Relasi Musik dan ”Ndadi ”dalam Seni Pertunjukan Jathilan “Turangga Muda” Dusun Ngaran I Desa Borobudur Kecamatan Borobudur


By Muh Salim
Latar Belakang
Musik memiliki beberapa fungsi yang selalu berkaitan erat dengan sebuah praktek berkesenian. Dalam seni pertunjukan rakyat yang berbalut mistik, musik berhubungan dengan proses berjalannya pentas dalam hal pemanggilan roh, serta proses ndadi (keadaan dimana para penari kehilangan kesadaran dan masih menari karena terpengaruh oleh “alam kesadaran” lain) pada puncaknya (Umar Kayam :2000). Selain sebagai pengiring dalam gerakan tari –yang sebenarnya merupakan sebuah proses untuk mencapai keadaan ndadi– musik iringan dalam Jathilan ”Turonggo Muda” merupakan sebuah bentuk interaksi dengan ”yang gaib” yang menurut keyakinan masyarakat setempat dipercaya sebagai roh-roh suci penjaga/pelindung desa.
Dipandang dari segi kepercayaan (agama), hampir 90% anggota kelompok kesenian Jathilan Turonggo Muda beragama Islam, namun demikian kepercayaan spiritisme  masih berlaku khususnya oleh para sesepuh Jathilan. Pada kenyataannya para sesepuh kesenian Jathilan Turonggo Muda masih menghormati danyang atau roh suci pelindung desa dengan memberikan sesajen berupa kembang kanthil, kenanga,  mawar serta kemenyan pada waktu-waktu tertentu meskipun fungsinya telah berubah dari pemujaan menjadi sebuah bentuk tontonan sekuler yang dituangkan dalam seni pertunjukan Jathilan.  Roh-roh suci pelindung desa ini semula bertempat tinggal di sendang perbukitan Suroloyo yang kemudian oleh para sesepuh Jathilan dipindahkan kedalam properti Jathilan –diantaranya delapan jaran kepang, delapan topeng buto, satu barongan dan satu kendhang– dengan maksud agar nantinya para roh suci ini merasuki tubuh pemain Jathilan (merupakan salah satu bentuk interaksi yang dimaksud).
Gejala kemasukan roh suci ditandai dengan hilangnya kesadaran penari namun penari tetap menari karena dipengaruhi oleh alam kesadaran lain. Pada awalnya penari akan mengalami gejala kesemutan pada kaki kemudian merambat keatas hingga pada pucuk embun-embun dan pada akhirnya penari tidak ingat lagi atau tidak sadarkan diri (Rabimin, 2000 : 32). Pada keadaan ndadi ini penari tetap mengkuti irama gendhing-gendhing yang dimainkan saat pementasan Jathilan hingga roh yang merasukinya keluar.
Pada kesenian Jathilan Turonggo Muda, musik melalui penggarapan elemen-elemen dasar musik seperti pitch , tempo , timbre  serta dinamika , dapat dikatakan sebagai pengantar ataupun media pencapaian ndadi. Elemen-elemen stimulasi yang potensial diantaranya adalah :
• Perubahan tempo yang tidak diprediksi
• Perubahan tiba-tiba pada volume, irama, timbre, pitch dan harmoni
• Tekstur musik yang variatif
• Disonansi yang tidak diharapkan
• Aksen yang tidak diharapkan
• Timbre yang kasar
• Kekurangan pada struktur dan bentuk musik
• Makin cepat, melambat, mengeras dan melembut secara tiba-tiba
• Berhenti tidak seperti yang diharapkan (Djohan :2006)
Secara teoritis keterkaitan antara musik dan ndadi bisa dilihat dari dampak yang ditimbulkan oleh musik itu –dalam hal ini musik sebagai iringan Jathilan– terhadap kondisi psikis maupun biologis penari. Menurut Djohan (2000 : 48) efek dari musik diantaranya adalah :
• Energi serta ketegangan otot akan meningkat
• Tarikan nafas dapat menjadi cepat atau berubah.
• Berkurangnya stimulus sensorik.
• Ketegangan otot meningkat.
Sedangkan beberapa indikator fisik dan fisiologis yang tidak dapat diabaikan diantaranya adalah :
• Detak jantung
• Tekanan darah
• Aktifitas arus listrik pada permukaan kulit
• Gelombang otak.
Batasan dan Rumusan Masalah
Tulisan ini dibatasi pada bentuk gendhing-gendhing yang dimainkan dalam pertunjukan Jathilan “Turonggo Muda” serta ingin melihat adakah keterkaitkan antara musik (gendhing-gendhing) dan proses ndadi dalam seni pertunjukan Jathilan “Turonggo Muda” yang ada di Dusun Ngaran I Desa Borobudur?
Pembahasan
I. Ndadi pada Kesenian Jathilan Turoggo Muda
Ndadi atau Trance adalah suatu istilah untuk melukiskan keadaan seseorang dimana kesadaran dirinya dikuasai oleh alam kesadaran lain yang biasa disebut dengan roh suci (Rabimin, 2000 : 29). Pada kelompok kesenian Jathilan Turonggo Muda, keadaan ndadi atau trance menjadi tontonan puncak atau klimaks pertunjukan –meskipun tidak seluruh penari bisa mencapai tahap ndadi ataupun ada yang pura-pura ndadi–. Setiap penari “memiliki” (menjadi media) satu roh suci yang nantinya akan merasuki tubuhnya saat pertunjukan jathilan berlangsung. Adapun beberapa persyaratan –sebelum pementasan Jathilan– yang harus dipenuhi agar penari bisa mencapai ndadi, diantaranya adalah :
• Penari harus berpuasa 7 hari tanpa niat dan tetap menjalankan ibadah (sembahyang) seperti biasanya.
• Menyediakan sesaji berupa kembang setaman, jajan pasar, dan kemenyan pada saat akan pentas.
• Roh suci harus “disiapkan” (melalui pawang, roh suci diminta agar mau merasuki tubuh penari pada saat pentas Jathilan berlangsung)
Selain persyaratan yang telah tersebut di atas, pawang dalam Jathilan Turonggo Muda berperan penting dalam proses ndadi. Pawang bisa melakukan komunikasi dengan roh -pada saat roh akan masuk, saat sudah masuk hingga saat akan keluar-. Biasanya properti akan terasa berat dan bergerak sendiri saat digunakan penari pada waktu pertunjukan (tanda bahwa roh suci sudah siap merasuki tubuh penari) dan melalui pawang roh itu bisa masuk ke tubuh penari. Saat roh berada di dalam tubuh penari proses komunikasi terlihat jelas karena melalui media penari, roh suci berbicara dengan menggunakan bahasa jawa (biasanya jawa ngoko). Komunikasi ini terjadi apabila roh tersebut meminta sajen ataupun gendhing yang diinginkannya jika ingin roh tersebut keluar dari tubuh penari .
Dalam proses ndadi , penari Jathilan harus pada keadaan kelelahan (pada kondisi normal sudah tidak mampu lagi menari) dan secara psikologis saat otak pada kondisi statis (dengan kata lain pikiran kosong) untuk mencapai ndadi. Untuk itu penari harus menari (tetap bergerak) dengan diiringi musik.
Bagan Hubungan Pawang dan Ndadi.
II. Musik Iringan Jathilan Turoggo Muda
Pada seni pertunjukan Jathilan “Turonggo Muda” Desa Borobudur, iringan musik dihasilkan dari seperangkat gamelan besi berlaras slendro yang terdiri dari satu kendang ciblon, satu demung, dua saron barung, satu kenong telok (sejenis kempul dengan ukuran kecil sebagai pengganti kethuk) , satu kentongan (dengan permainan improvisasi), satu kempul 3(lu), satu gong suwukan dan vokal. Dikarenakan tidak adanya instrumen bonang barung, maka demung berperan dalam menyajikan buka gendhing pada gendhing-gendhing Jathilan. Seluruh gendhing disajikan dengan teknik imbal pada saron –selain gendhing Jathilan, sampak dan Gangsaran– serta kendhangan ciblonan (dengan sekaran-sekaran khusus).
Berikut adalah urut-urutan repertoar gendhing-gendhing (notasi balungan  sekaran kendhang dan tembang)  yang disajikan dalam Jathilan “Turonggo Muda” pada saat pentas:
a. Lancaran Manyar Sewu
o
Buka :  . 1 . 6  . 1 . 6  . 5 . 3
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 5 . 3  . 5 . 3  . 5 . 3  . 6 . 5
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 6 . 5  . 6 . 5  . 6 . 5  . 3 . 2
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 3 . 2  . 3 . 2  . 3 . 2  . 1 . 6
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 1 . 6  . 1 . 6  . 1 . 6  . 5 . 3
b. Gangsaran
v         v         v    o
. 2 . 2  . 2 . 2  . 2 . 2  . 2 . 6
c. Lancaran Kotek
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 3 . 6  . 3 . 6  . 3 . 6  . 3 . 2
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 3 . 6  . 3 . 6  . 3 . 6  . 3 . 2
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 5 . 3  . 2 . 1  . 3 . 2  . 1 . 6
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 5 . 3  . 2 . 1  . 3 . 2  . 1 . 6
d. Gangsaran
v         v         v    o
. 2 . 2  . 2 . 2  . 2 . 2  . 2 . 3
e. Lancaran Bendrongan
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 5 . 3  . 5 . 2  . 5 . 2  . 5 . 3
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 5 . 3  . 5 . 2  . 5 . 2  . 5 . 2
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 1 . 6  . 1 . 5  . 1 . 5  . 1 . 6
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 1 . 6  . 1 . 5  . 1 . 5  . 1 . 6
+   +   + v +   + v +   + v +o
. 2 . 3  . 2 . 1  . 6 . 5  . 2 . 3
f. Sampak
5 5 5 5  1 1 1 1  1 1 1 1  2 2 2 2
6 6 6 6  6 6 6 6  1 1 1 1  5 5 5 5
5 5 5 5  2 2 2 2  2 2 2 2  5 5 5 5
g. ”Gendhing Jathilan” (Istilah/penyebutan lokal)
+   +   + v +  + v +   + v +o
. 6 . 5  . 6 . 5 . 6 . 5  . 6 . 5
Sekaran kendhangan dalam  “gendhing Jathilan”
. p p . p  . p p .  . p p . p  . p p .
. t p t p  . t p t p  d b d b  d b d b
. t . t  . p b .  . d . d  . p b .
t t d t  t d d d  t t d t d  t d b d b d
b d b t t t .  b d b t t t .  b d b t t t .  t t t t t t t t
. . b d  . b d .  t p d .  t p t p
Lirik tembang dalam “gendhing Jathilan”
Tembang yang dinyanyikan dalam gendhing “Jathilan” diambil dari tembang macapat Dhandhanggula.
Kinalangan kekuwung awengi
lir wewengkon bale mandhakiya
pasewakaning pamase
jroning kalang kadulu
kang sumewa marek ing ngarsi
mung punggawa sajuga
karya panjer surup
pra mukyaning taranggana
kang sawega rumeksa pringganing ratri
ngayomi ayuning rad.
Tan petungan panjrah ing wadya lit
arahane mawor mawurahan
ngapit narmada prenahe
jro petenging sarayu
angragancang Sang Bimasekti
nyuwak tutuking naga
kang sikareng laku
yeku mangka pralampita
mrih mengeta kang mantep teteping budi
widada kang sinedya.
Sasmitaning ngaurip puniki
mapan ewuh yen ora weruha
tan jumeneng ing uripe
akeh kang ngaku-aku
pangrasane sampun udani
tur during weruh ing rasa
rasa kang satuhu
rasaning rasa punika
upayanen darapon sampurna ugi
ing kauripanira
h. Gendhing-gendhing “jejalukan”
Gendhing-gendhing “jejalukan” adalah gendhing-gendhing yang diminta oleh roh media media penari Jathilan yang dirasuki sebagai syarat agar mau keluar dari tubuh tersebut.. Gendhing-gendhing  ini merupakan gendhing-gendhing yang disukai oleh roh suci. Contoh dari gendhing-gendhing “jejalukan” ini diantaranya: Tari lilin, Sluku-Sluku Bathok, Caping Gunung dan Gendhing Reog –tidak terlepas kemungkinan gendhing-gendhing yang telah ditulis diatas juga menjadi gendhing-gendhing jejalukan– .
Keterangan simbol : v = kempul o = gong + = kenong telok
III. Relasi Musik dan Ndadi dalam Kesenian Jathilan Turoggo Muda
Musik iringan (gendhing) Jathilan berperan penting dalam  mengiringi tarian Jathilan disamping sebagai “kekuatan” yang mampu menjadi jalan pencapaian ndadi bagi para penarinya. Roh diibaratkan sebagai seorang pemimpin ‘turun ke bawah’ yang memerlukan pengaturan dan persiapan segala perlengkapan untuk menyongsongnya. Untuk menyongsong kehadirannya dibutuhkan seperangkat perlengkapan yang salah satu diantaranya adalah sajen (sesaji berupa kembang kanthil, kenanga,  mawar serta kemenyan) dan untuk memperkuatnya ditambah dengan iringan-iringan musik (gendhing) (Umar Kayam 2000:143).
Pada gendhing Lancaran Manyar Sewu dan Lancaran Kotek sesuai dengan notasi balungannya yang telah dituliskan di atas berfungsi sebagai iringan saat pawang berinteraksi dengan roh suci –selain sebagai tanda bagi penonton bahwa pertunjukan akan dimulai serta sebagai sambutan bagi tuan rumah– dengan membakar kemenyan –didekat properti Jathilan topeng buto dan jaran kepang dan biasanya di dekat kendang– yang menurut mbah Reja ini bertujuan agar roh suci tidak marah dan mudah dikendalikan saat pertunjukan berlangsung. Secara tidak langsung gendhing ini  berhubungan dengan proses ndadi yakni sebagai iringan pada persiapan awal –interaksi antara pawang dan roh suci- agar roh suci mau  merasuki tubuh penari Jathilan melalui perantara pawang.
Gendhing  Lancaran Bendrongan sebagai musik iringan tarian pembuka di awal babak pada pertunjukan Jathilan, tidak berpengaruh terhadap kondisi psikis para penari –meskipun secara fisiologis para penari sudah merasakan kelelahan- sehingga pencapaian ndadi belum terjadi pada saat gendhing ini dimainkan.
Gangsaran dan sampak fungsinya sebagai sisipan atau pengantar pergantian lagu tidak memilki pengaruh terhadap para penari menuju ndadi, melainkan hanya sebagai tanda pergantian pola tarian (gerak dan pola lantai). Tidak ada penari yang ndadi saat iringan musik ini dimainkan, dengan kata lain musik iringan ini tidak berhubungan secara langsung pada proses pencapaian ndadi.
Dari hasil pengamatan lapangan pemain mulai ndadi saat gendhing Jathilan dimainkan (menjadi iringan tari) –tidak menutup kemungkinan gendhing-gendhing lain  juga bisa mengantarkan penari Jathilan mencapai ndadi-. Gendhing Jathilan sebagai iringan yang selalu dimainkan dalam pentas tari Jathilan “Turonggo Muda” mempunyai sebuah peran dalam pencapaian ndadi dilihat dari pola penggarapan. Gendhing Jathilan hanya menggunakan dua nada yaitu 5 (mo) dan 6 (nem) yang dimainkan monoton (jika dilihat dari harmoni, pitch dan timbrenya) berulang-ulang –tidak ada batasan jumlah putaran saat memainkannya– dan dinamik (jika dilihat dari unsur tempo dan volumenya). Perubahan tempo serta volume dikendalikan oleh pemain kendhang dengan sekaran-sekaran kendhang Jathilan sebagai penandanya. Karena tidak ada batasan jumlah ini –yang mengharuskan penari tetap menari/bergerak–, kondisi penari baik secara psikis –kondisi otak yang statis yang ditandai dengan kepala terasa pusing dan berat– ataupun biologis yang ditandai dengan kaki mulai kesemutan dan tubuh mulai berat digerakkan yang disebabkan karena kerja saraf sensorik yang dikirim dari otak  secara bertahap menurun. Pada kondisi ini roh suci –melalui perantara pawang– masuk kedalam tubuh penari dan saat itulah roh suci mulai mengendalikan tubuh penari atau dengan kata lain penari telah mencapai ndadi.
Gendhing-gendhing jejalukan pada pentas pertunjukan Jathilan “Turonggo Muda” memilki fungsi yang sangat penting dan berhubungan dengan proses ndadi, yaitu sebagai syarat penyembuh untuk para pemain yang ndadi (hasil wawancara dengan mbah Ru). Roh yang masuk ke dalam tubuh para penari biasanya memiliki permintaan yang harus dipenuhi agar mau keluar dari tubuh penarinya.  Selain meminta sajen, roh-roh tersebut biasanya meminta agar dimainkannya gendhing-gendhing kesukaan mereka.
Musik, tari, pawang dan ndadi pada pertunjukan Jathilan Turonggo Muda adalah sebuah kesatuan dimana keempat unsur pokok tersebut harus ada selain unsur-unsur pendukung lainnya seperti syarat ataupun sajen. Musik berfungsi sebagai iringan tari yang mana tarian merupakan sebuah proses (jalan) untuk mencapai ndadi dan pawang adalah penghubung antara roh suci dan penari  Hubungan antara  keempatnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini:
Kesimpulan
Musik (gendhing) dan ndadi dalam seni pertunjukan Jathilan “Turonggo Muda” sangat berhubungan erat mulai dari proses interaksi antara roh suci dengan pawang hingga pada puncaknya yaitu ndadi.
Penggarapan gendhing Jathilan yang dinamik dari segi tempo dan volume, serta monoton dari segi timbre, pitch dan harmoni yang dimainkan  berulang-ulang menyebabkan kondisi psikis dan biologis para penari Jathilan  menurun yang menyebabkan para penari mencapai keadaan ndadi melalui perantara pawang. Dengan kata lain pawang juga berperan penting dalam proses terjadinya ndadi ini.
Gendhing jejalukan dalam pertunjukan Jathilan berhubungan dengan proses keluarnya roh suci dari tubuh penari. penggarapan gendhing-gendhing jejalukan ini menggunakan pola kendhangan seseran (tempo semakin cepat) hingga pada akhirnya roh suci dikeluarkan oleh pawang dari tubuh penari Jathilan

Latar BelakangMusik memiliki beberapa fungsi yang selalu berkaitan erat dengan sebuah praktek berkesenian. Dalam seni pertunjukan rakyat yang berbalut mistik, musik berhubungan dengan proses berjalannya pentas dalam hal pemanggilan roh, serta proses ndadi (keadaan dimana para penari kehilangan kesadaran dan masih menari karena terpengaruh oleh “alam kesadaran” lain) pada puncaknya (Umar Kayam :2000). Selain sebagai pengiring dalam gerakan tari –yang sebenarnya merupakan sebuah proses untuk mencapai keadaan ndadi– musik iringan dalam Jathilan ”Turonggo Muda” merupakan sebuah bentuk interaksi dengan ”yang gaib” yang menurut keyakinan masyarakat setempat dipercaya sebagai roh-roh suci penjaga/pelindung desa.Dipandang dari segi kepercayaan (agama), hampir 90% anggota kelompok kesenian Jathilan Turonggo Muda beragama Islam, namun demikian kepercayaan spiritisme  masih berlaku khususnya oleh para sesepuh Jathilan. Pada kenyataannya para sesepuh kesenian Jathilan Turonggo Muda masih menghormati danyang atau roh suci pelindung desa dengan memberikan sesajen berupa kembang kanthil, kenanga,  mawar serta kemenyan pada waktu-waktu tertentu meskipun fungsinya telah berubah dari pemujaan menjadi sebuah bentuk tontonan sekuler yang dituangkan dalam seni pertunjukan Jathilan.  Roh-roh suci pelindung desa ini semula bertempat tinggal di sendang perbukitan Suroloyo yang kemudian oleh para sesepuh Jathilan dipindahkan kedalam properti Jathilan –diantaranya delapan jaran kepang, delapan topeng buto, satu barongan dan satu kendhang– dengan maksud agar nantinya para roh suci ini merasuki tubuh pemain Jathilan (merupakan salah satu bentuk interaksi yang dimaksud).Gejala kemasukan roh suci ditandai dengan hilangnya kesadaran penari namun penari tetap menari karena dipengaruhi oleh alam kesadaran lain. Pada awalnya penari akan mengalami gejala kesemutan pada kaki kemudian merambat keatas hingga pada pucuk embun-embun dan pada akhirnya penari tidak ingat lagi atau tidak sadarkan diri (Rabimin, 2000 : 32). Pada keadaan ndadi ini penari tetap mengkuti irama gendhing-gendhing yang dimainkan saat pementasan Jathilan hingga roh yang merasukinya keluar. Pada kesenian Jathilan Turonggo Muda, musik melalui penggarapan elemen-elemen dasar musik seperti pitch , tempo , timbre  serta dinamika , dapat dikatakan sebagai pengantar ataupun media pencapaian ndadi. Elemen-elemen stimulasi yang potensial diantaranya adalah :• Perubahan tempo yang tidak diprediksi• Perubahan tiba-tiba pada volume, irama, timbre, pitch dan harmoni• Tekstur musik yang variatif• Disonansi yang tidak diharapkan• Aksen yang tidak diharapkan• Timbre yang kasar• Kekurangan pada struktur dan bentuk musik• Makin cepat, melambat, mengeras dan melembut secara tiba-tiba• Berhenti tidak seperti yang diharapkan (Djohan :2006) Secara teoritis keterkaitan antara musik dan ndadi bisa dilihat dari dampak yang ditimbulkan oleh musik itu –dalam hal ini musik sebagai iringan Jathilan– terhadap kondisi psikis maupun biologis penari. Menurut Djohan (2000 : 48) efek dari musik diantaranya adalah :• Energi serta ketegangan otot akan meningkat • Tarikan nafas dapat menjadi cepat atau berubah.• Berkurangnya stimulus sensorik.• Ketegangan otot meningkat.Sedangkan beberapa indikator fisik dan fisiologis yang tidak dapat diabaikan diantaranya adalah : • Detak jantung• Tekanan darah• Aktifitas arus listrik pada permukaan kulit • Gelombang otak.

Batasan dan Rumusan MasalahTulisan ini dibatasi pada bentuk gendhing-gendhing yang dimainkan dalam pertunjukan Jathilan “Turonggo Muda” serta ingin melihat adakah keterkaitkan antara musik (gendhing-gendhing) dan proses ndadi dalam seni pertunjukan Jathilan “Turonggo Muda” yang ada di Dusun Ngaran I Desa Borobudur?
PembahasanI. Ndadi pada Kesenian Jathilan Turoggo MudaNdadi atau Trance adalah suatu istilah untuk melukiskan keadaan seseorang dimana kesadaran dirinya dikuasai oleh alam kesadaran lain yang biasa disebut dengan roh suci (Rabimin, 2000 : 29). Pada kelompok kesenian Jathilan Turonggo Muda, keadaan ndadi atau trance menjadi tontonan puncak atau klimaks pertunjukan –meskipun tidak seluruh penari bisa mencapai tahap ndadi ataupun ada yang pura-pura ndadi–. Setiap penari “memiliki” (menjadi media) satu roh suci yang nantinya akan merasuki tubuhnya saat pertunjukan jathilan berlangsung. Adapun beberapa persyaratan –sebelum pementasan Jathilan– yang harus dipenuhi agar penari bisa mencapai ndadi, diantaranya adalah :• Penari harus berpuasa 7 hari tanpa niat dan tetap menjalankan ibadah (sembahyang) seperti biasanya.• Menyediakan sesaji berupa kembang setaman, jajan pasar, dan kemenyan pada saat akan pentas.• Roh suci harus “disiapkan” (melalui pawang, roh suci diminta agar mau merasuki tubuh penari pada saat pentas Jathilan berlangsung) Selain persyaratan yang telah tersebut di atas, pawang dalam Jathilan Turonggo Muda berperan penting dalam proses ndadi. Pawang bisa melakukan komunikasi dengan roh -pada saat roh akan masuk, saat sudah masuk hingga saat akan keluar-. Biasanya properti akan terasa berat dan bergerak sendiri saat digunakan penari pada waktu pertunjukan (tanda bahwa roh suci sudah siap merasuki tubuh penari) dan melalui pawang roh itu bisa masuk ke tubuh penari. Saat roh berada di dalam tubuh penari proses komunikasi terlihat jelas karena melalui media penari, roh suci berbicara dengan menggunakan bahasa jawa (biasanya jawa ngoko). Komunikasi ini terjadi apabila roh tersebut meminta sajen ataupun gendhing yang diinginkannya jika ingin roh tersebut keluar dari tubuh penari . Dalam proses ndadi , penari Jathilan harus pada keadaan kelelahan (pada kondisi normal sudah tidak mampu lagi menari) dan secara psikologis saat otak pada kondisi statis (dengan kata lain pikiran kosong) untuk mencapai ndadi. Untuk itu penari harus menari (tetap bergerak) dengan diiringi musik. Bagan Hubungan Pawang dan Ndadi.II. Musik Iringan Jathilan Turoggo MudaPada seni pertunjukan Jathilan “Turonggo Muda” Desa Borobudur, iringan musik dihasilkan dari seperangkat gamelan besi berlaras slendro yang terdiri dari satu kendang ciblon, satu demung, dua saron barung, satu kenong telok (sejenis kempul dengan ukuran kecil sebagai pengganti kethuk) , satu kentongan (dengan permainan improvisasi), satu kempul 3(lu), satu gong suwukan dan vokal. Dikarenakan tidak adanya instrumen bonang barung, maka demung berperan dalam menyajikan buka gendhing pada gendhing-gendhing Jathilan. Seluruh gendhing disajikan dengan teknik imbal pada saron –selain gendhing Jathilan, sampak dan Gangsaran– serta kendhangan ciblonan (dengan sekaran-sekaran khusus). Berikut adalah urut-urutan repertoar gendhing-gendhing (notasi balungan  sekaran kendhang dan tembang)  yang disajikan dalam Jathilan “Turonggo Muda” pada saat pentas:a. Lancaran Manyar Sewu   oBuka :  . 1 . 6  . 1 . 6  . 5 . 3+   +   + v +   + v +   + v +o . 5 . 3  . 5 . 3  . 5 . 3  . 6 . 5+   +   + v +   + v +   + v +o . 6 . 5  . 6 . 5  . 6 . 5  . 3 . 2+   +   + v +   + v +   + v +o . 3 . 2  . 3 . 2  . 3 . 2  . 1 . 6+   +   + v +   + v +   + v +o . 1 . 6  . 1 . 6  . 1 . 6  . 5 . 3
b. Gangsaran             v         v         v    o. 2 . 2  . 2 . 2  . 2 . 2  . 2 . 6
c. Lancaran Kotek+   +   + v +   + v +   + v +o. 3 . 6  . 3 . 6  . 3 . 6  . 3 . 2+   +   + v +   + v +   + v +o. 3 . 6  . 3 . 6  . 3 . 6  . 3 . 2+   +   + v +   + v +   + v +o. 5 . 3  . 2 . 1  . 3 . 2  . 1 . 6+   +   + v +   + v +   + v +o. 5 . 3  . 2 . 1  . 3 . 2  . 1 . 6
d. Gangsaran             v         v         v    o. 2 . 2  . 2 . 2  . 2 . 2  . 2 . 3
e. Lancaran Bendrongan+   +   + v +   + v +   + v +o . 5 . 3  . 5 . 2  . 5 . 2  . 5 . 3+   +   + v +   + v +   + v +o . 5 . 3  . 5 . 2  . 5 . 2  . 5 . 2+   +   + v +   + v +   + v +o . 1 . 6  . 1 . 5  . 1 . 5  . 1 . 6+   +   + v +   + v +   + v +o. 1 . 6  . 1 . 5  . 1 . 5  . 1 . 6+   +   + v +   + v +   + v +o. 2 . 3  . 2 . 1  . 6 . 5  . 2 . 3

f. Sampak5 5 5 5  1 1 1 1  1 1 1 1  2 2 2 26 6 6 6  6 6 6 6  1 1 1 1  5 5 5 55 5 5 5  2 2 2 2  2 2 2 2  5 5 5 5
g. ”Gendhing Jathilan” (Istilah/penyebutan lokal)+   +   + v +  + v +   + v +o . 6 . 5  . 6 . 5 . 6 . 5  . 6 . 5 Sekaran kendhangan dalam  “gendhing Jathilan” . p p . p  . p p .  . p p . p  . p p . . t p t p  . t p t p  d b d b  d b d b . t . t  . p b .  . d . d  . p b . t t d t  t d d d  t t d t d  t d b d b d b d b t t t .  b d b t t t .  b d b t t t .  t t t t t t t t . . b d  . b d .  t p d .  t p t pLirik tembang dalam “gendhing Jathilan” Tembang yang dinyanyikan dalam gendhing “Jathilan” diambil dari tembang macapat Dhandhanggula.Kinalangan kekuwung awengilir wewengkon bale mandhakiyapasewakaning pamasejroning kalang kadulukang sumewa marek ing ngarsimung punggawa sajugakarya panjer suruppra mukyaning tarangganakang sawega rumeksa pringganing ratringayomi ayuning rad.
Tan petungan panjrah ing wadya litarahane mawor mawurahanngapit narmada prenahejro petenging sarayuangragancang Sang Bimasektinyuwak tutuking nagakang sikareng lakuyeku mangka pralampitamrih mengeta kang mantep teteping budiwidada kang sinedya.

Sasmitaning ngaurip punikimapan ewuh yen ora weruhatan jumeneng ing uripeakeh kang ngaku-akupangrasane sampun udanitur during weruh ing rasarasa kang satuhurasaning rasa punikaupayanen darapon sampurna ugiing kauripanira
h. Gendhing-gendhing “jejalukan”Gendhing-gendhing “jejalukan” adalah gendhing-gendhing yang diminta oleh roh media media penari Jathilan yang dirasuki sebagai syarat agar mau keluar dari tubuh tersebut.. Gendhing-gendhing  ini merupakan gendhing-gendhing yang disukai oleh roh suci. Contoh dari gendhing-gendhing “jejalukan” ini diantaranya: Tari lilin, Sluku-Sluku Bathok, Caping Gunung dan Gendhing Reog –tidak terlepas kemungkinan gendhing-gendhing yang telah ditulis diatas juga menjadi gendhing-gendhing jejalukan– .Keterangan simbol : v = kempul o = gong + = kenong telokIII. Relasi Musik dan Ndadi dalam Kesenian Jathilan Turoggo MudaMusik iringan (gendhing) Jathilan berperan penting dalam  mengiringi tarian Jathilan disamping sebagai “kekuatan” yang mampu menjadi jalan pencapaian ndadi bagi para penarinya. Roh diibaratkan sebagai seorang pemimpin ‘turun ke bawah’ yang memerlukan pengaturan dan persiapan segala perlengkapan untuk menyongsongnya. Untuk menyongsong kehadirannya dibutuhkan seperangkat perlengkapan yang salah satu diantaranya adalah sajen (sesaji berupa kembang kanthil, kenanga,  mawar serta kemenyan) dan untuk memperkuatnya ditambah dengan iringan-iringan musik (gendhing) (Umar Kayam 2000:143). Pada gendhing Lancaran Manyar Sewu dan Lancaran Kotek sesuai dengan notasi balungannya yang telah dituliskan di atas berfungsi sebagai iringan saat pawang berinteraksi dengan roh suci –selain sebagai tanda bagi penonton bahwa pertunjukan akan dimulai serta sebagai sambutan bagi tuan rumah– dengan membakar kemenyan –didekat properti Jathilan topeng buto dan jaran kepang dan biasanya di dekat kendang– yang menurut mbah Reja ini bertujuan agar roh suci tidak marah dan mudah dikendalikan saat pertunjukan berlangsung. Secara tidak langsung gendhing ini  berhubungan dengan proses ndadi yakni sebagai iringan pada persiapan awal –interaksi antara pawang dan roh suci- agar roh suci mau  merasuki tubuh penari Jathilan melalui perantara pawang.Gendhing  Lancaran Bendrongan sebagai musik iringan tarian pembuka di awal babak pada pertunjukan Jathilan, tidak berpengaruh terhadap kondisi psikis para penari –meskipun secara fisiologis para penari sudah merasakan kelelahan- sehingga pencapaian ndadi belum terjadi pada saat gendhing ini dimainkan.Gangsaran dan sampak fungsinya sebagai sisipan atau pengantar pergantian lagu tidak memilki pengaruh terhadap para penari menuju ndadi, melainkan hanya sebagai tanda pergantian pola tarian (gerak dan pola lantai). Tidak ada penari yang ndadi saat iringan musik ini dimainkan, dengan kata lain musik iringan ini tidak berhubungan secara langsung pada proses pencapaian ndadi.Dari hasil pengamatan lapangan pemain mulai ndadi saat gendhing Jathilan dimainkan (menjadi iringan tari) –tidak menutup kemungkinan gendhing-gendhing lain  juga bisa mengantarkan penari Jathilan mencapai ndadi-. Gendhing Jathilan sebagai iringan yang selalu dimainkan dalam pentas tari Jathilan “Turonggo Muda” mempunyai sebuah peran dalam pencapaian ndadi dilihat dari pola penggarapan. Gendhing Jathilan hanya menggunakan dua nada yaitu 5 (mo) dan 6 (nem) yang dimainkan monoton (jika dilihat dari harmoni, pitch dan timbrenya) berulang-ulang –tidak ada batasan jumlah putaran saat memainkannya– dan dinamik (jika dilihat dari unsur tempo dan volumenya). Perubahan tempo serta volume dikendalikan oleh pemain kendhang dengan sekaran-sekaran kendhang Jathilan sebagai penandanya. Karena tidak ada batasan jumlah ini –yang mengharuskan penari tetap menari/bergerak–, kondisi penari baik secara psikis –kondisi otak yang statis yang ditandai dengan kepala terasa pusing dan berat– ataupun biologis yang ditandai dengan kaki mulai kesemutan dan tubuh mulai berat digerakkan yang disebabkan karena kerja saraf sensorik yang dikirim dari otak  secara bertahap menurun. Pada kondisi ini roh suci –melalui perantara pawang– masuk kedalam tubuh penari dan saat itulah roh suci mulai mengendalikan tubuh penari atau dengan kata lain penari telah mencapai ndadi.Gendhing-gendhing jejalukan pada pentas pertunjukan Jathilan “Turonggo Muda” memilki fungsi yang sangat penting dan berhubungan dengan proses ndadi, yaitu sebagai syarat penyembuh untuk para pemain yang ndadi (hasil wawancara dengan mbah Ru). Roh yang masuk ke dalam tubuh para penari biasanya memiliki permintaan yang harus dipenuhi agar mau keluar dari tubuh penarinya.  Selain meminta sajen, roh-roh tersebut biasanya meminta agar dimainkannya gendhing-gendhing kesukaan mereka. Musik, tari, pawang dan ndadi pada pertunjukan Jathilan Turonggo Muda adalah sebuah kesatuan dimana keempat unsur pokok tersebut harus ada selain unsur-unsur pendukung lainnya seperti syarat ataupun sajen. Musik berfungsi sebagai iringan tari yang mana tarian merupakan sebuah proses (jalan) untuk mencapai ndadi dan pawang adalah penghubung antara roh suci dan penari  Hubungan antara  keempatnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

KesimpulanMusik (gendhing) dan ndadi dalam seni pertunjukan Jathilan “Turonggo Muda” sangat berhubungan erat mulai dari proses interaksi antara roh suci dengan pawang hingga pada puncaknya yaitu ndadi. Penggarapan gendhing Jathilan yang dinamik dari segi tempo dan volume, serta monoton dari segi timbre, pitch dan harmoni yang dimainkan  berulang-ulang menyebabkan kondisi psikis dan biologis para penari Jathilan  menurun yang menyebabkan para penari mencapai keadaan ndadi melalui perantara pawang. Dengan kata lain pawang juga berperan penting dalam proses terjadinya ndadi ini.Gendhing jejalukan dalam pertunjukan Jathilan berhubungan dengan proses keluarnya roh suci dari tubuh penari. penggarapan gendhing-gendhing jejalukan ini menggunakan pola kendhangan seseran (tempo semakin cepat) hingga pada akhirnya roh suci dikeluarkan oleh pawang dari tubuh penari Jathilan

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: