Membongkar Arsip Soekarno Hingga Soeharto


Pakai Sandal Pun Bisa Temui Presiden

Arsip Nasional RI (ANRI) memamerkan salinan koleksi naskah dan foto yang jarang diketahui publik, hingga awal September 2007. Meski dalam rangka memperingati HUT ke-62 RI, arsip yang dipajang tidak melulu bernuansa heroik, seperti konsep Proklamasi Soekarno. Ada pula naskah pidato pengunduran diri Presiden Soeharto, 21 Mei 1998, yang ditambahi coretan di sana-sini.

“Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini, saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan, kekurangannya,” demikian sebagian tulisan tambahan dari Soeharto. Dia juga membuat garis bawah pada kata ‘berhenti’.

Arsip lain yang tentu tidak dimiliki perseorangan adalah naskah pidato Presiden Soekarno saat pemancangan tiang pertama Masjid Istiqlal, 24 Agustus 1961. Soekarno mengutip Menteri Sosial Muljadi Djojomartono, tokoh Muhammadiyah, bahwa masjid itu sengaja dibangun untuk bertahan ribuan tahun.

“Malahan beliau berkata bahwa tidak ada gentengnja, tidak ada kajunja, melainkan seluruhnya akan dibuat daripada bahan-bahan jang amat kuat sekali, besi, beton dan lain-lain sebagainja,” tulis Soekarno, membanggakan masjid rancangan F Silaban, arsitek non-Muslim itu.

Sebuah foto pada 1964 menunjukkan, pembangunan Masjid Istiqlal belum beres dan memang baru selesai 14 tahun kemudian. Konon, total biayanya mencapai Rp 7 miliar dan 12 juta dolar AS.

Dipamerkan pula naskah pidato Soekarno saat pembukaan jalan silang Monumen Nasional, 16 Agustus 1964. Soekarno menulis, “Seluruh rakjat Indonesia jang djiwanja, hatinja, rochnja, kalbunja, harus mendjulang tinggi ke langit laksana Tugu Nasional sekarang ini”.

Meski dicemooh penentangnya, proyek mercusuar Soekarno tetap menjadi kebanggaan. Contohnya proyek Gelora Bung Karno yang dipersiapkan untuk pertandingan olahraga negara yang baru tumbuh, Games of New Emerging Forces alias Ganefo, November 1963.

Dengan Ganefo, Soekarno hendak menandingi Olimpiade. Ini sebagaimana dengan Gerakan Negara-negara Nonblok yang hendak menandingi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang didominasi Amerika Serikat.

Tapi ironisnya, pemerintahan Soekarno tak mampu mengongkosi pemulangan 1.000 kuli kontrak Jawa yang dibawa Belanda ke Suriname. Ini terlihat dari surat permohonan Wakil Menteri Pertama Bidang Keuangan, B Sentanu, kepada Menteri Urusan Bank Sentral, 12 Agustus 1963.

“Mengingat keadaan devisen dewasa ini, disarankan agar warga negara Indonesia di Suriname jang hendak pulang ke Indonesia sedapat mungkin membiajai sendiri ongkos pasasi mereka,” jawab Menteri Koordinator Konpartemen Keuangan, Sumarno, 28 November 1963.

Karena baru beberapa tahun bebas dari penjajahan, pendidikan masyarakat masih terkebelakang. Para pekerja istana pun banyak yang buta huruf. Ini terlihat dari foto Soekarno memberikan semacam sertifikat bebas buta aksara kepada pekerja istana yang bersandal japit dan bercelana pendek pada 24 Februari 1951.
Arsip lain yang cukup berharga adalah resolusi rakyat Madura yang menolak wilayahnya bercerai dengan republik, 25 Februari 1948. Resolusi itu diteken tiga tokoh Madura Mohamad Kafrawi, KH Amin Djakfar dan Mohamad Noor (kemudian jadi Gubernur Jatim). Ini reaksi terhadap persekongkolan Raja Cakraningrat dengan Belanda untuk mendirikan Negara Madura.

Sumber : (Persda Netwrok/yul) Banjarmasin Post

Explore posts in the same categories: POLITIK

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: