“ SENI VS AGAMA, Terjebak Oleh Kepentingan-Kepentingan Tertentu “


By Yohanes Carlos

Latar belakang

Dunia seni tanah air akhir – akhir ini banyak mendapat cobaan. Mulai dari klaim negara lain terhadap kepemilikan salah- satu seni tradisi Indonesia, penghentian proses syuting sebuah film karena diangap berbau komunis, hingga aksi pencekalan terhadap para penyanyi dangdut. Beberapa rentetan peristiwa- peristiwa tersebut secara tidak langsung membawa dunia seni kepada suatu pandangan yang buruk di mata masyarakat.

Dengan cara pandang yang buruk terhadap dunia seni, akhirnya apresiasi masyarakat kepada dunia seni bukan lagi dalam perpekif seni melainkan dalam perspektif agama  atau moralitas. Dan hal ini terus berlanjut, semula pandangan yang buruk ini hanyalah sebuah kecurigaan, sekarang telah berkembang menjadi “ tuduhan “, bahwa seni cendrung bersebrangan dengan moralitas keagamaan. Hal tersebut di perparah lagi dengan masuknya kaum bermodal atau kapitalisme ke dalam dunia seni, bagi mereka ( kaum kapital ) “erotisme “ merupakan instrument yang paling penting dalam sebuah karya seni, karena memiliki nilai jual yang tinggi. Contoh kasus yang paling konkrit yaitu, perselisihan antara Rhoma Irama dan Inul, atau aksi penolakan terhadap Dewi Persik, yang merupakan  akibat dari “ goyangan “ kedua penyanyi tersebut,   dan oleh orang agamawan tarian tersebut dianggap perbuatan yang ingin mengumbar aurat.

Semua kasus – kasus yang terjadi diatas, akhirnya membawa atau menimbulkan sebuah permasalahan diantara dunia seni dan agama.  Seni dan agama akhirnya dianggap tidak sejalan atau dua hal yang saling bertolak belakang dan harus dipisahkan.  Berdasarkan permasalahan – permasalahan diatas saya mencoba menulis tentang Seni dan Agama . Apakah seni itu adalah sebuah kesalahan, ataukah ada kepentingan –  kepentingan lain di luar dunia seni, yang akhirnya berdampak pada seni itu sendiri.

Pembahasan

Terjadinya aksi pencekalan terhadap beberapa konser dangdut merupakan contoh kecil bagaimana dunia seni dianggap buruk atau tidak sejalan dengan pandangan agama. Semuanya jika dlihat lebih dalam lagi, bukan kesalahan seni itu sendiri . Dalam perspektif agama “ goyangan “ Inul dan Dewi persik saat di atas panggung sama saja dengan mengumbar aurat, akan tetapi dalam dunia seni tidak di kenal kata aurat, yang ada hanyalah sebuah estetika. Tubuh manusia secara keseluruhan merupakan sumber inspirasi artistik, seperti halnya keseluruhan alam semesta. Apa yang tampak adalah lukisan, apa yang terdengar adalah musik dan nyanyian, semua yang begerak dan berubah adalah tarian, semuanya alamiah tak ada yang tabu. Apakah pada saat banjir melanda kota Solo, semua orang akan berbondong – bondong untuk memarahi sungai Bengawan Solo ?  Tentu tidak, karena itu salah manusia. Begitu juga dengan karya seni sebagai perwujudan ekspresi.

Sebenarnya permasalahan tentang seni dan agama merupakan sebuah masalah klasik. Sejak awal kehidupan, kita selalu didampingi oleh unsur seni dan agama. Dalam agama kita percaya bahwa, Tuhan lah yang mencipatakan langit dan bumi , beserta isinya dan proses penciptaan langit dan bumi beserta isinya merupakan sebuah karya seni yang bagi saya tak ada nilainya. Artinya, pada awal kemunculan kehidupan,  seni dan agama berada dalam jalan yag sama, atau saling mengisi. Seperti yang terdapat dalam buku “ MISI MUSIK, Menyembah atau Menghujat Tuhan “  di situ Winnardi Saragih mengatakan bahwa; dalam alkitab tertulis Daud memuji Tuhan dengan kecapinya, bahkan ketika menari, Ia diiringi rebana yang berfungsi memberi ritme gerak. Hal tersebut tentunya memberi bukti bahwa agama dan seni awalnya dua unsur yang saling mengisi dan sejalan.

Dibawah ini merupakan beberapa contoh bagaimana seni dapat menjadi bagian dalam kehidupan beragama, serta seni yang oleh pelakunya juga orang – orang di sekitarnya menjadi bertentangan dengan agama.

–          Seni yang sejalan dengan agama

Beberapa agama dalam proses atau kegiatan beragamanya selalu berhubungan dengan seni, sejauh yang saya tau yaitu, Katolik, Kristen, serta Hindu. Ketiga agama ini pada saat melakukan doa mereka selalu mengunakan media seni yaitu musik, untuk memuja serta mengagung – agungkan Sang Pencipta. Umat Katolik dan Kristen, saat berdoa mereka selalu bernyanyi untuk memuja, bersyukur, meminta permohonan kepada Sang Pencipta dan itu dimulai dari awal hingga akhir. Sedangkan bagi umat Hindu ( khusus masyarakat Bali ) mereka juga selalu mengunakan gamelan dalam upacara – upacara keagamaan mereka. Atau dalam ajaran Islam, bagaimana Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam menggunakan gamelan. Atau contoh lain yang sangat sesuai dengan perkembanga musik saat ini, bagaimana seni musik digunakan oleh berberapa orang untuk memberikan ajaran – ajaran agama, contohnya Opick yang isi lagunya selalu bermuatan agama, atau pun kelompok Nasyd.

–          Seni yang tak sejalan  dengan agama

Dalam buku MISI MUSIK, Menyembah atau Menghujat Tuhan , tulisannya Winnardo Saragih, di dalamnya diungkapkan bahwa, kelompok band Marylin Manson, yang berdiri pada tahun 1990 merupakan kelompok band yang memuja setan. Setiap aksi pangungnya, sang vokalis selau membakar alkitab, menghujat Tuhan, serta pernah memperkosa seorang anak dan menyodomi salah-satu personil bandya, yang tujuannya mengundang para penonton untuk mau menerima setan sebagai Tuhan mereka dan membuang jauh-jauh nama Yesus Kristus. Di samping itu, dalam album mereka yang berjudul Hollywood banyak lirik lagunya yang menghujat Tuhan. Akibat dari lagu – lagu Marylin Manson tersebut, pada tanggal 20 April 1999, terjadi tragedi penembakan di sekolah Coumbine High, Littleton, Colorado. Eric Harris dan Dylan Klebold, dua siswa pengikut Marylin Manson, membunuh belasan teman sekolahnya setalah mendengar lagu – lagu Marylin Manson. Lewat lagu – lagunya ia mengajak para pengikutnya untuk bunuh diri, karena dengan bunuh diri , orang dapat langsung masuk Neraka, tempat paling indah menurut Marylin Manson. Selain group band marylin Manson, masih banyak lagi group band yang membenci kekristenan, contohnya group band Dio lewat lagu serta cover albumnya ia menampilkan setan yang menyiksa seorang pendeta.

Kedua contoh di atas, tentang seni yang sejalan dan seni yang tak sejalan sebenarnya telah membuka mata kita, bahwa seni dan agama merupakan dua unsur yang saling berdampingan. Sejak Tuhan menciptakan Bumi dan isinya sudah terjadi suatu hubungan yang baik antara seni dan agama. Hasrat religi dan hasrat berkesenian merupakan dua hal yang bersumber pada mata air yang sama, yaitu pengalaman terdalam manusia. Oleh karena itu, sejak awal kemunculannya kedua unsur tersebut telah bertemu dan saling melengkapi. Akan tetapi, jika hasrat atau keinginan agama dan seni telah dibungkus oleh pengaruh luar serta sejumlah kepentingan, maka keduanya akan saling bertolak belakang. Dengan demikian yang menghadapkan kedua unsur tersebut dalam posisi yang bertentangan adalah unsur – unsur lain di luar seni dan agama itu sendiri. Contohnya kepentingan kapitalistik, politik, ataupun popularitas yang membuat seni dan agama berada dalam dua garis yang saling berlawanan.

Kesimpulan

Sesunguhnya seni dan agama merupakan dua unsur yang telah mengisi kehidupan manusia sejak awal. Keduanya saling mengisi, serta saling melengkapi. Namun dalam perkembangannya seni digunakan oleh orang- orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan- kepentingan tertentu, sehinnga berimbas pada citra seni itu sendiri. Seni mulai dianggap sesuatu yang jelek untuk perkembangan moralitas agama.

Daftar pustaka

Saragih, winnardo, 2008, MISI MUSIK, MENYEMBAH atau Menghujat Tuhan, ANDI offset, Yogyakarta

Sedyawati, Edi ( editor ) Seni DalamMasyarakat Indonesia, Bunga Rampai, Gramedia, Jakarta.

Explore posts in the same categories: Kritik Seni

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: