Peran dan Bentuk Lagu Lero di Kabupaten Sikka, Prores Tengah


By Sukoco

1. Peran  Lagu Lero

Nyanyian yang berjudul Lero, pertama digunakan untuk nyanyian kerja yaitu untuk semangat dalam bekerja secara komunal (berkerja rame-rame).  Pekerjaan bersama itu seperti mengolah lahan pertanian, membangun rumah, atau kegiatan yang dikerjakan secara bersama-sama.

Sekarang, nyanyian Lero digunakan sebagai nyanyian untuk mengiringi tarian togo yang biasa ditampilkan untuk acara perkawinan, pesta panen, dan acara lain yang berhubungan dengan kebersamaan. Tarian togo ini biasanya dilakukan pada malam hari, dengan menggunakan lampu obor: para penari membentuk setengah lingkaran, saling berpegangan tangan, saling bersentuhan bahu, bergerak dari samping ke samping, dan tarian togo gerakannya seperti tarian tradisi yaitu lebih banyak bertumpu pada kekuatan kaki. Para penari solo kadang-kadang maju dan menari didepan barisan. Di samping mempersembahkan hiburan untuk orang dewasa, tarian togo memberi kesempatan untu para bujang untuk saling berkenalan.

Nyanyian lero ini terdiri dari bagian solo dan refren dalam bentuk koor, dimana sipenyanyi solo kadang-kadang menimpali kelompok koor, syairnya berupa paribasa, atau bait-bait brhubungan dengan kerja pertanian, atau bisa juga berisi komentar mengenaio peristiwa dan tokoh-tokoh di desa itu. Nyanyian lero terdapat dua orang pemimpin nyanyian(yang tugasnya, selam kerja kumunal, hanyalah untuk menyanyi). Untuk penyanyi solo utama, diberi istilah narong dan not, dan untuk penyanyi solo pembantu, dorong atau dolong, masing-masing penyanyi solo memukul korak,separuh tempurang kelapa, sebagai pengatur tempo. Koornya bertepuk tangan, yang menyanyi dengan dengan harmoni yang berdasarka interval terts, dinamakan bokang atau orong.

2. Bentuk Lagu Lero

Nyanyian lero adalah jenis lagu yang dinyanyikan oleh orang banyak, seperti layaknya paduan suara yaitu nyanyian dinyanyikan oleh beberapa laki-laki dan beberapa wanita. Nyanyian lero dipimpin oleh satu penyanyi solo utama (wanita) dan satu penyanyi pembantu yang dimana panyanyi solo utama dan penyanyi solo pembantu sambil yang masing-masing penyanyi solo memukul korak, yaitu tempurung kelapa, sebagai pengatur tempo dan penyanyi yang lain bernyanyi dengan bertepuk tangan.

Memukul korak dan tepuk tangan untuk temponya menggunakan dua suara yang tetap yang satu suaranya keras dan yang satu ringan, di dalam istilah barat menggunakan birama 2/4. Pukulan korak dan tepuk tangan dibunyikan tetap secara kuntinue, hingga sampai dengan diakhir lagu pukulan semakin agak cepat dan keras. Di samping pemukulan korak dan tepuk tangan berfungsi untuk mengatur tempo juga berfungsi untuk iringan nyanyian lero. biarpun menggunakan tempo yang tetap dan monoton dalam iringannya, nyanyian lero mempunyai tehnik dinamika yang beragam.

Dimanika dalam nyanyian lero, tidak mengolah tempo (tidak mengolah tempo menjadi cepat maupun lambat atau sabaliknya) tetapi nyanyian lero lebih bermain di dimamika suara (yaitu suara keras, suara lembut, dan suara sedang) dan dinamika nada. Olahan dinamika suara dinyanyian lero sangat beragam antara lain: terdapat  dianamika suara tiba-tiba keras, tiba-tiba lirih dan juga dinamika suara sedang yang itu dilakukan tidak hanya penyanyi solo tetapi juga berlaku untuk koornya. Untuk pengaturan dinamika suara yang mengatur adalah penyanyi solo yaitu penyanyi solo utama untuk koor wanita dan penyanyi solo pembantu untuk koor laki-laki. Dan untuk olahan dinamika nada menggunakan nada antara lain: rendah, sedang, tinggi  dengan memilihan melodi yang sangat kompleks ”jika diteliti”. Untuk lebih jelasnya, nyanyian lero pembahasan selanjutnya memgaambarkan antologi nyanyian lero.

Untuk antologi dan variasi nyanyian lero: menggunakan interval-interval pararell, harmoni yang berdasar pada interval terts. harmoni yang tidak berdasar interval-interval terts, melodi dengan dengungan (drone), koor dalam suara dan beberapa suara, koor yang menyanyikan secara kontrapunk, dan variasi lainnya yang belum ditangkap oleh saya. Untuk jelasnya marilah membahas satu persatu variasi nyanyian lero.

  • Nyanyian lero dengan interval-interval pararell

Melodi yang terdapat dilagu lero dinyanyikan secara bersama-sama yang di setiap penyanyi solo maupun koor menggunakan melodi yang sama maupun berbeda,  dimana penyanyi solo sangat besar peran dalam mengatur koornya. Sebuah contoh dilagu lero, penyanyi solo seperti mendahului koor yang mereka pimpin dan kadang-kadang penyanyi solo berimprovisasi sendiri, meninggalkan koor agar tetap bernyanyi.

  • Harmoni yang berdasarkan interval terts

Didalam nyanyian lero terdapat interval-interval  tert yaitu seperti harmoni standar musik barat yang jarak intervalnya ada yang sama, sebagai contoh ada nada yang jarak intervalnya 1 (satu) ”nada C ke D, maupun  ½  (setengah) ”nada C ke C#.

  • Harmoni yang tidak berdasar interval terts

Di nyanyian lero jarak interval-intervalnya ada yang tidak berdasar interval terts yang berarti tidak sama dengan harmoni standar musik barat. Pernyataan harmoni nyanyian lero tidak berdasar interval terts dianalisa penulis dengan cara memdengarkan nyanyian lero sambil memcocokan interval terts standar musik barat dengan menggunakan alatt musik orgen.

  • Melodi pada koor sebagai dengungan (drone)

Drone pada nyanyian lero tiak sama dengan nyanyian jalae, dengunan pada nyanyian lero lebih sedikit karena koornya juga menyanyikan lagu melodi pokoknya. Dengungan pada nyanyian lero, perannya dinyanyikan kor yang laki-laki. Nyanyian lero yang saya dengar ini dronenya berupa pembunyian dengan hurup adjak O dengan dinyanyikan panjang, sampai habis suara yang dikeluarkan. Untuk dinamika dalam drone, terdapat tekanan-tekanan yang beraturan tetapi naik turunnya nada menggunakan dua nada saja yang jarak intervalnya yang pendek dan tidak terlalu berubah-rubah, dalam arti pergantian nada jaraknya kurang lebih tiga birama yang nadanya bersaut-sautan. Drone untuk nyanyian lero terdapat lebih dari tiga kategori suara yang dinyanyikan kelompok koor laki-laki yang dipimpin oleh penyanyi solo pembantu.

  • Koor dalam satu suara dan beberapa suara

Pertama-tama nyanyian lero dinyanyikan dengan satu suara, dimana penyanyi solo dan koor benyanyi dengan satu suara yang sama dan tempo yang sama yang diawali suatu suara perintah oleh penyani solo utama. Selanjutnya suara yang sama tadi pecah dan terbagi menjadi beberapa suara yang dimana koor laki-laki berperan sebagai drone. Selanjutnya koor laki-laki bernyanyi saut-menyaut dengan koor wanita dan kegiatan itu nberulang-ulang dan dihiasi dengan dengan nyanyian oleh penyanyi solo utama maupun penyanyi solo pembantu.

  • Terdapat koor yang diyanyikan secara kontrapunk

Nyanyian lero terdapat variasi yang sangat kompleks, yang tidak di duga-guda oleh para peneliti ternyata nyanyian lero terdapat variasi yang begitu kompleks. Kompleksitasnya dari nyanyian lero yang dinyanyikan secara kontrapunk yang berarti terdapat suara ataupun nada-nada yang didengar fals dan terdengar tidak harmoni atau tidak pas. Istilah kontrapunk di musik barat berarti nada yang tidak harmoni, yang seperti contoh nada C di bunyikan dengan nada C#. Ataupun kontrapunk merupakan sebuah kunci tetapi salah satu nadanya dinaikan setengah ataupun diturunkan setengah nada, seperti contoh kunci C yang disitu terdapat nada C, G, F jika dibunyikan bersamaan akan terdengar pas tetaapi jika diganti dengan nada C, F, G# jika di bunyikan bersama akan kedengaran fals atau tidak pas.

Dengan banyaknya variasi dari nyanyian lero yang begitu sangat kompleks, yang membuat penulis penasaran apakah nyanyian lero ini disetiap penyanyi solo maupun koor ada aturan khusus yang mengatur dalam menyanyikannya?. Dapat timbul  pertanyaan tersebut dikarenakan pada saat mendengarkan nyanyian lero, nyanyian itu begitu kompleks yang seakan-akan nyanyian tersebut tidak ada teks tertulis untuk menuntun dalam menyanyikannya seperti improvisasi. Dalam pernyataan saya mungkin saja salah karena pastinya terdapat melodi  pokok yang menandai ciri dari suatu nyanyian. Begitu pula dengan nyanyian lero bahwa kompleksitas dari nyanyian lero dikarenakan terdapat hiasan-hiasan yang sangat banyak variasi.

3. Kesimpulan

nyannyian lero merupakan nyanyian paduan suara  yang dimana terdapat satu penyanyi solo utama dan satu penyanyi solo pembantu. Masing-masing penyanyi solo memimpin jalannya lagu seperti penyanyi solo utama memimpin koor  wanita dan yang penyanyi solo penbantu memimpin koor laki-laki. Dalam nyanyian lero menurut saya, terdapat kerumitan tertentu yang tidak dapat ditemukan dalam paduan suara pada musik barat.

Sumber nyanyian lero

  • SERI MUSIK INDONESIA 8 Musik Vokal dan Instrumental dari Flores Timur dan Tengah: MSPI

mi kfad@ahun itu, Bali masih diliputi suasana memprihatinkan, karena NICA ingin merebut kembali daerah Bali dari tangan Pemerintahan Indonesia.

Dalam suasana demikian pada tahun 1952 I Mario dan I Sukra kembali menciptakan sebuah tari dan gendhing Oleg Tabulilingan yang sangat terkenal hingga sekarang, sementara I Wayan dan INyoman berhasil mewujudkan karya tari dan gendhing Tenun pada tahun 1957.

Dalam perkembangannya, Gendhing Kebyar yang awal berkembangnya berasal dari Bali Utara sedikit banyak mengalami perkembangan masyarakat pendukungnya sehingga muncul Gendhing Kebyar gaya kedaerahan seperti gaya Jagaraga, Bantiran, Pangkung, Belaluan, Peliataan, dan lain-lain. Namun secara garis besar gaya-gaya itu dapat dibedakan menjadi dua: gaya Bali Utara dan gaya Bali Selatan. Corraubias memberi penekanan dari masaing-masing gaya ini bahwa Gendhing Kebyar gaya Bali Utara lebih menekan pada tehnik yang keras, sinkopasi, dan perubahan dinamis secara cepat. Perbedaan penekanan ini, sama seperti kehadiran gendhing gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta di jawa tengah yang oleh R. Arderson Sutton dikatakan bahwa aktivitas musical gaya Yogyakarta terfokus pada permainan instrument yang keras (saron), sedangkan Surakarta lebih menfokuskan garapan pada vocal dan instrument lembut (gender, rebab).

Melihat perkembangan gamelan kebyar dari tahun 1914 sampai 1957 tampak bahwa gamelan kebyar sangat disenangi masyarakat bali meskipun embat gamelannya belum begitu ideal. Bentuk-benuk gendhing petegak masih terbatas pada pangalang, jajineman, dan kakebayaran, dan gendhing tari belum ada yang menggunakan gerongan.

3. Instrumental Gamelan Kebyar

Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, ataupun peniadaan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 (lima) dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 9 (sembilan) atau 10 (sepuluh). Ceng-ceng kopyak yang terdiri dari 4 (empat) sampai 6 (enam) pasang dirubah menjadi 1 (satu) atau 2 (dua) set ceng-ceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan.

Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang, Gamelan, Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wyang yang lincah, Gong Gede yang kokoh atau Palegongan yang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern. Barungan ini diperkirakan muncul di Singaraja pada tahun 1915 (McPhee, 1966 : 328). Desa yang sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi tari Kebyar. Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan. Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk atau kebyar Trompong. Gong Kebyar berlaras pelog lima nada dan kebayakan instrumennya memiliki sepuluh sampai dua belas nada, karena konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkan dengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih bebas, hanya pada bagian-bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik masih dipergunakan, seperti tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu dan sebagainya.

Lagu-lagunya seringkali merupakan penggarapan kembali terhadap bentuk–bentuk (repertoire) tabuh klasik dengan merubah komposisinya, melodi, tempo dan ornamentasi melodi. Matra tidak lagi selamanya ajeg, pola ritme ganjil muncul dibeberapa bagian komposisi tabuh.

Gong Kebyar bisa diklasifikasikan menjadi 3 (tiga):
1. Yang besar dan lengkap (utama)
2. Yang semi lengkap (madya)
3. Yang setengah (nista)

Barungan yang utama terdiri dari :

– 10 (sepuluh) buah gangsa berbilah (terdiri dari 2 giying/ugal, 4 pemade, kantil)
– 2 (dua) buah jegoan berbilah 5 – 6
– 2 (dua) buah jublag atau calung berbilah 5 – 7
– 1 (satu) tungguh reyong berpencon 12
– 1 (satu) tungguh terompong berpecon 10
– 2 (dua) buah kendang besar (lanang dan wadon) yangdilengkapi dengan 2 buah kendang kecil.
– 1 (satu) pangkon ceng-ceng
– 1 (satu) buahkajar
– 2 (dua) buah gong besar (lanang dan wadon)
– 1 (satu) buah kemong (gong kecil)
– 1 (satu) buah babende (gong kecil bermoncong pipih)
– 1 (satu) buah kempli (semacam kajar)
– 1 (satu) – 3 (tiga) buah suling bambu
– 1 (satu) buah rebab
g. Gamelan Janger
Janger yang merupakan tari pergaulan muda mudi ditarikan oleh para remaja sebanyak 20 (duapuluh) sampai 24 (duapuluh empat) orang, diiringi dengan gamelanyang terdiri dari :
– 1 (satu) gender wayang
– 1 (satu) pasang kendang kekrumpungan (kecil)
– 1 (satu) buah tawa-tawa
– 1 (satu) buah kajar
– 1 (satu) buah rebana (yang kadang kala digantikan dengan gong pulu)
– 1 (satu) buah kleneng
– 1 (satu) pangkon ricik
– 1 (satu) – 3 (tiga) buah suling

Dilihat dari embat-nya (warna suaranya) terdapat tiga Gamelan kebyar yang berkembang di Bali yaitu: Gamelan kebyar yang bersumber dari Gong Gede, dari gamelan palegongan, dan yang murni buatan baru. Yang pertama memiliki embat yang sesuai dengan embat gamelan gong gede yaitu agak rendah seperti yang banyak terdapat di Bali Utara, kelompok kedua menggunakan embat sama dengan embat gamelan palegongan (sumbernya) yaitu agak tinggi seperti yang sebagian besar terdapat di Bali bagian selatan, Gamelan-gamelan kebyar yang murni buatan baru sebagian besar ber-embat sedang seperti yang terdapat di berbagai daerah di Bali dan diluar Bali. Kenyataan ini menunjukan bahwa belum ada standarisasi embat untuk Gamelan kebyar di Bali.

Bentuk-bentuk gendhing kebyar yang lahir sebelum lahirnya karya gendhing Wayan Baratha dapat dibedakan menjadi dua: gendhing pategak, san gendhing tari. Gendhing pategak (konser) meliputi pangalang, jajineman (gagenderan) dan kakebyaran. Jadi belum ada komposisi gendhing baru berbentuk seperti gendhing palgunawarsa (karya Beratha).Garapan dramatiknya lebih banyak bersifat dinamik mendatar sehingga bagian terakhir (klimaks) bukan merupakan bagian yang paling ditonjolkan. Demikian pula penonjolan garap instrument secaraindividual belum banyak diperhatikan. Pola irama yang dipergunakan kebanyakan empat perlu ada irama tiga perempat dalam gamelan Gong kebyar. Gendhing tari yang ada ketika itu belum berbentuk gendhing sendratari dan belum ada yang memakai gerongan (vocal).

4. Perkembangan Gamelan Gong Kebyar

Dalam periode tahun 1970 sampai dengan 1990an, seni karawitan Bali mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan. Kemajuan seni karawitan Bali pada waktu itu memperlihatkan dua sisi yang menarik dan sangat menentukan masa depan dari seni karawitan di daerah ini.

Di satu sisi telah terjadi penyebaran gamelan keseluruh Bali, bahkan keluar daerah serta keluar negeri. Kondisi ini diikuti oleh munculnya komposisi-komposisi karawitan baru yang semakin rumit dengan teknik permainan yang semakin kompleks.

Di sisi lain terlihat terjadinya perubahan ekspresi musikal dan pembaruan gaya-gaya musik lokal. Di Bali dewasa ini hampir setiap desa telah memiliki gamelan. Banyak desa bahkan memiliki 2 – 3 barungan gamelan. Namun demikian tidak dapat dipungkiri lagi bahwa jenis gamelan yang paling baik perkembangannya adalah Gong Kebyar. Kiranya hal ini disebabkan oleh keberadaan daripada barungan gamelan ini yang serba guna dan yang paling sesuai dengan selera masyarakat banyak terutama kalangan generasi muda.

Ada bebrapa contoh yang dapat dijadikan bukti terhadap perkembangan Gong Kebyar ini. Di desa Singapadu sebuah desa di Kabupaten Gianyar misalnya, hingga sekitar akhir tahun 1960 hanya ada 1 barung Gong Kebyar dan 7 barung gamelan Geguntangan atau Paarjan. Dua puluh tahun kemudian di desa yang terdiri dari 13 banjar dinas ini telah ada 6 barung Gong Kebyar dan 2 barung Geguntangan. Jumlah ini masih perlu ditambah 2 barung Gong Kebyar yang dimiliki oleh sanggar atau sekaa pribadi. Di kota-kota besar diluar Bali seperti Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta juga telah berdiri group musik dan gamelan Bali. Dapat dipastikan bahwa gamelan yang dimiliki oleh group-group ini adalah gamelan Gong Kebyar.

Di tingkat Internasional, gamelan Bali (Gong Kebyar, Semar Pagulingan dan Gender Wayang) sudah tersebar ke Eropa, Jerman, Australia, Jepang, Canada, India dan mungkin yang terbanyak ke Amerika Serikat. Walaupun kebanyakan dari barungan gamelan Bali ini ditempatkan di perwakilan RI, ataupun universitas-universitas, semakin banyak group-group swasta dan perorangan yang memiliki gamelan sendiri. Group Sekar Jaya El Ceritto, California, Giri Mekar di Woodstock, New York (keduanya di Amerika Serikat), dan group Sekar Jepun di Tokyo Jepang adalah beberapa group kesenian asing yang hingga kini masih aktif. Menjadi semakin kompleksnya komposisi gamelan Bali yang diwarnai dengan melodi serta teknik cecadetan yang semakin rumit.

Belakangan ini muncul komposisi-komposisi musik baru yang menampilkan melodi yang lincah dan mempergunakan banyak nada. Hal ini sangat berbeda dengan gending-gending dari masa lampau yang melodi-melodinya sangat sederhana, mempergunakan beberapa nada saja dan berisikan banyak pengulangan. Pola-pola cecadetan yang muncul belakangan ini sudah banyak memakai pola ritme/ hitungan tidak ajeg seperti tiga, lima atau tujuh.

Dalam komposisi lama, dalam gender wayang sekalipun pola ritme/ hitungan ajeg sangat dominan. Perubahan ini juga diikuti oleh masuknya jenis pukulan rampak dan keras, yang datangnya secara tiba- tiba seperti yang terjadi pada Gong Kebyar. Tambah lagi ekspresi musikal hampir semua gamelan Bali menjadi ngebyar” (meniru Gong Kebyar). Nampaknya perubahan ini besar kaitannya dengan adanya pengaruh gamelan Gong Kebyar.

Kecenderungan yang lain adalah pengembangan barungan dengan cara menambah beberapa instrumen baru. Gejala ini yang terlihat dalam pengembangan gamelan Geguntangan, munculnya Adi Merdangga dan gamelan pengiring sendratari. Hal ini kiranya berkaitan dengan munculnya stage-stage pementasan besar dengan penonton yang berada jauh dari arena pentas (tempat menari). Agar musik dapat didengar oleh penonton yang berada di kejauhan ini, maka penambahan instrumen menjadi perlu selain menggunakan sistem amplifikasi. Misalnya saja pada tahun 1970, gamelan Geguntangan adalah suatu barungan kecil yang menimbulkan suara lembut merdu. Kini Geguntangan sudah dilengkapi dengan beberapa buah kulkul, dengan beberapa instrumen bilah seperti cuing dan lain-lain. Ada kecenderungan bahwa perkembangan seni Karawitan Bali lebih didominir oleh gaya Bali Selatan.

Seni Karawitan sebagaimana halnya kesenian Bali lainnya, juga meliputi dua gaya daerah : Bali utara dan Bali Selatan. Perbedaan antara kedua gaya ini tampak jelas dalam tempo, dinamika dan ornamentasi dari pada tabuh- tabuh dari masing-masing gaya.

Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk tempo tabuh-tabuh Bali Utara cenderung lebih cepat dari yang di Bali Selatan. Hal ini juga menyangkut masalah dinamika di mana tanjakan dan penurunan tempo musik Bali Utara lebih tajam daripada Bali Selatan. Namun demikian, ornamentasi tabuh-tabuh Bali Utara cenderung lebih rumit daripada Bali Selatan. Akhir-akhir ini tabuh-tabuh gaya Bali Utara terasa semakin jarang kedengarannya, sebaliknya tabuh-tabuh Bali Selatan semakin keras gemanya. Semua yang sudah diuraikan di atas mengisyaratkan kemajuan karawitan Bali baik secara kuantitas maupun kwalitas. Ada kecendrungan bahwa di masa yang akan datang seni karawitan Bali, khususnya instrumental yang didominir oleh gamelan Gong Kebyar dan ekspresi ngebyar” akan masuk ke jenis-jenis gamelan non-Kebyar. Sementara karawitan gaya Bali Utara dan Selatan akan berbaur menjadi satu (mengingat pemusik kedua daerah budaya ini sudah semakin luluh), gamelan klasik seperti Semar Pagulingan nampaknya akan bangkit kembali.

5. Kesimpulan

Dilihat dari sejarah, instrumental dan perkembangan Gong Kebyar di masa yang akan datang, bentuk-bentuk seni karawitan dan barungan gamelan Bali baru akan terus bermunculan. Adanya “kebiasaan” dikalangan seniman Bali untuk terus mencoba, mencari dan menggali ide-ide baru, baik dari dalam seni budaya tradisi mereka maupun dari unsur luar yang senafas, sangat memungkinkan akan terwujudnya perkembangan seni karawitan Bali yang lebih baik di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSAKA

1. I Wayan, 2002. Wayan Beratha Pembaharu Gamelan Gong Kebyar. Yogyakarta, Tarawang.

2. I Made Bandem, Mengenal Gamelan Bali ( Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar, 1982).

3. I Gusti Ngurah Rai Mirsha, et.al., Sejarah bali (Denpasar; Proyek Penyusunan Sejarah Bali Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, 1986), hal. 165-202

Explore posts in the same categories: Musikologi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: