Konsumerisme dan Dunia Pencitraan


Oleh: Adlan Nawawi

Salah satu gaung yang diperkenalkan era modernitas adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup pesat. Segala sesuatu yang pada awalnya terasa sulit dan jauh dari jangkauan manusia, menjadi mudah dan dekat, bahkan menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Kondisi inilah yang telah disinyalir sebelumnya oleh J.F. Lyotard dengan sebuah kata sederhana, yakni efesiensi.

Dalam kondisi ini pula sulit menemukan identitas yang berwujud tunggal pada diri manusia. Berbagai perilaku dan tindakan seakan bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Move-move yang dilakukan manusia tunduk pada aturan dan klaim kebenaran yang dimunculkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sebuah produk sejarah umat manusia itu sendiri.

Atas dasar itu pula, identitas perilaku dan tindakan manusia adalah bagian dari kontruk sosial yang mengelilingi sekitar individu. Termasuk jika persoalan perilaku dan tindakan tersebut dikerucutkan pada persoalan budaya konsumerisme sebagai bentuk perilaku dan budaya modern yang pada dasarnya telah mengalami dinamikan perkembangan sejak zaman masa lalu dengan aneka ragam variasinya.

Dunia Pencitraan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa pada kemudahan. Kemudahan tersebut membuat segala sesuatu yang bersifat nyata, meski pada dasarnya hal itu adalah bentukan kepiawaian manusia. Contoh sederhana, pertemuan dan interaksi manusia di alam membuat seolah-olah kehadiran itu nyata dan berdekatan, meski pada kenyataannya berjauhan. Manusia pun bisa merasakan sebuah arena kehidupan yang diimpikannya sebagai “duplikasi” dari kehidupan sebenarnya. Singkatnya, manusia mampu menduplikasi sebuah realitas yang pada dasarnya “semu”. Atas dasar itulah, budaya konsumtif atau konsumerisme bisa dianalisa.

Berawal dari terpecah dan tidak tunggalnya identitas, perilaku dan budaya individu pada dasarnya tidak sekedar bersumber dari kehendak pribadinya atau rasionalitasnya. Melainkan gabungan dari pengaruh-pengaruh di luar darinya. Identifikasi terhadap diri sendiri pun merupakan proses duplikasi dari identifikasi atas yang lain.

Konsumsi individu atas pelbagai barang di sekitarnya adalah bagian dari proses pengejawantahan identitas tersebut. Seseorang memilih untuk memiliki, mempunyai atau membeli sesuatu seringkali tidak berawal dari kehendaknya, namun kehendak orang lain yang seolah-olah atau sebenarnya menghendaki ia memilih, memiliki atau membeli. Dengan demikian, kehidupan individu berlangsung pada latar pencitraan dan image, bukan sesuatu yang riil. Individu memilih, memiliki atau membeli citra dan image dari pada sosok riil dari objek itu sendiri. Kehidupan tidak lagi sekedar bersandar pada realitas, namun lebih dari itu, hiperrealitas atau melamapaui realitas.

Kondisi ini telah dianalisa sebelumnya oleh Jean Baudrillard. Perkembangan teknologi informasi yang semakin mutakhir tidak hanya dapat memperpanjang fungsi organ pada manusia, tapi mampu menghasilkan duplikasi dari manusia, mampu membuat fantasi atau fiksi ilmiah menjadi nyata, mampu mereproduksi masa lalu, atau ‘melipat’ dunia sehingga tak lebih dari sebuah layar kaca, disket atau memory bank.

Baudrillard mengistilahkan hal ini dengan proses Simulasi dan Simulacraa sebagai bagian dari kehidupan hiperrealitas. Simulasi adalah suatu proses di mana representasi (gambaran) atas suatu objek menggantikan objek tiu sendiri, dimana representasi itu menjadi hal yang lebih penting dibandingkan objek tersebut. Analoginya, bila suatu barang yang hendak dikonsumsi merepresentasikan (menggambarkan) suatu kemewahan, maka dalam simulasi, justru kemewahan yang mendahului fungsi barang tersebut. Manusia saat itu membeli image dan citra dari kemewahan ketimbang fungsi dari objek itu sendiri.

Karena itu objek wacana simulasi, ditempatkan oleh manusia dimana perbedaan antara yang benar dan palsu menjadi tipis (manusia hidup dalam suatu ruang khayal yang nyata). Simulacra memungkinkan manusia untuk mendiami satu ruang yang sarat akan duplikasi dan daur ulang dari berbagai fragmen dunia yang berbeda-beda pada waktu yang sama. Sebagian masyarakat Jakarta memilih mengkonsumsi kopi ala starbucks di tempat perbelanjaan yang seakan merepresentasikan ia hadir di alam dunia Barat dengan taste dan pelayanan yang mirip di Barat.

Produk Kapitalisme

Berbagai hal, baik itu benda, jasa maupun budaya menjadi sebuah komoditi akibat era modernitas yang diwarnai gaung kapitalisme. Berbagai pilihan hidup tidak lepas dari sejauh mana ia diminati oleh individu dengan berbagai polesan dan janji manfaat, fungsi dan keuntungan sekaligus citra dan image yang ditawarkannya.  Hal itulah yang merayu individu dan memungkinkannya untuk melihat dirinya sendiri sebagai refleksi dari citra-citra yang disebarkan dari komoditi tersebut.

Selain itu, image dan cita dibangun oleh asumsi perbedaan. Kapitalisme mengenal pola diferensiasi, yakni proses membangun identitas berdasarkan perbedaan, produk dan gaya hidup. Seseorang yang tidak memilki dan mempunyai akan berbeda dengan orang lain yang memiliki dan mempunyai. Melalui proses diferensiasi inilah barang-barang modern menjadi komoditi.

Gencarnya iklan dari sebuah produk seakan melampaui realitas objek yang diiklankan, sehingga objek tersebut tampak mengontrol subjek, bukan subjek yang mengontrol objek Terbentuklah budaya konsumerisme, dimana produk-produk/komoditi tersebut menjadi satu medium untuk membentuk personalitas, gaya, citra, gaya hidup dan cara diferensiasi status sosial yang pada gilirannya menjadi penopang dunia realitas yang pada dasarnya semu.

Peran media sebagai corong realitas yang pada dasarnya semu itu juga tidak bisa dilepaskan. Saat itulah rekayasa realitas terjadi di berbagai dimensi kehidupan yang  berperan utama merayu manusia untuk memilih, membeli dan mempunyai. Segala sesuatu dipandang dari kaca mata layak atau tidak untuk dikonsumsi. Segala sesuatu menjadi bagian dari komoditi dan barang dagangan. Agama dan politik pun tidak terlepas dari fenomena konsumerisme.

Tidak heran jika banyak pesan-pesan dan jargon agama yang menjadi bagian dari komoditas sosial atau politik demi memperoleh penganut massa yang lebih besar. Tidak heran juga jika fenomena para penyampai agama, kiai, pastur atau seorang dai, harus rela naik atau turun daun di panggung media massa dan masyarakat umum. Dunia politik juga penuh dengan image dan citra demi meraup konsumen masyarakat. Berbagai tindakan anjang sana dan anjang sini atasu safari politik menampilkan sikap terpuji lewat bakti sosial dan bantuan kepada masyarakan miskin saat pesta demokrasi, baik Pilkada atau Pilpres hendak dilangsungkan.

Pada akhirnya, budaya konsumersime adalah budaya hyper yang telah memungkinkan diciptakannya satu rekayasa realitas. Satu realitas yang tampak nyata, padahal semuanya hanya halusinasi image yang tercipta lewat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dukungan ideologi kapitalisme.

Explore posts in the same categories: Kebudayaan, POLITIK

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: