu, bertolak dari sastra lisan yang berakar dan bersumber dari budaya tradisi masyarakat etnik lingkumgan, dihayati oleh masyarakatnya dan merupakan warisan budaya nenek moyangnya.
Ciri yang esensial ialah, proses kreatifnya didukung oleh sistem kebersamaan, tidak ada penonjolan individu sebagai pencipta karya. Yang lahir dan muncul ialah bahwa karya tersebut dihasilkan bersama, semua diker-jakan bersama. Sifat kegotong-royongan dalam masyarakat terasa sangat menonjol. Dalam menyiapkan per-tunjukan teater rakyat, semua dilakukan dengan saling membantu. Pembiayaan untuk keperluan pertunjukan ditanggung oleh yang ingin mengadakan pertunjukan, yaitu orang yang punya hajat, orang terpandang yang biasanya mampu untuk membiayai. Di sini hilanglah sifat karya sebagai milik individu. Bahkan mengarang cerita pun seolah-olah dilakukan bersama-sama. Teater tradisional menggunakan sastra lisan dan kita tidak menemukan nama pengarang dalam sastra lisan,  kecuali keterangan: Anonim
Pada mulanya teater tradisional selalu menjadi pendukung upacara keagamaan atau upacara adat. Kebiasaan ini kemudian terus melekat, sehingga penyelenggaraan pertunjukan dalam teater tradisional selalu diwarnai oleh tata-cara seremonial ataupun adat kebiasaan yang berlaku sesuai dengan budaya dan kepercayaan yang dianutnya. Pertunjukan teater tradisional yang masih dapat disaksikan pada saat ini, biasanya dilaksanakan bersamaan dengan keperluan masyarakatnya, baik dengan suatu upacara hajatan, atau pun perayaan.lainnya.
Kelahiran teater rakyat pada umumnya di dorong oleh kebutuhan masyarakat terkait dengan upacara keaga-maan, yang kemudian berkembang sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan akan hiburan.
Pertunjukan teater tradisional selalu dapat dimanfaatkan untuk mengetahui gambaran  budaya yang terdapat dalam masyarakatnya di masa lampau.. Antara lain dapat dilacak tentang tata cara kehidupan masyarakat, adat istiadat yang berlaku, bentuk kesenian rakyatnya, dan bahasa daerah yang digunakan.  Dengan mene-lusuri sejarah kelahiran dan proses terbentuknya — serta melacak setiap bagian dalam suatu pertunjukan, akan dikenali materi dan unsur-unsur yang terdapat dalam teater tradisional tersebut
Cara Memainkan Cerita
Ciri utama teater tradisional ialah spontanitas.  Sifat spontan yang dimiliki oleh para pemain muncul secara intuitif dari kesederhanaan dan kejujuran, yang lahir dari bakat alam yang dimiliki. Apa yang berlangsung pada saat pertunjukan dilakukan secara improvisatoris. Semua didasarkan pada kebiasan bermain yang mentradisi, dengan mengikuti pakem yang sudah digariskan oleh generasi sebelumnya. Kesepakatan semacam itu dilaksanakan berulang kali, bahkan bertahun-tahun secara bersama-sama. Bentuk pertunjukannya sangat sederhana, penyampaiannya sangat komunikatif dan mudah dicerna oleh masyarakat lingkungannya.
Aturan bermain dilakukan atas dasar tata cara dan pola yang diikuti  secara mentradisi, secara turun- temu-run. Pengalaman pentas generasi tua (pendahulu) dialihkan  ke generasi yang lebih muda (generasi penerus), yang mengikuti serta setia kepada ketetapan yang berlaku.
Teater tradisional bertolak dari sastra lisan, dengan mengambil cerita dari legenda, dongeng atau cerita rakyat. Pada umumnya cerita-cerita tersebut merupakan cerita yang penuh fantasi yang bersifat imajiner, bukan realitas yang kita hadapi sehari-hari. Dengan demikian dapat digolongkan sebagai cerita yang non-realis.
Persoalan seni peran dalam teater sebenarnya adalah bagaimana seorang aktor mewujudkan watak dan menghidupkan karakter tokoh yang dibawakan dalam suatu pementasan. Untuk mewujudkan tokoh dalam pementasan tersebut, seorang aktor ditunut untuk mewujudkan karakter yang sesuai kebutuhan cerita dengan menggunakan perlengkapan dirinya, yaitu tubuh dan suaranya — dengan latihan-latihan yang intensif.
Teater Tradisional dan Teater Non-tradisi, keduanya mempunyai akar dan sumber yang sama, tetapi dengan  gaya penyajian yang berbeda. Begitu pula dalam seni pemeranan, keduanya berbeda.  Seni teater merupakan seni kolektif, seni yang hidup (bukan barang mati), yang berkembang sebagaimana sifat hidup sendiri. Seni teater memiliki unsur dari tiga bentuk seni, yaitu:
1. Adanya seni sastra.
2. Aktor yang memainkan karya seni sastra. merupakan seni pemeranan
3. Dipentaskan (staging) secara visual merupakan dukungan karya seni rupa
Dalam suatu proses pementasan, yang pertama kali muncul adalah cerita. Cerita didivisualkan dengan du-kungan aktor yang memainkan tokoh di dalamnya. Seni peran merupakan unsur utama dalam suatu pemen-tasan teater.
Dalam teater, khususnya seni pemeranan yang materinya merupakan “seni yang hidup”, hanya ada 2 pilihan untuk menyampaikan  gaya permainan dalam mewujudkan peran, yaitu seni pemeranan “realis”  dan “non-realis”. Teater tradisional dimainkan dengan pendekatan pemeranan non-realis, sedang teater non-tradisi, umumnya dimainkan dengan pendekatan pemeranan realis. Semua tergantung pada karya sastra yang diha-dapi.
Perbedaan yang utama dan menonjol antara seni peran realis dalam teater non-tradisi dengan seni peran non-realis dalam teater tradisional terletak pada pendekatan sang aktor secara teknik dalam mewujudkan perannya. Dalam teater tradisional, aktor mewujudkan perannya dengan “menghafal” karakter yang dibawa-kan, sedangkan dalam teater non-tradisi aktor menganalisis watak yang dibawakan, terkait dengan kejiwaan dan nilai dramatik  yang disusun pengarang dalam naskahnya.
Seni Peran “Non-Realis”
Sebelum aliran realisme dalam teater berkembang di Indonesia, hanya dikenal bentuk teater tradisional yang disebut teater rakyat dan teater yang lahir di lingkungan keraton. Teater rakyat yang bertolak dari sastra lisan dengan cara pemainkan cerita secara spontan dan intuitif, karena karakter dalam peran yang dimainkan ber-sifat “hitam-putih”, menghafal karakter yang dimainkan berdasarkan sumber tradisi tentang gambaran watak yang dimainkan, dengan gaya  “stilisasi” dan “non-realistic”.
Dimulai dengan Teater Tutur yang bertolak dari sastra lisan yang harus dilakukan dengan gaya yang menarik (yang berbeda dengan ucapan-ucapan keseharian) yang nantinya melahirkan pemeranan dengan gaya stilisasi  (non-realis), yang melahirkan juga gerak-gerak yang terasa lebih besar. Semua jenis teater tradisional seperti Mamanda, Makyong, Randai, Longser, Ketoprak, Wayang Orang, dan lainnya menggunakan gaya seni peran non-realis dengan ciri-ciri utamanya: Gerakan-gerakannya besar, penghayatan lebih bersifat “kepura-puraan”, emosinya sebatas terlihat dari luar.  Semua lebih ditekankan kepada bentuk fisik. Pemain teater tradisional bermain dengan peran tokoh yang dimainkannya dengan watak  yang hitam putih.
Realisme dalam Seni Teater
Munculnya gerakan Realisme di Barat pada sekitar tahun 1850 yang kemudian disusul dengan gerakan Natu-ralisme, memberi imbas pada dunia teater secara menyeluruh. Sedangkan di Indonesia, realisme mulai dibi-carakan setelah kita memasuki periode Teater Non-tradisi, yaitu hasil suatu proses pementasan yang bero-rientasi pada lakon yang berkonotasi karya sastra.  Sejak itu mulai banyak cerita-cerita yang ditulis untuk ke-perluan pertunjukan.
Realisme  dalam seni teater adalah penggambaran realita yang terdapat dalam kehidupan. Bukan memper-masalahkan seberapa sama dan tepat yang disajikan dalam  pementasan dengan  kenyataan yang ada, tetapi bagaimana memahami dan merumuskan sesuatu yang dibayangkan sebagai suatu realita.
Pada mulanya aliran/gagasan realisme dalam teater ialah untuk menciptakan sesuatu di atas panggung se-perti kenyataan yang ada. Menciptakan ilusi kenyataan di atas panggung, seolah-olah penonton menyaksikan apa yang terjadi seperti dalam kenyataan sehari-hari.
Di dunia teater Barat sebelum hadirnya aliran Realisme, para aktor biasa bermain dengan gaya Teater Yunani  atau  gaya Shakespeare  yang biasa dimainkan dalam amphiteater atau gedung teater dengan penonton berjumlah di atas seribu, hingga cara bermain lebih di ”besar-besarkan” supaya dapat terlihat oleh penonton-nya. Permainan tersebut terasa “tidak realistik” (tidak sesuai dengan kenyataan/realita dalam kehidupan se-hari-hari.   Atas permainan yang “berlebihan” tersebut (yang cocok dengan cerita-cerita jaman itu), kemudian muncul istilah  “seni pemeranan  (gaya) non-realis.”
Memainkan peran dengan gaya realis tidaklah mudah. Terutama bagi para aktor yang biasa dengan gaya tradisi Yunani atau memainkan karya-karya Shakespeare. Karya-karya Anton Chekov yang merupakan kea-daan yang banyak dialami oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari sangat dikenal.  Bagaimana me-mainkan tokoh dan berdialog dengan ucapan yang “wajar” yang dikenal oleh lingkungannya?
Di dunia Barat hal ini tidak mudah, karena para aktor sudah biasa dengan seni peran non-realis, para aktor berakting secara histrionics, yaitu  cara bermain yang agak “berlebihan”, dengan gerak-gerak stilisasi, serta mengucapkan dialog seperti “berpantun”, seperti kebiasaan dalam memainkan karya teater tradisi Yunani atau karya-karya Shakespeare, sesuai dengan  gaya seni peran  pada jamannya.
Untuk para aktor di Indonesia terasa lebih mudah, karena kelompok aktor realis dan aktor non-realis, berbeda jaman, berbeda angkatan.  Para aktor non-realis (pada periode jaman teater tradisional ), yang umumnya, memainkan peran dengan gaya yang memang dianut pada masa itu, terdapat jarak antara watak yang di-mainkan dengan diri sang pemain. Peran tidak benar-benar “dihayati”, tetapi hanya dimainkan “sesaat”.  Meskipun demikian, karena kebiasaan bermain secara “rutin” dengan kelenturan tubuh dan vokal yang handal, serta “kepekaan” yang tinggi, para pemain teater tradisional mampu memainkan peranannya dengan wajar, meskipun tidak “realistik”.
Para aktor realis hidup di jaman sesudah perang kemerdekaan, setelah gerakan realisme melanda Indonesia, dengan segala konsep yang berbeda dalam memainkan peran yang dibawakan, dengan cara “menghidupkan” karakter tokoh yang dibawakan.
Penyelenggaraan pementasan
Telah disebutkan bahwa pertunjukan teater tradisional yang masih dapat disaksikan hari ini, biasanya selalu dilaksanakan bersamaan dengan keperluan masyarakatnya yang masih terkait untuk keperluan suatu upaca-ra, hajatan, perayaan atau pun keperluan lain. Masih sangat jarang pertunjukan teater tradisional yang hanya untuk keperluan menampilkan karya seni, apalagi pertunjukan untuk keperluan mencari nafkah.  Masih jarang pertunjukan profesional, dalam pengertian para pemain dapat hidup dari hasil profesinya.
Di jaman lampau, masih jarang atau bahkan belum ada hiburan yang berupa film atau pertunjukan lainnya. Untuk keperluan hiburan masyarakat di pedesaan, belum ada film atau televisi.  Untuk memenuhi keperluan bersantai, diperlukan adanya hiburan.  Masyarakat di pedesaan yang umumnya berprofesi sebagai petani, berusaha mengadakan “pertunjukan” untuk menghibur kelompok mereka sendiri.
Pertunjukan teater tradisional di pedesaan yang ada, baik di masa lampau atau pada saat sekarang, dilakukan atas dasar tata cara dan pola yang diikuti secara mentradisi, secara turun-temurun. Penyelenggaraan pertunjukan teater tradisional pada jaman lampau, selalu dikerjakan bersama di antara warga, biasanya di-kaitkan dengan keperluan suatu hajat.
Kegiatan Teater tradisional pada umumnya merupakan kegiatan yang merefleksikan tata kehidupan yang didasarkan guyub dan gotong royong dalam masyarakatnya. Mengamati suatu penyelenggaraan pertunjukan  Teater tradisional, kita akan menemukan unsur-unsur umum dan sarana yang diperlukan, serta sekaligus akan mengenal ciri-ciri dan wujud yang terdapat dalam teater tradisional tersebut.
Bentuknya yang sederhana dan spontan, penyelenggaraannya pun dapat dilaksanakan secara spontan pula, dalam arti tidak dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya. Cukup dipersiapkan dalam waktu yang tidak lama, bah-kan beberapa jam sebelumnya.
Dimulai dengan pemilihan tempat untuk pertunjukan. Tidak pernah ada masalah karena pertunjukan dapat dilakukan di mana saja, asal ada tempat terbuka untuk tempat bermain (acting area) dan untuk tempat me-nonton. Apakah di halaman rumah yang cukup luas, atau bahkan di kebun dekat kampung yang ada tanah datar dan terbuka.
Tempat pertunjukan teater rakyat tidak khusus dipersiapkan untuk suatu pergelaran, tetapi sekedar tempat untuk dapat dilakukan kegiatan pertunjukan. Tidak memerlukan ruangan khusus, apalagi yang berbentuk ge-dung, dengan lampu-lampu pertunjukan dan tempat penonton yang nyaman dan memadai.
Penonton dan Pertunjukan
Pertunjukan teater tradisional biasanya dipentaskan di tempat terbuka, tidak ada atap atau pun panggung (tempat yang lebih tinggi dari tempat penonton).  Tempat bermain dan penonton sama tingginya, hingga tidak ada batas antara penonton dan pemain.
Pemain dan penonton dalam teater tradisional seolah-olah menjadi satu. Hubungan secara emosional antara pemain dan penonton sangat dekat dan akrab. Para penonton sering secara tidak sadar “ikut bermain”, dengan memberikan respon apa yang sedang terjadi di depan matanya, baik atas apa yang dilihat atau didengar. Semua dilakukan secara spontan. Interaksi antara pemain dan penonton membuat pertunjukan tersebut “te-rasa” menyatu dengan penonton.  Apabila pertunjukan dilakukan dalam bentuk “tapal kuda”, maka seperempat sisi dari arena tersebut sebagai tempat pertunjukan yang biasanya ada sekat (kain hitam polos) yang sering dianggap sebagai  dekorasi  (penyekat antara tempat bermain dan  tempat persiapan pemain).
Dalam perkembangan teater tradisional, terutama teater rakyat mendapat penga-ruh teater Barat (hal ini terli-hat pada pementasan Teater Bangsawan yang selalu menggunakan panggung/level yang lebih tinggi dari tempat berpijak penonton) yang dengan sendirinya mulai menggunakan dekorasi.  Meskipun demikian, kea-kraban teater rakyat tetap terjaga dan dipertahankan  Cara menonton tetap dalam posisi setengah lingkaran (tapal kuda).
Perlengkapan yang digunakan dalam pertunjukan teater tradisional sangat sederhana. Perlengkapan di atas panggung (arena permainan) hanya sebuah meja atau kursi, yang di dalam permainan, meja dan kursi tersebut dapat berubah fungsi. Perubahan tersebut tergantung pada keperluan dalam per-tunjukan tersebut.  Meja dapat berubah fungsinya menjadi  “batu besar tempat persembunyian” di hutan, atau mungkin berubah menjadi “tempat tidur”.  Perlengkapan para pemain cukup hanya se-potong kayu yang  dalam pertunjukan dapat berubah fungsi menjadi “pedang”, “tombak” atau “tongkat wasiat”.
Perubahan fungsi perlengkapan ini terjadi hanya dengan informasi dialog yang disampaikan para pemain, tentang  keadaan, situasi atau pun kejadian yang sedang berlangsung. Dialog tersebut dapat merubah fungsi baik itu berupa perlengkapan yang ada atau pun  tempat kejadian (lokasi) yang ada di atas panggung.  Di sinilah daya imajinasi para penonton berjalan dan berkembang. Khayalan para penonton dapat mengikuti apa  yang sedang terjadi dalam pertunjukan tersebut. Hubungan emosional antara penonton dan yang ditonton terjadi dengan akrab dan lancar, karena para penonton langsung  ikut serta.
Sifat kegotong-royongan (saling membantu) dalam masyarakat terasa sangat menonjol.  Segala sesuatu dila-kukan bersama-sama. Begitu pula dalam menyiapkan pertunjukan teater rakyat, semua dilakukan dengan gotong royong.
Tempat Pementasan dan Panggung
Sejak dahulu pementasan Teater tradisional tidak pernah dilakukan di tempat khusus yang berbentuk Gedung Pertunjukan. Umumnya dilakukan di lapangan terbuka, atau pun di pekarangan  rumah.  Tempat pertunjukan dalam teater tradisional tidak meminta persyaratan tertentu. Teater tradisional dapat dipertunjukan di mana saja.
Dapat dipertunjukan kapan saja (siang atau malam), asalkan ada tempat (space). Umumnya. pertunjukan teater tradisional, terutama pada teater rakyat dilakukan dalam bentuk arena dan tidak menggunakan pang-gung. Dapat dilaksanakan di alam terbuka (di halaman yang luas, atau tanah kosong yang datar). Tempat permainan (area permainan) sama datarnya dengan tempat penonton dan umumnya para penonton tidak disediakan tempat duduk (kursi). Cara menonton adalah dengan duduk atau berdiri mengelilingi arena pertun-jukan.
Dalam perkembangannya, sebelum pindah ke gedung pertunjukan, mereka mulai menggunakan “panggung” (level tempat bermain).  Kemudian disusul tempat bermain (terutama seni pertunjukan tradisi di pulau Jawa)  pindah ke pendopo.  Setelah itu mulai  lebih rapih tertib dan teratur, baru kemudian masuk ke “gedung tempat pertunjukan” .
Sebelum pindah ke gedung pertunjukan, pementasan biasanya dilakukan dalam bentuk arena, di mana cara menontonnya berkeliling, tidak ada batas antara penonton dan pertunjukan. Batasnya adalah lingkaran penonton itu sendiri. Seolah-olah penonton menjadi bagian dari pertunjukan itu. Bentuk arena atau “tapal kuda” dengan penonton berkeliling atau tiga-perempat lingkaran, merupakan pe-nyajian pertunjukan teater rakyat yang paling cocok.
Sebelum ada pengaruh teater yang datang dari luar, Teater tradisional tidak pernah dipertunjukan di dalam gedung.   Penggunakan gedung pertunjukan dimulai sejak datangnya Teater Bangsawan, (yang kemudian memunculkan masalah komersialisme dalam kegiatan teater). Sejak saat itu, teater tradisional mulai dipen-taskan di dalam “gedung pertunjukan”.
Perlengkapan dan sarana pementasan yang digunakan sangat sederhana, tidak rumit, dan selalu tidak menggunakan dekorasi. Biasanya hanya kain layar hitam atau putih.  Dalam perkembangannya sering layar di belakang dilukis dengan pemandangan, gunung, hutan, istana, terutama apabila dipertunjukan di suatau ruangan atau panggung.
Kelengkapan/property  sangat sederhana, kalau perlu hanya menggunakan meja-kursi kecil yang  dapat be-rubah fungsi dalam pementasan. Justru dengan kelengkapan yang sangat sederhana, para penonton   teater rakyat, imajinasinya sangat berkembang, dapat meresapi apa yang diungkapkan dalam cerita yang sedang berlangsung.
Karena dipertunjukan malam hari, maka diperlukan penerangan. Dapat berupa oncor, obor, lampu petromax, atau yang lain. Apa saja asal dapat memberikan penerangan. Lampu bukan sarana untuk kelengkapan pentas, dalam arti  memberi efek dramatik dalam  pertunjukan, tetapi hanya berfungsi untuk keperluan penerangan semata.
Fungsi Penonton dalam Teater Tradisional
Dalam mewujudkan karya seni yang berbentuk seni pertunjukan, keharusan pertama dalam mewujudkan karya seni tersebut adalah  harus dipertunjukan, sehingga mutlak harus adanya penonton dalam penyajian tersebut.  Sebelum dipertunjukkan, karya seni tersebut masih dalam proses (belum merupakan hasil karya akhir). Proses tersebut akan berakhir (terwujud) ketika karya tersebut dipertunjukkan di depan penonton.  Ar-tinya unsur penonton merupakan hal yang penting dalam proses penciptaan yang harus diperhitungkan. Hu-bungan penonton dengan seni pertunjukan harus diperhitungkan dalam hasil karya tersebut yaitu dalam proses penciptaan, para seniman harus memperhitungkan, mempertanyakan sampai berapa jauh karya tersebut komunikatif dengan penontonnya. Dapatkah karya yang dipertunjukkan diterima oleh penonton sebagai penik-mat karya?
Interaksi antara penonton dan pemain sangat penting, karena hal ini menciptatakan keakraban dan spontani-tas dalam pertunjukan teater tradisional. Hubungan emosional ini melancarkan pelaksanaan pertunjukan.  Apa yang dihidangkan dalam pertunjukan dapat langsung diterima oleh penonton. Tanda-tanda atau “simbol-simbol” dalam pementasan dapat dengan cepat dicerna oleh penontonnya.  Daya interprestasi dan daya imajinasi para penonton dapat berkembang mengikuti apa yang sedang terjadi, apa yang sedang berlaku di atas arena pertunjukan.  Pada karya seni lainnya, penikmat karya (pembaca untuk novel, misalnya) tidak perlu diperhitungkan.
Pada karya seni sastra atau lukis, “penikmat hasil karya seni” tidak perlu diperhitungkan. Disebabkan karena karya yang diciptakan sudah terwujud sebelum dibaca atau dinikmati, sedangkan dalam seni pertunjukan karya tersebut terwujud pada saat disaksikan oleh para penontonnya..
Seni pertunjukan merupakan suatu bentuk karya seni yang harus memperhatikan masalah penontonnya, yang merupakan salah satu unsur pendukung dalam proses penciptaan yang tidak dapat diabaikan.   Penonton ikut serta secara emosional ketika berlangsungnya pertunjukan, dan mempunyai pengaruh yang berarti dalam mendukung berlangsungnya pertunjukan seperti yang diharapkan.  Apa yang kita saksikan di atas panggung, merupakan hasil karya seni dan penonton yang menyaksikan merupakan bagian dari proses tercapainya hasil karya seni. tersebut.
Fungsi Musik dalam Teater Tradisional
Iringan tabuhan, musik daerah, merupakan bagian pertunjukan teater tradisional yang tidak terpisahkan, bukan sekedar pengiring. Tiap pertunjukan teater tradisional selalu diiringi oleh tabuhan. Tiap teater tradisional di daerah tertentu berbeda iringan tabuhannya dengan daerah lain. Tabuhan yang mengiringi dapat menjadi pertanda dari daerah etnik mana teater tradisional tersebut berasal, baik dilihat iramanya atau pun perlengka-pan musik daerah yang digunakan .Sebagai contoh, teater tradisional yang terdapat di Sumatera atau  Kali-mantan, musik pengiringnya pastilah berirama musik Melayu dengan perlengkapan musik seperti viol, gen-dang, tambur, biola, seruling, dan lain-lain. Musik tersebut dengan sendirinya mempengaruhi gaya dan cara bermain.
Teater tradisional yang terdapat di daerah Jawa (Barat, Tengah & Timur) dan daerah Bali, atau Lombok, musik pendukungnya menggunakan gamelan yang sangat berbeda nuansa dan iramanya, yang berpengaruh pada cara menyajikan gaya permainan.
Perlengakpan musik Jawa dan Bali mempunyai susunan kelengkapan yang berbeda, dan para seniman atau masyarakat menyebutnya karawitan. Biasanya terdiri dari seperangkat alat musik tradisi yang disebut: Game-lan.
Gamelan lengkap terdiri dari gambang, kenong, gong (besar dan kecil), kendang (besar dan kecil) gender, rebab, sitar, dan lain sebagainya.  Untuk setiap daerah dapat menggunakan alat musik yang diperlukan, yang dengan sendirinya dapat berbeda antara daerah satu dengan daerah lainnya tergantung keperluannya yang sesuai dengan yang diinginkan, menggunakan melodi atau irama yang disesuaikan dengan keperlukan per-tunjukan. Secara keseluruhan alat musik Jawa dan Bali disebut gamelan.  Susunan gamelan ini bisa lengkap atau bisa diambil sebagian.  Sering pula pada alat musik daerah etnik tertentu terdapat beberapa alat musik gamelan (diambil yang diperlukan) dan disatukan dengan alat musik Melayu. Misalnya pada teater tradisional kelompok Teater Bangsawan, Mamanda (Kalimantan) atau Dul Muluk (Sumatera), dengan komposisi alat musik sebagai berikut: gendang, gong,  biola,  akordeon,  seruling, dan sebagainya.
Musik tradisi/daerah merupakan penyangga utama dari teater tradisional dan merupakan ciri yang mudah dikenali. Dengan mendengarkan irama dan lagu yang dibawakan oleh pertunjukan teater tradisional, dapat segera dikenali dari wilayah etnik mana teater tradisional tersebut berasal.
Pemain teater tradisional di samping harus mampu bermain spontan, harus dapat pula menari dan menyanyi dan mengenal musik yang mengiringi. Pertunjukan selalu diiringi oleh musik. Musik merupakan bagian yang terpadu, tak terpisahkan, menyatu dengan pertunjukan. Musik yang mengiringi adalah musik tradisional yang terdapat di daerah tersebut.  Sering suatu daerah mempunyai alat musik yang spesifik dan hanya digunakan oleh daerah  tersebut.    Misalnya: Salung (Minang), Angklung (Sunda), dan lain-lainnya. Dengan hanya men-dengar alunan irama musiknya, biasanya sudah dapat ditebak dari daerah mana musik tersebut berasal.
Cerita yang Disajikan
Cerita yang dihidangkan bersumber dari sastra lisan. Di Indonesia banyak kita temukan sastra lisan, yang sering disebut sebagai sastra lisan daerah. Hampir di setiap daerah (kelompok etnik) dapat kita temukan sa-stra lisan daerah yang ciri utamanya adalah bahasa daerah. Sastra lisan biasanya berbentuk pantun, syair, gurindam, prosa liris. Sedangkan isi ceritanya berupa cerita babad. Setiap daerah mempunyai cerita yang spesifik kedaerahan, misalnya:
• Cerita Malin Kundang (Minangkabau)
• Jayaprana (Bali)
• Si Jampang atau Si Pitung (Betawi)
• Lutung Kasarung – Ciung Wanara (Sunda),
• Damar Wulan, Ketek Ogleng, Ande-Ande Lumut (daerah Jawa Tengah/Timur),
• Hikayat Abdul Muluk, Siti Zubaedah, Indra Bangsawan, (Sumatera atau Kalimantan)
Ada juga cerita-cerita rakyat yang terdapat diberbagai daerah dengan versi yang disesuaikan dengan daerah setempat, misalnya cerita rakyat Jaka Tarub yang dapat kita temukan di berbagai daerah dengan versi setempat, Cerita Panji yang sangat populer terutama di Jawa dan Sunda, Cerita Ramayana yang juga dapat kita temukan di berbagai daerah dengan versi masing-masing.
Karena bertolak dari sastra lisan, maka teater tradisional dikatakan tidak menggunakan naskah tertulis, teta-pi cerita-cerita yang dihidangkan dikenal “akrab” oleh masyarakat lingkungannya. Masyarakat mengenal ce-rita-cerita yang dihidangkan, karena sastra lisan berkembang dan dikenal dari mulut ke mulut. Sejak masih kanak-kanak, mereka sudah mengenal cerita-cerita rakyat dan mereka tetap menyenangi cerita-cerita terse-but.  Itulah sebabnya mereka tetap menonton, karena cerita yang dihidangkan sudah mereka kenal (terutama cerita-cerita rakyat, cerita kepahlawanan yang terdapat di daearahnya). Cerita yang digemari merupakan pilihan masyarakat, yaitu cerita-cerita yang bersifat hero yang  menjadi kebanggaan masyarakat lingkun-gannya.
Struktur Pertunjukan
Struktur pertunjukan yang dimaksud adalah urutan cara penyajian dalam pementasan teater tradisional. Uru-tan pertunjukan dari pembukaan pertunjukan sampai masuk ke hidangan cerita dan berakhirmya seluruh per-tunjukan.  Pertunjukan disusun terdiri dari beberapa puluh adegan, dan selalu diseling dengan dagelan, lelucon (adegan yang lucu), adegan tarian atau nyanyian yang digemari.
Apabila kita menyaksikan suatu pementasan teater tradisional, meskipun bentuk dan jenisnya berbeda, na-mun struktur dan cara pementasannya umumnya selalu sama. Urutan dari mula, pembukaan sampai ke pe-nyelesaian pertunjukan tersebut  Sedangkan cara penyajian adalah cara pementasannya, di mana dan menggunakan perlengkapan apa, di atas tanah atau di atas panggung, di dalam gedung, ruangan, atau di alam terbuka.
Struktur, urutan yang disajikan dalam pementasan teater tradisional selalu sama, yaitu dimulai dengan:
pembukaan  –   perkenalan,
acara inti (cerita yang sesungguhnya disajikan),
selingan-selingan dan  diakhiri dengan penutup.
Urutan pertama adalah pada saat para pemain sudah hampir siap dengan tata rias (berhias dan ber-kain pertunjukan), dibunyikanlah tetabuhan (musik daerah) suatu pertanda bahwa di tempat terse-but akan ada pertunjukan teater tradisional dan pertunjukannya akan segera dimulai. Bunyi tetabu-han tersebut dimaksudkan untuk mengundang penonton.
Setelah mendengar bunyi-bunyian yang bertalu-talu para penonton pun mulai berdatangan. Dengan penuhnya penonton dan pemain sudah siap, maka dimulailah acara pertunjukan tersebut.
Urutan kedua, disebut pembukaan yang biasanya dengan nyanyian-nyanyian dan tari-tarian yang dapat berdiri sendiri tidak ada kaitannya dengan  cerita yang akan dihidangkan, sekedar sebagai pembuka, sambil me-nunggu persiapan pemain dan “mempersiapkan” penonton untuk dapat menyaksikan dan mengikuti atau ikut serta siap dalam pertunjukan tersebut.
Urutan ketiga, kita sebut perkenalan (introduksi) yang  merupakan perkenalan untuk cerita yang akan dihi-dangkan. Dimulai dengan perkenalan para pemain dalam cerita tersebut. Ada beberapa cara untuk introduksi ini, yaitu dengan seluruh pemain tampil ke depan, diperkenalkan satu persatu, menyanyi bersama dipimpin oleh pemain utama yang biasanya merangkap menjadi sutradara (pimpinan grup), atau dengan cara langsung memasuki  cerita yang akan dihidangkan dan diberi pengantar oleh pimpinan grup tersebut.
Setelah selesai memperkenalkan diri, maka keluarlah adegan pertama dari cerita yang akan dihidangkan.  Cerita yang dihidangkan di dalam teater tradisi biasanya terdiri dari sekurang-kurangnya sepuluh adegan, bahkan sering lebih banyak lagi.
Di celah-celah berlangsungnya adegan ke adegan lainnya setelah sekian lama, sering masuk acara tamba-han/hiburan  dimaksud untuk  “istirahat”  bagi para penonton. Acara tersebut menjadi urutan keempat, yaitu acara selingan dit engah-tengah perjalanan cerita, yang merupakan selingan. Acara bervariasi, kadang-kadang acara menari atau menyanyi di mana para penonton diberi kesempatan untuk ikut ambil bagian. Sering juga dihidangkan dagelan (lelucon-lelucon). Pada kesempatan istirahat ini, biasanya digunakan untuk meminta sumbangan kepada para penonton.
Berbagai bentuk sumbangan dapat diberikan, dari uang, rokok atau saputangan. Adegan selingan ini sering merupakan acara tersendiri, yaitu kesempatan bagi para  penonton yang ingin menari bersama para pemain pilihan dengam memberikan sumbangan yang cukup lumayan. Selingan ini dapat berlangsung sebentar, dapat pula berlangsung lama, tergantung pada minat para penonton penggemar. Biasanya merupakan puncak acara kemeriahan dalam pertunjukan teater tradisional.
Urutan kelima, merupakan lanjutan pementasan cerita yang disajikan. Pada adegan selanjutnya biasanya merupakan babak menyelesaikan cerita yang dihidangkan, merupakan puncak adegan yang menarik, apakah itu berupa “pertempuran”, “peperangan, kemenangan atau kekalahan, namun semua merupakan penyelesaian dari cerita yang dihidangkan.
Apabila pertunjukan teater tradisional tersebut dilakukan lebih dari satu malam, maka disusun adegan akhir malam itu dengan mengantar bahwa esok malam akan dilanjutkan kembali cerita tersebut.
Urutan keenam, merupakan adegan  tutup acara. Ada macam-macam acara penutup dalam pertun-jukan teater tradisional. Ada yang ditandai dengan ditutupnya layar saat habisnya cerita yang dihi-dangkan, atau dengan sebuah lagu penutup. Ada juga yang disertai dengan upacara penutup.  Satu tarian bersama sebagai acara penutup atau dengan suatu upacara tertentu. Misalnya pada Makyong, disebut upacara tutup tanah.
Lamanya Waktu Pertunjukan
Lamanya pementasan umumnya lebih dari enam jam. Dimulai dari jam 20.00 (sesudah sembahyang Isya) sampai tengah malam larut. Ada kalanya pertunjukan berlangsung sampai Subuh/pagi.
Untuk pertunjukan Wayang Kulit, selalu dilakukan semalam suntuk dan bahkan sering dilanjutkan siang hari-nya. Hal ini tergantung pada maksud dan keinginan yang mempunyai hajat. Soal waktu pertunjukan di dalam Teater tradisional tidak pernah dipersoalkan, terutama pada teater rakyat, selalu tergantung kepada keinginan, minat dan keasyikan penontonnya.   Pertunjukan dapat diperpendek atau diperpanjang tergantung pada respon mereka.
Pertunjukan teater rakyat di kepulauan Riau, Makyong misalnya, umumnya dipertunjukkan semalam suntuk, karena menurut adat yang berlaku. Panjangnya pembagian adegan dalam teater rakyat tidak dibatasi, tergan-tung keinginan para pelaku dan respon penonton. Misalnya adegan yang bersifat humor, sering ditambah dengan adegan menyanyi atau menari yang dilakukan secara spontan dan sering pula tidak ada hubungan dengan cerita yang sedang berlangsung.
Pertunjukan teater tradisional dewasa ini sudah mulai diperpendek sekitar 2,5 sampai 4 jam, disesuaikan dengan kebiasaan menonton seni pertunjukan pada umumnya. Pertunjukan Wayang Kulit yang umumnya dilakukan semalam suntuk sekarang sudah banyak diusahakan untuk diperpadat menjadi  3- 4 jam.
Peranan dan Fungsi Teater Tradisional
Teater pada umumnya merupakan kegiatan yang merefleksikan tata kehidupan dalam masyarakat pada jamannya. Sejarah seni pertunjukan di masa yang lampau bertolak dari keadaan di mana kese-nian hanya menjadi salah satu bagian dari suatu peristiwa atau kegiatan yang bersifat seremonial yang terdapat dalam masyarakat. Kesenian dalam situasi yang demikian, mempunyai fungsi ganda, terutama yang menyangkut tari dan teater tradisional. Di sini teater tradisional mempunyai fungsi bukan saja sebagai alat untuk keperluan hiburan, tetapi juga untuk keperluan yang berkaitan dengan adat-istiadat dan upacara keagamaan yang fungsi merupakan kelengkapan dan bagian dari upacara keagamaan tersebut.
Teater tradisional sering dipakai untuk keperluan media pengemban kekuatan magis dan gaib, sering pula berfungsi sebagai media penghubung dengan alam gaib.  Kesenian pada jaman itu bukan semata-mata se-bagai perwujudan dari dorongan untuk mengungkapkan rasa keindahan yang bergejolak dalam jiwa seorang seniman, tetapi diutamakan sebagai hiburan dan media pelengkap untuk keperluan yang bersifat seremonial dalam adat-istiadat dan keagamaan.
Fungsi utama kesenian yang sebenarnya adalah alat atau media untuk mengungkapkan perwujudan gejolak jiwa seseorang yang ingin mengekspresikan dirinya dalam bentuk hasil karya seni, yang bertolak dari nilai etik dan estetik. Hasil karya seni yang berupa tari, musik, drama/teater, atau yang lain mempunyai fungsi mening-katkan kepekaan rasa estetik dan memperhalus jiwa pada orang lain yang menikmati hasil karya tersebut..
Fungsi meningkatkan kepekaan rasa estetik dan memperhalus jiwa untuk kesenian tradisional di Indonesia justru menduduki tempat yang ketiga, sesudah fungsi untuk keperluan adat-istiadat dan keagamaan serta fungsi sebagai hiburan.
Teater Tradisional sebagai sarana Upacara
Teater tradisional mempunyai bermacam-macam fungsi, antara lain sebagai pendukung dan bagian dari suatu upacara seremonial dalam adat-istiadat dan upacara keagamaan. Pada mula perkembangannya merupakan bagian yang tak terpisahkan. Teater rakyat yang bersifat sakral ini, yang merupakan sebuah upacara, pada saat ini sudah jarang ditemukan. Namun sisanya masih dapat terlihat di beberapa daerah atau wilayah adat tertentu saja.
Beberapa contoh dapat disebutkan misalnya upacara tolak bala yang terdapat di Bali. Waktu daerah itu ter-jangkit oleh suatu wabah penyakit misalnya, maka untuk menolak penyakit tersebut dilakukan suatu tarian (teater tradisional) yang disebut Sanghyang. Ada macam-macam tarian Sanghyang, di antaranya Sanghyang Dedari, Sanghyang Jaran, Sanghyang Deling, dan Sanghyang Bumbung. Tarian yang dilakukan dengan ke-surupan tersebut diarak keliling kampung. Pada waktu menari diiringi “gamelan mulut”, dalam menari tak lupa disertai dengan asap kemenyan.
Contoh lain, upacara dangai, yang terdapat di Kalimantan Timur, suku Dayak, yaitu tari-tarian yang dilakukan sebagai suatu upacara sesudah panen. Ceritanya dimulai dengan mitos yang melukiskan kejadian bumi.  Se-sudah itu semua roh nenek moyang hadir, agar dapar memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Mengha-dirkan masa lampau ini, dilakukan dengan tarian hudoq yang mengenakan topeng. Beberapa penari meng-gambarkan roh-roh nenek moyang yang membawa jiwa padai.  Para penari berkeliling ke kampung-kampung dengan membawa jiwa kesejahteraan dari roh, agar padai di desa tersebut dapat tumbuh dengan subur.
Teater Tradisional sebagai Hiburan
Pada jaman dimulainya kegiatan teater tradisional, masyarakat kita belum banyak menyiapkan tontonan untuk keperluan hiburan. Oleh karenanya, masyarakat bersama-sama menyiapkan kegiatan untuk menghibur diri, salah satu contohnya di Yogyakarta. Waktu itu masyarakat pedesaan menggunakan lesung (penumbuk padi) untuk menghibur diri. Bersamaan dengan bunyi alunan lesung, rakyat gembira kemudian ikut menari, kurang puas kemudian lahirlah Ketoprak Lesung sebagai hiburan.
Teater tradisional sebagai tontonan hiburan, hal ini disebabkan karena adanya dorongan dari masyarakat untuk keperluan menghibur diri mereka di waktu senggang.  Setelah bekerja keras sehari di sawah atau di ladang, para petani atau masyarakat umumnya perlu istirahat atau hiburan.
Ketika unsur-unsur teater melepaskan diri dari kaitannya sebagai sarana dalam upacara dan telah menemukan bentuknya sebagai teater, maka pada mulanya ia mempunyai fungsi ganda. Di samping masih sebagai sarana suatu upacara, juga untuk keperluan hajatan, perhelatan dan sekaligus juga untuk hiburan masyarakat.
Pada jaman dahulu, belum banyak media komunikasi seperti radio, film, atau televisi. Dan jarang pula ada kegiatan khusus yang untuk keperluan hiburan. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan hiburan  yang dipersiapkan khusus untuk itu, maka beramai-ramailah secara gotong royang masyarakat menciptakan suatu tontonan. Mempersiapkan diri secara kelompok dalam masyarakat dan didukung oleh masyarakat sekeliling, untuk menghibur diri dalam kelompok masyarakat itu. Atau adanya seorang pemuka (orang kaya, sesepuh desa, orang terpandang di masyarakat) yang mempunyai hajat, kemudian memanggil kelompok teater tradi-sional untuk keperluan hajatnya. Pada kesempatan yang baik itu, sekaligus masyarakat ikut serta menyaksi-kan hiburan.
Kelompok teater tradisional ini semua dilakukan secara amatir, (karena kesenangan hati, bukan untuk mencari rejeki dan bukan untuk profesi).  Jenis teater rakyat yang berfungsi sebagai hiburan, meskipun jelas kedu-dukannya sebagai tontonan untuk hiburan, namun masih terlihat sisa-sisa fungsi untuk keperluan suatu upa-cara. Hal ini dapat terlihat pada setiap pementasan teater rakyat tersebut selalu adanya sesajian.  Pada pe-mentasan teater rakyat Makyong, sebelum pertunjukan dimulai selalu ada upacara Buang Bahasa yang dis-ebut Membuka Tanah. Upacara ini dipimpin oleh Ketua Panjak (pawang), agar pementasan berjalan lancar dan para pemainnya dapat inspirasi dari para leluhur.
Teater Tradisional sebagai Sarana Pendidikan, Komunikasi & Kritik Sosial.
Sebagai alat komunikasi dan pendidikan atau penerangan. Alat komunikasi pada saat itu belum memadai dan teater tradisional dijadikan alat penghubung, alat penerangan dan sekaligus juga merupakan alat pendidikan. Banyak cerita-cerita yang dihidangakn oleh teater rakyat, dijadikan panutan (baik tokoh-tokohnya atau pun alur ceritanya) oleh masyarakat lingkungannya. Cerita yang dihidangkannya seolah-olah cerita biasa yang dimainkan dengan humor dan penuh lelucon, hingga penonton tidak perlu mengerut dahi dalam menelaah problem yang dihidangkan. Tetapi juastru di sini, gaya penyampaian yang mudah dicerna sangat efektif untuk mengikat para penonton karena sesuai dengan alam dan daya pikir masyarakat tersebut. Tetapi kalau dire-nungkan dan dikaji, di dalam cerita tersebut banyak mengandung nasehat, tuntunan dan pendidikan.
Sudah sejak jaman dahulu, teater rakyat dijadikan media komunikasi atau penerangan dari para penguasa (Raja atau  Bupati dan bahkan Lurah), untuk memberikan  penerangan atau pesan-pesan. Karena apa yang disampaikan dapat luluh dalam cerita, maka pesan tersebut tidak terasa dan dapat diterima masyarakat. Da-pat diterima karena sesuai dengan daya tangkap dan kecerdasan masyarakat yang menonton pertunjukan tersebut.
Menonton teater tradisional akan memperoleh “pendidikan” dari cerita yang dihidangkan, yang selalu membela kebenaran, yang baik pasti menang, dan yang buruk pasti kalah.
Pertunjukan teater tradisional merupakan forum komunikasi antar warga, untuk menjalin hubungan dan me-wartakan hal-hal yang diperlukan masyarakat secara umum.  Sering digunakan untuk melontarkan kritik ke-pada penguasa lewat dagelan yang disampaikan di antara adegan yang sedang berlangsung.  Dalam Wayang, lewat peran punakawan atau dalam teater rakyat  lewat abdi/pembantu, sering disampaikan keluhan, harapan, atau  kritik bagi majikan atau penguasa. Teater tradisional di sini mempunyai fungsi menjembatani menyampaikan keinginan, harapan, permohonan dari masyarakatnya..
Gaya permainan sebagian besar teater tradisional, terutama teater rakyat, selalu dilakukan dengan gaya lelu-con (banyolan).   Peran pelawak dalam teater tradisional sangat penting dan dominan dalam pertunjukan.   Sindiran, kritik dan pesan-pesan (terbuka atau terselubung) selalu muncul dalam setiap pertunjukan, yang biasanya disampaikan dalam adegan lawakan, dengan cara bercanda, dalam bahasa Jawa geguyonan. Guyon parikena (bercanda tetapi mengena tujuannya).
Peran punakawan dalam teater wayang (Semar, Gareng, Petruk) merupakan contoh tokoh-tokoh wayang yang mewakili suara masyarakat/rakyat untuk menyampaikan kritik atau rasanan tentang segala sesuatu yang ingin disampaikan kepada tuannya/pemimpinnya. Tokoh Semar, sebagai orang tua dalam kelompok punakawan sering memberi wejangan atau nasehat kepada tuannya/pemimpinnya.
Cara penyampaian kritik, saran, atau pesan, kebanyakan dilakukan  dengan berbagai  cara yang tidak lang-sung. Dapat berupa sindiran, plesetan, “cubitan” yang kesemuanya dilakukan dengan gaya bercanda, ge-guyonan (gaya humor).
Teater Tradisional sebagai Alat Ekpresi Seni
Teater tradisional yang dipertunjukan sebagai hasil karya seni, yang lepas dari ikatan dengan  peristiwa se-remonial, baru terjadi setelah masyarakat Indonesia mengenal gejala profesianalisme dalam dunia kesenian yang mempengaruhi kehidupan dalam masyarakat.  Sejak itu banyak dirintis adanya pertunjukan teater tradi-sional yang berdiri sendiri, yang dipentaskan lepas dari kaitan dengan adat-istiadat dan upacara-upacara keagamaan.
Baru belakangan, setelah masyarakat kita menyadari kemandirian sebagai suatu bangsa dan mulai mengenal budaya individu dalam penciptaan, maka teater tradisional muncul sebagai alat ekpresi para senimannya baik sebagai individu atau pun kelompok. Sebagai alat ekspresi, yaitu sebenarnya merupakan fungsi utama dari suatu bentuk kesenian. Alat bagi para seniman untuk menyampaikan dan menampung hasrat dirinya dalam menyampaikan gejolak jiwanya untuk mencipta hasil karya seni.
Dalam hal ini hasil karya seni pertunjukan, baik itu berupa karya seni musik, seni tari atau pun seni drama, atau ketiga-tiganya, dapat tertampung dalam satu media ekspresi, yaitu seni teater, teater tradisional.  Fungsi sebagai alat ekspresi berkesenian ini, pada teater tradisional justru datang kemudian, setelah mereka men-genal kegiatan yang bersifat profesionalisme (kekaryaan).
Hampir semua bentuk kesenian tradisi, fungsinya sebagai alat ekspresi justru menduduki tempat yang terak-hir, hal ini disebabkan karena pada kesenian tradisi tidak dikenal istilah kreativitas individu.  Dalam perkem-bangannya sekarang, setelah adanya Konservatori Kesenian, Sekolah Tingggi dan Institut Kesenian, maka kesenian tradisional sebagai alat ekpresi seni bagi para seniman terbuka lebar. Lahirlah ciptaan “baru” yang bersumber dari kesenian tradisi.
Teater Tradisional sebagai Alat “Dokumentasi hidup”
Apabila saat ini masih dapat ditemukan teater tradisional yang masih “hidup”, maka teater tradisional tersebut dapat digunakan sebagai alat dokumentasi yang hidup, yaitu merupakan peninggalan warisan tradisi yang masih dapat disaksikan. Sebagai warisan tradisi, teater tradisional banyak mengandung nilai dan cerminan perilaku serta tata kehidupan masyarakat di masa lampau, hingga dapat dijadikan dokumentasi yang hidup.
Warisan budaya nenek moyang kita mengandung banyak hal, antaranya ciri kedaerahan yang khas, alam pikiran menurut sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut, dan semua aspek kehidupan yang ter-cermin dalam cerita-cerita yang dipertunjukkan dalam teater tradisional.
Kalau kita ingin mengkaji tata kehidupan masyarakat di suatu daerah, antara lain kita dapat mengkaji apa yang tercermin dalam cerita yang dipertunjukkan oleh teater tradisional di daerah tersebut.
BAB V
————————————————————————————————————————————————
Teater Tradisional dari berbagai daerah
B A N G S A W A N
Teater Tradisional Sumatera
Bangsawan, merupakan teater tradisional yang umumnya terdapat di Pulau Sumatera dengan latar belakang pendukung yang dominan budaya Melayu. Ada beberapa nama untuk Bangsawan, sering juga orang mena-makan Komidi Bangsawan, Sandiwara Dardanella, Komidi Stamboel, yang merupakan teater tradisional yang telah banyak memperoleh pengaruh teknik teater Barat, hal ini dapat kita lihat pada cara pementasannya yang selalu dilakukan di atas panggung, meskipun tidak di dalam gedung.
Dalam bukunya Seni Persembahan Bangsawan, Rahmah Bujang mengatakan bahwa Bangsawan dikenal pertama kali di Malaysia, yaitu ketika ada rombongan teater dari India, sekitar tahun 1870, dan mereka me-nyebutnya sebagai Wayang Parsi, karena cerita-cerita yang dihidangkan kebanyakan dari daerah Timur-Tengah dan India. Semua pemain teater dari India tersebut terdiri dari pria. Kemudian “Wayang Parsi” me-nyebar ke Selatan sampai ke Indonesia (Medan, Riau dan Palembang, untuk pulau Sumatera dan bahkan sampai ke Pulau Jawa dan Kalimantan).
Di Sumatera Selatan, kita temukan teater tradisional yang sejenis dengan Bangsawan, yang dinamakan: Dul Muluk, tetapi sering juga disebut: Abdul Muluk, atau Indra Bangsawan.  Pada umumnya Bangsawan, meru-pakan Teater tradisional yang terdapat di Sumatera Utara, sedangkan pengaruh Bangsawan menyebar ke Kalimantan dan Jawa.
Ciri utama Bangsawan adalah cara menyampaikan cerita yang dilakukan dengan berpantun, hal ini disebab-kan karena sumber cerita berasal dari sastra lisan Melayu.  Karena bentuknya berupa pantun, maka disam-paikannya dengan berden-dang. Dialog/percakapan antar pemain pun yang biasanya dilakukan dengan per-cakapan biasa, sering  dilakukan dengan menyanyi.  Ciri lainnya, cerita yang dihidangkan diambil dari cerita yang bersumber dari dongeng, hikayat dan cerita rakyat yang berasal dari Timur-Tengah (Cerita Seribu satu malam, Aladin, dll).
Cerita tersebut umumnya dimainkan seperti aslinya, tetapi sering juga diadaptasi ke dalam budaya etnik se-tempat atau dikaitkan dengan dongeng dan cerita rakyat yang terdapat di daerah tersebut dengan latar bela-kang budaya Melayu.
Musik yang mengiringi pertunjukanpun adalah musik Melayu.  Alat-alat musik yang digunakan dalam musik   Melayu yang mengiringi pertunjukan Bangsawan, terdiri dari Biola, Gendang biasa, Gedang besar atau Tam-bur, Gitar, Seruling, Serunai dan Akordeon.   Fungsi musik dalam Bangsawan bukan saja pengiring, tetapi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam rangkaian pertunjukan tersebut.   Musik yang dibunyikan pada awal pertunjukan dimaksud untuk pemanas suasana pertunjukan dan sekaligus mengundang penonton untuk hadir.   Pada waktu adegan cerita sudah dimulai, musik mengambil peranan menyusun dan mendukung sua-sana cerita, mengiringi lagu yang dinyanyikan pemain dan juga membuka atau menutup adegan yang sedang berlangsung.
Urutan pertunjukan dalam Bangsawan, selalu dimulai dengan pra-tontonan, yang biasanya berupa nyanyian lepas atau tarian, kemudian menyusul pertunjukan cerita yang terdiri dari berpuluh adegan atau beberapa babak. Di tengah-tengah pertunjukan cerita, selalu diberi selingan hiburan yang biasanya bersifat humor/lucu, kemudian dilanjutkan lagi dengan cerita. Sebagai penutup biasanya seluruh pemain keluar, dengan lagu-lagu dan nyanyian bersama yang disenangi oleh penonton.
Gaya permainan lebih condong dilakukan dengan gaya komedi  dengan porsi laku humor yang paling menon-jol.  Karena itu, setiap lakon di dalamnya selalu kita temukan peran humoris yang selalu melucu selama per-tunjukan. Pemain itu berlaku seperti clown (badut), dalam peran yang dimainkan, ia sering ia menjadi tokoh pembantu, pengawal (dalam bahasa Jawa: abdi).
Kostum yang digunakan dalam Bangsawan, selalu memakai pakaian yang gemerlapan seperti umumnya yang digunakan dalam cerita-cerita Seribu Satu Malam. Umumnya terbuat dari kain sutera yang mengkilap. Meskipun dalam pertunjukan menggunakan peralatan yang sederhana, namun diusahakan agar dapat mem-beri kesan bahwa cerita yang dihidangkan terjadi di daerah Timur Tengah, di suatu kerajaan.
Bangsawan, merupakan contoh suatu bentuk  Teater Transisi, yaitu suatu bentuk teater tradisional yang telah mendapat pengaruh teknik teater Barat dalam pementasannya. Ia menggunakan panggung, lengkap dengan dekorasi.  Meskipun dipertunjukan di alam terbuka (tidak di dalam gedung) Bangsawan selalu menggunakan panggung, dan di atas panggung selalu dibuatkan atap.
MAKYONG
Teater Tradisional  Riau
Makyong merupakan suatu jenis teater tradisional yang bersifat kerakyatan. Makyong yang paling tua terdapat di pulau Mantang, salah satu pulau di daerah Riau. Pada mulanya kesenian Makyong berupa tarian joget atau ronggeng. Dalam perkembangannya kemudian dimainkan dengan ceritera-ceritera rakyat, legenda dan juga ceritera-ceritera kerajaan.  Makyong juga digemari oleh para bangsawan dan sultan-sultan, hingga sering dipentaskan di istana-istana.
Bentuk teater rakyat Makyong tak ubahnya sebagai teater rakyat umumnya, dipertunjukkan dengan menggu-nakan media ungkap tarian, nyanyian, laku, dan dialog dengan membawa ceritera-ceritera rakyat yang sangat populer di daerahnya. Ceritera-ceritera rakyat tersebut bersumber pada sastra lisan Melayu.  Daerah Riau merupakan sumber dari bahasa Melayu lama. Oleh karenanya, ada dugaan bahwa sumber dan akar Makyong berasal dari daerah Riau, kemudian berkembang dengan “baik” di daerah lain.
Pementasan Mak Yong selalu diawali dengan bunyi tabuhan yang dipukul bertalu-talu sebagai tanda bahwa ada pertunjukan Makyong dan akan segera dimulai. Setelah penonton berkumpul, kemudian seorang pawang (sesepuh dalam kelompok Makyong) tampil ke tempat pertunjukan melakukan “persyaratan” sebelum pertun-jukan dimulai yang dinamakan “upacara buang bahasa” atau “Upacara membuka tanah” dan berdoa untuk memohon agar pertunjukan dapat berjalan lancar.
Dalam upacara tersebut ketua Panjak (pawang) membuang ramuan semaha” ke perut bumi (di tengah arena pertunjukan), dengan membacakan serapah yang berbunyi sebagai berikut:
“Assalamualaikum waalaikumsalam
tabik orang di laut
tabik orang di darat
Aku  tak membunuh paras
Dan tak di sini
Aku minta tanah yang baik
Bismillahirrahmaanirrahiim
bam tanah jembalang tanah
aku tahu asal engkau
mulai menjadi bintang timur
berundurlah engkau dari sini
jangan engkau menghadang
pekerjaan aku di sini,
puhh….“
Upacara ini diadakan dengan maksud untuk memohon kepada Tuhan bagi keselamatan para pemain.  Pada waktu upacara membuka tanah ini berlangsung, para penonton yang hadir diharuskan mengikuti secara khidmat, yang hadir tidak dibenarkan lalu-lalang di tempat pertunjukan. Kalau dilanggar, ada anggapan bahwa yang melanggar akan memperoleh celaka.
Setelah kata “puhh” diucapkan oleh Ketua Panjak, maka berakhirlah upacara tersebut. Semua alat bunyi-bunyian dibunyikan bersama dengan nada magis dan mengalun.  Sesudah itu barulah pertunjukan Makyong dapat dimulai.
Sebagai lazimnya teater rakyat, selalu dimainkan di alam terbuka dengan bentuk arena, di mana para penon-ton mengelilingi arena permainan. Para pemain dan penabuh  musik duduk dalam formasi setengah lingkaran.
Begitu musik dibunyikan setelah selesai upacara maka salah seorang pemain utama, Pak Yong berdiri di ten-gah tempat permainan sambil menyanyikan lagu Cik Milik..
Nyanyian itu disambut oleh para penari dan inang dayang dalan keadaan duduk, sampai nyanyian tersebut selesai, sebagai pembuka pertunjukan. Pada saat Pak Yong menyanyikan lagu pembukaan, para penari bangkit dan menari mengikuti lagu pembukaan tersebut. Setelah selesai lagu pembukaan para penari dan inang duduk kembali. Sedang Pak Yong masih berdiri ditengah arena kemudian mulai bermain, dengan me-manggil-manggil pemain lain :
“Awang . … dede, dede ooi, moh senik berkabo bilong” artinya:
(“Awang …. marilah ke sini, dan ceritakanlah sesuatu).
Awang (pemain lelaki bertopeng) muncul di tengah arena, dia berperan sebagai pengiring Raja (Pak Yong). Awang, biasanya dimainkan oleh pimpinan kelompok Makyong, karena merupakan tokoh kunci dalam pertun-jukan Teater tradisi Makyong. Ia bermain sangat lucu dan pandai segalanya, bermain, menari dan bernyanyi. Tokoh Awang ini merupakan bintang panggung, mulailah ia berceritera. Tokoh Awang ini selalu muncul dan selalu sebagai tokoh yang berceritera dalam pertunjukan tersebut. Kalau biasanya teater tradisional selalu dimainkan oleh para pemain pria, maka pada  Makyong  justru pemain wanitalah yang mendominasi seluruh tokoh yang ada. Apabila pemain pria muncul, maka pemain pria tersebut akan memakai topeng. Pemain wa-nita tidak memakai topeng. Tokoh utama yang memakai topeng adalah peran Awang dan peran Pak Yong, karena keduanya selalu dimainkan oleh pria.
Ceritera-ceritera yang dihidangkan berasal dari sastra lisan yang berupa dongeng, ceritera rakyat, ceritera kerajaan, legenda yang biasanya sudah dikenal oleh masyarakat lingkungannya. Ceritera-ceritera yang dihi-dangkan dalam Makyong antara lain :
a. Nenek Dandaru
b. Gunung Intan
c. Maget Sakti d. Cerita Rondang
e. Wak Peran Hutan
f. Tuan Putri Rakne Mas
Para pendukung dalam ceritera tersebut biasanya selalu terdiri dari :
• Peran Pak Yong (Raja)
• Peran Pak Yong Muda (Pangeran)
• Awang (pelawak atau pengiring raja)
• Permaisuri (Tuan Putri)
• Tuan Putri
• Beberapa penari dan penyanyi (Inang dan Dayang)
• Jin
• Penjahat (Pembatak)
• Peran bintang-bintang
Minimal para pemain yang harus ada Pak Yong, Awang, Teman si Awang, Tuan Putri, para penari (Inang) dan Dayang.
Karena pengaruh Teater Bangsawan (Wayang Parsi), kostum yang digunakan para pemain Makyong terdiri dari kain satin yang mengkilat. Biasanya untuk pakaian raja, permaisuri, pangeran , sedangkan kostum peran Awang (pelawak) atau hamba sahaya, biasanya pakaian sehari-hari yaitu kaos oblong dan memakai sarung. Pakaian para penjahat biasanya hitam. Pada jari pemain putri Makyong biasanya dikenakan canggai, yaitu kuku buatan yang panjang seperti bulu landak. Hanya pemain Pak Yong yang memakai perlengkapan keris, dan pada kepalanya mengenakan hiasan mahkota.
Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan Mak Yong terdiri dari :
a.  Gendang   1 buah b. Gung 1 buah
c. Serunai 1 buah   d. Mong-mong       1  buah
d. Rebab 1  buah
Lagu-lagu yang biasa dimainkan, antara lain :
• Awang nak berjalan
• Selendang awang
• Timang Welo
• Cik Milik
Menurut ceritera orang dahulu, pertunjukan Makyong sangat digemari oleh masyarakat lingkungannya, bukan saja rakyat biasa, tetapi juga para Sultan sering mengundang pertunjukan Makyong ke istananya. Terutama kesultanan Malaka dan istana Sultan Sri Indrapura.
Konsep teater rakyat dapat dipertunjukkan dimana saja, tidak memerlukan panggung atau gedung tempat pertunjukan.  Dapat dimainkan di tempat terbuka. Di lapangan atau halaman rumah asalkan ada space (ruang) untuk bermain dan tempat penonton. Batas permainan adalah penonton itu sendiri. Tidak pernah ada dekorasi dan panggung.
Pada pertunjukan teater rakyat Makyong, arena tempat bermain dibuatkan atap (serudung), sedangkan para penonton biasanya duduk atau berdiri di sekitarnya. Pertunjukan biasanya dimulai sekitar jam 19.30 atau 20.00  (yaitu sesudah sembahang Isya), dan berakhir sampai Subuh tiba. Atau setidak-tidaknya sampai larut malam. Pertunjukan Makyong dapat juga dimainkan siang hari, tergantung permintaan, sering pula siang dan malam.
Pertunjukan bahkan pernah dimainkan selama 7 hari 7 malam. Rekor tertinggi adalah pernah diadakan sampai 15 hari 15 malam, untuk perayaan hajat seorang sultan yang kaya.
Teater tradisi Makyong terdapat juga di Malaysia (Kelantan) dan sangat populer serta sangat digemari oleh masyarakat dengan menggunakan bahasa Melayu lama.  Ditilik dari sumber bahasa Melayu, maka ada ke-mungkinan besar bahwa Makyong berasal dari daerah Riau, tetapi berkembang dengan sangat baik di Ma-laysia sampai sekarang.
RANDAI
Teater Tradisional Minangkabau
Randaipakan suatu bentuk teater tradisional yang bersifat kerakyatan yang terdapat di daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Sampai saat ini, Randai masih hidup dan bahkan berkembang serta masih digemari oleh masyarakatnya, terutama di daerah pedesaan atau di kampung-kampung.
Teater tradisional di Minangkabau bertolak dari sastra lisan. begitu juga Randai bertolak dari sastra lisan yang disebut: Kaba. (dapat diartikan “cerita”) Bakaba artinya bercerita. Ada dua unsur pokok yang menjadi dasar Randai :
Pertama, unsur penceritaan. yang diceritakan adalah kaba, dan dipaparkan/disampaikan lewat gurindam,  dendang & lagu, sering diiringi oleh alat musik tradisional Minang, yaitu salung, rebab, bansi, rebana atau yang lainnya» dan juga lewat dialog.
Kedua, unsur laku dan gerak, atau tari, yang dibawakan melalui galombang. Gerak tari yang digunakan ber-tolak dari gerak-gerak silat tradisi Minangkabau, dengan berbagai variasinya dalam kaitannya den-gan gaya silat di masing-masing daerah.
Meskipun pada dasarnya budaya yang menopang termasuk kelompok budaya etnik Melayu, namun budaya Minang lebih terlihat spesifiknya dibanding dengan teater tradisional lainnya di daerah Sumatera pada umum-nya. Terutama sekali sangat terasa bahwa tarian Minang yang bersumber dari silat Minang, gerak-geraknya sangat spesifik Minang yang berbeda dengan tarian Melayu pada umumnya.
Kehidupan budaya masyarakat Minangkabau, dapat tercermin dari pertunjukan Randai, baik dialog yang diu-capkan yang penuh dengan pantun dan sajak serta prosa liris yang berupa untaian bait yang masing-masing bait umumnya terdiri dari empat baris, dua baris berisi “sampiran”, sedangkan dua baris lainnya berisi maksud yang sebenarnya. Dalam pertunjukan Randai hal ini meskipun tidak terlalu “ketat” namun masih terasa. Bah-wa mereka menyadari perlunya bait-bait tersebut untuk senjaga irama-irama pertunjukan agar sesuai dengan gurindam dan dendang yang ada. Karena sifatnya yang liris, yang terikat dengan jumlah suku kata dan adanya sajak, syair, pantun, maka kaba selalu di”dendang”kan.
Di dalam Randai bahagian-bahagian cerita yang didendangkan inilah yang disebut: gurindam. Gurindam dan tari yang bersumber dari gerak silat inilah yang menjadi ciri khas Randai sebagai Teater tradisional Minang-kabau.
Randai mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Cerita yang dimainkan dalam Randai adalah cerita yang dikenal dalam masyrakat Minang,  terutama yang bersumber dari kaba.
2. Pertunjukan disajikan bukan hanya aksi dan laku dengan percakapan, tetapi dilakukan den-gan dendang (nyanyian) dan tari.
3. Nilai dramatik dilakukan dengan spontan, sedih dan gembira, tangis dan tawa menjadi satu
4. Selalu ada adegan yang menimbulkan “tertawa” karena kelucuan pemainnya.
5. Dalam bentuk “arena”, dan menyatu antara pemain dan penonton.
6. Lamanya pertunjukan dapat tiga jam atau lima jam. Satu malam atau beberapa malam bertu-rut-turut.
Cerita yang dimainkan umumnya dari kaba yang ada, yang merupakan bentuk sastra lisan di Minangkabau yang terkenal. Kaba-kaba yang populer umumnya cerita yang dihidangkan sudah dikenal oleh masyarakatnya, bahkan grup Randai sering memakai nama cerita, Misalnya Grup Randai Magek Manandin, Grup Randai Anggun Nan Tongga, Grup Randai Ranbun Pamenan, dan Grup Randai Gadih Rantin. Padahal semua itu adalah cerita-cerita yang populer dan digemari oleh masyarakat Minang. Cerita rakyat, dongeng,  legenda, dan lain sebagainya.
Pertunjukan Randai umumnya dilakukan di alam terbuka, sering pula dilakukan di halaman Rumah nan ga-dang (biasanya mempunyai halaman yang luas), dalam bentuk arena dan tidak memakai panggung. Penonton dan pertunjukan menjadi satu, tak ada batas pemisah antara penonton dan pertunjukan Ran¬dai. Tidak pernah menggunakan set (dekorasi) tidak pernah ada batas antara tempat permainan, penoton, ataucpun kelompok pemain dan pemain musik. Karenanya terasa sangat akrab, dan mereka tahan menonton dari jam delapan malam sampai pagi hari.
Peranan gurindam dalam Randai bukan saja sebagai variasi menyampaikan cerita tetapi mempunyai fungsi lain yang lebih penting yaitu memberikan “aba-aba” untuk suatu perubahan dalam pertunjukan apakah itu perubahan tempat, waktu atau bahkan peruba¬han suasana dalam cerita yang sedang berlangsung. Gurindam sekaligus membangun cerita-cerita dalam setting khayali, yang lebih mengajak penonton Randai ikut berk-hayal.
.
Setiap berubahan adegan perubahan waktu, perubahan tempat, perubahan peristiwa, semua ditandai. dengan putaran-putaran. Para pemain Randai bergerak berputar, berkeliling di tempat permainan. Dalam “bergerak” inilah pemain Randai biasanya menunjukan kemahirannya dalam “permainan gerak” dan langkah-langkah silat yang membentuk lingkaran berantai dan juga menunjukan permainan bunyi yang dihasilkan dari. tepukan-tepukan tangan (antara telapak tangan dengan telapak tangan, telapak tangan dengan paha dan pinggul ataupun tepukan tangan dengan pakaian gelombang yang dipakai).
Gerak-gerak silat ini dalam Randai disebut gelombang. Ia menyertai atau menyesuaikan gurindam yang di-nyanyikan. Di celah-celah tepukan tangan tersebut terdengar teriakan dari para pemainnya Pepata Pepata, Pepatata-Pepata-Pepata.Seorang pemain Randai harus pandai bermain silat, harus pandai berdendang, dan harus pandai berpantun-pantun. Randai tumbuh benar-benar dalam lingkungan masyarakat kebanyakan, ka-rena dalam struktur masyarakat Minang tidak membedakan golongan dalam masyarakat yang ada. Randai sekaligus menggambarkan kehidupan masyarakatnya sehari-hari. Sesuai dengan pepatah-petitih Minangkabau yang mengatakan “Kesenian Minang mambusek dari bumi dan manitik dari langik.” Artinya kesenian Minang lahir di tengah rakyat dan bukan berasal dari golongan tertentu, misalnya lahir dari golongan bangsawan.
Kesenian di Minangkabau erat sekali hubungannya dengan adat, seperti kita lihat pada upacara-upacara pengangkatan pimpinan “suku”, perhelatan perkawinan acara melaksanakan sunah rasul (berkhitan) dan acara adat lainnya. Semua ini dapat tercermin dalam pertunjukan Randai.
Proses lahir Randai pun bertitik tolak dari ungkapan “Alam takanbang jadi guru”, merupakan salah satu filsafat hidup orang Minang.
M E N D U
Teater Tradisi  RIAU
Mendu merupakan juga jenis teater tradisional yang terdapat di daerah Riau seperti halnya Makyong. Berasal dari pulau Natuna, Anambas, di daerah Bunguaran yang merupakan pusat Mendu. Di daerah ini pun terdapat jenis teater lainnya yang disebut Wayang Bangsawan, yang justru banyak mempengaruhi pertunjukan Mendu. Masyarakat Bunguaran menganggap pertunjukan Wayang Bangsawan lebih lengkap dan bervariasi di-bandingkan dengan pertunjukan  Mendu.
Pertunjukan Mendu terlihat sangat sederhana. Dinamakan Mendu karena dalam pertunjukannya kebanyakan memainkan ceritera tentang  Dewa Mendu yang sangat terkenal di kalangan masyarakat  “suku laut” (orang pesuku) yang terdapat di kepulauan Tujuh.
Bentuk pertunjukan Mendu tak ubahnya seperti Makyong, yaitu dilakukan dengan tarian, nyanyian, berlaku, berdialog. Semua dengan iringan tetabuhan, yang terdiri dari seperangkat alat musik tradisi seperti biola, gong, beduk, gendang panjang dan sering ditambah dengan kaleng kosong. Pementasan Mendu selalu diawali dengan bunyi gong yang dipukul bertalu-talu sebagai pertanda bahwa pertunjukan Mendu akan segera dimulai.
Seorang Pawang tampil ke tengah tempat pertunjukan, melakukan “persyaratan” khusus (semacam pemu-jaan) dan berdoa mohon ijin keselamatan dan berkah kepada Sang Dewa Mendu.  Upacara ini kemudian di-ikuti oleh apa yang disebut peranta (dibunyikan gendang, gong dan beduk yang merasuk) tanda pertunjukan akan dimulai. Begitu selesai peranta, segera muncul tarian diiringi oleh tetabuhan yang menyenangkan, dan pertanda akan segera dimulai acara berladun  (acara di mana pemain-pemain Mendu semua keluar ke arena permainan), para pemain memasuki arena permainan dengan gerak menari.
Acara berladun adalah acara pembuka seluruh pemain keluar untuk memperkenalkan diri peran yang diba-wakan dalam cerita dengan gaya menyanyi. Pengaruh Teater Bangsawan sangat kuat dalam Mendu, hingga terasa banyak yang bersamaan antara Mendu dan Wayang Bangsawan. Cara bermain banyak diselingi nya-nyian dan tarian yang diiringi oleh biola, gendang, dan sekali-sekali dengan gong.
Sudah menjadi tradisi pertunjukan Mendu, dalam menghidangkan ceritera selalu dibuka dengan sidang kera-jaan, dimana hadir seluruh staf Raja, seperti Menteri, Wazir, Hulubalang, dan lain-lain yang diperlukan. Ke-mudian mereka memperkenalkan diri dengan peran yang dibawakan, dengan menyebutkan nama, jabatan, negeri tempat ceritera tersebut berlangsung. Sebagai pembuka ceritera, salah seorang pemain menceriterakan keadaan negeri tersebut dalam kaitan dengan ceritera yang sedang dihidangkan.
Ceritera yang dihidangkan umumnya ceritera Dewa Mendu. Tak ubahnya ceritera Ramayana yang panjang, namun untuk tiap pertunjukan hanya dihidangkan satu “episode” yang mereka inginkan. Pertunjukan Mendu dapat berlangsung 5 minggu (40 malam), 7 malam atau dapat juga semalam.
Mendu merupakan kesenian tradisi dalam bentuk teater rakyat, yang bentuknya sangat sederhana. Namun setelah memperoleh pengaruh Wayang Bangsawan,  Mendu mulai menggunakan panggung lengkap dengan layar sebagai dekorasi dan penyekat pertunjukan. Pakaian (kostum) yang digunakan sangat dipengaruhi oleh kostum Wayang Bangsawan, gemerlapan penuh bersulam benang emas, manik-manik dan sebagainya.
Menurut sejarah seni pertunjukan di Indonesia, pada mulanya menurut tradisi, kesenian merupakan bagian dari sarana adat-istiadat atau untuk keperluan upacara agama dan bukan merupakan alat ekspresi berkese-nian.  Lama kelamaan fungsi kesenian berkembang untuk keperluan bukan saja alat sarana pendidikan , pe-nerangan, tetapi juga untuk keperluan hiburan, namun pada saat itu masih tetap belum merupakan “alat ek-spresi berkesenian”, tetapi masih sebagai sarana untuk upacara atau keperluan adat istiadat.
Sebagai keperluan pendukung adat-istiadat, maka kesenian diperlukan untuk keperluan suatu “hajat”, misal-nya mengawinkan anak, atau keperluan lainnya, dimana “yang punya kerja” merupakan “sponsor” kegiatan kesenian. Dialah yang harus membiayai seluruh kegiatan tersebut. Penonton tidak pernah mengeluarkan bi-aya untuk keperluan menonton.
Selain di daerah Riau, Mendu juga terdapat di Kalimantan Barat terutama di daerah pantai.  Begitu juga di beberapa tempat lainnya.
D U L  M U L U K
Teater Rakyat Sumatera Selatan
Dulmuluk merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan yang terdapat di Sumatera Selatan. Nama Dulmuluk berasal dari tokoh ceritera yang terdapar dalam Hikayat Abdul Muluk. Jenis teater tradisional ini oleh masyarakat dikenal dengan nama Dul Muluk  atau Dermuluk. Meskipun lakon yang dibawakan tidak se-lalu Hikayat Abdul Muluk, tetapi jenis teater ini tetap dinamakan Dulmuluk. Di beberapa tempat, teater sejenis Dulmuluk ini disebut Teater Indra Bangsawan.
Teater tradisional yang bersifat kerakyatan bertolak dari sastra lisan yang berbentuk pantun-pantun atau syair-syair. Begitu pula Dulmuluk bertolak dari sastra lisan yang berbentuk pantun. Pada mulanya pantun-pantun atau syair itu disampaikan secara hafalan dalam bentuk berceritera yang kemudian menghasilkan bentuk pertunjukan yang kita namakan Teater Tutur, yang merupakan Teater Mula yang paling sederhana. Seseorang berceritera dengan didengar atau dihadiri oleh sekelompok penonton, yang kemudian dikembangkan menjadi pertunjukan yang intinya dangan berceritera.
Teater Tutur pada mulanya hanya dimainkan (berceritera) oleh satu orang kemudian dalam perkembangannya diiringi musik dan makan meriah kemudian berkembang menjadi Dulmuluk.
Tokoh Teater Tutur yang terkenal ialah Wan Bakar.  Murid-murid Wan Bakar inilah yang mengembangkan Teater Tutur menjadi pertunjukan teater tradisional yang disebut Dulmuluk yang terdapat di daerah Sumaterra Selatan.  Syair-syair (pantun-pantun) yang berasal dari Hikayat Abdul Muluk yang sering diceriterakan (diper-tunjukkan) sebagai teater tutur, disusun dan dihimpun oleh Dr. Philipus Pieter Roerda van Eysinga dan ke-mudian diterbitkan pada tahun 1847 dengan judul “Kejayaan Kerajaan Melayu”.   Syair tersebut ditulis dan diterbitkan dengan huruf Melayu atau dikenal dengan huruf Arab gundul.  Usaha Dr. Eysinga tidak hanya sampai disitu. Pada tahun 1893, buku ini dicetak dengan huruf latin oleh Tyjschrift van Nederlands Indie di Rotterdam. Penerbit Balai Pustaka pun tidak ketinggalan mencetak buku tersebut dengan judul Syair Abdoel Moeloek.
Bentuk pertunjukan Abdul Muluk tak ubahnya sebagai teater rakyat umumnya, terutama teater rakyat yang ditopang dan didominasi oleh latar belakang budaya Melay”. Bentuk pertunjukan menggunakan campuran media ungkap terdiri dari  tari, nyanyi, laku, dengan menggunakan dialog yang sering dinyanyikan.  Karena ungkapan dialog yang berbentuk pantun, maka cara mengungkapan yang paling tepat adalah dinyanyikan. Unsur musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari lakon yang dipertunjukkan.
Karena latar belakang budaya Melayu yang mendominasi, maka iringan tabuhan/musik terdiri dari peralatan musik Melayu, dengan seperangkat alat-alat musik terdiri dari Biola, Gendang biasa, Gendang besar, atau Tambur  dan  Setawak (Gong).  Penggunaan jumlah alat musik tersebut tergantung pada kemampuan kelom-pok pertunjukan yang menggunakannya.  Irama tabuhan, lagu-lagu dan nada-nada musik tentu saja berira-makan musik Melayu.
Ceritera-ceritera yang dihidangkan berasal dari sastra lisan Melayu lama yang biasanya berbentuk pantun. Ceritera-ceriitera yang sering dipentaskan adalah sekitar Hikayat Kerajaan Melayu, dengan mengambil cerita antara lain Hikayat Sitti Jubaedah, Hikayat Abdul Muluk, Hikayat Indera Bangsawan dan lain sebagainya.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu lama (bahasa Melayu tinggi) dengan dicampur oleh bahasa daerah setempat. Hal ini dilakukan agar apa yang dipertunjukkan dapat dinikmati dan dimengerti oleh penon-tonnya.
Tak bedanya dengan teater rakyat lainnya, Dulmuluk bentuknya sangat sederhana dan pertunjukannya dila-kukan dalam bentuk arena di alam terbuka hingga terasa akrab dengan penonton. Karena pengaruh Teater Bangsawan, maka Dulmuluk dalam pementasan sudah mulai menggunakan panggung lengkap dengan deko-rasinya. Panggung yang digunakan memakai atap untuk melindungi tempat bermain, sedangkan tempat para penonton tetap di alam terbuka dan tidak menggunakan kursi atau tempat duduk. Para penonton biasanya berdiri. Meskipun menggunakan dekorasi, perlengkapan yang digunakan masih tetap sederhana. Untuk ade-gan “kerajaan”, cukup digunakan sebuah meja dan dua buah kursi. Kursi kerajaan cukup dengan dihias ala kadarnya untuk membedakan dengan kursi yang dipakai oleh rakyat biasa.
Pementasan Dulmuluk dimulai dengan berbunyinya tabuh-tabuhan yang dipukul sebagai tanda. Menurut tra-disi, sebelum pemain muncul di atas panggung., lebih dahulu para pemain mengikuti ”upacara selamatan” dengan “sesajian” yang sudah dipersiapkan. “Selamatan” kecil ini dimaksud agar para pemain mendapat ilham dan kekuatan dalam permainan dan diharapkan pula agar pertunjukan secara keseluruhan berjalan lancar. Sesudah itu biasanya diadakan “penaburan beras tawar” untuk keselamatan bagi para pemain dan dan juga para penonton.  Penaburan beras tawar ini biasanya dilakukan juga pada saat pertunjukan selesai, sebagai acara penutup pementasan.
Setelah acara tambahan sebagai pembukaan pertunjukan, yaitu pembukaan dengan lagu irama Melayu yang disebut “bernada keso”, maka beralihlah irama itu ke ‘bernada bernas” dan bersamaan dengan itu muncullah para pemain di atas panggung yang dipimpin oleh pemain utama (Peran Utama).
Peran Utama ini biasanya menjadi Pimpinan pertunjukan. Pimpinan harus dapat bermain peran apa yang di-bawakan. Setelah itu barulah lakon yang akan dihidangkan dimulai.
Media ungkap yang digunakan adalah media ungkap gabungan antara tari, musik, dan drama. Cara me-nyampaikan ceritera dengan gaya “dagelan”, penuh humor dan tertawa.
Setiap adegan selalu diselipkan banyolan/dagelan , lelucon-lelucon yang sering bahkan sepanjang pementa-san selalu dipenuhi dengan lelucon-lelucon, karena adegan inilah yang digemari penonton.
Di samping Dulmuluk dan Indra Bangsawan, terdapat pula apa yang dinamakan Komidi Bangsawan yaitu pertunjukan Dulmuluk tetapi ceriteranya sering mengambil dari ceritera film jaman itu, seperti Pangeran Ham-let  atau ceritera Seribu Satu Malam dan lain sebagainya.
Nama teater Dulmuluk untuk masyarakat Sumatera Selatan, sering juga disebut lain. Misalnya di Musi Ba-nyuasin, disebut Teater Rafeah atau di daerah Lematang Ilir Ogan Tengah disebut Juhari.  Ada pula yang menyebutnya Teater Ziti Zubaedah, Teater Indra Bangsawan, dan lain-lainnya. Kalau kita lihat penamaan tersebut umumnya diambil dari nama para pelaku dalam ceritera tersebut. (Nama tokoh yang populer di dalam ceritera yang dihidangkan).
Dulmuluk merupakan salah satu contoh bentuk apa yang kita namakan Teater Transisi, yaitu suatu bentuk teater tradisional yang telah memperoleh pengaruh teater Barat, lewat teknik pementasan dan panggung yang digunakannya.
Dalam Teater Transisi, ceritera-ceriteranya biasanya telah disusun secara garis besar (begitu pula pembagian adegan) yaitu untuk keperluan penataan di atas panggung dengan urutan pengadegan yang terasa tersusun lebih rapih dibandingkan dengan teater rakyat biasa.
M A M A N D A
Teater Tradisi Kalimantan Selatan
Daerah Kalimantan Selatan mempunyai cukup banyak jenis kesenian antara lain yang paling populer adalah Mamanda, yang merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan, yang  orang sering menyebutnya se-bagai teater rakyat.  Pada tahun 1897 datang ke Banjarmasin suatu rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka yang lebih dikenal dengan Komidi Indra Bangsawan. Pengaruh Komidi Bangsawan ini sangat besar terhadap perkembangan teater tradisional di Kalimantan Selatan. Sebelum Mamanda lahir, telah ada suatu bentuk tea-ter rakyat yang dinamakan Bada Moeloek, atau dari kata Ba Abdoel Moeloek. Nama teater tersebut berasal dari judul ceritera yaitu Abdoel Moeloek karangan Saleha.
Ceritera yang berbentuk syair-syair sangat itu populer di kalangan masyarakat Banjar. Hal ini disebabkan ka-rena syair-syair tersebut terdapat dalam buku yang bertuliskan huruf Arab Melayu Johor dan telah beredar di daerah Margasari. Tidak hanya di Margasari saja tetapi telah melebar ke daerah Pariuk (Margasari Ilir) dan disinilah Ba Abdoel Moeloek itu berkembang dan kemudian disebut Mamanda Pariuk. Sebutan Mamanda dipergunakan dalam percakapan antara Sultan dengan Mangkubumi atau Wazir, sebutan antara Raja dengan bawahan. Kata mamanda arti yang sebenarnya adalah sebutan paman. Tapi kata mamanda terasa lebih akrab suatu bentuk pertunjukan, maka bentuk kesenian teater tradisional yang tadinya bernama Ba Abdoel Moeloek menjadi teater rakyat Mamanda.  Dalam pementasan Mamanda selalu terdengar dialog sebagai berikut:
“Marilah anakku, kita basuka-suka malunta”.   Maka jawabnya,
“Baiklah Mamanda. Hamba tiada anggan saparti kahandak Mamanda”.
Atau contoh lain dialog antara Raja dan Mangkubumi atau Wazir.
“ Benar atau sebagaimana Mamanda Mangkubumi?” atau
“ Bagaiman menurut pemikiran Mamanda Wajir ?”
Seorang Raja atau Sultan dalam pertunjukan teater selalu menjadi fokus perhatian para penonton dan kata-kata “mamanda” selalu muncul setiap kali dialog. Oleh  karena itu, katatersebut selalu ditirukan oleh para pe-nonton. Maka populerlah nama pertunjukan itu menjadi  Mamanda.
.
Ada beberapa jenis Mamanda di daerah Banjar, yaitu yang sering dikenal sebagai Mamanda Tubau  (Batu Bau)  dan  Mamanda Pariuk Margasari atau dikatakan Mamanda Batang Banyu. . Namun setelah dikaji pada prinsipnya kedua Mamanda tersebut pokok-pokoknya sama, hanya yang satu kurang pengutamakan tari dan nyanyi (Mamanda Tubau) tetapi lebih menekankan pada ceritera yang dipertunjukkan. Sedangkan Mamanda Batang Banyu/Margasari tetap mengutamakan ketiga unsurnya, yaitu tari, nyanyi dan lakon yang dihidangkan.
Teater tradisional selalu bertolak dari sastra lisan. Di Kalimantan Selatan terdapat apa yang disebut Dundam, yaitu suatu bentuk seni berceritera yang dilakukan denga berlagu.  Pada Dundam yang terpenting adalah lagu-lagunya, kemudian ini berkembang menjadi Lamut yaitu seni berceritera dilakukan dengan berlagu dan diiringi dengan gendang atau terbang.
Ada juga yang disebut Ba Andi Andi, berceritera disertai nyanyian dan juga dengan dialog. Ada satu lagi ke-senian rakyat yang dinamakan Bapandung,  yaitu seni berceritera dengan gaya/cara yang lucu. Biasanya Tu-kang Pandung ini adalah pemain yang membawa peran khadam (badut) dalam pementasan teater rakyat.
Teater rakyat Mamanda, di dalamnya adalah ramuan dari Balalaguan (bernyanyi), Batatarian (menari) dan Bapandung (berceritera dengan lucu). Dengan adanya unsur-unsur tarim nyanyi dan berceritera, yang keti-ganya ini terpadu dalam pementasan, maka Mamanda merupakan bentuk teater tradisi yang bersifat kerakya-tan, dilakukan secara spontan dan komunikatif serta akrab sebagai pertunjukan rakyat.
Ceritera yang dihidangkan pada mula perkembangannya masih meniru apa yang dihidangkan oleh Komedi Indra Bangsawan, yaitu ceritera Abdoel Moeloek dan hikayat-hikayat lama seperti Hikayat Si Miskin, Mara-karma, Hikayat Cindera Hasan dan Hikayat Seribu Satu Malam. Dalam perkembangan selanjutnya masih tetap cerita sekitar kerajaan-kerajaan yang disesuaikan dengan ceritera-ceritera rakyat setempat. Oleh karena itu dalam ceritera Mamanda selalu ada tokoh dan peran, antara lain  Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Panglima Perang, Wazir ,  Harapan I dan Harapan II, Permaisuri, Khadam, ditambah dengan Para San-dut/Puteri, Anak Raja, Anak Muda , Dayang, Perampok, Raja Jin, dan lain sebagainya.
Pada awal ceritera, para tokoh / peran yang dibawakan selalu memperkenalkan diri. Perkenalan diri ter-sebut berisi antara lain menerangkan nama tokoh yang dimainkan dan pangkatnya, menerangkan tentang keadaan dirinya (kegagahannya), menerangkan tentang tugas dan kewajiban dalam ceritera tersebut dan menjelaskan hubungannya dengan alur ceritera.
Dalam perkenalan diri tersebut sering juga dilagukan yang disusun dalam bentuk syair, misalnya:
“Indera Jaya aku punya nama
Terpangkat sebagai seorang Harapan Pertama
Dalam kerajaan Palinggam Cahaya…. dan seterusnya.
Kebanyakan dialog dalam Mamanda disusun dalam bentuk syair, meskipun hal ini dilakukan dengan spontan dan hafalan karena kebiasaan.Adapun lagu yang sering dibawakan dalam Mamanda dan hafalan karena ke-biasaan. Lagu yang sering dibawakan dalam Mamanda ialah lagu, antara lain Lagu Dua Pengharapan, Lagu Dua Raja, Lagu Dua Gandut, Lagu Raja Sarik, Lagu terima Kasih Raja, Lagu Baladun, Lagu Membujuk, Lagu Nasib, Lagu Stambulan, dan sebagainya.
Selain lagu dan nyanyian tak ketinggalan pula “batatarian”. Tarian yang biasa digunakan dalam Mamanda adalah Tari Baladun, Tari Raja, Tari Gandut, Tari Membujuk dan lain sebagainya. Tari tersebut sudah terpola dan tiap kali muncul dalam pementasan.
Alat musik yang digunakan dalam mengiringi pementasan Mamanda, pada mulanya hanya beberapa perang-kat peralatan yaitu Babun atau godang, G o n g,  Biola dan viol, Seruling dan serunai. Karena latar belakang budaya yang mendukung daerah Kalimantan selatan adalah budaya Melayu, maka lagu-lagu melayu selalu mempengaruhinya. Dengan demikian peralatan musik Melayu pun ikut meramaikan suasana. Dalam perkem-bangannya kemudian terdapat alat musik Gitar, Bas dan Akordeon serta Tambur sering ikut menambah ke-ramaian musik yang berirama Melayu.
Kostum (pakaian) yang digunakan dalam pementasan Mamanda telah terpola menurut peran yang sudah pasti, yaitu disusun untuk pakaian Raja, Wazir, Perdana Menteri, Kepala Pertanda (Panglima Perang), Raja Jin, Perampok dan rakyat biasa..  Setiap ceritera apa pun selalu muncul peran-peran yang tersebut di atas. Pakaian umumnya banyak terpengaruh oleh pakaian Komedi Bangsawan yaitu mengkilat dengan bermanik-manik, seperti pakaian pada ceritera Seribu Satu Malam.
Kostum yang digunakan dalam Mamanda, sebagai berikut:
1. Pakaian untuk Raja, yaitu Celana basirit tepi (sepanjang celana ada garisnya); baju yang disulam dengan manik-manik, bentuknya seperti baju raja Istambul. Tutup kepala, kopiah hitam di tengahnya dihias bulu burung bangau putih. Bulu burung tersebut dimaksud sebagai mahkota. Raja biasanya memakai kumis tebal (supaya kelihatan angker).
2. Pakaian untuk Perdana Menteri, memakai pakaian pantalon dan bajunya pun dilapis dengan manik-manik. Tidak memakai tutup kelapa dan rambutnya disisir rapi.
3. Pakaian Mangkubumi sama dengan Perdana Menteri, tetapi memakai kopiah hitam biasa (tidak di-hias bulu).
4. Pakaian Wazir, memakai pakaian sepertin Jas panjang dan ikat kepala saputangan. Jas panjang semacam Jas hujan. Celana biasa.
5. Pakaian untuk Harapan Pertama dan Harapan Kedua, berpakaian rumpi. Memakai hiasan manik-manik dan rumbai-rumbai. Senjata adalah pedang tutup kepala adalah “topi pet”
6. Pakaian Kepala Pertanda (Panglima Perang), memakai pakaian angkatan laut (putih) dengan senjata pedang Persia. Kadang-kadang masih memakai manik-manik dan pada bahunya diselenggarakan “teratai” yang dibuat dari benang emas. Tutup kepala adalah “topi polisi” jaman dulu.
7. Raja Jin, memakai kain kitam dan kelapanyapun diselubungi kain hitam sedang wajahnya diberi make up yang seram.
8. Perampok memakai pakaian biasa (sering warna gelap) bertopi dan memakai kaca mata hitam gelap.
9. Pakaian Puteri memakai longdress putih atau ditambah dengan  baju kurung.
10. Pakaian Anak muda, celana biasa, kemeja putih dan berdasi kupu-kupu hitam. Sering memakai baju tambahan dengan manik-manik. Di pinggangnya diikat oleh selendang.
Pementasan Mamanda dilakukan di alam terbuka atau di lapangan, tidak menggunakan panggung, tetapi dibuatkan sebuah “serubung” (semacam bangsal berbentuk persegi panjang dengan atap darurat. Sehingga membentuk sebuah bangsal ukuran 5m x 10 m, yaitu untuk keperluan permainan, sedangkan para penonton-nya mengelilingi pertunjukan tersebut. Sekeliling serudung dapat ditempatkan kursi-kursi atau bangku untuk para penonton atau tidak ditempatkan apa-apa dan penonton hanya berdiri atau duduk berkeliling. Di pinggir sebelah se rudung dibuatkan tempat tertutup untuk para pemain (dari tempat inilah diatur keluarmasuknya para pemain), dipergunakan untuk pergunakan untuk persiapan merias diri dan pakaian.
Peralatan/perlengkapan yang digunakan sangat sederhana, hanya sebuah meja dan dua kursi, yang secara simbolik sudah dapat menggambarkan tempat persidangan suatu kerajaan. Meja dan kursi yang ada dapat juga berubah fungsinya menjadi gua atau pohon atau pohon yang besar untuk berlindung, tergantung pada setting yang diperlukan dalam ceritera..
Serubung yang memanjang dibagi menjadi 3 daerah, yaitu:
1. Daerah permainan untuk Raja (persidangan kerajaan).
2. Daerah permaianan masuk ke Istana, dijaga oleh Harapan Pertama dan Harapan Kedua.
3. Daerah Umum, dil uar istana.
Namun pembagian daerah ini tidak mutlak, karena dapat berubah tergantung pada lokasi yang diinginkan dalam ceritera. Daerah persidangan kerajaan dapat saja berubah menjadi daerah “hutan” belantara”. Pemba-gaian area permainan ini sangat fleksibel, namun apabila adegan yang belangsung ada hubungan dengan Raja di Istananya, maka pembagian daerah itu tetap digunakan menjadi 3 bagian.
T A N T A Y U N G A N
Teater Rakyat Kalimantan Selatan
Di Kalimantan Selatan, di samping Mamanda yang sangat populer, terdapat juga teater rakyat yang dinama-kan Tantayungan, yang sebenarnya merupakan teater rakyat yang lebih tua dari Mamanda. Dalam perkem-bangannya Tantayungan banyak dipengaruhi Teater Bangsawan. seperti halnya Mamanda, Tantayungan mempunyai latar belakang budaya yang dominan adalah budaya Melayu. Hal ini jelas terlihat pada mu-sik/tetabuhan yang mengiringinya serta gerak tarian yang mendukungnya, yang kesemuanya beranjak dari akar kebudayaan Melayu, meskipun tak dapat dikesampingkan ciri budaya setempat.
Pada mulanya, Tantayungan dikenal oleh masyarakat Pandawan, kabupaten Hulu Sungai Tengah, sebagai suatu bentuk seni yang  berupa tari-tarian yang dipergunakan untuk keperluan upacara “pengantin”. Bentuk tarian Tantayungan ini dilakukan secara massal, dimana terdapat dua kelompok penari yang saling berhada-pan. Kemudian menarikan gerak-gerak dinamik sebagai tari perang dengan menggunakan perlengkapan tombak. Setelah menari beberapa saat sampai akhirnya satu kelompok (pasukan) tari tersebut seolah-olah kalah perang.  Tarian kemudian dilanjutkan dengan “prosesi” untuk menyambut pengantin.
Tari Tantayungan yang pada mulanya untuk keperluan upacara pengantin, kemudian bentuk kesenian ini berkembang menjadi teater rakyat Tantayungan, penyajiannya disertai dengan ceritera-ceritera rakyat setem-pat.
Bentuk Tantayungan tak ubahnya sebagai teater rakyat pada umumnya, yaitu yang dilakukan dan dipertun-jukkan dalam bentuk: tarian, nyanyi, penyajian lakon dengan ceritera-ceritera rakyat, dongeng, legenda se-tempat. Penyajian diiringi oleh tetabuhan, yang terdiri dari seperangkat alat musik tradisional, yang dinamakan Gamelan Banjar, terdiri dari  Babun (gendang), Dawu, Sarun (saron),  Kanung (kenong), Gong kecil, Kangdi, Sarunai, Gong besar dan Kalimpat.
Lagu-lagu dan irama yang sering dipakai adalah khas lagu dan irama Banjar, yaitu yang disebut  Irama aya-kan, irama perang cepat, perang alun (pelan), irama jinggung dan irama kanjaran. Kalau gamelan dibunyikan, akan terdengar irama dan lagu khas Banjar, yang sangat terasa adanya dominan irama dan nada Melayu.
Pementasan Tantayungan dimainkan seperti pada umumnya teater rakyat dengan gaya Teater Bangsawan, di mana gaya memainkan di samping improvisasi lewat dialog dan laku, sering kali dialog tersebut dinyanyikan.   Laku tersebut disertai dengan tarian, yang cara menyampaikan dengan cerita dengan lakuan dramatik dengan tidak melupakan unsur “humor” yang sering mendominasi sebagian besar dari pertunjukan tersebut.
Struktur jalannya pementasan Tantayungan, selalu dimulai dengan dibunyikan tetabuhan yaitu untuk memberi isyarat atau memberi tahu bahwa akan ada pertunjukan dan segera akan dimulai. Setelah menonton berkum-pul, maka dihidangkan tari-tarian sebagai pembuka pertunjukkan. Setelah penonton penuh, barulah pementa-san Tantayungan yang sebenarnya dimulai.
Sebagai pembuka ceritera, muncullah di arena permainan 3 (tiga orang dalang). Ketiga Dalang itu disebut Dalang sejati, Dalang Kasmaran dan Dalang Pengembar. Dalang-dalang ini bertugas menceriterakan ki-sah/ceritera yang akan dihidangkan dengan dipimpin oleh Dalang Sejati. Bahasa yang digunakan adalah ba-hasa Banjar yang dicampur dengan bahasa Kawi dan bahasa Bukit.  Tiga dalang biasanya juga berfungsi sebagai pembawa nyanyian-nyanyian (tembang, dendang), dan sering juga ikut bermain mengambil salah satu peran dalam ceritera.
Ceritera-ceritera yang dihidangkan dalam Tantayungan adalah ceritera-ceritera rakyat setempat, dalam bentuk legenda, ceritera sejarah, dongeng-dongeng, serta ceritera-ceritera kerajaan, antara lain ceritera Kerajaan Mangkur Laga,  Prabu Kesa, Pasir Tuya Siring Prada, Brahma Syahdan dan lain-lainnya
Seperti umumnya teater rakyat, Tantayungan mempunyai bentuk yang sangat sederhana dan dapat dimainkan di mana saja, di alam terbuka, di halaman rumah ataupun di halaman kebun yang berdekatan dengan kampung sekitarnya. Tetapi dalam perkembangannya, setelah memperolah pengaruh Teater Bangsawan (Wayang Bangsawan), maka pementasannya khusus dibuatkan “tempat untuk bermain”, yaitu tempat bermain dengan bedeng persegi empat yang atapnya terdiri dari tikar atau lampit yang disebut serobong. Serobong ini dibuat dari bambu dan merupakan bangsal tempat bermain, bangsal ini dihias dengan daun nyiur muda.
Tempat pementasan biasanya dilakukan dalam bentuk arena tapal kuda. Penonton menyaksikan pertunjukan mengelilingi tempat bermain. Satu sisi khusus untuk kelompok para pemain lengkap dengan alat musiknya. Tidak ada batas antara penonton dan tempat bermain. Pertunjukan terasa lebih akrab seperti sifat pertunjukan rakyat yang sederhana, akrab dan komunikatif. Penonton seolah-olah ikut serta terlibat dalam pertunjukan.
Perlengkapan (property) yang digunakan dalam pertunjukan sangat sederhana. Tidak memakai dekorasi (set-ting), di arena permainan hanya ada beberapa perlengkapan seperti :
1. sebuah meja di tengah-tengah arena.
2. Tongkat kecil bagi seluruh pemain.
3. Tombak- tombak pada waktu adegan perang.
Perlengkapan meja di tengah arena dapat berubah fungsi tergantung lokasi yang diinginkan oleh ceritera. Dapat menjadi meja yang sebenarnya atau pun dapat berubah menjadi tempat persembunyian atau menjadi “balai sidang” Istana Raja, dan sebagainya sesuai keinginan imaginasi ceritera.
Kostum pada Tantayungan, hampir sama dengan kostum pada teater rakyat Mamanda dan bahkan hampir sama pula dengan Wayang Gung. Semuanya menggunakan baju yang dihias dengan benang emas, hinga bajunya terlihat gemerlapan. Sedang busana umumnya yang digunakan pemain adalah:
1. Baju Taluk Balanga, yaitu baju tanpa kerah berbadan lebar, lengan panjang.
2. Celana pangsi, celana yang bawahnya lebar.
3. Laung tanjak siak, yaitu tutup kepala yang diikat pada bagian kiri.
4. Banyak di antara pemain memakai kumis (palsu).
Pakaian pemain semua sama, hanya Dalang yang agak berbeda, yaitu baju yang digunakan bermanik dengan memakai selempang di bahu. Dalang memakai sepatu, berkaos tangan dan kaos kaki panjang, serta memakai giwang.
Pementasan Tantayungan dilakukan pada malam hari, kira-kira dimulai jam delapan malam sampai larut ma-lam, bahkan sering sampai subuh pagi. Lama atau sebentar, pementasan tergatung pada minat penonton, setidak-tidaknya pasti sampai larut malam, paling cepat jam duabelas malam.
Secara kronologis jalannya pementasan Tantayungan sebagai berikut: setelah tari-tarian selesai dan muncul ketiga Dalang untuk membuka pertunjukkan dengan menjelaskan ceritera yang akan dihidangkan, adegan pembukaan ini disebut maucukani. Ketiga dalang tersebut berceritera secara bergantian dan menjelaskan ceritera apa yang akan dihidangkan. Setelah adegan ini selesai Dalang Sejati memerintahkan untuk mengun-dang “orang-orang” yang berada di gunung, di hutan, di gua-gua, di laut dan di danau untuk merestui dan me-ramaikan pertunjukkan (maksudnya: seluruh pemain supaya siap, pertunjukkan akan segera dimulai)
Umumnya ceritera selalu dibuka dengan adegan kerajaan baru dilanjutkan dengan ceritera lainnya. Dalam perjalanan ceritera sering diselipkan adegan ‘upacara adat-istiadat” yang dikaitkan dengan jalannya ceritera. Misalnya dalam ceritera tersebut ada “ceritera percintaan” dan diakhir dengan perkawinan. Maka muncullah dalam pertunjukakan tersebut adegan tata cara perkawinan Banjar, yaitu adanya upacara “bausung” dalam perkawinan, yaitu upacara mengelu-elukan kedua mempelai/pengantin dengan diusung di atas “penggen-dongnya”.
Setiap acara pengantin Banjar yang tradisional selalu dilakukan dengan upacara tersebut. Sehingga pertun-jukkan bertambah ramai.
Pada saat ini pertunjukkan teater Tantayungan salah satu jenis teater rakyat yang terdapat di Kalimantan Se-latan sudah hampir punah, dan jarang sekali dipertunjukkan. Namun masih ada yang tersisa dan masih dapat dipertunjukkan, yaitu Tantayungan yang terdapat di desa Ayuwang, kecamatan Haruyan, kabupaten Hulu sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Teater rakyat Tantayungan, sangat mirip dengan apa yang disebut Teater tradisional Wayang Gung, hanya ceriteranya saja yang berbeda. Pada Tantayungan, ceritera yang dihidangkan tentang dongeng, ceritera rakyat legende, tentang kerajaan.  Sedangkan cerita Wayang Gung,  yang dihidangkan bersumber pada Ramayana dan Mahabharata, seperti umumnya ceritera-ceritera Teater Wayang.
L  E  N  O  N  G
Teater Rakyat Betawi
Lenong merupakan teater rakyat Betawi. Apa yang disebut teater tradisional yang ada pada saat ini, sudah sangat berbeda dan jauh berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat lingkungannya, dibandingkan dengan  Lenong di jaman dahulu. Kata. daerah Betawi, dan bukan Jakarta, menunjukan bahwa yang di-bicarakan adalah “teater masa lampau”.  Pada saat itu, di Jakarta, yang masih bernama Betawi (orang Belan-da menyebutnya: Batavia)  terdapat 4 jenis Teater tradisional yang disebut Topeng Betawi,  Lenong,  Topeng Blantek;  dan   Jipeng atau Jinong. Pada kenyataanya keempat Teater rakyat tersebut banyak persamaaanya, yang berbeda umumnya hanya pada cerita yang dihidangkan dan musik pengiringnya yang berbeda
Lenong  menggunakan Gambang Kromong
Topeng Betawi  dengan  Tabuhan Topeng Akar
Topeng Blantek  dengan  Rebana Biang
Jipeng  atau  Jinong   dengan  Tanjidor
Kalau pada saat ini ada pertunjukan yang menggunakan Bahasa Betawi (Jakarte) pertunjukan tersebut selalu dinamakan Lenong, karena Lenong merupakan nama jenis teater yang paling dikenal masyarakat, sedangkan  yang lain hanya dikenal setempat di mana jenis teater  tersebut berada.
Menurut sejarahnya, teater tradisional Lenong, banyak mendapat pengaruh Teater Bangsawan. Dalam buku terbitan Dinas kebudayaan DKI-Jakarta Seni Budaya Betawi –Menggiring Jaman (Terbitan Th.1998), dis-ebutkan:
“Menurut sejarah sampai saat ini terdapat dua versi tentang asal-usul Teater Lenong yang sebenarnya masih berhubungan. Versi pertama mengatakan bahwa Teater Lenong mempunyai hubungan yang erat dengan bentuk teater di China.  Versi kedua secara tidak langsung memperlihatkan keterkaitan teater ini dengan bentuk Teater Parsi”.
Pengaruh Teater Bangsawan dapat dilihat dari cara penyajian di atas panggung dan iringan musiknya yang dinamakan Gambang Kromong banyak nama alat musiknya dari Cina.   Ada lagi jenis teater tradisional yang masih sekelompok dengan Lenong, yaitu yang disebut Wayang Senggol. Perbedaannya pada cerita yang disajikan dan sebagian cara menyajikan. Cerita yang dipentaskan umumnya mengambil cerita Panji, antara lain Jaka Semawung  dan  Candrakirana, sedangkan dalam penyajian apabila memperagakan perkelaian, dilakukan dengan gerak-gerak tari, dengan senggol-senggolan (sentuh-setuhan badan), dan apabila dalam perkelaian menggunakan gada (alat pemukul) mereka cukup menggunakan selendang saja. Semua dilakukan seperti pada Lenong, tetapi karena cara berkelahinya dengan senggol-senggolan, maka disebut Wayang Senggol.
Cerita yang dihidangkan banyak digali dari cerita rakyat dan legenda yang terdapat di daerah Betawi. Tokoh-tokoh “jagoan” dalam cerita rakyat seperti Si Pitung;  Ayub Jago Betawi; Si Jampang;  Nyai Dasima; dan lain sebagainya. Berdasarkan cerita yang dipentaskan terdapat dua jenis Lenong, yaitu yang disebut :
1. LENONG DINES, ceritanya sekitar secita Raja-raja jaman dahulu, lengkap dengan pakaian “resmi” (pakaian kebesaran raja, sultan) yang serba gemerlapan. Bahasa yang digunakan bahasa Melayu “tinggi” dengan sebutan: ayahanda, baginda, an lain-lain. Di sini terasa adanya pengaruh Teater Bang-sawan.  Bahkan memainkan cerita Seribu satu malam,  Johar Manik, Abu Nawas, atau Pangeran Hamlet saduran dari karya Shakespeare.
2. LENONG PREMAN, mementaskan cerita kehidupan rumah tangga masyarakat Betawi. Membawakan lakon tentang kehidupan ysmg sedang berlangsung saat itu. Boleh dikatan kehidupan sehari-hari masa itu, bukan dongeng atau cerita Sultan dan Raja,  mereka menggunakan kostum “orang Betawi” dalam kehidupannya sehari hari. Cerita paling populer adalah cerita kehidupan sehari, yaitu percintaan dan sekaligus juga yang bernuansa perjoangan, misalnya Nyai Dasima, Si Pitung.
Disebutkan bahwa Lenong banyak mendapat “masukan” dari Cina. Hal itu dapat terlihat bahwa musik pengir-ing Lenong, yang dinamakan Gambang Kromong  banyak “dinamakan” (terdengar sebagai nama bahasa Cina): tehiyang, kong ah yan, sukong dan sebagainya.
Nama Lenong baru muncul sekitar tahun 1926, ketika iringan musiknya diganti dengan Gambang kromong. Sebelumnya berbagai nama antara lain Wayang Dermuluk yang semuanya menggunakan dialog bahasa Me-layu, ketika itu iringan musiknya iringan musik “melayu”, yang terdiri dari:biola, kendang, tambur barongsai, kempul dan sambyan (sejenis mandolin). Dalam perkembangannya, Wayang Dermuluk setelah diadakan be-berapa perubahan baik back drop (layar belakang) atau pun salah satu alat musiknya, tambur barongsai di-ganti dengan tambur tanji, sejak itu disebut Wayang Sumedar.
Sampai saat ini masih dinamakan Lenong, meskipun sudah jarang dipertunjukan, hanya  sesekali dipertunju-kan untuk hajaran masyarakat di pinggiran kota.
LONGSER
Teater Rakyat Jawa Barat
Longser merupakan jenis teater tradisional yang bersifat kerakyatan.dan terdapat di Jawa Barat, termasuk kelompok etnik Sunda. Ada beberapa jenis teater rakyat di daerah etnik Sunda serupa dengan Longser, yaitu Banjet. Ada lagi di daerah (terutama, di Banten), yang dinamakan Ubrug.  Ada pendapat yang mengatakan bahwa Longser berasal dari kata melong (melihat) dan seredet (tergugah). Diartikan bahwa barang siapa me-lihat (menonton) pertunjukan, hatinya akan tergugah. Pertunjukan Longser sama dengan pertunjukan kesenian rakyat yang lain, yang bersifat hiburan sederhana, sesuai dengan sifat kerakyatan, gembira dan jenaka. Sebelum Longser lahir, ada beberapa kesenian yang sejenis dengan Longser, yaitu Lengger. Ada lagi yang serupa, dengan penekanan pada tari, disebut Ogel atau Dogger.
Longser sebenarnya merupakan kelanjutan dari Lengger dengan perbaikan dan perkembangan, lebih halus,  lebih ditingkatkan mutunya.
Pertunjukan Longser dapat dilakukan di mana saja, di halaman rumah, di lapangan terbuka, perlengkapan yang diperlukan seadanya, serta tidak juga menggunakan “dekorasi”.  Pementasan biasanya dilakukan dalam bentuk arena, di mana penonton berlingkar mengelilingi “tempat bermain” atau dalam bentuk tapal-kuda.
Pertunjukan Longser dapat dilakukan baik siang atau pun malam. Biasanya pertunjukan keliling dilakukan siang hari.  Apabila dilakukan pada malam hari, mereka menggunakan oncor/obor sebagai lampu penerang, diletakan di tengah tempat bermain. Perlengkapan lain yang digunakan untuk keperluan pementasan dapat dikatakan tidak ada, kecuali seperangkat alat musik untuk keperluan mengiringi dan mendukung pertunjukan.
Longser pada mulanya dilakukan sekedar sebagai hiburan masyrakat desa — saat senggang malam hari, un-tuk keperluan menghibur diri antar penduduk desa setempat. Pelaksanaannya diusahakan gotong royong antar warga. Pemainnyapun dicarikan warga yang ingin dan berminat untuk “bermain” menyanyi atau menari.
Dalam perkembangannya Longser semakin diminati. Bukan saja masyarakat lingkungannya, tetapi meluas hingga desa ata pun ke daerah lain. Kemudian sering dimanfaatkan untuk keperluan memeriahkan suasana dalam suatu hajatan. Akhirnya pertunjukan Longser berkembang dan menyebabkan adanya “pertunjukan- keliling” dari satu desa ke desa lainnya. Pertunjukan keliling tersebut berusaha mengumpulkan dana dengan cara ngamen, (memungut derma, sumbangan dari masyarakat yang menonton). Cara “pungutan” dalam per-tunjukan keliling ini, disebut nyawer.
Nyawer diedarkan kepada para penonton di tengah-tengah pertunjukan,  pada saat pertunjukan sedang menghidangkan “acara tambahan”, berupa lawakan atau nyanyian. Acara hiburan ini makin memuncak pada saat penonton diberi kesempatan untuk ikut menari dengan para ronggeng. Setelah menjadi rombongan yang lebih besar, Longser menghidangkan berbagai atraksi berupa tari, nyanyi, lawakan, silat dan drama, semua dipadu menjadi teater rakyat sebagaiman Longser yang dikenal kemudian.
Rombongan Longser ini biasanya dipimpin oleh seorang panjak.  Terdiri dari pemain gamelan pengiring yang disebut nayaga. serta para penari wanita yang disebut ronggeng. Di samping menari, ronggeng juga berperan sebagai pemain dalam Longser. Ronggeng inilah yang menjadi daya tarik Longser. Sebagai pertunjukan hibu-ran, Longser lebih banyak menyajikan atrasi yang bersifat hiburan dibanding dengan cerita yang disuguhkan.  Bentuk teater ini berkembang sampai ke daerah Cirebon.
Struktur pertunjukan Longser selalu dimulai dengan bunyi tetabuhan untuk mengundang penonton. Bunyi te-tabuhan merupakan pertanda akan adanya pertunjukan Longser. Setelah penonton berkumpul, kira-kira jam tujuh malam (setelah sembahyang Isya), mulailah pertunjukan dibuka dengan tetalu (lagu pembukaan). Per-tunjukan dilanjutkan dengan Tari Wawayangan, yaitu memperkenalkan seluruh penari wanita (ronggeng), yang nantinya akan menari dalam pertunjukan.  Menyusul kemudian Tari Uyeg (Keplok Cendol). Setelah itu barulah dimulai dengan cerita yang akan dimainkan.
Cerita-cerita yang dihidangkan merupakan cerita yang digemari oleh masyarakat lingkungannya, Cerita rakyat yang popular, cerita sketsa masyarakat, sesekali cerita dongeng atau sejarah. Sebagai hiburan masyarakat porsi terbanyak dalam menyajikan pertunjukan didominasi oleh tari-tarian dan lawakan. Tarian yang ditampil-kan, antara lain Tari Ujeg, Tari Layang-layang, Tari Serimpi, Pencak Silat,  Tari Ketuk Tilu dan lain-lain.
Tari Uyeg (Keplok Cendol), merupakan tari yang sangat digemari para penonton, karena sifatnya sangat ero-tik. Sering penonton menjadi histeris, bertepuk tangan dan berteriak gembira, ditingkahi  suitan-suitan  Se-dangkan Tari Ketuk Tilu bersifat lincah dan lazimnya dikombinasikan dengan pencak-silat. Untuk menambah keramaian pertunjukan, para pelawak dalam Longser pun ikut menari dengan tarian jenaka, di antaranya Ci-keruhan, Main Kartu, Tari Tani dan tarian lain yang bertemakan kehidupan rakyat jelata sehari-hari.
Peralatan musik tradisional yang digunakan diambil unsure yang pokok dalam gamelan, yang memang diper-lukan, seperti Gendang,  Terompet , Rebab,  Gong,  Ketuk  dan  Bedug. Musik membawakan lagu-lagu dae-rah Sunda yang populer, di antaranya Tatalu (intrumentalia) sebagai lagu pembukaan, lagu Gonjing untuk tari pembukaan, lagu Buah Kawung untuk mengiringi silat, agu Gerong/Seredet, Mitra. Jero, Bendrong Petit,  Sa-pu Nyere   dan banyak lagi.
UBRUG
Teater Rakyat Banten
Ubrug merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan, terdapat di daerah Banten. Menggunakan ba-hasa daerah: Sunda, campur Jawa dan Melayu, serupa dengan Topeng Banjet yang terdapat di daerah Ke-rawang. Ubrug dapat dipentaskan di mana saja, seperti halnya teater rakyat lainnya. Dipentaskan bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk memeriahkan suatu “hajatan”, atau meramaikan suatu “perayaan”. Untuk apa saja, yang dilakukan masyarakat, Ubrug dapat diundang tampil.
Cerita-cerita yang dipentaskan terutama cerita rakyat, sesekali dongeng atau cerita sejarah  Beberapa cerita yang sering di mainkan ialah Dalem Boncel, Jejaka Pecak, Si Pitung atau Si Jampang  (pahlawan rakyat se-tempat, seperti juga di Betawi). Gaya penyajian cerita umumnya dilakukan seperti pada teater rakyat, meng-gunakan “gaya humor” (banyolan), dan sangat karikatural  sehingga selalu mencuri perhatian para penonton.
Bentuk teater rakyat yang serupa dengan Ubrug ialah Topeng Banjet yang terdapat di Kerawang, Bogor dan Bekasi. Dahulu Topeng Banjet selalu memakai topeng, yaitu yang disebut Topeng Si Jantuk. Tetapi dalam pertunjukan sekarang, sudah jarang dipakai.  Meskipun susunan acara tak berbeda jauh dari Ubrug, namun atraksi tari dalam Topeng Banjet tidak begitu dominan. Tari-tarian hanya untuk melengkapi pertunjukan dan lebih bersifat “memeriahkan”.  Peralatan musik yang mengiringi tak berbeda jauh dari Ubrug, hanya dalam Topeng Banjet sering menggunakan tehian  (rebab leher panjang) dan kecrek. Cerita yang dihidangkan antara lain Si Jantuk dan Sarkawi.
KETOPRAK
Teater Rakyat Jawa Tengah
Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan Ketoprak. Di daerah-daerah tersebut Ketoprak merupa-kan kesenian rakyat yang menyatu dalam kehidupan mereka dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya se-perti Srandul dan Emprak.
Pada mulanya Ketoprak hanya merupakan permainan orang-orang desa yang sedang menghibur diri dengan menabuh lesung pada waktu bulan purnama, yang disebut  gejogan. Dalam perkembangannya menjadi suatu bentuk teater rakyat yang lengkap.
Permainan orang desa dengan memukul lesung yang berirama tersebut dikembangkan, ditambah dengan peralatan musik: gendang, terbang, suling ditambah nyanyian, kemudian dikembangkan lagi dengan cerita kehidupan rakyat petani di desa sekeliling. Lahirlah pertama-tama yang disebut Ketoprak Lesung, diperkirakan sekitar tahun 1887. Baru pada sekitar tahun 1909 untuk pertama kalinya dipentaskan Ketoprak yang sudah berbentuk pertunjukan lengkap.
Ketoprak pertama yang secara resmi dipertunjukan di depan umum ialah Ketoprak Wreksotomo, yang diben-tuk oleh Ki Wisangkoro. Seluruh pemainnya adalah pria. Cerita yang dipentaskan masih sangat sederhana, dengan cerita kehidupan masyarakat desa sekelilingnya seperti Warso-warsi,  Kendono Gendini, Darmo-Darmi dan lain-lainnya. Baru setelah itu perkembangan Ketoprak sangat maju dan digemari oleh masyarakat lingkungannya, terutama berkembang di daerah Yogyakarta.
Perkembangan Ketoprak yang dimulai dari permainan lesung, kemudian berubah menjadi pertunjukan Keto-prak lengkap, dengan cerita dan gamelan sebagai pengiring. Masih ditambah dengan pengaruh pertunjukan Sandiwara Bangsawan yang menyelinap masuk. Urutan perkembangan Ketoprak dapat disusun sebagai be-rikut :
1. Kotekan Lesung: Bunyi-bunyian dari lesung, merupakan “permainan rakyat” sebagai hiburan di saat senggang sesudah bekerja seharian di sawah.
2. Ketoprak Mula: Dikembangkan dari kotekan lesung, ditambah tari-tarian dan cerita                   sederhana kehidupan petani sehari hari.
3. Ketoprak Lesung: Sudah merupakan pertunjukan Ketoprak yang lengkap, dengan cerita rakyat yang di-kenal oleh masyarakat lingkungannya dan diiringi kotekan lesung dengan ditambah suling, gendang dan terbang sebagai pengiring pementasan.
4. Ketoprak Gamelan: Perkembangan wujud pertunjukan yang semakin lengkap dengan penambahan pada peralatan musik pengiring. Cerita yang dimainkan umumnya mengambil cerita Panji, Babad, atau sejarah. Ada kalanya juga mengangkat cerita Seribu Satu Malam. Meskipun belum menggunakan panggung se-bagai tempat bermain, Ketoprak bentuk ini sudah mulai dipertunjukkan di pendapa (ruangan yang terbuka di bagian depan rumah orang Jawa yang mampu, merupakan ruang tamu yang terbuka dan cukup luas sebagai tempat pertunjukan).
5. Ketoprak Ongkek: Tidak seluruh desa mempunyai kelompok Ketoprak. Karena itu muncullah Ketoprak Ongkek, yaitu rombongan Ketoprak yang berkeliling dari satu desa ke desa lainnnya. Dapat bermain ka-pan saja dan di mana saja, baik siang atau pun malam. Rombongan terdiri dari sejumlah pemain wanita dan pria, yang sering merangkap sebagai penabuh gamelan. Menggunakan perlengkapan pementasan sederhana dan dapat dipikul.  Ada juga yang menyebut rombongan ini sebagai Ketoprak Barangan.
6. Ketoprak Panggung : Setelah ada pengaruh Sandiwara Bangsawan, pertunjukannya mulai dilakukan di panggung, dengan cerita-cerita campuran. Maka dimulailah pertunjukan yang bersifat komersial, dalam pengertian penonton harus membayar karcis. Cerita-cerirta diadaptasi dari dongeng luar negeri yang ter-kenal.
Pada akhir tahun delapanpuluhan orang masih sempat menyaksikan Ketoprak yang dimainkan di panggung, seperti misalnya di Sriwedari Solo, Yogyakarta, Semarang. Bahkan di Jakarta, sesekali masih dapat dilihat di Gedung Bharata (Senen). Puncak ketenaran Ketoprak Panggung yang merupakan perkembangan terakhir adalah Ketoprak “Siswo Budoyo” dari Tulungagung, Jawa Timur. Berkembang sangat pesat dengan beragam pembaruan “teknik”, sehingga memiliki daya tarik yang memikat dan digemari masyarakat.
Cerita-cerita yang dihidangkan dalam Ketoprak Panggung ini sangat bervariasi. Mulai dari cerita rakyat yang populer seperti Ande-ande Lumut, Joko Tarub, Loro Mendut, Joko Bodo, Damarwulan,  sampai yang bertema kepahlawanan seperti Arya Penangsang, Ronggolawe, cerita babad, dongeng, legenda. Dari cerita Panji di-pentaskan antara lain Kelana Sewandono, Panji Asmorobangun.  Bahkan cerita dari luar pun disadur atau diambil jalan ceritanya. Misalnya karya Shakespeare, Hamlet, Pangeran dari Denmark atau cerita Sampek Engtay. Tidak ketinggalan cerita Seribu Satu Malam dari Sandiwara Bangsawan yang pada saat itu sedang mulai mengembangkan sayapnya dari Sumatra ke Jawa, ikut dipentaskan.
Tata busana para pemain disesuakan dengan cerita yang terjadi. Misalnya pementasan cerita: “Pangeran Wiroguna”, pakaian yang dipakai pemain ada-lah pakaian resmi pangeran Jawa waktu itu. Untuk para praju-ritnya dalam cerita diguna-kan pakaian prajurit jaman itu.  Namun ada juga pakaian pemain yang dibuat khu-sus yang mempunyai arti simbolik, misalnya warna pakaian umumnya hitam, kemudian diru-nah warnanya putih, untuk tokoh suci, dan warna merah untuk tokoh pemberani, dan se-bagainya. Kostum cerita sejarah Jawa, misalnya memakai pakaian:Kejawen.
Untuk cerita Seribu satu malam , digunakan  pakaian yang berkilauan, (mengkilat semacam sutera) disebut gaya “Mesiran” dengan cerita seperti  Johar Manik.  Kostum yang digunakan pemain Wayang Orang sering juga digunakan dalam pertunjukan Ketoprak, misalnya cerita Angling Darmo, atau Damarwulan – Menakjinggo. Kostum Mesiran (pengaruh Sandiwara Bangsawan)  atau  kostum Wayang Orang, sering digunakan untuk pertun-jukan Ketoprak di daerah pesisir utara pulau Jawa.
Dalam perkembangannya muncul tata pakaian yang baru unruk Ketoprak yang disebut Pakaian Basahan, yaitu semacam pakaian kejawen  tetapi dicampur dengan lainnnya. Terdiri dari kain batik, baju beskap dan serban (sering juga dengan jubah). Pakaian basahan ini dipakai dalam cerita Menak atau cerita para Wali. Jika tidak disertai jubah, pakaian tersebut mirip dengan pakaian abdi golongan “ulama” dalam istana raja.
Seperti umumnya teater tradisional lainnnya di Indonesia, Ketoprak menggunakan media ungkap Laku dan dialog, tari dan nyanyi lengkap dengan iringan musiknya. Semanya dijalin secara terpadu. Pertunjukan Keto-prak yang masih mengikuti pakem dan pola lama, dalam menyajikan cerita selalu menggunakan tembang (nyanyian) pada saat  mulai membuka percakapan, malah dialog selanjutnya sering dinyanyikan.
Salah satu ciri utama Ketoprak adalah nembang (menyanyi) dan menari (waktu keluar-masuk panggung dila-kukan dengan gerak-gerak yang indah) dan selalu diiringi alunan musik. Tembang dalam Ketoprak mempunyai fungsi bukan saja sebagai pengiring adegan, tetapi juga untuk memperindah percakapan yang akan dis-ampaikan, waktu menyampaikan isi hatinya kepada pemain lain, waktu menyampaikan monolog atau saat dalam suasana penceritaan ergantian adegan atau dalam puncak konflik, semua dapat dilakukan dengan nembang.
Peralatan musik yang paling sederhana, ketika masih periode Ketoprak Ongkek, Gndang, suling, terbang, keprak. Kemudian ditambah lagi, (sebelum sebagai “Gamelan lengkap”), berupa: Saron, Ketuk, Kenong, Kempul, Gong Bumbung atau Gong Kemada. Sedangkan apabila lengkap digunakan “gamelan biasa”,
Ketoprak, merupakan salah satu bentuk tater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Bahasa sangat memperoleh perhatian, meskipun yang digunakan bahasa Jawa, namun harus diperhitungkan masalah unggah-ungguh bahasa. Dalam bahasa Jawa terdapat tingkat-tingkat bahasa yang digunakan, yaitu :
1. Bahasa Jawa biasa (sehari-hari)
2. Bahasa Jawa kromo (untuk yang lebih tinggi)
3. Bahasa Jawa kromo inggil (yaitu untuk tingkat yang tertinggi)
Menggunakan bahasa dalam Ketoprak, yang diperhatikan bukan saja penggunaan tingkat-tingkat bahasa, tetapi juga kehalusan bahasa sangat diperhatikan. Karena itu muncul yang disebut Bahasa ketoprak, bahasa Jawa.dengan bahasa yang halus dan spesifik.
LANGENDRIYAN
Teater Klasik Yogyakarta
Langendriyan  merupakan bentuk teater tradisional yang bersifat klasik dan merupakan teater dalam bentuk opera. Langendriyan berasal dari kata langen yang artinya hiburan, dan kata driya artinya hati. Langen Driya dapat diartikan penghibur hati, hiburan hati yang bermutu tinggi, karena Langendriyan biasanya dimainkan di istana raja yang dengan sendirinya dituntut bermutu tinggi.
Di Yogyakarta Langendriyan lahir pada tahun 1876, dan sebagai penyusun ialah Raden Tumenggung Purwo-diningrat dengan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi, putera mahkota dari Kasultanan Yogjakarta. Sedangkan di Surakarta Langendriyan yang pertama digubah oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mantunegara V dan Raden Mas Harja Tandakusuma pada tahun 1881. Bentuk pertunjukan Langendriyan adalah bentuk teater dengan media ekpresi dialognya dilakukan dengan nyanyian (seperti opera) dan ekpresi lainnya dilakukan dengan laku dan tari, tariannya dengan posisi jongkok dengan pemin semua pria (pada mu-lanya). Sedangkan di Surakarta semua pemain adalah wanita dan mempergunakan posisi biasa berdiri. Lan-gendriyan bentuk dapat dikatakan opera tari.
Ceritera yang dibawakan oleh Langendriyan selalu ceritera Damarwulan, ceritera yang terjadi di jaman Maja-pahit. Peran dalam lakon yang dimainkan adalah tokoh Damarwulan dan Menakjingga. Tidaklah heran apabila opera tari ini sering juga disebut sebagai:  Langendriyan Damarwulan-Menakjingga.   Dalam perkemban-gannya di Yogjakarta pemain tidak hanya pria tetapi juga wanita.
Pertunjukan yang hampir sama dengan Langendriyan adalah Langen Mandra Wanara.  Langen berarti hiburan, Mandra berarti banyak, Wanara berarti kera. Secara keseluruhan berarti Hiburan yang berupa tari-tarian kera, yang digubah pada tahun 1895. Cara pementasannyapun seperti pada Langendriyan, hanya ceritera saja. yang berbeda, yaitu membawakan ce¬ritera Ramayana, mengambil episode menggambarkan perang antara Rama dan Rahwana. Rama dibantu oleh pasukan kera pimpinan Sugriwa.
Memainkan “opera tari” gaya Yogyakarta ini tidaklah mudah, sebab para pemainnya dituntut bukan hanya bermain drama, pandai menari sekaligus juga harus dapat “nembang” (menyanyi) yang harus terpadu pada saat yang bersamaan. Cara menari dengan jongkak saja merupakan hal yang harus tekun dilatih, menari dengan jongkok, menyanyi, bergerak dan sekaligus bermain drama.
Langendriyan dipentaskan di “ruang pendopo” istana dan ditonton khusus oleh para keluarga istana, para pangeran dan sering bersama Raja. Pertunjukan dalam bentuk “arena”, tidak ada dekor atau perlengkapan lain. Karena bermain di depan Raja, maka tariannya pun harus dilakukan dengan menghormat, yaitu tidak boleh berdiri, tetapi harus dengan jongkok. Karena untuk keperluan tontonan/hiburan Raja maka mutu harus diusahakan sebaik mungkin, tinggi mutunya. Para pemain khusus dilatih dan berbakat untuk dapat menyanyi, menari dan berperan drama. Perkembangan Langendriyan sangat terbatas, karena hanya untuk tontonan di istana, baru belakangan dicoba dipertunjukan diluar istana, tetapi umumnya hanya untuk keperluan pengem-bangan pendidkan seni tari.
Di Surakarta kemudian timbul gubahan-gubahan baru, yang disebut : Langen Asmoro dan Pranasmara yang menggunakna posisi berdiri. Langen Asmara gaya Surakarta ini digubah oleh Pangeran Prabu Widjaya putera Sunan Paku Buwana IX, sedang ceritera yang dibawakan diambil dari ce¬ritera Menak dengan thema yang diambil masalah peralatan dan seluruh pemainnya adalah penari wanita, seperti halnya Langen driyan dari istana Mangkunegaran. Pranasmara, sebangsa Langendriyan juga dengan ceritera Panji ceritera sejarah ja-man Kediri, para pemainya pun wanita semua.
LUDRUK
Teater Rakyat Jawa Timur
Ludruk merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan di daerah Jawa Timur, berasal muasal dari dae-rah Jombang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran. Dalam perkem-bangannya Ludruk menyebar ke daerah-daerah sebelah barat, karesidenan Madiun, Kediri dan sampai ke Jawa Tengah. Ciri-ciri bahasa dialek Jawa Timuran tetap terbawa meskipun semakin ke barat makin luntur nenjadi bahasa Jawa setempat.
Jombang merupakan daerah kelahiran Ludruk. Sebelum ada Ludruk di daerah Jombang telah terdapat bebe-rapa jenis kesenian rakyat seperti sandur, kuda lumping, wayang gedog, wayang krucil dan lain-lainnya. Suatu ketika seorang benama Pak Santik, di desa Ceweng, kecamatan Jombang, yang menpunyai sifat humoris, lucu, didesak oleh kebutuhan hidup. Ia berkeliling seorang diri sambil menari dan nenyanyi dan sedikit berce-ritera, lalu memperoleh uang untuk kegiatannya itu. Dari sinilah lahir apa yang disebut Lerok Barangan suatu bentuk Ludruk yang mula-mula dan dilakukan seorang diri. Dalam perkembangannya nanti ada juga yang disebut Lidtuk Garingan, yaitu Ludruk yang dimainkan seorang diri dengan tidak diiringi oleh tabuhan apa pun.
Selang beberapa lama pak Santik memerlukan dan mencari seorang teman yang dapat bermain lucu. Dipili-hlah seorang temannya, bernama pak Pono. Ia bermain sebagai lawan pak Santik, tetapi memainkaa peran wanita yang disebut wedokan (laki-laki bermain sebagai wanita). Di samping itu pak Santik masih dibantu oleh seorang teman lagi bernama pak Amir. yang bertindak sebagai penabuh gendang. Maka lengkaplah suatu pertunjukan dengan dua pemain – sebagai laki-laki dan perempuan — dan seorang penabuh.
Dalam mengembangkan Lerok Barangan ini pak Santik menambah unsur-unsur lain dengan meniru pertunju-kan rakyat yang telah ada seperti sandur, kuda lumping dan lainnya. Semua diambil sesuai kemampuan pak Santik.  Semakin lama anggota Lerok Barangan semakin bertambah.
Kemudian masuklah seorang bernama Djamino, yang mula-mula menjadi penggemar Lerok Barangan, tetapi kemudian tertarik untuk menjadi anggota.  Moenadi jadi anggota dan memberikan nama baru yaitu Ludruk, dengan  prinsip utama pertunjukan untuk menghibur masyarakat yang menderita.
Ceritera-ceritera yang dihidangkan sebenarnya hanyalah sketsa-sketsa kehidupan dalam masyarakat, kemu-dian sedikit dikembangkan dengan ceritera perjuangan melawan penindasan, atau kesemena-menaan. Pan-tun-pantun Ludruk yang dinyanyikan sangat terkenal  sebagai sindirin, sehingga di jaman apa pun Ludruk selalu diamat-amati oleh polisi..Dalam pertunjukan Ludruk selalu ada sindiran yang ditujukan kepada sesuatu yang tidak disenangi, atau kritik terhadap sesuatu.
Di pasar malam Bondowoso di Jaman Belanda, pada suatu kali ada pertunjukan Lu¬druk. Pemainnya adalah pak Pomo, tembangnya, (nyanyian pantunnya) berbunyi sebagai berikut:
Jumuah Legi nyang pasar  Genteng
Tuku bapel nyang Wonokromo
Merah putih kepala banteng
Genderane dokter Soetomo
Artinya :
-   Hari Jumat pagi pergi ke pasar genteng
Membeli bapel ke Wonokromo
Merah putih kepala banteng
Benderanya doktar Soetomo
Ketika itu ada seorangs komisaris polisi Belanda kemudian meloncat ke panggung kemudian membentak P. Pomo pemain Ludruk tersebut “Masuk bui, atau pulang“ yang dijawab oleh P. Pono dengan singkat “Mantuk mawon, ndoro !” (Pulang saja, tuan !). Di Surabaya pada jaman penjajahan Jepang, ada juga kejadian yang sangat terkenal dengan pemain Ludruk yang bernamai Cak DoerRasim dengan ucapannya :
- Pagupon omahe doro.
Melok Nipon tambah soro
Artinya:
-  Pagupon itu rumah burung dara
Ikut Jepang menjadi tambah sengsara
Demiklan pengaruh “parikan” (sindiran) yang dilakukan dalam pertunjukkan Ludruk sangat besar pengaruhnya. Dan ini menjadi salah satu ciri Ludruk di Jawa Timur, dengan lagu dan liriknya yang spesifik Jawa Timuran. Oleh karena itu Ludruk sering dijadikan alat untuk  “propaganda” atau alat penerangan.
Struktur pertunjukan Ludruk selalu dibuka dengan :
a. Tari Ngremo, merupakan tarian pembukaan, biasanya seorang diri pakaiannya ter
diri dari: Ikat kepala merah, baju celana hitam panjang dan ada hiasannya diperut.
b. Kemudian dilanjutkan dengan Besutan, biasanya dengan nyanyiannya sindiran
dan membuka ceritera. Pakaian Besutan ialah Kopiah Turki, tak berbaju, tetapi
dengan rompi. Pemain biasanya bermain “lucu”, menyanyi dan menari.
c. Masuk ke ceritera yang dihidangkan, tokoh-tokonya dalam ceritera tersebut umumnya
bernama Mas Jamino – Dik Asmunah dan ditambah Sarinten, dan lain-laianya.
Setiap permainan selalu dimasukkan “gaya dagelan”
Peralatan musik daerah yang digunakan ialah : kendang, cimplung, jidor dan gambang dan sering ditambah tergantung pada kemampuan group yang memainkan Ludruk tersebut. Dan lagu-lagu (gending) yang di-gunakan yaitu yang disebuti :
- Parianyar                   – Beskalan                 – Kaloagan                           -
- Jula-juli                     – Samirah                  – Junian,
Pemain Ludruk semuanya adalah pria. Untuk peran wanitapun dimainkan oleh pria. Hal ini merupakan ciri khusus Ludruk. Padahal sebenarnya hampir seluruh Teater Rakyat diberbagai tempat, pemainnya selalu pria (Randai, Dulmuluk, Mamanda, Ketoprak), karena pada jaman itu wanita tidak diperkenankan muncul didepan umum.
Ludruk sering juga disebut Ludruk Besutan, karena ada yang disebut : Ludruk Garingan (yaitu Ludruk yang dimainkan seorang diri dan menggunakan mulutnya sebagai alat musik). Ludruk selalu menampilkan ceritera kehidupan rakyat kecil (sebenarnya sketsa-sketsa dalam masyarakat).
Tokoh utama dalam cerita Ludruk selalu mas Jumeno dan dik Asmunah yang mewakili tokoh rakyat kecil. Jumeno, Jamino. Namun sekarang sering dikembangkan ceritera lain yang lebih menarik, namun tidak pernah meninggalkan tokoh Jumeno dan Asmunah.
TEATER TRADISIONAL DI BALI DAN LOMBOK
Teater tradisional kelompok Bali yang dimaksud adalah kelompok yang mempunyai latar belakang budaya yang dominan yang bersumber dari budaya etnik Bali termasuk Lombok. Merupakan kelompok teater tradi-sional yang spesifik, karena erat kaitannya dengan kehidupan budaya dan agama masyarakatnya, merupakan teater tradisioanl yang masih hidup segar dalam fungsi relijinya. Hampir tidak ada satu kegiatan upacara keagamaan tanpa unsur tari dan nyanyi serta musik (tanpa unsur kesenian).
Jenis teater dalam uraian berikut mempunyai kesamaan latar belakang budaya Bali yang dominan.  Dengan gamelan Bali yang “sama” susunannya dengan Jawa, tetapi mempunyai irama dan nada yang berbeda. Gaya dan irama gamelan Bali terasa dinamik, dengan tarian dan gerakan yang ekpresif. Kelompok tersebut antara lain adalah Gambuh, Arja, Topeng Prembon di Bali dan  teater tradisional yang terdapat di  Lombok
Kesenian dan kehidupan di Bali menjadi satu, terpadu dan saling memerlukan. Berkesenian bagi masyarakat Bali merupakan bagian dari kegiatan kehidupannya. Dapat dikatakan seluruh masyarakat Ba¬li adalah seni-man, setidaknya tiap orang Bali dapat “berkesenian”. Kalau tidak pandai menari atau menabuh musik, maka ia menjadi pelukis atau pemahat. Paling tidak menjadi perajin atau tukang dalam kegiatan kesenian.
Ciri lain yang spesifik untuk kelompok Bali adalah bahwa bentuk teaternya lebih didominasi oleh tari dibanding drama dan lakunya. Merupakan pertanda juga bahwa tiap teater Bali kuat di gerak yang ekpresif. Beberapa jenis Teater Tradisional Bali yang akan dibicarakan, semua didominasi oleh gerak (tari).
GAMBUH
Teater Tradisional Bali
Gambuh merupakan teater tradisional yang paling tua, diperkirakan berasal dari abad ke-16. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Bali kuno dan terasa sangat sukar dipahami oleh orang Bali sekarang. Tariannya pun terasa sangat sulit karena merupakan tarian klasik yang bermutu tinggi. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau Gambuh merupakan sumber dari tari-tarian Bali yang ada. Sejarah Gambuh telah dikenal sejak abad ke-14 di jaman Majapahit dan kemudian masuk ke Bali pada akhir Jaman Majapahit. Di Bali, Gambuh dipelihara di Istana raja-raja.
Kebanyakan lakon yang dimainkan Gambuh diambil dari struktur ceritera Panji yang diadopsi ke dalam bu-daya Bali. Ceritera-ceritera yang dimainkan di antaranya adalah Damarwulan, Ronggolawe dan Tantri. Peran-peran utama menggunakan dialog berbahasa Kawi, sedangkan para punakawan berbahasa Bali. Sering pula para punakawan menerjemahkan bahasa Kawi ke dalam bahasa Bali biasa.
Suling dalam Gambuh yang suranya sangat rendah — dimainkan dengan teknik pengaturan nafas yang sangat sukar, mendapat tempat yang khusus dalam gamelan yang mengiringi Gambuh, yang sering disebut gamelan “Pegambuhan”. Gambuh mengandung kesamaan dengan “opera” pada teater Barat, di mana unsur musik dan menyanyi mendominasi pertunjukan. Oleh karena itu para penari harus dapat menyanyi. Dan pusat kendali gamelan, di lakukan oleh juru “tandak”, yang duduk di tengah gamelan dan berfungsi sebagai penghubung antara penari dan musik. Di samping dua atau empat suling, melodi pegambuhan dimainkan dengan rebab bersama seruling. Peran yang paling penting dalam gamelan adalah pemain Kendang lanang atau disebut juga kendang pemimpin. Dia memberi aba-aba pada penari dan penabuh.
Gamelan dalam Gambuh mempunyai peranan yang sangat penting, karena ia berfungsi menonjolkan suasana (“mood”) permainan dan juga penonjolan dramatisasi serta perwatakan. Lagu-lagu pegambuhan diduga merupakan musik tradisi yang klasik dan tertua, yang sangat mempengaruhi gending-gending dan pengiring seni pertunjukan di Bali. Hampir semua lagu-lagu dan musik pengiring berbagai seni pertunjukan di Baliber-sumber dari melodi dan struktur musik dari pegambuhan.
Ceritera dalam Gambuh pada pokoknya mengisahkan peperangan dan perjalanan serta perjuangan antara Panji dan Candra Kirana Sepasang muda-mudi yang sedang bercintaan. Tokoh panakawan dalam ceritera ini yang mempunyai fungsi bukan saja menggerakkan “lelucon” dan “memancing tawa” bagi penonton, tetapi juga merupakan penengah antara tokoh utama dan penonton. Tokoh utama biasanya menggunakan bahasa Kawi yang tidak dimengerti oleh penonton, tetapi diterjemahkan oleh Panakawan.
Menurut tradisi, pemeran Gambuh hanya dimainkan oleh pria. Namun dalam perkembangannya wanita pun dapat ikut bermain, bahkan sekarang sering juga peran “putra manis” dimainkan oleh wanita. Gambuh tidak menggunakan topeng, tetapi menggunakan tata rias yang tebal dan agak berlebihan. Prabu (raja) selalu me-makai jenggot palsu, sedangkan tokoh Panji mempergunakan kumis yang kecil.
Kostum yang digunakan pada Gambuh, sama dengan yang digunakan pada berbagai jenis teater yang ada di Bali, yaitu dibedakan antara kostum untuk pria dan kostum untuk wanita. Kostum ini sejenis — baik untuk to-koh manis ataupun tokoh keras — namun mencerminkan kebudayaan Bali asli dan tidak mengenal jaman atau periode tertentu. Beberapa contoh untuk kostum pemain pria, ialah “baju” (jaket pendek dari beludru, berwarna hitam, putih atau merah).
Untuk peranan ada juga saput berupa jubah lebar yang dihiasi oleh prada, diikatkan di bawah ketiak menjulur ke bawah sampai lutut. Sedangkan peranan wanita, terdiri dari lamak, berupa sehelai kain yang dihias prada dan digantungkan didepan dada, kain perada, semacam sarung yang dikenakan oleh wanita dan “ampok-ampok” berupa hiasan pinggang yang dibuat dari kulit yang ditatah dan dihiasi dengan perada.
Meskipun seluruhnya merupakan kostum dengan unsur budaya Bali, namun karena ceriteranya berasal dari Jawa, maka  unsur kostum Jawa pun dimasukkan juga, misalnya “sampur”, selendang panjang yang dipakai oleh pemain wanita, yang masih dapat dilihat dalam tarian Jawa. Juga sinjang, semacam kain panjang yang dipakai pemain wanita dan diapit di antara kedua kakinya, serta menjulur di atas tanah. Gelungan (sanggul) yang berasal dari Jawa, disesuaikan dengan tokoh yang diperankan. Gelungan ini dihiasi bunga-bunga yang segar dan dupa yang sedang dibakar.
Gambuh termasuk salah satu seni pertunjukan yang berumur paling lama di Bali. Gambuh kuno diikuti oleh gamelan “pegambuhan” yang ditirukan suara seruling, dipersembahkan oleh penari-penari yang berbakat dan menyanyi menyesuaikan “wawankatanya” dengan suara gamelan tersebut. Gambuh dikagumi karena kein-dahan bentuk dan persembahannya sebagai intisari kesenian Bali.
Gambuh sebenarnya telah ada sejak jaman kejayaan Majapahit dan bermutu tinggi. Pada permulaan abad ke-16, kerajaan Majapahit mengakhiri masa kejayaannya di Pulau Jawa dan berpindah secara besar-besaran ke Pulau Bali. Di Bali kebudayaan Hindu berkembang tanpa gangguan. Sejak itu Gambuh yang ada di kerajaan Majapahit berpindah ke Bali dan tata busana pun disesuaikan dengan adat Bali. Ditambah pula yang paling mengesankan terlihat pada wujud gerak tari, di mana perbendaharaan gerak tari Bali yang asli digabungkan dengan unsur tari Hindu-Jawa. “Seledet” (gerakan mata), merupakan ciri khas tari Bali pada jaman pra-Hindu, tidak terdapat dalam tarian Jawa.
Tarian-tarian di Bali pada jaman pra-Hindu tidak memiliki ceritera. Dengan hadirnya Gambuh di Bali, maka Gambuh dapat dikatakan memasukkan unsur ceritera ke dalam tarian Bali. Dari hadirnya ceritera dalam seni pertunjukan di Bali, maka timbullah unsur drama dengan segala aspeknya, timbul “laku” dan dialog, sehingga lengkaplah seni pertunju¬kan dengan segala keterpaduan unsur-unsurnya yang merupakan konsep seni per-tunjukan yang bersifat Asia, yaitu dengan unsur tari, musik dan drama.
Sesuai dengan apa yang terurai dalam naskah-naskah kuno, seni pertunjukan dari kerajaan Hindu-Jawa pada dasarnya merupakan seni yang bersifat sekuler, namun aspek-aspek ritual tertanam di dalamnya. Tempat pementasan Gambuh, seperti juga teater tradisional lainnya, dilakukan di alam terbuka. Di Bali dilakukan di dekat pura. Pementasan Gambuh dilaksanakan di “jaba tengah” dari pura-pura di Bali, yaitu sebuah halaman yang tidak sakral atau pun profan. Halaman pura ini menjadi jembatan untuk memasuki “joroan pura”, halaman dalam yang sakral. Pada saat ada upacara keagamaan yang besar, sekelompok orang berkumpul di “jaba tengah” sebelum mereka memasuki tempat atau ruangan suci untuk mempersembahkan sesajen dan melakukan sembahyangan. Halaman ini penuh dengan berbagai macam kegiatan.
Saat Gambuh akan dipentaskan, dibuatlah sebuah panggung sementara yang dinamakan “kalangan” (sebuah tampat untuk pementasan kesenian Bali). Kalangan terdiri dari “stage area” (panggung) yang bentuk empat persegi panjang, kemudian tempat tersebut dikelilingi oleh pagar bambu setinggi 30 (tiga puluh) sentimeter yang berfungsi un¬tuk membatasi penonton dan pemain. Kalangan tersebut dihias dengan bermacam dedaunan yang merupakan hiasan khusus di Bali. Di sisi-sisinya dipancangkan tombak-tombok dan payung upacara sebagai hiasan atau dekorasi.
Perkembangan Gambuh agak “tersendat” karena tingkat kesulitan yang tinggi dalam memainkannya. Baik tari-tarian atau pun nyanyiannya, Gambuh sangat tidak mudah sehingga jarang dipertunjukkan. Namun sekarang digalakkan kembali.
Gambuh dipakai sebagai sumber dari dramatari lainnya di Bali, karena menyediakan pola-pola gerak yang rumit, namun indah. Ide stukturnya sangat menarik sebagai sumber pengkajian, khususnya perihal masuknya unsur cerita dalam pertunjukan tari di Bali.
ARJA
Teater Rakyat Bali
Arja merupakan jenis teater tradisional yang bersifat kerakyatan, dan terdapat di Bali. Seperti bentuk teater tradisi Bali lainnya, Arja merupakan bentuk teater yang penekanannya pada tari dan nyanyi. Semacam gend-ing karena yang terdapat di daerah Jawa Barat (Sunda), dengan porsi yang lebih banyak diberikan pada ben-tuk nyanyian (tembang). Apabila ditelusuri Arja bersumber dari Gambuh yang disederhanakan unsur-unsur tarinya, karena ditekankan pada tembangnya. Tembang (nyanyian) yang digunakan memakai bahasa Jawa Tengahan dan bahasa Bali halus yang disusun dalam tembang macapat.
Pada waktu menyanyi (nembang), suara gamelan merendah, supaya kita dapat mendengarkan kata yang dinyanyikan. Meskipun pada mulanya seluruh pemain pria, namun dalam perkembangannya justru lebih ba-nyak pemain wanita karena penekannya pada tari dan nyanyian.
Bentuk dan asal-usul Arja bermula dari bentuk Teater Dadap yang terdapat pada akhir abad ke-18 di daerah Klungkung. Pementasan Dadap sangat sederhana, tidak dengan dekor (layar). Semua pemain mengelompok pada sisi bagian kanan atau kiri dari area pertunjukan dan semua penari berjongkok sambil menunggu giliran untuk menari. Para pemain memasuki “arena” dengan menari, disusul dengan menyanyi (menembang). Dialog yang diucapkan para peran pun sering dipalsukan dengan menyanyi, meskipun dalam Teater Dadap tidak ada iringan musik. Tidak menggunakan perlengkapan musik tradisional, melainkan hanya menyanyi saja. Ceritera yang sangat terkenal dalam Teater Dadap adalah ceritera Kesayang Lembur, berisi sindiran terhadap I Gusti Ayu Karangasem. Arja yang mengambil pola Teater Dadap yang sudah dikembangkan (dengan penambahan alat-alat musik) disebut Arja Dadap. Kemudian timbullah Arja-Arja lainnya dengan lakon yang berbeda-beda.
Arja pada umumnya mengambil lakon dari Gambuh, yaitu bertolak dari ceritera Panji, tetapi nama-nama raja Jawa Timur sudah tak dikenal lagi atau diganti dengan nama lain. Ada kalanya nama tersebut dipersingkat, diperpendek. Misalnya disebut Mantri Jenggala, Galuh Daha, Punta, Kartala atau diganti sama sekali menjadi Lenyeng, Melung, Hegleng dan sebagainya. Namun dalam perkembangan sering juga diambil ceritera dari Ramayana, Mahabharata, dan ceritera rakyat lainnya. Tokoh-tokoh yang muncul dalam Arja adalah  Melung (Inye, Condong) pelayan wanita, Galuh atau Sari, Raja Putri, Limbur atau Prameswari, Mantri dan lain seba-gainya.
Pertunjukan Arja sekarang masih sering dilakukan di tempat terbuka — dalam bentuk arena tapal kuda — na-mun tempat persiapan pemain dengan tempat pertunjukan disekat oleh layar. Di tengah-tengahnya terdapat semacam “pintu” untuk keluar-masuk pemain.
TOPENG PREMBON
Teater Tradisional Bali
Topeng Prembon merupakan teater tradisional bersifat kerakyatan yang terdapat di Bali. Kata prembon be-rasal dari kata imbuh yang berarti “mendapat imbuhan” atau ditambah-tambah. Seperti teater tradisional umumnya dl Bali, Topeng Prembon menggunakan media ungkap tari, drama serta musik dan nyanyi. Kalau dikaji secara mendalam, bentuk ini merupakan gabungan dari beberapa teater tradisional seperti Arja, Gam-buh, Parwa, Baris, Calonarang dan lain sebagainya, tetapi diikat oleh suatu lakon. Seperti namanya, umum-nya para pemain menggunakan topeng (meskipun tidak seluruhnya).
Ada satu bentuk teater di Bali yang disebut Teater Topeng, yang berasal dari abad ke-17. Tema ceritera yang dibawakan selalu berkisar kehidupan istana yang mirip dengan Gambuh, ceritera-ceritera sejarah dan babad, baik tanah Jawa atau Bali. Ceritera Jawa yang banyak dipentaskan di antaranya Aryo Damar, Ronggolawe, Ken Angrok dan Gajah Mada. Unsur utama pertunjukan ini adalah pada tari. Seluruh pemain tidak berdialog, karena seluruh wajah tertutup rapat oleh topeng yang dipakai. Dalam Teater Topeng penutur cerita adalah para punakawan yang bernana Penasar dan Kartala. Mereka tidak memakai topeng atau bertopeng sebatas mulut, hingga masih dapat berbicara. Peranan wanita biasanya dimainkan oleh penari laki-laki. Apabila pera-nan wanita ditarikan oleh pemain wanita, maka ia tidak mengenakan topeng.
Topeng Prembon merupakan gabungan antara Topeng dan Arja. Caritera yang dibawakan bersumber pada babad atau ceritera sejarah, baik sejarah pura, suatu desa atau pun sejarah leluhur. Beberapa buah lakon yang sering di bawakan oleh Topeng Prembon ialah:
• Dalam Bungkut
• Balian Batur
• Kutus Patih Ularan
• Puputan Badung, dan lain sebagainya.
Berdasarkan fungsinya dalam masyarakat, tari Bali dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu:
1. Tari Wali (tari yang bersifat suci dan sakral, yang sangat penting bagi kehidupan bera-gama dan adat istiadat)
2. Tari Babali (tari biasa, yang lebih merupakan seni pertunjukan yang melulu untuk dinikmati nilai keindahannya)
3. Tari Balih-balihan (tari yang bersifat sekular, duniawi atau katakanlah bersifat hiburan, terlepas dari kai-tannya dengan upacara keagamaan dan dapat juga digunakan untuk tari pen-giring upacara)
Topeng Prembon adalah bentuk perkembangan terakhir dari “drama- tari Topeng” (Patopengan) di Bali. Bila kita membicarakan Topeng Prembon maka kita tidak dapat melepaskan pembicaraan perihal Patopengan di Bali. Ada 3 (tiga) macam pertunjukan topeng, yaitu:
1. Topeng Pajegan, hanya dimainkan oleh seorang penari yang memainkan beberapa watak dengan to-peng, yang kemudian diakhiri dengan penampilan Topeng Sidakarya, sebuah topeng yang wajahnya sangat menakutkan. Bermata sipit, gigi atasnya mencuat keluar dengan mulut yang terbuka. Topeng Si-dakarya ini menentukan sida-nya (berhasilnya) suatu karya (upacara). Karena fungsinya sebagai pelak-sana upacara keagamaan, maka topeng ini juga dinamakan Topeng Wali.
2. Topeng Panca, dramatari Topeng yang dimainkan oleh 5 (lima) orang penari. Timbulnya Topeng Panca merupakan perkembangan dari Topeng Pajegan. Jika Topeng Pajegan berfungsi sebagai Tari Wali, maka Topeng Panca berfungsi sebagai Tari Wali dan Balih-balihan yang kemudian menjadi suatu tontonan yang sangat digemari oleh masyarakat dan berfungsi sebagai tari untuk pendidikan. Bentuk ini kemudian dikembangkan lagi menjadi Topeng Sapta (tujuh orang).
3. Topeng Prembon, yang menandai masuknya unsur ceritera yang lengkap, dengan digabungkannya Pa-topengan dengan Paarjaan (Arja), dengan peran dan watak dalam ceritera seperti Condong, Galuh, De-sak, Linbur Mantri (mantri manis dan mantri buduh/gila). Tokoh-tokoh tersebut belum tentu muncul semua, tergantung dari adegan yang akan dipertunjukkan.
Topeng yang dipergunakan dalam Topeng Prembon berdasarkan karakter/watak dari masing-masing peran yang dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Watak keras (gagah) seperti pada Topeng keras, Patih, atau Mantri buduh, Desak, Limbur dan Penasar pada Arja (Punta), panasar cenikan (Wijil).
2. Watak halus (manis) seperti pada Topeng Tua, Topeng Dalea, atau Galuh dan Juga Mantri Mania pada Arja.
3. Watak lucu (babondresan) sejumlah topeng lucu yang melukiskan realitas kehidupan sehari-hari, bahkan dapat untuk menggambarkan “orang asing” kalau diperlukan
Untuk lebih menggambarkan watak dan penggunaan topeng, maka diberikan contoh ceritera Dalem Bungkut sebagai berikut: Ada seorang raja tua bernama Dalem Bungkut yang terkenal sakti di Nusa Penida. Untuk menguji kesaktiannya, dipanggillah Dalea Demade untuk menghadap. Tetapi Dalem Demade mengirim Gusti Jelantik yang diikuti oleh istrinya Gusti Ayu Kaleran. Di dalam perkelahian melawan Dalem Bungkut, Gusti Jelantik hampir tewas, tetapi ditolong istrinya dengan memberinya keris. Keris sakti tersebut sebenarnya ada-lah taring Sang Naga Besuki. Dengan senjata ini Patih Jelantik berhasil mengalahkan Dalem Bungkut. Kemu-dian Patih Jelantik kembali ke Gelgel bersama istrinya.
Penggunaan topeng dalam ceritera Dalem Bungkut ialah:
1. Pangelembar merupakan tarian pembukaan. Topeng terdiri dari Topeng Keras, Topeng Keras dan lucu, Topeng tua
2. Penasar Penasar kelihan dan penasar cenikan, dua abdi raja
3. Topeng Dalen dipakai oleh Dalen Diraade.
4. Topeng keras dipakai Ki Patih Jelantik
5. Ga1uh Gusti Ayu Kaleran (istri Patih Jelantik)
6. Bondess rakyat Nusa Penida, pengiring Patih Jelantik
7. Topeng Tua (serupa Sidakarya), untuk Delem Bungkut.
.
Dialog-dialog yang diucapkan dalam Topeng Prembon pada umumnya menggunakan bahasa Kawi (Jawa Kuno) dan juga bahasa Bali (baik bahasa sehari-hari atau pun bahasa Bali halus). Dewasa ini sering para pemain menyelipkan bahasa Indonesia — bahkan sering juga dengan bahasa asing, agar pertunjukan lebih komunikatif, terutama bagi orang yang bukan berasal dari Bali. Biasanya yang berani melakukan ini adalah para pemain “bondres”.
Dialog dapat diucapkan biasa atau sering juga dinyanyikan dalam bentuk tembang (Sinom, Pangkur, Dan-dang, atau lainnya). Peran yang bertopeng hanya berkomunikasi dengan gerak saja, yang kemudian diterje-mahkan oleh panasar. Di sini jelas nampak betapa pentingnya peran penasihat, bukan saja sebagai penter-jemah bahasa bagi penonton, tetapi juga berfungsi sebagai komentator atau pembawa ceritera yang menje-laskan persoalan dalam ceritera yang dihidangkan. Gamelan yang dipakai pengiringi pertunjukan Topeng Prembon adalah seperangkat Gamelan Gong (Gong Kebyar) yang terdiri dari:
1. Gangsa berbilah 10
2. Jegogan berbilah 5 (2 tungguh)
3. Panyacah berbilah 7 (4 tungguh)
4. Galung berbilah 5 (2 tungguh)
5. Reyong berbilah 10 (1 tungguh)
6. Kendang besar lanang dan wadon. (2 buah).
7. Cengceng atau pangkon
8. Kajar (1 buah)
9. Gong (2 buah)
10. Kemong (1 buah)
11. Suling (2 sampai 4 buah)
Untuk keperluan tertentu sering dipergunakan hanya setengah perangkat saja.  Pertunjukan Topeng Prembon, dahulu sering dilakukan secara ngelawang (dari rumah ke rumah), tanpa panggung. Perlengkapan sangat sederhana, namun oleh karenanya terasa lebih akrab.
KEMIDI RUDAT
Teater Tradisi Nusa Tenggara Barat
Salah satu teater tradisional yang terdapat di Nusa Tenggara Barat adalah Kemidi Rudat. Nama Rudat masih dalam penelitian dari mana dan apa artinya yang terkait dengan teater tradisional tersebut. Ada yang menga-takan rudat berasal dari kata raudah yang berarti baris-berbaris, atau ada pula yang mengatakan  berasal dari bahasa Belanda, soldat yang berarti serdadu atau tentara.  Sedangkan di daerah lain ditemukan juga kesenian rakyat yang disebut Rodat, yang biasanya berbentuk tarian dan nyanyian, yang merupakan pertunjukan bernafaskan Islam.
Kesenian Rodat yang berbentuk tari dan musik disertai nyanyian terdapat antara lain di Kalimantan Selatan,  di Jawa Barat dan kemungkinan juga terdapat di daerah-daerah lainnya. Kemidi Rudat yang terdapat di Nusa Tenggara Barat (Lombok) ini pun dalam pertunjukannya banyak membawakan syair atau pantun yang dinya-nyikan, dengan kandungan ajaran Islam.
Bentuk pertunjukan Kemidi Rudat ini pun tak ubahnya sebagai teater rakyat yang terdapat di daerah lainnya. Penyajiannya dilakukan dalam bentuk drama, yang dilakukan dalam bentuk tarian dan nyanyian. Dialog yang dibawakan pun seringkali dilakukan dengan menyanyi karena bentuknya berupa pantun atau syair.
Dari pertunjukan yang disajikan terasa ada pengaruh Teater Bangsawan (atau sering juga disebut Komidi Bangsawan), yang berlatar belakang kebudayaan Melayu.  Bentuk teater Komidi Rudat, meskipun terdapat di Lombok, sangat berbeda dengan kesenian kesenian rakyat lainnya yang terdapat di pulau Lombok pada umumnya.   Kesenian tradisional yang terdapat di Lombok — terutama tarian dan musiknya – pada umumnya mengandung unsur-unsur budaya Bali, seberapa pun kecilnya.
Kemidi Rudat seperti pada umumnya teater rakyat, dapat dipentaskan di mana saja, di alam terbuka, di tanah lapang, di arena apa pun selama ada tempat untuk bermain. Tetapi karena adanya pengaruh Teater Bang-sawan, maka pementasan Kemidi Rudat sudah menggunakan panggung, lengkap dengan dekorasinya. Panggung tersebut dapat menggunakan atap atau tetap terbuka, sedangkan penonton mengeliling panggung tempat bermain.
Urutan pertunjukan Kemidi Rudat biasanya dibuka dengan nyanyian-nyanyian yang diiringi oleh tabuhan tra-disional, yang lebih dekat dengan alat musik budaya Melayu, yaitu yang berupa “gamelan” dengan format kecil, ditambah dengan peralatan musik rebana, tambur (jidur), dan biola. Irama musik yang dihidangkan ada-lah  irama musik “stambulan”, irama musik Melayu.
Cerita-cerita yang dihidangkan Komidi Rudat bersumber dari cerita Melayu Lama, dengan menggunakan ba-nyak bahasa Melayu Lama yang telah dipadu dan disesuaikan dengan bahasa setempat. Cerita-cerita terse-but biasanya telah diadaptasi dengan cerita rakyat setempat. Nyanyian sering menggunakan bahasa Arab, yang dibawakan sambil menari. Tema cerita merupakan “roman kehidupan” dengan latar kerajaan Melayu, dengan judul di antaranya Siti Jubaedah, Jula-Juli Bintang Tujuh, Indera Bangsawan dan lain sebagainya.
Laku dramatik yang disajikan umumnya dalam bentuk komedi, banyak banyolan dan lelucon. Sering dilontar-kan sindiran, pesan atau komentar selama pertunjukan, yang semua diungkapkan dalam bentuk lelucon. Gaya bermain bersifat realis dan karikatural. Seluruh peran dalam Komidi Rudat dimainkan oleh pria.
Tokoh-tokoh dalam cerita, serupa dengan tokoh-tokoh dalam Teater Bangsawan atau Mamanda, yaitu terdiri dari Raja, Puteri (disebut Nyonya), dua orang Wazir, dua orang Khadam (pelawak), seorang putera atau puteri Raja, Raja Jin, dan Kepala Perampok. Tata Busana yang digunakan pun serupa, yaitu kostum penuh warna gemerlapan sebagaimana pada cerita-cerita Seribu Satu Malam.
Untuk peran utama atau Komandan dalam Kemidi Rudat, pakaiannya terdiri dari baju lengan panjang dengan warna gelap, celana panjang bergaris pada kiri dan kanan, memakai selempang dan “epolet” berjumbai (se-perti pada Mamanda) serta penutup kepala berupa topi (tarbus). Menggunakan perlengkapan pedang.  Pemain pembantu memakai pakaian seragam, baju lengan panjang dengan celana panjang warna gelap/hitam, berselempang dan bertarbus. Untuk peran tokoh Khadam (pelawak), Nyonya dan Raja Jin dan Perampok, masing-masing memiliki pakaian khas tersendiri.
Pemain musik/penabuh terdiri dari minimal 5 (lima) orang, yaitu pemain biola, tiga pemain rebana, dan seorang lain pemain tambur. Dalam perkembangannya sering ditambah dengan perlengkapan musik lain, yang dianggap diperlukan untuk lebih meramaikan pertunjukan.
Properti/perlengkapan yang digunakan sangat sederhana, yaitu memanfaatkan peralatan yang tersedia.  Mi-salnya untuk keperluan “kursi takhta kerajaan” cukup menggunakan kursi biasa dengan ditambah sedikit hia-san kertas warna emas.
Kemidi Rudat merupakan contoh bentuk Teater Transisi, yaitu suatu bentuk teater tradisi yang telah mempe-roleh pengaruh teater non-tradisi, nampak dari perubahan dan pengembangan panggung berikut segala ke-lengkapannya. Banyolan yang spontan dalam pertunjukan Kemidi Rudat merupakan gaya permainan yang memperoleh porsi lebih.
Kemidi Rudat sampai saat ini masih terdapat di desa Brembang, kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Saat ini sudah jarang  dipertunjukkan.
Daftar  Pustaka :
Amir,  Hazim                   –   Nilai-nilai Etis dalam Wayang
Sinar Harapan-Jakarta.   1994
Achmad, A. Kasim         – Teater Rakyat di  Indonesia
Majalah Analisis Kebudayaan (1980)
Terbitan: Depdikbud Tahun I, No 2
Achmad, A. Kasim, dkk  – Ungkapan Beberapa Bentuk Kesenian
Terbitan Direktorat Kesenian (1982)
Awuy, F. Tommy,            – Teater Indonesia  (konsep, Sejarah & Problema)
Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta  (1999)
Brandon, James R.      – Theatre in  Southeast Asia
Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts  (1967)
Bujang, Rahmah        – Seni Persembahan Bangsawan
Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1989)
Brockett, G. Oscar,         – The essential Theatre
Holt, Rinehart and Winton, Inc. 1976
Edi Sedyawati,               – Pertumbuhan Seni Pertunjukan
Penerbit: Sinar Harapan (1981)
Sal. Murgijanto &  ,          – Teater Daerah Indonesia
I. Made Bandem             Penerbit Kanisius – Jogyakarta – 1996
Soedarsono                       – Jawa dan Bali – Dua Pusat Perkembangan
Tari tradisional di Indonesia
Gadjah Mada University Press, Jogyakarta. 1972
Seno Sastroamidjojo,      – Renungan tentang Pertunjukan Wayang Kulit
P.T. Kinta Djakarta. –  Jakarta – 1964
Suseno, Frans Magnis      – Etika Jawa
Penerbit: PT.Gramedia, Jakarta (1984)
Sutrisno, Fx.Mudji           – E s t e t i k a  (Filsafat Keindahan)
Penerbit: Kanisius Yogyakarta (1993)
Soemardjo, Jakob.    – Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia
Citra Aditya Bakti . Bandung – 1992
Supriyanto, Henri           – Lakon Ludruk Jawa Timur
Penerbit Grasindo – Jakarta   (1992)
Suyana, Jajang                – Wayang Golek Sunda
Kajian Estetika Tokoh Golek
Penerbit Kiblat – Bandung
Malaon T.Indra (dkk),  –   Menengok Tradisi
Dewan Kesenian Jakarta  1986
Mertosedono, Amir   –  Sejarah Wayang (Asal usul, jenis dan Cirinya)
Dahara Prize – Semarang  (1994)
Hamzah, Amir            –  Sastra Melayu Lama dan Raja-rajanya
Penerbit : Dian Rakyat – Jakarta  – (1996)
Harun Chairul           –   Kesenian Randai di Minangkabau
Proyek Media Kebudayaan – Depdikbud – 1991/1992)
Holt, Claire                – Art in Indonesia – Contonuities and changes
Cornel  University Press, Ithaca, New York  1967
Humar Sahman          – Estetika   (Telaah Sistemik & Historik)
Penerbit: IKIP Semarang Press (1993)
Hendrowinoto, Nirwanto  – Seni Budaya Betawi Menggiring Jaman
(dkk).               Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. 1998
Yousof, Ghulam Sarwar    – Traditional Theatre in Southeast Asia
A Prelimenary Survey     (1993)
Pusat Seni – University Sains Malaysia -Pulau Pinang
.- Dictionary of Traditional Southeast Asian Theatre
Oxford University Press – Kuala lumpur  (1994)
Kayam, Umar           –  Seni, Tradisi, Masyarakat  – Sinar Harapan, Jakarta  1981
Navis, A.A.             –   Alam terkembang jadi Guru
Adat Kebudayaan Minangkabau
P.T. Pustaka Gratifipers – Jakarta (1984)
Osman, Mohd Taib   – Traditional Drama and Music of Southeast Asia
Dewan Bahasa dan Pustaka , Kuala Lumpur (1974)
Tiongson, Nicanor J. – The Cultural Traditional Media of Asean
(Editor)                    Project of the Asean Committee on Culture and Information
Printed in Manila (1986)
To Thi Anh             –  Nilai Budaya Timur dan Barat  (Konflik atau harapan ?)
Penerbit: PT. Gramedia – Jakarta – (1984)
Peurseun, C.A. van   – Strategi Kebudayaan, (Terjemahan: D.Hartoko).
Kanisius,Yogyakarta   1976
Pigeaud, Th.,           – Javaanse Volksvertoningen, Bydrage tot de Beschrijving
van Land en Volk
Ultgave Volklectuur Batavia –  1938
Wijaya  & F.A.Sucipto,    – Kelahiran dan Perkembangn Ketoprak
Proyek Pembinaan Kesenian- Departemen P & K -1977
W. M. Soetardjo,  (et.al),  – Bagi Masa Depan Teater Indonesia
PT. Granesia Bandung , Bandung (1983)
Wilson, Edwin & Goldfarb, Alvin   – Theater: The lively Art –
McGraw-Hill ,Inc   1991
Tulisan dalam Majalah, Jurnal, – Paper dalam sarasehan atau seminar
Achmad, A. Kasim  –  Teater tradisional dengan latar belakang budaya Melayu
Makalah dalam seminar Kebudayaan Melayu di STSI
Jurnal: Ekpresi Seni –STSI –Padang Panjang, Vol.I no:1 (2001)
Bandem, I. Made     –  Seni tradisi ditengah arus perubahan
IDEA -Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan, ISI – Jogyakarta
- Edisi 1  – Nopember (2000)
Esten, Mursal           –  Arti tradisi dalam perkembangan Kebudayaan
Makalah dalam seminar Kebudayaan Melayu
ASKI – Padang  Panjang –  (1996)
Yuliadi, Koes           –  Lenong Betawi dalam persilangan Budaya.
IDEA -Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan, ISI – Jogyakarta
- Edisi 1  – Nopember (2000)
Kumpulan makalah    – Seni Pertunjukan Rakyat dalam forum Sarasehan
Proyek Pengembangan Kesenian – Depdikbud – (1982/1983)
- Ungkapan beberapa bentuk Kesenian
Proyek Pengembangan Kesenian – Depdikbud – (1983/1984)
BIODATA PENULIS :
Nama lengkapnya Agustinus Kasim Achmad, lahir di Semarang, 5 April 1935.  Setelah tamat SMA bagian B di kota kelahirannya pada tahun 1954, ia melanjutkan kuliah di ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) di Jakarta. Tahun 1969 memperoleh beasiswa untuk mempelajari Technical Theatre Training di East West Cen-ter – University of Hawaii, USA, selama 2 semester.  Tahun  1972  memperoleh kesempatan mengikuti  A Course in “Film in Development“ di Kuala Lumpur, Malaysia. Belakangan, pada tahun 1993 mengikuti Training Programme in Theatre Production  di Canada.
Pensiunan sebagai Pegawai Negeri Sipil pada tahun1990, ia tetap di bidang seni teater sepanjang karirnya. Selama lebih dari limabelas tahun menjabat Kepala Sub-Dit. Seni Teater – Dit. Jen. Kebudayaan – Depdikbud. Setelah pensiun, menjadi pengajar tetap di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Ia sempat menjabat sebagai Ketua Jurusan Teater – Fak.Seni Pertunjukan IKJ (1990-1993) dan Pembantu Rektor III –IKJ (1993–2000).
Memperoleh kesempatan mengikuti berbagai seminar teater tradisional di Korea, Malaysia dan Bangkok. Memimpin berbagai Festival Teater Asean di Kuala Lumpur, Manila dan Singapura.                  Membuat film dokumentasi teater tradisional dari berbagai daerah, antara lain: Randai; Mamanda; Makyong; Dulmuluk; Longser Topeng Dalang,  Arja, Sejarah lahirnya Ketoprak;  Teater Tutur: Kentrung, Dalang Jembung. Saat ini menjadi dosen tetap mata kuliah  Pengantar Dramaturgi, Teater Tradisional di Indonesia dan Teater Asia (Teater Timur).

DAFTAR ISI
Kata Pengantar PenulisPengantar buku  oleh : Dr. C. Bakdi Soemanto S.U.
Bab I –  P e n d a h u l u a nP e n g a n t a rBatasan Teater tradisionalPengenalan Teater tradisionalJenis Teater di IndonesiaA. Teater RakyatB.  Teater IstanaC. Sandiwara BangsawanLatar belakang Budaya Masyarakat tradisiA.  Tradisi upacara ritualB.  Tradisi berceritaC.   Tradisi penyebaran Sastra LisanBentuk penyajianLatar belakang rumpun budaya yang samaGaya menyajikan ceritaA. Media Ekpresi Teater tradisionalB. Lakuan dramatikC. TopengMengenal Timur dan BaratA. Teater Timur dan Teater BaratB. Teater Timur adalah Teater TotalC. Penggunaan Media Ekpresi: Timur & BaratWujud Teater tradisionalBab  II    Asal mula terjadinya teater tradisional                  – Pengantar                                                                                                                              – Asal mula teater tradisional    ……………..                             – Terjadinya teater tradisional     ……………                             – Sastra lisan                 ……….………………                            – Teater tutur sebagai teater mula   ……………                            –  Perkembangan teater tutur …………………                             –  Teater tutur yang diperagakan  ……………..                                 –  Asal mula Sandiwara Bangsawan ………….                              –  Masa transisi: Jembatan menuju teater non-tradisi.                     –  Teater tutur dari berbagai daerah ………………..                                – Bakaba – Teater tutur Minangkabau     ………                                 – Syahibul Hikayat – Teater tutur Betawi     …..                                  – Pantun Sunda – Teater tutur daerah Sunda     …                                – Kentrung       – Teater tutur Jawa Timur       …..                                – Dalang Jemblung  – Teater tutur Banyumas  ….                                  – Sinrili         – Teater tutur Sulawesi Selatan …..                                 – Cepung & Cekepung – Teater tutur Lombok & Bali …

B a b   III   – Wayang sebagai Teater tutur dengan peragaan                          –  Pendahuluan         ……………………………….                                –  Asal Usul Wayang   …………………………….                                  – Temuan adanya pertunjukan Wayang di Jawa ….                                 – Bentuk dan Jenis Wayang ………………………                                   – Wayang Kulit,  Teater tutur dengan peragaan  ….                                  – Wayang sebagai seni pertunjukan ………………                                  – Jenis Wayang yang terdapat di daerah    ……….,                                  – Pertunjukan Wayang Kulit ………………………                                 – Sarana Suatu Pertunjukan Wayang kulit …………                     –  Wayang Orang ……………………………… ..                     –  Wayang Wong Jawa, ………………………….                                                     –  Wayang Wong Bali,      ……………………..…                     –  Wayang Gung, Kalimantan Selatan……………                                          – Wayang Golek

Bab IV :  Ciri, Fungsi dan Penyajian Pementasan Teater tradisional                                                                                                                                                                             –  Ciri utama Teater tradisional    ……………………                        –  Penyelenggaraan Pementasan  ……………… …                            –  Tempat pementasan dan Panggung ………………             –  Penonton dan pertunjukan ……………………..…           –  Fungsi penonton dalam Teater tradisional ………                         –  Fungsi musik dalam Teater tradisional ……………                         –  Cerita yang disajikan   …………………………..                             –  Struktur pertunjukan     ………………………… .              –  Lamanya waktu pertunjukan  ……………… ..…                           –  Peranan & fungsi dalam masyarakat    ………….                 –  Teater trdisional sebagai Sarana upacara  ………                                     –   sebagai sarana Hiburan … …….                                      –   sebagai sarana Pendidikan komunikasi dan kritik                                     –   sebagai alat ekpresi seni   …………                                    –   sebagai “Dokumentasi hidup”  …. .
B a b  V    – Teater tradisional dari berbagai daerah                                                  – Bangsawan, Teater tradisional Sumatera Utara                             – Makyong, Teater tradisonal  R i a u                             – Mendu, Teater tradisional kepulauan Riau                              – Dulmuluk, Teater tradisional Sumatera Selatan                             – Mamanda, Teater tradisional Kalimantan Selatan                             – Tantayungan- Teater tradisional Kalimantan Selatan                             –  Kemidi Rudat, Teater tradisional Nusa Tenggara Barat

KATA  AWAL
Dewasa ini tidak mudah untuk menemukan suatu pertunjukan teater tradisional dalam masyarakat kita. Seandainya kita sempat menyaksikan, sering pertunjukannya sudah sangat berubah, banyak tambahan, di-sesuaikan dengan perkembangan masyarakatnya. Masyarakat Indonesia pada umumnya kurang mengenal teater tradisional dari daerah lainnya. Di samping itu, minat generasi muda sekarang pada umumnya sangat rendah pada budayanya sendiri, kurang menghargai kesenian tradisional yang dimiliki oleh bangsanya.
Generasi sesudah Perang Kemerdekaan yang bergerak di bidang seni teater lebih tertarik untuk mempelajari bentuk teater yang sedang tumbuh dan berkembang, yaitu bentuk teater non-tradisi, yang sering disebut se-bagai teater modern atau teater kontemporer (yang secara teknik banyak diambil dari konsep teater Barat).
Buku-buku tentang seni tradisi tidak begitu banyak, apalagi buku-buku mengenai teater tradisional. Kalaupun ada, umumnya hanya membicarakan bentuk teater tradisional dari suatu daerah tertentu. Gambaran yang menyeluruh dari berbagai ragam sangat langka. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Teater Daerah di In-donesia, yang ditulis oleh Prof. Dr. I Made Bandem dan Dr. Sal Murgiyanto. Beberapa yang lain kebanyakan hanya membicarakan satu teater etnik saja, atau salah satu bentuk Teater Wayang (Wayang Orang, Wayang Kulit atau Wayang Golek). Selebihnya, berbahasa asing.
Kurangnya pengenalan terhadap kekayaan dan keragaman teater tradisional di Indonesia, serta kurangnya buku-buku tentang keragaman teater tradisional mendorong saya untuk mengumpulkan tulisan tentang teater tradisional dari berbagai daerah.
Penulisan buku ini bukanlah hasil penelitian, tetapi merupakan catatan-catatan sepintas waktu menyaksikan pertunjukan teater tradisional di berbagai daerah dengan pendekatan secara umum (dari suatu wujud pemen-tasan teater, yang disaksikan). Untuk sekedar “mengenal” rasanya cukup terpenuhi. Diharapkan dapat digu-nakan sebagai dasar untuk penelitian atau pengkajian lebih mendalam.
Tersusunnya tulisan saya hingga menjadi buku ini, memakan waktu yang sangat lama. Bertahun-tahun, bah-kan mungkin sekitar sepuluh tahunan, karena bahan-bahan dikumpulkan berdasarkan adanya “proyek peng-galian & pembinaan teater tradisional” yang ada di Indonesia. Dimulai dari sekitar pertengahan tahun tujuhpu-luhan sampai akhir delapan puluhan, dengan berbagai cara: pengumpulan data, sarasehan, seminar, peng-galian, festival, dan lain sebagainya — hingga terkumpullah materi teater tradisional dari berbagai daerah dalam bentuk modul pada tahun 1992.
Sebagai sebuah buku yang dihimpun atas beberapa puluh tulisan dengan tenggang waktu yang cukup lama dan berdasarkan pengalaman di lapangan yang berkembang, merupakan tulisan yang tidak mudah untuk diedit kembali. Banyaknya jenis dan ragam teater tradisional yang terdapat di daerah, dan informasi yang diperoleh atas beberapa teater tradisional yang hampir punah yang sering tidak sama dan bahkan bertentangan. Dicoba juga dengan menghadirkan kembali (rekonstruksi) teater yang hampir punah, hasilnya pun sering banyak kekurangannya.
Tulisan saya yang pertama tentang teater tradisional dimuat dalam Majalah Analisis Kebudayaan, berjudul Teater Rakyat di Indonesia. Diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan – Tahun I, No:2 – 1980/1981, yang isinya merupakan inti dari buku ini. Tulisan tersebut dikembangkan dan dilengkapi dengan deskripsi tentang teater tradisional dari berbagai daerah.
Setelah dikumpulkan, disusun dan dikembangkan, pada tahun 1992 akhirnya dapat dihimpun menjadi 2 modul tentang teater tradisional di Indonesia untuk keperluan Universitas Terbuka, dengan judul:
1. Pengertian, Materi dan Penggolongan Teater Tradisi di Indonesia2. Deskripsi teater tradisional dari berbagai daerah
Pada mulanya kedua modul tersebut digunakan juga untuk materi kuliah di Institut Kesenian Jakarta, tentang  Teater Nusantara. Kedua modul dirangkum, disunting dan dikembangkan menjadi buku Mengenal Teater Tradisional di Indonesia. Tidak mengherankan apabila dalam buku ini tak dapat dihindari adanya kesan seperti memberikan kuliah pada para mahasiswa. Terasa pula banyak hal yang terulang disana-sini
Bahan-bahan yang ditulis dalam buku ini diperoleh dari catatan penulis saat mengadakan seminar, lokakarya atau diskusi tentang teater tradisional sepanjang lebih dari sepuluh tahun saat bertugas sebagai Kepala Sub-Direktorat Seni Teater, Direktorat Kesenian, Dit-jen Kebudayaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagian besar bahan didapat atas bantuan para Kepala Bidang Kesenian pada saat itu dan tenaga teknik bidang teater tradisional yang menguasai masalahnya. Keikut-sertaan para seniman yang berminat teater tradisional, dan bersedia menjadi nara sumber sangat membantu, antara lain Bachtiar Sanderta, Chairul Ha-run, Widjaja, Wayan Diya, Enoch Atmadibrata, Max.Arifin, Mursal Esten, dan lain-lain yang tidak dapat dis-ebutkan satu persatu. Penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya atas informasi, penjelasan dan bantuan tentang deskripsi teater tradisional di daerahnya masing-masing. Tanpa bantuan mereka, sulit dibayangkan akan terwujud sebuah buku tentang teater tradisional dari berbagai daerah. Pada kesempatan ini, pertama-tama saya menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada Bapak Prof.Dr. Soebakdi Soemanto yang telah bersedia dengan tak bosan-bosannya memberikan arahan, petunjuk, bimbingan, meluruskan kalimat yang bengkong dan  tak henti-hentinya me-nyemangati agar buku ini dapat diterbitkan.
Akhirnya saya juga menyampaikan terima kasih kepada Pengurus Dewan Kesenian Jakarta 2003-2006, yang pada masa akhir jabatannya masih sempat menyelesaikan programnya dengan menerbitkan buku ini.
Semoga terbitnya buku ini memberi manfaat bagi para pembaca, setidaknya bagi mereka yang ingin mengenal apa dan bagaimana teater tradisional di berbagai daerah. Saya akan sangat berterimakasih apabila ada yang bersedia memberikan saran atau kritik, untuk perbaikan selanjutnya.

Jakarta, 10 Agustus 2006A. Kasim Achmad

PENGANTARProf. Dr. Bakdi SoemantoUniversitas Gajah Mada
———————————————————————————————————————–

Di Indonesia, buku tentang teater tradisional sudah disusun orang sejak beberapa puluh tahun lalu.  Pada taahun 1938, terbit sebuah buku legendaries yang berjudul Javaanse Volksvertoningen – Bijdrage tot Besch-rijving van Land en Volk  karangan Dr.Th.Pigeaud. Buku ini memberikan gambaran tentang berbagai jenis seni pertunjukan tradisional yang ada di pulau Jawa dan Madura, termasuk gamelan slendro dan pelog. Di samping itu, pada tahun 1067, Dr. James Brandon, seorang sarjana teater dari Amerika, menulis buku berjudul  Theatre in Southeast Asia. Ia juga memusatkan pada teater tradisional tetapi dengan kisaran yang jauh lebih luas, yakni seluruh wilayah  Asia Tenggara. Buku ini penting sekali, sebab di sana dilukiskan latar budaya yang membentuk lapis-lapis, cultural layer, yang dimulai dari gelombang datangnya kebudayaan Hindu dan Budha dari India pada abad pertama, disusul datangnya Islam, lalu Cina, hingga lapis yang paling atas tatkala orang-orang Eropa membawa peradabannya sambil memburu rempah-rempah.
Apabila dibayangkan, lapis lapis budaya itu seperti tampak pada kain yang terkena cairan yang membentuk lingkaran bergerigi. Tatkala cairan itu mongering — hingga meninggalkan bekas, ditumpuk lagi dengan cairan baru. Demikian lapis-lapis atau layers bagaikan tumpukan bercak bercak bekas sesuatu yang basah.  Sangat indah….
Budaya yang datang dari Utara itu hadir di Indonesia, tidak bisa lagi mempertahankan keasliannya, sebab budaya-budaya pendatang itu bertemu dengan kepercayaan setempat atau yang lazim disebut dengan istilah  indigeneous religious.  Keadaan budaya semacam inilah yang melatari munculnya seni pertunjukan atau teater tradisional yang ditulis oleh A. Kasim Achmad dalam buku ini.
Itulah sebabnya penulis buku ini menekankan hubungan erat antara teater tradisional dengan latar upacara di belakangnya.  Dengan kata lain, sepertinya orang tidak mungkin membicarakan teater tradisional tanpa men-genal latar budaya dalam ujud upacara upacara itu.
Dalam buku ini dipaparkan beberapa jenis teater tradisional di Indonesia. Dikatakan bahwa teater tradisional bisa dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni yang disebut teater boneka dan teater manusia.   Di Indone-sia yang dimaksud dengan teater boneka adalah wayang. Di Jawa Tengah, Jogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Lombok  dan wilayah budaya lainnya di Nusantara ini, wayang yang dominan adalah teater bone-ka yang ceritanya berbasis Mahabharata dan Ramayana serta cerita-cerita Islam dari Parsi.
Biasanya, wayang, dengan cerita Mahabharata dan Ramayana, terbuat dari bahan kulit kerbau. Tentu saja ada wayang dari Sunda yang terbuat dari kayu, juga menyajikan cerita Mahabharata dan Ramayana. Di Su-rakarta, teater boneka yang di Jawa Barat disebut wayang golek, disebut wayang  thengul
Tentu masih ada beberapa wayang-wayang lain yang belum sempat disebut dalam buku ini, misalnya wayang suluh dan wayang suket, disamping wayang kancil atau wayang binatang. Dalam wayang suluh ditemukan boneka-boneka yang merupakan representasi dari tokoh-tokoh nasional, misalnya Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir.  Ada juga tokoh-tokoh menarik lainnya yang digambarkannya, misalnya D.N.Aidit,  Nyoto, Lukman dan lain-lain. Tentu wayang suluh tidak bisa dimasukkan dalam katagori wayang tradisional. Namun, ini bukan berarti bahwa wayang suluh bisa lepas dari masyarakat di sekelilingnya.  Jelasnya, wayang-wayang baru termasuk wayang Kancil, bukan bagian dari upacara-upacara tertentu. Dengan menggunakan pembandingan seperti ini, pembaca akan semakin mudah memahami apa yang dimaksudkan oleh A. Kasim Achmad dengan istilah teater tradisional itu. Dengan kata lain, yang dimaksudkan penulis buku ini dengan teater tradisional bukanlah teater yang mentradisi, tetapi teater yang dilahirkan dari upacara-upacara adat
Ini menunjukkan bahwa teater tradisional yang disajikan dalam buku ini, memiliki kaitan erat dengan keper-cayaan-kepercayaan animistik dan dinamistik.
Orang bisa membayangkan sejumlah pertunjukan teater tradisional, misalnya pentas wayang kulit dengan judul  Sri Mulih untuk upacara bersih desa. Di sana, dalam pertunjukan itu, keindahan atau estetika atau dra-maturgi sajian wayang kulit itu, dalam beberapa katagori, kurang dipandang penting. Yang sangat penting adalah urutan pertunjukan dan tokoh-tokoh yang ditampilkan. Mereka diukur dengan parameter kepentingan upacara. Dengan kata lain, munculnya tokoh yang terlibat dalam peristiwa yang disajikan di “panggung” ba-tang pisang itu diharapkan memiliki magic power yang bisa mempengaruhi  kesuburan tanah dan menjadikan desa aman tenteram dan terbebas dari gangguan pencuri, penyakit dan lainnya. Tidak mengherankan apabila pertunjukan wayang pada awal mulanya selalu dimulai dengan pembakaran kemenyan.  Ini artinya, dhalang perlu mengucapkan salam atau kulo nuwun kepada para danyang yang invisible yang menunggu wilayahItu. Dengan kemenyan yang dibakar, para penunggu yang tidak tampak itu diharapkan juga dapat bersedia menahan marahnya jika kebetulan kurang berkenan. Dengan demikian, pertunjukan wayang itu bertujuan untuk senantiasa menjaga harmoni. antara manusia dengan makhluk halus. Tidak hanya itu, teater tradisional juga dimainkan bertujuan untuk menjaga harmoni alam semesta.  Pada waktu penelitian dilakukan untuk menyusun buku ini, pasti ada beberapa perubahan yang telah terjadi.  Bahan-bahan yang disajikan dalam buku ini tidak hanya hasil penelitian resmi, tetapi juga karena tugas A.Kasim Achmad yang pada waktu itu menduduki posisi penting di Direktorat Kesenian – Depdikbud. Ia me-langlang Nusantara dan mendokumentasikan berbagai seni pertunjukan tradisional di seluruh Nusantara. Dengan demikian, penulis menyaksikan langsung wujud teater tradisi yang kemudian ditulisnya menjadi buku ini.
Jika orang kemudian menyaksikan pertunjukan teater tradisi, tentu unsur upacara sudah jauh berkurang.  Mengapa demikian?  Sebab teater, sebagaimana benda budaya lainnya, tidak berdiri bebas dari pengaruh dari lingkungannya. Prof.Dr.A.Sartono Kartodirdjo, misalnya, mengatakan: bahwa sebuah fenomena budaya senantiasa berada dalam apa yang beliau sebut dengan istilah kulturgebundenheit, yang artinya terikat oleh kondisi budaya setempat. Dalam bahasa Inggris, keadaan seperti itu disebut dengan istilah culture bonds. Oleh karena itu, seiring dengan berjalannya waktu, perubahan terjadi di mana-mana, pada wilayah budaya, baik yang kasat mata atau tangible dan budaya yang tidak kasat mata atau intangible.

Kedua jenis budaya itu bergerak dan bahkan bergolak, sehingga yang pada mulanya merupakan latar bela-kang merangsek maju menjadi latar depan, yang semula latar depan menjadi latar belakang.  Di sini antara foreground dan background mengalami pergantian posisi. Lalu tampaklah, unsur upacara yang mengedepan pada pertunjukan ruwatan atau bersih desa menjadi background saja pada pertunjukan pergelaran wayang kulit untuk kepentingan sunatan, manten atau bahkan politik.
Pada era sekarang, tatkala seni tradisional beramai-ramai digayeng-grengsengkan untuk menarik dan me-nyongsong datangnya wisatawan manca negara, tentu aspek upacara tidak dapat dipertahankan dalam posisi di depan, tetapi unsur gerak-gerak boneka wayang itu yang dikedepankan. Dialog  yang menggunakan bahasa verbal daerah diusahakan sesedikit mungkin dan diganti dengan bahasa tubuh atau body language.
Pada pertunjukan-pertunjukan lain akan terjadi dengan pola yang kurang lebih sama. Dengan demikian, kon-disi jaman dengan jiwanya yang terkadang sangat kuat mempengaruhi keberadaan teater tradisi.  Oleh karena itu, apa yang dipaparkan oleh A.Kasim Achmad dalam buku ini, juga gambar-gambar yang tampak meng-hiasinya, tak sepenuhnya cocok dengan kenyataan di lapangan.  Sebab pencatatan data teater dan foto yang dipaparkan adalah kenyataan beberapa tahun silam.
Apa yang sebenarnya penting setelah buku ini ada di tangan Anda? Buku ini bisa menjadi pengantar Anda untuk memasuki jagat teater tradisional.  Jika digali selanjutnya, teater tradisional bisa memberikan inspirasi bagi pekerja teater untuk menyadur lakon-lakon Barat hadir dalam wujud teater rakyat. Ini banyak dilakukan oleh Suyatna Anirun, Saini Kosim, W.S.Rendra, dan dramawan terkemuka lainnya. Di samping itu teater tra-disional bisa banyak mengilhami dramawan masa kini untuk mengangkatnya menjadi bentuk yang lebih up-dated.   Bahkan. tidak hanya sampai di sini. Pada era media seperti sekarang, teater tradisional bisa digarap ulang agar lebih pas, hadir lewat media audio-visual.
Jika buku ini pada akhirnya bisa merangsang studi mendalam lebih rinci unsur-unsur teater tradisional, banyak kemungkinan akan ditemukan “acting” khas gaya Sunda, Bali, Lombok, Papua dan lain-lain. Hal ini juga bisa kita lihat pada film-film Hongkong. Film-film Jepang dan film-film India.  Akting mereka, terkadang, sangat tampak khas sekali. Untuk era globalisasi seperti sekarang ini, tatkala kekhasan dan kekhususan dituntut, akting dan penyajian art directing yang khas masing-masing daerah akan memberikan sumbangan kekayaan khusus, baik secara dramatil maupun secara estetik.  Bahkan buku ini juga bias merangsang studi lebih jauh dramaturgi masing-masing teater tradisional itu.
Sungguh buku yang sederhana ini bisa memicu kecintaan kita kepada teater tradisional kita dan merangsang penyelidikan lebih jauh kekayaan peninggalan nenek moyang kita.

Jogyakarta, akhir Juni 2006

BAB I————————————————————————————————————————————————–PENDAHULUAN
Pengantar
Indonesia mencakup wilayah yang sangat luas, terdiri dari berbagai pulau dan berbagai suku bangsa. Kondisi tersebut dengan sendirinya melahirkan kesenian yang beragam, bersumber dari keberagaman budaya etnik di berbagai daerah. Begitu pula jenis dan ragam Teater Daerah yang ada di Indonesia, berbeda satu dengan lainnya. Keragaman budaya etnik di Indonesia menghasilkan berbagai macam dan bentuk seni pertunjukan. Disebutkan dalam Memorandum Pandangan, yang dirumuskan oleh Badan Pertimbangan  Pendidikan Na-sional – Bab II tentang Dinamika Kebudayaan Daerah tahun1999 sebagai berikut :
Indonesia yang memiliki kurang lebih 931 suku bangsa dan 650 bahasa daerah yang berbeda baik ditinjau dari nilai-nilai tradisional, maupun perilaku masyarakatnya. Bila dikaji lebih mendalam perbedaan etnik tersebut sangat mencolok. Dalam kurun waktu yang sama, terdapat beberapa daerah yang sudah modern, tetapi ada pula daerah yang masih terbelakang. Hal itu sering menimbulkan sifat inferioritas pada kelompok tertentu dan superioritas pada kelompok lainnya.
Keadaan ini menggambarkan adanya pluralisme masyarakat Indonesia. Kebudayaan sebagai rangkaian motivasi dan perilaku manusia, dipengaruhi oleh tempat dan lingkungan yang meliputi kebudayaan daerah, nasional dan internasional.
Kebudayaan daerah merupakan kebudayaan asli yang diwarisi, dihayati, ditumbuhkan dan dikembangkan oleh kelompok-kelompok etnik tertentu di wilayah yang relatif kecil.
Keragaman budaya tersebut merupakan kekayaan yang jarang dimiliki oleh bangsa lain.  Untuk mengenal wujud teater yang terdapat di Indonesia, harus ditelusuri sejarah kehadirannya, sekaligus dikenali bentuk tea-ternya.
Membicarakan teater tradisional sebenarnya membicarakan teater masa lampau. Secara sosiologis, kesenian pada umumnya dan teater pada khususnya, tidak dapat dipandang lepas dari tata hidup dan kehidupan ma-syarakat di sekelilingnya. Sebab sadar atau tidak sadar, sebagaimana bagi seni pada umumnya, masyarakat lingkungan dengan tata kehidupannya merupakan sumber ilham yang tidak habis-habisnya bagi penciptaan seni teater. Masyarakat lingkungan merupakan tempat berproses dan sekaligus pengolahan seni teater ter-sebut. Bentuk seni teater merupakan salah satu cabang seni yang paling akrab dengan kehidupan masyarakatnya. Ia menggambarkan kehidupan masyarakat yang berarti menggambarkan tata cara dan persoalan kehidupan manusia pada jamannya.  Modal utama seni teater adalah manusia itu sendiri, dengan tubuh dan suara se-bagai alat ekspresi. Melalui teater tradisional, kehidupan pada masa lampau tergambar lebih jelas,  menyang-kut soal tata cara, adat istiadat dan problem yang muncul pada jaman tersebut.
Keanekaragaman kebudayaan Indonesia merupakan cerminan keanekaragaman budaya etnik. Di berbagai daerah, dapat ditemukan bentuk teater tradisional yang berbeda jenis dan ragamnya.   Pertunjukan teater tradisional pada saat ini. pada umumnya dilaksanakan dalam rangka keperluan masyarakatnya, terkait dengan suatu upacara, hajatan atau pun keperluan lainnya
Piranti dalam menyampaikan ekpresi adalah manusia itu sendiri, dengan segala kelengkapan yang dimilikinya sebagai pemain. Selain itu, dapat juga digunakan piranti yang berupa benda — kayu atau kulit pada Teater Boneka dan Wayang – sebagai peraga, tetapi pun digerakkan oleh manusia.
Di Indonesia dan kawasan Asia pada umumnya, terdapat 2 bentuk teater dilihat dari wujudnya, yaitu:• Teater yang dimainkan oleh Orang, dan• Teater Boneka, yang  umumnya terbuat dari kayu (bentuknya 3 demensional).Wayang adalah Teater Boneka yang pipih terbuat dari kulit (bentuknya 2 demensional)
Batasan Teater Tradisional
Pertunjukan teater tradisional pada saat ini pada umumnya dilaksanakan dalam rangka keperluan masyara-katnya, terkait untuk keperluan upacara, hajatan atau pun keperluan lain. Penggunaan istilah teater sering menjadi gamang, karena terlihat adanya unsur-unsur teater yang sering mengelabui. Dalam suatu upacara ritual, misalnya, muncul unsur-unsur teater yang menggunakan gerak tari atau paduan suara untuk mendu-kung prosesi tersebut, tetapi tidak kita temukan penonton. Orang yang ada dalam upacara ritual tersebut se-luruhnya menjadi bagian dari kelompok yang menyelenggarakan upacara. Apakah yang terlihat dapat dikata-kan teater?
Teater mempunyai arti yang luas, cakupan dari segala sesuatu yang dipertunjukan dan ditonton orang. Dari berbagai tanggapan dan ungkapan yang bermacam-macam tentang teater, yang menarik selalu menyebut adanya 3 elemen pokok kalau bicara tentang teater,  ketiganya saling berkaitan dan tak terpisahkan. Brockett, dalam bukunya The Essential Theatre ( hal 5, th. 1988) bab The basic elements of theatre, menyebutkan elemen pokok dalam teater, yaitu:1. Apa yang dipertunjukan (lakon, skrip, atau rencana )2. Pertunjukannya ( termasuk proses kreasi dan penyajiannya) 3. Penonton
Diperkuat oleh rumusan Eric Bentley, yang mengatakan bahwa berbagai macam argumen tentang teater da-pat dikurangi dan dipersingkat menjadi: A mempertunjukan B untuk C.
Bertolak dari uraian di atas, teater berarti “Segala kegiatan yang dipertunjukan dan ditonton oleh publik”. Meskipun teater mempunyai arti yang luas (segala sesuatu yang dipertunjukan dan ditonton), namun tetap harus mengandung 3 elemen yang disebutkan di atas.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976), tradisi ialah segala sesuatu (Seperti: keperca-yaan, kesenian, kebiasaan, ajaran,) yang dianut secara turun temurun dari nenek moyang. Tradisi adalah  kebiasaan turun-temurun kelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat yang bersangkutan.
Seni tradisi merupakan seni yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita dari kelompok masyarakat etnik lingkungannya, yang memiliki struktur yang baku dan merupakan pakem yang selalu dianut oleh seniman lingkungan etnik yang bersangkutan.
Teater tradisional adalah teater dalam suatu masyarakat etnik tertentu yang mengikuti tata cara,  tingkah laku dan cara berkesenian mengikuti tradisi, ajaran turun-temurun dari nenek moyangnya. sesuai dengan budaya lingkungan yang dianutnya.
Teater tradisional bersumber dan berakar serta telah dirasakan sebagai milik sendiri dan diterima oleh ma-syarakat lingkungannya. Semuanya diterima dari pewarisan yang dilimpahkan dari angkatan tua ke generasi yang lebih muda. Pertunjukan dilakukan atas dasar tata cara dan pola yangdiikuti secara mentradisi.
Di Indonesia dapat dijumpai dua bentuk teater, yaitu Teater Tradisional   dan   Teater Non-tradisi.
Kedua bentuk teater mempunyai materi yang sama, namun cara mengungkapkan dan pengolahan-nya berbeda, karena sumber, wawasan dan cita-rasa para seniman pendukungnya berbeda. Bahkan masyarakat pendukungnya pun berbeda.
Teater Tradisional, ialah suatu bentuk teater yang lahir, tumbuh dan berkembang di suatu daerah etnik,  yang merupakan  hasil kreativitas  kebersamaan dari suatu suku bangsa di Indonesia. Berakar dari budaya etnik setempat.dan dikenal oleh masyarakat lingkungannya.  Teater Tradisional dari suatu daerah umumnya bertolak dari sastra lisan, yang berupa pantun, syair, legenda, dongeng dan cerita-cerita rakyat setempat.
Teater tradisional lahir dari spontanitas kehidupan dan dihayati oleh masyarakat lingkungannya, karena ia merupakan  warisan budaya nenek moyangnya. Warisan budaya guyub (kebersamaan dan kekeluargaan) yang sangat kuat melekat pada masyarakat di Indonesia.

Teater Non-tradisi, (umumnya dinamakan Teater Modern, ialah suatu bentuk teater yang tumbuh dan ber-kembang terutama di kota-kota besar sebagai hasil kreativitas bangsa Indonesia dalam persinggungan dengan kebudayaan Barat lewat teater. Hasil karyanya memperoleh pengaruh budaya lain, terutama secara teknik mengacu pada Teater Barat.
Teater Non-tradisi  bertolak dari sastra tulis, sastra Indonesia yang berbentuk lakon dan diikat oleh konvensi dan hukum dramaturgi. Secara teknik Teater Non-tradisi  bersumber dari konsep teater Barat, dan para pen-dukungnya kebanyakan adalah masyarakat terpelajar.

Pengenalan Teater Tradisional
Sangat luasnya Indonesia menyebabkan masyarakat yang satu kurang mengenal kesenian tradisional yang terdapat di daerah lainnya, kalau tidak mau dikatakan tidak mengenal. Pengenalan masyarakat terhadap tea-ter tradisional dewasa ini masih sangat terbatas, yaitu yang terdapat di daerahnya, teater etnik setempat. Itu pun terbatas pada masyarakat tertentu yang masih “menghargai” dan apresiatif terhadap teater tradisional di daerahnya.
Kelompok masyarakat Jawa, misalnya, kurang mengenal teater tradisional yang terdapat di Kalimantan. Atau sebaliknya, masyarakat Minangkabau yang berada di Sumatera Barat kurang mengenal teater tradisional yang terdapat di Jawa. Teater rakyat Ketoprak atau Ludruk, lebih dikenal oleh lingkungan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat lebih mengenal Randai. Masyarakat angkatan tua di Riau lebih kenal dengan Makyong, sedangkan masyarakat Kalimantan Selatan lebih mengenal Mamanda.
Hanya satu-dua gedung pertunjukan yang menyelenggarakan pertunjukan teater tradisional untuk keperluan tontonan, dalam arti dapat disaksikan setiap saat.  Pertunjukan semacam itu antara lain dapat ditemukan te-rutama di Pulau Jawa, antara lain di Taman Hiburan Surabaya, Sriwedari Solo, Taman Hiburan Yogyakarta dan gedung wayang orang “Bharata”di Jakarta. Sesekali dapat kita saksikan di Taman Ismail Marzuki, Ge-dung Kesenian Jakarta, atau di tempat-tempat pertunjukan yang disiapkan untuk turis, seperti di Bali. Pertun-jukan yang dihidangkan sering sudah dikemas disesuaikan dengan “selera” penyelenggara. Dewasa ini tidak mudah untuk menemukan suatu pertunjukan teater tradisional dalam masyarakat. Sean-dainya ada, sering bentuk pertunjukannya sudah sangat berubah. Kita perlu mengenali kembali teater tradi-sional, yang meskipun banyak ragamnya, masih dapat dinelusuri ciri-ciri umum, gaya dan cara menyajiannya.  Perbedaan yang bersifat khusus dan bercorak kedaerahan dari berbagai macam teater tradisional, sangat tergantung pada budaya etnik setempat.

Jenis Teater di Indonesia Brandon. dalam bukunya Theatre in southeast Asia (1967, hal: 80) tentang Tradition of Theatre mengatakan, pada teater di Asia Tenggara umumnya terdapat 4 jenis tradisi teater atas dasar kelompok masyarakat pen-dukungnya, yaitu:
1. Tradisi Teater Rakyat, adalah yang terkait dengan kehidupan di pedesaan. Lahir, tumbuh dan berkembang dan didukung masyarakat lingkungannya
2. Tradisi Teater Istana, adalah teater di lingkungan keraton, istana, disponsori oleh para raja, khusus untuk keperluan istana dan lingkungannya.
3. Tradisi Teater Populer, adalah teater yang tidak masuk keduanya, namun mempunyai karakteristik ter-sendiri, dan terutama hidup di kota-kota dan didukung oleh masyarakat kalangan menengah.
4. Tradisi Teater “Barat”, merupakan produk teater saat sekarang, yang didukung oleh masyarakat  terpelajar di Asia Tenggara. Bentuk drama yang dipertunjukan adalah model drama Barat.                         Di Indonesia terdapat kesamaan pengelompokan jenis teater atas dasar masyarakat pendukungnya, seperti yang ditulis oleh James R.Brandon (Theatre in Southeast Asia,1967, hal 80) dan terdapat juga 4 tradisi ber-teater. Dari keempat tradisi tersebut, dapt dibagi menjadi 2 (dua) kelompok besar, yaitu
Pertama kelompok Teater tradisional, yang mempunyai 3 jenis tradisi berteater. Kedua kelompok yang  disebut Teater Non-tradisi atau Teater “modern”
Keragaman corak kebudayaan di Indonesia, melahirkan jenis teater tradisional yang beragam. Jenis yang kita temukan sangat beragam dan bertolak dan didukung oleh kebudaan etnik setempat. Jenis tersebut umumnya mempunyai ciri spesifik kedaerahan. Terdapat 3 jenis teater tradisional, yaitu:a. Teater Rakyat, yang hidup di tengah kehidupan masyarakat.b. Teater Istana, teater yang dikelola oleh raja dan para bangsawan saat itu.c. Teater Sandiwara Bangsawan, atau yang dinamakan Komidi Bangsawan, yang bermunculan pada periode jaman teater transisi, di kota-kota.
a.  Teater Rakyat, teater yang bersifat kerakyatan.Dinamakan Teater Rakyat karena ia lahir di tengah masyarakat dan segala sesuatunya ditentukan oleh  ke-bersamaan dan didukung serta diapresiasi oleh masyarakat lingkungannya. Merupakan teater yang lahir di-tengah-tengah masyarakat pedesaan, di kampung-kampung, di desa-desa. Teater Rakyat bersifat sederhana, baik bentuk atau pun cara penyajiannya. Spontan, tidak menggunakan naskah tertulis, tidak dibuat-buat, ko-munikatif dengan masyarakat yang menonton. Teater Rakyat lahir karena berbagai kebutuhan masyarakat, antaranya kebutuhan melengkapi keperluan upacara dan akhirnya untuk keperluan hiburan bersama.
Seniman dalam Teater Rakyat biasanya terlibat karena didorong oleh keinginannya untuk  ber-kesenian, dan bukan untuk hidup dari berkesenian. Sebab dalam pandangan tradisi, tidak ada pemilahan antara kesenian dan kegiatan lainnya, termasuk upacara keagamaan dan keseharian. Pemain Teater Rakyat umumnya adalah petani, pedagang dan lain-lain profesi. Keterlibatan mereka dalam berkesenian adalah untuk kesenangan batinnya, serta adanya kebutuhan akan hiburan bagi diri dan masyarakat lingkungannya. ..
Teater Rakyat yang hidup dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat sangat digemari karena menyatu dengan tata cara kehidupan mereka. Bentuknya berupa tontonan yang sangat sederhana dan erat kaitannya dengan kepercayaan yang bersifat ritual, dapat kita temukan di desa-desa.  Banyak bentuk Teater Rakyat yang ketika berfungsi sebagai sarana pendukung upacara — yang terdapat da-lam adat-istiadat dan upacara keagamaan — sebenarnya belum sebagai bentuk teater yang utuh, melainkan masih merupakan serpihan unsur-unsur teater yang disajikan dalam upacara tersebut. Tarian, nyanyian, bunyi-bunyian, musik, semua diikat oleh rangkaian upacara dan bukan merupakan bagian yang lepas dari upacara tersebut. Setelah upacara usai, sering dilanjutkan dengan acara hiburan bagi masyarakat, dengan mengambil sebagian yang semula digunakan untuk penunjang upacara.
b.  Teater Istana,  teater yang bersifat klasik.
Jenis teater ini lahir di keraton-keraton atau  pusat-pusat kebudayaan pada jamannya. Maksud klasik di sini ialah, karya-karya teater bukan saja kuna, melainkan merupakan karya puncak yang bermutu tertentu dan sukar untuk ditingkatkan atau pun dikembangkan. Teater yang bukan atas dasar  spontanitas, tetapi atas dasar: direncanakan, disiapkan, disusun, dilatih, yang merupakan  hasil karya seni pertunjukan yang baku. Teater tradisional yang lahir di keraton-keraton, hidup dan berkembang  dengan sponsor dari raja, pangeran dan para bangsawan. Teater semacam ini berproses sangat lama dan merupakan salah satu penyangga keagungan budaya keraton, yang sering disebut sebagai  adiluhung.
Teater ini berkembang dalam lingkungan istana (keraton) dan mendapat perlakuan yang sangat baik. Mereka dilatih, dibina, dirawat, dan dikembangkan oleh para seniman profesional, dalam arti seniman yang ahli di bidangnya. Tugas mereka khusus mencipta, membina dan mengembangkan kesenian di keraton dengan memperoleh imbalan (gaji) dari raja.  Semua ini di bawah naungan dan petunjuk raja. Seniman yang dipilih oleh raja biasanya adalah seniman pilihan, para empu seni, dan juga para empu di bidang kebudayaan.
Para seniman pilihan tersebut dapat mencurahkan seluruh pikirannya untuk mencipta, membina dan men-gembangkan kehidupan berkesenian, sesuai keinginan raja. Ide atau ciptaan Raja, sering pelaksanaannya diserahkan kepada para empu tersebut.
Para seniman atau empu tersebut menyusun pola pertunjukan, pakem-pakem cerita, menciptakan lagu untuk karawitan, menyusun gerak untuk tari, melatih para penari atau pemain musik, menciptakan desain pakaian dan lain sebagainya. Seniman keraton setidaknya merupakan abdi di lingkungan keraton, yang memperoleh kehidupan dari keraton dan dengan sendirinya dibiayai oleh pihak keraton untuk keperluan berkesenian. Selu-ruh penari, pemain teater, sinden (peyanyi) dilatih dengan cermat sebelum muncul untuk dipertunjukkan.
Pada umumnya, semua bentuk kesenian yang lahir di istana/keraton mempunyai mutu yang lebih tinggi dari kesenian yang lahir di pedesaan — kecuali kesenian rakyat yang lahir secara naluriah dan alamiah, seperti contohnya patung-patung yang terdapat di pedalaman Papua. Hal ini dapat dimengerti, karena kesenian yang lahir di keraton dipersiapkan untuk dipersembahkan ke hadapan raja. Lebih dari sekedar hiburan, pertunjukan lebih mengutamakan nilai aritistik, mutu dan tingkat keindahannya. Hasil karya seni yang indah tersebut akan dinikmati oleh raja dan para penguasa yang sangat menghargai kesenian.
Teater tradisional yang lahir di keraton dipersiapkan, dilatih dan tetap berpegang pada pola dan pakem yang telah digariskan.  Sering karya seni yang tumbuh di keraton dapat mencapai nilai “puncak” yang sukar untuk ditingkatkan atau dikembangkan lagi. Karya yang demikian meru-pakan karya “bermutu tertentu” dan “mapan”, sering disebut sebagai karya Klasik.
Dalam seni teater atau tari, kelompok karya ini dinamakan: • Teater Klasik (contohnya Wayang Orang Keraton, Langendriyan)  atau• Tari Klasik (Tari Bedoyo, Tari Serimpi, Tari Gambuh, Tari Legong) dan lain-lainnya  Tidak semua hasil karya seni yang lahir di keraton menjadi seni klasik, namun pada umumnya diciptakan dengan serius dan keahlian yang memadai, hingga menghasilkan karya bermutu tinggi.
c.  Sandiwara Bangsawan Tradisi Teater Populer di Asia Tenggara yang disebut oleh James R.Brandon dalam bukunya Theatre in Southeast Asia, memiliki kesamaan dengan Sandiwara Bangsawan di Indonesia, yaitu bentuk teater tradi-sional yang berbeda dengan Teater Rakyat ataupun Teater Istana, namun masih dalam kelompok teater tra-disional. Bentuk teater ini terdapat di kota-kota dengan pendukung masyarakat menengah. Bersifat hiburan dan mulai berkenalan dengan pengaruh teater Barat, yang dalam sejarah teater di Indonesia dinamakan Teater Transisi.
Pada periode transisi inilah teater tradisional mulai berkenalan dengan pengaruh teater Barat (teater dari bu-daya lain). Maka lahirlah suatu teater yang dinamakan Teater Bangsawan. .Sebelum istilah teater dikenal, disebut sebagai Sandiwara Bangsawan.
Sandiwara Bangsawan, merupakan  prototipe  teater tradisional yang sumber utamanya terdapat di Pulau Sumatera, dengan latar belakang pendukung yang dominan dari rumpun  budaya Melayu.   Pertama-tama terdapat di Sumatera Utara, kemudian menyebar ke seluruh Sumatera. Dalam perkembangannya,  pengaruh Bangsawan juga mencapai Kalimantan, Jawa dan lain-lainnya.
Pengaruh Bangsawan ini cepat berkembang dan dapat diterima serta dimengerti oleh sebagian besar masya-rakat di luar Sumatera, karena menggunakan bahasa Melayu lama. Bahasa Melayu lama merupakan cikal bakal bahasa Indonesia
Latar Belakang Budaya Masyarakat Tradisi
Pada dasarnya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat agraris, yang sangat sederhana. Oleh karena itu masyarakat yang demikian, tidak rumit dan belum mengenal  spesialisasi dan deferensiasi.
Masyarakat tradisi di Indonesia adalah masyarakat pertanian yang mengelola hidup secara gotong-royong, kebersamaan.  Sifat kegotong royongan ini, menyebabkan lahirnya suatu bentuk kesenian yang spontan dan didukung oleh kebersamaan.
Masyarakat pertanian menaruh arti yang penting pada tanah, alam, pepohonan, air, sungai dan juga roh-roh halus yang menjaganya.  Di sini terkait adanya kepercayaan terhadap roh-roh halus atau roh nenek-moyang yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Teater  tradisional — terutama teater rakyat — lahir dari masyarakat yang guyub (akrab dan memiliki kebersa-maan) yang fungsinya antara lain untuk mempererat  hubungan antar warga, yaitu  saling dukung-mendukung, menciptakan solidaritas warga dalam kegiatan,  karena merupakan warisan budaya nenek moyangnya.
Pertunjukan teater rakyat biasanya dilaksanakan bersamaan dengan keperluan masyarakatnya. Pertunjukan dilakukan atas dasar tata cara yang diikuti secara mentradisi, secara turun-temurun  Pengalaman pentas ge-nerasi tua (pendahulu) dialihkan/dilanjutkan ke generasi yang lebih muda (generasi penerus) dan mengikuti serta setia kepada pakem yang sudah ada.
Seni pertunjukan di Indonesia bertolak nilai spiritual dan ketentuan adat istidat, yang merupakan landasan kuat dalam menentukan kehidupan seni pertunjukan. Menurut sejarahnya, seni pertunjukan di Indonesia umumnya, yang berupa tari-tarian atau nyanyian/paduan suara serta iringan musik. Mempunyai fungsi utama sebagai pendukung kegiatan keagamaan yang bersifat ritual dan juga kegiatan yang terkait dengan upacara adat. a. Tradisi  Upacara Ritual
Sebelum dikenal seni sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, pertunjukan selalu dikaitkan dengan upacara kea-gamaan, upacara panen, upacara perkawinan, atau upacara hajatan dan lain-lainnya. Sejarah seni pertunjukan di Indonesia banyak yang lahir dan dikaitkan dengan wacana dari  upacara keagamaan   Hal ini sampai sekarang masih dapat ditemukan di Bali atau Kalimantan
Pada mulanya, sebagian besar teater tradisional di Indonesia merupakan bagian dari suatu upacara keaga-maan atau upacara adat, yaitu sejak jaman Pra-Hindu. Dalam upacara tersebut terdapat peristiwa teater, se-bagai pendukung upacara tersebut. Wujudnya merupakan unsur-unsur teater seperti tari, musik, paduan suara. Gerak-gerak seperti tari, paduan suara, persembahan, doa atau pun mantra-mantra  menyatu dengan upacara yang sedang berlangsung. Kemudian bentuk teater yang dipakai untuk keperluan upacara ini berubah sifat sebagai seni pertunjukan untuk hiburan.
Contoh-contoh teater yang pada mulanya masih terkait dengan upacara ritual dapat ditemukan di Bali, dianta-ranya Topeng Pajegan, Tarian Sanghyang Jaran atau Hudog yang terdapat di Kalimantan, dan beberapa daerah  — terutama daerah pedalaman — lainnya.
Dalam bukunya Teater Daerah Indonesia Prof. Dr. I Made Bandem & Dr.Sal Murgiyanto, me- ngatakan, To-peng Pajegan tergolong Teater Bebali  (Teater Bebali adalah teater yang berfungsi sebagai pengiring upacara dan persembahan sajen di pura-pura atau pun di luar pura. Teater ini memakai lakon yang bersumber pada cerita babad atau pun sejarah. Kehadiran tokoh Sidhakarya adalah mutlak. Pementasan Topeng Pajegan biasanya dilakukan untuk memenuhi upacara persembahan sajen dalam suatu upacara keagamaan, seperti ondalan (perayaan enam bulanan untuk tempat suci tertentu), untuk keperluan upacara perkawinan, potong gigi dan upacara lainnya.
Contoh lain adalah teater Belian yang terdapat di Kalimantan Timur, milik suku Modang di kecamatan Kelijau. Orang Modang percaya bahwa manusia  terdiri atas dua roh, yaitu bruwa (roh baik) dan ton lwa (roh jahat) yang memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.. Jika seseorang menderita sakit, bruwa biasanya meninggalkan badan penderita. Sambil mengucapkan doa, mereka menari-nari, berjingkrak secara spontan dan sering juga mengalami trance, dengan diiringi oleh alat musik perkusif, dengan ritme yang kuat, yang dapat disebut sebagai “peristiwa teater ritual”.  Begitu juga Hudoq  suatu peristiwa teater yang menggunakan topeng.

Dalam kasus seperti ini, mereka akan memanggil belian (pawang) yang memiliki keahlian mengembalikan bruwa ke tubuh penderita. Proses pengembalian roh ini diperagakan oleh seorang belian wanita yang mem-persiapkan sesajen. Belian akan memimpin doa dalam bahasa Modang.  Sambil mengucapkan doa, dia me-nari, berjingkrak-jingkrak secara spontan.
Di Bali ada tarian Sang Hyang Jaran. Seorang dukun menari, kemasukan roh, intrance, sehingga dapat mela-kukan tugasnya dengan baik. Teater Ritual ini diiringi beberapa jenis alat musik tradisional seperti gong, ken-dang, dan alat-alat lainnya. Ritme-ritme musiknya sangat kuat untuk mengiringi gerak-gerak penari.
b. Tradisi Bercerita
Di desa-desa, di kampung-kampung dan bahkan di beberapa  kota kecil pada jaman lampau (sebelum Perang Kemerdekaan), merupakan suatu tradisi dalam keluarga, apabila seorang kakek atau nenek bercerita kepada cucunya atau seorang bapak atau ibu bercerita kepada anaknya. Cerita yang disampaikan sebelum mereka tidur berupa cerita rakyat, dongeng, atau hikayat. Anak-anak diajar secara tidak langsung mengenal sastra lisan yang terdapat di daerahnya.
Tradisi bercerita dalam keluarga pada masyarakat kita dahulu, berkembang dengan baik dan terdapat dimana-mana. Kemudian berkembang dalam jalur yang lebih luas, bukan untuk keluarga, tetapi untuk keperluan masyarakat. Seseorang bercerita kepada sekelompok pendengar tentang dongeng, legenda, cerita rakyat, dan cerita yang populer di daerahnya. Tradisi bercerita ini kemudian berkembang menjadi bentuk kesenian Teater Tutur.
Tradisi bercerita sekarang sudah jarang kita temukan, bahkan mungkin sudah hilang. Tradisi bercerita sebagai sarana komunikasi yang berfungsi sebagai penyebar sastra lisan telah diganti dengan  teknologi yang canggih, berupa buku, radio, film dan televisi.
c. Tradisi Penyebaran Sastra Lisan
Karya sastra merupakan kelompok kesenian yang bentuknya menggunakan media ungkap kata dan bahasa. Dalam sastra terdapat bentuk Prosa dan Puisi. Hasil karya sastra, pada prinsipnya akan dinikmati dengan dibaca, terutama pada sastra tulis. Masyarakat lama, masyarakat tradisi yang belum mengenal tulisan,  belum mengenal istilah membaca. Maka sastra yang mereka kenal adalah Sastra Lisan. Untuk menikmati, mengembangkan atau menyebarluaskan sastra lisan, dilakukan dengan perantara orang lain yang bercerita. Sastra Lisan hidup dan berkembang dari mulut ke mulut, dari seseorang “diceritakan” kepada orang lain.   Pada jaman itu, tradisi bercerita merupakan salah satu alat komunikasi dan penyebaran sastra lisan kepada masyarakat secara luas. Lahirlah tukang cerita (story teller) bersamaan dengan lahirnya  Teater Tutur.
Teater tutur, merupakan bentuk kesenian tradisi bertolak dari sastra lisan yang dituturkan. Teater Tutur meru-pakan salah satu cikal bakal teater rakyat, karena digunakannya kelengkapan media ekpresi (property) yang diperlukan dan memenuhi syarat bagi lahirnya suatu bentuk teater
d. Tradisi Permainan Rakyat
Banyak permainan rakyat yang berbentuk pertunjukan, sesuatu yang dipertunjukan dengan maksud untuk sekedar hiburan seperti  akrobat, permainan sulap, kuda kepang, kethek ogleng, dan lainnya yang masih ba-nyak lagi. Dalam permainan rakyat tersebut banyak ditemukan elemen-elemen teater yang belum lengkap dan utuh, belum berwujud, hanya sekedar gerak-gerak meniru tarian Garapan ceritanya hanya sepenggal adegan dan tujuan utamanya untuk sekedar menghibur masyarakat.
Permainan Rakyat semacam itu dahulu banyak di temukan di pedesaan – di antaranya masih banyak yang terkait dengan kepercayaan magis yang dipercaya oleh masyarakat lingkungan — dan merupakan salah satu bentuk cikal bakal teater yang disebut Teater Mula.
Adapun Teater Mula yang dimaksud, antara lain dapat disebutkan Lais atau Sintren, yang banyak terdapat di pesisir utara, di Cirebon dan  Jawa Tengah. Seorang penari putri yang belum memakai kostum tari. Tangan-nya diikat, kemudian dimasukkan ke dalam kurungan. Beberapa saat kemudian, setelah diberi “mantra-mantra” dengan iringan musik daerah, kemudian putri tadi dikeluarkan dari kurungan. Tangannya telah lepas dari ikatan dan sudah berpakaian tari. Kemudian ia menari-nari.                                      Kuda Lumping, Kuda Kepang atau Jathilan terdapat dimana-mana, merupakan kelompok tarian dengan pro-perti kuda tiruan yang dibuat dari anyaman bambu.  Penunggang kuda tiruan tersebut menari-nari, kemudian setelah diberi mantra-mantra mereka berlari, menari, berputar tak terkendali, dalam keadaan trance  (kerasu-kan). Sering dalam keadaan seperti itu mereka memakan pecahan kaca (Bahasa Jawa: beling).  Pertunjukan lain seperti Emprak, Angguk, Lengger, Reyog yang dahulu banyak kita temukan di Pulau Jawa, bahkan dapat ditemukan di berbagai daerah lain di Indonesia. Kesemuanya masih merupakan “permainan rakyat” yang dikembangkan menjadi pertunjukan rakyat untuk sekedar menghibur.

Bentuk Penyajian
Banyaknya ragam budaya etnik menyebabkan cara penyampiannya dilakukan dengan berbagai cara dan gaya yang berbeda-beda. Namun cara menyajikan teater tradisional di berbagai daerah hampir serupa. Secara umum dilihat dari segi penyajian, ada 3 macam cara penyajian teater tradisional, yaitu dengan cara dituturkan, dipertunjukkan dan dituturkan dengan peragaan 1. Teater yang  dituturkan,   suatu bentuk seni pertunjukan yang cara penyampaiannya dilakukan dengan jalan dituturkan.  Bentuknya sangat sederhana, mudah dilakukan, tidak perlu terlalu repot  dalam persia-pan dan tidak memerlukan perlengkapan yang rumit. Cukup disediakan tempat untuk seseorang bercerita — di atas tikar atau pun balai-balai — kemudian ditonton orang. Atau bahkan di suatu kedai minum seperti yang dapat ditemukan di satu desa di Sumatera Barat, yang terkenal dengan Bakaba.  .Penontonnya adalah pelanggan (pembeli minuman) di kedai tersebut. Beberapa orang duduk santai, minum kopi sambil mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Tukang Kaba.  2. Teater yang dimainkan/dipertunjukkan, suatu bentuk seni pertunjukan yang cara penyampaiannya dengan cara dimainkan/dipertunjukkan.  Para pelaku memainkan/memperagakan cerita.  Tempat bermain perlu dipersiapkan, tetapi bisa di mana saja — halaman rumah, tanah lapang — yang terpenting ada “tem-pat bermain” dan cukup tempat untuk penonton. Perlu disiapkan sekedar perlengkapan untuk mendukung cerita. Setelah berkembang dan mendapat pengaruh Teater Bangsawan, barulah mulai digunakan “panggung” berupa tempat yang lebih tinggi dari penonton, dengan menambah perlengkapannya. Atau dapat juga dipertunjukan di pendapa, seperti Ketoprak (Jawa), Longser (Sunda), Randai  (Minangkabau), Tantayungan (Kalimantan Selatan).3. Teater yang dituturkan dengan peragaan, di samping dengan cara diceritakan, juga disertakan pera-gaan dari cerita yang dihidangkan. Wayang adalah Teater Tutur dengan peragaan. Sang Dalang yang bercerita sambil memainkan wayang. Peran dalang sebagai pencerita dalam pertunjukan wayang sangat menentukan. Di samping kemahiran bercerita, dalang pun dituntut untuk trampil memainkan wayangnya. Untuk suatu pertunjukan Wayang Kulit, diperlukan persiapan tempat dan kelengkapannya. Contoh : Wayang Kulit atau pun Wayang Golek (Sunda). Masih ada bentuk teater tradisional dengan cara penyajian diceritakan disertai peragaan. Para aktor atau pun penari bertindak sebagai peraga. Bentuk inidapat kita temukan di beberapa tempat, antara lain Topeng Dalang di Madura atau Langendriyan di Yogyakarta.
Ketiga bentuk penyajian tersebut di atas sering dikembangkan lagi dengan berbagai macam variasinya, hingga menambah  keragaman cara penyajian dan bentuk seni pertunjukan tradisional.
Latar belakang Rumpun Budaya yang sama
Dengan latar belakang budaya etnik yang beragam, lahirlah teater tradisional dengan ragam jenis yang satu berbeda dengan lainnya. Seni tradisional banyak ditentukan oleh dominasi latar belakang budaya etnik yang mendukungnya. Berbagai ragamnya budaya etnik di Indonesia, berbeda pula cara dalam mengungkapkan teaternya, tiap daerah mempunyai cara dan gaya tersendiri
Perbedaan teater tradisional tersebut, pada umumnya disebabkan karena adanya dominasi latar belakang budaya etnik yang terasa sangat kuat. Meskipun demikian kelompok besar masyarakat yang merupakan sua-tu rumpun budaya juga melahirkan persamaan gaya penyajian. Pengelompokan teater tradisional yang mem-punyai kesamaan latar belakang budaya yang dominan — umumnya mengelompok di suatu pulau — adalah:
I. Sumatra dan Kalimantan, umumnya jenis teaternya adalah teater tradisional dengan kesamaan latar bela-kang rumpun budaya Melayu yang sangat dominan, meskipun akarnya tetap pada budaya etnik setempat.
Rumpun budaya Melayu dapat dideteksi dari cara penyajian materi, baik musik yang disajikan ataupun tari dan gaya penyajiannya.  Tari dan musik yang mendukung, berbasis tari dan musik Melayu, serta kelengka-pannya.  Musik Melayu dapat dideteksi dari alat-alat yang digunakan seperti akordeon, gendang kecil, viol, gitar, tambur, rebab, biola. Kelompok tersebut antara lain:• Bangsawan (Sumatera Utara)• Makyong (Riau)• Dulmuluk (Palembang)• Mamanda (Kalimantan Selatan)• Mendu(Kalimantan Barat) • Randai (Minangkabau) — meskipun di Sumatra dan bersinggungan dengan budaya Melayu, Randai tetap kokoh pada akar budaya dan  etnik Minangkabau (meskipun terasa adanya pengaruh budaya Melayu, te-tapi tidak terlalu kuat).                                                                                                                                                                                                                                                                   Untuk Teater tradisional yang terdapat di Jawa, yang sangat terasa adanya pengaruh budaya  Melayu adalah teater rakyat yang umumnya terdapat di pesisir utara pulau Jawa, di antaranya:• Lenong  (Betawi)• Sandiwara Sunda (pesisir utara Jawa Barat)• Ketoprak (pesisir utara Jawa tengah)• Srimulat (Surabaya)
II. Pulau Jawa,  umumnya jenis teaternya adalah teater tradisional dengan kesamaan latar belakang  budaya  Jawa – atau  Sunda yang dominan, meskipun akarnya tetap pada budaya etnik setempat. Kelompok budaya Jawa atau Sunda dapat dideteksi dari penyajian pertunjukan materi dan penggunaan kelengkapan musik, yaitu menggunakan musik gamelan Jawa/Sunda yang berbeda dengan musik Melayu. Gaya tari yang disajikan berbasis tari tradisional Jawa/Sunda.
• Susunan gamelan lengkap terdapat pada pertunjukan Wayang Kulit, Wayang Orang, Ketoprak atau sejenisnya, sedangkan untuk pertunjukan rakyat yang lebih sederhana menggunakan gamelan dengan hanya mengambil alat musik seperlunya, disesuaikan dengan kebutuhan pementasan. Kelompok tersebut antara lain:• Longser, Banjet (Jawa Barat)• Topeng Cirebon (Cirebon)• Wayang Kulit (Jawa)• Wayang Orang (terutama Jawa Tengah)• Wayang Golek (Sunda)• Ketoprak ( Jawa Tengah )• Ludruk (Jawa Timur)• Topeng Dalang (Madura)• Langendriyan (Yogyakarta)
III. Pulau Bali,  kelompok teater tradisional dengan kesamaan latar belakang budaya Bali yang dominan. Dengan gamelan Bali yang “sama” susunannya dengan Jawa, tetapi mempunyai irama yang berbeda. Kelompok tersebut dapat dilihat antara lain:• Arja,  Gambuh, Topeng Prembon di Bali• Teater tradisional yang terdapat di  Lombok • Teater rakyat yang terdapat di daerah Banyuwangi Kelompok budaya Bali dapat dideteksi dari gaya dan sifat tarian dan musiknya yang terasa sangat berbeda dengan Jawa –Sunda. Dalam buku Djawa dan Bali (Dua pusat perkembangan Drama Tari Tradisional di Indonesia) oleh Soedarsono – (th. 1972), dikatakan ciri khas tari Bali adalah :
Pertama: Tari Bali umumnya bersifat ekpresif, terutama tersalur melalui mimik muka serta gerak mata yang sangat kocak. Penari Bali apabila sudah mulai menari, pasti akan mengangkat sedikit alisnya ke atas. Gerak mata dapat dilakukan ke segala penjuru, di Bali disebut nyledet.
Kedua: Tari Bali bersifat dinamik, selaras dengan musik pengiringnya. Setiap gerak Tari Bali seperti gerak mata, kepala, tangan, pundak dan kaki selalu bersama-sama dengan ritme pukulan gamelan. Ritme tersebut setiap lagu berbeda, ada yang cepat, lambat, sedang, dan cepat sekali.
Ketiga: Sikap atau posisi pada tari Bali umumnya terbuka dan merendah, bahkan ada yang sampai jongkok. Tetapi ada pula jenis tarian yang posisi kakinya malahan tegak sekali.
Keempat:  Sikap atau posisi tangan pada umumnya terbuka dan agak diangkat ke atas, sehingga pundak pun sering kelihatan terangkat juga.
Gaya Menyajikan CeritaGaya lelucon atau lawakan, merupakan gaya permainan yang dilakukan hampir dalam setiap pertunjukan teater tradisional, terutama pada jenis teater rakyat.  Malahan porsi lawakan ini sering berlebihan dan selalu mengikuti keinginan penonton. Dalam pementasan, teater rakyat tidak mengenal gaya permainan komedi atau tragedi. Komedi atau tragedi, selalu dimainkan dengan gaya yang sama, yaitu gaya “lawakan”.     Gaya lawakan yang disebut farce (banyolan) adalah gaya permainan komedi yang berlebihan, kasar dan ba-nyak menggunakan kelucuan yang mengutamakan gerak lahriah. Gaya banyolan sering diperkuat dengan  kelucuan dalam “permainan kata” (plesetan). Kadangkala dengan sengaja mengucapkan kata yang keliru, untuk menimbulkan efek lucu.
Dalam pertunjukan teater tradisional selalu terdapat tokoh yang menyelesaikan masalah/konflik dalam cerita.  Dalam wayang kita temukan tokoh Semar, Gareng, Petruk (Wayang Jawa) atau tokoh Cepot, Udel (Wayang Sunda). Atau pun pada pertunjukan teater rakyat selalu kita temukan tokoh-tokoh semacam Khadam, Bodor, Badut atau Pelawak. Tokoh-tokoh tersebut menjadi sangat penting untuk menghidupkan pertunjukan, karena diinginkan oleh para penonton.  Makin banyak penonton “tertawa”, makin tambah pula lawakan yang dis-uguhkan oleh pertunjukan tersebut. Ini pulalah yang menjadi daya pikat terutama pada teater rakyat agar  tetap digemari masyarakatnya.
Dalam teater tradisional tidak ada pemisahan antara komedi dan tragedi. Kedua hal tersebut hadir bersama-sama. Yang tragis dan yang komis, tidak mengenal batas yang jelas.
A. Media Ekpresi Teater Tradisional
Teater tradisional merupakan salah satu kelompok bentuk seni kolektif yang terpadu dan menggunakanunsur berbagai media ekpresi. Umumnya menggunakan media ekpresi berupa tari, drama,  dan musik, ketiganya dijalin terpadu. Tetapi ketiga media ekpresi dapat juga berdiri sendiri-sendiri. Media ungkapnya tidak hanya dengan suara(yang menghasilkan kata-kata dalam bentuk penceritaan yang bersifat oral — dinyatakan dengan bahasa) dan laku, tetapi juga diungkapkan dengan gestur (gerak) dan mimik.
Setiap seniman teater tradisional harus mengenal, mengerti dan memahami materi seni tari, musik dan drama. Dalam  pertunjukan selalu dipergunakan bahasa daerah setempat, bahasa yang hanya dimengerti oleh masyarakat etnik tertentu. Bahasa merupakan salah satu faktor yang memungkinkan suatu teater dari suatu kelompok etnik dapat komunikatif dalam lingkungannya.                                   Dalam menyampaikan ekspresi pertunjukan, teater tradisional banyak menggunakan stilisasi,  sebelum sam-pai ke bentuk tari.  Gerak stilisasi, dengan tingkat pengindahan yang tinggi dalam teater tradisional sangat dominan. Itulah sebabnya gerak pencak-silat di dalam kehidupan kesenian tradisi kita, oleh masyarakat sering dianggap juga seni tari.
Tari dan Pencak memang mempunyai sumber materi dan susunan kegiatan sama, yaitu gerak yang diolah dengan irama. Tetapi tujuan akhirnya  sangat berbeda. Tari  bertujuan utama menyajikan suatu karya keinda-han, sedangkan Pencak bertujuan utama sebagai olah raga bela diri.
Dalam pelaksanaan penyajian, laku dan dialog tetap merupakan “porsi utama”, sedangkan tari dan musik me-rupakan unsur pendukung. Menyanyi merupakan cara mengungkapkan dialog dalam bentuk lain. Cara mengungkapkan dengan lewat berbagai media ungkap/ekspresi dalam teater tradisional merupakan ciri utama yang harus dilihat sebagai “satu kesatuan” yang terpadu, tidak “terpotong-potong”, tidak  berdiri  sendiri. Semua merupakan ungkapan suatu keterpaduan yang utuh.  Antara dialog dan nyanyian, antara gerak dan tarian, seluruhnya harus mengalir. Tidak ada batas antara tari, laku, menyanyi semuanya luluh menjadi satu.
B.  Lakuan dramatik
Laku dramatik dalam teater rakyat diungkapkan secara sepontan dan tak diduga-duga.  Tak ada batas antara emosi sedih dan gembira, tak dibedakan antara tangis dan tertawa. Semuanya berjalan bersamaan dan seka-ligus dapat terjadi. Seorang pemain dapat sekaligus mengungkapkan nilai dramatik yang berlawanan. Ia dapat mengungkapkan lakuan dramatik sedih dan sekaligus gembira pada saat yang sama.
Mungkin hal ini dapat terjadi karena mereka bermain dari “luar”. Mereka hanya “memainkan” tokoh peran yang ia bawakan, tetapi bukan “mendalami dan menghayati peran” yang ia bawakan. Permainan para pemain teater rakyat hanyalah “permainan dipermukaan”, tetapi bukan permainan “dari dalam” yang penuh penghayatan dan penjiwaan seperti pada permainan teater non-tradisi.
Dalam teater tradisional pemain tidak dipersiapkan untuk menghayati, menjiwai, mendalami serta menghi-dupkan peran yang di bawakan. Pemain Teater tradisional hanya sekedar memainkan peran dengan meniru-kan tokoh dengan perwatakan yang stereotIpe, yakni  watak “hitam-putih”.
Berbeda dengan pemain dalam teater non-tradisi. Mereka sangat mempersiapkan diri dengan latihan yang intensif memperhitungkan lakuan dramatik. Semua disiapkan, dilatih untuk dapat merasakan/menghayati dan pada gilirannya menghidupkan peran yang dibawakan.
Seperti diuraikan di atas, penyajian dalam teater tradisional lebih banyak bercerita, sedangkan lakuan drama-tik yang muncul hanyalah “sekedar” penggambaran dalam wujud permainan dari cerita yang disajikan. Karena dilakukan dengan gaya banyolan maka pertunjukan teater rakyat disajikan dengan cara yang ringan. Lakuan lebih merupakan akting indikatif sehingga lebih gampang berpindah-pindah dari penggambaran sedih menjadi senang.  Pada satu saat situasinya sedih, beberapa saat kemudian dapat menjadi sangat gembira, dengan perubahan yang spontan.
Hanya pada Wayang Kulit atau Wayang Orang, lakuan dramatik lebih diekpresikan sesuai dengan keinginan cerita dan tokohnya.  Sedangkan untuk gaya “banyolan” dibatasi dan ditampung khusus pada saat adegan “goro-goro”.
Pada karya seni yang berbentuk seni pertunjukan, unsur penonton secara tidak langsung merupakan bagian dari proses diciptakannya karya seni tersebut. Seni pertunjukan belum merupakan hasil karya yang utuh se-belum disaksikan oleh penonton.  Bagi teater tradisional, terutama pada jenis teater rakyat,  unsur penonton justru merupakaan bagian dari pertunjukan yang tidak dapat dipisahkan.  Hubungan emosional antara penon-ton dan pemain sangat akrab, bahkan seringkali penonton terbawa secara emosial dan aktif ketika pertunju-kan sedang berlangsung, Hubungan penonton dan pementasan sangat erat, karena para pemain mengguna-kan bahasa dan peristiwa yang komunikatif dengan masyarakat lingkungan di mana pertunjukan tersebut ber-langsung. Artinya unsur penonton merupakan hal yang penting dalam proses penciptaan yang harus diperhi-tungkan. C.  Topeng
Topeng, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, mempunyai arti penutup muka yang dibuat dari kayu (ker-tas) yang berupa muka orang atau binatang. Sering juga disebut Kedok. Di Bali di samping Topeng (biasanya untuk istilah pertunjukan yang memakai topeng), juga disebut Tapel. I Wayan Diya, salah seorang seniman Bali, membedakan istilah Topeng dan Tapel: Topeng mempunyai ciri-ciri yang digambarkan untuk wajah ma-nusia, sedangkan Tapel untuk menggambarkan yang bersifat “monster”, yang sering juga dipakai untuk ke-perluan upacara.
Topeng, menjadi salah satu perlengkapan yang sering digunakan dalam seni pertunjukan tradisional. Tiap topeng mempunyai karakter sendiri. Ada yang berwatak keras, halus/lembut atau pun lucu. Semua meng-gambarkan watak yang hitam putih, sesuai dengan watak tokoh yang terdapat dalam cerita teater tradisional.
Dalam seni pertunjukan, topeng mempunyai nilai tata rias wajah. Dimasukkan dalam kelompok Tata Rias dan Kostum, yang sebenarnya digunakan sebagai alat pendukung ekpresi. Meskipun topeng berbentuk statik, namun dalam pementasan dapat menyampaikan suatu watak yang ekpresif. Topeng sebenarnya tak ubahnya sebagai make-up (tata rias wajah) yang tebal, seperti yang sering dipakai dalam pantomim. Apabila seseorang pemain/penari memakai topeng, ia dapat juga menggambarkan watak yang ekpresif dan dinamis ketika disatukan dengan gerak-gerik tubuh sang pemakai topeng.
Banyak teater tradisional menggunakan topeng dalam pementasannya. Bahkan sebagian besar pertunjukan rakyat menggunakan, sehingga pertunjukan kemudian disebut Teater Topeng, misalnya Topeng Pajegan, Topeng Cirebon, Topeng Dalang. Topeng Pajegan, adalah pertunjukan tari yang menggunakan topeng. Pe-narinya hanya seorang, tetapi memainkan 5 tokoh dengan topeng yang berbeda-beda.
Untuk menggambarkan betapa banyaknya seni pertunjukan tradisional yang menggunakan topeng, Dr. Th. Pigeaud dalam tulisannya Javaanse Volksvertoningen –Bijdrage tot de Beschrijving van Land en Volk  men-catat dan mengupasan topeng dan pertunjukan topeng (maskerspel) yang terdapat di pulau Jawa.
Lebih dari ratusan tentang topeng  — baik topeng yang menggambarkan watak dan tokoh atau pun sebagai penamaan pertunjukan yang menggunakan topeng. Topeng yang digunakan sangat beragam dan selalu ada sedikit perbedaan di antara satu kabupaten dengan kabupaten yang lain, meskipun tokoh  yang digambarkan dan dimainkan sama. Di Pulau Jawa saja terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan jenis topeng. Belum ter-masuk daerah di  luar Jawa.
Salah satu catatan tentang koleksi topeng dari seseorang di daerah Gresik (Jawa Timur) yang sering diper-gunakan untuk keperluan pertunjukan, tercatat sejumlah 168 buah topeng. Terdiri dari cerita-cerita rakyat dan dongeng  yang terdapat di Jawa, yaitu dari siklus Purwa, sampai siklus Damarwulan.
Topeng dapat diartikan sebagai wujud karakter tokoh dalam cerita yang dipertunjukan. Pada cerita Panji, to-peng digunakan baik pada tarian atau pun dramatari. Tokoh-tokoh yang menjadi karakter topeng di antaranya Klana Sewandono, Pandji, atau  tokoh abdi seperti Penthul, Tembem, Bancak dan Doyok.
Dalam Wayang Orang, para abdi berias wajah tebal, menyerupai topeng. Bahkan seluruh pemain dalam Wayang Orang Cirebon dan Wayang Wong Bali – untuk pementasan Mahabharata — menggunakan topeng. Sedangkan Wayang Wong Bali dengan cerita Mahabharata — disebut Wayang Wong Parwa — tidak menggu-nakan topeng.
Dalam teater tradisional, topeng mempunyai peranan yang sangat penting. Terutama karena keterkaitan dan hubungannya dengan upacara ritual.
Mengenal Timur dan Barat
Pemahaman tentang Teater Timur dan Barat menjadi sangat penting dalam membicarakan teater tradisional, dalam pembandingan dengan teater non-tradisi.  Kedua bentuk teater tersebut berbeda baik dari sumber, pendekatan, latar belakang budaya dan gaya menyampaikan. Pada teater tradisional terkaitan dengan latar belakang budaya pendukungnya yaitu kebudayaan Timur, sedangkan teater non-tradisi terkait dengan latar belakang budaya yang dipengaruhi Barat. Dalam hal ini berhubungan dengan teknik penyajian teater Barat (Teater di Eropa dan Amerika).
Istilah Timur  dan Barat sering menimbulkan salah faham. Ada anggapan keduanya sangat berbeda dan tak dapat dipertemukan. Ada ungkapan dari Rudyard Kipling (1865-1936) yang sangat terkenal untuk mengungkapkan perbedaan antara Timur dan Barat yang. Ungkapan itu  sangat populer di tahun limapuluhan, yang mengatakan “East is East and West is West, and never the twain will meet”.  Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat. Keduanya tak pernah dapat dipertemukan.
Pernyataan tersebut memang ada benarnya, tetapi hanya sebagian dan berlaku pada jaman tertentu. Dewasa ini semua telah berkembang dan berbeda. Banyak usaha yang dincoba untuk mempertemukan Timur dan Barat, agar keduanya dapat saling bertemu dan bekerja bersama, mengadakan kolaborasi dan menghasilkan karya.  Kemajuan teknologi dan komunikasi, menimbulkan kesadaran akan perlunya kontak dan interaksi antara Timur dan Barat.
Istilah Timur dan Barat lebih bersifat simbolis dari pada berdasarkan pada kenyataan geografis, demikian dinyatakan Rougemont Denis De dalam bukunya Man’s Western Quest  (1957).   Istilah Timur dikaitkan dengan Asia, yang secara etnoligis mencakup Asia Timur, Sdis Tengah (India, Jepang, Cina) dan Asia Selatan/Tenggara, tidak termasuk Australia. Sedangkan Barat meliputi Eropa, Amerika Serikat, Canada, dan Australia. Sebelum membicarakan teater Timur dan Barat, terlebih dahulu kita mengenal kebudayaan Timur dan Barat, serta manusia yang menjadi pelaku dan penentu. Perbedaan kedua bentuk teater  terletak pada perbedaan  kebudayaan Timur dan Barat yang menjadi latar belakang proses lahirnya seni teater. Dalam bukunya Pengantar Antropologi, Th. Fischer mengatakan bahwa proses terjadinya suatu kebudayaan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor,  yaitu apa yang menggerakkan manusia untuk menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian kebudayaan merupakan produk kekuatan jiwa manusia sebagai makhluk Tuhan. Walaupun manusia memiliki tubuh yang lemah dibandingkan dengan hewan pada umumnya, namun memiliki akal dan pikiran yang mampu menciptakan alat (manusia sebagai homo faber) untuk dapat menguasai dunia.
Ada 3 (tiga) faktor yang mempengaruhi proses terjadinya kebudayaan :
a) Faktor Kitaran Geografis (Lingkungan hidup, geografis milleu)b) Faktor Induk Bangsa (kelompok ras yang berbeda)  c) Faktor Saling Kontak Antar Bangsa.
Ketiga faktor tersebut menyebabkan kebudayaan satu berbeda dengan kebudayaan lainnya. Karena daerah-nya secara geografis berbeda, suku bangsa berbeda, maka kebudayaan dari suatu bangsa berbeda dengan bangsa lainnya.
Sedangkan menurut Malinowski, kebudayaan pada prinsipnya mendasarkan diri kepada sistem kebutuhan manusia. Tiap tingkat kebutuhan (manusia) melahirkan corak budaya tersendiri.  Kebutuhan manusia di Eropa dan Amerika sebagai negara industri, sedangkan di Asia umumnya sebagai negara agraris, mempunyai kebutuhan yang sangat berbeda.
Mengenal kebudayaan Timur dan Barat, dalam kaitanya dengan teater perlu kita perlu pahami  ciri-ciri  manusia Timur  dan  Barat, yang memang berbeda. Dalam buku  Citra Manusia Budaya Timur dan Barat  (1990),  Fernandes SVD mencatat sebagai berikut: Manusia Timur, mempunyai kekhasan dalam cara hidup dan cara berfikir,  memandang pribadi manusia dalam kebersamaan. Pribadi manusia baru bernilai dan berharga, kalau ia melibatkan diri dalam kehidupan  bersama yang tetap dan harmonis. Ia tidak memisahkan diri dan berfikir secara sosial kolektif.
Manusia Timur, terlibat dalam situasi tradisional. Ia memiliki pandangan tradisional tentang alam dunia, tentang diri sendiri dan hubungannya dengan sesama, dengan leluhur dan dengan Yang Maha Kuasa.
Manusia Timur, melihat manusia sebagai satu bagian dari alam. Berfikir  intuitif daripada rasional.   Berfikir secara global, konprehensif, menyeluruh dan distingsi, Manusia Timur lebih mementingkan kebersa-maan dan penghargaan terhadap hidup sederhana,  kebijaksanaan hidup dalam damai,  ketenangan dan ke-rukunan.
Manusia Barat lebih mengembangkan akal budi dan teknologi. Lebih mementingkan pilihan sebanyak mungkin atas kebendaan demi diri sendiri. Berfikir rasional, analitis dan kompleks. Pengalaman yang diperoleh  diuraikan dan disusun sebagai satu rangkaian sebab-akibat.  Manusia Barat selalu memandang dunia sebagai obyek. Manusia meupakan penetu dan tidak mau dikuasai oleh alam. Sebaliknya harus menguasai, mengolah dan mengembangkanalam.untuk melayani kebutuhan hidup (Peursen van C.A. – Strategi Kebudayaan -1976)
Manusia Barat lebih bersikap individual dalam menghadapi segalanya dengan menyandarkan diri pada pen-getahuan dan teknologi.
Kebudayaan Asia (kebudayaan Timur) sangat berbeda dengan kebudayaan Eropa & Amerika (kebudayaan Barat). Pengelompokan kebudayaan Timur atau Barat didasarkan pengelom-pokan adanya kedekatan kesa-maan-kesamaan dasar  dan sedikitnya perbedaan yang memang tidak mudah untuk disamakan.

A.  Teater Timur dan Teater Barat
Teater Asia  bersumber dan berlatar belakang kebudayaan Asia,  kebudayaan Timur, yang berbeda titik tolak, konsep, sumber dan akar budayanya berbeda dengan Teater Barat. Teater Timur  lebih bersifat spiritual,  yang lahir dari intuisi, kebersamaan dan menggunakan multi media ekspresi yang terpadu. Tidak terfokus pada salah satu media ekpresi  Pementasan dapat berbentuk drama, tari dan musik, yang kesemuanya akan dkordinasikan secara terpadu.
Teater Barat lebih mengutamakan sarana teknik yang lebih terlihat secara visual. Dalam menggunakan media ekspresi utama, cenderung “membatasi” pada keahlian secara professional dan berkonsentrasi hanya pada salah satu media ekpresi yang ditekuni, baik drama, tari atau musik.

B.  Teater Timur adalah Teater Total
Seniman teater Barat sering menyebut teater Timur dengan sebutan Total Theatre. Hal ini disebabkan setiap pertunjukannya menggunakan multi media ekspresi (drama, tari, musik, pantomim). Begitu pula gaya penya-jian (tragedi, komedi, melodrama). Baik tema yang disampaikan atau pun wujud yang dipertunjukan selalu bersifat total/ganda.
Prof. Dr. I Made Bandem & Dr.Sal Murgiyanto, dalam buku Teater Daerah Indonesia mengatakan  bahwa para ahli teater Barat sering menjuluki teater daerah Indonesia sebagai teater total. Ungkapan itu berarti bah-wa teater tradisional di Indonesia terbentuk dari paduan berbagai aspek pendukung. Di samping itu jugadapat dinikmati  oleh segala lapisan masyarakat serta pribadi. Tidak ada teater daerah yang  hanya diciptakan untuk kepentingan segolongan masyarakat tertentu. Dengan demikian, teater daerah Indonesia direncanakan untuk penonton yang lebih menyatu.
Dr. Hazim Amir MA, dalam bukunya Nilai-nilai Etis dalam Wayang, (1997) dalam bab Wayang sebagai suatu Teater Total  mengatakan: Orang yang terbiasa dengan teater Barat akan selalu kebingungan bila menghadapi Wayang. Kebingungan disebabkan tidak terbiasanya menghadapi suatu  bentuk teater yang demikian total, sehingga untuk menghadapinya diperlukan suatu ketotalan kepribadian
Teater timur tidak membatasi dir baik dai sisi tema cerita, gaya penyajian atau pun media ekpresi yang dipi-lihnya. Seluruh kemampuan dilakukan dan dijalin menjadi satu kepaduan.C.  Penggunaan Media Ekpresi
Teater Barat bertolak dari sastra tulis (lakon), penggarapannya lebih bersifat teknik. Pemilihan media ekpresi selektif dan terfokus pada salah satu media ekpresi, dengan mengesampingkan yang lain. Pementasan terba-tas pada pemilihan bentuk ekpresi yang akan  digunakan, apakah  dalam bentuk drama, tari, ballet, opera, atau pun musik.  Penggunaan media ekpresi pada teater Barat sangat tegas dan dibatasi.dengan hanya menggunakan satu media ekpresi. Pertunjukan yang disebut Ballet, misalnya, hanya menggunakan media stilisasi gerak yang sudah baku dan mapan, sedangkan dalam pertunjukan Opera hanya digunakan media ungkap suara dengan menyanyi.  Pertunjukan Teater Barat umumnya tidak menggunakan multi media ekpre-si.
Teater Timur bertolak dari sastra lisan, penggarapannya lebih bersifat intuitif dan spontan. Pemilihan media ekpresi, selalu menggunakan multi media ekpresi terpadu.  Tidak membatasi pada satu bentuk media ekpresi yang tegas, melainkan menggunakan seluruh media ekpresi yang dapat dipakai untuk keperluan seni pertun-jukan.
Contoh perbedaan penggunaan media ekpresi teater Barat & teater Timur.
Teater Barat menggunakan media ekpresi tunggal,  misalnya :
• Ballet  (hanya menari, menggunakan fokus pada media ekpresi gerak)• Opera  (media ekpresi laku dan suara, menyampaikan dengan cara menyanyi) • Drama  (terfokus pada media ekpresi laku dan suara/dialog)• Musikal komedi ( terfokus pada laku dan musik )       Teater Timur menggunakan multi media ekpresi, misalnya:
• Arja (Bali)   – mengungkapkan dengan cara menyanyi, menari, dialog, bermusik• Wayang Orang (Jawa)  -menari, menyanyi, berdialog, berlaku, bermusik• Lakon Jatri (Thailand)   – menari,menyanyi, berdialog, berlaku dan musik                            • Kathakali (India)  – menyanyi, menari, berdialog, berlaku, bermusik• Kabuki (Jepang)    – menyanyi, menari, berdialog, berlaku, bermusik
Wujud Teater Tradisional
Teater tradisional bersumber dan berakar serta telah dirasakan sebagai milik sendiri dan diterima oleh ma-syarakat lingkungannya. Pengolahannya didasarkan pada citarasa masyarakat pendukungnya. Citarasa disini mempunyai pengertian yang luas, termasuk nilai kehidupan tradisi, rasa etik dn estetik, serta nilai budayanya.
Pertunjukan dilakukan atas dasar tata cara dan pola yang diikuti secara mentradisi (secara turun- temurun), pengalaman generasi tua dialihkan ke generasi penerusnya.  Alat ekpresi yang digunakan tidak hanya dengan laku dan suara (dalam bentuk percakapan/dialog), tetapi serentak dilakukan dengan menyanyi dan gerak dalam tari, dengan sendirinya selalu diiringi oleh musik tabuhan, kesemuanya dipertunjukan secara terpadu.
Pementasan Teater tradisional dilakukan dengan cara yang paling sederhana, yaitu dengan menggunakan arena di lapangan terbuka dengan penonton berkeliling dalam bentuk yang sangat sederhana, dengan cara menonton yang santai.

Perkembangan Teater tradisional
Jenis dan keragaman teater tradisional yang ada di Indonesia, bersumber dari perbedaan budaya sejumlah etnik yang hidup berdampingan, saling dukung-mendukung, pengaruh-mempengaruhi, sehingga teater tradi-sional di suatu daerah mempunyai kesamaan dengan lainnya, dengan tetap memiliki kekhasan daerahnya  Ada persamaan dan ada pula perbedaan satu sama lain.
Di Indonesia, tidaklah mudah untuk mengatakan bahwa suatu kesenian adalah “asli daerah setempat”. Apa bedanya Lenong dengan Topeng Betawi?  Topeng Betawi dengan Topeng Sunda?  Apakah musik Gambang Kromong merupakan musik asli Betawi?  Musik Gambang Kromong, kalau kita teliti, sebagian besar alat-alat musiknya adalah Tehiyan, Khong Ayan, Sukong. Melihat namanya, tentu berasal dari Cina.  Tetapi toh tetap dikatakan bahwa Gambang Kromong yang mengiringi Lenong adalah kesenian Betawi.
Dalam makalah Gambang Kromong Selendang Betawi Jakarta Utara: Suatu studi kasus mengenai Musik dan Tranformasi Sosial Budaya pada Temu Ilmiah dan Festival MSPI tahun 1994,  Malona Sri Repelita, S.Sn. menulis:  Gambang Kromong adalah suatu genre musik tradisional masyarakat Betawi (Etnik Melayu Jakarta) yang disajikan dalam bentuk ensambel. Kebudayaan musik ini hasil percampuran antara unsur-unsur musik beberapa etnik pribumi dan unsur musik Cina. Hal ini dapat dilihat dari alat-alat musik yang terdapat pada Gambang Kromong, yang terdiri dari: gambang, kromong, gendang, kecrek, gong (alat musik pribumi) dan ningnong, terompet cio tauw, tehyan, kongahyan, sukong (alat musik Cina).
Dengan mengemukan kehidupan teater tradisional, kita akan memperoleh gambaran betapa kaya teater tra-disional di Indonesia akan nilai-nilai budaya. Hal itu dapat menggambarkan tata cara kehidupan serta adat-istiadat yang berlaku.
Kehidupan teater tradisional makin berkembang dengan datangnya pengaruh budaya lain yang masuk ke Indonesia. Hadirnya Teater Bangsawan memberi pengaruh sangat besar pada perkembangan teater tradi-sional, dan merupakan perkenalan  ke arah teater non-tradisi. Kelompok Teater Bangsawan, dengan ciri-cirinya, masih tergolong sebagai teater tradisional. Meskipun demikian telah mengalami banyak perubahan, menerima pengaruh-pengaruh dalam teknik penyajian dan bentuknya pun mengalami perubahan. Pada periode transisi inilah teater tradisional mulai terpengaruh teater Barat, sehingga lahirlah suatu bentuk teater yang  disebut Teater Transisi. Teater Transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode di mana teater tradisional mulai menga-lami perubahan karena pengaruh budaya lain. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradi-sional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, dinamakan Teater Bangsawan. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis, meskipun masih dalam wujud  cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi.  Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan.
Pertunjukan mulai “dikelola” dengan rapi dan tertib.
Apabila ditelusuri sejarahnya, Teater Bangsawan berasal dari Timur Tengah. Mula-mula datang ke Penang (Malaysia). Setelah berkembang di Penang, baru kemudian ke Sumatra dan Jawa. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater dari budaya lain dimulai sejak Teater Bangsawan menyebar ke Pulau Sumatra.  Pe-mentasan Teater Bangsawan secara teknik telah banyak mengikuti teater Barat (Eropa).  Pada saat itu  teater tradisional mulai meniru Teater Bangsawan, mulai menggunakan out-line story (panduan cerita yang ditulis)  dengan menggunakan bahasa Melayu. Seperti diketahui, bahasa Melayu yang terdapat di Riau merupakan akar dari bahasa Indonesia, yang. kemudian menjadi bahasa persatuan (nasional) Indonesia.  Teater Bangsawan merupakan rintisan dan perkenalan dengan teater Barat, yang nantinya akan melahirkan teater non-tradisi, teater yang secara teknik banyak mengambil acuan dari teater Barat dan berbeda dengan teater tradisional.
Masa Transisi  Kehidupan Teater di Indonesia
Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stambul di Surabaya pada tahun 1891, yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa), yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon.
Kelompok periode Teater Transisi masih digolongkan pada kelompok teater tradisional, tetapi dengan model garapan dengan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, yaitu yang salah satunya dikenal dengan se-butan Teater Bangsawan.
Dilihat dari segi sastra, kita mulai mengenal “sastra lakon” dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno, pada tahun 1901. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda, Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913), dan lain-lainnya, yang menggunakan bahasa Melayu rendah. Penulisan lakon ini banyak ditiru oleh kelompok Teater Bangsawan.
Setelah Komedie Stamboel didirikan, kemudian disusul dengan bermunculannya beberapa rombongan san-diwara lainnya. Gaya penyajiannya mengikuti apa yang dilakukan oleh Teater Bangsawan yang datang dari Timur Tengah dan kemudian mengembara dan menetap di Penang Malaysia. Sering juga disebut Wayang Parsi.  Kemudian disusul dengan kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dar-danella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A.Pedro pada tanggal. 21  Juni 1926, Opera Stambul, Komidi Bangsawan, Indra Bangsawan,  Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek, Sandiwara Tjahaja Timoer dan sebagainya.
Pada jaman Teater Transisi belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau  tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedang-kan cerita yang disajikan dinamakan drama. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Jaman Kemerdekaan. Sampai pada jaman Jepang dan permulaan jaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer.
Pengembangan  Teater Tradisional
Pada jaman penjajahan Belanda di Indonesia, masyarakat kita pada mulanya hanya kenal dengan teater ra-kyat, teater tradisional yang bersifat kerakyatan.  Kesenian tradisi di Indonesia pada jaman itu hanya memiliki dua katagori, yaitu kesenian rakyat dan kesenian yang lahir di keraton-keraton. Kesenian yang lahir dari kera-ton biasanya lebih “terpelihara” dan dirawat dengan baik. Sedangkan kesenian rakyat umumnya lahir secara spontan,sedang para senimannya merupakan petani-petani yang senang dengan kesenian.  Tetapi karena secara geografis Indonesia terletak di persingggahan pelayaran dari negara lain, pengaruh ke-budayaan lain masuk ke Indonesia dari berbagai negara seperti India, Cina, Purtugis, Inggris, dan lain-lainnya. Pengaruh kebudayaan asing tersebut masuk dengan mudah. Untungnya bangsa Indonesia dapat mengambil manfaat dengan adanya budaya lain tersebut. Diambil yang bermanfaat, cocok dengan budaya kita, kemudian diadaptasi kedalam kebudayaan kita.
Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Di samping pengaruh dari Teater Bangsawan, teater tadisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805, yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan men-gawali berdirinya gedung  Schouwburg pada tahun1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta).
Arti penting lainnya dari Teater Bangsawan adalah perannya yang merupakan rintisan, yang nantinya akan menjadi  Teater Non-tradisi. Bangsawan, merupakan prototipe teater tradisional yang umumnya terdapat di Pulau Sumatera dengan latar belakang pendukung yang dominan, rumpun  budaya Melayu.
Dalam bukunya Seni Persembahan Bangsawan, Rahmah Bujang menyatakan bahwa Bangsawan dikenal pertama kali di Malaysia, yaitu ketika ada rombongan teater dari India, sekitar tahun 1870, dan mereka me-nyebutnya sebagai Wayang Parsi. Asal mula Wayang Parsi dari Turki, karenanya cerita-cerita yang dihidang-kan kebanyakan dari daerah Timur-Tengah dan India. Semua pemain teater dari India tersebut terdiri dari pria.
Kemudian Wayang Parsi menyebar ke selatan sampai ke Indonesia (Medan, Riau dan Palembang, untuk pu-lau Sumatra dan bahkan sampai ke Pulau Jawa dan Kalimantan). Di Sumatera Selatan ditemukan teater tra-disional yang sejenis dengan Bangsawan. Dinamakan Dulmuluk, tetapi sering juga disebut Abdul Muluk, atau Indra Bangsawan. Pada umumnya, Bangsawan merupakan teater tradisional yang terdapat di Sumatera Utara, sedangkan pen-garuh Bangsawan menyebar ke Kalimantan dan Jawa.
Timut dan Barat
To Thi Anh, dalam bukunya Eastern and Western Cultural Values, Conflicht or Harmony  (th.1975) – menulis: “Memang di masa lampau, orang mempertentangkan Timur dan Barat’.  Timur dipandang dalam konotasi:  kemiskinan, kelebihan penduduk, nasionalisme, kebatinan, spiritual, bersifat pasif dan tradisional. Barat di-kaitkan dengan kolonialisme,  teknologi,  kapitalisme,  kekuasaan, materialisme,  dan  bersifat aktif progresif.
Pandangan semacam itu berangkali ada benarnya untuk masa lalu, tetapi tidak berlaku untuk jaman sekarang yang sudah banyak berubah. Jepang tidak bersifat pasif atau Cina tidak bersifat tradisional. Timur dan Barat, Asia dan Eropa sekarang berubah sangat cepat
Steward C. Easton, dalam bukunya The Heritage of the Past (New York, 1955) memperbandingkan antara kebudayaan Tiongkok dan India, yang memperlihatkan pelbagai macam kesamaan. Banyak musafir Tiongkok mengunjungi India dan membawa ajaran dan unsur kesenian ke Tiongkok dan sebaliknya. Di Indonesia, ba-nyak terdapat unsur-unsur kesenian dari India, karena terasa adanya kesamaan esensi.

B A B   II¬¬¬————————————————————————————————————————————————–ASAL MULA TEATER TRADISIONAL
Pengantar
Mengungkap sejarah dan asal mula teater tradisional bukanlah hal yang mudah. Teater tradisional yang masih ada sekarang sudah sangat berbeda baik fungsi ataupun gaya penyajiannya. Untuk merekonstruksi kembali apa dan bagaimana teater tradisional pada jaman dahulu, kita perlu memperoleh bahan-bahan tentang teater tradisional di masa lampau. Persoalan ini bersumber pada kelemahan kita dalam hal dokumentasi. Materi dan bahan-bahan yang diperoleh dari seniman pelaku teater rakyat yang masih dapat dikorek keterangannya, sering tidak sama dan bahkan berbeda.  Kesukaran memperoleh bahan disebabkan sedikitnya dokumentasi yang dapat dijadikan acuan dalam menyusun atau merekontruksi teater tradisional.
Kendala lainnya adalah terlalu banyaknya etnik di Indonesia, sehingga upaya menelusuri asal mula atau proses kelahiran teater tradisional sangat sulit karena berbeda satu dengan lainnya. Ada yang lahir dari sastra lisan, di daerah lain berasal dari bagian suatu upacara, ada pula yang lain dari permainan rakyat yang berwujud bunyi-bunyian untuk hiburan, kemudian dikembangkan menjadi seni pertunjukan dalam bentuk teater rakyat.
Untuk mengenal sejarah teater tradisional, kita perlu menelusuri bagaimana proses kelahiran dan kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Bagaimana masyarakat menerima dan menghayati kesenian tradisi di ling-kungannya.
Sejarah teater tradisional dimulai sejak sebelum jaman Hindu. Pada jaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual, hingga unsur teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita.
Pada saat itu, yang disebut “teater”, sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater, dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur-unsur teater ter-sebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat ling-kungannya. Wayang merupakan suatu bentuk teater tradisional yang sangat tua, dan dapat ditelusuri bagai-mana asal muasalnya.
Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan  wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti pada jaman raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung.  Namun tidak jelas apakah pertunjukan wayang terse-but seperti yang kita saksikan sekarang (merupakan pertunjukan dengan bayang-bayang) dan bagaimana dengan cerita yang dihidangkan.   Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan Wayang, yaitu.yang terdapat pada prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi, yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang.  Petunjuk semacam itu juga ditemukan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada jaman Raja Airlangga dalam abad ke-11. Oleh karenanya pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang sangat tua.  Sedangkan bentuk wayang pada pertunjukan di jaman itu belum jelas tergambar bagaimana.
Awal mula adanya wayang, yaitu saat Prabu Jayabaya bertakhta di Mamonang pada tahun  930.  Sang Prabu ingin mengabadikan wajah para leluhurnya dalam bentuk gambar, yang kemudian dinamakan Wayang Purwa.  Dalam gambaran itu diinginkan wajah para dewa dan manusia jaman purba.  Pada mulanya hanya digambar di dalam rontal  (daun tal). Orang sering menyebutnya daun lontar. Kemudian berkembang menjadi wayang kulit  yang sebagaimana dikenal sekarang.
Sering terdengar pendapat yang menyatakan bahwa wayang  banyak memperoleh pengaruh Hindu. Hal ini tak dapat dipungkiri, terutama apabila diltilik dari cerita yang dihidangkan, selalu mengambil cerita Mahabharata atau Ramayana. Orang mengatakan, di India tidak ada bentuk wayang kulit seperti yang ada di Indonesia. Dr. Seno Sastroamidjojo, dalam bukunya  Renungan Tentang Pertunjukan Wayang Kuli”  (1964), mengatakan :

“Rabindranath Tagore, seorang pujangga basar bangsa India, ketika mengunjungi Indonesia, me-nyatakan bahwa pertunjukan wayang kulit semacam itu tidak ditemukan di India. Yang sama hanya beberapa tokoh wayang tersebut sama dengan yang terdapat di India, misalnya: Arjuna dan Sri Kresna”.
Kemungkinan besar, apa yang dimaksud dengan pernyataan itu adalah bahwa bentuk dan modelnya yang tidak sama.  Tetapi pertunjukan semacam wayang,  tentu saja ada di India.  Dari pernyataan Rabindranath Tagore tersebut jelas bahwa sumber cerita wayang berasal dari India, hanya untuk daerah Asia Tenggara cerita tersebut diadaptasi disesuaikan dengan cerita rakyat atau legenda setempat.
Asal Mula Teater TradisionalMasyarakat pertanian menaruh arti yang penting pada tanah, alam, pepohonan, air, sungai dan juga roh-roh halus yang menjaganya.  Di sini terkait dengan adanya kepercayaan terhadap adanya  roh-roh halus (roh ne-nek-moyang) yang mempengaruhi kehidupannya. Teater tradisional lahir dari spontanitas kehidupan dan di-hayati oleh masyarakat lingkungannya, karena merupakan warisan budaya nenek moyangnya. Kelahir- annya, pada umumnya didorong oleh kebutuhan masyarakat, dimulai sebagai pendukung sarana dan kelengkapan upacara, dan setelah itu sekaligus merupakan pemenuhan kebutuhan akan hiburan. Pertunjukan teater tradisional yang masih dapat disaksikan dewasa ini, biasanya dilaksanakan bersamaan dengan keperluan masyarakatnya yang masih terkait untuk keperluan suatu upacara, hajatan, perayaan atau pun keperluan lainnya. Pertunjukan diselenggarakan atas dasar tata cara dan pola yang diikuti secara men-tradisi, secara turun-temurun.
Banyak teater tradisional di berbagai tempat di Indonesia merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan atau upacara adat, yaitu sejak jaman Pra-Hindu.. Pada upacara tersebut, terlihat adanya apa yang sering dis-ebut peristiwa teater sebagai pendukung upacara.

Peristiwa teater yang dimaksud adalah suatu kejadian yang mirip dengan suatu bentuk pertunjukan teater. Secara elementer dapat dilihat sebagai unsur-unsur yang mendukung pertunjukan teater. tetapi dalam wujud-nya tidak dapat dikatakan suatu bentuk teater.
Contoh- contoh teater yang pada mulanya masih terkait dan digunakan untuk sarana upacara ritual dapat kita temukan di Bali, diantaranya: Topeng Pajegan dan Tarian Sanghyang Jaran. atau  Hudoq yang terdapat di Kalimantan.
Dalam tulisannya di Jurnal Seni Pertunjukan tahun.VIII –1997, berjudul Seni Pertunjukan tradisional di dataran tinggi Mahakam,  G.Simon Devung mengatakan:
“Seni Pertunjukan di masa lampau, seperti Hudoq, Dangday, Belian atau Ngugu Tautn, berkaitan dengan upacara keagamaan, yang isinya kebanyakan merefleksikan konteks keagamaan yang di-percayai masyarakatnya, mencerminkan hubungan manusia dengan kedewaan/ketuhanan, hubungan manusia dengan alam, dan keberadaan manusia. Di dalam ritual biasanya orang menampilkan mitos rilegius mereka dengan  mempantomimkan  tingkah laku karakter mitologis dalam bentuk tingkah laku seremonial atau meniru ucapan mereka dalam dialog seremonial. Tingkah laku seremonial, termasuk yang diekspresikan lewat gerakan tubuh dalam tarian dan juga nada suara serta kata-kata di dalam nyanyian sebenarnya merupakan materialisasi dari konteks mistis yang menjadi dasar bagi tingkah laku seremonial.  Pengetahuan tentang mistik di masa lalu memberikan insentif dan justifikasi bagi tindakan ritual dan menuntun tampilan pertunjukan yang benar dari benar dari tindakan ritual yang suci”. (Keesing, 1958 :366).
Upacara yang mempunyai bentuk menyerupai teater, dahulu kala banyak kita temukan di berbagai daerah, yang selalu dikaitkan dengan roh nenek moyang atau roh penolak kejahatan.  Trance (kerasukan) selalu me-nyertai teater upacara semacam ini. Bentuk wujudnya merupakan unsur-unsur teater, berupa gerak-gerak pendukung atau berupa paduan suara persembahan, doa atau pun mantra-mantra yang magis dan puitis, tetapi menyatu dengan upacara yang sedang berlangsung.
Dalam perkembangannya, bentuk teater semacam ini dipakai untuk keperluan sarana upacara dan barulah kemudian teater muncul sebagai seni pertunjukan untuk hiburan.
Lahirnya teater tradisional di Indonesia sebagian besar dimulai pada saat teater melepaskan diri dari kaitannya dengan upacara baik adat ataupun upacara keagamaan.
Terjadinya Teater Tradisional
Kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan teater dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan kehidupan kesenian serta kebudayaan.  Kelahiran suatu kesenian tradisi, umumnya ditentukan oleh kehidupan masyarakat lingkungannya. Dalam hal ini masyarakat yang guyub dengan inti kebersamaan serta sifat gotong-royong, dikerjakan secara bersama, merupakan ciri utama masyarakat tradisi kita.
Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya.  Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional iru berbeda-beda, tergan-tung  kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir.
I) Teater tradisional yang lahir dari sastra lisan. Banyak ditemukan di berbagai daerah,  baik di Sumatera (rumpun budaya Melayu), di Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Dan bahkan di Ambon pun yang disebut Badendang Kapata melahirkan Teater Tutur. Di berbagai daerah, Teater Tutur tetap merupakan bentuk teater yang mandiri, dan tetap dipertunjukan sebagai Teater Tutur.
Untuk keperluan hajatan, di Jawa Timur dan Jawa Tengah orang masih sering nanggap (membiayai pemen-tasan) Kentrung, atau di Lombok dengan Cepung. Tetapi sering pula Teater Iutur  berkembang menjadi Teater Rakyat.
II) Ada juga yang dimulai dengan permainan. Permainan tersebut berwujud bunyi-bunyian untuk “hiburan” (mengusir rasa lelah) antar warga, yang kemudian dikembangkan menjadi seni pertunjukan dlam bentuk teater rakyat, sebagaimana Ketoprak di Yogyakarta.
Lahirnya Teater Rakyat: Ketoprak LesungDalam buku Kelahiran & Perkembangan Ketoprak, F.A.Sutjipto& Widjaya, (Terbitan Direktorat Kesenian -Depdikbud. Th.198 ) dikatakan:“Bentuk mula dari kesenian Ketoprak, berupa permainan hiburan santai di waktu senggang, bagi ra-kyat pedesaan. Sebelum kesenian Ketoprak lahir, di desa-desa sekitar Yogyakarta dan Klaten telah populer suatu permainan rakyat memukul lesung (alat menumbuk padi) dengan irama  gejog. Per-mainan lesung dilakukan pada malam hari terutama pada waktu terang bulan. Sehabis masim panen, para petani mulai menumbuk padi, alat yang digunakan disebut lesung.   Biasanya yang menumbuk padi adalah orang perempuan dan dilakukan pada siang hari. Waktu menumbuk padi di lesung, ter-dengar bunyi bunyian.
Dari sinilah para petani warga desa, terilhami untuk mengadakan permainan lesung, untuk menghibur di waktu senggang di malam hari.  Permainan santai ini cukup menarik masyarakat sekitarnya, apalagi dengan  di-lantunkan nyanyian-nyanyian pedesaan menyertai bunyi iringan gejog. Bunyi berirama tersebut memancing orang untuk menari-nari dengan gerak yang sederhana, kemudian dikembangkan lagi dengan diberi alur cerita sederhana tentang kehidupan masyarakat sekitarnya. Maka lahirlah apa yang disebut Ketoprak Lesung.  Perkembangan Ketoprak, dimulai dengan Ketoprak Lesung, sekitar tahjun 1887,  kemudian menjadi Ketoprak Ongkek (Ketoprak keliling dari satu desa ke desa lainnya). Wujud  pertunjukannya pun berkembang.   Musik pengiring tidak memakai lesung. ditambah dan diganti gendang, seruling, dan terbang.  Kemudian dalam per-kembangannya menggunakan gamelan  lengkap.
III) Teater tradisional yang lahir dari sarana upacara. Sebagian besar teater tradisional di Bali dan Kali-mantan banyak yang lahir dari kelompok yang pada mulanya digunakan untuk  “sarana upacara”, yang berupa tarian pengiring dan paduan suara dari suatu upacara yang bersifat ritual.
Pada saat teater dijadikan sarana upacara ritual, sebetulnya belum kita temukan bentuk teater yang utuh, tetapi masih berupa unsur-unsur teater yang  digunakan  untuk memperkuat keperluan upacara.   Mulai saat itulah “unsur teater tradisional” sering jadi penunjang dan sarana upacara ritual.
Setelah periode lepas dari kaitan dengan upacara ritual, di beberapa daerah lahir teater rakyat yang memang muncul dari keinginan masyarakat lingkunganyya, Mengadakan kegiatan yang diperlukan, untuk menghibur masyarakat.

Sastra Lisan Sastra lisan merupakan fondasi utama dalam teater tradisional di Indonesia. Sastra lisan adalah sa-stra yang disampaikan dari mulut ke mulut. Jenis sastra Lisan bermacam-macam, dapat berupa cerita rakyat, pantun, syair, kaba, kidung, dan yang terkait dengan upacara berbentuk mantra. Sastra lisan merupakan bentuk pengucapan yang langsung dari jiwa rakyat biasa yang merupakan lapisan masyarakat paling bawah. Sastra lisan inilah ynng menghasilkan teater rakyat dengan berbagai ra-gam dan jenis karena kita memiliki beratus bahasa yang berbeda satu dengan lainnya.
Sastra lisan juga berkembang dengan digunakannya daun lontar sebagai tempat menuliskan cerita. Di bebe-rapa daerah setelah masyarakat mengenal tulisan (huruf), maka Sastra Lisan tersebut banyak yang dipindah-kan ke daun lontar (Dalam bahasa Jawa disebut Ron Tal, artinya Daun Tal). Dalam ucapan, terjadi pergese-ran bunyi, sehingga yang sekarang popular adalah lontar.
Di daerah Sunda cerita ditulis di atas daun nipah, sedangkan di daerah Bugis dinamakan Daun Lontarak. Sejak saat mulai dikenal tulisan, Sastra Lisan banyak mengalami perkembangan, yaitu cara penyebarannya tidak hanya diceritakan, tetapi sudah mulai dalam bentuk tertulis.
Perkembangan tersebut sangat mempengaruhi perkembangan Teater Tutur.  Sejak itu, Pencerita dalam Teater Tutur harus seseorang yang dapat membaca apa yang tertulis dalam daun lontar.Cara mempertunjukkan  Sastra Lisan
Ada berbagai cara untuk menyampaikan/mempertunjukkan Sastra Lisan tersebut, antara lain dengan cara :
1. Diceritakan biasa (sebagaimana orang bercerita), tentu saja dengan berbagai gaya dan irama bercerita. Umumnya bentuk cerita yang dihidangkan berupa prosa biasa. 2. Diceritakan dengan jalan dinyanyikan, karena bentuk sastranya adalah prosa liris atau pantun, syair, dan nyanyian.3. Diceritakan dan diseling dengan nyanyian.           Pencerita (Tukang cerita) dalam Teater tutur adalah seorang seniman, yang mengungkapkan gejolak jiwanya, lewat media ungkap suara (vokal). Ia sama dengan  aktor. Ia bukan saja seorang Pemeran, sekaligus seorang Penyanyi, dan Sutradara.  Pencerita dengan kemahiran suaranya, dengan vokal yang ekpresif, harus sanggup menggambarkan berbagai karakter/watak tokoh yang sedang ia ceritakan. Untuk mendukung penceritaan, ia harus juga berlaku dengan menggunakan ekpresi wajahnya Untuk lebih memperkuat penggambaran watak yang sedang ia ceritakan. Ia harus pula mempunyai suara yang merdu apabila sesekali harus menyanyi.  Apalagi kalau seluruh pengucapan cerita dilakukan dengan menyanyi.  Gerakan tangan dan gerakan tubuh pencerita,  digunakan untuk keperluan menghidupkan suasana bercerita dan meyakinkan penonton.Teater Tutur sebagai Teater Mula
Pendekatan sejarah Teater tradisional, dapat ditelusuri dari segi sastra.  Lahirnya Teater tradisional dari segi sastra, bertolak dari Sastra Lisan, dan berwujud sebagai Teater Tutur, yaitu suatu bentuk teater yang sangat sederhana, hanya dituturkan.   Bentuk teater yang hanya diceriterakan tersebut, sekaligus digunakan sebagai alat penyebaran sastra lisan, yang disampaikan dengan cara bertutur. Teater Tutur, dapat dikatakan juga se-bagai salah satu bentuk teater mula, yang memenuhi persyaratan sebagai suatu bentuk teater lengkap yang utuh. Yaitu adanya alur cerita, kemudian cerita tersebut dituturkan (dipertunjukan), dan ditonton orang.
Masyarakat tradisi dimasa lampau yang belum mengenal tulisan, hanya mengenal  Sastra Lisan. Untuk me-nikmati dan mengembangkan atau menyebarluaskan Sastra Lisan, dilakukan dengan jalan perantara orang lain yang menceritakan (sebagai ganti membacakan). Sastra lisan hidup dan berkembang dari mulut ke mulut, dari seseorang diceritakan kepada orang lain.
Pada jaman itu, tradisi bercerita merupakan salah satu alat komunikasi dan penyebaran sastra lisan kepada masyarakat secara luas. Dari sini lahirlah Tukang Cerita (story-teller) yang kemudian berkembang menjadi suatu bentuk kesenian, yang kita namakan Teater Tutur.
Untuk menikmati hasil karya sastra, pada prinsipnya seseorang harus membaca. Membaca mengandung arti untuk keperluan diri sendiri, keperluan pribadi. Sedangkan membacakan atau menceritakan mengandung arti untuk keperluan orang lain. Apabila orang lain tersebut jumlahnya banyak, maka ia merupakan kelompok pendengar atau penonton, maka kegiatan ini berubah menjadi bentuk seni  pertunjukan.             Teater tutur merupakan salah satu cikal bakal teater tradisional kita.
Perkembangan Teater Tutur Teater Tutur yang pada mulanya cukup dilakukan oleh seorang pencerita,  dalam perkembangannya sering dimainkan lebih dari satu orang. Pada mulanya hanya pembantu iringan musik, tetapi kemudian juga ditambah pemainnya, misalnya : • Cepung di Lombok, dimainkan oleh lima orang• Cekepung di Bali, bahkan dimainkan oleh lebih dari sepuluh orang sebagai            pendukung, sedangkan yang bercerita tetap satu orang.. • Dalang Jemblung oleh empat atau lima orang,
Penambahan pemain hanya untuk lebih memeriahkan dan lebih menghidupkan sebagai suatu seni pertunju-kan.  Alat musik pengiring menjadi penting, karena cara penyampaiannya dilakukan dengan banyak menggu-nakan nyanyian. Alat musik yang digunakan sangat sederhana, dengan jumlah alat yang sesedikit mungkin (hanya satu atau dua alat saja).  Di antaranya yang sering dipakai untuk mengiringi Teater Tutur, adalah salah satu dari alat musik yang mudah diperoleh. seperti gendang, seruling, terbang, kecapi, saluang, rebana, dan lain sebagainya,  tergantung dari daerahnya masing-masing.
Teater Tutur adalah suatu pertunjukan, yang kemudian berkembang dengan mengikut sertakan gerak tubuh. Dengan demikian cerita yang semula dituturkan dengan mulut saja, dalam perkembangannya dimainkan.
Teater Tutur yang diperagakanTeater Tutur yang kita bicarakan adalah Teater Tutur yang bentuknya diceritakan. Dalam perkembangannya Teater Tutur bukan saja diceritakan, tetapi juga diperagakan dengan gerak tubuh, dan dimainkan. Misalnya Topeng Dalang, yang terdapat di Madura, tetap merupakan Teater Tutur (karena Sang Dalang tetap bercerita), Di samping itu ada juga yang dimainkan oleh para penari. Para penari hanya menari, dan menggerak-gerakkan tangannya, sedangkan dialog tetap dilakukan oleh Sang Dalang.

Contoh lain, Langendriyan, yang terdapat di Jogyakarta / Surakarta, merupakan contoh Teater Tutur yang diperagakan. Para penari, di samping menari juga menyanyi (bahasa Jawa: nembang). Sang Dalang tetap bercerita dan penarinya pun berdialog.                      Topeng Dalang yang terdapat di Madura, merupakan contoh yang sangat jelas proses perkembangannya dari Teater Tutur berkembang menjadi Teater yang dimainkan.
Wayang Kulit /Golek, Teater tutur disertai peragaan wayang  Secara teknik seni pertunjukan, Wayang Kulit, Wayang Golek atau Teater Boneka dapat dikatakan sebagai suatu bentuk Teater Iutur yang disertai dengan peragaan.  Masuk dalam kelompok Teater boneka.

Teater Tutur dari berbagai Daerah
Bentuk Teater Tutur dapat kita temukan di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun bentuk dan daerahnya sama, sering mempunyai penamaan yang berbeda, bahkan cara menyampaikan pun sering tidak sama.  Ada yang hanya diceritakan dengan cara berdendang, ada pula yang disertai dengan iringan alat musik yang se-derhana, hanya seruling dan gendang. Bahkan ada yang disertai gerak-gerak yang ritmis sambil duduk.
Bentuk teater yang hanya diceriterakan tersebut, sekaligus digunakan sebagai alat penyebaran sastra lisan, yang disampaikan dengan cara bertutur.
BAKABATeater Tutur Minangkabau

Kaba berarti carito, cerita. Bakaba artinya bercerita. Kata kaba berasal dari bahasa Arab khabarun yang berarti berita, warta atau kabar. Kaba ditulis dalam bentuk prosa yang berirama. Kaba merupakan perpaduan antara penyampaian tambo dan hikayat. Bentuk sastra yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, terutama di surau adalah bentuk syair dan hikayat.
Kaba disampaikan dalam tradisi Tambo Alam dan adat Minangkabau dengan menampilkan tokoh-tokoh dalam tradisi hikayat, maka Kaba ini lebih merupakan wadah melukiskan bagaimana mewujudkan dan mempertahankan adat yang dirumuskan dalam Tambo  menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari yang ideal. Tambo atau tarambo berarti sejarah atau silsilah keturunan. Di dalam Tambo Minangkabau cerita sejarah disusun sesuai dengan pandangan dan kepercayaan orang Minangkabau, sehingga fakta sejarah berbaur dengan unsur-unsur mite, legenda, teka-teki dan dongeng.
Sejarah yang menunjukan silsilah keturunan raja, penyususun adat, asal-usul negeri, dan seluk beluk adat-istiadat Tambo Minangkabau disusun dalam bentuk puisi panjang yang disana-sini mengandung perlambang-perlambang.
Kaba lebih tepat dikatakan sebagai sastra bertendens dan umumnya mengisahkan terganggunya ketentraman atau ketertiban masyarakat akibat tingkah laku dan perbuatan seorang penjahat. Penjahat tersebut mendapat perlawanan dari seorang pahlawan yang ingin memulihkan ketentraman dan ketertiban masyarakat. Tema-tema dalam Kaba adalah masalah buruk dan baik, patut dan tidak patut, melaksanakan adat atau membangkang adat.
Lingkungan kejadian dalam Kaba umumnya di kalangan keluarga raja-raja di Rantau Kaba Anggun Nan Tongga) umumnya di pesisir Utara. Kaba Gombang Patuanan di pesisir selatan dan Pagaruyung. Terkenal dalam hubungan dengan rantau adalah Kaba Cindua Mato.
Kaba merupakan sastra lisan yang isinya penuh pepatah-petitih, ibarat, kias dan ajaran-ajaran adat, oleh karenanya sangat dikenal baik di surau atau dalam masyarakat. Cara menyampaikan Kaba, meskipun prosa berirama, dilakukan dengan berdendang. Untuk membentuk irama digunakan perlengkapan musik yang sederhana yaitu Adok, semacam rebana besar atau ditambah kecapi. Kemudian dikembangkan dengan penambahan alat gesek seperti rebab atau biola.
Untuk lebih menarik cara penyampaian Kaba, bukan hanya memanfaatkan dendang atau nyanyi dan alat musik tradisi, tetapi juga menggunakan elemen-elemen utama dari teater, baik elemen suara atau dialog, maupun elemen gerak atau ekspresi wajah. Tukang Kaba dalam mendendangkan Kaba, mulai memperlihatkan karakter tokoh-tokoh dalam Kaba, yaitu melalui perbedaan nada suara dalam berdialog. Di samping untuk menarik perhatian, juga untuk lebih menghidupkan Kaba, pada suasana cerita digunakan irama-irama dendang, baik suasana sedih, girang, atau hiruk-pikuk.
Karena bentuknya prosa liris, Kaba bukan sekedar cerita biasa, tetapi kata-kata yang hadir dalam Kaba mengandung kekuatan bunyi musik yang menggelombang. Penyampaian Kaba sebagai Sastra Lisan tidak dapat hanya menggunakan seni bercerita, tetapi harus menyatu dengan seni suara dan seni musik yang ketiganya menyatu dan terpadu.
Beberapa jenis Kaba terdapat di daerah Sumatera Barat. Di pesisir Utara atau Selatan Bakaba diiringi oleh rebab, oleh karena itu Bakaba disebut Barabab. Sedangkan Bakaba umumnya diiringi oleh adok  atau rebana besar. Di daerah limapuluh kota ada pula jenis Bakaba yang dinamakan Basijobang, dan alat yang digunakan untuk mengiringi adalah adok dan kecapi. Dahulu pernah terjadi untuk mengiringi Bakaba digunakan korek api. Kotak korek api dipukul-pukul untuk menciptakan irama.
Bakaba sebagai tontonan biasanya diselenggarakan dalan rangkaian acara perhelatan meresmikan penghulu, perkawinan, khitanan, peresmian pemakaian Rumah Gadang serta upacara lainnya.Untuk menyelenggarakan pertunjukan Bakaba diperlukan beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh Tukang Kaba, misalnya karena alasan pilihan cerita yang akan disajikan, ia membawa sirih dalam cerana, membawa kain putih, menyembelih ayam putih atau hitam, membuat nasi kuning dari ketan dan sebagainya, sesuai dengan ceritanya.
Bakaba biasanya dilakukan malam hari dari jam 8 malam sampai subuh pagi. Karena sering panjangnya Kaba yang dibawakan, maka yang disampaikan hanyalah fragmen atau nukilannya.

SAHIBUL HIKAYAT & GAMBANG RANCAKTeater Tutur Betawi
Sahibul Hikayat merupakan salah satu jenis Teater Tutur yang terdapat di Betawi (sekarang Daerah Khusus Ibukota Jakarta), yang merupakan bentuk sastra lisan yang dipertunjukan. Pada jaman Sastra Lisan, masya-rakar belum mengenal tulisan, untuk menyebar-luaskan Sastra Lisan tersebut, orang bercerita. Sastra Lisan hidup dan berkembang dengan cara diceritakan dari mulut ke mulut.
Pada jaman itu,Teater Tutur merupakan salah satu alat untuk menyebarkan sastra lisan, dan berfungsi seba-gai sarana “komunikasi”. Seorang pencerita (tukang cerita), dapat juga dianggap sebagai “juru bicara” yang harus pandai menyampaikan “pesan”nya, mahir bercerita.
Sahibul Hikayat, biasanya dimainkan oleh seorang pencerita. Seorang pencerita adalah seorang seniman yang mengungkapkan kemahirannya dengan menggunakan media ekpresi suara (vokal). Pencerita tidak ber-beda dengan seorang aktor, pemain. Dengan ketrampilan suaranya, dengan vokal yang “ekpresif”, ia harus dapat menggambarkan berbagai macam karakter/watak tokoh yang sedang ia ceritakan.
Seorang pencerita Sahibul Hikayat yang mahir akan dapat membawa penonton asyik mengikuti, dengan se-lingan humor-humor yang segar dan khas Betawi. Dengan spesifik bahasa Betawi yang penuh gaya humor tersebut, penonton dapat terpikat hingga lupa waktu.
Sahibul Hikayat pada masa lalu, umumnya dipakai untuk keperluan “hajatan”. Hburan bagi yang punya hajat, antara lain untuk keperluan khitanan, syukuran, dan lain sebagainya.
Di samping Sahibul Hikayat, di Betawi masih kita temukan apa yang disebut Buleng, yang bentuknya sama dengan Sahibul Hikayat. “Membuleng” dalam  dialek Betawi berarti bercerita. Buleng juga dimainkan oleh seorang pencerita. Aslinya, baik Sahibul Hikayat ataupun Buleng, dimainkan oleh satu orang pencerita dan tidak ada iringan “alat musik”, hanya “orang seorang bercerita”. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Be-tawi, yang bersumber dari bahasa Melayu. Bahasa Betawi terdiri dari beberapa dialek, yaitu dialek Tanah Ab-ang, dialek Kemayoran, dialek Tambun, dan sebagainya.
Cerita-cerita yang dihidangkan adalah cerita rakyat yang populer, legenda, dongeng kepahlawanan, dan lain-lain. Dalam membawakan cerita, pencerita sangat mahir memasukkan peristiwa-peristiwa yang sedang han-gat dalam masyarakat. Pandai dalam memasukkan pesan dan tak lupa dengan sidiran-sindiran yang tajam, tetapi dengan gaya lelucon.
Jenis Teater Tutur yang lain yang terdapat di Betawi adalah Gambang Rancak, suatu bentuk Teater Tutur yang sudah dikembangkan dengan iringan musik yang lengkap dan cara menyampaikannya seluruhnya dice-ritakan dengan menyanyi. Pemain terdiri dari dua atau tiga orang (bisa juga lebih), yaitu yang bercerita dengan menyanyi dan didukung oleh pemain musik Gambang Kromong, sekitar lima atau enam orang. Lagu-lagu yang dihidangkan berirama Melayu. Alat musik yang mengiringi antara lain kendang, gong, gambang, kenong kecil, dan kecapi.
Meskipun sudah jarang dipertunjukkan, pertunjukan Teater Tutur di Jakarta masih dapat kita temukan di dae-rah pinggiran Metropolitan Jakarta, pada saat ada peristiwa hajatan, selamatan, atau upacara yang bersifat seremonial dan hiburan bagi masyarakat pinggiran.

PANTUN SUNDATeater Tutur Jawa Barat
Pantun merupakan Teater Tutur yang terdapat di Jawa Barat. Seperti halnya teater rakyat umumnya yang berfungsi untuk keperluan upacara dan hiburan. Pada masa lalu, masyarakat Jawa Barat pada waktu mem-punyai hajat kenduri untuk keperluan upacara khitanan atau kawinan biasa mengundang rombongan wayang golek atau mengundang tukang pantun yang dalam pertunjukannya diiringi oleh kecapi.
Tukang Pantun biasanya seorang diri dan duduk di sudut ruangan di atas tikar. Banyak di antara para Tukang Pantun biasanya “seseorang yang buta matanya”. Pakaiannya biasa, tradisional semacam pakaian pencak silat dan berwarna hitam. Cerita Pantun yang dihidangkan berbentuk sastra yang bersyair dan disampaikan  dalam bentuk nyanyian (tembang) yang diiringi oleh kecapi.  Sebagai karya sastra, cerita pantun merupakan paduan antara bentuk prosa dan puisi. Didalam bercerita, tukang pantun biasanya menyanyi dan berbicara dalam bentuk prosa sekaligus. Begitu pula didalam mengucapkan dialog, di samping berbicara biasa sering juga dinyanyikan.Tentu saja kalau melukiskan sesuatu dipilih menggunakan bentuk prosa yang puitis.
Seorang Tukang Pantun mengandalkan kekuatan ekpresinya pada vokal yang dimilikinya, tak ubahnya seba-gai seorang penyanyi.
Cerita-cerita yang dihidangkan cerita rakyat setempat, legenda, dongeng, sejarah kerajaan, dan lain sebagai-nya yang di dalamnya selalu diselipkan pesan-pesan tentang kehidupan, terkait dengan keagamaan. Tukang Pantun sangat pandai dalam menceritakan dan tidak segan-segan mengulang-ulang hal-hal yang menarik, misalnya tentang negara yang makmur, pangeran atau satria yang berwatak baik, putri yang cantik dan  pan-geran yang tampan dan lain sebagainya, yang diceritakan dengan sangat menarik sehingga yang mendengar tidak merasa bosan. Bukan saja cara mengungkapkan yang pandai, tetapi susunan isinya bermutu sangat tinggi sebagai hasil karya sastra lisan. Oleh karena itu mutu puisi sastra lisan Sunda sangat tinggi.
Dalam menyampaikan cerita baik yang berupa narasi (penceritaan), percakapan ataupun deskripsi (pelukisan), selalu diiringi oleh kecapi atau  tarawangsa (rebab khas Sunda). Banyak pengarang sastra Sunda yang bertolak dan terpengaruh oleh sastra lisan Pantun Sunda. Bukan saja cerita-ceritanya bersumber dari Pantun Sunda, tetapi juga susunan sebagai karya yang puitis, bersumber dari Pantun Sunda. Seni musik tradisi dae-rah Sunda, yang dinamakam Tembang Sunda atau Cianjuran, lirik-liriknya pun banyak berasal dari cerita Pantun Sunda.
Tembang Sunda atau Cianjuran dalam menghidangkan lagunya selalu diiringi kecapi dan suling. Bahkan da-lam memainkan kecapi, Cianjuran pun teknik memetik kecapi yang digunakan pada Pantun Sunda, karena itu sering pula disebut teknik petikan papantunan.Cianjuran.  Baik dari segi sastra maupun dari segi musiknya, merupakan perkembangan atau lanjutan dari seni pantun.
Lagu lagu Cianjuran kemudian dinaikkan ke atas panggung dalam bentuk teater tradisi yang dinamakan Gending  Karesmen. Gending Karesmen merupakan bentuk teater tradisi yang dialognya diucapkan dalam bentuk nyanyian (seperti opera pada teater Barat). Erat kaitannya dengan Pantun Sunda, karena cerita-cerita yang dihidangkan dalam Gending Karesmen sebagaian besar adalah cerita yang berasal dari Pantun Sunda.
Cerita dan Seni Pantun Sunda, merupakan cikal bakal kesenian daerah Sunda yang terdapat dewasa ini, ka-rena mutunya yang tinggi baik dari segi sastra, segi musik, dan juga mempunyai “nilai dramatik” pada cerita-ceritanya. Karena itu Seni Pantun Sunda tetap merupakan ilham yang tak habis-habisnya bagi sastrawan, dramawan, bahkan juga pencipta tari Sunda yang ada dewasa ini.
KENTRUNGTeater tutur Jawa Timur
Kentrung merupakan sebuah Teater Tutur yang terdapat di Jawa Timur, namun demikian di Jawa Tengah pun ada juga ditemukan Kentrung semacam itu. Sebutan Kentrung sebenarnya berasal dari peralatan tabuhan yang berbunyi “trung, trung…”  Alat tersebut dinamakan terbang atau rabana, termasuk alat musik yang disebut membranofon.
Kesenian rakyat Kentrung serumpun dengan apa yang dinamakan Thempling (Kempling) dan juga serumpun dengan Jemblung (Dalang Jemblung). Jenis kesenian semacam ini masih banyak yang lainnya singir, sala-watan, hadrah, khasidahan, dan lain sebagainya.
Bentuk Teater Tutur yang disebut Kentrung, biasanya dimainkan oleh satu orang, yang bertindak sebagai juru cerita (pembawa tutur) dan sekaligus juga memainkan (menabuh) alat musiknya yang berupa “terbang” besar, yang sering juga disebut (alat) kentrung.  Sering pula alatnya tersebut tidak hanya satu tetapi dua atau tiga. Kentrung besar ditambah satu atau dua kentrung kecil dengan nada yang berbeda. Kedua terbang tersebut dinamakan terbang lanang (laki-laki) dan terbang wadon (perempuan). Di beberapa daerah Kentrung  dimainkan lebih dari satu orang, dua atau bahkan sampai lima orang sebagai satu tim. Tetapi yang asli Ken-trung sebenarnya dilakukan oleh satu orang, seperti dalang yang bercerita.
Lakon yang dibawakan adalah cerita-cerita rakyat, dongeng, legenda, sejarah dan lain sebagainya.     Banyak lakon yang dibawakan bernafaskan keislaman, diambil dari cerita Menak, Kitab Ambiya, Nabi Yusup. Cerita lain seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kandha (yang mengisahkan raja-raja Jawa), Serat Panji, Damarwulan, Anglingdarmo, Sawunggaling dan masih banyak cerita-cerita rakyat lainnya yang hidup dari mulut ke mulut.
Cara pementasan Kentrung sangat sederhana. Seseorang pemain Kentrung, duduk bersila di atas tikar atau lampit, kemudian dikelilingi oleh pendengarnya. Ia mulai bercerita, kadang-kadang disertai  dengan nyanyian dan diseling dengan bunyi terbang. Banyak para pemain Kentrung memakai kacamata hitam (sebab pada mulanya banyak pemain kentrung yang buta). Begitu pula apabila pertunjukan Kentrung dimainkan lebih dari tiga orang maka para pemain ditempatkan di sudut ruangan, lengkap dengan alat tabuhnya, terbang, kendang dan lainnya (siter, misalnya) dan para penontonnya dalam posisi mengelilingi para pemain.
Kentrung dengan pemain lebih dari tiga, maka tiap pemain memegang beberapa peran dan berganti-ganti untuk dapat memainkan cerita tersebut.
Pertunjukan serupa Kentrung adalah apa yang disebut Thempling. Peralatan musik yang mengiringi Thempling terdiri dari  5 jenis, yaitu sebuah kentrung/terbang besar, sebuah kendhang, sebuah ketipung (kendang kecil) dan dua buah templing (besar dan kecil) yang masing-masing dimainkan oleh satu orang. Pengendang biasanya merangkap dalang, sekaligus pemain, sedang lainnya bertindak sebagai “juru senggak”, atau pemain lainnya dan semua pemain memainkan alat musiknya masing-masing.
Cerita yang dimainkan sama dengan cerita yang dimainkan Kentrung, yaitu siklus Panji atau mungkin juga cerita Seribu Satu Malam (Putri Joharmanik) seperti umumnya cerita-cerita Ketoprak.
Urutan cerita yang dibawakan, adalah sebagai berikut:
1. Pembukaan sebagai penghantar lakon, biasanya penuh dengan lagu/nyanyian-nyanyian yang digemari oleh penonton.2. Diteruskan dengan perkenalan pemain dan cerita yang akan dibawakan dengan komentar yang me-narik dan lucu tentang cerita yang akan dibawakan.3. Cerita dimulai. Disusun dalam beberapa babak dan berpuluh adegan. Tiap babak atau adegan selalu disertai dengan lagu (lelagon) baru, Untuk tidak membosankan tidak kurang dari 30 macam lagu ter-dapat dalam satu cerita. Cara menyampaikan cerita sangat menarik, humoris/penuh dengan kelu-cuan, sering dengan penuh sindiran. Dialog atau komentar-komentarnya menggelitik, tetapi tajam. Sindiran selalu dilakukan dengan geguyonan. Diselipkan humor-humor yang segar dan komunikatif.4. Usai pertunjukan ditutup dengan lagu penutup, biasanya dengan perminta maaf atas segala keku-rangannya.
Pertunjukan Kentrung dimulai dari jam setengah delapan sering sampai tengah malam (larut malam). Biasanya pertunjukan Kentrung untuk keperluan perhelatan, atau keperluan lain bagi yang punya “gawe”. Untuk keperluan khitanan/sunatan, puputan bayi, dan lain-lainnya.
DALANG JEMBLUNG  Teater Tutur Banyumas
Banyumas merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang mempunyai beberapa bentuk kesenian tradisi yang spesifik dan berbeda dengan kabupaten lainnya. Dalang Jemblung merupakan suatu jenis kese-nian rakyat yang berbentuk Teater Tutur yang terdapat di daerah Banyumas. Di daerah Jawa Tengah, Yo-gyakarta ataupun di Jawa Timur terdapat suatu tradisi mengadakan kegiatan berkesenian yang dinamakan “Macapatan”, yaitu suatu kegiatan “menyampaikan sastra lisan dalam bentuk tembang” (nyanyian). Dalam perkembangannya “Macapat” berubah menjadi “Maca Kanda”, menyampaikan/membaca sastra lisan yang berbentuk prosa atau cerita, biasanya dalam bentuk sajak atau prosa liris. Sumbernya “sastra  lisan” tetapi sekarang sudah disusun kembali dan dituliskan dalam huruf Jawa (aksara Jawa). Sekarang sudah banyak ditulis dalam huruf latin.
Dalang Jemblung merupakan salah satu jenis Teater Tutur yang unik dan spesifik Banyumas, yaitu merupa-kan Teater Tutur yang tidak menggunakan peralatan musik tradisi, tetapi para pemainnya mengandalkan sua-ra (vokal) sebagai “musik” pengiring. Dengan suaranya sendiri para pemain menyuarakan “bunyi alat musik” tersebut. Yang ditirukan adalah “bunyi gamelan”. Para pemain Dalang Jemblung bukan saja bermain “me-mainkan peran tokoh” yang ia bawakan (biasanya beberapa peran ia mainkan), tetapi juga merangkap sebagai “bunyi alat musik” yang mereka inginkan.
Pemain wanita ia bertugas juga sebagai “waranggana’ (pesinden, penyanyi).  Dalang Jemblung biasanya di-mainkan oleh 4 atau 5 orang. Kalau 4 terdiri dari 3 pria dan 1 wanita. Salah seorang dari 4 pemain itu menjadi  “dalang” dan sekaligus juga sebagai pemain.Bentuk pementasan Dalang Jemblung sangat sederhana dan cukup dilakukan di dalam rumah. Para pemain Dalang Jemblung duduk bersila mengelilingi meja keci dan pendek serta kosong tidak ada perlengkapan lain-nya. Perlengkapan bagi pemain hanyalah kudhi (semacam pisau khas Banyumas). Fungsi kudhi sebagai pe-ralatan untuk membantu para pemain dalam pementasan. Dapat berfungsi sebagai “senjata” dalam adegan perang, atau sebagai perlengkapan lainnya. Sering juga dipakai sebagai “cempala” dalam pementasan Wayang Kulit atau sebagai “keprak” untuk Sang Dalang.
Pakaian para pemain Dalang Jemblung sangat sederhana, yaitu pakaian lengkap daerah Banyumas, terdiri dari jas tutup atau surjan, kain batik, belangkon atau iket dan memakai selop (sandal). Semua itu merupakan pakaian adat Jawa pada umumnya  yang dipakai untuk keperluan suatu upacara atau pertemuan resmi.
Dalang Jemblung merupakan Teater Tutur yang paling sederhana dan paling “murni”, yang semua diung-kapkan lewat media ungkap yang paling esensial, yaitu suara.
Dengan kemampuan suaranya, para pemain dapat menggambarkan suasana cerita, kejadian, watak dari berbagai tokoh yang seolah-olah dimainkan oleh berpuluh-puluh orang.
Di daerah Banyumas terdapat suatu tradisi, apabila ada seseorang melahirkan bayi, maka diadakan acara yang disebut Nguyen, yaitu suatu bentuk tirakat pada malam hari bersama sanak keluarga dan tetangga dekat semalam suntuk sampai menjelang subuh. Di dalam Nguyen, sering diadakan acara macapatan dari salah seorang peserta nguyen.  Hal ini dimaksud sebenarnya mencegah kantuk dan juga menolak makhluk halus yang akan mengganggu bayi yang baru lahir atau ibunya yang baru  melahirkan.
Macapatan, ialah kegiatan menyampaikan sastra lisan dalam bentuk tembang /nyanyian. Macapatan ini san-gat digemari masyarakat karena pelaksanaannya sangat mudah, sederhana dan murah. Macapatan ini ber-kembang menjadi Maca Kanda, kemudian karena pengaruh teater rakyat lainnya, kemudian berkembang menjadi Dalang Jemblung.
Cerita-cerita yang dihidangkan tak ubahnya seperti cerita Wayang lainnya, tetapi sering juga mengambil cerita Menak atau  sering disebut Babat Menak atau Serat Menak. Ceritanya banyak menyangkut masalah pe-nyebaran agama Islam. Cerita yang sangat populer antara lain ialah cerita Wong Agung Mena”. Cerita Serat Menak sering dimainkan oleh Wayang Golek Menak atau dimainkan oleh Wayang Tengul. Dengan cerita dan tokoh yang terkenal Amir Hamzah dan Omar Maya.
Di dalam Dalang Jemblung pun tokoh yang terkenal disebut Umarmaya dan Umarmadi. Tidak menutup ke-mungkinan cerita yang dihidangkan dapat berupa cerita rakyat daerah Banyumas ataupun cerita Panji yang terkenal di mana-mana.
Sebagaimana umumnya Teater Tutur, cerita yang dihidangkan bertolak dari sastra lisan yang oleh masyarakat lingkungannya sebenarnya sudah sangat dikenal, baik dari cerita orang tua kepada anaknya atau orang lain kepada sesamanya. Namun mereka tetap menyenanginya.    Para pemain dengan pengalaman dan keahliannya, memainkan tokoh-tokoh dalam pertunjukannya secara improvisator namun penuh dengan ide baru disesuaikan dengan perkembangan kehidupan masyarakat lingkungannya.
Meskipun ceritanya sudah dikenal dan mentradisi, namun dengan kepandaian para pemain Dalang Jemblung dapat menciptakan suasana segar dan baru. Cara bermain tetap mengikuti cara-cara pendahulunya, namun pemain itu mempunyai  ide yang segar dan cara membawakan yang penuh “humor” yang dapat memikat para penonton. Tokoh punakawan (abdi dalam wayang) seperti Petruk, Gareng dan lainnya selalu menarik perha-tian, karena sindiran-sindirannya sering “mengena” dan dapat dimengerti oleh penontonnya.

Cara membawakan penuh variasi, tidak membosankan, dan sering membicarakan situasi terakhir yang se-dang hangat menjadi “topik” pembicaraan di daerah tersebut. Semua ini dilakukan dengan “geguyonan” (ke-lakar) penuh canda, terutama humor yang khas Banyumas dengan disertai oleh dialek khas Banyumas yang menjadi kebanggaan masyarakat Banyumas, yang mempunyai nilai spesifik dan tidak ditemukan di daerah lainnya.
Dalang Jemblung sampai saat ini masih sangat digemari oleh masyarakat, terutama masyarakat di pedesaan di daerah Banyumas. Karena pertunjukan Dalang Jemblung mudah diselenggarakan, biaya murah dan dige-mari oleh masyarakat lingkungannya. Dalang Jemblung bukan saja berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat dijadikan “panutan” karena pendidikan yang diberikan lewat pesan-pesannya sangat mengena di hati masyarakatnya. Apa yang dilontarkan pemain Dalang Jemblung dapat memberikan nasehat dan ajaran moral dalam kehidupan sehari-hari juga memberikan pendidikan yang secara tidak langsung sangat berguna bagi kehidupan masyarakatnya.
Pesan dan kritik yang dilontarkan dalam pertunjukan, sangat efektif dan dapat dirasakan oleh masyarakat, karena lewat sindiran yang mengena tetapi dilakukan dengan gaya banyolan yang segar..Meskipun pertunjukan Dalang Jemblung berupa hiburan, namun penyelenggaraan pertunjukan tergantung ada tidaknya seseorang yang memerlukan untuk suatu “hajat”,  baik mengawinkan, sunatan atau pun upacara kelahiran bayi. Dalang Jemblung merupakan pilihan banyak orang, karena murah dan sederhana, dibanding-kan dengan pertunjukan lainnya, seperti wayang kulit atau pun teater rakyat lainnya. Kalau diperlukan, Dalang Jemblung dapat dimainkan oleh satu atau dua orang.
SINRILITeater Tutur Sulawesi Selatan
Sinrili merupakan Teater Tutur yang terdapat di Sulawesi Selatan. Sinrili berarti penuturan sebuah cerita den-gan diiringi oleh sebuah alat musik yang dinamakan “keso-keso” (rebab). Cara bercerita dilakukan dengan banyak menggunakan nyanyian/lagu dengan nada-nada “kelong” (lagu), yang spesifik kedaerahan. Permainan kelong serta lengkingan keso-keso pada Sinrilik dapat menimbulkan keharuan. Dengan disertai humor menyebabkan para pendengar/penonton sangat asyik mengikuti jalannya pertunjukan sampai subuh pagi. Sinrilik bertolak dari sastra lisan yang hidup ditengah masyarakat, hingga Sinrilik merupakan teater rakyat yang sangat akrab dengan lingkungannya. Cerita yang dihidangkan merupakan sastra lisan daerah, yang terungkap dalam bentuk cerita rakyat, legende, dongeng, kisah kerajaan. Temanya banyak bercerita soal ke-pahlawanan yang sangat digemari oleh penonton / /pendengarnya.
Cerita kepahlawanan yang sangat masyur adalah Sinrili I Datu Museng, Kappala~ Tallung Batua, Sinrili I Tolo Daeng Magasing. Tema keagamaan  Tuanta Salamaka. Tema percintaan Sinrili I Jamila, Sinrili I Manakku, Sinrili I Maddi Daeng ri Makka.
Cerita-cerita yang dihidangkan mempunyai fungsi bermacam-macam seperti umumnya teater rakyat, antara lain berfungsi  sebagai sarana hiburan, Sinrili merupakan hiburan, pertunjukan yang dapat menghibur masya-rakat karena keahlian para pembawa Sinrili, yang disebut  Pasinrili.  Sebagai sarana pendidikan, cerita yang dihidangkan selalu mengandung ajaran dan petuah-petuah yang bermanfaat bagi kehidupan. Tak lupa pula banyak memberikan “kritik”, sindiran, yang isinya juga mengenai “kontrol sosial”, tentang kepincangan-kepincangan, dan lain sebagainya. Sebagai sarana penerangan dan juga melindungi norma-norma masyara-kat.
Sinrili banyak diperlukan masyarakat saat mereka mengadakan “pesta” sehabis panen, saat ada perkawinan, saat membuat rumah baru dan kaulan atau punya hajat tertentu. Seperti umumnya teater rakyat di Indonesia, selalu terkait dengan kegiatan adat-istiadat dan upacara. Sinrili banyak kita temukan di daerah Gowa, di mana dahulu terdapat kerajaan Gowa. Diperkirakan Sinrili mulai tumbuh pada saat Raja Gowa ke-X   berkuasa.                                                                         Kita dapat menemukan “lontarak” yang berisi cerita Sinrili Kappala ‘Tallung Batua, yang menceritakan tentang keruntuhan kerajaan Gowa dengan datangnya penjajah Belanda di abad ke-16.   Sampai saat ini meskipun sudah jarang, masih dapat kita temukan dan digemari di daerah Gowa. Cerita-cerita yang dihidangkan meru-pakan sastra lisan yang kita temukan di daerah Sulawesi Selatan (daerah Gowa) dan dalam perkem-bangannya, Sinrili juga bercerita tentang keadaan jamannya, namun masih membawa pesan tentang pendidi-kan dan keagamaan.
Sebagai sastra lisan Makassar, Sinrili banyak mengilhami para sastrawan Makassar, malahan nada-nada kelong yang membumbui lirik-lirik susunan lagunya. alam menyanyikan lagu-lagu dalam Sinrili, lagu yang di-bawakan oleh Pasinrili, tergantung pada cerita yang dihidangkan dan situasi yang  terdapat di dalamnya. La-gu-lagu yang biasa digunakan dan digemari oleh masyarakat pendengarnya/penontonnya adalah lagu Turatea, Tu raya atau  Langko dan Diyo
Tempat penyelenggaraan Sinrili, sebenarnya dimana saja dapat dilakukan di panyambungi (anjungan rumah) atau di halaman terbuka. Atau kalau untuk keperluan membangun rumah baru, yaitu dirangka rumah yang akan dibangun. Dalam membawakan Sinrili, para Pasinrili tersebut banyak menggunakan gaya humor (lelu-con) hingga dapat menarik para pendengarnya. Cara menonton sangat santai, bukan saja duduk mendengar-kan, tetapi sering juga dengan berbaring-baring dan santai.
Sinrili biasanya dimainkan oleh Pasinrili seorang diri, dia bercerita, menyanyi dan sekaligus juga memainkan alat musik yang mengiringi. Kalau ada dua orang, biasanya yang satu membantu memeriahkan suasana dengan memainkan alat musik pengiring. Sedang yang bercerita tetap satu orang.

CEPUNG  &  CEKEPUNGTeater tutur  Lombok  &  Bali
Dalam sejarah Teater Tutur pun berkembang cara menyajikannya, tidak hanya dituturkan, tetapi juga disertai gerak-gerak ritmis, seperti tari dan dilakukan dengan tetap duduk. Itulah perkembangan Cepung (Lombok) atau Cekepung (Bali). Penambahan cara dan gaya menyajikan tersebut untuk memperkuat cara berekpresi dan cara penyampaian.
Cepung merupakan suatu jenis kesenian rakyat yang terdapat di daerah Nusa  Tenggara Barat (terutama di Lombok), berbentuk Teater tutur. Tidak hanya di Lombok, tetapi di Bali pun terdapat jenis Teater Tutur yang sama dengan di Lombok, yang disebut Cekepung. Cepung sebenarnya merupakan perkembangan dari “seni membaca lontar”, yaitu yang di Bali disebut “geguritan”. Cepung, ceritanya diambil dari lontar Monyeh, suatu bentuk sastra lama yang disusun di atas daun lontar, yang isinya berupa cerita yang mengandung filsafat dan ajaran Islam.
Seperti geguritan di Bali, maka di Lombok pun terdapat tradisi menyampaikan sastra lisan dalam bentuk se-kar/nyanyian yang dinamakan pepaosan. Dalam menyampaikan pepaosan. sering diiringi oleh tabuhan alat musik daerah setempat seperti rebab atau seruling. Cepung sebenarnya juga merupakan perkembangan dari pepaosan dalam bentuk yang lebih bervariasi dan dimainkan oleh 6 orang laki-laki.
Para pemain duduk dalam setengah lingkaran dan terbagi menjadi:• Seorang pembaca lontar, menyanyidan mengiringi dengan suling• Seorang pemain rebab, seorang peniup seruling dan 3 orang pemain/peraga yang memainkan tokoh-tokoh dalam cerita.
Para pemain tetap dalam posisi duduk, meskipun kandang-kandang mereka memperagakan gerakan-gerakan tari, tetapi tetap dengan posisi duduk.
Pepaosan sangat digemari oleh masyarakat daerah Lombok, karena erat hubungannya dengan tradisi dan upacara adat daerah. Pepaosan dilakukan dengan berbagai gaya penyajian, tergantung pada cerita yang di-bawakan dan tergantung pula pada isinya. Cara membawakan pepaosan pada prinsipnya, dibawakan dengan: 1. Tembang sasak, suatu bentuk seni vokal dengan gaya menyanyikan suatu pantun.2. Wirame, yakni cara menyampaikan atau membaca Mahabharata atau lontar yang berhubungan den-gan agama Hindu.3. Musabaqoh, yakni cara menyampaikan/pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an secara berirama. Isi cerita yang disampaikan biasanya tergantung pada keperluan dalam upacara yang diinginkan, yang erat dengan kebiasaan dalam kehidupan masyarakat yang terdapat di berbagai daerah Lombok. Untuk keperluan upacara potong gigi atau orang meninggal, biasanya yang dibaca adalah kakawin, sedangkan untuk menum-buk padi pada saat persiapan perkawinan, muda-mudi berpasangan di daerah Lombok Timur, mereka pe-paosan dengan berkayak. Pada waktu melamar, mereka pun berpantun-pantun dengan tembang, antara pengantin laki dan wanita. Begitu pula permaianan anak-anak di Lombok biasanya tidak lepas isi tembang di dalam pepaosan.
Di antara berbagai jenis Teater Tutur yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia, Cepung dan Cekepung, merupakan contoh Teater Tutur yang paling berkembang, yaitu yang dalam penyajiannya para pemain juga melakukan gerakan-gerakan semacam menari, tetapi tetap dalam posisi duduk. Semua peragaan tersebut hanyalah merupakan penekanan pada laku ekpresif yang mereka ungkapan. Lagi pula  peragaan gerak ter-sebut dimaksudkan untuk membuat variasi agar menarik cara mereka bercerita. Gerak ritmis yang mereka lakukan sesuai dengan irama dan banyak diambil dari gerakan tari Kecak-bakacak, Joget, Gandrung dan  Siah.
Sekar/tembang dalam Cepung banyak ragamnya yang terdiri dari Tembang Sinom, Kumambang, Semaran-dang, Dandang; Durma dan Pangkur. Tembang tersebut dalam variasinya disusun menurut suasana dan ka-rakter serta jiwa cerita. Misalnya, lagu Kumambang menggambarkan suasana sedih. Lagu Durma menggam-barkan suasana peperangan, dan lain sebagainya.
Tak lupa pula lawakan/lelucon yang selalu menjiwai kesenian rakyat, dapat membawakan Cepung yang dis-ampaikan lewat pantun yang  lucu dengan disertai ekpresi wajah (mimik) yang menggambarkan suasana lucu tersebut :
Munperahu kenenku kapalPiak balak kayuk itakSida bebalu kenenku bujangKadung salah siku gitak.
Aku meken jok sedanMeli lekong ji karobelahAku nyesel jari bebaluEndek arak hapong parek menah
Sampai dua oros ganAnak gagak bulu teluAji pira ajin bebaluAji satah baluk pulu Yang perahu kukira kapalBangun rumah kayu itak Engkau janda kukira daraKepalang sudah saya salah lihat
Saya ke pasar dengan sedan Membeli kemiri seratus lima puluhAku menyesal jadi jandaTiada yang memeluk di pagi buta
Sapi  dua menarik bajakAnak gagak bulunya tiga macamBerapa harganya seorang janda Harganya duaratus delapan puluh                                                                           Sindiran-sindiran sangat digemari oleh penontonnya karena cara menyampaikannya yang penuh dengan hu-mor. Meskipun tidak langsung namun dapat dimengerti dan kena sasarannya.

BAB  III————————————————————————————————————————————————–Wayang sebagai Teater tutur dengan peragaan
Pendahuluan
Wayang merupakan kesenian tradisional yang  termasuk sangat tua. Mengenal Wayang secara lengkap, ha-rus melihatnya bukan saja sebagai Seni pertunjukan, tetapi juga harus dilihat dari berbagai segi. Bagi masya-rakat suku Jawa, Sunda dan Bali, Wayang, terutama Wayang Kulit, merupakan kesenian tradisi yang diang-gap sakral dan sangat mempengaruhi kehidupannya, menjadi bagian dari hidupnya, baik segi pendidikan, moral, karakter, sikap hidup, filsafat, tuntunan dalam hidup dan sebagainya. .Dunia  pewayangan merupakan khasanah budaya dan merupakan sumber untuk menyerap suri teladan. Bagi masyarakat Jawa, menonton Wayang (terutama Wayang Kulit) bukanlah untuk sekedar hiburan, tetapi lebih untuk keperluan pendidi-kan/percontohan dalam kehidupan.  Mengambil contoh tokoh (karakter, watak, sikap, pandangan yang dimiliki oleh tokoh wayang tersebut) untuk dijadikan tauladan dalam kehidupan di lingkungan masyarakat.  Pertunju-kan Wayang Kulit dari mula pembukaan sampai berachir yang menurut tradisi berlangsung semalam suntuk didalamnya penuh dengan kandungan filosofis Jawa. Wayang bukan saja melekat di hati masyarakat (teru-tama masyarakat Jawa) tetapi juga sangat mempengaruhi sikap hidup masyarakatnya.
Untuk sekedar mengenal Wayang, sebaiknya didekati dari segi yang lebih bersifat teknik sebagai suatu ben-tuk Seni Pertunjukan.  Pertunjukan Wayang (Kulit atau Golek). secara teknik dapat dikatakan sebagai suatu bentuk Teater tutur dengan peragaan. Sang dalang sebagai pencerita dan wayang atau golek untuk peragaan-nya.  Kita perlu mengenal bagaimana asal sejarahnya sebagai seni teater, cerita, materi yang dihidangkan dan perlengkapan yang diperlukan serta bagaimana wayang kulit atau wayang golek dipertunjukkan .
Dalam mengenal wayang, kita tidak berbeda dengan mengenal seni pertunjukan  yang disebut teater (teruta-ma dalam Teater tradisional).  Hazim Amir, dalam buku yang ditulisnya: Nilai Nilai Etis dalam Wayang  (1997 – hal: 77), mengatakan :
” Wayang, sebagai teater mempunyai fungsi yang sama dengan teater-teater pada umumnya, yakni memberi santapan yang bersifat psikologis, intelektual, relegius, filosofis, estetis dan etis. Bedanya ialah bahwa Wayang, tidak memisah-misahkan fungsi itu. Suatu pertunjukan Wayang merupakan su-atu “package deal” yang lengkap berisi seluruh aspek-aspek itu  Wayang memberikan hiburan yang sehat bagi penontonnya.  Unsur-unsur tragedi, komedi, dan tragikomedi ada dalam Wayang.”
Dalam tulisannya yang berjudul Wayang, tontonan atau tuntunan yang dimuat di Harian Suara Karya Minggu, tgl 14 Mei 1989, Dr. Mudji Sutrisno, SJ.antara lain me-ngatakan: “Tidak dapat disangkal bahwa Wayang dis-atu pihak merupakan satu pertunjukan. Dari sini saja dengan mudah kita mengerti aspeknya sebagai tonto-nan….  Tetapi wayang mempunyai pula sisi simbolik, mistik, pesan, ajaran dan tuntunannya.Untuk kultur yang sudah biasa dengan realisme, yang serba konkrit, yang langsung tampak indrawi, tidak mudah menang-kap simbolik dan abtraksi dibaliknya”.
Dalam rangka mengembangkan dan menyebarluaskan Wayang sebagai salah satu harta kekayaan budaya bangsa, mengenal Wayang dapat didekati pertama dari segi tontonan, sedangkan yang ingin mempelajari lebih mendalam dapat mencari makna yang lebih dalam menangkap makna simbolisme dan menguak abtraksi dibaliknya.
Tidak mudah untuk memisahkan yang Tontonan dan Tuntunan, yang jelas yang tontonan lebih mudah dilihat, apa yang terlihat dalam sajian pertunjukan wayang, sedang-kan tuntunan diperlukan perenungan, kajian, pencarian dan pendalaman.Berhasil tidaknya memadukan tontonan dan tuntunan tergantung pada Sang Da-lang.      Asal Usul WayangWayang, merupakan salah satu bentuk Teater tradisional yang paling tua.  Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan Wayang, yaitu yang terdapat pada prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi.yang mewartakan bahwa  pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya  “pertunjukan wayang”. (Prasasti berupa lempengan tembaga dari Jawa Tengah; Royal Tropical Institute, Amsterdam)
Contoh prasasti ini dapat dilihat dalam lampiran buku  Claire Holt Art in Indonesia: Continuities and changes (1967) terjemahan Prof.Dr.Soedarsono (MSPI-2000- hal 431)
Tertulis sebagai berikut: “Dikeluarkan atas nama Raja Belitung teks ini mengenai desa Sangsang, yang ditandai sebagai se-buah tanah perdikan, yang pelaksanaannya ditujukan kepada dewa dari serambi di Dalinan. Lagi se-telah menghias diri dengan cat serta bunga-bunga para peserta duduk  di dalam tenda perayaan menghadap Sang Hyang Kudur. “Untuk keselamatan bangunan suci serta rakyat” pertunjukan (ton-tonan) disakilan.     Sang Tangkil Hyang sang (mamidu), si Nalu melagukan (macarita) Bhima Kumara, serta menari (mangigal) sebagai Kicaka; si Jaluk melagukan Ramayana; si Mungmuk berakting (mamirus) serta melawak (mebanol), si Galigi mempertunjukan Wayang (mawayang) bagi para Dewa, melagukan Bhimaya Kumara
Pentingnya teks ini terletak pada indikasi yang jelas bahwa pada awal abad ke-10, episode-episode dari Mahabharata dan Ramayana dilagukan dalam peristiwa-peristiwa ritual. Bhimaya Kumara (mungkin sebuah cerita yang berhubungan dengan Bima) boleh jadi telah dipertunjukkan sebagai sebuh teater bayangan (sekarang: wayang purwa).                        Dari mana asal-usul wayang, sampai saat ini masih dipersoalankan, karena kurangnya bukti-bukti yang mendukungnya.  Ada yang meyakini bahwa wayang asli kebudayaan Jawa dengan mengatakan karena isti-lah-istilah yang digunakan dalam pewayangan banyak istilah bahasa Jawa.
Dr.G.A.J.Hazeu, dalam detertasinya Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (Th 1897 di Leiden, Negeri Belanda) berkeyakinan bahwa pertunjukan wayang berasal dari kesenian asli  Jawa.  Hal ini dapat dilihat dari istilah-istilah yang digunakan banyak menggunakan bahasa Jawa misalnya, kelir, blencong, cem-pala, kepyak, wayang. Pada susunan rumah tradisional di Jawa, kita biasanya akan menemukan bagian-bagian ruangan: emper, pendhapa, omah mburi, gandhok senthong dan pringgitan (ruangan untuk pertujukan ringgit). Bahasa Jawa Ringgit artinya: wayang.. Bagi orang Jawa dalam membangun rumah pun menyediakan tempat untuk pergelaran wayang.

Dalam buku Over de Oorsprong van het Javaansche Tooneel – Dr.W Rassers mengatakan bahwa, pertunju-kan Wayang di Jawa bukanlah ciptaan asli orang Jawa. Pertunjukan Wayang di Jawa, merupakan tiruan dari apa yang sudah ada di India. Di India pun sudah ada pertunjukan bayang-bayang mirip dengan pertunjukan Wayang di Jawa.                                               Dr. N.J.Krom sama pendapatnya dengan Dr. W.Rassers, yang mengatakan pertunjukan wayang di Jawa sa-ma dengan apa yang ada di India Barat, oleh karena itu ia menduga bahwa Wayang merupakan ciptaan Hindu dan Jawa.
Ada pula peneliti dan penulis buku lainnya yang mengatakan bahwa wayang berasal dari India, bahkan ada pula yang mengatakan dari Cina. Dalam buku Chineesche Brauche und Spiele in Europa – Prof G. Schlegel menulis, bahwa dalam kebudayaan Cina kuno terdapat pergelaran semacam wayang.
Pada pemerintahan Kaizar Wu Ti, sekitar tahun 140 sebelum Masehi, ada pertunjukan bayang-bayang sema-cam wayang. Kemudian pertunjukan ini. menyebar ke India, baru kemudian dibawa dari India  ke Indonesia. Untuk memperkuat hal ini, dalam majaalah Koloniale Studien, seorang penulis mengemukakan adanya per-samaan kata antara bahasa Cina Wa-yaah (Hokian), Wo-yong (Kanton), Wo-ying (Mandarin), artinya pertun-jukan bayang-bayang,  yang sama dengan wayang dalam bahasa Jawa. Meskipun di Indonesia sering orang mengatakan bahwa wayang asli berasal dari Jawa/Indonesia, namun harus dijelaskan apa yang asli (materi wayang / wujud wayang) dan bagaimana dengan cerita wayang. Per-tanyaannya: Mengapa pertunjukan Wayang Kulit, umumnya selalu mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata?
Dalam papernya Attempt at a historical outline of the shadow theatre  Jacques Brunet, (Kuala Lumpur, 27-30 Agustus 1969), mengatakan, sulit untuk menyanggah atau menolak anggapan bahwa  teater wayang yang terdapat di Asia Tenggara berasal (terutama sumber cerita ) dari India.
Paper tersebut di atas dicoba untuk menjelaskan bahwa wayang mempunyai banyak kesamaan  terdapat di daerah Asia, (terutama Asia Tenggara) dengan diikat oleh cerita-cerita yang sama yang bersumber dari Ma-habharata dan Ramayana dan India. Sejarah penyebaran wayang dari India ke Barat sampai ke Timur Tengah dan ke Timur umumnya sampai ke Asia Tenggara.
Di Timur Tengah, disebut: Karagheuz.Di Thailand disebut: Nang Yai & Nang Talun;Di   Cambodia disebut: Nang Sbek & Nang Koloun  Dari Thailand ke Malaysia disebut:Wayang Siam. Sedangkan yang langsung dari India ke Indonesia disebut Wayang Kulit/Purwa.Dari  Indonesia ke Malaysia disebut  Wayang Jawa. Di Malaysia ada 2 jenis nama wayang, yaitu: Wayang Jawa (berasal dari Jawa) dan  Wayang Siam. (berasal dari Thailand).
Pada abad ke-4 bangsa Hindu datang ke Indonesia, terutama para pedagangnya. Pada kesempatan tersebut bangsa Hindu membawa ajarannya dengan Kitab Weda dan epos cerita mahabesar India yaitu Mahabharata dan Ramayana dalam bahasa Sanskrit.
Pada abad ke-9, bermunculanlah, cerita dengan bahasa Jawa kuno dalam bentuk kakawin yang bersumber dari cerita Mahabharata atau Ramayana, yang telah diadaptasi kedalam cerita yang berbentuk kakawin ter-sebut.  Misalnya, cerita-cerita seperti: Arjunawiwaha (Mpu Kanwa), Bharata Yudha (Mpu Sedah/Mpu Panu-luh), Kresnayana (Mpu Meraguna), Gatotkaca Sraya  (Mpu panuluh). dan lain-lainnya.
Pada jamannya, semua cerita tersebut bersumber dari cerita Mahabharata, yang kemudian diadaptasi sesuai dengan sejarah pada jamannya dan juga disesuaikan dengan: dongeng, legenda dan cerita rakyat setempat.
Dalam mengenal wayang, kita dapat mendekatinya dari segi sastra, karena cerita yang dihidangkan dalam wayang (terutama Wayang Kulit) umumnya selalu diambil dari epos Mahabharata atau Ramayana.  Kedua cerita tersebut, apabila kita telusuri sumber cerita berasal dari India. Mahabharata bersumber dari karangan Viyasa, sedangkan Epos  Ramayana karangan Valmiki.
Hal ini diperkuat fakta bahwa cerita wayang yang terdapat di  Asia umumnya (terutama di Asia Tenggara) menggunakan sumber cerita Ramayana dan Mahabharata dari India. Cerita-cerita yang biasa disajikan dalam Wayang, sebenarnya merupakan adaptasi dari epos Ramayana dan Mahabharata yang disesuaikan dengan cerita rakyat atau dongeng setempat.
Dalam sejarahnya pertunjukan Wayang Kulit selalu dikaitkan dengan suatu upacara, misalnya untuk keperluan upacara khitanan, bersih desa, menyingkirkan malapetaka dan bahaya, sangat erat dengan kebiasaan dan adat-istiadat setempat.

Lihat peta penyebaran Wayang  (terutama cerita Mahabharata & Ramayana dari India) menyebar ke Asia Barat atau dari India ke Asia Tenggara.
Peta Penyebaran Cerita Wayang dari India
China                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Cambodia                                                                                                                                      Nang Sbek                                                                                                        Thailand                                                                                                         Nang Yai                                                                                                                                                                                                 Cambodia                                                                                                                                                     Nang  KalounTimur Tengah                 I N D I A                                        Thailand  Karagheouz                        —————                                          Nang Talun                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           WayangSiam                                                                                            Malaysia :                                                                                                               Wayang Jawa
Wayang Kulit                                                                                                                     Indonesia                                                                                                                                 A.                                                                                                                                       Wayang Purwa

(Peta dari buku Traditional Drama And Music of Southeast Asia – Edited by M.Taib Osman, Terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka,  Kuala Lumpur – Th. 1974 )
Temuan adanya Pertunjukan Wayang di Jawa     …
Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti   pada jaman Raja-raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung. Namun tidak jelas apakah pertunjukan wayang tersebut seperti yang kita  saksikan sekarang.
Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang. Hal ini juga ditemu-kan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada jaman Raja Airlangga dalam abad ke-11.  Oleh karenanya pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang cukup tua. Sedangkan bentuk wayang pada pertunjukan di jaman itu belum jelas tergambar bagaimana bentuknya.
Pertunjukan teater tradisional pada umumnya digunakan untuk pendukung sarana upacara baik keagamaan ataupun adat-istiadat, tetapi pertunjukan Wayang Kulit dapat langsung menjadi ajang keperluan upacara ter-sebut.
Ketika kita menonton wayang, kita langsung dapat menerka pertunjukan wayang tersebut untuk keperluan apa. Hal ini dapat dilihat langsung  pada cerita yang dipertunjukan, apakah untuk keperluan menyambut panen atau untuk ngruwat. Pertunjukan itu sendiri merupakan suatu upacara.
Bentuk dan Jenis Wayang Dapat kita temukan wujud bentuk wayang sejak dahulu, yaitu adanya  Wayang Rumput atau Wayang Lontar (Daun Tal) dan lain sebagainya, dapat dilihat  di Museum Wayang di Jakarta.
Bentuk Wayang  di Indonesia, dapat kita temukan ada 4 macam : yaitu
1. Wayang Beber, wayang yang dilukis di atas kain yang panjang, salah satu adegan, di mana kejadian se-dang berlangsung.  Sang dalang bercerita  berdasarkan adegan yang sudah disusun dalam kain panjang ter-sebut. Perpindahan adegan satu ke adegan lainnya kain tersebut digulung.                   2. Wayang kulit Purwa, wayang terbuat dari kulit kerbau. Dari dilukis di kain, kemudian dikembangkan dibuat-lah Wayang Kulit. Bentuknya pipih, 2 demensional, dengan tangan yang dapat digerakkan. 3. Wayang Klitik, wayang terbuat dari kayu tetapi pipih yang 2 demensional dan tangannya masih terbuat dari kulit, agar mudah digerakkan.
4. Wayang golek, terbuat dari kayu yang 3 demensional. Wayang Golek sangat populer di Jawa Ba-rat (Sunda)
Pertunjukan Wayang Kulit /Wayang Golek dari segi teknik dapat dikatakan sebagai TeaterTutur dengan  Pe-ragaan Wayang  oleh  Dalang.
5a.  Ada satu bentuk Teater Tutur dan peragaanya dimainkan oleh orang dengan menari. Tetap dengan Da-lang, tetapi para pemain dengan topeng menarikan “adegan” yang sedang berlangsung, sedangkan pada saat berbicara, penari tersebut tidak berbicara, tetapi sang Dalang yang berbicara dan bercerita. (Topeng Dalang di Madura).        5b. Dalam perkembangannya wayang tersebut dimainkan oleh orang dengan berlaku, disebut Wayang Orang, bentuk wayang yang dimainkan oleh orang. Di sini sang Dalang tidak tampak (tidak muncul lagi).
Wayang Kulit, Teater Tutur dengan Peragaan
Teater Wayang dianggap sebagai salah satu bentuk teater tradisional yang tertua.  Secara teknik Wayang Kulit, apabila kita kaji bentuk dan cara penyajiannya, sebenarnya merupakan perkembangan dari wujud Teater Tutur, yaitu Teater Tutur disertai peragaan wayang  oleh Sang Dalang.
Dalam sejarah wayang, kita mengenal apa yang disebut Wayang Beber, suatu pertunjukan wayang dalam gambar adegan yang disusun sesuai dengan jalannya cerita. Kemudian sang dalang memben-tangkan kain yang telah ada gambar adegan dari cerita wayang yang akan dipertunjukan. Meskipun pertunjukan Wayang beber sekarang sudah jarang kita temukan lagi, namun masih dapat kita lihat di Mu-seum Wayang.  Wayang Beber merupakan pertunjukan wayang dalam bentuk Teater Tutur dengan visualisasi adegan cerita Wayang yang digambar di atas kain kemudian “disajikan”.Wayang Beber sebagai Teater Tutur dengan Peragaan gambar Wayang.Pendekatan teater tradisional, dari segi sastra, dimulai dengan teater yang diceritakan. yaitu Teater Tutur. Suatu bentuk teater, yang dituturkan, diceriterakan. Pada saat itu, Teater Tutur  sekaligus berfungsi sebagai alat penyebaran sastra lisan, disampaikan dengan cara bertutur,  bercerita.
Teater Tutur, suatu bentuk Teater Mula, yang memenuhi persyaratan sebagai suatu bentuk teater. yaitu adanya alur cerita, kemudian cerita tersebut dituturkan (identik dengan dimainkan/dipertunjukan), kemudian didengar/ditonton orang. Wayang Kulit merupakan bentuk Teater Tutur yang dikembangkan dan diperlengkapi dengan segala pendukungnya untuk lebih menarik dan sangat lengkap
Mempelajari wayang secara lengkap, haruslah melihatnya bukan saja sebagai seni pertunjukan, te-tapi juga harus dilihat dari berbagai segi.  Untuk sekedar mengenal, wayang dapat ditinjau dari segi seni pertunjukan, dengan melihat Wayang sebagai bentuk Teater Tutur dengan peragaan.

Untuk memperlengkapi pemahaman, diperlukan juga mempertimbangkan:• Bagaimana sejarah dan perkembangannya sebagai seni pertunjukan. • Materi atau cerita apa yang dihidangkan dan perlengkapan yang diperlukan.• Mengenal tokoh-tokoh wayang dan manfaat wayang sebagai pendidikan karakter dalam kehidupan di masyarakat.
Sekedar mengenal dan mempelajari wayang sebagai seni pertunjukan, kita dapat memulainyanya dari segi sastra, karena cerita yang dihidangkan dalam wayang (terutamaWayang Kulit) selalu diambil dari cerita Ma-habharata atau Ramayana, kalau kita telusuri sumber cerita berasal dari India Cerita-cerita wayang yang biasa disajikan baik di Indonesia ataupun di Asia Tenggara, sebenarnya merupakan cerita adaptasi dari India,  yang disesuaikan dengan cerita-cerita rakyat setempat.  Sedangkan Wayang Orang, lahirnya dapat diduga dari keinginan para seniman untuk keperluan pengembangan wujud bentuk Wayang kulit yang dimainkan oleh orang.  Wayang Sebagai Seni PertunjukanPendekatan sejarah teater tradisional dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu melihat lahirnya teater tradisional dari seni pertunjukan dan segi sastra. Bertolak dari Sastra Lisan, dan berwujud sebagai Teater tutur, yaitu berbentuk Wayang Kulit.  Wayang Kulit agak berbeda dengan teater tradisional lainnya. Karena seluruh penyelenggaraan pementasan Wayang Kulit adalah juga merupakan suatu upacara. Hal ini disebabkan karena sifat pertunjukan wayang yang relegius.
Pertunjukan wayang kulit dapat digunakan untuk keperluan berbagai macam kegiatan dalam masyarakat.   Misalnya untuk menyingkirkan musibah atau pengaruh-pengaruh roh jahat, mendatangkan ketenangan ma-syarakat, mendatangkan rakhmat dan kebahagiaan, termasuk pemujaan terhadap roh nenek moyang, dan lain-lainnya.  Cerita yang dihidangkan disesuaikan dengan keperluan upacara. Jenis Wayang yang terdapat di daerah
Wayang sangat tumbuh dan berkembang serta didukung sangat kuat saja sebagai tontonan tetapi juga tuntu-nan, pendidikan, bimbingan, dan pedoman dalam kehidupan terutama oleh masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa umumnya meyakini bahwa wayang berasal dari Jawa.
Selain di Jawa, muncul wayang daerah, yaitu yang terkenal, antara lain:
Wayang Bali, wayang kulit yang terdapat di Bali. Bentuk wayangnya agak berbeda dengan Wayang Jawa, tetapi mirip dengan bentuk Wayang Kulit yang terdapat di Thailand (Nang Cai atau Nang Talun).
Wayang Betawi, wayang kulit dengan bahasa Betawi (mirip tetapi tak sama dengan bahasa Melayu kuno, dekat dengan bahasa Indonesia).
Wayang Palembang, wayang kulit dengan bahasa Palembang. Banyak orang Palembang, berasal dari Jawa.
Wayang Banjar, wayang kulit yang terdapat di Kalimantan Selatan, Banjarmasin dengan menggunakan baha-sa Banjar
Wayang Sasak, berasal dari Wayang Bali dan terdapat di Lombok.
Pertunjukan Wayang KulitDalam sejarahnya teater tradisional merupakan salah satu sarana untuk keperluan upacara, baik upacara keagamaan atau pun upacara adat. Oleh karena itu,pertunjukan wayang dianggap sakral. Pertunjukan Wayang Kulit umumnya digunakan untuk keperluan hajat seseorang: mengawinkan, tingkepan, khitanan, bersih desa, ngruwat, dan lain-lain.  Cerita yang dihidangkan biasanya disesuaikan dengan maksud diadakannya pertunjukan wayang kulit tersebut.  misalnya:Perkawinan : mengambil cerita Parto Kromo, Perkawinan Baladewa Khitanan : mengambil cerita Narayana diculik                        Bersih desa : mengambil cerita Dewi Sri pulang., dan lain-lainnya.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, pada saat pertunjukan ada kebiasaan untuk mengadakan sesajen. Hal ini merupakan kebiasaan yang tetap dipatuhi.
Untuk orang Jawa, sesajen tersebut yang pokok terdiri dari Gedong Ayu (pisang), Nasi tumpeng, ayam hidup, padi, gula Jawa dan kelapa.
Kelengkapan  Suatu Pertunjukan Wayang KulitPada umumnya pertunjukan Wayang Kulit selalu dikaitkan dengan suatu upacara. Di samping  sa-jen, untuk suatu pertunjukan diperlukan kelengkapan untuk dapat melaksanakan pertunjukan, den-gan perlengkapan sebagai berikut:
1. Layar ukuran 5 Meter X 1,40 M.  Layar yang dibentangkan di depan Dalang, yang terbuat dari kain putih dan diberi tepi kain berwarna hitan atau merah. Di layar inilah pertunjukan wayang dilakukan. Di belakang Dalang terdapat Oncor (lampu) agar terlihat bayangan di layar tersebut.
2. Gedebog Pisang (pohon pisang) tempat menancapkan wayang. Kalau tidak ada pohon pisang, se-benarnya dapat diganti dengan sterofoam sebagai tempat menancapkan wayang.
3. Kotak Wayang tempat wayang, dengan ukuran 160 X 80 X 55 centimeter. Kalau berisi penuh se-muanya memuat sekitar lebih 450 wayang.
4. 3 Cempala dan 3 Kepjak
5. Blencong (lampu yang spesifik) untuk penerangan wayang pada saat Dalang sedang memainkan wayangnya.
6. Pengiring musik/gamelan terdiri sekurang-kurangnya Gong,  Gender, Saron,  Demung,    Gambang     Kenong,   Celempung,  Kendang (Gendang).
7. Para pendukung pertunjukan wayang:1.  Satu orang Dalang 3. 3 orang Sinden (putri) 2.  3 orang Gerong (putra) 4.  22 pemain gamelan (penabuh)
Wayang Orang
Sejarah perkembangan wayang sebagai seni pertunjukan dimulai dengan bentuk Wayang Beber, kemudian dimulai pertunjukan Wayang Kulit (Purwa). Bentuk wayangnya dikembangkan lagi menjadi Wayang Klitik, Wayang Golek, semua bentuk pertunjukan wayang tersebut dapat digolongan sebagai  TeaterTutur dengan  Peragaan Wayang  oleh  Dalang.
Dalam perkembangannya wayang tersebut dimainkan oleh orang dengan cara berlaku, disebut Wayang Orang. Bentuk wayang dimainkan oleh orang.
Lahirnya Wayang Orang, dapat diduga dari keinginan para seniman untuk keperluan pengembangan wujud bentuk Wayang Kulit yang dapat dimainkan oleh orang. Wayang yang dipertunjukan dengan orang sebagai wujud dari wayang kulit — hingga tidak muncul dalang yang memainkan, tetapi dapat dilakukan oleh para pe-mainnya sendiri. Sedangkan wujud  pergelarannya berbentuk drama, tari dan musik.
Wayang Orang, merupakan bentuk yang dengan sendirinya dapat dikatakan masuk kelompok seni teater tra-disional, karena tokoh-tokoh dalam cerita dimainkan oleh para pelaku (pemain). Di sini Sang Dalang bertindak sebagai pengatur laku dan tidak muncul dalam pertunjukan.
Wayang Wong Jawa
Wayang Wong (bahasa Jawa) dalam bahasa Indonesia artinya Wayang Orang, yaitu pertunjukan Wayang Kulit, tetapi dimainkan oleh orang. Semua tokoh dimainkan oleh orang (pemain/aktor). Banyak pertunjukan Wayang Orang ter-dapat di Jawa Tengah pada umumnya, ada juga di Jawa Timur. Sedangkan di Jawa Barat ada juga pertunjukan Wayang Orang (terutama di Cirebon) tetapi tidak begitu populer.
Pada kakawin Sumanasantaka karangan Mpu Monaguna, yang berasal dari abad ke-12 yang berbahasa Jawa kuno terdapat kata “Wayang Wwang” yang diartikan pertunjukan drama tari dengan memakai topeng dengan cerita dari Ramayana atau Mahabharata.. Sedang kata Wayang Wong dari bahasa Jawa baru, bermula dari pertengahan abad ke-18 dan pertunjukannya tetap sama, yaitu dalam bentuk drama tari, tetapi tidak memakai topeng.
Sampai sekarang yang dinamakan Wayang Wong adalah bentuk teater tradisional Jawa yang berasal dari Wayang Kulit yang dipertunjukan dalam bentuk berbeda: dimainkan oleh orang, lengkap dengan menari dan menyanyi, seperti pada umumnya teater tradisional  dan tidak memakai topeng.
Di Madura, terdapat pertunjukan Wayang orang yang agak berbeda, karena masih menggunakan topeng dan masih menggunakan Dalang seperti pada Wayang Kulit.  Sang dalang masih terlihat meskipun tidak seperti dalam pertunjukan Wayang Kulit. Sang Dalang ditempatkan dibalik layar penyekat dengan diberi lubang untuk mengikuti gerak pemain di depan layar penyekat. Sang Dalang masih mendalang dalam pengertian semua ucapan pemain dilakukan oleh Sang Dalang karena para pemain memakai topeng. Para pemain di sini hanya menggerak-gerakan badan atau tangan untuk mengimbangi ucapan yang dilakukan oleh Sang Dalang. Para pemain harus pandai menari.

Pertunjukan ini di Madura dinamakan Topeng Dalang. Semua pemain Topeng Dalang memakai topeng dan para pemain tidak mengucapkan dialog,
Pada abad ke –18 kehidupan tari klasik di istana/keraton Yogyakarta dan Surakarta berkembang sangat maju. Ketika Sultan Hamengku Buwono I dari Yogyakarta dan Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I dari Sura-karta menyusun drama tari dengan cerita epos Mahabharata. Maka susunan drama tari tersebut diberi nama Wayang Wong  Di Yogyakarta, setelah Wayang Wong yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I , mengambil cerita Gandawardaya, maka Wayang Wong di Yogyakarta banyak mengalami perkembangan dan kemajuan. Sultan Hamengku Buwana II menyusun cerita Jayapusaka, disusul denga Hamengku Buwono V menyusun cerita Petruk Dadi Ratu. Di sini dapat dikatakan Wayang Wong Istana berkembang pesat dan mencapai puncak kejayaannya pada tengah pertama abad ke-20 pada saat Sultan Hamengku Buwana VIII. Cerita Wayang Wong Istana, sebagian besar bersumber dari cerita Mahabharata, hanya ada 2 yaitu Rama Nitis  dan  Rama Nitik, yang merupakan campuran/ kombinasi antara  cerita Mahabharata dan Ramayana.   Pertunjukan Wayang Wong pada masa lalu dapat dikatakan merupakan Teater Istana tetapi sekaligus juga digemari oleh rakyat. Merupakan teater rakyat yang sangat digemari oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yo-gyakarta. Wayang Wong Istana ini mulai suram  sejak tahun 1942. Sesudah itu di Istana Yogyakarta  tidak pernah lagi diselenggarakan pertunjukan Wayang Wong di istana. Struktur pertunjukan Wayang Wong tetap berpegang pada struktur pertunjukan cerita Wayang kulit, hanya rentang waktunya yang diperpendek menjadi sekitar 3 (tiga) jam. Dimulai dari jam 20.00 malam sampai sekitar jam 23.00. Sedang struktur penyajiannya tetap seperti pada penyajian Wayang Kulit., yang dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
• Bagian pertama disebut  Pathet Nem  terdiri dari beberapa adegan• Bagian kedua disebut Pathet Sanga• Bagian achir disebut  Pathet Manyura
Adegan Goro-goro (Adegan yang segar) Para pembantu seperti Petruk, Semar dan Gareng berbicara memberi komentar tentang cerita yang sedang berlangsung, penuh dengan sindiran, kritik dan lain-lain yang sangat digemari oleh penonton.
Pementasan Wayang Wong biasanya dilakukan di atas panggung dalam suatu gedung lengkap dengan dekor yang pada masa dahulu berupa berupa layar yang dilukis/digambar lokasi kejadian, misalnya : istana, hutan, taman, dan lain-lainnya.  Dalam perkembangannya sekarang menggunakan setting yang naturalistik sesuai dengan gaya pertunjukan Wayang Orang, ditambah dengan perlengkapan seperlunya..
Fungsi Dalang dalam Wayang kulit, pada Wayang Orang dihilangkan karena para pemain sudah dapat  ber-main sendiri. Pada mulanya Dalang dalam Wayang Orang masih digunakan sebagai narator (pembawa cerita), yang duduk bersama para niaga (penabuh gamelan), tetapi akhirnya ditiadakan. Terutama untuk Wayang Orang di luar Yogyakarta, banyak yang sudah tidak menggunakan fungsi Dalang lagi.
Secara visual sebagai Seni Pertunjukan, Wayang Orang lebih punya daya tarik dari pada Wayang kulit, teru-tama masyarakat jaman sekarang. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih dapat kita temukan pertunjukan Wayang Orang yang mengadakan pertunjukan setiap malam, misalnya di Wayang Orang Sriwedari (Solo), meskipun penontonnya sudah sangat sedikit. Di Jakarta masih dapat kita temukan Wayang Orang Bharata di daerah Senen .

Wayang Orang lebih jelas dan mudah untuk dimasukkan dalam kelompok teater tradisional, karena menggu-nakan para pemain/pelaku orang, bukan wayang/boneka yang pipih..

Wayang Wong Bali
Wayang Wong Bali, pada prinsipnya merupakan teater tradisi yang sama dengan Wayang Orang di Jawa atau Kalimantan, yaitu pertunjukan wayang yang dimainkan oleh orang (pemainnya adalah orang/aktor).
Hampir seluruh seni pertunjukan di Bali, bentuknya merupakan gabungan media ungkap yang terpadu, menggunakan alat ekpresi dari berbagai macam media ungkap, tari, musik, drama, gerak, suara dan laku yang terpadu, karenanya sering juga disebut total theatre. (menggunakan multi media ekpresi terpadu). Ke-banyakan menggunakan bentuk dramatari yang penekanannya pada media ekpresi gerak tari. Sedangkan pada Wayang Wong Bali, penekanannya pada laku, meskipun unsur tarinya tetap dominan. Kita lihat saja Gambuh, Baris, Arja, Topeng (Prembon), dan lain sebagainya semuanya merupakan drama tari dan nyanyi.
Wayang Wong Bali merupakan bentuk teater yang termasuk tua dan diperkirakan berasal dari abad ke-16. Umumnya mementaskan lakon epos Ramayana. Dewasa ini sudah jarang ada pertunjukan Wayang Wong, kecuali pada upacara atau perayaan Kuningan di Bali. Ada anggapan bahwa pada perayaan Kuningan terse-but, roh-roh para nenek moyang mereka turun dari Gunung Agung menuju ke pura-pura. Pada saat itulah tepat waktunya untuk menjamu dengan “sajian-sajian” dan antara lain berupa  pertunjukan Wayang Wong.
Para pemain Wayang Wong semua menggunakan topeng, kecuali peran wani¬ta, yang dimainkan oleh pemain wanita. Meskipun menggunakan topeng, mereka dapat juga berdialog, karena bentuk topengnya terbatas  sampai bibir pemain. Umumnya sejak dahulu, Wayang Wong ini sering dimainkan oleh pria semua. Khusus peran Rama sering tidak memakai topeng.  Oleh karena itu, Wayang Wong Bali sering juga disebut  drama tari topeng.
Para punakawan (abdi dalam wayang) memegang peranan yang sangat penting dalam menyajikan pertunju-kan, bukan sekedar sebagai “abdi” (pembantu yang bijak dengan segala komentarnya) tetapi juga sebagai pembawa cerita yang dihidangkan. Di celah-celah pertunjukan sering muncul penjelasan atau komentarnya yang jitu dan digemari oleh penonton. Rama mempunyai 2 (dua) punakawan, yaitu Toalen dan Merdah, se-dangkan Rahwana, juga mempunyai dua orang punakawan yaitu Delem dan Sangut. Apabila Wayang Wong tersebut mementaskan cerita Mahabharata, maka pertunjukan tersebut dinamakan Wayang Parwa. Penari-penari Wayang Parwa, semua juga pria.
Kostum yang digunakan, spesifik kostum pewayangan, tetapi tetap mempunyai ciri khas Bali. Yang sering dapat juga kita temukan dalam kostum sendratari Gambuh, Arja, Prembon.

Wayang Gung – Kalimantan Selatan
Wayang Gung adalah bentuk Wayang Orang yang terdapat di Kalimantan Selatan. Wayang Gung banyak memiliki persamaan dengan Wayang Orang yang terdapat di pulau Jawa atau Bali, tetapi mempunyai keuni-kan tersendiri. Wayang Gung tidak menggunakan make-up (tata rias) seperti pada Wayang di Jawa, tetapi tokoh-tokoh yang akan dimainkan ditandai (diwujudkan) dengan gambar tokoh pada hiasan kepalanya (kuluk, topi,  jamang). Wajah pemain tidak dihias,hanya ditambah kumis kalau diperlukan. Yang memberikan identitas tokoh apa yang dimainkan adalah gambar  yang terdapat dihiasan kepalanya, karena pada hiasan kepala tersebut terdapat gambar tokoh yang dimainkan.
Misalnya seorang pemain akan memainkan peran Rama atau Lesmana, maka hiasan kepala yang digunakan bergambar tokoh Rama atau Lesmana. (Gambar tokoh Rama atau Lesmana tersebut sama dengan/mirip dengan tokoh Rama atau Lesmana yang terdapat di Jawa).
Pakaian (kostum) yang digunakan agak berbeda dengan wayang di Jawa atau Bali. Mereka pada dasarnya memakai kaos oblong lengan panjang dan celana ketat (seperti pakaian tokoh Anoman, Sugriwa atau Subali pada Wayang di Jawa) kemudian ditambah dengan hiasan pada lengan dan juga pada kaos oblongnya sesuai dengan tokoh yang dibawakan.        Cerita-cerita yang dihidangkan umumnya diambil dari epos Ramayana, dengan tokoh-tokoh terkenal seperti pada wayang di Jawa dengan beberapa tokoh yang namanya disesuaikan dengan tokoh cerita rakyat setem-pat. Misalnya tokoh-tokoh untuk kelompok kerajaan Pancawati Ganda dengan tokoh-tokohnya Prabu Rama, Hanuman Pancasuna, tetapi yang berbeda ada tokoh Sancabura. Sedangkan kelompok kerajaan Inlangkung Langkadiraja, dengan tokoh Prabu Dasamuka, Umbakarna, Handarjit, tetapi yang berbeda di sini ada tokoh Bupati Margasing, Bupati Rasikala, ada pula nama tokoh Aria Bukbis dan Tawar Wisa.
Pertunjukan Wayang Gung dibuka dengan munculnya lima “Dalang”, yaitu yang disebut Dalang Utusan, Da-lang Pembayun, Dalang Kasmaran Laya, Dalang Kalonglongan/Dalang Pengambar dan Dalang Sejati. Kelima Dalang tersebut bertugas untuk membuka pertunjukan, yaitu dengan memperkenalkan diri dan menceritakan lakon yang akan dimainkan. Adegan perkenalan ini dinamakan (adegan) Maucukani .  Sesudah itu barulah cerita dimulai.
Lakon yang dihidangkan umumnya adalah epos Ramayana, dengan episode cerita antara lain Penculikan Rama, Perang Batambak, Runtuhnya Kerajaan Inlangkung Langkadiraja, Penculikan Dewi Sinta, Anggada Balik dan lain sebagainya.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa campuran, berasal dari bahasa Jawa Kawi, kemudian dicampur den-gan bahasa Banjar.  Namun yang banyak digunakan adalah bahasa Banjar dengan dialek Pahuluan. Jika seorang pemain menggunakan bahasa Jawa/Kawi, oleh pemain itu sering diulang dengan langsung diterje-mahkan ke dalam bahasa Banjar, sehingga para penonton langsung mengerti dan dapat mengikuti jalannya cerita.
Peralatan musik/tabuhan yang mengiringi Wayang Gung, hampir mirip dengan seperangkat gamelan Jawa dengan jumlah yang sangat minim yaitu hanya terdiri dari Babun (gendang), Sarunatas dan Sarunbawah (sa-ron), Dawu, Kanung (kenong), Kangsi, Agung (gong) besar dan Agung kecil.
Lagu-lagu yang dibawakan dalam Wayang Gung bermacam-macam iramanya, antara lain:
• Lasam Sapuluh, dibawakan pada saat Raja sampai di singgasana• Udu-Udu dibawakan apabila akan dimulai pembicaraan.• Pangkuran, Sinom Pelayaran digunakan waktu Prabu Rama membujuk Anuman dan lain-lainnya.Irama tabuhan/gamelan dalam Wayang Gung, dapat dibagi atau diganti-ganti menurut adegan yang sedang berlangsung :
1. Pada waktu menunggu penonton, sebelum pertunjukan dimulai, biasanya selalu dibunyikan tabuhan lagu  ayakan  atau  liung.2. Pada waktu Maucukani membuka pertunjukan diiringi oleh irama lagu  ayakan miring  atau  perang alun3. Hadirnya tokoh Pancawati Danda diiringi oleh lagu  perang cepat4. Turunnya Lesmana diiringi dengan lagu  perang alun .5. Prabu Rama dan Gunawan Wibisana diiringi lagu  ayakan miring .6. Jajar tokoh-tokoh Inlangkung Langkadiraja diiringi lagu  jinggung. Seperti pada pementasan teater rakyat Mamanda dan Tantayungan, maka pada Wayang Gung pun pemen-tasan dilakukan di alam terbuka.   Meskipun di alam terbuka, namun tempat arena bermain dibuatkan bangsal tempat permainan dilakukan. Bangsal ini berbentuk empat segi memanjang dengan atap dari tikar atau lampit, yang diberi nama serobong.  Serobong ini dihias dengan daun kelapa muda.  Pada serobong ini dibuatkan ruangan tempat para pemain berkumpul, untuk keperluan merias diri para pemain dan tempat keluar masuk-nya para pemain, ruang ini disebut Ruang  Sari. Serobong tersebut ditutup dengan dinding dari bambu anyam, sedangkan pada pintu serobong untuk keluar-masuk pemain, ditutup dengan dua kain.
Tempat permainan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian pertama  disebut paseban (tempat permainan dilakukan), sedangkan kedua disebut  singgasana, biasanya digunakan adegan istana kerajaan. Tidak ada batas antara Paseban  dan Singgasana. Perlengkapan yang ada hanya sebuah meja kecil yang biasanya ditempatkan di daerah Singgasana. Di daerah Singgasana inilah para tokoh dalam cerita mengadakan pem-bicaraan. Perlengkapan untuk para pemain hanyalah berupa tongkat kecil.
Pementasan biasanya dilakukan dalam arena bentuk tapal kuda dan penonton yang menyaksikan mengelilingi tempat permainan tersebut. Tidak ada batas antara penonton dan tempat permainan. Pertunjukan terasa lebih akrab secara emosional dan spontan.
Wayang Gung merupakan Teater Wayang Orang yang spesifik terdapat di Kalimantan Selatan, terutama di-gemari oleh masyarakat suku Banjar.

Wayang Golek
Di Indonesia yang dimaksud dengan teater boneka adalah wayang. Terdapat dua macam wujud wayang, yaitu yang berbentuk pipih (wayang kulit) dan yang berbentuk 3 demensi, yaitu merupakan boneka yang terbuat dari kayu yang di Jawa barat dinamakan wayang golek, sedangkan di Surakarta disebut wayang thengul. Dalam buku Wayang Golek Sunda, karangan Drs.Jajang Suryana, M.Sn, dikatakan: “Munculnya wayang golek purwa di Priyangan secara pasti berkaitan dengan Wayang golek menak Cirebon yang biasa disebut “wayang golek papak”  atau “wayang golek  cepak”. Kaitannya antara ke-dua jenis wayang itu hanya sebatas kesamaan raut golek yang trimatra (tiga demensi), sementara unsur cerita golek yang secara langsung akan  menentukan raut tokoh golek, sama sekali berbeda. Golek Menak bercerita tentang Wong Agung Menak, Raja Menak atau Amir Hamsyah, yang berunsur cerita Islam. Sedangkan Golek Purwa bercerita tentang kisah yang bersumber dari agama Hindu yaitu Mahabharata dan Ramayana. Cerita yang dihidangkan wayang, umumnya cerita Ramayana dan Mahabharata, namun ada jenis wayang golek yang  mementaskan cerita Panji atau cerita Parsi yang bernuansa Islam”.
Pertunjukan Wayang Golek sebenarnya prinsipnya sama dengan wayang kulit, hanya saja tidak menggunakan kelir (kain yang dibentangkan). Pada Wayang Golek kelir tidak diperlukan, karena tidak perlu terlihat adanya bayangan seperti pada Wayang Kulit. Sedangkan perlengkapan lainnya sama seperti pada pertunjukan Wayang Kulit pada umumnya. Penonton yang menyaksikan di depan dapat langsung menyaksikan golek yang sedang dipertunjukan. Hanya Wayang Golek, karena wujudnya yang trimatra, maka yang disusun (di-tancapkan) di atas pelepah pisang tidak sebanyak yang disusun untuk wayang kulit.

BAB IV————————————————————————————————————————————————–    CIRI, FUNGSI DAN PENYAJIANPEMENTASAN TEATER TRADISIONAL

Ciri Utama  Teater Tradisional
Teater tradisional merupakan suatu bentuk teater yang dihasilkan oleh kreativitas kebersamaan masyarakat suku bangsa Indonesia dari daerah etnik tertentu, bertolak dari sastra lisan yang berakar dan bersumber dari budaya tradisi masyarakat etnik lingkumgan, dihayati oleh masyarakatnya dan merupakan warisan budaya nenek moyangnya.
Ciri yang esensial ialah, proses kreatifnya didukung oleh sistem kebersamaan, tidak ada penonjolan individu sebagai pencipta karya. Yang lahir dan muncul ialah bahwa karya tersebut dihasilkan bersama, semua diker-jakan bersama. Sifat kegotong-royongan dalam masyarakat terasa sangat menonjol. Dalam menyiapkan per-tunjukan teater rakyat, semua dilakukan dengan saling membantu. Pembiayaan untuk keperluan pertunjukan ditanggung oleh yang ingin mengadakan pertunjukan, yaitu orang yang punya hajat, orang terpandang yang biasanya mampu untuk membiayai. Di sini hilanglah sifat karya sebagai milik individu. Bahkan mengarang cerita pun seolah-olah dilakukan bersama-sama. Teater tradisional menggunakan sastra lisan dan kita tidak menemukan nama pengarang dalam sastra lisan,  kecuali keterangan: Anonim  Pada mulanya teater tradisional selalu menjadi pendukung upacara keagamaan atau upacara adat. Kebiasaan ini kemudian terus melekat, sehingga penyelenggaraan pertunjukan dalam teater tradisional selalu diwarnai oleh tata-cara seremonial ataupun adat kebiasaan yang berlaku sesuai dengan budaya dan kepercayaan yang dianutnya. Pertunjukan teater tradisional yang masih dapat disaksikan pada saat ini, biasanya dilaksanakan bersamaan dengan keperluan masyarakatnya, baik dengan suatu upacara hajatan, atau pun perayaan.lainnya.
Kelahiran teater rakyat pada umumnya di dorong oleh kebutuhan masyarakat terkait dengan upacara keaga-maan, yang kemudian berkembang sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan akan hiburan.
Pertunjukan teater tradisional selalu dapat dimanfaatkan untuk mengetahui gambaran  budaya yang terdapat dalam masyarakatnya di masa lampau.. Antara lain dapat dilacak tentang tata cara kehidupan masyarakat, adat istiadat yang berlaku, bentuk kesenian rakyatnya, dan bahasa daerah yang digunakan.  Dengan mene-lusuri sejarah kelahiran dan proses terbentuknya — serta melacak setiap bagian dalam suatu pertunjukan, akan dikenali materi dan unsur-unsur yang terdapat dalam teater tradisional tersebut
Cara Memainkan Cerita
Ciri utama teater tradisional ialah spontanitas.  Sifat spontan yang dimiliki oleh para pemain muncul secara intuitif dari kesederhanaan dan kejujuran, yang lahir dari bakat alam yang dimiliki. Apa yang berlangsung pada saat pertunjukan dilakukan secara improvisatoris. Semua didasarkan pada kebiasan bermain yang mentradisi, dengan mengikuti pakem yang sudah digariskan oleh generasi sebelumnya. Kesepakatan semacam itu dilaksanakan berulang kali, bahkan bertahun-tahun secara bersama-sama. Bentuk pertunjukannya sangat sederhana, penyampaiannya sangat komunikatif dan mudah dicerna oleh masyarakat lingkungannya.
Aturan bermain dilakukan atas dasar tata cara dan pola yang diikuti  secara mentradisi, secara turun- temu-run. Pengalaman pentas generasi tua (pendahulu) dialihkan  ke generasi yang lebih muda (generasi penerus), yang mengikuti serta setia kepada ketetapan yang berlaku.
Teater tradisional bertolak dari sastra lisan, dengan mengambil cerita dari legenda, dongeng atau cerita rakyat. Pada umumnya cerita-cerita tersebut merupakan cerita yang penuh fantasi yang bersifat imajiner, bukan realitas yang kita hadapi sehari-hari. Dengan demikian dapat digolongkan sebagai cerita yang non-realis.
Persoalan seni peran dalam teater sebenarnya adalah bagaimana seorang aktor mewujudkan watak dan menghidupkan karakter tokoh yang dibawakan dalam suatu pementasan. Untuk mewujudkan tokoh dalam pementasan tersebut, seorang aktor ditunut untuk mewujudkan karakter yang sesuai kebutuhan cerita dengan menggunakan perlengkapan dirinya, yaitu tubuh dan suaranya — dengan latihan-latihan yang intensif.
Teater Tradisional dan Teater Non-tradisi, keduanya mempunyai akar dan sumber yang sama, tetapi dengan  gaya penyajian yang berbeda. Begitu pula dalam seni pemeranan, keduanya berbeda.  Seni teater merupakan seni kolektif, seni yang hidup (bukan barang mati), yang berkembang sebagaimana sifat hidup sendiri. Seni teater memiliki unsur dari tiga bentuk seni, yaitu: 1. Adanya seni sastra.2. Aktor yang memainkan karya seni sastra. merupakan seni pemeranan3. Dipentaskan (staging) secara visual merupakan dukungan karya seni rupa
Dalam suatu proses pementasan, yang pertama kali muncul adalah cerita. Cerita didivisualkan dengan du-kungan aktor yang memainkan tokoh di dalamnya. Seni peran merupakan unsur utama dalam suatu pemen-tasan teater.
Dalam teater, khususnya seni pemeranan yang materinya merupakan “seni yang hidup”, hanya ada 2 pilihan untuk menyampaikan  gaya permainan dalam mewujudkan peran, yaitu seni pemeranan “realis”  dan “non-realis”. Teater tradisional dimainkan dengan pendekatan pemeranan non-realis, sedang teater non-tradisi, umumnya dimainkan dengan pendekatan pemeranan realis. Semua tergantung pada karya sastra yang diha-dapi.
Perbedaan yang utama dan menonjol antara seni peran realis dalam teater non-tradisi dengan seni peran non-realis dalam teater tradisional terletak pada pendekatan sang aktor secara teknik dalam mewujudkan perannya. Dalam teater tradisional, aktor mewujudkan perannya dengan “menghafal” karakter yang dibawa-kan, sedangkan dalam teater non-tradisi aktor menganalisis watak yang dibawakan, terkait dengan kejiwaan dan nilai dramatik  yang disusun pengarang dalam naskahnya.      Seni Peran “Non-Realis” Sebelum aliran realisme dalam teater berkembang di Indonesia, hanya dikenal bentuk teater tradisional yang disebut teater rakyat dan teater yang lahir di lingkungan keraton. Teater rakyat yang bertolak dari sastra lisan dengan cara pemainkan cerita secara spontan dan intuitif, karena karakter dalam peran yang dimainkan ber-sifat “hitam-putih”, menghafal karakter yang dimainkan berdasarkan sumber tradisi tentang gambaran watak yang dimainkan, dengan gaya  “stilisasi” dan “non-realistic”.
Dimulai dengan Teater Tutur yang bertolak dari sastra lisan yang harus dilakukan dengan gaya yang menarik (yang berbeda dengan ucapan-ucapan keseharian) yang nantinya melahirkan pemeranan dengan gaya stilisasi  (non-realis), yang melahirkan juga gerak-gerak yang terasa lebih besar. Semua jenis teater tradisional seperti Mamanda, Makyong, Randai, Longser, Ketoprak, Wayang Orang, dan lainnya menggunakan gaya seni peran non-realis dengan ciri-ciri utamanya: Gerakan-gerakannya besar, penghayatan lebih bersifat “kepura-puraan”, emosinya sebatas terlihat dari luar.  Semua lebih ditekankan kepada bentuk fisik. Pemain teater tradisional bermain dengan peran tokoh yang dimainkannya dengan watak  yang hitam putih.
Realisme dalam Seni TeaterMunculnya gerakan Realisme di Barat pada sekitar tahun 1850 yang kemudian disusul dengan gerakan Natu-ralisme, memberi imbas pada dunia teater secara menyeluruh. Sedangkan di Indonesia, realisme mulai dibi-carakan setelah kita memasuki periode Teater Non-tradisi, yaitu hasil suatu proses pementasan yang bero-rientasi pada lakon yang berkonotasi karya sastra.  Sejak itu mulai banyak cerita-cerita yang ditulis untuk ke-perluan pertunjukan.
Realisme  dalam seni teater adalah penggambaran realita yang terdapat dalam kehidupan. Bukan memper-masalahkan seberapa sama dan tepat yang disajikan dalam  pementasan dengan  kenyataan yang ada, tetapi bagaimana memahami dan merumuskan sesuatu yang dibayangkan sebagai suatu realita.
Pada mulanya aliran/gagasan realisme dalam teater ialah untuk menciptakan sesuatu di atas panggung se-perti kenyataan yang ada. Menciptakan ilusi kenyataan di atas panggung, seolah-olah penonton menyaksikan apa yang terjadi seperti dalam kenyataan sehari-hari.
Di dunia teater Barat sebelum hadirnya aliran Realisme, para aktor biasa bermain dengan gaya Teater Yunani  atau  gaya Shakespeare  yang biasa dimainkan dalam amphiteater atau gedung teater dengan penonton berjumlah di atas seribu, hingga cara bermain lebih di ”besar-besarkan” supaya dapat terlihat oleh penonton-nya. Permainan tersebut terasa “tidak realistik” (tidak sesuai dengan kenyataan/realita dalam kehidupan se-hari-hari.   Atas permainan yang “berlebihan” tersebut (yang cocok dengan cerita-cerita jaman itu), kemudian muncul istilah  “seni pemeranan  (gaya) non-realis.”
Memainkan peran dengan gaya realis tidaklah mudah. Terutama bagi para aktor yang biasa dengan gaya tradisi Yunani atau memainkan karya-karya Shakespeare. Karya-karya Anton Chekov yang merupakan kea-daan yang banyak dialami oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari sangat dikenal.  Bagaimana me-mainkan tokoh dan berdialog dengan ucapan yang “wajar” yang dikenal oleh lingkungannya?
Di dunia Barat hal ini tidak mudah, karena para aktor sudah biasa dengan seni peran non-realis, para aktor berakting secara histrionics, yaitu  cara bermain yang agak “berlebihan”, dengan gerak-gerak stilisasi, serta mengucapkan dialog seperti “berpantun”, seperti kebiasaan dalam memainkan karya teater tradisi Yunani atau karya-karya Shakespeare, sesuai dengan  gaya seni peran  pada jamannya.
Untuk para aktor di Indonesia terasa lebih mudah, karena kelompok aktor realis dan aktor non-realis, berbeda jaman, berbeda angkatan.  Para aktor non-realis (pada periode jaman teater tradisional ), yang umumnya, memainkan peran dengan gaya yang memang dianut pada masa itu, terdapat jarak antara watak yang di-mainkan dengan diri sang pemain. Peran tidak benar-benar “dihayati”, tetapi hanya dimainkan “sesaat”.  Meskipun demikian, karena kebiasaan bermain secara “rutin” dengan kelenturan tubuh dan vokal yang handal, serta “kepekaan” yang tinggi, para pemain teater tradisional mampu memainkan peranannya dengan wajar, meskipun tidak “realistik”.
Para aktor realis hidup di jaman sesudah perang kemerdekaan, setelah gerakan realisme melanda Indonesia, dengan segala konsep yang berbeda dalam memainkan peran yang dibawakan, dengan cara “menghidupkan” karakter tokoh yang dibawakan.
Penyelenggaraan pementasan
Telah disebutkan bahwa pertunjukan teater tradisional yang masih dapat disaksikan hari ini, biasanya selalu dilaksanakan bersamaan dengan keperluan masyarakatnya yang masih terkait untuk keperluan suatu upaca-ra, hajatan, perayaan atau pun keperluan lain. Masih sangat jarang pertunjukan teater tradisional yang hanya untuk keperluan menampilkan karya seni, apalagi pertunjukan untuk keperluan mencari nafkah.  Masih jarang pertunjukan profesional, dalam pengertian para pemain dapat hidup dari hasil profesinya.
Di jaman lampau, masih jarang atau bahkan belum ada hiburan yang berupa film atau pertunjukan lainnya. Untuk keperluan hiburan masyarakat di pedesaan, belum ada film atau televisi.  Untuk memenuhi keperluan bersantai, diperlukan adanya hiburan.  Masyarakat di pedesaan yang umumnya berprofesi sebagai petani, berusaha mengadakan “pertunjukan” untuk menghibur kelompok mereka sendiri.
Pertunjukan teater tradisional di pedesaan yang ada, baik di masa lampau atau pada saat sekarang, dilakukan atas dasar tata cara dan pola yang diikuti secara mentradisi, secara turun-temurun. Penyelenggaraan pertunjukan teater tradisional pada jaman lampau, selalu dikerjakan bersama di antara warga, biasanya di-kaitkan dengan keperluan suatu hajat.

Kegiatan Teater tradisional pada umumnya merupakan kegiatan yang merefleksikan tata kehidupan yang didasarkan guyub dan gotong royong dalam masyarakatnya. Mengamati suatu penyelenggaraan pertunjukan  Teater tradisional, kita akan menemukan unsur-unsur umum dan sarana yang diperlukan, serta sekaligus akan mengenal ciri-ciri dan wujud yang terdapat dalam teater tradisional tersebut.
Bentuknya yang sederhana dan spontan, penyelenggaraannya pun dapat dilaksanakan secara spontan pula, dalam arti tidak dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya. Cukup dipersiapkan dalam waktu yang tidak lama, bah-kan beberapa jam sebelumnya.
Dimulai dengan pemilihan tempat untuk pertunjukan. Tidak pernah ada masalah karena pertunjukan dapat dilakukan di mana saja, asal ada tempat terbuka untuk tempat bermain (acting area) dan untuk tempat me-nonton. Apakah di halaman rumah yang cukup luas, atau bahkan di kebun dekat kampung yang ada tanah datar dan terbuka.
Tempat pertunjukan teater rakyat tidak khusus dipersiapkan untuk suatu pergelaran, tetapi sekedar tempat untuk dapat dilakukan kegiatan pertunjukan. Tidak memerlukan ruangan khusus, apalagi yang berbentuk ge-dung, dengan lampu-lampu pertunjukan dan tempat penonton yang nyaman dan memadai.
Penonton dan Pertunjukan
Pertunjukan teater tradisional biasanya dipentaskan di tempat terbuka, tidak ada atap atau pun panggung (tempat yang lebih tinggi dari tempat penonton).  Tempat bermain dan penonton sama tingginya, hingga tidak ada batas antara penonton dan pemain.
Pemain dan penonton dalam teater tradisional seolah-olah menjadi satu. Hubungan secara emosional antara pemain dan penonton sangat dekat dan akrab. Para penonton sering secara tidak sadar “ikut bermain”, dengan memberikan respon apa yang sedang terjadi di depan matanya, baik atas apa yang dilihat atau didengar. Semua dilakukan secara spontan. Interaksi antara pemain dan penonton membuat pertunjukan tersebut “te-rasa” menyatu dengan penonton.  Apabila pertunjukan dilakukan dalam bentuk “tapal kuda”, maka seperempat sisi dari arena tersebut sebagai tempat pertunjukan yang biasanya ada sekat (kain hitam polos) yang sering dianggap sebagai  dekorasi  (penyekat antara tempat bermain dan  tempat persiapan pemain).
Dalam perkembangan teater tradisional, terutama teater rakyat mendapat penga-ruh teater Barat (hal ini terli-hat pada pementasan Teater Bangsawan yang selalu menggunakan panggung/level yang lebih tinggi dari tempat berpijak penonton) yang dengan sendirinya mulai menggunakan dekorasi.  Meskipun demikian, kea-kraban teater rakyat tetap terjaga dan dipertahankan  Cara menonton tetap dalam posisi setengah lingkaran (tapal kuda).
Perlengkapan yang digunakan dalam pertunjukan teater tradisional sangat sederhana. Perlengkapan di atas panggung (arena permainan) hanya sebuah meja atau kursi, yang di dalam permainan, meja dan kursi tersebut dapat berubah fungsi. Perubahan tersebut tergantung pada keperluan dalam per-tunjukan tersebut.  Meja dapat berubah fungsinya menjadi  “batu besar tempat persembunyian” di hutan, atau mungkin berubah menjadi “tempat tidur”.  Perlengkapan para pemain cukup hanya se-potong kayu yang  dalam pertunjukan dapat berubah fungsi menjadi “pedang”, “tombak” atau “tongkat wasiat”.
Perubahan fungsi perlengkapan ini terjadi hanya dengan informasi dialog yang disampaikan para pemain, tentang  keadaan, situasi atau pun kejadian yang sedang berlangsung. Dialog tersebut dapat merubah fungsi baik itu berupa perlengkapan yang ada atau pun  tempat kejadian (lokasi) yang ada di atas panggung.  Di sinilah daya imajinasi para penonton berjalan dan berkembang. Khayalan para penonton dapat mengikuti apa  yang sedang terjadi dalam pertunjukan tersebut. Hubungan emosional antara penonton dan yang ditonton terjadi dengan akrab dan lancar, karena para penonton langsung  ikut serta.
Sifat kegotong-royongan (saling membantu) dalam masyarakat terasa sangat menonjol.  Segala sesuatu dila-kukan bersama-sama. Begitu pula dalam menyiapkan pertunjukan teater rakyat, semua dilakukan dengan gotong royong.
Tempat Pementasan dan Panggung Sejak dahulu pementasan Teater tradisional tidak pernah dilakukan di tempat khusus yang berbentuk Gedung Pertunjukan. Umumnya dilakukan di lapangan terbuka, atau pun di pekarangan  rumah.  Tempat pertunjukan dalam teater tradisional tidak meminta persyaratan tertentu. Teater tradisional dapat dipertunjukan di mana saja.
Dapat dipertunjukan kapan saja (siang atau malam), asalkan ada tempat (space). Umumnya. pertunjukan teater tradisional, terutama pada teater rakyat dilakukan dalam bentuk arena dan tidak menggunakan pang-gung. Dapat dilaksanakan di alam terbuka (di halaman yang luas, atau tanah kosong yang datar). Tempat permainan (area permainan) sama datarnya dengan tempat penonton dan umumnya para penonton tidak disediakan tempat duduk (kursi). Cara menonton adalah dengan duduk atau berdiri mengelilingi arena pertun-jukan.     Dalam perkembangannya, sebelum pindah ke gedung pertunjukan, mereka mulai menggunakan “panggung” (level tempat bermain).  Kemudian disusul tempat bermain (terutama seni pertunjukan tradisi di pulau Jawa)  pindah ke pendopo.  Setelah itu mulai  lebih rapih tertib dan teratur, baru kemudian masuk ke “gedung tempat pertunjukan” .
Sebelum pindah ke gedung pertunjukan, pementasan biasanya dilakukan dalam bentuk arena, di mana cara menontonnya berkeliling, tidak ada batas antara penonton dan pertunjukan. Batasnya adalah lingkaran penonton itu sendiri. Seolah-olah penonton menjadi bagian dari pertunjukan itu. Bentuk arena atau “tapal kuda” dengan penonton berkeliling atau tiga-perempat lingkaran, merupakan pe-nyajian pertunjukan teater rakyat yang paling cocok.
Sebelum ada pengaruh teater yang datang dari luar, Teater tradisional tidak pernah dipertunjukan di dalam gedung.   Penggunakan gedung pertunjukan dimulai sejak datangnya Teater Bangsawan, (yang kemudian memunculkan masalah komersialisme dalam kegiatan teater). Sejak saat itu, teater tradisional mulai dipen-taskan di dalam “gedung pertunjukan”.
Perlengkapan dan sarana pementasan yang digunakan sangat sederhana, tidak rumit, dan selalu tidak menggunakan dekorasi. Biasanya hanya kain layar hitam atau putih.  Dalam perkembangannya sering layar di belakang dilukis dengan pemandangan, gunung, hutan, istana, terutama apabila dipertunjukan di suatau ruangan atau panggung.   Kelengkapan/property  sangat sederhana, kalau perlu hanya menggunakan meja-kursi kecil yang  dapat be-rubah fungsi dalam pementasan. Justru dengan kelengkapan yang sangat sederhana, para penonton   teater rakyat, imajinasinya sangat berkembang, dapat meresapi apa yang diungkapkan dalam cerita yang sedang berlangsung.
Karena dipertunjukan malam hari, maka diperlukan penerangan. Dapat berupa oncor, obor, lampu petromax, atau yang lain. Apa saja asal dapat memberikan penerangan. Lampu bukan sarana untuk kelengkapan pentas, dalam arti  memberi efek dramatik dalam  pertunjukan, tetapi hanya berfungsi untuk keperluan penerangan semata. Fungsi Penonton dalam Teater Tradisional
Dalam mewujudkan karya seni yang berbentuk seni pertunjukan, keharusan pertama dalam mewujudkan karya seni tersebut adalah  harus dipertunjukan, sehingga mutlak harus adanya penonton dalam penyajian tersebut.  Sebelum dipertunjukkan, karya seni tersebut masih dalam proses (belum merupakan hasil karya akhir). Proses tersebut akan berakhir (terwujud) ketika karya tersebut dipertunjukkan di depan penonton.  Ar-tinya unsur penonton merupakan hal yang penting dalam proses penciptaan yang harus diperhitungkan. Hu-bungan penonton dengan seni pertunjukan harus diperhitungkan dalam hasil karya tersebut yaitu dalam proses penciptaan, para seniman harus memperhitungkan, mempertanyakan sampai berapa jauh karya tersebut komunikatif dengan penontonnya. Dapatkah karya yang dipertunjukkan diterima oleh penonton sebagai penik-mat karya?
Interaksi antara penonton dan pemain sangat penting, karena hal ini menciptatakan keakraban dan spontani-tas dalam pertunjukan teater tradisional. Hubungan emosional ini melancarkan pelaksanaan pertunjukan.  Apa yang dihidangkan dalam pertunjukan dapat langsung diterima oleh penonton. Tanda-tanda atau “simbol-simbol” dalam pementasan dapat dengan cepat dicerna oleh penontonnya.  Daya interprestasi dan daya imajinasi para penonton dapat berkembang mengikuti apa yang sedang terjadi, apa yang sedang berlaku di atas arena pertunjukan.  Pada karya seni lainnya, penikmat karya (pembaca untuk novel, misalnya) tidak perlu diperhitungkan.
Pada karya seni sastra atau lukis, “penikmat hasil karya seni” tidak perlu diperhitungkan. Disebabkan karena karya yang diciptakan sudah terwujud sebelum dibaca atau dinikmati, sedangkan dalam seni pertunjukan karya tersebut terwujud pada saat disaksikan oleh para penontonnya..
Seni pertunjukan merupakan suatu bentuk karya seni yang harus memperhatikan masalah penontonnya, yang merupakan salah satu unsur pendukung dalam proses penciptaan yang tidak dapat diabaikan.   Penonton ikut serta secara emosional ketika berlangsungnya pertunjukan, dan mempunyai pengaruh yang berarti dalam mendukung berlangsungnya pertunjukan seperti yang diharapkan.  Apa yang kita saksikan di atas panggung, merupakan hasil karya seni dan penonton yang menyaksikan merupakan bagian dari proses tercapainya hasil karya seni. tersebut.
Fungsi Musik dalam Teater Tradisional
Iringan tabuhan, musik daerah, merupakan bagian pertunjukan teater tradisional yang tidak terpisahkan, bukan sekedar pengiring. Tiap pertunjukan teater tradisional selalu diiringi oleh tabuhan. Tiap teater tradisional di daerah tertentu berbeda iringan tabuhannya dengan daerah lain. Tabuhan yang mengiringi dapat menjadi pertanda dari daerah etnik mana teater tradisional tersebut berasal, baik dilihat iramanya atau pun perlengka-pan musik daerah yang digunakan .Sebagai contoh, teater tradisional yang terdapat di Sumatera atau  Kali-mantan, musik pengiringnya pastilah berirama musik Melayu dengan perlengkapan musik seperti viol, gen-dang, tambur, biola, seruling, dan lain-lain. Musik tersebut dengan sendirinya mempengaruhi gaya dan cara bermain.
Teater tradisional yang terdapat di daerah Jawa (Barat, Tengah & Timur) dan daerah Bali, atau Lombok, musik pendukungnya menggunakan gamelan yang sangat berbeda nuansa dan iramanya, yang berpengaruh pada cara menyajikan gaya permainan.
Perlengakpan musik Jawa dan Bali mempunyai susunan kelengkapan yang berbeda, dan para seniman atau masyarakat menyebutnya karawitan. Biasanya terdiri dari seperangkat alat musik tradisi yang disebut: Game-lan.
Gamelan lengkap terdiri dari gambang, kenong, gong (besar dan kecil), kendang (besar dan kecil) gender, rebab, sitar, dan lain sebagainya.  Untuk setiap daerah dapat menggunakan alat musik yang diperlukan, yang dengan sendirinya dapat berbeda antara daerah satu dengan daerah lainnya tergantung keperluannya yang sesuai dengan yang diinginkan, menggunakan melodi atau irama yang disesuaikan dengan keperlukan per-tunjukan. Secara keseluruhan alat musik Jawa dan Bali disebut gamelan.  Susunan gamelan ini bisa lengkap atau bisa diambil sebagian.  Sering pula pada alat musik daerah etnik tertentu terdapat beberapa alat musik gamelan (diambil yang diperlukan) dan disatukan dengan alat musik Melayu. Misalnya pada teater tradisional kelompok Teater Bangsawan, Mamanda (Kalimantan) atau Dul Muluk (Sumatera), dengan komposisi alat musik sebagai berikut: gendang, gong,  biola,  akordeon,  seruling, dan sebagainya.
Musik tradisi/daerah merupakan penyangga utama dari teater tradisional dan merupakan ciri yang mudah dikenali. Dengan mendengarkan irama dan lagu yang dibawakan oleh pertunjukan teater tradisional, dapat segera dikenali dari wilayah etnik mana teater tradisional tersebut berasal.
Pemain teater tradisional di samping harus mampu bermain spontan, harus dapat pula menari dan menyanyi dan mengenal musik yang mengiringi. Pertunjukan selalu diiringi oleh musik. Musik merupakan bagian yang terpadu, tak terpisahkan, menyatu dengan pertunjukan. Musik yang mengiringi adalah musik tradisional yang terdapat di daerah tersebut.  Sering suatu daerah mempunyai alat musik yang spesifik dan hanya digunakan oleh daerah  tersebut.    Misalnya: Salung (Minang), Angklung (Sunda), dan lain-lainnya. Dengan hanya men-dengar alunan irama musiknya, biasanya sudah dapat ditebak dari daerah mana musik tersebut berasal.  Cerita yang Disajikan
Cerita yang dihidangkan bersumber dari sastra lisan. Di Indonesia banyak kita temukan sastra lisan, yang sering disebut sebagai sastra lisan daerah. Hampir di setiap daerah (kelompok etnik) dapat kita temukan sa-stra lisan daerah yang ciri utamanya adalah bahasa daerah. Sastra lisan biasanya berbentuk pantun, syair, gurindam, prosa liris. Sedangkan isi ceritanya berupa cerita babad. Setiap daerah mempunyai cerita yang spesifik kedaerahan, misalnya: • Cerita Malin Kundang (Minangkabau)• Jayaprana (Bali)• Si Jampang atau Si Pitung (Betawi)• Lutung Kasarung – Ciung Wanara (Sunda),        • Damar Wulan, Ketek Ogleng, Ande-Ande Lumut (daerah Jawa Tengah/Timur),• Hikayat Abdul Muluk, Siti Zubaedah, Indra Bangsawan, (Sumatera atau Kalimantan)  Ada juga cerita-cerita rakyat yang terdapat diberbagai daerah dengan versi yang disesuaikan dengan daerah setempat, misalnya cerita rakyat Jaka Tarub yang dapat kita temukan di berbagai daerah dengan versi setempat, Cerita Panji yang sangat populer terutama di Jawa dan Sunda, Cerita Ramayana yang juga dapat kita temukan di berbagai daerah dengan versi masing-masing.
Karena bertolak dari sastra lisan, maka teater tradisional dikatakan tidak menggunakan naskah tertulis, teta-pi cerita-cerita yang dihidangkan dikenal “akrab” oleh masyarakat lingkungannya. Masyarakat mengenal ce-rita-cerita yang dihidangkan, karena sastra lisan berkembang dan dikenal dari mulut ke mulut. Sejak masih kanak-kanak, mereka sudah mengenal cerita-cerita rakyat dan mereka tetap menyenangi cerita-cerita terse-but.  Itulah sebabnya mereka tetap menonton, karena cerita yang dihidangkan sudah mereka kenal (terutama cerita-cerita rakyat, cerita kepahlawanan yang terdapat di daearahnya). Cerita yang digemari merupakan pilihan masyarakat, yaitu cerita-cerita yang bersifat hero yang  menjadi kebanggaan masyarakat lingkun-gannya.
Struktur Pertunjukan
Struktur pertunjukan yang dimaksud adalah urutan cara penyajian dalam pementasan teater tradisional. Uru-tan pertunjukan dari pembukaan pertunjukan sampai masuk ke hidangan cerita dan berakhirmya seluruh per-tunjukan.  Pertunjukan disusun terdiri dari beberapa puluh adegan, dan selalu diseling dengan dagelan, lelucon (adegan yang lucu), adegan tarian atau nyanyian yang digemari.    Apabila kita menyaksikan suatu pementasan teater tradisional, meskipun bentuk dan jenisnya berbeda, na-mun struktur dan cara pementasannya umumnya selalu sama. Urutan dari mula, pembukaan sampai ke pe-nyelesaian pertunjukan tersebut  Sedangkan cara penyajian adalah cara pementasannya, di mana dan menggunakan perlengkapan apa, di atas tanah atau di atas panggung, di dalam gedung, ruangan, atau di alam terbuka.
Struktur, urutan yang disajikan dalam pementasan teater tradisional selalu sama, yaitu dimulai dengan:pembukaan  –   perkenalan,  acara inti (cerita yang sesungguhnya disajikan),selingan-selingan dan  diakhiri dengan penutup.
Urutan pertama adalah pada saat para pemain sudah hampir siap dengan tata rias (berhias dan ber-kain pertunjukan), dibunyikanlah tetabuhan (musik daerah) suatu pertanda bahwa di tempat terse-but akan ada pertunjukan teater tradisional dan pertunjukannya akan segera dimulai. Bunyi tetabu-han tersebut dimaksudkan untuk mengundang penonton.
Setelah mendengar bunyi-bunyian yang bertalu-talu para penonton pun mulai berdatangan. Dengan penuhnya penonton dan pemain sudah siap, maka dimulailah acara pertunjukan tersebut.
Urutan kedua, disebut pembukaan yang biasanya dengan nyanyian-nyanyian dan tari-tarian yang dapat berdiri sendiri tidak ada kaitannya dengan  cerita yang akan dihidangkan, sekedar sebagai pembuka, sambil me-nunggu persiapan pemain dan “mempersiapkan” penonton untuk dapat menyaksikan dan mengikuti atau ikut serta siap dalam pertunjukan tersebut.
Urutan ketiga, kita sebut perkenalan (introduksi) yang  merupakan perkenalan untuk cerita yang akan dihi-dangkan. Dimulai dengan perkenalan para pemain dalam cerita tersebut. Ada beberapa cara untuk introduksi ini, yaitu dengan seluruh pemain tampil ke depan, diperkenalkan satu persatu, menyanyi bersama dipimpin oleh pemain utama yang biasanya merangkap menjadi sutradara (pimpinan grup), atau dengan cara langsung memasuki  cerita yang akan dihidangkan dan diberi pengantar oleh pimpinan grup tersebut. Setelah selesai memperkenalkan diri, maka keluarlah adegan pertama dari cerita yang akan dihidangkan.  Cerita yang dihidangkan di dalam teater tradisi biasanya terdiri dari sekurang-kurangnya sepuluh adegan, bahkan sering lebih banyak lagi.
Di celah-celah berlangsungnya adegan ke adegan lainnya setelah sekian lama, sering masuk acara tamba-han/hiburan  dimaksud untuk  “istirahat”  bagi para penonton. Acara tersebut menjadi urutan keempat, yaitu acara selingan dit engah-tengah perjalanan cerita, yang merupakan selingan. Acara bervariasi, kadang-kadang acara menari atau menyanyi di mana para penonton diberi kesempatan untuk ikut ambil bagian. Sering juga dihidangkan dagelan (lelucon-lelucon). Pada kesempatan istirahat ini, biasanya digunakan untuk meminta sumbangan kepada para penonton.
Berbagai bentuk sumbangan dapat diberikan, dari uang, rokok atau saputangan. Adegan selingan ini sering merupakan acara tersendiri, yaitu kesempatan bagi para  penonton yang ingin menari bersama para pemain pilihan dengam memberikan sumbangan yang cukup lumayan. Selingan ini dapat berlangsung sebentar, dapat pula berlangsung lama, tergantung pada minat para penonton penggemar. Biasanya merupakan puncak acara kemeriahan dalam pertunjukan teater tradisional.
Urutan kelima, merupakan lanjutan pementasan cerita yang disajikan. Pada adegan selanjutnya biasanya merupakan babak menyelesaikan cerita yang dihidangkan, merupakan puncak adegan yang menarik, apakah itu berupa “pertempuran”, “peperangan, kemenangan atau kekalahan, namun semua merupakan penyelesaian dari cerita yang dihidangkan.
Apabila pertunjukan teater tradisional tersebut dilakukan lebih dari satu malam, maka disusun adegan akhir malam itu dengan mengantar bahwa esok malam akan dilanjutkan kembali cerita tersebut.
Urutan keenam, merupakan adegan  tutup acara. Ada macam-macam acara penutup dalam pertun-jukan teater tradisional. Ada yang ditandai dengan ditutupnya layar saat habisnya cerita yang dihi-dangkan, atau dengan sebuah lagu penutup. Ada juga yang disertai dengan upacara penutup.  Satu tarian bersama sebagai acara penutup atau dengan suatu upacara tertentu. Misalnya pada Makyong, disebut upacara tutup tanah.
Lamanya Waktu Pertunjukan
Lamanya pementasan umumnya lebih dari enam jam. Dimulai dari jam 20.00 (sesudah sembahyang Isya) sampai tengah malam larut. Ada kalanya pertunjukan berlangsung sampai Subuh/pagi.
Untuk pertunjukan Wayang Kulit, selalu dilakukan semalam suntuk dan bahkan sering dilanjutkan siang hari-nya. Hal ini tergantung pada maksud dan keinginan yang mempunyai hajat. Soal waktu pertunjukan di dalam Teater tradisional tidak pernah dipersoalkan, terutama pada teater rakyat, selalu tergantung kepada keinginan, minat dan keasyikan penontonnya.   Pertunjukan dapat diperpendek atau diperpanjang tergantung pada respon mereka.
Pertunjukan teater rakyat di kepulauan Riau, Makyong misalnya, umumnya dipertunjukkan semalam suntuk, karena menurut adat yang berlaku. Panjangnya pembagian adegan dalam teater rakyat tidak dibatasi, tergan-tung keinginan para pelaku dan respon penonton. Misalnya adegan yang bersifat humor, sering ditambah dengan adegan menyanyi atau menari yang dilakukan secara spontan dan sering pula tidak ada hubungan dengan cerita yang sedang berlangsung. Pertunjukan teater tradisional dewasa ini sudah mulai diperpendek sekitar 2,5 sampai 4 jam, disesuaikan dengan kebiasaan menonton seni pertunjukan pada umumnya. Pertunjukan Wayang Kulit yang umumnya dilakukan semalam suntuk sekarang sudah banyak diusahakan untuk diperpadat menjadi  3- 4 jam.
Peranan dan Fungsi Teater Tradisional
Teater pada umumnya merupakan kegiatan yang merefleksikan tata kehidupan dalam masyarakat pada jamannya. Sejarah seni pertunjukan di masa yang lampau bertolak dari keadaan di mana kese-nian hanya menjadi salah satu bagian dari suatu peristiwa atau kegiatan yang bersifat seremonial yang terdapat dalam masyarakat. Kesenian dalam situasi yang demikian, mempunyai fungsi ganda, terutama yang menyangkut tari dan teater tradisional. Di sini teater tradisional mempunyai fungsi bukan saja sebagai alat untuk keperluan hiburan, tetapi juga untuk keperluan yang berkaitan dengan adat-istiadat dan upacara keagamaan yang fungsi merupakan kelengkapan dan bagian dari upacara keagamaan tersebut.
Teater tradisional sering dipakai untuk keperluan media pengemban kekuatan magis dan gaib, sering pula berfungsi sebagai media penghubung dengan alam gaib.  Kesenian pada jaman itu bukan semata-mata se-bagai perwujudan dari dorongan untuk mengungkapkan rasa keindahan yang bergejolak dalam jiwa seorang seniman, tetapi diutamakan sebagai hiburan dan media pelengkap untuk keperluan yang bersifat seremonial dalam adat-istiadat dan keagamaan.
Fungsi utama kesenian yang sebenarnya adalah alat atau media untuk mengungkapkan perwujudan gejolak jiwa seseorang yang ingin mengekspresikan dirinya dalam bentuk hasil karya seni, yang bertolak dari nilai etik dan estetik. Hasil karya seni yang berupa tari, musik, drama/teater, atau yang lain mempunyai fungsi mening-katkan kepekaan rasa estetik dan memperhalus jiwa pada orang lain yang menikmati hasil karya tersebut..
Fungsi meningkatkan kepekaan rasa estetik dan memperhalus jiwa untuk kesenian tradisional di Indonesia justru menduduki tempat yang ketiga, sesudah fungsi untuk keperluan adat-istiadat dan keagamaan serta fungsi sebagai hiburan.
Teater Tradisional sebagai sarana Upacara
Teater tradisional mempunyai bermacam-macam fungsi, antara lain sebagai pendukung dan bagian dari suatu upacara seremonial dalam adat-istiadat dan upacara keagamaan. Pada mula perkembangannya merupakan bagian yang tak terpisahkan. Teater rakyat yang bersifat sakral ini, yang merupakan sebuah upacara, pada saat ini sudah jarang ditemukan. Namun sisanya masih dapat terlihat di beberapa daerah atau wilayah adat tertentu saja.
Beberapa contoh dapat disebutkan misalnya upacara tolak bala yang terdapat di Bali. Waktu daerah itu ter-jangkit oleh suatu wabah penyakit misalnya, maka untuk menolak penyakit tersebut dilakukan suatu tarian (teater tradisional) yang disebut Sanghyang. Ada macam-macam tarian Sanghyang, di antaranya Sanghyang Dedari, Sanghyang Jaran, Sanghyang Deling, dan Sanghyang Bumbung. Tarian yang dilakukan dengan ke-surupan tersebut diarak keliling kampung. Pada waktu menari diiringi “gamelan mulut”, dalam menari tak lupa disertai dengan asap kemenyan.
Contoh lain, upacara dangai, yang terdapat di Kalimantan Timur, suku Dayak, yaitu tari-tarian yang dilakukan sebagai suatu upacara sesudah panen. Ceritanya dimulai dengan mitos yang melukiskan kejadian bumi.  Se-sudah itu semua roh nenek moyang hadir, agar dapar memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Mengha-dirkan masa lampau ini, dilakukan dengan tarian hudoq yang mengenakan topeng. Beberapa penari meng-gambarkan roh-roh nenek moyang yang membawa jiwa padai.  Para penari berkeliling ke kampung-kampung dengan membawa jiwa kesejahteraan dari roh, agar padai di desa tersebut dapat tumbuh dengan subur.Teater Tradisional sebagai Hiburan
Pada jaman dimulainya kegiatan teater tradisional, masyarakat kita belum banyak menyiapkan tontonan untuk keperluan hiburan. Oleh karenanya, masyarakat bersama-sama menyiapkan kegiatan untuk menghibur diri, salah satu contohnya di Yogyakarta. Waktu itu masyarakat pedesaan menggunakan lesung (penumbuk padi) untuk menghibur diri. Bersamaan dengan bunyi alunan lesung, rakyat gembira kemudian ikut menari, kurang puas kemudian lahirlah Ketoprak Lesung sebagai hiburan.
Teater tradisional sebagai tontonan hiburan, hal ini disebabkan karena adanya dorongan dari masyarakat untuk keperluan menghibur diri mereka di waktu senggang.  Setelah bekerja keras sehari di sawah atau di ladang, para petani atau masyarakat umumnya perlu istirahat atau hiburan.
Ketika unsur-unsur teater melepaskan diri dari kaitannya sebagai sarana dalam upacara dan telah menemukan bentuknya sebagai teater, maka pada mulanya ia mempunyai fungsi ganda. Di samping masih sebagai sarana suatu upacara, juga untuk keperluan hajatan, perhelatan dan sekaligus juga untuk hiburan masyarakat.
Pada jaman dahulu, belum banyak media komunikasi seperti radio, film, atau televisi. Dan jarang pula ada kegiatan khusus yang untuk keperluan hiburan. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan hiburan  yang dipersiapkan khusus untuk itu, maka beramai-ramailah secara gotong royang masyarakat menciptakan suatu tontonan. Mempersiapkan diri secara kelompok dalam masyarakat dan didukung oleh masyarakat sekeliling, untuk menghibur diri dalam kelompok masyarakat itu. Atau adanya seorang pemuka (orang kaya, sesepuh desa, orang terpandang di masyarakat) yang mempunyai hajat, kemudian memanggil kelompok teater tradi-sional untuk keperluan hajatnya. Pada kesempatan yang baik itu, sekaligus masyarakat ikut serta menyaksi-kan hiburan.
Kelompok teater tradisional ini semua dilakukan secara amatir, (karena kesenangan hati, bukan untuk mencari rejeki dan bukan untuk profesi).  Jenis teater rakyat yang berfungsi sebagai hiburan, meskipun jelas kedu-dukannya sebagai tontonan untuk hiburan, namun masih terlihat sisa-sisa fungsi untuk keperluan suatu upa-cara. Hal ini dapat terlihat pada setiap pementasan teater rakyat tersebut selalu adanya sesajian.  Pada pe-mentasan teater rakyat Makyong, sebelum pertunjukan dimulai selalu ada upacara Buang Bahasa yang dis-ebut Membuka Tanah. Upacara ini dipimpin oleh Ketua Panjak (pawang), agar pementasan berjalan lancar dan para pemainnya dapat inspirasi dari para leluhur.
Teater Tradisional sebagai Sarana Pendidikan, Komunikasi & Kritik Sosial.
Sebagai alat komunikasi dan pendidikan atau penerangan. Alat komunikasi pada saat itu belum memadai dan teater tradisional dijadikan alat penghubung, alat penerangan dan sekaligus juga merupakan alat pendidikan. Banyak cerita-cerita yang dihidangakn oleh teater rakyat, dijadikan panutan (baik tokoh-tokohnya atau pun alur ceritanya) oleh masyarakat lingkungannya. Cerita yang dihidangkannya seolah-olah cerita biasa yang dimainkan dengan humor dan penuh lelucon, hingga penonton tidak perlu mengerut dahi dalam menelaah problem yang dihidangkan. Tetapi juastru di sini, gaya penyampaian yang mudah dicerna sangat efektif untuk mengikat para penonton karena sesuai dengan alam dan daya pikir masyarakat tersebut. Tetapi kalau dire-nungkan dan dikaji, di dalam cerita tersebut banyak mengandung nasehat, tuntunan dan pendidikan.
Sudah sejak jaman dahulu, teater rakyat dijadikan media komunikasi atau penerangan dari para penguasa (Raja atau  Bupati dan bahkan Lurah), untuk memberikan  penerangan atau pesan-pesan. Karena apa yang disampaikan dapat luluh dalam cerita, maka pesan tersebut tidak terasa dan dapat diterima masyarakat. Da-pat diterima karena sesuai dengan daya tangkap dan kecerdasan masyarakat yang menonton pertunjukan tersebut.
Menonton teater tradisional akan memperoleh “pendidikan” dari cerita yang dihidangkan, yang selalu membela kebenaran, yang baik pasti menang, dan yang buruk pasti kalah.
Pertunjukan teater tradisional merupakan forum komunikasi antar warga, untuk menjalin hubungan dan me-wartakan hal-hal yang diperlukan masyarakat secara umum.  Sering digunakan untuk melontarkan kritik ke-pada penguasa lewat dagelan yang disampaikan di antara adegan yang sedang berlangsung.  Dalam Wayang, lewat peran punakawan atau dalam teater rakyat  lewat abdi/pembantu, sering disampaikan keluhan, harapan, atau  kritik bagi majikan atau penguasa. Teater tradisional di sini mempunyai fungsi menjembatani menyampaikan keinginan, harapan, permohonan dari masyarakatnya..
Gaya permainan sebagian besar teater tradisional, terutama teater rakyat, selalu dilakukan dengan gaya lelu-con (banyolan).   Peran pelawak dalam teater tradisional sangat penting dan dominan dalam pertunjukan.   Sindiran, kritik dan pesan-pesan (terbuka atau terselubung) selalu muncul dalam setiap pertunjukan, yang biasanya disampaikan dalam adegan lawakan, dengan cara bercanda, dalam bahasa Jawa geguyonan. Guyon parikena (bercanda tetapi mengena tujuannya).  Peran punakawan dalam teater wayang (Semar, Gareng, Petruk) merupakan contoh tokoh-tokoh wayang yang mewakili suara masyarakat/rakyat untuk menyampaikan kritik atau rasanan tentang segala sesuatu yang ingin disampaikan kepada tuannya/pemimpinnya. Tokoh Semar, sebagai orang tua dalam kelompok punakawan sering memberi wejangan atau nasehat kepada tuannya/pemimpinnya.
Cara penyampaian kritik, saran, atau pesan, kebanyakan dilakukan  dengan berbagai  cara yang tidak lang-sung. Dapat berupa sindiran, plesetan, “cubitan” yang kesemuanya dilakukan dengan gaya bercanda, ge-guyonan (gaya humor).Teater Tradisional sebagai Alat Ekpresi Seni
Teater tradisional yang dipertunjukan sebagai hasil karya seni, yang lepas dari ikatan dengan  peristiwa se-remonial, baru terjadi setelah masyarakat Indonesia mengenal gejala profesianalisme dalam dunia kesenian yang mempengaruhi kehidupan dalam masyarakat.  Sejak itu banyak dirintis adanya pertunjukan teater tradi-sional yang berdiri sendiri, yang dipentaskan lepas dari kaitan dengan adat-istiadat dan upacara-upacara keagamaan.
Baru belakangan, setelah masyarakat kita menyadari kemandirian sebagai suatu bangsa dan mulai mengenal budaya individu dalam penciptaan, maka teater tradisional muncul sebagai alat ekpresi para senimannya baik sebagai individu atau pun kelompok. Sebagai alat ekspresi, yaitu sebenarnya merupakan fungsi utama dari suatu bentuk kesenian. Alat bagi para seniman untuk menyampaikan dan menampung hasrat dirinya dalam menyampaikan gejolak jiwanya untuk mencipta hasil karya seni.
Dalam hal ini hasil karya seni pertunjukan, baik itu berupa karya seni musik, seni tari atau pun seni drama, atau ketiga-tiganya, dapat tertampung dalam satu media ekspresi, yaitu seni teater, teater tradisional.  Fungsi sebagai alat ekspresi berkesenian ini, pada teater tradisional justru datang kemudian, setelah mereka men-genal kegiatan yang bersifat profesionalisme (kekaryaan).
Hampir semua bentuk kesenian tradisi, fungsinya sebagai alat ekspresi justru menduduki tempat yang terak-hir, hal ini disebabkan karena pada kesenian tradisi tidak dikenal istilah kreativitas individu.  Dalam perkem-bangannya sekarang, setelah adanya Konservatori Kesenian, Sekolah Tingggi dan Institut Kesenian, maka kesenian tradisional sebagai alat ekpresi seni bagi para seniman terbuka lebar. Lahirlah ciptaan “baru” yang bersumber dari kesenian tradisi.
Teater Tradisional sebagai Alat “Dokumentasi hidup”
Apabila saat ini masih dapat ditemukan teater tradisional yang masih “hidup”, maka teater tradisional tersebut dapat digunakan sebagai alat dokumentasi yang hidup, yaitu merupakan peninggalan warisan tradisi yang masih dapat disaksikan. Sebagai warisan tradisi, teater tradisional banyak mengandung nilai dan cerminan perilaku serta tata kehidupan masyarakat di masa lampau, hingga dapat dijadikan dokumentasi yang hidup.
Warisan budaya nenek moyang kita mengandung banyak hal, antaranya ciri kedaerahan yang khas, alam pikiran menurut sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut, dan semua aspek kehidupan yang ter-cermin dalam cerita-cerita yang dipertunjukkan dalam teater tradisional.
Kalau kita ingin mengkaji tata kehidupan masyarakat di suatu daerah, antara lain kita dapat mengkaji apa yang tercermin dalam cerita yang dipertunjukkan oleh teater tradisional di daerah tersebut.

BAB V————————————————————————————————————————————————Teater Tradisional dari berbagai daerah

B A N G S A W A N Teater Tradisional Sumatera
Bangsawan, merupakan teater tradisional yang umumnya terdapat di Pulau Sumatera dengan latar belakang pendukung yang dominan budaya Melayu. Ada beberapa nama untuk Bangsawan, sering juga orang mena-makan Komidi Bangsawan, Sandiwara Dardanella, Komidi Stamboel, yang merupakan teater tradisional yang telah banyak memperoleh pengaruh teknik teater Barat, hal ini dapat kita lihat pada cara pementasannya yang selalu dilakukan di atas panggung, meskipun tidak di dalam gedung.
Dalam bukunya Seni Persembahan Bangsawan, Rahmah Bujang mengatakan bahwa Bangsawan dikenal pertama kali di Malaysia, yaitu ketika ada rombongan teater dari India, sekitar tahun 1870, dan mereka me-nyebutnya sebagai Wayang Parsi, karena cerita-cerita yang dihidangkan kebanyakan dari daerah Timur-Tengah dan India. Semua pemain teater dari India tersebut terdiri dari pria. Kemudian “Wayang Parsi” me-nyebar ke Selatan sampai ke Indonesia (Medan, Riau dan Palembang, untuk pulau Sumatera dan bahkan sampai ke Pulau Jawa dan Kalimantan).
Di Sumatera Selatan, kita temukan teater tradisional yang sejenis dengan Bangsawan, yang dinamakan: Dul Muluk, tetapi sering juga disebut: Abdul Muluk, atau Indra Bangsawan.  Pada umumnya Bangsawan, meru-pakan Teater tradisional yang terdapat di Sumatera Utara, sedangkan pengaruh Bangsawan menyebar ke Kalimantan dan Jawa.
Ciri utama Bangsawan adalah cara menyampaikan cerita yang dilakukan dengan berpantun, hal ini disebab-kan karena sumber cerita berasal dari sastra lisan Melayu.  Karena bentuknya berupa pantun, maka disam-paikannya dengan berden-dang. Dialog/percakapan antar pemain pun yang biasanya dilakukan dengan per-cakapan biasa, sering  dilakukan dengan menyanyi.  Ciri lainnya, cerita yang dihidangkan diambil dari cerita yang bersumber dari dongeng, hikayat dan cerita rakyat yang berasal dari Timur-Tengah (Cerita Seribu satu malam, Aladin, dll).

Cerita tersebut umumnya dimainkan seperti aslinya, tetapi sering juga diadaptasi ke dalam budaya etnik se-tempat atau dikaitkan dengan dongeng dan cerita rakyat yang terdapat di daerah tersebut dengan latar bela-kang budaya Melayu.
Musik yang mengiringi pertunjukanpun adalah musik Melayu.  Alat-alat musik yang digunakan dalam musik   Melayu yang mengiringi pertunjukan Bangsawan, terdiri dari Biola, Gendang biasa, Gedang besar atau Tam-bur, Gitar, Seruling, Serunai dan Akordeon.   Fungsi musik dalam Bangsawan bukan saja pengiring, tetapi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam rangkaian pertunjukan tersebut.   Musik yang dibunyikan pada awal pertunjukan dimaksud untuk pemanas suasana pertunjukan dan sekaligus mengundang penonton untuk hadir.   Pada waktu adegan cerita sudah dimulai, musik mengambil peranan menyusun dan mendukung sua-sana cerita, mengiringi lagu yang dinyanyikan pemain dan juga membuka atau menutup adegan yang sedang berlangsung.
Urutan pertunjukan dalam Bangsawan, selalu dimulai dengan pra-tontonan, yang biasanya berupa nyanyian lepas atau tarian, kemudian menyusul pertunjukan cerita yang terdiri dari berpuluh adegan atau beberapa babak. Di tengah-tengah pertunjukan cerita, selalu diberi selingan hiburan yang biasanya bersifat humor/lucu, kemudian dilanjutkan lagi dengan cerita. Sebagai penutup biasanya seluruh pemain keluar, dengan lagu-lagu dan nyanyian bersama yang disenangi oleh penonton.
Gaya permainan lebih condong dilakukan dengan gaya komedi  dengan porsi laku humor yang paling menon-jol.  Karena itu, setiap lakon di dalamnya selalu kita temukan peran humoris yang selalu melucu selama per-tunjukan. Pemain itu berlaku seperti clown (badut), dalam peran yang dimainkan, ia sering ia menjadi tokoh pembantu, pengawal (dalam bahasa Jawa: abdi).
Kostum yang digunakan dalam Bangsawan, selalu memakai pakaian yang gemerlapan seperti umumnya yang digunakan dalam cerita-cerita Seribu Satu Malam. Umumnya terbuat dari kain sutera yang mengkilap. Meskipun dalam pertunjukan menggunakan peralatan yang sederhana, namun diusahakan agar dapat mem-beri kesan bahwa cerita yang dihidangkan terjadi di daerah Timur Tengah, di suatu kerajaan.

Bangsawan, merupakan contoh suatu bentuk  Teater Transisi, yaitu suatu bentuk teater tradisional yang telah mendapat pengaruh teknik teater Barat dalam pementasannya. Ia menggunakan panggung, lengkap dengan dekorasi.  Meskipun dipertunjukan di alam terbuka (tidak di dalam gedung) Bangsawan selalu menggunakan panggung, dan di atas panggung selalu dibuatkan atap.
MAKYONGTeater Tradisional  Riau
Makyong merupakan suatu jenis teater tradisional yang bersifat kerakyatan. Makyong yang paling tua terdapat di pulau Mantang, salah satu pulau di daerah Riau. Pada mulanya kesenian Makyong berupa tarian joget atau ronggeng. Dalam perkembangannya kemudian dimainkan dengan ceritera-ceritera rakyat, legenda dan juga ceritera-ceritera kerajaan.  Makyong juga digemari oleh para bangsawan dan sultan-sultan, hingga sering dipentaskan di istana-istana.
Bentuk teater rakyat Makyong tak ubahnya sebagai teater rakyat umumnya, dipertunjukkan dengan menggu-nakan media ungkap tarian, nyanyian, laku, dan dialog dengan membawa ceritera-ceritera rakyat yang sangat populer di daerahnya. Ceritera-ceritera rakyat tersebut bersumber pada sastra lisan Melayu.  Daerah Riau merupakan sumber dari bahasa Melayu lama. Oleh karenanya, ada dugaan bahwa sumber dan akar Makyong berasal dari daerah Riau, kemudian berkembang dengan “baik” di daerah lain.
Pementasan Mak Yong selalu diawali dengan bunyi tabuhan yang dipukul bertalu-talu sebagai tanda bahwa ada pertunjukan Makyong dan akan segera dimulai. Setelah penonton berkumpul, kemudian seorang pawang (sesepuh dalam kelompok Makyong) tampil ke tempat pertunjukan melakukan “persyaratan” sebelum pertun-jukan dimulai yang dinamakan “upacara buang bahasa” atau “Upacara membuka tanah” dan berdoa untuk memohon agar pertunjukan dapat berjalan lancar.
Dalam upacara tersebut ketua Panjak (pawang) membuang ramuan semaha” ke perut bumi (di tengah arena pertunjukan), dengan membacakan serapah yang berbunyi sebagai berikut:
“Assalamualaikum waalaikumsalamtabik orang di lauttabik orang di daratAku  tak membunuh parasDan tak di siniAku minta tanah yang baikBismillahirrahmaanirrahiimbam tanah jembalang tanahaku tahu asal engkaumulai menjadi bintang timurberundurlah engkau dari sinijangan engkau menghadangpekerjaan aku di sini,puhh….“
Upacara ini diadakan dengan maksud untuk memohon kepada Tuhan bagi keselamatan para pemain.  Pada waktu upacara membuka tanah ini berlangsung, para penonton yang hadir diharuskan mengikuti secara khidmat, yang hadir tidak dibenarkan lalu-lalang di tempat pertunjukan. Kalau dilanggar, ada anggapan bahwa yang melanggar akan memperoleh celaka.
Setelah kata “puhh” diucapkan oleh Ketua Panjak, maka berakhirlah upacara tersebut. Semua alat bunyi-bunyian dibunyikan bersama dengan nada magis dan mengalun.  Sesudah itu barulah pertunjukan Makyong dapat dimulai.
Sebagai lazimnya teater rakyat, selalu dimainkan di alam terbuka dengan bentuk arena, di mana para penon-ton mengelilingi arena permainan. Para pemain dan penabuh  musik duduk dalam formasi setengah lingkaran.
Begitu musik dibunyikan setelah selesai upacara maka salah seorang pemain utama, Pak Yong berdiri di ten-gah tempat permainan sambil menyanyikan lagu Cik Milik..
Nyanyian itu disambut oleh para penari dan inang dayang dalan keadaan duduk, sampai nyanyian tersebut selesai, sebagai pembuka pertunjukan. Pada saat Pak Yong menyanyikan lagu pembukaan, para penari bangkit dan menari mengikuti lagu pembukaan tersebut. Setelah selesai lagu pembukaan para penari dan inang duduk kembali. Sedang Pak Yong masih berdiri ditengah arena kemudian mulai bermain, dengan me-manggil-manggil pemain lain : “Awang . … dede, dede ooi, moh senik berkabo bilong” artinya:(“Awang …. marilah ke sini, dan ceritakanlah sesuatu).
Awang (pemain lelaki bertopeng) muncul di tengah arena, dia berperan sebagai pengiring Raja (Pak Yong). Awang, biasanya dimainkan oleh pimpinan kelompok Makyong, karena merupakan tokoh kunci dalam pertun-jukan Teater tradisi Makyong. Ia bermain sangat lucu dan pandai segalanya, bermain, menari dan bernyanyi. Tokoh Awang ini merupakan bintang panggung, mulailah ia berceritera. Tokoh Awang ini selalu muncul dan selalu sebagai tokoh yang berceritera dalam pertunjukan tersebut. Kalau biasanya teater tradisional selalu dimainkan oleh para pemain pria, maka pada  Makyong  justru pemain wanitalah yang mendominasi seluruh tokoh yang ada. Apabila pemain pria muncul, maka pemain pria tersebut akan memakai topeng. Pemain wa-nita tidak memakai topeng. Tokoh utama yang memakai topeng adalah peran Awang dan peran Pak Yong, karena keduanya selalu dimainkan oleh pria.
Ceritera-ceritera yang dihidangkan berasal dari sastra lisan yang berupa dongeng, ceritera rakyat, ceritera kerajaan, legenda yang biasanya sudah dikenal oleh masyarakat lingkungannya. Ceritera-ceritera yang dihi-dangkan dalam Makyong antara lain :
a. Nenek Dandarub. Gunung Intanc. Maget Sakti d. Cerita Rondange. Wak Peran Hutanf. Tuan Putri Rakne Mas

Para pendukung dalam ceritera tersebut biasanya selalu terdiri dari :• Peran Pak Yong (Raja)• Peran Pak Yong Muda (Pangeran)• Awang (pelawak atau pengiring raja)• Permaisuri (Tuan Putri)• Tuan Putri• Beberapa penari dan penyanyi (Inang dan Dayang)• Jin        • Penjahat (Pembatak) • Peran bintang-bintang
Minimal para pemain yang harus ada Pak Yong, Awang, Teman si Awang, Tuan Putri, para penari (Inang) dan Dayang.
Karena pengaruh Teater Bangsawan (Wayang Parsi), kostum yang digunakan para pemain Makyong terdiri dari kain satin yang mengkilat. Biasanya untuk pakaian raja, permaisuri, pangeran , sedangkan kostum peran Awang (pelawak) atau hamba sahaya, biasanya pakaian sehari-hari yaitu kaos oblong dan memakai sarung. Pakaian para penjahat biasanya hitam. Pada jari pemain putri Makyong biasanya dikenakan canggai, yaitu kuku buatan yang panjang seperti bulu landak. Hanya pemain Pak Yong yang memakai perlengkapan keris, dan pada kepalanya mengenakan hiasan mahkota.
Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan Mak Yong terdiri dari :a.  Gendang   1 buah b. Gung 1 buahc. Serunai 1 buah   d. Mong-mong       1  buahd. Rebab 1  buah

Lagu-lagu yang biasa dimainkan, antara lain :• Awang nak berjalan • Selendang awang• Timang Welo• Cik Milik
Menurut ceritera orang dahulu, pertunjukan Makyong sangat digemari oleh masyarakat lingkungannya, bukan saja rakyat biasa, tetapi juga para Sultan sering mengundang pertunjukan Makyong ke istananya. Terutama kesultanan Malaka dan istana Sultan Sri Indrapura.
Konsep teater rakyat dapat dipertunjukkan dimana saja, tidak memerlukan panggung atau gedung tempat pertunjukan.  Dapat dimainkan di tempat terbuka. Di lapangan atau halaman rumah asalkan ada space (ruang) untuk bermain dan tempat penonton. Batas permainan adalah penonton itu sendiri. Tidak pernah ada dekorasi dan panggung. Pada pertunjukan teater rakyat Makyong, arena tempat bermain dibuatkan atap (serudung), sedangkan para penonton biasanya duduk atau berdiri di sekitarnya. Pertunjukan biasanya dimulai sekitar jam 19.30 atau 20.00  (yaitu sesudah sembahang Isya), dan berakhir sampai Subuh tiba. Atau setidak-tidaknya sampai larut malam. Pertunjukan Makyong dapat juga dimainkan siang hari, tergantung permintaan, sering pula siang dan malam.
Pertunjukan bahkan pernah dimainkan selama 7 hari 7 malam. Rekor tertinggi adalah pernah diadakan sampai 15 hari 15 malam, untuk perayaan hajat seorang sultan yang kaya.
Teater tradisi Makyong terdapat juga di Malaysia (Kelantan) dan sangat populer serta sangat digemari oleh masyarakat dengan menggunakan bahasa Melayu lama.  Ditilik dari sumber bahasa Melayu, maka ada ke-mungkinan besar bahwa Makyong berasal dari daerah Riau, tetapi berkembang dengan sangat baik di Ma-laysia sampai sekarang.

RANDAITeater Tradisional Minangkabau
Randaipakan suatu bentuk teater tradisional yang bersifat kerakyatan yang terdapat di daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Sampai saat ini, Randai masih hidup dan bahkan berkembang serta masih digemari oleh masyarakatnya, terutama di daerah pedesaan atau di kampung-kampung. Teater tradisional di Minangkabau bertolak dari sastra lisan. begitu juga Randai bertolak dari sastra lisan yang disebut: Kaba. (dapat diartikan “cerita”) Bakaba artinya bercerita. Ada dua unsur pokok yang menjadi dasar Randai :
Pertama, unsur penceritaan. yang diceritakan adalah kaba, dan dipaparkan/disampaikan lewat gurindam,  dendang & lagu, sering diiringi oleh alat musik tradisional Minang, yaitu salung, rebab, bansi, rebana atau yang lainnya» dan juga lewat dialog.
Kedua, unsur laku dan gerak, atau tari, yang dibawakan melalui galombang. Gerak tari yang digunakan ber-tolak dari gerak-gerak silat tradisi Minangkabau, dengan berbagai variasinya dalam kaitannya den-gan gaya silat di masing-masing daerah.
Meskipun pada dasarnya budaya yang menopang termasuk kelompok budaya etnik Melayu, namun budaya Minang lebih terlihat spesifiknya dibanding dengan teater tradisional lainnya di daerah Sumatera pada umum-nya. Terutama sekali sangat terasa bahwa tarian Minang yang bersumber dari silat Minang, gerak-geraknya sangat spesifik Minang yang berbeda dengan tarian Melayu pada umumnya.
Kehidupan budaya masyarakat Minangkabau, dapat tercermin dari pertunjukan Randai, baik dialog yang diu-capkan yang penuh dengan pantun dan sajak serta prosa liris yang berupa untaian bait yang masing-masing bait umumnya terdiri dari empat baris, dua baris berisi “sampiran”, sedangkan dua baris lainnya berisi maksud yang sebenarnya. Dalam pertunjukan Randai hal ini meskipun tidak terlalu “ketat” namun masih terasa. Bah-wa mereka menyadari perlunya bait-bait tersebut untuk senjaga irama-irama pertunjukan agar sesuai dengan gurindam dan dendang yang ada. Karena sifatnya yang liris, yang terikat dengan jumlah suku kata dan adanya sajak, syair, pantun, maka kaba selalu di”dendang”kan.
Di dalam Randai bahagian-bahagian cerita yang didendangkan inilah yang disebut: gurindam. Gurindam dan tari yang bersumber dari gerak silat inilah yang menjadi ciri khas Randai sebagai Teater tradisional Minang-kabau.
Randai mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :1. Cerita yang dimainkan dalam Randai adalah cerita yang dikenal dalam masyrakat Minang,  terutama yang bersumber dari kaba.           2. Pertunjukan disajikan bukan hanya aksi dan laku dengan percakapan, tetapi dilakukan den-gan dendang (nyanyian) dan tari. 3. Nilai dramatik dilakukan dengan spontan, sedih dan gembira, tangis dan tawa menjadi satu4. Selalu ada adegan yang menimbulkan “tertawa” karena kelucuan pemainnya.5. Dalam bentuk “arena”, dan menyatu antara pemain dan penonton.6. Lamanya pertunjukan dapat tiga jam atau lima jam. Satu malam atau beberapa malam bertu-rut-turut. Cerita yang dimainkan umumnya dari kaba yang ada, yang merupakan bentuk sastra lisan di Minangkabau yang terkenal. Kaba-kaba yang populer umumnya cerita yang dihidangkan sudah dikenal oleh masyarakatnya, bahkan grup Randai sering memakai nama cerita, Misalnya Grup Randai Magek Manandin, Grup Randai Anggun Nan Tongga, Grup Randai Ranbun Pamenan, dan Grup Randai Gadih Rantin. Padahal semua itu adalah cerita-cerita yang populer dan digemari oleh masyarakat Minang. Cerita rakyat, dongeng,  legenda, dan lain sebagainya.
Pertunjukan Randai umumnya dilakukan di alam terbuka, sering pula dilakukan di halaman Rumah nan ga-dang (biasanya mempunyai halaman yang luas), dalam bentuk arena dan tidak memakai panggung. Penonton dan pertunjukan menjadi satu, tak ada batas pemisah antara penonton dan pertunjukan Ran¬dai. Tidak pernah menggunakan set (dekorasi) tidak pernah ada batas antara tempat permainan, penoton, ataucpun kelompok pemain dan pemain musik. Karenanya terasa sangat akrab, dan mereka tahan menonton dari jam delapan malam sampai pagi hari.
Peranan gurindam dalam Randai bukan saja sebagai variasi menyampaikan cerita tetapi mempunyai fungsi lain yang lebih penting yaitu memberikan “aba-aba” untuk suatu perubahan dalam pertunjukan apakah itu perubahan tempat, waktu atau bahkan peruba¬han suasana dalam cerita yang sedang berlangsung. Gurindam sekaligus membangun cerita-cerita dalam setting khayali, yang lebih mengajak penonton Randai ikut berk-hayal..Setiap berubahan adegan perubahan waktu, perubahan tempat, perubahan peristiwa, semua ditandai. dengan putaran-putaran. Para pemain Randai bergerak berputar, berkeliling di tempat permainan. Dalam “bergerak” inilah pemain Randai biasanya menunjukan kemahirannya dalam “permainan gerak” dan langkah-langkah silat yang membentuk lingkaran berantai dan juga menunjukan permainan bunyi yang dihasilkan dari. tepukan-tepukan tangan (antara telapak tangan dengan telapak tangan, telapak tangan dengan paha dan pinggul ataupun tepukan tangan dengan pakaian gelombang yang dipakai).
Gerak-gerak silat ini dalam Randai disebut gelombang. Ia menyertai atau menyesuaikan gurindam yang di-nyanyikan. Di celah-celah tepukan tangan tersebut terdengar teriakan dari para pemainnya Pepata Pepata, Pepatata-Pepata-Pepata.Seorang pemain Randai harus pandai bermain silat, harus pandai berdendang, dan harus pandai berpantun-pantun. Randai tumbuh benar-benar dalam lingkungan masyarakat kebanyakan, ka-rena dalam struktur masyarakat Minang tidak membedakan golongan dalam masyarakat yang ada. Randai sekaligus menggambarkan kehidupan masyarakatnya sehari-hari. Sesuai dengan pepatah-petitih Minangkabau yang mengatakan “Kesenian Minang mambusek dari bumi dan manitik dari langik.” Artinya kesenian Minang lahir di tengah rakyat dan bukan berasal dari golongan tertentu, misalnya lahir dari golongan bangsawan. Kesenian di Minangkabau erat sekali hubungannya dengan adat, seperti kita lihat pada upacara-upacara pengangkatan pimpinan “suku”, perhelatan perkawinan acara melaksanakan sunah rasul (berkhitan) dan acara adat lainnya. Semua ini dapat tercermin dalam pertunjukan Randai.
Proses lahir Randai pun bertitik tolak dari ungkapan “Alam takanbang jadi guru”, merupakan salah satu filsafat hidup orang Minang.                                                  M E N D UTeater Tradisi  RIAU
Mendu merupakan juga jenis teater tradisional yang terdapat di daerah Riau seperti halnya Makyong. Berasal dari pulau Natuna, Anambas, di daerah Bunguaran yang merupakan pusat Mendu. Di daerah ini pun terdapat jenis teater lainnya yang disebut Wayang Bangsawan, yang justru banyak mempengaruhi pertunjukan Mendu. Masyarakat Bunguaran menganggap pertunjukan Wayang Bangsawan lebih lengkap dan bervariasi di-bandingkan dengan pertunjukan  Mendu.
Pertunjukan Mendu terlihat sangat sederhana. Dinamakan Mendu karena dalam pertunjukannya kebanyakan memainkan ceritera tentang  Dewa Mendu yang sangat terkenal di kalangan masyarakat  “suku laut” (orang pesuku) yang terdapat di kepulauan Tujuh.
Bentuk pertunjukan Mendu tak ubahnya seperti Makyong, yaitu dilakukan dengan tarian, nyanyian, berlaku, berdialog. Semua dengan iringan tetabuhan, yang terdiri dari seperangkat alat musik tradisi seperti biola, gong, beduk, gendang panjang dan sering ditambah dengan kaleng kosong. Pementasan Mendu selalu diawali dengan bunyi gong yang dipukul bertalu-talu sebagai pertanda bahwa pertunjukan Mendu akan segera dimulai.
Seorang Pawang tampil ke tengah tempat pertunjukan, melakukan “persyaratan” khusus (semacam pemu-jaan) dan berdoa mohon ijin keselamatan dan berkah kepada Sang Dewa Mendu.  Upacara ini kemudian di-ikuti oleh apa yang disebut peranta (dibunyikan gendang, gong dan beduk yang merasuk) tanda pertunjukan akan dimulai. Begitu selesai peranta, segera muncul tarian diiringi oleh tetabuhan yang menyenangkan, dan pertanda akan segera dimulai acara berladun  (acara di mana pemain-pemain Mendu semua keluar ke arena permainan), para pemain memasuki arena permainan dengan gerak menari.
Acara berladun adalah acara pembuka seluruh pemain keluar untuk memperkenalkan diri peran yang diba-wakan dalam cerita dengan gaya menyanyi. Pengaruh Teater Bangsawan sangat kuat dalam Mendu, hingga terasa banyak yang bersamaan antara Mendu dan Wayang Bangsawan. Cara bermain banyak diselingi nya-nyian dan tarian yang diiringi oleh biola, gendang, dan sekali-sekali dengan gong.
Sudah menjadi tradisi pertunjukan Mendu, dalam menghidangkan ceritera selalu dibuka dengan sidang kera-jaan, dimana hadir seluruh staf Raja, seperti Menteri, Wazir, Hulubalang, dan lain-lain yang diperlukan. Ke-mudian mereka memperkenalkan diri dengan peran yang dibawakan, dengan menyebutkan nama, jabatan, negeri tempat ceritera tersebut berlangsung. Sebagai pembuka ceritera, salah seorang pemain menceriterakan keadaan negeri tersebut dalam kaitan dengan ceritera yang sedang dihidangkan.
Ceritera yang dihidangkan umumnya ceritera Dewa Mendu. Tak ubahnya ceritera Ramayana yang panjang, namun untuk tiap pertunjukan hanya dihidangkan satu “episode” yang mereka inginkan. Pertunjukan Mendu dapat berlangsung 5 minggu (40 malam), 7 malam atau dapat juga semalam.
Mendu merupakan kesenian tradisi dalam bentuk teater rakyat, yang bentuknya sangat sederhana. Namun setelah memperoleh pengaruh Wayang Bangsawan,  Mendu mulai menggunakan panggung lengkap dengan layar sebagai dekorasi dan penyekat pertunjukan. Pakaian (kostum) yang digunakan sangat dipengaruhi oleh kostum Wayang Bangsawan, gemerlapan penuh bersulam benang emas, manik-manik dan sebagainya.
Menurut sejarah seni pertunjukan di Indonesia, pada mulanya menurut tradisi, kesenian merupakan bagian dari sarana adat-istiadat atau untuk keperluan upacara agama dan bukan merupakan alat ekspresi berkese-nian.  Lama kelamaan fungsi kesenian berkembang untuk keperluan bukan saja alat sarana pendidikan , pe-nerangan, tetapi juga untuk keperluan hiburan, namun pada saat itu masih tetap belum merupakan “alat ek-spresi berkesenian”, tetapi masih sebagai sarana untuk upacara atau keperluan adat istiadat.
Sebagai keperluan pendukung adat-istiadat, maka kesenian diperlukan untuk keperluan suatu “hajat”, misal-nya mengawinkan anak, atau keperluan lainnya, dimana “yang punya kerja” merupakan “sponsor” kegiatan kesenian. Dialah yang harus membiayai seluruh kegiatan tersebut. Penonton tidak pernah mengeluarkan bi-aya untuk keperluan menonton.
Selain di daerah Riau, Mendu juga terdapat di Kalimantan Barat terutama di daerah pantai.  Begitu juga di beberapa tempat lainnya.
D U L  M U L U K Teater Rakyat Sumatera Selatan
Dulmuluk merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan yang terdapat di Sumatera Selatan. Nama Dulmuluk berasal dari tokoh ceritera yang terdapar dalam Hikayat Abdul Muluk. Jenis teater tradisional ini oleh masyarakat dikenal dengan nama Dul Muluk  atau Dermuluk. Meskipun lakon yang dibawakan tidak se-lalu Hikayat Abdul Muluk, tetapi jenis teater ini tetap dinamakan Dulmuluk. Di beberapa tempat, teater sejenis Dulmuluk ini disebut Teater Indra Bangsawan.
Teater tradisional yang bersifat kerakyatan bertolak dari sastra lisan yang berbentuk pantun-pantun atau syair-syair. Begitu pula Dulmuluk bertolak dari sastra lisan yang berbentuk pantun. Pada mulanya pantun-pantun atau syair itu disampaikan secara hafalan dalam bentuk berceritera yang kemudian menghasilkan bentuk pertunjukan yang kita namakan Teater Tutur, yang merupakan Teater Mula yang paling sederhana. Seseorang berceritera dengan didengar atau dihadiri oleh sekelompok penonton, yang kemudian dikembangkan menjadi pertunjukan yang intinya dangan berceritera.
Teater Tutur pada mulanya hanya dimainkan (berceritera) oleh satu orang kemudian dalam perkembangannya diiringi musik dan makan meriah kemudian berkembang menjadi Dulmuluk.
Tokoh Teater Tutur yang terkenal ialah Wan Bakar.  Murid-murid Wan Bakar inilah yang mengembangkan Teater Tutur menjadi pertunjukan teater tradisional yang disebut Dulmuluk yang terdapat di daerah Sumaterra Selatan.  Syair-syair (pantun-pantun) yang berasal dari Hikayat Abdul Muluk yang sering diceriterakan (diper-tunjukkan) sebagai teater tutur, disusun dan dihimpun oleh Dr. Philipus Pieter Roerda van Eysinga dan ke-mudian diterbitkan pada tahun 1847 dengan judul “Kejayaan Kerajaan Melayu”.   Syair tersebut ditulis dan diterbitkan dengan huruf Melayu atau dikenal dengan huruf Arab gundul.  Usaha Dr. Eysinga tidak hanya sampai disitu. Pada tahun 1893, buku ini dicetak dengan huruf latin oleh Tyjschrift van Nederlands Indie di Rotterdam. Penerbit Balai Pustaka pun tidak ketinggalan mencetak buku tersebut dengan judul Syair Abdoel Moeloek.
Bentuk pertunjukan Abdul Muluk tak ubahnya sebagai teater rakyat umumnya, terutama teater rakyat yang ditopang dan didominasi oleh latar belakang budaya Melay”. Bentuk pertunjukan menggunakan campuran media ungkap terdiri dari  tari, nyanyi, laku, dengan menggunakan dialog yang sering dinyanyikan.  Karena ungkapan dialog yang berbentuk pantun, maka cara mengungkapan yang paling tepat adalah dinyanyikan. Unsur musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari lakon yang dipertunjukkan.
Karena latar belakang budaya Melayu yang mendominasi, maka iringan tabuhan/musik terdiri dari peralatan musik Melayu, dengan seperangkat alat-alat musik terdiri dari Biola, Gendang biasa, Gendang besar, atau Tambur  dan  Setawak (Gong).  Penggunaan jumlah alat musik tersebut tergantung pada kemampuan kelom-pok pertunjukan yang menggunakannya.  Irama tabuhan, lagu-lagu dan nada-nada musik tentu saja berira-makan musik Melayu.
Ceritera-ceritera yang dihidangkan berasal dari sastra lisan Melayu lama yang biasanya berbentuk pantun. Ceritera-ceriitera yang sering dipentaskan adalah sekitar Hikayat Kerajaan Melayu, dengan mengambil cerita antara lain Hikayat Sitti Jubaedah, Hikayat Abdul Muluk, Hikayat Indera Bangsawan dan lain sebagainya.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu lama (bahasa Melayu tinggi) dengan dicampur oleh bahasa daerah setempat. Hal ini dilakukan agar apa yang dipertunjukkan dapat dinikmati dan dimengerti oleh penon-tonnya.
Tak bedanya dengan teater rakyat lainnya, Dulmuluk bentuknya sangat sederhana dan pertunjukannya dila-kukan dalam bentuk arena di alam terbuka hingga terasa akrab dengan penonton. Karena pengaruh Teater Bangsawan, maka Dulmuluk dalam pementasan sudah mulai menggunakan panggung lengkap dengan deko-rasinya. Panggung yang digunakan memakai atap untuk melindungi tempat bermain, sedangkan tempat para penonton tetap di alam terbuka dan tidak menggunakan kursi atau tempat duduk. Para penonton biasanya berdiri. Meskipun menggunakan dekorasi, perlengkapan yang digunakan masih tetap sederhana. Untuk ade-gan “kerajaan”, cukup digunakan sebuah meja dan dua buah kursi. Kursi kerajaan cukup dengan dihias ala kadarnya untuk membedakan dengan kursi yang dipakai oleh rakyat biasa.
Pementasan Dulmuluk dimulai dengan berbunyinya tabuh-tabuhan yang dipukul sebagai tanda. Menurut tra-disi, sebelum pemain muncul di atas panggung., lebih dahulu para pemain mengikuti ”upacara selamatan” dengan “sesajian” yang sudah dipersiapkan. “Selamatan” kecil ini dimaksud agar para pemain mendapat ilham dan kekuatan dalam permainan dan diharapkan pula agar pertunjukan secara keseluruhan berjalan lancar. Sesudah itu biasanya diadakan “penaburan beras tawar” untuk keselamatan bagi para pemain dan dan juga para penonton.  Penaburan beras tawar ini biasanya dilakukan juga pada saat pertunjukan selesai, sebagai acara penutup pementasan.
Setelah acara tambahan sebagai pembukaan pertunjukan, yaitu pembukaan dengan lagu irama Melayu yang disebut “bernada keso”, maka beralihlah irama itu ke ‘bernada bernas” dan bersamaan dengan itu muncullah para pemain di atas panggung yang dipimpin oleh pemain utama (Peran Utama).
Peran Utama ini biasanya menjadi Pimpinan pertunjukan. Pimpinan harus dapat bermain peran apa yang di-bawakan. Setelah itu barulah lakon yang akan dihidangkan dimulai.Media ungkap yang digunakan adalah media ungkap gabungan antara tari, musik, dan drama. Cara me-nyampaikan ceritera dengan gaya “dagelan”, penuh humor dan tertawa.
Setiap adegan selalu diselipkan banyolan/dagelan , lelucon-lelucon yang sering bahkan sepanjang pementa-san selalu dipenuhi dengan lelucon-lelucon, karena adegan inilah yang digemari penonton.
Di samping Dulmuluk dan Indra Bangsawan, terdapat pula apa yang dinamakan Komidi Bangsawan yaitu pertunjukan Dulmuluk tetapi ceriteranya sering mengambil dari ceritera film jaman itu, seperti Pangeran Ham-let  atau ceritera Seribu Satu Malam dan lain sebagainya.
Nama teater Dulmuluk untuk masyarakat Sumatera Selatan, sering juga disebut lain. Misalnya di Musi Ba-nyuasin, disebut Teater Rafeah atau di daerah Lematang Ilir Ogan Tengah disebut Juhari.  Ada pula yang menyebutnya Teater Ziti Zubaedah, Teater Indra Bangsawan, dan lain-lainnya. Kalau kita lihat penamaan tersebut umumnya diambil dari nama para pelaku dalam ceritera tersebut. (Nama tokoh yang populer di dalam ceritera yang dihidangkan).
Dulmuluk merupakan salah satu contoh bentuk apa yang kita namakan Teater Transisi, yaitu suatu bentuk teater tradisional yang telah memperoleh pengaruh teater Barat, lewat teknik pementasan dan panggung yang digunakannya.
Dalam Teater Transisi, ceritera-ceriteranya biasanya telah disusun secara garis besar (begitu pula pembagian adegan) yaitu untuk keperluan penataan di atas panggung dengan urutan pengadegan yang terasa tersusun lebih rapih dibandingkan dengan teater rakyat biasa.

M A M A N D A Teater Tradisi Kalimantan Selatan
Daerah Kalimantan Selatan mempunyai cukup banyak jenis kesenian antara lain yang paling populer adalah Mamanda, yang merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan, yang  orang sering menyebutnya se-bagai teater rakyat.  Pada tahun 1897 datang ke Banjarmasin suatu rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka yang lebih dikenal dengan Komidi Indra Bangsawan. Pengaruh Komidi Bangsawan ini sangat besar terhadap perkembangan teater tradisional di Kalimantan Selatan. Sebelum Mamanda lahir, telah ada suatu bentuk tea-ter rakyat yang dinamakan Bada Moeloek, atau dari kata Ba Abdoel Moeloek. Nama teater tersebut berasal dari judul ceritera yaitu Abdoel Moeloek karangan Saleha.
Ceritera yang berbentuk syair-syair sangat itu populer di kalangan masyarakat Banjar. Hal ini disebabkan ka-rena syair-syair tersebut terdapat dalam buku yang bertuliskan huruf Arab Melayu Johor dan telah beredar di daerah Margasari. Tidak hanya di Margasari saja tetapi telah melebar ke daerah Pariuk (Margasari Ilir) dan disinilah Ba Abdoel Moeloek itu berkembang dan kemudian disebut Mamanda Pariuk. Sebutan Mamanda dipergunakan dalam percakapan antara Sultan dengan Mangkubumi atau Wazir, sebutan antara Raja dengan bawahan. Kata mamanda arti yang sebenarnya adalah sebutan paman. Tapi kata mamanda terasa lebih akrab suatu bentuk pertunjukan, maka bentuk kesenian teater tradisional yang tadinya bernama Ba Abdoel Moeloek menjadi teater rakyat Mamanda.  Dalam pementasan Mamanda selalu terdengar dialog sebagai berikut:“Marilah anakku, kita basuka-suka malunta”.   Maka jawabnya,“Baiklah Mamanda. Hamba tiada anggan saparti kahandak Mamanda”.
Atau contoh lain dialog antara Raja dan Mangkubumi atau Wazir.“ Benar atau sebagaimana Mamanda Mangkubumi?” atau“ Bagaiman menurut pemikiran Mamanda Wajir ?”
Seorang Raja atau Sultan dalam pertunjukan teater selalu menjadi fokus perhatian para penonton dan kata-kata “mamanda” selalu muncul setiap kali dialog. Oleh  karena itu, katatersebut selalu ditirukan oleh para pe-nonton. Maka populerlah nama pertunjukan itu menjadi  Mamanda..Ada beberapa jenis Mamanda di daerah Banjar, yaitu yang sering dikenal sebagai Mamanda Tubau  (Batu Bau)  dan  Mamanda Pariuk Margasari atau dikatakan Mamanda Batang Banyu. . Namun setelah dikaji pada prinsipnya kedua Mamanda tersebut pokok-pokoknya sama, hanya yang satu kurang pengutamakan tari dan nyanyi (Mamanda Tubau) tetapi lebih menekankan pada ceritera yang dipertunjukkan. Sedangkan Mamanda Batang Banyu/Margasari tetap mengutamakan ketiga unsurnya, yaitu tari, nyanyi dan lakon yang dihidangkan.
Teater tradisional selalu bertolak dari sastra lisan. Di Kalimantan Selatan terdapat apa yang disebut Dundam, yaitu suatu bentuk seni berceritera yang dilakukan denga berlagu.  Pada Dundam yang terpenting adalah lagu-lagunya, kemudian ini berkembang menjadi Lamut yaitu seni berceritera dilakukan dengan berlagu dan diiringi dengan gendang atau terbang.
Ada juga yang disebut Ba Andi Andi, berceritera disertai nyanyian dan juga dengan dialog. Ada satu lagi ke-senian rakyat yang dinamakan Bapandung,  yaitu seni berceritera dengan gaya/cara yang lucu. Biasanya Tu-kang Pandung ini adalah pemain yang membawa peran khadam (badut) dalam pementasan teater rakyat.
Teater rakyat Mamanda, di dalamnya adalah ramuan dari Balalaguan (bernyanyi), Batatarian (menari) dan Bapandung (berceritera dengan lucu). Dengan adanya unsur-unsur tarim nyanyi dan berceritera, yang keti-ganya ini terpadu dalam pementasan, maka Mamanda merupakan bentuk teater tradisi yang bersifat kerakya-tan, dilakukan secara spontan dan komunikatif serta akrab sebagai pertunjukan rakyat.
Ceritera yang dihidangkan pada mula perkembangannya masih meniru apa yang dihidangkan oleh Komedi Indra Bangsawan, yaitu ceritera Abdoel Moeloek dan hikayat-hikayat lama seperti Hikayat Si Miskin, Mara-karma, Hikayat Cindera Hasan dan Hikayat Seribu Satu Malam. Dalam perkembangan selanjutnya masih tetap cerita sekitar kerajaan-kerajaan yang disesuaikan dengan ceritera-ceritera rakyat setempat. Oleh karena itu dalam ceritera Mamanda selalu ada tokoh dan peran, antara lain  Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Panglima Perang, Wazir ,  Harapan I dan Harapan II, Permaisuri, Khadam, ditambah dengan Para San-dut/Puteri, Anak Raja, Anak Muda , Dayang, Perampok, Raja Jin, dan lain sebagainya.
Pada awal ceritera, para tokoh / peran yang dibawakan selalu memperkenalkan diri. Perkenalan diri ter-sebut berisi antara lain menerangkan nama tokoh yang dimainkan dan pangkatnya, menerangkan tentang keadaan dirinya (kegagahannya), menerangkan tentang tugas dan kewajiban dalam ceritera tersebut dan menjelaskan hubungannya dengan alur ceritera.
Dalam perkenalan diri tersebut sering juga dilagukan yang disusun dalam bentuk syair, misalnya: “Indera Jaya aku punya namaTerpangkat sebagai seorang Harapan PertamaDalam kerajaan Palinggam Cahaya…. dan seterusnya.
Kebanyakan dialog dalam Mamanda disusun dalam bentuk syair, meskipun hal ini dilakukan dengan spontan dan hafalan karena kebiasaan.Adapun lagu yang sering dibawakan dalam Mamanda dan hafalan karena ke-biasaan. Lagu yang sering dibawakan dalam Mamanda ialah lagu, antara lain Lagu Dua Pengharapan, Lagu Dua Raja, Lagu Dua Gandut, Lagu Raja Sarik, Lagu terima Kasih Raja, Lagu Baladun, Lagu Membujuk, Lagu Nasib, Lagu Stambulan, dan sebagainya.
Selain lagu dan nyanyian tak ketinggalan pula “batatarian”. Tarian yang biasa digunakan dalam Mamanda adalah Tari Baladun, Tari Raja, Tari Gandut, Tari Membujuk dan lain sebagainya. Tari tersebut sudah terpola dan tiap kali muncul dalam pementasan.
Alat musik yang digunakan dalam mengiringi pementasan Mamanda, pada mulanya hanya beberapa perang-kat peralatan yaitu Babun atau godang, G o n g,  Biola dan viol, Seruling dan serunai. Karena latar belakang budaya yang mendukung daerah Kalimantan selatan adalah budaya Melayu, maka lagu-lagu melayu selalu mempengaruhinya. Dengan demikian peralatan musik Melayu pun ikut meramaikan suasana. Dalam perkem-bangannya kemudian terdapat alat musik Gitar, Bas dan Akordeon serta Tambur sering ikut menambah ke-ramaian musik yang berirama Melayu.
Kostum (pakaian) yang digunakan dalam pementasan Mamanda telah terpola menurut peran yang sudah pasti, yaitu disusun untuk pakaian Raja, Wazir, Perdana Menteri, Kepala Pertanda (Panglima Perang), Raja Jin, Perampok dan rakyat biasa..  Setiap ceritera apa pun selalu muncul peran-peran yang tersebut di atas. Pakaian umumnya banyak terpengaruh oleh pakaian Komedi Bangsawan yaitu mengkilat dengan bermanik-manik, seperti pakaian pada ceritera Seribu Satu Malam.    Kostum yang digunakan dalam Mamanda, sebagai berikut:1. Pakaian untuk Raja, yaitu Celana basirit tepi (sepanjang celana ada garisnya); baju yang disulam dengan manik-manik, bentuknya seperti baju raja Istambul. Tutup kepala, kopiah hitam di tengahnya dihias bulu burung bangau putih. Bulu burung tersebut dimaksud sebagai mahkota. Raja biasanya memakai kumis tebal (supaya kelihatan angker).2. Pakaian untuk Perdana Menteri, memakai pakaian pantalon dan bajunya pun dilapis dengan manik-manik. Tidak memakai tutup kelapa dan rambutnya disisir rapi.3. Pakaian Mangkubumi sama dengan Perdana Menteri, tetapi memakai kopiah hitam biasa (tidak di-hias bulu).4. Pakaian Wazir, memakai pakaian sepertin Jas panjang dan ikat kepala saputangan. Jas panjang semacam Jas hujan. Celana biasa.5. Pakaian untuk Harapan Pertama dan Harapan Kedua, berpakaian rumpi. Memakai hiasan manik-manik dan rumbai-rumbai. Senjata adalah pedang tutup kepala adalah “topi pet”6. Pakaian Kepala Pertanda (Panglima Perang), memakai pakaian angkatan laut (putih) dengan senjata pedang Persia. Kadang-kadang masih memakai manik-manik dan pada bahunya diselenggarakan “teratai” yang dibuat dari benang emas. Tutup kepala adalah “topi polisi” jaman dulu.7. Raja Jin, memakai kain kitam dan kelapanyapun diselubungi kain hitam sedang wajahnya diberi make up yang seram.8. Perampok memakai pakaian biasa (sering warna gelap) bertopi dan memakai kaca mata hitam gelap.9. Pakaian Puteri memakai longdress putih atau ditambah dengan  baju kurung.10. Pakaian Anak muda, celana biasa, kemeja putih dan berdasi kupu-kupu hitam. Sering memakai baju tambahan dengan manik-manik. Di pinggangnya diikat oleh selendang.Pementasan Mamanda dilakukan di alam terbuka atau di lapangan, tidak menggunakan panggung, tetapi dibuatkan sebuah “serubung” (semacam bangsal berbentuk persegi panjang dengan atap darurat. Sehingga membentuk sebuah bangsal ukuran 5m x 10 m, yaitu untuk keperluan permainan, sedangkan para penonton-nya mengelilingi pertunjukan tersebut. Sekeliling serudung dapat ditempatkan kursi-kursi atau bangku untuk para penonton atau tidak ditempatkan apa-apa dan penonton hanya berdiri atau duduk berkeliling. Di pinggir sebelah se rudung dibuatkan tempat tertutup untuk para pemain (dari tempat inilah diatur keluarmasuknya para pemain), dipergunakan untuk pergunakan untuk persiapan merias diri dan pakaian.
Peralatan/perlengkapan yang digunakan sangat sederhana, hanya sebuah meja dan dua kursi, yang secara simbolik sudah dapat menggambarkan tempat persidangan suatu kerajaan. Meja dan kursi yang ada dapat juga berubah fungsinya menjadi gua atau pohon atau pohon yang besar untuk berlindung, tergantung pada setting yang diperlukan dalam ceritera..
Serubung yang memanjang dibagi menjadi 3 daerah, yaitu: 1. Daerah permainan untuk Raja (persidangan kerajaan). 2. Daerah permaianan masuk ke Istana, dijaga oleh Harapan Pertama dan Harapan Kedua. 3. Daerah Umum, dil uar istana.
Namun pembagian daerah ini tidak mutlak, karena dapat berubah tergantung pada lokasi yang diinginkan dalam ceritera. Daerah persidangan kerajaan dapat saja berubah menjadi daerah “hutan” belantara”. Pemba-gaian area permainan ini sangat fleksibel, namun apabila adegan yang belangsung ada hubungan dengan Raja di Istananya, maka pembagian daerah itu tetap digunakan menjadi 3 bagian.

T A N T A Y U N G A NTeater Rakyat Kalimantan Selatan
Di Kalimantan Selatan, di samping Mamanda yang sangat populer, terdapat juga teater rakyat yang dinama-kan Tantayungan, yang sebenarnya merupakan teater rakyat yang lebih tua dari Mamanda. Dalam perkem-bangannya Tantayungan banyak dipengaruhi Teater Bangsawan. seperti halnya Mamanda, Tantayungan mempunyai latar belakang budaya yang dominan adalah budaya Melayu. Hal ini jelas terlihat pada mu-sik/tetabuhan yang mengiringinya serta gerak tarian yang mendukungnya, yang kesemuanya beranjak dari akar kebudayaan Melayu, meskipun tak dapat dikesampingkan ciri budaya setempat.
Pada mulanya, Tantayungan dikenal oleh masyarakat Pandawan, kabupaten Hulu Sungai Tengah, sebagai suatu bentuk seni yang  berupa tari-tarian yang dipergunakan untuk keperluan upacara “pengantin”. Bentuk tarian Tantayungan ini dilakukan secara massal, dimana terdapat dua kelompok penari yang saling berhada-pan. Kemudian menarikan gerak-gerak dinamik sebagai tari perang dengan menggunakan perlengkapan tombak. Setelah menari beberapa saat sampai akhirnya satu kelompok (pasukan) tari tersebut seolah-olah kalah perang.  Tarian kemudian dilanjutkan dengan “prosesi” untuk menyambut pengantin.
Tari Tantayungan yang pada mulanya untuk keperluan upacara pengantin, kemudian bentuk kesenian ini berkembang menjadi teater rakyat Tantayungan, penyajiannya disertai dengan ceritera-ceritera rakyat setem-pat.
Bentuk Tantayungan tak ubahnya sebagai teater rakyat pada umumnya, yaitu yang dilakukan dan dipertun-jukkan dalam bentuk: tarian, nyanyi, penyajian lakon dengan ceritera-ceritera rakyat, dongeng, legenda se-tempat. Penyajian diiringi oleh tetabuhan, yang terdiri dari seperangkat alat musik tradisional, yang dinamakan Gamelan Banjar, terdiri dari  Babun (gendang), Dawu, Sarun (saron),  Kanung (kenong), Gong kecil, Kangdi, Sarunai, Gong besar dan Kalimpat.

Lagu-lagu dan irama yang sering dipakai adalah khas lagu dan irama Banjar, yaitu yang disebut  Irama aya-kan, irama perang cepat, perang alun (pelan), irama jinggung dan irama kanjaran. Kalau gamelan dibunyikan, akan terdengar irama dan lagu khas Banjar, yang sangat terasa adanya dominan irama dan nada Melayu.
Pementasan Tantayungan dimainkan seperti pada umumnya teater rakyat dengan gaya Teater Bangsawan, di mana gaya memainkan di samping improvisasi lewat dialog dan laku, sering kali dialog tersebut dinyanyikan.   Laku tersebut disertai dengan tarian, yang cara menyampaikan dengan cerita dengan lakuan dramatik dengan tidak melupakan unsur “humor” yang sering mendominasi sebagian besar dari pertunjukan tersebut.
Struktur jalannya pementasan Tantayungan, selalu dimulai dengan dibunyikan tetabuhan yaitu untuk memberi isyarat atau memberi tahu bahwa akan ada pertunjukan dan segera akan dimulai. Setelah menonton berkum-pul, maka dihidangkan tari-tarian sebagai pembuka pertunjukkan. Setelah penonton penuh, barulah pementa-san Tantayungan yang sebenarnya dimulai.
Sebagai pembuka ceritera, muncullah di arena permainan 3 (tiga orang dalang). Ketiga Dalang itu disebut Dalang sejati, Dalang Kasmaran dan Dalang Pengembar. Dalang-dalang ini bertugas menceriterakan ki-sah/ceritera yang akan dihidangkan dengan dipimpin oleh Dalang Sejati. Bahasa yang digunakan adalah ba-hasa Banjar yang dicampur dengan bahasa Kawi dan bahasa Bukit.  Tiga dalang biasanya juga berfungsi sebagai pembawa nyanyian-nyanyian (tembang, dendang), dan sering juga ikut bermain mengambil salah satu peran dalam ceritera.
Ceritera-ceritera yang dihidangkan dalam Tantayungan adalah ceritera-ceritera rakyat setempat, dalam bentuk legenda, ceritera sejarah, dongeng-dongeng, serta ceritera-ceritera kerajaan, antara lain ceritera Kerajaan Mangkur Laga,  Prabu Kesa, Pasir Tuya Siring Prada, Brahma Syahdan dan lain-lainnya
Seperti umumnya teater rakyat, Tantayungan mempunyai bentuk yang sangat sederhana dan dapat dimainkan di mana saja, di alam terbuka, di halaman rumah ataupun di halaman kebun yang berdekatan dengan kampung sekitarnya. Tetapi dalam perkembangannya, setelah memperolah pengaruh Teater Bangsawan (Wayang Bangsawan), maka pementasannya khusus dibuatkan “tempat untuk bermain”, yaitu tempat bermain dengan bedeng persegi empat yang atapnya terdiri dari tikar atau lampit yang disebut serobong. Serobong ini dibuat dari bambu dan merupakan bangsal tempat bermain, bangsal ini dihias dengan daun nyiur muda.
Tempat pementasan biasanya dilakukan dalam bentuk arena tapal kuda. Penonton menyaksikan pertunjukan mengelilingi tempat bermain. Satu sisi khusus untuk kelompok para pemain lengkap dengan alat musiknya. Tidak ada batas antara penonton dan tempat bermain. Pertunjukan terasa lebih akrab seperti sifat pertunjukan rakyat yang sederhana, akrab dan komunikatif. Penonton seolah-olah ikut serta terlibat dalam pertunjukan.
Perlengkapan (property) yang digunakan dalam pertunjukan sangat sederhana. Tidak memakai dekorasi (set-ting), di arena permainan hanya ada beberapa perlengkapan seperti :1. sebuah meja di tengah-tengah arena.2. Tongkat kecil bagi seluruh pemain.3. Tombak- tombak pada waktu adegan perang.
Perlengkapan meja di tengah arena dapat berubah fungsi tergantung lokasi yang diinginkan oleh ceritera. Dapat menjadi meja yang sebenarnya atau pun dapat berubah menjadi tempat persembunyian atau menjadi “balai sidang” Istana Raja, dan sebagainya sesuai keinginan imaginasi ceritera.
Kostum pada Tantayungan, hampir sama dengan kostum pada teater rakyat Mamanda dan bahkan hampir sama pula dengan Wayang Gung. Semuanya menggunakan baju yang dihias dengan benang emas, hinga bajunya terlihat gemerlapan. Sedang busana umumnya yang digunakan pemain adalah:
1. Baju Taluk Balanga, yaitu baju tanpa kerah berbadan lebar, lengan panjang.
2. Celana pangsi, celana yang bawahnya lebar.
3. Laung tanjak siak, yaitu tutup kepala yang diikat pada bagian kiri.
4. Banyak di antara pemain memakai kumis (palsu).
Pakaian pemain semua sama, hanya Dalang yang agak berbeda, yaitu baju yang digunakan bermanik dengan memakai selempang di bahu. Dalang memakai sepatu, berkaos tangan dan kaos kaki panjang, serta memakai giwang.
Pementasan Tantayungan dilakukan pada malam hari, kira-kira dimulai jam delapan malam sampai larut ma-lam, bahkan sering sampai subuh pagi. Lama atau sebentar, pementasan tergatung pada minat penonton, setidak-tidaknya pasti sampai larut malam, paling cepat jam duabelas malam.
Secara kronologis jalannya pementasan Tantayungan sebagai berikut: setelah tari-tarian selesai dan muncul ketiga Dalang untuk membuka pertunjukkan dengan menjelaskan ceritera yang akan dihidangkan, adegan pembukaan ini disebut maucukani. Ketiga dalang tersebut berceritera secara bergantian dan menjelaskan ceritera apa yang akan dihidangkan. Setelah adegan ini selesai Dalang Sejati memerintahkan untuk mengun-dang “orang-orang” yang berada di gunung, di hutan, di gua-gua, di laut dan di danau untuk merestui dan me-ramaikan pertunjukkan (maksudnya: seluruh pemain supaya siap, pertunjukkan akan segera dimulai)
Umumnya ceritera selalu dibuka dengan adegan kerajaan baru dilanjutkan dengan ceritera lainnya. Dalam perjalanan ceritera sering diselipkan adegan ‘upacara adat-istiadat” yang dikaitkan dengan jalannya ceritera. Misalnya dalam ceritera tersebut ada “ceritera percintaan” dan diakhir dengan perkawinan. Maka muncullah dalam pertunjukakan tersebut adegan tata cara perkawinan Banjar, yaitu adanya upacara “bausung” dalam perkawinan, yaitu upacara mengelu-elukan kedua mempelai/pengantin dengan diusung di atas “penggen-dongnya”.

Setiap acara pengantin Banjar yang tradisional selalu dilakukan dengan upacara tersebut. Sehingga pertun-jukkan bertambah ramai.
Pada saat ini pertunjukkan teater Tantayungan salah satu jenis teater rakyat yang terdapat di Kalimantan Se-latan sudah hampir punah, dan jarang sekali dipertunjukkan. Namun masih ada yang tersisa dan masih dapat dipertunjukkan, yaitu Tantayungan yang terdapat di desa Ayuwang, kecamatan Haruyan, kabupaten Hulu sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Teater rakyat Tantayungan, sangat mirip dengan apa yang disebut Teater tradisional Wayang Gung, hanya ceriteranya saja yang berbeda. Pada Tantayungan, ceritera yang dihidangkan tentang dongeng, ceritera rakyat legende, tentang kerajaan.  Sedangkan cerita Wayang Gung,  yang dihidangkan bersumber pada Ramayana dan Mahabharata, seperti umumnya ceritera-ceritera Teater Wayang.
L  E  N  O  N  GTeater Rakyat Betawi
Lenong merupakan teater rakyat Betawi. Apa yang disebut teater tradisional yang ada pada saat ini, sudah sangat berbeda dan jauh berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat lingkungannya, dibandingkan dengan  Lenong di jaman dahulu. Kata. daerah Betawi, dan bukan Jakarta, menunjukan bahwa yang di-bicarakan adalah “teater masa lampau”.  Pada saat itu, di Jakarta, yang masih bernama Betawi (orang Belan-da menyebutnya: Batavia)  terdapat 4 jenis Teater tradisional yang disebut Topeng Betawi,  Lenong,  Topeng Blantek;  dan   Jipeng atau Jinong. Pada kenyataanya keempat Teater rakyat tersebut banyak persamaaanya, yang berbeda umumnya hanya pada cerita yang dihidangkan dan musik pengiringnya yang berbeda Lenong  menggunakan Gambang Kromong Topeng Betawi  dengan  Tabuhan Topeng Akar Topeng Blantek  dengan  Rebana Biang Jipeng  atau  Jinong   dengan  Tanjidor

Kalau pada saat ini ada pertunjukan yang menggunakan Bahasa Betawi (Jakarte) pertunjukan tersebut selalu dinamakan Lenong, karena Lenong merupakan nama jenis teater yang paling dikenal masyarakat, sedangkan  yang lain hanya dikenal setempat di mana jenis teater  tersebut berada.
Menurut sejarahnya, teater tradisional Lenong, banyak mendapat pengaruh Teater Bangsawan. Dalam buku terbitan Dinas kebudayaan DKI-Jakarta Seni Budaya Betawi –Menggiring Jaman (Terbitan Th.1998), dis-ebutkan:“Menurut sejarah sampai saat ini terdapat dua versi tentang asal-usul Teater Lenong yang sebenarnya masih berhubungan. Versi pertama mengatakan bahwa Teater Lenong mempunyai hubungan yang erat dengan bentuk teater di China.  Versi kedua secara tidak langsung memperlihatkan keterkaitan teater ini dengan bentuk Teater Parsi”.
Pengaruh Teater Bangsawan dapat dilihat dari cara penyajian di atas panggung dan iringan musiknya yang dinamakan Gambang Kromong banyak nama alat musiknya dari Cina.   Ada lagi jenis teater tradisional yang masih sekelompok dengan Lenong, yaitu yang disebut Wayang Senggol. Perbedaannya pada cerita yang disajikan dan sebagian cara menyajikan. Cerita yang dipentaskan umumnya mengambil cerita Panji, antara lain Jaka Semawung  dan  Candrakirana, sedangkan dalam penyajian apabila memperagakan perkelaian, dilakukan dengan gerak-gerak tari, dengan senggol-senggolan (sentuh-setuhan badan), dan apabila dalam perkelaian menggunakan gada (alat pemukul) mereka cukup menggunakan selendang saja. Semua dilakukan seperti pada Lenong, tetapi karena cara berkelahinya dengan senggol-senggolan, maka disebut Wayang Senggol.
Cerita yang dihidangkan banyak digali dari cerita rakyat dan legenda yang terdapat di daerah Betawi. Tokoh-tokoh “jagoan” dalam cerita rakyat seperti Si Pitung;  Ayub Jago Betawi; Si Jampang;  Nyai Dasima; dan lain sebagainya. Berdasarkan cerita yang dipentaskan terdapat dua jenis Lenong, yaitu yang disebut :
1. LENONG DINES, ceritanya sekitar secita Raja-raja jaman dahulu, lengkap dengan pakaian “resmi” (pakaian kebesaran raja, sultan) yang serba gemerlapan. Bahasa yang digunakan bahasa Melayu “tinggi” dengan sebutan: ayahanda, baginda, an lain-lain. Di sini terasa adanya pengaruh Teater Bang-sawan.  Bahkan memainkan cerita Seribu satu malam,  Johar Manik, Abu Nawas, atau Pangeran Hamlet saduran dari karya Shakespeare.
2. LENONG PREMAN, mementaskan cerita kehidupan rumah tangga masyarakat Betawi. Membawakan lakon tentang kehidupan ysmg sedang berlangsung saat itu. Boleh dikatan kehidupan sehari-hari masa itu, bukan dongeng atau cerita Sultan dan Raja,  mereka menggunakan kostum “orang Betawi” dalam kehidupannya sehari hari. Cerita paling populer adalah cerita kehidupan sehari, yaitu percintaan dan sekaligus juga yang bernuansa perjoangan, misalnya Nyai Dasima, Si Pitung.
Disebutkan bahwa Lenong banyak mendapat “masukan” dari Cina. Hal itu dapat terlihat bahwa musik pengir-ing Lenong, yang dinamakan Gambang Kromong  banyak “dinamakan” (terdengar sebagai nama bahasa Cina): tehiyang, kong ah yan, sukong dan sebagainya.
Nama Lenong baru muncul sekitar tahun 1926, ketika iringan musiknya diganti dengan Gambang kromong. Sebelumnya berbagai nama antara lain Wayang Dermuluk yang semuanya menggunakan dialog bahasa Me-layu, ketika itu iringan musiknya iringan musik “melayu”, yang terdiri dari:biola, kendang, tambur barongsai, kempul dan sambyan (sejenis mandolin). Dalam perkembangannya, Wayang Dermuluk setelah diadakan be-berapa perubahan baik back drop (layar belakang) atau pun salah satu alat musiknya, tambur barongsai di-ganti dengan tambur tanji, sejak itu disebut Wayang Sumedar.
Sampai saat ini masih dinamakan Lenong, meskipun sudah jarang dipertunjukan, hanya  sesekali dipertunju-kan untuk hajaran masyarakat di pinggiran kota.
LONGSER Teater Rakyat Jawa Barat
Longser merupakan jenis teater tradisional yang bersifat kerakyatan.dan terdapat di Jawa Barat, termasuk kelompok etnik Sunda. Ada beberapa jenis teater rakyat di daerah etnik Sunda serupa dengan Longser, yaitu Banjet. Ada lagi di daerah (terutama, di Banten), yang dinamakan Ubrug.  Ada pendapat yang mengatakan bahwa Longser berasal dari kata melong (melihat) dan seredet (tergugah). Diartikan bahwa barang siapa me-lihat (menonton) pertunjukan, hatinya akan tergugah. Pertunjukan Longser sama dengan pertunjukan kesenian rakyat yang lain, yang bersifat hiburan sederhana, sesuai dengan sifat kerakyatan, gembira dan jenaka. Sebelum Longser lahir, ada beberapa kesenian yang sejenis dengan Longser, yaitu Lengger. Ada lagi yang serupa, dengan penekanan pada tari, disebut Ogel atau Dogger.
Longser sebenarnya merupakan kelanjutan dari Lengger dengan perbaikan dan perkembangan, lebih halus,  lebih ditingkatkan mutunya.
Pertunjukan Longser dapat dilakukan di mana saja, di halaman rumah, di lapangan terbuka, perlengkapan yang diperlukan seadanya, serta tidak juga menggunakan “dekorasi”.  Pementasan biasanya dilakukan dalam bentuk arena, di mana penonton berlingkar mengelilingi “tempat bermain” atau dalam bentuk tapal-kuda.
Pertunjukan Longser dapat dilakukan baik siang atau pun malam. Biasanya pertunjukan keliling dilakukan siang hari.  Apabila dilakukan pada malam hari, mereka menggunakan oncor/obor sebagai lampu penerang, diletakan di tengah tempat bermain. Perlengkapan lain yang digunakan untuk keperluan pementasan dapat dikatakan tidak ada, kecuali seperangkat alat musik untuk keperluan mengiringi dan mendukung pertunjukan.
Longser pada mulanya dilakukan sekedar sebagai hiburan masyrakat desa — saat senggang malam hari, un-tuk keperluan menghibur diri antar penduduk desa setempat. Pelaksanaannya diusahakan gotong royong antar warga. Pemainnyapun dicarikan warga yang ingin dan berminat untuk “bermain” menyanyi atau menari.
Dalam perkembangannya Longser semakin diminati. Bukan saja masyarakat lingkungannya, tetapi meluas hingga desa ata pun ke daerah lain. Kemudian sering dimanfaatkan untuk keperluan memeriahkan suasana dalam suatu hajatan. Akhirnya pertunjukan Longser berkembang dan menyebabkan adanya “pertunjukan- keliling” dari satu desa ke desa lainnya. Pertunjukan keliling tersebut berusaha mengumpulkan dana dengan cara ngamen, (memungut derma, sumbangan dari masyarakat yang menonton). Cara “pungutan” dalam per-tunjukan keliling ini, disebut nyawer.
Nyawer diedarkan kepada para penonton di tengah-tengah pertunjukan,  pada saat pertunjukan sedang menghidangkan “acara tambahan”, berupa lawakan atau nyanyian. Acara hiburan ini makin memuncak pada saat penonton diberi kesempatan untuk ikut menari dengan para ronggeng. Setelah menjadi rombongan yang lebih besar, Longser menghidangkan berbagai atraksi berupa tari, nyanyi, lawakan, silat dan drama, semua dipadu menjadi teater rakyat sebagaiman Longser yang dikenal kemudian.   Rombongan Longser ini biasanya dipimpin oleh seorang panjak.  Terdiri dari pemain gamelan pengiring yang disebut nayaga. serta para penari wanita yang disebut ronggeng. Di samping menari, ronggeng juga berperan sebagai pemain dalam Longser. Ronggeng inilah yang menjadi daya tarik Longser. Sebagai pertunjukan hibu-ran, Longser lebih banyak menyajikan atrasi yang bersifat hiburan dibanding dengan cerita yang disuguhkan.  Bentuk teater ini berkembang sampai ke daerah Cirebon.
Struktur pertunjukan Longser selalu dimulai dengan bunyi tetabuhan untuk mengundang penonton. Bunyi te-tabuhan merupakan pertanda akan adanya pertunjukan Longser. Setelah penonton berkumpul, kira-kira jam tujuh malam (setelah sembahyang Isya), mulailah pertunjukan dibuka dengan tetalu (lagu pembukaan). Per-tunjukan dilanjutkan dengan Tari Wawayangan, yaitu memperkenalkan seluruh penari wanita (ronggeng), yang nantinya akan menari dalam pertunjukan.  Menyusul kemudian Tari Uyeg (Keplok Cendol). Setelah itu barulah dimulai dengan cerita yang akan dimainkan.
Cerita-cerita yang dihidangkan merupakan cerita yang digemari oleh masyarakat lingkungannya, Cerita rakyat yang popular, cerita sketsa masyarakat, sesekali cerita dongeng atau sejarah. Sebagai hiburan masyarakat porsi terbanyak dalam menyajikan pertunjukan didominasi oleh tari-tarian dan lawakan. Tarian yang ditampil-kan, antara lain Tari Ujeg, Tari Layang-layang, Tari Serimpi, Pencak Silat,  Tari Ketuk Tilu dan lain-lain.                      Tari Uyeg (Keplok Cendol), merupakan tari yang sangat digemari para penonton, karena sifatnya sangat ero-tik. Sering penonton menjadi histeris, bertepuk tangan dan berteriak gembira, ditingkahi  suitan-suitan  Se-dangkan Tari Ketuk Tilu bersifat lincah dan lazimnya dikombinasikan dengan pencak-silat. Untuk menambah keramaian pertunjukan, para pelawak dalam Longser pun ikut menari dengan tarian jenaka, di antaranya Ci-keruhan, Main Kartu, Tari Tani dan tarian lain yang bertemakan kehidupan rakyat jelata sehari-hari.
Peralatan musik tradisional yang digunakan diambil unsure yang pokok dalam gamelan, yang memang diper-lukan, seperti Gendang,  Terompet , Rebab,  Gong,  Ketuk  dan  Bedug. Musik membawakan lagu-lagu dae-rah Sunda yang populer, di antaranya Tatalu (intrumentalia) sebagai lagu pembukaan, lagu Gonjing untuk tari pembukaan, lagu Buah Kawung untuk mengiringi silat, agu Gerong/Seredet, Mitra. Jero, Bendrong Petit,  Sa-pu Nyere   dan banyak lagi.

UBRUGTeater Rakyat Banten                     Ubrug merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan, terdapat di daerah Banten. Menggunakan ba-hasa daerah: Sunda, campur Jawa dan Melayu, serupa dengan Topeng Banjet yang terdapat di daerah Ke-rawang. Ubrug dapat dipentaskan di mana saja, seperti halnya teater rakyat lainnya. Dipentaskan bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk memeriahkan suatu “hajatan”, atau meramaikan suatu “perayaan”. Untuk apa saja, yang dilakukan masyarakat, Ubrug dapat diundang tampil.
Cerita-cerita yang dipentaskan terutama cerita rakyat, sesekali dongeng atau cerita sejarah  Beberapa cerita yang sering di mainkan ialah Dalem Boncel, Jejaka Pecak, Si Pitung atau Si Jampang  (pahlawan rakyat se-tempat, seperti juga di Betawi). Gaya penyajian cerita umumnya dilakukan seperti pada teater rakyat, meng-gunakan “gaya humor” (banyolan), dan sangat karikatural  sehingga selalu mencuri perhatian para penonton.
Bentuk teater rakyat yang serupa dengan Ubrug ialah Topeng Banjet yang terdapat di Kerawang, Bogor dan Bekasi. Dahulu Topeng Banjet selalu memakai topeng, yaitu yang disebut Topeng Si Jantuk. Tetapi dalam pertunjukan sekarang, sudah jarang dipakai.  Meskipun susunan acara tak berbeda jauh dari Ubrug, namun atraksi tari dalam Topeng Banjet tidak begitu dominan. Tari-tarian hanya untuk melengkapi pertunjukan dan lebih bersifat “memeriahkan”.  Peralatan musik yang mengiringi tak berbeda jauh dari Ubrug, hanya dalam Topeng Banjet sering menggunakan tehian  (rebab leher panjang) dan kecrek. Cerita yang dihidangkan antara lain Si Jantuk dan Sarkawi.
KETOPRAKTeater Rakyat Jawa Tengah
Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan Ketoprak. Di daerah-daerah tersebut Ketoprak merupa-kan kesenian rakyat yang menyatu dalam kehidupan mereka dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya se-perti Srandul dan Emprak.     Pada mulanya Ketoprak hanya merupakan permainan orang-orang desa yang sedang menghibur diri dengan menabuh lesung pada waktu bulan purnama, yang disebut  gejogan. Dalam perkembangannya menjadi suatu bentuk teater rakyat yang lengkap.
Permainan orang desa dengan memukul lesung yang berirama tersebut dikembangkan, ditambah dengan peralatan musik: gendang, terbang, suling ditambah nyanyian, kemudian dikembangkan lagi dengan cerita kehidupan rakyat petani di desa sekeliling. Lahirlah pertama-tama yang disebut Ketoprak Lesung, diperkirakan sekitar tahun 1887. Baru pada sekitar tahun 1909 untuk pertama kalinya dipentaskan Ketoprak yang sudah berbentuk pertunjukan lengkap.
Ketoprak pertama yang secara resmi dipertunjukan di depan umum ialah Ketoprak Wreksotomo, yang diben-tuk oleh Ki Wisangkoro. Seluruh pemainnya adalah pria. Cerita yang dipentaskan masih sangat sederhana, dengan cerita kehidupan masyarakat desa sekelilingnya seperti Warso-warsi,  Kendono Gendini, Darmo-Darmi dan lain-lainnya. Baru setelah itu perkembangan Ketoprak sangat maju dan digemari oleh masyarakat lingkungannya, terutama berkembang di daerah Yogyakarta. Perkembangan Ketoprak yang dimulai dari permainan lesung, kemudian berubah menjadi pertunjukan Keto-prak lengkap, dengan cerita dan gamelan sebagai pengiring. Masih ditambah dengan pengaruh pertunjukan Sandiwara Bangsawan yang menyelinap masuk. Urutan perkembangan Ketoprak dapat disusun sebagai be-rikut :
1. Kotekan Lesung: Bunyi-bunyian dari lesung, merupakan “permainan rakyat” sebagai hiburan di saat senggang sesudah bekerja seharian di sawah.2. Ketoprak Mula: Dikembangkan dari kotekan lesung, ditambah tari-tarian dan cerita                   sederhana kehidupan petani sehari hari.3. Ketoprak Lesung: Sudah merupakan pertunjukan Ketoprak yang lengkap, dengan cerita rakyat yang di-kenal oleh masyarakat lingkungannya dan diiringi kotekan lesung dengan ditambah suling, gendang dan terbang sebagai pengiring pementasan.                 4. Ketoprak Gamelan: Perkembangan wujud pertunjukan yang semakin lengkap dengan penambahan pada peralatan musik pengiring. Cerita yang dimainkan umumnya mengambil cerita Panji, Babad, atau sejarah. Ada kalanya juga mengangkat cerita Seribu Satu Malam. Meskipun belum menggunakan panggung se-bagai tempat bermain, Ketoprak bentuk ini sudah mulai dipertunjukkan di pendapa (ruangan yang terbuka di bagian depan rumah orang Jawa yang mampu, merupakan ruang tamu yang terbuka dan cukup luas sebagai tempat pertunjukan).5. Ketoprak Ongkek: Tidak seluruh desa mempunyai kelompok Ketoprak. Karena itu muncullah Ketoprak Ongkek, yaitu rombongan Ketoprak yang berkeliling dari satu desa ke desa lainnnya. Dapat bermain ka-pan saja dan di mana saja, baik siang atau pun malam. Rombongan terdiri dari sejumlah pemain wanita dan pria, yang sering merangkap sebagai penabuh gamelan. Menggunakan perlengkapan pementasan sederhana dan dapat dipikul.  Ada juga yang menyebut rombongan ini sebagai Ketoprak Barangan.6. Ketoprak Panggung : Setelah ada pengaruh Sandiwara Bangsawan, pertunjukannya mulai dilakukan di panggung, dengan cerita-cerita campuran. Maka dimulailah pertunjukan yang bersifat komersial, dalam pengertian penonton harus membayar karcis. Cerita-cerirta diadaptasi dari dongeng luar negeri yang ter-kenal.
Pada akhir tahun delapanpuluhan orang masih sempat menyaksikan Ketoprak yang dimainkan di panggung, seperti misalnya di Sriwedari Solo, Yogyakarta, Semarang. Bahkan di Jakarta, sesekali masih dapat dilihat di Gedung Bharata (Senen). Puncak ketenaran Ketoprak Panggung yang merupakan perkembangan terakhir adalah Ketoprak “Siswo Budoyo” dari Tulungagung, Jawa Timur. Berkembang sangat pesat dengan beragam pembaruan “teknik”, sehingga memiliki daya tarik yang memikat dan digemari masyarakat.
Cerita-cerita yang dihidangkan dalam Ketoprak Panggung ini sangat bervariasi. Mulai dari cerita rakyat yang populer seperti Ande-ande Lumut, Joko Tarub, Loro Mendut, Joko Bodo, Damarwulan,  sampai yang bertema kepahlawanan seperti Arya Penangsang, Ronggolawe, cerita babad, dongeng, legenda. Dari cerita Panji di-pentaskan antara lain Kelana Sewandono, Panji Asmorobangun.  Bahkan cerita dari luar pun disadur atau diambil jalan ceritanya. Misalnya karya Shakespeare, Hamlet, Pangeran dari Denmark atau cerita Sampek Engtay. Tidak ketinggalan cerita Seribu Satu Malam dari Sandiwara Bangsawan yang pada saat itu sedang mulai mengembangkan sayapnya dari Sumatra ke Jawa, ikut dipentaskan.
Tata busana para pemain disesuakan dengan cerita yang terjadi. Misalnya pementasan cerita: “Pangeran Wiroguna”, pakaian yang dipakai pemain ada-lah pakaian resmi pangeran Jawa waktu itu. Untuk para praju-ritnya dalam cerita diguna-kan pakaian prajurit jaman itu.  Namun ada juga pakaian pemain yang dibuat khu-sus yang mempunyai arti simbolik, misalnya warna pakaian umumnya hitam, kemudian diru-nah warnanya putih, untuk tokoh suci, dan warna merah untuk tokoh pemberani, dan se-bagainya. Kostum cerita sejarah Jawa, misalnya memakai pakaian:Kejawen.
Untuk cerita Seribu satu malam , digunakan  pakaian yang berkilauan, (mengkilat semacam sutera) disebut gaya “Mesiran” dengan cerita seperti  Johar Manik.  Kostum yang digunakan pemain Wayang Orang sering juga digunakan dalam pertunjukan Ketoprak, misalnya cerita Angling Darmo, atau Damarwulan – Menakjinggo. Kostum Mesiran (pengaruh Sandiwara Bangsawan)  atau  kostum Wayang Orang, sering digunakan untuk pertun-jukan Ketoprak di daerah pesisir utara pulau Jawa.
Dalam perkembangannya muncul tata pakaian yang baru unruk Ketoprak yang disebut Pakaian Basahan, yaitu semacam pakaian kejawen  tetapi dicampur dengan lainnnya. Terdiri dari kain batik, baju beskap dan serban (sering juga dengan jubah). Pakaian basahan ini dipakai dalam cerita Menak atau cerita para Wali. Jika tidak disertai jubah, pakaian tersebut mirip dengan pakaian abdi golongan “ulama” dalam istana raja.
Seperti umumnya teater tradisional lainnnya di Indonesia, Ketoprak menggunakan media ungkap Laku dan dialog, tari dan nyanyi lengkap dengan iringan musiknya. Semanya dijalin secara terpadu. Pertunjukan Keto-prak yang masih mengikuti pakem dan pola lama, dalam menyajikan cerita selalu menggunakan tembang (nyanyian) pada saat  mulai membuka percakapan, malah dialog selanjutnya sering dinyanyikan.
Salah satu ciri utama Ketoprak adalah nembang (menyanyi) dan menari (waktu keluar-masuk panggung dila-kukan dengan gerak-gerak yang indah) dan selalu diiringi alunan musik. Tembang dalam Ketoprak mempunyai fungsi bukan saja sebagai pengiring adegan, tetapi juga untuk memperindah percakapan yang akan dis-ampaikan, waktu menyampaikan isi hatinya kepada pemain lain, waktu menyampaikan monolog atau saat dalam suasana penceritaan ergantian adegan atau dalam puncak konflik, semua dapat dilakukan dengan nembang.
Peralatan musik yang paling sederhana, ketika masih periode Ketoprak Ongkek, Gndang, suling, terbang, keprak. Kemudian ditambah lagi, (sebelum sebagai “Gamelan lengkap”), berupa: Saron, Ketuk, Kenong, Kempul, Gong Bumbung atau Gong Kemada. Sedangkan apabila lengkap digunakan “gamelan biasa”,
Ketoprak, merupakan salah satu bentuk tater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Bahasa sangat memperoleh perhatian, meskipun yang digunakan bahasa Jawa, namun harus diperhitungkan masalah unggah-ungguh bahasa. Dalam bahasa Jawa terdapat tingkat-tingkat bahasa yang digunakan, yaitu :                      1. Bahasa Jawa biasa (sehari-hari)                      2. Bahasa Jawa kromo (untuk yang lebih tinggi)                      3. Bahasa Jawa kromo inggil (yaitu untuk tingkat yang tertinggi)Menggunakan bahasa dalam Ketoprak, yang diperhatikan bukan saja penggunaan tingkat-tingkat bahasa, tetapi juga kehalusan bahasa sangat diperhatikan. Karena itu muncul yang disebut Bahasa ketoprak, bahasa Jawa.dengan bahasa yang halus dan spesifik.
LANGENDRIYAN Teater Klasik YogyakartaLangendriyan  merupakan bentuk teater tradisional yang bersifat klasik dan merupakan teater dalam bentuk opera. Langendriyan berasal dari kata langen yang artinya hiburan, dan kata driya artinya hati. Langen Driya dapat diartikan penghibur hati, hiburan hati yang bermutu tinggi, karena Langendriyan biasanya dimainkan di istana raja yang dengan sendirinya dituntut bermutu tinggi.   Di Yogyakarta Langendriyan lahir pada tahun 1876, dan sebagai penyusun ialah Raden Tumenggung Purwo-diningrat dengan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi, putera mahkota dari Kasultanan Yogjakarta. Sedangkan di Surakarta Langendriyan yang pertama digubah oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mantunegara V dan Raden Mas Harja Tandakusuma pada tahun 1881. Bentuk pertunjukan Langendriyan adalah bentuk teater dengan media ekpresi dialognya dilakukan dengan nyanyian (seperti opera) dan ekpresi lainnya dilakukan dengan laku dan tari, tariannya dengan posisi jongkok dengan pemin semua pria (pada mu-lanya). Sedangkan di Surakarta semua pemain adalah wanita dan mempergunakan posisi biasa berdiri. Lan-gendriyan bentuk dapat dikatakan opera tari.
Ceritera yang dibawakan oleh Langendriyan selalu ceritera Damarwulan, ceritera yang terjadi di jaman Maja-pahit. Peran dalam lakon yang dimainkan adalah tokoh Damarwulan dan Menakjingga. Tidaklah heran apabila opera tari ini sering juga disebut sebagai:  Langendriyan Damarwulan-Menakjingga.   Dalam perkemban-gannya di Yogjakarta pemain tidak hanya pria tetapi juga wanita.
Pertunjukan yang hampir sama dengan Langendriyan adalah Langen Mandra Wanara.  Langen berarti hiburan, Mandra berarti banyak, Wanara berarti kera. Secara keseluruhan berarti Hiburan yang berupa tari-tarian kera, yang digubah pada tahun 1895. Cara pementasannyapun seperti pada Langendriyan, hanya ceritera saja. yang berbeda, yaitu membawakan ce¬ritera Ramayana, mengambil episode menggambarkan perang antara Rama dan Rahwana. Rama dibantu oleh pasukan kera pimpinan Sugriwa.
Memainkan “opera tari” gaya Yogyakarta ini tidaklah mudah, sebab para pemainnya dituntut bukan hanya bermain drama, pandai menari sekaligus juga harus dapat “nembang” (menyanyi) yang harus terpadu pada saat yang bersamaan. Cara menari dengan jongkak saja merupakan hal yang harus tekun dilatih, menari dengan jongkok, menyanyi, bergerak dan sekaligus bermain drama.Langendriyan dipentaskan di “ruang pendopo” istana dan ditonton khusus oleh para keluarga istana, para pangeran dan sering bersama Raja. Pertunjukan dalam bentuk “arena”, tidak ada dekor atau perlengkapan lain. Karena bermain di depan Raja, maka tariannya pun harus dilakukan dengan menghormat, yaitu tidak boleh berdiri, tetapi harus dengan jongkok. Karena untuk keperluan tontonan/hiburan Raja maka mutu harus diusahakan sebaik mungkin, tinggi mutunya. Para pemain khusus dilatih dan berbakat untuk dapat menyanyi, menari dan berperan drama. Perkembangan Langendriyan sangat terbatas, karena hanya untuk tontonan di istana, baru belakangan dicoba dipertunjukan diluar istana, tetapi umumnya hanya untuk keperluan pengem-bangan pendidkan seni tari.
Di Surakarta kemudian timbul gubahan-gubahan baru, yang disebut : Langen Asmoro dan Pranasmara yang menggunakna posisi berdiri. Langen Asmara gaya Surakarta ini digubah oleh Pangeran Prabu Widjaya putera Sunan Paku Buwana IX, sedang ceritera yang dibawakan diambil dari ce¬ritera Menak dengan thema yang diambil masalah peralatan dan seluruh pemainnya adalah penari wanita, seperti halnya Langen driyan dari istana Mangkunegaran. Pranasmara, sebangsa Langendriyan juga dengan ceritera Panji ceritera sejarah ja-man Kediri, para pemainya pun wanita semua.

LUDRUKTeater Rakyat Jawa Timur                           Ludruk merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan di daerah Jawa Timur, berasal muasal dari dae-rah Jombang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran. Dalam perkem-bangannya Ludruk menyebar ke daerah-daerah sebelah barat, karesidenan Madiun, Kediri dan sampai ke Jawa Tengah. Ciri-ciri bahasa dialek Jawa Timuran tetap terbawa meskipun semakin ke barat makin luntur nenjadi bahasa Jawa setempat.
Jombang merupakan daerah kelahiran Ludruk. Sebelum ada Ludruk di daerah Jombang telah terdapat bebe-rapa jenis kesenian rakyat seperti sandur, kuda lumping, wayang gedog, wayang krucil dan lain-lainnya. Suatu ketika seorang benama Pak Santik, di desa Ceweng, kecamatan Jombang, yang menpunyai sifat humoris, lucu, didesak oleh kebutuhan hidup. Ia berkeliling seorang diri sambil menari dan nenyanyi dan sedikit berce-ritera, lalu memperoleh uang untuk kegiatannya itu. Dari sinilah lahir apa yang disebut Lerok Barangan suatu bentuk Ludruk yang mula-mula dan dilakukan seorang diri. Dalam perkembangannya nanti ada juga yang disebut Lidtuk Garingan, yaitu Ludruk yang dimainkan seorang diri dengan tidak diiringi oleh tabuhan apa pun.
Selang beberapa lama pak Santik memerlukan dan mencari seorang teman yang dapat bermain lucu. Dipili-hlah seorang temannya, bernama pak Pono. Ia bermain sebagai lawan pak Santik, tetapi memainkaa peran wanita yang disebut wedokan (laki-laki bermain sebagai wanita). Di samping itu pak Santik masih dibantu oleh seorang teman lagi bernama pak Amir. yang bertindak sebagai penabuh gendang. Maka lengkaplah suatu pertunjukan dengan dua pemain – sebagai laki-laki dan perempuan — dan seorang penabuh.
Dalam mengembangkan Lerok Barangan ini pak Santik menambah unsur-unsur lain dengan meniru pertunju-kan rakyat yang telah ada seperti sandur, kuda lumping dan lainnya. Semua diambil sesuai kemampuan pak Santik.  Semakin lama anggota Lerok Barangan semakin bertambah.
Kemudian masuklah seorang bernama Djamino, yang mula-mula menjadi penggemar Lerok Barangan, tetapi kemudian tertarik untuk menjadi anggota.  Moenadi jadi anggota dan memberikan nama baru yaitu Ludruk, dengan  prinsip utama pertunjukan untuk menghibur masyarakat yang menderita.
Ceritera-ceritera yang dihidangkan sebenarnya hanyalah sketsa-sketsa kehidupan dalam masyarakat, kemu-dian sedikit dikembangkan dengan ceritera perjuangan melawan penindasan, atau kesemena-menaan. Pan-tun-pantun Ludruk yang dinyanyikan sangat terkenal  sebagai sindirin, sehingga di jaman apa pun Ludruk selalu diamat-amati oleh polisi..Dalam pertunjukan Ludruk selalu ada sindiran yang ditujukan kepada sesuatu yang tidak disenangi, atau kritik terhadap sesuatu.

Di pasar malam Bondowoso di Jaman Belanda, pada suatu kali ada pertunjukan Lu¬druk. Pemainnya adalah pak Pomo, tembangnya, (nyanyian pantunnya) berbunyi sebagai berikut:
Jumuah Legi nyang pasar  GentengTuku bapel nyang WonokromoMerah putih kepala banteng                      Genderane dokter Soetomo                    Artinya :                                          –   Hari Jumat pagi pergi ke pasar genteng                                        Membeli bapel ke Wonokromo                                   Merah putih kepala banteng                                    Benderanya doktar Soetomo
Ketika itu ada seorangs komisaris polisi Belanda kemudian meloncat ke panggung kemudian membentak P. Pomo pemain Ludruk tersebut “Masuk bui, atau pulang“ yang dijawab oleh P. Pono dengan singkat “Mantuk mawon, ndoro !” (Pulang saja, tuan !). Di Surabaya pada jaman penjajahan Jepang, ada juga kejadian yang sangat terkenal dengan pemain Ludruk yang bernamai Cak DoerRasim dengan ucapannya :- Pagupon omahe doro.Melok Nipon tambah soro                    Artinya:
–  Pagupon itu rumah burung dara  Ikut Jepang menjadi tambah sengsara  Demiklan pengaruh “parikan” (sindiran) yang dilakukan dalam pertunjukkan Ludruk sangat besar pengaruhnya. Dan ini menjadi salah satu ciri Ludruk di Jawa Timur, dengan lagu dan liriknya yang spesifik Jawa Timuran. Oleh karena itu Ludruk sering dijadikan alat untuk  “propaganda” atau alat penerangan.                  Struktur pertunjukan Ludruk selalu dibuka dengan :a. Tari Ngremo, merupakan tarian pembukaan, biasanya seorang diri pakaiannya ter           diri dari: Ikat kepala merah, baju celana hitam panjang dan ada hiasannya diperut.b. Kemudian dilanjutkan dengan Besutan, biasanya dengan nyanyiannya sindiran            dan membuka ceritera. Pakaian Besutan ialah Kopiah Turki, tak berbaju, tetapi            dengan rompi. Pemain biasanya bermain “lucu”, menyanyi dan menari.c. Masuk ke ceritera yang dihidangkan, tokoh-tokonya dalam ceritera tersebut umumnya             bernama Mas Jamino – Dik Asmunah dan ditambah Sarinten, dan lain-laianya.             Setiap permainan selalu dimasukkan “gaya dagelan”
Peralatan musik daerah yang digunakan ialah : kendang, cimplung, jidor dan gambang dan sering ditambah tergantung pada kemampuan group yang memainkan Ludruk tersebut. Dan lagu-lagu (gending) yang di-gunakan yaitu yang disebuti :                – Parianyar                   – Beskalan                 – Kaloagan                           –                – Jula-juli                     – Samirah                  – Junian, Pemain Ludruk semuanya adalah pria. Untuk peran wanitapun dimainkan oleh pria. Hal ini merupakan ciri khusus Ludruk. Padahal sebenarnya hampir seluruh Teater Rakyat diberbagai tempat, pemainnya selalu pria (Randai, Dulmuluk, Mamanda, Ketoprak), karena pada jaman itu wanita tidak diperkenankan muncul didepan umum.Ludruk sering juga disebut Ludruk Besutan, karena ada yang disebut : Ludruk Garingan (yaitu Ludruk yang dimainkan seorang diri dan menggunakan mulutnya sebagai alat musik). Ludruk selalu menampilkan ceritera kehidupan rakyat kecil (sebenarnya sketsa-sketsa dalam masyarakat).
Tokoh utama dalam cerita Ludruk selalu mas Jumeno dan dik Asmunah yang mewakili tokoh rakyat kecil. Jumeno, Jamino. Namun sekarang sering dikembangkan ceritera lain yang lebih menarik, namun tidak pernah meninggalkan tokoh Jumeno dan Asmunah.

TEATER TRADISIONAL DI BALI DAN LOMBOK

Teater tradisional kelompok Bali yang dimaksud adalah kelompok yang mempunyai latar belakang budaya yang dominan yang bersumber dari budaya etnik Bali termasuk Lombok. Merupakan kelompok teater tradi-sional yang spesifik, karena erat kaitannya dengan kehidupan budaya dan agama masyarakatnya, merupakan teater tradisioanl yang masih hidup segar dalam fungsi relijinya. Hampir tidak ada satu kegiatan upacara keagamaan tanpa unsur tari dan nyanyi serta musik (tanpa unsur kesenian).
Jenis teater dalam uraian berikut mempunyai kesamaan latar belakang budaya Bali yang dominan.  Dengan gamelan Bali yang “sama” susunannya dengan Jawa, tetapi mempunyai irama dan nada yang berbeda. Gaya dan irama gamelan Bali terasa dinamik, dengan tarian dan gerakan yang ekpresif. Kelompok tersebut antara lain adalah Gambuh, Arja, Topeng Prembon di Bali dan  teater tradisional yang terdapat di  Lombok
Kesenian dan kehidupan di Bali menjadi satu, terpadu dan saling memerlukan. Berkesenian bagi masyarakat Bali merupakan bagian dari kegiatan kehidupannya. Dapat dikatakan seluruh masyarakat Ba¬li adalah seni-man, setidaknya tiap orang Bali dapat “berkesenian”. Kalau tidak pandai menari atau menabuh musik, maka ia menjadi pelukis atau pemahat. Paling tidak menjadi perajin atau tukang dalam kegiatan kesenian.
Ciri lain yang spesifik untuk kelompok Bali adalah bahwa bentuk teaternya lebih didominasi oleh tari dibanding drama dan lakunya. Merupakan pertanda juga bahwa tiap teater Bali kuat di gerak yang ekpresif. Beberapa jenis Teater Tradisional Bali yang akan dibicarakan, semua didominasi oleh gerak (tari).

GAMBUHTeater Tradisional Bali
Gambuh merupakan teater tradisional yang paling tua, diperkirakan berasal dari abad ke-16. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Bali kuno dan terasa sangat sukar dipahami oleh orang Bali sekarang. Tariannya pun terasa sangat sulit karena merupakan tarian klasik yang bermutu tinggi. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau Gambuh merupakan sumber dari tari-tarian Bali yang ada. Sejarah Gambuh telah dikenal sejak abad ke-14 di jaman Majapahit dan kemudian masuk ke Bali pada akhir Jaman Majapahit. Di Bali, Gambuh dipelihara di Istana raja-raja.
Kebanyakan lakon yang dimainkan Gambuh diambil dari struktur ceritera Panji yang diadopsi ke dalam bu-daya Bali. Ceritera-ceritera yang dimainkan di antaranya adalah Damarwulan, Ronggolawe dan Tantri. Peran-peran utama menggunakan dialog berbahasa Kawi, sedangkan para punakawan berbahasa Bali. Sering pula para punakawan menerjemahkan bahasa Kawi ke dalam bahasa Bali biasa. Suling dalam Gambuh yang suranya sangat rendah — dimainkan dengan teknik pengaturan nafas yang sangat sukar, mendapat tempat yang khusus dalam gamelan yang mengiringi Gambuh, yang sering disebut gamelan “Pegambuhan”. Gambuh mengandung kesamaan dengan “opera” pada teater Barat, di mana unsur musik dan menyanyi mendominasi pertunjukan. Oleh karena itu para penari harus dapat menyanyi. Dan pusat kendali gamelan, di lakukan oleh juru “tandak”, yang duduk di tengah gamelan dan berfungsi sebagai penghubung antara penari dan musik. Di samping dua atau empat suling, melodi pegambuhan dimainkan dengan rebab bersama seruling. Peran yang paling penting dalam gamelan adalah pemain Kendang lanang atau disebut juga kendang pemimpin. Dia memberi aba-aba pada penari dan penabuh.
Gamelan dalam Gambuh mempunyai peranan yang sangat penting, karena ia berfungsi menonjolkan suasana (“mood”) permainan dan juga penonjolan dramatisasi serta perwatakan. Lagu-lagu pegambuhan diduga merupakan musik tradisi yang klasik dan tertua, yang sangat mempengaruhi gending-gending dan pengiring seni pertunjukan di Bali. Hampir semua lagu-lagu dan musik pengiring berbagai seni pertunjukan di Baliber-sumber dari melodi dan struktur musik dari pegambuhan.
Ceritera dalam Gambuh pada pokoknya mengisahkan peperangan dan perjalanan serta perjuangan antara Panji dan Candra Kirana Sepasang muda-mudi yang sedang bercintaan. Tokoh panakawan dalam ceritera ini yang mempunyai fungsi bukan saja menggerakkan “lelucon” dan “memancing tawa” bagi penonton, tetapi juga merupakan penengah antara tokoh utama dan penonton. Tokoh utama biasanya menggunakan bahasa Kawi yang tidak dimengerti oleh penonton, tetapi diterjemahkan oleh Panakawan.
Menurut tradisi, pemeran Gambuh hanya dimainkan oleh pria. Namun dalam perkembangannya wanita pun dapat ikut bermain, bahkan sekarang sering juga peran “putra manis” dimainkan oleh wanita. Gambuh tidak menggunakan topeng, tetapi menggunakan tata rias yang tebal dan agak berlebihan. Prabu (raja) selalu me-makai jenggot palsu, sedangkan tokoh Panji mempergunakan kumis yang kecil.
Kostum yang digunakan pada Gambuh, sama dengan yang digunakan pada berbagai jenis teater yang ada di Bali, yaitu dibedakan antara kostum untuk pria dan kostum untuk wanita. Kostum ini sejenis — baik untuk to-koh manis ataupun tokoh keras — namun mencerminkan kebudayaan Bali asli dan tidak mengenal jaman atau periode tertentu. Beberapa contoh untuk kostum pemain pria, ialah “baju” (jaket pendek dari beludru, berwarna hitam, putih atau merah).
Untuk peranan ada juga saput berupa jubah lebar yang dihiasi oleh prada, diikatkan di bawah ketiak menjulur ke bawah sampai lutut. Sedangkan peranan wanita, terdiri dari lamak, berupa sehelai kain yang dihias prada dan digantungkan didepan dada, kain perada, semacam sarung yang dikenakan oleh wanita dan “ampok-ampok” berupa hiasan pinggang yang dibuat dari kulit yang ditatah dan dihiasi dengan perada.
Meskipun seluruhnya merupakan kostum dengan unsur budaya Bali, namun karena ceriteranya berasal dari Jawa, maka  unsur kostum Jawa pun dimasukkan juga, misalnya “sampur”, selendang panjang yang dipakai oleh pemain wanita, yang masih dapat dilihat dalam tarian Jawa. Juga sinjang, semacam kain panjang yang dipakai pemain wanita dan diapit di antara kedua kakinya, serta menjulur di atas tanah. Gelungan (sanggul) yang berasal dari Jawa, disesuaikan dengan tokoh yang diperankan. Gelungan ini dihiasi bunga-bunga yang segar dan dupa yang sedang dibakar.
Gambuh termasuk salah satu seni pertunjukan yang berumur paling lama di Bali. Gambuh kuno diikuti oleh gamelan “pegambuhan” yang ditirukan suara seruling, dipersembahkan oleh penari-penari yang berbakat dan menyanyi menyesuaikan “wawankatanya” dengan suara gamelan tersebut. Gambuh dikagumi karena kein-dahan bentuk dan persembahannya sebagai intisari kesenian Bali.
Gambuh sebenarnya telah ada sejak jaman kejayaan Majapahit dan bermutu tinggi. Pada permulaan abad ke-16, kerajaan Majapahit mengakhiri masa kejayaannya di Pulau Jawa dan berpindah secara besar-besaran ke Pulau Bali. Di Bali kebudayaan Hindu berkembang tanpa gangguan. Sejak itu Gambuh yang ada di kerajaan Majapahit berpindah ke Bali dan tata busana pun disesuaikan dengan adat Bali. Ditambah pula yang paling mengesankan terlihat pada wujud gerak tari, di mana perbendaharaan gerak tari Bali yang asli digabungkan dengan unsur tari Hindu-Jawa. “Seledet” (gerakan mata), merupakan ciri khas tari Bali pada jaman pra-Hindu, tidak terdapat dalam tarian Jawa.
Tarian-tarian di Bali pada jaman pra-Hindu tidak memiliki ceritera. Dengan hadirnya Gambuh di Bali, maka Gambuh dapat dikatakan memasukkan unsur ceritera ke dalam tarian Bali. Dari hadirnya ceritera dalam seni pertunjukan di Bali, maka timbullah unsur drama dengan segala aspeknya, timbul “laku” dan dialog, sehingga lengkaplah seni pertunju¬kan dengan segala keterpaduan unsur-unsurnya yang merupakan konsep seni per-tunjukan yang bersifat Asia, yaitu dengan unsur tari, musik dan drama.
Sesuai dengan apa yang terurai dalam naskah-naskah kuno, seni pertunjukan dari kerajaan Hindu-Jawa pada dasarnya merupakan seni yang bersifat sekuler, namun aspek-aspek ritual tertanam di dalamnya. Tempat pementasan Gambuh, seperti juga teater tradisional lainnya, dilakukan di alam terbuka. Di Bali dilakukan di dekat pura. Pementasan Gambuh dilaksanakan di “jaba tengah” dari pura-pura di Bali, yaitu sebuah halaman yang tidak sakral atau pun profan. Halaman pura ini menjadi jembatan untuk memasuki “joroan pura”, halaman dalam yang sakral. Pada saat ada upacara keagamaan yang besar, sekelompok orang berkumpul di “jaba tengah” sebelum mereka memasuki tempat atau ruangan suci untuk mempersembahkan sesajen dan melakukan sembahyangan. Halaman ini penuh dengan berbagai macam kegiatan.
Saat Gambuh akan dipentaskan, dibuatlah sebuah panggung sementara yang dinamakan “kalangan” (sebuah tampat untuk pementasan kesenian Bali). Kalangan terdiri dari “stage area” (panggung) yang bentuk empat persegi panjang, kemudian tempat tersebut dikelilingi oleh pagar bambu setinggi 30 (tiga puluh) sentimeter yang berfungsi un¬tuk membatasi penonton dan pemain. Kalangan tersebut dihias dengan bermacam dedaunan yang merupakan hiasan khusus di Bali. Di sisi-sisinya dipancangkan tombak-tombok dan payung upacara sebagai hiasan atau dekorasi.

Perkembangan Gambuh agak “tersendat” karena tingkat kesulitan yang tinggi dalam memainkannya. Baik tari-tarian atau pun nyanyiannya, Gambuh sangat tidak mudah sehingga jarang dipertunjukkan. Namun sekarang digalakkan kembali.
Gambuh dipakai sebagai sumber dari dramatari lainnya di Bali, karena menyediakan pola-pola gerak yang rumit, namun indah. Ide stukturnya sangat menarik sebagai sumber pengkajian, khususnya perihal masuknya unsur cerita dalam pertunjukan tari di Bali.                  ARJATeater Rakyat Bali
Arja merupakan jenis teater tradisional yang bersifat kerakyatan, dan terdapat di Bali. Seperti bentuk teater tradisi Bali lainnya, Arja merupakan bentuk teater yang penekanannya pada tari dan nyanyi. Semacam gend-ing karena yang terdapat di daerah Jawa Barat (Sunda), dengan porsi yang lebih banyak diberikan pada ben-tuk nyanyian (tembang). Apabila ditelusuri Arja bersumber dari Gambuh yang disederhanakan unsur-unsur tarinya, karena ditekankan pada tembangnya. Tembang (nyanyian) yang digunakan memakai bahasa Jawa Tengahan dan bahasa Bali halus yang disusun dalam tembang macapat.
Pada waktu menyanyi (nembang), suara gamelan merendah, supaya kita dapat mendengarkan kata yang dinyanyikan. Meskipun pada mulanya seluruh pemain pria, namun dalam perkembangannya justru lebih ba-nyak pemain wanita karena penekannya pada tari dan nyanyian.
Bentuk dan asal-usul Arja bermula dari bentuk Teater Dadap yang terdapat pada akhir abad ke-18 di daerah Klungkung. Pementasan Dadap sangat sederhana, tidak dengan dekor (layar). Semua pemain mengelompok pada sisi bagian kanan atau kiri dari area pertunjukan dan semua penari berjongkok sambil menunggu giliran untuk menari. Para pemain memasuki “arena” dengan menari, disusul dengan menyanyi (menembang). Dialog yang diucapkan para peran pun sering dipalsukan dengan menyanyi, meskipun dalam Teater Dadap tidak ada iringan musik. Tidak menggunakan perlengkapan musik tradisional, melainkan hanya menyanyi saja. Ceritera yang sangat terkenal dalam Teater Dadap adalah ceritera Kesayang Lembur, berisi sindiran terhadap I Gusti Ayu Karangasem. Arja yang mengambil pola Teater Dadap yang sudah dikembangkan (dengan penambahan alat-alat musik) disebut Arja Dadap. Kemudian timbullah Arja-Arja lainnya dengan lakon yang berbeda-beda.
Arja pada umumnya mengambil lakon dari Gambuh, yaitu bertolak dari ceritera Panji, tetapi nama-nama raja Jawa Timur sudah tak dikenal lagi atau diganti dengan nama lain. Ada kalanya nama tersebut dipersingkat, diperpendek. Misalnya disebut Mantri Jenggala, Galuh Daha, Punta, Kartala atau diganti sama sekali menjadi Lenyeng, Melung, Hegleng dan sebagainya. Namun dalam perkembangan sering juga diambil ceritera dari Ramayana, Mahabharata, dan ceritera rakyat lainnya. Tokoh-tokoh yang muncul dalam Arja adalah  Melung (Inye, Condong) pelayan wanita, Galuh atau Sari, Raja Putri, Limbur atau Prameswari, Mantri dan lain seba-gainya.
Pertunjukan Arja sekarang masih sering dilakukan di tempat terbuka — dalam bentuk arena tapal kuda — na-mun tempat persiapan pemain dengan tempat pertunjukan disekat oleh layar. Di tengah-tengahnya terdapat semacam “pintu” untuk keluar-masuk pemain.

TOPENG PREMBON Teater Tradisional Bali
Topeng Prembon merupakan teater tradisional bersifat kerakyatan yang terdapat di Bali. Kata prembon be-rasal dari kata imbuh yang berarti “mendapat imbuhan” atau ditambah-tambah. Seperti teater tradisional umumnya dl Bali, Topeng Prembon menggunakan media ungkap tari, drama serta musik dan nyanyi. Kalau dikaji secara mendalam, bentuk ini merupakan gabungan dari beberapa teater tradisional seperti Arja, Gam-buh, Parwa, Baris, Calonarang dan lain sebagainya, tetapi diikat oleh suatu lakon. Seperti namanya, umum-nya para pemain menggunakan topeng (meskipun tidak seluruhnya). Ada satu bentuk teater di Bali yang disebut Teater Topeng, yang berasal dari abad ke-17. Tema ceritera yang dibawakan selalu berkisar kehidupan istana yang mirip dengan Gambuh, ceritera-ceritera sejarah dan babad, baik tanah Jawa atau Bali. Ceritera Jawa yang banyak dipentaskan di antaranya Aryo Damar, Ronggolawe, Ken Angrok dan Gajah Mada. Unsur utama pertunjukan ini adalah pada tari. Seluruh pemain tidak berdialog, karena seluruh wajah tertutup rapat oleh topeng yang dipakai. Dalam Teater Topeng penutur cerita adalah para punakawan yang bernana Penasar dan Kartala. Mereka tidak memakai topeng atau bertopeng sebatas mulut, hingga masih dapat berbicara. Peranan wanita biasanya dimainkan oleh penari laki-laki. Apabila pera-nan wanita ditarikan oleh pemain wanita, maka ia tidak mengenakan topeng. Topeng Prembon merupakan gabungan antara Topeng dan Arja. Caritera yang dibawakan bersumber pada babad atau ceritera sejarah, baik sejarah pura, suatu desa atau pun sejarah leluhur. Beberapa buah lakon yang sering di bawakan oleh Topeng Prembon ialah:  • Dalam Bungkut• Balian Batur • Kutus Patih Ularan• Puputan Badung, dan lain sebagainya.
Berdasarkan fungsinya dalam masyarakat, tari Bali dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu: 1. Tari Wali (tari yang bersifat suci dan sakral, yang sangat penting bagi kehidupan bera-gama dan adat istiadat)2. Tari Babali (tari biasa, yang lebih merupakan seni pertunjukan yang melulu untuk dinikmati nilai keindahannya)3. Tari Balih-balihan (tari yang bersifat sekular, duniawi atau katakanlah bersifat hiburan, terlepas dari kai-tannya dengan upacara keagamaan dan dapat juga digunakan untuk tari pen-giring upacara)
Topeng Prembon adalah bentuk perkembangan terakhir dari “drama- tari Topeng” (Patopengan) di Bali. Bila kita membicarakan Topeng Prembon maka kita tidak dapat melepaskan pembicaraan perihal Patopengan di Bali. Ada 3 (tiga) macam pertunjukan topeng, yaitu: 1. Topeng Pajegan, hanya dimainkan oleh seorang penari yang memainkan beberapa watak dengan to-peng, yang kemudian diakhiri dengan penampilan Topeng Sidakarya, sebuah topeng yang wajahnya sangat menakutkan. Bermata sipit, gigi atasnya mencuat keluar dengan mulut yang terbuka. Topeng Si-dakarya ini menentukan sida-nya (berhasilnya) suatu karya (upacara). Karena fungsinya sebagai pelak-sana upacara keagamaan, maka topeng ini juga dinamakan Topeng Wali. 2. Topeng Panca, dramatari Topeng yang dimainkan oleh 5 (lima) orang penari. Timbulnya Topeng Panca merupakan perkembangan dari Topeng Pajegan. Jika Topeng Pajegan berfungsi sebagai Tari Wali, maka Topeng Panca berfungsi sebagai Tari Wali dan Balih-balihan yang kemudian menjadi suatu tontonan yang sangat digemari oleh masyarakat dan berfungsi sebagai tari untuk pendidikan. Bentuk ini kemudian dikembangkan lagi menjadi Topeng Sapta (tujuh orang). 3. Topeng Prembon, yang menandai masuknya unsur ceritera yang lengkap, dengan digabungkannya Pa-topengan dengan Paarjaan (Arja), dengan peran dan watak dalam ceritera seperti Condong, Galuh, De-sak, Linbur Mantri (mantri manis dan mantri buduh/gila). Tokoh-tokoh tersebut belum tentu muncul semua, tergantung dari adegan yang akan dipertunjukkan.
Topeng yang dipergunakan dalam Topeng Prembon berdasarkan karakter/watak dari masing-masing peran yang dapat digolongkan sebagai berikut : 1. Watak keras (gagah) seperti pada Topeng keras, Patih, atau Mantri buduh, Desak, Limbur dan Penasar pada Arja (Punta), panasar cenikan (Wijil).2. Watak halus (manis) seperti pada Topeng Tua, Topeng Dalea, atau Galuh dan Juga Mantri Mania pada Arja.3. Watak lucu (babondresan) sejumlah topeng lucu yang melukiskan realitas kehidupan sehari-hari, bahkan dapat untuk menggambarkan “orang asing” kalau diperlukan
Untuk lebih menggambarkan watak dan penggunaan topeng, maka diberikan contoh ceritera Dalem Bungkut sebagai berikut: Ada seorang raja tua bernama Dalem Bungkut yang terkenal sakti di Nusa Penida. Untuk menguji kesaktiannya, dipanggillah Dalea Demade untuk menghadap. Tetapi Dalem Demade mengirim Gusti Jelantik yang diikuti oleh istrinya Gusti Ayu Kaleran. Di dalam perkelahian melawan Dalem Bungkut, Gusti Jelantik hampir tewas, tetapi ditolong istrinya dengan memberinya keris. Keris sakti tersebut sebenarnya ada-lah taring Sang Naga Besuki. Dengan senjata ini Patih Jelantik berhasil mengalahkan Dalem Bungkut. Kemu-dian Patih Jelantik kembali ke Gelgel bersama istrinya.
Penggunaan topeng dalam ceritera Dalem Bungkut ialah: 1. Pangelembar merupakan tarian pembukaan. Topeng terdiri dari Topeng Keras, Topeng Keras dan lucu, Topeng tua2. Penasar Penasar kelihan dan penasar cenikan, dua abdi raja 3. Topeng Dalen dipakai oleh Dalen Diraade.4. Topeng keras dipakai Ki Patih Jelantik
5. Ga1uh Gusti Ayu Kaleran (istri Patih Jelantik)6. Bondess rakyat Nusa Penida, pengiring Patih Jelantik7. Topeng Tua (serupa Sidakarya), untuk Delem Bungkut.. Dialog-dialog yang diucapkan dalam Topeng Prembon pada umumnya menggunakan bahasa Kawi (Jawa Kuno) dan juga bahasa Bali (baik bahasa sehari-hari atau pun bahasa Bali halus). Dewasa ini sering para pemain menyelipkan bahasa Indonesia — bahkan sering juga dengan bahasa asing, agar pertunjukan lebih komunikatif, terutama bagi orang yang bukan berasal dari Bali. Biasanya yang berani melakukan ini adalah para pemain “bondres”.
Dialog dapat diucapkan biasa atau sering juga dinyanyikan dalam bentuk tembang (Sinom, Pangkur, Dan-dang, atau lainnya). Peran yang bertopeng hanya berkomunikasi dengan gerak saja, yang kemudian diterje-mahkan oleh panasar. Di sini jelas nampak betapa pentingnya peran penasihat, bukan saja sebagai penter-jemah bahasa bagi penonton, tetapi juga berfungsi sebagai komentator atau pembawa ceritera yang menje-laskan persoalan dalam ceritera yang dihidangkan. Gamelan yang dipakai pengiringi pertunjukan Topeng Prembon adalah seperangkat Gamelan Gong (Gong Kebyar) yang terdiri dari:1. Gangsa berbilah 10 2. Jegogan berbilah 5 (2 tungguh)3. Panyacah berbilah 7 (4 tungguh)4. Galung berbilah 5 (2 tungguh)5. Reyong berbilah 10 (1 tungguh)6. Kendang besar lanang dan wadon. (2 buah).7. Cengceng atau pangkon8. Kajar (1 buah)9. Gong (2 buah)10. Kemong (1 buah)11. Suling (2 sampai 4 buah)
Untuk keperluan tertentu sering dipergunakan hanya setengah perangkat saja.  Pertunjukan Topeng Prembon, dahulu sering dilakukan secara ngelawang (dari rumah ke rumah), tanpa panggung. Perlengkapan sangat sederhana, namun oleh karenanya terasa lebih akrab.

KEMIDI RUDAT  Teater Tradisi Nusa Tenggara Barat
Salah satu teater tradisional yang terdapat di Nusa Tenggara Barat adalah Kemidi Rudat. Nama Rudat masih dalam penelitian dari mana dan apa artinya yang terkait dengan teater tradisional tersebut. Ada yang menga-takan rudat berasal dari kata raudah yang berarti baris-berbaris, atau ada pula yang mengatakan  berasal dari bahasa Belanda, soldat yang berarti serdadu atau tentara.  Sedangkan di daerah lain ditemukan juga kesenian rakyat yang disebut Rodat, yang biasanya berbentuk tarian dan nyanyian, yang merupakan pertunjukan bernafaskan Islam.
Kesenian Rodat yang berbentuk tari dan musik disertai nyanyian terdapat antara lain di Kalimantan Selatan,  di Jawa Barat dan kemungkinan juga terdapat di daerah-daerah lainnya. Kemidi Rudat yang terdapat di Nusa Tenggara Barat (Lombok) ini pun dalam pertunjukannya banyak membawakan syair atau pantun yang dinya-nyikan, dengan kandungan ajaran Islam.
Bentuk pertunjukan Kemidi Rudat ini pun tak ubahnya sebagai teater rakyat yang terdapat di daerah lainnya. Penyajiannya dilakukan dalam bentuk drama, yang dilakukan dalam bentuk tarian dan nyanyian. Dialog yang dibawakan pun seringkali dilakukan dengan menyanyi karena bentuknya berupa pantun atau syair.
Dari pertunjukan yang disajikan terasa ada pengaruh Teater Bangsawan (atau sering juga disebut Komidi Bangsawan), yang berlatar belakang kebudayaan Melayu.  Bentuk teater Komidi Rudat, meskipun terdapat di Lombok, sangat berbeda dengan kesenian kesenian rakyat lainnya yang terdapat di pulau Lombok pada umumnya.   Kesenian tradisional yang terdapat di Lombok — terutama tarian dan musiknya – pada umumnya mengandung unsur-unsur budaya Bali, seberapa pun kecilnya.
Kemidi Rudat seperti pada umumnya teater rakyat, dapat dipentaskan di mana saja, di alam terbuka, di tanah lapang, di arena apa pun selama ada tempat untuk bermain. Tetapi karena adanya pengaruh Teater Bang-sawan, maka pementasan Kemidi Rudat sudah menggunakan panggung, lengkap dengan dekorasinya. Panggung tersebut dapat menggunakan atap atau tetap terbuka, sedangkan penonton mengeliling panggung tempat bermain.
Urutan pertunjukan Kemidi Rudat biasanya dibuka dengan nyanyian-nyanyian yang diiringi oleh tabuhan tra-disional, yang lebih dekat dengan alat musik budaya Melayu, yaitu yang berupa “gamelan” dengan format kecil, ditambah dengan peralatan musik rebana, tambur (jidur), dan biola. Irama musik yang dihidangkan ada-lah  irama musik “stambulan”, irama musik Melayu.
Cerita-cerita yang dihidangkan Komidi Rudat bersumber dari cerita Melayu Lama, dengan menggunakan ba-nyak bahasa Melayu Lama yang telah dipadu dan disesuaikan dengan bahasa setempat. Cerita-cerita terse-but biasanya telah diadaptasi dengan cerita rakyat setempat. Nyanyian sering menggunakan bahasa Arab, yang dibawakan sambil menari. Tema cerita merupakan “roman kehidupan” dengan latar kerajaan Melayu, dengan judul di antaranya Siti Jubaedah, Jula-Juli Bintang Tujuh, Indera Bangsawan dan lain sebagainya.
Laku dramatik yang disajikan umumnya dalam bentuk komedi, banyak banyolan dan lelucon. Sering dilontar-kan sindiran, pesan atau komentar selama pertunjukan, yang semua diungkapkan dalam bentuk lelucon. Gaya bermain bersifat realis dan karikatural. Seluruh peran dalam Komidi Rudat dimainkan oleh pria.
Tokoh-tokoh dalam cerita, serupa dengan tokoh-tokoh dalam Teater Bangsawan atau Mamanda, yaitu terdiri dari Raja, Puteri (disebut Nyonya), dua orang Wazir, dua orang Khadam (pelawak), seorang putera atau puteri Raja, Raja Jin, dan Kepala Perampok. Tata Busana yang digunakan pun serupa, yaitu kostum penuh warna gemerlapan sebagaimana pada cerita-cerita Seribu Satu Malam.
Untuk peran utama atau Komandan dalam Kemidi Rudat, pakaiannya terdiri dari baju lengan panjang dengan warna gelap, celana panjang bergaris pada kiri dan kanan, memakai selempang dan “epolet” berjumbai (se-perti pada Mamanda) serta penutup kepala berupa topi (tarbus). Menggunakan perlengkapan pedang.  Pemain pembantu memakai pakaian seragam, baju lengan panjang dengan celana panjang warna gelap/hitam, berselempang dan bertarbus. Untuk peran tokoh Khadam (pelawak), Nyonya dan Raja Jin dan Perampok, masing-masing memiliki pakaian khas tersendiri.
Pemain musik/penabuh terdiri dari minimal 5 (lima) orang, yaitu pemain biola, tiga pemain rebana, dan seorang lain pemain tambur. Dalam perkembangannya sering ditambah dengan perlengkapan musik lain, yang dianggap diperlukan untuk lebih meramaikan pertunjukan.
Properti/perlengkapan yang digunakan sangat sederhana, yaitu memanfaatkan peralatan yang tersedia.  Mi-salnya untuk keperluan “kursi takhta kerajaan” cukup menggunakan kursi biasa dengan ditambah sedikit hia-san kertas warna emas.
Kemidi Rudat merupakan contoh bentuk Teater Transisi, yaitu suatu bentuk teater tradisi yang telah mempe-roleh pengaruh teater non-tradisi, nampak dari perubahan dan pengembangan panggung berikut segala ke-lengkapannya. Banyolan yang spontan dalam pertunjukan Kemidi Rudat merupakan gaya permainan yang memperoleh porsi lebih.

Kemidi Rudat sampai saat ini masih terdapat di desa Brembang, kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Saat ini sudah jarang  dipertunjukkan.

Daftar  Pustaka :
Amir,  Hazim                   –   Nilai-nilai Etis dalam Wayang                                                 Sinar Harapan-Jakarta.   1994
Achmad, A. Kasim         – Teater Rakyat di  Indonesia                                             Majalah Analisis Kebudayaan (1980)                                           Terbitan: Depdikbud Tahun I, No 2
Achmad, A. Kasim, dkk  – Ungkapan Beberapa Bentuk Kesenian                                               Terbitan Direktorat Kesenian (1982)
Awuy, F. Tommy,            – Teater Indonesia  (konsep, Sejarah & Problema)                                             Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta  (1999)   Brandon, James R.      – Theatre in  Southeast Asia                                         Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts  (1967)
Bujang, Rahmah        – Seni Persembahan Bangsawan                                         Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1989)
Brockett, G. Oscar,         – The essential Theatre                                              Holt, Rinehart and Winton, Inc. 1976
Edi Sedyawati,               – Pertumbuhan Seni Pertunjukan                                            Penerbit: Sinar Harapan (1981)
Sal. Murgijanto &  ,          – Teater Daerah Indonesia       I. Made Bandem             Penerbit Kanisius – Jogyakarta – 1996
Soedarsono                       – Jawa dan Bali – Dua Pusat Perkembangan                                                                    Tari tradisional di Indonesia                                              Gadjah Mada University Press, Jogyakarta. 1972
Seno Sastroamidjojo,      – Renungan tentang Pertunjukan Wayang Kulit                                              P.T. Kinta Djakarta. –  Jakarta – 1964
Suseno, Frans Magnis      – Etika Jawa                                                 Penerbit: PT.Gramedia, Jakarta (1984)
Sutrisno, Fx.Mudji           – E s t e t i k a  (Filsafat Keindahan)                                             Penerbit: Kanisius Yogyakarta (1993)
Soemardjo, Jakob.    – Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia                                Citra Aditya Bakti . Bandung – 1992

Supriyanto, Henri           – Lakon Ludruk Jawa Timur                                          Penerbit Grasindo – Jakarta   (1992)
Suyana, Jajang                – Wayang Golek Sunda                                            Kajian Estetika Tokoh Golek                                           Penerbit Kiblat – Bandung      Malaon T.Indra (dkk),  –   Menengok Tradisi                                            Dewan Kesenian Jakarta  1986
Mertosedono, Amir   –  Sejarah Wayang (Asal usul, jenis dan Cirinya)                                        Dahara Prize – Semarang  (1994)
Hamzah, Amir            –  Sastra Melayu Lama dan Raja-rajanya                                          Penerbit : Dian Rakyat – Jakarta  – (1996)
Harun Chairul           –   Kesenian Randai di Minangkabau                                        Proyek Media Kebudayaan – Depdikbud – 1991/1992)
Holt, Claire                – Art in Indonesia – Contonuities and changes                                       Cornel  University Press, Ithaca, New York  1967
Humar Sahman          – Estetika   (Telaah Sistemik & Historik)                                       Penerbit: IKIP Semarang Press (1993)
Hendrowinoto, Nirwanto  – Seni Budaya Betawi Menggiring Jaman                (dkk).               Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. 1998
Yousof, Ghulam Sarwar    – Traditional Theatre in Southeast Asia                                                  A Prelimenary Survey     (1993)                                                Pusat Seni – University Sains Malaysia -Pulau Pinang                                            .- Dictionary of Traditional Southeast Asian Theatre                                                 Oxford University Press – Kuala lumpur  (1994)
Kayam, Umar           –  Seni, Tradisi, Masyarakat  – Sinar Harapan, Jakarta  1981
Navis, A.A.             –   Alam terkembang jadi Guru                                        Adat Kebudayaan Minangkabau                                        P.T. Pustaka Gratifipers – Jakarta (1984)
Osman, Mohd Taib   – Traditional Drama and Music of Southeast Asia                                                                           Dewan Bahasa dan Pustaka , Kuala Lumpur (1974)
Tiongson, Nicanor J. – The Cultural Traditional Media of Asean       (Editor)                    Project of the Asean Committee on Culture and Information                                                               Printed in Manila (1986)
To Thi Anh             –  Nilai Budaya Timur dan Barat  (Konflik atau harapan ?)                                       Penerbit: PT. Gramedia – Jakarta – (1984)    Peurseun, C.A. van   – Strategi Kebudayaan, (Terjemahan: D.Hartoko).                                       Kanisius,Yogyakarta   1976
Pigeaud, Th.,           – Javaanse Volksvertoningen, Bydrage tot de Beschrijving                                       van Land en Volk                                 Ultgave Volklectuur Batavia –  1938
Wijaya  & F.A.Sucipto,    – Kelahiran dan Perkembangn Ketoprak                                                Proyek Pembinaan Kesenian- Departemen P & K -1977
W. M. Soetardjo,  (et.al),  – Bagi Masa Depan Teater Indonesia                                          PT. Granesia Bandung , Bandung (1983)                  Wilson, Edwin & Goldfarb, Alvin   – Theater: The lively Art –                                                                    McGraw-Hill ,Inc   1991

Tulisan dalam Majalah, Jurnal, – Paper dalam sarasehan atau seminar
Achmad, A. Kasim  –  Teater tradisional dengan latar belakang budaya Melayu                                      Makalah dalam seminar Kebudayaan Melayu di STSI                                     Jurnal: Ekpresi Seni –STSI –Padang Panjang, Vol.I no:1 (2001)
Bandem, I. Made     –  Seni tradisi ditengah arus perubahan                                     IDEA -Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan, ISI – Jogyakarta                                                                                – Edisi 1  – Nopember (2000)
Esten, Mursal           –  Arti tradisi dalam perkembangan Kebudayaan                                     Makalah dalam seminar Kebudayaan Melayu                                     ASKI – Padang  Panjang –  (1996)
Yuliadi, Koes           –  Lenong Betawi dalam persilangan Budaya.                                    IDEA -Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan, ISI – Jogyakarta                                                                               – Edisi 1  – Nopember (2000)

Kumpulan makalah    – Seni Pertunjukan Rakyat dalam forum Sarasehan                                      Proyek Pengembangan Kesenian – Depdikbud – (1982/1983)
– Ungkapan beberapa bentuk Kesenian                                      Proyek Pengembangan Kesenian – Depdikbud – (1983/1984)

BIODATA PENULIS :

Nama lengkapnya Agustinus Kasim Achmad, lahir di Semarang, 5 April 1935.  Setelah tamat SMA bagian B di kota kelahirannya pada tahun 1954, ia melanjutkan kuliah di ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) di Jakarta. Tahun 1969 memperoleh beasiswa untuk mempelajari Technical Theatre Training di East West Cen-ter – University of Hawaii, USA, selama 2 semester.  Tahun  1972  memperoleh kesempatan mengikuti  A Course in “Film in Development“ di Kuala Lumpur, Malaysia. Belakangan, pada tahun 1993 mengikuti Training Programme in Theatre Production  di Canada.
Pensiunan sebagai Pegawai Negeri Sipil pada tahun1990, ia tetap di bidang seni teater sepanjang karirnya. Selama lebih dari limabelas tahun menjabat Kepala Sub-Dit. Seni Teater – Dit. Jen. Kebudayaan – Depdikbud. Setelah pensiun, menjadi pengajar tetap di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Ia sempat menjabat sebagai Ketua Jurusan Teater – Fak.Seni Pertunjukan IKJ (1990-1993) dan Pembantu Rektor III –IKJ (1993–2000).
Memperoleh kesempatan mengikuti berbagai seminar teater tradisional di Korea, Malaysia dan Bangkok. Memimpin berbagai Festival Teater Asean di Kuala Lumpur, Manila dan Singapura.                  Membuat film dokumentasi teater tradisional dari berbagai daerah, antara lain: Randai; Mamanda; Makyong; Dulmuluk; Longser Topeng Dalang,  Arja, Sejarah lahirnya Ketoprak;  Teater Tutur: Kentrung, Dalang Jembung. Saat ini menjadi dosen tetap mata kuliah  Pengantar Dramaturgi, Teater Tradisional di Indonesia dan Teater Asia (Teater Timur).

About these ads
Explore posts in the same categories: Teater

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: