TOKOH-TOKOH SENI DAN BUDAYA


►e-ti/rpr
Nama:
Affandi
Lahir:
Cirebon, 1907
Meninggal:
Mei 1990
Agama:
Islam
Istri:
- Maryati (isteri pertama)
- Rubiyem (isteri kedua)
Anak:
- Kartika Affandi
- Juki Affandi BSc
- Rukmini (adik tiri)
Pendidikan:
- H.I.S
- M.U.L.O
- A.M.S
Profesi:
-Pelukis
- Pengajar seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, Jateng
Aliran:
Ekspresionisme atau abstrak
Penghargaan:
- Piagam Anugerah Seni, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969
- Doktor Honoris Causa dari University of Singapore, 1974
- Dag Hammarskjoeld, International Peace Prize (Florence, Italy, 1997)
- Bintang Jasa Utama, tahun 1978
- Julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia oleh Koran International Herald Tribune
- Gelar Grand Maestro di Florence, Italia
Pengalaman Organisasi:
- Anggota Hak-Hak Azasi Manusia dari Comite Pusat Diploatic Academy of
Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia
- Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogakarta.
Pameran-Pameran:
- Museum of Modern Art (Rio de Janeiro, Brazil, 1966)
- East-West Center (Honolulu, 1988)
- Festival of Indonesia (U.S.A., 1990-1992)
- Gate Foundation (Amsterdam, Holland , 1993)
- Singapore Art Museum (1994)
- Centre for Strategic and International Studies (Jakarta, 1996)
- Indonesia-Japan Friendship festival (Morioka, Tokyo, 1997)
- ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998)
- Pameran keliling di berbagai kota di India.
- Pameran di Eropa al: London, Amsterdam, Brussels, Paris, Roma
- Pameran di benua Amerika al: Brazilia, Venezia, San Paulo, Amerika Serikat
- Pameran di Australia dan lain-lain
Museum:
Museum Affandi, Jl. Adisucipto, Yogyakarta
Sumber:
Buku Wajah-Wajah Indonesia karya Solichin Salam dan berbagai sumber
Affandi (1907-1990)

Maestro Seni Lukis Indonesia

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.

Dari segi pendidikan, putra Cirebon kelahiran Cirebon tahun 1907 ini termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi generasinya yang kelahiran 1907, memperoleh pendidikan H.I.S, MULO, dan selanjutnya tamat dari A.M.S, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri. Namun bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.

Ketika Republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain “Merdeka atau mati!”. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno ‘Lahirnya Pancasila’, 1 Juni 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster itu idenya dari Bung Karno, gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Yang dijadikan model pelukis Dullah. Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di poster itu? Kebetulan muncul penyair Chairil Anwar. Soedjojono menanyakan kepada Chairil, maka dengan enteng Chairil ngomong: “BUNG, AYO BUNG!”

Dan selesailah poster bersejarah itu. Sekelompok pelukis siang malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah. Dari mana kah Chairil memungut kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu, biasa diucapkan oleh pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan dagangannya pada jaman itu.

Bakat melukis yang menonjol pada dirinya pernah enorehkan cerita menarik dalam kehidupannya. Suatu saat, dia pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, suatu Akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Ketika telah tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran keliling negeri India.

Sepulang dari India, Eropa, pada tahun limapuluhan, Affandi dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante. Dan terpilihlah dia, seperti Frof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya katanya Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.

Lalu apa topik yang diangkat Affandi? “Kita bicara tentang Perikemanusiaan, lalu bagaimana tentang Perikebinatangan?” demikianlah dia memulai orasinya. Tentu saja yang mendengar semua tertawa ger-geran. Affandi bukan orang humanis biasa. Pelukis yang suka pakai sarung, juga ketika dipanggil ke istana semasa Suharto masih berkuasa dulu, intuisinya sangat tajam. Meskipun hidup di jaman teknologi yang sering diidentikkan jaman modern itu, dia masih sangat dekat dengan fauna, flora dan alam semesta ini. Ketika Affandi mempersoalkan ‘Perikebinatangan’ tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup masih sangat rendah.

Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.

Pada tahun enampuluhan, gerakan anti imperialis AS sedang mengagresi Vietnam cukup gencar. Juga anti kebudayaan AS yang disebut sebagai ‘kebudayaan imperialis’. Film-film Amerika, diboikot di negeri ini. Waktu itu Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung USIS Jakarta. Dan Affandi pun, pameran di sana.

Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan. Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan agresor itu. Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: “Pak Affandi memang pimpinan Lekra, tapi dia tak bisa membedakan antara Lekra dengan Lepra!” kata teman itu dengan kalem. Karuan saja semua tertawa.

Dalam perjalanannya berkarya, pemegang gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.

Affandi memang hanyalah salah satu pelukis besar Indonesia bersama pelukis besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah dan lain-lain. Namun karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya sampai menganugerahinya berbagai sebutan dan julukan membanggakan antara lain seperti julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia bahkan julukan Maestro. Adalah Koran International Herald Tribune yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia dia telah diberi gelar Grand Maestro.

Berbagai penghargaan dan hadiah bagaikan membanjiri perjalanan hidup dari pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini. Di antaranya, pada tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia pun mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia.

Dari dalam negeri sendiri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah diterimanya, di antaranya, penghargaan “Bintang Jasa Utama” yang dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978. Dan sejak 1986 ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Bahkan seorang Penyair Angkatan 45 sebesar Chairil Anwar pun pernah menghadiahkannya sebuah sajak yang khusus untuknya yang berjudul Kepada Pelukis Affandi.

Untuk menghargai karya-karya besarnya, berbagai lembaga atau yayasan juga berusaha mengabadikan kenang-kenangan pelukis besar ini. Pada tahun 1976, Prix International Dag Hammerskjoeld telah menerbitkan sebuah buku kenang-kenangan tentang “Affandi”. Buku setebal 189 halaman lebih itu diterbitkan dalam 4 bahasa, yaitu dalam bahasa Inggris, Belanda, Perancis, dan Indonesia. Demikian juga Penerbitan Yayasan Kanisius, telah menerbitkan sebuah buku tentang Affandi karya Nugraha Sumaatmadja pada tahun 1975.

Begitu pula dalam rangka memperingati 70 tahun Affandi pada tahun 1978, Dewan Kesenian Jakarta pun menerbitkan buku “Affandi 70 Tahun” susunan Ajip Rosidi, Zaini, Sudarmadji. Dan dalam rangka memperingati 80 tahun Affandi di tahun 1987, Yayasan Bina Lestari Budaya Jakarta, menerbitkan sebuah buku tentang “Affandi”. Buku yang disusun oleh Raka Sumichan dan Umar Kayam setebal 222 halaman lebih itu diterbitkan dalam dua bahasa yakni bahasa Inggris dan Indonesia.

Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat. Di negara India, dia telah mengadakan pameran keliling ke berbagai kota. Demikian juga di berbagai negara di Eropa, Amerika serta Australia. Di Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam, Brussels, Paris dan Roma. Begitu juga di negara-negara benua Amerika seperti di Brazilia, Venezia, San Paulo, dan Amerika Serikat. Hal demikian jugalah yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia.

Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Pelukis yang kesukaannya makan nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim. Orang-orang lain bila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti; Arjuna, Gatutkaca, Bima atau Werkudara, Kresna.

Namun, Affandi memilih Sokasrana yang wajahnya jelek namun sangat sakti. Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh dari wajah yang tampan. Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan self portrait Affandi tahun 1974, saat Affandi masih begitu getol dan produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong Yogyakarta.

Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali, Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu justru Affandi balik bertanya, ”Aliran apa itu?”.

Bahkan hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar.

Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh.
Sikap ”sang maestro” yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.

Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan enteng, dia menjawab, ”Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan.” Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai ”tukang gambar”.

Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. ”Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis,” ucapnya.

Dari segi produktifitas, Affandi termasuk pelukis yang cukup produktif. Menurut Affandi sendiri, dia telah melukis lebih dari 2.000 buah lukisan dan sekitar 300 buah lukisan koleksi pribadinya kini disimpan di Museum Affandi, Jogyakarta. Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya.

Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dikuburkan tidak jauh dari Museum yang didirikannya itu.

Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai kesejarahan mulai dari awal karirnya hingga selesai, sehingga tidak dijual. Sedangkan galeri II adalah lukisan teman-teman Affandi baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik, dan lain-lain. Adapun galeri III berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.

Di dalam galeri III yang selesai dibangun tahun 1997, saat ini terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada tahun 1999. Lukisan itu antara lain “Apa yang Harus Kuperbuat” (Januari 99), “Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi” (Februari 99), “Tidak Adil” (Juni 99), “Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan KepadaNya” (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan Maryati, Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi.   ►mlp-juka

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 06092004
►e-ti/rpr
Nama:
WS Rendra
Nama Lengkap:
Willibrordus Surendra Broto Rendra
Lahir:
Solo, 7 Nopember 1935
Agama:
Islam
Istri:
Ken Zuraida
Pendidikan:
- SMA St. Josef, Solo
- Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
- American Academy of Dramatical Art, New York, USA (1967)
Karya-Karya
Drama:
- Orang-orang di Tikungan Jalan
- SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor
- Oedipus Rex
- Kasidah Barzanji
- Perang Troya tidak Akan Meletus
- dll
Sajak/Puisi:
- Jangan Takut Ibu
- Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
- Empat Kumpulan Sajak
- Rick dari Corona
- Potret Pembangunan Dalam Puisi
- Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
- Pesan Pencopet kepada Pacarnya
- Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
- Perjuangan Suku Naga
- Blues untuk Bonnie
- Pamphleten van een Dichter
- State of Emergency
- Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
- Mencari Bapak
- Rumpun Alang-alang
- Surat Cinta
- dll
Kegiatan lain:
Anggota Persilatan PGB Bangau Putih
Penghargaan:
- Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
- Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969)
- Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)
W.S. Rendra

Kepiawaian Si Burung Merak

Meski usianya hampir 70 tahun, kepak sayap si penyair berjuluk “Si Burung Merak” ini masih kuat dan tangkas. Suaranya masih lantang dan sangatlah mahir memainkan irama serta tempo. Kepiawaian pendiri Bengkel Teater, Yogyakarta, ini membacakan sajak serta melakonkan seseorang tokoh dalam dramanya membuatnya menjadi seorang bintang panggung yang dikenal oleh seluruh anak negeri hingga ke mancanegara.

WS Rendra mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam dunia sastra dan teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah drama sekaligus melakoninya sendiri, dikuasainya dengan sangat matang. Sajak, puisi, maupun drama hasil karyanya sudah melegenda di kalangan pecinta seni sastra dan teater di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Menekuni dunia sastra baginya memang bukanlah sesuatu yang kebetulan namun sudah menjadi cita-cita dan niatnya sejak dini. Hal tersebut dibuktikan ketika ia bertekad masuk ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada selepas menamatkan sekolahnya di SMA St.Josef, Solo. Setelah mendapat gelar Sarjana Muda, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di American Academy of Dramatical Art, New York, USA.

Sejak kuliah di Universitas Gajah Mada tersebut, ia telah giat menulis cerpen dan essei di berbagai majalah seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Kisah, Basis, Budaya Jaya. Di kemudian hari ia juga menulis puisi dan naskah drama. Sebelum berangkat ke Amerika, ia telah banyak menulis sajak maupun drama di antaranya, kumpulan sajak Balada Orang-orang Tercinta serta Empat Kumpulan Sajak yang sangat digemari pembaca pada jaman tersebut. Bahkan salah satu drama hasil karyanya yang berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan (1954) berhasil mendapat penghargaan/hadiah dari Departemen P & K Yogyakarta.

Sekembalinya dari Amerika pada tahun 1967, pria tinggi besar berambut gondrong dengan suara khas ini mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Memimpin Bengkel Teater, menulis naskah, menyutradarai, dan memerankannya, dilakukannya dengan sangat baik.

Karya-karyanya yang berbau protes pada masa aksi para mahasiswa sangat aktif di tahun 1978, membuat pria bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra, ini pernah ditahan oleh pemerintah berkuasa saat itu. Demikian juga pementasannya, ketika itu tidak jarang dilarang dipentaskan. Seperti dramanya yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.

Di samping karya berbau protes, dramawan kelahiran Solo, Nopember 1953, ini juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah seperti puisinya yang berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya.

Banyak lagi karya-karyanya yang sangat terkenal, seperti Blues untuk Bonnie, Pamphleten van een Dichter, State of Emergency, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, Mencari Bapak. Bahkan di antara sajak-sajaknya ada yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and Blues: Poems oleh Oxford University Press pada tahun 1974. Demikian juga naskah drama karyanya banyak yang telah dipentaskan, seperti Oedipus Rex, Kasidah Barzanji, Perang Troya Tidak Akan Meletus, dan lain sebagainya.

Sajaknya yang berjudul Mencari Bapak, pernah dibacakannya pada acara Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial International School Jakarta. Ketika itu penampilannya mendapat perhatian dan sambutan yang sangat hangat dari para undangan. Demikianlah salah satu contohnya ia secara langsung telah berjasa memperkenalkan sastra Indonesia ke mata dunia internasional.

Beberapa waktu lalu, ia turut serta dalam acara penutupan Festival Ampel Internasional 2004 yang berlangsung di halaman Masjid Al Akbar, Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 22 Juli 2004. Dalam acara itu, ia menyuguhkan dua puisi balada yang berkisah tentang penderitaan wanita di daerah konflik berjudul Jangan Takut Ibu dan kegalauan penyair terhadap sistem demokrasi dan pemerintahan Indonesia. Pada kesempatan tersebut, lelaki yang akrab dipanggil Willy ini didampingi pengusaha Setiawan Djody membacakan puisi berjudul Menang karya Susilo Bambang Yudhoyono.

Prestasinya di dunia sastra dan drama selama ini juga telah ditunjukkan lewat banyaknya penghargaan yang telah diterimanya, seperti Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada tahun 1957, Anugerah Seni dari Departemen P & K pada tahun 1969, Hadiah Seni dari Akademi Jakarta pada tahun 1975, dan lain sebagainya.

Menyinggung mengenai teori harmoni berkeseniannya, ia mengatakan bahwa mise en scene tak lebih sebagai elemen lain yang tidak bisa berdiri sendiri, dalam arti ia masih terikat oleh kepentingan harmoni dalam pertemuannya dengan elemen-elemen lain. Lebih jelasnya ia mengatakan, bahwa ia tidak memiliki kredo seni, yang ada adalah kredo kehidupan yaitu kredo yang berdasarkan filsafat keseniannya yang mengabdi kepada kebebasan, kejujuran dan harmoni.

Itulah Rendra, si bintang panggung yang selalu memukau para penontonnya setiap kali membaca sajaknya maupun melakoni dramanya. ►atur-juka

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

C © updated 18062004
►e-ti
Nama:
Hans Bague Jassin
Lahir:
Gorontalo, Sulawesi Utara, 31 Juli 1917
Meninggal:
Jakarta 11 Maret 2000

Istri:
- Tientje van Buren (cerai)
- Arsiti (meninggal)
- Yuliko Willem
Anak:
- Hannibal Jassin
- Mastinah Jassin
- Yulius Firdaus Jassin
- Helena Magdalena Jassin
Pendidikan:
- HIS, Balikpapan (1932)
- MULO
- HBS, Medan (1939)
- FS UI, Jakarta (1957)
- Universitas Yale, AS (1958-1959)
- Doktor Kehormatan Sastra dari UI (1975)
Karya Tulis:
- Angkatan 45 (Jajasan Dharma, 1951)
- Tifa Penyair dan Daerahnya (Jajasan Dharma, 1952)
- Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (Gunung Agung, empat jilid, 1954-1967)
- Kesusasteraan Dunia dalam Terdjemahan Indonesia (Jajasan Kerjasama Kebudajaan, 1956)
- Heboh Sastera 1968 (Gunung Agung, 1970)
- Gema Tanah Air (1948)
- Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1948)
- Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956)
- Kisah 13 Cerita Pendek (1955)
- Analisa, Sorotan atas Cerita Pendek (1961)
- Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru (1962)
- Pujangga Baru Prosa dan Puisi (1963)
- Angkatan 66 Prosa dan Puisi (1968)
- Surat-Surat 1943-1983, Gramedia, 1984
Terjemahan:
- Max Havelaar (karya Multatuli, Djambatan 1972)
- Al Qur’an Bacaan Mulia (Djambatan, 1978) dan Bacaan Mulia (edisi perbaikan, Yayasan 23 Januari 1942, 1982).
- Terbang Malam (Karya A de St Exupery)
- Api Islam (Karya Syed Amir Ali, 1966)
Pekerjaan:
- Pekerja Sukarela di Kantor Asisten Residen Gorontalo
- Redaksi majalah Poejangga Baroe
- Redaksi Balai Pustaka (sampai 1947)
- Redaktur majalah Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra Bahasa dan Budaya, Seni, ”Medan Ilmu Pengetahuan”
- Horison Dosen Luar Biasa di FS UI
- Penasihat Lembaga Bahasa Nasional
- Pendiri Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Sumber:
Dari berbagai sumber: Tempo, Kompas, dan sebagainya.

H.B Jassin

Paus Sastra Indonesia

Sejarah mencatat, sepanjang hidupnya HB Jassin menumpahkan perhatiannya mendorong kemajuan sastra-budaya di Indonesia. Berkat ketekunan, ketelitian dan ketelatenannya, ia dikenal sebagai kritisi sastra terkemuka sekaligus dokumentator sastra terlengkap. Kini, kurang lebih 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi pengarang yang dihimpunnya tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Begitu besarnya pengaruh HB Jasin di antara kalangan sastrawan, Gajus Siagian (almarhum) menjulukinya “Paus Sastra Indonesia”. Saat itu berkembang suatu ‘keadaan’ dimana seseorang dianggap sastrawan yang sah dan masuk dalam ‘kalangan dalam’ bila HB Jassin sudah ‘membabtisnya’. Meski kedengarannya berlebihan namun begitulah adanya.

Saat itu, ada beberapa pengarang yang lama berada di ‘kalangan luar’ sebelum akhirnya diakui masuk dalam ‘kalangan dalam’ seperti Motinggo Busye, Marga T yang aktif produktif mengarang, dan penulis novel-pop lainnya. Padahal karya-karya mereka cukup baik, berseni dan bernilai bernas. Mereka lama berada di ‘kalangan luar’ karena “pengaruh besar kepausan” HB Jassin. HB Jassin jugalah yang menobatkan Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan ’45. Lebih dari 30 tahun, julukan itu disandangnya.

Jassin rajin dan tekun mendokumentasikan karya sastra, dan segala yang berkaitan dengannya. Dari tangannya lahir sekitar 20 karangan asli, dan 10 terjemahan. Yang paling terkenal adalah Gema Tanah Air, Tifa Penyair dan Daerahnya, Kesusasteraan Indonesia Baru Masa Jepang, Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai (empat jilid, 1954-1967) dan tafsir Alquran dalam buku Qur’an Bacaan Mulia. Pada saat ulang tahunnya ke-67, PT Gramedia menyerahkan ”kado” buku Surat-Surat 1943-1983 yang saat itu baru saja terbit. Di dalamnya terhimpun surat Jassin kepada sekitar 100 sastrawan dan seniman Indonesia.

Jassin memulai dan meneruskan kariernya dari banyak membaca. Lahir 31 Juli 1917 di Gorontalo, Sulawesi Utara, anak kedua dari enam bersaudara ini berayahkan seorang bekas kerani BPM yang ”kutu” buku. Jassin mulai gemar membaca tidak lama setelah duduk di bangku HIS (SD). ”Waktu itu, cara membangkitkan minat baca murid sangat bagus,” tuturnya tentang sekolah yang mengajarkannya teknik mengarang dan memahami puisi. Teknik mengarang dan memahami posisi sudah dipelajarinya sejak masih duduk di HIS (SD). Di HBS Medan — saat ikut ayahnya yang pindah ke BPM Pangkalanbrandan, Sumatera Utara — ia mulai menulis kritik sastra, dan dimuat di beberapa majalah.

Bekerja di kantor Asisten Residen Gorontalo seusai HBS — tanpa gaji — memberinya kesempatan mempelajari dokumentasi secara baik. Tetapi, belakangan Jassin menerima tawaran Sutan Takdir Alisjahbana, waktu itu redaktur Balai Poestaka, bekerja di badan penerbitan Belanda itu, 1940. Di sana ia juga berkarya sebagai penulis cerpen dan sajak.

Tak lama kemudian ia beralih ke bidang kritik serta dokumentasi sastra. Adalah Armijn Pane yang mengajarinya membuat timbangan buku dengan lebih baik. Inilah awal jabatannya sebagai redaktur berbagai majalah sastra dan budaya, seperti Pandji Poestaka dan Pantja Raja, lalu setelah Indonesia merdeka, di Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra, Bahasa dan Budaya, Buku Kita, Medan Ilmu Pengetahuan, dan Horison.

Bekas Lektor Sastra Indonesia Modern Fakultas Sastra UI ini tetap belajar sambil mengajar. Gelar sarjana sastra diraihnya pada 1957, dan doktor honoris causa, delapan belas tahun kemudian — keduanya di FS UI. Ia juga sempat mendalami ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, AS. Ia menguasai bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman.

Ada kisah unik saat ia menempuh pendidikan di UI. Saat itu, HB Jassin merangkap sebagai mahasiswa dan mahaguru sekaligus. Ketika kuliah sastra-lama, terutama mata pelajaran Jawa Kuno, Sanskerta, HB Jassin menjadi mahasiswa, tekun duduk bersama mahasisawa lainnya dan penuh perhatian pada matakuliahnya. Tetapi begitu berganti matakuliah Sastra Modern, Masa Kekinian, HB Jassin berdiri dan maju ke depan, berdiri di podium lalu memberi kuliah, karena memang sebagai doktor Sastra Modern.

Jadi dalam satu hari pada dua matakuliah, ia sekaligus bisa menjadi mahasiswa dan bisa menjadi mahaguru. Pada masa itu, orang seperti dia masih sangat langka. Ia memberikan teladan kepada para mahasiswa dengan rajin belajar, tekun, teliti dan sungguh-sungguh.

HB Jassin terbilang bukan orang yang ahli berdebat atau ahli berbicara di depan umum. Ia adalah orang yang menulis, berpikir lalu menuliskannya, tekun, rajin, dan berhati-hati. Seringkali saat diajak berdebat di depan forum resmi, ia tidak meladeninya. Karena itu pula pada banyak kesempatan pada beberapa kali simposium sastra-budaya, konggres, konferensi, seminar, dia selalu menolak untuk berbicara yang sifatnya akan ada perdebatan.

Pria yang tidak suka berdebat ini tidak bisa bersepeda. Ia lebih sering jalan kaki meski ada kalanya naik bis, becak dan kendaraan umum lainnya. Mungkin karena kebiasaannya itu ia panjang umur dan selalu dalam keadaan sehat pada zamannya.

”Wali Penjaga Sastra Indonesia” — julukan dari ahli sastra Indonesia Prof. A.A. Teeuw — ini pernah terganyang dan dikecam. Setelah menandatangani Manifes Kebudayaan (”Manikebu”), ia dituding oleh kelompok Lekra sebagai anti Soekarno. Akibatnya, ia dipecat dari Lembaga Bahasa Departemen P & K dan staf pengajar UI.

Namun, HB Jassin mampu bersikap jujur. Mengomentari buku Pramudya Ananta Toer, Bumi Manusia, ia menilainya tidak mengandung hal-hal yang melanggar hukum. Pelarangan terhadap buku itu lebih banyak karena dikarang oleh bekas tokoh Lekra.

Cerpen Ki Panji Kusmin, Langit Makin Mendung, yang dimuat HB Jassin dalam Sastra, 1971, sempat dianggap ”menghina Tuhan”. Di pengadilan, ia diminta mengungkapkan nama Ki Panji Kusmin sebenarnya. Permintaan ditolaknya. Akibatnya, HB Jassin dihukum satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

Kritik sastranya bersifat edukatif dan apresiatif serta lebih mementingkan kepekaan dan perasaan daripada teori ilmiah sastra. Hasil dokumentasinya lebih dari 40 tahun — termasuk 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi pengarang — telah dihimpun dan disimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pria gemuk pendek ini menikah tiga kali. Istri pertama, Tientje van Buren, wanita Indo yang suaminya orang Belanda yang disekap Jepang, pisah cerai. Lalu Arsiti, ibu dua anaknya, meninggal pada 1962. Sekitar 10 bulan kemudian ia menikahi gadis kerabatnya sendiri, Yuliko Willem, yang terpaut usia 26 tahun. Yuliko juga memberinya dua anak. Dari kedua istri ini, ia memiliki empat anak, yakni Hannibal Jassin, Mastinah Jassin, Yulius Firdaus Jassin, Helena Magdalena Jassin, 10 orang cucu, dan seorang cicit.

Ia meninggal pada usia 83 tahun, Sabtu dini hari, 11 Maret 2000 saat dirawat akibat penyakit stroke yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun di Paviliun stroke Soepardjo Rustam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Sebagai penghormatan, ia dimakamkan dalam upacara kehormatan militer “Apel Persada” di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.

***

Apa Kata Mereka
Kalangan sastra melihat HB Jassin sebagai pendokumentasi sastra yang sangat ulung dan sangat tekun. Menurut pengarang Budi Darma, peran Jassin sangat penting apalagi mengingat masyarakat Indonesia yang abai terhadap soal-soal dokumentasi dan kesadaran sejarahnya sangat rendah. Akibatnya banyak yang cenderung mengulang-ulang. Tambahnya ketika dihubungi di Surabaya, “ia juga kritikus sastra formal yang pertama. Sebelumnya seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Armiyn Pane atau Amir Hamzah lebih banyak menulis puisi atau novel.”

Penyair Sapardi Djoko Damono menilai, dewasa ini banyak orang sekaliber HB Jassin, bahkan melebihinya. “Tetapi orang yang setia pada sastra seperti Pak Jassin tidak ada lagi. Selama 60 tahun hanya itu pekerjaannya,” ujar Sapardi yang pernah menjadi editor pada buku HB Jassin 70 Tahun, terbitan PT Gramedia tahun 1987.

Menurut sejarawan Taufik Abdullah, HB Jassin adalah tokoh yang luar biasa dalam bidang sastra karena bisa memperkenalkan sastra kepada anak muda tahun 1950-an, yang sulit ditemui pada zaman sekarang. Yang lebih penting lagi, HB Jassin adalah pemelihara dokumentasi sastra terpenting di Indonesia. Tambahnya, “Dengan itu kita bisa menulis lebih baik.”

Mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta Dr Salim Said berpendapat, HB Jassin adalah pencari bakat terbesar yang dimiliki Indonesia. Dia pula satu-satunya sastrawan Indonesia yang diakui pemerintah dalam bentuk anugerah Bintang Mahaputera, sehingga HB Jassin dimakamkan secara militer. Ia menilai HB Jassin banyak menemukan pengarang-pengarang muda berbakat yang dia dorong untuk menjadi pengarang.

Kalangan seniman yang lebih muda pun tetap merasakan jasa Jassin. Penyair Dorothea Rosa Herliany (37) yang ditanya di Magelang, Jawa Tengah, mengaku tersentuh oleh sikap Jassin yang dalam keadaan sakit masih memperhatikan cerpen-cerpen anak muda.

Kepada wartawan, Gus Dur berkata, “Saya dibesarkan dalam tulisan beliau di Mimbar Indonesia dan beberapa buku. Saya menghormati beliau, karena beliau adalah raksasa tempat kita berutang kepadanya.” Gus Dur mengaku terkesan dengan tulisan asli HB Jassin berjudul Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei, yang pertama kali diterbitkan tahun 1954. ►mlp

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

C © updated 16062004
►e-ti/kompas
Nama:
Bagong Kussudiardja
Lahir:
Yogyakarta, 9 Oktober 1928
Meninggal:
Yogyakarta, 15 Juni 2004
Profesi:
Koreografi dan Pelukis
Isteri:
Sofiana (meninggal tahun 1997) dan Yuli Sri Hastuti (38)
Anak:
Tujuh Orang
Pendidikan:
Taman Siswa Yogyakarta
Belajar ilmu tari modern dari Martha Graham, New York.

Karya:
Menciptakan lebih dari 200 tari, dalam bentuk tunggal atau massal antara lain tari Layang-layang (1954), tari Satria Tangguh, dan Kebangkitan dan Kelahiran Isa Almasih (1968), juga Bedaya Gendeng (1980-an). Selama hidup, Bagong

Pendiri Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo

Bagong Kussudiardja (1928-2004)

Begawan Seni itu Telah Tiada

Koreografer dan pelukis kenamaan yang digelari begawan seni, ini meninggal dalam usia 75 tahun di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, Selasa 15 Juni 2004 pukul 22.45. Seniman kelahiran Yogyakarta, 9 Oktober 1928 yang telah mencipta lebih 200 tari dalam bentuk tunggal atau massal, itu

meninggal akibat komplikasi penyakit prostat, paru-paru, diabetes, dan jantung.

Pendiri Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo itu meninggalkan tujuh anak, 21 cucu, dan dua cicit, serta seorang isteri Yuli Sri Hastuti (38). Isteri pertamanya, Sofiana  telah meninggal tahun 1997 dan Yuli Sri Hastuti (38). Beberapa anaknya mengikuti jejakya menjadi seniman.

Romo Gong, panggilan akrab Bagong Kussudiardja, meninggal di tengah proses penciptaan sendratari, pertunjukan lintasan sejarah berjudul Jakarta Maju, Indonesia Maju yang akan dipentaskan Kamis malam 17 Juni 2004 ini, dalam rangka pembukaan Pekan Raya Jakarta (PRJ). Ide sendratari ini digarap oleh putera-puterinya kakak-beradik Ida Manu Trenggana, Butet Kertaradjasa, dan Djaduk Ferianto, bersama lebih dari 100-an cantrik Padepokan Bagong Kussudiardja.

Jenazahnya  dimakamkan di sisi makam istri pertamanya, Sofiana, di makam keluarga Sembungan, Kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (16/6) siang.
Seniman tari yang pernah merasa “mabuk teknik tarian barat” itu, menurut Djaduk Ferianto, sekitar pukul 18.00, Selasa, meminta anak-anaknya melepaskan tali-tali kain yang mengikat tangan dan kakinya. Ikatan itu dilakukan karena selama dirawat di Rumah Sakit Bethesda almarhum sering berontak di tempat tidur.
Bagong kemudian meminta anak-anaknya melihatnya menari di atas tempat tidur. Masih dalam posisi duduk, ia kemudian menari. “Tangan Bapak kemudian bergerak-gerak membentuk tarian. Dia masih bersemangat sekali dan punya energi,” kata Djaduk kepada pers kemarin.
Saat itu Romo Gong berseloroh kepada anak dan cucunya yang menungguinya,”Aku nari dhewe ngene ki, piye aku koyo wong edan durung? (Aku menari sendiri begini ini, apa aku sudah seperti orang gila?-Red).”
Bagi Iman Sutrisno, Sardono W Kusumo, dan I Made Bandem, Bagong adalah salah satu seniman besar, seorang ayah, guru, idola, bahkan pahlawan, yang turut mengharumkan nama Indonesia di kancah kesenian dunia. Karya-karya tari dan lukisnya memiliki karakter dan taksu yang kuat, yang membedakannya dengan karya lain. Kepergiannya telah mewariskan jejak sejarah yang bisa mendorong seniman-seniman muda untuk berproses kreatif lebih keras lagi.

Dalam dunia tari Indonesia, sempat muncul aliran ‘Bagongisme’, yang merujuk pada karakter tarian-tarian khas Bagong. Sebagai pencipta tari dan koreografer, Bagong mampu melahirkan dan membawakan tari-tarian dengan gerak-gerak yang dimanis, energik, dan hidup.
Selain energik, Bagong juga mendasarkan estetika seni tarinya pada keikhlasan untuk mengabdi pada kemanusiaan. Keikhlasan dan pengabdian itu mewarnai hampir semua karya Bagong, seperti tari Layang-layang (1954), tari Satria Tangguh, dan Kebangkitan dan Kelahiran Isa Almasih (1968), juga Bedaya Gendeng (1980-an). Selama hidup, Bagong menciptakan lebih dari 200 tari, dalam bentuk tunggal atau massal.
Penari Didik Nini Thowok menilai, Bagong mampu mengekplorasi khazanah tradisi leluhur Jawa dan memberinya sentuhan modern. Kombinasi itu terjadi karena dia adalah buyut dari Sultan Hamengku Buwono VII yang memiliki latar belakang tradisi Jawa yang kental dan sempat belajar ilmu tari modern dari Martha Graham, New York.
Dalam dunia seni lukis, karya-karya Bagong juga penuh spirit. Pelukis Djoko Pekik melihat spirit itu muncul sebagai hasil dinamika dari militansinya dalam bekerja. “Bagong memilih seni dan komitmen atas pilihannya itu. Dia total, hanya hidup dan menghidupi kesenian,” kata Pekik.
Lukisan-lukisan Bagong juga sarat dengan dinamika gerak. Ratusan kali dia berpameran di Indonesia dan luar negeri dan menyabet sejumlah penghargaan. Salah satunya, Medali Emas dari Paus Paulus II di Vatikan atas karya lukisnya yang menggambarkan Yesus dalam cita rasa Indonesia.
Profesional
Menurut dua putranya, aktor Butet Kertaradjasa dan musisi Djaduk Ferianto, Bagong adalah sosok seniman yang profesional dan bertanggung jawab atas kerja yang dipilihnya. Baginya, semua karya tergantung pada motivasi di balik karya, meski karya itu pesanan.
“Dalam soal ideologi seni, ayah bisa berdebat panjang dengan kami, berkompetisi, dan saling mengkritik. Beliau keras, tapi memberi kebebasan. Itu kami anggap sebagai proses pendewasaan dan bagian dari caranya untuk mendidik,” kata Butet.
Sebagai jebolan Taman Siswa Yogyakarta, sosok Bagong kental dengan nilai-nilai pendidikan. Buktinya, dia mendirikan Pusat Latihan Tari (PLT) pada tahun 1957 dan membangun Padepokan Seni Bagong Kussudiardja tahun 1978. Dengan tekun dan disiplin, kata Djaduk, Bagong telah mendidik ratusan siswa dari berbagai daerah, bahkan telah merambah Asia. Dan, tiap kali mendidik siswanya, Bagong selalu mengingatkan: “Jadilah Bagong-Bagong Besar”.
“Mas Gong, Mbak Sofi wis nggoreng kripik paru kesenenganmu. Wis sugeng tindak (Mas Gong, Mbak Sofi –istrinya yang pertama–sudah menggoreng keripik paru kesukaanmu. Silakan. Selamat jalan-Red),” kata Sardono W Kusumo. (K07/HRD)

Bagong memulai kariernya sebagai penari Jawa klasik di Yogyakarta pada 1954. Ia berkenalan dengan seni tersebut melalui Sekolah Tari Kredo Bekso Wiromo, yang dipimpin oleh Pangeran Tedjokusumo, seniman tari ternama.
Sebagai seniman yang proaktif, Bagong memiliki ide sendiri dan mengekspresikannya melalui tari. Menurutnya, tari Jawa harus tumbuh alami dan tidak bersifat statis.
Pada 5 Maret 1958 ia mendirikan Pusat Pelatihan Tari Bagong Kussudiardjo. Sejak itu banyak penari bermunculan.
Setelah sekian lama berpraktek menari dan melakukan observasi, Bagong akhirnya memutuskan untuk mendirikan padepokan seni di bidang tari, ketoprak, karawitan, dan sinden, pada 2 Oktober 1978.
Mengenai padepokan seni yang ditinggalkan oleh Bagong, Butet mengatakan bahwa saat ini belum diputuskan tentang siapa yang akan melanjutkan pengelolaannya. “Kami akan membahasnya dulu bersama keluarga,” katanya. ►tsl-kompas-ant

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 10092004
►e-ti/kps
Nama:
Irma Priscilla Hardisurya
Lahir:
6 Juli 1943
Profesi:
Wartawan, Konsultan dan Pelukis
Prestasi:
Miss Indonesia di International Beauty Pageant 1969 Tokyo
= Miss Asia Manila tahun 1970
= Penerima tropi Miss Tourism Hollywood International 1972
Pendidikan:
= S1 Senirupa Institut Teknologi Bandung (ITB)
= Teknik mode di Hamburg dan Amsterdam
= Diploma Beauty Therapist di London
Karier:
= Redaktur Mode, Redaktur Pelaksana, Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Femina 1972-1990
= Konsultan analisis warna mode di PT Promo Studio Rona dan Gaya

Alamat:
Jalan Wijaya II, Jakarta

Irma Hardisurya

Ratu dan Pelukis Realisme Romantik

Bagi mantan ratu kecantikan pertama Indonesia (Miss Indonesia di International Beauty Pageant 1969 Tokyo), ini hidup adalah anugerah Tuhan. Dia mensyukuri apa pun yang Tuhan berikan. Setelah sukses sebagai ratu kecantikan, ia memilih menjadi wartawan Majalah Femina. Kemudian, lulusan Senirupa Institut Teknologi Bandung (ITB) itu dikenal sebagai seorang pelukis realisme romantik kontemporer.

Miss Asia Manila 1970 ini meniti karier sebagai sebagai wartawan di Majalah Femina sejak pertama terbit tahun 1972 sampai 1990.  Pemilik Diploma Beauty Therapist di London dan teknik mode di Hamburg dan Amsterdam, ini memegang posisi redaktur mode, redaktur pelaksana sampai terakhir wakil pemimpin redaksi di majalah wanita terkemuka itu.

Kemudian, penerima tropi Miss Tourism Hollywood International 1972, ini  bekerja sebagai konsultan analisis warna mode di PT Promo Studio Rona dan Gaya. Selain itu, dia pun menekuni bakat sebagai pelukis. Dia seorang pelukis realisme romantik kontemporer.

Dia pun telah menggelar pameran lukisan di beberapa tempat. September 2004 dia menggelar pameran lukisan Warna dalam Lukisan di Paulineart Art Space & Studio di bilangan Jalan Denpasar, Kuningan.

Pada saat bom di dekat Kedutaan Besar Australia pada hari Kamis (9/9/2004), dia melintas dari lokasi itu lebih kurang lima menit sebelumnya. Saat itu Irma baru kembali dari dokter gigi di kawasan Jalan Teuku Umar, Jakarta. Sesaat dia  masuk galeri terdengar suara menggelar.

Galeri tersebut berjarak kurang dari dua kilometer dari lokasi ledakan, hingga bunyi ledakan dan getaran terasa kuat. Suasana mencekam itu mengingatkan Irma pada kerusuhan Mei 1998. Irma mengenangnya sebagai masa yang sangat menekan. Suasana itulah yang memicu Irma untuk mulai aktif melukis kembali.

Setelah terkumpul cukup lukisan, lalu memamerkan lukisan yang disebutnya sebagai realisme romantik kontemporer.
“Katanya saya melukis benda-benda yang tak terlihat. Hah! mungkin saya ini pelukis gaib, ha-ha-ha…,” canda Irma Kompas (10/9/200). “Mungkin itu karena dia tidak melewatkan hal-hal detail. Titik air yang dianggap tidak penting itu baginya menjadi penting.

Irma mengaku melukis tanpa beban konsep. Misalnya dengan membawa pesan perjuangan wanita. Ia melukis apa adanya.
“Sekarang saya bebas. Yang penting saya melukis jujur dan saya menikmatinya. Mungkin ada yang tidak suka, tapi mungkin juga ada yang menikmatinya,” kata Irma.

Berada di tengah orang banyak membuatnya bahagia. Dia pun cukup bahagia bertahan single fighter. Itu bukan berarti ia tidak peduli dengan pernikahan. Sebenarnya dia tidak pernah memilih untuk hidup tak menikah. Tetapi sungguh pun begitu, dia menerima dan mensyukurinya sebagai pemberian Tuhan.

Dia memang pernah punya kisah kasih yang pahit, menjalin hubungan serius dengan seorang pria. Namun, berhubung ada problem politik antara RI dengan negara asal sang pacar, maka ia memutuskan berpisah dengan lelaki itu. Walaupun bukannya dia lantas antipati pada pria. ►tsl

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 27092004
►e-ti/kompas
Nama:
Sitor Situmorang
Lahir:
Harianboho, 2 Oktober 1924
Istri:
1. Almarhum Tiominar
2. Barbara Brouwer
Anak:
1. Retni Situmorang
2. Ratna Situmorang
3. Gulon Situmorang
4. Iman Situmorang
5. Logo Situmorang
6. Rianti Situmorang
7. Leonard Situmorang

Pendidikan:
AMS di Jakarta

Pengalaman Pekerjaan:
1. Pemimpin Redaksi “Suara Nasional
2. Wartawan Kantor Berita “Antara”
3. Wartawan Harian “Waspada”

Karya sastra:
Surat Kertas Hijau, 1953n
Dalam Sajak, 1955n
Wajah Tak Bernama, 1955n
Drama Jalan Mutiara, 1954n
Cerpen Pertempuran dan Salju di Paris, 1956n
Terjemahan, karya John Wyndham, E Du Perron RS Maenocol,M Nijhoff.n
Zaman Baru, 1962n
Cerpen Pangeran, 1963n
Esai, Sastra Revolusioner, 1965 (tulisan ini yang menyebabkannya masukn penjara)

Karya selama di tahanan:
Dinding Waktu, 1976n
Peta Perjalanan, 1977n

Karya selama dalam pengembaraan:
Cerpen Danau Toba, 1981n
Angin Danau, 1982n
Cerita anak-anak Gajah, Harimau dan Ikan, 1981n
Guru Simailang dan Mogliani Utusan Raja Rom, 1993n
Toba Na Sae, 1993 (esai yang mengetengahkan tinjauan sejarah dann antropologi)
Bloem op een rots dan Oude Tijger, 1990 (diterjemahkan dan dibukukann dalam bahasa Belanda)
To Love, To Wonder, 1996 (diterjemahkan dalam bahasa Inggris)n
Paris Ia Nuit, 2001 (diterjemahkan dalam Bahasa Perancis, Cina, Italia,n Jerman, Jepang, dan Rusia)

Sitor Situmorang

‘Kepala Suku’ Sastrawan ‘45

Pria Batak kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara 2 Oktober 1924 ini sudah menjadi seorang Pemimpin Redaksi harian Suara Nasional terbitan Sibolga, pada saat usianya masih sangat belia 19 tahun, di tahun 1943. Padahal, sebelumnya ia sama sekali belum pernah bersentuhan dengan profesi jurnalistik.

Sastrawan Angkatan ’45, ini kemudian bergabung dengan Kantor Berita Nasional Antara, di Pematang Siantar. Dan sejak tahun 1947, atas permintaan resmi dari Menteri Penerangan Muhammad Natsir, Sitor menjadi koresponden Waspada, sebuah harian lokal terbitan kota Medan, Sumatera Utara. Ia ditugaskan menempati pos di Yogyakarta.

Jika di kemudian hari persepsi tentang diri Sitor Situmorang identik sebagai sastrawan Angkatan ’45 yang kritis, bahkan menjadi susah memilah-milah apakah ia seorang sastrawan, wartawan, atau politisi, agaknya bermula dari kisah sukses besarnya sebagai wartawan saat berlangsung Konferensi Federal di Bandung, tahun 1947.

Hadir bermodalkan tuksedo pinjaman dari Rosihan Anwar, saat itu nama wartawan muda berusia 23 tahun, Sitor, sangat begitu fenomenal bahkan menjadi buah bibir hingga ke tingkat dunia. Ia berhasil melakukan wawancara dengan Sultan Hamid, tokoh negara federal bentukan Negeri Belanda yang sekaligus menjadi ajudan Ratu Belanda.

Sultan Hamid adalah orang yang diplot menjadi tokoh federal, tentu dengan maksud untuk memecah-belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi terdiri berbagai negara boneka dalam wadah negara federal.

Kisah suksesnya bukan sekedar karena berhasil menembus nara sumber Sultan Hamid. Materi wawancara itu sendirilah yang memang lebih menarik. Sebab, kepada Sultan Hamid Sitor berkesempatan menanyakan, ’bagaimana pendapatnya tentang negara Indonesia’, dan uniknya dia jawab dengan, ’oh terang Republik itu ada, dan tidak bisa dianggap tidak ada’.

Esok harinya isi wawancara itu menjadi headline dan semua kantor berita asing mengutipnya. Peristiwa ini terjadi justru sebelum konferensi resmi dimulai, sehingga sudah ada gong awal yang memantapkan eksistensi NKRI.

Ultah 80
Menjelang usia genap 80 tahun Sitor  mempersiapkan perayaan ulang tahun dengan matang. Ia merayakannya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, antara lain dengan memamerkan puluhan kumpulan puisi dan berbagai dokumentasi tentang kontribusinya dalam peta perjalanan sastra dan politik di Tanah Air.

Bahkan, beberapa hari sebelumnya, 27 September 2004 ia memperkenalkan karya-karya puisinya yang belum pernah dikenal orang. Apakah itu barupa puisi karya terbaru, atau puisi lama namun sama sekali belum pernah dikenal orang. Maklum, siklus kepenyairan Sitor Situmorang, yang menikah untuk yang kedua kalinya dengan seorang diplomat berkewarnegaraan Belanda Barbara Brouwer, yang memberinya satu orang anak, Leonard, sudah berbilang setengah abad lebih. Dari istri pertama almarhum Tiominar, dia mempunyai enam orang anak, yakni Retni, Ratna, Gulon, Iman, Logo, dan Rianti.

Semenjak tahun 1950-an karya-karya sastranya sudah mengalir ringan begitu saja. Sitor pada tahun 1950-an itu pulang dari Eropa sebagai wartawan, lalu memutuskan berhenti dan bergiat sebagai sastrawan. Kumpulan puisi pertamanya terbit tahun 1953, diterbitkan oleh Poestaka Rakjat pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana (STA).

Dia begitu hafal setiap karya puisinya. Malah, beberapa orang sahabat sesama sastrawan, seperti almarhum Arifin C. Noor, W.S. Rendra, maupun sastrawan asal Madura Zawawi, menyapanya dengan melafalkan petikan puisi karya Sitor sebagai sapaan salam. Dari lafal petikan itu pula Sitor kenal siapa nama dan identitas orang yang menyapanya.

Beragam karya sastra Sitor yang sudah diterbitkan, antara lain Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954), cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan terjemahan karya dari John Wyndham, E Du Perron RS Maenocol, M Nijhoff. Karya sastra lain, yang sudah diterbitkan, antara lain puisi Zaman Baru (1962), cerpen Pangeran (1963), dan esai Sastra Revolusioner (1965).

Esai Sastra Revolusioner inilah yang mengakibatkan Sitor Situmorang harus mendekam di penjara Gang Tengah Salemba (1967-1975), Jakarta tanpa melalui proses peradilan. Ia dimasukkan begitu saja ke dalam tahanan dengan tuduhan terlibat pemberontakan. Selain karena isi esai Sastra Revolusioner sarat dengan kritik-kritik tajam, posisi mantan anggota MPRS ini ketika itu sebagai Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) periode 1959-1965, sebuah lembaga kebudayaan di bawah naungan PNI, membuat rezim merasa berkepentingan untuk “menghentikan” kreativitas Sitor.

Karenanya ia dengan ringan menyebutkan, “Mungkin karena saya anti-Soeharto saja,” sebagai alasan kenapa ia harus mendekam di penjara Salemba selama delapan tahun berturut-turut. Hingga keluar tahanan Sitor tak pernah tahu apa kesalahannya.

Kepada Sitor tak diizinkan masuk tahanan membawa pulpen atau kertas. Namun, walau berada dalam penjara Sitor tetap berkarya. “Tidak ada orang yang bisa melarang saya untuk menulis,” ucapnya tentang keteguhan hatinya untuk tetap berkarya dalam kondisi dan situasi tertekan seberat apapun, termasuk ketika terkungkung oleh tembok-tembok beton penjara.

Ia berhasil merilis dua karya sastra, yang berhasil ia gubah selama dalam tahanan, yakni Dinding Waktu (1976) dan Peta Perjalanan (1977). Kedua karya itu diluncurkan masih dalam status Sitor tidak bebas murni 100 persen sebab ketika kemudian dibebaskan, Sitor lagi-lagi harus menjalani tahanan rumah selama dua tahun.

Sitor akhirnya memilih menetap di luar negeri, terutama Kota Paris yang disebutnya sudah sebagai desa keduanya setelah Harianboho. Harianboho, yang terletak persis di bibir-mulut pinggiran Tanau Toba nan indah, itu punya arti spesifik dalam diri Sitor. Paris yang megah boleh menjadi desa kedua. Namun Harianboho tetaplah satu-satunya kampung halaman bagi Sitor.

Sejak tahun 1981 Sitor diangkat menjadi dosen di Universitas Leiden, Belanda. Sepuluh tahun kemudian pensiun pada tahun 1991. Selama dalam pengembaraan ia tetap produktif berkarya. Maklum, menulis baginya sudah seperti berolahraga. Jika tak menulis dirasakannya badan gemetaran.

“Kalau tidak menulis badan saya malah gemetaran. Bagi saya menulis adalah olahraga”, ujar pria Batak yang walau lama mengembara di luar negeri namun masih saja selalu kental dengan logat Bataknya. Kekentalan logat ini membuat banyak orang kecele, menilai Sitor sebagai seorang yang berkesan galak dan saklijk, tak ada kompromi.

Padahal ia adalah seorang lelaki tua periang yang jarang mengeluh perihal kemampuan fisiknya yang sudah menua. Pada usai 80 tahun ia masih dengan mudah melewati lantai berundak yang terdapat di kamar tidurnya tanpa bantuan tongkat sedikitpun.

Ia malah menyebut dirinya sudah seharusnya tampil sebagai “Kepala Suku”, jika saja konsep dan sistem tata nilai lama adat Batak itu diberlakukan kembali. Kalaupun istilah dan sebutan kepala suku adat Batak sudah lama dihapus, namun, dalam dunia sastra khususnya Angkatan ’45 Sitor Situmorang tak pelak lagi adalah “Kepala Suku” Sastrawan Angkatan ’45. Bukan hanya karena ia sastrawan Angkatan ’45 yang masih hidup, namun hasil karyanya ikut menunjukkan siapa jati diri dia yang sesungguhnya.
Selama melanglang buana di berbagai negara, antara lain di Pakistan, Perancis, dan Belanda ia menghasilkan beragam karya-karya pengembaraan. Antara lain berupa cerpen Danau Toba (1981), Angin Danau (1982), cerita anak-anak Gajah, Harimau, dan Ikan (1981), Guru Simailang dan Mogliani Utusan Raja Rom (1993), Toba Na Sae (1993).

Kemudian, karya sastra esai yang mengetengahkan tinjauan sejarah dan antropologi, berjudul Bloem op een rots dan Oude Tijger (1990) yang sudah diterjemahkan dan dibukukan dalam bahasa Belanda, To Love, To Wonder (1996) diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Paris Ia Nuit (2001) diterjemahkan dalam enam bahasa yakni Bahasa Perancis, Cina, Italia, Jerman, Jepang, dan Rusia.
Sejak tahun 2001 Sitor Situmorang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Indonesia mengikuti istrinya Barbara Brouwer yang kebetulan mendapat tugas di Jakarta. Walau dua pertiga dari usianya dihabiskannya di negeri orang, para sahabat, kolega, teman sejawat, seniman, sastrawan, dan budayawan lain tidak pernah menganggap Sitor sebagai “anak yang hilang”.

Mereka, seperti Adjip Rosidi, Onghokham, Fuad Hasan, Djenar Maesa Ayu, Ramadhan KH, Richard Oh, Rieke Diah Pitaloka, Sitok Srengenge, HS. Dillon, Teguh Ostenrijk, Srihadi Soedarsono, dan Antonio Soriente, tetap menyambut hangat kepulangan Sitor Situmorang. Mereka, menganggap tak beda seperti menemukan teman yang sudah lama tak berjumpa.

Sitor memang mempunyai pergaulan yang sangat luas di mancanegara seperti di Belanda, Jerman, Italia, dan Inggris seluas pengenalan masyarakat Indonesia terhadapnya. Padahal, jika ditelisik jauh ke belakang belajar menulis bagi Sitor berlangsung secara otodidak saja selepas bersekolah AMS di Jakarta. Pilihannya menjadi penulis pun berawal dari keterlibatan dirinya sebagai wartawan Waspada sebuah harian lokal terbitan Kota Medan, Sumatera Utara.

Sebagai wartawan tahun 1950-an ia pulang dari Eropa, kemudian berhenti dan memutuskan diri menjadi penyair. Itulah awal kekreativitasan Sitor Situmorang sebagai sastrawan secara intens. Sebelumnya, tahun 1943 untuk pertama kali ia memang sudah menuliskan sebuah puisi, berjudul Kaliurang dimuat di majalah Siasat pimpinan “Sang Paus Sastra Indonesia” HB Jassin. Sedangkan, kumpulan puisi pertama Sitor Situmorang baru terbit tahun 1953, persis setelah sepulangnya dari Eropa. Ketika itu ia secara kebetulan bertemu dengan Sutan Takdir Alisjahbana (STA), yang waktu itu memiliki penerbit Pustaka Rakjat, lalu menerbitkan kumpulan puisi Sitor.
Sitor adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang secara sadar mengatakan diri turut berpolitik. Ketika Waspada menugaskannya menempati pos di Yogyakarta, membuatnya berkesempatan berkenalan dengan “Bapak-bapak Republik”, ini istilah Sitor Situmorang sendiri untuk menyebutkan orang-orang yang dimaksudkannya seperti Bung Karno, Bung Hatta, serta para pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI), telah memperkaya daya juang kreativitas sastranya dengan warna baru politik. Sitor bahkan pernah diangkat menjadi anggota MPRS.  ►ht, Sumber: Kompas 26 September 2004

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 30042004
►e-ti/rpr
Nama:
Bubi Chen
Lahir:
Surabaya, 9 Februari 1938
Ayah:
Tan King Hoo
Prestasi:
Tampil di New York Fair bersama Indonesian All Stars
Festival Jazz Berlin, 1997
Salah satu dari sepuluh pianis jazz dunia terbaik, 1997
Album:
Kau dan Aku, 1976
Bubi di Amerika, 1984
Bubi Chen And His Fabulous 5
Mengapa Kau Menagis
Mr.Jazz
Pop Jazz
Bubi Chen Plays Soft and Easy
Kedamaian(1989)
Bubby Chen and his friends (1990)
Bubi Chen – Virtuoso(1995)
Jazz The Two Of Us (1996)
All I Am (1997)
Bubi Chen

Pianis Seluruh Jiwa

Pria keturunan Tionghoa ini mengharumkan nama Indonesia saat ia terpilih sebagai salah satu dari sepuluh pianis jazz terbaik dunia pada 1997 dan mendapat julukan Pearl from the East atau Mutiara dari Timur. Ia dikenal sebagai pianis yang seluruh jiwanya dicurahkan kepada musiknya terutama musik jazz.
Meski usianya terbilang tidak muda lagi, penampilan pianis yang kini menjadi salah satu maestro negeri ini, masih dapat dinikmati di beberapa panggung jazz sebut saja Smooth Jazz di UGM, Jazz Goes to Campus Universitas Indonesia dan beberapa pentas jazz di Jakarta, Surabaya, Bandung dan kota-kota lain. Ia juga ambil bagian dalam Bali International Jazz Festival 2004 yang berlangsung pada tanggal 13 dan 14 Februari 2004 lalu.
Karyanya juga kerap menghiasi stasiun radio dalam dan luar negeri. Misalnya, radio KFAI 90.3 FM di Minneapolis, KUSP 88.9 FM di Santa Cruz, California Amerika Serikat yang menyiarkan nomor dari Bubi Chen dalam acara Global Beat.
Bubi Chen lahir 9 Februari 1938 sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara. Ia mulai mengenal musik justru bukan dari musik jazz melainkan musik klasik. Semasa kecil telinganya sudah akrab dengan alunan biola ayahnya, Tan King Hoo. Sedangkan pilihannya pada piano, hanya karena instrumen itulah yang paling mudah ia gapai saat itu.
Pada umur empat tahun, ia sudah dikursuskan pada seorang pianis berkebangsaan Italia bernama Di Lucia, untuk belajar dasar-dasar musik selama dua tahun. Setelah itu, ia kemudian belajar piano klasik pada Jozef Bodmer, seorang Swiss, selama delapan tahun.
Saat itulah, kecintaannya terhadap musik jazz semakin mendalam. Ketertarikannya mempelajari jazz lantaran sering melihat latihan dan pertunjukan kakak-kakaknya, Jopie dan Teddy Chen. Saat belajar bersama Bodmer ini, suatu ketika Bubi tertangkap basah oleh sang guru sedang memainkan sebuah aransemen jazz. Bodmer tidak marah, justru malah berpesan, “Saya tahu jazz adalah duniamu yang sebenarnya. Oleh karena itu, perdalamlah musik itu”.
Hidup dalam lingkungan keluarga yang menyenangi jazz, ditambah dengan jiwanya yang ingin bebas berekspresi, membuat Bubi yang saat itu berumur 12 tahun mulai mengaransemen karya-karya klasik milik Beethoven, Chopin, dan Mozart ke dalam irama jazz. Baginya, musik jazz memiliki lebih banyak kebebasan dalam menuangkan kreatifitas, kaya improvisasi dibandingkan musik klasik yang sangat terikat dengan kaidah musik yang berlaku.
Dalam usia 17, Bubi sudah mulai mengajar, sembari mengikuti kursus tertulis di Wesco School of Music di New York, selama dua tahun. Salah satu gurunya adalah Teddy Wilson, murid dedengkot jazz, Benny Goodma.
Masuk tahun 50-an, Bubi membentuk Chen Trio bersama saudaranya Jopie dan Teddy Chen. Di tahun yang sama ia juga bergabung dengan Jack Lesmana Quartet yang kemudian berganti menjadi Jack Lesmana Quintet.
Tahun 1959, bersama Jack Lesmana, ia membuat rekaman di Lokananta. Rekamannya yang bertitel Bubi Chen with Strings pernah disiarkan oleh Voice of Amerika dan dikupas oleh Willis Conover, seorang kritikus jazz ternama dari AS.
Di tahun 1960-an, namanya sudah dikenal hingga Australia, Eropa, dan Amerika Serikat. Tergabung dalam Indonesian All Stars, bersama Jack Lesmana (alm), Maryono (alm), Benny Mustafa, Kiboud Maulana, dan kakaknya kakaknya Jopie Chen, rombongan puncak pemain jazz pribumi ini tampil sukses meramaikan New York Fair. Mereka lalu tampil di Berlin Jazz Festival pada tahun 1967. Setelah itu mereka rekaman dan menelorkan album yang kini menjadi barang langka, “Djanger Bali”. Album ini digarap bersama seorang klarinetis ternama asal Amerika Serikat, Tony Scott.
Bubi tercatat menghasilkan banyak album. Rekamannya dengan judul Kau dan Aku, bersama Jack Lesmana, Benny Likumahua, Hasan, dan Embong adalah sumbangan manisnya di pertengahan 1976. Selain itu, ada dua buah rekaman lain yang eksotik, berupa eksperimen jazz dengan beat reog yang dibuatnya pula. Sedangkan pada 1984, bersama jagoan-jagoan jazz seperti John Heard, Albert Heath, dan Paul Langosh, ia membuat rekaman di Amerika dan diedarkan di Indonesia. Rekaman itu diberi judul Bubi di Amerika. Album lainnya antara lain Bubi Chen And His Fabulous 5, Mengapa Kau Menagis, Mr.Jazz, Pop Jazz, Bubi Chen Plays Soft and Easy, Kedamaian (1989), Bubby Chen and his friends (1990), Bubi Chen – Virtuoso(1995), Jazz The Two Of Us (1996), All I Am (1997) dan sebagainya.
Dalam Festival Jazz Berlin tahun 1997, Bubi sempat membawa alat musik siter atau kecapi di atas pianonya, mendengungkan musik-musik Indonesia di tanah Eropa. Di situ pulalah ia membuat harum nama Indonesia, karena terpilih sebagai salah satu dari sepuluh pianis jazz terbaik dunia saat itu, dan mendapat julukan Pearl from the East atau Mutiara dari Timur. Bahkan oleh majalah jazz Down Beat, ia dianggap sebagai Art Tatum dari Asia. Art Tatum sendiri dalam musik jazz dianggap sebagai bapaknya piano. Nama Bubi bersama Indonesian All Stars, juga tercatat di buku besutan Joachim-Emst Berendt, Jazz A Photo History.
Sebagai pianis, Bubi dikenal sebagai seorang pemain bebob, yaitu jenis aliran musik dalam jazz yang terdengar lebih keras, progresif, dan ekspresif, dibandingkan Swing. Dan, karena bebop membutuhkan teknik permainan yang tinggi, di Indonesia tercatat hanya Bubi, musisi yang piawai memainkan aliran ini. Meskipun demikian, keahliannya memainkan jemari pada piano mengalir ke semua gaya, entah itu bebob, swing, maupun cool jazz.
Selain musik, bapak empat anak ini juga memiliki kecintaan pada fotografi, yang ia geluti sejak umur 18 tahun, serta menggemari hobi elektronika dan merakit pesawat perang. Di rumah yang asri di Surabaya, ia memiliki koleksi ribuan piringan hitam dan CD musik jazz, dan koleksi buku-buku perang dan pesawat rakitannya.
Sepanjang hidupnya, Bubi Chen sangat konsisten mengabdikan dirinya bagi musik jazz. Bubi Chen juga menularkan ilmu yang dimilikinya. Beberapa di antaranya cukup dikenal antara lain Abadi Soesman, Hendra Wijaya, Vera Soeng dan Widya Christanti. ►atur

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 01112004
►e-ti/suara merdeka
Nama:
Kartika Affandi
Lahir:
Jakarta, 27 November 1934
Ayah:
Affandi
Ibu:
Maryati
Suami:
1. RM Saptohoedojo (nikah 1952 cerai 1972, delapan anak)
2. Gerhard Koberl, warga Austria (nikah 1985 cerai 2000)

Pendidikan:
SMP Taman Dewasa Taman Siswa Jakarta 1949
Universitas Tagore di Shantiniketan, India
Belajar seni patung di Polytechnic School of Art di London
Belajar teknik pengawetan dan restorasi benda seni di Wina, Austria, yang dilanjutkannya di Roma

Penghargaan:
- Doktor honoris causa dari Northern California Global University
- “The Best Indonesian Professional Award” dari Forum Wartawan Independen Jawa Tengah (Forwija)

Kartika Affandi

Bunga Matahari Tanpa Busana

Pelukis perempuan tanpa busana ini menggelar pameran tunggal bertajuk Menengok Perjalanan Kehidupan. Sejumlah lukisan putri maestro Affandi, ini merekam suasana kejiwaan dan perjalanan hidupnya. Mulai dari pemandangan tubuh perempuan tanpa busana, sampai wajah yang teralingi kawat berduri dan “potret diri” berupa tanaman bunga matahari lengkap dengan kembangnya yang mekar.

Tak mudah menjadi anak seorang Affandi. Gaya ungkap empu seni lukis Indonesia itu, yang diakrabinya sejak usia dini, kelak membayangi kanvas-kanvasnya sendiri.  “Saya tak mau menjadi papi ke-2,” tutur Kartika menyebut ayahnya dengan panggilan “papi”.

Dorongan Affandi yang mengatakan bahwa kekuatannya justru pada dirinya yang perempuan telah membukakan jalan. Garis-garisnya kemudian lebih lembut dan terbukti ia lebih teliti. Ia juga sering memilih obyek yang khas seperti hewan menyusui.

“Ketika papi mengatakan: kamu telah menemukan diri sendiri, saya seperti terlepas dari beban,” tutur Kartika, di tengah ruang pamerannya di Galeri Nasional di Jakarta, yang peresmiannya pada Kamis (28/10/2004) malam begitu meriah.

Di dalam pameran lukisan untuk menyongsong usianya yang ke-70 itu, ia menyajikan karya-karya penting sepanjang empat dekade kariernya. Boleh dikata, itu juga versi visual dari cuplikan hidupnya yang penuh drama.

Kartika dua kali menikah. Pernikahannya yang pertama dengan RM Saptohoedojo pada tahun 1952 berujung dengan perceraian pada tahun 1972 sesudah mendapat delapan anak. Ia menikah untuk kedua kalinya pada tahun 1985 dengan Gerhard Koberl, seorang warga Austria, namun bercerai tahun 2000.

Sejumlah lukisannya merekam suasana kejiwaan yang ia alami, sejak pemandangan tubuh yang meruyak, sampai wajah yang teralingi kawat berduri. Di dalam sebuah lukisan yang disebutnya “potret diri”, ia menggambar tanaman bunga matahari lengkap dengan kembangnya yang mekar.

“Itu memang saya. Saya senang bunga matahari karena batangnya bisa sangat besar, tetap tegak walau agak doyong, dan bunganya selalu menantang, menghadap matahari,” kata Kartika. “Di sisi lain, itu ada bunga matahari lain yang kecil, yang menjauh dari saya, itu Mas Sapto….”

Potret diri yang khas ini rupanya bagian akhir pernikahan pertamanya. Ia menambahkan, “Saya tidak ada dendam lho, wong saya sampai sekarang yang mengurus kuburan Mas Sapto.”

Mungkin itu sebabnya ia memajang sebuah lukisan potret mantan suami tersebut di dalam pameran. Katanya, ia mengoleksi barang tiga buah lukisan tentang seniman yang kondang oleh kemampuan artistik sekaligus keahlian dagangnya ini.

Sesudah bercerai, praktis Kartika mendapat dukungan penuh dari ayahnya. Ia menuturkan, “Waktu itu enggak ada modal, ya cat, ya kanvas, jadi ikut papi. Ke mana-mana saya ikut melukis.”

Seperti ayahnya, Kartika menghabiskan waktu hanya di dalam hitungan jam, terkadang kurang dari tiga jam, untuk membuat lukisan. Ia juga menggunakan tangan dan jari-jarinya untuk menorehkan cat ke permukaan bidang gambar, merasakan sentuhannya, dan tidak teraling oleh alat seperti kuas.

Ayah dan anak ini sangat suka melukis langsung di tempat, di luar rumah. Kegiatan seperti ini, yaitu bepergian dan mendapatkan obyek menarik, termasuk para model, terus dilakukannya. Ia melakukan perjalanan ke berbagai daerah, juga ke berbagai negara untuk menemukan lingkungan dan suasana yang khas, yang cocok dengan perasaannya. Sebagian dari hasilnya ia pamerkan, seperti pemandangan sebuah warung kopi di Prambanan, potret dirinya di tengah salju, Tembok Besar di China, sebuah kampung di Penang, Malaysia, atau di Thailand.

Kartika lahir di Jakarta, 27 November 1934, sebagai anak tunggal dari pasangan Affandi dan Maryati. Pada usia dini ia ikut hidup “menggelandang”. Konon ia sempat ikut tidur hanya beratapkan papan reklame. Di tengah tidur lelap, keluarga ini harus selalu siap kalau tiba-tiba jatuh hujan dan segera menggulung tikar. Tidur dilanjutkan kalau hujan sudah reda. Mereka mandi dan buang air di WC sebuah gedung bioskop.

Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 1 SMP Taman Dewasa Taman Siswa Jakarta pada tahun 1949. Ia kemudian belajar di Universitas Tagore di Shantiniketan di India sebagai mahasiswa luar biasa berkat beasiswa dari Pemerintah India. Ia juga pernah belajar seni patung di Polytechnic School of Art di London. Tahun 1980 ia belajar teknik pengawetan dan restorasi benda seni di Wina, Austria, yang dilanjutkannya di Roma. Kini ia memang salah satu restorator lukisan di Indonesia.

Menjadi restorator lukisan sangat menghabiskan waktu. Kartika mengaku menekuninya untuk membalas budi orangtuanya, untuk merawat lukisan-lukisannya.

“Apa yang bisa saya berikan kepada mereka? Mobil punya, rumah punya lebih hebat daripada saya,” tutur peraih berbagai penghargaan dari sejumlah negeri ini. Yang terbaru adalah gelar doktor honoris causa dari Northern California Global University yang ia ceritakan dengan cukup bersemangat.

Hubungan dengan orangtuanya cukup dekat. Tak banyak dijumpai lukisannya tentang Maryati, tetapi ia cukup sering menggambar Affandi, yang dianggapnya selalu memberi dorongan untuk terus maju.

Katanya sang papi memberinya nama “Kartika” karena itu adalah nama bintang yang tetap bersinar walaupun langit tengah mendung. Itu dianggapnya sebagai harapan agar ia juga tetap bersinar menghadapi hidup yang sukar. Semangat ayahnya ini ia rasakan terus mendorongnya bahkan sampai di usia senja kini.

“Itu sebabnya wajah papi mengisi bulatan matahari di lukisan saya, sedangkan saya bunga mataharinya. Papi terus memberi semangat agar saya tetap kuat sesudah dua kali pernikahan saya gagal,” kata Kartika, yang di tengah percakapan didatangi oleh cucu-cucunya untuk sekadar memberi salam. Seluruhnya, ia memiliki 19 cucu dan lima buyut.

Di usia senja ia masih bersemangat untuk terus melukis. Tahun ini ia sudah menghasilkan sekitar 30 lukisan, yang ia siapkan untuk pameran berikut. Ia juga merancang sebuah museum seni di kompleks rumahnya yang asri di tanah seluas satu hektar di kawasan Pakem, Yogyakarta. Untuk pengisi museum itu, kini ia sudah menyimpan sekitar 700 lukisannya, namun ia berpikir untuk memberi tempat pada karya sejumlah pelukis wanita lain.

Kartika cukup sering terlibat di dalam kegiatan sosial. Ia antara lain telah mendirikan Yayasan Karnamanohara yang mengelola sebuah sekolah tunarungu. “Saya ingin berbagi…,” katanya. ►e-ti/efix mulyadi {Kompas Senin, 1 November 2004}

Jawa Pos Sabtu, 30 Okt 2004,

70 Tahun Kartika Affandi

Perempuan tanpa busana itu telentang santai di sebuah pembaringan. Tangan kirinya menyilang di bawah bantal yang mengganjal kepalanya. Matannya melirik sosok perempuan lain yang sedang duduk santai di depannya. Pada tubuh perempuan yang tengah duduk ini juga tak terlihat sehelai benang pun. Sepertinya kedua perempuan ini tengah tenggelam dalam obrolan santai.

Sosok dua perempuan ini muncul dalam lukisan karya Kartika Affandi yang dipamerkan dalam pamern tunggalnya yang bertajuk Menengok Perjalanan Kehidupan. Lukisan berjudul Dialogue berukuran 150 x 120 cm ini menjadi salah satu dari 122 karya yang dipamerkan di Galeri Nasional hingga 6 November 2004. Pameran yang juga menjadi penanda usia 70 tahun Kartika ini sekaligus menjadi semacam rekaman perjalanan seni lukis putri seorang maestro Indonesia.

“Karya-karya yang ada dalam pameran ini saya buat sejak 1957 hingga 2003,” terang Kartika. Putri Affandi ini yang kini telah memiliki 19 cucu dan lima cicit ini menyatakan emosi menjadi pemompa semangatnya dalam melukis. “Lukisan-lukisan saya selalu dipengaruhi oleh apa yang terjadi di sekitar saya.”

Keterlibatan emosi ini menjadi syarat penting bagi Kartika saat berkarya. Sesosok wajah sedih atau sebuah suasana di tengah pasar bisa saja menjadi sumber inspirasinya asalkan melibatkan emosinya.

Selama terjun dalam dunia seni rupa, Kartika dikenal dengan gaya yang sama dengan ayahnya, ekspresionisme. Bukan itu saja, teknik melukis khas Affandi dengan cara langsung menorehkan cat dari tube-nya juga dilakukan oleh Kartika. Hasilnya, muncullah lukisan-lukisan yang sangat mirip dengan karya Affandi.

Kartika mengakui keterpengaruhan itu. Dia tak menganggapnya masalah. Kendati begitu, Kartika mengaku masih terus berusaha bisa lepas dari bayang-bayang ayahnya. Salah satu usaha untuk lepas dari bayang-bayang Affandi ini adalah menggunakan warna hitam putih saja pada 1973. Namun, cara ini akhirnya dia tinggalkan.

Pameran ini menyuguhkan karya-karya yang sangat beragam dan menarik. Mulai dari lukisan-lukisan yang menyajikan pemandangan alam hingga yang lebih bersifat retrospektif. Tengok saja salah satu karya Kartika yang berjudul Rebirth. Lukisan berukuran 132 x 132 cm karya tahun 1981 ini tidak sekadar menampilkan kematangan teknik “pencet tube”. Dalam lukisan ini Kartika menghadirkan sosok kepala manusia yang menyembul dari selangkangan seorang perempuan. Kemunculan kepala dengan wajah murung ini sekilas mirip dengan proses kelahiran seorang bayi.

“Lukisan ini adalah lambang dari apa yang tengah saya alami waktu itu. Saat itu saya benar-benar merasa seperti telah dilahirkan kembali,” terang Kartika sembari berbagi cerita mengenai masa-masa sulit yang berhasil ia lewati kala itu. Selain menampilkan karya lukisan, pameran ini juga memajang karya litografi.

“Sebenarnya, saya banyak membuat karya litografi. Namun, dalam pameran ini hanya satu yang dipamerkan,” jelas Kartika. (tir)

Suara Merdeka Sabtu, 4 Januari 2003

Berobsesi Punya Galeri Pribadi

KETENARAN nama pelukis seperti Kartika Affandi agaknya tidak terlepas dari nama besar ayahnya, maestro pelukis Affandi. Tetapi sebenarnya mungkin itu cuma kebetulan, sebab sosok Kartika sejak muda pun sudah berprestasi. Pada 1968, misalnya, dia meraih penghargaan berupa beasiswa dari Pemerintah Prancis.

Dua belas tahun kemudian, 1980, Konservator Museum Affandi ini mendapat “Gold Medal” dari Academica Italia, dan 1983 mendapat AUREA Gold Medal dari International Parliament for Security and Peace USA.

Pada 1984, putri pelukis Affandi ini memperoleh beasiswa dari ICCROM, berikutnya tahun 1985 meraih Master of Painter dari Youth of Asian Artist Workshop, pada 1991 mendapat penghargaan Outstanding Artist dari Mills College at Oakland California.

Penghargaan terakhir, pada Desember 2002 memperoleh penghargaan “The Best Indonesian Professional Award” dari Forum Wartawan Independen Jawa Tengah (Forwija). Pada malam penganugerahan ini, lukisannya dibeli kolektor Budi Setiawan seharga Rp 34 juta.

Usianya boleh merambat tua, tetapi untuk mewujudkan obsesinya memiliki galeri pribadi, tidak pernah surut, meski sebetulnya tempat pameran atau galeri yang sekarang ada (milik Affandi-Red) sudah sesuai dan pas untuk disajikan kepada pengunjung atau kolektor.

“Saya ingin sebuah tempat untuk pameran secara pribadi, sebab tempat ini kan milik Bapak. Saya punya tanah di Pakem. Kalau Tuhan menghendaki, pasti ada jalan keluar,” kata wanita pelukis yang pertama berpameran bersama wanita pelukis lain di Yogyakarta pada 1957. (ant-29t)

***

Suara Pembaruan, 1 November 2004
Menengok Perjalanan 70 Tahun Pelukis Kartika Affandi
ME AND THE DANCER – Salah satu lukisan Kartika Affandi berjudul “Me and the Dancer” menunjukkan kecenderungannya menggarap potret diri. Sekitar 100 karya lukis Kartika dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia Jl Medan Merdeka Timur No 14 , Jakarta Pusat, hingga 6 November 2004.
Tak banyak orang tahu, kapan seorang Kartika memutuskan menjadi pelukis. Ide mengikuti jejak sang ayah, Affandi, nyaris tak terpikirkan. Tetapi komentar sinis mantan suaminya, Saptohoedojo, justru melecut semangatnya. Kini sudah hampir 50 tahun Kartika berkarya.
Itulah salah satu cerita di balik pameran tunggal Kartika Affandi. Pameran yang diberi tema Menengok Perjalanan Hidup Kartika Affandi (Looking Back Through Life) ini berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat, hingga 6 November 2004. Acara ini digelar sekaligus dalam rangka ulang tahun Kartika yang jatuh pada 27 November.
“Inilah saatnya bagi masyarakat Indonesia untuk memperoleh kesempatan melihat dan mengkaji lukisan-lukisan yang telah saya buat sekitar tahun 1957 sampai saat ini. Pameran ini merupakan sebuah perjalanan panjang dalam kehidupan berkesenian saya dan tidak pernah terlepas dari pengaruh, baik dari dalam maupun luar kehidupan keluarga. Satu tantangan besar bagi saya untuk berada di bawah bayang-bayang nama besar Affandi yang merupakan ayah, guru dan teman sejak awal karier saya,” kata Kartika.
Dalam katalog pameran yang ditulis Ajip Rosidi, Kartika dikisahkan pernah kecewa dengan komentar suami, Saptohoedojo. Lukisan Kartika diragukan dapat menarik minat kolektor. Alih-alih, sang suami malah menyarankan untuk berganti aliran, agar lebih bernilai komersial. Tetapi Kartika menolak dan tetap melukis menurut kehendak hatinya.
Meskipun menulis cerita itu, Ajip pun juga tak begitu yakin siapakah yang mengisahkan tentang awal karier Kartika sebagai pelukis. Tetapi Ajip setidaknya menyebut cerita itu berasal dari Affandi atau Kartika sendiri. Sekurangnya, sejak kejadian itu, Kartika akhirnya memutuskan untuk terus menekuni seni lukis.
Menurut Ajip, Kartika memang nyaris identik dengan sang ayah, Affandi. Dalam hal gaya, bepergian, dan melukis diri. Tetapi Kartika punya kebebasan besar untuk berekspresi.
Affandi tampaknya memang tak pernah memaksakan Kartika untuk membuat lukisan komersial. Mungkin itulah yang menjelaskan mengapa gaya Kartika lebih dekat dengan Affandi daripada Saptohoedojo, mantan suaminya.
Beberapa kesamaan juga dikenali Ajip dari Kartika dan Affandi. Pasangan anak dan bapak itu sama-sama gemar bepergian dan mengunjungi tempat baru. Keduanya gemar melukis di lapangan dan berhadapan muka dengan objek.
Tetapi lukisan Kartika tak memunculkan penderitaan kemanusiaan seperti lukisan Affandi. Soal potret diri yang juga menjadi kemiripan, Kartika tampak lebih menonjolkan pengalaman batinnya. Sementara Affandi lebih suka melukis dirinya saat sedang beraktivitas tertentu.
Kartika juga tak sungkan menumpahkan perasaan hatinya di atas kanvas. Tak heran, muncullah lukisan-lukisan bertema sentimental dan personal. Hal itu tergambar dari sejumlah judul lukisan seperti, Self Potrait and Disappointment, My Head’s Broken dan I’m Half Dead.
“Saya menumpahkan berbagai bentuk kemarahan, kekhawatiran , rasa sakit, kesedihan dan juga kebahagiaan yang saya alami dan segala sesuatu yang terjadi di sekitar saya ke atas kanvas. Hal-hal lain yang mempengaruhi kesan di sekitar subyek lukisan saya adalah kejujuran, spontanitas dan keterbukaan yang dapat memberikan perubahan suasana,” ujar wanita kelahiran Jakarta ini.
Menurut Kartika, rekaman kehidupan seperti itu memiliki nilai yang tinggi dan mungkin tidak ada kesempatan kedua untuk menangkapnya. Melukis bagi Kartika merupakan cermin jiwa yang tidak akan terpuaskan dengan apa yang telah dipelajarinya. Kartika mencoba menapak selangkah demi selangkah dalam perjalanan kehidupan dan mencari kejujuran yang akan mengekspresikan kebenaran.
Dalam pameran ini, seperti tulisan Amir Sidharta dan Farah Wardhani, karya-karya Kartika terbagi dalam empat bagian. Antara lain, Wajah-wajah Akrab, Kehidupan, Tempat dan Potret Diri. Tema-tema itu terwakili beberapa judul lukisan seperti, My Father on Peddycab, A Fisherman Takes a Rest, A Coffe Shop in Prambanan Market, dan Self Potrait and Goat for Offering.
“Saya melukis dengan senang hati. Dengan rasa cinta. Contohnya lukisan Self Portrait and Goat for Offering. Waktu itu minggu Idul Adha, saya melihat kambing kurban yang hendak dipotong. Andaikan saya menjadi kambing seperti apa rasanya hendak dipotong dan kepanasan. Sejak dulu, saya percaya kelahiran kembali,” cerita Kartika kepada wartawan sebelum membuka pameran.
Di usianya yang kian senja, Kartika masih menyimpan satu obsesi besar. Dia berencana mendirikan sebuah museum seni lukis di daerah, Pakem, Yogyakarta. Soal tempat sudah siap, tetapi dia masih menunggu izin dari pemda setempat. Kelak, museum tersebut diperuntukan khusus karya-karya pelukis wanita.
“Coba bayangkan berapa banyak museum lukisan? Tetapi semuanya punya pelukis laki-laki. Mana ada museum untuk perempuan? Kalau saya sebagai pelukis perempuan lalu siapa yang akan memikirkan dan berbuat? ” katanya retoris.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 21122004
►e-ti/indonesiaselebriti
Nama:
Titiek Puspa
Nama Kecil:
Soedarwati, Kadarwati, dan Soemarti
Lahir:
Tanjung, Kalimantan Selatan, 1 November 1937
Agama:
Islam
Suami:
Mus Mualim
Anak:
Petty dan Ella
Cucu:
14 orang
Ayah:
Tugeno Puspowidjojo
Ibu:
Siti Mariam
Saudara:
-12 Orang

Pendidikan:
-SD
-SMP
-Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak

Profesi:
Penyanyi, pencipta lagu, koreografer seni, bintang iklan, dan bintang film.

Rekaman:
-Pertama tahun 1955, di Semarang, Jawa Tengah, di Lokananta
-Kedua tahun 1956, di Jakarta, di Irama
-Ketiga tahun 1959, di Jakarta, di Irama

Organisasi Profesi:
-Orkes Simphony Djakarta (OSD), pimpinan Sjaiful Bachri, sebagai anggota
-Paguyuban Artis Pop Ibukota (Papiko), sebagai pimpinan

Grup Musik:
-White Satin
-Zaenal Combo
-Gumarang

Karya Cipta Musik:
-Pertama, Kisah Hidup (1963)
-Kedua, Mama (1964)

Hit lagu terkenal:
-Kisah Hidup (1963)
-Mama (1964)
-Minah Gadis Dusun (1965)
-Gang Kelinci
-Romo Ono Maling
-Rindu Setengah Mati
-Adinda
-Cinta
-Jatuh Cinta
-Bing (1973)
-Kupu-kupu Malam
-Pantang Mundur
-Ayah
-Adinda
-Marilah ke Mari
-Buruk Kakaktua
-Bapak Pembangunan
-Apanya Dong (1982)
-Horas Kasih (1983)
-Virus Cinta (1994)

Film yang dibintangi:
-Minah Gadis Dusun (1965),
-Di Balik Cahaya Gemerlapan, (1976)
-Inem Pelayan Sexy (1976),
-Karminem (1977),
-Rojali dan Juhela (1980)
-Gadis (1981)
-Koboi Sutra Ungu (1982)

Penghargaan :
-1954: Juara II Bintang Radio Jenis Hiburan tingkat Jawa Tengah, RRI Semarang
-1984: Penghargaan Bronze Prize lewat lagu Horas Kasih pada The World Song Festival in America di Los Angeles, tahun 1984
-1994: Penghargaan untuk untuk kategori “Pengabdian Panjang di Dunia Musik” pada BASF Award ke-10 tahun 1994

Alamat Rumah:
Jalan Sukabumi 23, Menteng, Jakarta Pusat

Titiek Puspa

Bercerita Lewat Lagu

Karir artis penyanyi Titiek Puspa seolah tiada henti. Nenek awet muda ini seorang pencipta lagu yang bercerita tentang manusia. Cerita yang didasari oleh rasa empati dan simpati yang sangat dalam kepada setiap manusia yang terpojok. Beragam tema kehidupan yang lekat dengannya diterjemahkan menjadi lagu. Seperti kematian ayah dan ibunya, dan kisah perjalanan hidup lainnya.

Ia terinspirasi mencipta lagu hampir setiap hari, sekalipun kaki sudah naik ke tempat tidur. Sebab seringkali terjadi, di kepalanya tiba-tiba muncul notasi-notasi lagu seperti sedang berjalan-jalan. Itu, alamat Titiek harus segera melanjutkan dengan menyanyi perlahan tak terlalu serius mengikuti not. Kemudian, notasi itu diorat-oret di atas kertas untuk menjadi sebuah lagu terkenal, atau tetap hanya onggokan kertas lusuh.

Itulah Titiek Puspa, entertainer sejati alias artis penyanyi serba bisa yang sejak memulai kiprah di dunia tarik suara hingga hari senjanya tetap memiliki reputasi membanggakan. Sudah lima puluh tahun lebih nenek 14 orang cucu ini berkarya namun seolah baru saja mulai dilakoni wanita kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, 1 November 1937, ini.

Mencipta lagu bagi Titiek bisa dimana saja dan kapan saja asal bukan di keramaian dan tidak sedang mengobrol. Sepanjang hayatnya, ia merasakan hidup itu indah, menyenangkan, dan mengesankan. Titiek sepertinya hidup terlelap dalam keasyikan keseharaian yang terkadang harus diisinya sibuk di tiga atau empat acara dan tempat berbeda, seperti mengadakan rapat atau shooting. Titiek Puspa adalah komponis wanita dengan ratusan karya cipta, tergolong terbanyak dibanding wanita komponis lain.

Oleh para penyanyi juniornya kepada Titiek dipersiapkan sebuah album berisi 12 lagu karya cipta Titiek, yang dinyanyikan dan diaransemen ulang oleh 12 musikus muda berbakat Indonesia. Judulnya Tribute to Titiek Puspa, dimaksudkan sebagai persembahan kepada senior bernama Titiek Puspa. Titiek Puspa memang layak dihargai demikian, bahkan mungkin harus lebih dari itu karena dedikasi dan reputasi Titiek pada pengebangan musik sepanjang hayat.

Awalnya ‘nembang’
Titiek Puspa ketika kecil saat masih bernama Soemarti, berdua bersama seorang dari 11 saudara kandung lainnya, suka sekali bernyanyi. Mereka sering nembang musik kesenian tradisional Jawa. Ketika duduk di bangku SMP tahun 1954, Titiek, putri pasangan ayah Tugeno Puspowidjojo seorang mantri kesehatan, dan ibu Siti Mariam, mengikuti perlombaan menyanyi. Ia mendaftar diam-diam sebab takut dimarahi ayah sebab Tugeno Puspowidjojo menganggap menyanyi seperti ‘tukang nembang’.

Titiek kukuh maju ke festival mengikuti saran dan dorongan teman-teman. Titiek atau Soemarti disarankan mendaftar dengan mengubah nama menjadi Titiek Puspo, diambil dari nama panggilannya Titiek dan Puspo dari nama ayahnya, sebagai siasat agar tidak ketahuan ayahnya. Soemarti setuju lalu mengindonesiakan nama Puspo menjadi Puspa. Maka, lengkaplah nama baru Titiek Puspa sebuah nama beken yang di kemudian hari melegenda dalam jagat dunia musik pop Indonesia. Walau menghadapi saingan, kebanyakan murid SMA, Titiek yang masih duduk di bangku SMP berhasil keluar sebagai juara pertama.

Tahun 1954 Titiek kembali mengikuti lomba dan tampil sebagai juara kedua Bintang Radio RRI Semarang, jenis hiburan tingkat Jawa Tengah. Ia bangga sebab walau hanya juara dua, namun dengan meraih nilai tinggi Titiek berkesempatan tampil beradu kemampuan di tingkat nasional. Pada malam pemberian hadiah, berlangsung di Stadion Ikada, Gambir, Jakarta, tahun 1954, saat tampil di panggung Titiek didaulat oleh Sjaiful Bachri, pimpinan Orkes Simphony Djakarta menyanyikan lagi Chandra Buana, karya pahlawan nasional Ismail Marzuki.

Sebuah kebanggaan tersendiri mengingat biasanya hanya juara I yang boleh tampil pada ‘Malam Gembira’ seperti itu. Peristiwa ini sangat berpengaruh membentuk kepercayaan diri Titiek Puspa.

Keyakinan ‘Soemarti’ atau Titiek Puspa menjadi penyanyi, yang kemudian sejak tahun 1960 tercatat sebagai salah satu artis penyanyi pada Orkes Simphony Djakarta pimpinan Sjaiful Bachri, semakin tebal. Terlebih sang ayah Tugeno Puspowidjojo, sesaat sebelum meninggal dunia dalam pelukan Titiek memanfaatkan waktu terakhir menyampaikan permintaan maaf atas sikap menentang Titiek terjun dalam dunia tarik suara.

Di tahun 1955 untuk pertamakali Titiek melakukan rekaman di Semarang, Jawa Tengah, di perusahaan rekaman negara Lokananta. Setahun kemudian Titiek kembali masuk dapur rekaman di perusahaan rekaman Irama, dengan satu lagu Melayu. Berselang beberapa tahun kemudian, tahun 1959, Titiek melakukan rekaman yang ketiga.

Rekaman kedua dan ketiga dilakukan di Jakarta bersamaan dengan kegiatan Titiek mengikuti festival Bintang Radio, sebuah obsesi kuat dan sudah berkali-kali dicoba namun sayang kemenangan selalu gagal diraih. Pada masa itu menjadi juara Bintang Radio adalah impian setiap artis pendatang baru sebab gaungnya sangat berpengaruh dalam dunia musik, sebagai batu loncatan untuk dikenal masyarakat luas.

‘Gagal’ membangun jalur keartisan lewat Bintang Radio, Titiek banting setir manggung dari satu panggung ke panggung lain, mengasah diri menjadi entertainer komplit. Ia mengisi panggung hiburan bersama beberapa grup musik seperti White Satin, Zaenal Combo, atau Gumarang. Dunia musik hiburan mengalami efek bola salju berkat kemahiran bernyanyi wanita Jawa kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, ini.

Bercerita manusia
Selain penyanyi Titiek Puspa juga pencipta lagu ternama. Talenta ini muncul terdorong oleh dukungan Mus Mualim, pianis yang sejak tahun 1970 resmi menjadi suami kedua Titiek. Dalam hal komposisi musik Titiek mengaku hanya tahu do-re-mi, karenanya Mus Mualim dijadikannya ‘ayahnya’ dalam musik dan sebagai ‘kakek’ komponis Iskandar. Kepada keduanya Titiek sering berkonsultasi. Usai mengarang lagu Titiek biasanya meminta Mus Mualim menilai atau mengaransemen lagu-lagu yang baru saja ditulisnya.

Delapan lagu pertama sudah digubah Titiek namun Mus Mualim tetap tak berkomentar banyak, alias menolak halus. Hingga pada lagu ke-9, Mus Mualim mulai memberi komentar yang lebih baik, namun singkat saja, lumayan. Barulah pada tahun 1963 Titiek berhasil mengubah lagu Kisah Hidup sebagai karya cipta pertama. Lagu itu ditulis dengan not angka saja tanpa birama maupun tanda-tanda baca musik apapun.

Tahun 1964 muncul lagu kedua, Mama, dari seorang pencipta lagu otodidak. Lagu ini mulai melambungkan nama Titiek. Lagu lain kemudian bermunculan. Sejumlah nama penyanyi berhasil terangkat ke permukaan menjadi artis penyanyi terkenal setelah membawakan lagu karya Titiek. Seperti, Lilies Suryani yang membawakan lagu Gang Kelinci, Eddy Silitonga (Romo Ono Maling, Rindu Setengah Mati), Acil Bimbo (Adinda), serta Euis Darliah (Apanya Dong). Euis Darliah juga membawakan lagu Horas Kasih, yang pada The World Song Festival in America di Los Angeles, tahun 1984, berhasil memenangkan penghargaan Bronze Prize. Padahal Titiek dengan merendah menyebutkan, lagu itu gampangan saja, hura-hura, tak ada hebatnya.

Titiek adalah pencipta lagu yang bercerita tentang manusia lewat lagu. Cerita yang didasari oleh rasa empati dan simpati yang sangat dalam kepada setiap manusia yang terpojok. Beragam tema kehidupan yang lekat dengannya diterjemahkan menjadi lagu. Seperti kematian ayah dan ibunya, dan kisah perjalanan hidup lainnya. Sebagian kejadian penting lain berlalu begitu saja tak menyisakan lagu sebagai bekas. Seperti, ketika tahun 1970 ia bercerai dari suami pertamanya, untuk lalu mengasuh kedua putrinya Petty dan Ella. Atau, kisah ketika Titiek menikah dengan Mus Mualim tahun 1970, hingga Mus meninggal dunia 1 Januari 1990.

Dari kedua anaknya, Petty dan Ella, serta dari anak Mus Mualim, Titiek yang masih kelihatan segar dan cantik dikaruniai 14 orang cucu. Salah satu resep awet muda, kata Titiek, ia suka bicara ceplas-ceplos sebab basa-basi menurutnya justru membuat orang lekas tua. Bahkan, di usia senjanya Titiek menyebutkan masih merasakan ada feeling terhadap pria ganteng, dan itu berhasil dibungkusnya dengan rapih.

Titiek biasa bercerita dalam lagu tentang kehidupan cinta manusia (dalam lagu Cinta dan Jatuh Cinta), persahabatan (Bing), empati kepada kaum pinggiran seperti pekerja seks komersial (Kupu-kupu Malam), rasa kekaguman kepada sosok pribadi seorang tokoh (Soeharto Bapak Pembangunan), hingga ke sikap patriotik bela negara (Pantang Mundur dan Ayah). Corak lagunya tersedia mulai dari yang lembut dan syahdu (Adinda), hingga yang menghentak-hentak (Marilah ke Mari dan Apanya Dong).

Lagu Bing (tercipta tahun 1973), berkisah tentang kedekatan hati dan persahabatannya dengan Bing Slamet. Artis komedi dan penyanyi serba bisa yang sudah menjadi pujaan hatinya sejak lama tiba-tiba dikabarkan meninggal dunia. Berita kematian Bing sampai ke telinga Titiek seperti petir menggelegar di siang hari. Sayang Titiek tak bisa menghadiri pemakaman sahabat yang memikat hatinya sebab harus mengadakan pertunjukan ke Singkep, Riau.

Jadilah lagu Bing tercipta di dalam pesawat dalam waktu setengah jam namun sudah dengan mata basah penuh linangan air mata. Lagu itu didedikasikan Titiek kepada sahabat yang sudah diidolakannya saat memenangkan juara dua lomba menyanyi RRI Semarang, tahun 1954. Ceritanya, ketika berlangsung penyerahan hadiah, pembawa acara bertanya pada Titiek apa cita-citanya, dijawab sekenanya, ingin berkenalan dengan Bing Slamet. Bing adalah teman, sahabat, dan guru entertainer yang serba bisa bagi Titiek.

Potret keartisan Titiek bukan hanya menghiasi pentas musik. Sebagai selebriti terkenal nama Titiek laku membintangi film layar lebar dan, belakangan ikut pula membintangi film sinetron di layar kaca walau dianggapnya sebagai obat kangen saja. Tahun 1965 Titiek sudah main film Minah Gadis Dusun, judul yang diambil dari lagu ciptaan Titiek. Kemudian, membintangi film Di Balik Cahaya Gemerlapan dan Inem Pelayan Seksi (1976), Karminem (1977), Rojali dan Juleha (1980), Gadis (1981, Titiek sekaligus penulis cerita), dan Koboi Sutra Ungu (1982).

Membela yang lemah
Banyak kejadian aneh pernah menimpa diri Titiek. Seperti, selama dua tahun kehilangan suara, konon itu karena ‘dikerjai’ orang. Suara Titiek baru berhasil disembuhkan setelah ditangani oleh Romo Lukman, dari Purworejo. Dari peristiwa ini terciptalah lagu Apanya Dong (1982), dipopulerkan Euis Darliah. Hasil lagu, kata Titiek, lumayan untuk membawa suami berobat ke Jepang. Namun setahun kemudian (1983), rumahnya di kawasan Menteng, Jalan Sukabumi, Jakarta Pusat terbakar menghanguskan semua dokumen miliknya.

Sejak awal kebangkitannya sebagai penyanyi dan pencipta lagu, berbagai peristiwa sesungguhnya sudah akrab membelit kehidupan Titiek. Lagu karya keduanya, Mama (1964), tercipta bersamaan meninggalnya ibu Titiek dan pers sedang memusuhinya pula gara-gara salah paham. Titiek ketika itu juga diliputi berbagai gosip, kasus perceraian, dan perjuangan hidup berat membesarkan kedua putrinya, Petty dan Ella.

Suatu ketika Petty, putri sulungnya mengalami panas dan demam tinggi. Dua hari sudah tidak makan, lalu meminta kepada Titiek agar dibelikan mie yang sedang lewat di depan rumah. Titiek yang sedang tak memiliki uang membujuk, berkata, di rumah hanya ada sop dan nasi, jika mau makan itu berarti Petty sudah menyelamatkan seisi rumah. Bujukan berhasil seisi rumah selamat dari kelaparan dan Petty sembuh. Setelah menikah dengan Mus Mualim, tahun 1970, Titiek mulai dapat merasakan ada ketenteraman yang memayungi kehidupannya, hingga Mus meninggal dunia 1 Januari 1990.

Pada setiap lagu Titiek bercerita tentang manusia. Itu, didasari oleh rasa empati dan simpati yang dalam terhadap berbagai sisi kehidupan manusia karena memang demikianlah naluri keseharian Titiek. Naluri yang lahir sebagai hasil akhir pergulatan berbagai gelombang kehidupan yang digumuli. Pembelaan Titiek selalu di pihak yang lemah, tanpa ada sedikitpun bobot kepentingan pribadi di dalamnya. Tak heran jika Titiek tampil membela Inul Daratista pada saat kebanyakan orang justru sedang menista Inul, karena goyang ngebornya. Titiek menegaskan, yang dibelanya adalah posisi keterpojokon Inul. Titiek pun pernah menyelamatkan seorang anak yang dituduh mencuri tempe yang sedang digoreng kakaknya.

Atau, ketika maling masuk ke rumah dan saudara-saudaranya sudah siap menangkap, naluri Titiek justru ingin menyelamatkan ‘si maling’. Dalam pengejaran Titiek memerintahkan ‘si maling’ belok ke kiri, namun kepada saudaranya dikatakannya maling sudah berbelok ke kanan. Demikian pula, seorang pekerja seks komersial datang ke Titiek saat sedang show di luar kota. Si ‘kupu-kupu malam’ menghampiri Titiek, di kamar, dan mencurahkan segala kepedihan hati. Titiek membela bahkan dibuatkan lagu dengan judul sama, ‘Kupu-kupu Malam’, dan menjadi hit di pasaran.

Pimpin Papiko
Titiek Puspa adalah artis penyanyi, pencipta lagu, bintang film, dan koreografer seni yang menjadi simbol awal bermulanya peri kehidupan kerlap-kerlip artis selebriti Indonesia. Titiek dahulu sering memposekan diri lewat saluran tunggal TVRI, menyuguhkan hiburan operet ‘Ketupat Lebaran’. Acara itu rutin setiap tiba hari raya Lebaran, demikian pula pada tahun baru muncul operet lain disuguhkan oleh Paguyuban Artis Penyanyi Ibukota (Papiko) pimpinan Titiek. Kedua hiburan bermutu itu pada masanya sangat ditunggu-tunggu pemirsa, layaknya oase hiburan di tengah kelangkaan tayangan siaran tv.

Papiko pada masanya sangat ampuh mengorbitkan artis-artis penyanyi pendatang baru. Bahkan, di zaman Orde Baru Papiko selalu digandeng organisasi massa sosial politik peserta pemilu Golongan Karya (Golkar), untuk menghibur masyarakat setiap kali musim Pemilihan Umum tiba. Titiek Puspa mempunyai keberuntungan lain selalu bisa dekat dengan penguasa. Di situ ia ‘menjual’ profesionalisme semata tanpa ada interes pribadi.

Di usia senja nan penuh energi dan vitalitas Titiek peraih penghargaan Pengabdian Panjang di Dunia Musik pada acara BASF Award ke-10 tahun 1994 lewat lagu Virus Cinta, masih dipercaya Ditjen Pajak Depkeu berkampanye tentang pentingnya kesadaran masyarakat membayar pajak. Ketika sudah muncul banyak penyanyi dan pencipta lagu muda berbakat, yang sudah teruji, Titiek masih memperoleh kepercayaan menciptakan lagu mars dan himne berbagai lembaga pemerintah. Titiek merelakan diri membuatkan lagu mars dan himne tanpa dibayar, namun itu semua dikerjakannya dengan senang hati.

Titiek sepertinya tidak pernah dan tak akan kehabisan gawean. Kabar tentangnya bisa saja tiba-tiba muncul, ia sudah menjadi juri berbagai ajang lomba dan festival, atau terjun ke Bundaran Hotel Indonesia berkampanye penanggulangan AIDS. Atau, seperti biasa saban hari usai menaruh kakinya di atas tempat tidur, tiba-tiba muncul keinginan menulis lagu. Lagu tentang apa saja sepanjang bercerita tentang cinta manusia dan kemanusiaan, koridor pokok tema lagu ciptaan Titiek. Koridor yang muncul karena Tuhan telah memberikan cinta kepada manusia walau, apa yang dilihat dan didengar oleh Titiek, justru keadaan yang semakin diliputi iri dan penuh kekerasan serta kesenangan manusia mencari kekurangan orang. ►e-ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation.
C © updated 11122004
►e-ti/sctv
Nama:
Harry Roesli
Nama Lengkap
Djauhar Zahrsyah Fachrudin Roesli
Lahir :
Bandung, 10 September 1951
Meninggal:
Jakarta, 11 Desember 2004
Agama :
Islam
Isteri:
Kania Perdani Handiman (Menikah 1981)
Anak:
Layala Khrisna Patria dan Lahami Khrisna Parana (Kembar, lahir 1982)
Ayah:
Mayjen (pur) Roeshan Roesli

Pendidikan:
= Jurusan Sipil ITB Bandung, sampai tingkat IV (1970-1975)
= Jurusan Komposisi LPKJ kini IKJ (1975-1977)
= Jurusan musik elektronik di Rotterdam Conservatorium, Negeri Belanda (1977-1981)

Karir :
= Pemain musik dan Pencipta lagu
= Pendiri dan pemain grup musik ”Gang of Harry Roesli” bersama Albert Warnerin, Indra Rivai, dan Iwan A Rachman (1971-1975)
= Pendiri grup teater Ken Arok (1973-1977)
= Guru besar psikologi musik Universitas Pendidikan (UPI), Bandung dan Universitas Pasundan, Bandung
= Pimpinan Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB)

Karya:
= Musik Rumah Sakit (1979 di Bandung dan 1980 di Jakarta)
= Parenthese
= Musik Sikat Gigi (1982 di Jakarta)
= Opera Ikan Asin
= Opera Kecoa

Alamat Rumah :
Jalan W.R. Soepratman 57, Bandung

Sumber:
Berbagai sumber, di antaranya PDAT

Harry Roesli (1951-2004)

Doktor Musik Kontemporer

Profesor psikologi musik ini bukan musisi biasa. Dia melahirkan fenomena budaya musik kontemporer yang berbeda, komunikatif dan konsisten memancarkan kritik sosial. Doktor musik bernama lengkap Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli yang lebih dikenal dengan Harry Roesli dan dipanggil Kang Harry, ini meninggal dunia Sabtu 11 Desember 2004, pukul 19.55 di RS Harapan Kita Jakarta.

Musikus mbeling kelahiran Bandung, 10 September 1951 itu meninggal dunia dalam usia 53 tahun setelah menjalani perawatan jantung di rumah sakit tersebut sejak Jumat 3 Desember 2004. Kang Harry menderita serangan jantung juga hipertensi dan diabetes. Jenazah disemayamkan di rumah kakaknya, Ratwini Soemarso, Jl Besuki 10 Menteng, Jakarta Pusat dan dimakamkan 12 Desember 2004 di pemakaman keluarga di Ciomas, Bogor, Jabar.

Cucu pujangga besar Marah Roesli ini meninggalkan seorang isteri Kania Perdani Handiman dan dua anak kembar Layala Khrisna Patria dan Lahami Khrisna Parana. Pemusik bertubuh tambun ini melahirkan fenomena budaya musik populer yang tumbuh berbeda dengan sejumlah penggiat musik kontemporer lainnya. Dia mampu secara kreatif melahirkan dan menyajikan kesenian secara komunikatif. Karya- karyanya konsisten memunculkan kritik sosial secara lugas dalam watak musik teater lenong.

Doktor musik alumni Rotterdam Conservatorium, Belanda (1981), ini terbilang sangat sibuk. Selain tetap berkreasi melahirkan karya-karya musik dan teater, juga aktif mengajar di Jurusan Seni Musik di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pasundan Bandung.

Seniman yang berpenampilan khas, berkumis, bercambang, berjanggut lebat, berambut gondrong dan berpakaian serba hitam, ini juga aktif menulis di berbagai media. Pria ini juga kerap bikin aransemen musik untuk teater, sinetron dan film, di antaranya untuk kelompok Teater Mandiri dan Teater Koma. Juga menjadi pembicara dalam seminar-seminar di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri.

Dan yang paling menyibukkan adalah aktivitas pemusik yang dikenal berselera humor tinggi, ini adalah membina para seniman jalanan dan kaum pemulung di Bandung lewat Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) yang didirikannya. Bahkan pria bersahaja dan dermawan ini sering terlibat dalam berbagai aksi dan advokasi ketidakadilan.

Putera bungsu Mayjen (pur) Roeshan Roesli dari empat bersaudara, ini menjadikan rumahnya di Jl WR Supratman 57 Bandung, sekaligus markas DKSB. Markas ini nyaris tak pernah sepi dari kegiatan para seniman jalanan dan ‘kaum tertindas’. Selain itu, dia juga kerap melahirkan karya-karya yang sarat kritik sosial dan bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan diktator dan korup. Maka tak heran bila kegiatannya di markas ini atau di mana saja tak pernah lepas dari pengawasan aparat.

Saat bergulirnya reformasi Mei 1998 untuk menggulingkan rezim Soeharto, Kang Harry bahkan berada ikut di barisan depan. Pada masa Orde Baru, tak jarang pementasan musik dan teater keponakan mantan Presiden BJ Habibie, ini dicekal aparat keamanan. Bahkan, setelah reformasi, saat pemerintahan BJ Habibie, salah satu karyanya yang dikemas 24 jam nonstop juga nyaris tidak bisa dipentaskan. Juga pada awal pemerintahan Megawati, dia sempat diperiksa Polda Metro Jaya gara-gara memelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila.

Dia berbeda dari kakaknya (Ratwini, Utami, dan Rully) yang ketiga-tiganya jadi dokter spesialis. Dari masa belia dia tidak bercita-cita jadi dokter seperti ketiga kakaknya yang mengikuti jejak ibunya yang dokter spesialis anak. Harry bercita-cita jadi insinyur. Dia pun sempat kuliah di Jurusan Teknik Sipil ITB Bandung. Namun hanya sampai tingkat IV, karena dia merasa lebih menjiwai musik.

Namun ayahnya, pada mulanya menyatakan tidak setuju. Salah satu alasan ayahnya, karena anak-anak band itu tukang mabuk-mabukan. Tapi Harry berpandangan lain. Begitu pula ibu dan ketiga kakaknya, mendukung Harry. Bahkan, Sang Ibu memberi pengertian kepada Sang Ayah: “Biarkan Harry jadi dokter musik.” Akhirnya ayahnya pun mengizinkan, asal tak dikomersialkan.

Pernyataan Sang Ibu itu memberi dorongan semangat tersendiri bagi Harry. Dia pun belajar dan berkarya dengan sungguh-sungguh dan kreatif. Sampai dia benar-benar menjadi doktor musik dari Rotterdam Conservatorium, selesai 1981. Dia juga aktif di Departemen Musik Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Begitu pula syarat yang dinyatakan Sang Ayah, jangan komersial, memandu kreativitasnya melahirkan karya-karya musik dan teater yang eksperimental. Karya musik dan teater yang tak akrab komersial alias tak laku dijual, tapi terkenal dan menjadi bahan kajian di berbagai universitas mancanegara, seperti di Jepang, Eropa dan Amerika.

Profesor psikologi musik ini bukan musisi biasa. Kehidupan yang sesunguhnya baginya adalah seni musik. Kehidupannya adalah kegiatan musik, mulai dari perkusi, band, rekaman musik, dan lain-lain. Dalam bermain musik, dia pun memakai peralatan yang unik. Seperti gitar, drum, gong, botol, kaleng rombeng, pecahan beling dan kliningan kecil.

Pada awal 1970-an, namanya sudah mulai melambung. Saat membentuk kelompok musik Gang of Harry Roesli bersama Albert Warnerin, Indra Rivai dan Iwan A Rachman. Lima tahun kemudian (1975) kelompok musik ini bubar karena para pemainnya menikah dan Harry sendiri belajar ke Belanda.

Di tengah kesibukannya bermain band, dia pun mendirikan kelompok teater Ken Arok 1973. Setelah melakukan beberapa kali pementasan, antara lain, Opera Ken Arok di TIM Jakarta pada Agustus 1975, grup teater ini bubar, karena Harry mendapat beasiswa dari Ministerie Cultuur, Recreatie en Maatschapelijk Werk (CRM), belajar ke Rotterdam Conservatorium, Negeri Belanda.

Selama belajar di negeri kincir angin itu, Harry juga aktif bermain piano di restoran-restoran Indonesia dan main band dengan anak-anak keturunan Ambon di sana. Selain untuk menyalurkan talenta musiknya sekaligus untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya yang tidak mencukupi dari beasiswa.

Suatu ketika cucu pengarang roman Siti Nurbaya, Marah Roesli, ini pulang liburan. Dia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menikah dengan kekasihnya, Kania Perdani Handiman, yang kemudian diboyongnya ke Balanda. Pernikahan itu, melahirkan buah hati anak lelaki kembar pada 1982.

Sekembalinya ke tanah air, sejak tahun 1983, dia menggarap musik untuk hampir semua produksi Teater Mandiri dan Teater Koma sejak produksinya bertajuk Opera Ikan Asin. ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation.
C © updated 12032004
►e-ti/kompas
Nama:
HIM Damsyik
Gelar Panggilan:
“Datuk Maringgih” dan “Datuk Dansa”

Lahir:
Teluk Betung, Lampung, 14 Maret 1929

Keluarga:
Lima anak dan 20-an cucu

Prestasi:
Juara I Lomba Dansa Ballroom di Jakarta

Peran Sinetron:
Sebagai Datuk Maringgih dalam film “Siti Nurbaya” dan Pak Wiryo dalam “Wah… Cantiknya”, dan lain-lain film

Postur badan:
Tinggi 180 centimeter berat 55 kilogram

Pendidikan Dansa:
Selama empat tahun di Rellum Dancing School, Belanda

Milik Sekolah Dansa:
Damsyik School of Dance, Cinere, Jakarta Selatan

Jabatan:
1. Anggota Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada)
2.Ketua Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (Anggota KONI), sejak 12 Juli 2002

Sumber:
Kompas, Sabtu, 29 Maret 2003, dan lain-lain

HIM Damsyik

Datuk Dansa Berkelas Dunia

Dansa dan film adalah dua dunia yang berjalan linear dalam kehidupan HIM Damsyik. Keterampilan berdansanya berkelas dunia. Kehebatannya memerankan tokoh antagonis dalam sinetron “Siti Nurbaya” membuat namanya sangat lekat dengan sebutan “Datuk Maringgih” dan kepiawiannya berdansa menjadikannya memperoleh julukan “Datuk Dansa”. Dengan dansa dia meraih kesuksesan, karier, kesehatan dan kebahagiaan. “Kalau mau bahagia dan sehat berdansalah,” ujar lelaki ramping ini.

Piala Dunia Sepakbola tahun 1998 di Perancis membawa berkah tersendiri buat “si Datuk Maringgih” HIM Damsyik. Lagu “La Copa de la Vida” lagu resmi World Cup 1998 itu disenandungkan oleh Ricky Martin secara apik dalam pakem tarian salsa yang atraktif. Lagu itu sangat populer dan berhasil memancing minat masyarakat awam hingga elit kalangan atas pecinta dansa untuk kembali turun ke lantai dansa sekadar bergoyang poco-poco atau berdansa ballroom secara profesional.

Naiknya kembali popularitas dansa setelah sempat tenggelam sebab di tahun 1950-an pernah dicap sebagai produk gaya hidup imperialis oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) serta merta mengangkat pula kembali ke permukaan keterampilan HIM Damsyik berdansa. Banyak orang mulai belajar serius tentang dansa dan HIM Damsyik laku keras sebagai instruktur sebab dialah salah satu di antarra sedikit instruktur dansa profesional berlisensi internasioal lulusan Negeri Belanda.

Keterampilannya berdansa berkelas dunia pernah dia tampilkan pada kesempatan kejuaraan Jakarta Open Dance Sport 2003 di The Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, 28 Maret 2003. Damsyik di situ unjuk kebolehan bersama 122 pasang pedansa-pedansa internasional dari berbagai penjuru dunia yang mengikuti kejuaraan.

Lelaki ramping bertinggi badan 180 centimeter namun cukup sehat dengan berat hanya 55 kilogram ini memang ulung sebagai jago dansa Indonesia. Pemeran tokoh antagonis dalam sinetron “Siti Nurbaya” arahan sutradara Irwinsyah yang disiarkan TVRI yang membuat namanya menjadi sangat lekat dengan sebutan “Datuk Maringgih” harus mulai rela memperoleh julukan yang lebih baru yakni “Datuk Dansa”.

Dansa dan film adalah dua dunia yang berjalan linear dalam kehidupan HIM Damsyik. Ketika dansa mulai “mati suri” sejak tahun 1950-an akibat cap sepihak kaum PKI sutradara tenar Wim Umboh yang biasa mengajak dia sebagai koreografer untuk film-film menawarkannya untuk juga mencoba ikut bermain film sebagai aktor. Jadilah ayah lima orang anak dan kakek 20-an orang cucu ini hidup asyik. Dengan dansa dia bisa meraih kesuksesan, karier, kesehatan, dan kebahagiaan. “Jadi, kalau mau bahagia dan sehat berdansalah,” ujarnya dalam selera humor yang tinggi.

Lahir di Teluk Betung, Lampung, 14 Maret 1929 sejak masa kecil Damsyik sudah banyak menghabiskan waktu dengan menari. Setiap kali ada perayaan yang menyuruh anak-anak menari, dan suruhan menari itu biasanya pasti ada di setiap pesta, maka Damsyik sering ikut ambil bagian. Dia akhirnya sadar bahwa dirinya senang menari. Bersamaan itu orang yang pernah menyaksikan ikut pula menilai bahwa Damsyik memang berbakat menari. Namun Damsyik sendiri mengaku tidak tahu dari mana bakat menari itu berasal sebab ayahnya yang bekerja sebagai kepala pegawai di perusahaan pelayaran Belanda, KPM, tidak pernah menari atau berdansa.

Mahasiswa gemar dansa-dansi
Ketika hendak meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi dia hijrah ke Jakarta namun nyatanya sambil kuliah dia masih harus bersentuhan kembali dengan dansa. Dia mengenang di tahun 1950-an itu di Jakarta masih banyak bermukim orang Belanda sehingga budaya dansa-dansi masih dominan sebagai alat pergaulan termasuk di kalangan mahasiswa. Setiap malam minggu mahasiswa pasti berkumpul dan gemar berdansa. “Di sanalah bakat berdansa saya terasah,” ucap Damsyik yang ikut pula aktif semasa kuliah sebagai anggota Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada).

Dia lantas semakin percaya diri akan bakat dansanya setelah berhasil menyabet Juara I Lomba Dansa Ballroom di Jakarta. Ketika juara bukan hanya merasa senang melainkan dia sendiri mengaku ikut terkejut atas keberhasilannya. Sejak peristiwa itu dia lalu memutuskan pindah untuk menekuni dansa secara profesional.

Keinginan menjadi pedansa profesional menuntutnya harus rela pergi belajar lebih jauh lagi hingga ke negeri asing untuk mendalami dansa selama empat tahun di Rellum Dancing School, Belanda. Damsyik adalah salah satu diantara jumlah yang tidak banyak instruktur dansa Indonesia yang berhasil mengantongi ijazah dansa berkelas internasional.

Yang pasti usai Ricky Martin berhasil mempopulerkan “La Copa de la Vida” selain aktif bermain film sinetron jadwal HIM Damsyik menjadi semakin padat setelah ditambah aktivitas dansa. Praktis tiada hari tanpa diisi mengajar dansa di kelas-kelas dansa profesional yang tersebar di banyak tempat di Jakarta. Jadwal itu belum termasuk mengajar peserta kursus yang minta diajar secara privat, atau kesibukan lain menjadi juri di berbagai lomba dansa yang marak diselenggarakan. Namun jadwal yang tetap adalah di bilangan Cinere Jakarta Selatan tempat Damsyik membuka sendiri sekaligus memimpin sebuah sekolah dansa bernama Damsyik School of Dance. Banyak murid dansa yang dia latih kini kerapkali memenuhi kafe, club house, atau hotel yang menyediakan tempat untuk berdansa

Damsyik menjelaskan secara umum dansa dibagi dua jenis modern ballroom dan Latin American Dancing. Modern ballroom bisa dibagi menjadi lima kategori yakni waltz, tango, blouse, quick step, dan slow foxfort. Sedangkan Latin American Dancing terbagi menjadi rumba, falcaca, samba, paso doble, dan jive.

Waltz sebenarnya masih terbagi dua yakni vienna waltz dan english waltz. Perbedaannya vienna waltz gerakannya lebih cepat dan lincah namun tidak begitu digemari oleh orang Inggris. Orang Infggris lebih senang yang lembut dan tidak begitu melelahkan sehingga lahirlah yang namanya english waltz.
Usia sudah berkepala tujuh kakek 20-an cucu pula namun dia tetap fit dan lentur berdansa sekaligus gairah main film. Aktivitas dia sejak pagi hari hingga larut malam dia jalani tanpa keluhan berarti. Pemeran Pak Wiryo dalam sinetron “Wah… Cantiknya” bersama aktris Tamara Blezinsky dan Anjasmara ini punya resep menerapkan pola hidup sehat. Hidup terasa sehat tak membbuatnya lupa untuk selalu melakukan tes kesehatan enam bulan sekali dan hasilnya selalu bagus.

Disebutkannya dansa bisa membentuk tubuh sehingga tulang-tulang terlatih dengan baik dan membantunya untuk selalu tampil prima dalam setiap kegiatan. Bahkan dia sanggup berdansa hingga berjam-jam sebab jika tersedia kesempatan dia akan selalu berdansa. Karena masih kuat berdansa tubuhnya yang kurus tidak pernah tampak kelelahan. Dansa membuat tubuh dia selalu sehat tidak mudah sakit dan terutama perutnya belum pernah buncit.

Seabrek kegiatan harus dia lakoni tiap hari. Misalnya, pagi-pagi sekali sudah harus ke Indosiar lalu siangnya mengajar dansa privat di Pondok Indah. Setelah itu syuting sinetron. Dalam setiap kesempatan perjalanan ke luar kota masih sering dia lakukan dengan menyetir sendiri. Bagi dia hari Sabtu Minggu betul-betul dia manfaatkan beristirahat sebagai hari keluarga berkumpul.

Tubuh boleh tampak amat kurus dan jangkung dengan postur tinggi 180 cm dan berat hanya 55 kg namun dengan pola hidup sehat dan dibantu olahraga dansa kesan rentan terhadap penyakit selalu tertepis. Dia mampu melindungi diri dari penyakit yang biasa diidap manusia lanjut usia. Tidak mengherankan jika sebuah perusahaan minuman suplemen kesehatan mempercayakan lelaki kurus jangkung ini sebagai bintang iklan obat perkasa ala pria di televisi dan media cetak.

Dia menyebutkan saat sarapan biasa menyantap susu dan sereal atau roti berlapis keju ditambah buah-buahan dan air putih. Sesendok madu dan vitamin penambah darah ikut pula dia konsumsi selalu. Dia tak punya pantangan makanan apa pun kecuali sayur mayur sebuah kategori makanan sehat namun kurang dia sukai. Sebagai gantinya Damsyik memperbanyak konsumsi buah karena itu isterinya selalu membekali dia sebuah cool box berisi buah-buahan segar dan sebotol air putih sebelum berangkat ke lokasi syuting.

Sebagai tokoh dansa kontemporer Indonesia dia mulai merasa senang dan bersyukur karena dua hal. Pertama dia merasa senang karena Piala Dunia 1998 telah memicu perkembangan dansa menjadi sangat pesat di Indonesia. Dansa yang semula tidur nyenyak kembali bangun. Ketika di tahun 1950-an kekuasaan PKI agak dominan dansa dianggap sebagai kebudayaan Barat yang harus dilarang keras. Larangan itu sempat membuat Damsyik merasa takut namun dia tetap tekun berlatih sendiri dan kalau ada kesempatan dia akan selalu manfaatkan untuk berdansa.

Kedua dia bersyukur karena dansa yang menuntut seluruh tubuh bergerak itu sama definisinya dengan olahraga. Karena itu dansa lantas diterima dan diakui sebagai olahraga oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Ikatan Olahraga Dansa Indonesia kemudian dibentuk bernaung di bawah keanggotaan KONI dan HIM Damsyik sejak 12 Juli 2002 adalah ketua umum pertama yang dipercaya.

HIM Damsyik bertutur kekuatan dansa terletak pada fungsi sosial yang mampu membuat lelaki maupun perempuan dari semua latar belakang dapat berbaur bersosialisasi dan bergembira bersama. Dansa menjadi alat yang perlu untuk menjalin pergaulan bahkan dipercaya sebagai alat diplomasi yang ampuh sebagaimana pernah ditunjukkan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri yang berdansa dengan (mantan) Presiden RRC Jiang Zemin tahun 2002 lalu. Keduanya di Beijing ketika itu melakukan dansa jenis modern ballroom.  ►ht, dari berbagai sumber

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 13122004
►e-ti
Nama :
Ida Bagus Tilem
Lahir :
Bali 13 Desember 1936
Agama :
Hindu
Profesi:
Pematung

Sumber:
Berbagai sumber, antara lain John Milton www.indo.com/ galleries/tilem/history.html

Ida Bagus Tilem

Tenar dari Deraan Kemiskinan

Masa kanak-kanak dan remaja Ida Bagus Tilem terbelenggu di antara dinding-dinding kemelaratan. Lahir di desa Mas, Bali, 13 Desember 1939, Tilem berada di lingkungan keluarga pematung yang hidup serba kekurangan. Di masa kecilnya ia sudah berminat pada seni patung, yang akhirnya mendominasi seluruh kehidupannya.

Tidak seperti anak-anak sedesa yang menikmati kesenangan masa kecil, Tilem hampir setiap waktu duduk di atas tikar rotan di sisi ayahnya di rumah keluarga yang sempit, menyaksikan ayahnya mengolah batang kayu menjadi patung-patung yang indah.

Hidup di desa memang menyenangkan. Dan malam-malam yang menyenangkan bagi Tilem adalah mengikuti pamannya yang jadi dalang wayang kulit. Malam-malam lain, Tilem kecil mengikuti ayahnya yang mengadakan pertunjukan wayang orang dan tari topeng dari satu desa ke desa lainnya, serta mendengarkan kisah dari daun lontar yang dituturkan kakeknya.

Pengaruh sangat kuat dari dasar pemikiran dan filosofi hidupnya sejak usia remaja sampai saat ini yang masih ia hormati, telah menumbuhkan keinginan berkreasi yang menggebu-gebu di dalam dirinya. Ia berjam-jam berjuang bersama pahat dan potongan-potongan kayu sisa pahatan ayahnya.

Ayahnya, Ida Bagus Nyana, lahir tahun 1912, ketika mudanya diakui sebagai pemahat patung kayu yang sangat berbakat di Bali. Sebagai pria yang tenang dan penyabar, Ida Bagus Nyana, membiarkan putranya mengembangkan bakatnya yang tersembunyi, mengajarkan kepada anaknya tentang perlunya kesabaran, keuletan dan berkreasi secara total.

Perlahan-lahan Tilem kecil mengembangkan bakatnya, menggunakan alat-alat pahat ayahnya, mengukir binatang-binatang kecil, burung-burung dan tokoh-tokoh tradisional dalam kisah wayang dari bahan kayu yang ada.

Hasil karyanya ia jual kepada para turis dan satu-satunya toko barang-barang seni di Sanur. Ia pergi ke sekolah naik sepeda, dan pada usia sekolah lanjutan, ia biasa bersepeda ke Denpasar sejauh 20 kilometer setiap minggu siang. Ia menetap di kota, kembali Sabtu berikutnya untuk menekuni ukiran patung di kampungnya. Orang tuanya sangat miskin, karena itu ia harus menjual patung-patung hasil ukirannya untuk membiayai sekolahnya.

Tahun 1958, karena ayahnya tak mampu membiayai pendidikannya, Tilem memutuskan keluar dari sekolah, membuat sebuah studio seni ukir patung di rumahnya di desa Mas. Di situ ia menjual sendiri karya-karyanya untuk membantu kehidupan keluarganya.

Para pemuda sedesanya acapkali datang menemaninya. Ia sekarang mempekerjakan 100 pematung magang dan 100 pematung yang bekerja penuh waktu. Tilem mengolah habis-habisan lekak-lekuk yang serba feminin. Karya-karyanya memiliki gagasan besar dan daya dobrak visual yang memikat dunia. Ia melahirkan berbagai karya patung yang bernilai seni tinggi.

Mengenang pengalamannya ketika masih muda yang frustrasi di dalam berusaha mengembangkan pengetahuan dan kemampuan memahat dari bahan kayu yang sangat terbatas, ia menyediakan kayu dan alat pemahat buat mereka yang belum mampu membeli, membantu mereka memanfaatkan sedapat mungkin bahan yang ada, dan memberi kesempatan untuk menjual karya-karya mereka di studionya.

Sekarang, sebagai ayah dari empat orang anak, Tilem selalu menyadari pentingnya tradisi keluarga dan warisan budaya. Setelah perjalanan pertamanya ke luar negeri, ketika terpilih untuk mewakili Indonesia pada New York World Fair tahun 1964, ia melakukan berbagai pameran di luar negeri, seperti Thailand, Hong Kong, Australia, Jerman, Austria, dan Meksiko.

Ia memanfaatkan setiap perjalanannya untuk mengembangkan pengetahuan dan apresiasi seni, tetapi menemukan dirinya ingin segera kembali ke desanya untuk bertemu keluarga dan meneruskan karya-karyanya.

Kerja pematung menyatu dengan alam. Ukiran yang indah dan obyek manusia yang terukir di kayu, melukiskan perpaduan antara manusia dan alam. Tilem tak pernah kehabisan inspirasi. Pengalamannya di masa kanak-kanak, koleksi berbagai barang antik dan temuan-temuan selama perjalanannya ke luar negeri, merupakan sumber ide kreasinya yang baru. Setiap lekuk pahatan menjadi cap kemahirannya memahat.

Unsur penting dari karya Tilem adalah kecintaan yang dalam pada pekerjaannya. Ia merasa sangat bahagia tatkala duduk bersilang kaki dan bertelanjang dada di atas tikar rotan di rumahnya yang asri, secara total menekuni ukiran patungnya.
e-ti/sh

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation.
C © updated 28012004
►e-ti/rpr
Nama :
Edhi Sunarso
Lahir :
Salatiga,2 Juli 1932
Istri :
Kustiah
Orang Tua :
Somo Sardjono
Anak :
Rosa Arus Sagara
Titiana Irawani
Satya Sunarso
Sari Prasetyo Angkasa
Agama :
Islam
Pendidikan :
= Lulus ASRI di Yogyakarta (1955)
= Kelabhawan Visva Bharati University Shantin Ketan India (1957).
Profesi :
Dosen Pasca Sarjana (S-2) Institut Seni Indonesia, Yogyakarta
Pematung
Jasa :
Berjasa dalam pembangunan beberapa bangunan monumental.
Karya-Karya
1. Monumen Tugu Muda di Semarang
2. Monumen Pembebasan Irian Barat di Jakarta
3. Monumen Selamat Datang di Jakarta
4. Monumen Dirgantara di Jakarta
5. Monumen Pahlawan Nasional Kolonel Slamet Riyadi di Ambon
6. Monumen Jenderal Ahmad Yani di Bandung
7. Monumen Jenderal Gatot Subroto di Surakarta
8. Monumen Pahlawan Samudera Yos Sudarso di Surabaya
9. Monumen Pahlawan Samudera di Jakarta
10. Monumen Panglima Besar Sudirman Cilangkap (Mabes TNI) di Jakarta
11. Monumen Panglima Besar Sudirman di Moseum PETA di Bogor.
12. Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya di Jakarta
13. Monumen Yos Sudarso di Biak, Irian Barat
14. Monumen Pahlawan Tak Di Kenal di Digul Papua
15. Monumen Sultan Thaha Syaifudin di Jambi.
16. Diorama Sejarah Monumen Nasional di Jakarta
17. Diorama Sejarah Moseum Lubang Buaya di Jakarta
18. Diorama Sejarah Moseum Pancasila Sakti Lubang Buaya di Jakarta
19. Diorama Sejarah Moseum ABRI Satria Mandala di Jakarta
20. Diorama Sejarah Moseum Purba Wisesa di Jakarta
21. Diorama Sejarah Moseum Jogya Kembali di Yogyakarta
22. Diorama Sejarah Moseum Keprajuritan Nasional (TMII) di Jakarta
23. Diorama Sejarah Moseum Perhubungan (TMII) di Jakarta
24. Diorama Sejarah Moseum Tugu Pahlawan 10 November Surabaya di Surabaya
25. Diorama Sejarah Moseum Beteng Vredeburgh di Yogyakarta

Pekerjaan
1. Tahun 1958-1959: Staf pengajar pada Akademi Kesenian Surakarta di Surakarta.
2. Tahun 1959-1967: Mengajar pada Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ASRI Yogyakarta sebagai Ketua Jurusan Seni Patung.
3. Tahun 1967-1981: Sebagai Tenaga Pengajar pada Institut Kejuruan Ilmu Pendidikan Negeri (IKIP) Yogyakarta.
4. Tahun 1968-1984: Sebagai pengajar, merangkap asisten Ketua Bidang Akademik STSRI/ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta.
5. Tahun 1985-1990: Mengajar pada Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan sebagai Sekretaris Senat Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Kegiatan Lain:
= Tahun 1946-1949: Belajar dan berlatih sendiri di kamp T.R.I. L.O.G. Bandung selama menjadi tawanan perang Tentara Kerajaan Belanda (KNIL).
= Tahun 1950 : Korps Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia eks. Pejuang Pasukan Samber Nyawa Divisi I, Bataliyon III, Resimen V Siliwangi.
= Tahun 1956 : Pameran Tunggal di Santiniketan India.
= Tahun 1957 : Pameran Tunggal di Santiniketan India.
= Tahun 1957 : Pameran Nasional All India di India
= Tahun 1959 : Pameran Bersama Istri di Yogyakarta
= Tahun 1987 : Pameran Berempat di Jakarta bersama But Mohtar, G. Sidharta Rita Widagdo
= Tahun 1988 : Pameran Berempat di Yogyakarta bersama But Mohtar G. Sidharta, Rita Widagdo.
Tanda kehormatan:
Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma
(Keppres No.052/KT/Tahun 2003, Tanggal 12 Agustus 2003)
Tanda Penghargaan
= Lomba Seni Patung Internasional di Inggris The Unknown Political Prisoner (1953);
= Medali Emas dari Pemerintah India untuk Karya Seni Patung Terbaik (1956-1957);
= Piagam Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1984);
= Piagam Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk Karya Monumental (1996).

Alamat :
JI. Kaliurang KM. 5,5 No. 72 Yogyakarta.

Penulis-Sumber:
Marjuka, sumber Kantor Menneg. Kebudayaan dan Pariwisata

Edhi Sunarso

Pematung Monumen dan Diorama Sejarah

Edhi Sunarso, pematung beberapa monumen dan diorama sejarah yang tersebar di beberapa kota Indonesia. Di antaranya patung Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia dan Diorama Sejarah Monumen Nasional di Jakarta. Karena karya-karyanya yang luar biasa, maka negara telah menganggapnya berjasa besar terhadap bangsa dan negara dalam meningkatkan, memajukan, dan membina kebudayaan nasional, sehingga pada 12 Agustus 2003 dianugrahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.

“Selamat datang di Jakarta”, begitulah Tugu Selamat Datang menyambut kita setiap melintas dari bundaran HI dimana tugu tersebut berdiri. Begitu juga setiap kita melintas di prapatan Pancoran, kita sering dengan refleks menoleh ke atas, seakan-akan dalam hati bertanya, “masihkah Monumen Dirgantara ada diatas sana?” Begitulah respon kita dan mungkin respon semua orang dalam mengagumi hasil karya manusia yang selalu mengundang decak kagum tersebut. Namun mungkin hanya sedikit diantara kita yang mengetahui siapa orang yang sangat ahli membuat patung-patung tersebut.

Seni memang suatu hal yang berlaku dan bernilai universal. Tidak ada seorangpun yang tidak menyukai seni. Dan sebaliknya, tidak banyak orang yang mempunyai keahlian dan bakat seni. Dan hanya beberapa orang pula diantara orang-orang yang mempunyai bakat dan keahlian itu yang berhasil mencatatkan sejarah secara monumental karena jasanya yang cukup besar dalam meningkatkan dan membina kebudayaan nasional.

Anak dari Somo Sarjdono, ini telah menghasilkan karya-karya yang akan menjadi simbol peringatan bersejarah di negeri ini, yaitu Monumen Pembebasan Irian Barat di Jakarta, Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya di Jakarta, Monumen Selamat Datang di Jakarta, Monumen Dirgantara di Jakarta, Monumen Tugu Muda di Semarang, Monumen Jenderal Ahmad Yani di Bandung, Monumen Jenderal Gatot Subroto di Surakarta, Monumen Pahlawan Samudera Yos Sudarso di Surabaya, Monumen Panglima Besar Sudirman di Cilangkap (Mabes TNI), Jakarta, Monumen Panglima Besar Sudirman di Moseum PETA di Bogor, Monumen Yos Sudarso di Biak, Irian barat, Monumen Pahlawan Tak Di Kenal di Digul Papua, Monumen Sultan Thaha Syafudin di Jambi. Disamping Monumen-monumen tersebut, dia juga berkarya dalam bentuk diorama yaitu, Diorama Sejarah Monumen Nasional di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Lubang Buaya di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Pancasila Sakti Lubang Buaya di Jakarta, Diorama Sejarah Museum ABRI Satria Mandala di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Purbawisesa di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Jogya Kembali di Yogyakarta, Diorama Sejarah Museum Keprajuritan Nasional, (TMII) di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Perhubungan (TMII) di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Tugu Pahlawan 10 November Surabaya di Surabaya, Diorama Sejara Museum Beteng Vredeburgh di Yogyakarta.

Sang Pematung kelahiran Salatiga, 2 Juli 1932 ini mempunyai keahlian yang mumpuni, tidaklah diperolehnya begitu saja tanpa disengaja. Namun, disamping sudah merupakan bakatnya sejak kecil, dia juga selalu belajar dan berlatih sendiri, termasuk ketika di kamp TRI. LOG. Bandung selama menjadi tawanan perang Tentara Kerajaan Belanda (KNIL) pada tahun 1946 sampai 1949. Disamping itu, dia juga merupakan lulusan ASRI, Yogyakarta tahun 1955 dan lulusan Kelabhawa Visva Bharati University Shantin Ketan India pada tahun 1957.

Disamping sebagai pematung, ayah dari 4 orang anak yaitu: Rosa Arus Sagara, Titiana, Irawani, Satya Sunarso, dan Sari Prasetyo Angkasa, buah perkawinannya dengan Kustiah ini juga aktif sebagai Dosen Pasca Sarjana (S2) Insitut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Di dunia pendidikan, sejak tahun 1958-1959 dia sudah aktif sebagai staf pengajar pada Akademi Kesenian Surakarta di Surakarta, kemudian pada tahun 1959-1967 mengajar pada Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ASRI Yogyakarta sebagai Ketua Jurusan Seni Patung. Pada tahun 1967-1981 sebagai tenaga pengajar pada Institut Kejuruan Ilmu Pendidikan Negeri (IKIP) Yogyakarta, dan pada tahun 1968-1984 sebagai pengajar merangkap asisten Ketua Bidang Akademik STSRI/ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, dan sebagai pengajar pada Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan sebagai Sekretaris Senat Instiut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Pria anggota Korps Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai mantan Pejuang Pasukan Samber Nyawa Divisi I, Bataliyon III, Resimen V Siliwangi ini beberapa kali mengadakan pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Pada tahun 1956, dia sudah mengadakan Pameran Tunggal di Santiniketan, India. Pada tahun 1957 dia juga mengadakan Pameran Tunggal di tempat yang sama dan mengikuti Pameran Nasional ALL India di India. Sedangkan pada tahun 1959, dia mengadakan Pameran Bersama Istri di Yogyakarta. Selanjutnya pada tahun 1987, bersama But Mohtar, G.Sidharta, Rita Widagdo, mereka mengadakan Pameran Berempat.

Disamping tanda kehormatan bintang Budaya Parama Dharma yang baru saja diterima, dia juga telah memiliki beberapa Tanda Penghargaan antar lain, Lomba seni Patung Internasional di Inggris The Unknoun Political Prosoner pada tahun 1953, Medali Emas dari Pemerintah India untuk Karya Seni Patung Terbaik pada tahun 1956-1957, Piagam Seni dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1984, dan Piagam Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk Karya Monumental pada tahun 1996.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 16012004
►e-ti/rpr kompas
Nama:
Prof. Sardono W. Kusumo
Lahir:
Surakarta 6 Maret 1945
Agama :
Islam
Istri :
Amna W. Kusumo
Anak :
Nugrahani
Orang Tua :
R.T. Waluyo Kusumo

Profesi:
Seniman (Budayawan dn Penata Tari)
Guru Besar IKJ

Pendidikan:
SMA Negeri 4 Surabaya
Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (tidak selesai)
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (tidak selesai)

Jasa:
Mengembangkan dan melestarikan seni budaya bangsa melalui karya Seni Tari, khususnya Sendratari Ramayana.

Pekerjaan:
= Mengajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Solo
= Mengajar di Institut Kesenian Jakarta.

Karya Seni:
Telah menghasilkan tak kurang 25 tarian di antarnya:
Samgita Pancasona, Cak Tarian Rina, Dongeng dari Dirah, Hutan Plastik, Hutan Merintih, Passage Through the Gong, Opera Diponegoro, Cak Tarian Rina, Awal Metamorfosis, dan Samgita Pancasona.

Penghargaan:
Distinguished Artist Award dari International Society for the Perfoming Arts Foundation (ISPA), Singapura, 20 Juni 2003
Prince Claus Award dari pemerintah Belanda, 1998
Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah Republik Indonesia 12 Agustus 2003.

Alamat :
JI. Kenanga 20 Badran, Surakarta.

Penulis:
Haposan Tampubolon dan Mearjuka, dari berbagai sumber antara lain Kompas 24 Juni 2003, Suara Pembaruan 15 Januari 2004, Indopos 15 Januari 2004, International Society for Performing Arts (ISPA) dan Institut Kesenian Jakarta (I.K.J.)

Prof. Sardono W. Kusumo

Penata Tari bagi Nurani Manusia

Seniman penata tari dan penari berambut sebahu, lulusan SMA Negeri 4 Surabaya, Sardono Waluyo Kusumo dikukuhkan menjadi Guru Besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 14 Januari 2004. Ia seniman pertama dari Asia yang mendapat penghargaan ISPA. Sepanjang karirnya dia telah menghasilkan tak kurang 25 tarian. Sejak usia 23 tahun ia tak pernah berhenti menciptakan karya tari bukan untuk jual beli, tetapi mencari arti bagi nurani manusia. Ia penata tari Indonesia berkaliber internasional.

Pagelaran tari “Nobody’s body” yang merupakan karya teranyarnya tahun 2000 serta peluncuran buku berjudul “Hanuman, Tarzan, dan Homo Erectus” turut menyemarakkan pengukuhan sang profesor yang seluruh hidupnya diabdikan hanya untuk seni tari.

Buku berisi kumpulan tulisan Sardono tentang tari agaknya menjadi salah satu alasan pelengkap penganugerahan jabatan pengajar tertinggi di lingkungan akademis itu. Mengingat, “sang prof” Mas Don –begitu pria kelahiran Surakarta 6 Maret 1945 ini biasa dipanggil— bukanlah jebolan sarjana setingkat S-1. Maklum, kuliah ayah satu anak ini, di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada maupun Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tidak sampai selesai. Kendati demikian gelar itu dijamin tidak palsu sebab sudah ditandatangani langsung oleh Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar pada 31 Mei 2003 lalu berdasarkan SK Bersama Menteri Pendidikan Nasional nomor 9601/A2.7/KP/2003.

Penghargaan seni tari yang pernah diterima Mas Don bukan hanya dari dalam negeri. Mas Don menerima Distinguished Artist Award dari International Society for the Perfoming Arts Foundation (ISPA), pada saat Masyarakat Seni Pertunjukan Internasional menyelenggarakan kongres di Singapura pada 20 Juni 2003 lalu.

ISPA memberi penghargaan untuk dedikasi Mas Don bagi dunia seni pertunjukan, terutama untuk kawasan Asia. Penghargaan sejenis pernah ISPA berikan ke beberapa seniman kaliber dunia seperti Martha Graham, Jerome Robbins, Mikhail Barysnikov, dan Sir Yehudi Menuhin. Dan, Sardono menjadi seniman pertama dari Asia yang mendapat penghargaan ISPA bersama dengan seniman asal Singapura, Ong Keng Sen.

Masyarakat Seni Pertunjukan Internasional atau International Society of Performing Arts (ISPA) yang berpusat di New York, AS dan didirikan tahun 1949, itu adalah sebuah forum terhormat dunia yang bertujuan mempromosikan nilai dan peran penting seni pertunjukan di dalam kehidupan. Organisasi ini beranggotakan sekitar 600 pengelola gedung pertunjukan, pusat kesenian, festival, kelompok seni pertunjukan, dan lembaga kesenian/kebudayaan pemerintah.

Lembaga ISPA ini juga mengenal Mas Don sebagai sosok yang mengangkat kebudayaan Jawa ke dunia internasional, namun uniknya, di sisi lain dia juga sering melawan tradisi Jawa. Dr Kwok Kian Woon, Kepala Practice Performing Arts Centre pada ISPA, menyebutkan banyak seniman Asia yang bagus tetapi Sardono bisa dikatakan sebagai seniman terkemuka yang memberi pengaruh pada perkembangan kesenian tradisional dan modern. Dia memberi warna lain dalam pertunjukan kontemporer, terutama untuk negara-negara Asia Tenggara.

Sementara dari Pemerintah negeri Belanda pada 1998, Mas Don menerima penghargaan berupa Prince Claus Award. Pemerintah Belanda melihat keseriusan Mas Don dalam melakukan riset di bidang seni dan budaya. Pengakuan lain dari dalam negeri dari Pemerintah RI terhadap Mas Don adalah penganugerahan penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah Republik Indonesia tahun 2003.

Gelar profesor menjadi bukti tingginya pengakuan semua pihak terhadap hidup berkesenian Mas Don, yang sejak usia 23 sudah menghasilkan tari berjudul Samgita Pancasona yang waktu itu sudah dipentaskan di Jogjakarta, Solo, Jakarta. Tak lama setelah pementasan itu, dengan membawa nama misi kebudayaan ke luar negeri pada tahun 1971 Mas Don dengan bangga mementaskan tari Cak Tarian Rina di Iran dan Jepang.

Sepanjang karirnya dia telah menghasilkan tak kurang 25 tarian. Diantaranya adalah Dongeng dari Dirah, Hutan Plastik, Hutan Merintih, Passage Through the Gong, Opera Diponegoro, Cak Tarian Rina, Awal Metamorfosis, dan Samgita Pancasona. Semua karyanya punya keunikan tersendiri sebab pasti berhubungan dengan kondisi suatu mayarakat pada kurun waktu tertentu yang “dipotretnya” menjadi karya tari.

Dongeng dari Dirah adalah salah satu karya spektakuler Mas Don. Karya ini sempat dibawakan di Prancis, pada tahun 1974 dan mendapat banyak pujian dari kalangan seni tari. Dengan tarian ini pula dia dikritisi sejajar dengan dua maestro seni pertunjukan dunia, yaitu Maurice Bejart dan Robert Wilson. Padahal, usia Mas Don saat berkeliling dunia mementaskan pertunjukan itu baru 29 tahun. Dongeng dari Dirah yang menorehkan nama Mas Don ke dunia seni tari internasional, itu diangkat dari kisah klasik asal Bali, Calon Arang.

Apresiasi dunia luar terhadap Mas Don memang tinggi. Saat melakukan perjalanan karir keliling ke Amerika Serikat tahun 1993, adalah salah satu saat perjalanan karir lainnya yang berkesan. Pentas penampilan berjudul Passage Through the Gong ketika itu disambut hangat publik seni Negara Paman Sam. Road show tersebut digelar di Next Wave Festival Broklyn Academy of Music New York, San Francisco, Los Angeles, dan Burlington. Begitu antusiasnya sambutan warga New York, Mas Don melakukan pergelaran dua kali di ibu kota dunia itu. Dan di tahun yang sama, pentas kedua digelar di BAM Carey Playhouse, New York.

Keuletan Mas Don dalam menciptakan sebuah karya tari tak pernah berhenti. Dia terus menunjukkan kreativitas-kreativitas baru, biasanya setelah sekian lama mendalami kehidupan masyarakat yang ingin “dipotretnya” menjadi tarian. Dia mau masuk ke dalam kehidupan masyarakat tertentu. Seperti, untuk membuat kreasi tari dengan latar belakang masyarakat Dayak, Mas Don harus homestay di tengah hutan belantara Kalimantan bersama komunitas Dayak. Begitu juga saat dia terinspirasi suku Nias di Sumatera Utara.

Pargelaran pertunjukan berjudul Meta Ekologi yang mengetengahkan kepeduliannya terhadap lingkungan, di tahun 1975, terinspirasi setelah dia mendalami kehidupan Dayak dan Nias. Karya Mas Don lain tentang lingkungan adalah Hutan Plastik di tahun 1983 dan Hutan Merintah tahun 1987. Mas Don juga menghasilkan lakon Maha Buta pertanda dia tidak melupakan kehidupan spiritual yang diberikan Sang Khalik.

Di usia paruh bayanya, sejak tiga tahun terakhir Mas Don mulai berperan sebagai guru bagi siapa saja. Baginya, menjadi guru justru “menambah ilmu”, mendapatkan hal baru sebab pengalaman mengajar itu berbeda dengan menari.

Ayah dari Nugrahani, anak buah perkawinanya dengan Amna W.Kusumo ini tidak hanya menggeluti seni koreografi dengan menghasilkan karya-karya koreografi, tapi juga terjun sebagai pengader koreografer-koreografer muda. Hal itu dilakukannya dengan cara terjun sebagai seorang pengajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Solo, dan di Institut Kesenian Jakarta.
Dan jika bicara tentang mengajar maka pria berambut sebahu ini pasti akan bersemangat, terutama tentang perannya sebagai guru. Misalnya, Sardono mewajibkan setiap muridnya mempresentasikan karya akhirnya di tempat asal si murid. Dengan begitu Sardono bisa melihat bagaimana si murid “melihat” komunitas asal si murid itu sendiri, misalnya, setelah dua tahun belajar kesenian. Si seniman tak harus terputus interaksinya dengan masyarakatnya sendiri.

“Saya hanya berusaha memperkaya mereka dengan apa yang sebenarnya saya dapatkan, juga dari murid yang lain. Misalnya, saya membawa pengetahuan dari murid di Australia ketika mengajar di Solo, atau sebaliknya, setelah melihat presentasi murid di Padang, saya membawanya ketika mengajar di Singapura,” tuturnya. Ia memang sangat terlibat dengan pasang surut lingkungan masyarakatnya.

Belakangan ini Sardono tak lagi menghabiskan banyak waktunya di Indonesia, tapi sudah lintas negara Asia Tenggara. Dia mengaku masih pergi ke Padang, Bandung, atau Jakarta, di mana muridnya menggelar presentasi. Selain itu, ia juga pergi ke Hanoi, Kamboja, Singapura, dan lainnya. Lingkup penggaliannya tak lagi terbatas pada tradisi di Indonesia, tetapi mencakup Asia, terutama Asia Tenggara.

Staf pengajar IKJ ini sejak awal sudah mencoba berusaha memajukan kesenian di Indonesia dengan ikut terlibat mendirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, yang merupakan cikal bakal Institut Kesenian Jakarta, pada 1970. Sekolah seni yang didirikannya dimaksudkannya untuk mendidik para seniman supaya menjadi orang besar. Dia lalu menggalakkan berbagai workshop dengan seniman tari dari luar negeri. Misalnya dengan Peter Brooks di Ecole Superieure de Choreographie di Prancis. Lantas, melakukan workshop di Denmark bersama dengan Odin Teatret dan Theatre du Soleil Prancis.

Dalam setiap mengajar Mas Don berusaha untuk tampil sekomprehensif mungkin, misalnya dengan menyisipkan elemen-elemen seni lain seperti senirupa, film, dan musik. Mas Don yang juga staf pengajar Program Pasca Sarjana STSI Solo ini beralasan, semua unsur seni itu saling terkait. Mendalami seni tari harus pula bisa melakukan seni peran di atas panggung, harus bisa melihat visualisasi dari sisi penonton dan bukan hanya dirinya sendiri.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 22122004
►e-ti/indonesiamedia
Nama :
Teguh Karya
Nama Asli:
Steve Liem Tjoan Hok
Panggilan Akrab:
Om Steve
Lahir :
Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937
Meninggal:
Jakarta, 11 Desember 2001
Agama:
Kristen
Keluarga:
Tidak Menikah
Saudara:
Anak pertama dari lima saudara

Pendidikan:
- Akademi Seni Drama & Film Yogyakarta (1954-1957)
- ATNI (1957-1961)
- Art Directing East West Centre Honolulu, Hawaii (1962)

Karir:
- Pemain sandiwara (akhir 1955)
- Praktek di PFN dalam pembuatan fim cerita dan dokumenter skenario (1958)
- Pendiri Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (1962)
- Dosen ATNI (1964)
- State Manager Hotel Indonesia (1962-1972)
- Mendirikan Teater Populer (1968)
- Anggota DKJ (1968-1974)
- Pemain dan penata artistik Film Jendral Kancil (1958)
- Sutradara film Wajah Seorang Laki-Laki (1971 – pertama kali jadi sutradara)

Penghargaan:
- Sutradara terbaik dalam FFI 1971 (Cinta Pertama)
- Sutradara terbaik FFI 1974 (Ranjang Pengantin)
- Sutradara terbaik FFI 1979 (November 1828)
- Sutradara terbaik FFI 1983 (Di Balik Kelambu)

Alamat Rumah:
Kebon Pala I/295, Tanah Abang, Jakarta Pusat

Teguh Karya (1937-2001)

Suhu Teater Indonesia

Terlahir dengan nama Liem Tjoan Hok, di Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937, Teguh Karya yang oleh rekan terdekatnya akrab dipanggil Om Steve, adalah sutradara film pelanggan piala citra. Dia layak disebut suhu teater Indonesia yang banyak melahirkan sineas-sineas terkemuka. Bagi para seniman ia dianggap sebagai bapak, guru, sekaligus teman.

Beberapa aktor-aktris film Indonesia yang layak disebut sebagai bentukan Teguh, sebab mereka menjadi berjaya dan populer setelah membintangi film-film Teguh Karya, antara lain Slamet Rahardjo Djarot, Nano Riantiarno, Christine Hakim, Franky Rorimpandey, Alex Komang, Dewi Yul, Rae Sahetapi, Rina Hasyim, Tuti Indra Malaon (Alm), George Kamarullah, Henky Solaiman, Benny Benhardi, Ninik L. Karim, dan Ayu Azhari.

Setali tiga uang, Teguh pun seakan menjadi abadi sebagai sutradara terbaik spesialis peraih Piala Citra, untuk setiap karya-karya film terbarunya. Dan bersamaan itu, film yang disutradarainya, sering pula terpilih menjadi film terbaik yang dianugerahi Piala Citra.

Sejumlah judul film karya Teguh yang berhasil mengangkat nama sutradara dan pemain bintangnya, diantaranya, Wajah Seorang Laki-Laki (1971), Cinta Pertama (1973), Ranjang Pengantin (1974), Kawin Lari (1975), Perkawinan Semusim (1977), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1979), Di Balik Kelambu (1982), Secangkir Kopi Pahit (1983), Doea Tanda Mata (1984), Ibunda (1986), dan Pacar Ketinggalan Kereta (1986).

Film pertama karya Teguh di tahun 1968 adalah film untuk anak-anak. Film serius konsumsi dewasa untuk pertama kali dihasilkannya pada tahun 1971, dan langsung menyabet beberapa penghargaan untuk kategori akting maupun penyutradaraan terbaik.

Karir dalam dunia film dirintisnya saat melakukan tugas praktik penulisan skenario film-film semi dokumenter, pada Perusahaan Film Negara (kini PPFN). Saat itu, mantan anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 1968-1972 ini antara lain berkesempatan bekerja pada sutradara D. Djajakusuma, Nya Abbas Acup, Misbach Yusa Biran, Wim Umboh, dan Asrul Sani, baik itu sebagai penata artistik, pemain, atau asisten sutradara.

Ketika film layar lebar bermedium pita seluloid meredup sementara waktu di awal tahun 1990-an, untuk digantikan layar kaca yang marak muncul dengan kehadiran stasiun teve baru, Teguh pun sempat mengubah medium seninya. Ia berkesempatan menghasilkan karya film sinema elektronik (sinetron) untuk televisi, seperti Pulang (1987), Arak-Arakan (1992), dan Pakaian dan Kepalsuan (1994).

Ia pertama-tama melakoni seni sebagai pemain drama, antara tahun 1957 hingga 1961. Teguh, yang waktu itu masih menggunakan nama lahir Steve Liem Tjoan Hok, sudah sering tampil di panggung dalam pementasan-pementasan yang diadakan oleh ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia).

Lalu, secara akademis Teguh Karya menyelesaikan pendidikan seni di berbagai perguruan tinggi. Seperti, di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) Yogyakarta (tahun 1954-1955), Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI, 1957-1961), kemudian ke luar negeri East West Center Honolulu, Hawai (1962-1963) untuk belajar akting atau art directing. Kemampuan akademis itu kemudian dipadukan dengan pergaulannya yang intens dengan beberapa tokoh teater dan sutradara film legendarias, seperti Usmar Ismail, Asrul Sani, dan D. Djajakusuma yang banyak mempengaruhi proses berkeseniannya. Teguh turut aktif membidani kelahiran Badan Pembina Teater Nasional Indonesia, di tahun 1962.

Sejak tahun 1968, ia mendirikan Teater Populer, yang hingga akhir hayat adalah kebanggaan sekaligus ‘kenderaan’ seni yang tetap difungsikan. Ia mendirikan sanggar seninya di Jalan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat yang juga rumah kediamannya. Rumah ini disulap menjadi sanggar kreatif para seniman terkemuka di Tanah Air. Melalui Teater Populer, Teguh yang masih menggunakan nama Steve Liem, berkesempatan membentuk dan melahirkan banyak aktor serta aktris kenamaan.

Dari Teater Populer, banyak sineas baru mengikuti jejak Teguh untuk serius menapaki karir di industri perfilman. Tak heran jika Teguh dijuluki pula sebagai ‘Suhu Teater Indonesia’. Di antara pementasan Teater Populer yang mendapat sambutan meriah, adalah Jayaprana, Pernikahan Darah (1971), Inspektur Jenderal, Kopral Woyzeck (1973), dan Perempuan Pilihan Dewa (1974). Banyak kritikus seni menilai, beberapa lakon panggung yang disutradarai Teguh Karya berhasil mencapai puncak eksplorasi.

Walau lahir dengan nama Liem Tjoan Hok, Teguh lebih merasa sebagai orang Banten. Ia memiliki seorang nenek kelahiran Bekasi, namanya Saodah, serta seorang sahabat Mang Dulapa, sais delman yang rutin membawa Teguh pulang pergi ketika masih duduk di bangku SD Pandeglang.

Memasuki bangku SMP, Teguh pindah ke Jakarta, menumpang di rumah Engku Dek pamannya. Anak pertama dari lima bersaudara pedagang kelontong ini kemudian mewarisi kegemaran membaca dari sang paman. Teguh boleh mendapat nilai jelek untuk aljabar dan ilmu ukur, namun untuk pelajaran sejarah, menggambar, dan bahasa ia selalu unggul.

Sepulang dari studi art directing di Hawai, Teguh bekerja sebagai manajer panggung di Hotel Indonesia. Karena itu, Teater Populer yang Teguh lahirkan tahun 1968 dimaksudkan pula untuk mengisi acara-acara di Hotel Indonesia. Jadilah teater pengusung aliran realisme ini, awalnya lebih dikenal sebagai Teater Populer Hotel Indonesia. Pemain pendukungnya sebagian besar adalah mahasiswa ATNI serta para penggiat teater independen.

Identitas kelahiran Teater Popuper, salah satunya, bersemangat menggali sisi keaktoran (kesenimanan) seseorang, untuk kemudian diekspresikan sebagai medium perwujudan sebuah pencapaian artistik tertentu. Teater Populer terlihat sangat ‘akademis’ mengungkapkan gagasan-gagasan teatrikal di atas panggung. Suguhan yang formal-akademis itu untuk mengejawantahkan teori-teori realisme, yang pembawaannya dimulai oleh Usmar Ismail, Asrul Sani, dan D. Djajakusuma saat mendirikan ATNI pada tahun 1950-an. Realisme itulah yang berhasil diserap Teguh saat kuliah di ATNI tahun 1957-1961.

Tentang pilihan hidupnya untuk tak menikah, Anggota Dewan Film Nasional (DFN) penerima Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1969), ini menyebutkan, karena di dalam dirinya ada ‘kamar-kamar’ untuk kreativitas, sahabat, negeri, dan kamar untuk lain-lain. Bicara soal perkawinan, kata Teguh, urutan kamarnya belum tentu sama untuk setiap orang. Ia mengaku sewaktu di SMA pernah beberapa kali pacaran, tetapi sang pacar selalu saja tidak tahan karena acapkali ditinggal menghadiri ceramah dan berbagai kegiatan kesenian lainnya.

Teguh Karya, yang sepanjang hayat memilih hidup melajang, menghembuskan nafas terakhir kali di RSAL Mintohardjo, Jakarta Pusat, pada 11 Desember 2001 di usia 64 tahun, setelah terserang stroke menyerang otak bagian memori sejak tahun 1998. Walau hari-hari akhir dihabiskan di atas kursi roda, sesungguhnya stroke tak membuat badannya lumpuh total melainkan otak bagian memorilah yang tak lagi mampu bekerja maksimal, seperti merespon pembicaraan.

Teguh adalah pria yang selalu berpenampilan sederhana, sangat dicintai dan disayangi oleh teman-teman seprofesi, maupun para seniman lain. Bagi para seniman ia dianggap sebagai bapak, guru, sekaligus teman.

Sebelum meninggal dunia, Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, beserta istri Ny. Sinta Nuriyah, berkesempatan mengunjungi Teguh Karya, di rumah kediamannya, Kebon Kacang, Tanah Abang. Gus Dur yang pernah menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), sesuai janji datang mengunjungi sohib yang sudah lama direncanakan itu. Keduanya berbincang-bincang selama satu jam, bernostalgia.  ►e-ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation.
C © updated 12012004
Nama:
Asrul Sani
Lahir:
Rao, Pasaman, 10 Juni 1927
Meninggal:
Jakarta, 11 Januari 2004, Pukul 22.15 WIB
Istri:
(1) Siti Nurani dan (2) Mutiara Sarumpaet
Anak:
Tiga putra, tiga putri, enam cucu
Ayah:
Sultan Marah Sani Syair Alamsyah, gelar Yang Dipertuan Rao Mapattunggal Mapatcancang

Pendidikan:
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Indonesia (IPB)
Dramaturgi dan sinematografi di University of Southern California, Amerika Serikat tahun 1955-1957
Sekolah Seni Drama di Negeri Belanda tahun 1951-1952
SLTP hingga SLTA di Jakarta
SD di Rao, Sumatera Barat

Karir Politik:
Anggota DPR GR 1966-1971 mewakili Partai Nahdhatul Ulama
Anggota DPR RI 1972-1982 mewakili PPP

Pendiri :
“Gelanggang Seniman Merdeka”
Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)

Kegiatan Pergerakan:
Lasjkaer Rakjat Djakarta, Tentara Pelajar di Bogor

Kegiatan Penerbitan:
Menerbitkan “Suara Bogor”, redaktur majalah kebudayaan “Gema Suasana”, anggota redaksi “Gelanggang”, ruang kebudayaan Majalah” Siasat”, dan wartawan Majalah “Zenith”
Konsep Kebudayaan:
“Surat Kepercayaan Gelanggang”

Penghargaan:
Tokoh Angkatan 45
Bintang Mahaputra Utama, tahun 2000
Enam buah Piala Citra pada Festifal Film Indonesia (FFI)
Film Terbaik pada Festival Film Asia tahun 1970

Karya Puisi:
“Tiga Menguak Takdir” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, “Surat dari Ibu”, “Anak Laut”, 19 buah puisi dan lima buah cerpen sebelum penerbitan antologi “Tiga Menguak Takdir” tahun 1950, lalu sesudahnya tujuh buah puisi, enam buah cerpen, enam terjemahan puisi, tiga terjemahan drama, dan puisi-puisi lain yang dimuat antara lain di yang dimuat di majalah “Siasat”, “Mimbar Indonesia”, dan “Zenith”.

Karya Film:
“Titian Serambut Dibelah Tudjuh”, “Apa yang Kau Cari Palupi” “Monumen”, “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”, “Naga Bonar”,. “Pagar Kawat Berduri”, “Salah Asuhan”, “Para Perintis Kemerdekaan”, “Kemelut Hidup”

Alamat Rumah:
Kompleks Warga Indah, Jalan Attahiriyah No. 4E, Pejaten, Kalibata, Jakarta Selatan

Asrul Sani

Seniman Pelopor Angkatan ’45

Asrul Sani seniman kawakan yang antara lain dikenal lewat Sajak Tiga Menguak Takdir bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin meninggal dunia hari Minggu 11 Januari 2004 malam sekitar pukul 22.15 di kediamannya di Jln. Attahiriah, Kompleks Warga Indah No. 4E, Pejaten Jakarta. Seniman kelahiran Rao, Sumbar, 10 Juni 1927 ini wafat setelah kesehatannya terus menurun sejak menjalani operasi tulang pinggul sekitar satu setengah tahun sebelumnya.
Dia adalah pelaku terpenting sejarah kebudayaan modern Indonesia. Jika Indonesia lebih mengenal Chairil Anwar sebagai penyair paling legendaris milik bangsa, maka adalah Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin yang mengumpulkan karya puisi bersama-sama berjudul “Tiga Menguak Takdir” yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku di tahun 1950. Mereka bertiga bukan hanya menjadi pendiri “Gelanggang Seniman Merdeka”, malahan didaulat menjadi tokoh pelopor sastrawan Angkatan 45.

Dalam antologi “Tiga Menguak Takdir” Asrul Sani tak kurang menyumbangkan delapan puisi, kecuali puisi berjudul “Surat dari Ibu”. Sejak puisi “Anak Laut” yang dimuat di Majalah “Siasat” No. 54, II, 1948 hingga terbitnya antologi “Tiga Menguak Takdir” tadi, Asrul Sani tak kurang menghasilkan 19 puisi dan lima buah cerpen. Kemudian, semenjak antologi terbit hingga ke tahun 1959 ia antara lain kembali menghasilkan tujuh buah karya puisi, dua diantaranya dimuat dalam “Tiga Menguak Takdir”, lalu enam buah cerpen, enam terjemahan puisi, dan tiga terjemahan drama. Puisi-puisi karya Asrul Sani antara lain dimuat di majalah “Siasat”, “Mimbar Indonesia”, dan “Zenith”.

Sastrawan Angkatan 45 bukan hanya dituntut bertanggungjawab untuk menghasilkan karya-karya sastra pada zamannya, namun lebih dari itu, mereka adalah juga nurani bangsa yang menggelorakan semangat kemerdekaan. Adalah tidak realistis sebuah bangsa bisa merdeka hanya bermodalkan bambu runcing. Namun ketika para “nurani bangsa” itu mensintesakan keinginan kuat bebas merdeka menjadi jargon-jargon “merdeka atau mati” dan semacamnya, maka, siapapun pasti akan tunduk kepada suara nurani.

Sesungguhnya bukan hanya bersastra, pada tahun 1945-an itu Asrul Sani yang pernah duduk sebangku dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer sewaktu sekolah di SLTP Taman Siswa Jakarta, bersama kawan-kawan telah menyatukan visi perjuangan revolusi kemerdekaan ke dalam bentuk Lasjkar Rakjat Djakarta. Masih di masa revolusi itu, di Bogor dia memimpin Tentara Pelajar, menerbitkan suratkabar “Suara Bogor”, redaktur majalah kebudayaan “Gema Suasana”, anggota redaksi “Gelanggang”, ruang kebudayaan majalah “Siasat”, dan menjadi wartawan pada majalah “Zenith”.

Hingga tiba pada bulan Oktober 1950 saat usianya masih 23 tahun, Asrul Sani sudah mengkonsep sekaligus mengumumkan pemikiran kebudayaannya yang sangat monumental berupa “Surat Kepercayaan Gelanggang”, yang isinya adalah sebentuk sikap kritisnya terhadap kebudayaan Indonesia. Isinya, antara lain berbunyi, ‘kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat kecil bagi kami adalah kumpulan campur baur dari mana-mana dunia-dunia baru yang sehat dan dapat dilahirkan’.

Asrul Sani yang kelahiran Rao, Pasaman, Sumatera Barat 10 Juni 1927 sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, selain penyair adalah juga penulis cerita pendek, esei, penterjemah berbagai naskah drama kenamaan dunia, penulis skenario drama dan film, serta sekaligus sutradara panggung dan film. Bahkan, sebagai politisi ia juga pernah lama mengecap aroma kursi parlemen sejak tahun 1966 hingga 1971 mewakili Partai Nahdhatul Ulama, dan berlanjut hingga tahun 1982 mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Hal itu semua terjadi, terutama aktivitas keseniannya, adalah karena keterpanggilan jiwa sebab meski telah menamatkan pendidikan sarjana kedokteran hewan pada Fakultas Kehewanan IPB Bogor (ketika itu masih fakultas bagian dari Universitas Indonesia) dan menjadi dokter hewan, pada sekitar tahun 1955 hingga 1957 Asrul Sani pergi ke Amerika Serikat justru untuk menempuh pendidikan dramaturgi dan sinematografi di University of Southern California.

Seni dan keteknikan adalah dua dunia yang berbenturan dalam diri Asrul. Setamat Sekolah Rakyat di Rao, Asrul Sani menuju Jakarta belajar di Sekolah Teknik, lalu masuk ke Fakultas Kehewanan Universitas Indonesia (di kemudian hari dikenal sebagai Institut Pertanian Bogor). Sempat pindah ke Fakultas Sastra UI namun kemudian balik lagi hingga tamat memperoleh titel dokter hewan. Agaknya kekuatan jiwa seni telah memenangkan pertaruhan isi batin Asrul Sani. Maklum, bukan hanya karena pengalaman masa kecil di desa kelahiran yang sangat membekas dalam sanubarinya, sebelum ke Negeri Paman Sam Amerika Serikat pun pada tahun 1951-1952 ia sudah terlebih dahulu ke Negeri Kincir Angin Belanda dan belajar di Sekolah Seni Drama.

Selain karena pendekatan akademis dan romatisme kehidupan pertanian di desa, totalitas jiwa berkesenian terutama film makin menguat pada dirinya setelah Asrul Sani bertemu Usmar Ismail, tokoh lain perfilman. Bahkan, keduanya sepakat mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang melahirkan banyak sineas maupun seniman teater kesohor, seperti Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Tatiek W. Maliyati, Ismed M Noor, Slamet Rahardjo Djarot, Nano dan Ratna Riantiarno, Deddy Mizwar, dan lain-lain.

Film pertama yang disutradarai Asrul Sani adalah “Titian Serambut Dibelah Tudjuh” pada tahun 1959. Dan, ia mulai mencapai kematangan ketika sebuah film karyanya “Apa yang Kau Cari Palupi” terpilih sebagai film terbaik pada Festival Film Asia pada tahun 1970. Karya besar film lainnya adalah “Monumen”, “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”, “Naga Bonar”,. “Pagar Kawat Berduri”, “Salah Asuhan”, “Para Perintis Kemerdekaan”, “Kemelut Hidup”, dan lain-lain. Tak kurang enam piala citra berhasil dia sabet, disamping beberapa kali masuk nomibasasi. Alam pikir yang ada adalah, sebuah film jika dinominasikan saja sudah pertanda baik maka apabila hingga enam kali memenangkan piala citra maka sineasnya bukan lagi sebatas baik melainkan dia pantas dinobatkan sebagai tokoh perfilman.

Itulah Asrul Sani, yang pada hari Minggu, 11 Januari 2004 tepat pukul 22.15 WIB dengan tenang tepat di pelukan Mutiara Sani (56 tahun) istrinya meninggal dunia pada usia 76 tahun karena usia tua. Dia meninggal setelah digantikan popoknya oleh Mutiara, diberikan obat, dan dibaringkan. Sebagaimana kematian orang percaya, Asrul Sani menjelang menit dan detik kematiannya, usai dibaringkan tiba-tiba dia seperti cegukan, lalu kepalanya terangkat, dan sebelum mengkatupkan mata untuk selamanya terpejam dia masih sempat mencium pipi Mutiara Sani, yang juga aktris film layar lebar dan sinetron.

Asrul Sani meninggalkan tiga putra dan tiga putri serta enam cucu, serta istri pertama Siti Nuraini yang diceraikannya dan istri kedua Mutiara Sani Sarumpaet. Semenjak menjalani operasi tulang pinggul enam bulan lalu, hingga pernah dirawat di RS Tebet, Jakarta Selatan, kesehatan Asrul Sani mulai menurun. Dia adalah putra bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya, Sultan Marah Sani Syair Alamsyah, Yang Dipertuan Rao Mapattunggal Mapatcancang adalah raja adat di daerahnya.

Selama hidupnya Asrul Sani hanya mendedikasikan dirinya pada seni dan sastra. Sebagai penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari Pemerintah RI pada tahun 2000 lalu, dia berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun dia berpesan ke istrinya untuk hanya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Selatan dengan alasan, sambil bercanda tentunya ke Mutiara Sani setahun sebelumnya, ‘masak sampai detik terakhir, kita masih mau diatur negara’.

Meski sudah mulai mengalami kemunduran kesehatan dalam jangka waktu lama, Asrul Sani masih saja menyempatkan menulis sebuah pidato kebudayaan, yang, konon akan dia sampaikan saat menerima gelar doktor kehormatan honoris causa dari Universitas Indonesia, Jakarta. Nurani bangsa itu telah pergi. Tapi biarlah nurani-nurani aru lain mekar tumbuh berkembang seturut zamannya. *hp

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 30102004
►e-ti/uninet
Nama :
Basuki Abdullah (Raden Basoeki Abdullah)
Lahir :
Surakarta, Jawa Tengah, 27 Januari 1915
Meninggal:
1993

Agama :
Katolik

Pendidikan :
-SD Katolik/HIS Pangudi Luhur, Solo (1930)
-Bruder School Pangudi Luhur, Solo (1933)
-Royal Academy of Fine Arts, Den Haag Negeri Belanda
-The Hague ‘s-Gravenhage, Den Haag, Negeri Belanda
-Free Academy of Fine Arts, Den Haag, Negeri Belanda.

Karir :
-Royal Court Artist Istana Raja Muangthai (1963- sekarang)
-Dianugerahi Bintang Poporo sebagai Royal Court Artist oleh Raja Muangthai, Bhumibol Adulyadej
-Pernah melukis kepala negara, antara lain, Marcos dan Imelda Marcos, Soekarno, Soeharto, Tanom Kittikachorn.

Alamat Rumah :
Kompleks Shangrila Indah Unit I/56 Jalan Cileduk Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 716348

Basuki Abdullah (1915 – 1993)

Melukis 300 Potret Diri

Kegemaran melukis dimulai Basuki sejak usia enam tahun. Suatu kali pria kelahiran Sriwedari, Solo, 27 Januari 1915, ini terbaring sakit, iseng menyontek lukisan Yesus Kristus. Sembari melukis, ia merasakan sakitnya berangsur sembuh. Lantas Basuki beralih dari muslim menjadi nasrani (Katolik).
Pada usia 34 tahun (1949), Basuki mengikuti lomba lukis potret diri Ratu Belanda Juliana. Lomba itu diikuti 81 pelukis dari berbagai penjuru dunia. Tetapi yang mampu menyelesaikan potret Ratu tepat waktu hanya 21 pelukis, termasuk Basuki. Ia bahkan tampil sebagai juara. Sejak itu, Basuki laris sebagai pelukis potret diri.

Basuki mengenal ayahnya, pelukis R. Abdullah Surjosubroto, hanya setelah berusia 15 tahun. Suatu kali, anak kedua dari lima bersaudara ini, menggambar seekor singa yang sedang menerkam. ”Masa melukis macan ketawa,” canda sang ayah, putra tokoh pergerakan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Basuki merasa sakit hati dan terpecut oleh komentar sinis sang ayah.

Berangkat dewasa, ia gemar melukis tokoh-tokoh pergerakan, antara lain Mahatma Gandhi. Basuki mulai mengembara tahun 1947. Mula-mula ia belajar melukis di Akademi Seni Lukis Negeri Belanda, kemudian Italia, dan Prancis.
Dari 42 tahun bermukim di luar negeri, 20 tahun dihabiskannya di Negeri Belanda, dan 17 tahun di Muangthai. Basuki berhasil menyunting gadis Thai. Pulang ke Jakarta, ia membawa serta istri Thai-nya, diangkat Presiden Soekarno sebagai pelukis Istana Merdeka. Tahun 1961, ia diundang Raja Muangthai, Bhumibol Adulyadej, untuk melukis Raja dan istrinya, Ratu Sirikit, hingga ia menjadi pelukis istana di Bangkok. Dua tahun kemudian, ia menerima anugerah Bintang Poporo sebagai Seniman Istana Kerajaan.

Gayanya yang naturalis, mengejar kemiripan wajah dan bentuk, Basuki disukai kalangan atas. Berbagai negarawan dan istri mereka seperti berlomba minta dilukis Basuki: Presiden Soekarno, Sultan Brunei, Pangeran Philip dari Inggris, Pangeran Bernard dari Belanda, dan kaum jetset kaliber Nyonya Ratna Sari Dewi. Yang datang sendiri ke kediamannya, di perumahan Shangrila Indah, Jakarta, tidak kurang: Jenny Rachman, Eva Arnaz, bahkan Laksamana Sudomo.

Datang karena diundang ke Istana Mangkunegaran, Solo, di masa Revolusi, Basuki luput melukis Nona Siti Hartinah. Ia memilih model lain. Setelah Siti Hartinah menjadi Ibu Negara barulah Basuki berkesempatan melukisnya. ”Kok sekarang mau?” goda Presiden Soeharto. Basuki berkelit, “Dulu ‘kan zaman Orde Lama. Sekarang zaman Orde Baru, jadi saya terima,” kata Basuki yang sudah melukis 300 potret diri.

Basuki telah tiga kali menikah sebelum bertemu dengan seorang gadis Thai, istri keempatnya. Tiga pernikahan pertamanya kandas. Kisah pertemuannya dengan gadis Thai dimulai dari juri lomba ratu kecantikan tahun 1967. Basuki terpesona pada seorang peserta kontes yang berkulit kuning dan lesung pipi. Gadis itu Nataya Nareerat, istri keempatnya yang terpaut 30 tahun. Mereka memiliki seorang putri yang diberi nama Sidawaty Bharany.  ►e-ti/sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation.
C © updated 30042006 – 18062003
► e-ti
Nama:
Pramoedya Ananta Toer
Lahir:
Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925
Meninggal:
Jakarta, 30 April 2006
Isteri:
Maemunah Thamrin

Pendidikan:
SD Institut Boedi Oetomo (IBO), Blora
Radio Vakschool 3 selama 6 bulan, Surabaya
Kelas Stenografi, Chuo Sangi-In, satu tahun, Jakarta
Kelas dan Seminar Perekonomian dan Sosiologi oleh Drs. Mohammad Hatta, Maruto Nitimihardjo
Taman Dewasa: Sekolah ini ditutup oleh Jepang, 1942-1943
Sekolah Tinggi Islam: Kelas Filosofi dan Sosiologi, Jakarta

Pekerjaan:
Juru ketik di Kantor Berita Domei, Jakarta, 1942-1944
Instruktur kelas stenografi di Domei
Editor Japanese-Chinese War Chronicle di Domei
Reporter dan Editor untuk Majalah Sadar, Jakarta, 1947
Editor di Departemen Literatur Modern Balai Pustaka, Jakarta, 1951-1952
Editor rubrik budaya di Surat Kabar Lentera, Bintang Timur, Jakarta, 1962-1965
Fakultas Sastra Universitas Res Publica (sekarang Trisakti), Jakarta, 1962-1965
Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai, 1964-1965

Prestasi dan Penghargaan
1951: First prize from Balai Pustaka for Perburuan (The Fugitive)
1953: Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional for Cerita dari Blora (Tales from Blora)
1964: Yamin Foundation Award for Cerita dari Jakarta (Tales form Jakarta) – declined by writer
1978: Adopted member of the Netherland Center – During Buru exile
1982: Honorary Life Member of the International P.E.N. Australia Center, Australia
1982: Honorary member of the P.E.N. Center, Sweden
1987: Honorary member of the P.E.N. American Center, USA
1988: Freedom to Write Award from P.E.N. America
1989: Deutschsweizeriches P.E.N member, Zentrum, Switzerland
1989: The Fund for Free Expression Award, New York, USA
1992: International P.E.N English Center Award, Great Britain
1995: Stichting Wertheim Award, Netherland
1995: Ramon Magsaysay Award, Philliphine
1995: Nobel Prize for Literature nomination (Pramoedya has been nominated constantly since 1981.)
1999: Honorary Doctoral Degree from University of Michigan, Ann Arbor
2000: Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres Republic of France.
2000: Fukuoka Asian Culture Grand Prize, Fukuoka, Japan.

Buku:
Fiksi:
Krandji-Bekasi Djatuh, 1947
Perburuan, 1950
Keluarga Gerilya, 1950
Subuh, 1950
Pertjikan Revolusi, 1950
Mereka Jang Dilumpuhkan (Bag 1 dan 2), 1951
Bukan Pasar Malam, 1951
Di Tepi Kali Bekasi, 1951
Dia Yang Menyerah, 1951
Tjerita Dari Blora, 1952
Gulat di Djakarta, 1953
Midah Si Manis Bergigi Emas, 1954
Korupsi, 1954
Tjerita Tjalon Arang, 1957
Suatu Peristiwa di Banten Selatan, 1958
Tjerita Dari Djakarta, 1957
Bumi Manusia – HM, 1980
Anak Semua Bangsa – HM,1980
Tempo Doeloe, (ed.) – HM, 1982
Jejak Langkah – HM, 1985
Gadis Pantai – HM,1987
Hikayat Siti Mariah, (ed.) – HM,1987
Rumah Kaca – HM, 1988
Arus Balik – HM, 1995
Arok Dedes – HM, 1999
Mangir – KPG, 1999
Larasati: Sebuah Roman Revolusi – HM, 2000
Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer – KPG, 2001
Cerita Dari Digul – KPG, 2001

Non-Fiksi:
Hoakiau di Indonesia, 1960
Panggil Aku Kartini Saja I & II, 1962
Sang Pemula – HM, 1985, biografi Tirto Adhi Soerjo
Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) – HM, 1995
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, Lentera, 1995
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, Lentera, 1997
Kronik Revolusi Indonesia, Bag 1,2,3. 1 & 2: KPG, 1999 – 3: KPG, 2001

Karya Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Lode Zielens, Bunda, Mengapa Kami Hidup? (Moeder, waarom leven wij?), 1947
Frits van Raalte, 1946
J.Veth, 1943
John Steinbeck, Tikus dan Manusia (Of Mice and Men), 1950
Leo Tolstoi, Kembali pada Tjinta dan Kasihmu (Return to Your Love and Affection), 1951
Leo Tolstoi, Perdjalanan Ziarah jang Aneh (Strange Pilgrimage), 1954
Mikhail Sholokhov, Kisah Seorang Pradjurit Sovjet (The Fate of a Man), 1956
Maxim Gorki, Ibunda (Mother), 1958
Ho Ching-chih & Ting Yi, Dewi Uban (The White-haired Girl), 1958
Alexander Kuprin, Asmara dari Russia (Love from Russia), 1959
Boris Polewoi, Kisah Manusia Sejati (A Story about a Real Man)
Blaise Pascal, Buah Renungan (Pensees)
Kristoferus
Albert Schweitzer

Cerita Pendek
Karena korek api. Minggoe Merdeka, 6.1, (1947): 6.
Kemana?? Pantja Raja, 5.2, (47): 141-2.
Si Pandir. Pantja Raja, 11-12.2, (47): 405-7.
Kawanku sesel. Mimbar Indonesia, 40.3, (49): 17-19.
Kemelut. Mimbar Indonesia, 14.3, (49): 17-8, 22.
Lemari antik. Mimbar Indonesia, 43-44.3, (49): 18-9.
Masa. Mimbar Indonesia, 39.3, (49): 17-20.
Anak haram. Daya, 5-6.2, (50): 98-101.
Antara laut dan keringat. Siasat, 164, 165.4, (50): 8; 6.
Blora. Indonesia, 1.2, (50): 53-64.
Bukan pasar malam. Indonesia, 6.1, (50): 23-55.
Cahaya telah padam. Siasat, 179-180.4, (50): 18-9.
Demam. Mimbar Indonesia, 32.4, (50): 26-29.
Dia yang menyerah. Poedjangga Baroe, 11-12.11, (50): 245-286.
Fajar merah. Gema Suasana, 1.3, (50): 81-96.
Hadiah kawin. Spektra, 42.1; 1.2, 3.2, (50): 27-31; 27-30; 27-30.
Hidup yang tak diharapkan. Siasat, 188 sd 193.4, (50): passim.
Inem. Mimbar Indonesia, 15.4, (50): 19-20.
Jongos + babu. Mimbar Indonesia, 2, 3.4, (50): 17-8; 17-8.
Keluarga yang ajaib. Gema Suasana, 5.3, (50): 440-8.
Kenang-kenangan pada kawan. Mimbar Indonesia, 9.4, (50): 20-1.
Lemari buku. Mimbar Indonesia, 48.4, (50): 20-1.
Mencari anak hilang. Daya, 2.2, (50): 42-4, 48.
Pelarian yang tak dicari. Mutiara, 16.2, (50): 10-1, 14-9.
Sebuah surat. Spektra, 14.2, (50): 25-30.
Berita dari Kebayoran. Mimbar Indonesia, 11.5, (51): 20-1, 26.
Idulfitri mendapat ilham. Indonesia, 6.2, (51): 17-29.
Kemudian lahirlah dia. Mimbar Indonesia, 8, 9.5, (51): 20-2; 20-2.
Yang sudah hilang. Zenith, 2.1, (51): 112-128.
Kampungku. Mimbar Indonesia, 30.6, (52): 20-1, 24, 26.
Sepku. Waktu, 5.6, (52): 7-8.
Kapal gersang. Zenith, 9.3, (53): 550-6.
Keguguran calon dramawan. Zenith, 11.3, (53): 659-71.
Tentang emansipasi buaya. Zenith, 12.3, (53): 722-30.
Kalil, si opas kantor. Kisah, 3.2, (54): 85-90.
Korupsi. Indonesia, 4.5, (54): 165-245.
Perjalanan. Mimbar Indonesia, 13.8, (54): 20-3.
Suatu pojok di suatu dunia. Prosa, 1.1, (55): 5-7.
Arya Damar. Star Weekly, 551.11, (56): 18-9.
Biangkeladi. Roman, 6.3, (56): 16-8.
Darah Pajajaran. Star Weekly, 546.11, (56): 26-7.
Djaka Tarub. Star Weekly, 562.11, (56): 15-6.
Gambir. Aneka, 3,4,5.7, (56): 12-3; 12-3, 20; 12-3, 19.
Jalan yang amat panjang. Kisah, 7-8.4, (56): 13-5.
Kecapi. Kisah, 2.4, (56): 4-5.
Kesempatan yang kesekian. Zaman baru, 5, (56): 13-8.
Ki Ageng Pengging. Star Weekly, 570.11, (56): 26-7.
Lembaga. Roman, 5.3, (56): 7-8.
Makhluk di belakang rumah. Kontjo, 5.2, (56): 20-1, 33.
Mbah Ronggo dan setan-setannya. Star Weekly, 541.11, (56): 26-8.
Nyonya dokter hewan Suharko. Roman, 9.3, (56): 4-6.
Pelukis Purbangkara. Star Weekly, 549.11, (56): 26-7.
Raden Patah dan Raden Husen. Star Weekly, 555, 556.11, (56): 38-41; 25-7.
Sekali di bulan purnama. Roman, 7.3, (56): 12-4.
Suatu kerajaan yang runtuh karena rajukan permaisuri. Star Weekly, 544.11, (56): 26-7, 35.
Sunyi-senyap di siang hidup. Indonesia, 6.7, (56): 255-268.
Tanpa kemudian. Roman, 3.3, (56): 6-7, 11.
“Djakarta,” Almanak Seni 1957, Djakarta: Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional, 1956.
Kasimun yang seorang. Roman, 8.4, (57): 8-10.
Keluarga Mbah Lono Jangkung. Roman, 12.4, (57): 22-6, 42.
Shamrock Hotel 315. Roman, 10.4, (57): 5-6.
Yang cantik dan yang sakit. Pantjawarna, 120.9, (57): 16-7.
Dia yang tidak muncul. Star Weekly, 659.13, (58): 7-9.
Yang pesta dan yang tewas. Zaman Baru, 21-22, (58): 6.
Paman Martil. Jang Tak Terpadamkan (kumpulan tjerita pendek) menjambut ulang tahun ke-45 PKI. Pg. 5-27

Puisi
Antara kita. Siasat, 103.2, (49): 9.
Anak tumpah darah. Indonesia, 12.2, (51): 20.
Kutukan diri. Indonesia, 12.2, (51): 19-20.

Alamat Rumah Keluarga:
= Jalan Multi Karya II Nomor 26, Utan Kayu, Jakarta Timur

= Bojonggede, Bogor

PRAMOEDYA HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Pramoedya Ananta Toer

Sang Pujangga Telah Berpulang

Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia Minggu 30 April 2006 sekitar pukul 08.30 WIB di rumahnya Jl Multikarya II No.26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Sang Pujangga kelahiran Blora 6 Februari 1925 yang dipanggil Pram dan terkenal dengan karya Tetralogi Bumi Manusia, itu dimakamkan di TPU Karet Bivak pukul 15.00, Minggu 30/4. Lagu Darah Juang mengiringi prosesi pemakamannya yang dinyanyikan oleh para pengagum dan pelayat.

Sebelumnya, dia dirawat di ICU RS St Carolus Jakarta. Kemudian sejak Sabtu sekitar pukul 19.00 WIB dia meminta pulang dan dokter mengizinkan. Sastrawan yang oleh dunia internasional, sebagaimana ditulis Los Angeles Time, sering dijuluki Albert Camus Indonesia itu termasuk dalam 100 pengarang dunia yang karyanya harus dibaca sejajar dengan John Steinbejk, Graham Greene dan Bertolt Berecht.

Profil Pram juga pernah ditulis di New Yorker, The New York Time dan banyak publikasi dunia lainnya. Karya-karyanya juga sudah diterjemahkan dalam lebih dari 36 bahasa asing termasuk bahasa Yunani, Tagalok dan Mahalayam.

****

Dihargai Dunia Dipenjara Negeri Sendiri

Ia bagaikan potret seorang nabi, yang dihargai oleh bangsa lain tetapi dibenci di negerinya sendiri. Pramoedya Ananta Toer, seorang pengarang yang pantas menjadi calon pemenang Nobel. Ia telah menghasilkan belasan buku baik kumpulan cerpen maupun novel. Kenyang dengan berbagai pengalaman berupa perampasan hak dan kebebasan. Ia banyak menghabiskan hidupnya di balik terali penjara, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan Soekarno, maupun era pemerintahan Soeharto.

Di zaman revolusi kemerdekaan ia dipenjara di Bukit Duri Jakarta (1947-1949), dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno karena buku Hoakiau di Indonesia, yang menentang peraturan yang mendiskriminasi keturunan Tionghoa.

Setelah pecah G30S-PKI, Pramoedya yang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat – onderbouw Partai Komunis Indonesia – ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru sampai tahun 1979. Siksaan dan kekerasan adalah bagian hari-harinya di tahanan dan terpaksa kehilangan sebagian pendengarannya, karena kepalanya dihajar popor bedil.

Setelah bebas pun, Pramoedya dijadikan tahanan rumah dan masih menjalani wajib lapor setiap minggu di instansi militer. Meskipun ia sudah ‘bebas’, hak-hak sipilnya terus dibrangus, dan buku-bukunya banyak yang dilarang beredar terutama di era Soeharto. Pemerintah telah mengambil tahun-tahun terbaik dalam hidupnya, pendengarannya, papernya, rumahnya dan tulisan-tulisannya.

Ia dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 oleh seorang ibu yang memberikan pengaruh kuat dalam pertumbuhannya sebagai individu. Pramoedya mengatakan bahwa semua yang tertulis dalam bukunya teinspirasi oleh ibunya. Karakter kuat seorang perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, “seorang pribadi yang tak ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu sedikitpun’. Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan – ibunya. Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya masih berumur 17 tahun.

Setelah ibunya meninggal, Pramoedya dan adiknya meninggalkan rumah keluarga lalu menetap di Jakarta. Pramoedya masuk ke Radio Vakschool, di sini ia dilatih menjadi operator radio yang ia ikuti hingga selesai, namun ketika Jepang datang menduduki, ia tidak pernah menerima sertifikat kelulusannya. Pramoedya bersekolah hingga kelas 2 di Taman Dewasa, sambil bekerja di Kantor Berita Jepang Domei. Ia belajar mengetik lalu bekerja sebagai stenografer, lalu jurnalis.

Ketika tentara Indonesia berperang melawan koloni Belanda, tahun 1945 ia bergabung dengan para nasionalis, bekerja di sebuah radio dan membuat sebuah majalah berbahasa Indonesia sebelum ia akhirnya ditangkap dan ditahan oleh Belanda tahun 1947. Ia menulis novel pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara Belanda (1947-1949).

Setelah Indonesia merdeka, tahun 1949, Pramoedya menghasilkan beberapa novel dan cerita singkat yang membangun reputasinya. Novel Keluarga Gerilya (1950) menceritakan sejarah tentang konsekuensi tragis dari menduanya simpati politik dalam keluarga Jawa selama revolusi melawan pemerintahan Belanda.
Cerita-cerita singkat yang dikumpulkan dalam Subuh (1950) dan Pertjikan Revolusi (1950) ditulis semasa revolusi, sementara Tjerita dari Blora (1952) menggambarkan kehidupan daerah Jawa ketika Belanda masih memerintah. Sketsa dalam Tjerita dari Djakarta (1957) menelaah ketegangan dan ketidakadilan yang Pramoedya rasakan dalam masyarakat Indonesia setelah merdeka. Dalam karya-karya awalnya ini, Pramoedya mengembangkan gaya prosa yang kaya akan bahasa Jawa sehari-hari dan gambar-gambar dari budaya Jawa Klasik.

Di awal tahun 50-an, ia bekerja sebagai editor di Departemen Literatur Modern Balai Pustaka. Di akhir tahun 1950, Pramoedya bersimpati kepada PKI, dan setelah tahun 1958 ia ditentang karena tulisan-tulisan dan kritik kulturalnya yang berpandangan kiri. Tahun 1962, ia dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat yang disponsori oleh PKI yang kemudian dicap sebagai organisasi “onderbow” atau “mantel” PKI.

Di Lekra ia menjadi anggota pleno lalu diangkat menjadi wakil ketua Lembaga Sastra, dan menjadi salah seorang pendiri Akademi Multatuli, semua disponsori oleh LEKRA. Pramoedya mengaku bangga mendapat kehormatan seperti itu, meskipun sekiranya Lekra memang benar merupakan organisasi mantel PKI.

Kemudian terjadi peristiwa rasial anti-Tionghoa semasa Indonesia telah merdeka, formal oleh negara, dalam bentuk PP 10 -1960. Buku Hoakiau di Indonesia yang diluncurkan sekarang ini, pertama diterbitkan oleh Bintang Press, 1960, merupakan reaksi atas PP 10 tersebut. Peraturan Pemerintah nomor 10 ini kemudian berbuntut panjang dengan terjadinya tindakan rasial di Jawa Barat pada 1963, yang dilakukan oleh militer Angkatan Darat. Karena buku ini pula ia dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno.

Setelah keluar dari penjara karena soal Hoakiau itu, Profesor Tjan Tjun Sin memintanya “mengajar” di Fakultas Sastra Universitas Res Publica milik Baperki, yang sekarang diubah namanya menjadi Universitas Trisaksi yang kini bukan lagi milik Baperki. Ajakan ini sempat membuatnya merasa tidak enak karena SMP saja ia tidak lulus dan belum punya pengalaman dalam mengajar. Meskipun begitu, Pramoedya mengaku menggunakan caranya sendiri. Setiap mahasiswa ia wajibkan mempelajari satu tahun koran, sejak awal abad ini. Setiap tahun ada sekitar 28 mahasiswa yang ia beri tugas itu, sehingga Perpustakaan Nasional menjadi penuh dengan mahasiswanya.

Dari para mahasiswa-mahasiswi yang sebagian terbesar WNI keturunan Tionghoa, ia menerima sejumlah informasi tentang perlakuan pihak militer terhadap keluarga mereka yang tinggal di Jawa Barat. Ternyata rasialisme formal ini ditempa oleh beberapa orang dari kalangan elit OrBa untuk meranjau hubungan antara RI dengan RRC, yang jelas, sadar atau tidak, menjadi sempalan perang-dingin yang menguntungkan pihak Barat.

Di tahun 1965-an, Suharto memimpin setelah mengambil alih pemerintahan yang didukung oleh Amerika yang tidak suka Sukarno bersekutu dengan Cina. Mengikuti cara Amerika, Suharto mulai membersihkan komunis dan semua orang yang berafiliasi dengan komunis. Suharto memerintahkan hukuman massal, tekanan masal dan memulai Rezim Orde Baru yang dikuasai oleh militer. Akibatnya, ia ikut dipenjara setelah kudeta yang dilakukan komunis tahun 1965.

Meskipun Pramoedya tidak pernah menjadi anggota PKI, ia dipenjara selama 15 tahun karena beberapa alasan: pertama, karena dukungannya kepada Sukarno, kedua, karena kritikannya terhadap pemerintahan Soekarno, khususnya ketika tahun 1959 dikeluarkan dekrit yang menyatakan tidak diperbolehkannya pedagang Cina untuk melakukan bisnis di beberapa daerah. Ketiga, karena artikelnya yang dikumpulkan menjadi sebuah buku berjudul HoaKiau di Indonesia. Dalam buku ini, ia mengkritik cara tentara dalam menangani masalah yang berkaitan dengan etnis Tionghoa. Pemerintah membuat skenario ‘asimilasi budaya’ dengan menghapus budaya Cina. Sekolah-sekolah Cina ditutup, buku-buku Cina dibredel, dan perayaan tahun Baru Cina dilarang.

Pada masa awal di penjara, ia diijinkan untuk mengunjungi keluarga dan diberikan hak-hak tertentu sebagai tahanan. Di masa ini, ia dan teman penjaranya diberikan berbagai pekerjaan yang berat. Hasil tulisan-tulisannya diambil darinya, dimusnahkan atau hilang. Tanpa pena dan kertas, ia mengarang berbagai cerita kepada teman penjaranya di malam hari untuk mendorong semangat juang mereka.

Pada tahun 1972, saat di penjara, Pramoedya ”terpaksa” diperbolehkan oleh rezim Soeharto untuk tetap menulis di penjara. Setelah akhirnya memperoleh pena dan kertas, Pramoedya bisa menulis kembali apalagi ada tahanan lain yang menggantikan pekerjaannya. Selama dalam penjara (1965-1979) ia menulis 4 rangkaian novel sejarah yang kemudian semakin mengukuhkan reputasinya.

Dua di antaranya adalah Bumi Manusia (1980) dan Anak Semua Bangsa (1980), mendapat perhatian dan kritikan setelah diterbitkan, dan pemerintah membredelnya, dua volume lainnya dari tetralogi ini, Jejak Langkah dan Rumah Kaca terpaksa dipublikasikan di luar negeri.

Karya ini menggambarkan secara komprehensif tentang masyarakat Jawa ketika Belanda masih memerintah di awal abad 20. Sebagai perbandingan dengan karya awalnya, karya terakhirnya ini ditulis dengan gaya bahasa naratif yang sederhana. Sementara itu, enam buku lainnya disita oleh pemerintah dan hilang untuk selamanya.

Beberapa tahun setelah dibebaskan tahun 1969, Pramoedya dijadikan tahanan rumah dan harus melapor setiap minggu kepada militer. Pemerintah telah mengambil tahun-tahun terbaik dalam hidupnya, pendengarannya, papernya, rumahnya dan tulisan-tulisannya.

Sebenarnya semenjak tahun 1960-an, minatnya yang besar pada sejarah membuatnya suka mengumpulkan berbagai artikel atau tulisan dari berbagai koran yang kemudian diklipping-nya.

Kini belasan bukunya sudah diterjemahkan lebih dari 30 puluh bahasa termasuk Belanda, Jerman, Jepang, Rusia dan Inggris. Karena prestasinya inilah ia dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time dan telah memperoleh berrbagai penghargaan seperti PEN Freedom-to-Write Award, Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award (dinilai dengan brilyan menonjolkan kebangkitan dan pengalaman moderen rakyat Indonesia).

Novel-novel sejarah yang dibuat oleh Pramoedya mengungkap sejarah yang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah, yang kebanyakan jauh dari kenyataan. Seperti Nelson Mandela, ia menolak untuk memaafkan pemerintah yang telah mengambil banyak hal dalam kehidupannya. Ia khawatir bila ia mudah memaafkan, sejarah akan segera dilupakan. Ia menekankan pentingnya mengetahui sejarah seseorang sehingga orang lain tidak mengulangi kesalahan yang sama di tahun-tahun yang akan datang.

Pramoedya juga menyukai karya sastrawan lain seperti Leo Tolstoy, Anton Chekov, atau John Steinbeck. Kekagumannya pada gaya bercerita Steinbeck yang detail juga mempengaruhinya dalam menulis. Namun, Pramoedya tidak suka dengan karya Ernest Hemingway, yang dianggapnya tidak manusiawi.

Selain membuat novel, ternyata Pramoedya, pengagum peraih Nobel, Gunter Grass ini, pernah juga menyusun syair-syair puisi. ”Tapi saya sudah mulai bosan dengan perasaan,” kata anak Kepala Sekolah Instituut Boedi Oetomo, Blora. Karena itu, dia hanya membuat novel yang rasional, dan sama sekali tak menyukai sastra yang bergaya irasional.

Kini, Pram di usianya yang ke 78 tahun mengaku sudah makin kepayahan. Mencangkul yang dulu bisa dia lakukan enam hingga delapan jam hanya bisa dua jam saja. Bahkan pernah, selama dua tahun, Pram sama sekali tidak bisa mengangkat benda apa pun. Itu mulai dia sadari saat hujan datang, ketika dia masih mencangkul di kebun. Dia hanya ingin bersunyi-sunyi di kediamannya, beternak dan berkebun sembari mengenang masa lalunya di Blora, di daerah bagian kelompok masyarakat Samin yang dikenal antiperaturan kolonialis.

Dia bahkan sudah tidak menulis novel lagi dan hanya sekali-sekali menulis essai. Dalam hidupnya di tengah-tengah sebuah bangsa yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan kelas, Pramoedya masih meneruskan perjuangannya menuntut tidak hanya kebebasan menulis tetapi juga kebebasan membaca. Sekarang buku-bukunya tidak lagi dibredel, dan dapat dilihat di rak-rak buku setiap toko buku dan perpustakaan di seluruh Indonesia.

Tahun 2002, bersama musisi Iwan Fals dan Pramoedia Ananta Toer juga dinobatkan majalah Time Asia sebagai “Asian Heroes”. ►e-ti/Atur Lorielcide Paniroy, dari berbagai sumber.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 24022005
► e-ti/suzanne
Nama:
Semsar Siahaan
Lahir,
Medan, Sumatra Utara, 11 Juni 1952
Meninggal:
Tabanan, Bali, 23 Februari 2005
SEMSAR HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

BIOGRAFI

Semsar Siahaan (1952-2005)

Perupa Perlawanan Penindasan

Dia perupa yang gigih menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan, penindasan dan penghisapan manusia atas manusia lain yang termarjinalkan. Sejumlah lukisan pria kelahiran Medan, Sumatra Utara, 11 Juni 1952, itu menggambarkan kondisi sebuah negeri yang menderita akibat ulah dan penindasan tersistem oleh manusia yang berkuasa.

BERITA
Parulian Manullang

Sam dalam Kenangan

Topi besar terbuat dari bambu, dengan model mengerucut ke atas itu terbenam dalam-dalam hingga menutupi kuping dan alis matanya. Hujan rintik-rintik hanya dapat membasahi dagunya.

KARYA
Karya, al:
- A Self Potrait with Black Orchid
- The Blue Scream of an Artist
- Buruh (3): Semsar’ Self Potrait
- Cerita Kami
- Confusion
- Homage to Cristo’s Mother
- Hak Berserikat Kaum Buruh
- Kecelakaan Kerja
- White Collars Workers
- Penghisapan
- Pintunya Harapan
- The Poet Who Disappeared
- Women Workers Between Factory and Prison
Alamat:
Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali
Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
Selasa, 1 Januari 2002 :: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
C © updated 220303
INDEX PROFESI

:::::: Profesi

:::::: Advokat
:::::: Akuntan

:::::: Arsitek

:::::: Bankers

:::::: CEO-Manajer

:::::: Dokter

:::::: Guru

:::::: Konsultan

:::::: Kurator

:::::: Notaris
:::::: Peneliti-Ilmuwan

:::::: Pialang

:::::: Psikolog

:::::: Seniman

:::::: Teknolog

:::::: Wartawan

:::::: Profesi Lainnya

:::::: Redaksi

Nama:
Haji Ali Akbar Navis (AA Navis)
Lahir:
Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatera Barat, 17 November 1924
Meninggal:
Padang, 22 Maret 2003
Agama:
Islam
Profesi:
Sastrawan
Isteri:
Aksari Yasin (dinikahi tahun 1957)
Anak:
Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda dan Rika Anggraini
Cucu (2003):
13 orang
Pendidikan:
INS Kayutanam (1932-1943)
Pekerjaan:
Sastrawan
Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Provinsi Sumbar di Bukittinggi (1952-1955)
Pemimpin Redaksi Harian Semangat di Padang (1971-1972)
Dosen parttimer Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, jurusan Sosiologi Minangkabau (1983-1985)
Ketua Yayasan Badan Wakaf Ruang Pendidik INS Kayutanam sejak tahun 1968
Ketua Umum Dewan Kesenian Sumatera Barat
Karya Terkenal:
Robohnya Surau Kami (1955)
Bianglala (1963)
Hujan Panas (1964)
Kemarau (1967)
Saraswati, si Gadis dalam Sunyi (1970)
Dermaga dengan Empat Sekoci (1975)
Di Lintasan Mendung (1983)
Alam Terkembang Jadi Guru (1984)
Hujan Panas dan Kabut Musim (1990)
Jodoh (1998).
Penghargaan:
Hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1988)
Lencana Kebudayaan dari Universitas Andalas Padang (1989)
Lencana Jasawan di bidang seni dan budaya dari Gubernur Sumbar (1990)
Hadiah sastra dari Mendikbud (1992)
Hadiah Sastra ASEAN/SEA Write Award (1994)
Anugerah Buku Utama dari Unesco/IKAPI (1999)
Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI.
Alamat:
Jalan Bengkuang Nomor 5, Padang
Ali Akbar Navis (In Memoriam)

Sastrawan, Sang Kepala Pencemoh

Ia salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Haji Ali Akbar Navis, lebih dikenal dengan nama AA Navis, yang di kalangan sastrawan digelari sebagai kepala pencemooh. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya. Sosoknya menjadi simbol energi sastrawan yang menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Penulis ‘Robohnya Surau Kami’ dan menguasai berbagai kesenian seperti seni rupa dan musik, ini meninggal dunia dalam usia hampir 79 tahun, sekitar pukul 05.00, Sabtu 22 Maret 2003, di Rumah Sakit Yos Sudarso, Padang. Indonesia kehilangan sastrawan fenomenal.

Sang Pencemooh kelahiran Kampung Jawa, Padangpanjang, 17 November 1924,ini adalah salah seorang tokoh yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para kopruptor. Maka pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu risikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justeru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.

Kini, ia telah pergi. Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar. Ia meninggalkan satu orang isteri Aksari Yasin yang dinikahi tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika Anggraini serta sejumlah 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang.

Gemala Ranti, kepada Wartawan Tokoh Indonesia mengatakan sastrawan besar ini telah lama mengidap komplikasi jantung, asma dan diabetes. Dua hari sebelum meninggal dunia, ia masih meminta puterinya itu untuk membalas surat kepada Kongres Budaya Padang bahwa tidak bisa ikut Kongres di Bali pada Mei nanti. Serta minta dikirimkan surat balasan bersedia untuk mencetak cerpen terakhir kepada Balai Pustaka.

Sebelum dikebumikan sejumlah tokoh, budayawan, seniman, pejabat, akademis dan masyarakat umum, melayat ke rumah duka di Jalan Bengkuang Nomor 5, Padang. Di antaranya Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah A Syafii Maarif, Gubernur Sumbar Zainal Bakar, mantan Menteri Agama Tarmizi Taher, dan mantan Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin serta penyair Rusli Marzuki Sariah.

Nama pria Minang yang untuk terkenal tidak harus merantau secara fisik, ini menjulang dalam sastra Indonesia sejak cerpennya yang fenomenal Robohnya Surau Kami terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah tahun 1955. Sebuah cerpen yang dinilai sangat berani. Kisah yang menjungkirbalikkan logika awam tentang bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka. Karena dengan kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin.

Ia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Ia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri.

Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia bahkan telah menjadi guru bagi bamyak sastrawan. Ia seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional. Ia banyak menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi.

Ia yang mengaku mulai menulis sejak tahun 1950, namun hasil karyanya baru mendapat perhatian dari pimpinan media cetak sekitar 1955, itu telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya dan delapan antologi luar negeri serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri dan dihimpun dalam buku ‘Yang Berjalan Sepanjang Jalan’. Novel terbarunya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002.

Beberapa karyanya yang amat terkenal, selain Robohnya Surau Kami (1955) adalah Bianglala (1963), Hujan Panas (1964); Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi, (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci, (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (editor 1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Hujan Panas dan Kabut Musim (1990), Cerita Rakyat Sumbar (1994), dan Jodoh (1998).

Ia seorang penulis yang tak pernah merasa tua. Pada usia gaek ia masih saja menulis. Buku terakhirnya, berjudul Jodoh, diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta atas kerjasama Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, sebagai kado ulang tahun pada saat usianya genap 75 tahun. Cerpenis gaek dari Padang, A.A. Navis pada 17 November lalu genap berusia 75 tahun. Jodoh berisi sepuluh buah cerpen yang ditulisnya sendiri, yakni Jodoh (cerpen pemenang pertama sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldemroep 1975), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin (cerpen pemenang majalah Femina 1979), Kisah Seorang Pengantin, Maria, Nora dan Ibu. Ada yang ditulis tahun 1990-an ada yang ditulis tahun 1950-an.

Padahal menulis bukanlah pekerjaan mudah, tapi memerlukan energi pemikiran serius dan santai. ”Tidak semua gagasan dan ide dapat diimplementasikan dalam sebuah tulisan, dan bahkan terkadang memerlukan waktu 20 tahun untuk melahirkan sebuah tulisan. Kendati demikian, ada juga tulisan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari saja. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan tekun tanpa harus putus asa. Saya merasa tidak pernah tua dalam menulis segala sesuatu termasuk cerpen,” katanya dalam suatu diskusi di Jakarta, dua tahun lalu.

Kiat menulis itu, menurutnya, adalah aktivitas menulis itu terus dilakukan, karena menulis itu sendiri harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam kehidupan. Ia sendiri memang terus menulis, sepanjang hidup, sampai tua. Mengapa? ”Soalnya, senjata saya hanya menulis,” katanya. Baginya menulis adalah salah satu alat dalam kehidupannya. ”Menulis itu alat, bukan pula alat pokok untuk mencetuskan ideologi saya. Jadi waktu ada mood menulis novel, menulis novel. Ada mood menulis cerpen, ya menulis cerpen,” katanya seperti dikutip Kompas. Minggu, 7 Desember 1997.

Dalam setiap tulisan, menurutnya, permasalahan yang dijadikan topik pembahasan harus diketengahkan dengan bahasa menarik dan pemilihan kata selektif, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya. Selain itu, persoalan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang penulis adalah bahwa penulis dan pembaca memiliki pengetahuan yang tidak berbeda. Jadi pembaca atau calon pembaca yang menjadi sasaran penulis, bukan kelompok orang yang bodoh.

Ia juga menyinggung tentang karya sastra yang baik. Yang terpenting bagi seorang sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi seperti kereta api; lewat saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi. Ia sendiri mengaku menulis dengan satu visi. Ia bukan mencari ketenaran.

Dalam konteks ini, ia amat merisaukan pendidikan nasional saat ini. Dari SD sampai perguruan tinggi orang hanya boleh menerima, tidak diajarkan orang mengemukakan pikiran. Anak-anak tidak diajarkan pandai menulis oleh karena menulis itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis, jadi terjadi pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan.

Jadi, menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap, strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. “Tapi saya pikir itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka supaya tidak bodoh lagi,” katanya.

Maka, andai ia berkesempatan jadi menteri, ia akan memfungsikan sastra. ”Sekarang sastra itu fungsinya apa?” tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan, tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik, umpamanya.

Hal ini tak terlepas dari mental korup para elit bangsa ini. Maka andai ia diberi pilihan alat kekuasaan, atau menulis dan berbicara, yang dia pilih adalah kekuasaan. Untuk apa? Untuk menyikat semua koruptor. Walaupun ia sadar bahwa mungkin justeru ia yang orang pertama kali ditembak. Sebab, ”semua orang tidak suka ada orang yang menyikat koruptor,” katanya seperti pesimis tentang kekuatan pena untuk memberantas korupsi.

Ia juga melihat Perkembangan sastra di Indonesia lagi macet. Dulu si pengarang itu, ketika duduk di SMP dan SMA sudah menjadi pengarang. Sekarang memang banyak pengarang lahir. Dulu juga banyak, cuma penduduk waktu itu 80 juta dan sekarang 200 juta. Saya kira tak ada karya pengarang sekarang yang monumental, yang aneh memang banyak.

Perihal orang Minang, dirinya sendiri, ia mengatakan keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan. Ia mengatakan sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat pepatah tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar). Itulah AA Navis Sang Kepala Pencemooh.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber

Copyright © 2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 08052005
► e-ti
Nama:
Sindudarsono Sudjojono
Nama Panggilan:
Pak Djon
Lahir:
Kisaran, Sumatera Utara, 14 Desember 1913
Meninggal:
Jakarta, 25 Maret 1985
Agama:
Kristen
Isteri:
- Mia Bustam (cerai)
- Rose Pandanwangi (penyanyi seriosa)
Anak:
14 orang

Pendidikan :
- SD, Jakarta
- SMP, Bandung
- SMA Taman Siswa, Yogyakarta
- Kursus Montir
- Belajar melukis pada Pirngadie dan Chioji Yazaki

Karir:
- Guru Taman Siswa di Rogojampi, Jawa Timur (1930-1931)
- Mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia, Jakarta (1937)
- Mendirikan Seniman Muda Indonesia, Madiun (1946)
- Pelukis Profesional (1958-1985)
- Mendirikan Sanggar Pandanwangi

Pameran:
- Pameran bersama pelukis Eropa di Jakarta (1937)
- Fukuoka Art Museum (Japan, 1980)
- Festival of Indonesia (USA, 1990-1992)
- Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993)
- Singapore Art Museum (1994)
- Center for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996)
- ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998).

Penghargaan:
Piagam Anugerah Seni (Indonesia, 1970)

Alamat Rumah :
Jalan Raya Pasar Minggu Km 18, Jakarta Selatan

DJON HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

BIOGRAFI

Sindudarsono Sudjojono (1913-1985)

Bapak Seni Lukis Indonesia Modern

Dia pionir yang mengembangkan seni lukis modern khas Indonesia. Pantas saja komunitas seniman, menjuluki pria bernama lengkap Sindudarsono Sudjojono yang akrab dipanggil Pak Djon iini dijuluki Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. Dia salah seorang pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) di Jakarta tahun 1937 yang merupakan awal sejarah seni rupa modern di Indonesia.

Pelukis besar kelahiran Kisaran, Sumatra Utara, 14 Desember 1913, ini sangat menguasai teknik melukis dengan hasil lukisan yang berbobot. Dia guru bagi beberapa pelukis Indonesia. Selain itu, dia mempunyai pengetahuan luas tentang seni rupa. Dia kritikus seni rupa pertama di Indonesia.

Ia seorang nasionalis yang menunjukkan pribadinya melalui warna-warna dan pilihan subjek. Sebagai kritikus seni rupa, dia sering mengecam Basoeki Abdullah sebagai tidak nasionalistis, karena melukis perempuan cantik dan pemandangan alam. Sehingga Pak Djon dan Basuki dianggap sebagai musuh bebuyutan, bagai air dan api, sejak 1935.

Tapi beberapa bulan sebelum Pak Djon meninggal di Jakarta, 25 Maret 1985, pengusaha Ciputra mempertemukan Pak Djon dan Basuki bersama Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Sehingga Menteri P&K Fuad Hassan, ketika itu, menyebut pameran bersama ketiga raksasa seni lukis itu merupakan peristiwa sejarah yang penting.

Pak Djon lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa, buruh perkebunan di Kisaran, Sumatera Utara. Namun sejak usia empat tahun, ia menjadi anak asuh. Yudhokusumo, seorang guru HIS, tempat Djon kecil sekolah, melihat kecerdasan dan bakatnya dan mengangkatnya sebagai anak. Yudhokusumo, kemudianmembawanya ke Batavia tahun 1925.

Djon menamatkan HIS di Jakarta. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman Siswa di Yogyakarta. Dia pun sempat kursus montir sebelum belajar melukis pada RM Pirngadie selama beberapa bulan dan pelukis Jepang Chioji Yazaki di Jakarta.

Bahkan sebenarnya pada awalnya di lebih mempersiapkan diri menjadi guru daripada pelukis. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta, ia ditugaskan Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Madiun tahun 1931.

Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa, itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis. Pada tahun 1937, dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Jakarta. Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai awal yang memopulerkan namanya sebagai pelukis.

Bersama sejumlah pelukis, ia mendirikan Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), 1937. Sebuah serikat yang kemudian dianggap sebagai awal seni rupa modern Indonesia. Dia sempat menjadi sekretaris dan juru bicara Persagi.

Sudjojono, selain piawai melukis, juga banyak menulis dan berceramah tentang pengembangan seni lukis modern. Dia menganjurkan dan menyebarkan gagasan, pandangan dan sikap tentang lukisan, pelukis dan peranan seni dalam masyarakat dalam banyak tulisannya. Maka, komunitas pelukis pun memberinya predikat: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.

Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang monumental antara lain berjudul: Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Go Meh, Pengungsi dan Seko.

Dalam komunitas seni-budaya, kemudian Djon masuk Lekra, lalu masuk PKI. Dia sempat terpilih mewakili partai itu di parlemen. Namun pada 1957, ia membelot. Salah satu alasannya, bahwa buat dia eksistensi Tuhan itu positif, sedangkan PKI belum bisa memberikan jawaban positif atas hal itu. Di samping ada alasan lain yang tidak diungkapkannya yang juga diduga menjadi penyebab Djon menceraikan istri pertamanya, Mia Bustam. Lalu dia menikah lagi dengan penyanyi seriosa, Rose Pandanwangi. Nama isterinya ini lalu diabadikannya dalam nama Sanggar Pandanwangi. Dari pernikahannya dia dianugerahi 14 anak.

Di tengah kesibukannya, dia rajin berolah raga. Bahkan pada masa mudanya, Djon tergabung dalam kesebelasan Indonesia Muda, sebagai kiri luar, bersama Maladi (bekas menteri penerangan dan olah raga) sebagai kiper dan Pelukis Rusli kanan luar.

Itulah Djon yang sejak 1958 hidup sepenuhnya dari lukisan. Dia juga tidak sungkan menerima pesanan, sebagai suatu cara profesional dan halal untuk mendapat uang. Pesanan itu, juga sekaligus merupakan kesempatan latihan membuat bentuk, warna dan komposisi.

Ada beberapa karya pesanan yang dibanggakannya. Di antaranya, pesanan pesanan Gubernur DKI, yang melukiskan adegan pertempuran Sultan Agung melawan Jan Pieterszoon Coen, 1973. Lukisan ini berukuran 300310 meter, ini dipajang di Museum DKI Fatahillah.

Secara profesional, penerima Anugerah Seni tahun 1970, ini sangat menikmati kepopulerannya sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karyanya diminati banyak orang dengan harga yang sangat tinggi di biro-biro lelang luar negeri. Bahkan setelah dia meninggal pada tanggal 25 Maret 1985 di Jakarta, karya-karyanya masih dipamerkan di beberapa tempat, antara lain di: Festival of Indonesia (USA, 1990-1992); Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993); Singapore Art Museum (1994); Center for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996); ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998). ►e-ti/tsl, dari berbagai sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 270505
► e-ti/tempo
Nama:
Benyamin Sueb
Lahir:
Jakarta, 5 Maret 1939
Meninggal:
Jakarta, 5 September 1995
Isteri:
Noni (Menikah tahun 1959)
Pendidikan:
- Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan & Ketatalaksanaan, Jakarta (1960)
- Akademi Bank Jakarta, Jakarta (tidak tamat)
- SMA Taman Madya, Jakarta (1958)
- SMPN Menteng, Jakarta (1955)
Riwayat Pekerjaan:
- Aktor, penyanyi, penghibur
- Kondektur PPD (1959)
- Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960)
- Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1968)
- Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969)
Penghargaan:
- Meraih Piala Citra 1973 dalam film Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) bersama Rima Melati
- Meraih Piala Citra 1975 dalam film Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975)
Film yang dibintangi:
1. Honey Money and Jakarta Fair (1970)
2. Dunia Belum Kiamat (1971)
3. Hostess Anita (1971)
4. Brandal-brandal Metropolitan (1971)
5. Banteng Betawi (1971)
6. Bing Slamet Setan Jalanan (1972)
7. Angkara Murka (1972)
8. Intan Berduri (1972)
9. Biang Kerok (1972)
10. Si Doel Anak Betawi (1973)
11. Akhir Sebuah Impian (1973)
12. Jimat Benyamin (1973)
13. Biang Kerok Beruntung (1973)
14. Percintaan (1973)
15. Cukong Bloon (1973)
16. Ambisi (1973)
17. Benyamin Brengsek (1973)
18. Si Rano (1973)
19. Bapak Kawin Lagi (1973)
20. Musuh Bebuyutan (1974)
21. Ratu Amplop (1974)
22. Benyamin Si Abu Nawas (1974)
23. Benyamin spion 025 (1974)
24. Tarzan Kota (1974)
25. Drakula Mantu (1974)
26. Buaya Gile (1975)
27. Benyamin Tukang Ngibul (1975)
28. Setan Kuburan (1975)
29. Benyamin Koboi Ngungsi (1975)
30. Benyamin Raja Lenong (1975)
31. Traktor Benyamin (1975)
32. Samson Betawi (1975)
33. Zorro Kemayoran (1976)
34. Hipies Lokal (1976)
35. Si Doel Anak Modern (1976)
36. Tiga Jango (1976)
37. Benyamin Jatuh Cinta (1976)
38. Tarzan Pensiunan (1976)
39. Pinangan (1976)
40. Sorga (1977)
41. Raja Copet (1977)
42. Tuan, Nyonya dan Pelayan (1977)
43. Selangit Mesra (1977)
44. Duyung Ajaib (1978)
45. Dukun Kota (1978)
46. Betty Bencong Slebor (1978)
47. Bersemi Di Lembah Tidar (1978)
48. Musang Berjanggut (1981)
49. Tante Girang (1983)
50. Sama Gilanya (1983)
51. Dunia Makin Tua/Asal Tahu Saja (1984)
52. Koboi Insyaf/Komedi lawak ’88 (1988(
53. Kabayan Saba Kota (1992)
Benyamin Sueb (1939-1995)

Seniman Betawi Serba Bisa

Ia menjadi figur yang melegenda di kalangan masyarakat Betawi khususnya karena berhasil menjadikan budaya Betawi dikenal luas hingga ke mancanegara. Celetukan ‘muke lu jauh’ atau ‘kingkong lu lawan’ pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb, seniman Betawi serba bisa yang sudah menghasilkan kurang lebih 75 album musik, 53 judul film serta menyabet dua Piala Citra ini.

Sejak kecil, Benyamin Sueb sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya.

Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu Sunda Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai ‘imbalan’.

Penampilan Benyamin kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Benyamin disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak.

Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung, pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat – menurunkan darah seni itu dan Haji Ung (Jiung) yang juga pemain teater rakyat di zaman kolonial Belanda. Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat orkes kaleng.

Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan ‘alat musik’ itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu.

Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin saat berusia 6 tahun menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni. Dari tujuh saudara kandungnya, Rohani (kakak pertama), Moh Noer (kedua), Otto Suprapto (ketiga), Siti Rohaya (keempat), Moenadji (kelima), Ruslan (keenam), dan Saidi (ketujuh), tercatat hanya Benyamin yang memiliki nama besar sebagai seniman Betawi.

Benyamin memulai Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago sejak umur 7 tahun. Sifatnya yang periang, pemberani, kocak, pintar dan disiplin, ditambah suaranya yang bagus dan banyak teman, menjadikan Ben sering ditraktir teman-teman sekolahnya.

SD kelas 5-6 pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. SMP di Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Satu sekolahan dengan pelawak Ateng. Di sekolah Taman Madya, ia tergolong nakal. Pernah melabrak gurunya ketika akan kenaikan kelas, ia mengancam, “Kalau gue kagak naik lantaran aljabar, awas!” Lulus SMP ia melanjutkan SMA di Taman Siswa Kemayoran. Sempat setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.

Benyamin mengaku tidak punya cita-cita yang pasti. “Tergantung kondisi,” kata penyanyi dan pemain film yang suka membanyol ini. Benyamin pernah mencoba mendaftar untuk jadi pilot, tetapi urung gara-gara dilarang ibunya.

Ia akhirnya menjadi pedagang roti dorong. Pada 1959, ia ditawari bekerja di perusahaan bis PPD, langsung diterima . “Tidak ada pilihan lain,” katanya. Pangkatnya cuma kenek, dengan trayek Lapangan Banteng – Pasar Rumput. Itu pun tidak lama. “Habis, gaji tetap belum terima, dapat sopir ngajarin korupsi melulu,” tuturnya. Korupsi yang dimaksud ialah, ongkos penumpang ditarik, tetapi karcis tidak diberikan.

Ia sendiri mula-mula takut korupsi, tetapi sang sopir memaksa. Sialnya, tertangkap basah ketika ada razia. Benyamin tidak berani lagi muncul ke pool bis PPD. Kabur, daripada diusut.

Baru setelah menikah dengan Noni pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik. Bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop.

Sebenarnya selain menekuni dunia seni, Benyamin juga sempat menimba ilmu dan bekerja di lahan yang ‘serius’ diantaranya mengikuti Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negara (1964), bekerja di Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).

Dari berkesenian, hidup Benyamin (dan keluarganya) berbalik tak lagi getir. Debutnya Si Jampang, mengalir setelah itu Kompor Mleduk belakangan dinyanyikan ulang oleh Harapan Jaya, Begini Begitu (duet Ida Royani), Nonton Bioskop (dibawakan Bing Slamet) dan puluhan lagu karya Benyamin yang lain.

Tidak puas dengan hanya menyanyi, Benyamin lalu main film. Diawali Honey Money and Jakarta Fair (1970) lalu mengucur deras puluhan film lainnya. Seniman yang suka ‘mengomel’ bila melawak ini menjadi salah satu pemain yang namanya sering digunakan menjadi judul film. Selain Benyamin tercatat diantaranya Bing Slamet,Ateng, dan Bagio.

Judulnya, antara lain Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972), Benyamin Brengsek (Nawi Ismail, 1973), Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad, 1976), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad, 1975), Benyamin Si Abunawas (Fritz Schadt, 1974), Benyamin Spion 025 (Tjut Jalil, 1974), Traktor Benyamin (Lilik Sudjio, 1975), Jimat Benyamin (Bay Isbahi, 1973), dan Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail,1975).

Dia juga main di film seperti Ratu Amplop (Nawi Ismail, 1974), Cukong Blo’on (Hardy, Chaidir Djafar, 1973),Tarsan Kota (Lilik Sudjio, 1974), Samson Betawi (Nawi Ismail, 1975), Tiga Janggo (Nawi Ismail, 1976), Tarsan Pensiunan (Lilik Sudjio, 1976), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjoi, 1976). Sementara Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) membuat dirinya, dan Rima Melati, meraih Piala Citra 1973.

Benyamin juga membuat perusahaan sendiri bernama Jiung Film – diantara produksinya Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail, 1975) – bahkan menyutradarai Musuh Bebuyutan (1974) dan Hippies Lokal (1976). Sayang, usahanya mengalami kemunduran, dan PT Jiung Film dibekukan tahun 1979.

Benyamin tidak selalu menjadi bintang utama di setiap filmnya. Seperti layaknya semua orang, ada proses dimana Benyamin “hanya” menjadi figuran atau paling mentok menjadi aktor pembantu. Dalam hal ini, paling tidak ada dua nama yang patut disebut, yaitu Bing Slamet dan Sjuman Djaya. Walau sudah merintis karir sebagai “bintang film” lewat film perdananya, Banteng Betawi (Nawi Ismail,1971) yang merupakan lanjutan dari Si Pitung (Nawi Ismail, 1970), tetapi kedua nama besar itulah yang mempertajam kemampuan akting Benyamin.

Dalam “berguru” dengan Bing Slamet, Benyamin tidak saja bekerja sama dalam hal musik – seperti dalam lagu Nonton Bioskop dan Brang Breng Brong. Tapi dalam hal film pun dilakoninya. Terlihat dengan jelas, di film Ambisi (Nya Abbas Acup, 1973) -sebuah “komidi musikal” yang diotaki oleh Bing Slamet – Benyamin menjadi teman sang aktor utama, Bing Slamet menjadi penyiar Undur-Undur Broadcasting.

Di film ini, sudah terlihat gaya “asal goblek” Benyamin yang penuh improvisasi dan memancing tawa. Di sini, dia berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Tukang Sayur. Tetapi, sebenarnya, setahun sebelumnya, Benyamin juga diajak ikutan main Bing Slamet Setan Djalanan (Hasmanan, 1972). Karena itulah, saat sahabatnya itu wafat pada 17 Desember 1974, Benyamin tak dapat menahan tangisnya.

Dengan Sjuman Djaya, Benyamin diajak main Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya, 1973). Dirinya menjadi ayah si Doel, yang diperankan oleh Rano Karno kecil. Perannya serius tapi, seperti stereotipe orang Betawi, kocak dan tetap “asal goblek”.

Adegan terdasyat film ini adalah saat pertemuan antara abang-adik yang diperankan oleh Benyamin dan Sjuman Djaya sendiri, terlihat ketegangan dan kepiawaian akting keduanya yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Talenta itu direkam oleh ayah dari Djenar Maesa Ayu dan Aksan Syuman, dan dua tahun kemudian Benyamin pun main film sekuelnya, Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975). Kali ini Benyamin menjadi bintang utamanya, dan meraih Piala Citra.

Yang menarik, lebih dari dua puluh tahun kemudian Rano Karno membuat versi sinetronnya. Castingnya nyaris sama: Rano sebagai Si Doel, Benyamin sebagai ayahnya – selain theme song-nya dan settingnya yang hanya diubah sedikit saja. Lagi-lagi Benyamin menjadi aktor pendukung, tapi kehadirannya sungguh bermakna.

Sebenarnya ada satu lagi film yang dirinya bukan aktor utama, tetapi sangat dominan bahkan namanya dijadikan subjudul atawa tagline: Benyamin vs Drakula. Film itu adalah Drakula Mantu, karya si Raja Komedi Nyak Abbas Akub tahun 1974. Film bergenre komedi horor itu “memaksa” Benyamin beradu akting dengan Tan Tjeng Bok, si aktor tiga zaman. Begitulah, meski beberapa kali pernah tidak “menjabat” sebagai aktor utama, tetapi kehadirannya mencuri perhatian penonton saat itu.

Penyanyi Beneran
Tahun 1992, saat sibuk main sinetron dan film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) Benyamin mengutarakan keinginannya pada Harry Sabar, “Gue mau dong rekaman kayak penyanyi beneran.”

Maka, bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, jadilah band Gambang Kromong Al-Haj dengan album Biang Kerok. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut. Inilah band dan album terakhir Benyamin.

“Di lagu itu, entah kenapa, Ben menyanyi seperti berdoa, khusuk. Coba saja dengar Ampunan,” jelas Harry, sang music director. “Mungkin sudah tahu kalau hidupnya tinggal sebentar,” imbuhnya. Memang betul, setelah album itu keluar, Benyamin sakit keras, dan rencana promosi ditunda dan tak pernah lagi terwujud kecuali beberapa pentas.

Di album ini, Benyamin menyanyi dengan “serius”. Tetapi, lagi-lagi, seserius apa pun, tetap saja orang-orang yang terlibat tertawa terpingkal-pingkal saat Benyamin rekaman lagu I’m a Teacher dan Kisah Kucing Tua dengan penuh improvisasi. Sementara lagu Dingin Dingin Dimandiin dan Biang Kerok bernuansa cadas. Dan Ampunanmu kental dengan progressive rock, diantaranya nuansa Watcher of the Sky dari Genesis era Peter Gabriel.

Yang menarik, masih menurut Harry, saat Benyamin menonton Earth, Wind, and Fire di Amerika – saat menjenguk anaknya yang kuliah di sana – dia langsung komentar, “Nyanyi yang kayak gitu, asyik kali ye?”, dan nuansa itu pun hadir di beberapa lagu di album itu, salah satunya dengan sedikit sentuhan Lady Madonna dari The Beatles.

Benyamin yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia seusai main sepakbola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Ia bukan lagi sekadar sebagai tokoh masyarakat Betawi, melainkan legenda seniman terbesar yang pernah ada. Karena itu banyak orang merasa kehilangan saat dirinya dipanggil Yang Maha Kuasa.

Dari pelawak yang pernah tampil dalam variety show Benjamin Show sambil tour dari kota ke kota sampai Malaysia dan Singapura ini muncul banyak idiom atau celetukan yang sampai kini masih melekat di telinga masyarakat, khususnya warga Jakarta. Sebut saja, aje gile, ma’di kepe, atau ma’di rodok, yang semuanya lahir dari lidah Benyamin. ►atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 06052003
►e-ti/rpr
Nama:
Andreas Leo Ateng Suripto
Lahir :
Bogor, 8 Agustus 1942
Meninggal :
Jakarta, pukul 16.15 WIB, Selasa 6 Mei 2003
Isteri :
Theresia Maria Reni Indrawati
Anak :
Alexander Agung Suripto dan Antonius Aryo Gede Suripto.
Profesi:
Pelawak
Karir/Karya:
Pemain film Kuntilanak (1962), disusul dengan film komedi (1974-1978) Ateng Minta Kawin, Ateng mata Keranjang, Ateng Sok Tahu, Ateng Bikin Pusing, Ateng Sok Aksi, Ateng Pendekar Aneh, dan Ateng The Godfather.
= Sebagai Bagong di Aneka Ria TVRI.
= 1967 membentuk Kwartet Kita bersama Bing Slamet, Eddy Sud
= serial komedi di SCTV berjudul Gregetan
Andreas Leo Ateng Suripto (In Memoriam)

Sang Legenda Dunia Lawak

Andreas Leo Ateng Suripto, dipanggil Ateng, pelawak yang sangat berdedikasi, menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mitra keluarga, Jakarta, pukul 16.15 WIB, Selasa 6/5/03, akibat sakit tengorokan. Ia meninggalkan seorang isteri, Theresia Maria Reni Indrawati, serta dua anak, Alexander Agung Suripto (26) dan Antonius Aryo Gede Suripto (21). Jenazah disemayamkan di rumah duka Atma Jaya, Pluit. Jenazah akan dikremasi di Cilincing, Jakarta Utara, Jumat 9/5/03.

Sebelumnya tidak ada tanda-tanda ia menderita sakit. Kronologisnya, Sabtu (3/5), bapak mengeluh pusing, sakit tenggorokan, dan sesak napas. Ketika dibawa ke dokter, ditemukan benjolan di tenggorokan. Saat itu dokter menganjurkan untuk pulang saja. Kemudian, Senin (5/5), diperiksakan kembali ke RS Mitra Keluarga Jatinegara. Ternyata harus dirawat. bahkan menurut dokter, benjolan di tenggorokan tidak bisa diangkat karena sudah parah. Hanya satu hari dirawat di rumah sakit itu, pelawak legendaris itu akhirnya wafat.

Ia sosok sebuah legenda bagi dunia lawak. Hampir seluruh hidupnya dibaktikan di dunia lawak. Pria kelahiran Bogor, 8 Agustus 1942 ini, pada 1960-an bergabung dalam kelompok lawak Kwartet Jaya bersama Bing Slamet, Iskak, dan Eddy Sud (kecuali Eddy Sud, semuanya telah wafat).

Karier Ateng di dunia film dimulai lewat film Kuntilanak pada 1962, disusul dengan film komedi (1974-1978) Ateng Minta Kawin, Ateng mata Keranjang, Ateng Sok Tahu, Ateng Bikin Pusing, Ateng Sok Aksi, Ateng Pendekar Aneh, dan Ateng The Godfather. Setelah itu, nama Ateng di dunia lawak maupun di dunia film semakin berkibar. Bahkan nama Ateng sangat akrab di tengah masyarakat. Nama Ateng untuk sebutan pendek menjadi memasyarakat.

Pada 1980-an, popularitas Ateng semakin meningkat berkat perannya sebagai Bagong, di acara Aneka Ria di TVRI. Sebelumnya, pada tahun 1963, Ateng bergabung bersama S. Bagyo dan Iskak membentuk grup. Kemudian tahun 1967 membentuk Kwartet Kita bersama Bing Slamet, Eddy Sud, dan Iskak. Setelah lama tidak lagi melawak, belakangan ia muncul kembali dalam serial komedi di SCTV berjudul Gregetan.

►tsl

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
R updated 250103
INDEX PROFESI

:::::: Profesi

:::::: Advokat
:::::: Akuntan

:::::: Arsitek

:::::: Bankers

:::::: CEO-Manajer

:::::: Dokter

:::::: Guru

:::::: Konsultan

:::::: Kurator

:::::: Notaris
:::::: Peneliti-Ilmuwan

:::::: Pialang

:::::: Psikolog

:::::: Seniman

:::::: Teknolog

:::::: Wartawan

:::::: Profesi Lainnya

:::::: Redaksi

Nama:
Gesang Martohartono
Lahir:
1 Oktober 1917
Rekaman CD:
Seto Ohashi (1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung (1970), Pandanwangi (1949), dan Swasana Desa (1939).

Album Emas:
bengawan solo
jembatan merah
saputangan
si piatu
roda dunia
dunia berdamai
tirtonadi
pemuda dewasa
luntur
bumi emas tanah airku
dongengan
sebelum aku mati

Gesang Martohartono

Sebuah Legenda Maestro Keroncong

Tak banyak penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa menjadi legenda di masyarakat. Satu dari yang sedikit itu, ialah maestro keroncong asal Solo, Gesang Martohartono, pencipta lagu Bengawan Solo. Sebuah lagu keroncong yang menyeberangi lautan. Lagu yang sangat digemari di Jepang. Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. Lagu yang telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia.

Dan, tak banyak pula dari penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa bertahan hingga usia 85 tahun. Gesang bahkan telah membuktikan bahwa dalam usianya yang ke-85 tahun, masih mampu merekam suaranya. Rekaman bertajuk Keroncong Asli Gesang itu diproduksi PT Gema Nada Pertiwi (GMP) Jakarta, September 2002.

Peluncuran album rekaman itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun Gesang ke-85, yang diadakan di Hotel Kusuma Sahid di Solo, Selasa (1/10) malam. Hendarmin Susilo, Presiden Direktur GMP, menyebutkan produksi album rekaman Gesang yang sebagian dibawakan sendiri Gesang, merupakan wujud kecintaan dan penghargaannya pada dedikasi sang maestro terhadap musik keroncong.

Sudah empat kali PT GMP memproduksi album khusus Gesang, yaitu pada 1982, 1988, 1999, dan 2002. Dari 14 lagu dalam rekaman compact disk (CD), enam di antaranya merupakan lagu yang belum pernah direkam. Yaitu Seto Ohashi (1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung (1970), Pandanwangi (1949), dan Swasana Desa (1939). Selebihnya lagu-lagu lama karya Gesang, yang temanya menyinggung usia Gesang yang sudah senja seperti Sebelum Aku Mati, Pamitan, dan tentu saja Bengawan Solo.

Ini memang lebih sebagai album penghormatan atas sebuah legenda daripada sebuah produk yang tak punya selling point. Dalam album ini suara Gesang agak “tertolong” karena didampingi penyanyi-penyanyi kondang: Sundari Soekotjo, Tuty Tri Sedya, Asti Dewi, Waldjinah.

“Terus terang, suara saya jelek. Apalagi saat rekaman itu saya sedang sakit batuk, sehingga terpaksa diulang-ulang hingga, ya, lebih lumayan,” ungkap Gesang polos. Menurut dia, sebenarnya aransemen dan iringan musik oleh Orkes Keroncong Bahana itu dia rasa kurang cocok untuk kondisi vokalnya.

***
SUDAH lima tahun terakhir, perayaan HUT Gesang diadakan di hotel yang sama. Penyelenggaranya gabungan dari anggota keluarga Gesang dan Yayasan Peduli Gesang (YGP) dari Jepang. YGP semula merupakan wadah sejumlah warga Jepang yang memiliki penghormatan khusus pada Gesang, dan mereka menghimpun dana untuk membantu kehidupan Gesang. Sebagian dari mereka adalah orang Jepang yang berusia di atas 80 tahun, karena pada masa perang dahulu sudah mengagumi lagu Bengawan Solo.

Mereka datang berombongan dari Jepang-asal Tokyo, Pulau Shikoku, Yokohama-dan tiba sehari sebelumnya. Setiap tahun anggota rombongan berganti-ganti, dan sebagian anggota tetap. Menurut Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang, Okihara Toshio, sebenarnya banyak warga Jepang yang berniat datang ke Solo, tetapi terbentur teknis untuk mengumpulkan mereka sehingga hanya terkumpul 26 orang.

Bayangkan. Mereka menempuh jarak ribuan kilometer hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Gesang. Selain mesti membeli tiket pesawat terbang pergi-pulang dan mengeluarkan biaya akomodasi, mereka juga membawa cenderamata buat Gesang. Dari amplop berisi uang yen hinga lukisan. Bahkan ada yang sengaja datang ke Solo untuk bisa bernyanyi (bermain piano) bersama Gesang. Ada juga yang menari.
Ketua Yayasan Peduli Gesang, Ny Yokoyama Kazue (55) agak menyayangkan ketidakhadiran sejumlah warga Jepang yang tinggal di Kota Solo, padahal tahun lalu saat perayaan HUT Gesang mereka datang. HUT yang istimewa itu, 85 tahun, hanya dihadiri kurang dari 100 orang.

Ia juga menyayangkan ketidakhadiran kalangan pemusik dan penyanyi keroncong setempat. Padahal panitia dari Jepang telah menyiapkan penghargaan kepada mereka. HUT Gesang malam itu terasa sepi tanpa kehadiran penyanyi Waldjinah, komponis Andjar Any, atau kalangan musik keroncong lainnya. Tak satu pun kalangan pejabat yang hadir, maupun mereka yang selama ini menyebut dirinya menghargai musik Indonesia.

Barangkali ini sebuah ironi tentang sebuah bangsa yang konon sangat mengagungkan kepahlawanan. Ny Yokoyama mengaku, sebenarnya ia hanya melanjutkan usaha mendiang Hirano Widodo, salah seorang warga Jepang (tinggal di Klaten) pengagum Gesang. “Saya sudah telanjur berjanji pada Pak Hirano tatkala beliau dirawat di rumah sakit,” tutur Ny Yokoyama. Ia bahkan mengaku, sebelumnya tidak mengenal Gesang.

***
MENYEBUT kekaguman terhadap Gesang sebagai sebuah legenda, rasanya tidak adil tanpa menyebut peran PT Gema Nada Pertiwi yang dipimpin Hendarmin Susilo (57). “Saya termasuk warga keturunan, tetapi saya cinta negeri ini, dan menyukai lagu-lagu daerah di sini seperti gending, degung, lagu-lagu Tapanuli, terutama keroncong,” ungkapnya.

Hendarmin mengaku, kecintaannya pada musik keroncong seperti sudah mendarah-daging, dan karena itu ia siap berkorban. Ia juga menghormati Gesang, bahkan telah menganggapnya sebagai “orangtua”-nya.

Kalau bukan berdasar rasa kagum dan penghargaan yang mirip mitos, rasanya memang tak masuk akal sebuah perusahaan rekaman memproduksi album rekaman musik keroncong. “Apalagi di masa sulit sekarang ini,” kata Hendarmin. “Memang banyak teman Asiri yang menyebut saya gila.”

Ditambahkan, kalau cuma dihitung dengan ilmu dagang, memproduksi album keroncong jelas merugi. Tentang besarnya prosentase pemasaran album musik keroncong, misal dibanding musik pop, Hendarmin bertamsil, “Wah, kita harus menggunakan kaca pembesar untuk bisa melihatnya.”
Sebagai gambaran, rekaman Album Emas Gesang (1999) cuma laku 7.000 kaset dan 1.000 CD. Bandingkan dengan album musik pop Indonesia yang, kalau meledak, bisa mencapai 400.000 keping. “Tetapi, dalam hidup ini kan ada harga yang lain. Yakni ketika kita dihargai oleh orang lain, seperti penghargaan orang Jepang terhadap Pak Gesang itu. Macam itu tidak bisa dinilai dengan uang saja,” katanya.

Hendarmin juga menyebutkan, sebenarnya bukan hanya kalangan masyarakat Jepang yang mengagumi Gesang. Nama Gesang dengan Bengawan Solo-nya juga cukup dikenal pula di daratan Tiongkok. Dalam kaitan itu ia menyebut jasa Bung Karno yang pada masa lalu sering membawa misi kesenian ke RRC, juga Vietnam, dan negara Asia Tenggara yang lain.

Bengawan Solo
bengawan solo, riwayatmu ini
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau, tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh …

mata airmu dari solo
terkurung gunung seribu
air mengalir sampai jauh
akhirnya ke laut …

itu perahu, riwayatmu dulu
kaum pedagang s’lalu naik itu perahu

Keroncong yang Menyeberangi Lautan
Lagu “Bengawan Solo” yang berlanggam keroncong, sangat terkenal di Jepang. Orang Jepang langsung tahu bila kita menyebut “Bengawan Solo”, karena sudah sejak lama mereka kenal. Terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut, mendengar lagu ini menimbulkan adanya perasaan nostalgia. Demikianlah, melalui “Bengawan Solo” yang digubah, telah tumbuh pertukaran yang bersejarah antar rakyat Jepang dan Indonesia.

“Bengawan Solo” masuk ke Jepang untuk pertama kali sekitar setengah abad yang lalu di kala masa perang. Pada waktu tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, lagu itulah yang dari radio terdengar secara luas di kalangan serdadu Jepang serta orang-orang Jepang yang berada di sini.

Seusai perang, berkat para tentara Jepang dan orang-orang perusahaan dagang Jepang yang pulang kembali ke negerinya, lagu tersebut kerap terpelihara eksistensinya, bahkan “Bengawan Solo” dengan syair dalam bahasa Jepang menjadi sangat populer. Konon orang orang di Jawa yang mendengar lagu itu merasakan ketenangan hati serta nostalgia, mengingatkan mereka akan masa mudanya karena melodi lagu serupa dengan lagu rakyat Jepang.

Salah pengertian bahwa “Bengawan Solo” merupakan lagu rakyat yang komponisnya tidak dikenal, berlangsung cukup lama. Akan tetapi ada orang-orang Jepang yang berdaya upaya bagi terjalinnya pertukaran antar rakyat biasa dengan Indonesia, mereka mencari melodi-melodi indah dari negeri-negeri lain dan membantu para komponis yang terlupakan.

Setelah mencari dan melacak keberadaan penggubahnya, Gesang pada tahun 1989, dengan dana yang dikumpulkan dari himpunan persahabatan Jepang-Indonesia di berbagai tempat di Jepang, telah dibentuk Dana Himpunan Gesang dengan alasan bahwa “Bengawan Solo bersifat Abadi”, bahkan sampai didirikan sebuah monumen patung setengah badan Gesang di Taman Jeruk, Kota Solo.

Gesang datang pada festival salju Sapporo atas undangan himpunan persahabatan Sapporo dengan Indonesia pada tahun 1980, untuk pertama kali. Setelah itu telah berkali-kali datang ke Jepang atas undangan himpunan persahabatan Jepang. Demikianlah pagelaran keroncong berlangsung di Jepang untuk pertama kali dengan membawakan lagu “Bengawan Solo”. Melalui Gesang dan musik keroncong, orang menjadi sadar bahwa musik adalah sesuatu yang mutlak perlu bagi persahabatan dan perdamaian dunia. Lebih-lebih lagi, berkat kerendahan hati Pak Gesang; kepribadiannya telah membawa keakraban dan kehangatan bagi orang Jepang. Berkat kunjungannya ke Jepang, keroncong telah mengalami boom secara diam-diam.

Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. “Bengawan Solo” yang melintasi batas negara, dengan memperkayakan hati manusia telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), sumber Kompas dan http://www.id.emb-japan.go.jp/283p18.html

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by
C © updated 25072005
► e-ti/kcm
Nama:
Soetardji Calzoum Bachri
Lahir,
24 Juni 1941
SOETARDJI HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Soetardji Calzoum Bachri

Presiden Penyair Indonesia

Pria kelahiran 24 Juni 1941 ini digelari ‘presiden penyair Indonesia’. Dalam karyanya berjudul Ayo (198) dia bertanya: Adakah yang lebih tobat dibanding airmata adakah yang lebih mengucap dibanding airmata adakah yang lebih hakekat dibanding airmata adakah yang lebih lembut adakah yang lebih dahsyat dibanding airmata. (Ayo, Sutardji Calzoum Bachri, 1998)

Soetardji membacakan puisinya pada malam terakhir dalam rangkaian Festival Nopember 1999, Rabu (17/11/1999).  Euphoria reformasi, di tangan penyair, sepertinya telah mencapai titik antiklimaks. Pembacaan puisi malamitu adalah buktinya. Gelar baca puisi yang menampilkan ‘presiden penyair Indonesia’ Soetardji Calzoum Bachri itu jauh dari teriakan euphoria reformasi, dan jauh dari sajak-sajak sosial yang gusar.

Kalau belakangan ini hampir seluruh ekspresi seni nasional menyerukan perjuangan dan tuntutan rakyat atas dominasi kekuasaan pemerintah, maka malam itu di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), suara-suara para penyair — juga pada sajak-sajak Abdul Hadi WM, Leon Agusta dan Ahmadun YH yang malam itu tampil bersama Soetardji — lebih banyak mengendap dalam sajak-sajak yang kontemplatif.

Kalaulah Sutardji menyempatkan diri mengemukakan keprihatinannya atas perjuangan para mahasiswa melalui sajak Ayo, itu masih dalam jumlah yang kecil dibanding puisi-puisi lain yang juga dibacanya. Pun sajak-sajak hening yang dibawakan oleh Leon, Ahmadun, dan Abdul Hadi. Bahkan, Sutardji membacakan puisi romantis yang diterjemahkannya dari bahasa Spanyol tentang seorang perempuan lembut yang sarat cinta.

Pembacaan puisi-puisi kontemplatif itu terasa menyejukkan dan lebih mengena secara universal ketimbang sekadar sajak-sajak yang mereaksi peristiwa sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat. Sutardji yang membawakan beberapa karya terbarunya mengatakan sajak yang bermutu perlu proses pengendapan dan penghayatan, tak sekadar instan mereaksi yang ada. ”Ada atau tak ada peristiwa, sajak tetap bisa dibikin karena kita terus berpikir dan bertafakur,” paparnya.

Namun, kalau berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Sutardji tetaplah Sutardji. Edan, namun bermakna dalam. ”Setiap orang harus membikin sidik jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa memberi warna,” kata pengklaim diri Presiden Penyair Indonesia ini.

Menggandeng dosen IKJ Tommy F Awuy sebagai pengiring musik, Sutardji membaca sajak-sajaknya dengan ditingkahi denting piano. Tak ketinggalan pula suara seraknya menyanyikan beberapa lagu evergreen Barat, antara lain My Way. Dan, ini merupakan daya tarik tersendiri bagi ‘penyair mantra’ yang belakangan sering diledek sebagai calon presiden Riau itu.

Gayanya yang jumpalitan di atas panggung, bahkan berpuisi sambil tiduran dan tengkurap, seperti telah menempel menjadi trade mark Sutardji. ”Aku tak pernah main-main sewaktu membikin sajak, aku serius. Tapi, ketika tampil aku berusaha apa adanya, santai namun memiliki arti,” katanya.

Apakah puisinya itu baik atau buruk, bagi Sutardji, ia berupaya dalam penyajiannya tak berjarak dengan penonton. ”Kehadiran sajak itu harus akrab dengan penonton, tak berjarak dengan kehidupan,” tambahnya. Tapi, beberapa penonton menilai penampilan Soetardji kali ini tidak setotal ketika ‘bertarung dalam satu panggung’ dengan Rendra dan Taufiq Ismail tahun lalu. Soal ini, dengan nada kelakar ia berkilah, ”soalnya honornya kecil, ya tampilnya setengah maksimal saja.”

Penyair sufistik Abdul Hadi WM, yang membawakan sajak-sajak lama (1981-1992), menenangkan suasana dengan tuturan kecintaan pada Allah SWT dan kekhidmatannya pada masjid. Menampilkan delapan puisi dengan gaya kalem ia sempat juga mengkritik keras kualitas kader bangsa. Simak saja dari sepenggal karyanya berjudul Dalam Pasang yang dibacakannya. ”Kita adalah penduduk negeri yang penuh pemimpin. Tapi tak seorang pun kita temukan dapat memimpin. Kita…….”

Kritik serupa juga hadir dalam sajak berjudul Kembali tak Ada Sahutan Disana yang mengungkapkan bahwa suksesi yang tak berlandaskan pada kearifan dan keadilan sama halnya lari dari kehancuran yang satu ke kehancuran lainnya. ”Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada. Dari generasi ke generasi. Menenggelamkan rumah sendiri. Ribut tak henti-henti….,” ujar Abdul Hadi.

Berbagai interpretasi tak terhindarkan bermunculan dari karya kontemplatif. Saat Abdul Hadi membacakan puisi Elegi, muncul perkiraan adanya korelasi dengan kian nampaknya eksistensi para seniman bekas anggota ormas terlarang yang menjadi musuh para pendukung Manifes Kebudayaan.

Musuh-musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga.

Saban kali datang melukaiku dan kemudian menyembuhkan:

”Mari kita bangun jembatan,” dan kami pun segera membangun jembatan dan runtuh juga.

Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa ….

Dan seperti aku pula mereka adalah pemburu kekosongan dan kesia-siaan Mereka ingin membunuhku, karena mengira aku ingin membunuh mereka Aku ingin membunuh mereka karena mengira mereka ingin membunuhku Mari kita tolong mereka, mari kita tolong diri kita

Leon Agusta yang membuka acara pembacaan puisi ini tampil diam dan gagah. Membawakan beberapa puisi serial, ia mengajak penonton mengolah pikiran dan kebijakan atas segala fenomena kehidupan. Ayah peragawati kondang Hukla ini, tanpa banyak kata pengantar, menyajikan tuntas semua karyanya. (Republika 19 Nov 1999)

KARYA
Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
R Kompas © updated 310503
INDEX PROFESI

:::::: Profesi

:::::: Advokat
:::::: Akuntan

:::::: Arsitek

:::::: Bankers

:::::: CEO-Manajer

:::::: Dokter

:::::: Guru

:::::: Konsultan

:::::: Kurator

:::::: Notaris
:::::: Peneliti-Ilmuwan

:::::: Pialang

:::::: Psikolog

:::::: Seniman

:::::: Teknolog

:::::: Wartawan

:::::: Profesi Lainnya

:::::: Redaksi

Nama:
Ajip Rosidi
Lahir:
Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938
Isteri:
Hj Patimah
Profesi:
Sastrawan-Budayawan
Pekerjaan/Kegiatan:
Pendiri Pusat Studi Sunda (2003)
Selama 22 tahun (sejak April 1981) pengajar bahasa Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai), Osaka, Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto (1982-1996), Tenri Daigaku di Nara (1982-1995), dan di Asahi Cultural Center, Jepang.
Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage
Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981)
Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi)
Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya
Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979)
Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956)
Pemimpin Redaksi Majalah Suluh Pelajar (1953-1955) pada usia 15 tahun
Buku:
Menulis lebih dari 50 judul buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda.
Ajip Rosidi

Sosok Sastrawan dan Budayawan Paripurna

Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap, paripurna. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu juga dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional.
Pulang dari Jepang, setelah tinggal di sana selama 22 tahun, Ajip Rosidi merasa gamang. Kegamangan itu dipicu oleh kekhawatiran adanya “pengultusan” terhadap dirinya. Juga kegamangan akan nasib budaya tradisional yang terus terlindas oleh budaya global.
“Saya merasa ngeri karena saya mendapat kesan bahwa saya hendak dikultuskan sehingga timbul pikiran menciptakan Ajip-Ajip baru. Saya ngeri karena saya khawatir hal itu menimbulkan rasa takabur,” katanya.
Suara batin itu diungkapkan Ajip Rosidi di hadapan para pencinta sastra, termasuk para pengagumnya, pada seminar di Universitas Padjadjaran, Bandung, yang khusus membedah kiprahnya di dunia sastra, Rabu (28/5/03).
Hampir semua yang hadir memuji semangat dan dedikasi sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938, itu. Pengamat sastra Dr Faruk HT, misalnya, secara implisit memosisikan Ajip sebagai “orang langka” dengan kelebihan yang tidak dimiliki HB Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio Sastrowardoyo.
Ajip dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional. Ketika kebudayaan modern dianggap sebagai pilihan yang niscaya, kata Faruk, Ajip malah getol berbicara tentang kebudayaan tradisional.
Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) itu dikenal sangat taat asas (konsisten) mengembangkan kebudayaan daerah. Terbukti, Hadiah Sastra Rancage-penghargaan untuk karya sastra Sunda, Jawa, dan Bali-masih rutin dikeluarkan setiap tahun sejak pertama kali diluncurkan tahun 1988.
Ajip juga dikenal sebagai “juru bicara” yang fasih menyampaikan tentang Indonesia kepada dunia luar. Hal ini ia buktikan ketika bulan April 1981 ia dipercaya mengajar di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai), Osaka, Jepang, serta memberikan kuliah pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto (1982-1996), Tenri Daigaku di Nara (1982-1995), dan di Asahi Cultural Center.
Di Negeri Matahari Terbit itu, seminggu Ajip mengajar selama 18 jam dalam dua hari. Lima hari sisanya ia habiskan untuk membaca dan menulis. Ia mengaku, Jepang memberinya waktu menulis yang lebih banyak ketimbang Jakarta.
Maklum, ia tidak disibukkan mengurus kegiatan-kegiatan lain yang cukup menyita waktu, sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981), Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, maupun Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979). Hasilnya, lebih dari 50 judul buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda ditulisnya selama di Jepang.
Satu hal yang mengesankan Ajip tentang masyarakat Jepang adalah kesadaran mereka akan pentingnya sastra dalam hidup mereka. Menurut Ajip, sastra tidak hanya menjadi bahan konsumsi para sastrawan atau budayawan, tetapi juga telah menjadi bahan bacaan para dokter atau arsitektur.
Kondisi itu tercipta akibat dukungan kebijakan pemerintah dan budaya yang ada. Ajip mengatakan, masyarakat Jepang sejak usia dini telah diperkenalkan dengan buku. “Anak kecil sejak umur dua hingga tiga tahun sudah diperkenalkan dengan buku.”
Kondisi perbukuan di Jepang juga mendukung terciptanya suasana itu. Harga buku di sana ditetapkan sama di semua wilayah. ” Harga majalah juga sama,” katanya.
Pendidikan juga lebih tertata rapi, tinggal melanjutkan tradisi yang sudah berkembang. Tradisi itu mulai tertancap sejak reformasi Meiji. Reformasi yang ditandai dengan pengiriman orang-orang Jepang ke negara-negara maju untuk belajar banyak hal.
Selain itu, juga dilakukan penerjemahan besar-besaran berbagai macam ilmu, karya budaya, dan karya sastra ke dalam bahasa Jepang. “Jadi, orang Jepang, walaupun tidak bisa bahasa asing, misalnya, mereka mengetahui (dan) menguasai ilmu-ilmu di negara-negara asing,” kata Ajip.
Semua itu dilakukan bangsa Jepang dengan penuh semangat dan keseriusan. Seorang profesor asal Amerika Serikat yang mengajar bahasa Inggris di Jepang bercerita kepada Ajip, ada seorang mahasiswanya belajar dengan menghafal kamus bahasa Inggris.
Orang Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang amat bangga dengan bahasanya sendiri, tetapi hal itu tidak membuat mereka antibahasa asing. Minat orang Jepang terhadap studi-studi Indonesia juga cukup kuat. Jurusan Bahasa Indonesia (Indoneshia-go Gakuka) sudah ada di Tokyo Gaikokugo Daigaku sejak tahun 1949.
Selama mengajar di Jepang, Ajip tidak pernah kekurangan mahasiswa. Di Osaka Gaidai, ia mengajar rata-rata 30 mahasiswa setiap tahun, 40 mahasiswa di Kyoto Sangyo Daigaku, dan 60 mahasiswa di Tenri Daigaku.
“Saya mengajar bahasa Indonesia, sastra Indonesia, budaya Indonesia, dan Islam di Indonesia,” kata Ajip. Beberapa muridnya kini sudah menjadi presiden direktur dan manajer pada perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.
Namun, Ajip mencatat, tingginya gairah dan minat mereka terhadap bahasa asing bergantung pada kepentingan terhadap negara yang dipelajari itu. Ketika perekonomian Indonesia berkembang, perhatian orang Jepang terhadap bahasa Indonesia meningkat. “Sekarang Indonesia ambruk, perhatian juga berkurang. Ada beberapa universitas yang tadinya punya jurusan bahasa Indonesia, sekarang dan diganti dengan Cina,” katanya Ajip.
Kendati telah menghabiskan sebagian hidupnya di negeri orang, Ajip tidak kehilangan pijakan pada kebudayaan daerah Indonesia. Hadiah Sastra Rancage yang lahir sejak tahun 1988 terus berjalan rutin setiap tahun.
“Saya mulai dengan serius, dan saya usahakan dengan serius. Ternyata banyak yang membantu. Orang mau membantu kalau (kegiatan yang dibantunya) dilaksanakan secara profesional,” tuturnya mengenai ketaat-asasan Hadiah Sastra Rancage.
Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, Ajip menyimpan sebersit kekhawatiran mengenai nasib kebudayaan-kebudayaan daerah. Bagi dia, globalisasi lebih banyak mengorbankan budaya-budaya daerah. Hal ini terjadi karena serbuan budaya global sulit diimbangi kebudayaan daerah.
Budaya global didukung oleh modal kuat serta teknologi tinggi, sedangkan kebudayaan daerah hanya bisa bertahan secara tradisional karena tidak ada yang menyediakan modal. Menurut Ajip, hal itu merupakan suatu pertarungan yang tidak adil.
“Saya kira kita tidak mengharapkan bahwa (pemeliharaan kebudayaan daerah) itu harus dilakukan pemerintah. Pengalaman saya membuktikan bahwa tidak bisa mengharapkan pemerintah,” ujar budayawan yang sudah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Suluh Pelajar (1953-1955) pada usia 15 tahun.
Oleh karena itu, banyak sastrawan dan budayawan Indonesia menyambut dengan sukacita kedatangan Ajip ke Tanah Air. Ia pun telah merancang dengan sejumlah agenda menghidupkan kembali kebudayaan daerah agar tidak hanya mampu bertahan, melainkan juga bisa berkembang. Wujud konkretnya, antara lain dengan mendirikan Pusat Studi Sunda bersama para sastrawan dan budayawan Sunda pada hari Sabtu ini. Pusat Studi Sunda ini, salah satu programnya, akan menerbitkan jurnal ilmiah Sundalana.
Selain itu, Ajip masih tetap akan berkutat dengan kegiatan membaca dan menulis. Untuk itu, suami Hj Patimah ini pun berencana tinggal di Magelang, Jawa Tengah. “Saya berlindung kepada Allah, mudah-mudahan dijauhkan dari rasa takabur. Mudah-mudahan saya selalu diberi kesadaran bahwa apa yang saya lakukan hanyalah sebiji sawi.”
Paripurna
Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional.
Pandangan para sastrawan tentang Ajip Rosidi ini terangkum dalam dialog yang bertema Meninjau Sosok dan Pemikiran Ajip Rosidi, yang digelar Rabu (28/5/03), di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran Bandung.
Dalam dialog yang berlangsung sekitar enam jam itu, tampil sebagai pembicara Abdullah Mustappa, Teddy AN Muhtadin, Ganjar Kurnia, Ignas Kleden, Faruk HT, serta Yus Rusyana. Selain itu, hadir pula beberapa sastrawan seperti Ramadhan KH, Sitor Situmorang, tokoh politik Deliar Noer serta puluhan mahasiswa dan pencinta sastra.
“Sunda menjadi menarik di tangan Pak Ajip karena bukan sesuatu yang baku,” ujar pengamat sastra dari Universitas Gadjah Mada, Dr Faruk HT. Menurut dia, Ajip Rosidi mengalami polarisasi politik dan kultural sepanjang hidupnya. Faruk menganggap polarisasi politik dan kultural tersebut membuat karya-karya Ajip Rosidi terasa kaya makna, kritis, serta tidak terjebak hanya pada satu budaya dan ideologi.
Dia mencontohkan, ketika Ajip dielu-elukan sebagai orang yang berjasa dan terhormat dalam kehidupan sastra Sunda, Ajip justru menengok sastra Jawa dan sastra daerah lain. “Sulit mencari orang seperti Ajip dalam dunia sastra Indonesia,” kata Faruk.
Sementara itu, menurut Direktur Pusat Pengkajian Indonesia Timur (PPIT) atau Center for East Indonesian Affairs (CEIA) Dr Ignas Kleden, Ajip merupakan tokoh penting dalam sastra Indonesia. Ajip, kata Kleden, tidak hanya memainkan peranan luas dalam kesusastraan saja, namun juga meninggalkan banyak jejak langkah dalam perkembangan kebudayaan daerah dan kebudayaan Indonesia.
“Sumbangan sastra dan kebudayaan Sunda kepada sastra dan kebudayaan Indonesia diwujudkan melalui penulisan kembali dalam bahasa Indonesia cerita-cerita sastra daerah,” kata Kleden.
Sedangkan peneliti dari Pusat Dinamika Pembangunan Unpad, Dr Ganjar Kurnia, memandang sosok Ajip sebagai orang Sunda modern. Hal itu dapat dilihat dari perhatiannya terhadap sastra Sunda. Ganjar menilai Ajip memiliki perhatian sepenuhnya untuk melestarikan budaya Sunda, namun dia juga tidak melepaskan keindonesiaannya.
“Ajip Rosidi bukan orang yang etnocentris, provinsialis, atau sukuisme dalam arti sempit,” kata Ganjar. Dia menambahkan, Ajip juga telah membawa budaya bangsa sampai kepada tingkat internasional. Selain itu, Ajip juga dinilai sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai masalah kesundaan sehingga dapat dianggap sebagai “arsip hidup” paling lengkap.
“Dapatkah kita memiliki Ajip-Ajip yang lain di masa mendatang?” kata Faruk, di akhir ceramahnya.
Perkataan Faruk tersebut ternyata ditanggapi dengan kekhawatiran oleh Ajip Rosidi. Menurut Ajip, dia khawatir masyarakat akan mengultuskan dirinya. Padahal, kata Ajip, dia sangat tidak suka dipuji, apalagi dikultuskan. “Saya lebih suka dikritik daripada dipuji,” kata Ajip.

Sastra “Rancage” dan Sastra Daerah
Hadiah Sastra “Rancage” sudah berlangsung sejak 1989. Semula Hadiah Sastra tahunan ini khusus untuk pengarang dalam sastra Sunda, namun mulai tahun 1994 diberikan juga kepada pengarang sastra Jawa. Empat tahun kemudian, 1998, Hadiah Sastra “Rancage” juga diperuntukkan bagi pengarang sastra Bali. Sejak itu, setiap tahun Yayasan Kebudayaan “Rancage” yang diketuai Ajip Rosidi selaku pemberi Hadiah Sastra “Rancage” menyediakan dua hadiah untuk setiap daerah tersebut, yakni satu untuk “karya sastra” dan satu lagi untuk kategori mereka yang ber-”jasa”.
Seluruh suku bangsa di Indonesia saat ini merasa bahwa hidup matinya sastra daerah menjadi tanggung jawab masing-masing daerah. Padahal sesungguhnya perkembangan sastra daerah menjadi tanggung jawab nasional yang harus dihadapi secara nasional pula.
“Pengembangan sastra dan bahasa daerah seakan-akan diserahkan kepada suku bangsa pemiliknya begitu saja, pemerintah seperti tak mau tahu,” ujar sastrawan Ajip Rosidi, di Denpasar. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu berada di Bali dalam rangka menyerahkan Hadiah Sastra Rancage 1999 kepada para sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali.
Ajip Rosidi merasa prihatin atas keberadaan sastra dan bahasa daerah di Indonesia sekarang ini. Pemerintah nyaris tak memberi perhatian yang mamadai terhadap kehidupan sastra-sastra daerah tersebut. Padahal menurut konstitusi, hal itu termasuk tanggung jawab pemerintah.
“Masalah yang dihadapi daerah di mana-mana sama, masalah pendidikan dan penerbitan buku-buku,” ujar Ajip Rosidi. Pada tahun 1998 lalu, terbit enam judul buku berbahasa Sunda, dua bahasa Jawa, dan tiga bahasa Bali.
*** Ensiklopedi Tokoh Indonesia, dari berbagai sumber terutama Kompas 31 dan 29 Mei 2003

C © updated 17082005
► e-ti
Nama:
Kho Ping Hoo
Nama Lengkap:
Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo
Lahir:
Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926
Meninggal:
Solo, 22 Juli 1994

Profesi:
Pengarang

KHO PING HOO HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Kho Ping Hoo (1926-1994)

Legenda Cerita Silat

Dia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar  400 judul serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa.

Ceritanya asli dan khas. Dia pengarang yang memiliki ide-ide besar, yang tertuang dalam napas ceritanya yang panjang. Sepertinya dia tak pernah kehabisan bahan.

Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang  penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya.

Beberapa karyanya dirilis ulang media massa, difilmkan, disandiwararadiokan, dan di-online-kan, serta disinetronkan. Dia meninggalkan nama yang melegenda. Legenda Kho Ping Hoo, pernah menjadi sinetron andalan SCTV. Lewat penerbit CV Gema, karya-karyanya masih terus dicetak.

Kho Ping Hoo bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, pengarang cerita silat yang memunculkan tokoh-tokoh silat dalam ceritanya, seperti Lu Kwan Cu, Kam Bu Song, Suma Han, Kao Kok Cu, atau Wan Tek Hoat dan Putri Syanti Dewi, Cia Keng Hong, Cia Sin Liong, Ceng Thian Sin, dan Tang Hay. Serta tokoh-tokoh dalam serial paling legendaris Bu Kek Siansu dan Pedang Kayu Harum.

Dia juga banyak mengajarkan filosofi tentang kehidupan, yang memang disisipkan dalam setiap karyanya. Salah satu tentang yang benar adalah benar, dan yang salah tetap salah, meski yang melakukannya kerabat sendiri.

Kisah Keluarga Pulau Es merupakan serial terpanjang dari seluruh karya Kho Ping Hoo. Kisahnya sampai 17 judul, dimulai dari Bu Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es.

Penggemar cerita silat Kho Ping Hoo sangat banyak yang setia. Mereka sudah gemar membaca karya Kho Ping Hoo sejak usia 10-an tahun hingga usia di atas 50-an tahun. Mula-mula mereka senang melihat gambar komiknya. Namun, lama-lama makin tertarik cerita tulisannya. Tak jarang penggemar mengoleksi karya-karya Kho Ping Hoo, bahkan mencarinya ke bursa buku bekas di kawasan Senen.

Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, berasal dari keluarga miskin. Dia hanya dapat menyelesaikan pendidikan kelas 1 Hollandsche Inlandsche School (HIS). Namun, ia seorang otodidak yang amat gemar membaca sebagai awal kemahirannya menulis.

Ia mulai menulis tahun 1952.  Tahun 1958, cerita pendeknya dimuat oleh majalah Star Weekly. Inilah karya pertamanya yang dimuat majalah terkenal ketika itu. Sejak itu, semangatnya makin membara untuk mengembangkan bakat menulisnya.

Banyaknya cerpenis yang sudah mapan, mendorongnya memilih peluang yang lebih terbuka dalam jalur cerita silat. Apalagi, silat bukanlah hal yang asing baginya. Sejak kecil, ayahnya telah mengajarkan seni beladiri itu kepadanya. Sehingga dia terbilang sangat mahir dalam gerak dan pencak, juga makna filosofi dari tiap gerakan silat itu.
Karya cerira silat pertamanya adalah Pedang Pusaka Naga Putih, dimuat secara bersambung di majalah Teratai. Majalah itu ia dirikan bersama beberapa pengarang lainnya. Saat itu, selain menulis, ia masih bekerja sebagai juru tulis dan kerja serabutan lainnya, untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun, setelah cerbung silatnya menjadi populer, ia pun  meninggalkan pekerjaanya sebagai juru tulis dan kerja serabutan itu, dan fokus menulis. Hebatnya, ia menerbitkan sendiri cerita silatnya dalam bentuk serial buku saku, yang ternyata sangat laris.
Hal itu membuat kreatifitasnya makin terpicu. Karya-karyanya pun mengalir deras. Cerita silatnya pun makin bervariasi. Tak hanya cerita berlatar Cina, tetapi juga cerita berlatar Jawa, di masa majapahit atau sesudahnya. Bahkan, selain secara gemilang memasukkan makna-makna filosofis, dia pun menanamkan ideologi nasionalisme dalam cerita silatnya.

Seperti kisah dalam cerita Sepetak Tanah Sejengkal Darah. Dia menyajikan cerita yang sangat membumi, akrab dengan keseharian. Juga melintasi batas agama, suku dan ras.
Kepopulerannya makin memuncak manakala merilis serial silat terpanjangnya Kisah Keluarga Pulau Es, yang mencapai 17 judul cerita, dengan ukuran panjang antara 18 sampai 62 jilid.  Dimulai dari kisah Bu Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es.

Karya serial berlatar Jawa, yang juga terbilang melegenda antara lain Perawan Lembah Wilis, Darah Mengalir di Borobudur, dan Badai Laut Selatan. Bahkan Darah Mengalir di Borobudur, pernah disandiwararadiokan.  ►e-ti/tian son lang, dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

C © updated 20112005
► e-ti/kps
Nama:
Retno Maruti
Nama Lengkap:
Theodora Retno Maruti
Gelar:
Kanjeng Mas Ayu (KMA) Kumalaningrum
Lahir:
Solo, 8 Maret 1947
Agama:
Katolik
Suami:
Arcadilus Sentot Sudiharto
Anak:
Genoveva Noiruri Nostalgia Setyowati Retno Yahnawi
Ayah:
Soesiloatmadja
Ibu:
Siti Marsiyam

Pendidikan:
= SD Pamardi Putri Solo
= SMP Negeri VI Solo
= SMEA Negeri 1 Solo
= Akademi Administrasi Niaga Solo

Pekerjaan:
= Dosen Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ)
= Penari dan Penata Tari
= Perias Pengantin
= Pendiri dan Pemimpin Sanggar Tari Padnecwara

Karya, al:
= Langendriyan Damarwulan (1969)
= Abimanyu Gugur (1976)
= Roro Mendut (1977)
= Sawitri (1977)
= Palgunadi (1978)
= Rara Mendut (1979)
= Sekar Pembayun (1980
= Keong Emas (1981)
= Begawan Ciptoning (1983)
= Kongso Dewo (1989)
= Dewabrata (1998)
= Surapati (2001)
= Alap-alapan Sukesi (2004)
= dan Portraits of Javanese Dance (2005)

Prestasi dan Penghargaan:
= Wanita Pembangunan Citra Adikarsa Budaya (1978)
= Penghargaan Teknologi Seni Budaya Kalyana Kretya Utama dari Menristek BJ Habibie (1997)
= Citra Adhikarsa Budaya dari Citra Beauty Lotion dan SCTV (1994)
= Anugerah Kebudayaan dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan RI (192003)
= Perempuan Pilihan dan Maestro dari Metro TV (2003)
= Nominator Women of the Year dari ANTV (2004)
= Penghargaan Akademi Jakarta 2005 untuk pencapaian dan pengabdian di bidang kesenian/humaniora

Alamat Rumah:
Jalan Bumi Pratama I Blok 0 No. 5, Kompleks BHP, Dukuh Kramat Jati, Jakarta Timur Telepon/Faksimile (021) 87796055

Alamat Kantor:
Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat

RETNO MARUTI HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Retno Maruti

Maestro Tari Jawa Klasik

Retno Maruti, seniman yang memiliki daya cipta tinggi. Dia maestro tari Jawa klasik. Penari dan kreografer ini sangat kreatif mengembangkan tari Jawa klasik yang dianggap ‘kuno’ menjadi memukau selera penonton ‘modern’ dalam beberapa pagelaran monumental. Selain mampu menampilkan seni tradisi dengan suatu kedalaman rasa secara kreatif, Retno juga berhasil melahirkan seniman dan penari klasik muda.
Perempuan bernama lengkap Theodora Retno Maruti, kelahiran Solo, 8 Maret 1947, ini bersama suaminya yang juga penari, Arcadilus Sentot Sudiharto, mendirikan sanggar tari Padnecwara tahun 1976. Di bawah panji Padnecwara, Retno telah melakukan berbagai pagelaran hampir setiap tahun.

Sebagai koreografer dan penari, dia memelihara kejujuran  dalam berkarya. Dengan kejujuran dan kreativitas itu pula dia menghasilkan beberapa karya komposisi tari yang memadukan unsur klasik, tradisi, dengan selera penonton modern. Di antaranya, Langendriyan Damarwulan (1969), Abimanyu Gugur (1976), Roro Mendut (1977), Sawitri (1977), Palgunadi (1978), Rara Mendut (1979), Sekar Pembayun (1980), Keong Emas (1981), Begawan Ciptoning (1983), Kongso Dewo (1989), Dewabrata (1998), Surapati (2001), Alap-alapan Sukesi (2004), dan Portraits of Javanese Dance (2005).

Selain itu, dia juga telah melahirkan banyak seniman tari klasik muda. Kini (2005),  Padnecwara telah melahirkan generasi ketiga dengan jumlah anggota sekitar 70 orang.

Maka pantaslah Retno Maruti menerima penghargaan Akademi Jakarta (AJ) tanggal 10 November 2005,  atas pencapaian seumur hidup dan pengabdiannya di bidang kesenian dan humaniora. Retno terpilih dengan memperoleh skor tertinggi dari Dewan Juri (diketuai Prof Dr Edi Sedyawati dan beranggotakan Prof Dr Taufik Abdullah, Prof Dr Budi Darma, G Sidharta Soegijo, dan Suka Hardjana) berdasarkan tiga kualifikasi menonjol, yaitu memiliki daya cipta yang tinggi, mendalami dan mengungkapkan seni tradisi dengan kedalaman rasa, dan mencetak himpunan seniman muda yang punya apresiasi tinggi dan penguasaan atas khasanah seni klasik.

Retno menyisihkan 72 kandidat dari seluruh Indonesia setelah melewati tahap seleksi Penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2005 sejak Juni 2005. Ia orang kelima yang pernah menerima penghargaan serupa sejak tahun 1975. Mereka yang sebelumnya menerima penghargaan serupa adalah Rendra (1975), Zaini (1978), G Sidharta Soegijo (2003), Nano S dan Gusmiati Suid (2004). Kala itu penghargaan masih dinamakan “Hadiah Seni”, baru tahun 2005 nama tersebut diubah menjadi “Penghargaan Akademi Jakarta”.

Sebelumnya, perempuan Solo yang sejak usia lima tahun sudah menari, itu telah beberapa kali menerima penghargaan atas pengabdiannya di bidang seni. Antara lain: Wanita Pembangunan Citra Adikarsa Budaya (1978); Penghargaan Teknologi Seni Budaya Kalyana Kretya Utama dari Menristek BJ Habibie (1997); Citra Adhikarsa Budaya dari Citra Beauty Lotion dan SCTV (1994); Anugerah Kebudayaan dari Departemen Kesenian dan Kebudayaan RI (2003); Perempuan Pilihan dan Maestro dari Metro TV (2003); Nominator Women of the Year dari ANTV (2004).

Bahkan karena berbagai pengabdiannya itu oleh Paku Buwono XII, Retno Maruti diberi gelar Kanjeng Mas Ayu (KMA) Kumalaningrum dan suaminya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Honggodipuro.

Atas Penghargaan Akademi Jakarta itu, dosen Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ini selain menyukurinya, juga menyebut itu merupakan tanggung jawab dan kepercayaan yang harus dirawat dengan baik. Dia sendiri tidak mempunyai pretensi untuk mendapatkan penghargaan atas karya-karyanya. “Saya jalani saja. Saya tekuni itu karena saya mencintai. Bahwa dari itu saya mendapatkan sesuatu, saya sangat bersyukur dan berterima kasih,” katanya.

Dengan mencintai dan menekuni kesenian Jawa puluhan tahun, dia mengaku merasa dalam hidup ini lebih ada ketenangan, kedewasaan dan menambah sikap hidup yang bijaksana.

Dia pun menyadari keterbatasannya. Sebab itu, dia pun bisa menerima orang dengan kekurangannya. Dia sangat menyadari bahwa karya tari tidak dilakukan sendirian. Melainkan harus menari dengan banyak orang, ada teman-teman panggung, produksi dan perias. Juga ada wartawan dengan berbagai pujian dan kritik.

Maka, menurutnya, setiap orang yang berkecimpung dalam bidang ini harus mempunyai dowo ususe (panjang usus, banyak kesabaran), harus lenggono, harus mau menerima segala kelebihan dan kekurangan. Harus terima kalau dikritik.

Dia menyadari perjalanan hidupnya sebagai penari dan penata tari tak selalu disenangi setiap orang. Hal mana untuk suatu karya itu belum tentu setiap orang senang. Setiap orang mempunyai penilaian sendiri. Terutama wartawan yang bebas menulis pujian dan kritik. Sementara banyak orang yang tidak melihat langsung pertunjukan itu hanya membaca.

Akar Budaya Jawa

Retno belajar tari, selain dari ayahnya Susiloatmadja, juga dari RT Koesoemokesowo, RAy Laksmintorukmi, RAy Sukorini dan Basuki Kuswarogo. Sementara guru tembangnya adalah Bei Mardusari dan Sutarman.

Dengan bimbingan dan dukungan orang tua dan para gurunya, kemampuan dan bakat Retno terus terasah dan berkembang. Sampai kemudian dia mewariskan kepada generasi muda, termasuk kepada anaknya Rury Nostalgia.

Puteri Solo ini sejak kecil dekat dengan akar budaya Jawa. Saat Retno kecil, ayahnya, Soesiloatmadja, seorang dalang, sering mengajaknya mendalang semalam suntuk. Retno duduk di samping kotak wayang, membantu mengambilkan tokoh wayang yang hendak dimainkan ayahnya.

Limbuk—panggilan akrab anak kedua dari tujuh bersaudara — ini kemudian dipercayakan Sang Ayah juga mengurus perizinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan seni pertunjukan kesenian Jawa itu.

Pada usia lima tahun, Retno telah dimasukkan ayahnya ke perkumpulan seni Baluwarti. Dengan amat senang, di situ ia mulai mengenal tari, gamelan, macapat, dan suluk. Kemudian, saat kelas III SD, ia pun dibimbing RT Kusumokisowo memmelajari tari yang berkiblat ke keraton. Juga mendapat bimbingan dari penari terkenal Laksminto Rukmi, selir kesayangan Pakubuwono X. Dia juga mendalami tari luar keraton, seperti ledek.

Pada saat remaja, masih di bangku SMP, Retno berkesempatan menari di Candi Prambanan dalam pergelaran kisah Ramayana, memerankan kijang kencana, sampai akhirnya mendapat julukan “Kijang Kencana”.

Sampai dia menamatkan SMEA di Solo, Retno sangat tekun belajar tari. Walaupun saat itu, menari baginya hanya merupakan kesenangan. Kala itu, dia belum terpikir bercita-cita jadi penari profesional. Dia malah bercita-cita menjadi sekretaris. Maka, setamat SMEA, ia melanjut ke Akademi Administrasi Negara. Sambil kuliah, dia sempat bekerja di Batik Danar Hadi.

Kesenangannya menari ternyata merupakan proses perjalanan panjang hidupnya menuju penari profesional. Pada tahun 1964, Retno pun diundangan menari di New York. Setahun kemudian, dia pun terpilih sebagai salah satu penari dalam misi kepresidenan ke Jepang.

Sepulang ke Tanah Air, dia pun meningkatkan kesungguhan menggeluti tari. Dia mulai mencipta tari Langendriyan Damarwulan (1969). Disusul karya tari Jawa klasik lainnya yang dipagelarkan secara monomental. Selain menari dan mengajar tari Jawa klasik di Institut Kesenian Jakarta, Retno juga seorang perias pengantin. Sebelumnya, dia pernah kursus rambut pada Rudy Hadisuwarno, dan kursus make up pada Martha Tilaar.

Di tengah kesenangan dan kreativitasnya menari, Retno menikah dengan sesama penari yang sudah dikenalnya sejak kecil, Sentot Sudiharto, di Osaka Jepang. Pasangan ini dikaruniai satu anak, Genoveva Rury Nostalgia. Sejak kecil, Sang Anak, diperkenalkan pada seni budaya. Walau bukan berarti anaknya diharuskan menjadi penari. Namun, kebetulan  anaknya juga senang pada tari dan belajar menjadi koreografer.

Keberhasilan dalam perjalanan karirnya, bukannya tanpa tantangan. Retno bahkan sempat kecewa dengan dunia tari. Pasalnya, melihat kenyataan banyak anak muda yang lebih senang dan mudah menerima jenis tari kontemporer. Sangat susah mencari anak muda yang tertarik tari tradisi.

Sehingga, dosen IKJ ini sangat khawatir tak ada yang melestarikan tari tradisi, khususnya tari Jawa klasik. Tapi, kemudian kenyataan itu malah makin memacunya berusaha keras mengembangkannya dan melahirkan tari sampai akhir hayat. Retno bertekad mewariskan dan mengasah kemampuan menari kepada anak-anak didiknya di Sanggar Padnecwara, dan di Taman Ismail Marzuki, serta di Institut Kesenian Jakarta. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Akademi Jakarta

Akademi Jakarta adalah sebuah Dewan Kehormatan bagi seniman dan budayawan sekaligus Dewan Penasihat bagi Gubernur DKI Jakarta di bidang seni dan budaya.

Keanggotaan Akademi Jakarta terdiri dari mereka yang sudah berusia 49 tahun ke atas, dan diangkat seumur hidup. Kecuali bila kesehatan fisik maupun psikisnya telah terganggu. Pengangkatan seumur hidup Anggota Akademi Jakarta dimaksudkan agar tidak terpengaruh perubahan-perubahan kekuasaan yang terjadi.

Keberadaan Akademi Jakarta tak dibentuk berdasarkan surat pengangkatan, tapi diakui berdasarkan kepercayaan masyarakat kepada para anggotanya. Seperti penduduk desa yang mempercayai para orang tua sebagai tempat meminta nasihat.

Akademi Jakarta saat ini diketuai Prof Koesnadi Hardjasoemantri, dengan wakil Goenawan Mohamad dan Ramadhan KH. Anggotanya terdiri dari nama-nama yang prestasi maupun reputasinya sudah diakui. Yaitu AD Pirous,

Ahmad Syafii Maarif, Ajip Rosidi, Amrus Natalsya, Endo Suanda, H Misbach Yusa Biran, Ignas Kleden, Iravati M. Sudiarso, Mochtar Pabottingi, NH Dhini, Nono Anwar Makarim, WS Rendra, Rosihan Anwar, Saini KM, Sardono W Kusumo, Sitor Situmorang, Slamet Abdul Sjukur, Tatiek Maliyati WS, Taufik Abdullah, dan Toeti Heraty N. Roosseno. (Ant/OL-02).

R updated 310503
INDEX PROFESI

:::::: Profesi

:::::: Advokat
:::::: Akuntan

:::::: Arsitek

:::::: Bankers

:::::: CEO-Manajer

:::::: Dokter

:::::: Guru

:::::: Konsultan

:::::: Kurator

:::::: Notaris
:::::: Peneliti-Ilmuwan

:::::: Pialang

:::::: Psikolog

:::::: Seniman

:::::: Teknolog

:::::: Wartawan

:::::: Profesi Lainnya

:::::: Redaksi

Nama:
Idris Sardi
Lahir:
7 Juni 1938
Profesi:
Musikus- Violis
Isteri:
Ratih Putri
Idris Sardi

Violis, Ogah Dipanggil Maestro

Violis ternama Idris Sardi sudah lama tak terdengar gesekan biolanya. Ternyata, ia juga tak luput dari kegalauan atas pelbagai kejadian yang menimpa bangsa dan negerinya. Saat rasa sakit masih sering mengganggu di perutnya, ia tetap sibuk kegiatan rekaman. Menyongsong datangnya peringatan hari lahirnya yang ke-65, 7 Juni 2003, rupanya Idris tengah mempersiapkan satu acara khusus.

Pertama, sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Tuhan yang telah memberikan talenta besar kepadanya, dan berikutnya juga untuk tumpah darah yang ia cintai.

Melalui diskusi panjang, Sabtu (22/3) di Jakarta, Idris yang didampingi istrinya, Ratih Putri, dan Joan Henuhili Raturandang, mantan Putri Kawanua yang kini menangani JPR (pelaksana Konser 65 Tahun Idris Sardi), Idris memberi gambaran tentang acara yang akan ia gelar tanggal 18 Juni 2003 di sebuah hotel di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Violis yang sudah 58 tahun menggeluti biola dan tahun ini akan memperingati setengah abad menjadi pemusik profesional itu menyatakan, akan tetap memilih permainan biola dengan sentuhan roh etnis Indonesia, meski dari kecil ia juga mendapat latihan keras dalam permainan biola klasik Barat.

“Tuhan, kan, bukannya tanpa maksud apa-apa melahirkan saya di Indonesia. Pastilah saya dipesan untuk bisa memainkan keroncong, dan bahkan dangdut,” simpulnya. Itu juga menyebabkan mengapa Idris tetap memilih tinggal di Indonesia, walaupun ada tawaran untuk pindah ke Jepang dan Taiwan.

Memang, pada konser tanggal 9 Agustus 1994 memperingati HUT Ke-29 Harian Kompas, Idris sempat “pamit” dari permainan biola. Tetapi, rupanya setelah itu ia masih punya sesuatu yang ingin ia persembahkan bagi negaranya. (nin)

Di Mata Musisi Muda

Bagi sebagian kalangan, Idris Sardi masih diakui sebagai salah satu maestro biola di tanah air. Kemampuannya mengolah biola, kata musikus Addie MS, memiliki daya tarik khusus. Lewat insrumen biola yang digelutinya sejak kecil, Idris Sardi menawarkan keandalan menciptakan repertoar-repertoar terbaik.

Dibandingkan dengan violis sezamannya, Luluk Purwanto, ada perbedaan mendasar. Kekuatan Idris pada gesekan biolanya yang unik. Bila orang mendengar konsernya, maka kekuatan gesekan biola terasa nyaris tanpa sekat atau potongan nada. ”Semua seolah mengalir begitu saja,” kata Addie.

Hal serupa diakui violis Fayza Maylassayza, yang pernah berguru padanya sejak lama. Gesekan Idris, kata Fayza, mengandung kekuatan irama yang sukar diikuti. Tentu gesekan dawai biola dilakukan secara sadar. ”Termasuk menampilkan presisi ritmik dan penentuan kelincahan dalam pasase cepat,’ ujarnya.

Idris juga memiliki kemampuan untuk menampilkan suasana tertentu khususnya menimbulkan efek brilian dan dramatik. Ini tidak dijumpai dalam permainan biola Luluk Purwanto. Nuansa-nuansa subtil dari lembut ke keras, menampilkan suasana emosional yang variatif. Ringkasnya, biola Idris menawarkan jangkauan dan dimensi perasaan yang amat luas.

Sayangnya, kemampuan Idris jarang bisa diikuti oleh generasi berikutnya. Fayza yang menekuni jenis musik ini pada Idris, misalnya, akhirnya menjatuhkan pilihannya pada aliran musik pop dan disco. Sementara Idris masih berpegang teguh pada aliran pop melankolis.

Kemampuan Idris sebenarnya bisa diturunkan kepada musisi lainnya. Ini, kata Addie MS, lantaran rendahnya kreativitas para violis remaja. ”Minat para remaja dalam kegiatan musik, khususnya biola, relatif rendah,” tambahnya.

Harus diakui, biola masih kalah populer dengan piano dan gitar. Pemain beken dalam orkes klasik, pop, atau keroncong, bisa dihitung dengan jari. Paling mudah orang hanya bisa menyebut nama Idris Sardi, dan sekarang ini violis pertama pada Twilite Orchestra, Oni Krisnerwinto.

Menurutnya, eksperimen musik mereka sebenarnya bisa diciptakan melalui peningkatan kegiatan seni dalam sebuah komunitas musik orkestra. Dalam komunitas itu, beragam eksperimen permainan biola bisa dilakukan.

Apalagi kalau dipadukan dengan instrumen musik lain. Bersama dengan instrumen gesek cello, biola cocok untuk permainan legato (halus dan tersambung). Meskipun begitu, biola juga mampu menampilkan nada-nada sebaliknya, yakni staccato (pendek dan putus-putus).

Ada pula efek khusus dalam eksperimen biola. Seperti memainkan vibrato, glissando, tremolo, dan trill. Semua permainan itu, kata Addie, menawarkan kekayaan eksperimen dalam bermusik biola.
Melalui instrumen biola, Idris mampu menuangkan perasaan tertentu, tanpa melalui lagu. Kebanyakan karyanya selalu menghadirkan suasana balada yang mencekam. Ini beda dengan permainan Vanessa Mae. Violis asal Vitenam yang kini menetap di Inggris itu lebih suka menampilkan suasana suka cita.

Sementara beberapa repertoar lain bisa dimainkan apik oleh Idris. Dalam beberapa konsernya, dia tidak enggan mengetengahkan karya Beethoven atau Mendelssohn. Juga karya klasik Elgar. Di tangan violis mahir ini, semua permainan menghadirkan bunyi yang amat melodius, indah menghanyutkan. Atas kemampuan menghadirkan bunyi-bunyi indah tersebut, orang sering menyebut dia sebagai ‘sang maestro’.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber, antara lain KCM dan Republika 13/4/03

Jangan Panggil Saya Maestro

“peristiwa yang lalu mejadi pelajaran buat saya, artinya saya tidak bisa sembarangan pamit. Saya juga sudah ditegur Tuhan, jadi juga ada hikmahnya Saya tidak bisa membiarkan talenta yang diberikan Tuhan. Itu dosa” sesal Idris dihadapan wartawan baru-baru ini.
Tahun 1994, para pengemar musik Indonesia sempat dikejutkan dengan pernyataan Idris. Pada konser yang digelar 9 Agustus 1994 musikus kelahiran 7 juni 1938 ini menyaakan mundur. Sejak itu, dia menghilang dari panggung. Ucapan itu sepertinya bermakna sanga dalam. Itulah konser Idris yang terakhir. Idris sepertinya sudah matap memutuskan untuk ‘mengantungkan biola’.
“Kata pamit waktu itu saya ucapkan dengan sadar seusa konser. Permaian kami saat itu buruk sekali. walaupun oaang-orang memberikan aplaus, saya merasa tidak tampil sesuai harapkan. Pada aat itu saya merasa tidak bertanggung jawab. Sebagai pemimpin, saya hanya menyalahkan diri sendiri, dan bukan pemain. Saya dapat pelajaran yang pahit. Saya malu dan makanya saya pamit, “kenang Idris.
Kini Idris memberanikan diri untuk tampil lagi Persembahan Idris Sardi 2003 (PIS), demikian judul pergela itu, sesuai permintaanya. Idris memang menolak pergelaran musik ini disebut konser. Alasannya ia tidak ingi terbebani istilah. Idris lebih menekankan pada sajian 41 repertoar dengan dukungan sembilan penyanyi dan 34 musikus serta kelompok tari Gumarang Sakti. Jika tidak ada halangan, PIS akan berlangsung pada 18 juni 2003 di Puri Agung, Hotel Sahid Jaya, Jakarta pusat
“tidak mudah bagi saya untuk tampil lagi. Namun selama ini, saya merasa ada tanggung jawab yang belum tercurah tuntas. Usia saya suda 65 tahun dan lama tidak tampil. Kata persembahan itu artinya jika saya diizinkan Tuhan. PIS sebagai upaya saya membayar utang-utang kepada Tuhan dan negeri ini.” kata violis pemilik biola kaca itu

Bukan Maestro
Bagi Idris, pertunjukan PIS sangat besar artinya. Sampai tahun 2003, seorang Idris Sardi telah menmpuh perjalann karier selama 50 tahun. Selain itu, pada 7 Juni mndatang usia Idris akan bertambah menjadi 65 tahun. Untuk itu, peraih 17 piala citra ini merasa sudah saatnya untuk mengungakapkan rasa syukur dan talenta musik yang diberikan Tuhan. Sebagai Musikus besar Indonesia, banyak orang memberikannya berbagai julukan. Tetapi Idris tampaknya hampir tidak peduli.
“jangan panggil saya Maestro. Si Biola Maut juga tidak. Jangan coba-coba. Panggil saja saya Mas Idris. Saya ini masih belajar, masih banyak yang lebh baik dari saya. Dulu mungkin saya populer. Tetapi orang besar belum tentu orang populer, dan orang populer juga belum tentu orang besar,” katanya merendah.
Tetapi Idris memang pernah diberi penghargaan Golden Maestro Award dari Yayasan Pendidikan Musik pada tahun 2002. Idris juga pernah menerima Legenda BASF Award dan penghargaan sebagai Tokoh Legendaris Pemain Biola, Komposer dan Konduktor. Sri Sultan Hamengku Buwono X bahkan memberikan mahkota sebagai penghargaan, penghormatan, pengabdian, dedikasi dan konsistensi di bidang musik Indonesia pada tahun 2001. Di sisi lain, Idris merasa dirinya sudah tidak lagi cukup komersial. Meskipun demikian, dia menepis anggapan pesimis menghadapi pergelaran nanti. Tak heran, Idris melakukan banyak persiapan mental sehingga pada saat pergelaran tidak mengecewakan.
“Sejak awal saya sudah memperingatkan promotor. Saya ini bukan orang yang laku dijual. Tetapi mereka bersikeras. Ya, sudah, pada akhirnya saya pasrah kepada Tuhan. Setiap kali bermain biola. saya yakin lalu ada campur tangan
Tuhan. Kalau nanti pergelaran itu kurang mendapat sambutan, saya tinggal berkata. “Tuhan,” ujarnya merendah.
Untuk konser nanti, Idris tak bersedia merinci komposisi. Dia merasa perlu merahasiakan komposisi yang bakal dimainkannya dengan pertimbangan pribadi. Menurut dia, komposisi itu sengaja tidak disebutkan agar penonton penasaran. Kelak, Idris sudah menyiapkan kejutan dan sajiaan spesial untuk penonton.
“Yang pasti saya tentu akan bermain klasik seperti diketahui banyak orang. Tetapi komposisi nanti tidak hanya itu, saya juga akan memainkan musik keroncong. Dalam pergelaran nanti saya bakal berkolaborasi dengan kelompok tari Gumarang Sakti. Jika selama ini, saya dikenal banyak memainkan musik romantik. Kali ini, saya menyuguhkan musik-musik yang energik,” janji suami dari Ratih Putri ini.
Sejak usia lima tahun, Idris Sardi memang telah, menekuni musik klasik. Tetapi pada usia tujuh tahun, dia baru diajari sang ayah bermain biola. Setelah besar, Idris belajar di Akademi Musik Indonesia pada tahun 1950-1955. Selain belajar dari sang ayah Mas Sardi, Idris juga belajar musik dari sejumlah musikus asing seperti Nikolai Varfolomijeff (Rusia), Hendrick Tordasi & Frank Sabo (Hongaria), Boomer (Jerman, Keney (Inggris) dan Madanie Renee Tovanos (Prancis) dan Henk Te Straake (Belanda).

Malu
Seusai menimba ilmu dari master-master musik di luar negeri selama bertahun- tahun, Idris justru tertantang bermain musik keroncong dan irama Melayu. Dia tak ragu belajar dari Achmad & Isbandi (Orkes Puspa Kencana) dan A Chalik (Orkes Bukit Siguntang). “Buat orang yang sudah masuk sekolah musik klasik, saya juga tidak boleh main di luar klasik. Saya diisolasi. Tetapi ketika ayah meninggal tahun 1953, saya mulai berubah. llmu klasik saya selama lima tahun lebih, tetapi ternyata tidak mampu memainkan keroncong dan musik Melayu. Saya malu dan terpukul,” katanya.
Sebagai putra Indonesia, Idris merasa malu jika tidak mampu memainkan musik keroncong. Apalagi ketika pulang ke Indonesia, dia bermain untuk stasiun Radio Republik Indonesia. Sejak itu, Idris melanggar aturan-aturan baku klasik. Dari kampung ke kampung, dia bertanya tentang musik keroncong. Bahkan Idris mengaku sempat belajar dari seorang tukang becak.
“Klasik, ilmu musik paling tinggi. Namun ternyata musik negeri kita terlalu kaya dibandingkan dengan Barat. Tahun 1950, saya masuk orkestra Istana dan di sanalah mulai berkembang. Saya memainkan musik etnik negeri ini, tetapi dengan dasar musik Barat,” tambah Idris.

Letnan Kolonel
Mengenai perkembangan musik klasik sekarang, Idris melihat banyak kemajuan. Dulu tidak ada permainan biolaklasik yang mengalami aransemen baru seperti Bond, atau Vanessa Mae. Mereka sangat ekspresif dan energik. Musik klasik diramu dengan unsur hiburan, sehingga muncul dalam kreasi berbeda. Di sisi lain, pertunjukan musik klasik juga makin sering karena pertumbuhan orkestra baru. Kolaborasi orkestra plus permainan biola dengan jenis musik lain juga makin berkembang.
“Tahun 1960-1970-an, musik klasik memang sudah diterima. Sayang mereka tidak bisa menghargai. Saya pernah diminta tampil di restoran, sementara orang- orang sedang asyik makan. Padahal kalau cuma begitu, pakai kaset saja juga bisa. Lantas saya main buat siapa! Yang ke sana datang buat makan kok, bukan untuk dengar musik. Tetapi toh waktu itu, saya lakoni juga. Bagus juga buat pengalaman saya,” tambahnya.
Kini Idris tentu menolak jika ditawari tampil di restoran. Termasuk juga di hotel-hotel saat perayaan Tahun Baru. Prestasinya sudah mendunia. Bahkan saat usia 15 tahun, Idris sudah menjadi solis dan konser master termuda di Orkes Studio Djakarta. Mulai tahun 1953, dia kerap tampil rutin di istana dalam acara-acara kenegaraan. Di tahun 1955, Idris mengikuti studi tur ke Eropa. Empat tahun kemudian, dia kembali dan membantu RRI Yogyakarta.
Tahun 1966, Idris menjadi pelatih Satuan Musik Militer untuk 10 Kodam di Indonesia dengan murid sekitar 700 orang. Tahun itu juga dia diangkat menjadi pemimpin orkestra TNI Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Kolonel CAJ. Pasukan Kopasus juga pernah digemblengnya pada tahun 1997.

Pasrah
Kemampuan musiknya tidak hanya dibuktikan di panggung. Lewat sejumlah karya layar lebar, Idris memberikan sumbangan besar. Sejak tahun 1960, dia telah menghasilkan lebih dari 300 karya. Beberapa film seperti Pesta Musik La Bana (1960), Bernafas dalam Lumpur (1970), Budak Nafsu (1984), Doea Tanda Mata (1985),
Tjoet Nja Dhien, (1988) dan Pacar Ketinggalan Kereta (1990). Idris juga membuat ilustrasi musik untuk 130 episode sinetron.
Idris sempat menderita sakit kanker usus di tahun 1998. Sejak itu, dia juga mengasingkan diri ke Pondok Pesantren Tangerang di bawah pimpinan KH Ubadillah Khalid.
Saat berada di sana, dia juga pernah membuat rekaman Shalawat Nabi bersama para santri. Kemudian sepanjang tahun 2000, Idris kembali aktif dan menjadi duta kesenian pemerintah Indonesia.
Saat ini, Idris Sardi hanya berharap pertunjukannya berjalan lancar dan sukses. Maklum selama beberapa tahun, dia mengaku tidak lagi menyentuh biola. Idris berharap seluruh obsesinya bisa tercapai lewat konser Persembahan Idris Sardi 2003.
“Saya main untuk orang lain. Saya tidak pernah bisa main yang saya mau. Saya belum puas. Tetapi saya sadar mesti berkompromi dengan banyak pertimbangan. Saya ingin membahagiakan banyak orang. PR saya adalah bagaimana berkomunikasi dengan hadirin penikmat. Saya harus bisa menerjemahkan rasa ke panggung dan itu banyak berpengaruh. Untuk itu, saya pasrah pada Tuhan” katanya lagi.

Pembaruan/ Unggul Wirawan

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by
C © updated 17032006
► e-ti/dhf
Nama:
Ramadhan KH
Nama Lengkap:
Ramadhan Kartahadimadja
Nama Panggilan:
Kang Atun
Lahir:
Bandung, 16 Maret 1927
Wafat:
Cape Town, Afrika Selatan 16 Maret 2006
Agama:
Islam
Isteri:
- Pruistin Atmadjasaputra (menikah 1958 dan wafat 1990)
- Salfrida Nasution Ramadhan (menikah 1993)
Anak:
- Gumilang Ramadhan
- Gilang Ramadhan

Ayah:
Raden Edjeh Kartahadimadja
Ibu:
Sadiah

Profesi:
Wartawan dan Penulis Biografi

Pendidikan:
- ITB Bandung
- Kuliah Jurnalistik, Belanda, 1952-1953

Karir:
- Wartawan Kantor Berita Antara
- Redaktur Majalah Kisah
Redaktur Mingguan Siasat
Redaktur Mingguan Siasat Baru
- Anggota Akademi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta sampai 2003

Karya:
Telah menulis lebih 30 buku, di antaranya:
- Kuantar ke Gerbang, Kisah Cinta Ibu Inggit Garnasih dengan Bung Karno (1981)
- Biografi AE Kawilarang
Biografi Soemitro
Biografi Ali Sadikin
- Biografi Hoegeng
- Biografi Mochtar Lubis
- Biografi DI Panjaitan
- Autobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya
- Priangan Si Djelita (1956)
- Ladang Perminus
- Royan Revolusi, Novel, 1958
- Antologie Bilingue de la Poesie Indonesienne Contemoraine, Novel, 1972
- Kemelut Hidup, Novel, 1976
- Keluarga Permana, Novel, 1978
- Untuk Sang Merah Putih, Novel, 1988

Penghargaan:
SEA Write Award, 1993

RAMADHAN KH HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Ramadhan KH (1927-2006)

Wartawan & Penulis Biografi

Wartawan dan penulis biografi Ramadhan KH (Ramadhan Kartahadimadja yang akrab dipanggil Kang Atun) meninggal dunia tepat di hari ulang tahunnya yang ke-79, Kamis 16 Maret 2006 pukul 08.30 waktu Cape Town, Afrika Selatan, atau pukul 13.30 WIB. Jenazah pria kelahiran Bandung 16 Maret 1927, ini  akan tiba di Tanah Air Sabtu 18 Maret 2006 dan dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.

Anggota Akademi Jakarta yang sudah lama menderita kanker prostat itu meninggalkan satu istri, dua anak (Gumilang Ramadhan dan Gilang Ramadhan), serta lima cucu. Istrinya Salfrida Nasution Ramadhan, yang bertugas sebagai Konsul Jenderal RI di Cape Town, Afrika Selatan adalah istri kedua yang dinikahi 1993. Istri pertamanya, Pruistin Atmadjasaputra, yang dinikahi 1958 telah lebih dulu wafat 1990.

Menurut isterinya, Salfrida Nasution, walaupun beberapa bulan ini kankernya sudah sangat menjalar, bahkan hingga ke tulang sehingga kondisi tubuhnya sudah sangat lemah, Ramadhan masih bersemangat menulis dua buku terakhirnya. Dua buku yang belum terselesaikan tersebut adalah kumpulan cerpen dan novel. ”Bapak juga menjanjikan akan menulis satu sajak lagi buat saya, tetapi belum kesampaian, beliau sudah keburu dipanggil…,” tutur Salfrida yang masih larut dalam kesedihan, sebagaimana ditulis Kompas 17/3/2006.

Ramadhan, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara dari pasangan Raden Edjeh Kartahadimadja dan Sadiah, ini sejak kecil sudah akrab denga dunia sastra dan tulis-menulis. Dia sudah mulai produktif menulis sejak masih di SMA.

Hingga akhair hayatnya, sastrawan Angkatan ’66, itu telah menulis lebih dari 30 judul buku. Salah satu karyanya berupa kumpulan puisi yang diterbitkan dalam buku berjudul Priangan Si Djelita (1956), ditulis saat Ramadhan kembali ke Indonesia dari perjalanan di Eropa 1954. Kala itu, ia menyaksikan tanah kelahirannya (Jawa Barat) sedang bergejolak akibat berbagai peristiwa separatis. Kekacauan sosial politik itu mengilhaminya menulis puisi-puisi tersebut.

Sastrawan Sapardi Djoko Damono, menilai buku tersebut sebagai puncak prestasi Ramadhan di dunia sastra Indonesia. Menurut Sapardi, sebagaimana dirilis Kompas, buku itu adalah salah satu buku kumpulan puisi terbaik yang pernah diterbitkan di Indonesia. “Dia adalah segelintir, kalau tidak satu-satunya, sastrawan yang membuat puisi dalam format tembang kinanti,” papar Sapardi.

Karya Ramadhan itu disebut Sapardi sebagai salah satu tonggak sastra Indonesia pada periode 1950-an, bersama karya-karya WS Rendra dan Toto Sudarto Bachtiar.

Pada tahun 1958, sesaat setelah menikah dengan Pruistin Atmadjasaputra, Ramadhan resmi menekuni karier sebagai wartawan kantor berita Antara di Bandung, Jawa Barat. Dia juga pernah bertugas sebagai Redaktur Majalah Kisah, Redaktur Mingguan Siasat dan Redaktur Mingguan Siasat Baru. Tugasnya sebagai wartawan dan kiprahnya di dunia sastra membuat Ramadhan banyak bergaul dengan para seniman Indonesia.

Menurut Kompas, perjalanan hidup kemudian membawanya sebagai salah seorang penulis biografi terbaik di negeri ini. Diawali dengan biografi Inggit Garnasih, Kuantar ke Gerbang (1981), dia kemudian menulis biografi tokoh-tokoh terkenal di Indonesia, seperti AE Kawilarang, Soemitro, Ali Sadikin, Hoegeng, Mochtar Lubis, dan DI Panjaitan.

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang merupakan biografi mantan Presiden Soeharto yang dibuat saat Soeharto masih berada di puncak kekuasaannya pada tahun 1988.

Selain menulis buku-buku biografi, Ramadhan juga menulis karya sastra: Priangan Si Djelita (1956); Ladang Perminus
- Royan Revolusi, Novel, 1958;  Antologie Bilingue de la Poesie Indonesienne Contemoraine, Novel, 1972; Kemelut Hidup, Novel, 1976; Keluarga Permana, Novel, 1978 dan Untuk Sang Merah Putih, Novel, 1988. Karyanya, Ladang Perminus berhasil meraih penghargaan SEA Write Award, 1993. ►e-ti/tsl, dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 03052005
►e-ti/tempo
Nama:
Sundari Untinasih Soekotjo
Lahir:
Jakarta, 14 April 1965
Mantan Suami:
H. Arman Surjadi
Anak:
Putri Intan Permatasari (1991)
Ayah/Ibu:
R. Soekotjo Renodihardjo/Herini
Pendidikan:
- D3 Musik IKIP, 1987
- Sarjana Jurusan Musik Universitas Negeri Jakarta, 2002
Karir:
- Penyanyi Keroncong
- Guru Kesenian SMA 38 Jakarta
- Presenter Acara Sedap Sekejap yang ditayangkan TV7, 2002
- Pengajar Universitas Negeri Jakarta
Kegiatan Lain:
Ketua II Himpunan Musik Keroncong Indonesia
Penghargaan:
- Juara II Bintang Radio/TVRI 1979
- Juara I Bintang Radio/TVRI 1983
- Penghargaan Khusus dari AMI-Sharp Award ke-6, 2002
- Keroncong Award 2002 yang diselenggarakan Yayasan Bina Suci dan Radio Republik Indonesia, 2002
Album:
- Lagu Anak-anak (1976)
- Keroncong Asli (Ingkar Janji), 2002
- Keroncong Gelas Gelas Kaca (CD)
- Pop Keroncong Dari Masa Ke Masa (CD)
- Sundari (VCD)
Alamat Rumah:
Jl Masjid Al Falah No 1 RT 004/RW 08, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Sumber:
Dari berbagai sumber terutama Tempo dan Kompas.
Sundari Untinasih Soekotjo

Dewi Keroncong Penyanyi Istana

Sejak jaman presiden Soeharto, Habibie, hingga Susilo Bambang Yudhoyono, perempuan yang ciri khasnya tampil berkebaya ini kerap kali diundang menjadi penyanyi istana. Lagu yang dibawakannya adalah sebuah genre musik yang identik dengan irama milik para orang tua, keroncong. Berkat konsistensinya di dunia musik keroncong, banyak kalangan kemudian menjulukinya ‘Dewi Keroncong’.

Kecintaan perempuan kelahiran Jakarta, 14 April 1965 bernama lengkap Sundari Untinasih Soekotjo ini pada musik keroncong bermula sejak ayahnya, Soekotjo Ronodihardjo, seorang tentara berpangkat Letnan Satu (Lettu) – kini sudah almarhum – memperkenalkannya pada alunan musik mendayu-dayu itu. Ayahnya yang hobi menyanyi lagu keroncong sering mengajak Sundari menyanyi bersama.

Dalam keluarga, sejak kecil anak ke dua dari tiga bersaudara yang biasa dipanggil Unti ini mendapat pendidikan yang keras dan disiplin dari ayahnya. Namanya juga masih kanak-kanak, ketika disuruh latihan, “Saya sering alasan sakit perut, ngantuk, atau apa saja, supaya tidak jadi latihan.”

Meski ia mengaku kerap ‘mengelak’ saat disuruh latihan, Sundari membantah jika kecintaannya pada musik keroncong datang dari “paksaan” kedua orang tuanya, terlebih dari sang ayah. “Saya menggeluti musik keroncong karena kemauan sendiri, bukan paksaan ayah saya. Sejak kecil saya sempat menyaksikan Waljinah nyanyi keroncong pakai konde dan kelihatan cantik. Saya ingin seperti dia,” kata wanita yang sedari kelas 2 SD telah mempelajari musik keroncong.

Ia pun kemudian makin termotivasi oleh perkataan ayahnya, ““Makanya kamu harus latihan karena sekarang itu jarang ada penyanyi keroncong yang masih muda.” Melihat kesungguhan dan bakat yang dimiliki Sundari, ibunya, Herini, memasukkannya ke sanggar Angrek Pimpin Joko Sutrisno.

Umur sembilan tahun, ia menyanyi pop bersama Joko Sutisno di TVRI. Selanjutnya Sundari belajar menyanyi keroncong pada beberapa guru. Tahun 1975, ketika umurnya menginjak usia 10 tahun, ia baru mulai mengikuti perlombaan dengan menjadi perwakilan dari SD Halim, Jakarta, tempat dia sekolah. Baru tahun 1977 ia mulai mengkhususkan diri pada lagu keroncong dan satu tahun kemudian, mengikuti berbagai festival keroncong.

Mengenang masa kecil di bangku SD, Sundari bercerita bahwa ia pernah marah-marah ketika ketika sejumlah warga di kompleks AURI Halim Perdana Kusumah, Jakarta, sering menjulukinya si Bengawan Solo, tatkala dia melintas di gang-gang kawasan rumahnya.

Sundari pun lalu menangis dan mengadu pada ibunya. Mendengar pengaduan anaknya yang tersendat-sendat menahan tangis, sang ibu tersenyum lalu berusaha menghiburnya, “Sudah, seharusnya kamu bangga dengan julukan itu.” Kini, setelah Sundari dewasa, kenangan masa kecilnya itu selalu membuatnya tersenyum dan menyadari kalau julukan pernah membuatnya sakit hati, justru menjadikannya merasa lebih berarti.

Pada festival keroncong remaja, 1978, Sundari terpilih sebagai finalis. Tahun 1979, ia akhirnya menembus juara kedua di ajang juara bintang radio dan TV untuk kategori Keroncong Dewasa Wanita. Itu pun dengan mencuri umur, karena Unti belum mencapai 15 tahun. Ia berhasil ‘mengelabui’ panitia karena dengan kebaya dan sanggul, Sundari tampak dewasa.

Baru sebentar menikmati pujian berkat penampilannya, Sundari menuai kritikan karena ketahuan kalau ia masih di bawah umur. “Saya sempat diprotes karena usia saya masih di bawah umur. Waktu itu duduk di bangku SMP 80 Halim. Umur saya waktu itu masih 14 tahun,” ucapnya. Juara satu bintang radio televisi diraihnya pada festival berikutnya, 1983. “Setelah itu orang-orang menjuluki saya penyanyi keroncong,” tutur mantan anggota Geronimo VIII seangkatan Djatu Parmawati dan Rafika Duri ini.

Selain menyanyi, empat tahun Sundari menjadi guru kesenian di SMA 38 Jakarta. Tak bisa dihindarkan, ia sering dikerjain murid-murid cowok: mobilnya dikasih bunga, wajahnya digambar oleh murid paling bandel, murid cowok duduk di bangku barisan depan setiap kali ia mengajar. Tapi, anehnya, “Saya tidak ngeh karena tidak memperhatikan,” ujar perempuan yang pernah mengadakan konser tunggal menyanyi keroncong di gedung Ratu Plasa, Jakarta.

Setelah berhenti mengajar sebagai guru, ia kemudian sibuk sibuk membuka butik dan aktif di pengajian Arafah. Di sinilah ia mulai berkenalan dengan para alim ulama seperti KH Zainuddin MZ. Bersama kyai ‘sejuta umat’ ini, ia mendirikan dan mengelola Taman Kanak-kanak (TK) Islam Mitra Amanah yang terletak tak jauh dari kompleks ABRI, di kawasan Cilangkap, Jakarta Timur.

Tahun 2002 menjadi tahun yang penuh berkah baginya. Pada tahun 2002, ia merilis album keroncong asli yang diberi judul Ingkar Janji.. Album ini menjadi album keroncong asli pertamanya, dimana ia menyanyi diiringi musik keroncong asli. Album Ingkar Janji digarap bersama Orkes Keroncong Puspa Kirana pimpinan Acep Djamaludin dan diproduksi PT Gema Nada Pertiwi, perekam lagu-lagu keroncong tradisonal serta lagu rakyat Indonesia.

Berkat album ini, ia dinobatkan sebagai penerima Keroncong Award 2002 yang diselenggarakan Yayasan Bina Suci dan Radio Republik Indonesia. Pada tahun yang sama, ia juga menerima meraih penghargaan khusus dari dewan kategorisasi di ajang AMI-Sharp Award ke-6.

Pada 14 Agustus 2002, ia dinyatakan lulus sebagai sarjana musik oleh Universitas Negeri Jakarta (dulunya IKIP) dengan nilai cukup memuaskan. Skripsinya tentang musik keroncong di Jakarta dengan judul “Keberadaan Musik Keroncong serta Sejarahnya di Wilayah Jakarta”. Sebelumnya, ia pernah kuliah di IKIP, tapi hanya meraih gelar D-3 pada tahun 1987.

Meski menuai banyak keberhasilan dalam karirnya, perkawinannya dengan seorang pilot bernama Arman Surjadi kandas di tengah jalan pada tahun 2004. Kini ia mesti mengasuh anak semata wayangnya, Putri Intan Permata Sari (14 th) sebagai single parent. Saat ditanya perihal anaknya, Sundari menuturkan bahwa anaknya yang sedang beranjak dewasa mulai menunjukkan keinginan mengikuti jejaknya.

“Hati saya trenyuh, ketika di usia 9 tahun dia sudah kepingin rekaman. Saya bebaskan dia untuk memilih dengan syarat punya tanggung jawab. Jangan numpang nama ibunya. Kalau lihat dia, sepertinya saya melihat waktu saya kecil dulu,” kata perempuan yang tetap cantik ini.

Dengan statusnya yang single parent maka baik itu perhatian, kasih sayang maupun perekonomian sekarang menjadi tanggung jawabnya. Dan untuk sekarang ini, ia sedang kuliah lagi dan mencari ilmu dari dunia nyanyi dan lain-lainnya. Ia berharap agar ilmu yang didapatkan pada kuliah tersebut, ia nantinya dapat bekerja di bidang lain selain dari menyanyi. ►mlp

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance
C © updated 18032006
► e-ti/pembaruan
Nama:
Dra Hj Tien Santoso
Lahir:
Madiun, 11 November 1950
Agama:
Islam
Suami:
Iman Santoso

Profesi:
Dosen dan Penata Rias

Pendidikan:
- IKIP Jakarta

Karir:
- Pengajar di Lembaga Pendidikan Wanita Indonesia di bawah Ikatan Sarjana Wanita Indonesia, 1976-1984
- Staf Pengajar Akademi Seni Rupa dan Desain Indonesia, 1984
- Dosen Program Studi Tata Rias, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik UNJ
- Pendiri dan Pemilik Sanggar Busana Indonesia (SBI)

Penghargaan:
- Anugerah Piagam Bhakti Budaya
- Dharma Budaya
- Kridha Budaya
- Pakarti Budaya
- Bintang Mas ke-3 dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi Surakarta
- Kartini Award 2004 dari Iwapi
- Satya Lencana dari Presiden RI pada 2004

TIEN SANTOSO HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Dra Hj Tien Santoso

Penata Rias Pengantin

Dra Hj Tien Santoso, pemilik Sanggar Busana Indonesia (SBI), senang membagikan ilmu baik mengenai tata rias maupun tata cara adat Jawa kepada semua orang. Perias pengantin dan pemerhati upacara adat Jawa, kelahiran Madiun 11 November 1950, ini juga aktif sebagai pengajar program studi tata rias, jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik di UNJ.

Perias pengantin putri tokoh- tokoh terkenal dan artis-artis ternama Indonesia, ini sering kali diundang ke berbagai seminar untuk memperkenalkan metode paes (hiasan berwarna hitam pada dahi pengantin) proporsional.

Tien yang dipersunting H Iman Santoso, seorang wartawan, mengaku mengenal tata rias dari ibunya yang senang merias. Ayahnya seorang tentara, maka waktu SD dia belajar tari bersama Kristiani (Ani Yudhoyono) di Bandung yang juga anak tentara. Jadi, Tien dididik dalam lingkungan yang kental dengan budaya dan disiplin.

Didikan dari kecil itulah yang tampaknya membuat Tien begitu lekat dengan kebudayaan, baik mengenai upacara adat maupun tata rias pengantin dalam bingkai disiplin. Sehingga dia berhasil menjadi salah satu penata rias terkenal di Jakarta.

Di rumah sekaligus sanggarnya yang terletak di Jalan Guntur, Jakarta Selatan, terdapat ratusan foto orang yang pernah menggunakan jasanya sebagai perias pengantin. Terdapat puluhan bintang film, sinetron, penyanyi, dan pejabat dalam rangkaian foto-foto itu.

Keahliannya sebagai penata rias, juga disumbangkan kepada para generasi muda. Sebelum menjadi dosen tata rias, ia pernah secara suka rela mengajar anak-anak putus sekolah atas permintaan Prof dr Yetty Rizali Noor yang waktu itu adalah Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti.

Dengan prinsip membagi ilmu tanpa memikirkan uang, ia juga pernah secara sukarela mengajarkan tata rias kepada para waria atas permintaan Pemprov DKI. Kala itu, dia memang memperoleh uang dari DKI, tapi uang itu dia pakai untuk sewa Gedung Santikara di Menteng sebagai tempat para waria itu belajar. Selain dibekali keterampilan tata rias, para waria itu juga disediakan makan siang. Sehingga para waria itu bisa bikin salon, pintar make up, potong rambut dan setbagainya.

Dalam profesi sebagai dosen, pada mulanya dia mengajar di Lembaga Pendidikan Wanita Indonesia di bawah Ikatan Sarjana Wanita Indonesia pada 1976. Tahun 1984 lembaga itu menjadi Akademi Seni Rupa dan Desain Indonesia. Selain itu, dia juga mengajar di IKIP Rawamangun yang pada 1990 berubah namanya menjadi Universitas Negeri Jakarta.

Tien mengajar program studi tata rias, jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik di UNJ. Dia menjelaskan, Program tata rias masuk Fakultas Teknik, karena semua yang dipelajari harus bisa diukur. Di sana juga ada fisika dan kimia. Ada pengetahuan anatomi, bedah plastik, dan matematika serta statistik.

Setelah menjadi UNJ, Tien melihat banyak sekali orang yang hanya punya sertifikat kursus dari Depdikbud atau Pendidikan Luar Sekolah tetapi sudah sukses di lapangan. Mereka ini mempunyai kesempatan memperoleh master, doktor atau profesor. Begitu pula mereka yang punya ijazah dari luar negeri. Sehingga Tien berpikir kenapa tidak buat sertifikasi dan akreditasi, serta portofolionya, dengan hanya mengambil sekian SKS untuk tingkat sarjana.

Harapkannya itu baru terealisasi pada 2002 yakni S-1 program khusus tata rias. Kemudian, Tien berharap mereka yang sudah punya gelar S-1 itu akan menjadi pengajar juga. Dia berpandangan untuk menjadi pengajar (dosen), selain mempunyai keahlian akademik, dibutuhkan praktisi lapangan yang qualified sehingga lulusan di bidang tata rias juga lebih baik.

Dia bahagia sebab sekarang di program tata rias UNJ, tenaga pengajarnya adalah orang-orang yang qualified di bidangnya. Seperti Make up oleh Andianto spesialis make up, peralatan listrik untuk kecantikan oleh Ibu Endang Sugiarto, spa oleh Kusuma Dewi, dan sebagainya.

Dalam usia yang sudah kepala lima, dia m,asih tekun menjalani kuliah S-2 pada jurusan manajemen pendidikan. Dia masih bercita-cita mendirikan sebuah sekolah tata rias. Dia berharap dapat kerjasama sama dengan anaknya, Levi (bernama lengkap Pahlevi Indra Santoso, personel grup band The Fly), yang juga bercita-cita bikin sekolah musik.

Dalam pengabdiannya, Tien pernah mendapatkan Anugerah Piagam Bhakti Budaya, Dharma Budaya, Kridha Budaya, Pakarti Budaya, dan Bintang Mas ke-3 dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi Surakarta, Kartini Award 2004 dari Iwapi, dan Satya Lencana dari Presiden RI pada 2004. ►e-ti/tsl, dari berbagai sumber, terutama Suara Pembaruan Minggu 19 Maret 2006
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 16042006
► e-ti/kps
Nama:
Trisutji Djuliati Kamal
Lahir:
Jakarta, 28 November 1936
Profesi:
Komponis dan Pianis

Suami:
Ir A Badawi Kamal
Anak:
Mahendra (47)
- Mahendrani atau Rani (45)
- Paramagita atau Gita (44)
Ayah:
Dokter Djulham Surjowidjojo
Ibu:
BRA Nedima Kusmarkiah
Saudara:
Tripudjo Djuliarso

Pendidikan:
- SD (1947)
- SMP Methodist School, Medan (1950)
- SMA Concorante, Medan (1954)
-Conservatorium Musik Amsterdam, Negeri Belanda (1955)
- Ecole Normale ttt, Paris, Prancis
- Conservatorio de Musica St Caecilia, Roma, Italia (1963)

Karir:
- Mengajar di Sekolah Musik Murni di Medan (1968)
- Resital di Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, Solo (1968- 1976)
- Anggota Asian Composer’s League (1974-1980)
- Ketua Ikatan Komponis Indonesia (sekarang)
- Pendiri Lembaga Musik Indonesia Hasil karya antara lain Komposisi -Musik Pementasan Opera Loro Jonggrang di Roma (1956)
- Pementasan Jubilatedeo untuk Paduan Suara di Roma (1956)
- Membuat naskah musik film Apa Yang Kau Cari Palupi
- Lewat Tengah Malam (1969) Pementasan Balet Gunung Agung (1979)
- Komposisi untuk Piano Tunggal, PT Gramedia, 1983

Karya:
- 200 komposisi, di antaranya: Sungai, Kepergian, Opera Roro Jonggrang, 10 musik ilustrasi film, lebih 130 piano solo, 2 solo flute, 1 flute dengan piano, 3 solo biola alto, 1 biola alto dengan piano, 1 solo cello, 25 vokal dengan piano perkusi dan vokal Bali, 6 ensemble, 4 trio dan kuartet, 4 paduan suara a cappella, 3 paduan suara dengan simfoni orkestra, 5 karya simfoni, 1 piano konserto dengan orkestra, 1 piano konserto dengan bumbung Bali, harpa, viola dan cello, 5 musik sendratari

Alamat Rumah:
Jalan MPR V No. 15, Cilandak, Jakarta Selatan

TRISUTJI HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Trisutji Djuliati Kamal

Komponis dan Pianis

Komponis dan pianis kenamaan kelahiran Jakarta, 28 November 1936, ini telah lebih 50 tahun berkarya dalam dunia seni musik. Trisutji Djuliati Kamal, lulusan Conservatorio de Musica St Caecilia, Roma, Italia, itu telah menulis sekitar 200 karya musikal. Di antaranya 130 komposisi untuk piano telah direkam dalam sepuluh compact disc (CD) berjudul “Complete Piano Works Series” (1951-2006), yang seluruh dimainkan pianis Ananda Sukarlan.
Dua dari CD itu diluncurkan 5 April 2006 di The Bimasena Club, Hotel Dharmawangsa, Jakarta. Album lainnya akan dirilis secara bertahap. Terakhir tahun 2007, ditandai dengan pementasan sendratari Gunung Agung yang akan melibatkan musisi Erwin Gutawa dan penata artistik Jay Subyakto.

Trisutji seperti tak kenal lelah dalam berkarya. Sepertinya makin tua semakin banyak ide, walaupun tenaganya makin berkurang. Namun,ia bertekad akan terus mencipta sampai tak bisa lagi. Ia ingin orang bisa menikmati musiknya.

Di antara 200 komposisi karya musikalnya adalah: Sungai, Kepergian, Opera Roro Jonggrang, 10 musik ilustrasi film, lebih 130 piano solo, 2 solo flute, 1 flute dengan piano, 3 solo biola alto, 1 biola alto dengan piano, 1 solo cello, 25 vokal dengan piano perkusi dan vokal Bali, 6 ensemble, 4 trio dan kuartet, 4 paduan suara a cappella, 3 paduan suara dengan simfoni orkestra, 5 karya simfoni, 1 piano konserto dengan orkestra, 1 piano konserto dengan bumbung Bali, harpa, viola dan cello, 5 musik sendratari

Dia terpikir membuat dokumentasi auditif setelah Ananda Sukarlan dan teman-teman lain bertanya kenapa tidak membuat CD karya-karyanya agar lestari dan publik lebih mengenal dan menikmatinya. Seperti yang sudah dilakukan komponis  Amir Pasaribu, Mochtar Embut, dan lain-lain.

Selama ini nasib 200 karyanya itu berantakan. Bahkan dia sendiri banyak yang lupa ditaruh di mana. Lalu, dia pun terpaksa kumpulin pelan-pelan untuk bisa direkam. Untunglah dia punya catatan yang disimpan sendiri. Namun catatan itu hanya dia yang bisa tahu. Ada yang berupa sketsa, hanya berupa ide satu atau dua bar. Bahkan dia sendiri mengaku kadang tidak ingat kalau pernah menulis karya itu.

Untunglah Ananda ‘memaksanya’ untuk menyelesaikan. Kalau tak dipaksa tidak akan selesai. Karyanya banyak yang tercecer. Contohnya, Nocturno yang saya buat tahun 2002. Premier-nya baru 5 April 2006 oleh Ananda.

Kadang ada juga komposisi yang dia tidak suka, lalu tersendat. Ada juga yang memang belum matang. Dia malas meneruskan, lalu bikin karya lain lain. Namun suatu hari ketemu lagi dan diterusin lagi.

Titi, panggilan akrabnya, mulai menekuni piano ketika baru berusia tujuh tahun. Ayahnya, RM Djulham Surjowidjojo, seorang dokter yang mahir main biola, yang memberi dorongan padanya. Kala itu ayahnya bekerja di Binjai, Sumatera Utara. Di sana Titi sempat dibimbing oleh guru-guru piano asal Jerman, Dora Krimke dan L Remmert.

Saat kembali ke Jakarta, 1955, Titi belajar pada Joan Giesen, seorang musisi dari Belanda. Ia juga sempat berguru pada musisi kenamaan Henk Badings. Kemudian, selama 12 tahun Titi hijrah ke Eropa, belajar pada Conservatorium Amsterdam, Ecole Normale de Musique, Paris. Kemudian, belajar di Conservatorio de Musica St Caecilia, Roma, Italia (1963).
Komposisi pertamanya, Sungai, lahir ketika umur 15 tahun. Kala itu, Trisutji suka memandangi Sungai Bingai di Binjai. Lalu, ia menggambarkan filosofi sungai. Mulai titik air, lalu terkumpul menjadi aliran yang mengalir melalui gunung, lembah, terus membesar dan sampai ke laut. Hal itu ia ibaratkan sebagai kehidupan manusia.

Kemudian, ia juga menulis Kepergian, yang sering dimainkan sebagai lagu wajib di YPM. Lagunya sederhana sekali. Idenya juga sederhana, yaitu kepergian kapal yang meninggalkan pelabuhan pelan-palan dan menjauh.

Tahun 1956, ia menulis Opera Roro Jonggrang. Kala itu, gurunya orang Rusia, mendorong untuk mencipta itu. Sang Guru memberi ide: Di Indonesia banyak legenda menarik, kenapa kamu tak bikin.

Pada waktu menulis opera itu, ia sedang belajar dodecaphone, serial musik dari Arnold Schoenberg. Dia temukan sistem not 12 nada. Tapi ia tidak menulis opera itu dengan sistem seri. Hanya ada pengaruhnya saja. Jadi pengaruh Opera Roro Jonggrang itu campuran. Dodecaphone, pentatonik dan opera lirik. Dalam proses menulis itu, ia temukan gaya sendiri. Opera itu dipentaskan di Castel St Angelo, tenornya Adi Santosa, orang Indonesia, seorang diplomat yang hobi nyanyi. Penyanyi soprannya orang Filipina, yang tak bisa bahasa Indonesia.

Dalam komposisi Ramadhan, Trisutji memainkan dengan cara memetik dawai piano. Ia memukul dawai, untuk mengejar efek mistik, religius. “Saya pingin kasih sentuhan atau efek damai. Ada ekspresi yang tak terwakili jika itu saya mainkan dengan tuts,” katanya seperti ditulis Kompas, 16 April 2006.

Selain itu, Trisutji juga pernah membuat lagu gereja Jubilate Deo. Kala itu tugas sekolah. Gurunya organis di gereja Episcopal Church di Turino. Gurunya bilang, “Coba bikin lagu untuk gereja.” Itu termasuk tugas, tapi akhirnya sering dimainkan di gereja. Awalnya, ia merasa susah juga karena lagu rohani yang ia kenal adalah model Jerman. Namun karena ia pernah sekolah di Methodist English School di Medan, di mana mereka tiap hari kami bernyanyi. Jadinya, ia bisa me-rewind sedikit ingatan lama dan bisalah akhirnya bikin lagu. Namanya Jubilate Deo. Setelah itu berhasil, ia pun kemudian mendapat tugas membuat opera.

Darah seniman turun dari ayahnya, Dokter Djulham Surjowidjojo, yang adalah pemain biola dan pelukis. Trisutji anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya, Tripudjo Djuliarso, mendalami instrumen biola tapi kemudian menjadi pengusaha.

Trisutji tumbuh di lingkungan keluarga Jawa di lingkungan kultural Melayu di Binjai, Sumatera Utara. Eyangnya dari pihak ibu, berteman akrab dengan Sultan Langkat. Sang ayah dari keluarga besar Arumbinang dari Purworejo (Jawa Tengah). Ibu dari ayah Trisutji masih keturunan Mangkunegaran, Solo. Sedangkan sang ibu, BRA Nedima Kusmarkiah, adalah cucu dari Sinuwun Paku Buwono X, Solo. Sang ibu adalah anak dari Pangeran Hadiwidjojo.

Kendati keluarganya tinggal i tengah lingkungan Melayu, namun kultur Jawa tetap hidup dalam keluarga itu atas didikan Sang Ibu. Sang Ibu menghidupkan tradisi Jawa, bahkan seperti kerajaan mini di dalam kerajaan. Trisutji diharuskan pakai kain. Kalau hari minggu atau hari libur, ia harus pakai kain kebaya. Ke Eropa saja ia masih pakai kain. Waktu anak-anak, ibunya mengajari mereka berbahasa Jawa dan menulis dengan huruf Jawa. Setiap hari Sabtu, mereka diharuskan menulis surat dalam bahasa Jawa kepada Eyang di Solo.

Ia dan adiknya juga diajari tembang dolanan. Mereka pun main Cublak-cublak Suweng dengan anak-anak pembantu yang dibawa dari Jawa.

Sementara interaksi dengan budaya Melayu juga berlangsung pada saat bersamaan. Hampir setiap hari mereka ke Istana Langkat. Ibunya dianggap seperti anak sendiri oleh Sultan Langkat. Hampir Setiap hari mereka breakfast dengan keluarga Sultan. Maka ia pun sering dengar Serampang Duabelas dan musik Melayu. Kalau ada tamu, mereka pakai musik Melayu yang dimainkan dengan biola dan akordeon.

Titi menikah dengan arsitek Ir A Badawi Kamal, anggota keluarga Kamal, pemilik Kamal Furniture, Jakarta, yang memberinya tiga anak: Mahendra (47), Mahendrani atau Rani (45), dan Paramagita atau Gita (44). Dua di antaranya ada yang mengikuti jejak ibunya di bidang musik, yaitu Rani dan Gita. ►e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

C © updated 20082006
► e-ti/kps
Nama:
Alfred Simanjuntak
Lahir:
Parlombuan, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 8 September 1920
Agama:
Kristen

Pendidikan:
- Holands Inlandse School, Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara, 1928 – 1935
. Holands Inlandse Kweekschool, Surakarta, 1935 – 1941
- Fakultas Sastra UI, MO Bahasa Indonesia, Jakarta, 1950 – 1952
- Rijksuniversiteit Utrecht, Leidse Universiteit, Leiden, Stedelijke, Amsterdam, Nederland, 1954 – 1956
- Dr HC dari Saint John University 10 Februari 2001

Pengalaman:
- Pencipta lagu (Di antaranya Bangun Pemuda Pemudi, Indonesia Bersatulah dan Negara Pancasila)
- Guru di BPK PENABUR, TKK Gading Serpong, TKK 4, TKK 10 dan TKK 11
- Wartawan surat kabar “Sumber” di Jakarta, 1946 – 1949
- Pendiri Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, Jakarta, 1950 dan sempat menjadi pimpinannya.
- Tahun 1967 turut mendirikan Yayasan Musik Gereja (Yamuger)
- Tahun 1985 memprakarsai Pesta Paduan Suara Rohani (Pesparani).

ALFRED HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Alfred Simanjuntak

Bangun Pemudi Pemuda

Namanya terukir sebagai pencipta lagu nasional ‘Bangun Pemudi Pemuda’. Judul lagu itu tampaknya selalu menjadi obsesi pria suku Batak kelahiran Parlombuan, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 8 September 1920 itu. Hal itu setidaknya tercermin dari Karya Paparnya berjudul Membangun Manusia Pembangunan, saat menerima gelar Doctor Honoris Causa (DR. HC) atas pengabdiannya selama 60 tahun di bidang pendidikan dari Saint John University, 10 Februari 2001 di Jakarta.
Alfred Simanjuntak, seorang pencipta lagu yang berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. Saat menulis lagu Bangun Pemuda-Pemudi tersebut dia berusia 23 tahun (1943) dan bekerja sebagai guru Sekolah Rakyat Sempurna Indonesia di Semarang. Sebuah sekolah dengan dasar jiwa patriotisme yang didirikan oleh sejumlah tokoh nasionalis seperti Dr Bahder Djohan, Mr Wongsonegoro, dan Parada Harahap.
Obsesi kemerdekaan negeri dan membangun pemuda-pemudi Indonesia itu terus memenuhi benaknya hingga suatu kali saat sedang mandi Alfred terinspirasi menulis syair lagu itu. Kala itu dia seperti mendengar suara-suara melodi di telinganya. “Tuhan memberikan lagu ke kuping saya selagi lagi mandi. Saya cepat-cepat mandi, lalu saya tulis segera,” kisahnya.
Lagu Bangun Pemudi Pemuda itu digubahnya dalam suasana batin seorang anak muda yang gundah di negeri yang sedang terjajah. “Rasa ingin merdeka kuat sekali di kalangan anak muda saat itu. Kalau ketemu kawan, kami saling berucap salam merdeka!” tutur Alfred Simanjuntak di rumahnya di kawasan Bintaro, Tangerang, Banten.
Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwanya. Sebab, gara-gara lagu yang dinilai sangat patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai, polisi militer Jepang untuk dihabisi.
Hingga saat ini, lagu itu masih tetap dikumandangkan, termasuk pada setiap perayaan Kemerdekaan RI 17 Agustus. Bahkan Band Cokelat pada album Untukmu Indonesia-ku juga merilis lagu itu. Juga oleh Paduan Suara Anak-anak Surya dalam album Kumpulan Lagu Wajib Indonesia Raya.

Alfred di masa kecil, hidup bersahaja tapi bahagia. Dia putera pasangan Guru Lamsana Simanjuntak-Kornelia Silitonga, delapan bersaudara. Dia mengenang saat makan nasi, daun singkong, dengan lauk ikan asin sebesar jari. Namun dia tetap mensyukuri ikan asin yang cuma seujung jari itu. Keluarga itu tetap hidup dalam sukacita.

Sukacita itu tercermin dari kegemarannya bernyanyi. Alfred sering tampil bernyanyi di acara Natal sejak duduk di Hollands Inlandsche School (HIS) di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara. Kemudian kemahiran musik Alfred berkembang ketika dia belajar di Hollands Inlandsche Kweek School atau semacam sekolah guru atas di Margoyudan, Solo, Jawa Tengah, 1935-1942.

Di sekolah itu jiwa nasionalisme Alfred menguat. Sebab di sekolah itu dia berkumpul dengan kawan-kawan dari berbagai daerah, suku dan budaya, seperti Manado, Ambon, Batak dan Jawa. “Rasa percaya diri kami sebagai satu bangsa sudah tertanam kuat,” kenang Alfred, yang akrab dipanggil Pak Siman dan fasih berbahasa Jawa.
Kemudian tahun 1950 – 1952, Alfred melanjut ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia, MO Bahasa Indonesia, Jakarta. Lalu tahun 1954 – 1956 berturut-turut melanjutkan belajar di Rijksuniversiteit Utrecht, Leidse Universiteit, Leiden, Stedelijke, Amsterdam, Nederland.

Pada tahun 1946-1949, dia sempat menjadi wartawan surat kabar “Sumber” di Jakarta. Sejak tahun 1950, ia bekerja penuh di Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, Jakarta, dan sempat menjadi pimpinannya. Akan tetapi, dia tetap aktif di musik. Tahun 1967 turut mendirikan Yayasan Musik Gereja (Yamuger) dan tahun 1985 memprakarsai Pesta Paduan Suara Rohani (Pesparani).
Dia juga juga terus menulis lagu. Pada tahun 1980, dia menulis lagu Negara Pancasila. Belakangan dia diminta Gus Dur menggubah Himne Partai Kebangkitan Bangsa. Selain itu, Alfred juga banyak mencipta lagu rohani. Bahkan dia pernah menulis lagu dalam irama dangdut, Terumbu Karang atas permintaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang akan disosialisasikan kepada masyarakat di kawasan pesisir Riau, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua.
Alfred kini telah menjadi ompung (kakek) dari 11 cucu yang lahir dari empat anaknya, yaitu Aida, Toga, Dorothea, dan John. Putri sulungnya, Aida Swenson-Simanjuntak, dikenal sebagai penggiat kelompok Paduan Suara Anak Indonesia.  ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

================================================

Alfred Simanjuntak

Membangun Manusia Pembangunan

CATATAN REDAKSI: Pada 10 Februari 2001, Alfred Simanjuntak menerima gelas Doctor HC dari Saint John University, dengan Karya Papar berjudul MEMBANGUN MANUSIA PEMBANGUN. Berikut ini naskah elngkap karya papar Alfred Simanjuntak tersebut.

=================================================

Bangun Pemudi Pemuda
Ciptaan: A. Simanjuntak

Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

C © updated 29102006
► e-ti
Nama:
EMHA AINUN NAJIB
Lahir:
Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953
Agama:
Islam
Isteri:
Novia Kolopaking

Pendidikan:
- SD, Jombang (1965)
- SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968)
- SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971)
- Pondok Pesantren Modern Gontor
- FE di Fakultas Filsafat UGM (tidak tamat)

Karir:
- Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970)
- Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976)
- Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta)
- Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng
- Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media

Karya Seni Teater:
• Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan ‘Raja’ Soeharto),
• Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan),
• Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern),
• Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
• Santri-Santri Khidhir (1990, bersama Teater Salahudin di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun),
• Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar),
• Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
• Perahu Retak (1992).

Buku Puisi:
• “M” Frustasi (1976),
• Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),
• Sajak-Sajak Cinta (1978),
• Nyanyian Gelandangan (1982),
• 99 Untuk Tuhanku (1983),
• Suluk Pesisiran (1989),
• Lautan Jilbab (1989),
• Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),
• Cahaya Maha Cahaya (1991),
• Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),
• Abacadabra (1994),
• Syair Amaul Husna (1994)

Buku Essai:
• Dari Pojok Sejarah (1985),
• Sastra Yang Membebaskan (1985)
• Secangkir Kopi Jon Pakir (1990),
• Markesot Bertutur (1993),
• Markesot Bertutur Lagi (1994),
• Opini Plesetan (1996),
• Gerakan Punakawan (1994),
• Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996),
• Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994),
• Slilit Sang Kiai (1991),
• Sudrun Gugat (1994),
• Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995),
• Bola- Bola Kultural (1996),
• Budaya Tanding (1995),
• Titik Nadir Demokrasi (1995),
• Tuhanpun Berpuasa (1996),
• Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997)
• Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997)
• Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997),
• 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998),
• Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998)
• Kiai Kocar Kacir (1998)
• Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998)
• Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999)
• Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000),
• Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000),
• Menelusuri Titik Keimanan (2001),
• Hikmah Puasa 1 & 2 (2001),
• Segitiga Cinta (2001),
• “Kitab Ketentraman” (2001),
• “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001),
• “Tahajjud Cinta” (2003),
• “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003),
• Folklore Madura (2005),
• Puasa ya Puasa (2005),
• Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara),
• Kafir Liberal (2006)
• Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006)

Alamat Rumah:
Jalan Kadipaten Wetan K-11 Yogyakarta

Alamat Kantor:
Dewan Kesenian Daerah Istimewa Yogyakarta

CAK NUN HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Emha Ainun Nadjib

Kyai Kanjeng Sang Pelayan

Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik Kyai Kanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu.
Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti — yang berpangkalan di rumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu dua kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga menjadi kolumnis.

Dia anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat.

Lima tahun (1970-1975) hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra dari guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha berikutnya.

Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.

Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Karya Seni Teater
Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama. Di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan ‘Raja’ Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).

Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).

Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan.

Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah menerbitkan 16 buku puisi: “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna (1994)

Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997);

Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab Ketentraman” (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001); “Tahajjud Cinta” (2003); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003); Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara); Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).

Pluralisme
Cak Nun bersama Grup Musik Kiai Kanjeng dengan balutan busana serba putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kuat dengan iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di sekitar panggung Masjid Cut Meutia. Setelah shalat tarawih terdiam, lalu sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair, “Sholatullah salamullah/ ’Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/ Sholatullah salamullah/ ’Ala yaasin Habibillah/ ’Ala yaasin Habibillah…”

Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan. “Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat,” ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah masjid.

Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu (14/10/2006) malam, itu ia melakukan hal-hal yang kontroversial. Dalam berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme.

“Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2007 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
C © updated 29102006-18082004
► e-ti
Nama:
Nortier Simanungkalit
Lahir:
Tarutung, 17 Desember 1929
Isteri:
Sri Sugiarti boru Simorangkir
Anak:
- Meirana Sinamungkalit
- Eldira Roselita Simanungkali
- Ilmiata Herriati Simanungkalit

Pendidikan:
- Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Profesi:
Komponis

Karya:
- Lebih 150 komposisi himne dan mars

NORTIER HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Nortier Simanungkalit

Maestro Mars dan Himne

Nortier Simanungkalit seorang maestro Indonesia. Komponis lulusan Pedagogi UGM itu telah mencipta lebih 150 komposisi musik yang semuanya berupa mars dan himne. Maestro kelahiran Tarutung, 17 Desember 1929 yang juga mantan Komandan Tentara Pelajar Sub-Teritorial VII Sumatera Utara, itu menekuni musik sejak berusia 19 tahun. karya pertamanya sebuah lagu seriosa Sekuntum Bunga.

Hidup Nortier Simanungkalit teratur seperti lagu-lagu mars dan himne ciptaannya. Delapan jam istirahat, delapan jam santai. Sisanya, berkarya. Hasilnya, meski Desember nanti akan memasuki usia 77 tahun, ia masih segar bugar dan menghasilkan lagu. Bahkan dia sedang mempersiapkan proposal akademis untuk mendapatkan gelar doktor honoris causa.

Mars dan himne menjadi identitas pria kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, 17 Desember 1929, itu. Pembaca pasti masih ingat denting piano pada intro lagu Senam Kesegaran Jasmani pada 1980-an. Kalau partiturnya masih ada, di bawah judul mars tadi pasti tertulis nama N. Simanungkalit.

Di luar dua komposisi itu, masih ada ratusan, tepatnya 268, komposisi lain yang sudah dihasilkannya. Seluruhnya diciptakan ompung empat cucu itu sejak ia remaja, pada 1950-an. Sayang, pria yang tak punya latar belakang pendidikan khusus musik ini lupa judul mars perdananya.

Tapi untuk debutnya di luar mars dan himne, ia ingat betul. “Sekuntum Bunga di Taman,” kata suami Sri Sugiarti boru Simorangkir itu. Lagu itu berirama pop. Ditulis ketika Simanungkalit baru satu semester menuntut ilmu di Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Semangat mencipta lagunya makin menggebu ketika Sekuntum diputar RRI Yogyakarta. Lewat stasiun radio itu pula, guru seni suara sebuah SMA di Yogyakarta (1957-1964) itu mendengar siaran musik klasik kesukaannya. Kalau akhirnya ia lebih terpikat pada mars, tak lain karena menurut dia, “Mars adalah induk seluruh lagu.”

Karya cipta Simanungkalit tersebar sampai ke “negeri Paman Sam”. Lewat Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, Palang Merah Amerika memesan sebuah himne dari dia pada 1999. Sebulan penuh dihabiskan Simanungkalit sebelum mendapatkan komposisi yang pas. Untuk keberhasilannya, ia mendapat medali jenis Special Recognition dari Palang Merah Amerika.

Itu bukan pengalaman pertamanya dengan negeri Paman Sam. Pada 1972, Simanungkalit pernah bersantap siang dengan Presiden Richard Nixon. Ia berada di Amerika Serikat dalam rangka menjadi juri Festival Paduan Suara Mahasiswa Internasional. Kiprah dosen kor Akademi Musik Indonesia Yogyakarta (1964-1966) itu di pentas internasional tak sebatas menjadi juri. Selama periode 1968-1981, ia menjadi anggota International Music Council UNESCO.

Ada yang tak biasa dari Simanungkalit. Bila biasanya seorang komposer membangun sebuah komposisi lewat alat musik yang dikuasainya, tak demikian dengan komposer yang satu ini. Ia lebih sering membayangkannya terlebih dulu. Lalu nada-nada yang terlintas di kepala dituangkan ke atas secarik kertas. Biasanya, sebagian besar dari komposisi tadi sudah tercipta di luar kepala.

Untuk mendapatkan harmonisasi, atau agar tahu komposisi itu secara utuh, Simanungkalit menggunakan jasa orang lain. Misalnya saat mencipta Mars Pemilu 2004, ia menggunakan jasa seorang pianis di studio Monang Sianipar, Jakarta. “Di situlah kekuatan imajinasi dan seni,” kata bapak tiga anak itu.

Simanungkalit memperhatikan betul keselarasan lirik, yang senantiasa filosofis, dengan lagu ciptaannya. Empat unsur penting selalu diupayakan ada dalam tiap ciptaannya. Yaitu melodi, harmoni, ritme, dan timbre. Kehati-hatian itulah yang membuat penerima penghargaan Lifetime Achievement dari Koalisi Media KPU dan SCTV itu enggan mengikuti lomba bila jurinya bukan maestro musik atau seorang musikolog.

Sebelum mencipta lagu, mantan anggota MPR-RI (1987-1992) itu selalu menjalani ritualnya: berdoa. “Tuntunlah saya supaya berhasil membahagiakan orang yang menerima lagu ini,” kata Simanungkalit, menirukan doanya. Setelah itu, ia melakukan perenungan. Kadang lirik yang lebih dulu muncul, baru lagu. Kadang sebaliknya. Inspirasi didapatnya dari sembarang tempat.

Ketika membuat mars dan himne SEA Games, yang dipesan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Ketua KONI saat itu, ia mendapat idenya di atas bus kota. Tak tanggung-tanggung, ia mendapat dua lagu sekaligus dalam 30 menit perjalanan. “Lagunya khas Jawa. Laras pelog untuk mars, selendro buat himne,” kata penerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II itu. Mulai pukul dua siang sampai pukul 10 keesokan harinya, Simanungkalit mengutak-atik lagu tadi. “Sampai pegal tangan saya,” katanya. ►e-ti/Carry Nadeak dan Rachmat Hidayat [Musik, GATRA, Edisi 23 Beredar Jumat 16 April 2004]

e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

C © updated 24122006
► e-ti/kompas
Nama:
Maya Tamara Sianturi, LRAD, ARAD
Lahir:
Jakarta, 1 Oktober 1960
Suami:
Serano Sianturi
Anak:
- Ginastera Sianturi
- Kanumara Sianturi
Ayah:
RB Sugiri
Ibu:
Nanny Anastasia Lubis

Jabatan/Profesi:
Pimpinan dan Direktur Artistik Namarina

Pendidikan:
- Royal Academy of Dance, London, Inggris (1976-1981)

Sertifikat:
- Royal Academy of Dance, Singapura
- Imperial Society of Teacher of Dancing
- Advanced Royal Academy of Dance
- Licensed Royal Academy of Dance, diploma guru tari
- Associate of the Imperial Society of Teachers of Dancing

Beberapa karya tari:
- Time, Space & Ability
- Off Broadway
- Dance, Color & Music
- The Art of Dance
- Asmara Dhahana
- Nyi Endit
- Boru Hasian

Kantor:
Jalan Halimun, Jakarta Selatan

MAYA TAMARA HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Maya Tamara

Generasi Kedua Namarina

Maya Tamara, generasi kedua dari Namarina, sekolah balet dan senam terkemuka di Indonesia. Sejak 1993 dia memimpin Namarina yang didirikan ibunya, Nanny Anastasia Lubis (almarhumah 1926-1993), pada 30 Desember 1956. Untuk merayakan usia setengah abad Namarina, diadakan pertunjukan bertema Pointe of No Return di Gedung Kesenian Jakarta, 30 Desember 2006 dan 20-21 Januari 2007.

Menurut Maya Tamara, Pimpinan dan Direktur Artistik Namarina, Pointe of No Return menggambarkan perjalanan NAMARINA 50 tahun dalam 3 rentang waktu : THE BEGINNING – THE GROWTH – THE FUTURE. Repertoar ini berkolaborasi dengan iringan piano ‘ duo Iravati & Aisha-YPM’ serta ‘Indonesian Traditional Music Performance oleh Irwansyah Harahap-SUARASAMA’, dan kostum yang di desain oleh Ary Seputra

Dijelaskan, tema Pointe of No Return dipilih sebagai penegasan bahwa Namarina akan terus menggeluti dunia pendidikan tari yang didirikan ibundanya itu. Waktu itu Namarina tidak menggunakan sebutan balet atau senam, tetapi gerak badan. Kini Namarina menjadi pusat latihan balet-jazz-fitness.

“Waktu pertama berdiri muridnya cuma lima, terus sepuluh orang, terus jadi ribuan. Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno, pernah ikut berlatih senam di Namarina,” kata Maya Tamara, yang sejak tahun 1993 menjadi Pimpinan dan Direktur Artistik Namarina.

Berikut ini penuturan Maya sebagaimana dipublikasikan Kompas pada Rubrik Pesona, Minggu, 24 Desember 2006:

Apa arti 50 tahun bagi Namarina?

Saya merinding mendengar 50 tahun ini. Kok bisa bertahan selama itu. Kami berintrospeksi. Sudah banyak yang kita lakukan, tapi banyak juga kekurangan. Yang kami anggap kekurangan itu akan menjadi sebuah pengalaman yang nantinya bisa menjadi kekuatan.

Ini perjuangan almarhumah mami, Ibu Nanny (Lubis). Mami orangnya kenceng, tegas, tapi tidak bikin orang sakit hati. Tanpa mami, Namarina gak bakalan ada 50 tahun ini. Kami anak didik yang berusaha terusin.

Sejak kapan terlibat menangani Namarina?

Saya menjadi artistic director tahun 1985. Itu empat tahun setelah saya pulang sekolah dari Royal Academy of Dance, London, tahun 1981. Sebelumnya, tahun 1981-1985, saya menjadi tenaga pengajar. Itu pun saya belum boleh pegang senam, cuma balet.

Saya sama sekali tidak dilibatkan di manajemen. Begitu beliau meninggal, waduh! Kelabakan juga saya. Jadi, sebelumnya tidak pernah ada persiapan transisi manajemen dari mami ke saya. Tapi secara ilmu dan teknik menangani murid, ya saya belajar dari apa yang pernah mami lakukan.

Bagaimana saat pertama kali memegang Namarina?

Pada awalnya ada yang underestimate saya. Mami meninggal dunia tahun 1993 itu tiba-tiba. Bulan Mei masuk rumah sakit, awalnya dikira saraf, gak taunya kanker lever. Sejak itu mami tidak pernah keluar rumah sakit lagi, sampai meninggal bulan Agustus pada usia 67 tahun.

Waktu mami sakit, saya gak berani nanya-nanya soal kelangsungan Namarina. Akhirnya saya belajar dari meja mami. Saya pelajari kertas-kertas yang ditinggalkan beliau. Dari situ saya tahu bagaimana me-manage ini, sampai ke masalah gaji pegawai. Dulunya saya sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam hal-hal seperti itu.

Untungnya saya termasuk orang yang cepat belajar. Saya mungkin juga punya sense of management yang baik. Jadi dalam waktu enam bulan sudah bisa mengatasi semuanya. Tapi dalam enam bulan pertama ya struggle banget.

Anda mengajar dengan gaya Ibu Nanny?

Saya gak bisa sekeras mami, karena itu bukan tipe saya sih. Anak-anak generasi sekarang juga tidak bisa diperlakukan seperti itu. Orangtua juga suka campur tangan. Balet kan penuh disiplin, harus dilakukan sesuai aturan. Tapi orangtua kemudian belain anak. Lama-kelamaan kita harus menyesuaikan juga. Tapi, untuk yang prinsip-prinsip saya tidak akan langgar.

Balet Indonesia

Maya Tamara belajar di Royal Academy of Dance, London, Inggris, pada 1976-1981. Ia mendapat diploma sebagai guru tari Licensed Royal Academy of Dance (LRAD). Sebagai semacam pelatihan kerja, Maya sempat mengajar balet untuk anak-anak di London.

Apa kelebihan orang Asia dalam balet dibanding pebalet Eropa?

Kita orang Asia ini dikaruniai musikalitas lebih dibanding orang Barat. Dan itu jadi plus point saya waktu di college dulu. Anak-anak kecil di sana (Inggris) beda dengan anak-anak di sini. Anak-anak kita itu lebih talented, lebih cepat menerima pelajaran, dan lebih luwes.

Kelemahan orang kita untuk balet itu di postur tubuh. Balet kan asalnya dari Eropa, Perancis. Badan bule lebih nguntungin untuk belajar balet. Terus ada incep, otot di kaki yang pada posisi pointe akan berbentuk melengkung atau arch. Di kita, untuk memunculkan bentuk otot seperti itu harus dilatih. Mungkin karena kita dari kecil jarang pake sepatu. Maka kaki kita kebanyakan flat, tidak ada arch-nya. Itu unsur penting, karena yang punya bentuk kaki seperti itu sudah punya nilai tambah ketimbang yang harus melatihnya dulu.

Jadi soal fisik?

Karena keturunan, orang- orang kita berat pada lower body, bagian pinggul sampai paha. Apalagi anak-anak sekarang. Enggak tahu apa saja yang mereka makan…. Makanya saya waktu mau membentuk Namarina Youth Dance sudah keras sekali ke anak-anak. Kalau tidak mau menurunkan berat badan ya susah, karena kita mau go professional.

Dengan kondisi postur itu, apakah tidak ada penyesuaian?

Harus ada! Kami memberi latihan-latihan yang lebih intensif untuk mencapai postur, kekuatan otot, dan pointe kaki yang diinginkan. Gerakan-gerakannya juga banyak dimodifikasi.

Apakah anak-anak tidak tersiksa berlatih?

Memang pada awalnya pasti merasa tersiksa untuk melakukan gerakan-gerakan yang sulit. Tapi bagi yang sudah latihan lama, sudah tahu pakemnya, tahu cara geraknya, mereka sudah bisa lepas, kayak ada magnetnya.

Pada akhirnya orang-orang kita yang berlatih ekstra keras itu justru memiliki kelebihan dibanding para penari balet di Eropa. Lebih ulet, lebih disiplin. Balet kan harus dimulai dari kecil, dari lima tahun. Terus harus ada passion (hasrat kuat). Kalau gak ada passion, gak bakalan bisa deh.

Ada balet yang lebih pas untuk penari Asia?

Ke depan pengin menampilkan bentuk balet Indonesia. Saya kemarin nonton balet Filipina. Kalau biasanya balet itu sangat Barat, yang ini terasa Filipina-nya. Mungkin itu dari muka dan postur tubuh mereka. Terus ada permainan tradisional pakai bambu, dimasukkan dalam balet.

Balet Indonesia bisa ditampilkan tidak hanya dari gerak, tapi bisa dari kostum, musik, gerak kombinasi yang diperkaya dari tari tradisi. Tapi akarnya tetap balet. Jadi orang melihat itu tetap balet.

Dulu Mbak Fari (Farida Oetoyo) dan Julianti Parani juga pernah mencoba membuat balet Indonesia ini. Saya lihat kok sekarang enggak diterusin. Mungkin kendalanya ya sama kayak yang saya hadapi, yaitu dana.

“Dance company”

Maya dan Namarina akan meresmikan Namarina Youth Dance (NYD). Ini semacam kelompok balet semiprofesional.

Mengapa Namarina tidak menjadi dance company?

Saya sudah kepengin banget punya dance company. Itu dari zaman saya pulang sekolah dari London dulu. Suatu saat saya mesti punya. Tidak harus sayalah, tetapi Indonesia harus punya.

Di masa Nanny Lubis itu pernah terpikir?

Dulu saya pernah menyampaikan keinginan membuat dance company ke mami, tetapi mami gak ada keinginan ke situ. Mami is a real teacher. Kalau saya lebih banyak maunya. Mungkin karena lebih muda, he-he-he.

NYD mengarah ke dance company?

Di sini saya ingin siapkan secuil murid saya, untuk dididik seni tari agar suatu saat nanti bisa punya dance company yang profesional, bukan sekadar penari cabutan. Maka saya pilih 17 penari dan akan saya kelola dengan baik. Manajemennya juga profesional. Tapi saya gak mau langsung memproklamirkan ini sudah profesional. Saya maunya semiprofesional dulu.

Mengapa?

Kami masih kesulitan dana. Pemerintah kita dan perusahaan belum berminat ke sini (tari). Coba saja lihat di Singapura, punya Singapore Dance Theater dan disponsori perusahaan-perusahaan besar seperti UOB dan SingTel. Karena mungkin menteri kebudayaannya juga men-support, jadi perusahaannya juga tertarik. Yah, semuanya memang saling terkait sih. Kalau pemerintah saja tidak tertarik seni, ya mau bagaimana.

Bagaimana soal teknik dan artistik?

Kami ada kendala untuk mendidik gereget atau roh para penarinya. Teknik sudah mulai bagus. Gak malu-maluin amatlah. Tapi teknik saja gak cukup kan? Penari harus punya passion dan itu harus saya ajarin setengah mati. Kita harus ajari mereka menjadi penari profesional.

Masa depan

Namarina: Ballet-Jazz-Fitness kini mempunyai sekitar 2.000 murid untuk kelas balet, senam, dan senam jazz. Murid balet berjumlah 1.200. Mereka tersebar di enam tempat, yaitu di kantor pusat Jalan Halimun, Jakarta Selatan, dan di cabang Kebayoran Baru, Grogol, Tebet, Pondok Gede, dan Bintaro. Usia peserta mulai 3 tahun sampai 82 tahun. “Yang usia 82 itu ibu-ibu yang ikut kelas senam. Bukan balet,” kata Maya.

Apakah masih ada orangtua yang menyekolahkan anaknya balet hanya sekadar demi prestise?

Masih. Tapi dari yang sekadar prestise seperti itu, kadang malah ada anak yang memang berbakat dan bisa jadi bagus. Banyak juga anak-anak yang enggak tahu apa itu balet. Tapi sekarang dengan ada promosi visual, seperti produsen boneka Barbie yang mengeluarkan seri bertema balet, seperti 12 Dancing Princess, Swan Lake, Nutcracker, jadi anak-anak sekarang sudah banyak yang ingin belajar balet karena sudah melihat bentuk visualnya itu. Ada juga ambisi orangtua pengin balet, tapi gak kesampaian, terus nyuruh anaknya balet.

Gimana Namarina ke depan?

Saya pengin Namarina bisa langgeng. Saya tidak punya anak perempuan, jadi saya pengin menjalani ini secara profesional saja. Siapa nanti yang akan menggantikan saya, ya biarkan melalui proses profesional saja. Mungkin lebih baik begitu daripada menjadi perusahaan keluarga. Belum tentu ada keluarga saya yang mau meneruskan. Saya sudah mulai ngeker-ngeker (meneropong) siapa yang kira-kira bisa melanjutkan.

Bagaimana mempertahankan nama besar Namarina?

Manajemen harus dikelola dengan baik. Peraturan dipegang teguh, pasti ke bawah akan lebih mudah. Harus ada standar dalam mendidik murid-murid di Namarina ini. Ke depan, saya harus lebih menguatkan manajemen.

Ada sejumlah kepala bidang yang saya latih langsung supaya memiliki artistic feeling mendekati saya. Sampai sekarang saya belum berani memberikan posisi artistic director ke salah satu dari mereka. Karena seorang artistic director harus memiliki wawasan yang lebih luas, tidak hanya soal tari saja, tetapi juga memahami panggung, lighting, dan kostum.

Soal mengajar dan koreografi, saya kira sudah bisa saya lepas, tetapi untuk artistic director harus pelan-pelan. Saya sendiri sebenarnya masih pengin banget bisa mencipta sebuah koreografi baru, tetapi karena ini acara 50 tahun yang sangat penting, saya menahan diri dulu untuk tidak ikut dalam proses kreatif bikin koreografi.

Urusan manajemen tidak menyita energi kreatif dan artistik Anda?

Jelas terganggu. Dulu waktu masih ada mami, saya lebih bisa membuat koreografi dengan tenang. Kalau sekarang harus membagi waktu untuk memeriksa pekerjaan-pekerjaan manajemen.

Makanya saya sudah mulai mendidik koreografer residen. Kini mereka sudah saya percaya penuh untuk membuat koreografi satu pentas utuh. Dulunya saya bagi-bagi, kalau satu pentas ada tiga babak, paling-paling saya kasih koreografi yang kecil-kecil dulu. Lama-lama nambah, dan sekarang mereka sudah bisa sendiri, bahkan sudah bisa lebih bagus dari saya.

Masih menari dan mencipta?

Saya terakhir kali menari di pentas tahun 1986. Sampai sekarang sih masih ngajar senam, karena senam sekarang kan sudah senam seni. Kalau tari sebagai ekspresi, saat sendirian mendengar musik Vivaldi, misalnya, kadang-kadang terinspirasi, yang saya catat jadi sebuah movement pendek, terus saya simpan. Siapa tahu nantinya bisa jadi bagian dari koreografi. (Dahono Fitrianto dan Frans Sartono, Kompas 24 Desember 2006)e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

C © updated 23122006
► e-ti
Nama:
NANNY ANISTASIA LUBIS
Lahir:
Tegal, Jawa Tengah, 24 November 1926
Meninggal:
1993
Suami:
RB Sugiri, (Nikah,1951)
Anak:
Tiga orang

Pendidikan:
-Eerste Lagere School, Jakarta (1939)
-SMP, Jakarta (1942)
-SMA, Jakarta (1945)
-Teachers Training Course Ballet & Gymnastics, Hamburg, Jerman Barat

Karir:
-Sukarelawati PMI (1949)
-Penyiar RRI Jakarta (1946-1956)
-Pemimpin Grup Senam & Balet Namarina (sejak 1956)

Alamat Rumah Kel:
Jalan Cimahi 18, Jakarta Pusat Telp: 351437

NANNY LUBIS HOME
► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

► Selamat Datang di Plasa Web Tokoh Indonesia ► Kondominium Online Para Tokoh Indonesia  ►

Nanny Anastasia Lubis

Pendiri Sekolah Tari Namarina

Nanny Anastasia Lubis, puteri Batak kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 24 November 1926, pendiri sekolah tari (balet dan senam) terkemuka di Indonesia, Namarina (30 Desember 1956). Dia memimpin Namarina sampai akhir hayatnya, 1993. Kemudian puterinya, Maya Tamara, mengambilalih tongkat estafet kepemimpinan Namarina.

Pada mulanya, Nanny mendirikan dan mengelola Namarina Dancing di bawah Yayasan Namarina, yang didirikannya. Namun, yayasan itu kemudian diubahnya menjadi usaha perorangan. Sebab, sekolah yang dikelola yayasan ternyata sulit, karena pengurusnya lebih dari seorang.

Nanny, anak kedua dari tiga bersaudara, ini menggunakan nama Namarina, yang diambil dari bahasa Tapanuli, (arti harfiah: yang beribu) bermakna ”dipersembahkan kepada ibunda”. Walaupun pada mulanya sang ibu tidak senang Nanny aktif dalam olahraga dan tari. Tapi dia merasa dukungan dan jasa ibunya sangat besar dalam perjalanan hidupnya.

Nanny sudah gemar menari sejak  usia 12 tahun (1938). Dia sering mengunci diri latihan tari secara diam-diam di depan cermin, setelah pulang sekolah. Apalagi pada saat menjelang pesta kenaikan kelas di sekolahnya Eerste Europese Lagere School, Jakarta. Penontonnya kebanyakan orang Belanda.

Suatu ketika seorang penonton Belanda itu mengumpat, ”Lho, ada orang hitam turut menari? Tapi, koq paling bagus?” Mendengar hal itu, Nanny dongkol meski di sisi lain ada rasa senang mendapat pujian. Hal itu, membuat Nanny semakin giat berlatih.

Kemduian, tahun 1954, atas dukungan orangtuanya, Nanny belajar di Teachers Training Courses Ballet & Gymnastics, Hamburg, Jerman Barat. Kemudian ke Singapura, Jepang, dan Inggris. Sepulang dari negara-negara itulah dia mendirikan Namarina, di Jalan Cimahi 18, Jakarta.

Sejak didirikan, nama Namarina langsung melejit. Namarina juga mengajar aerobik disko, dengan gerak-gerak yang diciptakan sendiri. Hampir setiap tahun mementaskan karya-karyanya di beberapa kota, terutama Jakarta dan Bandung. Bahkan sejak 1981, Maya Tamara, putri bungsunya, lulusan London, 1980, pun bergabung menjadi pimpinan artistik. Sejak itu, semua ciptaannya di bawah pengawasan Maya

Dalam rangka setenga abad Namarina, Maya menyelenggarakan pertunjukan bertema Pointe of No Return di Gedung Kesenian Jakarta, 30 Desember 2006 dan 20-21 Januari 2007.

Menurut Maya Tamara, Pimpinan dan Direktur Artistik Namarina, Pointe of No Return menggambarkan perjalanan NAMARINA 50 tahun dalam 3 rentang waktu : THE BEGINNING – THE GROWTH – THE FUTURE. Repertoar ini berkolaborasi dengan iringan piano ‘ duo Iravati & Aisha-YPM’ serta ‘Indonesian Traditional Music Performance oleh Irwansyah Harahap-SUARASAMA’, dan kostum yang di desain oleh Ary Seputra. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

About these ads
Explore posts in the same categories: Teater

2 Komentar pada “TOKOH-TOKOH SENI DAN BUDAYA”


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: