MOLLY BONDAN, PENULIS PIDATO POLITIK PRESIDEN SOEKARNO


CINTA, memang hanya bisa dipahami oleh kedua insan yang terlibat,

namun sering sulit dimengerti orang luar, datangnya bisa mendadak, begitu saja

muncul, menyeberangi semua pertimbangan-pertimbangan wajar malahan dalam

diri dua orang dengan latar belakang jauh berbeda. Ini pula yang terjadi pada diri

Molly Warner dan Mohammad Bondan.

Si pria, ORAng Cirebon, bekas tahanan politik, aktivis pejuang

kemerdekaan yang terlempar (tanpa maunya) sampai di Australis. Sementara si

wanita, penduduk Sydney, kelahiran Auckland, Selandia Baru, keturunan Inggris

yang berimigrasi ke Australis. “I was Born on 9 January 1912, there month

before The Titanic, carryng some 2.000 passengers to the USA was struck by

iceberg in the North Atlantic and sank,” kata Molly. Lewat kalimat sederhana,

tetapi sangat kaya nuansa, buku In Love With A Nation, Molly Bondan and

Indonesia, her own story in her own words mengisahkan saat kelahiran Molly

persis tiga bulan sebelum kapal penumpang Titanick menghantam gunung es dan

menyeret nyawa 2.000 penumpangnya ke dasar Lautan Atlantik.

Buku terbitan Australis yang diluncurkan pecan lalu itu merupakan karya

bersama Joan Hardjono dan Charles Warner (adil Molly). Tetapi, mengingat

bahan utamanya menggunakan rancangan naskah otobigrafi dan juga rekaman

wawancara lisan yang dulu sudah sempat dilakukan Molly, maka nada dan

semangat penuturannya terasa sangat akrap untuk di baca.


Page 2

Tanggal kelahiran ini penting untuk memahami keterlibatan Molly pada

perjuangan kemerdekaan bangsa tetangganya. Ia kemudian mengungkapkan

secara jujur, bagaimana masa kelahirannya, merupakan sisa-sisa kejayaan

kolonialisme, “Saya masih ingat, ayah dengan bangga selalu menyanyikan lagu

untuk melukiskan matahari tak pernah tenggelam di Kerajaan Inggris,” Bisa

dimengerti, sebagai Negara adidaya warisan abad XIX, waktu itu jajahan Inggris

tersebar diseluruh muka bumi.

Tetapi, meskipun mereka lahir sebagai warga masyarakat dari Negara

adidaya, nampaknya nasib baik belum berpihak kepada keluarga Warner. Kakek

buyutnya punya dua putra dan seorang putri. Anak wanitanya hidup tak menikah

dan sampai meninggal tetap di Inggris. Anak lelaki pertama mencari kehidupan

baru ke Kanada dan lantas tak ketahuan nasibnya, mungkin langsung mati begitu

berimigrasi. Dan anak lelaki kedua, sang kakek (diikuti Teddy, ayah Molly),

karena desakan situasi terpaksa meninggalkan Inggris, semangat mencari

pekerjaan baru, pindah ke kawasan diujung selatan bumi.

Saat kelahiran yang tepat dalam masa pancaroba, disusul meletusnya

Perang Dunia I serta depresi ekonomi global, kemudian masa remajanya

dilengkapi amukan Perang Dunia II, menyadarkan Molly untuk ikut

mempertanyakan perlunya tatanan dunia baru. Pemikiran itu dilatar belakangi

kenyataan, di Negara leluhurnya, datang pemikiran dari kelompok sosialisasi

Fabian, di daratan Eropa lahir liga anti kolonialisme-imprealisme sementara di

India, terbentuk kelompok masyarakat, yang membangkitkan kesadaran atas

kekuatan kulit berwarna. Dengan jujur Molly mengakui, “….semua peristiwa


Page 3

tersebut, langsung maupun tidak, membawa pengaruh besar terhadap kehidupan

saya.”

Kebangkitan masyarakat India, mendorong ayahnya menjadi vegetarian,

melibatkan diri dalam kelompok theosofi dan belajar memahami karma serta

makna kisah Mahabarata dan Rama Yana. Kebangkitan kesadaran baru ini juga

diikuti oleh Molly. Sejak usia 15 tahun dia menjadi anggota theosofi. “Saya mulai

mendengar cerita mengenai Borobudur, seni Batik, kisah wayang dan ilmu mistik

dan simbolisme di Jawa. Namun, saya belum pernah mendengar sama sekali

mengenai (perjuagan) para nasionalis Indonesia..”

Tak lama kemudian, tahun 19244, ribuan orang asal Indonesia, para

tahanan politik dari tanah merah di Digul Irian, ingin mencoba diselamatkan oleh

kolonialis Belanda. Para tapol itu di sekap di kamp konsentrasi Corwa, New South

Wales, Australia. “Saya diberi tahu sekelompok orang-orang asal Indonesia.

Mereka bukan musuh tetapi justru bersedia ikut melawan Jepang,” Sebagai

seseorang telah terbakar semangatnya dengan nuansa ketimuran, Molly semakin

dekat dan menggungkapkan, “kulit mereka cokelat terbakar matahari, rambutya

hitam dan bangun tubuhnya mungil.”

Molly ikut mendirikan Australia-Indonesia Association, membantu

Central Komite Indonesia (Cenkim), mendengarkan radio mengenai proklamasi

Kemerdekan Indonesia dan yang penting, juga jatuh cinta kepada Muhammad

Bondan. Mereka menikah tanggal 5 Oktober 1946, setahun kemudian dengan

menggendong Alit, bayinya yang masih merah, mereka kembali ketanah air sang

suami yang sedang dibakar perang kemerdekaan.


Page 4

MEREKA berdua segera bergabung dengan rekan-rekannya. Bondan

menjadi pegawai kementerian perburuhan, Molly penyiar acara The Voice of Free

Indonesia dari pemancar RRI Yogyakarta. Dengan terbuka, sebagai seorang

republiken dia melukiskan pengalamannya hidup dalam penderitaan di wilayah

yang di blokade Belanda, perasaannya menghadapi agresi Belanda 19 Desember

1948 dan juga, kegembiraannya ketika menyambut datangnya kembali Bung

Karno – Bung Hatta ke Yogyakarta.

Sebagai salah seorang dari warga keturunan asing yang ikut berjuang di

pihak republic tentu saka dia kenal dengan para pemimpin bangsa. Kemudian,

lewat talenta yang dimilikinya, Molly menjadi pegawai kementerian penerangan,

kemudian dialihkan kementerian luar negeri, tampil selaku pengajar bahasa

Inggris untuk para diplomat Indonesia sewaktu menyelenggarakan Konferensi

Asia Afrika (1955).

Dalam konferensi tersebut ada empat orang bertugas, kecuali dirinya

petugas lainnya adalah Tom dan Renee Atkinson serta Herb Feith. Empat tahun

kemudian, Molly ditunjuk sebagai penerjemah resmi pada persidangan Allan

Pope, Pilot Amerika yang jadi tentara bayaran selama pembrontakan

PRRI/Permesta. Ia juga diberi tugas oleh pemerintah Indonesia untuk menyusun

naskah yang kemudian dibukukan, Subversive activities in Indonesia. The

Jungschlager & Schmidt Affair. Dan ketika awal tahun 1961 pasangan Tom dan

Renee Atkinson pulang ke Inggris, Molly diangkat sebagai satu-satunya penyusun

pidato bahasa Inggris Presiden Soekarno.


Page 5

Secara bersamaan, saat itu Bung Karno sedang berada di puncak kejayaan,

khususnya dalam mengembangkan kebijakan luar negeri. Dengan demikian bisa

dimengerti, Molly memahami sepenuhnya proses perumusan politik Luar Negeri

Bung Karno. Sejak zaman penyatuan kekuatan Asia – Afrika sampai lahirnya

gaagsan New Emerging Forces, dari penyusunan pidato To Build the World Anew

di depan sidang umum PBB hingga masa konfrontasi Malaysia.

Menurut Molly, cara Bung Karno berpidato bagaikan seorang dalang yang

bercerita. “….gemar melakukan pengulangan kata sebagai uapay untuk lebih

menjelaskan berbicara (seolah-olah) secara pribadi kepada hadirin selingan

humor, kutipan kalimat dan juga syarat lukisan suasana berwarna-warni. Begitu

dalam berpidato, demikian pula keadaannya kalau Bung Karno menulis…..”

Menyadari kenyataan ini dan juga untuk menjaga agar nuansa terjemahan bahasa

Inggrisnya tetap sepadan, Molly terus terang mengaku sering kali sengaja agak

mengorbankan akurasi pidato Bung Karno, tanpa harus mengurangi maknanya.

Molly menegaskan, “Bung Karno sangat terampil dalam merumuskan

pemikiran serta menyampaikan gagasan. Tetapi, semua pidatonya termasuk pidato

tahunan setiap tanggal 17 Agustus, dia pasti lebih dahulu mendiskusikan isinya

dengan semua anggota kabinetnya. Tentu saja, ide dasarnya bisa saja datang dari

Bung Karno namun dia selalu memperbincangkannya dengan kebinetnya.

MOLLY Bondan bukan sekedar ghost writer yang hanya bisa

merumuskan begitu saja naskah pidato bahasa Inggris Bung Karno. Pengalaman

berikut persahabatannya dengan pimpinan puncak pemerintahan, melahirkan

kesaksian serta analisis sangat cermat terhadap segala macam peristiwa berikut


Page 6

suasana yang muncul di sekelilingnya. Ia menilai menteri Luar Negeri Soebandrio

ambisius dan sikapnya tidak Demokratis, dia menyaksikan saat Roeslan

Abdulgani mendadak tergeser dari sisi Bung Karno, pengamatannya terhadap

meletusnya peristiwa G30S/PKI dan juga, “…..bagi diri saya pribadi Pancasila

merupakan suatu bentuk ideology politik sangat konprehensif dan selama

masyarakat Indonesia mampu menjaga prinsip dasar tersebut, I shall support

Indonesia throught thick and thin.”

Molly Bondan tidak sekedar bersaksi ia telah membuktikan dengan

sukarela meninggalkan tanah airnya, untuk menetap dan ikut berjuang sebagai

seorang republiken, hingga tutup usia 6 Januari 1990 di Indonesia persis tiga hari

menjelang ulang tahunnya ke-78.

Explore posts in the same categories: POLITIK

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: