Musik Wor dalam Kehidupan Masyarakat Biak


I.          Pendahuluan.

Musik Wor dalam kehidupan masyarakat Biak berhubungan erat dengan upacara keagamaan. Dengan upacara-upacara keagamaan, orang Biak menyatakan hubungannya dengan “penguasa” yang disembah. Sebelum masuknya pengaruh agama Kristen, orang Biak percaya akan adanya penguasa yang melebihi kekuatan atau kekuasaan manusia biasa yang menurut mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi (surga) yang berada di Mandep (langit). Selain itu, mereka percaya akan adanya penguasa-penguasa yang mendiami Farscyos (jagad raya) dan ada juga yang menghuni abyab (gua), karui beba (batu besar), bon bebaki (gunung tinggi), soren (dasar laut), ai beba (pohon besar), dan lain-lainnya. Penguasa yang mendiami Nanggi merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan tertinggi yang mengatur alam semesta. Penguasa Nanggi (Sang langit) dikenal dengan sebutan Mangundi (Dia sendiri). Penguasa-penguasa yang mendiami Farscyos (jagad raya), abyab (gua), karui beba (batu besar), bon bebaki (gunung tinggi), soren (dasar laut), ai beba (pohon besar) , dan lain-lainnya yang disebutkan di atas adalah bersifat roh (spirit). Roh-roh ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : (1) Roh-roh/arwah-arwah nenek moyang dan kerabat mereka yang telah meninggal dunia yang dikenal dengan istilah bahasa Biak yaitu Karwar.

Agama tradisional mereka mempunyai hubungan erat dengan mitologi mereka. Tokoh mitologi mereka adalah Manarmakeri yang telah pergi ke sebelah barat dan dia akan datang kembali

  1. II. Deskripsi Masyarakat Biak.

Orang Biak adalah salah satu dari 250 suku bangsa di Tanah Papua. Sekitar 96.000 penduduk tinggal di kabupaten Biak Numfor, yang meliputi kepulauan Biak, Supiori, dan Numfor, dengan luas 3130 km². Separuh dari penduduk tinggal di Biak kota. Ibukota kabupaten ini, yang secara etnis penduduknya campuran, merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian, serta lokasi pelabuhan udara internasional. Biak Numfor adalah kabupaten yang paling padat penduduknya di Irian Jaya, dan satu-satunya wilayah yang penduduknya memiliki bahasa dan budaya yang sama.

Sebelum perang dunia II, Biak terkenal sebagai sarang bajak laut. Pemerintah Belanda meramalkan bahwa para bajak laut ini akan pindah atau punah, kalau serangan-serangan meraka talah diberantas. Kenyataannya, perdagangan merupakan sumber yang lebih jauh penting dalam menopang kehidupan mereka daripada penjarahan, meski reputasi Biak yang mengerikan itu sebagian tetap benar. Orang-orang Biak pada masa lalu adalah pandai besi yang berpindah-pindah, pedagang dan sewaktu-waktu menjadi pengikut Sultan Tidore. Sekarang kebanyakan masyarakat menjadi nelayan, pemburu, dan petani yang berpindah-pindah dengan mudah antara darat dan laut.

Pelaut selalu mendapat posisi yang khusus dalam masyarakat Biak. Diceritakan bagaimana nenek moyang orang Biak mendayung perahu ke barat atau selatan manuju Seram, Timor, dan bahkan ke Singapura untuk mencari harta karun dan budak. Melancong ke “tanah asing’ masih menjadi kebanggaan sekarang dan kualifikasi terbaik untuk menjadi pemimpin lokal seringkali berupa “pengalamannya di luar”. Namun, lebih penting lagi dari sekedar melancong, adalah bagaimana pengalaman ini dapat “diterjemahkan” untuk konteks lokal. Para pelancong harus membuktikan petualangan-petualangan mereka dengan benda-benda, gelar-gelar, dan teks-teks: porselin China dan Eropa digunakan untuk mas kawin dan alat tukar menukar dalam upacara; gelar yang diberikan oleh Sultan Tidore diwariskan, ditukar, dan dijual oleh sanak keluarga dari yang menerima gelar; kata-kata asing, frasa-frasa, dan potongan-potongan dari khotbah (yang dihafal dalam kunjungan ke tempat misionaris) dapat dimasukkan ke dalam cerita-cerita atau lagu-lagu. Seorang misionaris dan antropolog belanda, F.C. Kamma, menulis: “orang-orang biak menganggap sesuatu sebagai hal yang aneh hanya bila hal itu belum menjadi milik mereka. Tetapi, begitu benda tersebut ‘dikuasai’, pemiliknya itu dianggap memiliki harkat yang sama seperti yang dimiliki oleh pembajak laut pada masa lampau”. Dalam pencarian status, masyarakat Biak memberikan nilai positif kepada semua elemen asing, dan benar- benar menyerap elemen-elemen itu, bukanlah hanya menempelkannya.

Pada jaman ini, orang-orang Biak banyak yang menjadi pilot, ilmuwan, rektor universitas, dan bintang-bintang sepakbola. Banyak di antara mereka adalah keturunan dari guru-guru pribumi. Pada tahun 1950-an, saat usaha-usaha awal untuk mengembangkan daerah tersebut secara serius, orang Belanda sudah menganggap penduduk Biak sebagai “orang-orang papua yang paling terpengaruh Barat”. Namun orang Biak masih mempertahankan nilai-nilai dan gaya berpikir lokal mereka. Mas kawin masih mencerminkan dan menciptakan hubungan-hubungan sosial. Seorang pegawai negri masih akan meliburkan diri untuk menunggu di bandara dengan satu kotak umbi taro bagi sanak familinya yang melancong, oleh-oleh yang bersifat feminin ini melambangkan ikatan hubungan antara seorang laki-laki dengan saudara petempuan serta ikatan antara keturunan-keturunan mereka. Seorang paman di Jayapura mungkin masih bisa memberikan “gelar” pada keponakannya dengan membiayai kuliahnya di Universitas. Batas-batas antara perkotaan dan pedesaan Biak tetap dapat ditembus. Penduduk kota kerap kali mengunjungi sanak keluarganya di desa dan banyak menyumbang pada proyek-proyek desa. Orang-orang desa gemar sekali berkunjung ke kota Biak untuk berjualan di pasar, mengunjungi sanak keluarga dan berbelanja. Namun kedua lingkungan ini tetap mempertahankan kualitasnya masing-masing. Tidak banyak uang beredar di desa-desa, dimana mata pencaharian mereka tergantung pada pengaturan barter dan produksi secara tradisional.

Pesta-pesta megah yang pernah menandai kehidupan sosial masyarakat Biak  sekarang merupakan sesuatu yang telah lampau. Namun, upacara perkawinan, ulang tahun atau keselamatan pulang dari perjalanan masih dirayakan dengan kegiatan makan dan minum, menari dan menyanyi sepanjang malam. Pada masa lalu, nyanyiannya adalah wor. Sekarang lagu-lagu gereja dan yospan telah menggantikan fungsi wor dalam kebanyakan perayaan yang diadakan. Tidak mengherankan dengan kemunduran yang terjadi dalam waktu yang panjang dari genre yang tua ini; yang lebih mengherankan adalah kehidupannya yang tetap hadir selama berpuluh-puluh tahun, atau bahkan abad, meskipun ia dilarang keras. Misionaris yang datang ke teluk Cendrawasih tahun 1855 menemukan “orang-orang kasar tanpa agama”,”yang membuat pantai-pantai bergema dengan lagu-lagu perang mereka dan dengan gemuruh gendang dan suara yang berat, yang mengumandangkan bait-bait kemenangan mereka”. Para misionaris bekerjasama untuk menghapus bentuk-bentuk nyanyian asli , yang mereka anggap terikat dengan peperangan antar kelompok. Kalau bisa tetap selamat dari peperangan ini, wor pasti telah memiliki kedudukan yang kokoh dalam masyarakat lokal, sebagaimana kita akan melihat jika sekarang kita beralih ke masalah musik masyarakat biak pada masa lampau.

III. Pengertian Wor

Dalam agama tradisional orang Biak, Wor merupakan suatu kewajiban yang harus diselenggarakan oleh setiap keluarga batih/inti mereka. Wor mempunyai dua arti : (a) Wor sebagai upacara adat (upacara taradisional); (b) Wor sebagai nyanyian adat .

Jika kita uraikan kedua konsep atau peristilahan munara dan wor atas struktur

atau bentuk katanya, maka akan jelas konsep-konsep utama yang berkaitan   erat

dengan kedua kata kompleks tersebut. Kata munara terdiri atas dua morfem

bentukan, yakni dari morfem mun ‘penggal, bagian atau bayar, ganti’; dan

morfem ara ‘kasihan, ibah hati, penggugah, pemancing, pemotivasi, penyebab

sesuatu terjadi’: mun + ara. Sedangkan morfem wor, terdiri pula atas dua

morfem bentukan, yakni morfem terikat penanda persona w aw ‘engkau

dengan morfem bebas or ‘panggilan, mengundang; atau pesta, lagu, nyanyian:

‘w +or.

Dengan demikian kata munara atau wor itu dapat diformulasikan menjadi:

undangan keluarga untuk mengambil bagian dalam pesta: menari dan bernyanyi,

makan-minum bersama, dan diakhiri dengan acara transaksi ekonomi bersama

berupa hasil ladang seperti: talas, keladi, sagu, dan hasil buruan seperti: daging

babi, ikan, dengan transaksi hasil barteran berupa: piring, gelang, parang,

tombak dan sebagainya antar keluarga tuan pesta dengan pihak keluarga paman

(mother brother), yang dikenal dalam adat Vyak dengan istilah munsasu dan

maidofa (take and give) secara kolektif.

Dengan demikian, munara atau wor dapat diartikan secara bebas sebagai pesta

atau upacara akbar yang tentunya dibarengi dengan acara jamuan makan,

bernyanyi dan menari, yang diakhiri dengan transaksi ekonomi, yang

terselenggara sebagai puncak dari seluruh kompleksitas dan rangkaian pesta adat

yang mengikuti lingkaran atau daur hidup seseorang, mulai dari kehadirannya

dalam kandungan (janin), kelahiran, kanak-kanak, remaja, akilbalik, dewasa, tua,

hingga ia masuk liang kubur.

3. Jenis Munara atau Wor Biak

Munara atau wor Vyak dibagi atas dua bagian besar, yaitu wor sraw ‘pesta kecil’

dan munara atau wor veyeren ‘pesta akabar’. Seterusnya wor sraw atau secabik

pesta (kecil) kurang lebih terbagi lagi atas 18 wor, yakni pesta ‘wor’: (1) kakfo

ikoibur ‘meramal kelamin janin’; (2) anunbesop ‘diturunkannya bayi dari

rumah ke halaman/bawah sekitar kampung’; (3) anansus ‘tetekan bayi’; (4)

raikarkir ‘pelobangan telinga dan hidung’; (5) ananmam ‘makan kunyahan’; (6)

marandak ‘jalan pertama kali’; (7) andomankun ‘ makan sendiri tanpa disuap’;

(8) papaf ‘penyapihan anak’; (9) kapanaknik ‘cukur rambut anak’; (10)

famamarwark ‘pemberian cawat/pakain’; (11) mansorandak ‘pertama kali pergi

dan kembali dari negeri orang’; (12) amfudum ‘pengatapan rumah baru’; (13)

sunavrdado ‘memasuki/hunian rumah tinggal baru’; (14) sunsram ‘memasuki

pendidikan di lembaga rumsram’; (15) sarsram ‘pesta tamat lembaga rumsram’;

(16) sarwai babo ‘uji-pakai perahu baru’; (17) kper-roemun ‘lepas dari bahaya’;

(18) avovs-farbey ‘pelepasan atribut perkabungan’.

Sedangkan munara ‘pesta akbar’ kurang lebih terbagi pula atas 11 wor, yakni

pesta ‘wor ‘: (1) beyeren atau wor kabor insos ‘pesta inisiasi keluarga inti

(anak-anak); (2) ramrem ‘pesta peminyakan bagi pengantin laki-laki yang akan

memasuki rumah tangga baru; (3) fakoker ‘pesta pemotongan atau pelepasan

tali (adat) pingitan (keperawanan) orang tua atau keluarga bagi seseorang

pengantin perempuan yang hendak berumah tangga baru; (4) umbambin ‘pesta

prosesi antar-arakan dari keluarga luas pengantin wanita kepada keluarga luas

pengantin pria; (5) yakyaker ‘pesta pengantaran wanita disertai perabot rumah

tangganya dari keluarga dekat pihak perempuan (orang tua terdekat: bapak-ibu,

saudara-saudara, paman-bibi) untuk seterusnya tinggal bersama suaminya atau

memasuki keluarga pihak keluarga laki-laki; (6) akekdofnan (yaf) ‘pesta panen

raya); (7) faduren ‘pesta sarat muatan perahu niaga atau keberhasilan

perbarteran antar pulau; (8) samsom ‘pesta permohonan maaf’; (9) samsyom

‘syukur puji’; (10) fannangki ‘pesta pemberian persembahan hasil panen

kepada Tuhan penguasa langit-bumi’; (11) rakmamun ‘pesta kemenangan

perang’.

4. Wor sebagai Fokus dan Dinamika Hidup Orang Biak

Istilah fokus kebudayaan, seperti yang digunakan untuk mengarahkan diskusi

ini, sesungguhnya mengandung arti bahwa dalam kehidupan setiap suku bangsa

(etnik di mana pun, telah pasti mempunyai kebudayaan inti (culture core). Pada

hakekatnya garis besar konsep kebudayaan itu dapat dilihat sebagai pengetahuan

yang dapat diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan yang dipakai untuk

mengartikan pengalamannya dan menghasilkan tingkah laku sosial

(Goodenough, 1964).

Untuk diskusi ini, kita akan melihat kebudayaan itu dari segi perilaku dalam segi

kognitif (struktur). Berdasarkan pemahaman ini, kebudayaan dapat diartikan

dengan sejumlah perilaku manusia yang berpola sebagai hasil dari suatu

kegiatan (munara-wor). Kebudayaan juga adalah keseluruhan gagasan, ide,

kepercayaan dan pengetahuan manusia dalam suatu masyarakat. Karena itu,

perilaku budaya pada dasarnya ditentukan oleh segi kognisi atau pengetahuan

dan pengalaman manusia dalam suatu masyarakat. Karena itu, perilaku budaya

pada dasarnya ditentukan oleh segi kognisi atau pengetahuan dan pengalaman

manusia. Setiap kebudayaan mengandung berbagai kategori perilaku yang

digunakan manusia untuk memilah-milah dan menggolong-golongkan

pengalaman (Spradley, 1972 : 3 – 8 ). Sehubungan dengan itu, penulis akan

mencoba mengemukakan wor atau pesta sebagai fokus dalam kebudayaan Biak.

Untuk itu, analisis Van Gennep tentang ritus peralihan dan upacara pengukuhan

dapat digunakan sebagai model arahan dalam diskusi ini.

Van Gennep berpendirian bahwa ritus dan upacara religi secara universal dan

pada dasarnya berfungsi sebagai aktivitas untuk merekonstruksikan kembalai

semangat kehidupan sosial antar warga masyarakat”. Untuk seterusnya Van

Gennep mengemukan bahwa kehidupan sosial dalam tiap masyarakat di dunia

secara berulang, dengan interval waktu tertentu, memerlukan “regenerasi” yaitu

semangat kehidupan sosial seperti ritus dan upacara religi (Van Gennep) dalam

Koetjaraninggrat, 1980 : 74-77).

Menrut pengetahuan emik penulis bahwa bila diteliti secara mendalam tentang

rusaknya tatanan atau struktur sosial orang Biak yang terpaket dalam upacara

adat (munara/wor), karena telah dirusak oleh pranata lain. Diduga semangat

membangun dalam kebudayaan Biak menjadi rusak dan renggang oleh karena

beberapa sistem pranata adat Biak diputuskan secara sepihak oleh intervensi

kebudayaan luar sehingga dinamika kehidupan sosial orang Biak tak berdaya

lagi. Oleh karena wor sebagai pranata dan sekaligus menjadi dinamisator atas

prestasi maksimal bagi seseorang, keluarga, kelompok keret atau etnis Biak

sengaja diputuskan maka dinamika hidup orang Biak telah berada di ambang

kepunahan (Kamma, 1981, 1982; Kapissa, 1994; Rumbrawer, 1995). Lihat

struktur struktur Wor sebagai berikut

(Prestige

Prestasi)

‘Vave Snonkaku’

Munara

(Pesta Akbar)

‘Wor Veyeren’

Sejumlah Pesta Inisiasi Kecil ‘Wor Sraw’

Pemberian Makanan ‘Fanfan Kadaren

KERJA MAKSIMAL‘FARARUR KIR’

5. 5. Hakekat dan Makna Wor Biak

Sebagai mana telah disinggung sepintas pada awal diskusi kita di atas, bahwa

hakekat wor atau pesta Biak adalah pusat kehidupan suku bangsa Biak (culture

core). Mengapa pernyataan hipotesis ini cenderung diabsahkan. Oleh karena jika

kita diskusikan secara mendalam tentang wor maka akan kita jumpai hakekat

dan arti makna hidup seutuhnya dalam terselenggaranya upacara ritual Biak.

Dalam filsafat ekonomi orang Biak telah ditegaskan bahwa “ Nko wor va ido, na

nko mar” (Kami akan mati, jika kami tidak bernyanyi). Orang Biak dahulu, telah

menyadari bahwa lagu dan pesta adalah aset kehidupan. Jika melaksanakan

upacara wor akan mendatangkan rejeki dan berkah bagi keluarga dan

masyarakat sekitar. Pernyataan seperti ini telah dinyatakan dalam tema dan syair

lagu beberapa wor Biak kurang lebih dinyatakan sebagai berikut: Ada lagu ada

kehidupan (wor isya kenm isya); ada kehidupan ada makanan (kenm isya anan

isya); ada makanan ada nilai (anan isya vave snonsnon / maseren isya); dan

dapat diakhiri dengan: ada nilai ada pesta inisiasi (vave sno manseren isya

munara isya), dan ada persta akbar ada seberkas kasih dan persatuan klen atau

kampung (munara isya vave oser er mnu isya kako).

6. Penutup

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebudayaan inti atau fokus

kebudayaan orang Biak sesungguhnya adalah pelaksanaan wor. Jika wor tidak

dilaksanakan berarti semua sistem kehidupan dan aktivitas hidup orang Biak

akan menjadi lumpuh total, tidak akan bergairah lagi dan akhirnya totalitas

kebudayaan Biak akan punah.

Makna tersirat dalam diskusi ini adalah bahwa akibat dari intervensi

kebudayaan-kebudayaan dominan dan adanya larangan untuk membatasi

berbagai upacara ritual wor Biak, maka fokus dan dinamika kebudayaan Biak

pun punah. Hilanglah makna upacara yang mempertebal perasaan kolektif dan

integrasi sosial orang Biak sebagaimana pernyataan ilmiah yang telah

dinyatakan oleh Durkheim (1912); Radcliffe Brown (1992) dan Van Gennep

(1909).

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi, Kesenian Tradisi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: