Analisis Musikal Kesenian Grasak


By Sukoco

Latar belakang

Kesenian grasak yang dipentaskan di depan kantor Rektorat ISI Surakarta merupakan kesenian rakyat tradisi yang berasal dari Magelang tepatnya disekitar daerah lereng gunung merapi Desa Tutut ngisor, Kelurahan Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, pimpinan bapak Sitras Anjiren dengan nama padepokannya Cipta Budaya. Penyajian kesenian grasak seperti halnya kesenian rakyat pada umumnya yang lebih  bebas berekspresi, tidak ada aturan yang baku, tidak rumit, sangat komunikatif dan yang penting pesan-pesan yang mau disampaikan lewat kesenian grasak. Menurut Sitras Anjiren,  grasak berarti kasar dan keras penggambaran dengan kesenian grasak adalah memberi pesan-pesan berupa kritik sosial yang dinamis lewat tarian dan musik. Dan juga kesenian grasak menggambarkan sifat emosional, kepanikan, nafsu dan sifat keangkara murkaan manusia yang merusak alam dengan begitu masyarakat setempat takut akan keganasan alam akibat kebrutalan manusia.

Penggambaran dari sifat manusia yang brutal disajikan oleh musik yang keras,  lugas dan tarian yang berkostum “berbentuk” raksasa, butha, wanara, manusia tapi tidak berbentuk seperti manusia dan ada sosok anoman sebagai penggambaran hewan di hutan. Dari irama dan pola ritme yang stabil salah satu dari personel kesenian itu kesurupan sampai bertingkah seperti hewan yang lepas kontrol tetapi ada semacan dukun atau paranormal yang menyembuhkan dengan cara menabuh bedug yang didekatkan pada telinga orang yang kesurupan. Pada kesurupan itu sendiri seperti sengaja dibiarkan saja, malahan menjadi sebuah tontonan yang aktraktif dari kesenian grasak.

Musik penyajiannya berupa musik vokal dan musik instrumentasi, repertoar vokalnya menggunakan repertoar gendhing-gendhing dolanan, gendhing-gendhing kreasi sendiri dan juga tembang-tembang macapat yang disaut letupan-letupan oleh penari berupa teriakan keras tetapi masih mengikuti tempo. Untuk musiknya hanya ritme statis per instrumen saja tampa menggunakan melodi yang rumit.

Dalam kajian ini, pemfokusannya hanya musik intrumentasi untuk keterangan yang lebih lanjut membahas lebih pada bagaimana instrumentasi dan analisis musik seperti analisis elemen-elemen waktu tekstur, bentuk-bentuk variasi dan  penotasian pola-pola ritme perinstrumen musik instrumen kesenian grasak.

Analisis Musik Kesenian Grasak

Didalam analisis musik pada kesenian grasak sudah diutarakan di latar belakang bahwa kesenian grasak pada umumnya hampir sama dengan kesenian rakyat yang ada di jawa. Penyajiannya sederhana, lugas, tempo, dan pola-pola yang tidak rumit dan statis “tetap” dapat ditiru oleh kalayak umum. Pembahasan untuk analisa musik dengan cara memandang dari unsur-unsur musikal kesenian grasak antara lain pemain, medium seperti instrumen, vokal dan pola-pola permainan. Untuk komposerisasinya dan penontonnya tidak dapat dijelaskan karena pembatasan kajian ini lebih pada analisa musiknya. Untuk pembahasan yang lebih lanjut lihat dibwah ini:

  • Macam Instrumen yang digunakan

Untuk mengetahui instrumen apa saja yang digunakan penulis kendalanya hanya melihat dari rekaman audio visual yang ada “tidak terjun langsung kelapangan” dan rekamannya itu juga tidak terlalu jelas sehingga cuma dapat menyebutkan yang terlihat saja seperti:

  1. Bende 5 buah : alat musik yang seperti gong, berdiameter lebih kecil dibanding gong. Cara memainkan di pukul penconya.
  2. Gong besar 1 buah : Alat musik yang berfungsi sebagai aksen penutup pada irama untuk lebih terasa.
  3. Kempul 4 buah : beperan sebagai melodi tetapi statis berupa pola yang tetap.
  4. Anklung 2 buah : berperan sebagai tempo.
  5. Kendang  1 buah : sebagai pengatur irama.
  6. Truntung 2 buah : Kendang berukuran kecil berbentuk silinder dengan ujung mengerucut, membran terbuat dari kulit, dan cara membunyikannya dipukul dengan tabuh kayu.
  7. Ceng-ceng sepasang   : berbentuk seperti simbal drumband tetapi bentuknya lebih kecil.
  • Musik vokal kesenian grasak

Untuk vokal kesenian ini yang pokok hanya satu dan lain perannya hanya sebagai letupan-letupan dan kalau bahasa jawanya senggakan misalnya hahahak….e, yooook ya, dan lain-lain. Untuk repertoar yang pokoknya mengambil tembang macapat yang berjudul pangkur dari serat Wedha Darma, dan lagu-lagu dolanan kreasi yang diciptakan sendiri atau ciptaan orang lain.

  • Pola-pola permainan

Dalam mengetahui pola-pola permainan penulis dibatasi oleh sumber hanya didapat dari sumber rekaman audia video dan sumber tertulis yang ada di internet “tidak melihat langsung kelapangan”, itu saja kurang begitu jelas pada visualnya maupun pada videonya. Untuk permainan musiknya terbagi menjadi tiga bagian yaitu pertama pola permainan keras baik dari dinamika volume maupun tempo, kedua pola permainan yang lirih. kedua Pola-pola permainan itu, penulis  dalam penulisan pola-polanya hanya menulis yang dapat didengar semisalnya suara yang nada rendah, tengah, tinggi saja dan menyebutkan bunyi perinstrumen yang dapat ditangkap penulis dikarenakan tidak melihat langsung kelapangan. Dan juga dalam penulisannya menggunakan not dan simbol-simbol notasi barat karena lebih praktis dan mudah dimengerti. Pola-pola permainannya sebagai berikut:

Keterangan simbol-simbol instrumen

  • Kecer               : K
  • Truntung 1      : Ti
  • Truntung  2     : Tii
  • Bedug             : B
  • Gong               : G

1. Penulisan notasi (pola permainan keras)

K         :______________________________________________________________                               Ti        : ______________________________________________________________

Tii       : ______________________________________________________________

B          : _____________________________________________________________

G         : _____________________________________________________________

2.penulisan notasi (pola permainan yang lirih)

K         :______________________________________________________________                               Ti        : ______________________________________________________________

Tii       : ______________________________________________________________

B          : _____________________________________________________________

G         : _____________________________________________________________

Catatan untuk pada pola permainan liris, sebenarnya banyak kesamaan antara pola 1 dan 2 hanya pada bedug dimainkan secara tiba-tiba tetapi jaraknya agak lama atau terdiam sejenak.

Untuk instrumen yang tidak ada dipenulisan dalam pola permainan penyebabnya adalah  sumber audionya kurang begitu jelas untuk didengarkan secara selektif, maka dari itu untuk penulisan dalam kajian ini hanya suara yang terdengar jelas saja yang di trnskrip.

Kesimpulan

Perlu diketahui bahwa kesenian grasak biarpun kesenian tradisi yang sudah terancam pepunahannya dikarenakan pengaruh budaya yang mampu diberbagai kalangan, kesenian tradisi masih mempunyai nilai-nilai yang dapat diambil hikmahnya. Sebagai contah kesenian grasak ini dapat menyampaikan wacana atau pesan-pesan kritik sosial  supaya manusia sadar akan hidupnya untuk mawas diri dan  menjaga alam sekitarnya.

Referensi

  1. Video mata kuliah transkrip Musik Nusantara III
  2. http://www.wikipedia/esiklopedia.com
  3. www.Kompas.com
  4. http://www.Ppgkeke.com

R^”>@/span>gendang indung : sebagai pola imbal dari gendang anak dan juga kadang-kadang bersamaan memukulnya, bunyinya “tung”dengan penulisan alat tersebut “Tu

  • gendang anak : sebagai pola yang tetap tidak berubah, bunyinya alat tersebut  “tong” dengan simbol penulisannya alat tersebut “To”
  • gung : sebagai tempo yang teratur berada pada akhir irama, bunyinya “gong” dengan simbol penulisan alatnya “G
  • Penganak : juga sebagai tempo teratur, bunyinya “ting” dengan simbol penulisan alatnya “Ti

Penotasiannya :

Penulisan notasinya menggunakan simbol-simbol yang di notasi musik barat karena lebih simpel dan efisien:

Untuk penulisan notasi ini hanya pola pokok pada instumen sebagai ritme saja bukan pada instrumen melodi “sarune” karena pola tersebut merupakan dasar belajar musik karo. Sebagai kelanjutannya jika pola itu sudah dipegang, untuk improvisasi akan mudah yang penting tidak keluar dari tempo karena tidak ada aturan yang baku, bebes berekspresi seperti musik rakyat pada umumnya.

Kesimpulan

Dilihat dari sumber-sumber yang ada, pengembangan dan pelestarian kesenian Karo saat ini sudah masuk dalam taraf memprihatinkan. Kita tidak boleh begitu saja menyalahkan para seniman Karo yang selalu saja berusaha mencari cara bagaimana agar kesenian Karo dapat berkembang dan lestari. Tapi keberlangsungan kesenian Karo tersebut terletak pada masyakarakat Karo sendiri bagaimana mengapresiasikan kekayaan keseniannya. Sekali lagi, keberlangsungan kesenian Karo tidak hanya terletak di bahu para senimannya. Tapi juga peran serta masyarakat Karo dalam melestarikan dan menghargainya. Alangkah baiknya jika kita tumbuhkan rasa memiliki, melestarikan dan menghargai akan perkembangan kesenian Karo. Hingga Kesenian Karo itu tidak pernah mati. Yang sudah diutarakan. kesenian tradisi masih mempunyai nilai-nilai yang dapat diambil hikmahnya.perlu diketahui juga biarpun kesenian tradisi musik gendang karo ini dapat memberikan nilai-nilai tertentu dalam kehidupan manusia dan tidak lepas dari fungsinya musik gendang karo biasanya digunakan sebagai irinagan menari, menyanyi dan berbagai ritus-ritus tradisi.

Referensi

  1. rekaman dari yotube
  2. www.wikipedia/esiklopedia.com
  3. www.gereja batak karo protestan.com
  4. www.sumaterautara.com
Explore posts in the same categories: Etnomusikologi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: