KEMERDEKAAN SEMU


Oleh : Retno Budi Astuti
Pasal 29 UUD 1945 berbunyi :
“ Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu “

Jam menunjukkan pukul 02.31 pagi, tergelitik hati saya juga miris mendengarnya berkali-kali saya membaca yang tertulis dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, manakala saya melihat diberbagai media kekerasan terhadap sesama kembali terjadi atas nama perbedaan juga jangan lupa bahwa saudara-saudara kita lainnya pernah mengalaminya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Dimana secara defacto bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, yang diproklamirkan oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta. Bagaimana pergulatan serta perjuangan untuk menuju sebuah kemerdekaan membutuhkan pengorbanan yang cukup banyak dari para pejuang kita terdahulu.

Sejarah perjuangan bangsa kita banyak diwarnai pergulatan juga dialektika, perjuangan para pejuang bangsa telah tertoreh dalam lembaran emas. Setelah kemerdekaan itu kita peroleh, sendi-sendi dasar terbentuknya suatu Negara juga dibuat. Undang-Undang Dasar Negara atau yang kita kenal sebagai Undang-Undang Dasar Negara 1945 dan Pancasila menjadi pedoman hidup tata pelaksana pergaulan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Agaknya kemerdekaan sesuatu yang amat mahal harganya, kini kita dihadapkan pada realitas kehidupan bahwa masih banyak dari kita yang masih saja berprilaku tidak baik tatkala kita berbeda. Kemajemukan adat istiadat, suku, agama yang mewarnai bumi Nusantara ini harusnya bisa menjadi kekayaan tak ternilai karena Tuhan memberi anugrah pada bumi tercinta ini untuk menjadi kebaikan bagi semua umat bukan untuk pribadi sendiri ataupun sekelompok orang.

Indahnya perbedaan itu seperti taman bunga yang warna-warni,bukan untuk dikoyak ataupun sampai ada tetesan darah yang keluar. Ungkapan judul di atas rasanya pas untuk menggambarkan situasi dan kondisi Indonesia saat ini. Merdeka berarti bebas, dalam konteks kebangsaan bebas dapat diinterpretasikan dengan bebas dari rasa takut, bebas untuk berbicara dan menyatakan pendapat, bebas untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing yang diyakini dll. Karena itu merupakan Hak Asasi kita. Tetapi memang, kenyataannya jauh api dari panggang bahwa kita belum bisa “ bebas “ dalam artian yang sesungguhnya terutama dalam kebebasan memeluk agama dan kepercayaannya.

Hak untuk bebas memeluk agama dan kepercayaannya saat ini telah terdegradasi oleh sikap arogansi orang-orang yg tidak bertanggung jawab. Diskriminasi, intimidasi, serta bermacam perlakuan tidak baik masih diterima minoritas. Mayoritas menggencet minoritas, tentunya sikap ini telah melanggar Hak Asasi kita sebagai umat manusia, padahal jelas-jelas dalam konstitusi kita Negara menjamin kebebasan yang dimaksud seperti yang termaktub dalam Pasal 29 UUD 1945.

Itulah kenapa “ founding father “ kita meletakkan dasar Negara kita yaitu Pancasila bukan berdasarkan pada satu agama. Sila pertama Pancasila berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa bukan berdasar agama tertentu karena sebagai satu bangsa kita terdiri dari berbagai macam agama juga kepercayaan. Jangan sampai akibat yang ditimbulkan dari perbedaan itu memicu konflik yang lebih besar yang bisa saja memecah persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai “ Bhineka Tunggal Ika “. Kita kehilangan “ Jati Diri “ sebagai entitas suatu bangsa.

Tengoklah sejarah dulu saat Soekarno membacakan pidatonya di depan siding BPUPKI tentang Dasar Negara daripada Indonesia beliau mentamzilkan bahwa kemerdekaan itu adalah “ jembatan Emas “ diseberangnya “jembatan emas “ itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.

Kini kita sudah meniti “ jembatan Emas “ itu tapi kita tidak mampu mengisi kemerdekaan itu dengan baik malah sesama anak bangsa kita bertikai. Bolehkah dalam alam negeri ini kita menghakimi bahkan memaksakan agama dan kepercayaan kita terhadap orang lain, mengucilkan minoritas,mencaci, padahal Tuhan menciptakan kita pun berbeda-beda. Tapi bukan kah perbedaan itu sesungguhnya bisa menghasilkan harmonisasi apabila kita bisa mengemasnya jika saling menghormati juga menghargai satu sama lain.

Di Tanah Air, Tumpah Darahku pun terasa tidak lagi aman.
Apakah sebuah kesalahan kalau kita berbeda????????????????????????
Apakah sebuah dosa besar kalau kita meyakini sesuatu yang lain????????????????????????????
Apakah sebuah kejahatan warna kita tidak sama ????????????????????
TAPI DI DADA KAMI TETAP INDONESIA,MENCINTAI IBU PERTIWI INDONESIA.
Dengan cara kami sendiri dengan keyakinan kami masing-masing.

Dalam hal ini peran aktif Negara sebagai pelaksana pengemban konstitusi tidak berfungsi dengan baik dalam melindungi warganya karna masih saja terjadi praktek-praktek diskriminasi atas nama perbedaan agama dan kepercayaan.

Sering terjadi kesalahan pemahaman atau mungkin saja disengaja. Aliran ini sesat,aliran itu sesat, ini itu sesat. Ah, yang benar adalah dikatakan sesat karena ada unsur hegemoni, dominasi yang bertransformasi ke dalam dimensi kekuasaan. Dimana tumbuh kembangnya aliran-aliran tersebut dipandang akan mengganggu system social yang selama ini sudah mapan. Rak ngono toh sebenere????????????????????????????????

Kita adalah manusia yang besar, kita punya jiwa, kita percaya kepada Tuhan dan di dalam mendirikan satu bangsa yang berlandaskan Pancasila kita semua sebagai warga bangsa Indonesia bersatu. Tak peduli Islamkah, Kristen-kah, Katholik-kah, Hindu-kah, Budha-kah, Konghucu-kah, kepercayaan-kah atau lainnya.

Untuk itu marilah kita berbicara tentang kepentingan bersama, kepentingan bangsa dan Negara bukan kepentingan pribadi atau golongan yang mendiskreditkan golongan lain yang minoritas. Menindas yang lemah dan kecil, menganggap diri sendiri benar padahal kebenaran itu Cuma punya Tuhan.

Bhineka Tunggal Ika inilah Indonesia, dari keadaan atau kondisi real rakyat Indonesia yang menurut geopolitik dari ujung Sumatera sampai dengan ujung Irian serta dari antara dua Benua dan dua Samudera. Beraneka ragam budaya-adat istiadat, suku, agama serta golongan bisa disatukan dalam satu wadah yaitu Indonesia dengan dasar PANCASILA.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa mengetuk sanubari kita semua untuk menyadari kesalahan yang pernah kita lakukan untuk tidak mengulanginya kembali. Menjadikan kita pribadi-pribadi dengan kebaikan-kebaikan,penuh kasih sayang terhadap sesama juga mahluk Tuhan lainnya walaupun kita berbeda. Mengenal jati diri kita menuju keluhuran budi.

Ada hari esok yang harus kita benahi, jangan sampai kita wariskan kepada generasi berikutnya benih-benih perpecahan. Jangan kita tanamkan kebencian pada generasi kita karena itu akan membuat mata batinnya gelap dan tak tau arah. Jangan ada lagi…………. Jangan ada lagi tangis kepedihan…………….. Marilah bersama-sama kita saling menghormati.

“ Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah ! Hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan sejarahmu yang sudah, engkau akan berdiri diatas vaccum, engkau akan berdiri diatas kekosongan, lantas engkau menjadi bingung dan perjuanganmu paling-paling hanya akan berupa amuk belaka ! Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap “
( Bung Karno ; Dalam pidato jangan sekali-kali meninggalkan sejarah )

TERIMA KASIH BOPO PANUNTUN AGUNG SRI GUTOMO
TERIMA KASIH IBU SRI PAWENANG
KAMI AKAN MENERUSKAN PERJUANGAN YANG SUDAH KALIAN RINTIS.
DAMAILAH INDONESIAKU
DAMAILAH NUSANTARA
SALAM WARAS……………………………………

Explore posts in the same categories: Etnomusikologi

Tag: , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

One Comment pada “KEMERDEKAAN SEMU”

  1. alamatkudi Says:

    Masalah itu cukup untuk menghancurkan bangsa ini sebagai bangsa yang majemuk. Karena ketika dijumpai masalah terkait dengan religi, hal ini akan dirasa sangat sensitif. Mungki bagi yang belum menyadari betapa bangsa ini merupakan bangsa yang besar dan disegani di dunia ini mereka tidak akan mengindahkan resiko dari berfikir sempit terkait dengan perbedaan itu. Dan inilah kelemahan bangsa ini, yang dilirik banyak negara adikuasa di dunia karena memiliki kekayaan yang berlimpah. Lepaskan perbedaan itu demi tujuan bersama. Jangan kaitkan agama dengan hal-hal profan di dalam kehidupan kita.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: