Tinjauan Struktural Manajemen Oraganisasi Seni Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari Surakarta Saat Ini


Oleh : Sularso

Sejak tahun 2001 nama Dinas Pariwisata berganti nama menjadi Dinas Pariwisata Seni dan Budaya  (Diparsenibud) melalui surat keputusan Wali Kota Surakarta nomer 25 tahun 2001. Wayang Orang Sriwedari dalam struktur organisasi Diparsenibud Kotamadya Surakarta dikelola oleh Seksi Pengendalian dan Pelestarian Aset Seni dan Budaya, tanggung Jawab Diparsenibud adalah  meliputi dukungan dana pembiayaan produksi gaji seluruh anak wayang dan seluruh staf wayang orang, biaya pembiayaan  gedung beserta seluruh fasilitasnya.

Pertunjukan Wayang Orang sebagai produksi seni sudah barang tentu melalui proses pentahapan yaitu perencanaan dan pelaksanaan yang secara struktural proses pentahapan itu dilaksanakan oleh staf produksi mulai dari koordinator, sutradara dan asisten sutradara, ticketting, pengrawit, anak wayang, dan dekorasi, berikut adalah skema dari struktur organisasi Wayang Orang Sriwedari:

Diparsenibud

Sub Dinas Pengembangan dan Pengendalian Aset Wisata, Seni dan Budaya

Koordinator / Pimpinan

Sutradara/ Asisten Sutradara

Tiketing       Anak Wayang     Tata Busana     Dekorasi        Pengrawit

A.Pimpinan / Koordinator

Fungsi perencanaan yang berhubungan langsung  dengan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari, khususnya mengenai tujuan, kebijaksanaan, prosedur dan program pementasan menjadi tugas dan tanggung jawab   pimpinan wayang orang. Pimpinan wayang orang menyusun rencana program pementasan untuk periode waktu tertentu, termasuk juga program latihan, pimpinan wayang orang selain melakukan perencanaan juga menjalankan fungsi sebagai pengawas, pengontrol dan pengevaluasi segala hal yang terkait dengan proses kegiatan organisasi wayang orang sriwedari.

Pimpinan dipilih berdasarkan musyawarah mufakat yang disepakati bersama oleh pihak Dinas maupun anggota Wayang Orang Sriwedari sendiri, selain memilih pimpinan wayang, forum tahunan yang diadakan oleh Diparsenibud dan anggota Wayang Orang Sriwedari tersebut juga memilih sutradara dan assisten sutradara.

B.Sutradara / assisten sutradara

Dalam struktur organisasi Wayang Orang Sriwedari, dikenal adanya posisi sutradara dan assisten sutradara yang mempunyai tugas dan peran masing-masing, sutradara mempunyai kewenangan untuk membuat cerita, menentukan pemeran  (dhapukan) dan mengkoordinasi pengrawit serta dekorasi. Sementara itu, tugas assisten sutradara adalah menyiapkan segala keperluan pentas terkait dengan cerita atau lakon yang akan ditampilkan termasuk busana apa yang akan dipakai anak wayang, dalam hal ini assisten sutradara bekerjasama dengan petugas tata busana untuk menyiapkan busana. Posisi sutradara dan assisten sutradara ini “diputar” setiap satu minggu sekali, apabila seseorang pada minggu ini sebagai sutradara, minggu depan menjadi assisten sutradara, begitu seterusnya.Pergantian ini bukan tanpa pertimbangan. Pengoptimalan pertunjukan wayang adalah pertimbangan terbesar. Artinya, karena tugas sutradara lumayan berat, yaitu harus membuat 26 lakon dalam setiap bulannya, maka ada kemungkinan kreatifitas seorang sutradara menjadi berkurang. Dengan dijalankannya sistem bergilir, seorang sutradara diharapkan mampu membuat cerita jauh lebih optimal baik dari bentuk isi, dialog, iringan, dan dekorasinya yang kemudian bergabung secara sinergis dalam suatu penyajian. Tahap perencanaan terkait dengan pembuatan jadual lakon yang akan dipertunjukkan secara periodik, latihan olah vokal dan tari. Khusus untuk latihan olah vokal dan tari hanya dilakukan bila ada even tertentu seperti malam tahun baru, malam satu suro, atau pentas borongan keluar. Pementasan-pementasan dalam peristiwa serupa itu kadang-kadang menggunakan koreografi yang relatif lebih rumit sehingga membutuhkan latihan ekstra untuk tampil maksimal.

Jadual lakon yang diajukan oleh sutradara disusun oleh pimpinan selama satu bulan untuk mempermudah persiapan yang diperlukan. Jadual lakon yang sudah disusun itu dapat berubah sesuai dengan kebutuhan. Jadual pertunjukan Wayang Orang Sriwedari diselenggarakan setiap hari, kecuali minggu malam. Kapan pertunjukan setiap hari dimulai tampaknya cukup sulit untuk dilacak menginggat tidak ditemukannya data tertulis, sedangkan informasi lisan tidak dapat dijadikan acuan.

Kemudian seorang sutradara dalam membuat naskah lakon memerlukan beberapa pertimbangan sebelum naskah lakon tersebut dipentaskan. Pertimbangkan tersebut antara lain: (i)Menentukan tema naskah lakon. Dalam hal ini sutradara mencari motif yang memberi ciri kejiwaan yang selalu nampak dalam lakon. Misalnya; lakon tersebut lakon tragedi, tragikomedi, dan sebagainya. (ii)Menentukan berapa lama naskah lakon tersebut dipentaskan. Untuk pementasan Wayang Orang Sriwedari durasi yang diperlukan sekitar dua jam. Sutradara harus dapat mengatur sedemikian rupa agar dalam waktu dua jam pertunjukan dapat selesai. (iii) Sutradara harus dapat membaca selera penonton. Lakon yang menarik dan yang menjadi idola penonton akan mengikat dan mendatangkan penonton yang lebih banyak. Lakon yang baik adalah lakon yang tidak datar dan diakhiri dengan klimaks yang memang didukung situasi puncak.

Bagi sutradara hal yang terpenting adalah bagaimana naskah lakon dibuat seefisien dan sesingkat mungkin hingga penonton dapat mengikuti alur cerita yang disajikan tanpa harus kehilangan amanat apa yang bisa didapat dari cerita tersebut. Naskah dalam Wayang Orang Sriwedari tidak pernah dibuat dengan lengkap, tetapi cukup menggabarkan jalannya cerita dan adegan-adegannya saja. Naskah itu hanya dituliskan diatas selembar kertas, untuk selanjutnya naskah tersebut ditulis pada sebuah papan tulis agar para anak wayang wayang orang Sriwedari baik anak wayang, pengrawit,dan kru panggung mengetahui alur cerita maupun adegan-adegan yang akan ditampilkan.

Kunci sutradara di Wayang Orang Sriwedari nampaknya belum maksimal. Hal ini disebabkan anggota wayang orang Sriwedari banyak yang belum menyadari tentang tugas dan fungsi sutradara. Sutradara hanya dianggap sekedar untuk menentukan lakon dan casting, serta memberikan penuangan terhadap tokoh tertentu secara garis besar.

C. Ticketing

Pada struktur berikutnya adalah bagian ticketing. Dalam organisasi Wayang Orang Sriwedari ini, petugas ticketing terbagi menjadi dua. Dua orang berada didalam ruang tiket sebagai penjual tiket, sementara dua orang yang lain berfungsi sebagai portir atau petugas penyobek tiket. Dua bagian tiketing ini, menjadi tanggung jawab langsung pemimpin Wayang Orang Sriwedari, namun pada pelaporan tiket yang terjual setiap harinya langsung diserahkan kepada Diparsenibud Seksi Keuangan. Pimpinan Wayang Orang Sriwedari hanya sekedar mengontrol secara periodik petugas ticketing ini, bukan kaitannya dengan berapa banyak  tiket yang terjual, tetapi lebih pada sarana prasarana yang sering dikeluhakan penjaga tiket terkait dengan ruangan tiket yang sering mengalami kerusakan, seperti seringnya bola lampu yang mati, atap ruangan yang bocor hingga pada waktu hujan ruangan tiket tergenang air, dan sebagainya. Dari empat orang petugas tiket ini, seorang diantaranya adalah pegawai dari dinas yang bertugas untuk mengawasi, mengontrol, serta “ membawa” beberapa beberapa tiket yang terjual setiap harinya.

Kerja bagian tiketing ini cukup sederhana. Petugas tiket didalam ruangan melayani calon penonton yang memberi tiket untuk menyaksikan Wayang Orang, kemudian setelah membeli tiket, penonton menyerahkan tiket yang telah di belinya untuk disobek oleh portir yang telah menunggu dipintu masuk, setelah itu penonton dipersilahkan masuk dan memilih tempat duduk sesuka hatinya. Kebijakan yang menghapus kelas-kelas yang terdapat ditempat duduk seperti kelas VIP A, B, dan sebagainya menjadikan tiket masuk untuk menyaksikan Wayang Orang Sriwedari ditetapkan Rp. 3.000,00 pada pertengahan 90-an.

Pada kenyataannya, petugas tiketing dalam menjalankan tugas kesehariannya sangatlah “longgar”, dalam arti, masyarakat pecinta berat Wayang Orang yang sering menyaksikan pertunjukan di Sriwedari sering kali diberi potongan separo harga, keluarga wayang yang menyaksikan Wayang Orang sering di gratiskan, rombongan yang berjumlah banyak hanya dikenai beberapa jumlah tiket saja, dan sebagainya. Petugas tiket mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan bukan tanpa pertimbangan. Yang jelas, mereka mendapatkan” ijin” dari Dinas untuk bersikap “longgar” semacam itu. Menurut petugas tiketing, hal tersebut merupakan salah satu cara untuk menarik peminat penonton untuk tetap mau menonton pertunjukan Wayanmg Orang Sriwedari, sebagaimana mendapat pembenaran dari Pimpinan Wayang Orang Sriwedari sendiri.

D. Anak Wayang

Struktur selanjutnya dalam organisasi Wayang Orang Sriwedari adalah pemain wayang atau biasa disebut anak wayang. Seorang anak wayang harus dapat memerankan tokoh yang dibentuk oleh seorang sutradara. Dalam pertunjukan wayang orang bukan hanya teknik penguasaan karakter dan watak saja, tetapi bentuk fisik dari anak wayang harus diperhatikan. Sebagai contoh, tokoh Bima atau Werkudara harus diperankan oleh seorang yang berperawakan tinggi dan gagah, dengan suara yang lantang.

Seorang anak wayang yang profesional harus dapat menguasai beberapa hal, antara lain joget baku (tarian dasar), antawacana (dialog), Ura-ura (tembang), tandang perang (adegan perang), anggola watak (kemampuan untuk memerankan tokoh yang diperankan), banyolan (melawak), uborampe (kemampuan untuk berdandan dan berpakaian sesuai dengan tokoh yang diperankan), serta kemampuan untuk menyesuaikan suara dengan iringan gamelan.

Salah satu langkah yang harus ditempuh oleh pimpinan Wayang Orang Sriwedari dalam rangka memajukan seni pertunjukan ini adalah dengan upaya regenerasi anak wayang. Upaya regenerasi dimaksudkan untuk menyiapkan pemain-pemain muda yang berbakat agar pada nantinya sanggup menerima tanggung jawab yang diberikan oleh generasi tua. Hal ini merupakan langkah yang strategis dan konstuktif. Oleh karena itu, dalam mempersiapkan tenaga-tenaga yang siap pakai dan terampil, maka diselenggarakan pendidikan melalui pelatihan-pelatihan olah tari, vokal untuk antawacana dan tembang, serta karawitan (Hersapandi, 1999; 103).

Upaya regenerasi anak wayang tidak lebih efisien ketika tidak diikuti oleh perubahan sisitem produksi. Perubahan sistem produksi yang dimaksud adalah perubahan sistem spesialis pemilihan peran tertentu sesuai dengan gandar ke sistem yang lebih luwes, dalam arti seorang penari harus mampu melakukan berbagai macam karakter wayang, dengan demikian ketidak hadiran seorang penari bukan merupakan penyebab adanya pembatalan pertunjukan atau perubahan lakon yang di bawakan. Memang sistem ini tidak menghasilkan pemain spesialis tertentu seperti halnya pada sistem lama,  namun diharapkan dapat menghasilkan penari-penari serba bisa.

Dalam proses penempaan seorang anak wayang untuk naik ke jenjang peran yang lebih tinggi, yang didasarkan pada kemampuan dan prestasi profesinya, secara khusus ada aturan permainan yang berlaku. Pada tingkat awal, seorang anak wayang harus lebih dahulu melalui proses magang, yaitu proses adaptasi terhadap lingkungan yang biasanya mereka lakukan dengan melihat cara berhias dan berbusana wayang, mengamati antawacana dan udanegara dalam setiap adegan dalam setiap adegan, baru kemudian pada tahap selanjutnya mereka diberi peran yang paling mudah (bala dhupak) meningkat ke tingkat yang lebih sulit dalam tempo tertentu. Apabila dipandang mampu melakukan tugas peran pembantu atau peran utama maka mereka satu dua kali dicoba terlebih dahulu. Proses ini biasanya dilalui cukup lama hingga anak wayang dianggap telah mempunyai kemampuan yang cukup oleh sutradara. Hal ini seringkali membosankan apabila anak wayang junior tidak sabar dan tabah. Sistem kelas merupakan proses seleksi yang di pandang efektif yang biasanya menunjuk pada senioritas.

E. Tata Busana

Selanjutnya adalah bagian tata buana. Tata busana disini adalah mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan busana yang akan dipakai oleh para anak wayang, termasuk perawatannya. Ada dua petugas yang akan meng-handle bagian tata busana. Petugas yang bekerja pada malam hari, dan petugas yang bekerja pada siang hari, petugas yang bekerja pada malam hari  bertugas untuk menyiapkan segala pakaian dan aksesorisnya untuk anak wayang sesuai dhapukan masing-masing.

Kerjasama petugas tata busana ini adalah dengan sutradara. Segera setelah sutradara mengumumkan dhapukan wayang, para anak wayang menuju bagian tata busana untuk mengambil pakaian yang diperlukan. Di bagian tata busana sendiri, satu orang petugas mencari dan mengambilkan pakaian yang dibutuhkan, sementara satu orang lainnya menata untuk kemudian diserahkan kepada anak wayang yang telah mengantri pakaiannya. Demikaian setelah selesai, para anak wayang segera menyerahkan busana yang dipakainya kepada petugas busana untuk dikembalikan dan ditata sebagaimana semula. Petugas malam hari biasanya sudah memilah mana pakaian yang akan dicuci dan dijemur untuk dikerjakan oleh petugas siang hari. Petugas yang bekerja pada siang hari tugasnya adalah menjemur aksesoris yang berjenis kain beludru (biasanya untuk irah-irahan) agar tidak lekas rusak atau kusam, atau aksesoris lainnya yang tidak memerlukan penyucian. Selain itu mencuci beberapa kain atau pakaian yang telah disiapkan untuk dicuci oleh petugas malam hari.

Mengenai busananya sendiri ada dua kategori busana di organisasi Wayang Orang Sriwedari ini. Busana untuk petugas harian dimana penggunaannya adalah setiap hari dan busana untuk pentas event-event tertentu seperti malam satu suro, tahun baru, syawalan, pentas keluar dan sebagainya. Busana pentas harian biasanya sudah agak kusam bahkan ada yang mengalami kerusakan, sedangkan untuk busana event masih tergolong baru dan perawatannya lebih istimewa.

Salah satu hal yang dikeluhkan oleh petugas tata busana adalah minimnya anggaran yang di alokasikan oleh Dinas untuk perawatan busana  Wayang Orang Sriwedari ini, sementara bentuk perawatan seperti mencuci, menyetrika, menyimpan membutuhkan anggaran yang proporsional. Salah satu bentuk solusinya, sementara ini para petugas busana menyisihkan sedikit koceknya untuk membeli perlengkapan perwatan busana.

F. Dekorasi ( Seting, Sound sistem, Lighting)

Bagian dekorasi dapat dibagi menjadi beberapa sub bagian yaitu bagian penata seting, penata sound sistem dan penata lighting. Khusus untuk penata lampu, secara tidak langsung bagian ini terkait erat dengan tata rias para anak wayang sehingga mengenai penataan rias para anak wayang masuk pada pada sub bagian penataan lampu.

Sub bagian penata seting selalu mengkonsultasikan kepada sutradara, dekorasi yang akan disajikan dalam masing-masing adegan. Hal ini penting mengingat begitu banyak dekorasi yang dimiliki oleh panggung  Wayang Orang Sriwedari. Ruang pentas dalam yang merupakan ruang utama dilengkapi dengan berbagai dekorasi yaitu;

1. Cylorama / layar belakang.

Layar ini terletak dibagian belakang secara permanen yang berfu8ngsi sebagai         sekat dan menempel di dinding. Cylorama dilengkapi dengan tembok kecil yang tingginya sekitar satu meter yang berfungsi untuk pertunjukan Gathutkaca pada waktu terbang.

2. Wing / rana.

Wing merupakan sekat yang berada dikiri atau kanan pentas. Wing dibuat dari tripleks dan tersusun tegak pada tepi lantai dengan jarak yang memungkinkan untuk dilalui anak wayang baik keluar maupun masuk daerah pentas disebelah kiri maupun kanan.

3.  Panil.

Merupakan penyekat antara prosenium dengan apron yang dihiasi ornamen non permanen.

4. Layar, yang terdiri dari;

  • Skerm, sebuah layar yang terletak didepan apron, berfungsi sebagai pembuka dan penutup adegan.
  • Drapsen, sebagai batas antara prosenium dengan apron sebagai layar pengganti adegan.
  • Layar pendukung adegan, layar ini berjumlah sekitar  30-an buah, antara lain kelir polos, alas kayu, jalan pedukuhan, alun-alun, gua buntu, trancang, alas bolong, pendapa saka, alas blumbang, keraton bolong, keraton kesatrian, pendapa kaca, taman candi, keputren, keraton guling, alas gung, marga, omah desa, dan sebagainya.

5. Border; merupakan lipatan kain yang berbentuk daun-daunan yang letaknya            didepan layar dan berfungsi sebagai penutup batas layar bagian atas.

6.  Gridon, merupakan suatu kerangka yang terbuat dari bambu yang terletak diatas panggung berfungsi sebagai penunjang  Batten atau sebagai penggulung layar.

7.  Batten, adalah satu alat yang dipergunakan sebagai penggulung layar. Batten yang terdapat pada panggung pertunjukan Wayang Orang Sriwedari masih menggunakan bambu.

Mekanisme permainan layar di Wayang Orang Sriwedari masih menggunakn cara yang tradisional yaitu menggunakan alat yang sederhana dengan memanfaatkan tali besar yang dipasang pada bagian sisi kanan dan kiri layar yang diberi bambu sepanjang panggung serta alat kerekan untuk mempermudah pengangkatan. Semua layar hampir menggunakan cara yang sama kecuali layar belakang atau cylodrama yang bersifat permanen.

Sutradara sebelum pementasan wayang orang menulis urutan adegan dipapan tulis yang berada diruang mekanisme permainan layar agar penata seting menguasai urutan adegan lakon yang dimainkan. Naik dan turunnya layar disesuaikan dengan kebutuhan. Sistem ini banyak mengandung kelemahan, terutama ketepatan menaikkan dan menurunkan  layar dalam  kaitannya dalam suasana dramatik. Sutradara kadang-kadang mengingatkan pada penata seting, bahkan seringkali terlihat turut membantu menurunkan dan menaikkan layar.

Sub bagian sound sistem merupakan salah satu unsur Wayang Orang Sriwedari yang tidak dapat ditinggalkan. Tanpa sound sistem, antawacana yang dilakukan oleh anak wayang tidak akan terdengar oleh penonton, sehingga apa yang hendak disampaikan anak wayang kepada penonton tidak akan tercapai atau terpenuhi. Penata sound sistem harus peka terhadap efek suara yang ditimbulkan. Bagaimana yang harus ditonjolkan pada saat pementasannya. Misalnya adegan antawacana antara Sumbadra dan Burisrawa, maka pengaturan besar volume hanya pada mikrophone yang dipergunakan untuk mendukung antawacana tersebut.

Sound sistem yang dipergunakan di gedung Wayang Orang Sriwedari merupakan bantuan dari Jepang. Sound sistem di gedung Wayang Orang Sriwedari  ditata secara permanen, speker yang ada didalam gedung diletakkan pada samping atas tempat duduk penonton. Peralatan sound sistem yang dimiliki oleh gedung Wayang Orang Sriwedari antara lain mixer dengan merk Ramsa 32 channel, 8 buah amplifier dengan merk Ramsa, 1 buah power dengan merk Ramsa, 2 buah tape teknis, 1 buah CD teknis 12 speker dengan merk Ramsa, 13 mikrophone yang ditempatkan 9 buah untuk panggung, 4 buah untuk karawitan, digital multi processor 2 buah, standing mic 18 buah, equalizer 2 buah, boks speker 8 buah.

Sub bagian tata cahaya mempunyai dua tugas yaitu menerangi (cara penggunaan lampu untuk memberi terang, melenyapkan gelap) dan menyinari (cara penggunaan lampu untuk membuat bagian-bagian pentas sesuai dengan keadaan dramatik lakon). Sutradara memberikan catatan kepada penata cahaya tentang adegan dan suasananya, kemudian petugas mengolah warna yang sesuai dengan suasana adegan dan dekorasinya. Apabila ada perubahan, sutradara akan segera memberitahukan kepada penata cahaya. Penata cahaya di Wayang Orang Sriwedari jarang sekali mendapatkan masukan lighting yang akan dipergunakan dan setelah pementasan, sutradara juga jarang memberi pengarahan.

Susunan spotligh di panggung Wayang Orang Sriwedari terbagi menjadi tiga, yaitu; (i) Spotligh atas depan, yang disusun berderet membujur diatas panggung tempat pengrawit sehingga memungkinkan menerangi panggung pada bagian depan. Lampu tersebut berjumlah delapan buah dan semua berwarna putih (ii) Spotligh atas, yang disusun berderet membujur dari kiri ke kanan pada sisi panjang bagian atas panggung atau dibelakang sisi panjang bagian atas apron (panggung depan). (iii) Footligh atau lampu kaki. Ditata berjejer membujur pada sisi panjang apron bagian depan. Masing-masing lampu berkekuatan 80 watt-100 watt dengan warna lampu merah berjumlah 7 buah, putih berjumlah 22 buah, hijau berjumlah 4 buah dan kuning berjumlah 6 buah.

Sub bagian penataan lampu ini berkaitan dengan tata rias para anak wayang. Kekuatan lampu mempengaruhi tebal tipisnya riasan yang akan dipakai. Fungsi tata rias untuk membantu menghidupkan tokoh dan karakter sehingga penonton bisa mendapatkan kesan tertentu dengan melihat rias tokoh tertentu meskipun penonton belum melihat penampilannya di atas panggung. Tata rias sebagai aspek dan komponen dalam wayang orang sangat penting, sebab dalam wujudnya sangat membantu karakter tokoh maupun cerita yang akan disajikan atau lazim disebut wujud wajah peranan. (Harimawan, 1988 : 134).

G. Pengrawit

Posisi selanjutnya adalah pengrawit. Pengrawit dalam hal ini mencakup beberapa unsur, antara lain dalang, swarawati atau sinden, dan wiyogo atau pemain gamelan. Dalang merupakan unsur utama didalam pertunjukan wayang orang, karena dalanglah yang mengatur dan mengelola jalannya suatu cerita dalam pementasan sebuah wayang orang. Seorang dalang dituntut untuk menguasai beberapa hal, termasuk didalamnya penguasaan pakem, gending, karakter dan watak. Kedudukan dalang wayang orang mempunyai peranan yang besar dalam mengatur jalannya pertunjukan. Peranan strategis itu meliputi pembacaan narasi, yaitu;

  1. Sulukan, yaitu terdiri dari pathetan, sendon, dan ada-ada.
  2. Janturan dan Pocapan, yaitu suatu pelukisan tentang nama tempat, nama tokoh serta wataknya.
  3. Dhodhogan dan Keprak, yaitu berfungsi sebagai pemberi tanda atau ater tertentu, misalnya mulainya jejeran, suwuk gendhing, sirep gendhing, udar gendhing, mengiringi kiprahan, pathetan, ada-ada, dan seseg gendhing (dhodhogan), ada-ada greget saut, memberi tanda sabetan dan ombak banyu atau srisig dan tanda perpindahan gerak (keprak) (Hersapandi, 1999 : 60)

Swarawati atau sinden yang lebih dikenal sebagai penyanyi wanita, merupakan pengalun lagu atau tembang dalam sebuah pertunjukan wayang orang, dan dapat berjumlah dua hingga lima orang. Penataan iringan merupakan aspek dan komponen yang sangat penting dalam wayang orang, sebab iringan dapat memperkuat atau mendukung suasana yang diingginkan. Iringan yang digunakan dalam Wayang Orang Sriwedari adalah seperangkat gamelan yang berlaras slendro dan pelog yaitu bonang barung, bonang penerus, rebab, gender, gambang, kendang, demeung, slenthem, suling, kethuk, kempyang, kenong, kempul, gong, siter, saron, saron penerus, keprak, dan kepyak yang dimainkan oleh sekitar lima belasan niyaga.

Rakitan gendhing yang digunakan untuk mengiringi Wayang Orang Sriwedari mengacu pada pola gendhing wayang kulit, yaitu menggunakan sistem pathet. Sistem pathet menunjuk pada tata hubumgan alur cerita yang terinci dalam adegan-adegan yang problematik. Pathet nem digunakan pada bagian awal atau adegan jejer, pathet sanga untuk bagian tengah, atau gara-gara, dan untuk bagian terakhir menggunakan pathet manyura. Bentuk-bentuk gendhing yang digunakan dalam Wayang Orang Sriwedari disusun dalam struktur pathet, meliputi bentuk gendhing lancaran, sampak, srepegan, ayak-ayakan, kemuda, ketawang, ladrang, dan bentuk merong ketukloro kerep. Gendhing-gendhing tersebut merupakan kerangka lagu dan yang membuat lagu adalah swarawati dan gerongan (vokal yang disuarakan bersama), serta beberapa instrumen seperti rebab, gender, dan gambang.

Wayang Orang Sriwedari sebagai bentuk penampilan kerja kolektif, dapat diibaratkan seperti halnya sistem mekanik, model kerja kolektif sebagaimana yang diberlakukan oleh manajemen organisasi, Wayang Orang Sriwedari saat ini menghasilkan tatanan yang berbeda dengan pola manajemen yang diterapkan pada saat Wayang Orang Sriwedari era 60-an. Salah satu perbedaan yang jelas nampak pada perubahan sistem spesialisasi pemilihan peran tertentu sesuai dengan gandar ke sistem yang lebih luwes sehingga seorang pemain harus mampu melakukan berbagai macam karakter wayang. Dengan demikian, ketidakhadiran seorang  pemain bintang panggung bukan merupakan penyebab adanya pembatalan pertunjukan atau perubahan lakon yang dibawakan. Memang model seperti ini tidak menghasilkan pemain spesialis tertentu seperti halnya pada Wayang Orang Sriwedari komersil era 60-an , namun diharapkan dapat menghasilkan pemain-pemain serba bisa.

Model kerja yang diterapkan tersebut adalah bentuk dari upaya pengembangan manajemen yang semakin kompleks, sebagaimana diisyaratkan oleh Koentjaraningrat bahwa manusia selalu bergerak menuju kemajuan, sehingga manusia berkembang dari tingkat sederhana ke tingkat yang makin tinggi serta kompleks (Koentjaraningrat, 1980 : 30). Sejalan pula dengan Duverger bahwa tidak ada generasi yang puas dengan mewariskan seni yang diterimanya dari peninggalan masa lalu. Oleh sebab itu setiap generasi selalu berusaha membuat sumbangannya sendiri. ( Duverger, 1981 : 356).

Explore posts in the same categories: Managemen Seni Pertunjukan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: