BUKAN AJANG PEMBANTAIAN (Kang Aris)


Catatan Dari Forum Seminar Etnomusikologi II:

Setelah HIMA Etnomusikologi resmi didirikan kembali, berbagai program kerja pun mulai dibuat dan diagendakan. Departemen (singkat: Dep.) Penalaran, satu divisi yang dibentuk dalam organisasi HIMA, memiliki beberapa agenda kerja yang salah satunya adalah penyelenggaraan forum diskusi. Dalam agenda jangka pendeknya, kemudian bekerjasama dengan mata kuliah Seminar Etnomusikoogi II, dengan meminta kepada Dosen pengampunya (Dr. Santosa, I Nengah Mulyana M.Hum, Kuwat M.Hum) agar forum diskusi yang diselenggarakan di kelas tersebut boleh dikelola dan menjadi bagian dari kerja HIMA.

Permintaan Dep. Penalaran tersebut kemudian ditindak-lanjuti dan dibicarakan secara intern (kelas). Hasilnya, kedua belah pihak menyepakati untuk menggelar sebuah seminar yang dibuka untuk umum. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada hari Kamis, 24 April 2008, pukul 11.00 s/d 13.30 WIB bertempat di ruang seminar (Gd. Pustaka Pandang Dengar).

Meski dengan penyelenggaraan yang sederhana, forum pun dilaksanakan. Dua orang pemakalah yang tampil yakni, Aris Setiawan dengan judul makalah “Karakter Musikal Gendhing Jula-Juli Gaya Suroboyoan”, dan Doni Wijanarko dengan “Pesan Dibalik Tayangan ID Tune”. Hingga berakhirnya, forum tersebut berlangsung cukup interaktif. Audiens banyak yang merespon apa yang disampaikan oleh kedua pemakalah.

Yang paling menggembirakan, meskipun penyelenggaraan dilaksanakan pada saat jam aktivitas kuliah namun ternyata dihadiri oleh banyak pihak yang antara lain meliputi dosen dan mahasiswa (+/_ 55 orang). Dari kalangan dosen, (selain para pengampu) dihadiri pula oleh Zoelkarnaen Mistortoify M.Hum dan Bondhet Wrahatnala M.Hum. Sementara dari mahasiswa, dihadiri beberapa tingkat semester mahasiswa Etnomusikologi, sebagian mahasiswa Prodi Karawitan, bahkan ada beberapa dari Seni Rupa. Hal demikian ini kiranya cukup memperlihatkan betapa antusiasme terhadap forum tersebut ternyata cukup tinggi pula.

Namun antusiasme yang ternujud melalui kehadiran dan interaksi audien dalam forum tersebut kurang seimbang dengan pihak internal atau para mahasiswa yang menempuh mata kuliah Seminar itu sendiri. Hanya beberapa individu saja yang terlihat aktif, sementara yang lainnya tidak demikian. Tidak hanya itu, setelah forum tersebut usai digelar, ternyata muncul beberapa informasi (isu/rumor) bahwa banyak mahasiswa yang menolak untuk menyeminarkan makalah mereka di forum yang digelar terbuka semacam itu. Dengan berbagai alasan yang beragam seperti merasa kurang siap, grogi (nervous), bahkan ada yang mengaku takut.

Fenomena semacam ini sungguh sangat ironis ketika terjadi justru di tataran masyarakat akademis. Terlebih pada mahasiswa Etnomusikologi dengan kompetensi utama katanya “peneliti”. Dimana kegiatan seperti pengumpulan data, menyusun laporan {penulisan) dan mendiskusikannya secara bertanggunggjawab menjadi bagian yang seharusnya sangat umum dalam aktivitas studinya. Diatas semua itu, semestinya kita bisa mempertanyakan kembali sampai dimana kehidupan “budaya kritik” dan sekaligus “budaya ilmiah” di lingkungan studi kita sendiri (Prodi Etno) dan institusi ini secara umum (ISI Surakarta)? Apakah krisis tersebut hanya terjadi didalam entitas mahasiwa etno atau menggejala juga pada wilayah yang lebih besar?

Menyangkut fenomena yang muncul usai forum seminar 24 April lalu, tim redaksi secara khusus melakukan wawancara dengan Dr. Santosa, selaku Dosen senior yang mengampu mata kuliah Seminar Etnomusikologi II.. Beliau memaparkan demikian, “Pada intinya, mata kuliah ini merupakan semacam akumulasi dari segala suatu yang telah diserap atau didapat pada mata kuliah lain yang sebelum-sebelumnya. Artinya, di mata kuliah ini mahasiswa diarahkan untuk dapat menuangkan hal-hal (konsep, teori atau konkretnya kesatuan dari kompetensi dasar peneliti) yang telah diperolehnya selama ini kedalam sebuah tulisan. Disini, mahasiswa dipersilahkan memilih sendiri substansi yang akan dibicarakan, yang merupakan satu bagian kecil saja dari tema skripsi yang akan diajukan. Selanjutnya, mahasiswa akan belajar memepertanggungjawa hasil akhirnya kedalam forum diskusi”.

Berangkat dari pernyataan tersebut, dapat diungkapkan bahwa goal mata kuliah ini adalah membentuk keterlatihan mahasiswa dalam rangka mengaplikasikan bekal keilmuan sesuai studinya kedalam tuangan kajian tulisan. Utamanya, mengarahkannya kepada kepentingan menempuh tugas akhir (karya skripsi). Sejalan dengan itu, kegiatan memaparan dalam kegiatan diskusi sendiri dapat melatih kemampuan “public speaking” setiap individu yang tampil. Sedikitnya, dampak dari kegiatan ini akan membentuk mentalitas mahasiswa untuk belajar berani mempertanggungjawabkan apa yang telah ditulisnya dengan konsekuensi mendapatkan kritik atau masukan secara terbuka.

Menyoal forum diskusi kerjasama kelas Seminar Etnomusikologi II dengan HIMA Etno bulan lalu, Dr. Santosa menanggapinya sebagai satu kegiatan yang sangat baik. Menurutnya, proses pembelajaran mahasiswa menjadi bernilai plus. Artinya dengan forum yang diselenggarakan secara terbuka (bisa dihadiri siapa saja), maka input yang diperoleh tentu saja menjadi lebih kaya dibanding ketika hanya diselenggarakan dalam kelas. Input dari kelas sangatlah terbatas, masih ditambah lagi dengan banyaknya teman-teman yang pasif dan kurang serius. Dengan dihadiri kalangan yang lebih luas, tentu tantangannya menjadi lebih juga. Dengan begitu, mahasiswa akan merasa tertuntut lebih serius dalam mempersiapkan makalah yang akan diseminarkan. Bagi beliau, mahasiswa hanyalah orang biasa dan bukan manusia super. Karena itu, menyadari adanya kekurangan didalam dirinya menjadi penting. Perasaan seperti itu sudah benar posisinya. Kelemahan bukan untuk dihindari. Dengan terus merasa kurang, seharusnya hal tersebut justru mendorong untuk berusaha belajar lagi dan mempersiapkan diri. “”Jangan ada yang berpendapat bahwa forum diskusi itu pembantaian, tetapi sebuah ajang bertukar pikiran”.

Ditambahkannya, harus disadari pula kondisi lingkungan kita, dengan latar belakang masyarakat yang cenderung sangat tertutup dan kebal kritik. Artinya, kurangnya budaya berpikir kritis dan motivasi belajar yang tidak memadai pada umumnya cukup menonjol. Lingkungan kita ini juga seperti itu. Termasuk mahasiswa yang ikut dalam kuliah ini, sebagian besar masih demikian. Kondisi tersebut menjelaskan kurangnya pandangan yang visioner dalam kegiatan belajar mereka yang juga belum cukup memadai. “Jangankan di level mahasiswa, kita bias mencermatinya hal yang sama terjadi juga diantara tenaga pengajar”. Mestinya seorang professional, selalu merasa tertuntut untuk terus mengasah dan menjaga potensi. Oleh sebab itu tentunya harus terus-menerus melakukan pembelajaran. Nyatanya, masih banyak diantara kita belum dapat secara terbuka menerima kritik dari orang lain. Selain itu budaya belajar memang masih kurang dihargai. Beliau mencontohkan, misal jika seorang membawa dan membaca buku kemana-mana, atau yang sering keluar masuk ke perpustakaan malah dianggap orang sok, gaya atau orang aneh. Padahal, aktivitas semacam itu sudah sewajarnya dilakukan didalam lingkungan akdademis dalam rangka mengasah dan menjaga potensi yang dimilikinya itu tadi. Seharusnya inti kegiatan akademik, yakni kebebasan ilmiah itu sendiri jangan sampai dibatasi. Sebaliknya, harus dibuka dan didorong seluas mungkin.

Dr. Santosa menyarankan agar forum seperti yang telah terselenggara tersebut sebaiknya dilaksanakan sebulan sekali. Dengan pertimbangan untuk menjaga atmosfirnya, agar tetap konstan. Sehingga akurasi pemikiran kritis yang muncul pun lebih matang. Ditambahkannya, kalau perlu kita bisa juga bekerjasama dengan pihak diluar atau jurusan lain. Dengan demikian forum tersebut dapat lebih dikembangkan untuk kepentingan belajar bersama, sekaligus kita juga bisa melihat posisi kita berada di tingkatan mana.

Secara terpisah, tim redaksi juga sempat mewawancarai pula mantan Kaprodi Zoelkarnaen Mistortoify M.Hum yang menyatakan bahwa beliau sangat gembira atas diselenggarakannya forum seminar terbuka tersebut dan telah lama menanti kegiatan mahasiswa semacam itu. “Mahasiswa tidak perlu merasa takut, malahan jika perlu kita bisa mengundang orang yang kompetensinya sesuai dengan tema yang dikaji oleh setiap pemakalah yang berbeda. Bukankah hal itu justru sangat menguntungkan si pemakalah sendiri?”

Sebenarnya, ide kerjasama penyelenggaraan forum diskusi terbuka oleh HIMA, pada dasarnya juga dilandasi oleh tujuan untuk mebuat semacam wadah guna kepentingan “belajar bersama” sekaligus menumbuhkan daya kritis, khususnya di kalangan mahasiswa Etno. Seperti sebuah pedang dengan dua sisi tajam. Satu sisi, berkenaan dengan pembelajaran bagi mahasiswa. Terlepas dari kualitas karya dan cara menyeminarkannya, pemakalah memiliki kesempatan melatih diri untuk terbuka dan bertanggungjawab. Sehingga dapat melihat kekurangannya dengan menerima masukan dan mendorongnya berusaha melengkapi kekurangannya. Bagi mahasiswa lainnya (bukan pemakalah), setidaknya mendapatkan suatu wacana yang mungkin bias menstimuli daya kritisasi sekaligus budaya berwacana itu sendiri. Khususnya mahasiswa yang masih duduk di semester awal, hal demikian merupakan sebuah pembelajaran yang sangat efektif, mengingat pada akhirnya nanti mereka akan mengikuti mata kuliah dan forum yang sama. Sisi tajam yang lain, berkenaan dengan praktik pengajaran yang dilaksanakan oleh dosen yang bersangkutan. Kehadiran pihak-pihak diluar peserta kuliah, seringkali dapat menjadi semacam “kontrol” yang mendorong adanya koreksi maupun pembenahan kedalam tata cara mengajar.

HIMA melalui Dep. Penalaran, pun sepenuhnya menyadari mengenai belum tumbuhnya budaya kritik serta minimnya budaya ilmiah didalam kalangan mahasiswa Etno. Hanya saja, upaya-upaya untuk mencapai kearah yang lebih baik sebagaimana salah satunya lewat forum terbuka kemarin, ternyata sangat membutuhkan dukungan secara internal. Oleh sebab itu, mungkin dapat diupayakan adanya semacam kerjasama atau kesepakatan dari pihak lembaga (prodi) dengan mahasiswa guna bersama saling mendukung mewujudkan cita-cita itu. (d/red).

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: