Dampak Pergeseran Fungsi Gong Waning Terhadap Aspek Musikalnya


By Yohanes Carlos

A. Latar belakang

Sebagian besar seni musik yang hidup dan berkembang di Indonesia merupkan seni tradisi rakyat, dimana penggunaannya selalu berhubungan dengan penyelenggaraan upacara adat atau ritual. Musik Gong Waning misalnya, seni musik ini merupakan seni musik rakyat yang berasal dari kab. Sikka, Flores, dimana penggunaannya selalu berhubungan dengan upacara adat atau ritual.

Instrment ini terdiri dari, 2 buah waning ( semacam kendang Jawa namun, hanya memiliki satu membran ), 5 buah gong (semacam kempul Jawa ), dan satu buah saur ( sepotong bambu yang berukuran ± 1 meter ). Awalnya instrument ini hanya digunakan oleh masyarakat setempat dalam pelaksanaan upacara adat atau ritual seperti, upacara pernikahan, upacara berkebun, dan pembangunan rumah namun, dalam perkembangannya fungsi atau peran musik Gong Waning pun mulai bergeser. Penggunaannya tidak lagi untuk upacara adat semata tapi, sudah mulai memasuki dunia seni pertujukan yang sifatnya untuk hiburan. Dengan adanya perubahan atau pergeseran  fungsi musik Gong Waning ini maka, terjadi juga perubahan dalam sisi musikalnya..

Melihat adanya perubahan musikal tersebut, maka pada kesempatan ini penulis mencoba untuk membahas dampak dari perubahan fungsi musik Gong Waning terhadap aspek musikalnya.

B. Pembahasan

  1. 1. Sejarah Gong Waning

Musik Gong Waning boleh dikatakan relatif baru untuk ukuran sebuah musik tradisi. Kehadirannya di tengah masyarakat Sikka baru sekitar tahun 1920-an, kemunculannya ini merupakan dampak dari masuknya para pedagang dari Cina, Jawa, dan Bugis, yang pada saat itu membawa alat musik Gong untuk dibarter dengan barang-barang kerajinan dan  hasil bumi masyarakat setempat.

Sebelum masuknya intrument Gong ke wilayah Sikka, masyarakat setempat sudah mengenal terlebih dahulu alat musik Lettor. Alat musik ini terbuat dari kayu, yang berbentuk bilahan-bilahan yang disusun yang disusun berjejer (seperti gambang Jawa, namun hanya berjumlah 7 bilah kayu). Selanjutnya, pada saat instrument Gong masuk ke wilayah Sikka maka, oleh masyarakat setempat instrument Lettor diganti dengan instrument Gong. Alasannya karena, suara yang dihasilkan dari instrument Gong mirip dengan suara yang dihasilkan oleh instrument Lettor, dan instrument Gong dianggap lebih tahan lama atau lebih awet dibanding instrument Lettor. Sejak saat itu, peran instrument Lettor pun mulai diambil alih  atau diganti dengan instrument Gong hingga saat ini.

  1. 2. Penggunaan “Gong Waning” untuk Ritual

Dalam budaya masyarakat Sikka, setiap upacara adat yang mereka lakukan merupakan sebuah bentuk doa, harapan , maupun ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas segala yang mereka terima. Oleh karena itu, upacara yang mereka lakukan selalu dilengkapi dengan musik dan tari-tarian, yang merupakan simbol atau wujud  ungkapan syukur kepada Tuhan.

Dalam pelaksanaan upacara adat, kehadiran atau peran musik Gong Waning yaitu sebagai pengiring tarian karena,  di wilayah Sikka musik Gong Waning tidak pernah berdiri sendiri atau disajikan sendiri tanpa unsur tari-tarian. Ini jelas berbeda dengan musik Gamelan Jawa atau Gamelan Bali yang mampu atau bisa disajikan sendiri tanpa harus mengiringi sebuah tarian. Dengan latar belakang budaya seperti ini, maka penyajian musik Gong Waning dan tari-tarian merupakan suatu kemasan yang tidak dapat dipisahkan.

Sebagai musik pengiring tarian, para pemusik bebas menentukan jenis irama yang akan mereka mainkan, kapan akan berganti irama, tanpa harus mengikuti atau memperhatikan para penari. Hal ini disebabkan karena, sajian musik Gong Waning dan tari-tarian tersebut merupakan seni rakyat, dimana tidak ada batasan-batasan atau aturan-aturan yang sifatnya mengikat  untuk  menentukan pilihan irama yang akan dimainkan  maupun kapan saat pergantian iramanya. Dengan demikian, meskipun musik Gong Waning berperan sebagai pengiring tarian namun, para penari yang cendrung mengikuti alunan musiknya bukan sebaliknya.

  1. 3. Penggunaan “Gong Waning” untuk Pertunjukan

Sama halnya dengan perannya dalam upacara adat atau ritual, dalam seni pertunjukan Gong Waning pun berfungsi sebagai pengiring tarian. Namun, untuk seni pertunjukan tidak ada kebebasan lagi bagi para pemusik untuk memainkan Gong Waning. Disini, para pemusik lebih diarahkan atau diatur  untuk mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh para penari. Para penabuh dituntut bisa mengikuti gerakan para penari, kapan harus berganti irama, kapan harus menabuh dengan suara lirih atau keras, semuanya harus mengikuti gerakan yang sudah digarap oleh koreografernya.

Adanya pengaturan pola gerakan dengan pola tabuhan karena, kemasan ini tujuannya bukan untuk ritual tetapi, untuk seni pertunjukan yang sifatnya untuk hiburan. Artinya, yang dinilai adalah aspek keindahan nya, dimana adanya keserasian musik dan gerakan, cara para pemusik maupun penari dalam berkespresi,  serta dari sisi kostumnya.

  1. 4. Dampak musikalnya

Salah-satu aspek yang terkena dampak dari pergeseran fungsi atau peran Gong Waning adalah aspek musikalnya. Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa untuk upacara ritual para penabuh bebas untuk menentukan jenis irama yang mereka inginkan, namun untuk pertunjukan semuanya mengikuti pola gerakan para penari. Adanya perubahan musikal dalam musik Gong Waning sesungguhnya hanya salah-satu instrument yang berperan penting yaitu ; Waning Inang. Instrument ini lah yang berfungsi untuk memberikan kode peralihan, melakukan penambahan pola-pola tertentu  sehingga sesuai dengan gerak tari. Khusus untuk instrument gong, teknik tabuhannya tetap sama atau tetap pada aturan yang sudah ada. Jika ada instrument lain yang ikut membuat pola-pola baru agar sesuai dengan gerak tari, itu adalah instrument Saur.

Perubahan atau perkembangan musikalitasnya, sejauh ini penulis baru dapat mengindentifikasi menjadi tiga bagian yaitu ;

  • Pertama, jika dalam seni ritual perubahan dari satu irama ke irama yang lain tanpa mengunakan kode peralihan maka, dalam pertunjukan digunakan kode peralihan. Ini dilakukan agar para penari tidak melakukan kesalahan saat menari.
  • Kedua, untuk menyesuaikan pola gerakan-gerakan dalam tarian yang sudah digarap para pemusik biasanya keluar dari aturan atau pakem yang sudah ada,  dan menambahkan pola tabuhan baru, sehingga sesuai dengan gerakan penari.
  • Ketiga, para pemusik mulai memperhatikan keras-lirihnya tabuhan, sesuai dengan gerakan yang dilakukan para penari. Ini agak berbeda jika musik Gong Waning dalam upacara ritual, mereka tidak terlalu memperhatikan keras-lirihnya suara musik tersebut.

C. Kesimpulan

Pada dasarnya perubahan atau pergeseran fungsi Gong Waning disebabkan oleh terjadinya perubahan pola hidup masyarakat setempat. Jika dahulunya mereka sering melakukan upacara adat atau ritual maka dengan adanya  perkembangan jaman, mereka mulai meninggalkan upacara – upacara adat yang sering mereka lakukan. Hal ini menyebabkan penggunaan instrument Gong Waning pun semakin menurun. Oleh sebab itu, untuk tetap menjaga keberadaan atau eksistensi musik Gong Waning maka, penggunaan instrument tersebut mulai dialihkan ke dunia seni pertunjukan.

Setelah terjadi pergeseran fungsi Gong Waning, musikalitasnya pun mulai mengalami perubahan atau perkembangan. Adanya perubahan atau perkembangan tersebut merupakan salah – satu dampak penyesuaian terhadap pola gerak tari yang telah digarap, dan tuntutan penikmat.

D. Daftar pustaka

Sayani, Caecilia. 1998. Pergeseran Fungsi Gong Waning, Skripsi

Sila, Alex . 2008. Ritus Inisiasi Masyarakat Sikka Krowe. Sikka, Flores

Referensi internet

Budaya Sikka, oleh Setya Novanto,

Gong Waing Alat Musik Tradisional Sikka, Megu Nora Au, Maumere of Flores

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi, Kritik Seni, Musikologi, sosiologi

2 Komentar pada “Dampak Pergeseran Fungsi Gong Waning Terhadap Aspek Musikalnya”

  1. Agus Javres Says:

    wah, thx banget sudah membuat artikel tentang gong waning ini. Sy mahasiswa UNJ Rawamangun, saat ini sedang menulis skripsi tentang proses pembelajaran gong waning. Kira-kira punya referensi budayawan yang bisa membantu ? thx sebelumnya.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: