Maju Mawas (di rumahnya Prof Panggah)


By Muh Salim

I. Deskripsi Kelompok Maju Mawas

Maju Mawas merupakan Kelompok Karawitan yang bertempat di Benowo, Palur Karanganyar Surakarta. Kelompok Maju Mawas ini berdiri pada tahun 1997, dan perintis dari adanya Kesenian Karawitan ini adalah Alm. Bapak Bambang. Kata Maju Mawas itu sendiri memiliki arti yaitu Manunggaling Tujuan Masyarakat Benowo Surakarta. Tempat yang biasanya digunakan sebagai latihan adalah di Pendopo Bapak R. Supanggah. Biasanya Kelompok ini latihan setiap seminggu sekali yaitu hari Jum’at malam, pukul 20.00. Gamelan yang digunakan sebagai latihan adalah Seperangkat Gamelan Ageng yang berlaras Slendro dan Pelog. Kondisi perangkat Gamelan yang digunakan sebagai latihan masih bagus kualitasnya, ini terlihat karena gamelan ini sering di bersihkan dan dirawat dengan baik. Sebelum berdirinya kelompok Karawitan ini, dulu masyarakat ingin belajar menabuh gamelan. Dengan adanya fasilitas Gamelan dan tempat yang berada di rumah Bapak R.Supanggah, maka masyarakat membuat inisiatif untuk membuat sebuah kelompok Karawitan, disamping itu masyarakat di Benowo juga kediaman para Dosen dari ISI Surakarta yang sekarang ini juga ikut melatih didalam eksisnya kelompok ini.

Kelompok Kesenian Karawitan Maju Mawas memiliki personal yang berjumlah 22 orang, dan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang tua. Gamelan yang digunakan antara lain: Kendhang, Rebab, Suling, Bonang Barung, Bonang Penerus, Saron, Demung, Saron Penerus, Kenong, Kethuk Kempyang, Gambang, Kempul dan Gong. Disamping itu kelompok ini juga memiliki Pesinden, Gerong dan Bowo sebagai Vokal(melodi).

Dari beberapa data yang saya kumpulkan tentang profesi yang mereka geluti,saya menyimpulkan bahwa para pengrawit Maju Mawas adalah Non Seniman, ini dapat dilihat karena sebagian besar dari mereka adalah Petani, Buruh, Pembantu, dan Dagang. Hasil dari wawancara saya dengan salah satu nara sumber(Pak Sarto) menyebutkan bahwa motivasi mereka mempelajari Gamelan adalah sebagai ajang untuk silaturahmi(kumpul), pengisi waktu luang, Nguri-nguri budaya dan ada yang berkata bila sudah memainkan Gamelan membuat hati menjadi tentram. Hal ini yang membuat suasana menjadi sangat akrab, dikarenakan mayoritas usia mereka tidak terlalu jauh dan memiliki status sosisal yang sama. Disamping itu pada saat memainkan Gamelan mereka terkesan menikmati iringan dari gendhing-gendhing yang ada, dan mereka juga mampu memainkan Gamelan dengan baik meskipun masih banyak yang menggunakan catatan.

II. Rumusan Masalah

Bagaimana sistem/metode pembelajaran karawitan yang diterapkan dalam kelompok karawitan Maju Mawas?

III. Uraian

Menurut pengamatan saya, sistem pembelajaran karawitan yang digunakan dalam kelompok Maju Mawas adalah kombinasi antara sistem tertulis (menulis dan membaca not) dan sitem lisan/oral. Hal ini terbukti dengan adanya papan tulis bertuliskan notasi gendhing yang berada di pendopo tempat latihan serta catatan-catatan dan copy-an notasi gendhing yang dibawa oleh para anggota Maju Mawas saat berlatih. Tradisi oral juga masih tampak saat latihan berlangsung. terbukti saat salah seorang pengrawit tidak tepat dalam menabuh (ada pola tabuhan atau cengkok yang salah) pelatih/pengajar memberikan dulu contoh permainan yang kemudian untuk ditiru/dicontoh oleh para anggota.

Dari uraian tersebut diatas kemudian timbul satu pertanyaan, bagaimana bila sistem pembelajarannya diubah? tertulis atau lisan/oral saja. Saya dapat mengambil sebuah kesimpulan atas pertanyaan ini. Dilihat dari latar belakang para anggota Maju Mawas yang bukan dari kalangan seniman sistem pembelajaran yang hanya dengan oral saja atau tulisan saja tidak akan berhasil. Hal ini disebabkan karena apabila dengan satu sistem yang diterapkan, maka ada kelemahan dari masing-masing sistem yang menyebabkan para pengrawit tidak dapat berkembang. Dalam hal ini saya akan menyebutkan salah satu kelemahan dari masing-masing sistem.

  • Sistem tertulis kurang mewakili ekspresi pembuat gendhing atau pengrawit dikarenakan adanya cengkok-cengkok tertentu yang tidak dapat ditulis seperti yang diharapkan dengan kata lain hanya bisa dirasakan.
  • Kelemahan dari sistem oral adalah para pengrawit tidak memilki dokumen mengenai gendhing-gendhing karena hanya mengandalkan ingatan otak saja. Kelemahan lainnya adalah pengrawit kehilangan kreatifitas dalam mengolah cengkok-cengkok karena hanya meniru gaya orang lain.

Oleh karena itu kedua sistem harus disatukan agar dapat saling menutup masing-masing kelemahan lewat masing-masing kelebihannya.

IV. Kesimpulan

Sistem pembelajaran yang digunakan dalam latihan karawitan kelompok Maju Mawas adalah perpaduan antara sistem oral dan tertulis. Kedua sistem ini memang mempunyai masing-masing kelemahan, namun dapat saling menutup kelemahan tersebut dengan kelebihannya masing-masing.

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: