Calung Banyumasan Anak


BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi komunikasi menyebabkan arus komunikasi menjadi cepat dan tanpa batas. Hal ini berdampak langsung pada bidang norma kehidupan dan ekonomi, seperti tersingkirnya tenaga kerja yang kurang berpendidikan dan kurang trampil, terkikisnya budaya lokal serta menurunnya norma-norma masyarakat kita yang bersifat pluralistik sehingga rawan terhadap timbulnya gejolak sosial dan desintegrasi bangsa.

Fenomena ini membutuhkan pendidikan yang memberikan kecakapan hidup (life skill) yaitu pendidikan yang memberikan ketrampilan, kemahiran dan keahlian dengan kompetensi tinggi pada peserta didik sehingga selalu mampu bertahan dalam suasana yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetetif dalam kehidupannya, dalam kontek belajar sepanjang hayat /life long learning. (Sudjatmiko, 2003 : 4)

Sekolah sebagai institusi yang mencetak generasi penerus hendaknya mengembangkan cara-cara belajar yang baru, misalnya bagaimana mencari, mengolah, memilih informasi yang demikian banyak sesuai dengan kebutuhannya. Pendekatan seperti ini memungkinkan untuk memberikan peluang / kesempatan dalam mengakomodasi perbedaan pendapat yang berkaitan dengan kesiapan, potensi akademik, minat, lingkungan, budaya dan sumber daya lokal, sesuai dengan prinsip diversifikasi dan desentralisasi dalam pendidikan.

Ada beberapa pertimbangan antara lain pada penguatan integritas nasional yang dicapai melalui pendidikan yang memberikan pemahaman tentang masyarakat Indonesia yang majemuk dan kemajuan peradaban bangsa Indonesia dalam tatanan peradaban dunia yang multikultur dan multibahasa.

Hal lain lagi yaitu keseimbangan berbagai bentuk pengalaman belajar siswa yang meliputi etika, logika, estetika dan kinestetika. Penyediaan tempat yang memberdayakan semua siswa untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap sangat diutamakan. Kurikulum perlu memasukkan unsur ketrampilan atau kecakapan hidup agar siswa memiliki ketrampilan, sikap dan perilaku adaptif, kooperatif, kompetitif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara efektif. Kesenian mengembangkan semua bentuk aktifitas cita rasa keindahan yang meliputi kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan apresiasi dalam bahasa, rupa, bunyi, gerak, tutur dan peran. Tujuannya untuk mengembangkan sikap toleransi, demokratis, beradab, dan hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk, mengembangkan ketrampilan dan menerapkan teknologi dalam berkarya dan menampilkan karya seni, dan menanamkan pemahaman tentang dasar-dasar dalam berkesenian. (Sudjatmiko, 2003 : 44 – 45)

Guru sebagai bagian dari sistem pendidikan mempunyai fungsi-fungsi sebagai pengajar, pendidik, juga sebagai pembimbing. Sebagai pengajar guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, sebagai pendidika guru mengantarkan siswa ke arah kedewasaan. Sebagai pembimbing guru mempunyai tugas mengantarkan siswa menemukan dirinya, mengenal lingkungannya, serta merencanakan masa depannya, baik yang bercifat cita-cita jangka panjang atau memilih sekolah lanjutan yang memungkinkan berkembangnya potensi.

Guru memiliki otoritas untuk mencari bentuk-bentuk pembimbingan yang tepat kepada siswanya. Ada satu model pembimbingan dalam bentuk pendidikan kecakapan hidup (life skill) yaitu melalui pelatihan Seni Calung Banyumasan siswa-siswa Sekolah dasar.

II. PERUMUSAN MASALAH

Bagaimana strategi pendidikan kecakapan hidup melalui pelajaran seni calung Banyumasan di Sekolah Dasar ?

III. TUJUAN PENULISAN

  1. Mengetahui bagaimana bentuk pendidikan kecakapan hidup melalui pelajaran seni calung Banyumasan di dalam kelas pada Sekolah Dasar.
  2. Mengetahui bagaimana strategi pembinaan terhadap siswa Sekolah Dasar

IV. MANFAAT PENULISAN

Penulisan makalah ini bermanfaat antara lain sebagai berikut :

  1. Menumbuhkan sikap menghargai terhadap seni calung Banyumasan sebagai salah satu identitas budaya lokal.
  2. Mengetahui cara pelatihan seni calung Banyumasan pada siswa sekolah dasar.
  3. Mendorong guru untuk selalu berkreasi sesuai dengan minat dan potensi menonjol yang dimiliki.
  4. Mendorong siswa untuk aktif dalam setiap kegiatan sekolah, sehingga berkesempatan tampil sebagai duta sekolah.

V. PENEGASAN JUDUL

Seni calung merupakan salah satu bentuk budaya khas Banyumasan. Seni ini berbentuk alat musik tradisional pentatonik terbuat dari bilah-bilah bambu yang berangkai dalam 3 oktaf, yaitu bilahan oktaf rendah (gedhe), sedang , dan tinggi (kecil). Nada-nada calung biasanya diawali dari nada 5 (ma) rendah sampai dengan 3 (lu) tinggi. Menurut sumber-sumber lisan, calung berasal dari alat musik cengklung yaitu tiga bilah bambu dengan nada berbeda dipadu menjadi satu. Kemudian berubah menjadi angklung. Secara fisik hampir sama, yang berbeda cara merangkai satu nada terdiri dari 3 bilah, cara membunyikannya dengan “dikorog”. Karena dirasa kurang praktis, maka kemudian berubah lagi menjadi calung.

Pada masa awal penyebaran Islam, seni calung sering dipadu dengan lengger (le = thole = sebutan untuk anak laki-laki, dan ngger = angger = sebutan untuk anak perempuan) Seni calung digunakan sebagai alat untuk memanggil atau mengumpulkan anak-anak untuk diberikan pengetahuan baru yaitu tentang ajaran Islam.

Seni calung berkembang di wilayah Banyumas. Wilayah Banyumas adalah wilayah budaya kulonan yang memilki karaketistik cenderung apa adanya (blaka suta), lugu dan aksen ngapak. Ciri khas ini tercermin pada syair-syair lagu yang dipadu dengan irama musik calung serta senggakan-senggakan yang terkesan vulgar.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan diselenggrakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Pendidikan multi makna adalah proses pendidikan yang diselenggarakan dengan berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak, dan kepribadian serta berbagai kecakapan hidup (Penjelasan Pasal 2 ayat 2 UU No 20 Tahun 2003) Pendidikan kecakapan hidup (life skill) adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri.

Bahan kajian seni dan budaya dimaksudkan untuk membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memilki rasa seni dan pemahaman budaya. Bahan kajian seni mencakup menulis, menggambar/melukis, menyanyi, dan menari.

BAB II

STRATEGI PELATIHAN SENI CALUNG BANYUMASAN DI SEKOLAH DASAR

A. LANGKAH-LANGKAH PELATIHAN

Sebelum kegiatan pelatihan dilakukan, guru perlu melakukan perencanaan, pengorganisasian, identifikasi kegiatan dengan maksud agar pelaksanaan pelatiha dapat berjalan lancar. Hal-hal yang perlu dipersiapkan antara lain sebagai berikut :

1. Inventarisasi baik menyangkut potensi anak, minat, motovasi, serta ketersediaan

sarana prasarana. Perlunya inventarisasi dilakukan adalah untuk memberikan layanan bimbingan yang efektif dantepat sasaran. Sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar, pasal 25 ayat 1, dikatakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan meencanakan masa depan”. (Mulyadi , 2003 : 5 – 6) Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi, guru diharap mampu memberi bantuan kepada siswa dan pihak-pihak yang dekat dengan siswa agar dengan keinginan dan kemampuannya dapat mengenal kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut. Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan, guru seyogyanya mampu memberikan kemudahan (bantuan) kepada siswa dan pihak-pihak yang dekat dengan siswa, untuk mengenal lingkungannya dengan baik, termasuk lingkungan yang ada di luar sekolah. Pada peran ini guru bertugas mencari fasilitas pelatihan antara lain

a. Fasilitas alat musik calung

Perangkat musik calung dapat diadakan dengan berbagai cara, bila memungkinkan sekolah dapat memasukkan dalam APBS, melibatkan unsur Komite Sekolah, atau mencari donatur yang bersedia memberikan dananya.

Pada tahap awal, alat musik calung cukup yang paling sederhana, yaitu terdiri dari Calung (Gambang) I, Calung (Gambang) II, Kethuk Kenong, Dendem, Kendang, dan Gong. Baru pada tahap pengembangan dapat dikolaborasikan dengan gamelan logam (Karawitan) seperti saron, demung, ketipung, drum, kecrek (tamborin), dan lain-lain. Alat musik calung ini menggunakan dua nada yaitu laras slendro dan pelog.

Siswa hendaknya mengenal fungsi dari fasilitas sekolah, sehingga mampu mengoptimalkan fasilitas tersebut demi kemajuan belajarnya. Misalnya bagaimana cara membunyikan (nabuh) karena masing-masing alat musik memiliki karakteristik tersendiri. Pengenalan ini berhubungan juga dengan cara perawatan calung, mengingat calung mudah pecah. Untuk mengantisipasi masalah ini, sebaiknya ketika membeli calung sekaligus diikat perjanjian dengan pembuatnya, bila sewaktu-waktu pecah, bersedia mengganti sehingga tidak harus mengeluarkan biaya terlalu besar untuk perawatan.

b. Fasilitas pelatih

Untuk memberikan pelatihan, maka harus dipilih pelatih yang benar-benar ahli di bidangnya (The right man in the right place). Pada tahap awal bila ada guru yang menguasai ketrampilan di bidang seni calung, maka guru yang bersangkutan diberi tugas sebagai pembina seni calung. Tetapi bila tidak ada guru yang mampu, maka sekolah dapat merekrut tenaga ahli dari luar, atau melibatkan Komite Sekolah dan wali siswa. Yang perlu diperhatikan adalah model perekrutan ini tidak boleh menciptakan ketergantungan, artinya selama masa pelatihan harus ada guru di sekolah yang selalu mendampingi siswanyasekaligus ikut belajar bersama-sama. Model ini dimaksudkan sebagai alih ketrampilan / teknologi.

Penjadwalan latihan bisa diatur sesuai dengan kondisi sekolah, misalnya seminggu satu kali latihan bersama pelatih luar. Pada hari-hari lain guru pembina seni dapat menambah jadwal latihan tanpa pelatih luar, dengan maksud memperlancar penguasaan ketrampilan bermain musik calung Banyumasan.

c. Fasilitas berupa dana, dan lain-lain

Dana sering dijadikan alasan yang klasik sebagai hambatan penyelenggaraan sebuah kegiatan. Ketiadaan dana berarti kekosongan harapan. Dalam ungkapan jawa kita kenal istilah “ gawea jeneng, jenang bakal teka”, artinya manakala kegiatan yang kita ciptakan benar-benar bermutu, maka dengan sendirinya akan datang simpati fihak lain yang berntuknya beraneka ragam, baik perhatian, dukungan moral bahkan sampai dengan dana. Yakinlah bahwa semua ada jalan keluar, maka berbuatlah sesuatu demi kemajuan anak didik. Dalam rangka merencanakan masa depan, guru hendaknya membantu siswa mengenal berbagai jenis pekerjaan dan pendidikan yang ada di lingkungannya, serta mengembangkan cita-cita sesuai dengan pengenalan terhadap berbagai jenis pekerjaan dan pendidikan. Bentuk pengembangan kemampuan siswa dalam merencanakan masa depan adalah pengungkapan minat siswa terhadap jenis mata pelajaran, pekerjaan, atau aktifitas tertentu, misalnya kesenian, olahraga, atau yang lain, serta program tindaklanjutnya. Dalam ungkapan Jawa kita kenal “sewu dalane wong ngupa boga” artinya ada seribu jalan mencari jalan kehidupan. Ungkapan ini baru saja dibuktikan, misalnya yang sedang menjadi berita aktual adalah munculnya Aries Kondang In. Melalui bakatnya yang tersalur, Aries mampu membuktikan diri sebagai anak yang sukses bahkan dapat mengharumkan nama wilayah Purbalingga dalam gelanggang olah vokal tingkat nasional.

Yang berkait dengan budaya Banyumas diangkat pula oleh Didi Pitak dalam Album PurbalinggaMembangun. Lagu-lagu dalam album tersebut menggunakan bahasa Banyumasan, ternyata juga meledak (booming) di pasar, itu tanda bahwa segala sesuatu jika dikerjakan dengan profesional maka akan mendatangkan hasil, baik berupa material maupun spiritual. Ada juga ungkapan lain yaitu “dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan agama hidup jadi terarah, dengan seni hidup jadi indah”. Ungkapan tersebut mengisyaratkan kondisi yang diharapkan dari sebuah perilaku seseorang. Tiga kata kunci yang menjadi parameter keberhasilan hidup seseorang yaitu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengamalan agama dalam kehidupan sehari-hari, dan cita rasa seni yang terefleksikan dalam pola pikir dan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

2. Menyusun program pelatihan

Pelatihan seni calung Banyumasan sangat mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar terutama pada mata pelajaran kerajinan Tangan dan Kesenian. Oleh karena itu pelaksanaannya dapat diintegrasikan dalam kegiatan intrakurikuler, artinya disajikan pada jam pelajaran. Tetapi bila model ini yang dipilih, maka hambatannya adalah kekurangan waktu, karena alokasi mata pelajaran ini hanya 2 jam dalam 1 minggu Pelatihan dapat pula dilakukan menggunakan model kegiatan ekstra kurikuler, yaitu mengambil waktu di luar jam pelajaran. Agar tidak membosankan sebaiknya pelaksanaan pelatihan dilakukan satu kali dalam seminggu.

B. STRATEGI PELATIHAN

Mengingat obyek pelatihan masih anak-anak usia SD yang secara psikologis masih dominan dengan permainan, maka guru dapat memilih strategi dengan pendekatan permainan. Untuk memotivasi minat siswa maka guru dapat melakukannya dalam bentuk gending-gending dolanan anak. Sajian ini merupakan kolaborasi antara berbagai jenis seni, meliputi seni musik, seni suara, seni tari, dan seni teatrikal. Pilihan lagu atau tembang dolanan anak dimaksudkan pula untuk memotivasi anak serta menanamkan nilai-nilai budi pekerti luhur misalnya seperti yang tercermin dalam syair tembang berikut :

“Gumregah-gumregah ndang tangi; lah aja pijer ndang tumolih; cek-cekat ceket ditandangi; ndang-ending rampung migunani”.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan yaitu kedalam materi latihan, kita tidak boleh

memperlakukan anak-anak usia sekolah dasar seperti seniman dewasa. Mereka belum memilki kepekaan seni yang tinggi. Menyadari kondisi seperti ini maka cara memainkan calung Banyumasan hendaknya diawali dari cara menabuh yang paling sederhana. Anak tidak boleh dipaksakan untuk menghafal notasi yang panjang-panjang. Guru hendaknya membuat aransemen (garap) sendiri disesuaikan dengan kemampuan anak. Baru pada tahap berikutnya bila anak mulai terbina kepekaanya, kita masuk ke materi yang lebih sulit.

C. TANTANGAN

Tantangan adalah selisih antara harapan yang ingin dicapai denga hasil yang telah diperoleh. Untuk kegiatan seni calung banyumasan secara kuantitatif sulit diperhitungkan berapa nilai perubahan yang dicapai setelah melakukan kegiatan pelatihan. Tetapi secara kualitatif dapat dirasakan pada perubahan yang dialami siswa atau peserta didik. Berdasarkan pengalaman melakukan pembinaan seni calung Banyumasan “Kluntung Agung” di SD Negeri 5 Sumampir, jumlah siswa kelas VI ada 20 siswa, 19 siswa diantaranya aktif dalam kegiatan latihan. Ternyata 19 siswa tersebut lulus dalam Ujian Sekolah Tahun Pelajaran 2004/2005, dan 13 diantaranya diterima di Sekolah Lanjutan Pertama. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan “Kluntung Agung” berdampak positi terhadap perkembangan belajar siswa. Dampak positif lain adalah :

1. Tumbuhnya minat siswa-siswa lain yang belum ikut, ingin ikut dalam kegiatan tersebut,

2. Dukungan wali murid serta partisipasi masyarakat (parmas) sekitar sekolah semakin tinggi, apalagi yang anaknya terekrut menjadi pemain, mereka sangat bangga, dan lain-lain.

D. PROGRAM TINDAK LANJUT

Keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya diukur dari proses berlangsungnya kegiatan saja, tetapi yang lebih penting adalah hasil (output) yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Oleh karena itu perlu dirancang pula kegiatan tindak lanjutnya. Program kegiatan tindak lanjut yang harus dipersiapkan dari pelaksanaan pelatihan Seni Calung Banyumasan antara lain :

1. Kegiatan Pentas

Untuk skala sederhana kegiatan pentas dapat dimulai dari pentas di tingkat sekolah, misalnya pada acara Pertemuan Komite Sekolah / Wali Murid. Kegiatan ini merupakan momentum yang sangat efektif untuk menarik simpati baik dari kalangan siswa, wali siswa dan masyarakat sekaligus merupakan bentuk akuntabilitas publik sekolah terhadap masyarakat sekitarnya. Kegiatan pentas dalam skala yang lebih besar misalnya pada puncak peringatan / resepsi Hari-Hari Besar Nasional, seperti Hari Pendidikan Nasional, Hari Ulang Tahun Kemerdekaan atau acara-acara lain. Materi atau tema pentas seyogyanya disesuaikan dengan acara yang digelar, sehingga pagelaran menarik dinikmati, dan selalu dikenang. Untuk menjamin agar pementasan berhasil perlu disusun skenario pagelaran menyangkut lagu atau tembang, pemain pendukung (pemusik, penyanyi, penari), tema pentas, naskah dialog ,interaktif dengan

penonton atau sesaama pemain apabila diperlukan, dan lain-lain.

2. Kegiatan Publikasi

Faktor publikasi sangat mendukung keberhasilan sebuah kegiatan terutama kegiatan bidang seni. Realita selama ini kegiatan-kegiatan seni diperlakukan diskriminatif artinya kalah gengsidibanding kegiatan yang bersifat akademis. Kita sebagai pekerja seni harus mampu menunjukkan bahwa seni diperlukan setiap orang dalam kehidupannya. Teknik publikasi dapat dilakukan antara lain dengan reportase kegiatan melalui mas media khususnya media cetak baik lokal maupun nasional. Kita dapat memanfaatkan media cetak yang dekat dengan kita seperti melalui Derap Perwira, Derap PGRI, atau melalui surat kabar lain. Untuk tahap awal dapat dilakukan melalui Majalah Dinding Sekolah, misalnya dengan memajang foto-foto kegiatan latihan dan pentas.

3. Kegiatan Pendokumentasian

Dukomentasi merupakan rekaman kegiatan yang dapat dinikmati oleh setiap orang dan berfungsi sebagai parameter, apakah sebuah kegiatan berhasil, maju, atau sebaliknya. Dokumentasi bermakna manakala kegiatan yang dilakukan mengalamai perkembangan. Bentuk-bentuk dokumentasi antara lain berupa foto-foto kegiatan atau bentuk lain yang besifat video (dilihat), bentuk rekaman kaset (audio), dan lain-lain. Bentuk dokumentasi yang lebih modern adalah yang bersifat audio – visual yaitu dokumentasi yang dapat dilihat dan sekaligus didengar misalnya berbentuk VCD.

4. Kegiatan Penggalangan Dana

Teknik penggalangan dan yang dapat dilakukan untuk keberhasilan pembinaan seni calung Banyumasan antara lain :

1. Melibatkan unsur Komite Sekolah / Wali Siswa dengan memungut biaya khusus. Model ini dapat dibicarakan bersama Komite Sekolah / Wali Siswa dalam pertemuan Komite Sekolah yang membahas tentang Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).

2. Mengajukan proposal permohonan dana kepada Instansi-Instansi Dinas atau Lembaga Keuangan yang ada di sekitar, atau kepada donatur yang peduli dengan kemajuan pendidikan.

3. Kegiatan pentas yang bersifat Profit artinya menyelenggarakan kegiatan dengan

mendapat imbalan pentas (tanggapan).

4. Memasarkan produk seni dalam bentuk VCD ke lembaga-lembaga pendidikan, instansi pemerintah, atau ke pasar bebas, dan lain-lain.

5. Rekrutmen pemain baru

Menciptakan sebuah kegiatan itu sangat berat, tetapi mempertahan agar sebuah kegiatan tetap eksis itu lebih berat. Kendala klasik kegiatan di sekolah yaitu apabila siswa keluar dari sekolah karena sudah menamatkan pendidikannya. Hal ini memamng merepotkan, karena kita harus selalu mencari dan membentuk siswa lain sebagai pendukung kegiatan. Realita seperti ini dapat disikapi dengan membentuk kelompok pendamping (second line) yang terdiri dari siswa-siswa kelas bawah ,misalnya kelas III atau kelas IV. Mereka diberi waktu khusus untuk berlatih materi-materi kegiatan yang sederhana, sehingga paling tidak mereka sudah mengenal musik calung Banyumasan.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Guru memiliki tugas yang amat berat tetapi mulia yaitu sebagai pengajar, pendidik, sekaligus juga sebagai pembimbing (konselor). Ketiga predikat ini dilaksanakan dalam satu aktifitas kerja di lingkungan sekolah. Guru dituntut mampu menjalankan fungsi-fungsi tersebut dalam proses belajar mengajar di kelas, sekaligus menyiapkan siswa meraih masa depan. Salah satu bentuk penyiapan anak merencanakan masa depan adalah dengan melaksanakan kegiatan pelatihan Seni Calung Banyumasan, baik melalui model intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Ada beberapa tahapan yang harus dilewati agar tujuan kegiatan ini berhasil optimal, dimulai dari inventarisai, rekrutmen siswa, pelaksanaan latihan, publikasi, pendokumentasian, sampai dengan tindak lajut. Guru harus memiliki sikap profesional menyangkut penguasaan materi, metode, evaluasi, serta komitmen terhadap tugas yang dijalankan.

Faktor lain yang mendukung keberhasilan kegiatan adalah kerjasama. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja sama dan perjuangan, tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Oleh karena itu setiap kegiatan harus direncanakan dengan matang, dilaksanakan bersama-sama, dan dievaluasi untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah diperoleh. Perlu disusun pula organisasi yang jelas, serta penugasan atau pendelegasian sehingga semua fihak merasa bertanggung jawab akan bidang tugasnya.

B. SARAN

1. Keberhasilan sebuah kegiatan sangat ditentukan oleh berbagai faktor antara lain kerja sama, ketersediaan fasilitas dan dana, tetapi tidak kalah pentingnya adalah komitmen terhadap kegiatan.

2. Bekerjalah dengan sistematis dan pegang teguh prinsip. Ada empat sikap dalam bekerja yaitu kerja cerdas, kerja keras, kerja ikhlas, dan berdoa. Manusia wajib berusaha, tetapi semua Tuhan yang menentukan.

3. Janganlah takut mengawali kegiatan, yakinlah bahwa selalu ada jalan keluar untuk

mencapai keberhasilan.

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, dkk, Pedoman Penciptaan Suasana Sekolah yanag Kondusif dalam Rangka Pembudayaan Budi Pekerti Luhur Bagi Warga Sekolah , Depdiknas, Jakarta, 2002 Depdiknas, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , CV. Eko Jaya, Jakarta, 2003

Haditomo, Siti Rahayu, Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2002

Mulyadi, Agus, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Depdiknas, Jakarta, 2003 Purwatingingsih, Pendidikan Seni Tari-Drama, Universitas Negeri Malang, Malang, 2002

Raharjo, Budi, Manajemen Berbasis Sekolah, Depdiknas, Jakarta, 2003

Sudjatmiko, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Depdiknas, Jakarta, 2003

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi, Kesenian Tradisi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: