Membangun tradisi tanpa sikap tradisional : Dilema Indonesia antara kebudayaan dan kebangsaan


Kita dapat mengatakan bahwa kebudayaan adalah dilektika antara ketenangan dan kegelisahan, antara penemuan dan pencarian, antara integerasi dan disintegerasi, antara tradisi dan reformasi. Sudah jelas bahwa kedua dimensi kebudayaan itu sama-sama diperlukan. Sebab, tanpa tradisi dan integrasi suatu kebudayaan menjadi tanpa identitas, sedangkan tanpa reformasi atau tanpa disintegrasi suatu kebudayaan akan kehilangan kemungkinan untuk berkembang, untuk memperbaharui diri, atau untuk menyesuaikan diri dengan paksaan perubahan social.

Perubahan yang harus dipertanyakan terhadap tiap-tiap kebudayaan tak terkecuali kebudayaan Indonesia modern adalah : efek mana saja yang ditimbulkan oleh tradisi dan reformasi dalam kebudayaan bersangkutan; apakah perimbangan antara keduanya masih merupakan perimbangan yang kreatif, atau barangkali terlalu unggulnya salah satu dari keduanya justru telah membawa resiko yang terlalu besar bagi kebudayaan yang bersangkutan, baik resiko bagi identitas kebudayaan, maupun resiko bagi pembaruan kebudayaan.

Salah satu koinsidensi penting yang banyak menerangkan perkembangaan kebudayaan Indonesia sekarang ialah kenyataan, bahwa cita-cita tentang kebudayaan baru Indonesia telah muncul bersamaan dengan lahirnya cita-cita untuk Negara kebangsaan Indonesia yang merdeka.

Akibat dari koinsidensi ini ialah bahwa sebagimana cita-cita politik kemudian bermuara pada lahir dan terbentuknya Negara kebangsaan.

Akibat kedua yaitu konsep kebudayaan di Indonesia tidak saja merupakan konsep(dan masalah) para ahl kebudayaan atau peneliti ilmu social, dan bukan hanya konsep seniman dan para budayawan, melainkan konsep para eksekutif pemerintah dan kaum politisi.

Hubungan persoalan kebangsaan dan masalah persatuan dengan persoalan tradisi terlihat pada dua isu berikut. Pertama, kesadaran-kesadaran local provincial harus makin direlativir untuk memberi tempat kepada kesadaran nasional. Kedua, kebudayaan daerah yang menjadi referensi kelompok-kelompok etis harus diperlakukan sebagai sumber daya bagi suatu kebudayaan persatuan yang masih harus dikembangkan, sedangkan puncak kebudayaan daerah tersebut menjadi unsure pembentuk kebudayaan nasional.

Kemerdekaan secara popular dipahami dan oleh para pemimpin diajarkan sebagai putusnya hubungan dengan pemerintah kolonial, dan kemerdekaan itu harus direbut sebagi hasil perjuangan(senjata maupun diplomasi) dan tidak boleh diterima sebagai hadiah dari manapun.

Di pihak lain, gerakan untuk kebudayaan baru atau kemudian gerakan untuk modernisasi, melihat kemunculannya justru ditandai oleh putusnya hubungan dengan tradisi. Gejala yang menarik dalam perkembangan ini ialah kenyataan bahwa sementara dalam kesadaran politik kehidupan Negara kebangsaan yang merdeka itu dilihat sebagai terputus dengan pemerintahan penjajahan, maka dalam kesadaran dan aktivitas kebudayaan, penerusan tradisi barat (khususnya dalam kesusasteran dan kehidupan intelektual) yang sangat dekat dengan kebudayaan kaum kolonial diteruskan tanpa penuh kesulitan. Konflik yang laten ini pada mulanya belum terlalu terasakan, dan baru mulai menjadi issue, tatkala diperoleh lebih banyak alasan, khususnya dalam lapangan politik untuk melihat pengaruh barat sebagai “kambing hitam” dari perkembangan politik dan ekonomi yang tidak menggairahkan.

Dua akibat penting dalam bidang kebudayaan muncul dari semangat anti liberal yang mulai berkembang dalam kehidupan politik. Akibat pertama adalah semangat anti barat, yang turut di kipas oleh seniman komunis yang berkumpul dalam organisasi kebudayaan lekra, yang bersemboyan “seni untuk rakyat”. Akibat kedua adalah hidupnya dua issue kebudayaan, yang menjadi argument politik yang sangat sering dipakai oleh penguasa, juga sampai sekarang, yaitu issue kebudayaan nasional dan kepribadian bangsa.

Dibawah semboyan “revolusi belum selesai” dengan mudah pihak-pihak yang tidak sependapat dengannya atau bersikap kritis terhadapnya akan dicap kontra revolusioner, dengan membayang-bayangkan bahaya nekolin (neokolonialisme, imperialisme). sementara itu soekarno semakin tegas menolak bentuk-bentuk kebudayaan dan kesenian barat , yang dianggapnya tidak sesuai dengan kebudayaan nasional dan bersifat kontra revolusioner. Aneh, bahwa dengan sikap kebudayaan yang muklai kuat ditandai oleh xenophobia, itu soekarno tidak bosan-bosannya mengingatkan orang terhadap bahaya komunistophobia, seakan-akan komunis adalah paham yang asli Indonesia. Manives puncak dari keseluruhan adalah lahirnya “ Manifes Kebudayaan” yang ditandatangani di Jakarta pada 17 agustus 1963, oleh sejumlah seniman dan cendekiawan yang tidak termasuk kelompok lekra. Selanjutnya oleh pihak komunis orientasi seniman yang terpaku pada barat, dan melihat identitas kesenian baru justru dalam meninggalkan tradisi dan itu berarti juga meninggalkan kesenian rakyat, telah menjadi alas an yang ada logikanya untuk di cap borjuis, tidak dekat dengan rakyat dan karena itu bersifat kontra revolusioner. Nasional dan internasonal kebudayaan, lahirnya orde baru mengakhiri kehidupan kelompok komunis Indonesia, kemudian juga mengakhiri pemerintahan soekarno. Apapun yang akan terjadi dalam kehidupan politik, jelas, bahwa dua kekuatan yang begitu mempersulit kebebasan budaya telah berakhir. Dalam perkembangan lebih lanjut konsep stabilitas nasional ini akan semakin diperluas dimensinya, dan menjadi suatu konsep utama pemerintahan orde baru, disamping konsep ketahanan nasional. Ada beberapa kesamaan yang terlihat antara kedua konsep tersebut yang demikian besar peranannya yaitu stabilitas nasional dan kepribadian bangsa. Yang pertama berperan besar sebagai anti kritik, sedangkan yang kedua berperan sebagai anti konsep. Secara singkat, baik mengenai kebudayaan nasional dalam masa soekarno maupun mengenal kepribadian bangsa dalam masa orde baru tidak pernah ada suatu definisi yang cukup jelas dan diterima luas, yang dapat menjadi pegangan bagi orang-orang yang bekerja dalam bidang kebudayaan.

Menciptakan kesinian untuk rakyat, dan bukannya menggalakkan kehidupan seni yang berasal dari kalangan rakyat, yang merupakan hasil kreatifitas yang dikembangkan oleh rakyat. Anggapan yang memandang kebudayaan baru sebagi kebudayaan yang terputus dari tradisi, praktek kesenian baru yang meninggalkan kesenian rakyat dan memandang kesenian barat sebagai modelnya, serta kaburnya konsep kebudayaan nasional/kepribadian bangsa yang tidak pernah digarap definisinya secara ilmiah, telah menyebabkan beberapa akibat yang problematis untuk kehidupan kebudayaan kontemporer. Disatu pihak, kehidupan kebudayaan tradisional dan kebudayaan baru, dibiarkan tumbuh bersama-sama, tetapi tanpa suatu kebijaksanaan untuk menghubungkan atau mengintegrasikan perkembangan keduanya dalam suatu dialektik yang produktif. Dalam praktek, itu berarti tesedia lebih banyak wewenang bagi Negara, untuk mengontrol perkembangan kebudayaan, agar selaras dengan keperluan stabilitas nasional dan sejalan dengan usaha pertumbuhan ekonomi. Dari segi kebudayaan, dapat dibuat perbandingan yang menarik antara trend perkembangan kebudayaan dalam masa pemerintahan orde lama dan pemerintahan orde baru. Dalam orde lama slogan kebudayaan nasional merupakan suatu alat untuk mempersatukan berbagai kebudayaan daerah yang didukung oleh berbagai kelompok etnis. Dalam perkembangan lebih lanjut slogan itu menjadi alasan bagi soekarno untuk menolak kebudayaan barat, bahkan menolak bantuan ekonomi dari barat. Indoktinasi gaya soekarno telah menimbulkan reaksi untuk mempertahankan pemikiran bebas di kalangan seniman dan cendikiawan. Sebaliknya, kekuatan modal, dan comfort dari gaya hidup barat tidak menciptakan tantangan terbuka kepada kebebasan berpikir tetapi mempengaruhinya dari dalam dan membuatnya menjadi semakin kurang reflektif. Modernisasi desa dan tradisionalisasi kota, pada tahap yang paling tinggi kebudayaan dihayati sebagai sistem kognitif, berupa suatu kerangka pengetahuan dan keyakinan yang memberikan pedoman bagi orientasi setiap orang yang hidup dalam kebudayaan itu. Pada titik itu kebudayaan berhenti sebagi pandangan hidup dan hanya berperan sebagai gaya hidup. Singkatnya dalam model barat terlihat bahwa modernisasi telah dimungkinkan oleh peningkatan mobilitas, mulai dari yang paling fisik (yaitu urbanisasi), melalui mobilitas social (yaitu literature dan partisipasi dalam media) akhirnya sampai ke mobilitas psikologis (berupa kesadaran dan partisipasi politik). Atau, dirumuskan seara lain : perubahan pada cara kerja (dari pertanian ke industri),menimbulkan pada perubahan cara hidup (dari buta huruf ke melek huruf),yang selanjutnya menimbulkan perubahan dalam cara piker (dari apolitis menjadi politis). Tradisi adalah suatu fakta yang masih perlu dan harus dikritik. Tradisi ada bukan untuk diterima atau ditolak, melainkan untuk dipertimbangkan kembali, dikerjakan kembali dan disesuaikan kembali sesuai dengan keperluan baru. Karena itu persoalan barangkali tidak terletak pada sikap menerima atau menolak tradisi, melainkan terletak dalam menerima atau menolak sikap tradisional, berupa ketergantungan pada tradisi. Dari bergantung kepada tradisi lama berpindah pada tergantung kepada tradisi barat (eropa). Tragedy yang terjadi ialah: sementara yang dibutuhkan dalam suatu kebudayaan aalh membangun tradisi tanpa sikap tradisional, maka yang terjadi (dan bahkan dianggap sebagai asas revormasi kebudayaan) adalah membuang tradisi sambil mempertahankan sikap tradisional tetapi hampir tidak dikerjakan kembali secara kritis dan dikerjakan secara histories. Contoh ini dapat diperbanyak dan daftar dapa di perpanjang, tetapi kenyataan yang ditunjukkannya sebetulnya sederhana: kehidupan intelektul Indonesia telah bertumbuh tanpa tradisi dan tanpa sejarah. Cukup nyata kiranya bahwa tradisi merupakan suatu tiang tupang kebudayaan yang harus dibangun, dipertahankan dan diuji kembali. Yang diperlukan barangkali adalah suatu disiplin yang lebih ketat, untuk berpegang pada sejarah mendasarkan usaha pada tradisi, tetapi sekaligus tidak menyerah pada sikap tradisional dan membuka ufuk baru bagi perkembangan sejarah

Explore posts in the same categories: Antropologi

2 Komentar pada “Membangun tradisi tanpa sikap tradisional : Dilema Indonesia antara kebudayaan dan kebangsaan”


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: