Teori Dasar Jurnalistik


Sosok Reporter

  • Reporter adalah kombinasi antara pekerja dan (seniman) susastra. Hal ini nampak dalam ketrampilan membangun ide dan konsep informasi, melalui akurasi kata, kalimat dan bahsa yang dikemas dalam estetika produksi jurnalisme.
  • Reporter, dengan demikian, adalah arsitek tulisan yang mahir merangkai kata, kalimat, bahasa, sumber informasi dan suasana peristiwa menjadi rangkaian tulisan yang mampu menggambarkan imajinasi pembaca sesuai visualisasi peristiwa yang diliputnya. Sehingga, pembaca terhindar dari bias makna.
  • Ia seorang intelektual yang selalu selangkah ke depan dalam visi dan gagasan. Karakter ini nampak melalui informasi aktual dan faktual yang dilaporkan atas kepekaannya menangkap gejala di lingkungannya.
  • Reporter juga bisa diibaratkan sebagai penguasa yang arif dan bijaksana, lantaran kesadaran peranannya yang kuat dalam membangun opini publik. Ia akan sangat mempertimbangkan dampak emosional publik akibat tulisan yang dipublikasikan.

Mencermati kualifikasi di atas maka seorang reporter harus menguasai lima persoalan Reportase Dasar:

  1. Syarat Utama Reporter
  2. Devinisi Berita
  3. Jenis Berita
  4. Proses Pencarian Berita
  5. Menulis Berita

Syarat Utama Seorang Reporter

  • VITALITAS

Pertama-tama menjadi reporter adalah bukan karena keluasan pengetahuan atau keluasan bergaul semata, melainkan VITALITAS!

James Reston, kolomnis termashyur mantan wartawan New York Times selalu menekankan hal ini: “Sedang-sedang pun kecerdasannya, asal vitalitasnya tinggi, seorang reporter akan bisa jadi jurnalis handal.”

Vitalitas adalah kunci kegairahan mencari dan menyiarkan sesuatu yang baru. Tidak ada kata menyerah, sebelum mendapatkan yang diinginkan.

  • MENGUASAI ILMU KOMUNIKASI

Menguasai berbagai ilmu komunikasi, baik komunikasi personal, komunikasi massa, komunikasi antar budaya, dan lainnya. Kemampuan ini bersifat mutlak, karena dunia reportase adalah dunia komunikasi.

  • MENAATI BERBAGAI REGULASI JURNALISTIK

Menaati berbagai regulasi yang berhubungan dengan dunia jurnalistik, juga regulasi yang menyangkut tuntutan profesionalisme kewartawanan. Tanpa memahami dan mentaati regulasi yang memagari, berarti tidak mampu menyadari fungsi dan perannya. Dan regulasi tidak hanya hanya berupa undang-undang, melainkan juga kode etik, standardisasi profesi dan lainnya.

Devinisi Berita

Beberapa definisi BERITA:

¨      Paul De Maessenner (penulis buku “Here’s The News”) mengartikan, BERITA adalah sebuah informasi baru tentang sesuatu peristiwa yang penting dan menarik perhatian serta minat khalayak pembaca.

¨      Mitchel V Charnley (penulis buku “Reporting”) mengartikan, BERITA adalah laporan tentang fakta atau opini yang menarik perhatian dan penting, yang dibutuhkan sekelompok masyarakat.

¨      Charnley bersama pakar jurnalisme James M Neal menambahkan, BERITA adalah laporan tentang sesuatu peristiwa, opini, kecenderungan, situasi, kondisi, interpretasi yang penting, menarik, masih baru dan harus secepatnya disampaiakan pada khalayak.

¨      Dari beberapa devinisi tadi Errol Jonathan, wartawan dan pakar jurnalisme radio, menarik hakekat berita harus memenuhi kriteria: AKTUAL, FAKTUAL, PENTING dan BERDAMPAK.

Berita, secara teknis, baru muncul hanya setelah DILAPORKAN. Segala hal yang diperoleh di lapangan dan masih akan dilaporkan, belum merupakan berita. Hasil lapangan itu masih tetap merupakan PERISTIWA itu sendiri, PERISTIWA yang “disaksikan oleh reporter. BERITA TIDAK LAIN TIDAK BUKAN ADALAH PERISTIWA YANG DILAPORKAN. Artinya, BERITA HARUS SELALU DENGAN PERISTIWA, dan untuk melengkapinya PERISTIWA HARUS SELALU DENGAN JALAN CERITA.

Unsur berita meliputi:

  1. Peristiwa apa yang terjadi?
  2. Siapa yang terlibat?
  3. Kapan terjadi?
  4. Di mana?
  5. Bagiamana kejadiannya?
  6. Mengapa terjadi?

Dalam tradisi jurnalistik, ke enam unsur di atas lazim dikenal dengan 5W1H: What, Who, When, Where, Why  dan How. Semua unsur ini memiliki kekuatan sendiri, tergantung NILAI BERITA-nya. Sebab, SETIAP PERISTIWA MENGANDUNG NILAI  BERITANYA SENDIRI. Artinya, untuk melaporkan peristiwa, perlu menakar nilai beritanya. Mana di antara unsur tadi yang akan dijadikan fokus beritanya. Apakah di APA-nya, SIAPA-nya, atau DI MANA-nya, dst.

Dalam tradisi jurnalistik di Barat merumuskan NILAI BERITA sebagai berikut:

1.  CONSEQUENCES

Berhubungan dengan besar kecilnya dampak peristiwa pada masyarakat.

2.  HUMAN INTEREST

Berdasarkan menarik atau tidak dari segi ragam cara hidup    manusia.

3.  PROMINENCE

Besar kecilnya ketokohan orang yang terlibat peristiwa.

4.  PROXIMITY

Jauh dekatnya lokasi peristiwa dari orang yang mengetahui beritanya.

5.  TIMELINESS

Baru tidaknya atau penting tidaknya saat peristiwa itu terjadi.

Jenis/Model Berita

Secara garis besar penulisan berita bisa digolongkan:

¨      Straight News

Biasa disebut jurnalisme konfensional dengan model pelaporan yang mengutamakan AKTUAL, FAKTUAL, PENTING dan BERDAMPAK. Bentuk penulisannya berdasar rumus 5W 1H

¨      Literary Journalism (New Journalism)

Jenis ini dikenal dengan dengan jurnalisme sastrawi. Menurut Thomas Kennerly Wolfe, Jr (peletak dasar teoteris, akademis dan praktis literary journalism), inti penulisan berita seperti ini adalah untuk mengantarkan imajinasi pembaca untuk menyaksikan langsung peristiwa yang dilaporkan. Di antaranya dengan penggambaran mendetail untuk menciptakan visualisasi pada pembaca, sampai mereka seolah tidak sedang membaca berita di media cetak, melainkan sedang menonton berita di televisi. (Catatan: lahirnya literary jurnalism adalah untuk menyaingi berita di televisi pada tahun 1960-an!)

¨      Narrative Journalism

Merupakan perkembangan literary journalism yang dilakukan oleh Mark Kramer pada 1990-an. Inti penulisannya adalah tetap mengutamakan rumus 5W 1H, namun dengan penguatan data yang lebih mendalam, ilmiah dan konferhensip. Jenis tulisan ini biasa dipakai untuk penulisan feature atau artikel-artikel pada jurnal ilmiah atau majalah ilmiah populer.

Tahapan Penulisan Berita

¨      Menemukan peristiwa dan jalan cerita.

¨      Cek, ricek, dan triple cek jalan cerita.

¨      Memastikan sudut berita.

¨      Menentukan lead atau intro.

¨      Menulis (naskah) berita.

Konsep Penulisan Berita

¨      Konsep Piramida Tegak (literary form):

ü  Introduksi

ü  Fakta/Pokok masalah

ü  Klimaks/Kesimpulan

Piramida Tegak menggunakan alur cerita kronologis.

¨      Konsep Piramida Terbalik (Fokus):

ü  Lead

ü  Atmosfer

ü  Background

ü  Fakta Pendukung

Piramida Terbalik tidak mementingkan kronologis, tetapi lebih pada inti berita yang diletakkan di awal tulisan (lead).

Literary Journalism

Sebagai Model Penulisan Berita Seni

“Di ruang pengadilan, Provenzano mulai menghadapi kenyataan. Hakim menceramahinya. Keringat bermunculan di bibir atas Provenzano. Hakim mengganjarnya tujuh tahun. Provenzano kembali memutar-mutar cincin merah jambunya dengan tangan kanan”

Kutipan di atas bukan diambil dari novel. Melainkan, berita hasil liputan wartawan Jimmy Breslin tentang peradilan Anthony Prevenzano, bos pemeras (Koran tempo, Ruang Baca, hal 20, edisi 04, 22 Juni 2002).

Maknanya, penggambaran secara detail suasana fisik dan psikologis Provenzano, oleh Breslin, adalah untuk mengantarkan imajinasi pembaca untuk seolah menyaksikan langsung proses peradilan Provenzano. Breslin melukiskan bibir atas terdakwa yang berkeringat setelah diceramahi hakim. Tak lupa, Breslin juga menuliskan bagaimana Provenzano memutar-mutar cincin merah jambunya sebgaia gambaran betapa gundah hati bos pemeras itu, setelah divonis tujuh tahun penjara.

Model jurnalisme seperti di atas adalah termasuk literary journalism. (Baca “Jurnalisme Sastra”, Septiawan Santana Kurnia).

Dalam konteks jurnalisme seni, agaknya model literary journalism lebih cocok untuk mendedahkan informasi yang berkaitan dengan dunia kesenian dan pelakukanya. Kekuatan seni adalah makna simbolik yang sering terkandung di dalamnya. Kekuatan literary journalism adalah daya imajinasi yang mengantarkan pembaca ke peristiwa sesungguhnya. Kekuatan literary journalism dengan demikian ada pada keunggulannya untuk menguak makna di balik simbol-simbol yang ditangap.

Literary Journalism adalah satu dari sekian genre dari sekian banya genre dalam jurnalisme. Dikenalkan pertama kali oleh seorang wartawan dari Amerika Serikat, Thomas Kennerly Wolfe, pada tahun 1974 dengan istilah new journalism. Lalu ada yang menybutnya sebagai passionate journalism. Sementara di Indonesia dikenal dengan istilah jurnalisme sastra atawa jurnalisme sastrawi.

Wolfe sekurangnya menyebutkan empat hal yang membedakan genre ini berbeda dengan pnulisan feature yang sedang trend dalam model pnulisan surat kabar Amerika dekade itu, yaitu:

  1. Mengandalkan dialog dan adegan
  2. Teknik reportasenya dikenal dengan teknik immerse reporting, di mana reporter seolah-olah menyusup dalam cerita yang sedang dikerjakannya.
  3. Reportasenya tak sekedar meliput dua pihak tapi multi liputan.
  4. Waktu riset dan wawancara biasanya panjang sekali, bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, agar tulisannya mendalam.

Tulisan dalam genre ini biasanya panjang. Majalah Tne New Yorker bahkan pernah menerbitkan laporan John Hersey tentang “Hiroshima” dalam satu edisi penuh pada Agustus 1946.

Di Indonesia belum ada surat kabar yang memakai gaya penulisan ini. Jurnalisme sastra tidak identik dengan bahasa yang puitis. Salah pengertian pada para jurnalis di Inodnesia adalah mengidentikannya dengan bahasa puitis. Padahal bahasa yang digunakan gaya ini tak harus mendayu-dayu laiknya karya-karya sastra picisan.

Robert Vare, wartawan asal Amerika yang pernah bekerja untuk The New Yorker dan The Rolling Stone, menyebutkan tujuh pertimbangan yang mesti diperhatikan para jurnalis yang hendak menulis dengan genr ini:

¨     Fakta

Penulisan jurnalisme selalu mensakralkan “fakta”. Fakta itu suci, demikian keyakinan yang senantiasa dipompakan dalam benak jurnalis. Walaupun genre ini memakai istilah “sastra”, namun justru penekanan kata “jurnalisme” di depannya mengharuskan pencarian fakta yang senyatanya. Karenanya, fakta adalah “suci” baginya. Setiap detail adalah kenyataan realitas yang sebenar-benarnya. Pendeknya, jurnalis yang menggunakan genre ini harus berpegang pada rumus 5W 1H dengan akurasi data yang disakralkan. Bahkan untuk akurasi informasinya, seorang jurnalis harus melakukan cross chek dari sumber yang terkait.

Jika ternyata setelah diuji silang terdapat perbedaan informasi dengan sumber yang lainnya –untuk tema/berita yang sama—terdapat dua pilihan. Yaitu, tidak dipakai sama sekali. Atau dilaporkan dari sudut pandang yang berbeda satu sama lain. Tentu saja sejauh tidak terletak pada esensi pemberitaannya. Barangkali perbedaannya hanya pada detail.

¨     Konflik

Sebuah tulisan panjang akan memiliki daya pikat yang tinggi dan terjaga bila ada konflik. Ini bisa berupa pertikaian antar individu tokoh berpengaruh, populer atau figur publik. Bisa juga pertikaian antar kelompok, golongan, bangsa, dst.

Namun, konflik juga bisa berupa pertentangan seseorang dngan hati nuraninya. Bisa pula dengan pertentangan seseorang atau kelompok dengan tata nilai di masyarakat dan lingkungannya. Pendeknya, “pertikaian” adalah unsur penting dalam sebuah laporan panjang.

¨     Karakter

Jurnalisme sastra mensyaratkan karakter-karakter tokoh. Karakter tokoh menambah atau membantu daya pikat sebuah laporan. Ada karakter utama. Ada karakter pembantu. Karakter utama seyogyanya adalah tokoh yang terlibat dalam pertikaian. Karakter utama seyogyanya juga berkepribadian menarik, kharismatik, fenomenal.

¨     Akses

Reporter seyogyanya memiliki akses pada karakter utama, atau orang-orang yang mengenal karakter utama. Akses bisa berupa dokumen, korespondensi, buku harian, album foto, wawancara, dan sebagainya.

Syukur bisa mampu memiliki akses sebagaimana seorang penulis biografi, yang aksesnya sangat luar biasa. Bisa masuk ke wilayah-wilayah pribadi karakter utama, baik dari persoalan percintaan, skandal sex, kejahatan dan sebagainya.

¨     Emosi

Jurnalisme satra mmbutuhkan mosi-emosi dari karakter-karakter tokohnya. Emosi bisa berupa cinta, pengkhianatan, kebencian, loyalitas, dedikasi, kekaguman, oportunisme dan seterusnya.

Emosi menjadikan laporan lebih “bercerita”, dan cerita itu akan lebih “hidup” karena adanya emosi.

Emosi karakter juga bisa berubah-ubah bersamaan dengan dinamika waktu. Misalnya, semua si karaktr menghormati mentornya. Suatu kejadian besar menguji apakah ia perlu tetap menghormati atau tidak. Di sini mungkin akan muncul pergulatan batin. Mungkin ada perdebatan intelektual. Dan ini cukup memberi ruang buat emosi. Apa emosi karakter ketika memenangkan pertarungan? Atau sebaliknya, bagaimana emosi karakter ketika mendapati kekalahannya.

¨     Perjalanan Waktu

Agaknya perbedaan antara jurnalisme sastra dengan straigt news atau jurnalisme konfensional, atau jurnalisme harian adalah keterkaitannya dengan waktu. Robert Vare mengibaratakan laporan surat kabar harian dengan sebuah potrt. Snap Shot.

Sementara, laporan panjang dengan gaya penulisan sastrawi adalah seprerti sbuah film yang sedang diputar. Vare menyebutnya “series of tim”. Peristiwa berjalan bersama waktu. Ia memiliki konskuensi penyusunan kerangka karangan. Bersifat kronologis, atau flash back? Atau dibolak-balik, namun tetap dengan benang merah untuk menghindari kebingunan pembaca?

Panjang waktu tergantung kebutuhan. Sebuah laporan tentang kehamilan bisa dibuat dalam kerangka waktu sembilan bulan. Tapi bisa juga dibuat dalam kerangka waktu dua, tiga tahun dan sebagainya. Malah bisa juga sebaliknya, dibuat sekian menit ketika si ibu bergulat hidup atau mati di ruang persalinan.

¨     Kebaruan

Ketika akan membuat laporan panjang harus mempertimbangkan unsur kebaruan. Tak ada gunanya mengulang-ulang lagu lama. Akan lebih baik dan lebih mudah mengungkapkan kebaruan itu dari kaca mata orang-orangbiasa yang menjadi saksi peristiwa besar. John Hersey, dalam laporan “Hiroshima” misalnya, mewancarai seorang dokter, pendeta, seorang sekretaris dan seorang pastor dari jerman untuk merekonstruksi pemboman hiroshima.

Hasilnya? John Hersey menceritakan dahsyatnya bom itu secara detail. Ada kulit terkelupas. Ada kematian yang menyeramkan. Ada desas-desus soal bom rahasia. Ada persaan dendam. Perasaan rendah diri. Semua terungkap dari salah satu artikel termasyur dalam sejarah jurnalisme Amerika. Hersey mempublikasikannya setahun setelah bom nuklir itu dijatuhkan. 

Memang tidak/belum ada format yang pasti untuk penulisan jurnalisme seni. Karena pada intinya proses pemberitaan apa pun, harus melalui ketrampilan dasar jurnalisme. Karenanya pula, umumnya pada surat kabar-surat kabar umum (Harian Umum), para reporternya tidak dikhususkan pada bidang yang dikuasai berdasar disiplin ilmunya. Reporter adalah seolah dewa yang “maha tahu”, untuk menuliskan apa saja yang dikehendakinya. Tentu ada benarnya, sejauh semua kualifikasi yang menjadi sarat reporter dikuasai.

Artinya, penulisan model literary journalism mutlak harus menguasai terlebih dahulu dasar-dasar jurnalisme konfensional. Karena semua jenis berita harus berdasar perangkat jurnalisme. Tinggal angel, fokus, sudut berita atau perspektif mana yang hendak diangkat dari peristiwa yang hendak dituliskan tersebut. Dengan kata lain, penulisan BERITA BUDAYA, RESENSI PRODUK BUDAYA, TOKOH, FEATURE, sampai ke penulisan ESSAY dan atau ARTIKEL BUDAYA semua tidak lepas dari teori dasar jurnalisme.

DAFTAR PUSTAKA

Rainers Adam, dkk, Politik dan Radio (Buku Pegangan bagi Jurnalis Radio), Jakarta: PT Sembrani Aksara Nusantara, 2000.

Parakutri T simbolon, Vademekum Wartawan (Reportase Dasar), Jakarta: Gramedia, 1997. F Rahmadi, Perbandingan Sistem pers Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1990.

Bambang Sadono, Penyelesaian Delik Pers Secara Politis, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1993.
Atmakusumah, Kebebasan Pers Dan Arus Informasi Di Indonesia, Jakarta: Lembaga Studi Pembangunan, 1981.
Profil Wartawan Indonesia, Jakarta: Proyek Pembinaan dan Pengembangan Pers Deppen RI 1977.
Omi Intan Naomi, Anjing Penjaga, Pers di Rumah Orde Baru, Jakarta: Gorong-Gorong Budaya, 1996.
About these ads
Explore posts in the same categories: Jurnalistik

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: