Analisis SWOT Asuransi Syariah


Oleh: Permata Wulandari
(Vibiznews – Insurance) – Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar sekaligus merupakan negara berpenduduk muslim yang terbesar ditambah lagi dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk semakin mengekspresikan identitas kemusliman mereka merupakan pasar yang empuk dan berpotensi besar. Data menyatakan dalam beberapa kurun waktu terakhir penjualan produk-produk islami (busana muslim dan muslimah, makanan dan minuman yang berlabelkan ‘halal’, perjalanan haji dan umroh, dll.) mengalami kenaikan yang signifikan.

Di lain sisi kebutuhan kenyamanan bermuamalah dalam transaksi keuangan pun meningkat pesat, sehingga diperlukan lebih banyak lembaga-lembaga keuangan ataupun lembaga pembiayaan yang bernuansa syariah. Agus Haryadi dalam buku asuransi dalam perspektif Islam menyebutkan ada beberapa aspek yang dapat menjadi peluang, ancaman, (tantangan), kekuatan, dan kelemahan dalam memperluas jaringan bisnis asuransi syariah di Indonesia.

• Kekuatan (Strength)

Tenaga kerja profesioanl/sumber daya manusia inti yang kompeten dan memiliki integritas moral dan ghirah Islam, yang berada dalam sebuah teamwork yang solid, pemegang saham yang memiliki visi dan misi syariah yang jelas, kelompok pmegang saham mampu mengusahakan ‘captive market’ awal, kelompok pemegang saham diharapkan memiliki potensi network yang bisa diintegrasikan dengan sistem yang dimiliki “professional teamwork”, kelompok pemegang saham diharapkan memiliki infrastruktur teknologi dan potensi tenaga ahli (misalnya: fund manager), pada aspek legal, sifat perjanjian yang memenuhi syarat syariah mampu memberi rasa aman kepada peserta asuransi syariah, selain unsur duniawi semata, adanya unsur dakwah dan produk asuransi bersifat transparan (berkeadilan).

Sebagai fakta daro kekuatan asuransi syariah adalah jika pada tahun 2000 jumlah asuransi yang berbisnis dengan berdasarkan prinsip syariah adalah sebanyak 4 buah . Sebagai perbandingan adalah pada tanggal 21 Agustus 2007 asuransi syariah yang sudah mendapatkan rekomendasi dari DSN MUI sebanyak 37 asuransi syariah, 3 reasuransi syariah dan 5 broker asuransi dan reasuransi yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah.

• Kelemahan (Weakness)

SDM pendukung (lapisan kedua, dst.) belum banyak memahami bisnis syariah, dalam hal pemasaran, alternatif distribusi relatif masih terbatas dibanding pola konvensional, kompleksitas dalam administrasi syariah (misalnya: perhitungan bagi hasil dan tingkat hasil investasi) memerlukan dukungan sistem yang andal, permodalan yang terbatas akan mempengaruhi:

a. Sistem/teknologi pendukung manajemen.
b. Strategi bisnis
c. Ketersediaan infrastruktiur (internal, external, customer support, etc. )

Apabila pemegang saham kurang mengharagai pentingnya investasi di bidang IT sebagai “modelling tools” dan “administration tools” , pengalaman langsung/penerapan model terhadap bisnis riil belum cukup (baru pada tahap teoritis), lemahnya ”public relations” untuk mengkomunikasikan keunggulan LKS (ideloanya beralih dari “short term/hit and run marketing” menjadi “long term marketing/customer relationship” ).

• Peluang (Oportunity)

Peluang dari bisnis asuransi syariah di Indonesia adalah keunggulan konsep asuransi syariah dapat memenuhi peningkatan tuntutan fairness/rasa keadilan dari masyarakat, jumlah penduduk beragama Islam di Indonesia lebih dari 180 juta orang, meningkatnya kesadaran bermuamalah sesuai syariah, tumbuh subur khususnya pada masyarakat golongan menengah, meningkatnya kebutuhan jasa suransi karena perkembangan ekonomi umat, tumbuhnya lembaga keuangan syariah (LKS) lainnya seperti bank dan reksadana, kompetitor dalam bisnis asuransi syariah ini masih sedikit, berlakunya undang-undang ototnomi daerah yang kan memacu perkembangan ekonomi daerah, kebutuhan meningkatkan pendidikan anak, meningkatnya risiko kehidupan, meningkatnya bea-bea kesehatan (harga obat,dll), menurunnya rasa tolong menolong di masyarakat (tidak membudaya lagi), globalisasi (teknologi internet sebagai penunjang bisnis), adanya UU Dana Pensiun, dan “Employee Benefits” sebagai bagian dari paket perusahaan dalam rekrutmen karyawan.

• Tantangan dan hambatan (Threath)

Globalisasi, masuknya auransi luar negeri yang memiliki kapital besar dan teknologi yang lebih tinggi sehingga membuat premi asuransi yang lebih murah, asuransi konvenmsional danm lembaga keuangan lainnya yang lebih efisien, langkanya ketersediaan SDM yang “qualified” dan memiliki semangat syariah, citra lembaga keuangan syariah belum mapan di mata masyarakat, padahal ekspektasi masyarakat terhadap LKS sangat tinggi, sarana investasi syraiah yang ada sekarang belum mendukung secara optimal untuk perkembangan asuransi syariah, belum ada UU dan PP yang secara khusus mengatur asuransi syariah, budaya suap dan kolusi dalam asuransi kumpulan (group insurance) masih kental, dan alokasi masyarakat untuk asuransi masih sangat terbatas, hal ini tampaknya berkaitan dengan masalah sosialisasi asuransi dan pengalaman berasuransi.

Demikianlah gambaran mengenai analisis SWOT bisnis asuransi syariah di Indonesia.

Juvenile Insurance
Jumat, 12 Oktober 2007 13:20 WIB
Oleh: Permata Wulandari
(vibiznews – Insurance)- Pada mulanya, orang mengenal asuransi jiwa sebagai produk yang dibeli dan sekaligus menjadi tertanggung adalah orang tua dengan penerima manfaat (beneficiary) adalah anaknya. Selanjutnya, sesuai dengan perkembangan zaman produk asuransi dapat dibeli oleh siapa saja, tertanggung siapa saja, dengan beneficiary tentunya adalah yang memiliki hubungan dengan pembeli dan tertanggung tadi.
Nah, salah satu produk yang banyak dijumpai tersebut adalah produk asuransi dengan tertanggung dan beneficiary adalah ‘anak’. Dalam arti kata yang dikatakan sebagai seorang ‘anak’ disini adalah ‘orang yang belum cukup dewasa dan belum memiliki kemampuan secara finansial untuk membeli polis asuransi tersebut atau baiknya kita kenal sebagai ‘Juvenile Insurance’.

Secara teori, dalam buku “Underwriting Life & Health Insurance” dikatakan bahwa, “ Juvenile Insurance Policy is a life insurance policy purchased by an adult to cover the life of a child “ (polis asuransi jiwa yang dibeli oleh orang dewasa, dimana tertanggungnya adalah seorang anak). Perlu diketahui bahwa Indonesia sangat potensial untuk menjual produk jenis ini. Terlihat dari komposisi penduduk Indonesia, dimana populasi penduduk Indonesia untuk usia dibawah 15 tahun sebesar 32,9% ( dari 203,4 juta ).

Sebagai produk yang relatif baru, Juvenile Insurance sulit dipahami, bahkan sebetulnya relatif lebih sulit dalam proses underwriting-nya, oleh karena kematian dari seorang anak tidak akan menyebabkan kerugian finansial terhadap orang tuanya. Oleh karena itu biasanya, seperti halnya tersebut di atas, motivasi pembelian polis ini sendiri kadang-kadang sebagai antisipasi kebutuhan di masa mendatang daripada manfaat kematian atau bagi orang tua yang juga mengasuransikan dirinya (sebagai tertanggung), pembelian polis Juvenile Insurance dimaksudkan untuk mengurangi total biaya penutupan. Sedangkan kegunaan langsung bagi anak ( tertanggung ) adalah mengumpulkan uang untuk tujuan pendidikan yang diperoleh dari cash value ( ini terdapat pada polis-polis asuransi dwiguna dengan maturity sampai dengan usia anak 16 sampai dengan 18 tahun ).

Pada saat ini, polis yang umum dijual dalam produk Juvenile Insurance adalah polis seumur hidup dengan pembayaran manfaat terbatas ( limited payment whole life policy ) dan polis asuransi dwiguna ( endowment insurance policy ) dengan maturity pada usia 16 sampai dengan 18. Polis ini dibuat dengan maksud adanya pembatasan jumlah uang pertanggungan yang relatif kecil. Namun pada kenyataannya tidak ada larangan membatasi jumlah uang pertanggungan atau memungkinkan ditutup dalam jumlah uang pertanggungan yang relatif besar. Umur, jenis kelamin, status keuangan pemohon asuransi, riwayat kesehatan pemegang polis, dan riwayat kesehatan beneficiary merupakan faktor underwriting yang perlu diperhatikan secara seksama.

Berikut ini adalah ketentuan underwriting yang biasa dilakukan pada produk Juvenile Insurance :
1. Pada uang pertanggungan tertentu yang relatif kecil biasanya dilakukan dengan tanpa pemeriksaan kesehatan ( non medical ), atau dengan mengisi form Surat Permohonan Asuransi Jiwa yang diantaranya berisi tentang riwayat penyakit keluarga dan riwayat penyakit anak ( tertanggung ) sebelum masuk asuransi.
2. Pada uang pertanggungan yang lebih besar lagi dapat dilengkapi dengan Surat Pernyataan Kesehatan dari dokter ( sebaiknya dokter anak ).
3. Selanjutnya pada uang pertanggungan yang semakin besar dapat dilakukan Laporan Pemeriksaan Kesehatan dan Analisa Darah dan Air Seni Rutin.
4. Financial Underwriting dilakukan untuk menilai kemampuan keuangan pemegang polis, yang juga dihubungkan dengan asuransi terhadap dirinya sendiri dan asuransi terhadap anak lainnya.
5. Sebagai catatan dan bahan pertimbangan, penyakit yang banyak diderita anak di dunia, menurut catatan WHO, adalah penyakit infeksi, gangguan perinatal, kecelakaan, kelainan congenital, HIV / Aids, dan malnutrisi ( untuk negara yang berpenghasilan rendah ).

Risiko kematian seorang anak : “makin muda usia anak, prognosis makin kurang pasti”, sehingga penetapan rating yang tinggi dan bersifat spekulatif, sebaiknya ditunda. Keputusan alternatif yang dapat diambil adalah dengan pembatasan benefit sampai dengan usia tertentu ( misalnya : s/d usia 4 tahun ) atau pemberlakuan ‘lien clause’.
Sebagai tambahan, beberapa Juvenile Insurance yang dijual memasukkan unsur waiver of premium for payor benefit dimana pembayaran premi polis akan bebas jika orang tua sebagai pemegang polis mengalami ketidakmampuan ‘disabled’ atau meninggal ketika anak belum cukup dewasa. Sekali lagi ini merupakan pembuktian bahwa kemampuan dari pemegang polis dan riwayat kesehatan dari pemegang polis merupakan faktor underwriting yang penting dalam menilai risiko.

Meskipun perkembangan Juvenile Insurance dimasa mendatang akan lebih baik, industri perlu berhati-hati agar tidak cenderung mengikuti perubahan yang terlalu cepat dan liberal.

amil\ iex yan”‘>menguntungkan untuk organisasi- tersebut. Misalnya, pengurus yang setia terhadap organisasi, atau kas organisasi

yang banyak, dll. Kedua W, yaitu dengan mengetahui kelemahan organisasi –dalam hal ini, kelemahan bisa

diartikan sebagai suatu kondisi yang merugikan untuk organisasi- tersebut. Misalnya, kondisi anggota yang tidak aktif,

dana yang tak ada, dll.

Ketiga O, yaitu dengan mengetahui kesempatan organisasi – dalam hal ini bisa diartikan sebagai suatu hal yang

bisa menguntungkan jika dilakukan namun jika tidak diambil bisa merugikan, atau sebaliknya. Misalnya, sumber dana

ada bila diminta. Keempat T, yaitu dengan mengetahui ancaman organisasi – dalam hal ini bisa diartikan sebagai

suatu hal yang akan menghambat atau mengancam selama perjalanan kepengurusan. Misalnya, banyak pengurus dan

anggota yang tidak aktif.

Setelah dilakukan analisis SWOT maka jadi mengetahui kondisi nyata apa yang terjadi di lingkungan internal dan

external organisas, maka dapat mulai membuat rencana program kerja yang sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan

dan mampu untuk dilaksanakan oleh pengurus tersebut.”

Aplikasi dan Penerapan SWOT

http://tuis-susanto.comhttp://www.tuis-susanto.com

Powered by Mambo

Generated:2 February, 2009, 17:12


Page 2

Dalam Pengelolaan dan pengembangan suatu aktifitas memerlukan suatu perencanaan strategis, yaitu suatu pola atau

struktur sasaran yang saling mendukung dan melengkapi menuju ke arah tujuan yang menyeluruh. Sebagai persiapan

perencanaan, agar dapat memilih dan menetapkan strategi dan sasaran sehingga tersusun program-program dan

proyek-proyek yang efektif dan efisien maka diperlukan suatu analisis yang tajam dari para pegiat organisasi. Salah satu

analisis yang cukup populer di kalangan pelaku organisasi adalah Analisis SWOT.

Istilah SWOTdari perkataan :

Strength (kekuatan)

Weakness (kelemahan)

Opportunities (kesempatan)

Threats (Ancaman)

Maksud dari analisis SWOT ini ialah untuk meneliti dan menentukan dalam hal manakah “lembaga”:

1. Kuat (sehingga dapat dioptimalkan )

2. Lemah(sehingga dapat segera dibenahi)

3. Kesempatan-kesempatan di luar (untuk dimanfaatkan)

4. Ancaman-ancaman dari luar (untuk diantisipasi)

Tahap awal dalam menjalankan SWOT :

– Membaca/menginventarisir latar belakang

– Membaca situasi dan kondisi sekarang.

Komponennya:

– Internal organisasi

– Object/sasaran

– Lingkungan lokal

– Lingkungan regional

Secara mudah analisis SWOT bisa dikelompokkan dalam dua kategori:

1. Internal Lembaga yaitu menyangkut Strength dan Weakness

Pertimbangan analisa:

– Sarana dan Prasarana

– Kumpulan pendapat

– Komparasi dengan lembaga lain

– Hasil pengamatan sendiri

Obyek analisa :

– Kemampuan memimpin

– Jumlah dan kualitas anggota

– Kerapian organisasi (Struktur, AD/ART, kebijakan-kebijakan)

– Aturan kedisiplinan

2. Eksternal Lembaga, yaitu menyangkut Opportunities dan Threats

Pertimbangan analisis :

– Pengalaman kita sendiri

– Kumpulan pendapat

– Komparasi dengan lembaga lain

– Pendapat para ahli

Obyek analisa :

– Personal atau lembaga yang tengah berkuasa

– Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan

– Kejadian-kejadian atau peristiwa penting yang pernah terjadi

Langkah-langkah SWOT :

– Identifikasi semua hal yang berkaitan dengan SWOT

– Tentukan Faktor penghambat dan faktor pendukung

– Tentukan alternatif-alternatif kegiatan

– Rumuskan tujuan dari masing-masing kegiatan

– Ambil keputusan yang paling prioritas

http://tuis-susanto.comhttp://www.tuis-susanto.com

Powered by Mambo

Generated:2 February, 2009, 17:12

Explore posts in the same categories: Analisa Swot

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: