NILAI KULTURAL KESENIAN JARANAN PADA KEHIDUPAN WARGA MUSIMAN DI KOTA SURABAYA


OLEH: R. Djoko Prakosa

Abstract
Paguyuban kesenian jaranan sing tuwuh ing komunitas warga musiman mujudake aktualisasi nilai budaya jawa. Sayuk, guyub lan rukun tuwuh saka srawung seni saengga akeh masalah sosial lan ekonomi bisa antuk solusi. Regeng, gayeng, lan marem dadi refleksi esetika komunal lan indiviual sing kempel nyawiji. Konsep estetika iki ora ngemungake disengkuyung dening kaendahan nanging uga saka spirit guyup rukun. Lejar lan pajar mujudake titik kawicaksanan sing tuwuh saka estetika sosial kesenian jaranan.estetika paguyuban kesenian jaranan mujudake esetika sing mutlak lan mujudake totalitas rasa sosial, religius, lan larasing rasa kaendahan seni

I.Pengantar
Warga musiman1 kota dihadapkan pada situasi dan kondisi diakronis, sikap dan pandangan hidup tradisional harus berbaur realitas sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih bersifat kapitalistik. Perbedaan tersebut merupakan konflik yang bersifat laten dalam kehidupan warga musiman. Dalam konteks interaksi sosial budaya, nilai-nilai tradisionalitas cenderung terpinggirkan. Ketidakmampuan melawan arus global, kapitalisme, dan menjawab realitas lingkungan menyebabkan warga musiman (juga warga lain yang bersikukuh dengan tradisonalitasnya) terpinggirkan secara ekonomi, sosial, dan politik.
Realitas sosial, ekonomi dan pilitik di kota mendorong warga musiman berintegrasi dengan sesama warga musiman. Kesamaan latar belakang sosial ekonomi, budaya, dan politik, mendorong komunitas warga musiman meneguhkan identitas kulturalnya sebagai wahana tindakan strategis dalam beradaptasi dengan realitas lingkungan sosial budaya kota Surabaya.
Ikatan emosional menjadi dasar terbangunnya interaksi sosial, mempererat ikatan-ikatan sosial, dan menumbuhkan kepentingan kolektif dalam struktur sosial warga musiman. Dalam interaksi sosial yang intensif, tumbuh dorongan menyatakan eksistensi sosial budaya, identitas diri dan budaya kolektif yang berakar dari lingkungan budaya asal. Perasaan dalam “budaya selingkung” mendorong kelompok warga musiman memilih ekspresi seni yang sama sebagai pernyataan identitas diri, hiburan, dan sarana menguatkan solidaritas sosial (Budhisantosa.1981: )
Integrasi sosial warga musiman tersebut memposisikan kesenian Jaranan menjadi media hiburan, media pelepasan beban psikis, bahkan dalam kondisi tertentu menjadi katarsis frustasi ekonomi dan sosial. Sebagai kesenian urban, Jaranan memiliki fenomena yang khas yang berkaitan erat dengan realitas sosial, ekonomi, dan kondisi psikologis warga musiman. Dalam menjalankan fungsi sosial dan estetiknya kesenian Jaranan memiliki sifat lentur, lemas, liat, dan kenyal dalam beradaptasi dengan realitas lingkungan masyarakat.
Kesadaran-kesadaran kolektif muncul karena pertemuan intensif dalam tempat kerja, tempat cangkrukan, dan perjumpaan-perjumpaan lainnya. Kesetaraan peran dan status sosial, perasaan senasib mengukuhkan solidaritas sosial untuk menjalin interaksi yang lebih intensif melalui berbagai kegiatan sosial. Alasan utama dan mendasar terbentuknya komunitas warga musiman adalah identitas kultural yang sama.
Perasaan dekat dengan “budaya alus” (Jawa Mataraman oriented) mendorong merasa tidak cocok dengan perilaku blak-blakan (dalam konotasi kasar) terutama sekali dengan budaya kota/metropolis yang cenderung individualitas dan matrealistis. Relevan dengan paparan Beilharz bahwa persoalan mengenai hubungan antara kehidupan ekonomi masyarakat, perkembangan psikologis individu-individu serta perubahan di dalam area-area kebudayaan tertentu mencakup warisan intelektual yang berupa ilmu pengetahuan, seni, dan agama, tetapi juga mencakup hukum adat kebiasaan, fashion opini publik, olah raga, hiburan, gaya hidup, dan sebagainya (Bronner dan kellner 1989:33)
Faktor budaya bawaan, yaitu budaya agraris tradisional yang terintegrasikan dalam sikap kolektif, komunal dan berhubungan secara utuh dengan realitas lingkungan melatari kontak latar dengan budaya metropolis. Konflik tersebut semakin menukik dirangsang oleh faktor latar dan status sosial oleh realitas masyarakat pinggiran.
Kesenian Jaranan dalam kehidupan warga musiman memiliki fungsi kultural mencakup aktualisasi nilai-nilai kultural yang berkaitan erat dengan nilai kehidupan sosial, nilai estetik kesenian yang dihayati sebagai ekspresi komunal dan individu, serta pencapaian kearifan hidup yang berkar pada kearifan kultural. Nilai sosial terungkap lewat istilah sayuk, guyub, dan rukun2, sedangkan nilai estetik kesenian terungkap lewat istilah regeng, gayeng dan marem. Pencapai nilai kearifan hidup tercermin dalam istilah lejar dan pajar, yaitu keterlepasan dari beban, pencapaian pencerahan hidup.

II. Nilai Sayuk, Guyub, dan Rukun
Dalam konteks behaviouristiknya kaitan sistem nilai sayuk guyub rukun memposisikan konflik sosial, ekonomi, juga budaya sebagai mediator bagi nilai-nilai yang ada dalam membangun integrasi dan kohesi dalam Realitas masyarakat pinggiran, khususnya warga musiman pada tatanan simbolik istilah sayuk, guyub, rukun. Dalam budaya Jawa dapat dirumuskan dalam dua istilah (tembung saroja) sayuk rukun atau guyub rukun memiliki satu pengertian yang utuh. Dalam konteks behaviouristrik sayuk, guyub, rukun berkaitan erat dengan nilai individual dan Sosial.
Nilai toleransi “ngono ya ngono ning ya aja ngono” merupakan kearifan yang mencoba tetap meletakkan nilai individual dan nilai kemasyarakatan tetap berimbang tanpa memberikan gangguan yang berarti bagi integritas dan kemasyarakatan. Dengan demikian integritas dan kohesivitas dalam tatanan kehidupan masyarakat tetap terjaga. Ada hubungan relasional yang significant antara “ngono ya ngono ning ya aja ngono” dengan sayuk, guyub, rukun dalam kehidupan sosial warga musiman.
Bentuk toleransi yang terungkap lewat partisipasi aktif dalam perilaku warga musiman dalam gotong royong, sambatan, dan rewang. Partisipasi aktif ini mencerminkan nilai dan sikap sayuk yang secara behaviotristik diwujudkan secara nyata dalam aktivitas kelompok secara serempak. Spirit untuk saling menolong, bekerjasama tanpa pamrih secara jelas sebagai manifestasi dari sikap Rukun. Dalam konteks interaksi sosial hal tersebut merupakan manifestasi kesadaran kolektif untuk tetap membangun integritas individu di tengah-tengah realitas lingkungan dan masyarakat.
Secara umum dalam beronteraksi dan berkomunikasi komunitas Kesenian Jaranan selalu dipandu oleh etika budaya Jawa yang berakar pada konsep pengendalian diri dengan meper hawa nepsu lebih merngutamakan keselarasan dengan lingkungan, sebagaimana juga diungkapkan oleh Damami,
Dari sikap diri (sikap pengontrol dari dalam diri – sendiri) ini lalu mewujudkan tampilan-tampilan yang penuh kerendahan -hatian, seperti apa yang disebut ” Rikuh” Pekewuh” dan ” Isin”. Sama halnya karena dalam sikap etis itu akan dimunculkan suasana ” Rukun” dan “kurmat” maka sikap – sikap empatif (merasakan perasaan orang lain) menjadi besar. Dengan adanya sistem etis yang berprinsip pada ” rukun” dan”kurmat” maka muara hasil yang ingin dicapai adalah ” keselarasan” termasuk keseimbangan dan keserasian (2002: 50-51)

Pada kehidupan warga musiman yang bergabung dalam komunitas jaranan ditemukan kearifan dalam menyikapi setiap konflik. Sikap toleransi yang tinggi terhadap kesalahan orang lain. Penyimpangan perilaku, konflik yang terbuka dipendam dengan sikap batin “Ngalah” untuk tetap menjaga keutuhan dan kerukunan.
Hal ini menyebabkan timbulnya nilai dan sikap sayuk, guyub, dan rukun. Sayuk merupakan istilah yang mengandung pengertian dan aspek-aspek bekerja kebersamaan, guyub mengarah pada aspek-aspek sikap menjaga karena keutuhan kelompok relevan dengan etika yang ada, rukun lebih mencerminkan sikap dan perilaku yang mencerminkan aspek yang dilawankan dengan pertengkaran, pertikaian yang mengakibatkan perpecahan kelompok atau komunitas.
Secara normatif dalam komunikasi Kesenian Jaranan di wilayah Surabaya pinggiran istilah ngono jo ngono ning aja ngono memiliki kaitan dengan istilah suguh, guyub dan rukun. Nilai -nilai yang terkandung dalam istilah tersebut merupakan satu sistem yang utuh dalam proses berhubungan integrasi sosial warga musiman. ngono jo ngono ning aja ngono merupakan sebuah istilah yang mengandung nilai perilaku yang didasarkan pada batas-batas kelumrahan nilai yang bersifat manusiawi.
Secara mendasar istilah ini menolak kesemena-menaan “sewiyah-wiyah” dalam berperliku atau memperlakukan dan menyikapi sesuatu. Secara psikologis ngono jo ngono ning aja ngono membangun nilai toleransi dalam interkasi sosial warga musiman atau masyarakat pada umumnya. Relasi sistem nilai tersebut digambarkan dengan bagan sebagai berikut,

Bagan 1. Relasi nilai kultural dalam proses integrasi sosial

Sikap toleransi yang tinggi berakar pada sikap perilaku bertoleransi yang didasari pada relativitas Jawa yang tercermin kuat istilah ngono ya ngono ning aja ngono. Istilah ini secara filosofis memandu timbulnya sikap toleransi terhadap sikap dan perilaku orang lain. Dalam perilaku sehari-hari tercermin dalam menyikapi perilaku orang lain baik yang disukai maupun yang sama sekali tidak disukai, dapat diamati pada contoh sikap Cak Kholig pada Pakdhe Wahab. Pada dasarnya Cak Kholiq sudah Ketaton/terluka perasaannya karena terkena Awu anget masalah Pakdhe Wahab dalam pengelolaan uang tanggapan.
Dalam hal ini Kholiq, memiliki toleransi dan solidaritas yang kuat dengan Pakdhe Wahab. Karman menilai sikap Kholig ini sebagai sikap yang arif, walau pernah difitnah tetapi tetap rukun, secara jelas diungkapkan sebagai berikut,
“lek gak nginthil “Cethok” atene yak napa. Tiyang empun sepuh mas! ate nyambut apa awake wis gak ringas ………. Cak Kholiq nggih tetep “Ngrukuni” mas masiya lara ati artinya kalau tidak menguntit cethok mau apa. Orang tua mas! Mau bekerja badan sudah tidak bersemangat/loyo..Cak Kholiq ya tetap mau rukun walau sakit hati (Wawancara, 2 Februari 2005)

Sikap toleransi yang lain melekat apa perilaku Pakdhe Wahab ketika penyikapi latihan Candra Budaya dalam rangka persiapan “gebyagan” Pakdhe Wahab tidak suka karena merasa kecolongan anggota Turangga Mukti semua mendukung Candra Budaya , ketika itu Pak Kacong mengundang Pakdhe Wahab untuk latihan. Sudah barang tentu hal itu bukan ha yang menyenangkan bagi Pakdhe Wahab, tetapi Pakdhe Wahab tetap hadir dalam latihan.
Dalam latihan tersebut Pakdhe Wahab tidak berpertisipasi sebagai pemain, hadir untuk melihat, berbincang-bincang, bertemu dengan komunitas jaranan yang lain. Pakdhe Wahab tetep ngguyubi hadir dalam latihan untuk menjaga perasaan anggotanya, terungkap lewat tuturan lesannya, “sawangane to mas Joko, masiya-ya apa ya apa arek-arek yang kudu diguyubi………nggih kudu empan papan kula niku wong tuwek dianggep ngerti! ya kudu Jawa Kenek ngono ning ya aja Ngono artinya diparhatikan orang banyak mas joko…bagaimanapun juga anak-anak itu kan harus tetap diajak berkumpul harus ada kebersamaan. Harus tahu diri saya itu orang tua harus memahami dengan baik. Tidak boleh semena-mena (Wawancara, 24 Februari 2005).

III. Nilai Regeng, Gayeng, dan Marem
Partispasi komunitas Kesenian Jaranan dalam peristiwa pertunjukan dilandasi oleh semangat kolektif warga musiman, kehadiran mereka sebagai pemain ataupun pendhemen menjadikan pertunjukan semarak. Latar belakang budaya, kesamaan cita rasa dan selera berkesenian yang dibentuk memori kultural menjadi unsur yang subatansif bagi kehidupan. Kesenian Jaranan dalam realitas lingkungan masyarakat pinggiran kota Surabaya. Estetika kolektif yang dibangun oleh sense of community memilki pengaruh terhadap bentuk dan nilai pertunjukan, konvensi bentuk, pola penggarapan medium, perilaku estetik dalam pertunjukan, merupakan refleksi budaya indegenious.
Intergritas sosial warga musiman yang hadir dalam komunitas seni jaranan mendorong terbangunnya kembali sistem nilai lama dalam tatanan budaya asli. Romatika padesan yang agraris menggambarkan dan kemampanan kenyamanan sosial ayem tentrem mendasari suburnya estetika kolektif jaranan yang divariasikan dengan lagu campursari, lagu-lagu dangdut, maupun gendhing langgam menjadi fasilitas sosial yang menjamin kehadiran partisipasi warga musiman dalam aktivitas pertunjukan jaranan.
Peristiwa Aktivitas keseharian (daily activity), latihan, maupun pentas yang berkaitan erat dengan Kesenian Jaranan menjadi lembaga yang menampung aktivitas estetik. Kesinambungan dan keserempakan perjumpaan-perjumpaan menjadikan aktivitas kesenian menjadi gerakan sosial yang mengukuhkan nilai estetik yang berakar pada kolektivitas, solidaritas, dan integritas. Dalam konteks peristiwa estetiknya dapat disebutkan tiga nilai estetik yang terbentuk oleh interaksi sosial warga musiman dalam pertunjukan jaranan yaitu, (1) nilai regeng, (2) gayeng, (3) marem.
(1) Regeng. Regeng merupakan suasana nyaman, senang, suatu atmosir pertunjukan yang dibangun oleh kehadiran dan paartisipasi aktif pelaku pertunjukan. Regeng juga dipahami sebasgai gambaran situasi emosional ramai tetapi teduh dibangun keteraturan peran, aktivitas yang didasarkan pada sikap saling menjaga, menghormati, dalam berkomunikasi untuk menciptakan suasana nyaman, enak, dan dinamis dalam pertunjukan.
Atmosfir regeng berkaitan erat dengan nilai dan semangat guyub rukun, dari kolektivitas, solidaritas, dan integritas membangun rasa nyaman, enak, dan senang. Interaksi sosial yang dinamis terkendali yang dijalin lewat keserempakan warga musiman dalam menyelenggarakan aktivitas sosial dan estetik, sense of comuntity semakin menguat.
Regeng secara umum diukur lewat kehadiran peran-peran sosial dengan partisipasi sosial yang dibangun lewat interaksi dinamis. Regeng dapat diartikan sebagai manifestasi kepekatan interaksi sosial berbagai peran sosial dalam membangun situasi emosional kolektif dalam realitas pertunjukan. Semakin banyak yang hadir dan berpartisipasi dalam realitas pertunjukan suasana regeng semakin menguat.
Regeng dalam penuturan warga musiman juga dipahami sebagai ikut berpartisipasi aktif dalam membangun suasana emosional semuwa, terungkap lewat kehadiran warga musiman sebagai pendhemen jaranan atau penonton biasa. Ndherek ngramekaken kajenge regeng merupakan istilah yang mencerminkan kerelaan partisipasi hadir dalam realitas peristiwa pertunjukan, warga musiman hadir menyaksikan latihan sambil berbincang-bincang tentang banyak hal, perstiwa interaksi sosial diluar konteks estetik membangun suasana regeng yaitu suasana yang melingkupi pertunjukan sebagai fokus aktivitas.
Dalam konteks pertunjukan regeng pada dasarnya tidak memiliki kaitan langsung dengan ekspresi estetik secara langsung, tetapi lebih pada gambaran situasi sosial yang hidup dalam realitas pertunjukan. Ikatan emosional yang dibangun oleh kolektivitas, solidaritas, dan integritas warga musiman dikukuhkan oleh memory kultural yang digali lewat ekspresi estetik. Dalam penuturan kehidupan warga musiman pertunjukan jaranan maupun bentuk permainannya dimaknai sebagai sarana hiburan yang sesuai dengan cita rasa, dan selera estetik yang dibentuk indigeniousculture.
Kesetaraan dan keserempakan paritisipasi sosial setiap peran sosial yang hadir dalam realitas pertunjukan menumbuhkan rasa senang, tenang, aman dan nyaman dalam setiap benak warga musiman, perasaan dalam budaya selingkung memberikan peluang besar bagi terbangunnya kualitas estetik dalam pertunjukan jaranan. Regeng dalam realitas peristiwa pertunjukan berpengaruh dalam dalam komunikasi esetetik para pelaku pertunjukan maupun komponen pertunjukan yang lain
Selanjutnya interaksi yang dinamis yang terbentuk antar pelaku pertunjukan dan komponen pertunjukan membangun suasana gayeng, yaitu suasana yang dibentuk oleh interaksi intensif dan dinamis pelaku pertunjukan melalui ungkapan-ungkapan khas yang bersumber pada ekspresi individu yang beragegrasi dengan realitas yang hidup dalam peristiwa pertunjukan.
Interaksi dibangun atas dasar tujuan estetik, yaitu pemuasan perasaan estetik untuk menikmati pertunjukan musik, menikmati tarian, permainan gamelan, nyanyian sindhen, maupun melampiaskan hasrat mengekpresikan diri dengan menari, menyanyikan lagu campursari, serta mencapai ekstase ndadi.
Permintaan gendhing selalu dilakukan oleh pemain dalam keadaan ndadi, tarian pendhemen, tarian pemain jaranan, penonton yang kalap dalam permainan ndadi. Permintaan gendhing tersebut terikat oleh konvensi pertunjukan, sehingga kesempatan munculnya peran individu merupakan space identitas yang menandai kekuasaan egositas pemain terhadap ruang ekspresi yang dipilihnya.
Semakin banyak peluang dan kesempatan yang terkondisikan melalui toleransi, maka ruang ekspresi lebih mencerminkan kohesivitas yang didukung oleh egositas. Ruang ekspresi menjadi lebih bersifat intersubyektif, komunikasi estetik menjadi interaktif, responsif terhadap gerakan intersubyektif dalam memperebutkan ruang dan peran dalam realitas pertunjukan.
(2) gayeng. Esensi gayeng melekat pada wacana saling mentertawakan, memperolok, sampai pada saling memberikan pelayanan sosial di dalam pertunjukan. wacana ini menjadikan dinamika pertunjukan hidup dan bersemangat untuk menemukan suasana interaktif, pertunjukan menjadi eksperimental penuh kejutan yang menggelikan, membuat giris dan khawatir, serta memberikan kenikmatan ritmikal dan buaian romantis syair campursari.
Dinamika gayeng dibangun oleh peristiwa permainan pemain jaranan yang memakan pecahan kaca, silet, gerakan tubuh yang memabukan pemain, serta rayuan sindhen lewat syair yang dilantunkan. Gayeng merupakan nilai estetik yang dibangun oleh peristiwa interaksi sosial, perebutan ruang dan peran, kesempatan dan layanan sosial estetik dalam pertunjukan jaranan.
Dalam konteks ini gayeng merupakan gerakan estetik kolektif yang tetap meletakkan penghargaan terhadap kehadiran faktor intersubyektif baik dari sisi emosi individual maupun emosi kolektif. Dengan kata lain gerakan estetik gayeng menghantarkan warga musiman yang berpartisipasi sebagai pelaku pertunjukan jaranan mencapai kepuasan estetik secara individual maupun kolektif.
(3) Marem. Istilah marem dalam konteks tradisi pertunjukan dalam budaya Jawa sangat berkaitan erat dengan perilaku estetik yang berakar pada lelangen, klangenan, dan kekareman. Secara umum pemikiran tentang kesenian dalam budaya Jawa baik yang dibentuk oleh istanasentrisme atau budaya kerakyatan, walaupun istilah mengadung persepsi politis (dikotomi kesenian rakyat dan keraton) pada prinsipnya dalam perilaku estetik memiliki pola sama dari sisi bentuk, ekspresi dan penikmatan.
Lelangen, klangenan, dan kekareman menggambarkan egositas dan personalitas dalam ektivitas estetik lengkap dengan atribut sosialnya. Lelangen bersenang-senang dalam tanda kutib, klangenan berarti obyek yang mendatangkan kesenangan (berkisar pada bentuk kesenian), kekareman berorentasi pada konsep pencapaian kepuasan. Kata seneng, karem, dan marem merupakan istilah yang berkaitan erat dengan kepuasan emosi pribadi yang tidak dapat dikatagorikan sebagai sesuatu yang umum.
Dalam aktivitas pertunjukan jaranan seneng, karem, dan marem berakar pada bentuk kesenian, dan aktivitas estetik pelaku Kesenian Jaranan. Bentuk pertunjukan jaranan dalam konteks pemenuhan kebutuhan estetik terkandung dalam struktur pertunjukan. Bagian awal mencerminkan estetika formal sedangkan bagian kedua yang mencerminkan pembebasan terhadap tekanan estetika formal. Bagian pertama merupakan bagian yang memberikan kesenangan visual auditif dengan pola-pola yang baku, dan terstruktur. Bagian kedua merupakan pemuasan estetik yang bergayut pada estetika pemuasan emosional dengan pola-pola egositas dan personalitas,
Pola bagian pertama disusun dengan gaya ukelan tertentu yang mengikat individu-individu pemain dalam gerakan baku dan formal. Ungkapan-ungkapan yang terkandung di dalamnya memberikan gambaran tentang teknik khas penyusunnya. Warga musiman mendapatkan kebanggaan dengan peran dan identitas baru yang berbeda dengan realitas hidupnya, tampil gagah dengan kostum borjuisnya. Dengan peran dan identitas barunya dalam pertunjukan tersebut, warga Musiman mendapatkan penghargaan dari lingkungannya; mendapat perhatian dan simpati dari banyak orang.
Sportivitas warga musiman dibangun lewat kebanggaan yang muncul dari peran dan identitasnya sebagai pemain jaranan, pertunjukan jaranan pada bagian formalnya memiliki pesona yang menjanjikan imajinasi dan daya pakau bagi pelaku maupun penontonnya. Pesona teknik gerak tari, kostum, juga ekspresi estetik memberikan sentuhan emosional dan kesan-kesan unik, menimbulkan ikatan emosional dan empati-empati baru, yang memberikan spirit daya hidup bagi warga musiman.
Pada bagian ke dua pada saat pemain memasuki walayah ndadi pemain terlepas dari struktur formal, gerakan yang dilakukan, juga perilaku aneh lainnya merupakan aktivitas yang dilakukan dalam batas liminal antara sadar dan ketidaksadaran. Dalam wilayah ndadi tidak saja berkaitan erat dengan kepuasan/marem, tetapi juga erat kaitannya istilah yang kaitannya dengan kekareman atau kesenangan yang membuat orang kalap dan ketagihan.
Sebagai wilayah pembebasan ndadi memberikan jaminan dan peluang bagi ketertekanan, keterabaian, dan ketegangan untuk dibebaskan melalui gerakan tubuh, permainan gamelan, lantunan syair dangdut dan campursari. Dalam ketidaksadaran orang menjadi aman melalakukan penggelontoran terhadap semua beban psikisnya. Permainan yang terwadahi dalam wilayah ndadi tidak saja memberikan kenikmatan yang membuat orang menjadi mabuk, kalap, dan ketagihan.
Gejala yang nampak dan dapat diamati secara umum, yaitu orang dengan sangat mudah manjing ndadi ketika mendengar permainan musik jaranan. Rindu sebelum mencapai ekstase lewat tarian jaranan, lebih suka menari jathilan pada reog tetapi ketika mencapai ekstase sekali untuk seterusnya memilih menjadi pemaian jaranan (njaran) daripada Jathil.
Seorang pemain jaranan memiliki kecenderungan mudah terpengaruh dan ndadi jika tekanan dan beban psikis telah pada puncak ketegangan, atau pikiran sedang kosong. Tanpa mendengar musik jaranan pun juga dapat ndadi/trance. Fenomena ini pernah diragukan Oleh Geertz secara jelas keraguan tersebut disampaikan dalam paparan,
mungkin diragukan bahwa semua keadaan kerasukan itu benar-benar terjadi, saya pernah menyaksikan seorang penari mengalami dua atau tiga kali kerasukan dalam jangka waktu satu jam. Tetapi para penonton percaya bahwa mereka itu kesurupan (1981: 400).

Keraguan tersebut cukup beralasan karena dalam pertunjukan jaranan seorang pemain mungkin kecanduan, belum mencapai titik pembebasan hampa. Sehingga seorang pemain jaranan dapat kesurupan atau ndadi beberapa kali, Karman dalam beberapa pertunjukan ndadi dua atau tiga kali.
Cak Kholik menjelaskan bahwa pada prinsipnya ndadi harus mencapai puncak sehingga tidak ada ganjalan…harus tuntas sehingga kekuatan dalam tubuh terarah dengan baik. “Dayaning awak kedah nelasi…..hawa sing mboten sehat kedah dikuras! Pikirane diseleh kudu bebas, Solahe kudu bebas lepas” artinya kekuatan/energi tubuh harus menggelontor habis….hawa (energi) yang tidak baik harus dikuras habis! Pikiran harus dihilangkan.gerakan harus lepas bebas (Wawancara, 22 Februari 2005).
Fenomena tersebut merupakan gejala psikis yang umum dan biasa bagi komunitas Kesenian Jaranan, Stange menuliskan gejala tersebut dalam paparan sebagai berikut,
Dalam kebanyakan situasi, hanya anggota rombongan yang mudah mengalami tak sadarkan diri, bahkan mereka mudah kesurupan, ndadi hanya dengan mendengarkan irama-irama sepintas lalu melalui radio. Biasanya kondisi tak sadarkan diri dipermudah dengan pembebasan fisik dengan menari-nari mengikuti irama hingga tenaga terkuras habis. Pada saat itulah pertahanan fisik menjadi lemah sehingga peristiwa kesurupan muncul (1998: 37).

Marem atau puncak kepuasan ndadi terletak pada ketuntasan ekstase, sehingga tiap individu memiliki kebiasaannya sendiri dengan segala atribut perilakunya. Gerakan tubuh (tarian), nyanyian, irama musik, dan unsur rupa merupakan refleksi dan ekspresi situasi psikis warga musiman, sekaligus menjadi luapan frustasi, pelepasan beban akibat tekanan sosial ekonomi. Pencapain ekstase estetik melalui intensitas dan totalitas gerakan tubuh, nyanyian, dan irama musik
Dalam konteks tersebut ndadi dalam Kesenian Jaranan merupakan wilayah esktase menjadi bagian yang singnifican dalam pencapaian kepuasan. Dalam bagian ke dua pemain jaranan, pendhemen, maupun penonton dapat terjangkit merasuki dunia trance. Dalam estetika pertunjukan Kesenian Jaranan-terutama sekali dalam wilayah trance–merupakan bagian penting bagi usaha mengkomunikasikan situasi psikis lewat penggelontoran, pengosongan diri, sehingga mencapai wilayah hampa yang dalam konsep pemikiran filosofisnya disebut sebagai kothong nanging kebak
Dalam realitas estetik pertunjukan jaranan (latihan, pentas) menjadi bagian penting sebagai sarana pencapaian kepuasan psikis, kesenangan emosional, dan pelepasan beban psikis norma estetika seringkali bukan sekedar pencapaian teknik tetapi lebih berorientasi pada “regeng, gayeng dan marem”. Bahkan kadang-kadang bentuk dan teknik menjadi relatif sangat sederhana dan cenderung terabaikan.

IV. Nilai Lejar dan Pajar
Sentuhan paling mendasar yang membentuk ikatan emosional kolektif dan solidaritas sosial adalah paheman yang dituturkan oleh Pakdhe Wahab, kearifan hidup sebagai orang yang Jawa didasarkan pada sikap pasrah kepada Gusti Alloh, pemahaman ini hampir mirip dengan mistik kejawen “Sumarah” yang berkembang dalam budaya kebatinan Jawa. Pakdhe Wahab menuturkan ajaran Paheman yang ditafsirkan pada warga musiman yang bergaul dekat dengannya.
Karisma spiritual Pakdhe Wahab menjadi fasilitas sosial yang bersifat spiritual bagi terjadinya peristiwa-peristiwa sosial dan kesenian di Klampis Ngasem. Daya tarik, minat untuk mengadakan perjumpaan-perjumpaan menjadikan komunitas warga musiman semakin intensif dalam berinteraksi.
Hal ini memudahkan serta mengukuhkan integrasi sosial di kalangan warga musiman dalam pemikiran yang mendasar aktivitas terdsebut menumbuhkan keteraturan behaviouriostik yang berkaitan erat dengan egrak sosial masyarakat. Sebagaimana dikatakan oleh Basrowi pada prinsipnya dalam kehidupan manusia ada tiga bentuk aturan yang mengatur perilaku manusia dalam berintreraksi sosial yaitu: aturan mengenai ruang, aturan mengenai waktu, sikap dan gerak tubuh (2004: 99).
Sudah barang tentu budaya Jawa “Klenik” sangat efektif menyuburkan paheman-paheman kebatinan, mistik kejawen, dan akhirnya menjadi gerakan sosial lewat interaksi-interaksi yang dibangun lewat komunikasi yang bersifat realistik maupun pada tataran mistis dan simbolis. Ini merupakan interaksi yang bersifat alamaih sebagaimana dituliskan oleh Basrowi sebagai berikut,
Interaksi yang terjadi secara alami antar manusia dalam masyarakat yang mencakup hubungan antar induvidu dan masyarakat. Interaksi antar individu berkembang melalui symbol yang diciptakan, realitas sosial merupakan rangkaian peristiwa intaraksi simbolis antar individu. Secara sadar individu menggunakan bahasa tubuh, gerak, vocal, dan semua aspek yang mengekspresikan dirinya sebagai pernyataan simbolisnya. (Basrowi 2004: 95)

Cak Kholiq, Karman, Kek Makruf, Kek Muri dan beberapa orang warga musiman, juga beberapa pendatang yang memiliki latar budaya Jawa mataraman berkumpul “Klenikan” saling mencocokkan pemahamam mereka tentang bagaimana hidup itu bisa “rahayu selamet” dengan “larasan batin” yang tetap bergayut pada sikap batin “sumarah”. Prinsip ngerti, weruh, waskitha dan wicaksana dicapai dengan ketenangan batin, dan sikap pasrah. Dalam konteks kehidupan pandangan tersebut merupakan suatu ideologi yang memandu perilaku warga musiman untuk mencapai kearifan hidup.
Dalam konteks yang lebih mendalam akivias “Klenikan” yang dilakukan warga musiman merupakan bagian dari aktivitas “meguru” untuk memperdalam ngelmu kebatinan “laku dan nglakoni” pada akhirnya juga menjadi bagian mendasar dalam kehidupan warga musiman. Kesamaan paheman dan hal kebatinan ini menjadi bagian penting yang secara psikis mengukuhkan solidaritas dan kolektivias warga musiman.
Spiritualitas tersebut menjadi faktor genetik tumbuhnya kelompok-kelompok sosial dan masyarakat pinggiran di kota Surabaya. Hal ini merupakan kecenderungan budaya yang dapat ditemui dalam setiap kehidupan masyarakat Jawa, mengatasi tantangan hidup, kesulitan sosial ekonomi dengan pengendalian diri “meper hawa nafsu” serta sikap batin “pasrah, semeleh, sumarah dengan alam dan realitas yang digariskan dalam kehidupan.
Dalam konteks kehidupan sosial sikap religius secara psikis mendorong anggota masyarakat (warga musiman) secara individual mengaktualisasi dirinya dalam kehidupan masyarakat sosialnya, dari sikap batin dan religi yang dipahaminya. Secara individu warga musiman memegang norma-norma yang secara mendasar menjadi panduan dalam komunikasi dan interaksi sosialnya.
Tepa slira, empan papan, sengguh mungguh merupakan cerminan sikap batin yang berorientasi dalam kehidupan sosial, etos dan mitos kehidupan sosial di pandu oleh norma-norma kehidupan sosial yang berakar pada nilai budaya Jawa mataraman. Sebagaimana diungkapkan secara tertulis oleh Damami sebagai berikut,
“Tepo Selira” merupakan sistem sikap yang mengontrol pada setiap individu berdasar kesadaran diri – sendiri, bukan dari luar, orang lain. Makna ” Tepo Seliro” (Tepo artinya meletakkan, Selira artinya diri pribadi) adalah keputusan hati sendiri secara sukarela dalam meletakkan diri – pribadi dalam sebuah jaringan tata – gaul (2002: 50).

Secara psikis warga musiman telah menggerakkan dirinya dalam komunitas dengan panduan spiritualitas yang dimilikinya. Sikap kolektif, toleransi dan solidatiras menjadi semakin dikukuhkan oleh nilai-nilai yang berakar pada kebatinan Jawa. Hal ini sangat berpengaruh dalam menyikapi kesenian dan estetika yang lahir dari perilaku seninya. Perenungan mendalam terhadap kehidupan sosial dan perilaku esetik dalam berkesenian menemukan kulminasi pencerahan hidup.
Nilai sayuk, guyub, dan rukun sebagai nilai kehidupan sosial maupun nilai estetik regeng, gayeng, dan marem secara sinergis membangun pemahaman mendalam dalam menyikapi realitas hidup. sayuk, guyub, dan rukun memandu warga musiman dalam menjawab tantangan sosial ekonomi, sedangkan regeng, gayeng, dan marem melepaskan beban psikisnya lewat aktivitas estetik.
Kedua aspek ini menjadi unsur signifikan dalam pelepasan beban sosial eknomi baik secara lahir maupun batin. Terlepasnya beban erat kaitannya dengan istilah lejar yang memiliki pengertian bebas tanpa tekanan, senang hati. Lejaring penggalih maupun dhanganing penggalih merupakan istilah yang memiliki arti dekat mencerminkan keriangan, ringan hati, dan ketiadaan beban.
Yayuk menyatakan bahwa dengan Kesenian Jaranan orang dapat berkumpul saling membantu, meringankan beban, melepaskan uneg-uneg, karep, maupun keinginan. Dengan menari, dengan memainkan gamelan, serta menyanyi orang dapat kembali menemukan keselarasan, pikiran menjadi terang (Wawancara, 24 Desember 2004). Secara implisit pernyataan Yayuk mencerminkan keterlepasan beban psikis, lejar atine (lega dan senang hatinya) dan pajar pikire (pikirannya menjadi terang dan terbuka).
Secara mendasar penguatan terhadap nilai sosial sayuk, guyub, rukun maupun nilai estetik regeng, gayeng, marem didukung oleh sikap religius yang berakar pada kearifan kultural. Secara skematis sinergi nilai-nilai tersebut dapat digambarkan sebagai berikut,
Bagan 2. Skema relasi nilai kultural: pencapaian kulminasi nilai lejar pajar

Secara umum warga musiman yang bergabung dalam komunitas Kesenian Jaranan lebih memposisikan aktivitas keseniannya sebagai wacana penyelarasan hidup. Bentuk pertunjukan Kesenian Jaranan menjadi slimuran untuk memberdayakan diri mencapai keseimbangan antara tantangan sosial ekonomi dan sikap bertahan ideaalisme mencapai kemapanan. Resistensi dari sikap batin tersebut akhirnya melahirkan sikap sabar nrima sebagai kerifan dalam menyikapi realitas hidup di lingkungan perkotaan.
Cak Kholik menyatakan pokoke mlampah, ini menyiratkan makna mendalam tentang kesabaran, keuletan. Bekerja harus utun temen/penuh kesungguhan. Secara jelas dinyatakan secara lesan, “Manah kedah sabar lejar, pikirane saged padang wiyar mas joko……kesenian kebatinane nggih ekonomine kudu bareng megare driji mregawe” artinya hati harus sabar tanpa beban, pikiran harus terang luar….kesenian, kebatinan, dan ekonomi harus serempak bekerja (Wawancara, 22 Februari 2005).

DAFTAR PUSTAKA
Ahimsa Putra, Heddy Shri.
2000. Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta: Galang Press
2001 Strukturalisme Levi strauss: Mitos dan karya sastra. Yogyakarta: Galang Press
Barnett, HG.
1941.Personality Conflick and Culture Change”, in Social Force,XX,
hlm. 160-171
Barrucha, R.
1999. “Interkulturalisme dan Multikulturalisme di Era Globalisasi,
Diskriminasi, Ketidakpuasan”, dalam Jurnal Masyarakat Seni
Pertunjukkan Indonesia, No 4, Th. IX 1998 – 1999, hlm. 9-26.
Boskoff, Alvin.
1964. “Recent Theories of Social Change.” Dalam Werner J. Cahman dan Alvin Boskoff, ed., Sosiology and History. London: The Free Press of Glencoc, p. 140-157
Bouvier, Helene.
2002 . Lebur: Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura
(terjemahan Rahayu S. Hidayat, Jean Ceuteau) Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.
Brandon, James. R
1989. Theatre in Southeast Asia. (Alih Bahasa Soedarsono) Yogyakarta: ISI.
Budhisantosa.
1981 “Kesenian dan Nilai-Nilai Budaya” dalam Analisis
Kebudayaan. Th II 2 Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Giddens, Anthony.
2003. The Constitutions of Society: Teori Strukturasi untuk Analisis Sosial. Alih Bahasa:mAdi Loka Sujono. Yogyakarta: Pedati.
Hauser, Arnold.
1978. The Sosciology of Art. Chicago: The University of Chicago
Press
Hutomo, Suripan Sadi.
2001. Sinkretisme Jawa – Islam: Studi Kasus Seni Kentrung Suara
Seniman Rakyat. Yogyakarta: Bentang.
Lindsay, Jennifer.
1995a. “Cultural Policy and the Performing Arts in South East Asia”, in Bijdragen Tot de Taal, Land – en Volkenkonde, 151, 4e. p. 656 – 671.
1995b. Klasik, Kitsch,Kontemporer: Studi Kasus Seni Pertunjukan Jawa . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Pigeaud.
1938. Javanese Volkstorningen: Bijdrage Tot De Beaschrijving Van Land En Volk. Alih bahasa KRT Muhammad Husodo Pringgokusuma Yogyakarta: Volkslectuur Batavia,
Peacock, James L.
1968.Rites of Modernization: Symbolic and Social Aspects of
Indonesian Proletarian Drama. Chicago & London: The
University of Chica- go Press.
Poerwanto, Hari.
2000. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antroplogi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Prakosa, Rohmat Djoko.
2000. “Surabaya Mati Suri” Wacana Massa Jenuh Bagi Seniman Tari, Makalah Apresisi Tari Dewan Kesenian Surabaya. 11 Februari 2000.
2002.”Pengembangan Tari”, Wacana Retorik Pengembangan
2003.Kesenian dalam Era Otonomi Daerah. Makalah Diskusi Pengembangan Tari di Era Otonomi Daerah, Dewan Kesenian Malang. 9 April 2000.

2003. “Seniman Jaranan lan Reog Pinggiran”. Surabaya, Jaya Baya.
Temprina Media Grafika. No.28.09-15 Maret 2003. Hal 22-23.
Rohidi, Tjetjep Rohendi.
1993. Ekspresi Seni Orang Miskin: Adaptasi Simbolik Terhadap
Kemiskinan. Disertasi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Royce, Anja Peterson.
1981. The Anthropology of Dance. Bloomington, London: Indiana
University Press
Spradley, James P.
1997.Metode Etnografi. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana

Sumardjan, Selo.
1981. “Kesenian dalam Perubahan Kebudayaan”, dalam Analisis
Kebudayaan, Th. I, No. 2, 1980/1981.
Biodata
Rohmat Djoko Prakosa, Dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya lahir di Sukoharjo 16 Mei 1965. Setelah lulus SPG Negeri Rembang melanjutkan Kuliah S I Seni Tari pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. Menyelesaikan program pasca sarjana Institut Seni Indonesia Surakarta tahun 2006. Aktif dalam berbagai forum diskusi, penelitian seni dan budaya, aktif dalam penulisan karya ilmiah dan karya Seni.
Menulis kritik dan essay seni pertunjukan, tari, dan sastra pada berbagai media masa dan jurnal ilmiah seni antara lain: Majalah Gong, Jaya Baya, Panyebar Semangat, Majalah Kidung, Jawa Pos, jurnal ilmiah seni Prasasti, Ekspresi, Padma, Bende, dan Cakrawala.
Sekarang menjabat ketua Jurusan Tari pada Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, Ketua Jum’at Legi Art Nert Work. Aktif dalam Paguyuban Pengarang Satra Jawa Surabaya, Ketua Komunitas Satra Tutur Surabaya, dan aktif sebagai penata tari. Beberapa karya tari yang dipublikasikan antara lain: Res, Rah 123, Mak, Lak, Lud, Luk, Luh, Sir, Wuk, Ndhog,

Explore posts in the same categories: Kesenian Tradisi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: