RIWAYAT KERONCONG


1.Dari Portugis ke Jawa

CAFRINHO kiteng santadu, Lanta pio bata-bata, Cafrinho kere andakaju, Tira terban naji sako, Pasa pasa na bordumaar, Ola nabi kare nabiga, Vilu vilu nangkorsang mal, Nungku atja justisa,Dangli di dandang, Belu kordang barla bongbang, Ung makas mante nomau, Koro bala ungjong jifrau.
Dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya demikian: Kafrinyo sedang duduk bermain, Angkat kaki sambil berdansa, Kafrinyo mau permisi pulang, Angkat topi beri selamat, Jalan-jalan di pantai laut, Lihat kapal sedang berlayar, Anak-anak jangan berpikir jahat, Akan tersangkut perkara polisi, Hanya bicara tak ada artinya, Menari dansa sambil bergaya, Uang sesenpun tak ada di tangan, Tetapi berani meminang.

Berbeda dibandingkan lagu keroncong pada umumnya yang mendayu-dayu, lagu-lagu yang dibawakan oleh anak-anak muda komunitas Kampoeng Toegoe dari Jakarta Utara ini membawakan lagu berjudul Cafrinho (baca: kafrinyo) itu dengan lebih khas, riang, penuh semangat! Irama lagunya pun lebih cepat dibanding musik keroncong umumnya. Ini terjadi pada tahun 2000.

Pada masa yang sama, keroncong sebenarnya sedang mengalami sejumlah perkembangan yang siknifikan. Maraknya kesenian rakyat campursari di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sebagian wilayah Jawa Tengah sejak tahun pertengahan tahun 1999 memperlihatkan bahwa seni tradisi masih berakar di tengah kehidupan masyarakat. Hal ini dikatakan Dr Felicia Hughes-Freland, antropolog dari University of Wales Swansea, Inggris, ketika memaparkan materi perkembangan seni tayub Desa Munthuk, (Kabupaten Bantul Yogyakarta) di Pusat Pengkajian Kebudayaan dan Perubahan Sosial (PPKPS) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, 25 Agustus 1999.

Dr Felicia Hughes melihat gejala menguatnya aspek-aspek lokal itu diduga merupakan bagian dari semacam semangat perlawanan atau counter culture terhadap dominasi budaya global. Antropolog yang menulis disertasi berjudul The Search For Sense: Dance in Yogyakarta yang terbit tahun 1986 itu menilai, perkembangan bentuk kesenian campursari seperti campursari tayub, campursari angguk, atau campursari angguk dan jatilan seperti yang terjadi di DIY dan wilayah Jawa Tengah lainnya, sebenarnya berlawanan dengan konsep kesenian adiluhung, yang umumnya berkesenian dengan pembatasan-pembatasan tertentu dan mempertahankan keaslian.

Ini terjadi karena budaya Indonesia sedang dalam masa transisi. Diharapkan para seniman keroncong yang masih mempertahankan bentuk keaslian keroncong dapat melakukan perubahan, sehingga bisa mengubah struktur estetika yang diacu masyarakat. Keberlanjutan keroncong dengan sendirinya perlu dilakukan dengan mengadakan pendekatan atau bahkan pembauran dengan musik lain.,

Karena keroncong sebenarnya bukanlah musik yang kaku. Kolaborasi dengan jenis musik lainnya akan membuat keroncong semakin kaya warna. Yang lebih penting lagi, keberlanjutan musik keroncong akan lebih menjanjikan. Kalau tidak, kita akan tertinggal dari Malaysia yang saat ini sudah mulai mengembangkan keroncong.

Apakah musik keroncong akan mati dan hanya tinggal menjadi barang museum musik nasional kita? Tentunya pertanyaan ini bisa menyinggung dan melukai perasaan para musisi keroncong walau mereka melihat fakta ke arah itu sangat jelas..

Pertanyaan tentang masa depan musik keroncong, disikapi dengan arif oleh tokoh keroncong asal Solo, Andjar Any, yang tidak tidak sependapat dengan banyak kalangan yang memprihatinkan masa depan musik keroncong. Karena katanya perubahan dalam musik keroncong harus dilihat sebagai air yang terus mengalir. Kalau dalam perjalanan air itu mesti tersangkut pada sesuatu, memang harus demikian, dan anggaplah itu sebagai bagian dari proses perjalanan.

Kerisauan sejumlah kalangan bahwa kemerosotan yang dialami musik keroncong, antara lain, lantaran terdesak oleh berkembangnya musik campursari, menurut pencipta lagu Yen Ing Tawang Ono Lintang dan Jangkrik Genggong ini, sebaliknya disikapi sebagai proses perkembangan musik secara umum.

Munculnya musik campursari yang pada awalnya berangkat dari musik keroncong asli dan langgam, yang merupakan kreativitas dan kebebasan berkesenian untuk senantiasa melakukan pengembangan. Campursari tetap menggunakan dasar-dasar keroncong. Ada yang cenderung ke musik karawitan, ada yang cenderung ke keroncong. Tetapi semua itu merupakan bagian dari perjalanan musik keroncong, sehingga apa pun bentuknya tidak masalah karena membuktikan bahwa musik keroncong tidak mandek. Tentu saja pengembangannya pakem dan kaidah dasar musik keroncong harus dicairkan atau harus lebih luwes. Kemerosotan musik keroncong antara lain disebabkan pakem dan kaidah yang dianggap kaum muda membelenggu.

Walau demikian sempat juga kalangan musik keroncong terkejut ketika Juhartono atau yang leboh dikenal sebagai Jujuk Eksa meng-congcut (keroncong-dangdut)-kan Words grup legendaris The Bee Gees arau kemudian Rama Aiphama meng-disco-reggae-kan Dinda Bestari.

Sementara Manthous dengan Grup Campursari Maju Lancar Gunungkidulnya menjadi kiblat para pencinta lagu-lagu langgam Jawa. Musik garapannya tidak sekedar memadukan musik tradisi Jawa (gamelan) dengan alat musik diatonis seperti gitar, keyboard, dan lainnya. Dia membuat padanan nada dengan skala diatonis, dengan cara menyetel seluruh gamelan.

Musik yang digarapnya menampilkan kekhasan campursari dengan langgam-langgam Jawa, juga ada rock, reggae, gambang kromong, tembang Jawa murni seperti kutut manggung dengan gamelan yang diwarnai keybord dan gitar bas.

Anak-anak muda yang tergabung dalam grup musik Krontjong Toegoe, kelihatannya tidak mau ketinggalan. Mereka membawakan lagu Cafrinho yang digubah dalam bait-bait pantun bersambut dengan syair bahasa Portugis dengan semangat kaum muda yang dinamis.

Di Portugal-negeri, yang disebut sebagai asal musik keroncong, gaya yang dimainkan grup musik Kroncong Toegoe disebut moresco. Hingga kemudian masyarakat di Indonesia menyebutnya sebagai keroncong Moresko. Grup musik Krontjong Toegoe, yang dulu dikenal dengan pemusik-pemusiknya yang rata-rata berusia lanjut, sekarang sudah beranggota generasi baru.

Meski Kampoeng Toegoe sudah tidak lagi seperti dulu, sementara orang-orang Tugu pun sudah banyak yang pindah, namun lewat musik yang dikenal sebagai Krontjong Toegoe masih bisa berwisata ke masa lalu. Paling tidak, sekarang ada anak-anak muda Kampoeng Toegoe yang menjadi motor penggerak grup musik Krontjong Toegoe.

Kehadiran keroncong ini berawal dari jatuhnya Malaka dari Portugis ke tangan Belanda pada abad ke 16, sekitar tahun 1590. Orang-orang Portugal yang umumnya tentara keturunan berkulit hitam berasal dari Bengali, Malabar, dan Goa, ditawan dan dibawa ke Batavia. Baru sekitar tahun 1661 mereka dibebaskan setelah diangap tidak berbahaya dan tetap dibiarkan memiliki senjata yang sebelumnya dipergunakan untuk perang. Senjata-sejanta itu kemudian menjadi alat pencari nafkah, yaitu berburu babi hutan.

Mereka bemukim di rawa-rawa teluk Jakarta yang sedang berkecamuk wabah malaria dan influensa. Kawasan itu dinamakan Belanda Tanah Mardika. Dari sinilah menurut Prof. Mr. Dr. Soekanto dalam bukunya Dari Djakarta ke Djajakarta, asal nama mardijker (bahasa Sansekerta mahardhika yang berarti merdeka). Nama itu pada jaman penjajahan Belanda diberikan ke pada budak yang mereka bebaskan, vrijgelentene, yakni yang telah dimerdekakan.

Banyak dari orang-orang Portugis bekas tawanan itu pindah ke kawasan lain Jakarta, antara lain Kemayoran. Mereka yang pindah itu berasimilasi dengan golongan Tionghoa dan Belanda. Sementara yang tetap berada di Tanah Merdeka membentuk komunitasnya sendiri, mardikers dan membangun komunitas yang kemudian dikenal sebagai orang Kampoeng Toegoe, dengan pekerjaan sebagai bertani, berburu, dan mencari ikan.

Sebagaimana budak-budak asal Afrika di Amerika yang di kala senggang seusai mengerjakan sawah-ladang atau berburu mengisi waktunya dengan bermain blues, musik ratapan kaum tertindas, begitu pula dengan para mardikers. Dengan peralatan sederhana berupa alat musik petik mirip gitar kecil berdawai lima yang mereka sebut matjina serta djitera (gitar), seruling dan rebana mereka memainkan lagu-lagu dari tanah kelahirannya, dengan musik yang dominan suara crong…crong…crong dari matjina, yang kemudian dikenal sebagai ukulele.
Mereka berusaha membangun suasana gembira di tengah penderitaan sebagai bekas orang buangan di serambi rumah, bawah pohon sambil menikmati indahnya bulan purnama dan sepoi-sepoi angin pesisir membawakan lagu Moresco:

“Anda-anda na boordi de more, Mienya corsan nunka conteti, Yo buska ya mienya camada, Nunka sabe ele ya undi, Yo buska ya minya amada, Yo buska ele tudu banda, isti corsan teeng tantu door, Yo pronto fula e strella, booster nunka ola un tenti? Fula e strella nunka reposta, Mienya corsan nunka contenti, O bie oki mienya amada, Mienya noiba, moleer bonito, Yo espara con esparansa, E canta cantigo moresco(Berjalan-jalan di pantai, Hatiku gundah gulana, Aku mencari kekasih, Entah berada di mana,Kucari kekasihku, Calon isteri jantung hati, Kucari dimana-mana, Hatiku teramat duka, Kutanya bunga dan bintang, Kau lihatkan seseorang? Bunga dan bintang tak menjawab, Hatiku gundah gulana, O datanglah kekasihku, Calon istriku, O juwitaku, kunanti penuh harapan, Sambil berdendang lagu Moresco).

Syair lagu Moresco berbahasa Portugis dengan dialek Tugu ini diterjemahkan ke bahasa Belanda oleh A.Th Manusama pengarang buku Krontjong als muziekinstrument, als melodie en als gesang (penerbit Boekhandel G. Kolff & Co, Batavia, 1919). Dari bahasa Belanda Kusbini menerjemahkannya ke bahasa Indonesia.

Menurut A,Th Manusama lagu Moresco berasal dari kata Moor, yakni golongan bangsa Arab yang banyak mepengaruhi jalan sejarah dan kebudayaan Eropa Selatan dan Asia. Bangsa Moor pernah menguasai semenanjung Iberia yang terletak antara laut Atlantik dan laut Mideterania di barat-daya Eropa pada bada ke 8, sekarang kawasan ini dikuasai Spanyol dan Portugal. Bangsa Portugis menggolongkan lagu tersebut sejenis lagu gondala (em>gondel lied), lagu pendayung sampan.

Sementara Amir Pasaribu dalam bukunya Musik dan Selingkar Wilayahnya menyatakan moresko berasal dari sebuah tarian Portugis, moreska. Lagu Moresko bersama
Nina Bobo, Prounga dan Cafrinho bisa dikatakan adalah lagu-lagu keroncong pertama, yang oleh Kusbini disebut keroncong Portugis, untuk membedakan dengan keroncong asli Indonesia yang lahir kemudian.

Kampung Tugu terletak di sebelah utara – timur pelabuhan Tanjung Priok dan terbagi 2 kelurahan, Kelurahan Tugu Utara dan Kelurahan Tugu Selatan yang dibelah jalan Pelumpang Semper dan flyover jalan Tol Pelabuhan. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Lagoa dan Kelurahan Kalibaru, sebelum berhadapan dengan Laut Jawa.

Kawasannya ini tentu bukan lagu rawa-rawa, melainkan sudah menjadi tempat permukiman yang padat penduduk dengan segala fasilitas kehidupan modern seperti Rumah Sakit Tugu, Komplek Perumahan Imigrasi, Komplek Pertamina, gereja, kelenteng, masjid, sekolah, pasar dan komplek Kramat Tunggak yang sekarang menjadi Islamic Center. Lokasinya lebih mudah dicapai dari Kawasan Berikat Nusantara (Nusantara Bonded Warehouse) Cakung. Telusuri saja jalan Cacing (Cakung – Cilincing), begitu bertemu jalan Tugu Raya belok ke kiri. Setelah bertemu pasar dan Rumah Sakit Tugu, di sanalah pemerintahan penjajah Belanda membuang serdadu Portugis yang kalah perang sekitar 4 abad silam.

Waktu itu Kampung Tugu ditempuh melalui sungai Cakung dan Kali Semper. Setelah menyusuri pantai Cilincing dari pelabuhan Pasar Ikan. Meskipun tidak dilakukan lagi, sekarang juga sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang sama. Tapi tentu saja dengan tersedianya jalan sebagai transportasi masa kini cara bersampan yang dulu itu nyaris tidak dilakukan lagi, kecuali oleh para nelayan penangkap ikan. Sampan-sampan yang memasuki kali Cakung pada jaman Belanda, sejak kedatangan Jepang tahun 1942 tidak berfungsi lagi.

Disebut Kampung Tugu karena nama Tugu dimaksudkan sebagai tanda batas, versi lain mengatakan Tugu berasal dari kata Portugis, por tugu esa. Dari latar belakang sejarah, katanya di sana pernah ditemukan sebuah batu berukir berbentuk krucut bundar dan bertulis huruf Palawa dalam bahasa Sansekerta dari abad ke 4 dan ke 5 Masehi. Batu itu kemudian disebut sebagai Prasasti Tugu.
Adolf Heuken SJ dalam bukunya Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta(Yayasan Cipta Loka Caraka, 1997) menyebutkan bahwa Prasasti Tugu merupakan peninggalan arkeologis paling tua, yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat. Batu-batu besar serupa, yang bertuliskan nama Raja Purnawarman, ditemukan di tempat-tempat lain di Jawa Barat. Raja ini memerintah sebuah kerajaan yang disebut Tarumanegara. Nama itu mungkin berkaitan dengan nama sungai Citarum, yang mengalir melalui Bendungan Jatiluhur dan bermuara di Laut Jawa, 20 kilometer timur laut dari Tugu.

Tempat ditermukannya Prasasti Tugu disebut Batu Tumbuh, prasastinya sendiri sudah disimpan di Museum Nasional sejak tahun 1911. Yang memiliki nilai sejarah paling tua di Kampung Tugu sekarang adalah sebuah gereja yang berusia sekitar 3,5 abad, yaitu Salib Suci. Bangunannya memang bukan berasal dari abad ke 17, melainkan sudah dibangun kembali dua kali hingga bentuknya yang sekarang.
Meskipun bangunannya yang asli telah beberapa kali direnovasi, sepintas bentuknya mirip bangun yang pertama, sederhana. Dinding dicat putih, dengan jendela dan pintu berwarna coklat. Di depan gereja terdapat kuburan, pendiri gereja, Melchior Leydecker.

Gereja yang dibangun tahun 1678 itu awalnya terbuat dari kayu Tahun 1738 diperbaik karena rusak dan lapuk, disebut Gereja Tugu yang kedua. Lonceng yang dibangun di sisi gereja makin melengkapi penampilan gereja kedua ini. Gereja ketiga dibangun tidak persis di lokasi semula, namun beberapa ratus meter dari gereja yang rusak akibat sebuah peristiwa kerusuhan. Lonceng gereja yang ada saat ini adalah replika lonceng yang dibuat bersama gereja kedua.

Kehidupan sehari-hari masyarakat di Kampung Tugu sekarang ini tidak berbeda penduduk ibukota lainnya. Tapi sekarang warga keturunan Portugis menjadi minoritas, karena padatnya penduduk pendatang. Keluarga Andre J Michiels yang tinggal tidak jauh dari Gereja Tugu atau keluarga Martinus Cornelis yang rumahnya berada paling timur di seberang Jalan Cacing, mereka memang terpencar sejak dulu. Ketika nenek moyang mereka mendiami tempat itu pada tahun 1661, masih berupa rawa-rawa. Lalu mereka mengolah lahan menjadi sawah atau kebun.

Di samping bertani, dulu keturunan Portugis di Kampung Tugu juga menangkap ikan di kali atau di laut. Mereka berburu babi hutan atau celeng di hutan-hutan sekitarnya. Hasil buruan mereka yang kemudian dibuat dendeng asin, dikenal sebagai dendeng Tugu yang lezat dengan kualitas yang sulit dicari tandingannya.

Sebagai daerah pertanian, kala itu Kampung Tugu memiliki tradisi pesta panen yang biasanya dilakukan setelah selesai menuai padi di sawah. Dalam pesta yang biasanya diadakan setiap bulan Agustus itu, warga menyisihkan sebagian hasil panennya, ternak, atau hasil kebunnya kepada gereja.

Gereja-melalui panitia yang dibentuk kemudian menjual buah panen itu dan hasilnya diserahkan untuk kepentingan gereja. Seiring tergusurnya daerah pertanian dan perkebunan menjadi permukiman padat dan tempat usaha, warga Kampung Tugu tidak mengenal lagi pesta panen.

Hingga menjelang akhir tahun 1990-an, masih ada keroncong keliling oleh anak-anak muda sambil mengunjungi rumah-rumah pada tengah malam Natal. Mereka menyapa setiap rumah dengan nyanyian dalam bahasa Portugis. Lalu saling bersalaman dengan tuan rumah. Pesta Natal berlanjut dengan perayaan Tahun Baru, yang dimeriahkan dengan orkes keroncong. Mereka bermain musik, menyanyi, dan menari. Pada hari Minggu pertama setelah pergantian tahun, diadakanlah pesta mandi-mandi. Sekarang ini tidak ada yang basah dalam pesta mandi-mandi, sebab mereka hanya saling mengolesi bedak cair ke wajah. Mandi-mandi konon adalah simbol saling membersihkan diri dan saling memaafkan.

Warga keturunan Portugis yang tinggal di sekitar Gereja Tugu tahun 2006 diperkirakan kurang dari 100 keluarga dan sudah berdarah campuran. Tapi tinggal di luar Kampung Tugu atau daerah lainnya, diperkirakan sekitar 200-an keluarga. Jumlah itu sebetulnya sangat kecil dibanding kemampuan mereka bertahan yang hampir empat abad.

Keportugisan mereka mulai pudar meski di tubuhnya tetap mengalir darah Portugis, karena mereka menganut sistem kekerabatan yang bersifat patrilineal. Banyak yang terpaksa melepas fam (nama keluarga) karena kawin dengan keturunan Manado, Maluku, Timor, Jawa, atau Tionghoa. Pada mulanya terdapat belasan fam di Kampung Tugu. Namun karena faktor perkawinan campur tadi atau karena tidak memiliki anak laki-laki, beberapa fam tidak terpakai lagi. Angkatan ke sembilan dari keturunan Portugis sekarang tersisa enam fam: Michiels, Andries, Abrahams, Browne, Quiko, dan Cornelis.

Warga muda Kampung Tugu memiliki tradisi bermain keroncong keliling sambil mengunjungi rumah-rumah warga pada malam Natal. Pemilik rumah baru mau membuka pintu jika pimpinan rombongan telah mengucapkan salam berbahasa Portugis: Pisingku dia di Desember, nasedu di nos Sior jamundu Libra nos pekader unga ananti dikinta ferra asi klar kuma di dia unga anju di Sior asi grandi diallergria. Asi mow boso tar. Dies lobu Sua da bida cumpredae lampang kria so podeer, Santu Justru.(pada tanggal 25 Desember, Tuhan telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Juru Selamat, agar barang siapa yang percaya kepada Dia tidak binasa, melainkan mendapat hidup yang kekal, dan hendaklah kita dapat menaruh harapan kepada-Nya).

Kebiasaan itu dimaksudkan untuk menghargai peristiwa keagamaan sekaligus untuk menurunkan tradisi berbahasa Portugis di kalangan anak muda. Rosalie Gross dalam bukunya De Krontjong Guitar (Uitgeverij Tong Tong, Den Haag, 1972), A.Th. Manusama dan penerbit Naesens & Co menyatakan bahwa lagu-lagu kroncong yang populer semasa penerintahan Belanda bukanlah lagu-lagu keroncong Indonesia yang berkembang sampai sekarang. Rosalie menjelaskan bahwa kroncong adalah peninggalan Portugis dan Indo Belanda dengan menyebutkan dua tokoh musik yang pernah tinggal di Indonesia, yaitu Paul Seelig (1876-1945) dan Fred Belloni (1991-1969).

Pada masa pendudukan Jepang, kegiatan bermusik itu terhenti. Sekitar tahun 1970-an, atas inisiatif Yakobus Quiko, didirikanlah Grup Poesaka Moresko Toegoe. Namun, akibat kurangnya minat kaum muda terhadap musik keroncong, grup ini pun perlahan-lahan bubar.

Sekitar tahun 1988, Arend J Michiels yang juga Ketua IKBT (Ikatan Keluarga Besar Tugu), merasa terpanggil untuk mengangkat kembali kejayaan musik keroncong ini dengan mendirikan grup Krontjong Toegoe yang seluruh anggota pemainnya adalah orang-orang muda. Sejak saat itu, dari waktu ke waktu, proses regenerasi dalam grup Krontjong Toegoe selalu dipertahankan.

Empat Michiels bersaudara, Andre yang pada tahun 2006 berusia 39 tahun, Arthur James 37 tahun, Sartje Margaretta 36 tahun dan Milton Augustino 29 tahun, bahu-membahu bersama beberapa anak muda Kampung Tugu lainnya menjaga warisan para leluhur mereka.

Kalau ada tawaran untuk tampil. mengumpulkan pemain memang tidak mudah. Andre terpaksa kerja keras mengumpulkan teman-temannya yang sudah tersebar di berbagai tempat di luar Kampung Tugu, termasuk mencari pemain pengganti karena anggota grupnya pindah bekerja ke kota lain.

Meskipun masih tergolong muda, hampir semua lagu lama yang dicipta para pendahulunya bisa mereka mainkan. Dengan modal banyak bertanya dan mendengar, mereka yang kini bekerja di berbagai bidang kehidupan kota besar itu tetap berusaha melestarikan warisan leluhurnya yang tersisa.

Jika keturunan bangsa Portugis berusaha melestarikan lagu-lagu keroncong dengan bahasa asli mereka, perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa kita juga mampu menghasilkan lagu-lagu keroncong dalam bahasa Indonesia, bahkan hingga berbahasa daerah seperti langgam keroncong dan campusari yang berlirik bahasa Jawa.

Diawali lagu Kembang Kacang tahun 1924 yang disebut sebagai lagu keroncong Extra (tambahan), kemudian lahir eneka jenis lagu langgam Jawa lainnya seperti Tok Lelo Lelo Le Dung, Yen Ing Tawang Ono Lintang, Cah Ayu Ojo Lamis, Kecik, Kecik, Kopi Susu, sementara dari Jawa Barat kita mengenal Badjing Luncat, Sangkuriang, Es Lilin. Lagu-lagu itu selain berbahasa daerah asalnya juga dipengaruhi kesenian dan budaya masing-masing.

Salah satu langgam keroncong sebagai contoh adalah Caping Gunung, karya Gesang tahun 1973:

Saben bengi nyawang konang, Yen memajang mung karo janur kuning, Kembang wae weton gunung, Pacitan sarwi jenang, Panas udan aling-aling caping gunung, Najan wadon sarta lanang, Minumane banyu bening, Dek jaman berjuang, Nyur kelingan anak alang, Biyen tak openi, Gek saiki ana ngendi, Jarene wis menang, Kuturuan sing digadang, Biyen ninggal janji, Gek saiki opo lali, Neng gunung tak condongi sega jagung, Yen mendung tak silihi caping gunung, Sukur bisa nyawang, Nggunung desa dadi rejo, Nggone pada lara apa.

Dalam bahasa Indonesia berarti: Tiap malam lihat kunang-kunang, Menangkapnya dengan janur kuning, Bunga saja dari gunung, Camilannya serba jenang, Panas hujan memakainya caping gunung, Biar itu wanita atau pria, Saat jaman berjuang, Terus ingat anak negeri, Dulu kucukupi, Tapi kini entah di mana, Katanya sudah menang, tercapai yang dicitakan, Dulu pernah janji, Mungkin dia lupa kini, Di gunung kuberikan nasi jagung, Saat mendung kukenakan caping gunung, Sukur nampak kini, Gunung, desa jadi ramai, Jadi tidak hilang, Bekasnya tempat berjuang.

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi, Sejarah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: