PERBEDAAN BERPIKIR PARA PAKAR


PERBEDAAN BERPIKIR PARA PAKAR
Oleh: Prof. Dr. Imam Muhammad Abu Zahrah

Sudah menjadi fakta bahwa para pakar pada umumnya mempunyai cara berpikir yang berbeda-beda. Kalaupun ada pakar yang mengatakan bahwa manusia, sejak fase awal perkembangannya, sudah berpikir filosofis tentang alam, dapat dipastikan bahwa imanjinasi yang dihasilkan oleh cara berpikir itu akan tetap berbeda-beda sesuai dengan objek dan ransangan yang mereka tangkap. Maka maju kebudayaan dan peradaban manusia, makin terbuka lebar celah-celah perbedaan pendapat sehingga pada gilirannya mealhirkan berbagai aliran filsafat, sosiologi, dan ekonomi.
Sebab-sebab perbedaan pendapat itu banyak sekali dan kita tidak akan mampu membatasinya. Diantara sebab-sebab itu adalah sebagai berikut:
1.Objek kajian yang masih gelap
Sejak dahulu para filosof telah melakukan penelitian terhadap berbagai objek kajian yang masih gelap dengan metode pemahaman yang berbeda. Setiap orang berpendapat sesuai dengan objek yang diterimanya dan memahaminya sesuai dengan pola pikir masing-masing. Padahal, kebenaran terdapat dalam wujud keseluruhan yang utuh, bukan dalam bagian-bagiannya.
Plato berpendapat bahwa manusia tidak menemukan kebenaran atau mengalami kekeliruan dalam wujud keseluruhan yang utuh, tetapi dalam wujud parsialnya. Hal itu ibarat beberapa orang buta yang memperoleh kesan tentang seekor gajah. Masing-masing meraba anggota tubuhnya. Masing-masing berpendapat sesuai dengan objek yang ditangkapnya, sekaligus menyatakan bahwa yang lain keliru dan tentang mengetahui bentuk gajah sebagaimana yang digambarkannya.
Banyak perbedaan pendapat yang tidak disebabkan oleh masih gelapnya objek kajian, tetapi oleh pola pikir yang berbeda. Itulah sebabnya Socrates berkata “apabila sebab perbedaan pendapat sudah diketahui dengan jelas, maka perbedaan itu akan hilang.”
2. Perbedaan keinginan, kecendrungan dan kepribadian
Perbedaan pendapat dapat disebabkan pula oleh perbedaan keinginan dan kecendrungan. Setiap orang berpendapat dalam kerangka keinginan dan kecendrungan pribadinya masing-masing. Spinoza mengatakan “keinginanlah yang membuat kita melihat sesuatu menjadi penting, bukan hati nurani.” Dengan demikian, keinginan menjadi standar nilai baik dan buruk segala sesuatu, termasuk pemikiran. William James mengatakan “sesungguhnya sejarah filsafat adalah sejarah pertentangan antar kecendrungan yang berbeda-beda. Perbedaan kecendrungan itu berpengaruh di dalam lapangan sastra, seni dan filsafat.”
3. Perbedaan orientasi
Orientasi hidup seseorang membentuk metode berpikir yang sesuai dengan orientasi itu, sehingga segala pendapatnya pun berjalan menurut orientasi itu pula. Di dalam Rasa’il Ikhwan al Shafa jilid III, ditemukan ungkapan sebagai berikut:
“Tolok ukur mempunyai bentuk dan corak yang berbeda-beda sesuai dengan prinsip-prinsip profesi, ilmu dan kaidahnya. Misalnya, tolok ukur ahli fiqh berbeda dengan tolok ukur ahli nahwu dan ahli ilmu kalam; serta tolok ukur ahli filsafat dan mantiq tidak sama dengan tolok ukur tukang debat. Demikian pula tolok ukur mereka dalam masalah-masalah fisika dan ketuhan berbeda-beda.”
Apabila tolok ukur para ahli itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orientasi ilmiah masing-masing, walaupun objek kajian mereka sama, maka akan tetap terjadi perbedaan di antara mereka karena masing-masing berpikir dengan metode ilmiah yang berbeda. Kalau demikian halnya, maka perbedaan pendapat yang terjadi antara para ulama kalam dan para fuqaha tentang kemakhlukan Al Qur’an (khalq Al Qur’an) disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan oleh masing-masing. Para fuqaha menyandarkan tolok ukur mereka pada Al qur’an dan Sunnah Nabi, sedangkan para ulama kalam bersandar pada logika murni.
4. Bertaklid kepada para pendahulu
Sebab lain yang dapat membawa kepada perbedaan ialah sikap bertaklid buta kepada pendapat para pendahulu tanpa mengkajinya secara rasional. Keburukan taklid telah merasuk dan mengendalikan jiwa mereka tanpa mereka sadari. Berbagai pemikiran yang setelah melalui beberapa generasi berubah menjadi sakral kini, menguasai hati. Akibatnya, kemampuan akal digunakan untuk menyusun argumentasi untuk menjelaskan kebaikan pendapat itu dan kejelekan pendapat lain. Pada gilirannya hal itu membawa kepada perbedaan pendapat dan perdebatan tidak bermanfaat karena setiap orang menentang pendapat orang lain dengan bertaklid kepada pendapat para pendahulunya secara buta.
Setiap taklid itu selanjutnya melahirkan fanatisme karena kesakralan suatu pendapat yang diikuti oleh seseorang mendorongnya untuk bersikap fanatik. Semakin tajam fanatisme itu, semakin tajam pula perbedaan pendapat. Sikap ini timbul dari lemahnya kemandirian seseorang, di samping tidak adanya kemampuan untuk meliput suatu objek kajian dari berbagai sisinya karena hati dan pikiran hanya terbuka bagi satu sisi tertentu dari objek kajian itu. Jarang sekali ada fanatisme yang lahir karena kuatnya iman seseorang.
5. Perbedaan kapasitas intelektual
Perbedaan pendapat disebabkan pula oleh adanya perbedaan kapasitas intelektual. Ada orang yang mampu mencapai hakikat objek kajian; ada yang hanya mampu mencapai satu bagiannya saja, berhenti; ada yang selalu berangan-angan; ada pula yang tersesat oleh khayalan dalam belantara pemikiran tradisional. Khayalan dan angan-angan tidak hanya menguasai masyarakat awam. Para ulama juga kadang-kadang dikuasai angan-angan yang menutupi pengamatan mereka sehingga tidak mampu memahami berbagai hakikat secara proporsional.
Dalam Rasa’il Ikhwan al Shafa dikemukakan sebagai berikut:
“Anda akan menemukan banyak manusia yang baik imajinasinya, tajam pengamatannya dan kuat ingatannya; banyak pula yang lemah dalam berpikir, buta hati dan lemah ingatannya. Ini juga merupakan salah satu penyebab para ulama berbeda pendapat dan mazhab. Apabila kapasitas intelektual mereka berbeda, maka pemikiran dan keyakinan mereka akan berbeda.”
Pernyataan di atas merupakan kebenaran yang tidak dapat diragukan. Perbedaan kapasitas intelektual dan tabiat akal menyebabkan terjadinya perbedaan hasil akhir dari proses berpikir. Tidak dapat dibayangkan bahwa akal penyair yang dikuasai oleh emosi akan sama dengan akal dialektik-matematikawan yang selalu menghubungkan sebab dan akibat sebagai hubungan yang pasti dalam mengkaji suatu objek masalah.
6. Cinta kekuasaan
Pandangan orang-orang yang cinta kekuasaan akan selalu berhenti pada hal-hal yang berhubungan dengan kekuasaan. Pandangan itu muncul dari keinginan khusus mereka dan berusaha menguatkannya dengan mengaku ikhlas dalam menyerukan seruannya dan menekankan bahwa apa yang mereka katakan itulah yang benar. Fanatisme rasial atau etnis kadang-kadang menjadi penyebab perbedaan pendapat pula. Penyebab ini dapat dikategorikan ke dalam cinta kekuasaan.
Ada kalanya seorang pemimpin memiliki para pendukung yang mengelu-elukannya. Mereka memberikan dukungan dan menyebarluaskan berbagai pandangan dalam rangka dukungan itu. Sesungguhnya mereka telah menipu diri sendiri dengan menyatakan bahwa pendapat mereka itulah yang benar. Kelompok manusia seperti ini adalah kelompok yang paling berbahaya bagi manusia lainnya. Nabi telah bersabda: “ Yang paling aku takuti terhadap umatku adalah orang munafik yang dari pembicaraannya terlihat pintar, tetapi hatinya tidak bijaksana. Ia mnegubah mereka dengan kefasihan dan kejelasannya di dalam berbicara serta menyesatkan mereka dengan kebodohannya.”

Explore posts in the same categories: POLITIK

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: