JATHILAN


By Muh Salim

Kesenian merupakan salah satu bagian dari kehidupan masyarakat kita yang tidak dapat terpisahkan. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya berbagai macam bentuk kesenian yang ada disekitar kita. Sebagai salah satu contoh bentuk kesenian yang dapat kita nikmati adalah Jathilan

Jathilan yang mempunyai nama lain jaran kepang atau kuda lumping ini adalah sebuah bentuk kesenian rakyat berupa gerak tarian menggunakan kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu dengan diiringi musik gamelan. Jathilan ditampilkan pada acara-acara tertentu sperti: acara khitanan, pesta kesenian atau hanya sekedar untuk hiburan rakyat. Pertunjukan ini ditampilkan oleh beberapa orang penari beserta penabuh gamelan yang jumlahnya sekitar 15 sampai 20 orang. Biasanya sebuah kelompok Jathilan memiliki seorang sesepuh yang bertugas untuk memimpin kelompok tersebut.Sesepuh bertugas melakukan ritual sebelum Jathilan ditampilkan. Ritual ini berupa pembakaran kemenyan yang bertujuan untuk meminta izin kepada penunggu tempat diadakanya pertunjukan dan alat-alat Jathilan (gamelan, kuda kepang, topeng dan perlengkapan lainnya) yang dipercaya untuk kelancaran pertunjukan Jathilan tersebut. Setelah ritual ini dilakukan maka pertunjukan sudah boleh ditampilkan.

Pertunjukan ini diawali dengan masuknya beberapa penari laki-laki dengan mengenakan kostum perang. Setelah itu penari mengambil kuda kepang yang sebelumnya telah ditata ditengah arena pertunjukan dan memulai tarian pembuka. Gerakan ini menggambarkan prajurit-prajurit yang akan berangkat ke medan perang dengan menunggang kuda. Kemudian dilanjutkan dengan masuknya dua orang penari berkostum barong yang merupakan penggambaran seekor binatang buas yang mereka (prajurit) temui ditengah perjalanan. Selanjutnya beberapa penari lain masuk mengenakan topeng, ini melukiskan tentang godaan-godaan yang menggangu para prajurit dalam peperangan. Dengan keteguhan hati yang kuat, para prajurit mampu mengatasi godaan-godaan tersebut. Setelah itu peperangan pun terjadi dan pada akhirnya tidak ada salah satu pihak yang menang dalam peperangan tersebut. Ini menggambarkan bahwa ada kebaikan dan keburukan yang selalu ada dalam kehidupan manusia dan tidak dapat terpisahkan. Pada intinya pertunjukan Jathilan memiliki nilai-nilai moral yang bisa dipetik, yaitu dalam kehidupan kita harus mampu menghadapi berbagai macam godaan dan memahami bahwa kebajikan dan kejahatan selalu ada di sekitar kita.

Salah satu keunikan Jathilan adalah para pemainnya dapat mengalami trance atau kesurupan. Dalam kata lain roh-roh halus masuk ke tubuh para pemain Jathilan yang menyebabkan para pemain tidak sadarkan diri dalam melakukan gerak tarian. Bahkan mereka mampu memakan pecahan kaca, tidur di atas duri, menjilat bara api serta meminum air yang telah dicampur dengan kembang tanpa merasakan apapun. Biasanya roh-roh yang merasuki para pemain  Jathilan tersebut memiliki permintaan berupa makanan atau lagu yang harus dipenuhi agar mereka mau keluar dari tubuh yang mereka rasuki. Pada saat inilah sesupuh memiliki peranan yang sangat penting dalam mengeluarkan roh-roh tersebut dari tubuh para pemain Jathilan dengan membacakan mantra-mantra.

Sebagai generasai muda, kita harus mampu mempertahankan dan melestarikan keberadaan kesenian  Jathilan yang merupakan warisan dari nenek moyang kita sebagai wujud kecintaan kita pada bangsa Indonesia.

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: