MERESPON GLOBALISASI DENGAN PLURALISME AGAMA


Written by Hamid Fahmy Saturday, 20 August 2005

Seperti yang telah disampaikan dalam Pengantar ISLAMIA edisi 3 yang lalu bahwa paham pluralisme agama memiliki sekurang-kurangnya dua aliran yang berbeda tapi ujungnya sama yaitu: aliran kesatuan transenden agama-agama (transcendent unity of religion) dan teologi global (global theology). Yang pertama lebih merupakan protes terhadap arus globalisasi, sedangkan yang kedua adalah kepanjangan tangan dan bahkan pendukung gerakan globalisasi. Jika pada edisi lalu kajian lebih difokuskan pada aliran transcendent unity of religion, pada edisi keempat ini dikhususnya untuk mengkaji aliran yang oleh John Hick disebut teologi global atau yang oleh W.C.Smith dijuluki teologi dunia (world theology).
Pendekatan yang dipakai oleh aliran teologi global terhadap agama-agama lebih bersifat sosiologis, kultural dan ideologis. Bersifat sosiologis dan kultural karena agama-agama yang ada di dunia ini harus disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat modern yang plural. Ideologis sebab ia telah menjadi bagian dari program gerakan globalisasi yang jelas-jelas memasarkan ideologi Barat. Akibatnya, menurut Malcom Walter globalisasi yang datang bersama dengan kapitalisme ini malah membawa kekuatan baru yang menghapus otoritas agama, politik, militer dan sumber kekutatan lainnya. Karena kenyataannya gerakan globalisasi ini telah membawa ideologi baru yan bertujuan agar semua menjadi terbuka dan bebas menerima ideologi dan nilai-nilai kebudayan Barat seperti seperti demokrasi, Hak Asasi Manusia, feminisme / gender, liberalisme dan sekularisme. (baca: Dr.Amir al-Roubaie Globalisasi dan Posisi Peradaban Islam)
Sekilas tuntutan globalisasi ini menarik, sebab bagaimanapun setiap agama dituntut untuk dapat menjawab tantangan zaman sesuai dengan konteks sosio-kultural yang ada. Tapi masalahnya apakah paham pluralisme agama dengan doktrin teologi global-nya itu mampu membuat agama-agama itu menjadi bersifat kontekstual. Dan apakah untuk menjadi kontekstual agama-agama itu perlu meninggalkan doktrin-doktrin agamanya. Bagaimana pula dengan doktrin-doktrin agama yang bersifat permanen (thawÉbit) dan sekaligus ekslusif.
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak terakomodir oleh paham pluralisme agama. Mungkin juga tidak perlu. Sebab sejarah panjang pengalaman manusia Barat telah sampai pada suatu tahap dimana antara hal-hal yang permanen dan yang berubah dalam agama tidak perlu dibedakan dan atau dipertahankan. Faktanya memang teologi Kristen yang tidak dapat dipertahankan itu telah diterpa angin kencang reformasi dan modernisme yang diwatnai oleh rasionalisme, relativisme, sekulerisme, liberalisme dan lain-lain.
Ketika abad pertengahan berakhir dan disusul oleh Reformasi dan Renaissance masyarakat Barat telah mempunyai kecenderungan untuk menjadi pluralis. Akarnya bisa ditelusur dari adanya tuntutan kaum Protestan untuk memberi ruang kepada kebebasan individu. Klaim kebenaran dari sekte-sekte agama tidak dapat dihindari. Persengketaan antar sekte yang berjalan selama tiga puluh tahun di Jerman itu diselesaikan dengan menghilangkan klaim supremasi antara sekte yang satu dengan yang lain.
Memang ketika terjadi persengkataan antar sekte dalam agama Kristen pasca-Pencerahan di Barat yang muncul dipermukaan adalah pertanyaan: apakah agama Kristen itu ekslusif, inklusif atau pluralis. Karena ketidak jelasan teologisnya jawabannya bisa ketiga-tiganya. Namun masalahnya suatu agama tidak dapat ekslusif dan pluralis sekaligus. Disitu sebenarnya Kristen menghadapi problem teologis yang serius. Bagaimana pengalaman Kristen dalam menghadapi problem teologis mereka sehingga dapat menerima paham pluralisme agama, dan bagaimana mereka mengatasi doktrin ekslusifisme dikalangan mereka dikupas oleh Adian Hussaini. (baca: Pluralisme dan Problem teologi Kristen).
Ekslusifisme suatu agama inipun telah mendorong para filosof untuk berfikir keras. Masa lalu Barat yang traumatik terhadap hegemoni kekuasaan gereja dan otoritas mutlak para teolog telah mendorong para filosof untuk berfikir bebas secara ekstrim. Mereka lalu memarginalkan agama, mengangkat doktrin nihilisme nilai, mendobrak teologi dan bahkan “memasung” kekuasaan Tuhan. Agama di Barat akhirnya menjadi obyek kajian para filosof yang tidak mempunyai otoritas itu. Rasionalisasi agama artinya agama harus tunduk pada pemahaman rasio manusia. Kupasan Hamid Fahmy Zarkasyi tentang konsep agama para filosof Barat di abad Modern dan Postmodern adalah pengantar yang baik untuk memahami mengapa paham pluralisme agama itu mesti lahir dan berkembang di Barat. Khususnya ketika doktrin nihilisme menghapus supremasi kebenaran agama apapun. (baca: Agama Dalam PemikiranBarat Modern dan Post-Modern)
Dari kondisi seperti ini maka “bola” diskursus agama berada ditangan para filosof, yang kebanyakan adalah aktifis atau mantan aktifis gerakan Protestan Liberal. Di Barat sudah bukan rahasia lagi bahwa teologi menjadi bulan-bulanan para filosof (theology was subservient to philosophy). Untuk sekedar menyebut beberapa nama, Sartre, Heidegger, Jung, Ludwig Feurbach, William James, Nietzsche, Kant dan lain-lain, adalah filosof-filosof yang bicara soal agama. Para pakar sosiologi, psikologi, antropologi dll pun ikut-ikutan Para sosiolog menggunakan teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) untuk menjustifikasi adanya perubahan dalam agama. Herbert Spencer (1820-1904) juga mengikuti. Friedrich Max Muller (1794-1827), Emile Durkheim (1858-1917), Rudolf Otto (1869-1937) dan lain-lain mengaitkan agama dengan realitas sosial.
Namun karena teologi telah dianggap tidak relevan lagi, maka para filosof mencari “rumah baru” untuk memberi tempat bagi diskusi-diskusi mereka tentang agama.”Rumah Baru” itu adalah disiplin ilmu baru. Disiplin ilmu baru ini tidak disebut teologi, tapi philosophy of religion yang akarnya adalah comparative religion. Disini seakan-akan pembahasan agama bebas dari paham sesuatu agama. Dari diskursus tentang agama-agama inilah muncul teori dan paham pluralisme agama. perlu diketahui dalam Islama tidak ada ilmu yang disebut falsafah dÊniyyah. Wacana pluralisme agama yang kini telah menjadi paham atau doktrin ini kemudian masuk dalam diskusi-diskusi tentang toleransi beragama, kerukunan umat beragama, inter-faith dialogue dan semacamnya. Bahkan pasca kejadian 11 september pluralisme agama nampak seperti diramu dengan doktrin liberalisme agar menjadi “pain-killer” bagi fenomena terorisme dan ekstrimisme.
Harus diakui bahwa Filsafat Agama adalah suatu disiplin ilmu yang metode dan teorinya adalah filsafat Barat. Obyeknya adalah semua agama. Sudah tentu ketika filsafat membahas agama-agama itu, worldview Barat berada pada posisi bird-eye. Doktrin filsafat berada diatas doktrin agama-agama. Dalam tradisi Islam, falsafah menyatu padu dengan pemikiran keagamaan. Akhirnya falsafah dan kalÉm sulit dibedakan. Agama tidak menjadi obyek tapi sebagai subyek dan bahkan merupakan starting point kajian kefilsafatan.
Bahkan dalam era globalisasi disiplin ilmu ini kemudian di kembangkan menjadi Filsafat Agama Lintas Kultural (Cross-cultural philosophy of religion). Ini berarti bahwa obyek kajian filsafat agama diperluas dari sekedar agama yang ada dalam kultur Barat menjadi agama-agama dan kepercayaan yang berasal dari kultur lain. Metode dan cara pandangnya tetap pemikiran filsafat, sosioligi dan antropologi Barat. Agama hanya dianggap sebagai produk dari kreatifitas manusia dan akan terus berubah sebagaimana makhluk hidup (living organism). Namanya pun dirubah menjadi sekedar penumpukan tradisi (cummulative tradition).
Namun, menurut Thomas Dean, dalam Religious Pluralism and Truth benih-benih disiplin ilmu filsafat agama telah ada sejak tahun 1950an, ia berbuah pada tahun 1960-an, membesar pada tahun 1970-an dan menjadi buah masak pada tahun 1980-an. Benihnya dimulai dari Ninian Smart, seorang filosof dan sejarawan Barat yang pada tahun 1958 menerbitkan karya filsafat agama yang berjudul Reason and Faith. Dalam buku ini ia menghimbau agar filsafat dan sejarah agama baik di Barat maupun di Asia bekerjasama. Hal ini baginya sangat penting agar filsafat agama dapat berperan dalam kebudayaan yang pluralistis dan global pada akhir abad ke dua puluh. Menurut Dean, selama hampir dua puluh tahun buku ini belum tertandingi dan dianggap pioneer dalam bidangnya.
Periode pengembangan yang terjadi pada tahun 1960an ditandai oleh peluncuran buku Wilfred Cantwell Smith yang berjudul The Meaning and End of Religion. Buku dianggap telah membuka jalan bagi formulasi baru tentang problematika pemahaman agama lintas kultural. Sebab disini, untuk pertama kalinya, ia menunjukkan sumbangan sejarah dan fenomenologi agama-agama terhadap filsafat agama lintas kultural. Buku ini menjadi penting karena selain mendukung pandangan bahwa kehidupan keagamaan manusia adalah sebuah dynamic historical continuum, juga menolak klaim kelompok transendentalis seperti Rene Guenon, F.Schuon, S.H.Nasr yang menganggap agama-agama didunia secara konseptual merupakan sistim tertutup.
Wacana ini kemudian mendapat sokongan dari para filosof dan ilmuwan di bidang agama. Pada tahun 1970an, yakni periode pembesaran, ditandai oleh penerbitan essay analitis yang ditulis William Christian yang berjudul Opposition of Religious Doctrines (1972) yang mendapat sambutan luas itu. Ditambah lagi ketika karya “kroyokan” para filosof dan pakar sejarah agama yang berjudul Truth and Dialogue in World Religions: Conflicting Truth-Claim (1974) dan yang disunting John Hick terbit. Buah itu menjadi semakin besar ketika Raimundo Panikkar menerbitkan bukunya, The Intrareligious Dialogue (1978) dan Hick sendiri menulis buku Philosophy of Religion. Sebagai titik kulminasi dari wacana ini adalah terbitnya karya Wilfred Smith yang berjudul Towards World Teology, dan karya John Hick berjudul Problems of Religious Pluralism (1985) dan Interpretation of Religion (Gifford Lecture, 1986-87). Didalam karyanya inilah Hick mendeklarasikan perlunya teologi global. Jadi “buah masak” dari disiplin filsafat agama adalah pluralisme agama. Goal getter nya adalah Smith dan Hick.
Dari paparan diatas semakin jelas bahwa hubungan antara doktrin pluralisme agama dengan pemikiran filosof dan saintis sangat erat. Smith yang mangadopsi teori Newtonian Revolution menganggap agama-agama itu sebagai planet-planet yang memiliki hukum gravitasi dan pergerakan yang sama. Jika hukum-hukum alam ini tidak hanya berlaku pada planet bumi saja maka hukum-hukum agama itu tidak hanya berlaku pada satu agama saja, tapi juga berlaku untuk semua agama. Sementara itu global teologi John Hick mengadopsi teori Copernican Revolution. Jika Copernicus memindahkan pusat gravitasi dari bumi ke matahari maka Hick memindahkan pusat gravitasi teologi dari agama-agama kepada Tuhan (Religion-centredness to God centredness), dalam bahasa lain Hick memindahkan keberagamaan dari individu kepada Realitas Mutlak (self-centredness to Reality centredness). Konon gagasan pluralisme agama yang dicari akarnya dari ide pluralitas alam itu mula-mula diangkat oleh John Donne, seorang sastrawan Inggeris abad ke 16 (John Donne, dikutip dari Steven J. Dick, Plurality of Worlds (1982), hal. 49.). Ide ini kemudian berkembang menjadi pemikiran yang pluralistis pada abad-abad berikutnya di Eropah. Akan tetapi kini orang menganggap Smith dan Hick sebagai pioneer doktrin ini. Dr. Anis Malik Toha membahas secara detail doktrin kedua tokoh ini. (baca: Teologi Global dan Teologi Dunia)
Karena plurlasme agama ini sejalan dengan agenda globalisasi, ia pun masuk ked dalam wacana keagamaan agama-agama, termasuk Islam. Ketika paham ini masuk kedalam pemikiran keagamaan Islam respon yang timbul hanyalah adopsi ataupun modifikasi dalam takaran yang minimal dan lebih cenderung menjustifikasi. Akhirnya yang terjadi justru peleburan nilai-nilai dan doktrin-doktrin keagamaan Islam kedalam arus pemikiran modernisasi dan globalisasi. Caranya adalah dengan memaknai kembali konsep Ahlul KitÉb dengan pendekatan Barat. Jika perlu makna itu di dekonstruksi dengan menggunakan ilmu-ilmu Barat modern. Inilah sebenarnya yang telah dilakukan oleh Mohammad Arkoun. Ia mengusulkan, misalnya, agar pemahaman Islam yang dianggap ortodoks ditinjau kembali dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial-historis Barat. Dan dalam kaitannya dengan pluralisme agama ia mencanangkan agar makna Ahl al-KitÉb itu didekonstruksi agar lebih kontekstual. Malki Ahmad Nasir mengkaji secara kritis pemikiran Arkoun dalam masalah ini. (baca: Dekonstruksi Arkoun terhadap Makna Ahl al-KitÉb).

Kini dengan maraknya isu pluralisme agama, wacana tentang Ahlul KitÉb tiba-tiba muncul kembali. Disitu ayat-ayat tentang Ahlul KitÉb dijadikan alat justifikasi, meskipun terkadang dieksploitir tanpa memperhatikan konteks historis dan metodologi tafsir standar. Begitulah jika mindset telah terhegomoni oleh pemikiran Barat. Untuk menjernihkan kekacauan konsep Ahl al-KitÉb yang terdistorsi oleh pluralisme agama, Dr. Muhammad Azizan Sabjan & Dr. Noor Shakirah Mat Akhir mengupas secara detail tentang makna Ahl al-KitÉb (baca Konsep Ahl al-KitÉb Dalam Tradisi Agama Islam). Selain itu Fahmi Salim juga mengkaji kembali tafsir ayat-ayat yang dipakai cendekiawan Muslim untuk menjustifikasi paham pluralisme agama (baca: Meluruskan Dalil-dalil Kaum Pluralis).

Sumber :http://www.insistnet.com/content/view/25/34/

Explore posts in the same categories: Agama

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: