Di balik “panggung” FKI-6


Festifal Kesenian Indonesia(FKI) yang keenam (5-8 Oktober 2009)  diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki dengan mengusung sebuah tema “Exploring Root of Identity” serta Institut Kesenian Jakarta sebagai tuan rumah penyelenggaranya. Di dalam FKI yang keenam ini diselenggarakan berbagai macam acara yang diikuti oleh 7 Perguruan Tinggi Seni (IKJ Jakarta, ISI Jogjakarta, ISI Surakarta, ISI Denpasar, STSI Bandung, STSI Padangpanjang, dan STKW Surabaya). Bentuk Acara-acara yang di selenggarakan sepenuhnya bukan berasal dari IKJ sebagai tuan rumah semata namun lebih kepada kolaborasi antar anggota Badan Kerja Sama-Perguruan Tinggi Seni Indonesia(BKS-PTSI) dan kolaborasi Internasional. Bentuk-bentuk kolaborasi itu seperti konser gamelan, kolaborasi tari dan simfoni, workshop internasional animasi, musik kontemporer, seni tari dan seminar internasional.

FKI keenam memiliki konsep dasar cita-cita yang sangat hebat. Cita-cita dasar dari diselenggarakannya FKI keenam adalah bahwa forum FKI menjadi sebuah bentuk dialog “inter-cultural” dan “cross discipline” yang mana sebagai media penggalian konsep-konsep kreativitas berkarya seni yang memberikan perluasan gerak dan menyingkirkan batas-batas kebebasan berekspresi melalui ekspolorasi estetik. Namun di balik kemegahan acara Festival Kesenian Indonesia ke enam tersebut, terdapat beberapa hal yang sekiranya menjadi sebuah permasalahan. Permasalahan itu adalah munculnya bentuk-bentuk fenomena  menyimpang. Permasalahan itu adalah tidak tersampaikannya wacana tentang “Exploring Root of Identity” yang menjadi tema besar FKI yang keenam terutama bagi kaum intelektual yang hadir pada waktu itu.

Jika kita bercermin dari “buku sakti” FKI keenam dari apa yang ditulis oleh Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Prof. Dr. Bambang Sudibyo yang mengatakan bahwa “keberadaan seni bisa didorong untuk menumbuhkan rasa kebanggaan, kemandirian, dan kesejajaran dalam tata hubungan antar bangsa” yang mencerminkan kebanggan terhadap kekayaan kesenian Indonesia. Namun jika kita mencermati hal yang terjadi, sangat berlainan dengan apa yang di tuliskan di mendiknas pada “buku sakti” FKI. Sebagai contoh pada saat pertunjukan konser gamelan yang diikuti oleh tiga perguruan tinggi seni(ISI Surakarta, ISI Denpasar, dan STSI bandung), dimana ketiga perguruan tinggi seni tersebut membawakan tiga macam bentuk sajian yang berbeda dan mempunyai ciri khas masing-masing. Seperti ISI Surakarta yang membawakan komposisi baru di dalam garap gamelan pakurmatan, ISI Denpasar yang membawakan konsep perkembangan gamelan bali mulai dari gambuh, semar pagulingan hingga gong gede dengan iringan garap yang dinamis, serta STSI bandung yang membawakan goong renteng yang sama sekali tidak dirubah komposisi garapnya. Ketika pertunjukan itu selesai banyak orang-orang yang mengatakan bahwa hanya ada satu penampil terbaik yakni ISI Denpasar. Namun Hal yang lebih parah lagi, yang mengatakan hal tersebut kebanyakan berasal dari mahasiswa perguruan tinggi seni dan seolah-olah panggung festival tersebut menjadi suatu bentuk panggung kompetisi. Nah disinlah muncul sikap etnosentris di dalam mengapresiasi suatu pertunjukan dari kultur tertentu. Mereka menggangap bahwa STSI Bandung menjadi penampil terburuk dalam pertunjukan yang mana tidak menyuguhkan suatu bentuk garap baru dari kesenian goong renteng sesuai dengan tema FKI keenam “Exploring Root of Identity. Para pembicara di belakang layar ini tidak mengetahui mengapa STSI Bandung tidak mengubah bentuk garap goong renteng tersebut. Hal ini dikarenakan goong rentang masih dianggap sakral dan mereka tidak berani mengubah bentuk gending yang sudah ada pada bentuk baku sajian goong renteng dan bahkan instrumen yang dibawapun bukan goong renteng yang asli melainkan bentuk replikanya.

Selanjutnya jika melihat dari komposisi penonton yang hadir kebanyakan berasal dari lingkungan perguruan tinggi seni semata, lalu kita dapat bertanya sebenarnya apa kontribusi yang diberikan oleh FKI jika acara tersebut hanya dari kita untuk kita saja?. Dengan kata lain Institusi Seni di Indonesia hanya sekedar membuang uang dan kemudian mengadakan pentas yang dinikmati oleh kita sendiri. Disisi lain salah satu pilar pendukung dari FKI yakni mahasiswa juga mengalami kondisi yang tidak stabil untuk mendukung kegiatan FKI. Sebagai contohnya acara forum diskusi mahasiswa seharusnya menjadi bagian untuk mencermati tentang “Exploring Root of Identity” jika hal tersebut dipahami dan disepakati secara bersama mengenai tema yang ada pada FKI keenam. Hal itu secara jelas akan menimbulkan berbagai macam wacana kritis dan mempunyai kontribusi yang jelas terhadap ilmu pengetahuan khususnya bidang seni dan mencegah hal-hal yang bersifat etnosentris seperti diatas. Namun, hal yang terjadi justru sebaliknya dimana para mahasiswa-mahasiswi yang menjadi utusan dari tiap intitusi seni justru tidak memikirkan hal tersebut. Mereka justru berpikiran bagaimana seandainya mereka dapat menjual karya-karya mereka melalui ajang FKI, serta keinginan mereka yang menginginkan mahasiswa agar dilibatkan sebagai konseptor dari acara semacam FKI dan bukan hanya menjalankan kepentingan para guru besar yang diterapkan pada konsep acara FKI. Dengan memulai langkah awal para mahasiwa dan mahasiswi yang menjadi utusan dari berbagai Institusi Seni ini mulai membentuk BEM BKS-PTSI yang mana mereka akan berusaha mengajukan konsep-konsep penyelenggaraan FKI. Secara kebetulan tuan rumah dari FKI selanjutnya adalah ISI Surakarta dan rencananya BEM BKS-PTSI akan datang ke ISI Sukarta untuk membicarakan FKI selanjutnya.

Bagaimana dengan kita sendiri?, seharusnya sebagai mahasiswa Institut Seni Indonesia yang Independen kita harus memiliki konsep tersendiri sebagai tuan rumah bukan sebagai pihak yang menjalankan kebijakan dari BEM BKS-PTSI, dengan penuh tangan terbuka dan cara pandang yang berbeda kita wajib menyambut mereka dan memberikan masukan yang sehat agar hal-hal yang terjadi seperti di atas tidak terulang lagi. Kepentingan mewacanakan dan mengkritisi sesuatu hal justru menjadi hal yang utama di dalam kehidupan akademik mahasiswa seni baik diatas panggung maupun diatas kertas melalui ajang FKI. Dengan  saling keterbukaan informasi dan komunikasi yang jelas antara mahasiswa kita terhadap Instusi tentu akan membuka wacana tentang sesuatu yang baru yang jauh lebih baik mengenai penyelengaraan dan kontribusi dari FKI. Akhir kata, semoga Institut Seni Indonesia yang menjadi tuan rumah dari FKI selanjutnya tidak mengalami kondisi seperti diatas dimana, korelasi antar pilar-pilar pendukung mengalami gangguan dan tercerai berai dan tidak di dalam satu tujuan yang sama.

Explore posts in the same categories: Buletin Etno

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: