“Kebudayaan dan Pembangunan”


oleh:
Alfisyah Dianasari, Andi Fadillah, Elan A. Lazuardi, Ghaffari Ramadhian, Putri Fitria, R. Prastowo Ragawi, Rosita Budi, Susan Widyaningsih.
Pendahuluan
Kebudayaan selalu terbuka dan cair sifatnya (Kayam, 1987:309). Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis. Orang-orang yang terlibat dalam suatu kebudayaan selalu memproses unsur yang datang dari luar yang dianggap cocok dengan kebudayaan mereka sekaligus juga mempertahankan unsur-unsur lama yang dianggap masih sesuai untuk mereka. Pembangunan – ditinjau dari sudut dialektika perkembangan masyarakat – adalah metodologi sekaligus prasarana pengembangan struktur dan kebudayaan masyarakat. Oleh Umar Kayam, pembangunan dengan sendirinya akan menyeret pada perubahan sosial. Masyarakat memiliki keluwesan untuk menciptakan prasarana dan sarana baru sesuai dengan sistem nilai mereka. Meski begitu, pembangunan menghadapi dilemanya sendiri khususnya dilema yang dihadapi oleh masyarakat berkembang (agraris-tradisional) menuju proses perubahan ke masyarakat modern-maju (industri). Dilema itu antara tercerabut atau musnahnya sama sekali nilai-nilai budaya tradisi untuk diganti oleh nilai-nilai baru yang modern dan berkiblat pada nilai-nilai industri dan organisasi modern. Namun, sebenarnya pilihan itu tidak lah tidak dapat ditawar lagi. Ada media-media yang dapat menjembatani memperhitungkan sejak semula strategi pembangunan sebagai proses kebudayaan.
Artikel Arturo Escobar mengkaji pembangunan pada negara-negara Dunia Ketiga dan peran antropolog dalam proses tersebut. Sejak pertengahan tahun 1970-an, antropolog mulai memasuki ranah terapan dengan ikut dalam proyek-proyek pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga. Banyak dari mereka terjun dalam ranah terapan sebagai ahli kebudayaan dalam aktivitas pembangunan. Dalam pandangan penulis, antropolog pembangunan justru memperkuat model-model pembangunan yang etnosentris dan mendominasi. Jika dulu proyek-proyek pembangunan dihadapkan pada kegagalan pembangunan dengan pendekatan yang terorientasi ekonomi, maka proyek-proyek pembangunan yang kini difokuskan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan di negara-negara berkembang lebih difokuskan pada aspek kebudayaan. Kecenderungan baru ini lah yang membuka peluang lebar pada antropolog-antropolog dalam program-program pembangunan. Mereka berargumen bahwa keberadaan mereka membantu mengedepankan faktor-faktor sosial dan budaya dalam aktivitas pembangunan. Namun, Escobar mempertanyakan apakah benar para antropolog memiliki kontribusi unik terhadap pembangunan karena kelebihan pengetahuan (kebudayaan) mereka? Hal ini disebabkan argumentasinya bahwa antropolog pembangunan terlalu mengikuti sistem pengetahuan dan kekuasaan yang terpusat pada Barat.
Antropologi pembangunan dan sejarah antropologi terapan
Sejarah antropologi pembangunan mendapat legitimasi dan menjadi pertimbangan bagi sejarah sistem studi manusia yang beranekaragam. Menurut Stocking, antropologi pembangunan, seperti disiplin antropologi lainnya telah melalui proses pertimbangan sejarah melalui aspek pendekatan keberagaman manusia yang tergabung dalam studi sistematis. Jika pandangan sejarah antropologi benar, perhatian pada persamaan proses evolusi akan kurang berkembang pada wacana perkembangan setelah Perang Dunia ke II. Tidak hanya kolonialis, tetapi juga perkembangannya. Dan mungkin meskipun begitu tidak berbahaya pada sisi eksplorasi alam yang berlebihan. Pada waktu yang sama wacana pembangunan mencoba mengisi kembali koloni-koloni sebelumnya, yang sekarang disebut sebagai Negara Dunia ke-3. Antropolog yang terlibat dalam pembangunan telah menganggap pembangunan sebagai suatu prosesyang alami.
Akar antropologi pembangunan berhubungan dengan sejarah yang lebih luas dari antropologi terapan. Tentu saja akar pembangunan antropologi dapat ditelusuri dari perdebatan mengenai lingkup dan sifat antropologi terapan oleh Malinowski dan bahkan sebelumnya. Ketika menerima penghargaan Malinowski, Raymond Firth menempatkan awal antropologi terapan bahkan sebelum kolonialisme terbuka mulai lahir. Malinowski dilihat sebagai orang hebat yang menjadi pelindung dari antropologi terapan, dan artikelnya “Practical Anthropology” sebagai artikel penting dalam kajian antropologi terapan. Antropologi ini akan menjadi sangat penting untuk praktik orang di dalam jajahan-jajahan.
Seperti kebanyakan antropolog pada periodenya, Malinowski, enggan untuk dilibatkan dengan administrasi kolonial. Menurut Evans-Pritchard, tidak ada yang salah dengan mengaplikasikan pengetahuan antropologis pada urusan-urusan yang praktis, tetapi jika diterapkan antropolog harus menyadari bahwa ia tidak lagi bertindak di dalam bidang keilmuan antropologi, tetapi dalam bidang non-ilmiah dari administrasi. Selagi antropologi ditandai oleh obyektifitas dan eksklusi dari nilai moral yang secara metodologis irelevan , administrasi memerlukan bahwa nilai moral yang dibuat explisit, karena standar etis dituntut. Keberatan intelektual seperti keraguan politis mengenai keberadaan antropolog dalam sesuatu yang memiliki nilai kultural yang berbeda dengan dirinya dan keengganan mereka yang bergerak dalam bidang administratif memberikan pengaruh antropologi terapan dalam konteks kolonial.
Pembangunan yang Terorientasi pada Kemiskinan dan Kemunculan Antropologi Pembangunan Baru
Dalam artikel ini dijelaskan bahwa antropologi juga berperan dalam perubahan sosial dan ekonomi khususnya dalam pembangunan. Fase-fase tersebut dapat dilihat dari awal mulanya pada pertengahan tahun 1970 di mana baru dimulai pembangunan antropologi. Dilanjutkan pada abad ketidakpuasan pada tahun 1980-1985, pencarian alternatif kemudian ditemukan pada periode tahun 1985-1990 lalu pada akhir tahun 80an dimulai oleh pemikiran-pemikiran yang realistis dan pragmatis dari para pakar pembangunan.
Salah satu contoh yaitu terdapat lebih dari 100 juta keluarga tinggal dlahan yang terlalu kecil dan tidak bisa mengembangkan sektor pertanian. Lalu diadakannya program yang berorientasi pada kemiskinan di daerah tertinggal.Dilakukannya proyek skala besar untuk pertumbuhan ekonomi. Proyek tersebut mendorong proyek selanjutnya yang menitikberatkan pada pemabngunan masyarakat terpencil. Maka lahirlah politik agraria. Akan tetapi, kekurangannya adalah hanya berkutat pada produksi dan pasar dan hanya terpaku pada pengembangan materi dan eksploitasi alam.
Pandangan ini kemudian berubah, menjadi meningkatkan kepedulian terhadap kaum miskin, dengan melihat lebih dekat apa saja yang dibutuhkan oleh mereka. Petani dilihat sebagai individu bukan sebagai bagian dari sistem. Hasil dari perubahan diatas adalah peningkatan yang signifikan dibidang lainnya. Jadi singkat cerita sejarahperkembangan antropologi yang dibangun oleh pakar antropologi merefleksikan usaha kaum miskin tadi untuk membangun ruang dan identitas mereka sendiri. Hal yang mereka lihat di masa lalu adalah rangkaian perubahan positif dalam dogma pembangunan yang memungkinkan untuk bertindak mewakili kaum miskin.
Profesionalisasi dan institusionalisasi antropologi pembangunan
Artikel ini kurang lebih menceritakan tentang profesionalisme dan institusionalisme dari subdisiplin antropologi terapan, khususnya antropologi pembangunan di dalam kerangka perubahan. Pada tahun 1982, Hoben menyatakan dalam tulisannya bahwa tugas antropolog dalam pembangunan tidak selalu untuk menciptakan sebuah disiplin akademik. Artinya antropologi pembangunan pada lingkup kerjanya tidak dicirikan dengan sebuah koherensi kerangka teori, konsep, dan metodologi. Green menanggapi pernyataan Hoben bahwa antropologi pembangunan mungkin bukan sebuah subdisiplin akademik, namun memang karena cakupan antropologi terapan di dalam konteks pembangunan adalah mengambil intisari antropologi serta berbagai subdisiplin lainnya. Sebagai suatu ilmu akademis, antropologi budaya terutama mementingkan pencatatan dan analisa kebudayaan bangsa-bangsa lain. Sebaliknya pada antropologi terapan, tujuan kerja lapangan adalah untuk memperkenalkan suatu perubahan tertentu pada cara hidup suatu masyarakat tertentu. Oleh karena itu, dalam antropologi pembangunan, antropologi yang diterapkan memprioritaskan pembangunan sebagai sebuah keseluruhan. Artinya pembangunan diharapkan mampu untuk mengaplikasikan semua bidang ilmu (kesehatan, pertanian, ekologi, pendidikan, populasi, dll) lalu merelasikannya dengan variabel-variabel lain (kebudayaan, teknologi, modal, dan sumber daya alam). Dalam hal ini, antropologi disamakan kedudukannya dengan kedudukan ilmu lainnya.
Penggabungan antropologi pembangunan akan bergantung tidak hanya pada situasi saat itu namun juga dipengaruhi oleh profesionalisme sebagai sebuah kerangka ilmu pengetahuan dan institusionalisasi sebagai sebuah praktik kerja. Profesionalisasi dan institusionalisasi, keduanya sama-sama problematis. Misalnya organisasi profesional yang mendukung praktik kerja lapangan. Pada tahun 1977, The British Royal Anthropological Institute menyusun sebuah Komite Antropologi Pembangunan untuk mempromosikan keterlibatan antropologi dalam pembangunan negara-negara dunia ketiga (Grillo 1985: 2). Di Amerika Serikat, a Society for Applied Anthropology telah dibangun pada tahun 1941 sebagai sebuah organisasi dari para praktisi aplikasi, termasuk pekerjaan dalam pembangunan. Institusi ini telah memberikan kontribusi besar dalam menempatkan antropologi pembangunan dalam agenda kerja profesional dari kedua negara. Pada tahun 1976, tiga orang antropolog ternama membuat institut nonprofit untuk Antropologi Pembangunan di Binghamton, New York. Sejak itupun, institusi ini terlibat dalam proyek di lebih dari 30 negara yang meliputi Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Pendanaan terpenting datang dari US AID, selain itu Bank Dunia, FAO, UNDP, serta organisasi dunia lainnya turut berkontribusi. Kemudian masih banyak organisasi independen, yang bukan organisasi antropologi pembangunan, yang ikut berkembang dengan ide serupa dan turut membantu pendanaan dalam proyek besar ini.
The American Anthropological Association’s Training Manual in Development Athropology merumuskan sebuah definisi. Antropologi pembangunan adalah gabungan riset ilmiah dan penerapan aplikasi dalam siklus proyek pembangunan, yang objektif untuk meningkatkan keuntungan dan mengurangi konsekuensi negatif bagi keterlibatan komunitas masyarakat di dalam serta efek dari usaha pembangunan. Antropologi pembangunan terlibat dalam proyek pembangunan menurut berbagai cara yang variatif, peran khusus dideterminasikan dalam bagian dengan partikular dalam perjalanan siklus hidup proyek tersebut (Partridge 1984:1).
Tulisan ini adalah sebuah narasi dari perencanaan dan pembangunan, yang dimulai pada masa setelah perang dunia kedua (era politik, ekonomi, dan kebudayaan). Mediasi sejarah di dalam kesadaran para perencana dan aktor politik lainnya dalam runtutan pencanangan sebuah praktik definisi yang disebut rasional. Tulisan ini juga menekankan bahwa masyarakat petani dan masyarakat negara dunia ketiga diibaratkan sebagai masyarakat setengah (half-human), dengan kebudayaan yang juga setengah berkembang, melawan dunia Eropa-Amerika yang sempurna.
Pandangan terhadap peran dan pengembangan dan dilemma dari antropologis
Bagaimana antropologi pembangunan membayangkan sebuah pembangunan dan perannya di dalam pembangunan tersebut? Pandangan antropologi pembangunan terhadap pembangunan dan antropologi dapat dilihat dengan baik dari artikulasi dan resolusi dari apa yang mereka lihat sebagai permasalahan dasar mereka: terlibat atau tidak terlibat. Dilema tersebut untuk kebanyakan hal dapat diselesaikan dengan keterlibatan, akan tetapi apa yang penting untuk diperhatikan, bagaimanapun, adalah alasan di belakang setiap keputusan.
Scudder mengatakan:poinnya adalah ini: terpisah dari keberpihakan ideologi dan keadan ekonomi dari sebuah negara, proyek pembangunan skala besar tetap berjalan. Pilihannya adalah untuk berdiri di sisi lain dan mengeluh tentang efek negatif dari sebuah proyek, tetapi secara relatif memiliki sedikit efek terhadap jumlah, lokasi, desain, dan tujuan mereka atau mencoba untuk mempengaruhi- dari dalam dan apabila diperlukan dari luar- rencana, implementasi, dan manajemen mereka dengan jalan bekerjasama dengan populasi lokal di dalam keuntungan proyek dan dalam suara lingkungan (1988:373).
Posisi ini dapat diartikan bahwa keikutcampuran antropologi dapat berarti dalam kondisi menemukan keduanya, kebutuhan dan keinginan dari si miskin dan tentu saja dia dapat menilai apakah itu keuntungan atau “suara lingkungan” dan apa yang tidak. Green, salah satu figur paling menjanjikan di dalam bidang tersebut, menekankan bahwa “it is worth sacrificing strict scientific neutrality and cultural relativism if the lives of the world’s poor majority can be improved;…”
Dilema dari keterlibatan bukanlah hal yang baru. Telah disinggung sebelumnya mengenai Antropologi terapan dalam relasinya dengan kolonialisme. Firth, sebagai contoh, sementara mengetahui bahwa “ada sebuah jembatan yang harus dibangun di antara yang buas dan yang beradab yang dipaksakan kepadanya; dan antropologi dapat memainkan perannya dalam mekanisme sosial ini” (1938;194), telah diperingatkan juga bahwa “perubahan kebudayaan bukanlah proses mekanis; hal itu bergantung terhadap ide dari masyarakat yang dipengaruhi oleh hal itu, ukuran keberhasilan bukanlah sesederhana mengenalkan ‘pembangunan’,dan ‘kemajuan’ kepada ras yang terbelakang” (1938:193) sementara Bennett’s moral dilemma mengambil bentuk: Karena perkembangan telah menjadi keharusan historis dan nasional, antropolog ditarik untuk berpartisipasi walaupun mereka protes terhadap maksud dan hasilnya… untuk melakukan hal itu berarti untuk ikut memfasilitasi pengembangan dan fasilitasdapat tampak seperti mencoreng kredo antopologi mengenai determinasi-diri dari populais local. Mengenai dilemma moral. Dengan tetap berada di luar, antropolog dapat mengurangi efek dari perubahan yang cepat tetapi dapat tetap mempertahankan integrasi kultural (1988:2).
Pengarang lain menyatakan “pembangunan dalam arti mutlak kemajuan merupakan standar dari proses ini (modernization) dinilai… pengembangan kapasitas dari negara Dunia Ketiga untuk memuaskan kebutuahan rakyat mereka merupakan tantangan yang dihadapi ilmuwan terapan” (Robins 1986:10-11). Ide bahwa proses yang direncanakan dapat membawa perubahansosial terdapat di bawah pandangan ini. Proses ini disiapkan menghadapi peningkatan produksi, perubahan tingkah laku konsumsi untuk menghadapi dunia industrial, mengurangi kemiskinan dan sebagainya. Beberapa penulis mengatakan bahwa pembangunan tidaklah menguntungkan karena masyarakat dunia ketiga, aperti orang lain, secara primer termotivasi untuk mencari keuntungan, or, from Bennett:
Isu kultural adalah momentum dan hal terpenting yang dihadapi umat manusia sejak penciptaan tulisan: bagaimana kebutuhan dan keinginan manusia dalam skala besar didisiplinkan? Bagaimana kita mengatur metode defektif dari rencana ekonomi dan social untuk melaksanakan aspirasidari grtifikasi personal dan otonomi nsional dan kekuasaan? Pembangunanmerupakan agenda yang sangat penting ; beberapa versi dari itu harus selesai apabila kesetaraan global dan efek dari konsekuensi lingkungan dapat dimodifikasi. Jadi, antropolog harus terlibat dalam pembangunan dan melanjutkan untuk menemukan keduannya, pencapaian secara sosial dan lingkungan. Dengan kata lain, mendisiplinkan orang lokal, mengontrol aspirasi mereka, mendefinisi ulang prioritas dan kenyataan mereka. Hal inilah yang akan terjadi dalam beberapa pembangunan.
Ketergantungan antropolog tentang bidang budaya atau pembangunan (dan, lebih umum, tentang epistem mengenai modernitas) berlangsung dengan persepsi tertentu tentang peran mereka. Para antropolog pembangunan melihat diri mereka sendiri, secara umum, sebagai ‘pemecah budaya’, atau penerjemah yang bekerja sebagai wakil orang miskin. Apakah para ahli antropolog bertindak sebagai ‘fasilitator riset’, ‘intervensionist multi-level’ (para pekerja yang berorientasi pembangunan), atau ‘evaluator riset’, metode analisis holistik mereka menjamin pertimbangan yang layak tentang semua variabela yang relevan, pemahaman mereka dan sensitivitas budaya dari proyek-proyek. Dengan kata lain, karena disiplin dan metode mereka, para antropolog yang bekerja dalam pembangunan tidak dapat menyalahgunakan tindakan mereka sehubungan dengan orang miskin bahkan jika sesuatu, seperti sesuatu dari mereka menegaskan, mereka dapat menjadi korban dari politik nyata dari lembaga-lembaga pembangunan (Horowitz & Painter ,1986).
Guna meyakinkan, para antropolog pembangunan mengurangi berbagai jenis pengetahuan yang berguna dalam melaksanakan riset mereka. Sebenarnya, sejumlah studi kasus yang ditemukan di dalam antologi antropologi pembangunan melaporkan pada riset yang tidak dilaksanakan secara khusus di dalam situasi-situasi pembangaunan, dan beberapa dari mereka sangat mengerti. Berbicara secara lumrah, sulit menerima pada nilai permukaan pembawaan yang optimistik dan tidak problematik tentang peran dan pengalaman dari antropolog pembangunan. Beberapa masalah diakui terjadi, tetapi berkaitan dengan ketegangan dimana para antropolog harus bekerja karena sifat birokratis dari lembaga-lembaga seperti U.S. AID, UNDP, dan Bank Dunia. Keluhan umum adalah bahwa antropolog biasanya tidak terlibat dalam seluruh ‘siklus proyek’ tetapi hanya dalam permulaan dari tahap akhir. Beberapa penulis menyimpulkan bahwa antropologi harus meningkatkan peransertanya dalam lembaga-lembaga tersebut. Para antropolog, Horowitz (1989) mengatakan, sudah menjadi terlalu sederhana, segan untuk memprogandakan sentralitas mereka dalam pembangunan. Dan, menurut Hoben, “dalam analisis terakhir, lembaganisasi dan dampak para antropolog dalam karya pembangunan tergantung pada kemampuan mereka untuk menunjukan keuntungan mereka dengan berperan serta sebagai para insider yang terpercaya (dalam lembaga-lembaga seperti U.S. AID) bermain beberapa peran dalam jangkauan proses pembuatan keputusan luas” (1982: 359).
Beberapa keberatan yang dapat muncul pada karakterisasi ini. Dari dalam disiplin itu sendiri, kalimat pengakibatan yang dikenal oleh Thompson untuk antropologi terapan memiliki beberapa relevansi. Thompson menekankan bahwa budaya-budaya harus dilihat sebagai entitas yang memproduksi sendiri, dengan kapasitas-kapasitas unik mereka untuk menciptakan diri dan memecahkan masalah; jika pandangan ini diterima, para antropolog terapan dapat melakukan tidak lebih daripada membantu untuk menjelaskan pilihan-pilihan sejarah yang tersedia untuk komunitas, tidak membuat campur tangan lebih lanjut, bahkan tidak ‘mewakili orang miskin’ (Thompson 1976: 1). Hal ini tetap menunjukkan bahwa Grillo telah menyebut posisi ‘penolak’, seseorang yang melihat campur tangan antropologist sebagai elitist atau paternalistik, sebagai sesuatu yang diperlukan untuk mendorong status quo. Grillo menjelaskan tiga posisi lain yang mungkin: dari ‘monitorist’, yang hanya mendiagnosa dan menciptakan kesadaran publik tentang masalah-masalah yang terkait dengan pembangunan; dari ‘aktivis’, yang, seperti telah dibahas oleh para antropolog dalam artikel ini, secara aktif terlibat dalam karya pembangunan;’ dan dari ‘pengubah bersyarat’ (Grillo dan rekan kerjanya tampaknya menempatkan diri mereka sendiri dalam kategori ini), yang memahami bahwa para antropolog dapat memberikan kontribusi pada solusi tentang maslah-masalah Dunia Ketiga, tetapi yang juga mengenali bahwa karya mereka dalam program-program pembangun dan lembaga-lembaga disini bersifat problematik.
Studi kasus dalam artikel ini melaporkan hasil dari proyek beberapa tahun lamanya yang diarahkan untuk U.S. AID oleh seorang antropolog yang telah menyelesaikan disertasi dokxtoralnya pada hubungan antara sistem kedudukan tanah petani dan pertumbuhan penduduk di Haiti. Proyek tersebut memiliki fitur yang tidak wajar karena diarahkan dan dikonsep oleh antropolog, dan sudah mencapai beberapa hasil yang dapat ditengarai sekitar 75 juta pohon yang ditanam dalam empat tahun, beberapa pengaruh pendapatan positif untuk para petani Haiti, dan modifikasi signifikan dalam prosedur proyek U.S. AID. Proyek tersebut juga bertindak sebagai landasan untuk beberapa penelitian tentang antropologis. Studi kasus ini menunjukkan sebagian besar kekurangan. Setelah pengenalan neo-Malthusian menjadi ‘masalah’ (peningkatan geometris dalam populasiyang membawa pada pertanian untuk menjajaki satu sama lain dengan sumbu-sumbu dan machetes-machetes untuk memotong beberapa pohon alamiah yang masih berdiri” dan memaksa para petani untuk ‘secara kreatif mengubah proyek penghijauan harian menjadi proyek pencarian makan kambing di malam hari”), penulis terus menjelaskan para petani Haiti sebagai ‘pemanen kas yang berurat akar dan agresif’ (Murray 1987; 223, 225, 228). Visi ini membawanya untuk menyimpulkan- dan merancang proyeknya sesuai dengan hal itu.
Pengingkaran kesamaan kedudukan melihat Orang-orang Haiti sama dalam waktu berbeda atau “tahapan evolusi” dari determinisme biologi kita (Fabian 1983), penganut dalil aliran empirisme neo-malthusian, dan diskualifikasi ekologi adalah operasi paling ideologis terkemuka di tempat kerja dalam konsepsi ini. Orang-orang Haiti harus menyesuaikan diri pada struktur yang ada sebelumnya untuk mengambil bagian di dalamnya. Selama tidak bisa menolak prioritas pribadi, itu harus dikatakan bahwa di dalam kasus saat ini itu selaras dengan filosofi dari bantuan pribadi yang didukung oleh pemerintahan Reagan dan Bush. Keberatan seperti itu, tentu saja, tidak hanya terbatas pada studi ini tetapi dapat diangkat dalam hubungan dengan sejumlah proyek-proyek pembangunan. Mereka diperkenalkan sebagai suatu pengaruh berbagai kesulitan peneliti dalam mengusulkan disain-disain proyek yang lebih lekat untuk pengalaman populer, menghindarkan pemikiran developmentalis. Persamaan mekanisme ada di permainan bahkan di pekerjaan dari banyak LSM dan proyek-proyek pembangunan “orang desa”.
Ilmu antropologi pembangunan hampir tak bisa diacuhkan menegakkan ajaran-ajaran utama dari pembangunan. Para ahli menemukan sebuah “sistem” yang tidak lebih dari permintaan yang telah dilatih; terlatih untuk merasa atau menemukan. Prosedur untuk menghasilkan pengetahuan sekitar negara Dunia Ketiga adalah dengan ditempelkan dalam proses-proses penguasa, termasuk sebuah rezim dan ekonomi negara utuh dari produksi budaya. Penelitian jenis ini akan juga memberdayakan ahli antropologi dan aktivis untuk menyelesaikan satu jenis pekerjaan yang sadar akan kondisi-kondisi produksi sendiri. Itu akan membantu menunda proses di mana situasi-situasi lokal tak bisa diacuhkan untuk diterjemahkan ke dalam campur tangan pembangunan. Cara lainnya, sifat yang tersembunyi dari pembangunan dihapus, dan posisi barat sebagai suatu pusat budaya ekonomi diperkuat. Seperti yang dilatih/dipraktikkan hari ini, menghadapi pembangunan dengan atau tanpa keikutsertaan sejumlah antropolog tersebut sampai pada satu tindakan dari teori dan dominasi sosial.
Kesimpulan
Proyek-proyek pembangunan seringkali menghadapi kendala dari penduduk lokal karena ketidakcocokan konsep yang dipakai pihak pembangun dari luar dan pihak penduduk lokal. Oleh sebab itu, muncul pertanyaan terhadap pentingnya pembangunan, yaitu apakah pembangunan itu memang benar-benar suatu keharusan historis. Seringkali dalam proses-proses pembangunan yang didonori pihak luar atau pemerintah pusat, pengetahuan dan kemajuan yang dijadikan target dari proses pembangunan adalah pengetahuan dan kemajuan yang ada dalam konsepsi Barat. Pengetahuan yang diberikan pada suatu masyarakat berkembang yang dianggap membutuhkan pembangunan didasari oleh pengetahuan dari ilmu pengetahuan Barat. Sedangkan, kemajuan yang dimaksud oleh pihak-pihak luar yang membantu proses pembangunan masyarakat berkembang adalah kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara Barat. Escobar, dalam melihat fenomena ini, menganggap antropolog yang masuk dalam proyek-proyek pembangunan kurang sensitif. Mereka kurang menghargai realitas lokal. Bahkan, jika antropolog-antropolog pembangunan ini mengikuti konsep ‘mainstream’ yang diberlakukan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan, maka antropolog itu telah melupakan esensi dari ilmu yang digelutinya. Memaksakan pembangunan dengan konsep dan teori dari Barat itu mengurangi peluang-peluang terhadap kompetensi yang dimiliki oleh penduduk lokal, termasuk ide-ide mereka sendiri mengenai pembangunan apa yang cocok dilakukan di tempat mereka.
Dengan begitu, Escobar mempertanyakan perbedaan dari pembangunan dan kolonialisme. Apakah dengan begitu, konsep pembangunan yang dipaksakan oleh pihak-pihak luar yang terlibat dalam pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga itu dapat dikatakan sebagai bentuk neokolonialisme dan neoimperialisme?Escobar menganggap antropolog-antropolog yang terlibat dalam proyek-proyek pembangunan tidak melakukan apa-apa kecuali recycle (daur ulang) terhadap konsep-konsep modernisasi dan pembangunan dari kacamata Barat. Masa depan dari antropologi pembangunan dapat dibangun melalui berbagai cara. Pada intinya, cara-cara itu dilakukan agar tidak bercampur dengan institusi dan konsepsi pembangunan yang mainstream. Meskipun turut berkecimpung dalam ranah pembangunan, antropolog sebaiknya mempraktikkan praktik antropologis yang sensitif terhadap pembuatan ulang analisis sosial; praktik yang lebih memfokuskan pada gerakan sosial, perjuangan politis, dan rekonstitusi identitas melalui teknologi pembangunan dan perlawanan terhadapnya. Untuk mengembangkan studi antropologi pembangunan, antropolog dapat memeriksa bagaimana masyarakat di negara Dunia Ketiga secara progresif dibentuk melalui teknologi-teknologi politis dari pembangunan dan sekaligus dapat menjelaskan proyek-proyek kultural dan ekonomis yang lebih luas yang disebarkan oleh teknologi tersebut pada mereka.
Antropolog yang seringkali dianggap sebagai ahli yang memiliki kelebihan terhadap pengetahuan mengenai bagaimana menggunakan sudut pandang native seharusnya mencari cara komunikasi yang lebih self-aware dengan subjek studi mereka – bahwa antara mereka dengan subjek studi mereka itu sejajar meski berbeda; bukannya mengikuti konsep-konsep yang sangat terorientasi Barat. Escobar menawarkan beberapa pandangan yang mencakup saran terhadap masa depan antropologi pembangunan antara lain dengan memperbaharui cara antropolog mendengarkan ‘suara’ pribumi tanpa terburu-buru menganggap mereka membutuhkan pembangunan, apalagi memutuskan sendiri mengenai pembangunan seperti apa yang mereka butuhkan. Selain itu, antropolog juga sebaiknya memperbaharui cara mengatur masyarakat dan ekonomi. Dalam diri antropolog yang berkecimpung dalam pembangunan, harus disadari bahwa orang-orang di negara-negara Dunia Ketiga memiliki kesempatan yang sama baiknya dengan mereka untuk hidup dan berkembang. Usaha pembangunan bisa saja mengabaikan kebudayaan, tetapi usaha tersebut mempengaruhi kebudayaan dan dipengaruhi kebudayaan. Kebudayaan seharusnya dilihat sebagai dasar bagi pembangunan dan bukan sebagai penghalang bagi pembangunan.
Referensi:
Escobar, Arturo. “Anthropology and Development Encounter: The Making and Marketing of Development Anthropology” dalam American Ethnologist.
Kayam, Umar. 1987. “Kebudayaan dan Pembangunan” dalam Kebudayaan dan Pembangunan, Sebuah Pendekatan terhadap Antropologi Terapan di Indonesia (Nat J. Colleta dan Umar Kayam, ed.). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Marzali, Amri. 2005. Antropologi dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Kencana

oleh:Alfisyah Dianasari, Andi Fadillah, Elan A. Lazuardi, Ghaffari Ramadhian, Putri Fitria, R. Prastowo Ragawi, Rosita Budi, Susan Widyaningsih.PendahuluanKebudayaan selalu terbuka dan cair sifatnya (Kayam, 1987:309). Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis. Orang-orang yang terlibat dalam suatu kebudayaan selalu memproses unsur yang datang dari luar yang dianggap cocok dengan kebudayaan mereka sekaligus juga mempertahankan unsur-unsur lama yang dianggap masih sesuai untuk mereka. Pembangunan – ditinjau dari sudut dialektika perkembangan masyarakat – adalah metodologi sekaligus prasarana pengembangan struktur dan kebudayaan masyarakat. Oleh Umar Kayam, pembangunan dengan sendirinya akan menyeret pada perubahan sosial. Masyarakat memiliki keluwesan untuk menciptakan prasarana dan sarana baru sesuai dengan sistem nilai mereka. Meski begitu, pembangunan menghadapi dilemanya sendiri khususnya dilema yang dihadapi oleh masyarakat berkembang (agraris-tradisional) menuju proses perubahan ke masyarakat modern-maju (industri). Dilema itu antara tercerabut atau musnahnya sama sekali nilai-nilai budaya tradisi untuk diganti oleh nilai-nilai baru yang modern dan berkiblat pada nilai-nilai industri dan organisasi modern. Namun, sebenarnya pilihan itu tidak lah tidak dapat ditawar lagi. Ada media-media yang dapat menjembatani memperhitungkan sejak semula strategi pembangunan sebagai proses kebudayaan.Artikel Arturo Escobar mengkaji pembangunan pada negara-negara Dunia Ketiga dan peran antropolog dalam proses tersebut. Sejak pertengahan tahun 1970-an, antropolog mulai memasuki ranah terapan dengan ikut dalam proyek-proyek pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga. Banyak dari mereka terjun dalam ranah terapan sebagai ahli kebudayaan dalam aktivitas pembangunan. Dalam pandangan penulis, antropolog pembangunan justru memperkuat model-model pembangunan yang etnosentris dan mendominasi. Jika dulu proyek-proyek pembangunan dihadapkan pada kegagalan pembangunan dengan pendekatan yang terorientasi ekonomi, maka proyek-proyek pembangunan yang kini difokuskan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan di negara-negara berkembang lebih difokuskan pada aspek kebudayaan. Kecenderungan baru ini lah yang membuka peluang lebar pada antropolog-antropolog dalam program-program pembangunan. Mereka berargumen bahwa keberadaan mereka membantu mengedepankan faktor-faktor sosial dan budaya dalam aktivitas pembangunan. Namun, Escobar mempertanyakan apakah benar para antropolog memiliki kontribusi unik terhadap pembangunan karena kelebihan pengetahuan (kebudayaan) mereka? Hal ini disebabkan argumentasinya bahwa antropolog pembangunan terlalu mengikuti sistem pengetahuan dan kekuasaan yang terpusat pada Barat.Antropologi pembangunan dan sejarah antropologi terapanSejarah antropologi pembangunan mendapat legitimasi dan menjadi pertimbangan bagi sejarah sistem studi manusia yang beranekaragam. Menurut Stocking, antropologi pembangunan, seperti disiplin antropologi lainnya telah melalui proses pertimbangan sejarah melalui aspek pendekatan keberagaman manusia yang tergabung dalam studi sistematis. Jika pandangan sejarah antropologi benar, perhatian pada persamaan proses evolusi akan kurang berkembang pada wacana perkembangan setelah Perang Dunia ke II. Tidak hanya kolonialis, tetapi juga perkembangannya. Dan mungkin meskipun begitu tidak berbahaya pada sisi eksplorasi alam yang berlebihan. Pada waktu yang sama wacana pembangunan mencoba mengisi kembali koloni-koloni sebelumnya, yang sekarang disebut sebagai Negara Dunia ke-3. Antropolog yang terlibat dalam pembangunan telah menganggap pembangunan sebagai suatu prosesyang alami.Akar antropologi pembangunan berhubungan dengan sejarah yang lebih luas dari antropologi terapan. Tentu saja akar pembangunan antropologi dapat ditelusuri dari perdebatan mengenai lingkup dan sifat antropologi terapan oleh Malinowski dan bahkan sebelumnya. Ketika menerima penghargaan Malinowski, Raymond Firth menempatkan awal antropologi terapan bahkan sebelum kolonialisme terbuka mulai lahir. Malinowski dilihat sebagai orang hebat yang menjadi pelindung dari antropologi terapan, dan artikelnya “Practical Anthropology” sebagai artikel penting dalam kajian antropologi terapan. Antropologi ini akan menjadi sangat penting untuk praktik orang di dalam jajahan-jajahan. Seperti kebanyakan antropolog pada periodenya, Malinowski, enggan untuk dilibatkan dengan administrasi kolonial. Menurut Evans-Pritchard, tidak ada yang salah dengan mengaplikasikan pengetahuan antropologis pada urusan-urusan yang praktis, tetapi jika diterapkan antropolog harus menyadari bahwa ia tidak lagi bertindak di dalam bidang keilmuan antropologi, tetapi dalam bidang non-ilmiah dari administrasi. Selagi antropologi ditandai oleh obyektifitas dan eksklusi dari nilai moral yang secara metodologis irelevan , administrasi memerlukan bahwa nilai moral yang dibuat explisit, karena standar etis dituntut. Keberatan intelektual seperti keraguan politis mengenai keberadaan antropolog dalam sesuatu yang memiliki nilai kultural yang berbeda dengan dirinya dan keengganan mereka yang bergerak dalam bidang administratif memberikan pengaruh antropologi terapan dalam konteks kolonial.Pembangunan yang Terorientasi pada Kemiskinan dan Kemunculan Antropologi Pembangunan BaruDalam artikel ini dijelaskan bahwa antropologi juga berperan dalam perubahan sosial dan ekonomi khususnya dalam pembangunan. Fase-fase tersebut dapat dilihat dari awal mulanya pada pertengahan tahun 1970 di mana baru dimulai pembangunan antropologi. Dilanjutkan pada abad ketidakpuasan pada tahun 1980-1985, pencarian alternatif kemudian ditemukan pada periode tahun 1985-1990 lalu pada akhir tahun 80an dimulai oleh pemikiran-pemikiran yang realistis dan pragmatis dari para pakar pembangunan.Salah satu contoh yaitu terdapat lebih dari 100 juta keluarga tinggal dlahan yang terlalu kecil dan tidak bisa mengembangkan sektor pertanian. Lalu diadakannya program yang berorientasi pada kemiskinan di daerah tertinggal.Dilakukannya proyek skala besar untuk pertumbuhan ekonomi. Proyek tersebut mendorong proyek selanjutnya yang menitikberatkan pada pemabngunan masyarakat terpencil. Maka lahirlah politik agraria. Akan tetapi, kekurangannya adalah hanya berkutat pada produksi dan pasar dan hanya terpaku pada pengembangan materi dan eksploitasi alam.Pandangan ini kemudian berubah, menjadi meningkatkan kepedulian terhadap kaum miskin, dengan melihat lebih dekat apa saja yang dibutuhkan oleh mereka. Petani dilihat sebagai individu bukan sebagai bagian dari sistem. Hasil dari perubahan diatas adalah peningkatan yang signifikan dibidang lainnya. Jadi singkat cerita sejarahperkembangan antropologi yang dibangun oleh pakar antropologi merefleksikan usaha kaum miskin tadi untuk membangun ruang dan identitas mereka sendiri. Hal yang mereka lihat di masa lalu adalah rangkaian perubahan positif dalam dogma pembangunan yang memungkinkan untuk bertindak mewakili kaum miskin.Profesionalisasi dan institusionalisasi antropologi pembangunanArtikel ini kurang lebih menceritakan tentang profesionalisme dan institusionalisme dari subdisiplin antropologi terapan, khususnya antropologi pembangunan di dalam kerangka perubahan. Pada tahun 1982, Hoben menyatakan dalam tulisannya bahwa tugas antropolog dalam pembangunan tidak selalu untuk menciptakan sebuah disiplin akademik. Artinya antropologi pembangunan pada lingkup kerjanya tidak dicirikan dengan sebuah koherensi kerangka teori, konsep, dan metodologi. Green menanggapi pernyataan Hoben bahwa antropologi pembangunan mungkin bukan sebuah subdisiplin akademik, namun memang karena cakupan antropologi terapan di dalam konteks pembangunan adalah mengambil intisari antropologi serta berbagai subdisiplin lainnya. Sebagai suatu ilmu akademis, antropologi budaya terutama mementingkan pencatatan dan analisa kebudayaan bangsa-bangsa lain. Sebaliknya pada antropologi terapan, tujuan kerja lapangan adalah untuk memperkenalkan suatu perubahan tertentu pada cara hidup suatu masyarakat tertentu. Oleh karena itu, dalam antropologi pembangunan, antropologi yang diterapkan memprioritaskan pembangunan sebagai sebuah keseluruhan. Artinya pembangunan diharapkan mampu untuk mengaplikasikan semua bidang ilmu (kesehatan, pertanian, ekologi, pendidikan, populasi, dll) lalu merelasikannya dengan variabel-variabel lain (kebudayaan, teknologi, modal, dan sumber daya alam). Dalam hal ini, antropologi disamakan kedudukannya dengan kedudukan ilmu lainnya. Penggabungan antropologi pembangunan akan bergantung tidak hanya pada situasi saat itu namun juga dipengaruhi oleh profesionalisme sebagai sebuah kerangka ilmu pengetahuan dan institusionalisasi sebagai sebuah praktik kerja. Profesionalisasi dan institusionalisasi, keduanya sama-sama problematis. Misalnya organisasi profesional yang mendukung praktik kerja lapangan. Pada tahun 1977, The British Royal Anthropological Institute menyusun sebuah Komite Antropologi Pembangunan untuk mempromosikan keterlibatan antropologi dalam pembangunan negara-negara dunia ketiga (Grillo 1985: 2). Di Amerika Serikat, a Society for Applied Anthropology telah dibangun pada tahun 1941 sebagai sebuah organisasi dari para praktisi aplikasi, termasuk pekerjaan dalam pembangunan. Institusi ini telah memberikan kontribusi besar dalam menempatkan antropologi pembangunan dalam agenda kerja profesional dari kedua negara. Pada tahun 1976, tiga orang antropolog ternama membuat institut nonprofit untuk Antropologi Pembangunan di Binghamton, New York. Sejak itupun, institusi ini terlibat dalam proyek di lebih dari 30 negara yang meliputi Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Pendanaan terpenting datang dari US AID, selain itu Bank Dunia, FAO, UNDP, serta organisasi dunia lainnya turut berkontribusi. Kemudian masih banyak organisasi independen, yang bukan organisasi antropologi pembangunan, yang ikut berkembang dengan ide serupa dan turut membantu pendanaan dalam proyek besar ini.The American Anthropological Association’s Training Manual in Development Athropology merumuskan sebuah definisi. Antropologi pembangunan adalah gabungan riset ilmiah dan penerapan aplikasi dalam siklus proyek pembangunan, yang objektif untuk meningkatkan keuntungan dan mengurangi konsekuensi negatif bagi keterlibatan komunitas masyarakat di dalam serta efek dari usaha pembangunan. Antropologi pembangunan terlibat dalam proyek pembangunan menurut berbagai cara yang variatif, peran khusus dideterminasikan dalam bagian dengan partikular dalam perjalanan siklus hidup proyek tersebut (Partridge 1984:1).Tulisan ini adalah sebuah narasi dari perencanaan dan pembangunan, yang dimulai pada masa setelah perang dunia kedua (era politik, ekonomi, dan kebudayaan). Mediasi sejarah di dalam kesadaran para perencana dan aktor politik lainnya dalam runtutan pencanangan sebuah praktik definisi yang disebut rasional. Tulisan ini juga menekankan bahwa masyarakat petani dan masyarakat negara dunia ketiga diibaratkan sebagai masyarakat setengah (half-human), dengan kebudayaan yang juga setengah berkembang, melawan dunia Eropa-Amerika yang sempurna.Pandangan terhadap peran dan pengembangan dan dilemma dari antropologisBagaimana antropologi pembangunan membayangkan sebuah pembangunan dan perannya di dalam pembangunan tersebut? Pandangan antropologi pembangunan terhadap pembangunan dan antropologi dapat dilihat dengan baik dari artikulasi dan resolusi dari apa yang mereka lihat sebagai permasalahan dasar mereka: terlibat atau tidak terlibat. Dilema tersebut untuk kebanyakan hal dapat diselesaikan dengan keterlibatan, akan tetapi apa yang penting untuk diperhatikan, bagaimanapun, adalah alasan di belakang setiap keputusan.Scudder mengatakan:poinnya adalah ini: terpisah dari keberpihakan ideologi dan keadan ekonomi dari sebuah negara, proyek pembangunan skala besar tetap berjalan. Pilihannya adalah untuk berdiri di sisi lain dan mengeluh tentang efek negatif dari sebuah proyek, tetapi secara relatif memiliki sedikit efek terhadap jumlah, lokasi, desain, dan tujuan mereka atau mencoba untuk mempengaruhi- dari dalam dan apabila diperlukan dari luar- rencana, implementasi, dan manajemen mereka dengan jalan bekerjasama dengan populasi lokal di dalam keuntungan proyek dan dalam suara lingkungan (1988:373).Posisi ini dapat diartikan bahwa keikutcampuran antropologi dapat berarti dalam kondisi menemukan keduanya, kebutuhan dan keinginan dari si miskin dan tentu saja dia dapat menilai apakah itu keuntungan atau “suara lingkungan” dan apa yang tidak. Green, salah satu figur paling menjanjikan di dalam bidang tersebut, menekankan bahwa “it is worth sacrificing strict scientific neutrality and cultural relativism if the lives of the world’s poor majority can be improved;…”Dilema dari keterlibatan bukanlah hal yang baru. Telah disinggung sebelumnya mengenai Antropologi terapan dalam relasinya dengan kolonialisme. Firth, sebagai contoh, sementara mengetahui bahwa “ada sebuah jembatan yang harus dibangun di antara yang buas dan yang beradab yang dipaksakan kepadanya; dan antropologi dapat memainkan perannya dalam mekanisme sosial ini” (1938;194), telah diperingatkan juga bahwa “perubahan kebudayaan bukanlah proses mekanis; hal itu bergantung terhadap ide dari masyarakat yang dipengaruhi oleh hal itu, ukuran keberhasilan bukanlah sesederhana mengenalkan ‘pembangunan’,dan ‘kemajuan’ kepada ras yang terbelakang” (1938:193) sementara Bennett’s moral dilemma mengambil bentuk: Karena perkembangan telah menjadi keharusan historis dan nasional, antropolog ditarik untuk berpartisipasi walaupun mereka protes terhadap maksud dan hasilnya… untuk melakukan hal itu berarti untuk ikut memfasilitasi pengembangan dan fasilitasdapat tampak seperti mencoreng kredo antopologi mengenai determinasi-diri dari populais local. Mengenai dilemma moral. Dengan tetap berada di luar, antropolog dapat mengurangi efek dari perubahan yang cepat tetapi dapat tetap mempertahankan integrasi kultural (1988:2).Pengarang lain menyatakan “pembangunan dalam arti mutlak kemajuan merupakan standar dari proses ini (modernization) dinilai… pengembangan kapasitas dari negara Dunia Ketiga untuk memuaskan kebutuahan rakyat mereka merupakan tantangan yang dihadapi ilmuwan terapan” (Robins 1986:10-11). Ide bahwa proses yang direncanakan dapat membawa perubahansosial terdapat di bawah pandangan ini. Proses ini disiapkan menghadapi peningkatan produksi, perubahan tingkah laku konsumsi untuk menghadapi dunia industrial, mengurangi kemiskinan dan sebagainya. Beberapa penulis mengatakan bahwa pembangunan tidaklah menguntungkan karena masyarakat dunia ketiga, aperti orang lain, secara primer termotivasi untuk mencari keuntungan, or, from Bennett:Isu kultural adalah momentum dan hal terpenting yang dihadapi umat manusia sejak penciptaan tulisan: bagaimana kebutuhan dan keinginan manusia dalam skala besar didisiplinkan? Bagaimana kita mengatur metode defektif dari rencana ekonomi dan social untuk melaksanakan aspirasidari grtifikasi personal dan otonomi nsional dan kekuasaan? Pembangunanmerupakan agenda yang sangat penting ; beberapa versi dari itu harus selesai apabila kesetaraan global dan efek dari konsekuensi lingkungan dapat dimodifikasi. Jadi, antropolog harus terlibat dalam pembangunan dan melanjutkan untuk menemukan keduannya, pencapaian secara sosial dan lingkungan. Dengan kata lain, mendisiplinkan orang lokal, mengontrol aspirasi mereka, mendefinisi ulang prioritas dan kenyataan mereka. Hal inilah yang akan terjadi dalam beberapa pembangunan.Ketergantungan antropolog tentang bidang budaya atau pembangunan (dan, lebih umum, tentang epistem mengenai modernitas) berlangsung dengan persepsi tertentu tentang peran mereka. Para antropolog pembangunan melihat diri mereka sendiri, secara umum, sebagai ‘pemecah budaya’, atau penerjemah yang bekerja sebagai wakil orang miskin. Apakah para ahli antropolog bertindak sebagai ‘fasilitator riset’, ‘intervensionist multi-level’ (para pekerja yang berorientasi pembangunan), atau ‘evaluator riset’, metode analisis holistik mereka menjamin pertimbangan yang layak tentang semua variabela yang relevan, pemahaman mereka dan sensitivitas budaya dari proyek-proyek. Dengan kata lain, karena disiplin dan metode mereka, para antropolog yang bekerja dalam pembangunan tidak dapat menyalahgunakan tindakan mereka sehubungan dengan orang miskin bahkan jika sesuatu, seperti sesuatu dari mereka menegaskan, mereka dapat menjadi korban dari politik nyata dari lembaga-lembaga pembangunan (Horowitz & Painter ,1986). Guna meyakinkan, para antropolog pembangunan mengurangi berbagai jenis pengetahuan yang berguna dalam melaksanakan riset mereka. Sebenarnya, sejumlah studi kasus yang ditemukan di dalam antologi antropologi pembangunan melaporkan pada riset yang tidak dilaksanakan secara khusus di dalam situasi-situasi pembangaunan, dan beberapa dari mereka sangat mengerti. Berbicara secara lumrah, sulit menerima pada nilai permukaan pembawaan yang optimistik dan tidak problematik tentang peran dan pengalaman dari antropolog pembangunan. Beberapa masalah diakui terjadi, tetapi berkaitan dengan ketegangan dimana para antropolog harus bekerja karena sifat birokratis dari lembaga-lembaga seperti U.S. AID, UNDP, dan Bank Dunia. Keluhan umum adalah bahwa antropolog biasanya tidak terlibat dalam seluruh ‘siklus proyek’ tetapi hanya dalam permulaan dari tahap akhir. Beberapa penulis menyimpulkan bahwa antropologi harus meningkatkan peransertanya dalam lembaga-lembaga tersebut. Para antropolog, Horowitz (1989) mengatakan, sudah menjadi terlalu sederhana, segan untuk memprogandakan sentralitas mereka dalam pembangunan. Dan, menurut Hoben, “dalam analisis terakhir, lembaganisasi dan dampak para antropolog dalam karya pembangunan tergantung pada kemampuan mereka untuk menunjukan keuntungan mereka dengan berperan serta sebagai para insider yang terpercaya (dalam lembaga-lembaga seperti U.S. AID) bermain beberapa peran dalam jangkauan proses pembuatan keputusan luas” (1982: 359).Beberapa keberatan yang dapat muncul pada karakterisasi ini. Dari dalam disiplin itu sendiri, kalimat pengakibatan yang dikenal oleh Thompson untuk antropologi terapan memiliki beberapa relevansi. Thompson menekankan bahwa budaya-budaya harus dilihat sebagai entitas yang memproduksi sendiri, dengan kapasitas-kapasitas unik mereka untuk menciptakan diri dan memecahkan masalah; jika pandangan ini diterima, para antropolog terapan dapat melakukan tidak lebih daripada membantu untuk menjelaskan pilihan-pilihan sejarah yang tersedia untuk komunitas, tidak membuat campur tangan lebih lanjut, bahkan tidak ‘mewakili orang miskin’ (Thompson 1976: 1). Hal ini tetap menunjukkan bahwa Grillo telah menyebut posisi ‘penolak’, seseorang yang melihat campur tangan antropologist sebagai elitist atau paternalistik, sebagai sesuatu yang diperlukan untuk mendorong status quo. Grillo menjelaskan tiga posisi lain yang mungkin: dari ‘monitorist’, yang hanya mendiagnosa dan menciptakan kesadaran publik tentang masalah-masalah yang terkait dengan pembangunan; dari ‘aktivis’, yang, seperti telah dibahas oleh para antropolog dalam artikel ini, secara aktif terlibat dalam karya pembangunan;’ dan dari ‘pengubah bersyarat’ (Grillo dan rekan kerjanya tampaknya menempatkan diri mereka sendiri dalam kategori ini), yang memahami bahwa para antropolog dapat memberikan kontribusi pada solusi tentang maslah-masalah Dunia Ketiga, tetapi yang juga mengenali bahwa karya mereka dalam program-program pembangun dan lembaga-lembaga disini bersifat problematik.Studi kasus dalam artikel ini melaporkan hasil dari proyek beberapa tahun lamanya yang diarahkan untuk U.S. AID oleh seorang antropolog yang telah menyelesaikan disertasi dokxtoralnya pada hubungan antara sistem kedudukan tanah petani dan pertumbuhan penduduk di Haiti. Proyek tersebut memiliki fitur yang tidak wajar karena diarahkan dan dikonsep oleh antropolog, dan sudah mencapai beberapa hasil yang dapat ditengarai sekitar 75 juta pohon yang ditanam dalam empat tahun, beberapa pengaruh pendapatan positif untuk para petani Haiti, dan modifikasi signifikan dalam prosedur proyek U.S. AID. Proyek tersebut juga bertindak sebagai landasan untuk beberapa penelitian tentang antropologis. Studi kasus ini menunjukkan sebagian besar kekurangan. Setelah pengenalan neo-Malthusian menjadi ‘masalah’ (peningkatan geometris dalam populasiyang membawa pada pertanian untuk menjajaki satu sama lain dengan sumbu-sumbu dan machetes-machetes untuk memotong beberapa pohon alamiah yang masih berdiri” dan memaksa para petani untuk ‘secara kreatif mengubah proyek penghijauan harian menjadi proyek pencarian makan kambing di malam hari”), penulis terus menjelaskan para petani Haiti sebagai ‘pemanen kas yang berurat akar dan agresif’ (Murray 1987; 223, 225, 228). Visi ini membawanya untuk menyimpulkan- dan merancang proyeknya sesuai dengan hal itu. Pengingkaran kesamaan kedudukan melihat Orang-orang Haiti sama dalam waktu berbeda atau “tahapan evolusi” dari determinisme biologi kita (Fabian 1983), penganut dalil aliran empirisme neo-malthusian, dan diskualifikasi ekologi adalah operasi paling ideologis terkemuka di tempat kerja dalam konsepsi ini. Orang-orang Haiti harus menyesuaikan diri pada struktur yang ada sebelumnya untuk mengambil bagian di dalamnya. Selama tidak bisa menolak prioritas pribadi, itu harus dikatakan bahwa di dalam kasus saat ini itu selaras dengan filosofi dari bantuan pribadi yang didukung oleh pemerintahan Reagan dan Bush. Keberatan seperti itu, tentu saja, tidak hanya terbatas pada studi ini tetapi dapat diangkat dalam hubungan dengan sejumlah proyek-proyek pembangunan. Mereka diperkenalkan sebagai suatu pengaruh berbagai kesulitan peneliti dalam mengusulkan disain-disain proyek yang lebih lekat untuk pengalaman populer, menghindarkan pemikiran developmentalis. Persamaan mekanisme ada di permainan bahkan di pekerjaan dari banyak LSM dan proyek-proyek pembangunan “orang desa”. Ilmu antropologi pembangunan hampir tak bisa diacuhkan menegakkan ajaran-ajaran utama dari pembangunan. Para ahli menemukan sebuah “sistem” yang tidak lebih dari permintaan yang telah dilatih; terlatih untuk merasa atau menemukan. Prosedur untuk menghasilkan pengetahuan sekitar negara Dunia Ketiga adalah dengan ditempelkan dalam proses-proses penguasa, termasuk sebuah rezim dan ekonomi negara utuh dari produksi budaya. Penelitian jenis ini akan juga memberdayakan ahli antropologi dan aktivis untuk menyelesaikan satu jenis pekerjaan yang sadar akan kondisi-kondisi produksi sendiri. Itu akan membantu menunda proses di mana situasi-situasi lokal tak bisa diacuhkan untuk diterjemahkan ke dalam campur tangan pembangunan. Cara lainnya, sifat yang tersembunyi dari pembangunan dihapus, dan posisi barat sebagai suatu pusat budaya ekonomi diperkuat. Seperti yang dilatih/dipraktikkan hari ini, menghadapi pembangunan dengan atau tanpa keikutsertaan sejumlah antropolog tersebut sampai pada satu tindakan dari teori dan dominasi sosial. Kesimpulan Proyek-proyek pembangunan seringkali menghadapi kendala dari penduduk lokal karena ketidakcocokan konsep yang dipakai pihak pembangun dari luar dan pihak penduduk lokal. Oleh sebab itu, muncul pertanyaan terhadap pentingnya pembangunan, yaitu apakah pembangunan itu memang benar-benar suatu keharusan historis. Seringkali dalam proses-proses pembangunan yang didonori pihak luar atau pemerintah pusat, pengetahuan dan kemajuan yang dijadikan target dari proses pembangunan adalah pengetahuan dan kemajuan yang ada dalam konsepsi Barat. Pengetahuan yang diberikan pada suatu masyarakat berkembang yang dianggap membutuhkan pembangunan didasari oleh pengetahuan dari ilmu pengetahuan Barat. Sedangkan, kemajuan yang dimaksud oleh pihak-pihak luar yang membantu proses pembangunan masyarakat berkembang adalah kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara Barat. Escobar, dalam melihat fenomena ini, menganggap antropolog yang masuk dalam proyek-proyek pembangunan kurang sensitif. Mereka kurang menghargai realitas lokal. Bahkan, jika antropolog-antropolog pembangunan ini mengikuti konsep ‘mainstream’ yang diberlakukan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan, maka antropolog itu telah melupakan esensi dari ilmu yang digelutinya. Memaksakan pembangunan dengan konsep dan teori dari Barat itu mengurangi peluang-peluang terhadap kompetensi yang dimiliki oleh penduduk lokal, termasuk ide-ide mereka sendiri mengenai pembangunan apa yang cocok dilakukan di tempat mereka.Dengan begitu, Escobar mempertanyakan perbedaan dari pembangunan dan kolonialisme. Apakah dengan begitu, konsep pembangunan yang dipaksakan oleh pihak-pihak luar yang terlibat dalam pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga itu dapat dikatakan sebagai bentuk neokolonialisme dan neoimperialisme?Escobar menganggap antropolog-antropolog yang terlibat dalam proyek-proyek pembangunan tidak melakukan apa-apa kecuali recycle (daur ulang) terhadap konsep-konsep modernisasi dan pembangunan dari kacamata Barat. Masa depan dari antropologi pembangunan dapat dibangun melalui berbagai cara. Pada intinya, cara-cara itu dilakukan agar tidak bercampur dengan institusi dan konsepsi pembangunan yang mainstream. Meskipun turut berkecimpung dalam ranah pembangunan, antropolog sebaiknya mempraktikkan praktik antropologis yang sensitif terhadap pembuatan ulang analisis sosial; praktik yang lebih memfokuskan pada gerakan sosial, perjuangan politis, dan rekonstitusi identitas melalui teknologi pembangunan dan perlawanan terhadapnya. Untuk mengembangkan studi antropologi pembangunan, antropolog dapat memeriksa bagaimana masyarakat di negara Dunia Ketiga secara progresif dibentuk melalui teknologi-teknologi politis dari pembangunan dan sekaligus dapat menjelaskan proyek-proyek kultural dan ekonomis yang lebih luas yang disebarkan oleh teknologi tersebut pada mereka.Antropolog yang seringkali dianggap sebagai ahli yang memiliki kelebihan terhadap pengetahuan mengenai bagaimana menggunakan sudut pandang native seharusnya mencari cara komunikasi yang lebih self-aware dengan subjek studi mereka – bahwa antara mereka dengan subjek studi mereka itu sejajar meski berbeda; bukannya mengikuti konsep-konsep yang sangat terorientasi Barat. Escobar menawarkan beberapa pandangan yang mencakup saran terhadap masa depan antropologi pembangunan antara lain dengan memperbaharui cara antropolog mendengarkan ‘suara’ pribumi tanpa terburu-buru menganggap mereka membutuhkan pembangunan, apalagi memutuskan sendiri mengenai pembangunan seperti apa yang mereka butuhkan. Selain itu, antropolog juga sebaiknya memperbaharui cara mengatur masyarakat dan ekonomi. Dalam diri antropolog yang berkecimpung dalam pembangunan, harus disadari bahwa orang-orang di negara-negara Dunia Ketiga memiliki kesempatan yang sama baiknya dengan mereka untuk hidup dan berkembang. Usaha pembangunan bisa saja mengabaikan kebudayaan, tetapi usaha tersebut mempengaruhi kebudayaan dan dipengaruhi kebudayaan. Kebudayaan seharusnya dilihat sebagai dasar bagi pembangunan dan bukan sebagai penghalang bagi pembangunan.Referensi:Escobar, Arturo. “Anthropology and Development Encounter: The Making and Marketing of Development Anthropology” dalam American Ethnologist.Kayam, Umar. 1987. “Kebudayaan dan Pembangunan” dalam Kebudayaan dan Pembangunan, Sebuah Pendekatan terhadap Antropologi Terapan di Indonesia (Nat J. Colleta dan Umar Kayam, ed.). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Marzali, Amri. 2005. Antropologi dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Kencana

Explore posts in the same categories: Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: