LEMBAGA DAN BENTUK ORGANISASI SENI PERTUNJUKAN DI INDONESIA


Materi / Bahan Ajar

1. Seni Pertunjukan Istana dan ‘Barangan’

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia, maka timbulah kemudian kerajaan sebagai pusat pemerintahan dan pusat perkembangan kebudayaan serta kesenian. Untuk melaksanakan kegiatan upacara-upacara kerajaan, raja memiliki seniman-seniman istana (dalang, penari, pangrawit, dsb.) yang berstatus sebagai abdidalem atau pegawai kerajaan. Ketika kerajaan-kerajaan Hindu mulai memeluk agama Islam sudah barang tentu tak lagi dilakukan upacara-upacara, maka seni pertunjukan yang semula mempunyai peranan keagamaan kemudian berubah lebih sebagai hiburan yang sekuler. Status para seniman ini tak berubah, artinya sebagai pegawai kerajaan yang bertugas membina dan melaksanakan pertunjukan untuk keperluan istana (pesta, perayaan, penyambutan tamu, dls.) dengan mendapatkan imbalan gaji, perumahan, dan jaminan sosial dari pemerintah kerajaan.

Sisa-sisa pelembagaan kesenian (seni pertunjukan istana) ini masih dapat dilihat di keraton Kasunanan (Surakarta) dan keraton Kasultanan (Yogyakarta). Di keraton Yogyakarta misalnya, sampai sekarang masih ada bagian dari ‘pemerintahan’ keraton yang bernama Kawedanan Hageng Punakawan Kridamardawa yang bertugas membina dan melaksanakan kehidupan seni tari dan karawitan di istana Yogyakarta. Para petugasnya kebanyakan para bangsawan kerabat Sultan, yang sudah barang tentu tak lagi mendapatkan gaji seperti ketika Sultan masih berkuasa, melainkan lebih berdasarkan kekerabatan dan kegiatan sosial.
Pertunjukan-pertunjukan istana Jawa ini basanya dilakukan di sebuah bangsal atau pendopo khusus (di keraton Yogyakarta disebut Bangsal Kencana, sedang di keraton Surakarta disebut Balai Marakata/Prabasuyasa). Di luar keraton para bangsawan kerabat raja banyak juga yang ikut membina berbagai jenis seni pertunjukan.

Berbeda dengan keadaan dan perkembangan seni pertunjukan di Bali, sampai saat ini seni pertunjukan tetap mengambil peranan utama di dalam berbagai macam upacara keagamaan. Ini dapat dimengerti karena sampai saat ini hampir seluruh masyarakat Bali memeluk agama Hindu Bali yang menempatkan seni pertunjukan di dalam upacara-upacara mereka. Agak berbeda dengan perkembangan seni pertunjukan di istana di Jawa, di Bali baik keluarga raja-raja maupun masyarakat luar istana, memelihara dengan baik nomor-nomor seni pertunjukan yang sama. Sehingga pada dasarnya sulit dibedakan antara kesenian yang berkembang di istana dan yang berkembang di luar istana. Sistim keagamaan di Bali memungkinkan pergaulan yang lebih akrab antara bangsawan dan masyarakat luar istana dalam seni pertunjukan. Karena tak jarang kedua kelompok masyarakat dengan status yang berbeda tersebut harus menyelenggarakan pertunjukan dalam sebuah pura yang sama.

Menilik perkembangan seni pertunjukan di Jawa dan di tempat-tempat lain di luar pulau Bali, kebutuhan akan seni pertunjukan sebagai sarana upacara-upacara desa, perorangan dan keperluan masyarakat yang lain, biasanya diisi atau dipenuhi oleh rombongan seni pertunjukan keliling atau rombongan ‘barangan’. Pelakunya biasanya adalah para seniman rakyat atau seniman desa: dalang, penari, pangrawit, penyanyi dls.  yang disamping tugasnya mengolah sawah (bertani), dimasa-masa sela dari kegiatan di sawah (menunggu saat panen atau sehabis panen sebelum mengolah tanah)  berkeliling dari desa ke desa memenuhi undangan atau menjajakan tontonan (‘mbarang’). Tergantung dari siapa yang menanggap atau mengupah, pertunjukan dapat dilakukan di pendopo, di sebuah bangunan sementara yang khusus didirikan ketika orang mengadakan suatu perayaan (‘tarub’) atau cukup di halaman atau tempat-tempat terbuka yang cukup luas. Jika tidak berdasarkan tanggapan atau undangan, tontonan keliling semacam ini  dapat pula diselenggarakan dengan mengutip sumbangan langsung dari para penonton.

2. Publikasi dan Pemasaran

Bagi organisasi yang harus menyelenggarakan sendiri penjualan karcis atau mengelola sendiri gedung pertunjukannya, maka publikasi dan pemasaran pertunjukan harus pula dipersiapkan sendiri secara cermat. Kurang baiknya publikasi dan pemasaran dapat mempengaruhi kurangnya penonton, dan pada gilirannya hasil penjualan karcis yang diharapkan untuk menutup biaya produksi tidak akan terpenuhi.

Publikasi pertunjukan di jaman dahulu sering cukup dilakukan dengan menugaskan seseorang ‘memukul bende’ sambil berjalan kaki atau naik kereta dan berteriak-teriak mengabarkan datangnya pertunjukan yang bagus. Di beberapa daerah publikasi model lama ini diperbaharui dengan naik sepeda motor atau mobil dan dengan menggunakan pengeras suara, yang ternyata cukup baik hasilnya. Di kota-kota besar, publikasi ditangani melalui media masa: radio, televisi, surat kabar, majalah, bioskop, pembuatan poster, banner (spanduk), pamplet (selebaran) dan sejenisnya.

Dalam adpertensi maupun dalam media publikasi tulis yang lain, kalimat harus  dibuat  terbaca, ringkas dan jelas, tidak berkepanjangan. Harus pula dicantumkan tempat (gedung), hari, tanggal, jam, pertunjukan dan harga karcis serta dimana diperoleh. Keterangan yang ringkas dan jelas juga berlaku untuk bahan siaran radio, televisi, dan film. Apalagi jika harus membayar, karena  diperhitungkan dengan menit, atau bahkan detik. Agar lebih menarik bahan-bahan publikasi adakalanya diberi gambar atau ilustrasi. Media publikasi yang baik adalah yang mudah dibaca dan dimengerti dalam sekejap terbaca, lengkap, ringkas, dan jelas. Umumnya media publikasi dipasang pada tempat-tempat yang banyak dikunjungi atau dilalui orang ramai.

Pembuatan banner, poster, dan pamflet dapat dicarikan sponsor dengan memasang ‘logo’ atau gambar simbol produksi dari perusahaan yang menjadi sponsor (perusahaan minuman, rokok, jamu, dls.). Perlu diperhatikan juga agar pemasangan ‘logo’ sponsor ini tidak mengalahkan publikasi pertunjukan kita sendiri. Di depan sebuah gedung pertunjukan atau di muka pusat hiburan dan kesenian biasanya selalu dapat kita temui papan pengumuman atau papan reklame dengan  ukuran besar dan/atau kecil (billboard), tempat menempelkan acara-acara yang akan dipertunjukan di dalam gedung atau kompleks yang bersangkutan.

Kecuali cara-cara publikasi tersebut di atas, pemasaran pertunjukan dapat ditempuh dengan berbagai usaha. Dalam rangka mendatangkan penonton, dengan mengirimkan surat-surat pemberitahuan kepada para langganan tentang pertunjukan-pertunjukan mendatang, di samping itu juga pengiriman kalender acara. Pemberian potongan harga karcis bagi para langganan, juga  layanan pemesanan tempat dan pemotongan harga kepada mereka yang membeli karcis secara rombongan. Pelayanan khusus juga diberikan kepada orang-orng lanjut usia, para pelajar, dan mahasiswa (dengan bukti khusus).

Publikasi dan pemasaran memang harus dilakukan untuk mendatangkan penonton, Oleh karenanya setiap organisasi pertunjukan memerlukan budget atau biaya khusus  untuk keperluan ini. Semakin  komersial sebuah organisasi pertunjukan, akan semakin besar pula biaya publikasi yang harus dikeluarkan.

Explore posts in the same categories: Managemen Seni Pertunjukan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: