SIEM 2008: ETNIK ATAU KONTEMPORER?


Oleh: Muhammad Nur Salim

Solo International Ethnic Music (SIEM) yang berlangsung di Pura Pamedan Mangkunegaran pada tanggal 28 Oktober- 01 November 2008 masih perlu dipertanyakan lagi bentuk serta konten acaranya. Pasalnya dalam event yang bertajuk  Solo Internasional Ethnic Music ini tidak satupun penampil yang mengusung sebuah sajian musik etnik terkecuali sebatas instrumennya saja.

 

SIEM yang seharusnya menyajikan musik-musik etnik dari berbagai daerah di dunia, ternyata didalamnya berisikan pertunjukan yang justru tanpa sajian musik etnik, melainkan sajian musik yang tergolong karya baru atau bisa juga disebut musik komposisi baru atau bahkan musik kontemporer. Instrumen musik etnik seperti gamelan, djembe, erhu dll. memang dipergunakan oleh beberapa penampil, namun bentuk penyajiannya tidak se-etnik instrumennya, atau dengan kata lain musik etnik dari instrumen etnik itu tidak muncul di SIEM 2008.

 

Dalam tema Festival & Education, SIEM 2008 ini memang menyuguhkan karya-karya musik yang lumayan bernuansa etnik dengan menggabungkan instrumen-intrumen etnik dengan instumen apa sajalah, seperti gitar elektrik, drum, bass, atau bahkan sebuah saksofon yang dimainkan ditengah kepungan pasukan perkusi dengan tong-tong sampah mereka. Beberapa penampil lain menggarap alat-alat baru yang dianggap sebagai gamelan masa kini dengan repertoar gendhing yang layaknya masih asing di telinga para pengrawit kraton. Ada juga yang memainkan gamelan ageng Jawa dengan cara Jepang sebagai iringan dongeng dalam bentuk teaterikal.  Kehebatan lain dari SIEM adalah para penari yang juga lumayan kontemporer bisa ikut nge-job dalam acara yang diperuntukkan bagi para seniman musik etnik dari seluruh penjuru dunia ini. Kalau sudah seperti itu, kemana larinya musik yang benar-benar etnik dalam Solo International Ethnic Music itu berada saat bendera kontemporer mulai dikibarkan? Kegiatan yang telah diadakan sebanyak dua kali ini harusnya telah mengalami sebuah proses koreksi, entah itu dari tajuk ataupun dari bentuk acaranya.

 

SIEM yang menjadi ajang para komponis mengenalkan karya baru mereka baik itu musik, tarian, bahkan instrumen yang aneh-aneh, hendaknya diubah menjadi ajang untuk menunjukkan ke-eksistensian musik-musik etnik dari seluruh dunia sebelum SIEM dicap sebagai ajangnya para pengrawit dunia untuk berkontemporeria. Ataukah namanya saja yang harus diubah menjadi Solo International Kontemporer Music And Dance?

 

 

Explore posts in the same categories: Kritik Seni

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: