TOKOH-TOKOH SENI DAN BUDAYA
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||
|
H.B Jassin
Paus Sastra IndonesiaSejarah mencatat, sepanjang hidupnya HB Jassin menumpahkan perhatiannya mendorong kemajuan sastra-budaya di Indonesia. Berkat ketekunan, ketelitian dan ketelatenannya, ia dikenal sebagai kritisi sastra terkemuka sekaligus dokumentator sastra terlengkap. Kini, kurang lebih 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi pengarang yang dihimpunnya tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Begitu besarnya pengaruh HB Jasin di antara kalangan sastrawan, Gajus Siagian (almarhum) menjulukinya “Paus Sastra Indonesia”. Saat itu berkembang suatu ‘keadaan’ dimana seseorang dianggap sastrawan yang sah dan masuk dalam ‘kalangan dalam’ bila HB Jassin sudah ‘membabtisnya’. Meski kedengarannya berlebihan namun begitulah adanya. Saat itu, ada beberapa pengarang yang lama berada di ‘kalangan luar’ sebelum akhirnya diakui masuk dalam ‘kalangan dalam’ seperti Motinggo Busye, Marga T yang aktif produktif mengarang, dan penulis novel-pop lainnya. Padahal karya-karya mereka cukup baik, berseni dan bernilai bernas. Mereka lama berada di ‘kalangan luar’ karena “pengaruh besar kepausan” HB Jassin. HB Jassin jugalah yang menobatkan Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan ’45. Lebih dari 30 tahun, julukan itu disandangnya. Jassin rajin dan tekun mendokumentasikan karya sastra, dan segala yang berkaitan dengannya. Dari tangannya lahir sekitar 20 karangan asli, dan 10 terjemahan. Yang paling terkenal adalah Gema Tanah Air, Tifa Penyair dan Daerahnya, Kesusasteraan Indonesia Baru Masa Jepang, Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai (empat jilid, 1954-1967) dan tafsir Alquran dalam buku Qur’an Bacaan Mulia. Pada saat ulang tahunnya ke-67, PT Gramedia menyerahkan ”kado” buku Surat-Surat 1943-1983 yang saat itu baru saja terbit. Di dalamnya terhimpun surat Jassin kepada sekitar 100 sastrawan dan seniman Indonesia. Jassin memulai dan meneruskan kariernya dari banyak membaca. Lahir 31 Juli 1917 di Gorontalo, Sulawesi Utara, anak kedua dari enam bersaudara ini berayahkan seorang bekas kerani BPM yang ”kutu” buku. Jassin mulai gemar membaca tidak lama setelah duduk di bangku HIS (SD). ”Waktu itu, cara membangkitkan minat baca murid sangat bagus,” tuturnya tentang sekolah yang mengajarkannya teknik mengarang dan memahami puisi. Teknik mengarang dan memahami posisi sudah dipelajarinya sejak masih duduk di HIS (SD). Di HBS Medan — saat ikut ayahnya yang pindah ke BPM Pangkalanbrandan, Sumatera Utara — ia mulai menulis kritik sastra, dan dimuat di beberapa majalah. Bekerja di kantor Asisten Residen Gorontalo seusai HBS — tanpa gaji — memberinya kesempatan mempelajari dokumentasi secara baik. Tetapi, belakangan Jassin menerima tawaran Sutan Takdir Alisjahbana, waktu itu redaktur Balai Poestaka, bekerja di badan penerbitan Belanda itu, 1940. Di sana ia juga berkarya sebagai penulis cerpen dan sajak. Tak lama kemudian ia beralih ke bidang kritik serta dokumentasi sastra. Adalah Armijn Pane yang mengajarinya membuat timbangan buku dengan lebih baik. Inilah awal jabatannya sebagai redaktur berbagai majalah sastra dan budaya, seperti Pandji Poestaka dan Pantja Raja, lalu setelah Indonesia merdeka, di Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra, Bahasa dan Budaya, Buku Kita, Medan Ilmu Pengetahuan, dan Horison. Bekas Lektor Sastra Indonesia Modern Fakultas Sastra UI ini tetap belajar sambil mengajar. Gelar sarjana sastra diraihnya pada 1957, dan doktor honoris causa, delapan belas tahun kemudian — keduanya di FS UI. Ia juga sempat mendalami ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, AS. Ia menguasai bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman. Ada kisah unik saat ia menempuh pendidikan di UI. Saat itu, HB Jassin merangkap sebagai mahasiswa dan mahaguru sekaligus. Ketika kuliah sastra-lama, terutama mata pelajaran Jawa Kuno, Sanskerta, HB Jassin menjadi mahasiswa, tekun duduk bersama mahasisawa lainnya dan penuh perhatian pada matakuliahnya. Tetapi begitu berganti matakuliah Sastra Modern, Masa Kekinian, HB Jassin berdiri dan maju ke depan, berdiri di podium lalu memberi kuliah, karena memang sebagai doktor Sastra Modern. Jadi dalam satu hari pada dua matakuliah, ia sekaligus bisa menjadi mahasiswa dan bisa menjadi mahaguru. Pada masa itu, orang seperti dia masih sangat langka. Ia memberikan teladan kepada para mahasiswa dengan rajin belajar, tekun, teliti dan sungguh-sungguh. HB Jassin terbilang bukan orang yang ahli berdebat atau ahli berbicara di depan umum. Ia adalah orang yang menulis, berpikir lalu menuliskannya, tekun, rajin, dan berhati-hati. Seringkali saat diajak berdebat di depan forum resmi, ia tidak meladeninya. Karena itu pula pada banyak kesempatan pada beberapa kali simposium sastra-budaya, konggres, konferensi, seminar, dia selalu menolak untuk berbicara yang sifatnya akan ada perdebatan. Pria yang tidak suka berdebat ini tidak bisa bersepeda. Ia lebih sering jalan kaki meski ada kalanya naik bis, becak dan kendaraan umum lainnya. Mungkin karena kebiasaannya itu ia panjang umur dan selalu dalam keadaan sehat pada zamannya. ”Wali Penjaga Sastra Indonesia” — julukan dari ahli sastra Indonesia Prof. A.A. Teeuw — ini pernah terganyang dan dikecam. Setelah menandatangani Manifes Kebudayaan (”Manikebu”), ia dituding oleh kelompok Lekra sebagai anti Soekarno. Akibatnya, ia dipecat dari Lembaga Bahasa Departemen P & K dan staf pengajar UI. Namun, HB Jassin mampu bersikap jujur. Mengomentari buku Pramudya Ananta Toer, Bumi Manusia, ia menilainya tidak mengandung hal-hal yang melanggar hukum. Pelarangan terhadap buku itu lebih banyak karena dikarang oleh bekas tokoh Lekra. Cerpen Ki Panji Kusmin, Langit Makin Mendung, yang dimuat HB Jassin dalam Sastra, 1971, sempat dianggap ”menghina Tuhan”. Di pengadilan, ia diminta mengungkapkan nama Ki Panji Kusmin sebenarnya. Permintaan ditolaknya. Akibatnya, HB Jassin dihukum satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Kritik sastranya bersifat edukatif dan apresiatif serta lebih mementingkan kepekaan dan perasaan daripada teori ilmiah sastra. Hasil dokumentasinya lebih dari 40 tahun — termasuk 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi pengarang — telah dihimpun dan disimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pria gemuk pendek ini menikah tiga kali. Istri pertama, Tientje van Buren, wanita Indo yang suaminya orang Belanda yang disekap Jepang, pisah cerai. Lalu Arsiti, ibu dua anaknya, meninggal pada 1962. Sekitar 10 bulan kemudian ia menikahi gadis kerabatnya sendiri, Yuliko Willem, yang terpaut usia 26 tahun. Yuliko juga memberinya dua anak. Dari kedua istri ini, ia memiliki empat anak, yakni Hannibal Jassin, Mastinah Jassin, Yulius Firdaus Jassin, Helena Magdalena Jassin, 10 orang cucu, dan seorang cicit. Ia meninggal pada usia 83 tahun, Sabtu dini hari, 11 Maret 2000 saat dirawat akibat penyakit stroke yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun di Paviliun stroke Soepardjo Rustam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Sebagai penghormatan, ia dimakamkan dalam upacara kehormatan militer “Apel Persada” di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta. *** Apa Kata Mereka Penyair Sapardi Djoko Damono menilai, dewasa ini banyak orang sekaliber HB Jassin, bahkan melebihinya. “Tetapi orang yang setia pada sastra seperti Pak Jassin tidak ada lagi. Selama 60 tahun hanya itu pekerjaannya,” ujar Sapardi yang pernah menjadi editor pada buku HB Jassin 70 Tahun, terbitan PT Gramedia tahun 1987. Menurut sejarawan Taufik Abdullah, HB Jassin adalah tokoh yang luar biasa dalam bidang sastra karena bisa memperkenalkan sastra kepada anak muda tahun 1950-an, yang sulit ditemui pada zaman sekarang. Yang lebih penting lagi, HB Jassin adalah pemelihara dokumentasi sastra terpenting di Indonesia. Tambahnya, “Dengan itu kita bisa menulis lebih baik.” Mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta Dr Salim Said berpendapat, HB Jassin adalah pencari bakat terbesar yang dimiliki Indonesia. Dia pula satu-satunya sastrawan Indonesia yang diakui pemerintah dalam bentuk anugerah Bintang Mahaputera, sehingga HB Jassin dimakamkan secara militer. Ia menilai HB Jassin banyak menemukan pengarang-pengarang muda berbakat yang dia dorong untuk menjadi pengarang. Kalangan seniman yang lebih muda pun tetap merasakan jasa Jassin. Penyair Dorothea Rosa Herliany (37) yang ditanya di Magelang, Jawa Tengah, mengaku tersentuh oleh sikap Jassin yang dalam keadaan sakit masih memperhatikan cerpen-cerpen anak muda. Kepada wartawan, Gus Dur berkata, “Saya dibesarkan dalam tulisan beliau di Mimbar Indonesia dan beberapa buku. Saya menghormati beliau, karena beliau adalah raksasa tempat kita berutang kepadanya.” Gus Dur mengaku terkesan dengan tulisan asli HB Jassin berjudul Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei, yang pertama kali diterbitkan tahun 1954. ►mlp *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation. |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation. |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation. |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation. |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation. |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
| Selasa, 1 Januari 2002 | :: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka :: | |||
| C © updated 220303 | |||||||||||||||||||||||||||||
|
Nama: Haji Ali Akbar Navis (AA Navis) Lahir: Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatera Barat, 17 November 1924 Meninggal: Padang, 22 Maret 2003 Agama: Islam Profesi: Sastrawan Isteri: Aksari Yasin (dinikahi tahun 1957) Anak: Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda dan Rika Anggraini Cucu (2003): 13 orang Pendidikan: INS Kayutanam (1932-1943) Pekerjaan: Sastrawan Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Provinsi Sumbar di Bukittinggi (1952-1955) Pemimpin Redaksi Harian Semangat di Padang (1971-1972) Dosen parttimer Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, jurusan Sosiologi Minangkabau (1983-1985) Ketua Yayasan Badan Wakaf Ruang Pendidik INS Kayutanam sejak tahun 1968 Ketua Umum Dewan Kesenian Sumatera Barat Karya Terkenal: Robohnya Surau Kami (1955) Bianglala (1963) Hujan Panas (1964) Kemarau (1967) Saraswati, si Gadis dalam Sunyi (1970) Dermaga dengan Empat Sekoci (1975) Di Lintasan Mendung (1983) Alam Terkembang Jadi Guru (1984) Hujan Panas dan Kabut Musim (1990) Jodoh (1998). Penghargaan: Hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1988) Lencana Kebudayaan dari Universitas Andalas Padang (1989) Lencana Jasawan di bidang seni dan budaya dari Gubernur Sumbar (1990) Hadiah sastra dari Mendikbud (1992) Hadiah Sastra ASEAN/SEA Write Award (1994) Anugerah Buku Utama dari Unesco/IKAPI (1999) Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI. Alamat: Jalan Bengkuang Nomor 5, Padang |
Ali Akbar Navis (In Memoriam)
Sastrawan, Sang Kepala PencemohIa salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Haji Ali Akbar Navis, lebih dikenal dengan nama AA Navis, yang di kalangan sastrawan digelari sebagai kepala pencemooh. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya. Sosoknya menjadi simbol energi sastrawan yang menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Penulis ‘Robohnya Surau Kami’ dan menguasai berbagai kesenian seperti seni rupa dan musik, ini meninggal dunia dalam usia hampir 79 tahun, sekitar pukul 05.00, Sabtu 22 Maret 2003, di Rumah Sakit Yos Sudarso, Padang. Indonesia kehilangan sastrawan fenomenal. Sang Pencemooh kelahiran Kampung Jawa, Padangpanjang, 17 November 1924,ini adalah salah seorang tokoh yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para kopruptor. Maka pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu risikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justeru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu. Kini, ia telah pergi. Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar. Ia meninggalkan satu orang isteri Aksari Yasin yang dinikahi tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika Anggraini serta sejumlah 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang. Gemala Ranti, kepada Wartawan Tokoh Indonesia mengatakan sastrawan besar ini telah lama mengidap komplikasi jantung, asma dan diabetes. Dua hari sebelum meninggal dunia, ia masih meminta puterinya itu untuk membalas surat kepada Kongres Budaya Padang bahwa tidak bisa ikut Kongres di Bali pada Mei nanti. Serta minta dikirimkan surat balasan bersedia untuk mencetak cerpen terakhir kepada Balai Pustaka. Sebelum dikebumikan sejumlah tokoh, budayawan, seniman, pejabat, akademis dan masyarakat umum, melayat ke rumah duka di Jalan Bengkuang Nomor 5, Padang. Di antaranya Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah A Syafii Maarif, Gubernur Sumbar Zainal Bakar, mantan Menteri Agama Tarmizi Taher, dan mantan Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin serta penyair Rusli Marzuki Sariah. Nama pria Minang yang untuk terkenal tidak harus merantau secara fisik, ini menjulang dalam sastra Indonesia sejak cerpennya yang fenomenal Robohnya Surau Kami terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah tahun 1955. Sebuah cerpen yang dinilai sangat berani. Kisah yang menjungkirbalikkan logika awam tentang bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka. Karena dengan kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin. Ia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Ia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri. Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia bahkan telah menjadi guru bagi bamyak sastrawan. Ia seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional. Ia banyak menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi. Ia yang mengaku mulai menulis sejak tahun 1950, namun hasil karyanya baru mendapat perhatian dari pimpinan media cetak sekitar 1955, itu telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya dan delapan antologi luar negeri serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri dan dihimpun dalam buku ‘Yang Berjalan Sepanjang Jalan’. Novel terbarunya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002. Beberapa karyanya yang amat terkenal, selain Robohnya Surau Kami (1955) adalah Bianglala (1963), Hujan Panas (1964); Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi, (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci, (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (editor 1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Hujan Panas dan Kabut Musim (1990), Cerita Rakyat Sumbar (1994), dan Jodoh (1998). Ia seorang penulis yang tak pernah merasa tua. Pada usia gaek ia masih saja menulis. Buku terakhirnya, berjudul Jodoh, diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta atas kerjasama Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, sebagai kado ulang tahun pada saat usianya genap 75 tahun. Cerpenis gaek dari Padang, A.A. Navis pada 17 November lalu genap berusia 75 tahun. Jodoh berisi sepuluh buah cerpen yang ditulisnya sendiri, yakni Jodoh (cerpen pemenang pertama sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldemroep 1975), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin (cerpen pemenang majalah Femina 1979), Kisah Seorang Pengantin, Maria, Nora dan Ibu. Ada yang ditulis tahun 1990-an ada yang ditulis tahun 1950-an. Padahal menulis bukanlah pekerjaan mudah, tapi memerlukan energi pemikiran serius dan santai. ”Tidak semua gagasan dan ide dapat diimplementasikan dalam sebuah tulisan, dan bahkan terkadang memerlukan waktu 20 tahun untuk melahirkan sebuah tulisan. Kendati demikian, ada juga tulisan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari saja. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan tekun tanpa harus putus asa. Saya merasa tidak pernah tua dalam menulis segala sesuatu termasuk cerpen,” katanya dalam suatu diskusi di Jakarta, dua tahun lalu. Kiat menulis itu, menurutnya, adalah aktivitas menulis itu terus dilakukan, karena menulis itu sendiri harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam kehidupan. Ia sendiri memang terus menulis, sepanjang hidup, sampai tua. Mengapa? ”Soalnya, senjata saya hanya menulis,” katanya. Baginya menulis adalah salah satu alat dalam kehidupannya. ”Menulis itu alat, bukan pula alat pokok untuk mencetuskan ideologi saya. Jadi waktu ada mood menulis novel, menulis novel. Ada mood menulis cerpen, ya menulis cerpen,” katanya seperti dikutip Kompas. Minggu, 7 Desember 1997. Dalam setiap tulisan, menurutnya, permasalahan yang dijadikan topik pembahasan harus diketengahkan dengan bahasa menarik dan pemilihan kata selektif, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya. Selain itu, persoalan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang penulis adalah bahwa penulis dan pembaca memiliki pengetahuan yang tidak berbeda. Jadi pembaca atau calon pembaca yang menjadi sasaran penulis, bukan kelompok orang yang bodoh. Ia juga menyinggung tentang karya sastra yang baik. Yang terpenting bagi seorang sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi seperti kereta api; lewat saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi. Ia sendiri mengaku menulis dengan satu visi. Ia bukan mencari ketenaran. Dalam konteks ini, ia amat merisaukan pendidikan nasional saat ini. Dari SD sampai perguruan tinggi orang hanya boleh menerima, tidak diajarkan orang mengemukakan pikiran. Anak-anak tidak diajarkan pandai menulis oleh karena menulis itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis, jadi terjadi pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan. Jadi, menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap, strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. “Tapi saya pikir itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka supaya tidak bodoh lagi,” katanya. Maka, andai ia berkesempatan jadi menteri, ia akan memfungsikan sastra. ”Sekarang sastra itu fungsinya apa?” tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan, tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik, umpamanya. Hal ini tak terlepas dari mental korup para elit bangsa ini. Maka andai ia diberi pilihan alat kekuasaan, atau menulis dan berbicara, yang dia pilih adalah kekuasaan. Untuk apa? Untuk menyikat semua koruptor. Walaupun ia sadar bahwa mungkin justeru ia yang orang pertama kali ditembak. Sebab, ”semua orang tidak suka ada orang yang menyikat koruptor,” katanya seperti pesimis tentang kekuatan pena untuk memberantas korupsi. Ia juga melihat Perkembangan sastra di Indonesia lagi macet. Dulu si pengarang itu, ketika duduk di SMP dan SMA sudah menjadi pengarang. Sekarang memang banyak pengarang lahir. Dulu juga banyak, cuma penduduk waktu itu 80 juta dan sekarang 200 juta. Saya kira tak ada karya pengarang sekarang yang monumental, yang aneh memang banyak. Perihal orang Minang, dirinya sendiri, ia mengatakan keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan. Ia mengatakan sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat pepatah tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar). Itulah AA Navis Sang Kepala Pencemooh. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber |
|||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero | ||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
| R updated 250103 | |||||||||||||||||||||||||||||
|
Nama: Gesang Martohartono Lahir: 1 Oktober 1917 Rekaman CD: Seto Ohashi (1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung (1970), Pandanwangi (1949), dan Swasana Desa (1939). Album Emas: |
Gesang Martohartono
Sebuah Legenda Maestro KeroncongTak banyak penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa menjadi legenda di masyarakat. Satu dari yang sedikit itu, ialah maestro keroncong asal Solo, Gesang Martohartono, pencipta lagu Bengawan Solo. Sebuah lagu keroncong yang menyeberangi lautan. Lagu yang sangat digemari di Jepang. Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. Lagu yang telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia. Dan, tak banyak pula dari penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa bertahan hingga usia 85 tahun. Gesang bahkan telah membuktikan bahwa dalam usianya yang ke-85 tahun, masih mampu merekam suaranya. Rekaman bertajuk Keroncong Asli Gesang itu diproduksi PT Gema Nada Pertiwi (GMP) Jakarta, September 2002. Peluncuran album rekaman itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun Gesang ke-85, yang diadakan di Hotel Kusuma Sahid di Solo, Selasa (1/10) malam. Hendarmin Susilo, Presiden Direktur GMP, menyebutkan produksi album rekaman Gesang yang sebagian dibawakan sendiri Gesang, merupakan wujud kecintaan dan penghargaannya pada dedikasi sang maestro terhadap musik keroncong. Sudah empat kali PT GMP memproduksi album khusus Gesang, yaitu pada 1982, 1988, 1999, dan 2002. Dari 14 lagu dalam rekaman compact disk (CD), enam di antaranya merupakan lagu yang belum pernah direkam. Yaitu Seto Ohashi (1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung (1970), Pandanwangi (1949), dan Swasana Desa (1939). Selebihnya lagu-lagu lama karya Gesang, yang temanya menyinggung usia Gesang yang sudah senja seperti Sebelum Aku Mati, Pamitan, dan tentu saja Bengawan Solo. Ini memang lebih sebagai album penghormatan atas sebuah legenda daripada sebuah produk yang tak punya selling point. Dalam album ini suara Gesang agak “tertolong” karena didampingi penyanyi-penyanyi kondang: Sundari Soekotjo, Tuty Tri Sedya, Asti Dewi, Waldjinah. “Terus terang, suara saya jelek. Apalagi saat rekaman itu saya sedang sakit batuk, sehingga terpaksa diulang-ulang hingga, ya, lebih lumayan,” ungkap Gesang polos. Menurut dia, sebenarnya aransemen dan iringan musik oleh Orkes Keroncong Bahana itu dia rasa kurang cocok untuk kondisi vokalnya. *** Mereka datang berombongan dari Jepang-asal Tokyo, Pulau Shikoku, Yokohama-dan tiba sehari sebelumnya. Setiap tahun anggota rombongan berganti-ganti, dan sebagian anggota tetap. Menurut Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang, Okihara Toshio, sebenarnya banyak warga Jepang yang berniat datang ke Solo, tetapi terbentur teknis untuk mengumpulkan mereka sehingga hanya terkumpul 26 orang. Bayangkan. Mereka menempuh jarak ribuan kilometer hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Gesang. Selain mesti membeli tiket pesawat terbang pergi-pulang dan mengeluarkan biaya akomodasi, mereka juga membawa cenderamata buat Gesang. Dari amplop berisi uang yen hinga lukisan. Bahkan ada yang sengaja datang ke Solo untuk bisa bernyanyi (bermain piano) bersama Gesang. Ada juga yang menari. Ia juga menyayangkan ketidakhadiran kalangan pemusik dan penyanyi keroncong setempat. Padahal panitia dari Jepang telah menyiapkan penghargaan kepada mereka. HUT Gesang malam itu terasa sepi tanpa kehadiran penyanyi Waldjinah, komponis Andjar Any, atau kalangan musik keroncong lainnya. Tak satu pun kalangan pejabat yang hadir, maupun mereka yang selama ini menyebut dirinya menghargai musik Indonesia. Barangkali ini sebuah ironi tentang sebuah bangsa yang konon sangat mengagungkan kepahlawanan. Ny Yokoyama mengaku, sebenarnya ia hanya melanjutkan usaha mendiang Hirano Widodo, salah seorang warga Jepang (tinggal di Klaten) pengagum Gesang. “Saya sudah telanjur berjanji pada Pak Hirano tatkala beliau dirawat di rumah sakit,” tutur Ny Yokoyama. Ia bahkan mengaku, sebelumnya tidak mengenal Gesang. *** Hendarmin mengaku, kecintaannya pada musik keroncong seperti sudah mendarah-daging, dan karena itu ia siap berkorban. Ia juga menghormati Gesang, bahkan telah menganggapnya sebagai “orangtua”-nya. Kalau bukan berdasar rasa kagum dan penghargaan yang mirip mitos, rasanya memang tak masuk akal sebuah perusahaan rekaman memproduksi album rekaman musik keroncong. “Apalagi di masa sulit sekarang ini,” kata Hendarmin. “Memang banyak teman Asiri yang menyebut saya gila.” Ditambahkan, kalau cuma dihitung dengan ilmu dagang, memproduksi album keroncong jelas merugi. Tentang besarnya prosentase pemasaran album musik keroncong, misal dibanding musik pop, Hendarmin bertamsil, “Wah, kita harus menggunakan kaca pembesar untuk bisa melihatnya.” Hendarmin juga menyebutkan, sebenarnya bukan hanya kalangan masyarakat Jepang yang mengagumi Gesang. Nama Gesang dengan Bengawan Solo-nya juga cukup dikenal pula di daratan Tiongkok. Dalam kaitan itu ia menyebut jasa Bung Karno yang pada masa lalu sering membawa misi kesenian ke RRC, juga Vietnam, dan negara Asia Tenggara yang lain. Bengawan Solo mata airmu dari solo itu perahu, riwayatmu dulu “Bengawan Solo” masuk ke Jepang untuk pertama kali sekitar setengah abad yang lalu di kala masa perang. Pada waktu tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, lagu itulah yang dari radio terdengar secara luas di kalangan serdadu Jepang serta orang-orang Jepang yang berada di sini. Seusai perang, berkat para tentara Jepang dan orang-orang perusahaan dagang Jepang yang pulang kembali ke negerinya, lagu tersebut kerap terpelihara eksistensinya, bahkan “Bengawan Solo” dengan syair dalam bahasa Jepang menjadi sangat populer. Konon orang orang di Jawa yang mendengar lagu itu merasakan ketenangan hati serta nostalgia, mengingatkan mereka akan masa mudanya karena melodi lagu serupa dengan lagu rakyat Jepang. Salah pengertian bahwa “Bengawan Solo” merupakan lagu rakyat yang komponisnya tidak dikenal, berlangsung cukup lama. Akan tetapi ada orang-orang Jepang yang berdaya upaya bagi terjalinnya pertukaran antar rakyat biasa dengan Indonesia, mereka mencari melodi-melodi indah dari negeri-negeri lain dan membantu para komponis yang terlupakan. Setelah mencari dan melacak keberadaan penggubahnya, Gesang pada tahun 1989, dengan dana yang dikumpulkan dari himpunan persahabatan Jepang-Indonesia di berbagai tempat di Jepang, telah dibentuk Dana Himpunan Gesang dengan alasan bahwa “Bengawan Solo bersifat Abadi”, bahkan sampai didirikan sebuah monumen patung setengah badan Gesang di Taman Jeruk, Kota Solo. Gesang datang pada festival salju Sapporo atas undangan himpunan persahabatan Sapporo dengan Indonesia pada tahun 1980, untuk pertama kali. Setelah itu telah berkali-kali datang ke Jepang atas undangan himpunan persahabatan Jepang. Demikianlah pagelaran keroncong berlangsung di Jepang untuk pertama kali dengan membawakan lagu “Bengawan Solo”. Melalui Gesang dan musik keroncong, orang menjadi sadar bahwa musik adalah sesuatu yang mutlak perlu bagi persahabatan dan perdamaian dunia. Lebih-lebih lagi, berkat kerendahan hati Pak Gesang; kepribadiannya telah membawa keakraban dan kehangatan bagi orang Jepang. Berkat kunjungannya ke Jepang, keroncong telah mengalami boom secara diam-diam. Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. “Bengawan Solo” yang melintasi batas negara, dengan memperkayakan hati manusia telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), sumber Kompas dan http://www.id.emb-japan.go.jp/283p18.html |
|||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
| R Kompas © updated 310503 | |||||||||||||||||||||||||||||
|
Nama: Ajip Rosidi Lahir: Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938 Isteri: Hj Patimah Profesi: Sastrawan-Budayawan Pekerjaan/Kegiatan: Pendiri Pusat Studi Sunda (2003) Selama 22 tahun (sejak April 1981) pengajar bahasa Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai), Osaka, Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto (1982-1996), Tenri Daigaku di Nara (1982-1995), dan di Asahi Cultural Center, Jepang. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981) Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979) Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) Pemimpin Redaksi Majalah Suluh Pelajar (1953-1955) pada usia 15 tahun Buku: Menulis lebih dari 50 judul buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda. |
Ajip Rosidi
Sosok Sastrawan dan Budayawan ParipurnaSosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap, paripurna. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu juga dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional. Sastra “Rancage” dan Sastra Daerah |
|
Kho Ping Hoo (1926-1994) Legenda Cerita SilatDia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar 400 judul serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa. Ceritanya asli dan khas. Dia pengarang yang memiliki ide-ide besar, yang tertuang dalam napas ceritanya yang panjang. Sepertinya dia tak pernah kehabisan bahan. Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya. Beberapa karyanya dirilis ulang media massa, difilmkan, disandiwararadiokan, dan di-online-kan, serta disinetronkan. Dia meninggalkan nama yang melegenda. Legenda Kho Ping Hoo, pernah menjadi sinetron andalan SCTV. Lewat penerbit CV Gema, karya-karyanya masih terus dicetak. Kho Ping Hoo bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, pengarang cerita silat yang memunculkan tokoh-tokoh silat dalam ceritanya, seperti Lu Kwan Cu, Kam Bu Song, Suma Han, Kao Kok Cu, atau Wan Tek Hoat dan Putri Syanti Dewi, Cia Keng Hong, Cia Sin Liong, Ceng Thian Sin, dan Tang Hay. Serta tokoh-tokoh dalam serial paling legendaris Bu Kek Siansu dan Pedang Kayu Harum. Dia juga banyak mengajarkan filosofi tentang kehidupan, yang memang disisipkan dalam setiap karyanya. Salah satu tentang yang benar adalah benar, dan yang salah tetap salah, meski yang melakukannya kerabat sendiri. Kisah Keluarga Pulau Es merupakan serial terpanjang dari seluruh karya Kho Ping Hoo. Kisahnya sampai 17 judul, dimulai dari Bu Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es. Penggemar cerita silat Kho Ping Hoo sangat banyak yang setia. Mereka sudah gemar membaca karya Kho Ping Hoo sejak usia 10-an tahun hingga usia di atas 50-an tahun. Mula-mula mereka senang melihat gambar komiknya. Namun, lama-lama makin tertarik cerita tulisannya. Tak jarang penggemar mengoleksi karya-karya Kho Ping Hoo, bahkan mencarinya ke bursa buku bekas di kawasan Senen. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, berasal dari keluarga miskin. Dia hanya dapat menyelesaikan pendidikan kelas 1 Hollandsche Inlandsche School (HIS). Namun, ia seorang otodidak yang amat gemar membaca sebagai awal kemahirannya menulis. Ia mulai menulis tahun 1952. Tahun 1958, cerita pendeknya dimuat oleh majalah Star Weekly. Inilah karya pertamanya yang dimuat majalah terkenal ketika itu. Sejak itu, semangatnya makin membara untuk mengembangkan bakat menulisnya. Banyaknya cerpenis yang sudah mapan, mendorongnya memilih peluang yang lebih terbuka dalam jalur cerita silat. Apalagi, silat bukanlah hal yang asing baginya. Sejak kecil, ayahnya telah mengajarkan seni beladiri itu kepadanya. Sehingga dia terbilang sangat mahir dalam gerak dan pencak, juga makna filosofi dari tiap gerakan silat itu. Namun, setelah cerbung silatnya menjadi populer, ia pun meninggalkan pekerjaanya sebagai juru tulis dan kerja serabutan itu, dan fokus menulis. Hebatnya, ia menerbitkan sendiri cerita silatnya dalam bentuk serial buku saku, yang ternyata sangat laris. Seperti kisah dalam cerita Sepetak Tanah Sejengkal Darah. Dia menyajikan cerita yang sangat membumi, akrab dengan keseharian. Juga melintasi batas agama, suku dan ras. Karya serial berlatar Jawa, yang juga terbilang melegenda antara lain Perawan Lembah Wilis, Darah Mengalir di Borobudur, dan Badai Laut Selatan. Bahkan Darah Mengalir di Borobudur, pernah disandiwararadiokan. ►e-ti/tian son lang, dari berbagai sumber |
|
Retno Maruti Maestro Tari Jawa KlasikRetno Maruti, seniman yang memiliki daya cipta tinggi. Dia maestro tari Jawa klasik. Penari dan kreografer ini sangat kreatif mengembangkan tari Jawa klasik yang dianggap ‘kuno’ menjadi memukau selera penonton ‘modern’ dalam beberapa pagelaran monumental. Selain mampu menampilkan seni tradisi dengan suatu kedalaman rasa secara kreatif, Retno juga berhasil melahirkan seniman dan penari klasik muda. Sebagai koreografer dan penari, dia memelihara kejujuran dalam berkarya. Dengan kejujuran dan kreativitas itu pula dia menghasilkan beberapa karya komposisi tari yang memadukan unsur klasik, tradisi, dengan selera penonton modern. Di antaranya, Langendriyan Damarwulan (1969), Abimanyu Gugur (1976), Roro Mendut (1977), Sawitri (1977), Palgunadi (1978), Rara Mendut (1979), Sekar Pembayun (1980), Keong Emas (1981), Begawan Ciptoning (1983), Kongso Dewo (1989), Dewabrata (1998), Surapati (2001), Alap-alapan Sukesi (2004), dan Portraits of Javanese Dance (2005). Selain itu, dia juga telah melahirkan banyak seniman tari klasik muda. Kini (2005), Padnecwara telah melahirkan generasi ketiga dengan jumlah anggota sekitar 70 orang. Maka pantaslah Retno Maruti menerima penghargaan Akademi Jakarta (AJ) tanggal 10 November 2005, atas pencapaian seumur hidup dan pengabdiannya di bidang kesenian dan humaniora. Retno terpilih dengan memperoleh skor tertinggi dari Dewan Juri (diketuai Prof Dr Edi Sedyawati dan beranggotakan Prof Dr Taufik Abdullah, Prof Dr Budi Darma, G Sidharta Soegijo, dan Suka Hardjana) berdasarkan tiga kualifikasi menonjol, yaitu memiliki daya cipta yang tinggi, mendalami dan mengungkapkan seni tradisi dengan kedalaman rasa, dan mencetak himpunan seniman muda yang punya apresiasi tinggi dan penguasaan atas khasanah seni klasik. Retno menyisihkan 72 kandidat dari seluruh Indonesia setelah melewati tahap seleksi Penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2005 sejak Juni 2005. Ia orang kelima yang pernah menerima penghargaan serupa sejak tahun 1975. Mereka yang sebelumnya menerima penghargaan serupa adalah Rendra (1975), Zaini (1978), G Sidharta Soegijo (2003), Nano S dan Gusmiati Suid (2004). Kala itu penghargaan masih dinamakan “Hadiah Seni”, baru tahun 2005 nama tersebut diubah menjadi “Penghargaan Akademi Jakarta”. Sebelumnya, perempuan Solo yang sejak usia lima tahun sudah menari, itu telah beberapa kali menerima penghargaan atas pengabdiannya di bidang seni. Antara lain: Wanita Pembangunan Citra Adikarsa Budaya (1978); Penghargaan Teknologi Seni Budaya Kalyana Kretya Utama dari Menristek BJ Habibie (1997); Citra Adhikarsa Budaya dari Citra Beauty Lotion dan SCTV (1994); Anugerah Kebudayaan dari Departemen Kesenian dan Kebudayaan RI (2003); Perempuan Pilihan dan Maestro dari Metro TV (2003); Nominator Women of the Year dari ANTV (2004). Bahkan karena berbagai pengabdiannya itu oleh Paku Buwono XII, Retno Maruti diberi gelar Kanjeng Mas Ayu (KMA) Kumalaningrum dan suaminya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Honggodipuro. Atas Penghargaan Akademi Jakarta itu, dosen Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ini selain menyukurinya, juga menyebut itu merupakan tanggung jawab dan kepercayaan yang harus dirawat dengan baik. Dia sendiri tidak mempunyai pretensi untuk mendapatkan penghargaan atas karya-karyanya. “Saya jalani saja. Saya tekuni itu karena saya mencintai. Bahwa dari itu saya mendapatkan sesuatu, saya sangat bersyukur dan berterima kasih,” katanya. Dengan mencintai dan menekuni kesenian Jawa puluhan tahun, dia mengaku merasa dalam hidup ini lebih ada ketenangan, kedewasaan dan menambah sikap hidup yang bijaksana. Dia pun menyadari keterbatasannya. Sebab itu, dia pun bisa menerima orang dengan kekurangannya. Dia sangat menyadari bahwa karya tari tidak dilakukan sendirian. Melainkan harus menari dengan banyak orang, ada teman-teman panggung, produksi dan perias. Juga ada wartawan dengan berbagai pujian dan kritik. Maka, menurutnya, setiap orang yang berkecimpung dalam bidang ini harus mempunyai dowo ususe (panjang usus, banyak kesabaran), harus lenggono, harus mau menerima segala kelebihan dan kekurangan. Harus terima kalau dikritik. Dia menyadari perjalanan hidupnya sebagai penari dan penata tari tak selalu disenangi setiap orang. Hal mana untuk suatu karya itu belum tentu setiap orang senang. Setiap orang mempunyai penilaian sendiri. Terutama wartawan yang bebas menulis pujian dan kritik. Sementara banyak orang yang tidak melihat langsung pertunjukan itu hanya membaca. Akar Budaya Jawa Retno belajar tari, selain dari ayahnya Susiloatmadja, juga dari RT Koesoemokesowo, RAy Laksmintorukmi, RAy Sukorini dan Basuki Kuswarogo. Sementara guru tembangnya adalah Bei Mardusari dan Sutarman. Dengan bimbingan dan dukungan orang tua dan para gurunya, kemampuan dan bakat Retno terus terasah dan berkembang. Sampai kemudian dia mewariskan kepada generasi muda, termasuk kepada anaknya Rury Nostalgia. Puteri Solo ini sejak kecil dekat dengan akar budaya Jawa. Saat Retno kecil, ayahnya, Soesiloatmadja, seorang dalang, sering mengajaknya mendalang semalam suntuk. Retno duduk di samping kotak wayang, membantu mengambilkan tokoh wayang yang hendak dimainkan ayahnya. Limbuk—panggilan akrab anak kedua dari tujuh bersaudara — ini kemudian dipercayakan Sang Ayah juga mengurus perizinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan seni pertunjukan kesenian Jawa itu. Pada usia lima tahun, Retno telah dimasukkan ayahnya ke perkumpulan seni Baluwarti. Dengan amat senang, di situ ia mulai mengenal tari, gamelan, macapat, dan suluk. Kemudian, saat kelas III SD, ia pun dibimbing RT Kusumokisowo memmelajari tari yang berkiblat ke keraton. Juga mendapat bimbingan dari penari terkenal Laksminto Rukmi, selir kesayangan Pakubuwono X. Dia juga mendalami tari luar keraton, seperti ledek. Pada saat remaja, masih di bangku SMP, Retno berkesempatan menari di Candi Prambanan dalam pergelaran kisah Ramayana, memerankan kijang kencana, sampai akhirnya mendapat julukan “Kijang Kencana”. Sampai dia menamatkan SMEA di Solo, Retno sangat tekun belajar tari. Walaupun saat itu, menari baginya hanya merupakan kesenangan. Kala itu, dia belum terpikir bercita-cita jadi penari profesional. Dia malah bercita-cita menjadi sekretaris. Maka, setamat SMEA, ia melanjut ke Akademi Administrasi Negara. Sambil kuliah, dia sempat bekerja di Batik Danar Hadi. Kesenangannya menari ternyata merupakan proses perjalanan panjang hidupnya menuju penari profesional. Pada tahun 1964, Retno pun diundangan menari di New York. Setahun kemudian, dia pun terpilih sebagai salah satu penari dalam misi kepresidenan ke Jepang. Sepulang ke Tanah Air, dia pun meningkatkan kesungguhan menggeluti tari. Dia mulai mencipta tari Langendriyan Damarwulan (1969). Disusul karya tari Jawa klasik lainnya yang dipagelarkan secara monomental. Selain menari dan mengajar tari Jawa klasik di Institut Kesenian Jakarta, Retno juga seorang perias pengantin. Sebelumnya, dia pernah kursus rambut pada Rudy Hadisuwarno, dan kursus make up pada Martha Tilaar. Di tengah kesenangan dan kreativitasnya menari, Retno menikah dengan sesama penari yang sudah dikenalnya sejak kecil, Sentot Sudiharto, di Osaka Jepang. Pasangan ini dikaruniai satu anak, Genoveva Rury Nostalgia. Sejak kecil, Sang Anak, diperkenalkan pada seni budaya. Walau bukan berarti anaknya diharuskan menjadi penari. Namun, kebetulan anaknya juga senang pada tari dan belajar menjadi koreografer. Keberhasilan dalam perjalanan karirnya, bukannya tanpa tantangan. Retno bahkan sempat kecewa dengan dunia tari. Pasalnya, melihat kenyataan banyak anak muda yang lebih senang dan mudah menerima jenis tari kontemporer. Sangat susah mencari anak muda yang tertarik tari tradisi. Sehingga, dosen IKJ ini sangat khawatir tak ada yang melestarikan tari tradisi, khususnya tari Jawa klasik. Tapi, kemudian kenyataan itu malah makin memacunya berusaha keras mengembangkannya dan melahirkan tari sampai akhir hayat. Retno bertekad mewariskan dan mengasah kemampuan menari kepada anak-anak didiknya di Sanggar Padnecwara, dan di Taman Ismail Marzuki, serta di Institut Kesenian Jakarta. ►e-ti Akademi Jakarta Akademi Jakarta adalah sebuah Dewan Kehormatan bagi seniman dan budayawan sekaligus Dewan Penasihat bagi Gubernur DKI Jakarta di bidang seni dan budaya. Keanggotaan Akademi Jakarta terdiri dari mereka yang sudah berusia 49 tahun ke atas, dan diangkat seumur hidup. Kecuali bila kesehatan fisik maupun psikisnya telah terganggu. Pengangkatan seumur hidup Anggota Akademi Jakarta dimaksudkan agar tidak terpengaruh perubahan-perubahan kekuasaan yang terjadi. Keberadaan Akademi Jakarta tak dibentuk berdasarkan surat pengangkatan, tapi diakui berdasarkan kepercayaan masyarakat kepada para anggotanya. Seperti penduduk desa yang mempercayai para orang tua sebagai tempat meminta nasihat. Akademi Jakarta saat ini diketuai Prof Koesnadi Hardjasoemantri, dengan wakil Goenawan Mohamad dan Ramadhan KH. Anggotanya terdiri dari nama-nama yang prestasi maupun reputasinya sudah diakui. Yaitu AD Pirous, Ahmad Syafii Maarif, Ajip Rosidi, Amrus Natalsya, Endo Suanda, H Misbach Yusa Biran, Ignas Kleden, Iravati M. Sudiarso, Mochtar Pabottingi, NH Dhini, Nono Anwar Makarim, WS Rendra, Rosihan Anwar, Saini KM, Sardono W Kusumo, Sitor Situmorang, Slamet Abdul Sjukur, Tatiek Maliyati WS, Taufik Abdullah, dan Toeti Heraty N. Roosseno. (Ant/OL-02). |
| R updated 310503 | |||||||||||||||||||||||||||||
|
Nama: Idris Sardi Lahir: 7 Juni 1938 Profesi: Musikus- Violis Isteri: Ratih Putri |
Idris Sardi
Violis, Ogah Dipanggil MaestroViolis ternama Idris Sardi sudah lama tak terdengar gesekan biolanya. Ternyata, ia juga tak luput dari kegalauan atas pelbagai kejadian yang menimpa bangsa dan negerinya. Saat rasa sakit masih sering mengganggu di perutnya, ia tetap sibuk kegiatan rekaman. Menyongsong datangnya peringatan hari lahirnya yang ke-65, 7 Juni 2003, rupanya Idris tengah mempersiapkan satu acara khusus. Pertama, sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Tuhan yang telah memberikan talenta besar kepadanya, dan berikutnya juga untuk tumpah darah yang ia cintai. Melalui diskusi panjang, Sabtu (22/3) di Jakarta, Idris yang didampingi istrinya, Ratih Putri, dan Joan Henuhili Raturandang, mantan Putri Kawanua yang kini menangani JPR (pelaksana Konser 65 Tahun Idris Sardi), Idris memberi gambaran tentang acara yang akan ia gelar tanggal 18 Juni 2003 di sebuah hotel di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Violis yang sudah 58 tahun menggeluti biola dan tahun ini akan memperingati setengah abad menjadi pemusik profesional itu menyatakan, akan tetap memilih permainan biola dengan sentuhan roh etnis Indonesia, meski dari kecil ia juga mendapat latihan keras dalam permainan biola klasik Barat. “Tuhan, kan, bukannya tanpa maksud apa-apa melahirkan saya di Indonesia. Pastilah saya dipesan untuk bisa memainkan keroncong, dan bahkan dangdut,” simpulnya. Itu juga menyebabkan mengapa Idris tetap memilih tinggal di Indonesia, walaupun ada tawaran untuk pindah ke Jepang dan Taiwan. Memang, pada konser tanggal 9 Agustus 1994 memperingati HUT Ke-29 Harian Kompas, Idris sempat “pamit” dari permainan biola. Tetapi, rupanya setelah itu ia masih punya sesuatu yang ingin ia persembahkan bagi negaranya. (nin) Di Mata Musisi Muda Bagi sebagian kalangan, Idris Sardi masih diakui sebagai salah satu maestro biola di tanah air. Kemampuannya mengolah biola, kata musikus Addie MS, memiliki daya tarik khusus. Lewat insrumen biola yang digelutinya sejak kecil, Idris Sardi menawarkan keandalan menciptakan repertoar-repertoar terbaik. Dibandingkan dengan violis sezamannya, Luluk Purwanto, ada perbedaan mendasar. Kekuatan Idris pada gesekan biolanya yang unik. Bila orang mendengar konsernya, maka kekuatan gesekan biola terasa nyaris tanpa sekat atau potongan nada. ”Semua seolah mengalir begitu saja,” kata Addie. Hal serupa diakui violis Fayza Maylassayza, yang pernah berguru padanya sejak lama. Gesekan Idris, kata Fayza, mengandung kekuatan irama yang sukar diikuti. Tentu gesekan dawai biola dilakukan secara sadar. ”Termasuk menampilkan presisi ritmik dan penentuan kelincahan dalam pasase cepat,’ ujarnya. Idris juga memiliki kemampuan untuk menampilkan suasana tertentu khususnya menimbulkan efek brilian dan dramatik. Ini tidak dijumpai dalam permainan biola Luluk Purwanto. Nuansa-nuansa subtil dari lembut ke keras, menampilkan suasana emosional yang variatif. Ringkasnya, biola Idris menawarkan jangkauan dan dimensi perasaan yang amat luas. Sayangnya, kemampuan Idris jarang bisa diikuti oleh generasi berikutnya. Fayza yang menekuni jenis musik ini pada Idris, misalnya, akhirnya menjatuhkan pilihannya pada aliran musik pop dan disco. Sementara Idris masih berpegang teguh pada aliran pop melankolis. Kemampuan Idris sebenarnya bisa diturunkan kepada musisi lainnya. Ini, kata Addie MS, lantaran rendahnya kreativitas para violis remaja. ”Minat para remaja dalam kegiatan musik, khususnya biola, relatif rendah,” tambahnya. Harus diakui, biola masih kalah populer dengan piano dan gitar. Pemain beken dalam orkes klasik, pop, atau keroncong, bisa dihitung dengan jari. Paling mudah orang hanya bisa menyebut nama Idris Sardi, dan sekarang ini violis pertama pada Twilite Orchestra, Oni Krisnerwinto. Menurutnya, eksperimen musik mereka sebenarnya bisa diciptakan melalui peningkatan kegiatan seni dalam sebuah komunitas musik orkestra. Dalam komunitas itu, beragam eksperimen permainan biola bisa dilakukan. Apalagi kalau dipadukan dengan instrumen musik lain. Bersama dengan instrumen gesek cello, biola cocok untuk permainan legato (halus dan tersambung). Meskipun begitu, biola juga mampu menampilkan nada-nada sebaliknya, yakni staccato (pendek dan putus-putus). Ada pula efek khusus dalam eksperimen biola. Seperti memainkan vibrato, glissando, tremolo, dan trill. Semua permainan itu, kata Addie, menawarkan kekayaan eksperimen dalam bermusik biola. Sementara beberapa repertoar lain bisa dimainkan apik oleh Idris. Dalam beberapa konsernya, dia tidak enggan mengetengahkan karya Beethoven atau Mendelssohn. Juga karya klasik Elgar. Di tangan violis mahir ini, semua permainan menghadirkan bunyi yang amat melodius, indah menghanyutkan. Atas kemampuan menghadirkan bunyi-bunyi indah tersebut, orang sering menyebut dia sebagai ‘sang maestro’. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber, antara lain KCM dan Republika 13/4/03 Jangan Panggil Saya Maestro “peristiwa yang lalu mejadi pelajaran buat saya, artinya saya tidak bisa sembarangan pamit. Saya juga sudah ditegur Tuhan, jadi juga ada hikmahnya Saya tidak bisa membiarkan talenta yang diberikan Tuhan. Itu dosa” sesal Idris dihadapan wartawan baru-baru ini. Bukan Maestro Malu Letnan Kolonel Pasrah Pembaruan/ Unggul Wirawan |
|||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
Trisutji Djuliati Kamal Komponis dan PianisKomponis dan pianis kenamaan kelahiran Jakarta, 28 November 1936, ini telah lebih 50 tahun berkarya dalam dunia seni musik. Trisutji Djuliati Kamal, lulusan Conservatorio de Musica St Caecilia, Roma, Italia, itu telah menulis sekitar 200 karya musikal. Di antaranya 130 komposisi untuk piano telah direkam dalam sepuluh compact disc (CD) berjudul “Complete Piano Works Series” (1951-2006), yang seluruh dimainkan pianis Ananda Sukarlan. Trisutji seperti tak kenal lelah dalam berkarya. Sepertinya makin tua semakin banyak ide, walaupun tenaganya makin berkurang. Namun,ia bertekad akan terus mencipta sampai tak bisa lagi. Ia ingin orang bisa menikmati musiknya. Di antara 200 komposisi karya musikalnya adalah: Sungai, Kepergian, Opera Roro Jonggrang, 10 musik ilustrasi film, lebih 130 piano solo, 2 solo flute, 1 flute dengan piano, 3 solo biola alto, 1 biola alto dengan piano, 1 solo cello, 25 vokal dengan piano perkusi dan vokal Bali, 6 ensemble, 4 trio dan kuartet, 4 paduan suara a cappella, 3 paduan suara dengan simfoni orkestra, 5 karya simfoni, 1 piano konserto dengan orkestra, 1 piano konserto dengan bumbung Bali, harpa, viola dan cello, 5 musik sendratari Dia terpikir membuat dokumentasi auditif setelah Ananda Sukarlan dan teman-teman lain bertanya kenapa tidak membuat CD karya-karyanya agar lestari dan publik lebih mengenal dan menikmatinya. Seperti yang sudah dilakukan komponis Amir Pasaribu, Mochtar Embut, dan lain-lain. Selama ini nasib 200 karyanya itu berantakan. Bahkan dia sendiri banyak yang lupa ditaruh di mana. Lalu, dia pun terpaksa kumpulin pelan-pelan untuk bisa direkam. Untunglah dia punya catatan yang disimpan sendiri. Namun catatan itu hanya dia yang bisa tahu. Ada yang berupa sketsa, hanya berupa ide satu atau dua bar. Bahkan dia sendiri mengaku kadang tidak ingat kalau pernah menulis karya itu. Untunglah Ananda ‘memaksanya’ untuk menyelesaikan. Kalau tak dipaksa tidak akan selesai. Karyanya banyak yang tercecer. Contohnya, Nocturno yang saya buat tahun 2002. Premier-nya baru 5 April 2006 oleh Ananda. Kadang ada juga komposisi yang dia tidak suka, lalu tersendat. Ada juga yang memang belum matang. Dia malas meneruskan, lalu bikin karya lain lain. Namun suatu hari ketemu lagi dan diterusin lagi. Titi, panggilan akrabnya, mulai menekuni piano ketika baru berusia tujuh tahun. Ayahnya, RM Djulham Surjowidjojo, seorang dokter yang mahir main biola, yang memberi dorongan padanya. Kala itu ayahnya bekerja di Binjai, Sumatera Utara. Di sana Titi sempat dibimbing oleh guru-guru piano asal Jerman, Dora Krimke dan L Remmert. Saat kembali ke Jakarta, 1955, Titi belajar pada Joan Giesen, seorang musisi dari Belanda. Ia juga sempat berguru pada musisi kenamaan Henk Badings. Kemudian, selama 12 tahun Titi hijrah ke Eropa, belajar pada Conservatorium Amsterdam, Ecole Normale de Musique, Paris. Kemudian, belajar di Conservatorio de Musica St Caecilia, Roma, Italia (1963). Kemudian, ia juga menulis Kepergian, yang sering dimainkan sebagai lagu wajib di YPM. Lagunya sederhana sekali. Idenya juga sederhana, yaitu kepergian kapal yang meninggalkan pelabuhan pelan-palan dan menjauh. Tahun 1956, ia menulis Opera Roro Jonggrang. Kala itu, gurunya orang Rusia, mendorong untuk mencipta itu. Sang Guru memberi ide: Di Indonesia banyak legenda menarik, kenapa kamu tak bikin. Pada waktu menulis opera itu, ia sedang belajar dodecaphone, serial musik dari Arnold Schoenberg. Dia temukan sistem not 12 nada. Tapi ia tidak menulis opera itu dengan sistem seri. Hanya ada pengaruhnya saja. Jadi pengaruh Opera Roro Jonggrang itu campuran. Dodecaphone, pentatonik dan opera lirik. Dalam proses menulis itu, ia temukan gaya sendiri. Opera itu dipentaskan di Castel St Angelo, tenornya Adi Santosa, orang Indonesia, seorang diplomat yang hobi nyanyi. Penyanyi soprannya orang Filipina, yang tak bisa bahasa Indonesia. Dalam komposisi Ramadhan, Trisutji memainkan dengan cara memetik dawai piano. Ia memukul dawai, untuk mengejar efek mistik, religius. “Saya pingin kasih sentuhan atau efek damai. Ada ekspresi yang tak terwakili jika itu saya mainkan dengan tuts,” katanya seperti ditulis Kompas, 16 April 2006. Selain itu, Trisutji juga pernah membuat lagu gereja Jubilate Deo. Kala itu tugas sekolah. Gurunya organis di gereja Episcopal Church di Turino. Gurunya bilang, “Coba bikin lagu untuk gereja.” Itu termasuk tugas, tapi akhirnya sering dimainkan di gereja. Awalnya, ia merasa susah juga karena lagu rohani yang ia kenal adalah model Jerman. Namun karena ia pernah sekolah di Methodist English School di Medan, di mana mereka tiap hari kami bernyanyi. Jadinya, ia bisa me-rewind sedikit ingatan lama dan bisalah akhirnya bikin lagu. Namanya Jubilate Deo. Setelah itu berhasil, ia pun kemudian mendapat tugas membuat opera. Darah seniman turun dari ayahnya, Dokter Djulham Surjowidjojo, yang adalah pemain biola dan pelukis. Trisutji anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya, Tripudjo Djuliarso, mendalami instrumen biola tapi kemudian menjadi pengusaha. Trisutji tumbuh di lingkungan keluarga Jawa di lingkungan kultural Melayu di Binjai, Sumatera Utara. Eyangnya dari pihak ibu, berteman akrab dengan Sultan Langkat. Sang ayah dari keluarga besar Arumbinang dari Purworejo (Jawa Tengah). Ibu dari ayah Trisutji masih keturunan Mangkunegaran, Solo. Sedangkan sang ibu, BRA Nedima Kusmarkiah, adalah cucu dari Sinuwun Paku Buwono X, Solo. Sang ibu adalah anak dari Pangeran Hadiwidjojo. Kendati keluarganya tinggal i tengah lingkungan Melayu, namun kultur Jawa tetap hidup dalam keluarga itu atas didikan Sang Ibu. Sang Ibu menghidupkan tradisi Jawa, bahkan seperti kerajaan mini di dalam kerajaan. Trisutji diharuskan pakai kain. Kalau hari minggu atau hari libur, ia harus pakai kain kebaya. Ke Eropa saja ia masih pakai kain. Waktu anak-anak, ibunya mengajari mereka berbahasa Jawa dan menulis dengan huruf Jawa. Setiap hari Sabtu, mereka diharuskan menulis surat dalam bahasa Jawa kepada Eyang di Solo. Ia dan adiknya juga diajari tembang dolanan. Mereka pun main Cublak-cublak Suweng dengan anak-anak pembantu yang dibawa dari Jawa. Sementara interaksi dengan budaya Melayu juga berlangsung pada saat bersamaan. Hampir setiap hari mereka ke Istana Langkat. Ibunya dianggap seperti anak sendiri oleh Sultan Langkat. Hampir Setiap hari mereka breakfast dengan keluarga Sultan. Maka ia pun sering dengar Serampang Duabelas dan musik Melayu. Kalau ada tamu, mereka pakai musik Melayu yang dimainkan dengan biola dan akordeon. Titi menikah dengan arsitek Ir A Badawi Kamal, anggota keluarga Kamal, pemilik Kamal Furniture, Jakarta, yang memberinya tiga anak: Mahendra (47), Mahendrani atau Rani (45), dan Paramagita atau Gita (44). Dua di antaranya ada yang mengikuti jejak ibunya di bidang musik, yaitu Rani dan Gita. ►e-ti *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|
Alfred Simanjuntak Bangun Pemudi PemudaNamanya terukir sebagai pencipta lagu nasional ‘Bangun Pemudi Pemuda’. Judul lagu itu tampaknya selalu menjadi obsesi pria suku Batak kelahiran Parlombuan, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 8 September 1920 itu. Hal itu setidaknya tercermin dari Karya Paparnya berjudul Membangun Manusia Pembangunan, saat menerima gelar Doctor Honoris Causa (DR. HC) atas pengabdiannya selama 60 tahun di bidang pendidikan dari Saint John University, 10 Februari 2001 di Jakarta. Alfred di masa kecil, hidup bersahaja tapi bahagia. Dia putera pasangan Guru Lamsana Simanjuntak-Kornelia Silitonga, delapan bersaudara. Dia mengenang saat makan nasi, daun singkong, dengan lauk ikan asin sebesar jari. Namun dia tetap mensyukuri ikan asin yang cuma seujung jari itu. Keluarga itu tetap hidup dalam sukacita. Sukacita itu tercermin dari kegemarannya bernyanyi. Alfred sering tampil bernyanyi di acara Natal sejak duduk di Hollands Inlandsche School (HIS) di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara. Kemudian kemahiran musik Alfred berkembang ketika dia belajar di Hollands Inlandsche Kweek School atau semacam sekolah guru atas di Margoyudan, Solo, Jawa Tengah, 1935-1942. Di sekolah itu jiwa nasionalisme Alfred menguat. Sebab di sekolah itu dia berkumpul dengan kawan-kawan dari berbagai daerah, suku dan budaya, seperti Manado, Ambon, Batak dan Jawa. “Rasa percaya diri kami sebagai satu bangsa sudah tertanam kuat,” kenang Alfred, yang akrab dipanggil Pak Siman dan fasih berbahasa Jawa. Pada tahun 1946-1949, dia sempat menjadi wartawan surat kabar “Sumber” di Jakarta. Sejak tahun 1950, ia bekerja penuh di Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, Jakarta, dan sempat menjadi pimpinannya. Akan tetapi, dia tetap aktif di musik. Tahun 1967 turut mendirikan Yayasan Musik Gereja (Yamuger) dan tahun 1985 memprakarsai Pesta Paduan Suara Rohani (Pesparani). ================================================ Alfred Simanjuntak Membangun Manusia PembangunanCATATAN REDAKSI: Pada 10 Februari 2001, Alfred Simanjuntak menerima gelas Doctor HC dari Saint John University, dengan Karya Papar berjudul MEMBANGUN MANUSIA PEMBANGUN. Berikut ini naskah elngkap karya papar Alfred Simanjuntak tersebut. ================================================= Bangun Pemudi Pemuda Bangun pemudi pemuda Indonesia |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |
|
Nortier Simanungkalit Maestro Mars dan HimneNortier Simanungkalit seorang maestro Indonesia. Komponis lulusan Pedagogi UGM itu telah mencipta lebih 150 komposisi musik yang semuanya berupa mars dan himne. Maestro kelahiran Tarutung, 17 Desember 1929 yang juga mantan Komandan Tentara Pelajar Sub-Teritorial VII Sumatera Utara, itu menekuni musik sejak berusia 19 tahun. karya pertamanya sebuah lagu seriosa Sekuntum Bunga. Hidup Nortier Simanungkalit teratur seperti lagu-lagu mars dan himne ciptaannya. Delapan jam istirahat, delapan jam santai. Sisanya, berkarya. Hasilnya, meski Desember nanti akan memasuki usia 77 tahun, ia masih segar bugar dan menghasilkan lagu. Bahkan dia sedang mempersiapkan proposal akademis untuk mendapatkan gelar doktor honoris causa. Mars dan himne menjadi identitas pria kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, 17 Desember 1929, itu. Pembaca pasti masih ingat denting piano pada intro lagu Senam Kesegaran Jasmani pada 1980-an. Kalau partiturnya masih ada, di bawah judul mars tadi pasti tertulis nama N. Simanungkalit. Di luar dua komposisi itu, masih ada ratusan, tepatnya 268, komposisi lain yang sudah dihasilkannya. Seluruhnya diciptakan ompung empat cucu itu sejak ia remaja, pada 1950-an. Sayang, pria yang tak punya latar belakang pendidikan khusus musik ini lupa judul mars perdananya. Tapi untuk debutnya di luar mars dan himne, ia ingat betul. “Sekuntum Bunga di Taman,” kata suami Sri Sugiarti boru Simorangkir itu. Lagu itu berirama pop. Ditulis ketika Simanungkalit baru satu semester menuntut ilmu di Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Semangat mencipta lagunya makin menggebu ketika Sekuntum diputar RRI Yogyakarta. Lewat stasiun radio itu pula, guru seni suara sebuah SMA di Yogyakarta (1957-1964) itu mendengar siaran musik klasik kesukaannya. Kalau akhirnya ia lebih terpikat pada mars, tak lain karena menurut dia, “Mars adalah induk seluruh lagu.” Karya cipta Simanungkalit tersebar sampai ke “negeri Paman Sam”. Lewat Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, Palang Merah Amerika memesan sebuah himne dari dia pada 1999. Sebulan penuh dihabiskan Simanungkalit sebelum mendapatkan komposisi yang pas. Untuk keberhasilannya, ia mendapat medali jenis Special Recognition dari Palang Merah Amerika. Itu bukan pengalaman pertamanya dengan negeri Paman Sam. Pada 1972, Simanungkalit pernah bersantap siang dengan Presiden Richard Nixon. Ia berada di Amerika Serikat dalam rangka menjadi juri Festival Paduan Suara Mahasiswa Internasional. Kiprah dosen kor Akademi Musik Indonesia Yogyakarta (1964-1966) itu di pentas internasional tak sebatas menjadi juri. Selama periode 1968-1981, ia menjadi anggota International Music Council UNESCO. Ada yang tak biasa dari Simanungkalit. Bila biasanya seorang komposer membangun sebuah komposisi lewat alat musik yang dikuasainya, tak demikian dengan komposer yang satu ini. Ia lebih sering membayangkannya terlebih dulu. Lalu nada-nada yang terlintas di kepala dituangkan ke atas secarik kertas. Biasanya, sebagian besar dari komposisi tadi sudah tercipta di luar kepala. Untuk mendapatkan harmonisasi, atau agar tahu komposisi itu secara utuh, Simanungkalit menggunakan jasa orang lain. Misalnya saat mencipta Mars Pemilu 2004, ia menggunakan jasa seorang pianis di studio Monang Sianipar, Jakarta. “Di situlah kekuatan imajinasi dan seni,” kata bapak tiga anak itu. Simanungkalit memperhatikan betul keselarasan lirik, yang senantiasa filosofis, dengan lagu ciptaannya. Empat unsur penting selalu diupayakan ada dalam tiap ciptaannya. Yaitu melodi, harmoni, ritme, dan timbre. Kehati-hatian itulah yang membuat penerima penghargaan Lifetime Achievement dari Koalisi Media KPU dan SCTV itu enggan mengikuti lomba bila jurinya bukan maestro musik atau seorang musikolog. Sebelum mencipta lagu, mantan anggota MPR-RI (1987-1992) itu selalu menjalani ritualnya: berdoa. “Tuntunlah saya supaya berhasil membahagiakan orang yang menerima lagu ini,” kata Simanungkalit, menirukan doanya. Setelah itu, ia melakukan perenungan. Kadang lirik yang lebih dulu muncul, baru lagu. Kadang sebaliknya. Inspirasi didapatnya dari sembarang tempat. Ketika membuat mars dan himne SEA Games, yang dipesan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Ketua KONI saat itu, ia mendapat idenya di atas bus kota. Tak tanggung-tanggung, ia mendapat dua lagu sekaligus dalam 30 menit perjalanan. “Lagunya khas Jawa. Laras pelog untuk mars, selendro buat himne,” kata penerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II itu. Mulai pukul dua siang sampai pukul 10 keesokan harinya, Simanungkalit mengutak-atik lagu tadi. “Sampai pegal tangan saya,” katanya. ►e-ti/Carry Nadeak dan Rachmat Hidayat [Musik, GATRA, Edisi 23 Beredar Jumat 16 April 2004] ►e-ti |
|
Maya Tamara Generasi Kedua NamarinaMaya Tamara, generasi kedua dari Namarina, sekolah balet dan senam terkemuka di Indonesia. Sejak 1993 dia memimpin Namarina yang didirikan ibunya, Nanny Anastasia Lubis (almarhumah 1926-1993), pada 30 Desember 1956. Untuk merayakan usia setengah abad Namarina, diadakan pertunjukan bertema Pointe of No Return di Gedung Kesenian Jakarta, 30 Desember 2006 dan 20-21 Januari 2007. Menurut Maya Tamara, Pimpinan dan Direktur Artistik Namarina, Pointe of No Return menggambarkan perjalanan NAMARINA 50 tahun dalam 3 rentang waktu : THE BEGINNING – THE GROWTH – THE FUTURE. Repertoar ini berkolaborasi dengan iringan piano ‘ duo Iravati & Aisha-YPM’ serta ‘Indonesian Traditional Music Performance oleh Irwansyah Harahap-SUARASAMA’, dan kostum yang di desain oleh Ary Seputra Dijelaskan, tema Pointe of No Return dipilih sebagai penegasan bahwa Namarina akan terus menggeluti dunia pendidikan tari yang didirikan ibundanya itu. Waktu itu Namarina tidak menggunakan sebutan balet atau senam, tetapi gerak badan. Kini Namarina menjadi pusat latihan balet-jazz-fitness. “Waktu pertama berdiri muridnya cuma lima, terus sepuluh orang, terus jadi ribuan. Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno, pernah ikut berlatih senam di Namarina,” kata Maya Tamara, yang sejak tahun 1993 menjadi Pimpinan dan Direktur Artistik Namarina. Berikut ini penuturan Maya sebagaimana dipublikasikan Kompas pada Rubrik Pesona, Minggu, 24 Desember 2006: Apa arti 50 tahun bagi Namarina? Saya merinding mendengar 50 tahun ini. Kok bisa bertahan selama itu. Kami berintrospeksi. Sudah banyak yang kita lakukan, tapi banyak juga kekurangan. Yang kami anggap kekurangan itu akan menjadi sebuah pengalaman yang nantinya bisa menjadi kekuatan. Ini perjuangan almarhumah mami, Ibu Nanny (Lubis). Mami orangnya kenceng, tegas, tapi tidak bikin orang sakit hati. Tanpa mami, Namarina gak bakalan ada 50 tahun ini. Kami anak didik yang berusaha terusin. Sejak kapan terlibat menangani Namarina? Saya menjadi artistic director tahun 1985. Itu empat tahun setelah saya pulang sekolah dari Royal Academy of Dance, London, tahun 1981. Sebelumnya, tahun 1981-1985, saya menjadi tenaga pengajar. Itu pun saya belum boleh pegang senam, cuma balet. Saya sama sekali tidak dilibatkan di manajemen. Begitu beliau meninggal, waduh! Kelabakan juga saya. Jadi, sebelumnya tidak pernah ada persiapan transisi manajemen dari mami ke saya. Tapi secara ilmu dan teknik menangani murid, ya saya belajar dari apa yang pernah mami lakukan. Bagaimana saat pertama kali memegang Namarina? Pada awalnya ada yang underestimate saya. Mami meninggal dunia tahun 1993 itu tiba-tiba. Bulan Mei masuk rumah sakit, awalnya dikira saraf, gak taunya kanker lever. Sejak itu mami tidak pernah keluar rumah sakit lagi, sampai meninggal bulan Agustus pada usia 67 tahun. Waktu mami sakit, saya gak berani nanya-nanya soal kelangsungan Namarina. Akhirnya saya belajar dari meja mami. Saya pelajari kertas-kertas yang ditinggalkan beliau. Dari situ saya tahu bagaimana me-manage ini, sampai ke masalah gaji pegawai. Dulunya saya sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam hal-hal seperti itu. Untungnya saya termasuk orang yang cepat belajar. Saya mungkin juga punya sense of management yang baik. Jadi dalam waktu enam bulan sudah bisa mengatasi semuanya. Tapi dalam enam bulan pertama ya struggle banget. Anda mengajar dengan gaya Ibu Nanny? Saya gak bisa sekeras mami, karena itu bukan tipe saya sih. Anak-anak generasi sekarang juga tidak bisa diperlakukan seperti itu. Orangtua juga suka campur tangan. Balet kan penuh disiplin, harus dilakukan sesuai aturan. Tapi orangtua kemudian belain anak. Lama-kelamaan kita harus menyesuaikan juga. Tapi, untuk yang prinsip-prinsip saya tidak akan langgar. Balet Indonesia Maya Tamara belajar di Royal Academy of Dance, London, Inggris, pada 1976-1981. Ia mendapat diploma sebagai guru tari Licensed Royal Academy of Dance (LRAD). Sebagai semacam pelatihan kerja, Maya sempat mengajar balet untuk anak-anak di London. Apa kelebihan orang Asia dalam balet dibanding pebalet Eropa? Kita orang Asia ini dikaruniai musikalitas lebih dibanding orang Barat. Dan itu jadi plus point saya waktu di college dulu. Anak-anak kecil di sana (Inggris) beda dengan anak-anak di sini. Anak-anak kita itu lebih talented, lebih cepat menerima pelajaran, dan lebih luwes. Kelemahan orang kita untuk balet itu di postur tubuh. Balet kan asalnya dari Eropa, Perancis. Badan bule lebih nguntungin untuk belajar balet. Terus ada incep, otot di kaki yang pada posisi pointe akan berbentuk melengkung atau arch. Di kita, untuk memunculkan bentuk otot seperti itu harus dilatih. Mungkin karena kita dari kecil jarang pake sepatu. Maka kaki kita kebanyakan flat, tidak ada arch-nya. Itu unsur penting, karena yang punya bentuk kaki seperti itu sudah punya nilai tambah ketimbang yang harus melatihnya dulu. Jadi soal fisik? Karena keturunan, orang- orang kita berat pada lower body, bagian pinggul sampai paha. Apalagi anak-anak sekarang. Enggak tahu apa saja yang mereka makan…. Makanya saya waktu mau membentuk Namarina Youth Dance sudah keras sekali ke anak-anak. Kalau tidak mau menurunkan berat badan ya susah, karena kita mau go professional. Dengan kondisi postur itu, apakah tidak ada penyesuaian? Harus ada! Kami memberi latihan-latihan yang lebih intensif untuk mencapai postur, kekuatan otot, dan pointe kaki yang diinginkan. Gerakan-gerakannya juga banyak dimodifikasi. Apakah anak-anak tidak tersiksa berlatih? Memang pada awalnya pasti merasa tersiksa untuk melakukan gerakan-gerakan yang sulit. Tapi bagi yang sudah latihan lama, sudah tahu pakemnya, tahu cara geraknya, mereka sudah bisa lepas, kayak ada magnetnya. Pada akhirnya orang-orang kita yang berlatih ekstra keras itu justru memiliki kelebihan dibanding para penari balet di Eropa. Lebih ulet, lebih disiplin. Balet kan harus dimulai dari kecil, dari lima tahun. Terus harus ada passion (hasrat kuat). Kalau gak ada passion, gak bakalan bisa deh. Ada balet yang lebih pas untuk penari Asia? Ke depan pengin menampilkan bentuk balet Indonesia. Saya kemarin nonton balet Filipina. Kalau biasanya balet itu sangat Barat, yang ini terasa Filipina-nya. Mungkin itu dari muka dan postur tubuh mereka. Terus ada permainan tradisional pakai bambu, dimasukkan dalam balet. Balet Indonesia bisa ditampilkan tidak hanya dari gerak, tapi bisa dari kostum, musik, gerak kombinasi yang diperkaya dari tari tradisi. Tapi akarnya tetap balet. Jadi orang melihat itu tetap balet. Dulu Mbak Fari (Farida Oetoyo) dan Julianti Parani juga pernah mencoba membuat balet Indonesia ini. Saya lihat kok sekarang enggak diterusin. Mungkin kendalanya ya sama kayak yang saya hadapi, yaitu dana. “Dance company” Maya dan Namarina akan meresmikan Namarina Youth Dance (NYD). Ini semacam kelompok balet semiprofesional. Mengapa Namarina tidak menjadi dance company? Saya sudah kepengin banget punya dance company. Itu dari zaman saya pulang sekolah dari London dulu. Suatu saat saya mesti punya. Tidak harus sayalah, tetapi Indonesia harus punya. Di masa Nanny Lubis itu pernah terpikir? Dulu saya pernah menyampaikan keinginan membuat dance company ke mami, tetapi mami gak ada keinginan ke situ. Mami is a real teacher. Kalau saya lebih banyak maunya. Mungkin karena lebih muda, he-he-he. NYD mengarah ke dance company? Di sini saya ingin siapkan secuil murid saya, untuk dididik seni tari agar suatu saat nanti bisa punya dance company yang profesional, bukan sekadar penari cabutan. Maka saya pilih 17 penari dan akan saya kelola dengan baik. Manajemennya juga profesional. Tapi saya gak mau langsung memproklamirkan ini sudah profesional. Saya maunya semiprofesional dulu. Mengapa? Kami masih kesulitan dana. Pemerintah kita dan perusahaan belum berminat ke sini (tari). Coba saja lihat di Singapura, punya Singapore Dance Theater dan disponsori perusahaan-perusahaan besar seperti UOB dan SingTel. Karena mungkin menteri kebudayaannya juga men-support, jadi perusahaannya juga tertarik. Yah, semuanya memang saling terkait sih. Kalau pemerintah saja tidak tertarik seni, ya mau bagaimana. Bagaimana soal teknik dan artistik? Kami ada kendala untuk mendidik gereget atau roh para penarinya. Teknik sudah mulai bagus. Gak malu-maluin amatlah. Tapi teknik saja gak cukup kan? Penari harus punya passion dan itu harus saya ajarin setengah mati. Kita harus ajari mereka menjadi penari profesional. Masa depan Namarina: Ballet-Jazz-Fitness kini mempunyai sekitar 2.000 murid untuk kelas balet, senam, dan senam jazz. Murid balet berjumlah 1.200. Mereka tersebar di enam tempat, yaitu di kantor pusat Jalan Halimun, Jakarta Selatan, dan di cabang Kebayoran Baru, Grogol, Tebet, Pondok Gede, dan Bintaro. Usia peserta mulai 3 tahun sampai 82 tahun. “Yang usia 82 itu ibu-ibu yang ikut kelas senam. Bukan balet,” kata Maya. Apakah masih ada orangtua yang menyekolahkan anaknya balet hanya sekadar demi prestise? Masih. Tapi dari yang sekadar prestise seperti itu, kadang malah ada anak yang memang berbakat dan bisa jadi bagus. Banyak juga anak-anak yang enggak tahu apa itu balet. Tapi sekarang dengan ada promosi visual, seperti produsen boneka Barbie yang mengeluarkan seri bertema balet, seperti 12 Dancing Princess, Swan Lake, Nutcracker, jadi anak-anak sekarang sudah banyak yang ingin belajar balet karena sudah melihat bentuk visualnya itu. Ada juga ambisi orangtua pengin balet, tapi gak kesampaian, terus nyuruh anaknya balet. Gimana Namarina ke depan? Saya pengin Namarina bisa langgeng. Saya tidak punya anak perempuan, jadi saya pengin menjalani ini secara profesional saja. Siapa nanti yang akan menggantikan saya, ya biarkan melalui proses profesional saja. Mungkin lebih baik begitu daripada menjadi perusahaan keluarga. Belum tentu ada keluarga saya yang mau meneruskan. Saya sudah mulai ngeker-ngeker (meneropong) siapa yang kira-kira bisa melanjutkan. Bagaimana mempertahankan nama besar Namarina? Manajemen harus dikelola dengan baik. Peraturan dipegang teguh, pasti ke bawah akan lebih mudah. Harus ada standar dalam mendidik murid-murid di Namarina ini. Ke depan, saya harus lebih menguatkan manajemen. Ada sejumlah kepala bidang yang saya latih langsung supaya memiliki artistic feeling mendekati saya. Sampai sekarang saya belum berani memberikan posisi artistic director ke salah satu dari mereka. Karena seorang artistic director harus memiliki wawasan yang lebih luas, tidak hanya soal tari saja, tetapi juga memahami panggung, lighting, dan kostum. Soal mengajar dan koreografi, saya kira sudah bisa saya lepas, tetapi untuk artistic director harus pelan-pelan. Saya sendiri sebenarnya masih pengin banget bisa mencipta sebuah koreografi baru, tetapi karena ini acara 50 tahun yang sangat penting, saya menahan diri dulu untuk tidak ikut dalam proses kreatif bikin koreografi. Urusan manajemen tidak menyita energi kreatif dan artistik Anda? Jelas terganggu. Dulu waktu masih ada mami, saya lebih bisa membuat koreografi dengan tenang. Kalau sekarang harus membagi waktu untuk memeriksa pekerjaan-pekerjaan manajemen. Makanya saya sudah mulai mendidik koreografer residen. Kini mereka sudah saya percaya penuh untuk membuat koreografi satu pentas utuh. Dulunya saya bagi-bagi, kalau satu pentas ada tiga babak, paling-paling saya kasih koreografi yang kecil-kecil dulu. Lama-lama nambah, dan sekarang mereka sudah bisa sendiri, bahkan sudah bisa lebih bagus dari saya. Masih menari dan mencipta? Saya terakhir kali menari di pentas tahun 1986. Sampai sekarang sih masih ngajar senam, karena senam sekarang kan sudah senam seni. Kalau tari sebagai ekspresi, saat sendirian mendengar musik Vivaldi, misalnya, kadang-kadang terinspirasi, yang saya catat jadi sebuah movement pendek, terus saya simpan. Siapa tahu nantinya bisa jadi bagian dari koreografi. (Dahono Fitrianto dan Frans Sartono, Kompas 24 Desember 2006) ►e-ti |
|
Nanny Anastasia Lubis Pendiri Sekolah Tari NamarinaNanny Anastasia Lubis, puteri Batak kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 24 November 1926, pendiri sekolah tari (balet dan senam) terkemuka di Indonesia, Namarina (30 Desember 1956). Dia memimpin Namarina sampai akhir hayatnya, 1993. Kemudian puterinya, Maya Tamara, mengambilalih tongkat estafet kepemimpinan Namarina. Pada mulanya, Nanny mendirikan dan mengelola Namarina Dancing di bawah Yayasan Namarina, yang didirikannya. Namun, yayasan itu kemudian diubahnya menjadi usaha perorangan. Sebab, sekolah yang dikelola yayasan ternyata sulit, karena pengurusnya lebih dari seorang. Nanny, anak kedua dari tiga bersaudara, ini menggunakan nama Namarina, yang diambil dari bahasa Tapanuli, (arti harfiah: yang beribu) bermakna ”dipersembahkan kepada ibunda”. Walaupun pada mulanya sang ibu tidak senang Nanny aktif dalam olahraga dan tari. Tapi dia merasa dukungan dan jasa ibunya sangat besar dalam perjalanan hidupnya. Nanny sudah gemar menari sejak usia 12 tahun (1938). Dia sering mengunci diri latihan tari secara diam-diam di depan cermin, setelah pulang sekolah. Apalagi pada saat menjelang pesta kenaikan kelas di sekolahnya Eerste Europese Lagere School, Jakarta. Penontonnya kebanyakan orang Belanda. Suatu ketika seorang penonton Belanda itu mengumpat, ”Lho, ada orang hitam turut menari? Tapi, koq paling bagus?” Mendengar hal itu, Nanny dongkol meski di sisi lain ada rasa senang mendapat pujian. Hal itu, membuat Nanny semakin giat berlatih. Kemduian, tahun 1954, atas dukungan orangtuanya, Nanny belajar di Teachers Training Courses Ballet & Gymnastics, Hamburg, Jerman Barat. Kemudian ke Singapura, Jepang, dan Inggris. Sepulang dari negara-negara itulah dia mendirikan Namarina, di Jalan Cimahi 18, Jakarta. Sejak didirikan, nama Namarina langsung melejit. Namarina juga mengajar aerobik disko, dengan gerak-gerak yang diciptakan sendiri. Hampir setiap tahun mementaskan karya-karyanya di beberapa kota, terutama Jakarta dan Bandung. Bahkan sejak 1981, Maya Tamara, putri bungsunya, lulusan London, 1980, pun bergabung menjadi pimpinan artistik. Sejak itu, semua ciptaannya di bawah pengawasan Maya Dalam rangka setenga abad Namarina, Maya menyelenggarakan pertunjukan bertema Pointe of No Return di Gedung Kesenian Jakarta, 30 Desember 2006 dan 20-21 Januari 2007. Menurut Maya Tamara, Pimpinan dan Direktur Artistik Namarina, Pointe of No Return menggambarkan perjalanan NAMARINA 50 tahun dalam 3 rentang waktu : THE BEGINNING – THE GROWTH – THE FUTURE. Repertoar ini berkolaborasi dengan iringan piano ‘ duo Iravati & Aisha-YPM’ serta ‘Indonesian Traditional Music Performance oleh Irwansyah Harahap-SUARASAMA’, dan kostum yang di desain oleh Ary Seputra. ►e-ti |
22 Januari 2013 pada 2:33 pm
[...] http://etno06.wordpress.com/2010/01/10/tokoh-tokoh-seni-dan-budaya/ [...]
26 Januari 2013 pada 6:03 am
[...] http://etno06.wordpress.com/2010/01/10/tokoh-tokoh-seni-dan-budaya/ [...]