HISTORIS, INSTRUMENTAL DAN PERKEMBANGAN GAMELAN GONG KEBYAR BALI


By Sukoco

1. Pendahuluan

Ada sekitar 30 jenis barungan gamelan salah satunya adalah Gamelan Kebyar yang hingga kini masih aktif dimainkan oleh masyarakat Bali. Barungan-barungan ini didominir oleh alat-alat musik pukul, tiup dan beberapa instrumen petik. Instrumen-instrumen ini ada yang dibuat dari bambu, kayu dan perunggu (krawang). Gamelan-gamelan ini sebagian besar milik kelompok masyarakat, hanya beberapa saja diantaranya merupakanmilik pribadi/perorangan. Berdasar jumlah pemain atau penabuhnya, gamelan Bali dapat dikelompokkan barungan alit (kecil), madya (sedang) dan barungan ageng (besar). Baruangan gamelan alit pada umumnya dimainkan oleh 4-10 orang, ruangan madya antara 11-25 orang, sedangkan barungan ageng memerlukan diatas 25 orang. Dilihat dari usia barungan dan latar belakang sejarahnya, para pakar karawitan Bali membagi jenis-jenis gamelan yang ada didaerah ini kedalam 3 (tiga) kelompok yaitu gamelan golongan tua, gamelan golongan madya, gamelan golongan modern.

Gamelan kebyar merupakan satu bentuk karya dari gamelan golongan madya  seni budaya yang ekspresif dan dinamis diterima masyarakat dan berkembang ke seluruh Bali, bahkan sampai keluar Bali. Sebagai karya baru, kebyar mampu menampung berbagai inspirasi yang muncul sari bentuk-bentuk seni tradisional yang telah ada. Bentuk-bentuk gendhing tradisional seperti pangonan (Gong Gede), pagenderan (Gender Wayang), pagambangan (Gendhing Gambang) pagambuhan (Gendhing gambuh), palegongan (Gendhing Legong), dan lain-lain dapat diungkapkan lewat Gamelan Kebyar.

Sebaiknya pula, Gamelan Kebyar ikut mewarnai beberapa gamelan lainnya yang ada di Bali. Pola-pola garap pakebyaran yang ritmis, dinamis, ekspresif, meletup-letup, penuh angsel (perubahan dinamika), dan lain-lainnya banyak dipakai pada Gamelan Angklung, Gamelan Joged Bumbung, Gamelan Janger, Gamelan Gong Suling, Gamelan Babarongan, Gamelan Palegongan, dan lain-lainnya. Bahkan banyak Gamelan Palegongan yang dilebur menjadi Gamelan Kebyar, sehingga tidak mengherankan pada tahun 1989 daerah Bali yng terdiri dari 1333 buah desa adat telah memiliki Gamelan Kebyar sebanyak 1.572 perangkat. Semua itu menunjukan Gamelan Kebyar diterima dan digemari masyarakat Bali.

2. Historis Gamelan Gong Kebyar

Satu peristiwa histories penting dalam kehidupan masyarakat Bali telah terjadi yaitu jatuhnya Bali ketangan penjajah Belanda ditandai takluknya kerajaan Klungkung sebagai kerajaan terakhir pada tahun 1908. sejak itu pemerintah belanda mulai mengembangkan kekuasaannya dengan sistem pemerintahan barat sesuai dengan kepentingan colonial. Bali yang ketika itu terdiri atas delapan kerajaan , oleh belanda dijadikan dua bagian, Bali Utara dibawah pengawasan seorang residen yang berkedudukan di Singaraja dan Bali Selatan dibawah pengawasan seorang asisten residen yang berkedudukan di Denpasar. Bali Utara dibagi menjadi Buleleng dan Jembrana, sedangkan bali selatan terdiri atas Tabanan, badung, Gianyar, Karangasem, dan Klungkung yang membawahi Bangle Dan Nusa Penida.

Berkurangnya kekuasaan raja-raja Bali itu mengakibatkan berkurangnya perhatiannya puri ( keratin) terhadap kelangsunga hidup seni perjuntukan klasik – Gambuh, wayang wong, topeng, legong, gong gede, semar pangulingan, dan lain-lain-yang pernah mencapai masa keemasan pada zaman kejayaan raja-raja di Bali seperti Watu enggong (1460-1550), dalem bekung(1550-1580), dalem tahan dewa agung jambe (1845-1908). Oleh karena itu sangat logis jika kualitas dan kuantitas penyajian seni-seni klasik ketika itu menjadi menurun. Keadaan seperti itu sangat berbeda di Jawa yang justru karena berkurangnya kekuasaan politiknya, para raja berusaha mengekstrapolasikan kekuasaan lewat pelestarian dan perkemdangan buday, tidak mengherankan kesenian keraton justru berkembang dengan baik. Untung seni perjunjukan bali masih tetap dibutuhkan sebagai salah satu sarana upacara agama dan adapt, sehingga kelangsungan hidupnya masih dapat dipertahankan atas pangayoman Pura (agama) , banjar ( desa adat), dan sekeha (organisasi) kesenian. Dari sisi ini tampak pemerintah colonial Belanda sangat banyak merugikan rakyat Indonesia termasuk rakyat Bali.

Dalam suasana zaman seperti itu, dalam bidng seni tumbuh pula pembaharuan-pembaharuan yang juga merupakan aktulisasi kesadaran nasional dan rasa demokratis yaitu ansambel Gamelan Gong Kebyar, sebuah bentuk seni yang mengunakan susunan instrumen, pola garap gendhing, pola penyajian teknik tabuhan instrumen dan karakter baru, sehingha tepat sekali gamelan dimasukan kedalam kelompok gamelan baru.

Pemberian nama “Kebyar” terhadap karya seni tersebut tepat, karena perangkat gamelan baru itu betul mampu mengekspresikan karaktek kebyar, yaitu keras, lincah, cepat, agresif, mengejutkan, muda, enerjik, gelisah, semangat, optimis, kejasmanian, ambisius, dab penuh emosional.

Gamelan baru pelog pancanada ini pada awalnya merupakan sebuah pengembangan dari asmbel Gamelan Gong Gede, sebuah orkes agung gaya kuno yang sangat diperlukan pada hari-hari besar atau upacara odalan di pura. Gamelan tradisional ini merupakan sebuah asambel gamelan yang paling lengkap di Bali yaitu denga banyak menggunakan instrument yang dimainkan kurang lebih enam puluh orang penabuh. Semua itu dapat disebutkan pada lontar Aji Gurnita.

Dalam perkembangannya menjadi Gamelan Kebyar ada beberapa instrument Gamelan Gong Gede yang dihilangkan, dikurangi, diubah bentuknya, dan ada pula yang tidak mengalami perubahan. Instrument yang dihilangkan terdiri dari : bende (bandede), ponggang, kempyung, gumanak, dan gentorag yang dikurangi dua buah, jublag dua buah, panyacah dua buah dan cengceng (kecek) beberapa buah; yang diubah: gangsa ageng diubah menjadi gender (gangsa ugal), gangsa manengah menjadi gangsa pamade, gangsa alit menjadi kepluk (kethuk/kajar), dan kemong dhang menjadi kemong (kenong)

Di antara sekian banyak instrumen yang diubah yang sangat menonjol mengalami perubahan adalah instrument gangsa jongkok. Dalam Gong Gede setiap tungguh (jawa: ricikan/ satuan) instrument ini menggunakan lima buah nada: dhang (jawa: nem), dhing (ji), dhong (ro), dheng (lu) dan dhung (mo). Akan tetapi dalam Gamelan Kebyar, pada awalnya instrument gangsa pernah menggunakan tujuh buah nada ditambah dhang alit dan dhing alit, kemudian berkembang menjadi delapan bilah nada yaitu; dhung, dhang, dhing, dhong, dheng alit, dhang alit dan dhing alit; sembilan bilah ditambah nada dheng (sebelum nada dhung); dan selanjutnya sampai sekarang berubah menjadi berbilah sepuluh dengan urutan nada: dhong, dheng, dhung, dhang, dhing, dhong alit, dheng alit, dhung alit dhang alit, dhing alit.

Jenis instrument Gamelan Gong Gede yang tidak mengalami perubahan terdiri dari: gong, kempul (kempur), kendang, rebab, suling, trompong ageng (trompong), dan tropong barangan (barangan/ reyong). Dengan demikian jenis instrument yang digunakan dalam Gamelan Kebyar pada umumnya di Bali terdiri dari instrument melodis: trompong satu tungguh, reyong satu tungguh, gangsa ugal (giying) dua tunguh (ngumbangisep), gangsa pamade/pangenter dua tungguh (ngumbangisep), gangsa kantil (kanthilan), empat tungguh (ngumbangisep) panyacah,dua tungguh (ngumbangisep), rebab sebuah, suling satu sampai empat buah; instrument ritmis: kendang dua buah lanang dan wadon, cenceng satu atau dua stel, dan kajar (kethuk) satu buah; dan instrument kolotomik: kenong (kemong) satu buah, kempul (kempur) satu buah, dan gong dua buah lanang wadon.

Secara pasti kapan terjadi perubahan dari Gamelan Gong Gede menjadi Gamelan Kebyar pada saat ini belum diketahui. Namun demikian ada satu informasi Anak Agung Gede Gusti Jelantik (Bupati Buleleng) yang dituturkan kepada Colin McPchee pada tahun 1937 yang menyebutkan bahwa Gamelan Kebyar pertama kali didengar dikalangan masyarakat umum pada bulan Desenber 1915 ketika tokoh gamelan di Bali Utara menyelenggarakan kompetisi Gamelan Kebyar di Jagaraga Buleleng. Data ini mendekati apa yang dikatakan Made Bandem bahwa Gamelan Kebyar telah terwujud di Bali pada tahun 1914. ini berarti masyarakat bali Slatan, meraka lebih dahulu terbuka terhadap pengaruh-pengaruh modern, khususnya setelah Bali sepenuhnya dapat dikuasai pemerintah Belanda.

Kehadiran Gemelan Kebyar yang sangat ekspresif dan dinamis itu dapat sambutan hangat sebagin besar nasyarakat Bali sehingga gamelan itu cepat berkembang keberbagai daerah Bali Selatan. Hal ini terjadi bukan karena gamelan mampu mengekspresikan suatu sesuai jiwa zamannya, melainkan juga karena mempunyai sifat fleksibel, luwes, dan praktis. Satu keunikan yang menonjol pada gamelan baru itu adalah terangkatnya penyajian Gendhing Kebyar sebagai sajian. Sebuah sajian yang disajikan bukan untuk lain kecuali untuk keperluan konser. Sebagai alat bunyi-bunyian, Gamelan Kebyar tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat Bali. Ia biasanya digunakan untuk mengiringi berbagai macam upacara agama dan adat seperti Dewa Yadnya (upacara korban suci yang ditujukan pada Tuhan), pitra yadnya (kpada leluhur) dan butha yadnya (korban suci yang ditujukan kapada binatang, tumbuh-tumbuhan, roh halus, dan makluk halus lainnya). Sama seperti gamelan-gamelan lainnya, Gong Kebyar dapat menggugah parasaan indah seseorang dan memberi kepuasan kepada jiwa para penikmat dan para pemainnya. Ia juga bias digunakan sebagai media komonikasi, sebagai hiburan, sebagi terapi, sebagai penggugah respon fisik masyarakat, dan dalam kaitannya ini dapat berperan untuk menumbuhkan intregitas masyarakat. Disamping itu juga merupakan karya seni, Gamelan Kebyar digunakan pula sebagai iringan Tari Kebyar, Tari baris, serta Drama Gong. Dari uraian itu jelas bahwa Gamelan Kebyar sangat dibutuhkan masyarakat Bali baik digunakan sebagai sarana upacara, sebagai hiburan pribadi, maupun sebagai tontonan.

Perkembangan Gamelan Kebyar berjalan dengan cepat dari kawasan daerah Bali Utara menyabar luas ke berbagai desa di Bali Selatan. Di daerah Tabanan kecuali Bantiran pengembangan Gamelan Kebyar berawal dari diselenggarakan upacara Palebon (pembakaran jenasah) di puri Subania Tabanan pada tahun 1919. atas usul dari seniman puri, upacara agung itu dimeriahkan dengan pertunjukan Gamelan Kebyar dari desa Buntiran, suatu desa wilayah Tabanan yang terletak diperbatasan antara Kabupaten Tabanan dengan Kabupaten Buleleng. Kehebatan penampilan sekeha gong Buntiran sangat memukau para pengamat sehingga mampu merangsang para seniman Tabanan untuk untuk mempelajari gendhing Tabanan asal Bali Utara itu. Akhirnya sejak peristiwa itu (1919) beberapa sekeha gong yang dipelopori sekeha gong Pangkung segera mendatangkan pelatih Gending (panguruk) dari Bali Utara diantaranya I Wayan Sembah (dari Kedis) I Tatra (Patemon), I Mukia (Nagasepa), dan I Sudiana (Nagasepa).

Gendhing-gendhing Kebyar yang dibawa dari Bali itu pada awalnya sebagian besar berbentuk sederhana tabuh telu, gagaboran, dan babapangan, sejak tahun 1920-an I Wayan Sukra dan kawan-kawan mulai menggabungkan Gending Kebyar yang dating dari Bali Utara dengan Gendhing Palegongan yang telah lama digelutinya, sehingga lahirnya Gendhing Kebyar yang kompleks seperti diciptakan Sukra antara lain: Gendhing Kebyar Sulendra, Gendhing Gineman Gagenderan, dan Gendhing Tabuh Tegak Gagambangan. Ditahun yang sama (1920) ia berhasil pula menciptakan beberapa buah gendhing tari (gendhing igel), satu diantaranya yang sangat terkenal hingga kini adalah Gendhing Tari Kebyar Duduk Trompong. Koreografer tari sangat popular ini adalah I Ketut Maria (I Mario), seorang seniman tari yang sangat terkenal dari Tabanan. Hal ini menunjukan bahwa tahun 1920-an nama pencipta gendhing dan tari (kebyar)secara individual mulai ditampilkan. Gede manik, seorang pengendang yang sangat terkenal dari Jagaraga Buleleng pada tahun1932 mulai memasukan gendhing gender wayang (pagenderan) seperti gendhing merak ngilo, guak macok, sekar gendot, dan lain-lain kedalam gamelan kebyar. Di tahun 1935 ia berhasil pula menciptakan sebuah tari dan gendhing trumajaya yang sangt popular sampai sekarang. Untuk garapan ini manik mengakui dengan jujur denganpola-pola gerk tari yang dipakai dalam tari trumajaya merupakan pengembangan dekat tari pola-pola gerak yng terdapat pada tari kebyar legong. Di dempasar (Kuta) Inyoman kaler, seorang seniman karawitan sangat terkenal di bali sejak tahun 1935 mulai berusaha mengadakan pembaharuan gendhing dan tari kebyar dengan menciptakan beberapa repertoar tari serta tabuh, tiga diantaranya yang masih idup hingga sekarang yaitu tari dan gendhing margapati, panji semirang, dan wiratana – ketiganya dicipta padatahun1942.

Mulai akhir bulan Februari 1942 sampai Indonesia mencapai kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 Bali berada di tangan kekuasaan Jepang. Pada masa itu penerintahan Jepang, Bali dipandang sebagai tampat peristirahatan dan hiburan, sehingga kesenian seperti Legong, Arja, Topeng, dan lain-lain hidup seperti biasa. Sementara seni Kebyar tidak mengalami perubahan, hingga tahun 1951 belum muncul lagi karya Kebyar yang popular. Ini bisa dimaklumi karena di tahun-tahun itu, Bali masih diliputi suasana memprihatinkan, karena NICA ingin merebut kembali daerah Bali dari tangan Pemerintahan Indonesia.

Dalam suasana demikian pada tahun 1952 I Mario dan I Sukra kembali menciptakan sebuah tari dan gendhing Oleg Tabulilingan yang sangat terkenal hingga sekarang, sementara I Wayan dan INyoman berhasil mewujudkan karya tari dan gendhing Tenun pada tahun 1957.

Dalam perkembangannya, Gendhing Kebyar yang awal berkembangnya berasal dari Bali Utara sedikit banyak mengalami perkembangan masyarakat pendukungnya sehingga muncul Gendhing Kebyar gaya kedaerahan seperti gaya Jagaraga, Bantiran, Pangkung, Belaluan, Peliataan, dan lain-lain. Namun secara garis besar gaya-gaya itu dapat dibedakan menjadi dua: gaya Bali Utara dan gaya Bali Selatan. Corraubias memberi penekanan dari masaing-masing gaya ini bahwa Gendhing Kebyar gaya Bali Utara lebih menekan pada tehnik yang keras, sinkopasi, dan perubahan dinamis secara cepat. Perbedaan penekanan ini, sama seperti kehadiran gendhing gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta di jawa tengah yang oleh R. Arderson Sutton dikatakan bahwa aktivitas musical gaya Yogyakarta terfokus pada permainan instrument yang keras (saron), sedangkan Surakarta lebih menfokuskan garapan pada vocal dan instrument lembut (gender, rebab).

Melihat perkembangan gamelan kebyar dari tahun 1914 sampai 1957 tampak bahwa gamelan kebyar sangat disenangi masyarakat bali meskipun embat gamelannya belum begitu ideal. Bentuk-benuk gendhing petegak masih terbatas pada pangalang, jajineman, dan kakebayaran, dan gendhing tari belum ada yang menggunakan gerongan.

3. Instrumental Gamelan Kebyar

Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, ataupun peniadaan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 (lima) dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 9 (sembilan) atau 10 (sepuluh). Ceng-ceng kopyak yang terdiri dari 4 (empat) sampai 6 (enam) pasang dirubah menjadi 1 (satu) atau 2 (dua) set ceng-ceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan.

Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang, Gamelan, Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wyang yang lincah, Gong Gede yang kokoh atau Palegongan yang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern. Barungan ini diperkirakan muncul di Singaraja pada tahun 1915 (McPhee, 1966 : 328). Desa yang sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi tari Kebyar. Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan. Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk atau kebyar Trompong. Gong Kebyar berlaras pelog lima nada dan kebayakan instrumennya memiliki sepuluh sampai dua belas nada, karena konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkan dengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih bebas, hanya pada bagian-bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik masih dipergunakan, seperti tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu dan sebagainya.

Lagu-lagunya seringkali merupakan penggarapan kembali terhadap bentuk–bentuk (repertoire) tabuh klasik dengan merubah komposisinya, melodi, tempo dan ornamentasi melodi. Matra tidak lagi selamanya ajeg, pola ritme ganjil muncul dibeberapa bagian komposisi tabuh.

Gong Kebyar bisa diklasifikasikan menjadi 3 (tiga):
1. Yang besar dan lengkap (utama)
2. Yang semi lengkap (madya)
3. Yang setengah (nista)

Barungan yang utama terdiri dari :

– 10 (sepuluh) buah gangsa berbilah (terdiri dari 2 giying/ugal, 4 pemade, kantil)
– 2 (dua) buah jegoan berbilah 5 – 6
– 2 (dua) buah jublag atau calung berbilah 5 – 7
– 1 (satu) tungguh reyong berpencon 12
– 1 (satu) tungguh terompong berpecon 10
– 2 (dua) buah kendang besar (lanang dan wadon) yangdilengkapi dengan 2 buah kendang kecil.
– 1 (satu) pangkon ceng-ceng
– 1 (satu) buahkajar
– 2 (dua) buah gong besar (lanang dan wadon)
– 1 (satu) buah kemong (gong kecil)
– 1 (satu) buah babende (gong kecil bermoncong pipih)
– 1 (satu) buah kempli (semacam kajar)
– 1 (satu) – 3 (tiga) buah suling bambu
– 1 (satu) buah rebab
g. Gamelan Janger
Janger yang merupakan tari pergaulan muda mudi ditarikan oleh para remaja sebanyak 20 (duapuluh) sampai 24 (duapuluh empat) orang, diiringi dengan gamelanyang terdiri dari :
– 1 (satu) gender wayang
– 1 (satu) pasang kendang kekrumpungan (kecil)
– 1 (satu) buah tawa-tawa
– 1 (satu) buah kajar
– 1 (satu) buah rebana (yang kadang kala digantikan dengan gong pulu)
– 1 (satu) buah kleneng
– 1 (satu) pangkon ricik
– 1 (satu) – 3 (tiga) buah suling

Dilihat dari embat-nya (warna suaranya) terdapat tiga Gamelan kebyar yang berkembang di Bali yaitu: Gamelan kebyar yang bersumber dari Gong Gede, dari gamelan palegongan, dan yang murni buatan baru. Yang pertama memiliki embat yang sesuai dengan embat gamelan gong gede yaitu agak rendah seperti yang banyak terdapat di Bali Utara, kelompok kedua menggunakan embat sama dengan embat gamelan palegongan (sumbernya) yaitu agak tinggi seperti yang sebagian besar terdapat di Bali bagian selatan, Gamelan-gamelan kebyar yang murni buatan baru sebagian besar ber-embat sedang seperti yang terdapat di berbagai daerah di Bali dan diluar Bali. Kenyataan ini menunjukan bahwa belum ada standarisasi embat untuk Gamelan kebyar di Bali.

Bentuk-bentuk gendhing kebyar yang lahir sebelum lahirnya karya gendhing Wayan Baratha dapat dibedakan menjadi dua: gendhing pategak, san gendhing tari. Gendhing pategak (konser) meliputi pangalang, jajineman (gagenderan) dan kakebyaran. Jadi belum ada komposisi gendhing baru berbentuk seperti gendhing palgunawarsa (karya Beratha).Garapan dramatiknya lebih banyak bersifat dinamik mendatar sehingga bagian terakhir (klimaks) bukan merupakan bagian yang paling ditonjolkan. Demikian pula penonjolan garap instrument secaraindividual belum banyak diperhatikan. Pola irama yang dipergunakan kebanyakan empat perlu ada irama tiga perempat dalam gamelan Gong kebyar. Gendhing tari yang ada ketika itu belum berbentuk gendhing sendratari dan belum ada yang memakai gerongan (vocal).

4. Perkembangan Gamelan Gong Kebyar

Dalam periode tahun 1970 sampai dengan 1990an, seni karawitan Bali mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan. Kemajuan seni karawitan Bali pada waktu itu memperlihatkan dua sisi yang menarik dan sangat menentukan masa depan dari seni karawitan di daerah ini.

Di satu sisi telah terjadi penyebaran gamelan keseluruh Bali, bahkan keluar daerah serta keluar negeri. Kondisi ini diikuti oleh munculnya komposisi-komposisi karawitan baru yang semakin rumit dengan teknik permainan yang semakin kompleks.

Di sisi lain terlihat terjadinya perubahan ekspresi musikal dan pembaruan gaya-gaya musik lokal. Di Bali dewasa ini hampir setiap desa telah memiliki gamelan. Banyak desa bahkan memiliki 2 – 3 barungan gamelan. Namun demikian tidak dapat dipungkiri lagi bahwa jenis gamelan yang paling baik perkembangannya adalah Gong Kebyar. Kiranya hal ini disebabkan oleh keberadaan daripada barungan gamelan ini yang serba guna dan yang paling sesuai dengan selera masyarakat banyak terutama kalangan generasi muda.

Ada bebrapa contoh yang dapat dijadikan bukti terhadap perkembangan Gong Kebyar ini. Di desa Singapadu sebuah desa di Kabupaten Gianyar misalnya, hingga sekitar akhir tahun 1960 hanya ada 1 barung Gong Kebyar dan 7 barung gamelan Geguntangan atau Paarjan. Dua puluh tahun kemudian di desa yang terdiri dari 13 banjar dinas ini telah ada 6 barung Gong Kebyar dan 2 barung Geguntangan. Jumlah ini masih perlu ditambah 2 barung Gong Kebyar yang dimiliki oleh sanggar atau sekaa pribadi. Di kota-kota besar diluar Bali seperti Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta juga telah berdiri group musik dan gamelan Bali. Dapat dipastikan bahwa gamelan yang dimiliki oleh group-group ini adalah gamelan Gong Kebyar.

Di tingkat Internasional, gamelan Bali (Gong Kebyar, Semar Pagulingan dan Gender Wayang) sudah tersebar ke Eropa, Jerman, Australia, Jepang, Canada, India dan mungkin yang terbanyak ke Amerika Serikat. Walaupun kebanyakan dari barungan gamelan Bali ini ditempatkan di perwakilan RI, ataupun universitas-universitas, semakin banyak group-group swasta dan perorangan yang memiliki gamelan sendiri. Group Sekar Jaya El Ceritto, California, Giri Mekar di Woodstock, New York (keduanya di Amerika Serikat), dan group Sekar Jepun di Tokyo Jepang adalah beberapa group kesenian asing yang hingga kini masih aktif. Menjadi semakin kompleksnya komposisi gamelan Bali yang diwarnai dengan melodi serta teknik cecadetan yang semakin rumit.

Belakangan ini muncul komposisi-komposisi musik baru yang menampilkan melodi yang lincah dan mempergunakan banyak nada. Hal ini sangat berbeda dengan gending-gending dari masa lampau yang melodi-melodinya sangat sederhana, mempergunakan beberapa nada saja dan berisikan banyak pengulangan. Pola-pola cecadetan yang muncul belakangan ini sudah banyak memakai pola ritme/ hitungan tidak ajeg seperti tiga, lima atau tujuh.

Dalam komposisi lama, dalam gender wayang sekalipun pola ritme/ hitungan ajeg sangat dominan. Perubahan ini juga diikuti oleh masuknya jenis pukulan rampak dan keras, yang datangnya secara tiba- tiba seperti yang terjadi pada Gong Kebyar. Tambah lagi ekspresi musikal hampir semua gamelan Bali menjadi ngebyar” (meniru Gong Kebyar). Nampaknya perubahan ini besar kaitannya dengan adanya pengaruh gamelan Gong Kebyar.

Kecenderungan yang lain adalah pengembangan barungan dengan cara menambah beberapa instrumen baru. Gejala ini yang terlihat dalam pengembangan gamelan Geguntangan, munculnya Adi Merdangga dan gamelan pengiring sendratari. Hal ini kiranya berkaitan dengan munculnya stage-stage pementasan besar dengan penonton yang berada jauh dari arena pentas (tempat menari). Agar musik dapat didengar oleh penonton yang berada di kejauhan ini, maka penambahan instrumen menjadi perlu selain menggunakan sistem amplifikasi. Misalnya saja pada tahun 1970, gamelan Geguntangan adalah suatu barungan kecil yang menimbulkan suara lembut merdu. Kini Geguntangan sudah dilengkapi dengan beberapa buah kulkul, dengan beberapa instrumen bilah seperti cuing dan lain-lain. Ada kecenderungan bahwa perkembangan seni Karawitan Bali lebih didominir oleh gaya Bali Selatan.

Seni Karawitan sebagaimana halnya kesenian Bali lainnya, juga meliputi dua gaya daerah : Bali utara dan Bali Selatan. Perbedaan antara kedua gaya ini tampak jelas dalam tempo, dinamika dan ornamentasi dari pada tabuh- tabuh dari masing-masing gaya.

Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk tempo tabuh-tabuh Bali Utara cenderung lebih cepat dari yang di Bali Selatan. Hal ini juga menyangkut masalah dinamika di mana tanjakan dan penurunan tempo musik Bali Utara lebih tajam daripada Bali Selatan. Namun demikian, ornamentasi tabuh-tabuh Bali Utara cenderung lebih rumit daripada Bali Selatan. Akhir-akhir ini tabuh-tabuh gaya Bali Utara terasa semakin jarang kedengarannya, sebaliknya tabuh-tabuh Bali Selatan semakin keras gemanya. Semua yang sudah diuraikan di atas mengisyaratkan kemajuan karawitan Bali baik secara kuantitas maupun kwalitas. Ada kecendrungan bahwa di masa yang akan datang seni karawitan Bali, khususnya instrumental yang didominir oleh gamelan Gong Kebyar dan ekspresi ngebyar” akan masuk ke jenis-jenis gamelan non-Kebyar. Sementara karawitan gaya Bali Utara dan Selatan akan berbaur menjadi satu (mengingat pemusik kedua daerah budaya ini sudah semakin luluh), gamelan klasik seperti Semar Pagulingan nampaknya akan bangkit kembali.

5. Kesimpulan

Dilihat dari sejarah, instrumental dan perkembangan Gong Kebyar di masa yang akan datang, bentuk-bentuk seni karawitan dan barungan gamelan Bali baru akan terus bermunculan. Adanya “kebiasaan” dikalangan seniman Bali untuk terus mencoba, mencari dan menggali ide-ide baru, baik dari dalam seni budaya tradisi mereka maupun dari unsur luar yang senafas, sangat memungkinkan akan terwujudnya perkembangan seni karawitan Bali yang lebih baik di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSAKA

1. I Wayan, 2002. Wayan Beratha Pembaharu Gamelan Gong Kebyar. Yogyakarta, Tarawang.

2. I Made Bandem, Mengenal Gamelan Bali ( Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar, 1982).

3. I Gusti Ngurah Rai Mirsha, et.al., Sejarah bali (Denpasar; Proyek Penyusunan Sejarah Bali Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, 1986), hal. 165-202

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi

8 Komentar pada “HISTORIS, INSTRUMENTAL DAN PERKEMBANGAN GAMELAN GONG KEBYAR BALI”

  1. King Jazz Says:

    WWUUUAAAAHHHHHHH .. SAYA SANGAT SENANG SEKALI DAN WAJIB BERTERIMA KASIH KEPADA BAPAK2 YANG TERLIBAT DALAM MENULIS GAMELAN BALI INI …. KEBETULAN SAYA ADALAH SEORANG DOSEN S3 DAN MENGAJAR JAZZ FUSION DI BEBERAPA UNIVERSITAS DI U.S.A, SANGAT MEMBUTUHKAN BANYAK INFORMASI YANG SUNGGUH MENGAKAR BUDAYA .. KARENA SAYA JUGA HARUS BELAJAR AKAR BUDAYA NENEK MOYANG … MAKA KINI SA AKEMBALI KULIAH LAGI UNTUK MENGAMBIL JURUSAN KARAWITAN GAMELAN BALI … DI ISI DENPASAR BALI.. SINGKAT KATA,… DENGAN ADANYA ARTIKEL INI SAYA SANGAT2LAH BERSYUKUR DAN BERTERIMA KASIH MEMPEROLEH ILMU2 DAN SEJARAH SERTA WAWASAN SANGAT LUAS UNTUK KEMBALI MENGGALI DAN MENGEKSPLORASI MUSIK2 TRADISIONAL KAMI… TERIMA KASIH BANYAK …


  2. […] Gong Kebyar di Bali, seperti yang dikutip dalam catatan sukoco dalam blog https://etno06.wordpress.com terdapat tiga Gamelan kebyar yang berkembang di Bali yaitu […]


  3. […] Gong Kebyar di Bali, seperti yang dikutip dalam catatan sukoco dalam blog https://etno06.wordpress.com terdapat tiga Gamelan kebyar yang berkembang di Bali yaitu […]


  4. […] Gong Kebyar di Bali, seperti yang dikutip dalam catatan sukoco dalam blog https://etno06.wordpress.com terdapat tiga Gamelan kebyar yang berkembang di Bali yaitu […]


  5. […] Gong Kebyar di Bali, seperti yang dikutip dalam catatan sukoco dalam blog https://etno06.wordpress.com terdapat tiga Gamelan kebyar yang berkembang di Bali yaitu […]


  6. […] Gong Kebyar di Bali, seperti yang dikutip dalam catatan sukoco dalam blog https://etno06.wordpress.com terdapat tiga Gamelan kebyar yang berkembang di Bali yaitu […]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: