Karma Politik Soekarno-Soeharto


Christianto Wibisono

kemarin pukul 13.20 ketika berada di Pacific Place Mall saya menerima
telpon dari kemenakan saya bahwa mantan Presiden Soeharto meninggal
pada pukul 13.10. Saya teringat ketika saya berbincang dengan mantan
Mensesneg Moerdiono pada Sabtu (19/1) dan berkesempatan menjenguk dari
balik kaca jendela serta menghasilkan kolom Debat Imajiner Soekarno
Soeharto. Kolom ini saya tulis Minggu sore dengan membatalkan rencana
penulisan kolom berjudul, Krismon 2008 = Karma Krismon 1998.
Dua
mantan Presiden Republik Indonesia meninggal dalam status tahanan
politik yang tidak pernah diadili dan dituntaskan. Dua duanya pernah
mempunyai pendukung fanatik yang katanya rela berkorban dan mencintai
pemimpinnya sampai mati. Tapi pada saat terakhir kekuasaan kedua
presiden itu, keduanya akhirnya rela, sadar, dan insaf bahwa fanatisme
pendukung yang seolah-olah loyal belum tentu bisa diandalkan. Lagipula
seandainya keduanya melawan secara fisik pasti akan menimbulkan
bentrokan militer antara yang pro dan kontra.
Dalam
hal Bung Karno, jika pada 1965 secara sadar Bung Karno mau bertahan dan
melawan Soeharto ia bisa mengerahkan AURI untuk bila perlu membom
Kostrad di mana Soeharto bermarkas dan pasukan KKO (Marinir) bisa
dikerahkan untuk menghadapi Angkatan Darat. Karena waktu itu Angkatan
Udara dan Angkatan Laut RI adalah yang terkuat di belahan bumi selatan
sebagai alat penekan untuk merebut Irian Barat. Tapi, Bung Karno tidak
tega untuk menjerumuskan Bangsa Indonesia dalam perang saudara, dan ia
rela mati secara politik.
Dalam
tempo empat tahun sejak ia memberikan Supersemar yang dipakai untuk
mengkudeta kepresidenan, Bung Karno wafat dalam status tahanan politik.

Soeharto
praktis mengalami hukum karma, ketika ia harus merelakan dirinya
lengser, karena dikhianati semua loyalis, sehingga tidak mungkin lagi
bagi Soeharto untuk maju bertahan. Skenario Supersemar 2, yang sudah
diberikan kepada Pangab Jenderal Wiranto waktu itu, tidak akan ampuh
menghadapi tekanan global, karena Indonesia berada pada posisi terpuruk
yang memerlukan bantuan IMF, sehingga Soeharto tidak mungkin
mengandalkan kharisma atau loyalitas yang ternyata semu, palsu dan
hampir semua loyalis adalah Ken Arok merangkap Brutus  yang tega dan tidak berhati nurani.
Zhao
Ziyang adalah korban yang peduli dengan nasib mahasiswa dan berusaha
menyelamatkan mahasiswa dari gilasan tank. Zhao sudah mengetahui bahwa
Deng Xiao Ping dan Li Peng sudah mengambil putusan untuk membubarkan
dan mengusir demonstran dari Tiananmen, dengan kekerasan mematikan. Ia
masih ingin mencoba menyelamatkan mahasiswa dengan turun ke Tiananmen
menasihati supaya mereka mundur saja.
Harapan mundur itu sia-sia dan Zhao mempertaruhkan posisinya karena dianggap  mengkhianati pemerintah dan merangkul mahasiswa mbalelo.
Mahasiswa menolak mundur dan sebagian pemimpinnya yang sekarang
bermukim di AS menyesal telah mengabaikan peringatan Zhao. Akibatnya,
mahasiswa tetap digilas dan Zhao Ziyang tetap dipecat dan berstatus
tahanan rumah sampai akhir hayatnya. Pemerintah Tiongkok telah
merehabilitasi Zhao Ziyang.
Banyak
orang meributkan kalkulasi untung-rugi neraca jasa dan dosa Bung Karno,
Soeharto dan Zhao Ziyang. Manusia tidak akan pernah secara utuh, total,
dan tuntas membuat neraca jasa dosa seseorang, kecuali Tuhan Yang Maha
Tahu. Sebab motivasi seseorang tidak mungkin diketahui oleh orang lain,
apa sebetulnya yang menjadi latar belakang dan alasan serta dorongan
putusan politik yang diambil seseorang. Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa
bisa menembus kesejatian dan kedalaman pikiran dan tindakan seseorang.

Banyak Korban
Bung
Karno rela minggir dari politik, tapi sudah terlanjur banyak korban
jatuh akibat kudeta dan kontra kudeta G30S. Sarwo Edie dianggap sebagai
pelaku lapangan yang melakukan dirty works buat Soeharto. Tapi,
Sarwo Edie justru frustrasi karena digusur dari pusat kekuasaan oleh
lingkaran dalam Soeharto yang direstui Soeharto sendiri.
Di
awal rezim Orde Baru, beredar isu bahwa Sarwo Edie ingin menjadi Nasser
yang menggusur Jenderal Najib setelah mengkudeta raja Farouk. Analogi
ini keliru, sebab Soeharto menempatkan diri sebagai Nasser dengan
langsung melangkahi Jenderal Nasution yang lebih senior, menggantikan
Presiden Soekarno. Naiknya Yudhoyono sebagai presiden yang harus
menentukan nasib Soeharto merupakan karma berputar, karena Yudhoyono
adalah menantu Sarwo Edie, yang frustrasi karena dimarginalkan di zaman
Soeharto.
Karma
politik berputar ketika Soeharto merasa di-Caesar-kan oleh Habibie dan
Habibie sendiri juga akan dikhianati oleh Golkar yang ikut menyatakan
tidak bisa menerima pertanggung jawaban Habibie pada Sidang Umum MPR
1999. Skenario balas dendam politik dengan perselingkuhan yang
membingungkan rakyat terus berlangsung. Poros Tengah mencegat Megawati
dan mengangkat Gus Dur jadi  Presiden. Tapi, motor Poros Tengah Amien Rais merasa “dilecehkan” Gus Dur dalam  power sharing, padahal sudah mendapat jatah porsi Menteri Keuangan yang  strategis. Akhirnya Gus Dur digusur oleh koalisi Amien Rais Megawati.
Yudhoyono baru muncul dan yakin tampil setelah menerima kunjungan Menteri  Keamanan Nasional AS Thomas Ridge dengan pernyataan pengunduran diri dan siap  jadi presiden.
Jusuf
Kalla justru kalah dalam Konvensi Golkar yang memilih Wiranto, bahkan
juga tidak memilih Ketua Umumnya sendiri, Akbar Tandjung jadi capres.

Membingungkan
Perselingkuhan
politik yang tidak memberikan teladan loyalitas dan solidaritas itu
memang sangat membingungkan dan memuakkan. Tidak ada lagi fatsoen,
norma, atau etika, dan hati nurani dalam berpolitik, kecuali
berselingkuh secara tidak setia satu sama lain dalam konspirasi, kolusi
dan intrik demi kekuasaan telanjang belaka.
Para
penyerbu kantor PDI-P yang merupakan pelanggar HAM pola berpolitik Orde
Baru malah sudah memperoleh impunitas. Sistem politik masih diwarnai
kekerasan, persekongkolan dan perselingkuhan politik. Terbunuhnya Munir
merupakan bukti bahwa Orde Reformasi ternyata masih memakai cara-cara
Orde Baru untuk menyingkirkan lawan politik.
Meninggalnya
dua presiden dalam status tahanan politik dan nasib Bung Karno sangat
mengenaskan karena watak fasis Orde Baru sangat tidak manusiawi. Sedang
Orde Reformasi juga tidak berani tuntas menyelesaikan kasus Soeharto
karena sistem politiknya memang masih merupakan warisan Orde Baru,
walaupun telah mengalami amandemen drastis dari UUD 1945.
Setiap
kali Indonesia berganti presiden maka seolah Indonesia mulai dari nol
kembali. Soekarno diganti Soeharto, harus siap mengundang modal asing.
Soeharto bercokol 32 tahun dan dianggap sukses, tapi akhirnya Orde Baru
bangkrut meninggalkan utang dan kekuatan ekonomi yang impoten dan
kurang berdaya saing.
Sekarang,
setelah 10 tahun Orde Reformasi, ternyata bangsa Indonesia juga masih
lemah karena sistem politiknya adalah “kumpul kebo” antara sistem
presidential dan parlementer. Di mana unsur parlemen kemaruk berkuasa  model zaman liberal, tapi dengan money politics yang kental bergelimang  KKN.
Presiden
sudah dibatasi dua masa jabatan, tapi akibat kemandekan Orde Baru maka
terjadi vakum capres yang independen, bermoral, berwibawa, dan kompeten
untuk memimpin Indonesia. Masa depan Indonesia akan sangat bergantung
pada kebijakan, kebajikan, dan kebijaksanaan yang berwawasan negarawan
dari elite politik. Kontaminasi dengan pola politik manunggal zaman
Orla, Orba, dan Reformasi Setengah Matang, akan sangat membahayakan
bangsa ini karena dunia sedang menghadapi ancaman krismon global, yang
jauh lebih dahsyat dari krismon Asia yang melengserkan Soeharto.

Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional

Explore posts in the same categories: POLITIK

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: