Tembang dolanan (masih) terdengar ditelinga


Dolanan atau permainan anak-anak masa lalu banyak ragamnya. Sekarang karena banyak dolanan yang berwujud “games” berupa software aplikasi, jadi kayaknya anak-anak jadi kurang tertarik lagi. Kalau dulu banyak waktu berkumpul bagi anak-anak karena belum ada yang lebih menarik seperti acara-acara teve sekarang-sekarang ini. Anak-anak dalam satu kampung hampir setiap hari berkumpul dan bermain-main. Bahkan saat malam tiba dan bulan sedang purnama, para orang tuapun sering membiarkan mereka untuk keluar menikmati indahnya suasana malam purnama bersama teman-temannya.

Kadang hanya bersenda gurau saja, atau bila langit cerah dan bulan tak tertahan sinarnya oleh awan sehingga suasana di bumi begitu terang, anak-anak di pelataran yang luas akan membentuk kelompok untuk mengadakan permainan kesukaannya.

Yo, poro konco dolanan ning jobo
Padang mbulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore

Mari teman-teman bermain diluar
Terang bulan, terangnya seperti siang hari
Bulannya yang memanggil manggil
Mengingatkan agar kalian jangan tidur sore

Dibawah penerangan bulan, berbagai jenis permainan sering dimainkan. Dari main tali, engklek, gobak sodhor, benteng-bentengan sampai nekeran (kelereng), dan yang mempunyai egrang-pun mendemonstrasikan keahliannya berjalan dengan egrang, petitha petithi. Sungguh ramai. Teriakan, tawa dan celoteh-celoteh khas anak-anak meramaikan malam itu.

Ada juga kelompok anak-anak yang berkumpul bermain cublak-cublak suweng. Suara-suara bening dan lantang kemudian terdengar melalui alunan lagu yang berulang diselingi dengan tawa dan canda.

Cublak cublak suweng.. suwenge ting gelenter
mambu ketundung gudel
pak empong lera-lere
sopo ngguyu ndelikkake
sir-sir pong dhele gosong
sir sir pong dhele gosong

Seorang anak dalam posisi sujud dengan punggung lurus, memulai permainan sebagai pertama yang ”dadi”. Si anak seolah olah menjadi korban untuk menebak secara tepat biji atau batu yang tadi diedarkan berturutan diatas punggungnya sembari menyanyi lagu cublak cublak suweng. Selama tebakannya salah, maka dengan rela diapun harus ”dadi” lagi sampai menebak dan menemukan pemilik batu secara benar. Ramai sekali melihat saat yang dadi melakukan tebakan dengan menilai wajah-wajah lucu teman-temannya. Dan lebih ramai lagi, bila ternyata tebakannya salah karena diledek dan ditertawakan. Tidak kurang ramainya bila ternyata tebakannya benar karena kemudian dia tertawa penuh kemenangan berbareng dengan gerutuan yang ketahuan.

Suatu saat yang lain adakalanya mereka bermain menthok-menthok sambil memperagakan jalan layaknya menthok dengan tangan yang digerak-gerakan di pantat seolah buntut yang bergoyang-goyang dari seekor menthok.

Menthok, menthok, tak kandani mung lakumu
angisin-isini mbok yo ojo ngetok,
ono kandhang wae enak-enak ngorok
ora nyambut gawe
menthok, menthok
mung lakukumu megal megol gawe guyu

Macam dan beragam tembang dolanan anak-anak jaman dulu. Kesan begitu dalam hingga sampai saat sekarangpun tembang-tembang tadi serasa dekat dengan telinga. Serasa tawa dan teriakan bening dan lantang teman semasa kecil masih terngiang ditelinga.

SLUKU-SLUKU BATHOK
sluku-sluku bathok,bathoke ela-elo,
siromo menyang solo, oleh-olehe payung montho,
mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah,
yen obah medeni bocah

JAMURAN
Jamuran… jamuran…ya ge ge thok
jamur apa ya ge ge thok
Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung
sira badhe jamur apa?

KIDANG TALUN
Kidang talun
mangan gedang talun
mil kethemil…mil kethemil
si kidang mangan lembayung

PITIK TUKUNG
Aku duwe pitik, pitik tukung
saben dina, tak pakani jagung
petok gogok petok petok ngendhog siji
tak teteske…kabeh trondhol..dhol..dhol
tanpa wulu..megal-megol.. gol.. gol.. gawe guyu

KATE DIPANAH
Te kate dipanah
dipanah ngisor gelagah
ana manuk onde-onde
mbok sirbombbrok, mbok si kate mbok sirbombbrok,
mbok si kate mbok sirbombbrok, mbok si kate

JARANAN
jaranan-jaranan… jarane jaran teji
sing numpak ndara bei
sing ngiring para mantri
jeg jeg nong..jeg jeg gung
prok prok turut lurung
gedebug krincing gedebug krincing
prok prok gedebug jedher

LIR ILIR
Lir ilir, lir ilir, tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu yo peneken kanggo mbasuh

Explore posts in the same categories: Lagu-lagu

2 Komentar pada “Tembang dolanan (masih) terdengar ditelinga”

  1. sedjatee Says:

    tembang dolanan harus dilestarikan… mari lestarikan budaya kita… salam kenal…

    sedj


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: