Contoh CATATAN LAPANGAN


Pencatat : Antonius Sukoco
Makna teks Tembang Macapat dalam kerokhanian Sapta Darma
1. Agama kejawen yang dimana agama tersebut lahir dijawa bukan lahir dari Arap, dari cina, dari yunani maupun dari luar jawa.
2. Lahirnya tahun 1952, di Pare, Kediri
3. Penerima wahyu pertama aalah bapak harjo dipuro
4. Sekarang berpusat di Surokarsan, Yogyakarta
5. Istilah berdoa adalah sujud
6. Tata cara sujud:
 Bersila diatas kain putih berukuran 1 m belah ketupat (istilah kain putih disebut mori), kaki kanan didepan, badan tegap, tangan sedakep tangan kanan didepan.
 Mata menatap pucuk mori tersebut bersama memperhatikan masuk dan keluarnya nafas sampai mata tertutup sendiri.
 Sujud tidak boleh konsentrasi tetapi harus semeleh dan pasrah menerima apa adanya
 Dari ketenangannya kepala sampai terjatuh ke tanah lalu pengucapan doa dan seterusnya sampai 3x.
7. Doa yang diucapkan:
 Allah Yang Maha Agung, Rohkim, Adil
 Yang Maha Suci Sujud Yang Maha Kuasa 3x
 Yang Maha Suci Nyuwun Ngapuro Yang Maha Kuasa 3x
 Yang Maha Suci  Martobat Yang Maha Kuasa 3x
8. Lama penghayat berdoa:
 Tergantung dari penghayat, tetapi menimal setengah jam
 Ada yang sampai 2 jam
 Lama dan tidaknya tergantung rasa
 Biasanya semalam sujud 2-3x, yang pertama mulai jam 7-kurang dari jam 9, lalu istiraahat sampai kurang dari jam sepuluh kemudian dilanjutkan sujud yang kedua jam 10- kurang dari jam 12malam.
9. Jumlah penghayat di tanggan:
 Yang rutin setiap hari datang kurang dari 15 penghayat
 Biasanya kalau malam jumat kurang dari 30 penghayat
 Penghayat kebanyakan laki-laki,
 Untuk perempuan kurang dari 3 orang, yang datangnya biasanya bersama suaminya.
10. Pekerjaan panghayat:
 Mayoritas Petani tetapi ada juga
 Tukang kayu
 Bengkel
 Tukang batu
11. Usia penghayat:
 Kebanyakan usianya 30 thn keatas dan sudah menikah
 Ada 2 remaja tetapi jarang datang, kurang dari 30 th
12. Teks yang digunakan:
 Wedha Tama
 Wulang Reh
 Kalatidha
 Sekar Pengiring Sujud
 Sekar Karya sesami penghayat
 Dari beberapa serat disatukan menjadi serat yang disebut serat Wedha Darma yang diambil dari petikan-petikan serat diatas yang disesuaikan dengan pandangan penghayat.
13. Menembangkannya:
 waktu sujud bersama, sesudah penghayat semua bersila, salah satu penghayat menembangkan beberapa pada(biasanya 5 pada)
 waktu sujud sendiri, yang menembengkan juga sendiri
 waktu istirahat penghayat ngobrol, bercanda gurau, kadang-kadang salah satu yang dianggap tua menbang lalu terjadi diskusi tentang makna teks tersebut.
Tanggapan pengamatan
Dalam pengamatan, peneliti juga melakukan wawancara dengan penghayat dan tuntunan kerokhanian Sapta Darma. Memang data yang didapat lumayan banyak, berhubung dalam proses membuat catatan lapangan  si peneliti tidak langsung membuatnya sehingga data yang lumayan banyak akhirnya lupa dan banyak yang tidak dapat di ingat-ingat lagi. Dan untuk re-cek kembali agak sungkan dan kesalahan lagi dalam wawancara tidak ada perekaman dikarenakan waktu itu belum punya alat rekam. Jadi dalam penulisan cacatan lapangan yang ada diatas itu adalah  kumpulan data-data yang ingat dari si peneliti.
Catatan:
• Simbol-simbol kodifikasi/penandaan
1. A #
2. A #
3. A*
4. A*
5. A*
6. A#
7. A#
8. A*
9. B#
10. B#
11. B#
12. C#
13. C*
• Komentar/tanggapan peneliti terhadap isi:
Kesalahan si peneliti dalam mencari data., si peniliti tidak mohon ijin dulu dikarenakan masih ada perasaan sungkan, pencarian datanya seperti sembunyi2, mencuri2 sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan
• Keterangan

Pencatat : Antonius Sukoco

Makna teks Tembang Macapat dalam kerokhanian Sapta Darma
1. Agama kejawen yang dimana agama tersebut lahir dijawa bukan lahir dari Arap, dari cina, dari yunani maupun dari luar jawa.2. Lahirnya tahun 1952, di Pare, Kediri3. Penerima wahyu pertama aalah bapak harjo dipuro4. Sekarang berpusat di Surokarsan, Yogyakarta5. Istilah berdoa adalah sujud6. Tata cara sujud:  Bersila diatas kain putih berukuran 1 m belah ketupat (istilah kain putih disebut mori), kaki kanan didepan, badan tegap, tangan sedakep tangan kanan didepan. Mata menatap pucuk mori tersebut bersama memperhatikan masuk dan keluarnya nafas sampai mata tertutup sendiri. Sujud tidak boleh konsentrasi tetapi harus semeleh dan pasrah menerima apa adanya Dari ketenangannya kepala sampai terjatuh ke tanah lalu pengucapan doa dan seterusnya sampai 3x.
7. Doa yang diucapkan: Allah Yang Maha Agung, Rohkim, Adil Yang Maha Suci Sujud Yang Maha Kuasa 3x Yang Maha Suci Nyuwun Ngapuro Yang Maha Kuasa 3x Yang Maha Suci  Martobat Yang Maha Kuasa 3x
8. Lama penghayat berdoa: Tergantung dari penghayat, tetapi menimal setengah jam  Ada yang sampai 2 jam Lama dan tidaknya tergantung rasa Biasanya semalam sujud 2-3x, yang pertama mulai jam 7-kurang dari jam 9, lalu istiraahat sampai kurang dari jam sepuluh kemudian dilanjutkan sujud yang kedua jam 10- kurang dari jam 12malam.
9. Jumlah penghayat di tanggan: Yang rutin setiap hari datang kurang dari 15 penghayat Biasanya kalau malam jumat kurang dari 30 penghayat Penghayat kebanyakan laki-laki,  Untuk perempuan kurang dari 3 orang, yang datangnya biasanya bersama suaminya.

10. Pekerjaan panghayat: Mayoritas Petani tetapi ada juga  Tukang kayu Bengkel  Tukang batu
11. Usia penghayat: Kebanyakan usianya 30 thn keatas dan sudah menikah Ada 2 remaja tetapi jarang datang, kurang dari 30 th
12. Teks yang digunakan:  Wedha Tama Wulang Reh Kalatidha Sekar Pengiring Sujud Sekar Karya sesami penghayat Dari beberapa serat disatukan menjadi serat yang disebut serat Wedha Darma yang diambil dari petikan-petikan serat diatas yang disesuaikan dengan pandangan penghayat.
13. Menembangkannya: waktu sujud bersama, sesudah penghayat semua bersila, salah satu penghayat menembangkan beberapa pada(biasanya 5 pada) waktu sujud sendiri, yang menembengkan juga sendiri waktu istirahat penghayat ngobrol, bercanda gurau, kadang-kadang salah satu yang dianggap tua menbang lalu terjadi diskusi tentang makna teks tersebut.
Tanggapan pengamatan
Dalam pengamatan, peneliti juga melakukan wawancara dengan penghayat dan tuntunan kerokhanian Sapta Darma. Memang data yang didapat lumayan banyak, berhubung dalam proses membuat catatan lapangan  si peneliti tidak langsung membuatnya sehingga data yang lumayan banyak akhirnya lupa dan banyak yang tidak dapat di ingat-ingat lagi. Dan untuk re-cek kembali agak sungkan dan kesalahan lagi dalam wawancara tidak ada perekaman dikarenakan waktu itu belum punya alat rekam. Jadi dalam penulisan cacatan lapangan yang ada diatas itu adalah  kumpulan data-data yang ingat dari si peneliti.
Catatan:• Simbol-simbol kodifikasi/penandaan1. A #2. A #3. A*4. A*5. A*6. A#7. A#8. A*9. B#10. B#11. B#12. C#13. C*

• Komentar/tanggapan peneliti terhadap isi:Kesalahan si peneliti dalam mencari data., si peniliti tidak mohon ijin dulu dikarenakan masih ada perasaan sungkan, pencarian datanya seperti sembunyi2, mencuri2 sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan• Keterangan

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: