Unsur-Unsur Musik Barat


UMUM

Ada empat unsur umum musik Barat. Pertama, irama (dan matra); kedua, atmosfir; ketiga, suasana hati (mood), dan keempat, pesan.

Irama dan matra

Irama dalam musik pop atau kontemporer sering disebut style, tradisi, idiom, atau corak (genre). Dalam musik pop modern, irama mencakup country, folk, waltz, rock ‘n roll, samba, salsa, disko, dan lain-lain. Ia mencakup juga fusi atau peleburan berbagai corak pop seperti country-rock, jazz-rock, dan Latin-disco.

Anda yang bisa memainkan gitar irama tahu bahwa memainkan irama country, misalnya, berbeda dengan memainkan irama salsa. Pola pukulan gitarmu untuk jenis irama pertama berbeda dengan pola pukulanmu untuk jenis irama kedua. Dalam notasi khusus untuk irama gitar, setiap irama ini diperikan dengan pola kombinasi not dengan berbagai nilai tertentu.

Dalam musik, ritme adalah suatu bagian dari melodi atau lagu. Ia berhubungan dengan distribusi not-not dalam waktu dan tekanan not-not itu. Not-not dalam waktu ini diberi berbagai nilai.

Dalam ketukan 4/4, misalnya, satu not bernilai empat ketukan dibunyikan untuk jangka waktu yang agak lama (misalnya, selama 4 detik) sementara satu not bernilai satu ketukan membutuhkan waktu yang singkat untuk dibunyikan (misalnya, setengah detik). Satu not lain yang bernilai setengah ketukan jelas membutuhkan waktu lebih pendek dari not sebelumnya untuk dimainkan atau dinyanyikan.

Di samping itu, tidak semua not mendapat tekanan yang sama: ada yang mendapat tekanan berat, ada yang mendapat tekanan relatif berat, dan ada yang mendapat tekanan ringan. Dalam suatu lagu yang memakai ketukan 4/4 tadi, setiap empat not yang masing-masing bernilai satu ketukan dibatasi oleh dua garis tegak-lurus di kiri kanan kesatuan ini: ___. Setiap garis lurus tadi disebut garis birama dan kedua garis ini membentuk satu birama (disebut maat dalam bahasa Belanda dan bar dalam bahasa Inggris). Kesatuan empat not dengan nilai tadi membentuk satu birama. Menurut aturan baku, setiap not pertama dalam satu birama 4/4 mendapat tekanan berat, setiap not yang membentuk ketukan ketiga mendapat tekanan relatif berat, dan setiap not yang membentuk ketukan kedua dan keempat mendapat tekanan ringan.

Dalam hubungan dengan penelitian musik tradisional di Papua, Anda perlu tahu apa yang disebut “ritme bebas”. Ini jenis ritme yang tidak ditentukan oleh kejadian teratur dari garis-garis birama tapi kejadian yang timbul dari aliran alami atau konvensional dari not-not. Suatu lagu yang memakai ritme bebas secara praktis akan melibatkan pergantian jenis birama – ada yang tidak lazim – yang bisa lebih dari dua kali. Lagu, misalnya, dimulai dengan birama ganjil seperti 7/4 lalu beralih menjadi 2/4, kemudian 4/4 lalu berakhir dengan 7/4.

Di Indonesia, ritme bebas bisa Anda simak dari nyanyian-nyanyian mazmur dalam Mazmur dan Nyanyian Rohani susunan I.S. Kijne dan dalam Kidung Jemaat terbitan Yayasan Musik Gereja di Jakarta. Dalam ibadah Gereja Katolik, ia muncul dalam lagu-lagu Gregorian (Gregorian chants).

Ritme harus dibedakan dengan matra. Secara sederhana, matra adalah pengelompokan ketukan-ketukan dasar yang tetap dari suatu lagu. Dalam musik populer, ia disebut beat, suatu kata bahasa Inggris yang berarti “ketukan” dalam bahasa Indonesia. Jenis-jenis matra membentuk jenis-jenis birama seperti 2/4, 3/4, 4/4, 6/4, 3/8, 6/8, 9/8, dan 12/8. Angka di sebelah kiri garis miring menunjukkan jumlah ketukan per birama; angka di sebelah kanan menunjukkan nilai not dasar yang melandasi berbagai nilai not yang membentuk ritme suatu lagu.

Contoh matra bisa Anda dengar dengan jelas dari irama disko. Disko memakai ketukan 4/4 yang kuat dan cukup cepat. Keempat ketukan dasarnya dalam satu birama dipertegas oleh bunyi drumnya: DUM DUM DUM DUM. Bunyi ini berulang-ulang secara tetap selama lagu disko dimainkan.

Atmosfir


Atmosfir adalah lingkungan di sekitar suatu nyanyian. Atmosfir menjawab pertanyaan: “Anda di mana?” Di suatu pantai tropik atau pegunungan salju; di gereja, di rumah, atau di hotel?

Suasana hati


Bagaimanakah perasaan Anda yang tengah menyanyi tentang apa yang Anda katakan pada kami sebagai pendengar? Bahagia, merenung, sedih, damai, tenang, rindu, bercanda, sangat hormat, sepi?

Pesan

Apa yang Anda, penyanyi, katakan pada kami sebagai pendengarmu? Apa fakta, sudut-pandang, filsafatmu; tanggapan apakah yang Anda inginkan dari kami?

KHUSUS

Selain empat unsur umum, musik Barat berisi juga empat unsur khusus. Pertama, lirik; kedua, melodi; ketiga, harmoni; dan keempat ritme.

Lirik


Ini adalah kata-kata atau syair lagu. Ada beda arti antara pesan dan lirik. Pesan adalah apa yang Anda katakan melalui suatu nyanyian atau lagu; lirik adalah bagaimana Anda menyampaikan pesanmu melalui nyanyianmu.

Lirik mengungkapkan emosi (umum) dan nyanyian – mencakup melodi dan lirik – adalah ungkapan emosional. Lirik bisa terdiri dari bait (verse) dan koor (chorus). Bait menunjukkan, koor bercerita. Bait menunjukkan seseorang atau sesuatu melalui bahasa yang spesifik dan menarik; koor bercerita melalui komentar atau ringkasan tentang bait.

Melodi


Unsur ini adalah suatu gabungan dari rangkaian tingginada (pitch) dan ritme. Rangkaian tingginada dan ritme ditandai oleh rangkaian not dan tanda-diam dengan bermacam-macam nilai. Tergantung kebutuhan, harmoni – gabungan dua, tiga, empat nada atau lebih menurut aturan tertentu – dan lirik adalah bagian lain dari melodi.

Rangkaian not suatu melodi dibentuk oleh interval. Interval adalah “jarak” antara dua not, sejauh satu di antaranya lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Jarak antara not do dan re atau sebaliknya secara bertangga membentuk interval kedua karena Anda membunyikan secara naik-turun dua not. Interval ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan masing-masing adalah do-mi (ada tiga not, do-re-mi); do-fa (ada empat not, do-re-mi-fa); do-sol; do-la; do-si; dan do-do (do kedua lebih tinggi sejauh delapan nada dari not do pertama). Selain itu, ada interval yang berjarak lebih jauh dari satu oktaf, seperti interval ke-9 (do-re dengan re titik satu di atasnya), interval ke-10 (do-mi dengan mi titik satu di atasnya), interval ke-11 (do-fa dengan fa titik satu di atasnya), dan interval lain yang lebih jauh jaraknya.

Interval yang berdasarkan dua not dengan tingginada yang sama – jadi, bunyi musikalnya sama – ada juga. Karena melibatkan satu nada saja, ia disebut interval kesatu, seperti do-do, re-re, mi-mi, fa-fa, sol-sol, dan seterusnya.

Ciri interval bergantung juga pada tangganada. Contoh-contoh interval tadi berasal dari suatu tangganada Barat yang sangat lazim dipakai untuk menciptakan lagu: tangganada diatonik mayor. Urutan notnya dari yang paling rendah ke yang paling tinggi sejauh satu oktaf – delapan nada – adalah do-re-mi-fa-sol-la-si-do. Anda bisa membunyikan urutan not ini dari yang paling rendah ke yang paling tinggi dan sebaliknya.

Semua contoh interval tadi yang berdasarkan tangganada diatonik mayor punya jarak nada. Nada-nada dalam tangganada ini adalah nada-nada pokok atau dasar. Setiap pasangan not yang paling berdekatan secara berjenjang punya jarak satunada (whole tone) kecuali jarak setengahnada (semitone) antara mi-fa dan si-do.

Karena tangganada diatonik mayor mengenal dua setengahnada, maka secara ilmu berhitung sederhana jarak nada antara pasangan not lain yang punya satunada bisa dibagi menjadi dua. Pasangan not do-re, re-mi, fa-sol, sol-la, dan la-si yang masing-masing berisi satunada sebagai akibatnya dibagi menjadi setengahnada. Timbullah suatu tangganada baru yang di dalamnya setiap pasangan not tadi diperkecil jaraknya menjadi setengahnada dan menghasilkan jaraknada yang sama antara semua pasangan not yang baru.

Tangganada baru berdasarkan hasil pembagian satunada menjadi setengahnada ini disebut tangganada kromatik. Dari yang paling rendah ke yang paling tinggi, urutan notnya demikian: 1-#1-2-#2-3-4-#4-5-#5-6-#6-7-1. Tanda kres (#) menaikkan not di sebelah kiri kres sejauh setengahnada. Ketika dinyanyikan, not-not yang diberi tanda # berbunyi – dari yang paling rendah ke yang paling tinggi – do-di-re-ri-mi-fa-fi-sol-se-la-li-si-do. Tapi kalau dibunyikan dari not do yang paling tinggi ke yang paling rendah, cara menulisnya berbeda: 1-7-b7-6-b6-5-b5-4-3-b3-2-b-1. Tanda mol (b) menurunkan not di sebelah kiri sejauh setengahnada juga. Urutan not ini dibunyikan sebagai do-si-sa-la-lu-sol-su-fa-mi-mu-re-ru-do.

Secara praktis, bunyi setengahnada pada posisi naik dan turun dari tangganada kromatik sama: di sama bunyinya dengan ru, ri sama bunyinya dengan mu, fi sama bunyinya dengan su dan seterusnya. Karena sama bunyinya, nada-nada ini disebut nada-nada enharmonik.

Tangganada diatonik mayor lazimnya dipakai untuk menciptakan lagu-lagu yang bersuasana gembira, ceria, cerah – pendek kata, lagu-lagu yang bersuasana optimistik. Tangganada kromatik memberi warna-warna halus pada suatu ciptaan musikal. Ada juga lagu-lagu yang, meskipun memakai tangganada diatonik mayor, bersuasana sedih. Coba dengarkan beberapa lagu rakyat atau lagu pop klasik dari Ambon/Maluku yang boleh dikatakan memakai tangganada diatonik mayor dan dinyanyikan dengan tempo lambat, seperti “lagu tanah” (lagu rakyat asli) asal Ambon berjudul “Nusaniwe” atau lagu pop Ambon tahun 1980-an berjudul “Sioh, Mamae.” Ada yang begitu tersentuh hatinya oleh suasana melodi dan kata kedua lagu ini sampai menangis.

Pola ritme khas suatu melodi dibentuk oleh kombinasi khusus berbagai interval tadi. Dalam musik vokal (gabungan nyanyian dan musik iringan), pola ritme ini dipengaruhi ritme dan makna liriknya. Not-not yang ditahan – misalnya, selama dua sampai dengan empat ketukan alam jenis birama 4/4 (1 . . . ) – cocok untuk menekankan pesan lirik yang penting, seperti judul suatu lagu. Pasangan atau rangkaian not yang bergerak cepat karena memakai satu garis penghubung di atasnya), kombinasi satu dan dua garis penghubung di atas tiga not, atau dua garis penghubung di atas empat not cocok untuk lagu-lagu yang bersifat cakap (conversational). Pola ritme yang ditandai oleh berbagai garis penghubung not-not bernilai kecil mengungkapkan suasana kegiatan yang membutuhkan energi tinggi seperti kesibukan pekerjaan, kehidupan yang terburu-buru, pertandingan olahraga seperti sepak bola, bahkan keadaan kacaubalau atau perang.

Ada lagi suatu teknik menyatukan berbagai not untuk membentuk pola ritme lain. Tiga not disatukan oleh satu garis penghubung di atasnya, ditambah tulisan angka 3. Ini disebut triul pendek dan dalam lagu berjenis birama 4/4, triul pendek dihitung sebagai satu ketukan. Ada juga empat not yang dihubungkan satu garis dan ditambah tulisan angka 4 di atasnya; ini disebut kuartol dan dihitung juga dalam jenis birama tadi sebagai satu ketukan. Rangkaian lima dan enam not yang masing-masing disatukan oleh satu garis penghubung di atasnya dengan tulisan 5 dan 6 disebut kuintol dan sekstol masing-masing dihitung juga sebagai satu ketukan dalam jenis birama tadi.

Contoh berikut berisi semua kombinasi khusus interval tadi demikian:

Dalam musik pop dunia, pola ritme khas melodi bisa menunjukkan asal dan bahkan bisa menaikkan “nilai jual” lagu. Bandingkan, misalnya, musik pop khas Eropa daratan, Inggris, dan Amerika Serikat yang memakai irama seperti wals, country, dan rock ‘n roll dengan musik pop khas Karibia seperti reggae dari Yamaika dan bolero dari Kuba dan juga dengan musik pop khas Amerika Latin seperti samba dan salsa. Anda akan mendengarkan pola ritme khas yang barangkali sulit Anda jelaskan dari berbagai kawasan tadi tapi yang sangat Anda rasakan – dan suka sekali sehingga Anda beli kaset atau CD-nya. Pola ritme ini dipengaruhi di antaranya oleh ritme dan makna lirik dan juga oleh gabungan khas berbagai macam interval dengan berbagai nilai not.

Pola ritme hasil kombinasi berbagai interval dengan berbagai nilainya bisa menghasilkan berbagai suasana hati. Kombinasi interval berjarak kecil dan agak kecil seperti interval ke-1, ke-2, dan ke-3 menghasilkan lagu yang bersuasana dari tenang sampai agak tenang. Kombinasi interval ke-4, ke-5, ke-6, dan di atasnya menghasilkan suasana dasar yang dramatik, menonjol. Urutan not bisa dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi atau sebaliknya.

Masih ada lagi satu jenis tangganada Barat yang lazimnya dipakai untuk menciptakan lagu-lagu bersuasana sayu, sedih, murung, merenung – pendek kata, lagu yang bersuasana introspektif. Itulah tangganada minor. Yang sering dipakai adalah tangganada minor naturel. Urutan notnya dari yang paling rendah ke yang paling tinggi demikian: la-si-do-re-mi-fa-sol-la. Tangganada ini bisa Anda bunyikan secara naik-turun.

Tapi ada juga lagu-lagu yang suasananya gembira meski memakai not-not minor. Beberapa lagu religius dari Israel dan lagu dangdut Indonesia yang bersuana ceria malah dibawakan dengan memakai not-not minor. Ini bukan kelaziman.

Entah tangganada diatonik, kromatik, atau minor naturel, melodi yang diciptakan berdasarkan salah satu dari antaranya punya ciri-ciri umum tertentu. Ciri-ciri apa itu?

Pertama, melodi itu dibentuk oleh suatu gagasan inti yang disebut motif melodi. Ini ibarat tiang utama suatu rumah. Dari tiang utama ini, pencipta – seperti seorang arsitek bangunan – mengembangkan rumah itu dengan menambah tiang lain, kerangka, dinding, atap, penghalusan, pengecatan dinding, penambahan ornamen, dan rincian-rincian konstruksi lain sampai rumah itu tampak keren – sama sekali berbeda dengan kali pertama ia dimulai dengan tiang utama. Pada komposisi melodi Barat, motifnya biasanya ada di awal lagu sebanyak satu sampai sekitar dua birama dan bisa diulang-ulangi – dengan memakai not yang sama atau berbeda – pada bagian lain dalam melodi.

Beberapa contoh penjelasan. Motif melodi atau gagasan inti lagu Natal “Malam Kudus” ada di awal lagu ketika jemaat menyanyi “Malam kudus, sunyi senyap.” Gagasan inti Yamko Rambe Yamko ada di awal lagu tempat orang menyanyi “Hei, yamko rambe yamko arunawa kombe.” Lagu G. F. Handel yang terkenal dan dinyanyikan dalam perayaan kebangkitan Yesus dan bahkan Natal “Haleluya Handel” punya motif melodi di awal lagu tempat koor menyanyi “Haleluya!” lalu mengulangi motif itu beberapa kali dalam lagu untuk koor gereja yang hebat ini.
Kedua, suatu melodi diciptakan melalui kombinasi not-not berbagai nilai dengan waktu istirahat tertentu di antara not-not itu. Not yang ditahan selama beberapa ketukan digabung dengan not yang berlangsung selama satu ketukan, setengah ketukan, seperempat ketukan, seperenam belas ketukan, dan seterusnya. Tanda istirahat biasanya muncul pada not yang ditahan yang bisa diikuti tanda koma atau tanda diam. Dalam notasi angka, tanda diam ditulis dengan memakai angka nol (0). Melodi tanpa waktu istirahat akan melelahkan untuk didengar dan dinyanyikan.

Ketiga, suatu melodi diciptakan berdasarkan tangganada. Tangganada Barat yang paling lazim dipakai adalah tangganada diatonik mayor. Karena ada tujuh not pokok dalam tangganada ini, maka ada juga tujuh kunci atau nada dasar. Kunci ini ditulis dengan memakai abjad. Padanannya dengan not angka demikian: C (do), D (re), E (mi), F( fa), G (sol), A (la), dan B (si). Tangganada Barat kedua yang lazim dipakai adalah tangganada minor naturel: A-B-C-D-E-F-G. Kedua jenis tangganada paling populer ini berdasarkan tangganada diatonik mayor C.

Keempat, suatu melodi bisa memakai not-not akordal atau gabungan not-not akordal dan non-akordal. Untuk memahami pernyataan ini, kita memakai susunan not akordal dari tiga not – disebut triad – dalam tangganada C mayor. Ambil saja, misalnya, akor…

About these ads
Explore posts in the same categories: Gitar, Musikologi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: